Oct 16, 2010

Elegi Memahami Elegi

Oleh Marsigit

Mahasiswa:
Aku jengkel, aku marah, aku tak peduli, aku tersinggung...



Dosen:
Sebentar apa masalahnya? Mengapa anda bersikap demikian?

Mahasiswa:
Ah Bapak tak perlu berpura-pura. Kan segala macam persoalan yang membuat Bapak sendiri.

Dosen:
Oh baik apakah ini berkaitan dengan perkuliahan filsafat. Jika benar apakah ini berurusan dengan Elegi-elegi?

Mahasiswa:
Sumpah serapah. Saya tak mau lagi membaca Elegi? Kekaguman saya kepada bapak juga runtuh sudah. Ternyata Bapak tidak seperti yang aku pikirkan.

Dosen:
Lho kenapa, emangnya apa salahnya Elegi? Jika engkau telah menemukan bahwa aku tidak perlu lagi engkau kagumi, bukankah itu adalah satu jalanmu bagi pencerahanmu. Filsafat itu tidak tergantung oleh keberadaan saya. Sehebat-hebat aku sebagai dosen, itu adalah ibarat setitik pasir ditepi lautan filsafat. Maka aku perlu sarankan pula agar engkau pun perlu memikir ulang kekagumanmu terhadap dosen yang lain. Sebab hal yang demikian dapat melemahkan usahamu mewujudkan pikiran kritismu.

Mahasiswa:
Bapak itu tidak mutu. Kenapa aku belajar filsafat pakai syarat harus (diwajibkan) membaca Elegi?

Dosen:
Sebetulnya bukan wajib. Wajib itu relatif. Selama itu masih urusan dunia, segala kewajiban itu masih bisa dirundingkan.

Mahasiswa:
Tetapi setelah membaca Elegi dan mengikuti kuliah Bapak saya jadi pusing. Konsep pemikiranku menjadi berantakan tak karuan. Waktu saya untuk belajar filsafat itu cuma sedikit Pak. Saya mempunyai banyak tugas-tugas yang lain. Apa lah gunanya berfilsafat, sehingga berbicara ngalor ngidul yang tak relevan dengan kehidupan sehari-hari. Lagi pula tidak ada sangkut pautnya dengan tugas mengajar saya. Saya perlu pemondokan, saya perlu transportasi, saya bolak balik dari kampus ke tempat asalku. Itu sudah sangat menyita waktu.

Dosen:
Lha apa usulmu dan apa maumu?

Mahasiswa:
Berikan saja kepada saya referensi yang singkat, padat dan jelas, untuk kemudian saya bisa baca dengan singkat dan saya gunakan untuk persiapan ujian. Beres gitu aja pak.

Dosen:
Maaf, menurut pandangan saya. Ibarat perjalanan, anda sudah memasuki jalan-jalan dan gang sempit, sehingga sulit bagi dirimu untuk membalikkan kendaraanmu atau parkir atau balik arah dsb. Padahal orang belajar filsafat itu ibarat duduk di lobi, dia belum menentukan sikap jalan mana yang harus dilalui, dia hanay baru memikirkannya.

Mahasiswa:
Lagi-lagi, Bapak mulai berfilsafat. Mulai sekarang saya akan diam saja, tidak akan bertanya, tidak akan membuat komen pada Elegi, dan bersifat pasif saja dalam perkuliahan.

Dosen:
Kelihatannya anda cukup bernafsu dalam bersikap. Jika demikian maka pilihan hidup anda akan semakin sedikit. Bukankah banyak orang lebih suka mempunyai banyak pilihan agar hidup itu membahagiakan?
Padahal dalam mempelajari filsafat, mahasiswa itu seyogyanya dalam keadaan NOL. Artinya agar mampu berpikir kritis, maka kita perlu berpikir netral, tidak prejudice atau watprasangka, tidak emosi, tidak putus asa.

Mahasiswa:
Ah lagi-lagi Bapak mulai berfilsafat. Saya jujur saja jemu dengan segala macam ceremah Bapak.

Dosen:
Jikalau engkau mulai jemu dengan ceramah saya, bukankah setiap hari saya sudah beri kesempatan untuk bertanya, usul, memberi saran atau apa saja baiknya agar engkau mampu belajar filsafat.

Mahasiswa:
Sebetulnya sih enggan aku katakan. Jujur saja untuk berbicara di kelas juga aku mengalami kesulitan, karena mungkin bacaanku juga masih sedikit.

Dosen:
Kenapa engkau tidak usul atau bertanya atau memberi saran.

Mahasiswa:
Untuk itu semua juga sama saja. Saya tidak merasa pede karena mungkin saya juga kurang membaca. Atau bacaan saya belum relevan dengan pokok pembicaraan.

Dosen:
Terus apalagi yang ingin engkau sampaikan?

Mahasiswa:
Kenapa Bapak melakukan testing filsafat, sehingga terasa memberatkan mahasiswa?

Dosen:
Itu merupakan komunikasi formal. Wajib hukumnya bagi dosen untuk menguji mahasiswa.

Mahasiswa:
Kenapa ujiannya seperti itu, lain lagi minta ujiannya sesuai dengan selera saya.

Dosen:
Ujian seperti apa yang engkau inginkan?

Mahasiswa:
Aku sendiri juga bingung. Bagaimana ya cara Bapak menguji diriku agar Bapak juga tahu kemampuan berfilsafatku?

