Oct 16, 2010

Elegi Memahami Elegi

Oleh Marsigit

Mahasiswa:
Aku jengkel, aku marah, aku tak peduli, aku tersinggung...



Dosen:
Sebentar apa masalahnya? Mengapa anda bersikap demikian?

Mahasiswa:
Ah Bapak tak perlu berpura-pura. Kan segala macam persoalan yang membuat Bapak sendiri.

Dosen:
Oh baik apakah ini berkaitan dengan perkuliahan filsafat. Jika benar apakah ini berurusan dengan Elegi-elegi?

Mahasiswa:
Sumpah serapah. Saya tak mau lagi membaca Elegi? Kekaguman saya kepada bapak juga runtuh sudah. Ternyata Bapak tidak seperti yang aku pikirkan.

Dosen:
Lho kenapa, emangnya apa salahnya Elegi? Jika engkau telah menemukan bahwa aku tidak perlu lagi engkau kagumi, bukankah itu adalah satu jalanmu bagi pencerahanmu. Filsafat itu tidak tergantung oleh keberadaan saya. Sehebat-hebat aku sebagai dosen, itu adalah ibarat setitik pasir ditepi lautan filsafat. Maka aku perlu sarankan pula agar engkau pun perlu memikir ulang kekagumanmu terhadap dosen yang lain. Sebab hal yang demikian dapat melemahkan usahamu mewujudkan pikiran kritismu.

Mahasiswa:
Bapak itu tidak mutu. Kenapa aku belajar filsafat pakai syarat harus (diwajibkan) membaca Elegi?

Dosen:
Sebetulnya bukan wajib. Wajib itu relatif. Selama itu masih urusan dunia, segala kewajiban itu masih bisa dirundingkan.

Mahasiswa:
Tetapi setelah membaca Elegi dan mengikuti kuliah Bapak saya jadi pusing. Konsep pemikiranku menjadi berantakan tak karuan. Waktu saya untuk belajar filsafat itu cuma sedikit Pak. Saya mempunyai banyak tugas-tugas yang lain. Apa lah gunanya berfilsafat, sehingga berbicara ngalor ngidul yang tak relevan dengan kehidupan sehari-hari. Lagi pula tidak ada sangkut pautnya dengan tugas mengajar saya. Saya perlu pemondokan, saya perlu transportasi, saya bolak balik dari kampus ke tempat asalku. Itu sudah sangat menyita waktu.

Dosen:
Lha apa usulmu dan apa maumu?

Mahasiswa:
Berikan saja kepada saya referensi yang singkat, padat dan jelas, untuk kemudian saya bisa baca dengan singkat dan saya gunakan untuk persiapan ujian. Beres gitu aja pak.

Dosen:
Maaf, menurut pandangan saya. Ibarat perjalanan, anda sudah memasuki jalan-jalan dan gang sempit, sehingga sulit bagi dirimu untuk membalikkan kendaraanmu atau parkir atau balik arah dsb. Padahal orang belajar filsafat itu ibarat duduk di lobi, dia belum menentukan sikap jalan mana yang harus dilalui, dia hanay baru memikirkannya.

Mahasiswa:
Lagi-lagi, Bapak mulai berfilsafat. Mulai sekarang saya akan diam saja, tidak akan bertanya, tidak akan membuat komen pada Elegi, dan bersifat pasif saja dalam perkuliahan.

Dosen:
Kelihatannya anda cukup bernafsu dalam bersikap. Jika demikian maka pilihan hidup anda akan semakin sedikit. Bukankah banyak orang lebih suka mempunyai banyak pilihan agar hidup itu membahagiakan?
Padahal dalam mempelajari filsafat, mahasiswa itu seyogyanya dalam keadaan NOL. Artinya agar mampu berpikir kritis, maka kita perlu berpikir netral, tidak prejudice atau watprasangka, tidak emosi, tidak putus asa.

Mahasiswa:
Ah lagi-lagi Bapak mulai berfilsafat. Saya jujur saja jemu dengan segala macam ceremah Bapak.

Dosen:
Jikalau engkau mulai jemu dengan ceramah saya, bukankah setiap hari saya sudah beri kesempatan untuk bertanya, usul, memberi saran atau apa saja baiknya agar engkau mampu belajar filsafat.

