Oct 16, 2010

Elegi Memahami Elegi

Oleh Marsigit

Mahasiswa:
Aku jengkel, aku marah, aku tak peduli, aku tersinggung...



Dosen:
Sebentar apa masalahnya? Mengapa anda bersikap demikian?

Mahasiswa:
Ah Bapak tak perlu berpura-pura. Kan segala macam persoalan yang membuat Bapak sendiri.

Dosen:
Oh baik apakah ini berkaitan dengan perkuliahan filsafat. Jika benar apakah ini berurusan dengan Elegi-elegi?

Mahasiswa:
Sumpah serapah. Saya tak mau lagi membaca Elegi? Kekaguman saya kepada bapak juga runtuh sudah. Ternyata Bapak tidak seperti yang aku pikirkan.

Dosen:
Lho kenapa, emangnya apa salahnya Elegi? Jika engkau telah menemukan bahwa aku tidak perlu lagi engkau kagumi, bukankah itu adalah satu jalanmu bagi pencerahanmu. Filsafat itu tidak tergantung oleh keberadaan saya. Sehebat-hebat aku sebagai dosen, itu adalah ibarat setitik pasir ditepi lautan filsafat. Maka aku perlu sarankan pula agar engkau pun perlu memikir ulang kekagumanmu terhadap dosen yang lain. Sebab hal yang demikian dapat melemahkan usahamu mewujudkan pikiran kritismu.

Mahasiswa:
Bapak itu tidak mutu. Kenapa aku belajar filsafat pakai syarat harus (diwajibkan) membaca Elegi?

Dosen:
Sebetulnya bukan wajib. Wajib itu relatif. Selama itu masih urusan dunia, segala kewajiban itu masih bisa dirundingkan.

Mahasiswa:
Tetapi setelah membaca Elegi dan mengikuti kuliah Bapak saya jadi pusing. Konsep pemikiranku menjadi berantakan tak karuan. Waktu saya untuk belajar filsafat itu cuma sedikit Pak. Saya mempunyai banyak tugas-tugas yang lain. Apa lah gunanya berfilsafat, sehingga berbicara ngalor ngidul yang tak relevan dengan kehidupan sehari-hari. Lagi pula tidak ada sangkut pautnya dengan tugas mengajar saya. Saya perlu pemondokan, saya perlu transportasi, saya bolak balik dari kampus ke tempat asalku. Itu sudah sangat menyita waktu.

Dosen:
Lha apa usulmu dan apa maumu?

Mahasiswa:
Berikan saja kepada saya referensi yang singkat, padat dan jelas, untuk kemudian saya bisa baca dengan singkat dan saya gunakan untuk persiapan ujian. Beres gitu aja pak.

Dosen:
Maaf, menurut pandangan saya. Ibarat perjalanan, anda sudah memasuki jalan-jalan dan gang sempit, sehingga sulit bagi dirimu untuk membalikkan kendaraanmu atau parkir atau balik arah dsb. Padahal orang belajar filsafat itu ibarat duduk di lobi, dia belum menentukan sikap jalan mana yang harus dilalui, dia hanay baru memikirkannya.

Mahasiswa:
Lagi-lagi, Bapak mulai berfilsafat. Mulai sekarang saya akan diam saja, tidak akan bertanya, tidak akan membuat komen pada Elegi, dan bersifat pasif saja dalam perkuliahan.

Dosen:
Kelihatannya anda cukup bernafsu dalam bersikap. Jika demikian maka pilihan hidup anda akan semakin sedikit. Bukankah banyak orang lebih suka mempunyai banyak pilihan agar hidup itu membahagiakan?
Padahal dalam mempelajari filsafat, mahasiswa itu seyogyanya dalam keadaan NOL. Artinya agar mampu berpikir kritis, maka kita perlu berpikir netral, tidak prejudice atau watprasangka, tidak emosi, tidak putus asa.

Mahasiswa:
Ah lagi-lagi Bapak mulai berfilsafat. Saya jujur saja jemu dengan segala macam ceremah Bapak.

Dosen:
Jikalau engkau mulai jemu dengan ceramah saya, bukankah setiap hari saya sudah beri kesempatan untuk bertanya, usul, memberi saran atau apa saja baiknya agar engkau mampu belajar filsafat.

Mahasiswa:
Sebetulnya sih enggan aku katakan. Jujur saja untuk berbicara di kelas juga aku mengalami kesulitan, karena mungkin bacaanku juga masih sedikit.

Dosen:
Kenapa engkau tidak usul atau bertanya atau memberi saran.

Mahasiswa:
Untuk itu semua juga sama saja. Saya tidak merasa pede karena mungkin saya juga kurang membaca. Atau bacaan saya belum relevan dengan pokok pembicaraan.

Dosen:
Terus apalagi yang ingin engkau sampaikan?

Mahasiswa:
Kenapa Bapak melakukan testing filsafat, sehingga terasa memberatkan mahasiswa?

Dosen:
Itu merupakan komunikasi formal. Wajib hukumnya bagi dosen untuk menguji mahasiswa.

Mahasiswa:
Kenapa ujiannya seperti itu, lain lagi minta ujiannya sesuai dengan selera saya.

Dosen:
Ujian seperti apa yang engkau inginkan?

Mahasiswa:
Aku sendiri juga bingung. Bagaimana ya cara Bapak menguji diriku agar Bapak juga tahu kemampuan berfilsafatku?

Dosen:
Saya sebetulnya mempunyai banyak cara dan teori untuk mengujimu. Anda sendiri juga bisa membuat refleksi, bisa membuat makalah, bisa menguraikan atau membuat tesis, anti tesis atau sintesis.

Mahasiswa:
Apa pula itu Pak?

Dosen:
Kemarahan dan emosimu telah menutup sebagaian ilmumu. Jika engkau terus-teruskan itulah sebenar-benar musuhmu dalam belajar filsafat. Jika engkau tidak mamu mengatasi sampai kuliah ini berakhir, itu pertanda engkau gagal dalam menempuh perkuliahan. Padahal sebetul-betulnya yang terjadi adalah untuk belajar filsafat, tidak cukup hanya membaca sedikit, tidak tepat kalau hanya menginginkan petunjuk teknis, tidak cukup kalau hanya membaca referensi wajib, tidak cukup hanya berpikir parsial. Jika itu yang engkau lakukan maka itulah sebenar-benar anda akan menjadi manusia yang berbahaya dimuka bumi ini, karena anda akan menggunakan filsafat tidak tepat ruang dan waktunya. Maka mempelajari filsafat juga tidak bisa urut hirarkhis, tidak hanya membaca tetapi berfilsafatlah dengan segenap jiwa ragamu. Itulah maka sebenar-benar filsafat adalah refleksi hidupmu sendiri. Amarahmu dan kekecewaanu itu adalah catatanmu. Tetapi ketahuilah bahwa amarah dan emosi itu sebenar-benar adalah telah menghabiskan dan membakar energimu.

Mahasiswa:
Bapak otoriter.

Dosen:
Otoriter itu dunia. Dia punya batas-batasnya. Dia bisa sangat kuat tetapi juga bisa sangat lemah. Jika otoritasnya sangat lemah mungkin dia demokratis, tetapi tidak selalu demikian. Lihat betapa Amerika begitu garangnya berperang dalam rangka menegakkan demokrasi. Lalu apa usulmu lagi?

Mahasiswa:
Sementara aku akan berdiam diri.

Dosen:
Baik, dalam diam itu ada kebajikan. Karena diam dapat digunakan sebagai sarana untuk refleksi diri. Ketahuilah bahwa refkesi diri itu merupakan kegiatan berpikir yang paling tinggi. Demikianlah semoga kita semua dapat selalu belajar dari pengalaman. Amiiin.

Mahasiswa:
Ntar Pak jangan ditutup dulu. saya ingin tanya dengan jurur. Terus terang saya mengalami kesulita memahami Elegi Bapak.

Dosen:
Baik anda mengalami kesulitan karena saya menggunakan berbagai macam bahasa dengan segala tingkatannya.

Mahasiswa:
Maksud Bapak?

Dosen:
Elegi itu tidak hanya meliputi jenis ucapan tetapi juga tindakan ucapan. Kita mengetahui ada paling sedikit empat macam jenis komunikasi: material, formal, normatif dan spiritual. Maka Elegi itu meliputi semua tingkatan jenis komunikasi tersebut.

Dalam Elegi aku juga berusaha menggunakan bahasa konstatif, maksudnya saya berusaha menggambarkan suatu kejadian atau fakta atau fenomena menggunakan gaya bahasaku sendiri. Dengan bahasa konstatif itu anda dapat melakukan verifikasi atau menilai benar salahnya pernyataan saya. Maka carilah mereka itu dalam Elegi-elegi saya. Tetapi ada juga Elegi dimana saya bebas memilih kata-kata atau bahasa saya sesuai dengan selera saya.

Dengan bahasa demikian saya tidak bermaksud agar anda membuktikan kebenarannya, tetapi semata-mata merupakan usaha saya sebagai penutur bahasa untuk memberi muatan filsafat, muatan moril atau muatan pengetahuan atau muatan pengalaman lainnya. Dengan bahasa perforatif itu saya ingin menunjukkan bahwa elegi itu memang orisinil tulisan saya.

Saya juga ingin menunjukkan kehadiran keterlibatan saya dalam elegi itu dengan demikian saya bisa lebih menghayati penulisan elegi itu. Di sinilah mungkin terjadi perbedaan taraf kelaikan yang anda harapkan dengan taraf kelaikan yang saya gunakan atau saya pilih. Jika terjadi kesenjangan ini maka saya menyadari bahwa anda akan dibuatnya “unhappy”, sedangkan saya sipembuat elegi happy-happy saja.

