Oct 15, 2010

Elegi Meratapi Sang Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK




Oleh Marsigit

Paralogos:

Heem...tertegun aku menyaksikan kelakuan sang Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih. Dia tidak menyadari bahwa Paramitos selalu berusaha mencelakakannya. Apa haknya Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih sok mengatur dunia dan pemberi ilmu. Inilah buktinya sekarang telah tertangkap ada seorang Profesor Plagiat dan tertangkap banyak Guru Pemalsu PAK. Pilu hatiku menyaksikan kejadian-kejadian itu. Saking pilunya hatiku maka hampir-hampir aku tak kuasa bicara apalagi menulis komen-komen pada Elegi-elegi. Pikiranku belum bisa menggapai batas hatiku, bagaimana seorang Profesor tega melakukan plagiat dan seorang guru bisa memalsukan PAK untuk naik jabatan atau memperoleh sertifikasi guru. Wahai Antinomi, coba ceritakan apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan gonjang-ganjing ini?

Antinomi:
Wahai Paralogos, pengetahuanku itu setali tiga uang dengan pengetahuanmu. Selama ini memang kita telah memberikan keluluasaan dan kemerdekaan yang seluas-luasnya kepada sang Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih. Kiprah mereka yang terakhir di mulai dari Perlombaan Menjunjung Langit sampai kegiatan mengungkap Misteri Sang Konveyor dan Misteri sang Kanopi. Dalam hal tertentu aku sempat mengkhawatirkan sepak terjangnya, tetapi karena itu adalah hakekatnya maka Ruang dan Waktu sajalah yang akan memberi catatan dan penilaian.

Paralogos:

Bukannya dengan tertangkapnya Sang Profesor Plagiat dan Para Guru Pemalsu PAK itu telah membuktikan bahwa Ruang dan Waktu telah memberikan catatan dan penilaiannya?

Antinomi:

Betul apa katamu wahai Paralogos. Tetapi aku juga ingin menyampaikan bahwa peristiwa tertangkapnya Sang Profesor Plagiat dan Guru Pemalsu PAK itu sebenar-benarnya adalah puncak gunung es dari fenomena yang sudah sejak lama melanda masyarakat dan bangsa ini. Itulah yang terjadi bahwa Ruang dan Waktu sebetul-betulnya tidak pernah tidur. Ruang dan Waktu itu sebetulnya selalu memberikan catatan dan penilaian terhadap apapun, kapanpun dan dimanapun. Hanya bagi orang-orang yang ikhlas dan berpikir kritislah yang mampu membaca catatan dan penilaian yang dilakukan oleh Ruang dan Waktu.

Paralogos:

Waha..kalau begitu apa sebetulnya fenomena yang selama ini terjadi?

Antinomi:
Itulah fenomenanya...yaitu pergulatan antara ADA, MENGADA DAN PENGADA. Peristiwa tertangkapnya Sang Profesor Plagiat dan Guru Pemalsu PAK itu adalah puncak gunung es dari pergulatan antara Profesor Ada, Profesor Mengada, dan Profesor Pengada; serta Guru ADA, Guru Mengada dan Guru Pengada.

Paralogos:
Waha...apakah fenomenanya bersifat tunggal atau plural?

Antinomi:

Fenomenanya bersifat plural, yaitu bahwa yang terjadi adalah pergulatan antara ADA, MENGADA DAN PENGADA itu bersifat plural. Maka dibawah gunung es itu ada pergulatan-pergulatan yang lain: pergulatan antara Doktor Ada, Doktor Mengada dan Doktor Pengada; pergulatan antara Dosen Ada, Dosen Mengada dan Dosen Pengada; pergulatan antara Lurah Ada, Lurah Mengada dan Lurah Pengada; pergulatan antara Guru Ada, Guru Mengada dan Guru Pengada; pergulatan antara Pejabat Ada, Pejabat Mengada dan Pejabat Pengada; pergulatan antara Presiden Ada, Presiden Mengada dan Presiden Pengada, pergulatan antara Mahasiswa Ada, Mahasiswa Mengada dan Mahasiswa Pengada; pergulatan antara Suami Ada, Suami Mengada dan Suami Pengada; pergulatan antara semua Ada, semua Mengada dan semua Pengada; dan pergulatan antara setiap Ada, setiap Mengada dan setiap Pengada.

