Oct 16, 2010

Elegi Memahami Elegi

Oleh Marsigit

Mahasiswa:
Aku jengkel, aku marah, aku tak peduli, aku tersinggung...



Dosen:
Sebentar apa masalahnya? Mengapa anda bersikap demikian?

Mahasiswa:
Ah Bapak tak perlu berpura-pura. Kan segala macam persoalan yang membuat Bapak sendiri.

Dosen:
Oh baik apakah ini berkaitan dengan perkuliahan filsafat. Jika benar apakah ini berurusan dengan Elegi-elegi?

Mahasiswa:
Sumpah serapah. Saya tak mau lagi membaca Elegi? Kekaguman saya kepada bapak juga runtuh sudah. Ternyata Bapak tidak seperti yang aku pikirkan.

Dosen:
Lho kenapa, emangnya apa salahnya Elegi? Jika engkau telah menemukan bahwa aku tidak perlu lagi engkau kagumi, bukankah itu adalah satu jalanmu bagi pencerahanmu. Filsafat itu tidak tergantung oleh keberadaan saya. Sehebat-hebat aku sebagai dosen, itu adalah ibarat setitik pasir ditepi lautan filsafat. Maka aku perlu sarankan pula agar engkau pun perlu memikir ulang kekagumanmu terhadap dosen yang lain. Sebab hal yang demikian dapat melemahkan usahamu mewujudkan pikiran kritismu.

Mahasiswa:
Bapak itu tidak mutu. Kenapa aku belajar filsafat pakai syarat harus (diwajibkan) membaca Elegi?

Dosen:
Sebetulnya bukan wajib. Wajib itu relatif. Selama itu masih urusan dunia, segala kewajiban itu masih bisa dirundingkan.

Mahasiswa:
Tetapi setelah membaca Elegi dan mengikuti kuliah Bapak saya jadi pusing. Konsep pemikiranku menjadi berantakan tak karuan. Waktu saya untuk belajar filsafat itu cuma sedikit Pak. Saya mempunyai banyak tugas-tugas yang lain. Apa lah gunanya berfilsafat, sehingga berbicara ngalor ngidul yang tak relevan dengan kehidupan sehari-hari. Lagi pula tidak ada sangkut pautnya dengan tugas mengajar saya. Saya perlu pemondokan, saya perlu transportasi, saya bolak balik dari kampus ke tempat asalku. Itu sudah sangat menyita waktu.

Dosen:
Lha apa usulmu dan apa maumu?

Mahasiswa:
Berikan saja kepada saya referensi yang singkat, padat dan jelas, untuk kemudian saya bisa baca dengan singkat dan saya gunakan untuk persiapan ujian. Beres gitu aja pak.

Dosen:
Maaf, menurut pandangan saya. Ibarat perjalanan, anda sudah memasuki jalan-jalan dan gang sempit, sehingga sulit bagi dirimu untuk membalikkan kendaraanmu atau parkir atau balik arah dsb. Padahal orang belajar filsafat itu ibarat duduk di lobi, dia belum menentukan sikap jalan mana yang harus dilalui, dia hanay baru memikirkannya.

Mahasiswa:
Lagi-lagi, Bapak mulai berfilsafat. Mulai sekarang saya akan diam saja, tidak akan bertanya, tidak akan membuat komen pada Elegi, dan bersifat pasif saja dalam perkuliahan.

Dosen:
Kelihatannya anda cukup bernafsu dalam bersikap. Jika demikian maka pilihan hidup anda akan semakin sedikit. Bukankah banyak orang lebih suka mempunyai banyak pilihan agar hidup itu membahagiakan?
Padahal dalam mempelajari filsafat, mahasiswa itu seyogyanya dalam keadaan NOL. Artinya agar mampu berpikir kritis, maka kita perlu berpikir netral, tidak prejudice atau watprasangka, tidak emosi, tidak putus asa.

Mahasiswa:
Ah lagi-lagi Bapak mulai berfilsafat. Saya jujur saja jemu dengan segala macam ceremah Bapak.

Dosen:
Jikalau engkau mulai jemu dengan ceramah saya, bukankah setiap hari saya sudah beri kesempatan untuk bertanya, usul, memberi saran atau apa saja baiknya agar engkau mampu belajar filsafat.

Mahasiswa:
Sebetulnya sih enggan aku katakan. Jujur saja untuk berbicara di kelas juga aku mengalami kesulitan, karena mungkin bacaanku juga masih sedikit.

Dosen:
Kenapa engkau tidak usul atau bertanya atau memberi saran.

Mahasiswa:
Untuk itu semua juga sama saja. Saya tidak merasa pede karena mungkin saya juga kurang membaca. Atau bacaan saya belum relevan dengan pokok pembicaraan.