Tetapi dalam membuat Elegi ini saya juga tidak hanya melakukan hal-hal di atas. Dalam beberapa hal saya juga melakukan apa yang disebut sebagai tindakan lokusi, yaitu meletakkan tanggung jawab penuturan bahasa bukan pada penuturnya tetapi kepada semuanya. Artinya penuturan bahasa itu memang bersifat umum. Dengan mengambil tindakan lokusi pada suatu Elegi saya merasa mempunyai landasan untuk mengembangkan tindakan illokusi bahasa.

Tindakan illokusi bahasa adalah bahasa yang menunjukkan lawan terhadap tindakan sesuatu, dengan demikian tindakan illokusi ini akan menuntut saya sebagai si penutur bahasa untuk bersikap konsekuen juga melaksanakan penuturan saya itu. Misal keyika saya menyarankan anda untuk membaca, itu berarti saya juga seharusnya menyarankan kepada diri saya juga. Demikian juga ketika saya menyarankan anda untuk berbuat baik, bertindak konsisten, berpikir kritis, dsb.

Namun tidak hanya itu saja. Kata-kataku dalam elegi juga sebagian menunjukkan keadaan si pendengar dengan segala implikasinya. Artinya, saya menyadari bahwa kata-kata saya itu akan berpengaruh terhadap si pembaca elegi. Dalam filsafat bahasa mungkin ini yang disebut sebagai tindakan saya yang bersifat perlokusi.

Misalnya kalimat saya yang berbunyi-tidak mungkin belajar filsafat tanpa membaca-.
Ini berakibat anda sebagai mahasiswa saya yang menempuh filsafat, mau tidak mau harus membaca. Jika hal demikian dirasa berat, itulah anda dan juga saya menemukan bukti yang kesekian kalinya bahwa manusia di dunia itu bersifat kontradiktif.

Maka dapat aku katakan bahwa hidup itu adalah pilihan. Jika itu telah menjadi pilihanmu, mengapa engkau melakukan segala perbuatanmu kelihatannya kurang ikhlas. Bukannya engkau tahu bahwa ketidak ikhlasan walau sedikitpun itu tidak akan membawa manfaat baik di dunia maupun akhirat.

Maka renungkanlah. Semoga Allah SWT mengampuni segala kesalahan dan dosa-dosa kita. Amiin.

88 comments:

  1. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Untuk bisa memahami hakikat dari sesuatu maka kita harus masuk betul kedalam sesuatu itu, begitu juga dengan belajar dengan Prof. Marsigit, kita selaku mahasiswa yang belajar pada Prof. Maka kita harus memahami betul jalan pemikiran Prof. yakni diantara jalan yang diberikan adalah membaca elegi-elegi yang sudah ditulis dalam blok ini. Menurut saya membaca elegi ini sama saja kita bagaiman kita membaca pemikiran Prof. Marsigit. Sehingga kalau kita sudah bisa memahami alur pemikiran Prof. akan memudahkan kita berkomunikasi dengan beliau.


    ReplyDelete
  2. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam satu elegi menyimpan beribu-ribu makna. Setiap orang dapat memaknainya berbeda itu lah manusia yang hakekatnya beda. Sehingga dalam membaca elegi perlu memahami pola pikir dari sang penulis, boleh kita berpikir beda itu tidak salah, namun alangkah lebih baik kita dapat membuka berbagai sudut pandang agar kita paham pola pikir orang lain.

    ReplyDelete
  3. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Menurut saya, kunci membaca elegi – elegi ini dengan cara membaca, membaca, dan terus membaca. Membaca tidak hanya sekedar membaca tetapi memang harus dengan ikhlas. Saya sebenarnya kurang bisa memahami elegi – elegi yang Prof.Marsigit berikan pada blog ini. Tetapi saya tidak menyerah begitu saja. Saya mencoba berusaha memahami walaupun semakin memahami malah akan muncul banyak kebingungan. Yang saya lakukan hingga saat ini mencoba terus membaca dan memahami elegi – elegi yang ditulis.

    ReplyDelete
  4. Ajeng Puspitasari / 14301241005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Di dalam kelas, Prof Marsigit sering mengatakan "ketika sudah lelah, maka berhentilah membaca blog". Saya berpikir, Prof Marsigit mengungkapkan hal tersebut hanya sebatas untuk mengingatkan agar mahasiswa tidak kelelahan saja. Namun, setelah membaca postingan di atas, saya baru menyadari alasan di balik kalimat tersebut.
    Ketika lelah, seringkali seseorang akan lebih mudah emosi dan marah. Ketika mulai emosi, maka pikiran pun akan susah dikondisikan agar berpikir tenang dan netral. Akibat selanjutnya adalah pikiran akan susah terhubung dan menerima ilmu baru, hati menjadi tidak ikhlas ketika belajar. Semua emosi dan amarah akan menutup sebagian ilmu yang seharusnya dapat kita peroleh ketika diri ini ikhlas, tenang, dan netral.
    Disamping itu, membaca & mempelajari elegi memang harus bersabar. Prof Marsigit ibarat dewanya, jadi ilmu kami tidaklah sederajat. Namun, tujuan penulisan elegi ini tentu dilandasi tujuan yang baik.

    ReplyDelete
  5. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Elegi merupakan kiasan dari sebuah filsafat. Dengan kata lain elegi merupakan filsafat yang dikemas dengan bahasa yang apik sehingga makna yang berada di dalamnya dapat dipahami oleh semua orang. Maksud dari elegi itu adalah bahwa tidak semua orang mampu memahami bahasa filsafat, akan tetapi sebagian besar orang pasti dapat memahami bahasa sebagai sastra, sehingga filsafat dianalogikan ke dalam sebuah elegi. Terdapat banyak sekali elegi-elegi yang diungkapkan oleh si penulis. Penulis mengungkapkan filsafat dengan cara yang unik. Seberapa dalam kita memahami elegi juga menentukan seberapa dalam kita memahami filsafat yang diungkapkan oleh si penulis. Filsafat tersebut tidak hanya terbatas dalam ruang perkuliahan, namun meliputi segala yang ada dan yang mungkin ada di sekitar kita. sehingga sesungguhnya filsafat itu sangat dekat dengan kita. nha, dengan membaca elegi ini, akan membantu kita menyadari keberadaan filsafat-filsafat tersebut.

    ReplyDelete
  6. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Awal saya mendengar dan memasuki dunia filsafat mengalami kesulitan. Sebab, dalam jenjang pendidikan sebelumnya tidak pernah diperkenalkan filsafat. Sehingga dalam benak saya masih penuh dengan setumpuk pertanyaan akan filsafat sebenarnya dan menjadi tantangan untuk memahami lebih lanjut filsafat tersebut. Elegi-elegi bapak Marsigit menjadi sarana dan fasilitas kita untuk belajar berpikir kritis, berani berpendapat, dan mencari inovasi-inovasi baru.

    ReplyDelete
  7. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari elegi di atas saya berintropeksi untuk merealisasikan keihklasan. Dalam melaksanakan kewajiban hendaknya didasari dengan niat karena Alah swt. Seperti halnya refleksi, kita luruskan niat belajar filsafat sebagai suatu ibadah yang sangat bermanfaat bagi kita. Berbagai rintangan dalam memahami berbagai teori filsafat dijadikan motivasi kita untuk selalu berikhtiar dan semangat dalam menggapainya.

    ReplyDelete
  8. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Dalam belajar filsafat tentunya kita harus sabar dan ikhlas. karena jika kita tidak sabar maka belajar filsafat akan menjadi hal yang sangat menguras emosi karena tidak mudah memahami karya filsafat karya seorang filsuf. dengan kita bersabar maka lama kelamaan kita akan memahami sedikit demi sedikit mengenai filsafat dan itu akan sangat menambah wawasan kita dan bermanfaat bagi kita.

    ReplyDelete
  9. Tahtalia
    14301241031
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Memahami elegi bukanlah hal yang mudah, diperlukan keikhlasan dalam membaca dan memahami maksud elegi tersebut. Ikhlas itu memang sudah seharusnya ada dalam setiap langkah yang kita ambil, karena dengan keikhlasan tersebut akan meringankan langkah kita dan menjadikannya sebagai ibadah. Menjadi benar-benar ikhlas memang sulit, tapi perlahan pasti bisa.

    ReplyDelete
  10. Perasaan manusia memang berbeda-beda. Ketika diminta untuk melakukan sesuatu yang baru, memahmi sesuatu yang baru, atau menciptakan sesuatu baik baru atau sudah ada maka manusia akan mengalami kesulitan. Kesulitan teradi karena perbedaan pengetahuan dan pengalaman. Pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya belum mampu untuk menjangkaunya. Dengan kata lain kesulitan terjadi karena perbedaan dimensi. Dengan banyak belajar dan banyak membaca dan banyak melakukan maka akan menjadi luas wawasannya dan dapat memahami banyak hal atau dapat memahami pengetahuan yang di pelajarinya.

    ReplyDelete
  11. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setiap melakukan sesuatu diharapkan dilakukan dengan ikhlas, begitu pula dengan memahami elegi, terlebih pemahaman terhadap elegi setiap orang berbeda-beda, maka diharapkan ikhlas dalam membaca berulang kali agar kita dapat menangkap pesan dari penulis

    ReplyDelete
  12. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Untuk belajar filsafat maka kita harus membaca. Salah satu bacaan filsafat adalah elegi. Namun dalam membaca elegi memang tak semudah membaca bacaan yang lain karena elegi Elegi itu tidak hanya meliputi jenis ucapan tetapi juga tindakan ucapan. Dalam elegi terdapat 4 macam komunikasi yaitu material, formal, normatif dan spiritual. Kemudian setelah membaca elegi kita bisa membuat refleksi. Sebenar benarnya filsafat adalah refleksi dirimu sendiri.

