Oct 15, 2010

Elegi Meratapi Sang Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK




Oleh Marsigit

Paralogos:

Heem...tertegun aku menyaksikan kelakuan sang Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih. Dia tidak menyadari bahwa Paramitos selalu berusaha mencelakakannya. Apa haknya Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih sok mengatur dunia dan pemberi ilmu. Inilah buktinya sekarang telah tertangkap ada seorang Profesor Plagiat dan tertangkap banyak Guru Pemalsu PAK. Pilu hatiku menyaksikan kejadian-kejadian itu. Saking pilunya hatiku maka hampir-hampir aku tak kuasa bicara apalagi menulis komen-komen pada Elegi-elegi. Pikiranku belum bisa menggapai batas hatiku, bagaimana seorang Profesor tega melakukan plagiat dan seorang guru bisa memalsukan PAK untuk naik jabatan atau memperoleh sertifikasi guru. Wahai Antinomi, coba ceritakan apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan gonjang-ganjing ini?

Antinomi:
Wahai Paralogos, pengetahuanku itu setali tiga uang dengan pengetahuanmu. Selama ini memang kita telah memberikan keluluasaan dan kemerdekaan yang seluas-luasnya kepada sang Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih. Kiprah mereka yang terakhir di mulai dari Perlombaan Menjunjung Langit sampai kegiatan mengungkap Misteri Sang Konveyor dan Misteri sang Kanopi. Dalam hal tertentu aku sempat mengkhawatirkan sepak terjangnya, tetapi karena itu adalah hakekatnya maka Ruang dan Waktu sajalah yang akan memberi catatan dan penilaian.

Paralogos:

Bukannya dengan tertangkapnya Sang Profesor Plagiat dan Para Guru Pemalsu PAK itu telah membuktikan bahwa Ruang dan Waktu telah memberikan catatan dan penilaiannya?

Antinomi:

Betul apa katamu wahai Paralogos. Tetapi aku juga ingin menyampaikan bahwa peristiwa tertangkapnya Sang Profesor Plagiat dan Guru Pemalsu PAK itu sebenar-benarnya adalah puncak gunung es dari fenomena yang sudah sejak lama melanda masyarakat dan bangsa ini. Itulah yang terjadi bahwa Ruang dan Waktu sebetul-betulnya tidak pernah tidur. Ruang dan Waktu itu sebetulnya selalu memberikan catatan dan penilaian terhadap apapun, kapanpun dan dimanapun. Hanya bagi orang-orang yang ikhlas dan berpikir kritislah yang mampu membaca catatan dan penilaian yang dilakukan oleh Ruang dan Waktu.

Paralogos:

Waha..kalau begitu apa sebetulnya fenomena yang selama ini terjadi?

Antinomi:
Itulah fenomenanya...yaitu pergulatan antara ADA, MENGADA DAN PENGADA. Peristiwa tertangkapnya Sang Profesor Plagiat dan Guru Pemalsu PAK itu adalah puncak gunung es dari pergulatan antara Profesor Ada, Profesor Mengada, dan Profesor Pengada; serta Guru ADA, Guru Mengada dan Guru Pengada.

Paralogos:
Waha...apakah fenomenanya bersifat tunggal atau plural?

Antinomi:

Fenomenanya bersifat plural, yaitu bahwa yang terjadi adalah pergulatan antara ADA, MENGADA DAN PENGADA itu bersifat plural. Maka dibawah gunung es itu ada pergulatan-pergulatan yang lain: pergulatan antara Doktor Ada, Doktor Mengada dan Doktor Pengada; pergulatan antara Dosen Ada, Dosen Mengada dan Dosen Pengada; pergulatan antara Lurah Ada, Lurah Mengada dan Lurah Pengada; pergulatan antara Guru Ada, Guru Mengada dan Guru Pengada; pergulatan antara Pejabat Ada, Pejabat Mengada dan Pejabat Pengada; pergulatan antara Presiden Ada, Presiden Mengada dan Presiden Pengada, pergulatan antara Mahasiswa Ada, Mahasiswa Mengada dan Mahasiswa Pengada; pergulatan antara Suami Ada, Suami Mengada dan Suami Pengada; pergulatan antara semua Ada, semua Mengada dan semua Pengada; dan pergulatan antara setiap Ada, setiap Mengada dan setiap Pengada.