Dosen:
Terus apalagi yang ingin engkau sampaikan?

Mahasiswa:
Kenapa Bapak melakukan testing filsafat, sehingga terasa memberatkan mahasiswa?

Dosen:
Itu merupakan komunikasi formal. Wajib hukumnya bagi dosen untuk menguji mahasiswa.

Mahasiswa:
Kenapa ujiannya seperti itu, lain lagi minta ujiannya sesuai dengan selera saya.

Dosen:
Ujian seperti apa yang engkau inginkan?

Mahasiswa:
Aku sendiri juga bingung. Bagaimana ya cara Bapak menguji diriku agar Bapak juga tahu kemampuan berfilsafatku?

Dosen:
Saya sebetulnya mempunyai banyak cara dan teori untuk mengujimu. Anda sendiri juga bisa membuat refleksi, bisa membuat makalah, bisa menguraikan atau membuat tesis, anti tesis atau sintesis.

Mahasiswa:
Apa pula itu Pak?

Dosen:
Kemarahan dan emosimu telah menutup sebagaian ilmumu. Jika engkau terus-teruskan itulah sebenar-benar musuhmu dalam belajar filsafat. Jika engkau tidak mamu mengatasi sampai kuliah ini berakhir, itu pertanda engkau gagal dalam menempuh perkuliahan. Padahal sebetul-betulnya yang terjadi adalah untuk belajar filsafat, tidak cukup hanya membaca sedikit, tidak tepat kalau hanya menginginkan petunjuk teknis, tidak cukup kalau hanya membaca referensi wajib, tidak cukup hanya berpikir parsial. Jika itu yang engkau lakukan maka itulah sebenar-benar anda akan menjadi manusia yang berbahaya dimuka bumi ini, karena anda akan menggunakan filsafat tidak tepat ruang dan waktunya. Maka mempelajari filsafat juga tidak bisa urut hirarkhis, tidak hanya membaca tetapi berfilsafatlah dengan segenap jiwa ragamu. Itulah maka sebenar-benar filsafat adalah refleksi hidupmu sendiri. Amarahmu dan kekecewaanu itu adalah catatanmu. Tetapi ketahuilah bahwa amarah dan emosi itu sebenar-benar adalah telah menghabiskan dan membakar energimu.

Mahasiswa:
Bapak otoriter.

Dosen:
Otoriter itu dunia. Dia punya batas-batasnya. Dia bisa sangat kuat tetapi juga bisa sangat lemah. Jika otoritasnya sangat lemah mungkin dia demokratis, tetapi tidak selalu demikian. Lihat betapa Amerika begitu garangnya berperang dalam rangka menegakkan demokrasi. Lalu apa usulmu lagi?

Mahasiswa:
Sementara aku akan berdiam diri.

Dosen:
Baik, dalam diam itu ada kebajikan. Karena diam dapat digunakan sebagai sarana untuk refleksi diri. Ketahuilah bahwa refkesi diri itu merupakan kegiatan berpikir yang paling tinggi. Demikianlah semoga kita semua dapat selalu belajar dari pengalaman. Amiiin.

Mahasiswa:
Ntar Pak jangan ditutup dulu. saya ingin tanya dengan jurur. Terus terang saya mengalami kesulita memahami Elegi Bapak.

Dosen:
Baik anda mengalami kesulitan karena saya menggunakan berbagai macam bahasa dengan segala tingkatannya.

Mahasiswa:
Maksud Bapak?

Dosen:
Elegi itu tidak hanya meliputi jenis ucapan tetapi juga tindakan ucapan. Kita mengetahui ada paling sedikit empat macam jenis komunikasi: material, formal, normatif dan spiritual. Maka Elegi itu meliputi semua tingkatan jenis komunikasi tersebut.

Dalam Elegi aku juga berusaha menggunakan bahasa konstatif, maksudnya saya berusaha menggambarkan suatu kejadian atau fakta atau fenomena menggunakan gaya bahasaku sendiri. Dengan bahasa konstatif itu anda dapat melakukan verifikasi atau menilai benar salahnya pernyataan saya. Maka carilah mereka itu dalam Elegi-elegi saya. Tetapi ada juga Elegi dimana saya bebas memilih kata-kata atau bahasa saya sesuai dengan selera saya.

Dengan bahasa demikian saya tidak bermaksud agar anda membuktikan kebenarannya, tetapi semata-mata merupakan usaha saya sebagai penutur bahasa untuk memberi muatan filsafat, muatan moril atau muatan pengetahuan atau muatan pengalaman lainnya. Dengan bahasa perforatif itu saya ingin menunjukkan bahwa elegi itu memang orisinil tulisan saya.