    ReplyDelete
  13. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Saat awal-awal saya membaca blog ini saya sangat mengalami kesulitan terutama dari segi bahasa yang mana banyak yang belum pernah saya menerti sebelumnya. Namun setelah terus membaca dengan keyakikan pasti ada manfaatnya membaca postingan-postingan di blog ini maka sedikit demi sediki saya mulai paham. Dibutuhkan keihklasan dalam melakukan sesuatu hal karena tanpa keihklasan maka apa yang dilakukannya tidak ada manfaatnya.

    ReplyDelete
  14. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam belajar, kita tidak hanya menerima dan mencari pengetahuan yang kita butuhkan saja. Kita perlu juga untuk mempelajari ilmu-ilmu yang mungkin tidak berhubungan langsung dengan kehidupan kita. Namun sejatinya, semua ilmu itu bermanfaat agar wawasan kita luas dan tidak tertinggal.

    ReplyDelete
  15. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dengan membaca elegi-elegi dalam blog ini, saya menyadari bahwa banyak yang belum saya ketahui. Dari blog ini, saya merasa bahwa dunia ini menyimpan berjuta-juta pengetahuan yang seiring bertambahnya waktu akan terus selalu berkembang. Sehingga, perlu kiranya kita untuk senantiasa mengimbangi perkembangan-perkembangan yang terjadi.

    ReplyDelete
  16. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Filsafat Pendidikan Matematika 2013

    Filsafat adalah pola pikir yang reflektif. Karena reflektif, sebagai orang yang belajar filsafat perlu sabar dan jangan berpikir sempit. Namun perlu juga berhati-hati dalam membuka pikiran dengan tidak lupa pada keyakinan.

    ReplyDelete
  17. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Dalam mempelajari ilmu apapun, sebaiknya kita tidak prejudice. Seperti dalam belajar filsafat ini, pikiran kita harus netral. Agar kita dapat berfilsafat dengan segenap jiwa dan raga kita harus melakukan segala sesuatunya dengan ikhlas. Dengan ikhlas itulah kita dapat menyadari betapa banyaknya manfaat filsafat dalam kehidupan kita. Filsafat berangkat dari bertanya. Ketika pikiran kita kacau, maka pada saat itulah sebenar-benarnya kita sedang mulai berfilsafat. Namun ketika hati kita mulai kacau ketika berfilsafat, kita harus menghentikannya sejenak dan memohon perlindungan Allah. Menurut saya, elegi yang dibuat oleh Prof Marsigit memang tidak bisa hanya dibaca satu kali untuk dapat memahaminya. Saya harus membaca berkali-kali dan berpikir sedalam-dalamnya mengenai isi dari elegi. Tapi disitulah menariknya. Kita bisa menggali pikiran dan ilmu kita lebih dalam lagi. Berusaha memahami dengan berbaglain sudut pandang baru. Selain itu, bukankah kita memang harus berikhtiar untuk mendapatkan apa yang kita inginkan? Sehingga membaca elegi ini dapat kita kategorikan sebagai ikhtiar kita.

    ReplyDelete
  18. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM: 17701251032
    Prodi/Kelas: PEP S2/B
    Angkatan: 2017

    Tulisan tentang "elegi" di atas membawa saya pada tulisan-tulisan bapak yang sudah saya baca sebelumnya. Di mana pada tulisan di atas, setelah penjelasan bahwa, "Kata-kataku dalam elegi juga sebagian menunjukkan keadaan si pendengar dengan segala implikasinya". Di mana setelah kalimat itu, beberapa baris di bawahnya terdapat sedikit penekanan bahwa manusia di dunia itu bersifat kontradikitif. KONTRADIKTIF. Iya kontradiktif, seperti beberapa jargon yang bertengkar. Jargon pertengkaran tradisional dan inovatif. Jargon pertengkaran guru dan siswa. Saya belajar tentang konstatif. Bahwa sampai pada bacaan ke empat ini saya bingung juga terkagum-kagum dengan gaya bahasa tulisan-tulisan bapak. Bahkan pada postingan "Jargon Pertengkaran Tradisional dan Inovatif" saya berkomentar bahwa saya termotivasi untuk belajar cara penyampaian konten-konten dalam blog ini. Tapi ternyata ini bagian dari konstatif, bahwa menyampaikan suatu fenomena dilakukan dengan gaya bahasa masing-masing (maaf kalau saya salah mengartikan, tertulis pada postingan di atas bahwa "Dalam Elegi aku juga berusaha menggunakan bahasa konstatif, maksudnya saya berusaha menggambarkan suatu kejadian atau fakta atau fenomena menggunakan gaya bahasaku sendiri"). Sejujurnya uraian kalimat tersebut sedikit melegakan saya. Artinya terbuka kesempatan bagi saya untuk menggambarkan suatu fenomena melalui "gaya bahasaku sendiri".

    ReplyDelete
  19. Nama : Wisniarti
    NIM : 17709251037
    Kelas : PM B (Pascasarjana)

    Postingan ini adalah yang ketiga dari blog bapak yang saya baca dan komentari. Saya menyukai gaya penulisan dua arah seperti ini, saya bisa masuk menjadi mahasiswa yang mempunyai masalah yang sama, saya juga bisa merasakan nasehat-nasehat yang secara tidak langsung menginginkan mahasiswa tersebut untuk tetap berusaha belajar dan mengikhlaskan dirinya untuk belajar.

    Benar apa yang bapak sampaikan, hidup itu penuh dengan pilihan dan keikhlasan. Pilihan dan ikhlas itu seakan selalu bergandengan kemanapun kita pergi dan berhenti. Karena kita mengetahui bahwa di dunia ini selalu dipertemukan dengan hal yang berpasangan, begitu halnya dengan pilihan. Ada pilihan yang baik dan buruk, pilihan yang benar dan salah. Untuk mengetahui pilihan yang kita pilih itu sesuai dengan keinginan, kita harus menjalaninya sampai akhir dengan keikhlasan seperti yang bapak sampaikan. Setiap jalan yang ditempuh untuk sampai ke akhir itu tidak selamanya beraspal atau dilindungi oleh rindangnya pohon sehingga terasa nyaman tanpa terkena panas matahari, ada beberapa jarak yang berlobang atau kayu yang menghalangi perjalanan kita, ada beberapa jalan yang ditepiannya satu pohon-pun tak tumbuh. Jadi, haruskah kita berhenti? tentunya tidak, yakin bahwa meski sekarang tergoncang dengan lobang-lobang yang ada di jalanan perjuangan, tersengat dengan panasnya kegelisahan, nanti diujung sana terdapat dua orang yang selalu menanti keikhlasan dan usaha kita untuk menyelesaikan pilihan perjalanan ini tanpa berputus asa di tengah perjuangan apalagi di awal perjuangan, mereka itu adalah ibu dan bapak. Semoga saya tetap ikhlas dan semakin ikhlas ketika memilih untuk menceburkan diri ke lautan ilmu pengetahuan ini. Aamiin.

    ReplyDelete
  20. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    Kelas : S2 Pend. Matematika B 2017

    Assalammualaikum, Wr.Wb
    Postingan kali ini bercerita mengenai mahasiswa yang menurut saya hampir menyerah dalam menghadapi kenyataan hidup yang harus dijalani. Banyak nasehat positif yang dapat saya petik,
    1. Ketika kita sudah memilih sesuatu, janganlah setengah setengah. Hidup adalah pilihan, ketika sudah memilih diawal maka jalani, lewati semua hambatan yang ada nantinya dengan ikhlas.
    2. Jangan mudah putus asa dan tidak mudah menyerah, ketika sudah dijalani harus tetap maju apapun rintangannya, jangan pernah berniat untuk berputar balik kebelakang.
    3. Tahan amarah dan emosi, karena semuanya akan membuat kita buta hati, dan fikiran.
    Semoga saya dan teman-teman tetap berjuang dalam menghadapi kehidupan ini dengan ikhlas Aamiin..

    ReplyDelete
  21. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    S2 PM A

    Dari elegi ini menggambarkan bahwa akan pentingnya belajar filsafat dengan ikhlas, seperti yang Bapak katakan pada kuliah Filsafat Ilmu, ikhlas hati (merasa senang ketika membaca) dan ikhlas pikir (memahami apa yang dibaca). Jika sudah mencapai titik jenuh dari itu semua, itu menandakan bahwa niat awal sudah mulai luntur, maka coba renungkan kembali agar dalam mempelajarinya memberikan manfaat bagi diri kita masing-masing.

    ReplyDelete
  22. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Berdasarkan postingan Bapak Marsigit di atas, untuk mempelajari filsafat memang perlu pengorbanan. Pengorbanan pikiran, pengorbanan waktu, dan sederet pengorbanan-pengorbanan lainnya. Maka saya sangat setuju dengan postingan yang menyatakan bahwa amarah dan emosi telah menghabiskan dan membakar energi. Jadi belajar filsafat itu membutuhkan suatu keikhlasan, tidak perlu mengedepankan emosi. Kalaupun menemui kebingungan, tetap tidak boleh emosi. Semakin kita bingung justru itu pertanda otak kita terus bekerja untuk mencari dan terus mencari tahu lagi. Yang penting kebingungan tersebut di area pikiran, bukan di hati sanubari. Saya juga sangat setuju dengan pernyataan bahwa sebenar-benarnya filsafat adalah refleksi hidup kita sendiri.