Paralogos:
Heemmm...luar biasa kejadiannya. Aku sebagai Paralogos Sang Diraja nya para Logos saja sempat terlena tidak menyadari fenomena ini, apalagi para logos, apalagi para Bagawat, apalagi para Orang Tua Berambut Putih...Wahai para Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih..kesinilah..sudah saatnya engkau itu melakukan instrospeksi dan memperoleh input yang bermanfaat. Maka marilah kita dengarkan penuturan lebih lanjut dari Sang Antinomi ini. Wahai Sang Antinomi, coba terangkanlah apa sebetulnya yang dimaksud dengan ADA, MENGADA dan PENGADA itu?

Antinomi:
Sebetul-betul MENGADA adalah logos bagi dirimu. Jika ADA adalah tesismu maka MENGADA adalah anti-tesismu. Jika engkau telah mempunya MENGADA maka serta merta wujudmu akan berubah menjadi PENGADA. Janganlah engkau mengharap dapat menjadi PENGADA jika engkau tidak mempunyai MENGADA.

Paralogos:

Sebentar, jika engkau sebut tesis dan anti-tesis maka dimana sintesisnya?

Antinomi:

Jika tesisnya adalah ADA maka anti-tesisnya adalah MENGADA. Jika anti-tesisnya adalah MENGADA maka sintetisnya adalah MENGADA.

Paralogos:

Kalimatmu yang terakhir sangat sulit aku pahami.

Antinomi:

Itulah yang terjadi. Maka sebenar-benar MENGADA adalah sekaligus tesis, anti tesis dan juga sintesis. Sedang sebenar-benar PENGADA adalah anti-tesis dari MENGADA.

Paralogos:

Maksudnya?

Antinomi:

Tidak akan ada PENGADA jika engkau tidak MENGADA.

Paralogos:
Aku masih bingung.

Antinomi:
Itulah yang terjadi, yaitu bahwa PENGADA itu juga sekaligus tesis, anti-tesis dan juga sintesis.

Paralogos:
Baiklah bisakah engkau memberikan contoh konkritnya?

Antinomi:
Misal engkau adalah MAHASISWA yang sedang menempuh perkuliahan. Maka tanda-tanganmu dalam daftar hadir merupakan bukti bahwa engkau itu ADA. Sedangkan kegiatanmu mengerjakan tugas-tugas dari dosenmu itu menunjukkan MENGADA mu. Jika engkau telah membuat tugas-tugas maka itu bukti bahwa engkau telah menjadi PENGADA, yaitu pengada akan tugas-tugasmu.

Paralogos:

Apa ada contoh yang lain?

Antinomi:
Misal engkau adalah seorang Guru, maka Ijazahmu dan penulisan gelarmu di depan namamu itu pertanda bahwa engkau Guru ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatanmu mengajar, menulis dan melakukan Penelitian Tindakan Kelas itu menunjukkan dirimu sebagai Guru MENGADA. Jika engkau terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanmu itulah maka engkau telah mewujudkan dirimu sebagai Guru PENGADA.

Paralogos:
Apa ada contoh yang lain?

Antinomi:

Misal engkau adalah seorang Doktor, maka Ijazahmu dan penulisan gelarmu di depan namamu itu pertanda bahwa engkau Doktor ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatanmu menulis itu menunjukkan dirimu sebagai Doktor MENGADA. Jika engkau terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanmu itulah maka engkau telah mewujudkan dirimu sebagai Doktor PENGADA.

Paralogos:
Apa ada contoh yang lain?

Antinomi:

Misal engkau adalah seorang Professor, maka SK Presiden dan penulisan gelarmu di depan namamu itu pertanda bahwa engkau Profesor ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatanmu menulis itu menunjukkan bahwa engkau Profesor MENGADA. Jika engkau terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanmu itulah maka engkau telah mewujudkan dirimu sebagai Profesor PENGADA.

Paralogos:

Hemmm..kamudian apa masalahnya..bukankah kita sudah cukup bangga karena kita telah mempunyai ADA nya banyak Guru Profesional, ADA nya banyak Doktor, dan ADA nya banyak Profesor?