Saya juga ingin menunjukkan kehadiran keterlibatan saya dalam elegi itu dengan demikian saya bisa lebih menghayati penulisan elegi itu. Di sinilah mungkin terjadi perbedaan taraf kelaikan yang anda harapkan dengan taraf kelaikan yang saya gunakan atau saya pilih. Jika terjadi kesenjangan ini maka saya menyadari bahwa anda akan dibuatnya “unhappy”, sedangkan saya sipembuat elegi happy-happy saja.

Tetapi dalam membuat Elegi ini saya juga tidak hanya melakukan hal-hal di atas. Dalam beberapa hal saya juga melakukan apa yang disebut sebagai tindakan lokusi, yaitu meletakkan tanggung jawab penuturan bahasa bukan pada penuturnya tetapi kepada semuanya. Artinya penuturan bahasa itu memang bersifat umum. Dengan mengambil tindakan lokusi pada suatu Elegi saya merasa mempunyai landasan untuk mengembangkan tindakan illokusi bahasa.

Tindakan illokusi bahasa adalah bahasa yang menunjukkan lawan terhadap tindakan sesuatu, dengan demikian tindakan illokusi ini akan menuntut saya sebagai si penutur bahasa untuk bersikap konsekuen juga melaksanakan penuturan saya itu. Misal keyika saya menyarankan anda untuk membaca, itu berarti saya juga seharusnya menyarankan kepada diri saya juga. Demikian juga ketika saya menyarankan anda untuk berbuat baik, bertindak konsisten, berpikir kritis, dsb.

Namun tidak hanya itu saja. Kata-kataku dalam elegi juga sebagian menunjukkan keadaan si pendengar dengan segala implikasinya. Artinya, saya menyadari bahwa kata-kata saya itu akan berpengaruh terhadap si pembaca elegi. Dalam filsafat bahasa mungkin ini yang disebut sebagai tindakan saya yang bersifat perlokusi.

Misalnya kalimat saya yang berbunyi-tidak mungkin belajar filsafat tanpa membaca-.
Ini berakibat anda sebagai mahasiswa saya yang menempuh filsafat, mau tidak mau harus membaca. Jika hal demikian dirasa berat, itulah anda dan juga saya menemukan bukti yang kesekian kalinya bahwa manusia di dunia itu bersifat kontradiktif.

Maka dapat aku katakan bahwa hidup itu adalah pilihan. Jika itu telah menjadi pilihanmu, mengapa engkau melakukan segala perbuatanmu kelihatannya kurang ikhlas. Bukannya engkau tahu bahwa ketidak ikhlasan walau sedikitpun itu tidak akan membawa manfaat baik di dunia maupun akhirat.

Maka renungkanlah. Semoga Allah SWT mengampuni segala kesalahan dan dosa-dosa kita. Amiin.

42 comments:

  1. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Jujur, saya terkadang juga mengalami kesulitan dalam memahami elegi pada blog Prof ini. Tapi hal itu malah membuat saya lebih bersemangat untuk mencoba memahami elegi berikutnya, karena banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan setelah membaca elegi-elegi tersebut, bagaimana memikirkan sesuatu dengan memperhatikan ruang dan waktunya. Kesulitan memahami elegi dikarenakan elegi bukan hanya jenis ucapan tetapi tindakan ucapan, serta elegi meliputi empat jenis komunikasi yaitu material, formal, normatif, dan spiritual. Memahami elegi memang tidak mudah, tetapi disitulah letak prosesnya. Oleh Karena itu, Prof selalu mengatakan lakukan dengan ikhlas hati dan ikhlas pikir serta selalu baca baca dan baca. Belajar filsafat dan memahami elegi memang membutuhkan proses dan tidak bisa instan, selain itu memerlukan usaha yang konsisten.