Paralogos:
Heemmm...luar biasa kejadiannya. Aku sebagai Paralogos Sang Diraja nya para Logos saja sempat terlena tidak menyadari fenomena ini, apalagi para logos, apalagi para Bagawat, apalagi para Orang Tua Berambut Putih...Wahai para Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih..kesinilah..sudah saatnya engkau itu melakukan instrospeksi dan memperoleh input yang bermanfaat. Maka marilah kita dengarkan penuturan lebih lanjut dari Sang Antinomi ini. Wahai Sang Antinomi, coba terangkanlah apa sebetulnya yang dimaksud dengan ADA, MENGADA dan PENGADA itu?

Antinomi:
Sebetul-betul MENGADA adalah logos bagi dirimu. Jika ADA adalah tesismu maka MENGADA adalah anti-tesismu. Jika engkau telah mempunya MENGADA maka serta merta wujudmu akan berubah menjadi PENGADA. Janganlah engkau mengharap dapat menjadi PENGADA jika engkau tidak mempunyai MENGADA.

Paralogos:

Sebentar, jika engkau sebut tesis dan anti-tesis maka dimana sintesisnya?

Antinomi:

Jika tesisnya adalah ADA maka anti-tesisnya adalah MENGADA. Jika anti-tesisnya adalah MENGADA maka sintetisnya adalah MENGADA.

Paralogos:

Kalimatmu yang terakhir sangat sulit aku pahami.

Antinomi:

Itulah yang terjadi. Maka sebenar-benar MENGADA adalah sekaligus tesis, anti tesis dan juga sintesis. Sedang sebenar-benar PENGADA adalah anti-tesis dari MENGADA.

Paralogos:

Maksudnya?

Antinomi:

Tidak akan ada PENGADA jika engkau tidak MENGADA.

Paralogos:
Aku masih bingung.

Antinomi:
Itulah yang terjadi, yaitu bahwa PENGADA itu juga sekaligus tesis, anti-tesis dan juga sintesis.

Paralogos:
Baiklah bisakah engkau memberikan contoh konkritnya?

Antinomi:
Misal engkau adalah MAHASISWA yang sedang menempuh perkuliahan. Maka tanda-tanganmu dalam daftar hadir merupakan bukti bahwa engkau itu ADA. Sedangkan kegiatanmu mengerjakan tugas-tugas dari dosenmu itu menunjukkan MENGADA mu. Jika engkau telah membuat tugas-tugas maka itu bukti bahwa engkau telah menjadi PENGADA, yaitu pengada akan tugas-tugasmu.

Paralogos:

Apa ada contoh yang lain?

Antinomi:
Misal engkau adalah seorang Guru, maka Ijazahmu dan penulisan gelarmu di depan namamu itu pertanda bahwa engkau Guru ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatanmu mengajar, menulis dan melakukan Penelitian Tindakan Kelas itu menunjukkan dirimu sebagai Guru MENGADA. Jika engkau terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanmu itulah maka engkau telah mewujudkan dirimu sebagai Guru PENGADA.

Paralogos:
Apa ada contoh yang lain?

Antinomi:

Misal engkau adalah seorang Doktor, maka Ijazahmu dan penulisan gelarmu di depan namamu itu pertanda bahwa engkau Doktor ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatanmu menulis itu menunjukkan dirimu sebagai Doktor MENGADA. Jika engkau terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanmu itulah maka engkau telah mewujudkan dirimu sebagai Doktor PENGADA.

Paralogos:
Apa ada contoh yang lain?

Antinomi:

Misal engkau adalah seorang Professor, maka SK Presiden dan penulisan gelarmu di depan namamu itu pertanda bahwa engkau Profesor ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatanmu menulis itu menunjukkan bahwa engkau Profesor MENGADA. Jika engkau terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanmu itulah maka engkau telah mewujudkan dirimu sebagai Profesor PENGADA.

Paralogos:

Hemmm..kamudian apa masalahnya..bukankah kita sudah cukup bangga karena kita telah mempunyai ADA nya banyak Guru Profesional, ADA nya banyak Doktor, dan ADA nya banyak Profesor?

Antinomi:
Sebentar dulu. Sebuah karya mu itu adalah ADA bagi karya mu. Dan keberadaan sebuah karyamu itu belum tentu MENGADAKAN ..ADA Dirimu dan ADA diri yang lainnya. Jika karyamu itu adalah PLAGIAT atau PALSU maka karyamu itu bukanlah suatau PENGADA mu. Maka sebuah karya mu itu bisa terancam menjadi mitos dan MENIADAKAN dirimu, yaitu jika engkau merasa puas hanya membuat karya-karya PLAGIAT dan memalsukan PAK. Maka nasib dari sebuah karyamu itu persis seperti nasib dirimu yang tidak mengetahui ADA, MENGADA dan PENGADA. Itulah bahwa PLAGIAT itu adalah perilaku sang Paramitos yang mengancam keber ADA mu sebagai Profesor. Itulah bahwa kegiatan memalsukan PAK adalah perilaku sang Paramitos yang mengancam keber ADA mu sebagai Guru. Jika keber ADA mu terancam maka terancam pula MENGADA mu dan PENGADA mu.