Antinomi:
Sebentar dulu. Sebuah karya mu itu adalah ADA bagi karya mu. Dan keberadaan sebuah karyamu itu belum tentu MENGADAKAN ..ADA Dirimu dan ADA diri yang lainnya. Jika karyamu itu adalah PLAGIAT atau PALSU maka karyamu itu bukanlah suatau PENGADA mu. Maka sebuah karya mu itu bisa terancam menjadi mitos dan MENIADAKAN dirimu, yaitu jika engkau merasa puas hanya membuat karya-karya PLAGIAT dan memalsukan PAK. Maka nasib dari sebuah karyamu itu persis seperti nasib dirimu yang tidak mengetahui ADA, MENGADA dan PENGADA. Itulah bahwa PLAGIAT itu adalah perilaku sang Paramitos yang mengancam keber ADA mu sebagai Profesor. Itulah bahwa kegiatan memalsukan PAK adalah perilaku sang Paramitos yang mengancam keber ADA mu sebagai Guru. Jika keber ADA mu terancam maka terancam pula MENGADA mu dan PENGADA mu.

Paralogos:
Kemudia bagaimana solusinya?

Antinomi:
Tiadalah ADA dirimu itu tanpa MENGADA dan PENGADA. Maka agar engkau tetap ADA tidak ada jalan lain bagi dirimu untuk selalu MENGADA. Jika engkau telah MENGADA maka PENGADA akan selalu meyertaimu. Tiadalah Profesor ADA tanpa Profesor MENGADA dan Profesor PENGADA. Maka jika ingin tetap menjadi Profesor ADA, tidak ada jalan lain kecuali harus tetap menjadi Profesor MENGADA. Jika engkau telah menjadi Profesor MENGADA maka Profesor PENGADA akan dengan sendirinya menyertaimu. Tiadalah Guru ADA tanpa Guru MENGADA dan Guru PENGADA. Maka jika ingin tetap menjadi Guru ADA, tidak ada jalan lain kecuali harus tetap menjadi Guru MENGADA. Jika engkau telah menjadi Guru MENGADA maka Guru PENGADA akan dengan sendirinya menyertaimu.

Paralogos:
Apakah aku dapat menyimpulkan bahwa sebenar-benar Profesor ADA adalah Profesor MENGADA dan Profesor PENGADA sekaligus? Dan sebenar-benar Guru ADA adalah Guru MENGADA dan Guru PENGADA sekaligus?

Antinomi:
Cerdas pula engkau itu. Itulah harapanku bahwa engkau sebagai partnerku akan selalu bisa memahami dan menyimpulkan fenomena yang ada. Sangat tepatlah kesimpulanmu itu bahwa Profesor ADA itu adalah sekaligus Profesor MENGADA dan Profesor PENGADA. Dan Guru ADA itu adalah sekaligus Guru MENGADA dan Guru PENGADA.

Paralogos:
Sebentar, jangan ditutup dulu. Bukankah di awal pembicaraan kita engkau telah menyebut Profesor PLAGIAT dan Guru Pemalsu PAK? Lalu apa maknanya?

Antinomi:
Profesor PLAGIAT adalah Profesor yang tidak mengenal dirinya sebagai Profesor ADA. Maka dengan sendirinya dia juga tidak mengenal Profesor MENGADA dan Profesor PENGADA? Guru yang memalsukan PAK adalah guru yang tidak mampu mengenal dirinya sebagai Guru ADA. Maka dengan sendirinya dia juga tidak mengenal dirinya sebagai Guru MENGADA dan Guru PENGADA. Kegiatan memalsukan karya tulis apakah itu oleh seorang Profesor Plagiat dan memalsukan PAK oleh seorang guru adalah kegiatan memalsukan dirinya sebagai MENGADA. Itulah peran dan jasa Ruang dan Waktu yang tidak akan pernah lalai mencatat segala perbuatan manusia, bahwa sebenar-benar keber ADA annya adalah SAKSI bagi MENGADA nya. Tidak hanya itu, maka segala YANG ADA dan YANG MUNGKIN ADA juga menjadi SAKSI bagi keber ADA annya dan ke MENGADA nya.