    ReplyDelete
  2. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Dengan mempelajari filsafat kita dilatih berpikir kritis, berpikir rasional. Elegi dalam berfilsafat merupakan ekspresi dari hati, puisi, dan masih banyak lagi makna yang terkandung di dalamnya. Sebagai manusia kita pasti pernah berpikir apa yang kita punya setelah mempelajari filsafat dengan-elegi elegi yang terkadang membuat kita bingung untuk memahami maknanya. Bahasa analog yang digunakan dalam menulis elegi memang cukup sulit untuk ditafsirkan, tetapi jika kita telah memahami maksud dari elegi tersebut maka terkandung banyak hal positif yang dapat membangun diri kita menjadi lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  3. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Memang benar, bagi saya, belajar untuk memahami elegi-elegi ini membutuhkan pemikiran yang mendalam. Tetapi dengan pemikiran-pemikiran tersebut sebenarnya saya dilatih untuk berpikir secara filsafat. Pembelajaran filsafat sebenarnya bukan pertamakalinya bagi saya, tetapi dulu saya juga pernah belajar mengenai filsafat ilmu, hanya saja dulu belajar filsafat yang saya rasakan bukan tentang berfikir filsafat, tetapi hanya sekedar menghapalkan teori-teori tentang filsafat. Sehingga, saya dapat mengerjakan ujian dan menjawab setiap pertanyaan sesuai dengan apa yang telah saya hafalkan, tanpa memahami lebih jauh mengenai filsafat itu sendiri. Dengan menghapal teori-teori filsafat, saya menganggap bahwa filsafat tidak berbeda dengan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Padahal apabila kita dapat memahami filsafat dengan lebih mendalam tidak hanya dipermukaannya saja, maka sebenarnya hal tersebut dapat mempengaruhi cara pandang dan ideologi kita mengenai hakikat segala sesuatu. Dan kita tahu sudut pandang dan ideologi kita itu juga akan berpengaruh secara umum tentang bagaimana kita akan menjalani kehidupan kita ini, apakah kita dapat bermanfaat bagi orang lain atau malah merugikan orang lain, apakah kita akan hidup dengan damai atau akan selalu gelisah dan sebagainya.

    ReplyDelete
  4. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Belajar melalui membaca berbagai elegi banyak sekali saya temukan berbagai istilah yang tidak lazim digunakan secara umum. Kemudian, belum lagi memahami makna dari istilah-istilah tersebut secara mendalam agar dapat memperoleh pemahaman secara utuh dan komprehensif dalam mempelajari elegi. Dari belajar memahami elegi-elegi disitulah belajar memahami filsafat.

    ReplyDelete
  5. Nahrul Pintoko Aji
    14301244008
    Pendidikan Matematika A 2014

    Melihat obrolan dosen dengan mahasiswa diatas menunjukkan kesungguhan usaha dosen untuk membuat mahasiswa mau dan senang mempelajari filsafat. karakter dosen sangat bijaksana terlihat saat menjawab pernyataan santri yang kesannya jutek.

    ReplyDelete
  6. Nahrul Pintoko Aji
    14301244008
    Pendidikan Matematika A 2014

    Cara bapak mengenalkan elegi dengan blog ini adalah bapak membuat obrolan yang membuat kami tertarik untuk membaca elegi. Beberapa hal tentang elegi disampaikan dengan contoh contoh nyata dan tanpa ada definisi,karena diharapkan definisi mampu d mengerti melalui penyampaian contoh konstektual, walaupun itu sulit.

    ReplyDelete
  7. Ahmad Wafa Nizami (20 maret 2017 at 7.44)
    16709251065
    S2 Pendidikan Matematika D

    Dari elegi memhami elegi kita akan tahu bahwa Elegi memahami elegi, dari pembicaraan antara dosen dan mahasiswa, dapat di tarik kesimpulan, bahwa dalam belajar filsafat itu harus bisa sabar. Harus bisa membuka hati kita untuk belajar menerima apa yang diajarkan. Untuk berfilsafat, kita tidak hanya saja membaca elegi, tapi harus bisa berfilsafat dalam kehidupan kita di sehari-hari. Dan dengan elegi kita bisa mencarai apa yang masih kurang dalam kehiudpan kita Dan dalam hidup itu adalah pilihan kita. Kita yang menentukan kehidupan kita. Apakah kita ikhlas atau tidak dalam menjalani semuanya, jika kita sudah ikhlas, maka apa yang diajarkan oleh seorang guru, maka kita akan bisa menerimanya.

    ReplyDelete
  8. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Filsafat merupakan kebenaran bagi si pemilik filsafat sendiri. Setiap yang berfisafat memiliki kebenaran filsatanya masing-masing.
    Tak jarang kita temui berbedaan kebenaran yang sama. Seperti yang sudah dipaparkan di atas bahwasannya manusia bersifat kontradiktif.
    Sehingga kita sebagai manusia sudah seharusnya dapat menerima perbedaan pemikiran apalagi terkait filsafat. Karena apa dasarnya kebenaran filsafat ,hanya pada filsafat itu sendiri. Kebenaran Elegi hanya pada elegi itu sendiri.

    ReplyDelete
  9. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    pada hakikatnya untuk mendapatkan semua ilmu dengan membaca. dengan membaca kita tidak hanya sekedar mengerti tapi juga memahami apa yang dimaksudkan oleh penulis. kita uga bisa memahami pola pikirnya. apalagi jika ilmu seperti ilmu filsafat, tentu mau tidak mau, suka tidak suka kita harus sering membaca. ya semua itu untuk kebaikan kita juga.

