Oct 15, 2010

Elegi Meratapi Sang Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK




Oleh Marsigit

Paralogos:

Heem...tertegun aku menyaksikan kelakuan sang Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih. Dia tidak menyadari bahwa Paramitos selalu berusaha mencelakakannya. Apa haknya Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih sok mengatur dunia dan pemberi ilmu. Inilah buktinya sekarang telah tertangkap ada seorang Profesor Plagiat dan tertangkap banyak Guru Pemalsu PAK. Pilu hatiku menyaksikan kejadian-kejadian itu. Saking pilunya hatiku maka hampir-hampir aku tak kuasa bicara apalagi menulis komen-komen pada Elegi-elegi. Pikiranku belum bisa menggapai batas hatiku, bagaimana seorang Profesor tega melakukan plagiat dan seorang guru bisa memalsukan PAK untuk naik jabatan atau memperoleh sertifikasi guru. Wahai Antinomi, coba ceritakan apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan gonjang-ganjing ini?

Antinomi:
Wahai Paralogos, pengetahuanku itu setali tiga uang dengan pengetahuanmu. Selama ini memang kita telah memberikan keluluasaan dan kemerdekaan yang seluas-luasnya kepada sang Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih. Kiprah mereka yang terakhir di mulai dari Perlombaan Menjunjung Langit sampai kegiatan mengungkap Misteri Sang Konveyor dan Misteri sang Kanopi. Dalam hal tertentu aku sempat mengkhawatirkan sepak terjangnya, tetapi karena itu adalah hakekatnya maka Ruang dan Waktu sajalah yang akan memberi catatan dan penilaian.

Paralogos:

Bukannya dengan tertangkapnya Sang Profesor Plagiat dan Para Guru Pemalsu PAK itu telah membuktikan bahwa Ruang dan Waktu telah memberikan catatan dan penilaiannya?

Antinomi:

Betul apa katamu wahai Paralogos. Tetapi aku juga ingin menyampaikan bahwa peristiwa tertangkapnya Sang Profesor Plagiat dan Guru Pemalsu PAK itu sebenar-benarnya adalah puncak gunung es dari fenomena yang sudah sejak lama melanda masyarakat dan bangsa ini. Itulah yang terjadi bahwa Ruang dan Waktu sebetul-betulnya tidak pernah tidur. Ruang dan Waktu itu sebetulnya selalu memberikan catatan dan penilaian terhadap apapun, kapanpun dan dimanapun. Hanya bagi orang-orang yang ikhlas dan berpikir kritislah yang mampu membaca catatan dan penilaian yang dilakukan oleh Ruang dan Waktu.

Paralogos:

Waha..kalau begitu apa sebetulnya fenomena yang selama ini terjadi?

Antinomi:
Itulah fenomenanya...yaitu pergulatan antara ADA, MENGADA DAN PENGADA. Peristiwa tertangkapnya Sang Profesor Plagiat dan Guru Pemalsu PAK itu adalah puncak gunung es dari pergulatan antara Profesor Ada, Profesor Mengada, dan Profesor Pengada; serta Guru ADA, Guru Mengada dan Guru Pengada.

Paralogos:
Waha...apakah fenomenanya bersifat tunggal atau plural?

Antinomi:

Fenomenanya bersifat plural, yaitu bahwa yang terjadi adalah pergulatan antara ADA, MENGADA DAN PENGADA itu bersifat plural. Maka dibawah gunung es itu ada pergulatan-pergulatan yang lain: pergulatan antara Doktor Ada, Doktor Mengada dan Doktor Pengada; pergulatan antara Dosen Ada, Dosen Mengada dan Dosen Pengada; pergulatan antara Lurah Ada, Lurah Mengada dan Lurah Pengada; pergulatan antara Guru Ada, Guru Mengada dan Guru Pengada; pergulatan antara Pejabat Ada, Pejabat Mengada dan Pejabat Pengada; pergulatan antara Presiden Ada, Presiden Mengada dan Presiden Pengada, pergulatan antara Mahasiswa Ada, Mahasiswa Mengada dan Mahasiswa Pengada; pergulatan antara Suami Ada, Suami Mengada dan Suami Pengada; pergulatan antara semua Ada, semua Mengada dan semua Pengada; dan pergulatan antara setiap Ada, setiap Mengada dan setiap Pengada.