Dosen:
Saya sebetulnya mempunyai banyak cara dan teori untuk mengujimu. Anda sendiri juga bisa membuat refleksi, bisa membuat makalah, bisa menguraikan atau membuat tesis, anti tesis atau sintesis.

Mahasiswa:
Apa pula itu Pak?

Dosen:
Kemarahan dan emosimu telah menutup sebagaian ilmumu. Jika engkau terus-teruskan itulah sebenar-benar musuhmu dalam belajar filsafat. Jika engkau tidak mamu mengatasi sampai kuliah ini berakhir, itu pertanda engkau gagal dalam menempuh perkuliahan. Padahal sebetul-betulnya yang terjadi adalah untuk belajar filsafat, tidak cukup hanya membaca sedikit, tidak tepat kalau hanya menginginkan petunjuk teknis, tidak cukup kalau hanya membaca referensi wajib, tidak cukup hanya berpikir parsial. Jika itu yang engkau lakukan maka itulah sebenar-benar anda akan menjadi manusia yang berbahaya dimuka bumi ini, karena anda akan menggunakan filsafat tidak tepat ruang dan waktunya. Maka mempelajari filsafat juga tidak bisa urut hirarkhis, tidak hanya membaca tetapi berfilsafatlah dengan segenap jiwa ragamu. Itulah maka sebenar-benar filsafat adalah refleksi hidupmu sendiri. Amarahmu dan kekecewaanu itu adalah catatanmu. Tetapi ketahuilah bahwa amarah dan emosi itu sebenar-benar adalah telah menghabiskan dan membakar energimu.

Mahasiswa:
Bapak otoriter.

Dosen:
Otoriter itu dunia. Dia punya batas-batasnya. Dia bisa sangat kuat tetapi juga bisa sangat lemah. Jika otoritasnya sangat lemah mungkin dia demokratis, tetapi tidak selalu demikian. Lihat betapa Amerika begitu garangnya berperang dalam rangka menegakkan demokrasi. Lalu apa usulmu lagi?

Mahasiswa:
Sementara aku akan berdiam diri.

Dosen:
Baik, dalam diam itu ada kebajikan. Karena diam dapat digunakan sebagai sarana untuk refleksi diri. Ketahuilah bahwa refkesi diri itu merupakan kegiatan berpikir yang paling tinggi. Demikianlah semoga kita semua dapat selalu belajar dari pengalaman. Amiiin.

Mahasiswa:
Ntar Pak jangan ditutup dulu. saya ingin tanya dengan jurur. Terus terang saya mengalami kesulita memahami Elegi Bapak.

Dosen:
Baik anda mengalami kesulitan karena saya menggunakan berbagai macam bahasa dengan segala tingkatannya.

Mahasiswa:
Maksud Bapak?

Dosen:
Elegi itu tidak hanya meliputi jenis ucapan tetapi juga tindakan ucapan. Kita mengetahui ada paling sedikit empat macam jenis komunikasi: material, formal, normatif dan spiritual. Maka Elegi itu meliputi semua tingkatan jenis komunikasi tersebut.

Dalam Elegi aku juga berusaha menggunakan bahasa konstatif, maksudnya saya berusaha menggambarkan suatu kejadian atau fakta atau fenomena menggunakan gaya bahasaku sendiri. Dengan bahasa konstatif itu anda dapat melakukan verifikasi atau menilai benar salahnya pernyataan saya. Maka carilah mereka itu dalam Elegi-elegi saya. Tetapi ada juga Elegi dimana saya bebas memilih kata-kata atau bahasa saya sesuai dengan selera saya.

Dengan bahasa demikian saya tidak bermaksud agar anda membuktikan kebenarannya, tetapi semata-mata merupakan usaha saya sebagai penutur bahasa untuk memberi muatan filsafat, muatan moril atau muatan pengetahuan atau muatan pengalaman lainnya. Dengan bahasa perforatif itu saya ingin menunjukkan bahwa elegi itu memang orisinil tulisan saya.

Saya juga ingin menunjukkan kehadiran keterlibatan saya dalam elegi itu dengan demikian saya bisa lebih menghayati penulisan elegi itu. Di sinilah mungkin terjadi perbedaan taraf kelaikan yang anda harapkan dengan taraf kelaikan yang saya gunakan atau saya pilih. Jika terjadi kesenjangan ini maka saya menyadari bahwa anda akan dibuatnya “unhappy”, sedangkan saya sipembuat elegi happy-happy saja.

Tetapi dalam membuat Elegi ini saya juga tidak hanya melakukan hal-hal di atas. Dalam beberapa hal saya juga melakukan apa yang disebut sebagai tindakan lokusi, yaitu meletakkan tanggung jawab penuturan bahasa bukan pada penuturnya tetapi kepada semuanya. Artinya penuturan bahasa itu memang bersifat umum. Dengan mengambil tindakan lokusi pada suatu Elegi saya merasa mempunyai landasan untuk mengembangkan tindakan illokusi bahasa.

Tindakan illokusi bahasa adalah bahasa yang menunjukkan lawan terhadap tindakan sesuatu, dengan demikian tindakan illokusi ini akan menuntut saya sebagai si penutur bahasa untuk bersikap konsekuen juga melaksanakan penuturan saya itu. Misal keyika saya menyarankan anda untuk membaca, itu berarti saya juga seharusnya menyarankan kepada diri saya juga. Demikian juga ketika saya menyarankan anda untuk berbuat baik, bertindak konsisten, berpikir kritis, dsb.