Mahasiswa:
Sebetulnya sih enggan aku katakan. Jujur saja untuk berbicara di kelas juga aku mengalami kesulitan, karena mungkin bacaanku juga masih sedikit.

Dosen:
Kenapa engkau tidak usul atau bertanya atau memberi saran.

Mahasiswa:
Untuk itu semua juga sama saja. Saya tidak merasa pede karena mungkin saya juga kurang membaca. Atau bacaan saya belum relevan dengan pokok pembicaraan.

Dosen:
Terus apalagi yang ingin engkau sampaikan?

Mahasiswa:
Kenapa Bapak melakukan testing filsafat, sehingga terasa memberatkan mahasiswa?

Dosen:
Itu merupakan komunikasi formal. Wajib hukumnya bagi dosen untuk menguji mahasiswa.

Mahasiswa:
Kenapa ujiannya seperti itu, lain lagi minta ujiannya sesuai dengan selera saya.

Dosen:
Ujian seperti apa yang engkau inginkan?

Mahasiswa:
Aku sendiri juga bingung. Bagaimana ya cara Bapak menguji diriku agar Bapak juga tahu kemampuan berfilsafatku?

Dosen:
Saya sebetulnya mempunyai banyak cara dan teori untuk mengujimu. Anda sendiri juga bisa membuat refleksi, bisa membuat makalah, bisa menguraikan atau membuat tesis, anti tesis atau sintesis.

Mahasiswa:
Apa pula itu Pak?

Dosen:
Kemarahan dan emosimu telah menutup sebagaian ilmumu. Jika engkau terus-teruskan itulah sebenar-benar musuhmu dalam belajar filsafat. Jika engkau tidak mamu mengatasi sampai kuliah ini berakhir, itu pertanda engkau gagal dalam menempuh perkuliahan. Padahal sebetul-betulnya yang terjadi adalah untuk belajar filsafat, tidak cukup hanya membaca sedikit, tidak tepat kalau hanya menginginkan petunjuk teknis, tidak cukup kalau hanya membaca referensi wajib, tidak cukup hanya berpikir parsial. Jika itu yang engkau lakukan maka itulah sebenar-benar anda akan menjadi manusia yang berbahaya dimuka bumi ini, karena anda akan menggunakan filsafat tidak tepat ruang dan waktunya. Maka mempelajari filsafat juga tidak bisa urut hirarkhis, tidak hanya membaca tetapi berfilsafatlah dengan segenap jiwa ragamu. Itulah maka sebenar-benar filsafat adalah refleksi hidupmu sendiri. Amarahmu dan kekecewaanu itu adalah catatanmu. Tetapi ketahuilah bahwa amarah dan emosi itu sebenar-benar adalah telah menghabiskan dan membakar energimu.

Mahasiswa:
Bapak otoriter.

Dosen:
Otoriter itu dunia. Dia punya batas-batasnya. Dia bisa sangat kuat tetapi juga bisa sangat lemah. Jika otoritasnya sangat lemah mungkin dia demokratis, tetapi tidak selalu demikian. Lihat betapa Amerika begitu garangnya berperang dalam rangka menegakkan demokrasi. Lalu apa usulmu lagi?

Mahasiswa:
Sementara aku akan berdiam diri.

Dosen:
Baik, dalam diam itu ada kebajikan. Karena diam dapat digunakan sebagai sarana untuk refleksi diri. Ketahuilah bahwa refkesi diri itu merupakan kegiatan berpikir yang paling tinggi. Demikianlah semoga kita semua dapat selalu belajar dari pengalaman. Amiiin.

Mahasiswa:
Ntar Pak jangan ditutup dulu. saya ingin tanya dengan jurur. Terus terang saya mengalami kesulita memahami Elegi Bapak.

Dosen:
Baik anda mengalami kesulitan karena saya menggunakan berbagai macam bahasa dengan segala tingkatannya.

Mahasiswa:
Maksud Bapak?

Dosen:
Elegi itu tidak hanya meliputi jenis ucapan tetapi juga tindakan ucapan. Kita mengetahui ada paling sedikit empat macam jenis komunikasi: material, formal, normatif dan spiritual. Maka Elegi itu meliputi semua tingkatan jenis komunikasi tersebut.