Paralogos:
Kemudia bagaimana solusinya?

Antinomi:
Tiadalah ADA dirimu itu tanpa MENGADA dan PENGADA. Maka agar engkau tetap ADA tidak ada jalan lain bagi dirimu untuk selalu MENGADA. Jika engkau telah MENGADA maka PENGADA akan selalu meyertaimu. Tiadalah Profesor ADA tanpa Profesor MENGADA dan Profesor PENGADA. Maka jika ingin tetap menjadi Profesor ADA, tidak ada jalan lain kecuali harus tetap menjadi Profesor MENGADA. Jika engkau telah menjadi Profesor MENGADA maka Profesor PENGADA akan dengan sendirinya menyertaimu. Tiadalah Guru ADA tanpa Guru MENGADA dan Guru PENGADA. Maka jika ingin tetap menjadi Guru ADA, tidak ada jalan lain kecuali harus tetap menjadi Guru MENGADA. Jika engkau telah menjadi Guru MENGADA maka Guru PENGADA akan dengan sendirinya menyertaimu.

Paralogos:
Apakah aku dapat menyimpulkan bahwa sebenar-benar Profesor ADA adalah Profesor MENGADA dan Profesor PENGADA sekaligus? Dan sebenar-benar Guru ADA adalah Guru MENGADA dan Guru PENGADA sekaligus?

Antinomi:
Cerdas pula engkau itu. Itulah harapanku bahwa engkau sebagai partnerku akan selalu bisa memahami dan menyimpulkan fenomena yang ada. Sangat tepatlah kesimpulanmu itu bahwa Profesor ADA itu adalah sekaligus Profesor MENGADA dan Profesor PENGADA. Dan Guru ADA itu adalah sekaligus Guru MENGADA dan Guru PENGADA.

Paralogos:
Sebentar, jangan ditutup dulu. Bukankah di awal pembicaraan kita engkau telah menyebut Profesor PLAGIAT dan Guru Pemalsu PAK? Lalu apa maknanya?

Antinomi:
Profesor PLAGIAT adalah Profesor yang tidak mengenal dirinya sebagai Profesor ADA. Maka dengan sendirinya dia juga tidak mengenal Profesor MENGADA dan Profesor PENGADA? Guru yang memalsukan PAK adalah guru yang tidak mampu mengenal dirinya sebagai Guru ADA. Maka dengan sendirinya dia juga tidak mengenal dirinya sebagai Guru MENGADA dan Guru PENGADA. Kegiatan memalsukan karya tulis apakah itu oleh seorang Profesor Plagiat dan memalsukan PAK oleh seorang guru adalah kegiatan memalsukan dirinya sebagai MENGADA. Itulah peran dan jasa Ruang dan Waktu yang tidak akan pernah lalai mencatat segala perbuatan manusia, bahwa sebenar-benar keber ADA annya adalah SAKSI bagi MENGADA nya. Tidak hanya itu, maka segala YANG ADA dan YANG MUNGKIN ADA juga menjadi SAKSI bagi keber ADA annya dan ke MENGADA nya.

Paralogos:

Kalau begitu apakah Profesor ADA tidak harus menjadi Profesor MENGADA dan Profesor PENGADA? Dan Guru ADA tidak harus menjadi Guru MENGADA dan Guru PENGADA?

Antinomi:

Tidak mengenal itu tidak berarti tidak ada.

Paralogos:

Lho mengapa?

Antinomi:
Itulah kelihaian dan kelembutan Paramitos. Paramitos itu pulalah yang selalu mengajakmu menyesatkan mereka untuk berhenti hanya sebagai Profesor ADA dan Guru ADA saja. Padahal jika hanya sebagai Profesor ADA atau Guru ADA saja, maka akan terancam sebagai Profesor TIDAK ADA dan Guru TIDAK ADA. Jika telah muncul Hukuman ADA atau Pemecatan ADA, maka Hukuman dan Pemecatan MENGADA akan segera MENIADAKAN Profesor Plagiat dan Guru Pemalsu PAK. Maka akan terasa pedih dan perih hukumannya bagi orang-orang yang di anggap TIDAK ADA. Padahal perjuangan mereka masih sangat banyak dan sangat panjang. Maka mereka akan sebenar-benar menjadi Profesor ADA jika mereka selalu berjuang untuk menjadi Profesor MENGADA dan Profesor PENGADA, yaitu dengan memproduksi karya-karyanya yang sesuai dengan hakekat ADA, hakekat MENGADA dan hakekat PENGADA dari segala sesuatu yang ADA dan yang MUNGKIN ADA. Mereka juga akan benar-benar menjadi Guru ADA jika mereka selalu berjuang untuk menjadi Guru MENGADA dan Guru PENGADA dengan cara memproduksi karya-karyanya yang sesuai dengan hakekat ADA, hakekat MENGADA dan hakekat PENGADA dari segala sesuatu yang ADA dan yang MUNGKIN ADA di dunia Pendidikan.