Namun tidak hanya itu saja. Kata-kataku dalam elegi juga sebagian menunjukkan keadaan si pendengar dengan segala implikasinya. Artinya, saya menyadari bahwa kata-kata saya itu akan berpengaruh terhadap si pembaca elegi. Dalam filsafat bahasa mungkin ini yang disebut sebagai tindakan saya yang bersifat perlokusi.

Misalnya kalimat saya yang berbunyi-tidak mungkin belajar filsafat tanpa membaca-.
Ini berakibat anda sebagai mahasiswa saya yang menempuh filsafat, mau tidak mau harus membaca. Jika hal demikian dirasa berat, itulah anda dan juga saya menemukan bukti yang kesekian kalinya bahwa manusia di dunia itu bersifat kontradiktif.

Maka dapat aku katakan bahwa hidup itu adalah pilihan. Jika itu telah menjadi pilihanmu, mengapa engkau melakukan segala perbuatanmu kelihatannya kurang ikhlas. Bukannya engkau tahu bahwa ketidak ikhlasan walau sedikitpun itu tidak akan membawa manfaat baik di dunia maupun akhirat.

Maka renungkanlah. Semoga Allah SWT mengampuni segala kesalahan dan dosa-dosa kita. Amiin.

37 comments:

  1. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam belajar, kita tidak hanya menerima dan mencari pengetahuan yang kita butuhkan saja. Kita perlu juga untuk mempelajari ilmu-ilmu yang mungkin tidak berhubungan langsung dengan kehidupan kita. Namun sejatinya, semua ilmu itu bermanfaat agar wawasan kita luas dan tidak tertinggal.

    ReplyDelete
  2. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dengan membaca elegi-elegi dalam blog ini, saya menyadari bahwa banyak yang belum saya ketahui. Dari blog ini, saya merasa bahwa dunia ini menyimpan berjuta-juta pengetahuan yang seiring bertambahnya waktu akan terus selalu berkembang. Sehingga, perlu kiranya kita untuk senantiasa mengimbangi perkembangan-perkembangan yang terjadi.

    ReplyDelete
  3. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Filsafat Pendidikan Matematika 2013

    Filsafat adalah pola pikir yang reflektif. Karena reflektif, sebagai orang yang belajar filsafat perlu sabar dan jangan berpikir sempit. Namun perlu juga berhati-hati dalam membuka pikiran dengan tidak lupa pada keyakinan.

    ReplyDelete
  4. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Dalam mempelajari ilmu apapun, sebaiknya kita tidak prejudice. Seperti dalam belajar filsafat ini, pikiran kita harus netral. Agar kita dapat berfilsafat dengan segenap jiwa dan raga kita harus melakukan segala sesuatunya dengan ikhlas. Dengan ikhlas itulah kita dapat menyadari betapa banyaknya manfaat filsafat dalam kehidupan kita. Filsafat berangkat dari bertanya. Ketika pikiran kita kacau, maka pada saat itulah sebenar-benarnya kita sedang mulai berfilsafat. Namun ketika hati kita mulai kacau ketika berfilsafat, kita harus menghentikannya sejenak dan memohon perlindungan Allah. Menurut saya, elegi yang dibuat oleh Prof Marsigit memang tidak bisa hanya dibaca satu kali untuk dapat memahaminya. Saya harus membaca berkali-kali dan berpikir sedalam-dalamnya mengenai isi dari elegi. Tapi disitulah menariknya. Kita bisa menggali pikiran dan ilmu kita lebih dalam lagi. Berusaha memahami dengan berbaglain sudut pandang baru. Selain itu, bukankah kita memang harus berikhtiar untuk mendapatkan apa yang kita inginkan? Sehingga membaca elegi ini dapat kita kategorikan sebagai ikhtiar kita.

    ReplyDelete
  5. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM: 17701251032
    Prodi/Kelas: PEP S2/B
    Angkatan: 2017

    Tulisan tentang "elegi" di atas membawa saya pada tulisan-tulisan bapak yang sudah saya baca sebelumnya. Di mana pada tulisan di atas, setelah penjelasan bahwa, "Kata-kataku dalam elegi juga sebagian menunjukkan keadaan si pendengar dengan segala implikasinya". Di mana setelah kalimat itu, beberapa baris di bawahnya terdapat sedikit penekanan bahwa manusia di dunia itu bersifat kontradikitif. KONTRADIKTIF. Iya kontradiktif, seperti beberapa jargon yang bertengkar. Jargon pertengkaran tradisional dan inovatif. Jargon pertengkaran guru dan siswa. Saya belajar tentang konstatif. Bahwa sampai pada bacaan ke empat ini saya bingung juga terkagum-kagum dengan gaya bahasa tulisan-tulisan bapak. Bahkan pada postingan "Jargon Pertengkaran Tradisional dan Inovatif" saya berkomentar bahwa saya termotivasi untuk belajar cara penyampaian konten-konten dalam blog ini. Tapi ternyata ini bagian dari konstatif, bahwa menyampaikan suatu fenomena dilakukan dengan gaya bahasa masing-masing (maaf kalau saya salah mengartikan, tertulis pada postingan di atas bahwa "Dalam Elegi aku juga berusaha menggunakan bahasa konstatif, maksudnya saya berusaha menggambarkan suatu kejadian atau fakta atau fenomena menggunakan gaya bahasaku sendiri"). Sejujurnya uraian kalimat tersebut sedikit melegakan saya. Artinya terbuka kesempatan bagi saya untuk menggambarkan suatu fenomena melalui "gaya bahasaku sendiri".