    ReplyDelete
  23. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 Pend. Mat A 2017

    Terimakasih Bapak untuk nasehatnya. Banyak hal yang bisa saya petik dari tulisan ini. Salah satunya ialah kemarahan dan emosi hanya akan menghambat kita dalam menuntut ilmu. Amarah dan emosi hanya akan menghabiskan dan membakar energi. Lantas bagaimana sikap kita seharusnya dalam menuntut ilmu? IKHLAS, itulah kuncinya. Segala sesuatu yang dilakukan dengan ikhlas tidak akan membebankan. Segala sesuatu yang dilakukan dengan ikhlas akan membawa pada keberkahan. Dengan ikhlas, maka kita meniatkan diri bahwa proses belajar ini hanya karena Allah. Mudah-mudahan dengan begitu Allah akan memudahkan kita dalam menjalani proses menuntu ilmu ini.

    ReplyDelete
  24. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B
    Assalamu'alaikum wr.wb
    Berlebihan atau tidak, tetapi saya merasa sangat bersyukur mendapat kesempatan untuk menjadi mahasiswa dalam perkuliahan Bapak. Metode pengajaran yang Bapak hidangkan dalam perkuliahan ini menjadi "trigger" untuk saya rajin membaca dan melenturkan sel-sel otak untuk melatih berfikir kritis dan analitis, dimana saya termasuk orang yang fakir bacaan atau referensi. Metode pengajaran yang Bapak berikan merupakan satu diantara kreativitas dan inovasi dalam proses belajar mengajar yang diperlukan oleh sistem pendidikan di Indonesia. Semoga Bapak selalu dalam lindungan ALLAH swt. Aamiin..
    Wassalamu'alaikum wr.wb

    ReplyDelete
  25. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Memahami elegi – elegi yang Bapak tulis sebelumnya memang tidak mudah, membutuhkan waktu cukup lama untuk memahami, dan membutuhkan hati dan pikiran yang fokus. Saya ucapkan terimakasih atas postingan Bapak di atas, yang membuka pikiran saya bahwa belajar tidak hanya dilakukan satu arah. Tetapi, belajar dapat dilakukan secara konstruktivis yang dimulai dari peserta didik kemudian difasilitasi oleh pendidik. Pertama kalinya selama saya mengikuti kegiatan pembelajaran seperti metode yang Bapak terapkan. Proses ini juga tidak terlepas dari keikhlasan kita untuk meluangkan waktu dan kesempatan untuk membaca, membaca, dan membaca. Semoga dengan metode ini dapat lebih banyak memberikan saya pelajaran dari membaca setiap elegi – elegi yang Bapak tuliskan.

    ReplyDelete
  26. Assalamu'alaikum wr.wb.
    Ilmu itu sangat luas dan tak terbatas. Kadang manusia jaman sekarang inginnya yang instan, segalanya ingin yang cepat, mendapatkan ilmu pun kadang ingin yang ringkas. Padahal itu salah. Ibarat melakukan perjalanan, dia sedang berada di jalan yang sempit maka susah untuk berbalik arah. Seharusnya dalam menuntut ilmu kita harus berpandangan luas. Menuntut ilmu harus menikmati proses. Proses yang panjang dan bermakna. Seperti ketika kita ingin tau sesuatu kita harus banyak membaca. Karena dengan membaca kita akan menemukan berbagai hal yang kita tidka tau. Maka ada pepatah mengatakan buku adalah jendela dunia. Kalau kita ingin menikmati indahnya dunia, maka kita harus banyak-banyak membaca.

    Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    ReplyDelete
  27. Sejak S1 saya senang dengan postingan-postingan Bapak terlebih terkait elegi. Meskipun bahasa filsafat terkadang agak susah dimengerti tetapi justru menjadi tantangan bagi saya untuk ingin lebih tau lagi. Meskipun terkadang harus membaca berulang-ulang, tetapi di situlah proses belajar saya. Semoga saat S2 ini saya bisa lebih memahami lagi dan dimensi saya meningkat. Mohon bimbingannya ya, Pak.

    Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    ReplyDelete
  28. Gamarina Isti R
    Pendidkan Matematika Kelas B
    17790251036

    Suatu ilmu yang disampaikan bisa jadi mendapatkan interpretasi yang berbeda. Hal terssebut juga dapat terjadi pada elegi, elegi yang disampaikan bisa saja akan membuat orang menafsirkan secara berbeda. Sehingga menyebabkan terdapat perbedan pendapat pula. Ada yang dapat langsung memahami apa yang ingin disampaikan penulis elegi, tetapi ada juga yang harus berpikir dengan cukup lama untuk memahami elegi yang disampaikan penulis. Tekad yang stabil bahkan selalu meningkat akan membuat kita pantang menyerah sehingga diharapkan kita dapat mencari tahu sendiri apa yang sebenarya maksud dari elegi tersebut. Bukan menggerutu atau menyalahkan elegi yang disampaikan.

    ReplyDelete
  29. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Dalam “Elegi Memahami Elegi” ini, semua dialog yang mahasiswa ucapkan seperti sudah mewakili pendapatan dan pandangan saya mengenai filsafat. Pertama kali membaca elegi, jujur saya bingung sebenarnya apa maksud tulisan sepanjang ini. Namun karena kewajiban seorang pelajar harus belajar dan membaca, maka sedikit demi sedikit saya luangkan waktu untuk membaca elegi-elegi bapak. Kunci utama adalah ikhlas, lama kelamaan saya sedikit mengerti dan tertarik dengan elegi. Ya saya setuju bahwa agar mampu berpikir kritis, maka kita perlu berpikir netral, tidak prejudice, tidak emosi, tidak putus asa dan refkesi diri perlu dilakukan karena itu merupakan kegiatan berpikir yang paling tinggi.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  30. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Memahami elegi-elegi filsafat memang tidak semudah memahami artikel pada koran, karena dalam berfilsafat menggunakan berbagai jenis komunikasi. Sebenar-benarnya orang yang berilmu adalah dia yang mempunyai keputusan maka membaca dan terus membaca elegi adalah keputusan saya. Berdasarkan elegi yang saya baca sebelumnya bahwa seseorang akan mudah berfilsafat jika menguasai bahasa maka dengan tugas membaca elegi-elegi ini secara tak langsung sesungguhnya kita sedang berada dalam proses pemahaman bahasa filsafat sehingga lama-kelamaan kita akan lebih mudah memahami filsafat.

    ReplyDelete
  31. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah.
    Terimakasih banyak prof. Marsigit atas dialog berfaedah di atas. Lagi-lagi bapak memposting sesuatu yang benar-benar nyata dan sesuai dengan pikiran sebagian mahasiswa, salah satunya saya. Benar adanya bahwa hal itu dipicu oleh ketidak relevanan pikiran saya dengan pokok pembicaraan. Awalnya saya juga berpikir, jikalau filsafat itu adalah dirimu sendiri, lalu mengapa kami diminta untuk mempelajarinya dengan membaca artikel-artikel bapak. Apakah itu berarti kami harus mengikuti jalan pikiran dan filsafat yang dibangun oleh bapak. Namun demikian, meski instabilitas emosi sering terjadi, saya berusaha untuk tetap terbuka dengan ilmu filsafat ini. Meskipun kebanyakan artikel-artikel ini menggunakan Elegi bapak, gaya bahasa bapak dan kosakata yang mayoritas baru saya dengar, saya tetap ingin berusaha bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bapak lontarkan. Hidup itu pilihan, segala yang telah dipilih tidak berguna jika harus ada penyesalan. Yang kita pilih sudah menjadi takdir Yang Maha Kuasa, karena segala nya sudah Dia atur sebelum terjadi kehidupan. Jadi, saya memilih melanjutkan ke S2 dan kini menjadi mahasiswa PEP itu juga sudah digariskan. Sehingga saya berusaha akan tetap ikhlas dalam mempelajari filsafat dan berpasrah diri atas segala yang terjadi.

    ReplyDelete
  32. Nurika Miftahuljannah
    17709251060
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Ikhlas, hanya satu kata tapi tak mudah untuk dilakukan. Segala sesuatu yang kita lakukan apabila dilandasi oleh rasa ikhlas maka seberat apapun itu pasti tidak akan menjadi beban bagi kita dan lebih terasa ringan. Ikhlas merupakan salah satu landasan dalam melakukan sesuatu hanya karena Allah SWT, tidak mengharap apapun kecuali ridha-Nya. Ikhlas memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menjalani setiap detik kehidupan. Apabila seseorang tidak memiliki rasa ikhlas, maka prosesnya ia dalam memperoleh ilmu pengetahuan akan terhambat, padahal ilmu itu penting untuk kita dapatkan. Secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa tanpa ilmu keberadaan kita tidak diakui. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang memiliki rasa ikhlas dalam hidupnya. Aamiin.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  33. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Terima kasih pak atas postingannya tentang Elegi Menggapai Elegi. Belajar filsafat memang tidak mudah. Banyak makna tersirat dan bahasa yang digunakan juga mempunyai tingkat pemahaman yang cukup tinggi sehingga dalam mempelajarinya memerlukan proses yang tidak instan. Dalam prosesnya, mungkin kita akan menemukan saat-saat ketika kita merasa lelah dan tidak mampu dalam memahami filsafat. Namun kita tidak boleh menyerah dan cobalah untuk ikhlas, baik ikhlas dalam hati maupun ikhlas dalam pikiran. Belajar memang membutuhkan perjuangan. namun saya yakin bahwa hasil tidak akan menghianati perjuangan.

    ReplyDelete
  34. Indah Purnama Sari
    17701251035
    PEP B 2017

    membaca adalah perintah pertama yang di turunkan dalam al-quran. semakin banyak membaca semakin banyak tahu. dari tulisan bapak diatas saya sangat tersindir dengan kata-kata "hidup itu adalah pilihan. Jika itu telah menjadi pilihanmu, mengapa engkau melakukan segala perbuatanmu kelihatannya kurang ikhlas. Bukannya engkau tahu bahwa ketidak ikhlasan walau sedikitpun itu tidak akan membawa manfaat baik di dunia maupun akhirat. "
    saya seringkali memilih suatu hal namun tidak sepenuh hati melakukannya. dari sini saya bakal mulai belajar tentang mengerjakan suatu dengan ikhlas dan sepenuh hati agar kegiatan tersebut bisa bermanfaat baik didunia dan diakhirat.