Paralogos:
Heemmm...luar biasa kejadiannya. Aku sebagai Paralogos Sang Diraja nya para Logos saja sempat terlena tidak menyadari fenomena ini, apalagi para logos, apalagi para Bagawat, apalagi para Orang Tua Berambut Putih...Wahai para Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih..kesinilah..sudah saatnya engkau itu melakukan instrospeksi dan memperoleh input yang bermanfaat. Maka marilah kita dengarkan penuturan lebih lanjut dari Sang Antinomi ini. Wahai Sang Antinomi, coba terangkanlah apa sebetulnya yang dimaksud dengan ADA, MENGADA dan PENGADA itu?

Antinomi:
Sebetul-betul MENGADA adalah logos bagi dirimu. Jika ADA adalah tesismu maka MENGADA adalah anti-tesismu. Jika engkau telah mempunya MENGADA maka serta merta wujudmu akan berubah menjadi PENGADA. Janganlah engkau mengharap dapat menjadi PENGADA jika engkau tidak mempunyai MENGADA.

Paralogos:

Sebentar, jika engkau sebut tesis dan anti-tesis maka dimana sintesisnya?

Antinomi:

Jika tesisnya adalah ADA maka anti-tesisnya adalah MENGADA. Jika anti-tesisnya adalah MENGADA maka sintetisnya adalah MENGADA.

Paralogos:

Kalimatmu yang terakhir sangat sulit aku pahami.

Antinomi:

Itulah yang terjadi. Maka sebenar-benar MENGADA adalah sekaligus tesis, anti tesis dan juga sintesis. Sedang sebenar-benar PENGADA adalah anti-tesis dari MENGADA.

Paralogos:

Maksudnya?

Antinomi:

Tidak akan ada PENGADA jika engkau tidak MENGADA.

Paralogos:
Aku masih bingung.

Antinomi:
Itulah yang terjadi, yaitu bahwa PENGADA itu juga sekaligus tesis, anti-tesis dan juga sintesis.

Paralogos:
Baiklah bisakah engkau memberikan contoh konkritnya?

Antinomi:
Misal engkau adalah MAHASISWA yang sedang menempuh perkuliahan. Maka tanda-tanganmu dalam daftar hadir merupakan bukti bahwa engkau itu ADA. Sedangkan kegiatanmu mengerjakan tugas-tugas dari dosenmu itu menunjukkan MENGADA mu. Jika engkau telah membuat tugas-tugas maka itu bukti bahwa engkau telah menjadi PENGADA, yaitu pengada akan tugas-tugasmu.

Paralogos:

Apa ada contoh yang lain?

Antinomi:
Misal engkau adalah seorang Guru, maka Ijazahmu dan penulisan gelarmu di depan namamu itu pertanda bahwa engkau Guru ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatanmu mengajar, menulis dan melakukan Penelitian Tindakan Kelas itu menunjukkan dirimu sebagai Guru MENGADA. Jika engkau terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanmu itulah maka engkau telah mewujudkan dirimu sebagai Guru PENGADA.

Paralogos:
Apa ada contoh yang lain?

Antinomi:

Misal engkau adalah seorang Doktor, maka Ijazahmu dan penulisan gelarmu di depan namamu itu pertanda bahwa engkau Doktor ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatanmu menulis itu menunjukkan dirimu sebagai Doktor MENGADA. Jika engkau terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanmu itulah maka engkau telah mewujudkan dirimu sebagai Doktor PENGADA.