    ReplyDelete
  6. Nama : Wisniarti
    NIM : 17709251037
    Kelas : PM B (Pascasarjana)

    Postingan ini adalah yang ketiga dari blog bapak yang saya baca dan komentari. Saya menyukai gaya penulisan dua arah seperti ini, saya bisa masuk menjadi mahasiswa yang mempunyai masalah yang sama, saya juga bisa merasakan nasehat-nasehat yang secara tidak langsung menginginkan mahasiswa tersebut untuk tetap berusaha belajar dan mengikhlaskan dirinya untuk belajar.

    Benar apa yang bapak sampaikan, hidup itu penuh dengan pilihan dan keikhlasan. Pilihan dan ikhlas itu seakan selalu bergandengan kemanapun kita pergi dan berhenti. Karena kita mengetahui bahwa di dunia ini selalu dipertemukan dengan hal yang berpasangan, begitu halnya dengan pilihan. Ada pilihan yang baik dan buruk, pilihan yang benar dan salah. Untuk mengetahui pilihan yang kita pilih itu sesuai dengan keinginan, kita harus menjalaninya sampai akhir dengan keikhlasan seperti yang bapak sampaikan. Setiap jalan yang ditempuh untuk sampai ke akhir itu tidak selamanya beraspal atau dilindungi oleh rindangnya pohon sehingga terasa nyaman tanpa terkena panas matahari, ada beberapa jarak yang berlobang atau kayu yang menghalangi perjalanan kita, ada beberapa jalan yang ditepiannya satu pohon-pun tak tumbuh. Jadi, haruskah kita berhenti? tentunya tidak, yakin bahwa meski sekarang tergoncang dengan lobang-lobang yang ada di jalanan perjuangan, tersengat dengan panasnya kegelisahan, nanti diujung sana terdapat dua orang yang selalu menanti keikhlasan dan usaha kita untuk menyelesaikan pilihan perjalanan ini tanpa berputus asa di tengah perjuangan apalagi di awal perjuangan, mereka itu adalah ibu dan bapak. Semoga saya tetap ikhlas dan semakin ikhlas ketika memilih untuk menceburkan diri ke lautan ilmu pengetahuan ini. Aamiin.

    ReplyDelete
  7. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    Kelas : S2 Pend. Matematika B 2017

    Assalammualaikum, Wr.Wb
    Postingan kali ini bercerita mengenai mahasiswa yang menurut saya hampir menyerah dalam menghadapi kenyataan hidup yang harus dijalani. Banyak nasehat positif yang dapat saya petik,
    1. Ketika kita sudah memilih sesuatu, janganlah setengah setengah. Hidup adalah pilihan, ketika sudah memilih diawal maka jalani, lewati semua hambatan yang ada nantinya dengan ikhlas.
    2. Jangan mudah putus asa dan tidak mudah menyerah, ketika sudah dijalani harus tetap maju apapun rintangannya, jangan pernah berniat untuk berputar balik kebelakang.
    3. Tahan amarah dan emosi, karena semuanya akan membuat kita buta hati, dan fikiran.
    Semoga saya dan teman-teman tetap berjuang dalam menghadapi kehidupan ini dengan ikhlas Aamiin..

    ReplyDelete
  8. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    S2 PM A

    Dari elegi ini menggambarkan bahwa akan pentingnya belajar filsafat dengan ikhlas, seperti yang Bapak katakan pada kuliah Filsafat Ilmu, ikhlas hati (merasa senang ketika membaca) dan ikhlas pikir (memahami apa yang dibaca). Jika sudah mencapai titik jenuh dari itu semua, itu menandakan bahwa niat awal sudah mulai luntur, maka coba renungkan kembali agar dalam mempelajarinya memberikan manfaat bagi diri kita masing-masing.

    ReplyDelete
  9. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Berdasarkan postingan Bapak Marsigit di atas, untuk mempelajari filsafat memang perlu pengorbanan. Pengorbanan pikiran, pengorbanan waktu, dan sederet pengorbanan-pengorbanan lainnya. Maka saya sangat setuju dengan postingan yang menyatakan bahwa amarah dan emosi telah menghabiskan dan membakar energi. Jadi belajar filsafat itu membutuhkan suatu keikhlasan, tidak perlu mengedepankan emosi. Kalaupun menemui kebingungan, tetap tidak boleh emosi. Semakin kita bingung justru itu pertanda otak kita terus bekerja untuk mencari dan terus mencari tahu lagi. Yang penting kebingungan tersebut di area pikiran, bukan di hati sanubari. Saya juga sangat setuju dengan pernyataan bahwa sebenar-benarnya filsafat adalah refleksi hidup kita sendiri.

    ReplyDelete
  10. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 Pend. Mat A 2017

    Terimakasih Bapak untuk nasehatnya. Banyak hal yang bisa saya petik dari tulisan ini. Salah satunya ialah kemarahan dan emosi hanya akan menghambat kita dalam menuntut ilmu. Amarah dan emosi hanya akan menghabiskan dan membakar energi. Lantas bagaimana sikap kita seharusnya dalam menuntut ilmu? IKHLAS, itulah kuncinya. Segala sesuatu yang dilakukan dengan ikhlas tidak akan membebankan. Segala sesuatu yang dilakukan dengan ikhlas akan membawa pada keberkahan. Dengan ikhlas, maka kita meniatkan diri bahwa proses belajar ini hanya karena Allah. Mudah-mudahan dengan begitu Allah akan memudahkan kita dalam menjalani proses menuntu ilmu ini.

