Oct 16, 2010

Elegi Memahami Elegi

Oleh Marsigit

Mahasiswa:
Aku jengkel, aku marah, aku tak peduli, aku tersinggung...



Dosen:
Sebentar apa masalahnya? Mengapa anda bersikap demikian?

Mahasiswa:
Ah Bapak tak perlu berpura-pura. Kan segala macam persoalan yang membuat Bapak sendiri.

Dosen:
Oh baik apakah ini berkaitan dengan perkuliahan filsafat. Jika benar apakah ini berurusan dengan Elegi-elegi?

Mahasiswa:
Sumpah serapah. Saya tak mau lagi membaca Elegi? Kekaguman saya kepada bapak juga runtuh sudah. Ternyata Bapak tidak seperti yang aku pikirkan.

Dosen:
Lho kenapa, emangnya apa salahnya Elegi? Jika engkau telah menemukan bahwa aku tidak perlu lagi engkau kagumi, bukankah itu adalah satu jalanmu bagi pencerahanmu. Filsafat itu tidak tergantung oleh keberadaan saya. Sehebat-hebat aku sebagai dosen, itu adalah ibarat setitik pasir ditepi lautan filsafat. Maka aku perlu sarankan pula agar engkau pun perlu memikir ulang kekagumanmu terhadap dosen yang lain. Sebab hal yang demikian dapat melemahkan usahamu mewujudkan pikiran kritismu.

Mahasiswa:
Bapak itu tidak mutu. Kenapa aku belajar filsafat pakai syarat harus (diwajibkan) membaca Elegi?

Dosen:
Sebetulnya bukan wajib. Wajib itu relatif. Selama itu masih urusan dunia, segala kewajiban itu masih bisa dirundingkan.

Mahasiswa:
Tetapi setelah membaca Elegi dan mengikuti kuliah Bapak saya jadi pusing. Konsep pemikiranku menjadi berantakan tak karuan. Waktu saya untuk belajar filsafat itu cuma sedikit Pak. Saya mempunyai banyak tugas-tugas yang lain. Apa lah gunanya berfilsafat, sehingga berbicara ngalor ngidul yang tak relevan dengan kehidupan sehari-hari. Lagi pula tidak ada sangkut pautnya dengan tugas mengajar saya. Saya perlu pemondokan, saya perlu transportasi, saya bolak balik dari kampus ke tempat asalku. Itu sudah sangat menyita waktu.

Dosen:
Lha apa usulmu dan apa maumu?

Mahasiswa:
Berikan saja kepada saya referensi yang singkat, padat dan jelas, untuk kemudian saya bisa baca dengan singkat dan saya gunakan untuk persiapan ujian. Beres gitu aja pak.

Dosen:
Maaf, menurut pandangan saya. Ibarat perjalanan, anda sudah memasuki jalan-jalan dan gang sempit, sehingga sulit bagi dirimu untuk membalikkan kendaraanmu atau parkir atau balik arah dsb. Padahal orang belajar filsafat itu ibarat duduk di lobi, dia belum menentukan sikap jalan mana yang harus dilalui, dia hanay baru memikirkannya.

Mahasiswa:
Lagi-lagi, Bapak mulai berfilsafat. Mulai sekarang saya akan diam saja, tidak akan bertanya, tidak akan membuat komen pada Elegi, dan bersifat pasif saja dalam perkuliahan.

Dosen:
Kelihatannya anda cukup bernafsu dalam bersikap. Jika demikian maka pilihan hidup anda akan semakin sedikit. Bukankah banyak orang lebih suka mempunyai banyak pilihan agar hidup itu membahagiakan?
Padahal dalam mempelajari filsafat, mahasiswa itu seyogyanya dalam keadaan NOL. Artinya agar mampu berpikir kritis, maka kita perlu berpikir netral, tidak prejudice atau watprasangka, tidak emosi, tidak putus asa.

Mahasiswa:
Ah lagi-lagi Bapak mulai berfilsafat. Saya jujur saja jemu dengan segala macam ceremah Bapak.

Dosen:
Jikalau engkau mulai jemu dengan ceramah saya, bukankah setiap hari saya sudah beri kesempatan untuk bertanya, usul, memberi saran atau apa saja baiknya agar engkau mampu belajar filsafat.