    ReplyDelete
  10. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari elegi ini saya memperoleh pemaahaman bahwa untuk dapat mendapatkan pemahaman dari elegi-elegi yang ditulis ini perlu adanya keikhlasan hati dan pikiran. Seperti Prof Marsigit sampaikan setiap waktu kuliah bahwa dalam mempelajari filsafat dalam membaca artikel-artikel dalam blog harus ikhlas dalam pikir dan ikhlas dalam hati. Dengan demikian, kita dapat memperoleh makna yang terkandung dalam artikel atau elegi tersebut seklaigus belajar bagaimana cara untuk berfilsafat. Sehingga apa yang kita dapatkan dari blog ini juga bisa kita aplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari kita.

    ReplyDelete
  11. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Memahai elegi juga sama artinya dengan memahami pola pikir kita sendiri, bagaimana kita memahami suatu ilmu yang tidak langsung menunjuk sumber teorinya, melainkan dianalogikan dengan beberapa tokoh atau peran pada elegi itu sendiri sehigga kita sendiri yang menemukan polanya bahwa elegi tersebut sebenarnya menuruk pada suatu teori dalam filsafat. Elegi ini hanyalah sebuah perantara untuk kita berpikir menuju filsafat itu sendiri. Sulit memang, jika kita tidak memahaminya dengan keikhlasan hati yang sungguh-sungguh.

    ReplyDelete
  12. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Belajar merupakan suatu proses yang berkelanjutan. Tidak bisa hanya dilakukan secara instan dan singkat. Sama halnya belajar berfilsafat. Terlebih filsafat menjadi hal baru saya pelajari. Dari elegi tersebut mengingatkan saya untuk ikhlas di setiap proses belajar, termasuk belajar filsafat. Segala sesuatu yang dilandasi dengan niat yang ikhlas, insyaAllah akan memberikan kebermanfaatan. Di sini, saya masih berusaha belajar mengenal dan memahami filsafat dengan membaca elegi-elegi di blog ini.

    ReplyDelete
  13. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu'alaikum. Memahami elegi masih terasa sulit untuk saya, namum pelan-pelan mulai terbiasa dengan bahasa elegi dan mulai memahami maksud dari setiap elegi. Bahasa yang dipakai dalam elegi memang sulit dipahami, tapi kalau sudah paham ternyata isi elegi itu penuh makna.

    ReplyDelete
  14. Jeanete Nenabu
    15709251004
    PPS Pend. Matematika D

    Belajar filsafat berarti membaca, membaca, dan membaca. Dengan membaca kita bisa memperluas pikiran kita. Dan dengan belajar filsafat diharapkan kita bisa berpikir kritis dan logis dalam menangani masalah – masalah dalam kehidupan sehari-hari, sopan santun dalam bertindak, dan bisa berkomunikasi dengan baik dan benar. Namun satu hal yang tidak boleh terlupakan bahwa dalam mempelajari suatu ilmu apapun harus dengan khlas hati.

    ReplyDelete
  15. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPs Pendidikan Matematika 2016 Kelas D

    Dalam memahami elegi mungkin awalnya terasa sulit, namun kesulitan itu bisa diatasi dengan terus baca,baca,dan baca. Dengan membaca, kesulitan-kesulitan tersebut mampu teratasi dan perlahan kita memahami setiap elegi-elegi yang membawa pengetahuan dan kebaikan untuk hidup kita.

    ReplyDelete
  16. Tahtalia
    14301241031
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Ilmu itu tidak terbatas dan butuh keikhlasan untuk mempelajarinya. Awalnya saya sendiri merasa kesulitan memahami elegi-elegi yang ada pada blog ini, butuh berulang-ulang kali membaca agar saya paham betul apa yang disampaikan dari elegi tersebut. Selain informasi yang saya dapat dari elegi tersebut, secara tidak sadar ternyata dengan membaca elegi melatih kemampuan membaca saya, menambah kosakata, dan yang lain-lain.

    ReplyDelete
  17. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Saya juga merasa, bahwa filsafat itu tidak mudah untuk dipahami, dan tidak bisa secara instan dipelajari. Semua membutuhkan proses, membutuhkan waktu untuk mempelajari. Semua orang memiliki kesibukan, namun pilihan-pilihan dalam kehidupan yang kaya memang benar dapat membuat kita bahagia. Seperti halnya pilihan kita dalam membaca banyak elegi ini, yang dapat membangun pengetahuan kita dalam filsafat.