    ReplyDelete
  11. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B
    Assalamu'alaikum wr.wb
    Berlebihan atau tidak, tetapi saya merasa sangat bersyukur mendapat kesempatan untuk menjadi mahasiswa dalam perkuliahan Bapak. Metode pengajaran yang Bapak hidangkan dalam perkuliahan ini menjadi "trigger" untuk saya rajin membaca dan melenturkan sel-sel otak untuk melatih berfikir kritis dan analitis, dimana saya termasuk orang yang fakir bacaan atau referensi. Metode pengajaran yang Bapak berikan merupakan satu diantara kreativitas dan inovasi dalam proses belajar mengajar yang diperlukan oleh sistem pendidikan di Indonesia. Semoga Bapak selalu dalam lindungan ALLAH swt. Aamiin..
    Wassalamu'alaikum wr.wb

    ReplyDelete
  12. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Memahami elegi – elegi yang Bapak tulis sebelumnya memang tidak mudah, membutuhkan waktu cukup lama untuk memahami, dan membutuhkan hati dan pikiran yang fokus. Saya ucapkan terimakasih atas postingan Bapak di atas, yang membuka pikiran saya bahwa belajar tidak hanya dilakukan satu arah. Tetapi, belajar dapat dilakukan secara konstruktivis yang dimulai dari peserta didik kemudian difasilitasi oleh pendidik. Pertama kalinya selama saya mengikuti kegiatan pembelajaran seperti metode yang Bapak terapkan. Proses ini juga tidak terlepas dari keikhlasan kita untuk meluangkan waktu dan kesempatan untuk membaca, membaca, dan membaca. Semoga dengan metode ini dapat lebih banyak memberikan saya pelajaran dari membaca setiap elegi – elegi yang Bapak tuliskan.

    ReplyDelete
  13. Assalamu'alaikum wr.wb.
    Ilmu itu sangat luas dan tak terbatas. Kadang manusia jaman sekarang inginnya yang instan, segalanya ingin yang cepat, mendapatkan ilmu pun kadang ingin yang ringkas. Padahal itu salah. Ibarat melakukan perjalanan, dia sedang berada di jalan yang sempit maka susah untuk berbalik arah. Seharusnya dalam menuntut ilmu kita harus berpandangan luas. Menuntut ilmu harus menikmati proses. Proses yang panjang dan bermakna. Seperti ketika kita ingin tau sesuatu kita harus banyak membaca. Karena dengan membaca kita akan menemukan berbagai hal yang kita tidka tau. Maka ada pepatah mengatakan buku adalah jendela dunia. Kalau kita ingin menikmati indahnya dunia, maka kita harus banyak-banyak membaca.

    Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    ReplyDelete
  14. Sejak S1 saya senang dengan postingan-postingan Bapak terlebih terkait elegi. Meskipun bahasa filsafat terkadang agak susah dimengerti tetapi justru menjadi tantangan bagi saya untuk ingin lebih tau lagi. Meskipun terkadang harus membaca berulang-ulang, tetapi di situlah proses belajar saya. Semoga saat S2 ini saya bisa lebih memahami lagi dan dimensi saya meningkat. Mohon bimbingannya ya, Pak.

    Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    ReplyDelete
  15. Gamarina Isti R
    Pendidkan Matematika Kelas B
    17790251036

    Suatu ilmu yang disampaikan bisa jadi mendapatkan interpretasi yang berbeda. Hal terssebut juga dapat terjadi pada elegi, elegi yang disampaikan bisa saja akan membuat orang menafsirkan secara berbeda. Sehingga menyebabkan terdapat perbedan pendapat pula. Ada yang dapat langsung memahami apa yang ingin disampaikan penulis elegi, tetapi ada juga yang harus berpikir dengan cukup lama untuk memahami elegi yang disampaikan penulis. Tekad yang stabil bahkan selalu meningkat akan membuat kita pantang menyerah sehingga diharapkan kita dapat mencari tahu sendiri apa yang sebenarya maksud dari elegi tersebut. Bukan menggerutu atau menyalahkan elegi yang disampaikan.

    ReplyDelete
  16. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Dalam “Elegi Memahami Elegi” ini, semua dialog yang mahasiswa ucapkan seperti sudah mewakili pendapatan dan pandangan saya mengenai filsafat. Pertama kali membaca elegi, jujur saya bingung sebenarnya apa maksud tulisan sepanjang ini. Namun karena kewajiban seorang pelajar harus belajar dan membaca, maka sedikit demi sedikit saya luangkan waktu untuk membaca elegi-elegi bapak. Kunci utama adalah ikhlas, lama kelamaan saya sedikit mengerti dan tertarik dengan elegi. Ya saya setuju bahwa agar mampu berpikir kritis, maka kita perlu berpikir netral, tidak prejudice, tidak emosi, tidak putus asa dan refkesi diri perlu dilakukan karena itu merupakan kegiatan berpikir yang paling tinggi.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  17. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Memahami elegi-elegi filsafat memang tidak semudah memahami artikel pada koran, karena dalam berfilsafat menggunakan berbagai jenis komunikasi. Sebenar-benarnya orang yang berilmu adalah dia yang mempunyai keputusan maka membaca dan terus membaca elegi adalah keputusan saya. Berdasarkan elegi yang saya baca sebelumnya bahwa seseorang akan mudah berfilsafat jika menguasai bahasa maka dengan tugas membaca elegi-elegi ini secara tak langsung sesungguhnya kita sedang berada dalam proses pemahaman bahasa filsafat sehingga lama-kelamaan kita akan lebih mudah memahami filsafat.