Dalam Elegi aku juga berusaha menggunakan bahasa konstatif, maksudnya saya berusaha menggambarkan suatu kejadian atau fakta atau fenomena menggunakan gaya bahasaku sendiri. Dengan bahasa konstatif itu anda dapat melakukan verifikasi atau menilai benar salahnya pernyataan saya. Maka carilah mereka itu dalam Elegi-elegi saya. Tetapi ada juga Elegi dimana saya bebas memilih kata-kata atau bahasa saya sesuai dengan selera saya.

Dengan bahasa demikian saya tidak bermaksud agar anda membuktikan kebenarannya, tetapi semata-mata merupakan usaha saya sebagai penutur bahasa untuk memberi muatan filsafat, muatan moril atau muatan pengetahuan atau muatan pengalaman lainnya. Dengan bahasa perforatif itu saya ingin menunjukkan bahwa elegi itu memang orisinil tulisan saya.

Saya juga ingin menunjukkan kehadiran keterlibatan saya dalam elegi itu dengan demikian saya bisa lebih menghayati penulisan elegi itu. Di sinilah mungkin terjadi perbedaan taraf kelaikan yang anda harapkan dengan taraf kelaikan yang saya gunakan atau saya pilih. Jika terjadi kesenjangan ini maka saya menyadari bahwa anda akan dibuatnya “unhappy”, sedangkan saya sipembuat elegi happy-happy saja.

Tetapi dalam membuat Elegi ini saya juga tidak hanya melakukan hal-hal di atas. Dalam beberapa hal saya juga melakukan apa yang disebut sebagai tindakan lokusi, yaitu meletakkan tanggung jawab penuturan bahasa bukan pada penuturnya tetapi kepada semuanya. Artinya penuturan bahasa itu memang bersifat umum. Dengan mengambil tindakan lokusi pada suatu Elegi saya merasa mempunyai landasan untuk mengembangkan tindakan illokusi bahasa.

Tindakan illokusi bahasa adalah bahasa yang menunjukkan lawan terhadap tindakan sesuatu, dengan demikian tindakan illokusi ini akan menuntut saya sebagai si penutur bahasa untuk bersikap konsekuen juga melaksanakan penuturan saya itu. Misal keyika saya menyarankan anda untuk membaca, itu berarti saya juga seharusnya menyarankan kepada diri saya juga. Demikian juga ketika saya menyarankan anda untuk berbuat baik, bertindak konsisten, berpikir kritis, dsb.

Namun tidak hanya itu saja. Kata-kataku dalam elegi juga sebagian menunjukkan keadaan si pendengar dengan segala implikasinya. Artinya, saya menyadari bahwa kata-kata saya itu akan berpengaruh terhadap si pembaca elegi. Dalam filsafat bahasa mungkin ini yang disebut sebagai tindakan saya yang bersifat perlokusi.

Misalnya kalimat saya yang berbunyi-tidak mungkin belajar filsafat tanpa membaca-.
Ini berakibat anda sebagai mahasiswa saya yang menempuh filsafat, mau tidak mau harus membaca. Jika hal demikian dirasa berat, itulah anda dan juga saya menemukan bukti yang kesekian kalinya bahwa manusia di dunia itu bersifat kontradiktif.

Maka dapat aku katakan bahwa hidup itu adalah pilihan. Jika itu telah menjadi pilihanmu, mengapa engkau melakukan segala perbuatanmu kelihatannya kurang ikhlas. Bukannya engkau tahu bahwa ketidak ikhlasan walau sedikitpun itu tidak akan membawa manfaat baik di dunia maupun akhirat.

Maka renungkanlah. Semoga Allah SWT mengampuni segala kesalahan dan dosa-dosa kita. Amiin.

28 comments:

  1. Muh Wildanul Firdaus
    17709251057
    Pendidikan Matematika S2 Kelas C

    Sebagai mahasiswa yang belajar filsafat ilmu dengan Prof Marsigit saya memahami membaca elegi-elegi yang ada di blog ini merupakan sebuah kebutuhan. Memang tidak mudah untuk memahami isi elegi dalam blog ini. oleh karena itu diperlukan keikhlasan, yaitu ikhlas pikir dan ikhlas hati. Semakin banyak yang dibaca tentunya akan semakin banyak hal yang tidak dipahami. Karena banyak yang tidak paham maka akan muncul pertanyaan dan di situlah awal mulanya ilmu. Untuk menunjukkan bahwa saya ada (mebaca elegi) adalah dengan adanya komentar.