    ReplyDelete
  18. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Untuk bisa memahami hakikat dari sesuatu maka kita harus masuk betul kedalam sesuatu itu, begitu juga dengan belajar dengan Prof. Marsigit, kita selaku mahasiswa yang belajar pada Prof. Maka kita harus memahami betul jalan pemikiran Prof. yakni diantara jalan yang diberikan adalah membaca elegi-elegi yang sudah ditulis dalam blok ini. Menurut saya membaca elegi ini sama saja kita bagaiman kita membaca pemikiran Prof. Marsigit. Sehingga kalau kita sudah bisa memahami alur pemikiran Prof. akan memudahkan kita berkomunikasi dengan beliau.


    ReplyDelete
  19. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam satu elegi menyimpan beribu-ribu makna. Setiap orang dapat memaknainya berbeda itu lah manusia yang hakekatnya beda. Sehingga dalam membaca elegi perlu memahami pola pikir dari sang penulis, boleh kita berpikir beda itu tidak salah, namun alangkah lebih baik kita dapat membuka berbagai sudut pandang agar kita paham pola pikir orang lain.

    ReplyDelete
  20. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Menurut saya, kunci membaca elegi – elegi ini dengan cara membaca, membaca, dan terus membaca. Membaca tidak hanya sekedar membaca tetapi memang harus dengan ikhlas. Saya sebenarnya kurang bisa memahami elegi – elegi yang Prof.Marsigit berikan pada blog ini. Tetapi saya tidak menyerah begitu saja. Saya mencoba berusaha memahami walaupun semakin memahami malah akan muncul banyak kebingungan. Yang saya lakukan hingga saat ini mencoba terus membaca dan memahami elegi – elegi yang ditulis.

    ReplyDelete
  21. Ajeng Puspitasari / 14301241005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Di dalam kelas, Prof Marsigit sering mengatakan "ketika sudah lelah, maka berhentilah membaca blog". Saya berpikir, Prof Marsigit mengungkapkan hal tersebut hanya sebatas untuk mengingatkan agar mahasiswa tidak kelelahan saja. Namun, setelah membaca postingan di atas, saya baru menyadari alasan di balik kalimat tersebut.
    Ketika lelah, seringkali seseorang akan lebih mudah emosi dan marah. Ketika mulai emosi, maka pikiran pun akan susah dikondisikan agar berpikir tenang dan netral. Akibat selanjutnya adalah pikiran akan susah terhubung dan menerima ilmu baru, hati menjadi tidak ikhlas ketika belajar. Semua emosi dan amarah akan menutup sebagian ilmu yang seharusnya dapat kita peroleh ketika diri ini ikhlas, tenang, dan netral.
    Disamping itu, membaca & mempelajari elegi memang harus bersabar. Prof Marsigit ibarat dewanya, jadi ilmu kami tidaklah sederajat. Namun, tujuan penulisan elegi ini tentu dilandasi tujuan yang baik.

    ReplyDelete
  22. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Elegi merupakan kiasan dari sebuah filsafat. Dengan kata lain elegi merupakan filsafat yang dikemas dengan bahasa yang apik sehingga makna yang berada di dalamnya dapat dipahami oleh semua orang. Maksud dari elegi itu adalah bahwa tidak semua orang mampu memahami bahasa filsafat, akan tetapi sebagian besar orang pasti dapat memahami bahasa sebagai sastra, sehingga filsafat dianalogikan ke dalam sebuah elegi. Terdapat banyak sekali elegi-elegi yang diungkapkan oleh si penulis. Penulis mengungkapkan filsafat dengan cara yang unik. Seberapa dalam kita memahami elegi juga menentukan seberapa dalam kita memahami filsafat yang diungkapkan oleh si penulis. Filsafat tersebut tidak hanya terbatas dalam ruang perkuliahan, namun meliputi segala yang ada dan yang mungkin ada di sekitar kita. sehingga sesungguhnya filsafat itu sangat dekat dengan kita. nha, dengan membaca elegi ini, akan membantu kita menyadari keberadaan filsafat-filsafat tersebut.

    ReplyDelete
  23. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Awal saya mendengar dan memasuki dunia filsafat mengalami kesulitan. Sebab, dalam jenjang pendidikan sebelumnya tidak pernah diperkenalkan filsafat. Sehingga dalam benak saya masih penuh dengan setumpuk pertanyaan akan filsafat sebenarnya dan menjadi tantangan untuk memahami lebih lanjut filsafat tersebut. Elegi-elegi bapak Marsigit menjadi sarana dan fasilitas kita untuk belajar berpikir kritis, berani berpendapat, dan mencari inovasi-inovasi baru.