    ReplyDelete
  18. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  19. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah.
    Terimakasih banyak prof. Marsigit atas dialog berfaedah di atas. Lagi-lagi bapak memposting sesuatu yang benar-benar nyata dan sesuai dengan pikiran sebagian mahasiswa, salah satunya saya. Benar adanya bahwa hal itu dipicu oleh ketidak relevanan pikiran saya dengan pokok pembicaraan. Awalnya saya juga berpikir, jikalau filsafat itu adalah dirimu sendiri, lalu mengapa kami diminta untuk mempelajarinya dengan membaca artikel-artikel bapak. Apakah itu berarti kami harus mengikuti jalan pikiran dan filsafat yang dibangun oleh bapak. Namun demikian, meski instabilitas emosi sering terjadi, saya berusaha untuk tetap terbuka dengan ilmu filsafat ini. Meskipun kebanyakan artikel-artikel ini menggunakan Elegi bapak, gaya bahasa bapak dan kosakata yang mayoritas baru saya dengar, saya tetap ingin berusaha bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bapak lontarkan. Hidup itu pilihan, segala yang telah dipilih tidak berguna jika harus ada penyesalan. Yang kita pilih sudah menjadi takdir Yang Maha Kuasa, karena segala nya sudah Dia atur sebelum terjadi kehidupan. Jadi, saya memilih melanjutkan ke S2 dan kini menjadi mahasiswa PEP itu juga sudah digariskan. Sehingga saya berusaha akan tetap ikhlas dalam mempelajari filsafat dan berpasrah diri atas segala yang terjadi.

    ReplyDelete
  20. Nurika Miftahuljannah
    17709251060
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Ikhlas, hanya satu kata tapi tak mudah untuk dilakukan. Segala sesuatu yang kita lakukan apabila dilandasi oleh rasa ikhlas maka seberat apapun itu pasti tidak akan menjadi beban bagi kita dan lebih terasa ringan. Ikhlas merupakan salah satu landasan dalam melakukan sesuatu hanya karena Allah SWT, tidak mengharap apapun kecuali ridha-Nya. Ikhlas memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menjalani setiap detik kehidupan. Apabila seseorang tidak memiliki rasa ikhlas, maka prosesnya ia dalam memperoleh ilmu pengetahuan akan terhambat, padahal ilmu itu penting untuk kita dapatkan. Secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa tanpa ilmu keberadaan kita tidak diakui. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang memiliki rasa ikhlas dalam hidupnya. Aamiin.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  21. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Terima kasih pak atas postingannya tentang Elegi Menggapai Elegi. Belajar filsafat memang tidak mudah. Banyak makna tersirat dan bahasa yang digunakan juga mempunyai tingkat pemahaman yang cukup tinggi sehingga dalam mempelajarinya memerlukan proses yang tidak instan. Dalam prosesnya, mungkin kita akan menemukan saat-saat ketika kita merasa lelah dan tidak mampu dalam memahami filsafat. Namun kita tidak boleh menyerah dan cobalah untuk ikhlas, baik ikhlas dalam hati maupun ikhlas dalam pikiran. Belajar memang membutuhkan perjuangan. namun saya yakin bahwa hasil tidak akan menghianati perjuangan.

    ReplyDelete
  22. Indah Purnama Sari
    17701251035
    PEP B 2017

    membaca adalah perintah pertama yang di turunkan dalam al-quran. semakin banyak membaca semakin banyak tahu. dari tulisan bapak diatas saya sangat tersindir dengan kata-kata "hidup itu adalah pilihan. Jika itu telah menjadi pilihanmu, mengapa engkau melakukan segala perbuatanmu kelihatannya kurang ikhlas. Bukannya engkau tahu bahwa ketidak ikhlasan walau sedikitpun itu tidak akan membawa manfaat baik di dunia maupun akhirat. "
    saya seringkali memilih suatu hal namun tidak sepenuh hati melakukannya. dari sini saya bakal mulai belajar tentang mengerjakan suatu dengan ikhlas dan sepenuh hati agar kegiatan tersebut bisa bermanfaat baik didunia dan diakhirat.

    ReplyDelete
  23. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Pusing tanda berfikir. Pusing juga tanda sedang membangun pengetahuan. Dengan banyak membaca artinya semakin kuat kita membangun. Perasaan semacam itu (merasa pusing, bosan, lelah, terbebani, jengkel, marah, dll) wajar ada pada manusia, tetapi perasaan yang demikian merupakan perasaan yang disebabkan oleh tidak mampunya diri untuk mengendalikan nafsu yang ada pada otak, sehingga sulit untuk mengungkapkan emosi diri dengan benar. Oleh sebab itu penting bagi kita untuk melatih pola cara berpikir yang positif dan bijak. Apa yang selama ini kita pikir itu negatif bagi kita, bukan berarti itu buruk bagi kita, melainkan itu proses untuk menjadikan kita dapat menilai sejauh mana kita mampu berpikir, belajar, dan menyelesaikan itu semua. Jika kita hanya ingin menerima sesuai dengan keinginan kita saja artinya kita belum bisa adil dan ikhlas. Ikhlas kunci untuk bisa menghadapi segala sesuatu yang Allah berikan kepada kita, karena Allah memberikan semua hal yang terbaik untuk kita dan semua hal yang kita butuhkan, bukan semua hal yang kita inginkan.