    ReplyDelete
  2. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Dalam mempelajari sesuatu kita memang seharusnya melakukannya dengan sepenuh hati supaya diri ini tidak mudah terserang virus pusing, binggung, malas, dan sebagainya. Begitu pula dengan belajar dari elegi-elegi ini, meskipun terkadang merasa kesulitan untuk memahami namun ada beberapa kata yang dapat memotivasi diri ini menjadi lebih giat membaca, lebih banyak belajar mencari hal yang belum diketahui, dan yang sudah pasti lebih banyak memperoleh ilmu baru. Mudah-mudahan dengan belajar elegi-elegi ini saya bisa mempunyai wawasan (terutama bahasa) yang lebih luas. Amin

    ReplyDelete
  3. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Berdasarkan elegi di atas menggambarkan bahwa akan pentingnya belajar filsafat dengan ikhlas, seperti yang Bapak katakan selama perkuliahan, ikhlas hati (merasa senang ketika membaca) dan ikhlas pikir (memahami apa yang dibaca) adalah kunci agar keikhlasan itu dapat dipegang. Jika sudah mencapai titik jenuh dari itu semua, itu menandakan bahwa niat awal sudah mulai luntur, maka refleksikan diri masing-masing agar dalam mempelajarinya memberikan manfaat bagi diri kita masing-masing.

    ReplyDelete
  4. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Pertama kali saya mendengar kata elegi yaitu ketika saya mengikuti perkuliahan Filsafat Ilmu dengan Pak Marsigit. Disitu saya mendapatkan kesempatan untuk membaca tulisan-tulisan di blog beliau. Disitulah terdapat banyak elegi yang menceritakan banyak hal mengenai pendidikan, filsfat, matematika, dan banyak hal lain. Selain itu, bahasa elegi ini berbeda dengan tulisan2 pada umumnya yaitu penggunaan istilah2 yang mungkin asing bagi kita seperti orang tua berambut putih dan lain sebagainya. Namun, elegi ini menyiratkan banyak pengetahuan dan nilai-nilai khidupanyang jarang dibahas oleh banyak ilmuan. Oleh karena itu, sebagai mahasiswa sudah seharusnya kita memperbanyak mempelajari elegi2 yang ada di blog ini.

    ReplyDelete
  5. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Bismillah...

    Memang pada awal saya membaca elegi-elegi yang sudah dishare di web, saya merasa aneh dan merasa jenuh akan isi tulisan yang terkadang membuat saya harus membaca berulang-ulang akan elegi itu. Tetapi, seiring berjalan waktu dan seringnya membaca elegi dan mengkomentari elegi itu, membuat saya takjub begitu banyak hal yang belum saya tahu dan bahkan jadi tahu ketika memahami isi dari elegi. Elegi yang telah dituliskan membuat mudah hal sulit untuk di pahami, seperti elegi menggapai bijaksana. Ketika saya baca elegi itu, saya menjadi seperti orang yang sangat bersalah pada diri dan orang lain, karena apa yang menurut saya bijaksana belum tentu bijaksana bagi orang lain, karena kebijaksanaan hanya milik Tuhan semata, kita manusia hanya berusaha, sehingga bijaksana juga terikat dengan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  6. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Memahami elegi masih terasa sulit untuk saya, namum pelan-pelan mulai terbiasa dengan bahasa elegi dan mulai memahami maksud dari setiap elegi. Bahasa yang dipakai dalam elegi memang sulit dipahami, tapi kalau sudah paham ternyata isi elegi itu penuh makna.

    ReplyDelete
  7. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Menurut saya, elegi itu ibarat perkataan orangtua zaman dulu. Intinya berupa nasehat kehidupan, tetapi disampaikan dengancerita atau dengan perumpamaan. Tujuannya agar apabila ada nasiat yang beresiko menyakiti perasaan orang lain maa tida terlalu frontal alias tersampaikan secara tersirat. Memahami elegi sama seperti memahami nasehat, kita perlu kepekaan dan berpikir jernih untuk mengetahui makna dibalik cerita atau kaimatnya. Selain itu juga perlu ikhlas dalam hati dan pikir agar kita mampu mencerna elegi serta menarik hikmah di dalamnya.