Mahasiswa:
Sebetulnya sih enggan aku katakan. Jujur saja untuk berbicara di kelas juga aku mengalami kesulitan, karena mungkin bacaanku juga masih sedikit.

Dosen:
Kenapa engkau tidak usul atau bertanya atau memberi saran.

Mahasiswa:
Untuk itu semua juga sama saja. Saya tidak merasa pede karena mungkin saya juga kurang membaca. Atau bacaan saya belum relevan dengan pokok pembicaraan.

Dosen:
Terus apalagi yang ingin engkau sampaikan?

Mahasiswa:
Kenapa Bapak melakukan testing filsafat, sehingga terasa memberatkan mahasiswa?

Dosen:
Itu merupakan komunikasi formal. Wajib hukumnya bagi dosen untuk menguji mahasiswa.

Mahasiswa:
Kenapa ujiannya seperti itu, lain lagi minta ujiannya sesuai dengan selera saya.

Dosen:
Ujian seperti apa yang engkau inginkan?

Mahasiswa:
Aku sendiri juga bingung. Bagaimana ya cara Bapak menguji diriku agar Bapak juga tahu kemampuan berfilsafatku?

Dosen:
Saya sebetulnya mempunyai banyak cara dan teori untuk mengujimu. Anda sendiri juga bisa membuat refleksi, bisa membuat makalah, bisa menguraikan atau membuat tesis, anti tesis atau sintesis.

Mahasiswa:
Apa pula itu Pak?

Dosen:
Kemarahan dan emosimu telah menutup sebagaian ilmumu. Jika engkau terus-teruskan itulah sebenar-benar musuhmu dalam belajar filsafat. Jika engkau tidak mamu mengatasi sampai kuliah ini berakhir, itu pertanda engkau gagal dalam menempuh perkuliahan. Padahal sebetul-betulnya yang terjadi adalah untuk belajar filsafat, tidak cukup hanya membaca sedikit, tidak tepat kalau hanya menginginkan petunjuk teknis, tidak cukup kalau hanya membaca referensi wajib, tidak cukup hanya berpikir parsial. Jika itu yang engkau lakukan maka itulah sebenar-benar anda akan menjadi manusia yang berbahaya dimuka bumi ini, karena anda akan menggunakan filsafat tidak tepat ruang dan waktunya. Maka mempelajari filsafat juga tidak bisa urut hirarkhis, tidak hanya membaca tetapi berfilsafatlah dengan segenap jiwa ragamu. Itulah maka sebenar-benar filsafat adalah refleksi hidupmu sendiri. Amarahmu dan kekecewaanu itu adalah catatanmu. Tetapi ketahuilah bahwa amarah dan emosi itu sebenar-benar adalah telah menghabiskan dan membakar energimu.

Mahasiswa:
Bapak otoriter.

Dosen:
Otoriter itu dunia. Dia punya batas-batasnya. Dia bisa sangat kuat tetapi juga bisa sangat lemah. Jika otoritasnya sangat lemah mungkin dia demokratis, tetapi tidak selalu demikian. Lihat betapa Amerika begitu garangnya berperang dalam rangka menegakkan demokrasi. Lalu apa usulmu lagi?

Mahasiswa:
Sementara aku akan berdiam diri.

Dosen:
Baik, dalam diam itu ada kebajikan. Karena diam dapat digunakan sebagai sarana untuk refleksi diri. Ketahuilah bahwa refkesi diri itu merupakan kegiatan berpikir yang paling tinggi. Demikianlah semoga kita semua dapat selalu belajar dari pengalaman. Amiiin.

Mahasiswa:
Ntar Pak jangan ditutup dulu. saya ingin tanya dengan jurur. Terus terang saya mengalami kesulita memahami Elegi Bapak.

Dosen:
Baik anda mengalami kesulitan karena saya menggunakan berbagai macam bahasa dengan segala tingkatannya.

Mahasiswa:
Maksud Bapak?

Dosen:
Elegi itu tidak hanya meliputi jenis ucapan tetapi juga tindakan ucapan. Kita mengetahui ada paling sedikit empat macam jenis komunikasi: material, formal, normatif dan spiritual. Maka Elegi itu meliputi semua tingkatan jenis komunikasi tersebut.