29 comments:

  1. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Guru, dalam bahasa Jawa dapat berarti digugu dan ditiru. Artinya, guru itu sebagai role model, guru itu menjadi panutan bagi muridnya. Elegi tersebut menceritakan kelakuan dosen dan guru yang tidak patut ditiru, demi untuk mendapatkan kesenangan yang semu.

    ReplyDelete
  2. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Guru, digugu dan ditiru. Seorang dosen yang plagiat? Seorang guru yang memalsukan? Tidakkah keduanya berhubungan?
    Guru pasti pernah menjadi murid dari dosen, yang artinya bahwa dosen adalah guru bagi guru. Maka akan sesuai dengan "pepatah" Jawa yang mengatakan guru itu digugu dan ditiru. Kelakuan guru (dosen) yang tidak baik akan melahirkan murid (guru) yang tidak baik pula. Begitulah seterusnya akan berlangsung.

    ReplyDelete
  3. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Ada, mengada, dan menjadi pengada, itulah proses yang harus ditempuh. Guru merupakan seorang pengada. Guru dikatakan mengada bila ia telah menghasilkan suatu karya. Bila ia tidak menghasilkan karya, maka ia tak akan disebut sebagai seorang pengada. Sebagai pengada, dibutuhkan suatu kreatifitas yang tinggi.

    ReplyDelete
  4. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Selain itu juga diperlukan adanya upaya dan usaha dalam mencapai pengada. Adanya kerjasama juga dapat membantu dalam menjadikan guru sebagai seorang pengada. Sehingga ia tidak akan menjadi penjiplak.

    ReplyDelete
  5. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    plagiat adalah kegiatan pengambilan karangan orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangannya sendiri. melakukan plagiat sama saja melakukan pencurian, pencurian karya orang lain. kita sebagai manusia yang beragama tidak seharusnya melakukan pencurian, arena segala perbuatan manusia nantinya akan dipertanggung jawabkandi akhirat nanti.

    ReplyDelete
  6. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Elegi ini mengingatkan saya dengan postingan Prof. sebelumnya yang berjudul Elegi Menggapai Mengada dan Pengada. Elegi ini menceritakan kembali antara ada, mengada, dan pengada. Namun lingkup kajiannya adalah sebagai seseorang yaitu guru dan profesor. Guru atau profesor merupakan PENGADA dari suatu ilmu. Menjadi seorang guru ataupun profesor pastilah membutuhkan suatu proses. Proses inilah yang dapat dinamakan MENGADA. Akan tetapi, proses pencarian ilmu ini akan sangat ternodai jika terdapat unsur plagiat di dalamnya. Plagiat yang dimaksudkan tidak hanya sebagai peniru, tetapi juga sebagai seseorang yang memalsukan sesuatu hal. Tentu saja hal ini tidaklah pantas dilakukan oleh seorang yang berilmu. Elegi ini memberikan pelajaran bagi saya untuk terus belajar, tanpa memalsukan apa yang kita akan lakukan, alasan – alasan, dan sebagianya. Cukup melakukan sesuai apa yang ada tanpa membuat hal-hal yang palsu. Semoga kita selalu istiqomah dalam melakukan suatu hal kebaikan di dunia ini. Aamiin

    ReplyDelete
  7. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Sekali lagi saya ingat kalimat ini, "ada itu tidak mengada jika sudah puas dengan dirinya sendiri dan tidak memerlukan mengada". Menjadi seorang guru dan dosen yang benar-benar guru dan benar-benar dosen tidak berhenti dengan hanya menunjukkan eksistensi identitas keguruan dan kedosenan di hadapan umum. Guru yang sebenar-benarnya adalah guru yang berkarya sesuai dengan apa yang seharusnya dikaryakan. Dosen yang sebenar-benarnya adalah dosen yang berkarya sesuai dengan yang seharusnya dikaryakan. Tak hanya karya fisik, pengabdian yang tulus, berdedikasi penuh, dan ikhlas juga penting untuk senantiasa dijunjung tinggi.