Paralogos:
Apa ada contoh yang lain?

Antinomi:

Misal engkau adalah seorang Professor, maka SK Presiden dan penulisan gelarmu di depan namamu itu pertanda bahwa engkau Profesor ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatanmu menulis itu menunjukkan bahwa engkau Profesor MENGADA. Jika engkau terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanmu itulah maka engkau telah mewujudkan dirimu sebagai Profesor PENGADA.

Paralogos:

Hemmm..kamudian apa masalahnya..bukankah kita sudah cukup bangga karena kita telah mempunyai ADA nya banyak Guru Profesional, ADA nya banyak Doktor, dan ADA nya banyak Profesor?

Antinomi:
Sebentar dulu. Sebuah karya mu itu adalah ADA bagi karya mu. Dan keberadaan sebuah karyamu itu belum tentu MENGADAKAN ..ADA Dirimu dan ADA diri yang lainnya. Jika karyamu itu adalah PLAGIAT atau PALSU maka karyamu itu bukanlah suatau PENGADA mu. Maka sebuah karya mu itu bisa terancam menjadi mitos dan MENIADAKAN dirimu, yaitu jika engkau merasa puas hanya membuat karya-karya PLAGIAT dan memalsukan PAK. Maka nasib dari sebuah karyamu itu persis seperti nasib dirimu yang tidak mengetahui ADA, MENGADA dan PENGADA. Itulah bahwa PLAGIAT itu adalah perilaku sang Paramitos yang mengancam keber ADA mu sebagai Profesor. Itulah bahwa kegiatan memalsukan PAK adalah perilaku sang Paramitos yang mengancam keber ADA mu sebagai Guru. Jika keber ADA mu terancam maka terancam pula MENGADA mu dan PENGADA mu.

Paralogos:
Kemudia bagaimana solusinya?

Antinomi:
Tiadalah ADA dirimu itu tanpa MENGADA dan PENGADA. Maka agar engkau tetap ADA tidak ada jalan lain bagi dirimu untuk selalu MENGADA. Jika engkau telah MENGADA maka PENGADA akan selalu meyertaimu. Tiadalah Profesor ADA tanpa Profesor MENGADA dan Profesor PENGADA. Maka jika ingin tetap menjadi Profesor ADA, tidak ada jalan lain kecuali harus tetap menjadi Profesor MENGADA. Jika engkau telah menjadi Profesor MENGADA maka Profesor PENGADA akan dengan sendirinya menyertaimu. Tiadalah Guru ADA tanpa Guru MENGADA dan Guru PENGADA. Maka jika ingin tetap menjadi Guru ADA, tidak ada jalan lain kecuali harus tetap menjadi Guru MENGADA. Jika engkau telah menjadi Guru MENGADA maka Guru PENGADA akan dengan sendirinya menyertaimu.

Paralogos:
Apakah aku dapat menyimpulkan bahwa sebenar-benar Profesor ADA adalah Profesor MENGADA dan Profesor PENGADA sekaligus? Dan sebenar-benar Guru ADA adalah Guru MENGADA dan Guru PENGADA sekaligus?

Antinomi:
Cerdas pula engkau itu. Itulah harapanku bahwa engkau sebagai partnerku akan selalu bisa memahami dan menyimpulkan fenomena yang ada. Sangat tepatlah kesimpulanmu itu bahwa Profesor ADA itu adalah sekaligus Profesor MENGADA dan Profesor PENGADA. Dan Guru ADA itu adalah sekaligus Guru MENGADA dan Guru PENGADA.

Paralogos:
Sebentar, jangan ditutup dulu. Bukankah di awal pembicaraan kita engkau telah menyebut Profesor PLAGIAT dan Guru Pemalsu PAK? Lalu apa maknanya?