Dalam Elegi aku juga berusaha menggunakan bahasa konstatif, maksudnya saya berusaha menggambarkan suatu kejadian atau fakta atau fenomena menggunakan gaya bahasaku sendiri. Dengan bahasa konstatif itu anda dapat melakukan verifikasi atau menilai benar salahnya pernyataan saya. Maka carilah mereka itu dalam Elegi-elegi saya. Tetapi ada juga Elegi dimana saya bebas memilih kata-kata atau bahasa saya sesuai dengan selera saya.

Dengan bahasa demikian saya tidak bermaksud agar anda membuktikan kebenarannya, tetapi semata-mata merupakan usaha saya sebagai penutur bahasa untuk memberi muatan filsafat, muatan moril atau muatan pengetahuan atau muatan pengalaman lainnya. Dengan bahasa perforatif itu saya ingin menunjukkan bahwa elegi itu memang orisinil tulisan saya.

Saya juga ingin menunjukkan kehadiran keterlibatan saya dalam elegi itu dengan demikian saya bisa lebih menghayati penulisan elegi itu. Di sinilah mungkin terjadi perbedaan taraf kelaikan yang anda harapkan dengan taraf kelaikan yang saya gunakan atau saya pilih. Jika terjadi kesenjangan ini maka saya menyadari bahwa anda akan dibuatnya “unhappy”, sedangkan saya sipembuat elegi happy-happy saja.

Tetapi dalam membuat Elegi ini saya juga tidak hanya melakukan hal-hal di atas. Dalam beberapa hal saya juga melakukan apa yang disebut sebagai tindakan lokusi, yaitu meletakkan tanggung jawab penuturan bahasa bukan pada penuturnya tetapi kepada semuanya. Artinya penuturan bahasa itu memang bersifat umum. Dengan mengambil tindakan lokusi pada suatu Elegi saya merasa mempunyai landasan untuk mengembangkan tindakan illokusi bahasa.

Tindakan illokusi bahasa adalah bahasa yang menunjukkan lawan terhadap tindakan sesuatu, dengan demikian tindakan illokusi ini akan menuntut saya sebagai si penutur bahasa untuk bersikap konsekuen juga melaksanakan penuturan saya itu. Misal keyika saya menyarankan anda untuk membaca, itu berarti saya juga seharusnya menyarankan kepada diri saya juga. Demikian juga ketika saya menyarankan anda untuk berbuat baik, bertindak konsisten, berpikir kritis, dsb.

Namun tidak hanya itu saja. Kata-kataku dalam elegi juga sebagian menunjukkan keadaan si pendengar dengan segala implikasinya. Artinya, saya menyadari bahwa kata-kata saya itu akan berpengaruh terhadap si pembaca elegi. Dalam filsafat bahasa mungkin ini yang disebut sebagai tindakan saya yang bersifat perlokusi.

Misalnya kalimat saya yang berbunyi-tidak mungkin belajar filsafat tanpa membaca-.
Ini berakibat anda sebagai mahasiswa saya yang menempuh filsafat, mau tidak mau harus membaca. Jika hal demikian dirasa berat, itulah anda dan juga saya menemukan bukti yang kesekian kalinya bahwa manusia di dunia itu bersifat kontradiktif.

Maka dapat aku katakan bahwa hidup itu adalah pilihan. Jika itu telah menjadi pilihanmu, mengapa engkau melakukan segala perbuatanmu kelihatannya kurang ikhlas. Bukannya engkau tahu bahwa ketidak ikhlasan walau sedikitpun itu tidak akan membawa manfaat baik di dunia maupun akhirat.

Maka renungkanlah. Semoga Allah SWT mengampuni segala kesalahan dan dosa-dosa kita. Amiin.

13 comments:

  1. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Jujur, saya terkadang juga mengalami kesulitan dalam memahami elegi pada blog Prof ini. Tapi hal itu malah membuat saya lebih bersemangat untuk mencoba memahami elegi berikutnya, karena banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan setelah membaca elegi-elegi tersebut, bagaimana memikirkan sesuatu dengan memperhatikan ruang dan waktunya. Kesulitan memahami elegi dikarenakan elegi bukan hanya jenis ucapan tetapi tindakan ucapan, serta elegi meliputi empat jenis komunikasi yaitu material, formal, normatif, dan spiritual. Memahami elegi memang tidak mudah, tetapi disitulah letak prosesnya. Oleh Karena itu, Prof selalu mengatakan lakukan dengan ikhlas hati dan ikhlas pikir serta selalu baca baca dan baca. Belajar filsafat dan memahami elegi memang membutuhkan proses dan tidak bisa instan, selain itu memerlukan usaha yang konsisten.