    ReplyDelete
  8. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Elegi yang mengingatkan saya tentang ikhlas dan syukur. Dua hal yang berbeda namun sarat makna dan memiliki keterkaitan. Ikhlas dalam menghadapi dan mempelajari sesuatu serta senantiasa bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya untuk menjalani kehidupan di dunia ini. Tidak ada cobaan yang diberikan Allah melainkan agar manusia senantiasa menjadi lebih baik dan pribadi yang kuat serta suatu bentuk kasih sayang yang Allah berikan.

    ReplyDelete
  9. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih bapak atas elegi-elegi yang diberikan selama ini. Mungkin di awal begitulah yang kami rasakan, sebegitunya kah beban dalam perkuliahan filsafat ini. Namun semakin kesini, saya semakin merasa bahwa membaca ratusan elegi bapak itu memang suatu kebutuhan. Dengan bahasa analog yang semula saya harus memahaminya berulang kali, tidak menjadi sia-sia ketika saya menemukan begitu banyak nilai, motivasi, inspirasi, dan pelajaran kehidupan di dalamnya. Semakin kita ikhlas, semakin terasa pula nikmatnya mengikuti perkulihan ini dan semakin bersyukur karena dapat berkesempatan mengikuti mata kuliah ini dan bertemu prof. Marsigit dalam beberapa kali tatap muka. Sehingga, tidak ada ilmu yang sia-sia, semuanya menjadi berarti jika kita mampu ikhlas kepada Allah dalam mendapatkannya dan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  10. Hidup adalah pilihan kita, sebelumnya diagapai deengan berpikir. Untuk itu perlu dijalani dengan ikhlas segala sesuatu yang telah dipilih. Keikhlasan akan memunculkan pemahaman piker yang lebih baik. Sebagai contoh, ketika seseorang mulai belajar, maka jika diiringi dengan ikhlas lambat laun akan menikmati dan memahami apa yang dipelajari.

    ReplyDelete
  11. Dalam elegi ini, peran filsafat dimunculkan melalui sebuah elegi yang memang kebenarannya bagi pemilik elegi, pemikir, filsuf nya. Maka jelas sekali bahwa setiap orang mempunyai pemikiran yang berbeda, karena mereka masing-masing berfilsafat. Tentu perbedaan ini dimaklumi dan dihargai bersama.

    ReplyDelete
  12. Aristiawan
    17701251025
    PEP B 2017
    Belajar filsafat adalah belajar mengolah pikiran, dengan bertanya, berfikir, merenung,membuat sintesis, lalu bertanya lagi dan seterusnya. Keputusan atau hasil dari olah pikirannya ini akan memberikan efek atau tindak lanjut mengenai apa yang akan dilakukannya. Sehingga proses olah pikir tersebut merupakan sebuah aktivitas yag penting, karena ia akan mempengaruhi seluruh aktivitas setelahnya.

    ReplyDelete
  13. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Berfilsafat itu membutuhkan banyak bacaan sehingga kita bisa memahami berbagai macam kumunikasi baik formal, material, normatif maupun spiritual. Sebenar-benar olah pikir itu adalah berfilsafat. Ibarat teko yang diisi kopi, maka akan mengeluarkan koi jika dituang. Begitu juga apa yang yang keluar dari ucapan kita itu berasal dari berbagai bacaan yang kita baca, atau mendengar info-info dll.

    ReplyDelete
  14. Ilania Eka Andari
    17709251050
    s2 pmat c 2017

    Lebih banyak membaca dan melakukan refleksi adalah kunci untuk memahami elegi. Lebih banyak membaca akan menambah ilmu pengetahuan sehingga akan lebih mempermudah mengerti setiap kata dan kalimat dalam elegi. Namun, semua itu adalah pilihan. Jika kita memilih untuk bersungguh-sungguh dalam belajar maka manfaat yang besar pasti akan didapat. Kemauan dan keikhlasan dalam membaca dan belajar adalah komponen yang penting.