Antinomi:
Profesor PLAGIAT adalah Profesor yang tidak mengenal dirinya sebagai Profesor ADA. Maka dengan sendirinya dia juga tidak mengenal Profesor MENGADA dan Profesor PENGADA? Guru yang memalsukan PAK adalah guru yang tidak mampu mengenal dirinya sebagai Guru ADA. Maka dengan sendirinya dia juga tidak mengenal dirinya sebagai Guru MENGADA dan Guru PENGADA. Kegiatan memalsukan karya tulis apakah itu oleh seorang Profesor Plagiat dan memalsukan PAK oleh seorang guru adalah kegiatan memalsukan dirinya sebagai MENGADA. Itulah peran dan jasa Ruang dan Waktu yang tidak akan pernah lalai mencatat segala perbuatan manusia, bahwa sebenar-benar keber ADA annya adalah SAKSI bagi MENGADA nya. Tidak hanya itu, maka segala YANG ADA dan YANG MUNGKIN ADA juga menjadi SAKSI bagi keber ADA annya dan ke MENGADA nya.

Paralogos:

Kalau begitu apakah Profesor ADA tidak harus menjadi Profesor MENGADA dan Profesor PENGADA? Dan Guru ADA tidak harus menjadi Guru MENGADA dan Guru PENGADA?

Antinomi:

Tidak mengenal itu tidak berarti tidak ada.

Paralogos:

Lho mengapa?

Antinomi:
Itulah kelihaian dan kelembutan Paramitos. Paramitos itu pulalah yang selalu mengajakmu menyesatkan mereka untuk berhenti hanya sebagai Profesor ADA dan Guru ADA saja. Padahal jika hanya sebagai Profesor ADA atau Guru ADA saja, maka akan terancam sebagai Profesor TIDAK ADA dan Guru TIDAK ADA. Jika telah muncul Hukuman ADA atau Pemecatan ADA, maka Hukuman dan Pemecatan MENGADA akan segera MENIADAKAN Profesor Plagiat dan Guru Pemalsu PAK. Maka akan terasa pedih dan perih hukumannya bagi orang-orang yang di anggap TIDAK ADA. Padahal perjuangan mereka masih sangat banyak dan sangat panjang. Maka mereka akan sebenar-benar menjadi Profesor ADA jika mereka selalu berjuang untuk menjadi Profesor MENGADA dan Profesor PENGADA, yaitu dengan memproduksi karya-karyanya yang sesuai dengan hakekat ADA, hakekat MENGADA dan hakekat PENGADA dari segala sesuatu yang ADA dan yang MUNGKIN ADA. Mereka juga akan benar-benar menjadi Guru ADA jika mereka selalu berjuang untuk menjadi Guru MENGADA dan Guru PENGADA dengan cara memproduksi karya-karyanya yang sesuai dengan hakekat ADA, hakekat MENGADA dan hakekat PENGADA dari segala sesuatu yang ADA dan yang MUNGKIN ADA di dunia Pendidikan.

19 comments:

  1. Muh Wildanul Firdaus
    17709251057
    Pendidikan Matematika S2 Kelas C

    Kegiatan mengada akan menunjukkan bahwa seseorang itu ada dan hasil dari mengada itulah yang menunjukkan bahwa seseorang tersebut sebagai pengada. Seorang plagiator adalah seseorang yang memalsukan keberadaannya, sehingga ada nya dia tidak sebenar-benar ada dalam ruang dan waktunya. sebagai contoh, seorang mahasiswa yang ingin menunjukkan keberadaannya dengan cara plagiat maka sebenarnya ia tidak menunjukkan bahwa dia ada sebagai mahasiswa, namun dia menunjukkan bahwa dirinya ada sebagai plagiator.