    ReplyDelete
  35. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Pusing tanda berfikir. Pusing juga tanda sedang membangun pengetahuan. Dengan banyak membaca artinya semakin kuat kita membangun. Perasaan semacam itu (merasa pusing, bosan, lelah, terbebani, jengkel, marah, dll) wajar ada pada manusia, tetapi perasaan yang demikian merupakan perasaan yang disebabkan oleh tidak mampunya diri untuk mengendalikan nafsu yang ada pada otak, sehingga sulit untuk mengungkapkan emosi diri dengan benar. Oleh sebab itu penting bagi kita untuk melatih pola cara berpikir yang positif dan bijak. Apa yang selama ini kita pikir itu negatif bagi kita, bukan berarti itu buruk bagi kita, melainkan itu proses untuk menjadikan kita dapat menilai sejauh mana kita mampu berpikir, belajar, dan menyelesaikan itu semua. Jika kita hanya ingin menerima sesuai dengan keinginan kita saja artinya kita belum bisa adil dan ikhlas. Ikhlas kunci untuk bisa menghadapi segala sesuatu yang Allah berikan kepada kita, karena Allah memberikan semua hal yang terbaik untuk kita dan semua hal yang kita butuhkan, bukan semua hal yang kita inginkan.

    ReplyDelete
  36. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Dari perkuliahan bapak, yang saya pahami adalah saya sendiri yang akan membangun pemahaman saya terhadap filsafat. Salah satu caranya adalah dengan membaca elegi. Membaca belum berarti paham, saya masih butuh banyak bimbingan untuk benar-benar memahami. Tapi yang saya alami adalah saya mulai mengenal apa dan bagaimana sebenarnya elegi itu. Saya sadar saya masih NOL dan tak mengerti apa-apa mengenai filsafat. Hal ini membuar saya lebih bertekad lagi untuk membaca elegi.

    ReplyDelete
  37. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Belajar filsafat menurut saya sangat fleksibel. Pemikiran secara holistik dan kritis sangat diperlukan. Ulasan di atas dapat dijadikan sebagai perenungan dan pacuan untuk terus belajar dan belajar. Saya mencermati dari ulasan di atas bahwa belajar dibarengi dengan niat dan keikhlasan dalam menjalankannya. Ketidakikhlasan dalam belajar hanya akan menutup pintu masuknya ilmu pengetahuan. Belajar untuk membangun dan mempelajari filsafat melalui diri sendiri meski tidak mudah namun tekad yang kuat akan dapat mengarahkannya.

    ReplyDelete
  38. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Cara memberikan kuliah kepada para mahasiswanya adalah hak prerogatif seorang dosen. Dalam melakukan tranfer ilmu setiap dosen mempunyai cara yan berbeda. Dua belas tahun yang lalu saya menemmpuh mata kuliah filsafat saat S1, masih belum terlintas di benak saya waktu itu kenapa bapak memberikan perkuliahan dengan metode seperti ini. Namun setelah kembali lagi, untuk empelajari hal yang mungkin sama, kini saya mulai bisa memamahi. Bawah belajar filsafat, mempunyai maksud agar kita selalu menunduk terhadap apa yang kita miliki. Agar tetap sebagai manusia yang rendah hati.

    ReplyDelete
  39. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Belajar filsafat adalah belajar tentang dunia, tidak semua apa yang kita palajari membuat kita serta merta menjdai serang yang berilmu tinggi, itulah gunanya kita belajar filsafat. Walaupun mungkin dulu, dua belas tahun yang lalu, sya pernah menenpuh mata kuliah ini. Sekarang perkualiahan sangat berbeda. karena maksut dan tujuan kita belajar filsafat adalah agar kita menjadi manusia yang tidak tinggi hati.

    ReplyDelete
  40. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU


    Terima kasih atas Elegi yang diberikan oleh bapak. Elegi di atas menjelaskan dengan detail mengapa kita harus belajar filsafat. Ya, pada awalnya saya juga merasa kebingungan dengan bahasa yang digunakan dalam elegi yang bapak sampaikan. Namun, lambat laun dengan pelan-pelan ternyata elegi ini menggambarkan persis seperti kehidupan kita sehari-hari, nasehatnya pun erat kaitannya dengan kehidupan kita. Maka benar kiranya jika untuk belajar filsafat haruslah menggunakan pikiran dan hati yang ikhlas. Tips selanjutnya untuk belajar filsafat yaitu dengan membaca, merefleksikan, dan harapannya membaca dan merefleksikan ini tidak hanya mandek pada perkuliaahan tapi dalam kehidupan juga. Semoga ilmu yang bapak sampaikan membawa keberkahan dan kebermanfaatan untuk kita semua, terima kasih banyak kepada Bapak Prof.

    ReplyDelete
  41. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Sejujurnya, membaca tulisan ini seperti melihat sebagian dari diri saya di situ. Ini minggu ke-5 perkuliahan filsafat ilmu dan baru 31 komentar yang berhasil saya buat di sela sela waktu saya. Ada rasa ingin menyerah saja, tetapi di sisi lain saya suka membaca tulisan-tulisan dalam blog ini. Semula saya bingung, dari mana belajar filsafat yang tanpa memberi referensi buku apapun. Saya sampai berpikir hendak membaca ulang novel Dunia Sophie untuk membantu saya memahami filsafat ini.
    Ketika saya mencoba membuka berbagai tulisan dalam blog, baru saya temukan bahwa saya akan belajar banyak dari membaca blog ini.
    Saya tidak tahu apakah mampu saya berkomentar pada cukup elegi untuk membuat saya lulus dari kuliah ini, sebab memang seringkali saya kesulitan membagi waktu antara bekerja dan kuliah. Satu saja tekad saya, jika mengingat bahwa manusia adalah potensi, saya pun adalah potensi maka tentu saya juga masih punya potensi untuk menyelesaikannya, tinggal bagaimana dan apa yang saya pilih untuk lakukan dan menghantar saya menggapai elegi elegi kuliah filsafat ilmu ini.
    Semesta mendukung. Semoga.

    ReplyDelete
  42. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Sejujurnya, membaca tulisan ini seperti melihat sebagian dari diri saya di situ. Ini minggu ke-5 perkuliahan filsafat ilmu dan baru 31 komentar yang berhasil saya buat di sela sela waktu saya. Ada rasa ingin menyerah saja, tetapi di sisi lain saya suka membaca tulisan-tulisan dalam blog ini. Semula saya bingung, dari mana belajar filsafat yang tanpa memberi referensi buku apapun. Saya sampai berpikir hendak membaca ulang novel Dunia Sophie untuk membantu saya memahami filsafat ini.
    Ketika saya mencoba membuka berbagai tulisan dalam blog, baru saya temukan bahwa saya akan belajar banyak dari membaca blog ini.
    Saya tidak tahu apakah mampu saya berkomentar pada cukup elegi untuk membuat saya lulus dari kuliah ini, sebab memang seringkali saya kesulitan membagi waktu antara bekerja dan kuliah. Satu saja tekad saya, jika mengingat bahwa manusia adalah potensi, saya pun adalah potensi maka tentu saya juga masih punya potensi untuk menyelesaikannya, tinggal bagaimana dan apa yang saya pilih untuk lakukan dan menghantar saya menggapai elegi elegi kuliah filsafat ilmu ini.
    Semesta mendukung. Semoga.

    ReplyDelete
  43. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Adanya mahasiswa yang berdialog seperti diatas tidak bisa dipungkiri entah itu secara jelas mengungkapkan dengan lisan ataupun hanya dibatin dengan hati. Membaca tulisan diatas memberikan kami pelajaran dan mengingatkan kami bahwa dalam belajar harus di mulai dengan niat yang kuat dan benar, karena dengan adanya niat yang kuat dan benar maka ketika seseorang tersebut menghadapi rintangan dalam memperoleh ilmu maka hal itu akan dihadapi dengan pemikiran yang positif, husnudhon dan cara yang baik. Manusia sebagai makhluk Nya tidak lepas dari salah dan khilaf, mohon ridho, bimbingan, dan arahnnya bapak agar kami dapat memahami segala ilmu dengan tepat. Sungguh tugas setan menggoda, tugas malaikat mencatat dan yang tahu keikhlasan manusia hanya Allah SWT.amien.

    ReplyDelete
  44. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    pada hakekatnya elegi merupakan cara berkomunikasi atau menyampaikan pendapat dan pandangan lewat sebuah cerita agar mempermudah pembaca untuk memahami ide yang terkandung didalamnya, terutama jika hal tersebut berhubungan dengan sesuatu yang terkadang tidak disadari oleh orang, maka dengan adanya elegi ini kita menjadi sadar akan hal-hal disekitar kita. tetapi tidak hanya lewat elegi, intinya adalah kita harus banyak membaca.

    ReplyDelete
  45. Dewi saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb

    Saya sangat terhanyut ketika membaca percakapn dosen dan mahasiswa pada Elegi Memahami Elegi ini. Setidaknya ini mewakili apa yang dirasakan oleh sebagian mahasiwa yang mungkin sebelum mengikuti perkuliahan filsafat ilmu miskin akan bacaan, terutama saya. miskin akan bacaan seblumnya tetapi tidak mengurungkan saya untuk tidak membaca media yang sudah bapak buat ini untuk perkuliahan filsafat ilmu, karena dari awal yang selalu saya tangkap dari Bapak adalah ketika kita belajar filsafat yang harus dilakukan adalah baca, baca dan baca, jadi saya harus terus membaca ketika saya sedang belajr filsafat dan kuncinya adalah keikhlasan yang selalu bapak samapaikan. Saya sangat berterimakasih kepada bapak karena sudah membari wadah beserta isinya ini untuk fasilitas membaca, semoga karena dengan membaca terus bolg bpak ini saya menjadi tidak miskin akan bacaan dan terus membaca bahkan setelah perkuliahan filsafat.