    ReplyDelete
  15. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Berdasarkan artikel “elegi memahami elegi” di atas, yang dapat saya simpulkan adalah elegi merupakan cara penulis untuk menyampaikan ide atau gagasan yang berkaitan dengan filsafat. Elegi berisi tesis atau antitesis yang kemudian diperoleh sintesis-sintesis. Berdasarkan pengalaman saya membaca elegi-elegi sebelumnya bahwa pada proses penarikan kesimpulan terhadap inti dari pembicaraan dalam elegi harus didasarkan proses berpikir logis, sebab perlu pemahaman yang lebih jauh tentang makna yang tertuang dalam elegi tersebut.

    ReplyDelete
  16. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Sebagaimana yang diketahui bahwa filsafat itu adalah diri kita sendiri. Sehingga pada dasarnya kebenaran dari filsafat itu merupakan kebenaran bagi kita sendiri. Jadi setiap manusia pada dasarnya memiliki kebenaran filsafat masing-masing. Jadi tidak ada yang benar maupun salah dalam memahami filsafat.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  17. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Elegi merupakan cabang ilmu filsafat baru saya dengar selama ini. Kadang membuat saya kaget mendengarkan celotehan atau sejenisnya dalam filfasat. Biasanya yang terkadang saya anggap sudah selesai, tatkala dalam filsafat dipertanyakan kembali. Ya, membuat saya semakin pusing dengan ilmu filsafat, ilmu yang tidak pasti ini. Lambat laun saya menyadari bahwa filsafat sangat penting dalam kehidupan saat ini. Filsafat mengajarkan saya sebuah cara hidup sederhana, kritis serta tuntas.

    ReplyDelete
  18. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Seperti yang dikatakan oleh Immanuel Kant. Ia mengatakab ilmu pengetahuan diperoleh dari sintesa apriori dan aposteriori. Di mana dalam memperoleh pengetahuan yang rasional setidaknya rasio manusia menempuh tiga tahap refleksi. Pertama tahap pengetahuan indrawi yang terdiri dari unsur apriori dan aposteriori. Dalam hal ini apriori berkaitan dengan ruang dan waktu, aposteriorinya berupa kenyataan yang dapat diketahui. Tahap kedua, tahap akal budi di mana merupakan orde data indrawi yang telah dikenali pada tahap indrawi. Tahap ketiga adalah tahap rasio, tahap ini merupakan pengetahuan teoretisi murni yang berlandaskan argument-argumen.
    Dengan kata lain, filsafat terutama dalam elegi ini, mengajarkan sebuah ilmu yang tidak hanya selesai dalam argumen. Melainkan ilmu juga harus selesai dalam tindakan. Ilmu tidak hanya sebatas kata, melainkan sebuah jalan hidup membuat manusia semakin bijak dalam menentukan kehidupan ini. Filsafat mengajarkan sebuah antara ucapan, pikiran serta tindakan untuk selaras. Tidak boleh ingkar dalam salah satunya. Hal ini sangat cocok dalam ajaran agama saya, Islam; tidak boleh munafik dalam menjalankan kehidupan.

    ReplyDelete
  19. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Filsafat Ilmu adalah mata kuliah yang sangat baru bagi saya, karena mata kuliah ini tidak pernah saya dapatkan di jenjang S1. Pertama kali mendengar kata elegi, saya tidak mengerti apa itu elegi. Setelah membuka blog ini barulah saya mengetahui elegi seperti apa. Ternyata melalui 1 elegi banyak pelajaran kehidupan yang dapat diperoleh.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  20. Elegi jika hanya sekedar dibaca saja maka akan terasa sulit untuk dipahami, karena bahasa-bahasanya unik, maka ketika membacanya kita harus diawali dengan niat yang ikhlas kemudian berpikir kritis mencari makna yang tersembunyi dibaliknya.