    ReplyDelete
  2. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Merasa miris setelah mengetahui hal ini benar-benar terjadi di kehidupan kita, bahkan di dunia pendidikan khususnya figur seorang pendidik. Mungkin diluar sana sangat banyak orang pelaku plagiat dan sejenisnya agar dirinya diakui keberADAannya meski melalui dengan MENGADA yang palsu. Sia-sialah nantinya jika itu hanya menghasilkan sebuah pengakuan dari kepalsuan. Sebagai cikal bakal generasi penerus sudah selayaknya kita harus menjadi insan yang diakui keberADAannya karena tindakan kita dalam MENGADA sehingga pada akhirnya kita dapatkan julukan PENGADA karena karya yang telah kita hasilkan dengan kemurnian karya. Haruslah sangat diperhatikan hal-hal seperti ini agar nantinya tidak bermunculan dampak negatif dari kegiatan MENGADA yang tidak benar caranya. Hal ini dapat diantipasi dengan dimulai dari diri kita sendiri. Mulailah membiasakan berbangga hati dengan karya sendiri dan mengapresiasi karya orang lain dengan tidak menyalahgunakan karya tersebut. Semoga kitapun terlahir sebagai manusia yang mampu bijak dalam hal seperti ini.

    ReplyDelete
  3. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Guru sebagai salah satu peran penting dalam pembelajaran seharusnya mampu berpikir kreatif dan inovatif untuk menciptakan suasana pembelajaran yang aktif dan menyenangkan. Namun jika dilihat kondisi saat ini, banyak guru yang kurang kreatif bahkan terlihat plagiat dalam pembelajaran di kelas seperti guru tidak mampu membuat soal yang akhirnya hanya copy paste dari internet. Guru yang menggunakan modul karya orang lain atau hal lain. Seharusnya sebagai guru, kita mampu untuk membuat perangkat pembelajran yang memang itu sudah menjadi kewajibannya untuk mempersiapkan pembelajaran di kelas.

    ReplyDelete
  4. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Perlu usaha yang keras agar kita bisa menjadi ada, mengada, dan pengada. Hal ini memang tidak mudah, namun kita dapat mengusahakannya. Untuk mencapai hasil yang maksimal maka kita harus melakukan tiga hal tersebut karena memang itu adalah syarat untuk mencapai hasil yang maksimal. Mari berusaha untuk menjadi ada, mengada, dan pengada.

    ReplyDelete
  5. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Bismillah...

    Dalam membuat sebuah karya, diperlukan usaha yang besar. Plagiat artinya mencontek atau mengambil karya orang lain tanpa ijin dari sang pembuat karya. Plagiat sama artinya palsu, sesuatu yang palsu artinya menipu. Menipu adalah sifat tercela yang mendapat tiga dosa sekaligus, yaitu menipu diri sendiri, orang lain, dan Tuhan. Jika ingin mengambil sebuah kutipan atau ide orang lain, akan lebih baik di tulis daftar rujukan atau sitasi. Guru yang memalsukan PAK juga dianggap telah melakukan penipuan demi kenaikan pangkat.

    Semoga kita semua terhindar dari sifat tercela, karena sifat tercela adalah salah satu godaan setan supaya kita mengikuti jejaknya. Jika ingin kebaikan yang datang kepada kita, maka kita sebagai manusia haruslah memulai sesuatu dengan niat yang baik yang efeknya juga akan dirasakan oleh diri sendiri.

    ReplyDelete
  6. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Ilmuwan yang plagiat menandakan ia tidak pantas disebut sebagai ilmuwan. Kata-katamu mencerminkan kepribadianmu. Maka jika kata-kata saja adalah hasil plagiat orang lain, maka sudah bisa dibilang bahwa ia memiliki kepribadian yang buruk. Maka tidak pantas ia disebut lagi sebagai ilmuwan.

    ReplyDelete
  7. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Manusia diciptakan Allah sebagai khalifah atau pemimpin. Menjaga dan mengelola apa saja yang ada di bumi. Sebagai manusia yang memiliki akal, mampu berpikir harusnya dapat memberikan kontribusi yang maksimal bagi sesama dan lingkungannya. Tidak diperkenankan mencontoh (plagiat) karya-karya orang lain. Jikalau memang membuat sebuah karya dengan menggunakan referensi karya orang lain, maka perlu dituliskan referensi sesuai kaidah penulisan. Salah satu tindakan kecil yang mampu mengubah manusia menjadi lebih maju dan berkembang.