    ReplyDelete
  46. Kartika Pramudita
    17701251021
    PEP B (S2)

    Dalam belajar filsafat tidak mungkin dapat dilakukan secara instan, semua butuh proses. Proses yang dilalui dengan segala usaha dan keikhlasan untuk belajar akan menentukan kualitas belajar. Membaca elegi merupakan sarana yang kami tempuh untuk dapat berusaha memahami filsafat dan berusaha belajar berfilsafat. Dengan membaca elegi banyak hal yang tak terpikirkan sebelumnya menjadi sadar ternyata semua itu bisa dipikirkan, banyak hal yang menyadarkan bahwa ternyata saya masih harus belajar karena masih banyak yang belum saya pelajari, selain itu juga mengingatkan untuk selalu menggapai keikhlasan dalam beribadah kepada Allah SWT, mengingatkan akan manusia penuh dengan kontradiksi sehingga dalam hidup tidak akan pernah lepas dari dosa. Dengan begitu maka kita juga diingatkan untuk selalu refleksi diri dan memohon ampunan Allah SWT.

    ReplyDelete
  47. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Memahami elegi-elegi memang tidak mudah, sajiannya yang menggunakan bahasa tingkat tinggi terkadang membuat kita bahkan memaksa kita untuk berpikir lebih kritis lagi. memahami elegi tidak semudah membalikkan telapak tangan, kita perlu membacanya berulang-ulang sampai kita mengetahui apa isinya. tidak apa apa kita bingung, karna bingung merupakan awal dari proses belajar. ketika kita mempelajari sesuatu secara berulang-ulang maka kita akan menajdi seorang yang expert dalam bidang tersebut.

    ReplyDelete
  48. Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Seperti yang diutarkan mahasiswa diatas, bahwa sesungguhnya saya mengalami kesulitan dalam memahami elegi. Seperti mahasiswa diatas bahwa sesungguhnya saya juga tidak memiliki banyak waktu untuk memahami elegi yang terlampau bamyak, apabila saya membaca dengan seksama elegi, maka habis waktu saya untuk memahaminya. Sedangkan waktuku harus kubagi dengan tugas yang lainnya, sehingga saya mulai masuk keranah mitos. Mitos dimana bahwa saya ingin membaca elegi tetapi saya harus membaca banyak elegi, tetapi waktu saya hanya sedikit, sehingga masuklah saya kedalam mitos. Saya tidak membaca elegi lagi tapa hanya mengkomen dengan apa yang tidak saya baca. Mohon maaf pak.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  49. Muh Wildanul Firdaus
    17709251057
    Pendidikan Matematika S2 Kelas C

    Sebagai mahasiswa yang belajar filsafat ilmu dengan Prof Marsigit saya memahami membaca elegi-elegi yang ada di blog ini merupakan sebuah kebutuhan. Memang tidak mudah untuk memahami isi elegi dalam blog ini. oleh karena itu diperlukan keikhlasan, yaitu ikhlas pikir dan ikhlas hati. Semakin banyak yang dibaca tentunya akan semakin banyak hal yang tidak dipahami. Karena banyak yang tidak paham maka akan muncul pertanyaan dan di situlah awal mulanya ilmu. Untuk menunjukkan bahwa saya ada (mebaca elegi) adalah dengan adanya komentar.

    ReplyDelete
  50. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Dalam mempelajari sesuatu kita memang seharusnya melakukannya dengan sepenuh hati supaya diri ini tidak mudah terserang virus pusing, binggung, malas, dan sebagainya. Begitu pula dengan belajar dari elegi-elegi ini, meskipun terkadang merasa kesulitan untuk memahami namun ada beberapa kata yang dapat memotivasi diri ini menjadi lebih giat membaca, lebih banyak belajar mencari hal yang belum diketahui, dan yang sudah pasti lebih banyak memperoleh ilmu baru. Mudah-mudahan dengan belajar elegi-elegi ini saya bisa mempunyai wawasan (terutama bahasa) yang lebih luas. Amin

    ReplyDelete
  51. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Berdasarkan elegi di atas menggambarkan bahwa akan pentingnya belajar filsafat dengan ikhlas, seperti yang Bapak katakan selama perkuliahan, ikhlas hati (merasa senang ketika membaca) dan ikhlas pikir (memahami apa yang dibaca) adalah kunci agar keikhlasan itu dapat dipegang. Jika sudah mencapai titik jenuh dari itu semua, itu menandakan bahwa niat awal sudah mulai luntur, maka refleksikan diri masing-masing agar dalam mempelajarinya memberikan manfaat bagi diri kita masing-masing.

    ReplyDelete
  52. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Pertama kali saya mendengar kata elegi yaitu ketika saya mengikuti perkuliahan Filsafat Ilmu dengan Pak Marsigit. Disitu saya mendapatkan kesempatan untuk membaca tulisan-tulisan di blog beliau. Disitulah terdapat banyak elegi yang menceritakan banyak hal mengenai pendidikan, filsfat, matematika, dan banyak hal lain. Selain itu, bahasa elegi ini berbeda dengan tulisan2 pada umumnya yaitu penggunaan istilah2 yang mungkin asing bagi kita seperti orang tua berambut putih dan lain sebagainya. Namun, elegi ini menyiratkan banyak pengetahuan dan nilai-nilai khidupanyang jarang dibahas oleh banyak ilmuan. Oleh karena itu, sebagai mahasiswa sudah seharusnya kita memperbanyak mempelajari elegi2 yang ada di blog ini.

    ReplyDelete
  53. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Bismillah...

    Memang pada awal saya membaca elegi-elegi yang sudah dishare di web, saya merasa aneh dan merasa jenuh akan isi tulisan yang terkadang membuat saya harus membaca berulang-ulang akan elegi itu. Tetapi, seiring berjalan waktu dan seringnya membaca elegi dan mengkomentari elegi itu, membuat saya takjub begitu banyak hal yang belum saya tahu dan bahkan jadi tahu ketika memahami isi dari elegi. Elegi yang telah dituliskan membuat mudah hal sulit untuk di pahami, seperti elegi menggapai bijaksana. Ketika saya baca elegi itu, saya menjadi seperti orang yang sangat bersalah pada diri dan orang lain, karena apa yang menurut saya bijaksana belum tentu bijaksana bagi orang lain, karena kebijaksanaan hanya milik Tuhan semata, kita manusia hanya berusaha, sehingga bijaksana juga terikat dengan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  54. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Memahami elegi masih terasa sulit untuk saya, namum pelan-pelan mulai terbiasa dengan bahasa elegi dan mulai memahami maksud dari setiap elegi. Bahasa yang dipakai dalam elegi memang sulit dipahami, tapi kalau sudah paham ternyata isi elegi itu penuh makna.

    ReplyDelete
  55. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Menurut saya, elegi itu ibarat perkataan orangtua zaman dulu. Intinya berupa nasehat kehidupan, tetapi disampaikan dengancerita atau dengan perumpamaan. Tujuannya agar apabila ada nasiat yang beresiko menyakiti perasaan orang lain maa tida terlalu frontal alias tersampaikan secara tersirat. Memahami elegi sama seperti memahami nasehat, kita perlu kepekaan dan berpikir jernih untuk mengetahui makna dibalik cerita atau kaimatnya. Selain itu juga perlu ikhlas dalam hati dan pikir agar kita mampu mencerna elegi serta menarik hikmah di dalamnya.

    ReplyDelete
  56. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Elegi yang mengingatkan saya tentang ikhlas dan syukur. Dua hal yang berbeda namun sarat makna dan memiliki keterkaitan. Ikhlas dalam menghadapi dan mempelajari sesuatu serta senantiasa bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya untuk menjalani kehidupan di dunia ini. Tidak ada cobaan yang diberikan Allah melainkan agar manusia senantiasa menjadi lebih baik dan pribadi yang kuat serta suatu bentuk kasih sayang yang Allah berikan.

    ReplyDelete
  57. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih bapak atas elegi-elegi yang diberikan selama ini. Mungkin di awal begitulah yang kami rasakan, sebegitunya kah beban dalam perkuliahan filsafat ini. Namun semakin kesini, saya semakin merasa bahwa membaca ratusan elegi bapak itu memang suatu kebutuhan. Dengan bahasa analog yang semula saya harus memahaminya berulang kali, tidak menjadi sia-sia ketika saya menemukan begitu banyak nilai, motivasi, inspirasi, dan pelajaran kehidupan di dalamnya. Semakin kita ikhlas, semakin terasa pula nikmatnya mengikuti perkulihan ini dan semakin bersyukur karena dapat berkesempatan mengikuti mata kuliah ini dan bertemu prof. Marsigit dalam beberapa kali tatap muka. Sehingga, tidak ada ilmu yang sia-sia, semuanya menjadi berarti jika kita mampu ikhlas kepada Allah dalam mendapatkannya dan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  58. Hidup adalah pilihan kita, sebelumnya diagapai deengan berpikir. Untuk itu perlu dijalani dengan ikhlas segala sesuatu yang telah dipilih. Keikhlasan akan memunculkan pemahaman piker yang lebih baik. Sebagai contoh, ketika seseorang mulai belajar, maka jika diiringi dengan ikhlas lambat laun akan menikmati dan memahami apa yang dipelajari.