    ReplyDelete
  2. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Dengan mempelajari filsafat kita dilatih berpikir kritis, berpikir rasional. Elegi dalam berfilsafat merupakan ekspresi dari hati, puisi, dan masih banyak lagi makna yang terkandung di dalamnya. Sebagai manusia kita pasti pernah berpikir apa yang kita punya setelah mempelajari filsafat dengan-elegi elegi yang terkadang membuat kita bingung untuk memahami maknanya. Bahasa analog yang digunakan dalam menulis elegi memang cukup sulit untuk ditafsirkan, tetapi jika kita telah memahami maksud dari elegi tersebut maka terkandung banyak hal positif yang dapat membangun diri kita menjadi lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  3. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Memang benar, bagi saya, belajar untuk memahami elegi-elegi ini membutuhkan pemikiran yang mendalam. Tetapi dengan pemikiran-pemikiran tersebut sebenarnya saya dilatih untuk berpikir secara filsafat. Pembelajaran filsafat sebenarnya bukan pertamakalinya bagi saya, tetapi dulu saya juga pernah belajar mengenai filsafat ilmu, hanya saja dulu belajar filsafat yang saya rasakan bukan tentang berfikir filsafat, tetapi hanya sekedar menghapalkan teori-teori tentang filsafat. Sehingga, saya dapat mengerjakan ujian dan menjawab setiap pertanyaan sesuai dengan apa yang telah saya hafalkan, tanpa memahami lebih jauh mengenai filsafat itu sendiri. Dengan menghapal teori-teori filsafat, saya menganggap bahwa filsafat tidak berbeda dengan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Padahal apabila kita dapat memahami filsafat dengan lebih mendalam tidak hanya dipermukaannya saja, maka sebenarnya hal tersebut dapat mempengaruhi cara pandang dan ideologi kita mengenai hakikat segala sesuatu. Dan kita tahu sudut pandang dan ideologi kita itu juga akan berpengaruh secara umum tentang bagaimana kita akan menjalani kehidupan kita ini, apakah kita dapat bermanfaat bagi orang lain atau malah merugikan orang lain, apakah kita akan hidup dengan damai atau akan selalu gelisah dan sebagainya.

    ReplyDelete
  4. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Belajar melalui membaca berbagai elegi banyak sekali saya temukan berbagai istilah yang tidak lazim digunakan secara umum. Kemudian, belum lagi memahami makna dari istilah-istilah tersebut secara mendalam agar dapat memperoleh pemahaman secara utuh dan komprehensif dalam mempelajari elegi. Dari belajar memahami elegi-elegi disitulah belajar memahami filsafat.

    ReplyDelete
  5. Nahrul Pintoko Aji
    14301244008
    Pendidikan Matematika A 2014

    Melihat obrolan dosen dengan mahasiswa diatas menunjukkan kesungguhan usaha dosen untuk membuat mahasiswa mau dan senang mempelajari filsafat. karakter dosen sangat bijaksana terlihat saat menjawab pernyataan santri yang kesannya jutek.

    ReplyDelete
  6. Nahrul Pintoko Aji
    14301244008
    Pendidikan Matematika A 2014

    Cara bapak mengenalkan elegi dengan blog ini adalah bapak membuat obrolan yang membuat kami tertarik untuk membaca elegi. Beberapa hal tentang elegi disampaikan dengan contoh contoh nyata dan tanpa ada definisi,karena diharapkan definisi mampu d mengerti melalui penyampaian contoh konstektual, walaupun itu sulit.