Paralogos:

Kalau begitu apakah Profesor ADA tidak harus menjadi Profesor MENGADA dan Profesor PENGADA? Dan Guru ADA tidak harus menjadi Guru MENGADA dan Guru PENGADA?

Antinomi:

Tidak mengenal itu tidak berarti tidak ada.

Paralogos:

Lho mengapa?

Antinomi:
Itulah kelihaian dan kelembutan Paramitos. Paramitos itu pulalah yang selalu mengajakmu menyesatkan mereka untuk berhenti hanya sebagai Profesor ADA dan Guru ADA saja. Padahal jika hanya sebagai Profesor ADA atau Guru ADA saja, maka akan terancam sebagai Profesor TIDAK ADA dan Guru TIDAK ADA. Jika telah muncul Hukuman ADA atau Pemecatan ADA, maka Hukuman dan Pemecatan MENGADA akan segera MENIADAKAN Profesor Plagiat dan Guru Pemalsu PAK. Maka akan terasa pedih dan perih hukumannya bagi orang-orang yang di anggap TIDAK ADA. Padahal perjuangan mereka masih sangat banyak dan sangat panjang. Maka mereka akan sebenar-benar menjadi Profesor ADA jika mereka selalu berjuang untuk menjadi Profesor MENGADA dan Profesor PENGADA, yaitu dengan memproduksi karya-karyanya yang sesuai dengan hakekat ADA, hakekat MENGADA dan hakekat PENGADA dari segala sesuatu yang ADA dan yang MUNGKIN ADA. Mereka juga akan benar-benar menjadi Guru ADA jika mereka selalu berjuang untuk menjadi Guru MENGADA dan Guru PENGADA dengan cara memproduksi karya-karyanya yang sesuai dengan hakekat ADA, hakekat MENGADA dan hakekat PENGADA dari segala sesuatu yang ADA dan yang MUNGKIN ADA di dunia Pendidikan.

37 comments:

  1. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Obyek filsafat mencakup semua yang ada dan yang mungkin ada. Semua yang ada dan mungkin ada akan selalu melalui proses ADA, MENGADA, dan PENGADA. Tetapi terkadang, manusia mengabaikan hakekat ada, mengada dan pengada pada dirinya (sebagai contoh, ilmuwan plagiat dan guru pemalsu PAK pada elegi ini). Untuk menunjukkan bahwa kita itu ada, maka kita hendaknya melakukan mengada dan menjadi pengada. Mengada adalah melakukan sesuatu yang dapat membuat seseorang itu diaggap ada. Dengan mengada, maka seseorang itu berarti sudah menjadi pengada. Siapapun orang itu, dia harus melakukan mengada dan menjadi pengada agar ia menjadi ada.

    ReplyDelete
  2. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Plagiat berarti pengambilan karangan atau pendapat orang lain dan menjadikan seolah-olah karangan atau pendapatnya itu buatan sendiri. Sebagai contoh menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri. Elegi di atas menjelaskan mengenai maraknya budaya plagiat yang telah merambah ke dunia pendidikan. Sebagai seorang guru atau yang berprofesi apa saja kita tidak boleh melakukan plagiat. Plagiarisme merupakan salah satu tindak kecurangan. Apabila didalam dunia pendidikan ini pendidik sudah melakukan tindakan plagiat lalu mau jadi seperti apa pendidikan di Negara kita ini. Selain merugikan orang lain, orang yang melakukan tindakan plagiat juga akan memperoleh balasan yang sepadan dengan perilakunya.

    ReplyDelete
  3. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Banyak sekali guru, mahasiswa, dosen, bahkan profesor sekalipun yang tidak terlepas dari tindakan plagiat. Padahal dengan berbagai ilmu yang dimilikinya dari hasil pendidikannya, haruslah dapat menunjang kemampuan yang dimilikinya untuk dapat berkarya dalam bidangnya maupun dalam bidang lainnya. Dalam hal ini, dapat kita ingat kembali mengenai ada, mengada, dan pengada. Untuk mengeksiskan keberadaan kita yakni kita ada, seorang guru ada, karena dia memiliki ijazah maupun sertifikat pendidikan gurunya atau bidang lainnya. Tetapi guru ada haruslah dibarengi dengan guru mengada, yaitu guru melaksanakan kegiatan-kegiatan pembelajaran, mengembangkan media, bahan ajar maupun asesmennya. Dengan sendirinya guru tersebut dapat dikatakan guru pengada bagi karya-karya yang dihasilkannya.