    ReplyDelete
  21. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb. elegi memahami elegi mengajarkan kita bahwa elegi tidak hanya meliputi ucapan tapi juga perbuatan. elegi mengajarkan kita untuk menggambarkan sesuatu menggunakan bahasa kita sendiri. Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  22. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    Saat memahami elegi kita akan sering berfilsafat dengan banyak pertanyaan karena ketidaktahuan kita. Memahami elegi itu membutuhkan ilmu dengan usaha sendiri. Setelah mendapat ilmu dilanjutkan dengan merefleksi diri untuk mengetahui apa yang sudah kita lakukakan dan apa yang sudah didapatkan.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  23. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Dalam mempelajari ilmu apapun, sebaiknya kita tidak prejudice. Seperti dalam belajar filsafat ini, pikiran kita harus netral. Agar kita dapat berfilsafat dengan segenap jiwa dan raga kita harus melakukan segala sesuatunya dengan ikhlas. Dengan ikhlas itulah kita dapat menyadari betapa banyaknya manfaat filsafat dalam kehidupan kita. Filsafat berangkat dari bertanya. Ketika pikiran kita kacau, maka pada saat itulah sebenar-benarnya kita sedang mulai berfilsafat. Namun ketika hati kita mulai kacau ketika berfilsafat, kita harus menghentikannya sejenak dan memohon perlindungan Allah. Menurut saya, elegi yang dibuat oleh Prof Marsigit memang tidak bisa hanya dibaca satu kali untuk dapat memahaminya. Saya harus membaca berkali-kali dan berpikir sedalam-dalamnya mengenai isi dari elegi. Tapi disitulah menariknya. Kita bisa menggali pikiran dan ilmu kita lebih dalam lagi. Berusaha memahami dengan berbaglain sudut pandang baru. Selain itu, bukankah kita memang harus berikhtiar untuk mendapatkan apa yang kita inginkan? Sehingga membaca elegi ini dapat kita kategorikan sebagai ikhtiar kita.

    ReplyDelete
  24. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Membaca elegi ini saya merasa malu, betapa angkuhnya saya karena sampai saat ini belum dapat membaca semua elegi Bapak. Saya merasa ilmu saya ibarat air di lautan, ilmu saya hanya lapisan tipis permukaan yang menyentuh pantai saja. Belum saya miliki lautan itu sehingga saya masih kontradiktif. Ingin berfilsafat tapi belum rajin membaca dan sebagainya.

    ReplyDelete
  25. Hal yang membuat saya kesulitan dalam memahami elegi adalah bahasanya yang menggunakan analogi. Dan di perlukannya hermeneutika dalam memahaminya. Akan tetapi insya Allah dengan ketulusan dan kegigihan dalam mempelajari filsafat, di bantu dengan elegi-elegi yang ada pada blog Bapak ini merupakan suatu sarana untuk belajar belajar dan belajar filsafat, terimakasih Prof. "Baca baca dan baca" Kalimat ini selalu saya tanamkan dalam diri saya

    ReplyDelete
  26. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. mempelajari filsafat itu memang membutuhkan tenaga yang ekstra. Mempelajari filsafat itu harus menggunakan hati dan pikiran yang ikhlas. Pada perkuliahan Prof. Marsigit media pembelajaran yang digunakan salah satunya ialah blog yang berisi pemikiran dan elegi beliau. Perlu dipahami dan diresapi setiap kata-kata yang terdapat dalam elegi untuk dapat memahami keseluruhan elegi

    ReplyDelete
  27. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PMB 2017

    Elegi memahami elehi. Kita hidup di dunia ini tentu dengan banyak sekali perbedaan yang ada di sekeliling kita. Antar sesama manusia antara satu sama lain pasti saling memiliki perbedaan, entah berbeda keyakinan, berbeda sifat atau yang lainya. Ini semua karena kuasa Tuhan yang dapat menjadikan manusia memiliki segala perbedaan yang ada. Jika anda membenci perbedaan, anda sejatinya membenci seluruh manusia. Karena semua manusia diciptakan berbeda.

    ReplyDelete
  28. Dheni Nugroho
    17709251023
    PPs Pendidikan Matematika

    Kunci belajar adalah ikhlas. Begitu juga dengan membaca elegi. Jika membaca elegi telah membuat diri kita emosi atau marah maka menandakan diri kita kurang ikhlas dalam belajar. Semua pilihan kita dalam berfilsafat adalah bentuk dari refleksi diri dan pencerahan yang diterima oleh setiap orang akan berbeda-beda. Marah, diam, atau justru berusaha terus belajar membaca elegi dengan istiqomah juga menjadi pilihan kita dalam berfilsafat. Setelah membaca artikel ini, saya akan terus berusaha membaca elegi walau mungkin beberapa hal tidak saya pahami, tetapi saya akan terus mencobanya dan berharap agar semakin hari akan membuat saya semakin paham.

    ReplyDelete