    Tertegun dengan kalimat ini, "Mereka juga akan benar-benar menjadi Guru ADA jika mereka selalu berjuang untuk menjadi Guru MENGADA dan Guru PENGADA dengan cara memproduksi karya-karyanya yang sesuai dengan hakekat ADA, hakekat MENGADA dan hakekat PENGADA dari segala sesuatu yang ADA dan yang MUNGKIN ADA di dunia Pendidikan"

    ReplyDelete
  8. Gamarina Isti R
    17790251036
    Pendidkan Matematika Kelas B

    Fenomena profesr plagiat dan guru pemalsu PAK telah mencapai puncak gunung es yang sudah lama melanda masyarakat. Fenomena ini bersifat plural yang terjadi antara ada, mengada dan pengada ymerasang terjadi juga di bawah gunung es. Dalam pembelajaran seorang guru yang memiliki ijasah dan penulisan gelar sebagai ada, sedangkan kegiatan mengajar, menulism dan melakukan penelitian menunjukkan sebagai guru mengada, dan saat guru tersebut memproduksi tulisan-tulisan akan menjadi guru pengada. Oleh karena itu agar guru ada, maka seorang guru harus menjadi guru mengada dan guru pengada. Refleksinya jangan hanya menjadi guru yang memiliki ijasah dan mengajar saja tetapi jadilah guru yang tetap menghasilkan karya-karya yang bermanfaat untuk mengembangkan pendidikan di Indonesia.

    ReplyDelete
  9. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Setiap kegiatan yang memberikan kebermanfaatan untuk lingkungan sekitar menunjukkan mengada kita. Jika kita telah melakukan hal- hal yang bermanfaat maka sesungguhnya itu bukti bahwa kita telah menjadi pengada, yaitu pengada akan kebermanfaatan yang kita berikan. Maka setiap kegiatan yang merugikan lingkungan sekitar kita adalah bukti yang meniadakan diri kita, menjadikan kita manusia tidak ada. Maka kegiatan plagiat dan pemalsuan merupakan kegiatan yang merugikan pihak- pihak yang di plagiat. Maka kegiatan plagiat dan pemalsuan yang dilakukan seseorang merupakan bukti bahwa dia telah meniadakan keberadaann dirinya. Maka kegiatan plagiat dan pemalsuan yang dilakukan seorang profesor dan guru merupakan bukti bahwa mereka telah meniadakan keberadaan diri dan ilmunya.

    ReplyDelete
  10. Assalamu'alaikum wr.wb.

    Awalnya saya belum mengerti perbedaan ada, mengada, dan pengada. Namun, setelah saya membaca tulisan Bapak, saya jadi memahami perbedaannya. Ada berkaitan dengan siapakah saya biasanya biasanya terkait profesi dan apa buktinya biasanya terkait ijazah atau gelar. Mengada berkaitan dengan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan siapakah saya. Sedangkan Pengada berkaitan dengan hasil karya atau produk yang pernah dilakukan.

    Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    ReplyDelete
  11. Jika seorang melakukan plagiat, maka seseorang tersebut sebenarnya telah meniadakan pengada, artinya plagiat dapat meniadakan hasil karya seseorang tersebut secara sendirinya. Plagiat dan pemalsu sebenarnya telah menyakiti dirinya dan telah menghancurkan keberaan dirinya sendiri. kelembutan paramitos ialah mengajak manusia hanya berhenti dalam sebatas ada saja. Namun jangan sampai itu terjadi pada kita. Kita harus selalu menunjukkan bahwa kita ada, dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang positif sebagai mengada, dan menunjukkan hasil-hasil karya kita agar tetap menjadi pengada.

    Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    ReplyDelete
  12. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Dengan membaca elegi ini saya teringat saya pepatah, sepandai-pandai tupai melompat akhirnya akan jatuh juga. Untuk mendapatkan pengakuan sebagai ada, mengada, dan pengada haruslah dengan jalan yang benar karena ketidakbenaran itu akan selalu berujung dengan kepedihan dan penyesalan. Dan sebenar-benarnya jalan adalah jalan yang tidak memusnahkan ada, mengada, dan pengada. Apalagi bagi seorang begawat seperti guru, dosen, dan professor yang segala tindakannya kan menjadi sorotan terutama bagi muridnya maka seharusnyalah kita sebagai begawat sang pemberi ilmu memberikan teladan yang baik bagi murid dan lingkungan. Semoga kita menjadi pendidik yang sebenar-benarnya yaitu dengan membiasakan diri menghasilkan karya-karya sesuai hakekat ada, mengada, dan pengada. Amin.