    ReplyDelete
  8. Sngat ironis jika membaca elegi ini, sebagai seorang yang berfilsafat, apalagi diamanahi sebagai pengemban ilmu, mengada dan menjadi pengada adalah suatu keharusan yang mutlak. Mengada karya-krya tentu juga dengan kaidah tertentu dari yang ada dan yang mungkin ada. Agar terhindar dari plagiat, sudah sepantasnya seorang pengemban ilmu menjadi saksi-saksi sebagai wujud dai mengada dan pengada

    ReplyDelete
  9. Begitupun juga dengan seorang guru, maka harus selalu mengada dan menjadi pengada dari yang ada dan yang mungkin ada. Guru dituntut untuk membuat karya-karya sebagai wujud dari mengada dan pengada. Maka prinsip mengada dan pengada harus dipegam guru dalam pelaksanaan tugasnya

    ReplyDelete
  10. Aristiawan
    17701251025
    PEP B 2017

    Elegi meratapi sang ilmuwan plagiat dan guru pemalsu PAK ini mengajarkan pada kita beberapa hal. Pertama, tiadalah ada diri kita tanpa kita mengada dan pengada. maknanya adalah jika kita ingin diri kita ada, maka kita harus senantiasa mengada. Bila kita senantiasa mengada, maka disaat itu pula pengada akan selalu menyertai kita. sebagai guru atau dosen, wawasan ini akan memotivasi kita agar kita senantiasa berkarya, mengajar, menulis, meneliti dan melakukan sejumlah aktivitas mengada yang lain. Peljaran kedua yang kita dapat dari elegi ini adalah bahwa aktivitas plagiat atau pemalsuan menandakan ketiadaan diri. Bila ilmuwan melakukan aktivitas plagiat maka ia telah memalsukan dirinya mengada, yang nantinya akan berujung pada ketiadaan dirinya.

    ReplyDelete
  11. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Untuk menjadi guru atau profesor yang tidak plagiat, maka harus mewujudkan dirinya menjadi ada, mengada, dan pengada. Ketiga hal ini penting karena guru atau profesor bisa menghasilkan karya dan ada buktinya. Segala sesuatu harus ada bukti, karena kalau tidak ada bukti bisa dianggap plagiat. Karena plagiat itu bisa disengaja maupun tidak disengaja.

    ReplyDelete
  12. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Plagiarisme merupakan salah satu kejahatan moral yang bahkan orang yang berpendidiknpun dapat melakukannya. Setiap manusia diberi kelebihan berupa kecerdasan untuk berfikir dalam memecahkan masalah. Setiap ide atau karya dari manusia adalah hasil berfikir atau hasil penggunaan kecerdasan yang dimilikinya. Maka dari itu, ide atau karya yang diciptakan seorang manusia perlu diapresiasi keunikannya.Dengan penghargaan yang diberikan kepadanya, manusia itu juga harus menghargai manusia lain dengan tidak melakukan plagiarisme atas karya manusia lain.