    ReplyDelete
  4. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Dapat kita garis bawahi, bahwa banyaknya kasus plagiat yang saat ini sering terjadi, dikarenakan guru hanya fokus pada guru ada, tetapi tidak menghiraukan guru mengada. Padahal dengan mengada, maka guru dapat memperkokoh keberadaanya dan sekaligus menjadikannya sebagai guru pengada. Proses lebih penting daripada hasil yang dicapainya. Yang terpenting kita harus berusaha yang terbaik untuk menunjukkan kemampuan kita dalam berkarya, insyallah hasil yang kita dapatpun akan senantiasa mencerminkan kegigihan dan usaha yang telah kita lakukan. Kerja keras dan usahamu tidak akan pernah sia-sia. Do the best be the best!

    ReplyDelete
  5. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Tidaklah cukup untuk dengan ADA saja. Hal itu akan dimintakan pertanggungjawaban melalui MENGADA dan PENGADA. Tetapi jangan lantas sempit mengartikan bahwa hal itu dapat ditempuh dengan segala macam cara, seperti plagiat atau melakukan pemalsuan. Jika kita menggunakan cara – cara kotor, hal itu akan merugikan orang lain dan juga diri sendiri. Tentu saja jabatan yang kita peroleh tidak berkah, demikian juga dengan ilmu dan gaji.

    ReplyDelete
  6. Nahrul Pintoko Aji
    14301244008
    Pendidikan Matematika A 2014

    Kita terlihat Ada, tapi sebenarnya tiada. Yang Ada terlihat tiada karena terlihatnya yang ada.

    ReplyDelete
  7. Nahrul Pintoko Aji
    14301244008
    Pendidikan Matematika A 2014

    Sebgai manusia kita perlu belajar untuk memahami ketiadaan kita. Pembelajaran bisa diperoleh dengan melihat alam dan memahaminya sebagai perumpamaan dari ketiadaan kita. Ini kita lakukan agar menjadi makhluk yang tak rakus lagi,setelah melihat ketakberdayaan kita atas yang maha berdaya.

    ReplyDelete
  8. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Sama halnya dengan kalimat
    “Maka mereka akan sebenar-benar menjadi guru ADA jika mereka selalu berjuang untuk menjadi guru MENGADA dan guru PENGADA, yaitu dengan memproduksi karya-karyanya yang sesuai dengan hakekat ADA, hakekat MENGADA dan hakekat PENGADA dari segala sesuatu yang ADA dan yang MUNGKIN ADA.
    Hal ini sama dengan sebenar-benarnya menjadi siswa ADA jika mereka selalu berjuang untuk menjadi siswa MENGADA dan siswa PENGADA, yaitu dengan memproduksi karya-karyanya yang sesuai dengan hakekat ADA, hakekat MENGADA dan hakekat PENGADA dari segala sesuatu yang ADA dan yang MUNGKIN ADA.
    Mulai dari penyelesaian tugas dan pembuatan hasil karya sebagai wujud MENGADA dan PENGADA.

    ReplyDelete
  9. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Semua pekerjaan pada dasarnya membutuhkan profesionalisme. Elegi tersebut mengingatkan kita bahwasannya dalam kehidupan tak jarang ditemukan adanya ketidakprofesionalan dalam bekerja. Sering ditemukan adanya kasus plagiarisme dan pemalsuan ijazah demi mempertahankan pekerjaannya. Berbagai upaya pun dilakukan untuk menghalalkan segala cara. Oleh karena itu, sebagai calon pendidik pun harus memahami bahwa menjadi seorang pendidik diperlukan profesionalisme. Menjadi seorang pendidik/guru tidak hanya sekedar menyampaikan ilmu, namun dipundaknya telah diamanahkan tanggung jawab untuk mendidik siswa secara menyeluruh, baik spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan.