    ReplyDelete
  13. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Assalammualaikum Wr.Wb
    Terimakasih pak atas postingannya. Perwatakan yang digambarkan dengan guru ada, guru pengada, dan guru mengada merupakan wujud dari kontropersi dunia pendidikan di Indonesia, Di satu sisi bangsa ini menuntut para pendidik meningkatkan kualifikasi melalui karya nyata. Disisi lain tekanan dan tuntutan yang dialami para pendidik dalam menjalankan profesinya mendesak mereka untuk menghalalkan segala cara, mewujudkan tuntuttan dalam meningkatkan kualifikasi. Seperti dengan membuat karya plagiat sebagai langkah instan memenuh syarat kenaikan pangkat dan sebagainya. Elegi meratapi sang ilmuwan plagiat dan guru pemalsu PAK, membuka pandangan kami sebagai calon pendidik di masa depan untuk siap menjawab tantangan dan tuntuttan bangsa di dunia pendidikan. Artinya suka tidak suka, siap tidak siap seorang pendidik wajib mengembangkan diri menyesuaikan zaman. Inovasi dan kerjakeras melahirkan karya nyata bukan karya hayal, jika diperlukan harus mencerminkan wajah pendidikan sebenarnya. Semoga kontopersi guru ada, guru pengada, dan guru mengadan bisa menjadi tantangan baik bagi kita semua untuk menjadi guru yang mengada, hal hal baik karena mereka ada, untuk pendidikan yang lebih baik.

    ReplyDelete
  14. Nurika Miftahuljannah
    1709251060
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Semua orang pasti ingin diakui keberADAan di dunia ini. Agar kita diakui ada, maka kita harus melakukan sesuatu agar yang dapat menunjukkan bahwa kita ada. Dalam melakukan sesuatu tersebut kita harus hati-hati karena bukan tidak mungkin keber ADAan kita justru akan hilang. Dengan demikian sebaiknya kita mengadakan sesuatu agar kita dapat menjadi pengada apabila kita dapat konsisten dalam mengada. Secara otomatis maka keber ADA an kita akan diakui. Kita ADA.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  15. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Ketika sesorang ingin dianggap ada, maka tidak akan terlepas dari mengada dan pengada. Namun, ketika mereka ingin dianggap pengada dan tidak mempedulikan mengada, mereka akan cenderung melakukan kecurangan, seperti plagiarisme. Sebagai seorang akademisi atau seseorang yang berilmu, hendaknya kita tidak melakukan plagiarisme, karena itu merupakan tindak kecurangan. Untuk mencapai tujuan tertentu, sebagian orang mengambil jalan pintas untuk mencapainya. Sesungguhnya, ketika seseorang melakukan plagiarisme, ia telah menghilangkan keberadaan dirinya sendiri. Oleh karena itu, hendaknya seseorang tidak melakukan plagiarisme dan menghasilkan suatu karya berdasarkan kemampuan dan hasil kerja keras sendiri.

    ReplyDelete
  16. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP Kelas B 2017

    Dari tulisan diatas dapat disimpulkan bahwa keberadaan hidup kita dilihat dari karya-karya yang telah kita ciptakan sendiri (orisinil). Seperti kata mutiara yang sering saya dengar "saya berpikir maka saya ada". Pikiran (ilmu pengetahuan) yang Allah berikan kepada kita merupakan alat yang digunakan untuk kita menciptakan suatu karya sehingga dapat menunjukkan keber-ADA-an kita sebagai makhluk ciptaan-Nya yang sempurna karena diberi akal atau pikiran. Jadi sedih sekali ketika mendengar ada Profesor plagiat dan guru yang memalsukan PAK, padahal kedua profesi tersebut yang menjadi faktor pendukung urgensi dalam mencerdaskan generasi suatu bangsa. Dimana ilmuwan atau guru merupakan contoh bagi murid atau mahsiswanya. Tetapi seberapa tinggi pendidikan seseorang kembali lagi pada hati nurani yang menentukan sikap atau prilaku. Mungkin pikiran lebih bergejolak dibanding hati nuraninya, sehingga hati nurani tak sanggup melawan arus pikiran tersebut. Itulah mengapa pendidikan karakter berperan penting dalam dunia pendidikan.