    ReplyDelete
  24. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Dari perkuliahan bapak, yang saya pahami adalah saya sendiri yang akan membangun pemahaman saya terhadap filsafat. Salah satu caranya adalah dengan membaca elegi. Membaca belum berarti paham, saya masih butuh banyak bimbingan untuk benar-benar memahami. Tapi yang saya alami adalah saya mulai mengenal apa dan bagaimana sebenarnya elegi itu. Saya sadar saya masih NOL dan tak mengerti apa-apa mengenai filsafat. Hal ini membuar saya lebih bertekad lagi untuk membaca elegi.

    ReplyDelete
  25. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Belajar filsafat menurut saya sangat fleksibel. Pemikiran secara holistik dan kritis sangat diperlukan. Ulasan di atas dapat dijadikan sebagai perenungan dan pacuan untuk terus belajar dan belajar. Saya mencermati dari ulasan di atas bahwa belajar dibarengi dengan niat dan keikhlasan dalam menjalankannya. Ketidakikhlasan dalam belajar hanya akan menutup pintu masuknya ilmu pengetahuan. Belajar untuk membangun dan mempelajari filsafat melalui diri sendiri meski tidak mudah namun tekad yang kuat akan dapat mengarahkannya.

    ReplyDelete
  26. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Cara memberikan kuliah kepada para mahasiswanya adalah hak prerogatif seorang dosen. Dalam melakukan tranfer ilmu setiap dosen mempunyai cara yan berbeda. Dua belas tahun yang lalu saya menemmpuh mata kuliah filsafat saat S1, masih belum terlintas di benak saya waktu itu kenapa bapak memberikan perkuliahan dengan metode seperti ini. Namun setelah kembali lagi, untuk empelajari hal yang mungkin sama, kini saya mulai bisa memamahi. Bawah belajar filsafat, mempunyai maksud agar kita selalu menunduk terhadap apa yang kita miliki. Agar tetap sebagai manusia yang rendah hati.

    ReplyDelete
  27. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Belajar filsafat adalah belajar tentang dunia, tidak semua apa yang kita palajari membuat kita serta merta menjdai serang yang berilmu tinggi, itulah gunanya kita belajar filsafat. Walaupun mungkin dulu, dua belas tahun yang lalu, sya pernah menenpuh mata kuliah ini. Sekarang perkualiahan sangat berbeda. karena maksut dan tujuan kita belajar filsafat adalah agar kita menjadi manusia yang tidak tinggi hati.

    ReplyDelete
  28. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU


    Terima kasih atas Elegi yang diberikan oleh bapak. Elegi di atas menjelaskan dengan detail mengapa kita harus belajar filsafat. Ya, pada awalnya saya juga merasa kebingungan dengan bahasa yang digunakan dalam elegi yang bapak sampaikan. Namun, lambat laun dengan pelan-pelan ternyata elegi ini menggambarkan persis seperti kehidupan kita sehari-hari, nasehatnya pun erat kaitannya dengan kehidupan kita. Maka benar kiranya jika untuk belajar filsafat haruslah menggunakan pikiran dan hati yang ikhlas. Tips selanjutnya untuk belajar filsafat yaitu dengan membaca, merefleksikan, dan harapannya membaca dan merefleksikan ini tidak hanya mandek pada perkuliaahan tapi dalam kehidupan juga. Semoga ilmu yang bapak sampaikan membawa keberkahan dan kebermanfaatan untuk kita semua, terima kasih banyak kepada Bapak Prof.

    ReplyDelete
  29. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Sejujurnya, membaca tulisan ini seperti melihat sebagian dari diri saya di situ. Ini minggu ke-5 perkuliahan filsafat ilmu dan baru 31 komentar yang berhasil saya buat di sela sela waktu saya. Ada rasa ingin menyerah saja, tetapi di sisi lain saya suka membaca tulisan-tulisan dalam blog ini. Semula saya bingung, dari mana belajar filsafat yang tanpa memberi referensi buku apapun. Saya sampai berpikir hendak membaca ulang novel Dunia Sophie untuk membantu saya memahami filsafat ini.
    Ketika saya mencoba membuka berbagai tulisan dalam blog, baru saya temukan bahwa saya akan belajar banyak dari membaca blog ini.
    Saya tidak tahu apakah mampu saya berkomentar pada cukup elegi untuk membuat saya lulus dari kuliah ini, sebab memang seringkali saya kesulitan membagi waktu antara bekerja dan kuliah. Satu saja tekad saya, jika mengingat bahwa manusia adalah potensi, saya pun adalah potensi maka tentu saya juga masih punya potensi untuk menyelesaikannya, tinggal bagaimana dan apa yang saya pilih untuk lakukan dan menghantar saya menggapai elegi elegi kuliah filsafat ilmu ini.
    Semesta mendukung. Semoga.

    ReplyDelete
  30. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Sejujurnya, membaca tulisan ini seperti melihat sebagian dari diri saya di situ. Ini minggu ke-5 perkuliahan filsafat ilmu dan baru 31 komentar yang berhasil saya buat di sela sela waktu saya. Ada rasa ingin menyerah saja, tetapi di sisi lain saya suka membaca tulisan-tulisan dalam blog ini. Semula saya bingung, dari mana belajar filsafat yang tanpa memberi referensi buku apapun. Saya sampai berpikir hendak membaca ulang novel Dunia Sophie untuk membantu saya memahami filsafat ini.
    Ketika saya mencoba membuka berbagai tulisan dalam blog, baru saya temukan bahwa saya akan belajar banyak dari membaca blog ini.
    Saya tidak tahu apakah mampu saya berkomentar pada cukup elegi untuk membuat saya lulus dari kuliah ini, sebab memang seringkali saya kesulitan membagi waktu antara bekerja dan kuliah. Satu saja tekad saya, jika mengingat bahwa manusia adalah potensi, saya pun adalah potensi maka tentu saya juga masih punya potensi untuk menyelesaikannya, tinggal bagaimana dan apa yang saya pilih untuk lakukan dan menghantar saya menggapai elegi elegi kuliah filsafat ilmu ini.
    Semesta mendukung. Semoga.