    ReplyDelete
  24. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari elegi di atas saya berintropeksi untuk merealisasikan keihklasan. Dalam melaksanakan kewajiban hendaknya didasari dengan niat karena Alah swt. Seperti halnya refleksi, kita luruskan niat belajar filsafat sebagai suatu ibadah yang sangat bermanfaat bagi kita. Berbagai rintangan dalam memahami berbagai teori filsafat dijadikan motivasi kita untuk selalu berikhtiar dan semangat dalam menggapainya.

    ReplyDelete
  25. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Dalam belajar filsafat tentunya kita harus sabar dan ikhlas. karena jika kita tidak sabar maka belajar filsafat akan menjadi hal yang sangat menguras emosi karena tidak mudah memahami karya filsafat karya seorang filsuf. dengan kita bersabar maka lama kelamaan kita akan memahami sedikit demi sedikit mengenai filsafat dan itu akan sangat menambah wawasan kita dan bermanfaat bagi kita.

    ReplyDelete
  26. Tahtalia
    14301241031
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Memahami elegi bukanlah hal yang mudah, diperlukan keikhlasan dalam membaca dan memahami maksud elegi tersebut. Ikhlas itu memang sudah seharusnya ada dalam setiap langkah yang kita ambil, karena dengan keikhlasan tersebut akan meringankan langkah kita dan menjadikannya sebagai ibadah. Menjadi benar-benar ikhlas memang sulit, tapi perlahan pasti bisa.

    ReplyDelete
  27. Perasaan manusia memang berbeda-beda. Ketika diminta untuk melakukan sesuatu yang baru, memahmi sesuatu yang baru, atau menciptakan sesuatu baik baru atau sudah ada maka manusia akan mengalami kesulitan. Kesulitan teradi karena perbedaan pengetahuan dan pengalaman. Pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya belum mampu untuk menjangkaunya. Dengan kata lain kesulitan terjadi karena perbedaan dimensi. Dengan banyak belajar dan banyak membaca dan banyak melakukan maka akan menjadi luas wawasannya dan dapat memahami banyak hal atau dapat memahami pengetahuan yang di pelajarinya.

    ReplyDelete
  28. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setiap melakukan sesuatu diharapkan dilakukan dengan ikhlas, begitu pula dengan memahami elegi, terlebih pemahaman terhadap elegi setiap orang berbeda-beda, maka diharapkan ikhlas dalam membaca berulang kali agar kita dapat menangkap pesan dari penulis

    ReplyDelete
  29. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Untuk belajar filsafat maka kita harus membaca. Salah satu bacaan filsafat adalah elegi. Namun dalam membaca elegi memang tak semudah membaca bacaan yang lain karena elegi Elegi itu tidak hanya meliputi jenis ucapan tetapi juga tindakan ucapan. Dalam elegi terdapat 4 macam komunikasi yaitu material, formal, normatif dan spiritual. Kemudian setelah membaca elegi kita bisa membuat refleksi. Sebenar benarnya filsafat adalah refleksi dirimu sendiri.

    ReplyDelete
  30. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Saat awal-awal saya membaca blog ini saya sangat mengalami kesulitan terutama dari segi bahasa yang mana banyak yang belum pernah saya menerti sebelumnya. Namun setelah terus membaca dengan keyakikan pasti ada manfaatnya membaca postingan-postingan di blog ini maka sedikit demi sediki saya mulai paham. Dibutuhkan keihklasan dalam melakukan sesuatu hal karena tanpa keihklasan maka apa yang dilakukannya tidak ada manfaatnya.

    ReplyDelete
  31. Ika AGustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Mamtematika I 2014

    Mempelajari filsafat tidaklah mudah. Untuk memahami beberapa elegi yang ada di blog Bapak ini membutuhkan pemahaman yang dalam agar saya pribadi menangkap isi dan pesan yang disampaikan. Kunci utamanya adalah membaca, membaca, dan membaca.

    ReplyDelete
  32. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2104

    Beberapa elegi yang ada di blog bapak ini cenderung menggunakan kosa kata asing yang belum pernah saya temui sebelumnya. Hal ini membuat saya sedikit kebingungan mengartikan dan memahami pesan yang disampaikan. Namun secara perlahan, saya mulai memahami beberapa kata yang digunakan. Sekali lagi, kunci keberhasilan adalah dengan membaca.

    ReplyDelete
  33. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Allah SWT memberikan kita akal dan pikiran ditunjukan untuk slalu berpikir. Hal yang dapat mmembuat kita berpikir adalah dengan membaca, membaca dan membaca. Dengan kita membekali diri dengan ilmu yang banyak, kita akan dengan mudah memahami elegi-elegi yang ada.