    ReplyDelete
  7. Ahmad Wafa Nizami (20 maret 2017 at 7.44)
    16709251065
    S2 Pendidikan Matematika D

    Dari elegi memhami elegi kita akan tahu bahwa Elegi memahami elegi, dari pembicaraan antara dosen dan mahasiswa, dapat di tarik kesimpulan, bahwa dalam belajar filsafat itu harus bisa sabar. Harus bisa membuka hati kita untuk belajar menerima apa yang diajarkan. Untuk berfilsafat, kita tidak hanya saja membaca elegi, tapi harus bisa berfilsafat dalam kehidupan kita di sehari-hari. Dan dengan elegi kita bisa mencarai apa yang masih kurang dalam kehiudpan kita Dan dalam hidup itu adalah pilihan kita. Kita yang menentukan kehidupan kita. Apakah kita ikhlas atau tidak dalam menjalani semuanya, jika kita sudah ikhlas, maka apa yang diajarkan oleh seorang guru, maka kita akan bisa menerimanya.

    ReplyDelete
  8. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Filsafat merupakan kebenaran bagi si pemilik filsafat sendiri. Setiap yang berfisafat memiliki kebenaran filsatanya masing-masing.
    Tak jarang kita temui berbedaan kebenaran yang sama. Seperti yang sudah dipaparkan di atas bahwasannya manusia bersifat kontradiktif.
    Sehingga kita sebagai manusia sudah seharusnya dapat menerima perbedaan pemikiran apalagi terkait filsafat. Karena apa dasarnya kebenaran filsafat ,hanya pada filsafat itu sendiri. Kebenaran Elegi hanya pada elegi itu sendiri.

    ReplyDelete
  9. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    pada hakikatnya untuk mendapatkan semua ilmu dengan membaca. dengan membaca kita tidak hanya sekedar mengerti tapi juga memahami apa yang dimaksudkan oleh penulis. kita uga bisa memahami pola pikirnya. apalagi jika ilmu seperti ilmu filsafat, tentu mau tidak mau, suka tidak suka kita harus sering membaca. ya semua itu untuk kebaikan kita juga.

    ReplyDelete
  10. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari elegi ini saya memperoleh pemaahaman bahwa untuk dapat mendapatkan pemahaman dari elegi-elegi yang ditulis ini perlu adanya keikhlasan hati dan pikiran. Seperti Prof Marsigit sampaikan setiap waktu kuliah bahwa dalam mempelajari filsafat dalam membaca artikel-artikel dalam blog harus ikhlas dalam pikir dan ikhlas dalam hati. Dengan demikian, kita dapat memperoleh makna yang terkandung dalam artikel atau elegi tersebut seklaigus belajar bagaimana cara untuk berfilsafat. Sehingga apa yang kita dapatkan dari blog ini juga bisa kita aplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari kita.

    ReplyDelete
  11. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Memahai elegi juga sama artinya dengan memahami pola pikir kita sendiri, bagaimana kita memahami suatu ilmu yang tidak langsung menunjuk sumber teorinya, melainkan dianalogikan dengan beberapa tokoh atau peran pada elegi itu sendiri sehigga kita sendiri yang menemukan polanya bahwa elegi tersebut sebenarnya menuruk pada suatu teori dalam filsafat. Elegi ini hanyalah sebuah perantara untuk kita berpikir menuju filsafat itu sendiri. Sulit memang, jika kita tidak memahaminya dengan keikhlasan hati yang sungguh-sungguh.

    ReplyDelete
  12. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Belajar merupakan suatu proses yang berkelanjutan. Tidak bisa hanya dilakukan secara instan dan singkat. Sama halnya belajar berfilsafat. Terlebih filsafat menjadi hal baru saya pelajari. Dari elegi tersebut mengingatkan saya untuk ikhlas di setiap proses belajar, termasuk belajar filsafat. Segala sesuatu yang dilandasi dengan niat yang ikhlas, insyaAllah akan memberikan kebermanfaatan. Di sini, saya masih berusaha belajar mengenal dan memahami filsafat dengan membaca elegi-elegi di blog ini.

    ReplyDelete
  13. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu'alaikum. Memahami elegi masih terasa sulit untuk saya, namum pelan-pelan mulai terbiasa dengan bahasa elegi dan mulai memahami maksud dari setiap elegi. Bahasa yang dipakai dalam elegi memang sulit dipahami, tapi kalau sudah paham ternyata isi elegi itu penuh makna.

    ReplyDelete