    ReplyDelete
  13. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Jadi seorang guru memang sangat tidak terpuji jika mencontohkan hal-hal yang tidak baik kepada peserta didik mereka. Jika guru sering memerintahkan kepada peserta didik untuk tidak mencintek, maka tidak layak jika guru melakukan plagiasi atas karya-karya yang diberikan. Hal inilah yang menajdikan inovasi dalam dunia pendidikan itu kurang berkembang karena kemalasan guru untuk memberikan hasil orisinilnya sebagai kontribusi dalam dunia pendidikan.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  14. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Manusia di dunia bertugas untuk membuktikan keberadaannya. Bahkan orang berilmu sekali pun masih perlu membuktikannya. Jika kita tidak berhasil menunjukkan keberadaan kita maka mungkin saja kita hanya sebuah mitos. Karena keberadaannya tidak bermakna.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  15. Keberadaan manusia barulah dapat diakui jika ia ada, mengada, dan pengada. Seorang mahasiswa yang kuliah filsafat pun dapat membuktikan keberadaanya dengan cara mengisi daftar hadir ketika perkuliahan (itu adalah “ada”nya), kemudian mhs tersebut harus membuat komen dan refleksi (itu adalah “mengada”nya), dan ketika sudah melakukannya maka mhs tersebut telah berubah dari sekadar “ada” menjadi “pengada”, kemudian barulah terbukti keberadaannya.

    ReplyDelete
  16. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Membaca kalimat “Itulah yang terjadi. Maka sebenar-benar MENGADA adalah sekaligus tesis, anti tesis dan juga sintesis. Sedang sebenar-benar PENGADA adalah anti-tesis dari MENGADA.” ini, penulis teringat dengan salah satu sub tema yang ada di buku Madilog, Tan Malaka. Bagai mana sebuah benda dikatakan “ada” dalam kehidupan seseorang.

    ReplyDelete
  17. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Tatkala membaca secara runtut mengenai artikel ini penulis dapat pahami, bahwa seseorang menjadi ada –di sini dicontohkan sebagai sosok pengajar, maka kita harus ada unsur pendukung lainnya. Tatkala kita telah melakukan sebuah kecurangan, maka ada pada diri kita harus tersisihkan. Dengan kata lain, tindakan yang harus kita kerjakan dalam “mengada” dalam diri kita harus bersifat jujur. Jujur dalam segahal hal, tatkala ini bisa berjalan maka plagiat atau pemalsuan dalam bentuk apapun.
    Sikap ini harus dimiliki oleh mereka yang dianggap sebagai orang pembimbing, sebab mereka merupakan sebuah contoh sederhana bagi yang dibimbing. Kita akan mengamini bahwa, guru kecing berdiri maka murid kencing lari. Tatkala guru sudah bersikap tidak baik, maka murid akan melampaui apa yang dilakukan oleh gurunya.

    ReplyDelete
  18. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Keberadaan dan kedudukan sesorang dibuktikan dengan kegaiatan mengada. Hasil dari kegiatan mengada tersebut adalah pengada. Begitu pula dalam dunia pendidikan. Profesor, dosen, maupun guru harus melihatkan bukti keberadaannya, yaitu dengan melakukan kegiatan mengada. Salah satu kegiatan mengada yang melekat pada diri seorang pendidik adalah melakukan penilitian. Sumber ilmu, sumber belajar yang harus digunakan bukanlah karya orang lain melainkan kreativitas yang didapatkan selama mengajar.The teacher is researcher, the lecture is researcher, and the professor is researcher. Tidak hanya sampai di sana, hasil penelitian tersebut haruslah diterbitkan sebagai bukti pengada dari seorang pendidik.

    ReplyDelete
  19. Dheni Nugroho
    17709251023
    PPs Pendidikan Matematika

    Dari artikel ini saya dapat memetik pelajaran untuk menghindakan diri dari tindak plagiat atau pemalsu maka kita harus meningkatkan kapasitas diri dari ADA, menjadi MENGADA, kemudian menjadi PENGADA. Saat ini kita mahasiswa S2 berada pada tingkatan ADA. Maka kita telah menjadi MENGADA juga karena adanya salah satu kewajiban sebagai mahasiswa yaitu tugas-tugas yang telah diberikan oleh Dosen selama perkuliahan. Maka, langkah selanjutnya adalah menjadi PENGADA yaitu dengan melaksanan seluruh tugas-tugas tersebut, jika dalam perkuliahan ini adalah dengan refleksi mingguan dan adanya komen sebagai wujud PENGADA kita sebagai mahasiswa.

    ReplyDelete