    ReplyDelete
  34. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Sesungguhnya yang menjadikan sulit untuk memahami elegi-elegi yang ada adalah kesiapan dan keikhlasan hati untuk memulai membacanya. Dengan keikhlasan hati , elegi yang ada akan dapat dengan dibaca dan dicerna. Semua hal yang dilakukan dengan keikhlasan hati akan bermanfaat bagi diri kita sendiri maupun orang lain.

    ReplyDelete
  35. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    untuk memahami setiap elegi yang bapak posting memang tidak mudah. banyak istilah-istilah baru yang muncul sehingga memunculkan keingintahuan yang tinggi untuk mengetahuinya. memahami elegi ini akan menjadi sis-sia manakala kita tidak melaksanakannya dengan ikhlas untuk menuntut ilmu dan belajar untuk selalu menjadi baik.

    ReplyDelete
  36. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Kunci penting dalam belajar filsafat adalah dengan membaca. Salah satunya adalah dengan membaca elegi-elegi yang sudah disediakan oleh Pak Marsigit di blog ini. Elegi elegi yang ada di blog ini merupakan salah satu penyampaian ilmu filsafat yang lebih manusiawi. Artinya dengan elegi-elegi sebenarnya akan lebih mudah memahami filsafat. Diperlukan keikhlasan untuk membaca elegi agar ilmu yang didapatkan tidak sia sia.

    ReplyDelete
  37. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam elegi memahami elegi ini, berisikan tentang keluhan mahasiswa terhadap tugas-tugas yang ia terima dari dosen. Mahasiswa akan merasa berat saat mengerjakan tugas dari dosen itu dikarenakan adanya perasaan terpaksa atau tidak ikhlas. Maka, ikhlaslah ketika mengerjakan tugas dari dosen. Berpikir positiflah, bahwa suatu saat tugas ini akan bermanfaat untuk kita, sekarang mungkin belum merasakannya, tetapi akan dirasakan suatu hari nanti.

    ReplyDelete
  38. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Elegi-elegi perlu dipahami dengan cara berfikir filsafat, yaitu berfikir ssecara kritis dan mendalam untuk memahami elegi tersebut. Di dalam elegi banyak kita temukan kata kata yang tak lazim atau yang jarang kita temui, disitulah kita belajar berfikir secara filsafat.

    ReplyDelete
  39. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam belajar, kita tidak hanya menerima dan mencari pengetahuan yang kita butuhkan saja. Kita perlu juga untuk mempelajari ilmu-ilmu yang mungkin tidak berhubungan langsung dengan kehidupan kita. Namun sejatinya, semua ilmu itu bermanfaat agar wawasan kita luas dan tidak tertinggal.

    ReplyDelete
  40. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dengan membaca elegi-elegi dalam blog ini, saya menyadari bahwa banyak yang belum saya ketahui. Dari blog ini, saya merasa bahwa dunia ini menyimpan berjuta-juta pengetahuan yang seiring bertambahnya waktu akan terus selalu berkembang. Sehingga, perlu kiranya kita untuk senantiasa mengimbangi perkembangan-perkembangan yang terjadi.

    ReplyDelete
  41. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Filsafat Pendidikan Matematika 2013

    Filsafat adalah pola pikir yang reflektif. Karena reflektif, sebagai orang yang belajar filsafat perlu sabar dan jangan berpikir sempit. Namun perlu juga berhati-hati dalam membuka pikiran dengan tidak lupa pada keyakinan.

    ReplyDelete
  42. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Dalam mempelajari ilmu apapun, sebaiknya kita tidak prejudice. Seperti dalam belajar filsafat ini, pikiran kita harus netral. Agar kita dapat berfilsafat dengan segenap jiwa dan raga kita harus melakukan segala sesuatunya dengan ikhlas. Dengan ikhlas itulah kita dapat menyadari betapa banyaknya manfaat filsafat dalam kehidupan kita. Filsafat berangkat dari bertanya. Ketika pikiran kita kacau, maka pada saat itulah sebenar-benarnya kita sedang mulai berfilsafat. Namun ketika hati kita mulai kacau ketika berfilsafat, kita harus menghentikannya sejenak dan memohon perlindungan Allah. Menurut saya, elegi yang dibuat oleh Prof Marsigit memang tidak bisa hanya dibaca satu kali untuk dapat memahaminya. Saya harus membaca berkali-kali dan berpikir sedalam-dalamnya mengenai isi dari elegi. Tapi disitulah menariknya. Kita bisa menggali pikiran dan ilmu kita lebih dalam lagi. Berusaha memahami dengan berbaglain sudut pandang baru. Selain itu, bukankah kita memang harus berikhtiar untuk mendapatkan apa yang kita inginkan? Sehingga membaca elegi ini dapat kita kategorikan sebagai ikhtiar kita.

    ReplyDelete