    ReplyDelete
  17. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  18. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Dari elegi ini mengingatkan kembali tentang elegi MENGADA dan PENGADA. Untuk menjadi ADA maka MENGADA lah, yaitu proses menjadi ada, dan bukti kita ada adalah PENGADA, yaitu hasil dari mengada. Seperti contoh yang disebutkan dalam elegi di atas tentang guru; menjadi seorang Guru, maka ijazah dan gelar itu pertanda bahwa Guru ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatan mengajar, menulis dan melakukan Penelitian Tindakan Kelas itu menunjukkan sebagai Guru MENGADA. Jika terbukti telah memproduksi tulisan-tulisan itulah maka terwujud sebagai Guru PENGADA. Namun jika proses Mengada dilakukan dengan ketidakjujuran dan ketidakjernihan seperti plagiat atau pemalsuan, maka Pengada yang diterima juga adalah pengada palsu. Karena plagiasi merupakan tindakan tidak bermoral dan merugikan orang lain.

    ReplyDelete
  19. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  20. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Seorang guru tentu ingin diakui eksistensi atau keber'ada'annya. Untuk mewujudkannya, guru dapat melakukan berbagai penelitian atau menulis karya ilmiah. Namun sayangnya seiring majunya teknologi, guru semakin terlena dengan budaya plagiat atau budaya copy paste. Keberadaan internet membuat semakin menjamurdan muncul plagiat-plagiat baru. Sesungguhnya karya plagiat itu bukanlah suatu Peng'ada'mu. Keber'ada'anmu tidak akan diakui, justru karya plagiat akan terancam mitos dan meni'ada'kan dirimu.

    ReplyDelete
  21. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Elegi meratapi sang ilmuwan plagiat ini menunjukkan pengertian tentang Ada, Mengada dan Pengada yang selalu bapak sebutkan di kelas. Ketika kita manusia kurang yakin terhadap apa janji dari yang kuasa, kita teradang mencoba berbagai hal dan memaksakan jalan yang seharusnya tidak kita lakukan. kita manusia diberikan bekal akal untuk mengolah rasa dan pemikiran. kenapa kita harus memaksakan terhadap sesuatu hal ?

    ReplyDelete
  22. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi diatas kita dapat mengambil beberapa hikmah diatnaranya bahwa manusia setinggi-tinggi derajatnya maka ia akan mengalami suatu kontradiksi, ini menandakan juga bahwa manusia tidak ada yang sempurna, yang ada adalah menggapai sempurna. Dari elegi di atas membahas mengenai ADA, MENGADA dan PENGADA. Sedangkan pemalsu adalah keadaan atau fenomena sedang meniadakan diri, padahal sejatinya hidup kita itu haruslah ada, dengan cara mengada sehingga mengada adalah proses aktif yang baik, ketika proses tapi tidak baik maka sejatinya sedang meniada. Dan ketika kita telah melakunan mengada dengan proses yang baik dan benar maka disitulah kita disebut pengada.

    ReplyDelete
  23. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Di depan kita adalah pilihan kita. Saya teringat masa akreditasi di sekolah. Di sana, di banyak sekolah, akan di ADA kan dokumen yang sebelumnya TIDAK ADA. Semuanya demi nilai akreditasi yang baik. Gambaran seakan-akan sebuah sekolah itu baik sebab dokumen dan sarananya lengkap. Yang paling banyak dipalsukan, di ADA kan adalah RPP. Lalu selama ini guru mengajar dengan persiapan apa? Apa jadinya para murid dengan guru yang tidak punya persiapan mengajar? Dapatkah seorang Guru TIDAK ADA yang TIDAK MENGADA dan bukan PENGADA mengajarkan para murid agar mereka menjadi murid ADA yang MENGADA dan adalah PENGADA? Jika mengingat murid adalah potensi juga, dari segala yang ada dan mungkin ada, semoga para murid dapat berkembang segala potensinya. Dan semoga ruang dan waktu segera membuktikan para ilmuwan plagiat dan guru pemalsu PAK lain, untuk pendidikan yang demokratis. Supaya tak lagi merah rapor pendidikan di Indonesia ini.

    ReplyDelete
  24. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Motivasi yang saya peroleh dari ulasan ini, yaitu berlaku jujur dapat mempertahankan keberadaan manusia dalam segala lingkup profesi yang digelutinya. Menurut saya, mawas diri pada setiap kondisi dan situasi yang menyertai dalam perjalanan prosesnya merupakan salah satu hal yang penting dan tidak boleh terlupakan. Ulasan ini dapat saya jadikan bahan untuk introspeksi diri. Saya sangat berterima kasih kepada Bapak dikarenakan selalu mengingatkan saya dan teman-teman agar menempatkan kejujuran sebagai karakter utama yang harus dimiliki oleh mahasiswanya.