    ReplyDelete
  59. Dalam elegi ini, peran filsafat dimunculkan melalui sebuah elegi yang memang kebenarannya bagi pemilik elegi, pemikir, filsuf nya. Maka jelas sekali bahwa setiap orang mempunyai pemikiran yang berbeda, karena mereka masing-masing berfilsafat. Tentu perbedaan ini dimaklumi dan dihargai bersama.

    ReplyDelete
  60. Aristiawan
    17701251025
    PEP B 2017
    Belajar filsafat adalah belajar mengolah pikiran, dengan bertanya, berfikir, merenung,membuat sintesis, lalu bertanya lagi dan seterusnya. Keputusan atau hasil dari olah pikirannya ini akan memberikan efek atau tindak lanjut mengenai apa yang akan dilakukannya. Sehingga proses olah pikir tersebut merupakan sebuah aktivitas yag penting, karena ia akan mempengaruhi seluruh aktivitas setelahnya.

    ReplyDelete
  61. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Berfilsafat itu membutuhkan banyak bacaan sehingga kita bisa memahami berbagai macam kumunikasi baik formal, material, normatif maupun spiritual. Sebenar-benar olah pikir itu adalah berfilsafat. Ibarat teko yang diisi kopi, maka akan mengeluarkan koi jika dituang. Begitu juga apa yang yang keluar dari ucapan kita itu berasal dari berbagai bacaan yang kita baca, atau mendengar info-info dll.

    ReplyDelete
  62. Ilania Eka Andari
    17709251050
    s2 pmat c 2017

    Lebih banyak membaca dan melakukan refleksi adalah kunci untuk memahami elegi. Lebih banyak membaca akan menambah ilmu pengetahuan sehingga akan lebih mempermudah mengerti setiap kata dan kalimat dalam elegi. Namun, semua itu adalah pilihan. Jika kita memilih untuk bersungguh-sungguh dalam belajar maka manfaat yang besar pasti akan didapat. Kemauan dan keikhlasan dalam membaca dan belajar adalah komponen yang penting.

    ReplyDelete
  63. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Berdasarkan artikel “elegi memahami elegi” di atas, yang dapat saya simpulkan adalah elegi merupakan cara penulis untuk menyampaikan ide atau gagasan yang berkaitan dengan filsafat. Elegi berisi tesis atau antitesis yang kemudian diperoleh sintesis-sintesis. Berdasarkan pengalaman saya membaca elegi-elegi sebelumnya bahwa pada proses penarikan kesimpulan terhadap inti dari pembicaraan dalam elegi harus didasarkan proses berpikir logis, sebab perlu pemahaman yang lebih jauh tentang makna yang tertuang dalam elegi tersebut.

    ReplyDelete
  64. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Sebagaimana yang diketahui bahwa filsafat itu adalah diri kita sendiri. Sehingga pada dasarnya kebenaran dari filsafat itu merupakan kebenaran bagi kita sendiri. Jadi setiap manusia pada dasarnya memiliki kebenaran filsafat masing-masing. Jadi tidak ada yang benar maupun salah dalam memahami filsafat.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  65. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Elegi merupakan cabang ilmu filsafat baru saya dengar selama ini. Kadang membuat saya kaget mendengarkan celotehan atau sejenisnya dalam filfasat. Biasanya yang terkadang saya anggap sudah selesai, tatkala dalam filsafat dipertanyakan kembali. Ya, membuat saya semakin pusing dengan ilmu filsafat, ilmu yang tidak pasti ini. Lambat laun saya menyadari bahwa filsafat sangat penting dalam kehidupan saat ini. Filsafat mengajarkan saya sebuah cara hidup sederhana, kritis serta tuntas.

    ReplyDelete
  66. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Seperti yang dikatakan oleh Immanuel Kant. Ia mengatakab ilmu pengetahuan diperoleh dari sintesa apriori dan aposteriori. Di mana dalam memperoleh pengetahuan yang rasional setidaknya rasio manusia menempuh tiga tahap refleksi. Pertama tahap pengetahuan indrawi yang terdiri dari unsur apriori dan aposteriori. Dalam hal ini apriori berkaitan dengan ruang dan waktu, aposteriorinya berupa kenyataan yang dapat diketahui. Tahap kedua, tahap akal budi di mana merupakan orde data indrawi yang telah dikenali pada tahap indrawi. Tahap ketiga adalah tahap rasio, tahap ini merupakan pengetahuan teoretisi murni yang berlandaskan argument-argumen.
    Dengan kata lain, filsafat terutama dalam elegi ini, mengajarkan sebuah ilmu yang tidak hanya selesai dalam argumen. Melainkan ilmu juga harus selesai dalam tindakan. Ilmu tidak hanya sebatas kata, melainkan sebuah jalan hidup membuat manusia semakin bijak dalam menentukan kehidupan ini. Filsafat mengajarkan sebuah antara ucapan, pikiran serta tindakan untuk selaras. Tidak boleh ingkar dalam salah satunya. Hal ini sangat cocok dalam ajaran agama saya, Islam; tidak boleh munafik dalam menjalankan kehidupan.

    ReplyDelete
  67. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Filsafat Ilmu adalah mata kuliah yang sangat baru bagi saya, karena mata kuliah ini tidak pernah saya dapatkan di jenjang S1. Pertama kali mendengar kata elegi, saya tidak mengerti apa itu elegi. Setelah membuka blog ini barulah saya mengetahui elegi seperti apa. Ternyata melalui 1 elegi banyak pelajaran kehidupan yang dapat diperoleh.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  68. Elegi jika hanya sekedar dibaca saja maka akan terasa sulit untuk dipahami, karena bahasa-bahasanya unik, maka ketika membacanya kita harus diawali dengan niat yang ikhlas kemudian berpikir kritis mencari makna yang tersembunyi dibaliknya.

    ReplyDelete
  69. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb. elegi memahami elegi mengajarkan kita bahwa elegi tidak hanya meliputi ucapan tapi juga perbuatan. elegi mengajarkan kita untuk menggambarkan sesuatu menggunakan bahasa kita sendiri. Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  70. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    Saat memahami elegi kita akan sering berfilsafat dengan banyak pertanyaan karena ketidaktahuan kita. Memahami elegi itu membutuhkan ilmu dengan usaha sendiri. Setelah mendapat ilmu dilanjutkan dengan merefleksi diri untuk mengetahui apa yang sudah kita lakukakan dan apa yang sudah didapatkan.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  71. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Dalam mempelajari ilmu apapun, sebaiknya kita tidak prejudice. Seperti dalam belajar filsafat ini, pikiran kita harus netral. Agar kita dapat berfilsafat dengan segenap jiwa dan raga kita harus melakukan segala sesuatunya dengan ikhlas. Dengan ikhlas itulah kita dapat menyadari betapa banyaknya manfaat filsafat dalam kehidupan kita. Filsafat berangkat dari bertanya. Ketika pikiran kita kacau, maka pada saat itulah sebenar-benarnya kita sedang mulai berfilsafat. Namun ketika hati kita mulai kacau ketika berfilsafat, kita harus menghentikannya sejenak dan memohon perlindungan Allah. Menurut saya, elegi yang dibuat oleh Prof Marsigit memang tidak bisa hanya dibaca satu kali untuk dapat memahaminya. Saya harus membaca berkali-kali dan berpikir sedalam-dalamnya mengenai isi dari elegi. Tapi disitulah menariknya. Kita bisa menggali pikiran dan ilmu kita lebih dalam lagi. Berusaha memahami dengan berbaglain sudut pandang baru. Selain itu, bukankah kita memang harus berikhtiar untuk mendapatkan apa yang kita inginkan? Sehingga membaca elegi ini dapat kita kategorikan sebagai ikhtiar kita.

    ReplyDelete
  72. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Membaca elegi ini saya merasa malu, betapa angkuhnya saya karena sampai saat ini belum dapat membaca semua elegi Bapak. Saya merasa ilmu saya ibarat air di lautan, ilmu saya hanya lapisan tipis permukaan yang menyentuh pantai saja. Belum saya miliki lautan itu sehingga saya masih kontradiktif. Ingin berfilsafat tapi belum rajin membaca dan sebagainya.

    ReplyDelete
  73. Hal yang membuat saya kesulitan dalam memahami elegi adalah bahasanya yang menggunakan analogi. Dan di perlukannya hermeneutika dalam memahaminya. Akan tetapi insya Allah dengan ketulusan dan kegigihan dalam mempelajari filsafat, di bantu dengan elegi-elegi yang ada pada blog Bapak ini merupakan suatu sarana untuk belajar belajar dan belajar filsafat, terimakasih Prof. "Baca baca dan baca" Kalimat ini selalu saya tanamkan dalam diri saya

    ReplyDelete
  74. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. mempelajari filsafat itu memang membutuhkan tenaga yang ekstra. Mempelajari filsafat itu harus menggunakan hati dan pikiran yang ikhlas. Pada perkuliahan Prof. Marsigit media pembelajaran yang digunakan salah satunya ialah blog yang berisi pemikiran dan elegi beliau. Perlu dipahami dan diresapi setiap kata-kata yang terdapat dalam elegi untuk dapat memahami keseluruhan elegi

    ReplyDelete
  75. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PMB 2017

    Elegi memahami elehi. Kita hidup di dunia ini tentu dengan banyak sekali perbedaan yang ada di sekeliling kita. Antar sesama manusia antara satu sama lain pasti saling memiliki perbedaan, entah berbeda keyakinan, berbeda sifat atau yang lainya. Ini semua karena kuasa Tuhan yang dapat menjadikan manusia memiliki segala perbedaan yang ada. Jika anda membenci perbedaan, anda sejatinya membenci seluruh manusia. Karena semua manusia diciptakan berbeda.

    ReplyDelete
  76. Dheni Nugroho
    17709251023
    PPs Pendidikan Matematika

    Kunci belajar adalah ikhlas. Begitu juga dengan membaca elegi. Jika membaca elegi telah membuat diri kita emosi atau marah maka menandakan diri kita kurang ikhlas dalam belajar. Semua pilihan kita dalam berfilsafat adalah bentuk dari refleksi diri dan pencerahan yang diterima oleh setiap orang akan berbeda-beda. Marah, diam, atau justru berusaha terus belajar membaca elegi dengan istiqomah juga menjadi pilihan kita dalam berfilsafat. Setelah membaca artikel ini, saya akan terus berusaha membaca elegi walau mungkin beberapa hal tidak saya pahami, tetapi saya akan terus mencobanya dan berharap agar semakin hari akan membuat saya semakin paham.

    ReplyDelete
  77. Qorry Aina Fitroh
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241047

    Sejatinya dalam menerima ilmu baru, sesorang harus menetralkan pikiran. Hal ini dilakukan agar ilmu bisa masuk dan diterima dengan mudah. Bukan merasa diri lebih mengetahui atau lebih ahli daripada seorang guru, sehingga dia meremehkan sang guru. Selain itu, bukan juga mendengarkan tetapi ‘tidak dengar’. Layaknya masuk telinga kanan kemudian keluar telinga kiri, jika hal ini terjadi maka tak akan ada ilmu yang didapat. Sehingga yang harus dilakukan sebaliknya, menerima ilmu dengan ikhlas, dengan menetralkan pikiran dan mencerna hal yang diajarkan. Dengan demikian akan memahami ilmu yang diberikan oleh guru. Menetralkan pikiran dalam hal ini berarti menurunkan ego dan emosi saat belajar, bukan mengosongkan pikiran sepenuhnya.

    ReplyDelete
  78. Raudhah Nur Pratiwi (15301244009)
    Pend. Matematika A 2015

    Bismillah,
    Jujur, saya juga masih sering kesulitan memahami elegi-elegi. Karena bahasa yang digunakan emnggunakan analogi-analogi, sehingga pada awal-awal saya membaca elegi-elegi yang Prof tulis saya merasa jenuh. Namun, setelah membaca beberapa elegi, saya jadi merasa takjub. Karena dengan elegi-elegi yang Prof tulis, pola pikir saya menjadi lebih luas. Banyak hal-hal sederhana yang dijadikan topik elegi yang Prof tulis, namun menghasilkan tulisan yang sangat bermakna. Saya juga jadi belajar bahwa ternyata, dari hal-hal yang sederhana, dengan filsafat dapat dijadikan pelajaran hidup yang sangat bermakna.
    Pada elegi di atas, saya menyukai kalimat “kemarahan dan emosimu telah menutup sebagian ilmumu”. Belajar itu harus ikhlas. Jika kita ingin memperoleh ilmu, kita tidak boleh merasa marah, emosi, bahkan memusuhi imu tersebut.

    ReplyDelete
  79. Puspitarani
    15301244008
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    Terima kasih Bapak atas artikel yang telah Bapak share kepada kami. Saya tertawa membacanya Pak, terlihat ada mahasiswa yang berbicara dengan dosennya, dan ketika dosennya membahas mengenai filsafat mahasiswanya menunjukkan rasa kurang sukanya, karena menurutnya filsafat itu sulit. Mahasiswa itu juga sudah jemu dan bosan apabila dosennya mulai berbicara mengenai filasfat. Jujur saya juga belum terlalu paham dengan elegi. dari cerita di atas Elegi itu tidak hanya meliputi jenis ucapan tetapi juga tindakan ucapan. Kita mengetahui ada paling sedikit empat macam jenis komunikasi: material, formal, normatif dan spiritual. Maka Elegi itu meliputi semua tingkatan jenis komunikasi tersebut. Jadi elegi itu tidak hana berupa ucapan, tetapi juga bisa berupa tindakan, misalnya "kemarahan dan emosimu telah menutupi sebagian ilmumu", dapat saya artikan bahwa kemarahan dan emosi itu tidak memberikan kita manfaat, tapi malah akan menimbulkan rasa ketidaksenangan terhadap sesuatu. misalnya marah dan emosi ketika mendapat nilai ulangan jelek, sebaiknya kita tidak marah dan emosi, namun lebih kepada instropeksi diri kenapa nilai kita bisa jelek, sehingga dengan jeleknya nilai kita akan membuat kita lebih bersungguh-sungguh dalam belajar dan mencintai proses belajar agar mendapatkan hasil yang diinginkan.

    ReplyDelete
  80. Gandes Sih Mustika
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241015

    Terimakasih prof atas artikelnya. Pada awalnya saya memang merasa kesulitan untuk memahami elegi dalam blog ini, namun dengan memabacanya berulang-ulang saya menjadi paham akan maknanya.
    Pada dasarnya belajar itu memang harus dengan hati yang tulus ikhlas, karena dengan ikhlas semua yang dilakukan akan terasa ringan dan mudah. Belajar juga tidak cukup hanya dilakukan sekali, untuk memahami suatu hal kita harus berulang kali belajar dari berbagai sumber yang ada.

    ReplyDelete
  81. Julialita Muhariani
    15301241004
    S1 Pendidikan Matematika A 2015


    Ketika hendak mempelajari ilmu pengetahuan baru, sebaiknya individu menetralkan pikirannya. Ini bertujuan untuk membuang semua ego dalam diri yang merasa sudah pandai karena memiliki/mempelajari banyak ilmu, merasa memiliki pengetahuan yang lebih daripada guru, dan sebagainya sehingga ilmu yang baru akan dipelajari tersebut dapat dipahami secara mendalam dengan baik. Karena kita benar-benar merasakan bahwa pengetahuan yang kita miliki masih sedikit sekali dan masih perlu banyak belajar lagi. Belajar itu adalah tentang menerima dengan ikhlas dan sering mengulang-ulang apa yang sudah dipelajari.

    ReplyDelete
  82. Yuni Pratiwi
    15301241005
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Saya sebagai mahasiswa yang sedang belajar etnomatematika dengan Prof Marsigit, pada awalnya saya merasa membaca blog ini karena tuntutan perkuliahan. Tetapi lama semakin lama saya merasa cinta dengan filsafat, ya meskipun dalam membacanya tidak sekali paham tetapi sungguh menarik dan sekarang ini menjadi rutinitas saya setiap malam untuk membaca blog ini. Serta menambah pengetahuan saya, menambah kesadaran saya yang sebenarnya banyak hal-hal yang saya lupakan yang saya anggap sepele tetapi ternyata memberikan efek besar. Dan dari sini lah saya belajar untuk ikhlas, baik ikhlas pikir maupun hati, karena pada dasarnya keterpaksaan itu hanya kita sendiri yang membuat

    ReplyDelete
  83. Almaida Alvi Zahrotunnisa
    Pendidikan Matematika A 2015/S1
    15301241046
    Elegi yang sangat menarik Prof, jujur saya pun mengalami kesulitan mmemahami artikel-artikel dalam blog Prof. akan tetapi menurut saya, artikel mengenai elegi lah yang paling menarik karena membahas mengenai permasalahan yang dikemas dengan perumpamaan-perumpamaan yang unik dan tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Dari yang bapak sebutkan bahwa elegi menggunakan 4macam jenis komunikasi yaitu material, formal, normatif dan spiritual maka sadarlah saya mengapa sangat sulit memahaminya dengan ilmu saya yang masih sangat terbatas ini.

    ReplyDelete
  84. Zudhy Nur Alfian
    15301241035
    S1 Pend Matematika 2015

    Untuk memulai mencari ilmu, seyogyanya memang dimulai dari nol. Artinya, dari awal kita berpikiran bahwa kita memang belum memiliki bekal apapun sehingga hal itu dapat mempengaruhi otak kita untuk menerima suatu ilmu. Apabila dalam mencari ilmu, kita seakan mempunyai bekal, hal itu dapat menyebabkan kita seolah-olah tidak perlu menerima ilmu tersebut. Bekal yang diperlukan adalah simpanan kosa kata bahasa yang perlu diperbanyak. Dalam blog ini, banyak hal yang harus dibaca untuk menambah ilmu yang kita miliki. Menambah bacaan akan menambah pengetahuan dan wawasan kita.

    ReplyDelete
  85. Monica Ansella
    15301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Memang benar dugaan Bapak seperti dalam elegi ini. Pada awalnya saya juga berpikir mengapa saya harus membaca blog ini sedangkan yang saya pelajari dalam kelas adalah Etnomatematika. Namun ternyata dalam blog ini terdapat banyak artikel yang dapat membantu saya berefleksi. Di kelas pun Bapak Marsigit sebenarnya tidak mewajibkan kami, mahasiswa pendidikan matematika, untuk membaca artikel-artikel terkait dengan filsafat, akan tetapi dari artikel-artikel tersebut saya menemui manfaat yang lebih besar dari sebatas perkuliahan. Melalui elegi-elegi yang ada dalam blog ini, banyak hal yang saya renungkan dan akhirnya saya tuangkan dalam comment. Elegi yang sebenarnya diperuntukkan menyampaikan materi filsafat pun saya rasa tetap berguna sebagai bekal saya dalam mempelajari pendidikan matematika. Semoga Bapak Prof. Dr. Marsigit, M. A. selalu menginspirasi. Terima kasih.

    ReplyDelete
  86. Aji Pangestu
    15301241009
    S1 Pendidikan Matematika I 2015
    Dalam memahami suatu ilmu, sebaiknya kita mengosongkan pikiran. mengosongkan pikiran dalam hal ini adalah membuka pikiran kita terhadap ilmu-ilmu yang masuk dan kita peroleh, agar ilmu tersebut dapat membekas dalam diri kita.

    ReplyDelete