    ReplyDelete
  31. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Adanya mahasiswa yang berdialog seperti diatas tidak bisa dipungkiri entah itu secara jelas mengungkapkan dengan lisan ataupun hanya dibatin dengan hati. Membaca tulisan diatas memberikan kami pelajaran dan mengingatkan kami bahwa dalam belajar harus di mulai dengan niat yang kuat dan benar, karena dengan adanya niat yang kuat dan benar maka ketika seseorang tersebut menghadapi rintangan dalam memperoleh ilmu maka hal itu akan dihadapi dengan pemikiran yang positif, husnudhon dan cara yang baik. Manusia sebagai makhluk Nya tidak lepas dari salah dan khilaf, mohon ridho, bimbingan, dan arahnnya bapak agar kami dapat memahami segala ilmu dengan tepat. Sungguh tugas setan menggoda, tugas malaikat mencatat dan yang tahu keikhlasan manusia hanya Allah SWT.amien.

    ReplyDelete
  32. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    pada hakekatnya elegi merupakan cara berkomunikasi atau menyampaikan pendapat dan pandangan lewat sebuah cerita agar mempermudah pembaca untuk memahami ide yang terkandung didalamnya, terutama jika hal tersebut berhubungan dengan sesuatu yang terkadang tidak disadari oleh orang, maka dengan adanya elegi ini kita menjadi sadar akan hal-hal disekitar kita. tetapi tidak hanya lewat elegi, intinya adalah kita harus banyak membaca.

    ReplyDelete
  33. Dewi saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb

    Saya sangat terhanyut ketika membaca percakapn dosen dan mahasiswa pada Elegi Memahami Elegi ini. Setidaknya ini mewakili apa yang dirasakan oleh sebagian mahasiwa yang mungkin sebelum mengikuti perkuliahan filsafat ilmu miskin akan bacaan, terutama saya. miskin akan bacaan seblumnya tetapi tidak mengurungkan saya untuk tidak membaca media yang sudah bapak buat ini untuk perkuliahan filsafat ilmu, karena dari awal yang selalu saya tangkap dari Bapak adalah ketika kita belajar filsafat yang harus dilakukan adalah baca, baca dan baca, jadi saya harus terus membaca ketika saya sedang belajr filsafat dan kuncinya adalah keikhlasan yang selalu bapak samapaikan. Saya sangat berterimakasih kepada bapak karena sudah membari wadah beserta isinya ini untuk fasilitas membaca, semoga karena dengan membaca terus bolg bpak ini saya menjadi tidak miskin akan bacaan dan terus membaca bahkan setelah perkuliahan filsafat.

    ReplyDelete
  34. Kartika Pramudita
    17701251021
    PEP B (S2)

    Dalam belajar filsafat tidak mungkin dapat dilakukan secara instan, semua butuh proses. Proses yang dilalui dengan segala usaha dan keikhlasan untuk belajar akan menentukan kualitas belajar. Membaca elegi merupakan sarana yang kami tempuh untuk dapat berusaha memahami filsafat dan berusaha belajar berfilsafat. Dengan membaca elegi banyak hal yang tak terpikirkan sebelumnya menjadi sadar ternyata semua itu bisa dipikirkan, banyak hal yang menyadarkan bahwa ternyata saya masih harus belajar karena masih banyak yang belum saya pelajari, selain itu juga mengingatkan untuk selalu menggapai keikhlasan dalam beribadah kepada Allah SWT, mengingatkan akan manusia penuh dengan kontradiksi sehingga dalam hidup tidak akan pernah lepas dari dosa. Dengan begitu maka kita juga diingatkan untuk selalu refleksi diri dan memohon ampunan Allah SWT.

    ReplyDelete
  35. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Memahami elegi-elegi memang tidak mudah, sajiannya yang menggunakan bahasa tingkat tinggi terkadang membuat kita bahkan memaksa kita untuk berpikir lebih kritis lagi. memahami elegi tidak semudah membalikkan telapak tangan, kita perlu membacanya berulang-ulang sampai kita mengetahui apa isinya. tidak apa apa kita bingung, karna bingung merupakan awal dari proses belajar. ketika kita mempelajari sesuatu secara berulang-ulang maka kita akan menajdi seorang yang expert dalam bidang tersebut.

    ReplyDelete
  36. Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Seperti yang diutarkan mahasiswa diatas, bahwa sesungguhnya saya mengalami kesulitan dalam memahami elegi. Seperti mahasiswa diatas bahwa sesungguhnya saya juga tidak memiliki banyak waktu untuk memahami elegi yang terlampau bamyak, apabila saya membaca dengan seksama elegi, maka habis waktu saya untuk memahaminya. Sedangkan waktuku harus kubagi dengan tugas yang lainnya, sehingga saya mulai masuk keranah mitos. Mitos dimana bahwa saya ingin membaca elegi tetapi saya harus membaca banyak elegi, tetapi waktu saya hanya sedikit, sehingga masuklah saya kedalam mitos. Saya tidak membaca elegi lagi tapa hanya mengkomen dengan apa yang tidak saya baca. Mohon maaf pak.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete