Oct 15, 2010

Elegi Meratapi Sang Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK




Oleh Marsigit

Paralogos:

Heem...tertegun aku menyaksikan kelakuan sang Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih. Dia tidak menyadari bahwa Paramitos selalu berusaha mencelakakannya. Apa haknya Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih sok mengatur dunia dan pemberi ilmu. Inilah buktinya sekarang telah tertangkap ada seorang Profesor Plagiat dan tertangkap banyak Guru Pemalsu PAK. Pilu hatiku menyaksikan kejadian-kejadian itu. Saking pilunya hatiku maka hampir-hampir aku tak kuasa bicara apalagi menulis komen-komen pada Elegi-elegi. Pikiranku belum bisa menggapai batas hatiku, bagaimana seorang Profesor tega melakukan plagiat dan seorang guru bisa memalsukan PAK untuk naik jabatan atau memperoleh sertifikasi guru. Wahai Antinomi, coba ceritakan apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan gonjang-ganjing ini?

Antinomi:
Wahai Paralogos, pengetahuanku itu setali tiga uang dengan pengetahuanmu. Selama ini memang kita telah memberikan keluluasaan dan kemerdekaan yang seluas-luasnya kepada sang Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih. Kiprah mereka yang terakhir di mulai dari Perlombaan Menjunjung Langit sampai kegiatan mengungkap Misteri Sang Konveyor dan Misteri sang Kanopi. Dalam hal tertentu aku sempat mengkhawatirkan sepak terjangnya, tetapi karena itu adalah hakekatnya maka Ruang dan Waktu sajalah yang akan memberi catatan dan penilaian.

Paralogos:

Bukannya dengan tertangkapnya Sang Profesor Plagiat dan Para Guru Pemalsu PAK itu telah membuktikan bahwa Ruang dan Waktu telah memberikan catatan dan penilaiannya?

Antinomi:

Betul apa katamu wahai Paralogos. Tetapi aku juga ingin menyampaikan bahwa peristiwa tertangkapnya Sang Profesor Plagiat dan Guru Pemalsu PAK itu sebenar-benarnya adalah puncak gunung es dari fenomena yang sudah sejak lama melanda masyarakat dan bangsa ini. Itulah yang terjadi bahwa Ruang dan Waktu sebetul-betulnya tidak pernah tidur. Ruang dan Waktu itu sebetulnya selalu memberikan catatan dan penilaian terhadap apapun, kapanpun dan dimanapun. Hanya bagi orang-orang yang ikhlas dan berpikir kritislah yang mampu membaca catatan dan penilaian yang dilakukan oleh Ruang dan Waktu.

Paralogos:

Waha..kalau begitu apa sebetulnya fenomena yang selama ini terjadi?

Antinomi:
Itulah fenomenanya...yaitu pergulatan antara ADA, MENGADA DAN PENGADA. Peristiwa tertangkapnya Sang Profesor Plagiat dan Guru Pemalsu PAK itu adalah puncak gunung es dari pergulatan antara Profesor Ada, Profesor Mengada, dan Profesor Pengada; serta Guru ADA, Guru Mengada dan Guru Pengada.

Paralogos:
Waha...apakah fenomenanya bersifat tunggal atau plural?

Antinomi:

Fenomenanya bersifat plural, yaitu bahwa yang terjadi adalah pergulatan antara ADA, MENGADA DAN PENGADA itu bersifat plural. Maka dibawah gunung es itu ada pergulatan-pergulatan yang lain: pergulatan antara Doktor Ada, Doktor Mengada dan Doktor Pengada; pergulatan antara Dosen Ada, Dosen Mengada dan Dosen Pengada; pergulatan antara Lurah Ada, Lurah Mengada dan Lurah Pengada; pergulatan antara Guru Ada, Guru Mengada dan Guru Pengada; pergulatan antara Pejabat Ada, Pejabat Mengada dan Pejabat Pengada; pergulatan antara Presiden Ada, Presiden Mengada dan Presiden Pengada, pergulatan antara Mahasiswa Ada, Mahasiswa Mengada dan Mahasiswa Pengada; pergulatan antara Suami Ada, Suami Mengada dan Suami Pengada; pergulatan antara semua Ada, semua Mengada dan semua Pengada; dan pergulatan antara setiap Ada, setiap Mengada dan setiap Pengada.

Paralogos:
Heemmm...luar biasa kejadiannya. Aku sebagai Paralogos Sang Diraja nya para Logos saja sempat terlena tidak menyadari fenomena ini, apalagi para logos, apalagi para Bagawat, apalagi para Orang Tua Berambut Putih...Wahai para Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih..kesinilah..sudah saatnya engkau itu melakukan instrospeksi dan memperoleh input yang bermanfaat. Maka marilah kita dengarkan penuturan lebih lanjut dari Sang Antinomi ini. Wahai Sang Antinomi, coba terangkanlah apa sebetulnya yang dimaksud dengan ADA, MENGADA dan PENGADA itu?

Antinomi:
Sebetul-betul MENGADA adalah logos bagi dirimu. Jika ADA adalah tesismu maka MENGADA adalah anti-tesismu. Jika engkau telah mempunya MENGADA maka serta merta wujudmu akan berubah menjadi PENGADA. Janganlah engkau mengharap dapat menjadi PENGADA jika engkau tidak mempunyai MENGADA.

Paralogos:

Sebentar, jika engkau sebut tesis dan anti-tesis maka dimana sintesisnya?

Antinomi:

Jika tesisnya adalah ADA maka anti-tesisnya adalah MENGADA. Jika anti-tesisnya adalah MENGADA maka sintetisnya adalah MENGADA.

Paralogos:

Kalimatmu yang terakhir sangat sulit aku pahami.

Antinomi:

Itulah yang terjadi. Maka sebenar-benar MENGADA adalah sekaligus tesis, anti tesis dan juga sintesis. Sedang sebenar-benar PENGADA adalah anti-tesis dari MENGADA.

Paralogos:

Maksudnya?

Antinomi:

Tidak akan ada PENGADA jika engkau tidak MENGADA.

Paralogos:
Aku masih bingung.

Antinomi:
Itulah yang terjadi, yaitu bahwa PENGADA itu juga sekaligus tesis, anti-tesis dan juga sintesis.

Paralogos:
Baiklah bisakah engkau memberikan contoh konkritnya?

Antinomi:
Misal engkau adalah MAHASISWA yang sedang menempuh perkuliahan. Maka tanda-tanganmu dalam daftar hadir merupakan bukti bahwa engkau itu ADA. Sedangkan kegiatanmu mengerjakan tugas-tugas dari dosenmu itu menunjukkan MENGADA mu. Jika engkau telah membuat tugas-tugas maka itu bukti bahwa engkau telah menjadi PENGADA, yaitu pengada akan tugas-tugasmu.

Paralogos:

Apa ada contoh yang lain?

Antinomi:
Misal engkau adalah seorang Guru, maka Ijazahmu dan penulisan gelarmu di depan namamu itu pertanda bahwa engkau Guru ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatanmu mengajar, menulis dan melakukan Penelitian Tindakan Kelas itu menunjukkan dirimu sebagai Guru MENGADA. Jika engkau terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanmu itulah maka engkau telah mewujudkan dirimu sebagai Guru PENGADA.

Paralogos:
Apa ada contoh yang lain?

Antinomi:

Misal engkau adalah seorang Doktor, maka Ijazahmu dan penulisan gelarmu di depan namamu itu pertanda bahwa engkau Doktor ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatanmu menulis itu menunjukkan dirimu sebagai Doktor MENGADA. Jika engkau terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanmu itulah maka engkau telah mewujudkan dirimu sebagai Doktor PENGADA.

Paralogos:
Apa ada contoh yang lain?

Antinomi:

Misal engkau adalah seorang Professor, maka SK Presiden dan penulisan gelarmu di depan namamu itu pertanda bahwa engkau Profesor ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatanmu menulis itu menunjukkan bahwa engkau Profesor MENGADA. Jika engkau terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanmu itulah maka engkau telah mewujudkan dirimu sebagai Profesor PENGADA.

Paralogos:

Hemmm..kamudian apa masalahnya..bukankah kita sudah cukup bangga karena kita telah mempunyai ADA nya banyak Guru Profesional, ADA nya banyak Doktor, dan ADA nya banyak Profesor?

Antinomi:
Sebentar dulu. Sebuah karya mu itu adalah ADA bagi karya mu. Dan keberadaan sebuah karyamu itu belum tentu MENGADAKAN ..ADA Dirimu dan ADA diri yang lainnya. Jika karyamu itu adalah PLAGIAT atau PALSU maka karyamu itu bukanlah suatau PENGADA mu. Maka sebuah karya mu itu bisa terancam menjadi mitos dan MENIADAKAN dirimu, yaitu jika engkau merasa puas hanya membuat karya-karya PLAGIAT dan memalsukan PAK. Maka nasib dari sebuah karyamu itu persis seperti nasib dirimu yang tidak mengetahui ADA, MENGADA dan PENGADA. Itulah bahwa PLAGIAT itu adalah perilaku sang Paramitos yang mengancam keber ADA mu sebagai Profesor. Itulah bahwa kegiatan memalsukan PAK adalah perilaku sang Paramitos yang mengancam keber ADA mu sebagai Guru. Jika keber ADA mu terancam maka terancam pula MENGADA mu dan PENGADA mu.

Paralogos:
Kemudia bagaimana solusinya?

Antinomi:
Tiadalah ADA dirimu itu tanpa MENGADA dan PENGADA. Maka agar engkau tetap ADA tidak ada jalan lain bagi dirimu untuk selalu MENGADA. Jika engkau telah MENGADA maka PENGADA akan selalu meyertaimu. Tiadalah Profesor ADA tanpa Profesor MENGADA dan Profesor PENGADA. Maka jika ingin tetap menjadi Profesor ADA, tidak ada jalan lain kecuali harus tetap menjadi Profesor MENGADA. Jika engkau telah menjadi Profesor MENGADA maka Profesor PENGADA akan dengan sendirinya menyertaimu. Tiadalah Guru ADA tanpa Guru MENGADA dan Guru PENGADA. Maka jika ingin tetap menjadi Guru ADA, tidak ada jalan lain kecuali harus tetap menjadi Guru MENGADA. Jika engkau telah menjadi Guru MENGADA maka Guru PENGADA akan dengan sendirinya menyertaimu.

Paralogos:
Apakah aku dapat menyimpulkan bahwa sebenar-benar Profesor ADA adalah Profesor MENGADA dan Profesor PENGADA sekaligus? Dan sebenar-benar Guru ADA adalah Guru MENGADA dan Guru PENGADA sekaligus?

Antinomi:
Cerdas pula engkau itu. Itulah harapanku bahwa engkau sebagai partnerku akan selalu bisa memahami dan menyimpulkan fenomena yang ada. Sangat tepatlah kesimpulanmu itu bahwa Profesor ADA itu adalah sekaligus Profesor MENGADA dan Profesor PENGADA. Dan Guru ADA itu adalah sekaligus Guru MENGADA dan Guru PENGADA.

Paralogos:
Sebentar, jangan ditutup dulu. Bukankah di awal pembicaraan kita engkau telah menyebut Profesor PLAGIAT dan Guru Pemalsu PAK? Lalu apa maknanya?

Antinomi:
Profesor PLAGIAT adalah Profesor yang tidak mengenal dirinya sebagai Profesor ADA. Maka dengan sendirinya dia juga tidak mengenal Profesor MENGADA dan Profesor PENGADA? Guru yang memalsukan PAK adalah guru yang tidak mampu mengenal dirinya sebagai Guru ADA. Maka dengan sendirinya dia juga tidak mengenal dirinya sebagai Guru MENGADA dan Guru PENGADA. Kegiatan memalsukan karya tulis apakah itu oleh seorang Profesor Plagiat dan memalsukan PAK oleh seorang guru adalah kegiatan memalsukan dirinya sebagai MENGADA. Itulah peran dan jasa Ruang dan Waktu yang tidak akan pernah lalai mencatat segala perbuatan manusia, bahwa sebenar-benar keber ADA annya adalah SAKSI bagi MENGADA nya. Tidak hanya itu, maka segala YANG ADA dan YANG MUNGKIN ADA juga menjadi SAKSI bagi keber ADA annya dan ke MENGADA nya.

Paralogos:

Kalau begitu apakah Profesor ADA tidak harus menjadi Profesor MENGADA dan Profesor PENGADA? Dan Guru ADA tidak harus menjadi Guru MENGADA dan Guru PENGADA?

Antinomi:

Tidak mengenal itu tidak berarti tidak ada.

Paralogos:

Lho mengapa?

Antinomi:
Itulah kelihaian dan kelembutan Paramitos. Paramitos itu pulalah yang selalu mengajakmu menyesatkan mereka untuk berhenti hanya sebagai Profesor ADA dan Guru ADA saja. Padahal jika hanya sebagai Profesor ADA atau Guru ADA saja, maka akan terancam sebagai Profesor TIDAK ADA dan Guru TIDAK ADA. Jika telah muncul Hukuman ADA atau Pemecatan ADA, maka Hukuman dan Pemecatan MENGADA akan segera MENIADAKAN Profesor Plagiat dan Guru Pemalsu PAK. Maka akan terasa pedih dan perih hukumannya bagi orang-orang yang di anggap TIDAK ADA. Padahal perjuangan mereka masih sangat banyak dan sangat panjang. Maka mereka akan sebenar-benar menjadi Profesor ADA jika mereka selalu berjuang untuk menjadi Profesor MENGADA dan Profesor PENGADA, yaitu dengan memproduksi karya-karyanya yang sesuai dengan hakekat ADA, hakekat MENGADA dan hakekat PENGADA dari segala sesuatu yang ADA dan yang MUNGKIN ADA. Mereka juga akan benar-benar menjadi Guru ADA jika mereka selalu berjuang untuk menjadi Guru MENGADA dan Guru PENGADA dengan cara memproduksi karya-karyanya yang sesuai dengan hakekat ADA, hakekat MENGADA dan hakekat PENGADA dari segala sesuatu yang ADA dan yang MUNGKIN ADA di dunia Pendidikan.

10 comments:

  1. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Obyek filsafat mencakup semua yang ada dan yang mungkin ada. Semua yang ada dan mungkin ada akan selalu melalui proses ADA, MENGADA, dan PENGADA. Tetapi terkadang, manusia mengabaikan hakekat ada, mengada dan pengada pada dirinya (sebagai contoh, ilmuwan plagiat dan guru pemalsu PAK pada elegi ini). Untuk menunjukkan bahwa kita itu ada, maka kita hendaknya melakukan mengada dan menjadi pengada. Mengada adalah melakukan sesuatu yang dapat membuat seseorang itu diaggap ada. Dengan mengada, maka seseorang itu berarti sudah menjadi pengada. Siapapun orang itu, dia harus melakukan mengada dan menjadi pengada agar ia menjadi ada.

    ReplyDelete
  2. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Plagiat berarti pengambilan karangan atau pendapat orang lain dan menjadikan seolah-olah karangan atau pendapatnya itu buatan sendiri. Sebagai contoh menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri. Elegi di atas menjelaskan mengenai maraknya budaya plagiat yang telah merambah ke dunia pendidikan. Sebagai seorang guru atau yang berprofesi apa saja kita tidak boleh melakukan plagiat. Plagiarisme merupakan salah satu tindak kecurangan. Apabila didalam dunia pendidikan ini pendidik sudah melakukan tindakan plagiat lalu mau jadi seperti apa pendidikan di Negara kita ini. Selain merugikan orang lain, orang yang melakukan tindakan plagiat juga akan memperoleh balasan yang sepadan dengan perilakunya.

    ReplyDelete
  3. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Banyak sekali guru, mahasiswa, dosen, bahkan profesor sekalipun yang tidak terlepas dari tindakan plagiat. Padahal dengan berbagai ilmu yang dimilikinya dari hasil pendidikannya, haruslah dapat menunjang kemampuan yang dimilikinya untuk dapat berkarya dalam bidangnya maupun dalam bidang lainnya. Dalam hal ini, dapat kita ingat kembali mengenai ada, mengada, dan pengada. Untuk mengeksiskan keberadaan kita yakni kita ada, seorang guru ada, karena dia memiliki ijazah maupun sertifikat pendidikan gurunya atau bidang lainnya. Tetapi guru ada haruslah dibarengi dengan guru mengada, yaitu guru melaksanakan kegiatan-kegiatan pembelajaran, mengembangkan media, bahan ajar maupun asesmennya. Dengan sendirinya guru tersebut dapat dikatakan guru pengada bagi karya-karya yang dihasilkannya.