    ReplyDelete
  25. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Ada, mengada dan pengada merupakan kata yang tidak asing dalam kehidupan, namun kami benar-benar baru belajar makna kata tersebut ketika mengikuti proses pembelajaran dengan Prof.Dr. Marsigit, M.A. Terima kasih Prof. Menanggapi tulisan diatas bahwa manusia sebagai makhluk Nya nyata Ada , ada secara fisik, namun tidak cukup hidup itu nyata ada secara fisik. Maka untuk mempertahankan eksistensinya manusia perlu mengada dengan mencipta, atau memberikan manfaat atau pula mendatangkan manfaat bagi manusia lain sesuai bidangnya. Kegiatan ada, mengada oleh pengada merupakan juga salah satu cara menyukuri nikmat yang diberikan oleh Tuhan, karena manusia ciptaan Nya dapat menggunakan potensi diri dengan maksimal. Terima kasih.

    ReplyDelete
  26. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Assalammu'alaikum wr.wb

    sesungguhnya plagiat memang hal yang sangat buruk, mari kita berlindung kepada Allalh SWT dari keburukan sifat plagiat, karena bisa jadi tanpa kita sadari kita juga bisa menjadi seorang plagiator. sebenar-benar plagiator adalah mereka yang belum kreatif, maka untuk menjauhi sifat ini maka kita harus berfikir kreatif dan terutama jika ingin menghasilkan karya-karya yang akan dibaca oleh khalayak ramai

    ReplyDelete
  27. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, elegi ini sesungguhnya cukup membingungkan bagi saya. Namun saya selalu teringat dengan ucapan bapak bahwa semakin kacau dan bingung pikiran saya maka semakin berhasil pula filsafat menguasai pikiran saya. Dari elegi ini, kita menjadi tahu bahwa segala yang ada dan yang mungkin ada memiliki 3 peran sekaligus sebagai ada, mengada, dan pengada. Bentuk plagiarisme oleh sang ilmuwan menyebabkan diri dia yang awalnya ADA malah semakin tidak ada. Artinya dia tidak akan dikenal identitasnya dalam karya-karyanya karena terlalu mirip dengan karya orang lain. Dia tidak MENGADAkan dirinya dihadapan orang banyak, karena bentuk perbuatannya yang membuat eksistensi dirinya tertutup. Apakah mau dia dikenal sebagai PENGADA plagiarisme, sungguh perbuatan yang keji dan tak bertanggung jawab. Sedangkan untuk guru pemalsu PAK, jelas dia juga sedang MENGADAkan tindakan yang tidak dapat diteladani sama sekali, apakah dia mau menjadi PENGADA kecurangan dan membuat siswa-siswanya juga seperti itu, naudzubillahimindzalik. Padahal sesungguhnya kedua perbuatan keji di atas hanya akan meniADAkan dirinya sendiri. Wallahu'alam bishowab

    ReplyDelete
  28. Kartika Pramudita
    17701251021
    PEP B (S2)
    Ada, mengada, dan pengada. Ketiga istilah tersebut saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Seseorang yang dianggap ada itu karena mengadanya, dan karena seseorang telah mengada maka dapat disebut sebagai pengada. Mengada harus selalu dilakukan agar seseorang tetap ada dan dianggap sebagai pengada. Apabila mengadanya itu berhenti maka seseorang tersebut terancam tidak ada. Hal yang saya pahami pada elegi ini adalah bahwa sang ilmuwan plagiat dan guru pemalsu PAK adalah ilmuwan dan guru yang tidak mengada karena memalsukan yang bukan menjadi karyanya. Hal tersebut akan mengancam ilmuwan dan guru sehingga dianggap tidak ada karena ketidakmengadanya, dan bukan pengada karena ketidakmengadanya. Pesan yang dapat saya ambil dari membaca elegi ini bahwa kita hidup harus mengada agar kita dapat ada. kita perlu terus menerus untuk mengada. Mengada dalam segala hal. Dalam mengada juga dengan berusaha berpikir kritis dan dengan keikhlasan hati agar dapat menghasilkan ada dan menjadi pengada.

    ReplyDelete
  29. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B s2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb

    Dari elegi ini dapat diambil pelajaran bahwa kita sebenarya harus dapat menjaga nama profesi yang sudah kita capai, hingga profesi yang sudah menjadi ADA akan tetap ADA dan tidak berubah menjadi TIDAK ADA karena sudah melakukan hal hal yang merusak keberadaan kita, salah satunya plagiat tersebut. Memang butuh sebuah ke ikhlasan untuk menjalankan suatu kegiatan yang akan kita capai, sehingga kita tidak terjebak dalam mitos. Akan tetapi untuk menjadi ikhlas bukanlah perkara mudah. Semoga saya dan semua yang membaca termasuk orang-orang yang ikhlas hingga dapat menjujung tinggi kejujuran. Aamiin.

    ReplyDelete