    ReplyDelete
  4. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Dapat kita garis bawahi, bahwa banyaknya kasus plagiat yang saat ini sering terjadi, dikarenakan guru hanya fokus pada guru ada, tetapi tidak menghiraukan guru mengada. Padahal dengan mengada, maka guru dapat memperkokoh keberadaanya dan sekaligus menjadikannya sebagai guru pengada. Proses lebih penting daripada hasil yang dicapainya. Yang terpenting kita harus berusaha yang terbaik untuk menunjukkan kemampuan kita dalam berkarya, insyallah hasil yang kita dapatpun akan senantiasa mencerminkan kegigihan dan usaha yang telah kita lakukan. Kerja keras dan usahamu tidak akan pernah sia-sia. Do the best be the best!

    ReplyDelete
  5. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Tidaklah cukup untuk dengan ADA saja. Hal itu akan dimintakan pertanggungjawaban melalui MENGADA dan PENGADA. Tetapi jangan lantas sempit mengartikan bahwa hal itu dapat ditempuh dengan segala macam cara, seperti plagiat atau melakukan pemalsuan. Jika kita menggunakan cara – cara kotor, hal itu akan merugikan orang lain dan juga diri sendiri. Tentu saja jabatan yang kita peroleh tidak berkah, demikian juga dengan ilmu dan gaji.

    ReplyDelete
  6. Nahrul Pintoko Aji
    14301244008
    Pendidikan Matematika A 2014

    Kita terlihat Ada, tapi sebenarnya tiada. Yang Ada terlihat tiada karena terlihatnya yang ada.

    ReplyDelete
  7. Nahrul Pintoko Aji
    14301244008
    Pendidikan Matematika A 2014

    Sebgai manusia kita perlu belajar untuk memahami ketiadaan kita. Pembelajaran bisa diperoleh dengan melihat alam dan memahaminya sebagai perumpamaan dari ketiadaan kita. Ini kita lakukan agar menjadi makhluk yang tak rakus lagi,setelah melihat ketakberdayaan kita atas yang maha berdaya.

    ReplyDelete
  8. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Sama halnya dengan kalimat
    “Maka mereka akan sebenar-benar menjadi guru ADA jika mereka selalu berjuang untuk menjadi guru MENGADA dan guru PENGADA, yaitu dengan memproduksi karya-karyanya yang sesuai dengan hakekat ADA, hakekat MENGADA dan hakekat PENGADA dari segala sesuatu yang ADA dan yang MUNGKIN ADA.
    Hal ini sama dengan sebenar-benarnya menjadi siswa ADA jika mereka selalu berjuang untuk menjadi siswa MENGADA dan siswa PENGADA, yaitu dengan memproduksi karya-karyanya yang sesuai dengan hakekat ADA, hakekat MENGADA dan hakekat PENGADA dari segala sesuatu yang ADA dan yang MUNGKIN ADA.
    Mulai dari penyelesaian tugas dan pembuatan hasil karya sebagai wujud MENGADA dan PENGADA.

    ReplyDelete
  9. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Semua pekerjaan pada dasarnya membutuhkan profesionalisme. Elegi tersebut mengingatkan kita bahwasannya dalam kehidupan tak jarang ditemukan adanya ketidakprofesionalan dalam bekerja. Sering ditemukan adanya kasus plagiarisme dan pemalsuan ijazah demi mempertahankan pekerjaannya. Berbagai upaya pun dilakukan untuk menghalalkan segala cara. Oleh karena itu, sebagai calon pendidik pun harus memahami bahwa menjadi seorang pendidik diperlukan profesionalisme. Menjadi seorang pendidik/guru tidak hanya sekedar menyampaikan ilmu, namun dipundaknya telah diamanahkan tanggung jawab untuk mendidik siswa secara menyeluruh, baik spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan.

    ReplyDelete
  10. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu'alaikum. Plagiat dan pemalsuan yang dilakukan dengan alasan apapun itu merupakan sebuah kesalahan dan dosa yang tidak boleh dilakukan. Plagiat dan pemalsuan tidak menghargai apa yang telah dilakukan orang lai dan termasuk pembohongan publik. Plagiat dan pemalsuan tentu merugikan orang lain dan diri sendiri, serta meruapak suatu kebiasaan yang hendaknya dihilangkan sebab sama aja melakukan pencurian terhadap pemikiran orang lain.

    ReplyDelete