    ReplyDelete
  10. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu'alaikum. Plagiat dan pemalsuan yang dilakukan dengan alasan apapun itu merupakan sebuah kesalahan dan dosa yang tidak boleh dilakukan. Plagiat dan pemalsuan tidak menghargai apa yang telah dilakukan orang lai dan termasuk pembohongan publik. Plagiat dan pemalsuan tentu merugikan orang lain dan diri sendiri, serta meruapak suatu kebiasaan yang hendaknya dihilangkan sebab sama aja melakukan pencurian terhadap pemikiran orang lain.

    ReplyDelete
  11. Jeanete Nenabu
    15709251004
    PPS Pend. Matematika D

    Elegi ini kembali mengingatkan tentang Ada, Mengada dan Pengada. Sebagai manusia sudah tentu untuk membuktikan kalau manusia itu ada haruslah melakukan kegiatan mengada dan menjadi seorang pengada. Namun, jika tidak waspada, bisa saja menjadi seorang yang melakukan plagiat. Belajar untuk terus mengingat dan mengenali diri sebagai seorang yang ada, mengada dan pengada itu penting.

    ReplyDelete
  12. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPs Pendidikan Matematika 2016 Kelas D

    Plagiat atau pemalsu kasarannya adalah perbuatan yang kurang baik untuk ditiru. Begitupun seorang guru , sebagai manusia/guru kita harus mengada agar kita diakui keadaannya. Namun jika kita ersesat dan melenceng, maka kita hanya akan menjadi pengada yang plagiat.

    ReplyDelete
  13. Tahtalia
    14301241031
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Plagiat, sesuatu yang tidak asing lagi bagi kita. Dalam dunia pendidikan sekalipun. Sebagai seorang guru sudah seharusnya memberikan teladan yang baik bagi muridnya, bukan malah memberikan contoh yang tidak baik seperti plagiarisme. Ketika dosen/guru memiliki sikap plagiarisme, apa yang bisa dicontoh atau ditiru peserta didik dari seorang dosen/guru yang selama ini memberikan ilmu pengetahuan dan pembelajaran.
    Apalah arti sebuah gelar dan pangkat yang tinggi jika diri kita saja tidak bisa bertindak jujur.

    ReplyDelete
  14. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Sifat manusia yang selalu tergesa-gesa dan tidak sabaran menyebabkan manusia ingin serba instan. Dengan adanya sifat manusia yang serba ingin instan maka apaun akan dilaksanakan, baik itu palgiat ataupun pemalsuan, hal yang terpenting adalah bagaimana dia mencapai tujuannya. Cara mencapai tujuan itu baik atau buruk itu tidak penting. Maka dengan adanya sifat manusia yang selalu ingin instan dan tergesa-gesa maka dalam dunia ini digolongkan manusia itu menjadi tiga yakni MANUSIA ADA, MANUSIA MENGADA dan MANUSIA PENGADA.

    ReplyDelete
  15. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Elegi di atas terkait dengan ada, mengada dan pengada. Hakikat sang ilmuwan plagiat adalah ilmuwan yang tidak mengenal dirinya sebagai ilmuwan ada. Maka dengan sendirinya dia juga tidak mengenal ilmuwan mengada atau pengada. Hakikat guru pemalsu PAK adalah guru yang tidak mampu mengenal dirinya sebagai guru ada. Maka dengan sendirinya dia juga tidak mengenal dirinya sebagai guru mengada dan pengada. Jadi bahwa sebenar-benar keberADAannya adalah saksi bagi mengadanya. Maka dari itu aku tidak akan bisa menunjuk siapa diriku.

    ReplyDelete
  16. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sebenar-benarnya title manusia, dalam portal ini professor dan guru adalah harus ada, menga, dan pengada. Sehinnga jika ada professor plagia atau guru pemalsi pak mereka bukan sebenar-benarnya professor atau guru. Yang harus sesuai dengan titlenya. Tidak pengada ada untuk mengambil titlenya. Tidak mengada-ngada Ada dirinya.

    ReplyDelete
  17. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Kesimpulannya adalah untuk menunjukkan dirimu dengan sesungguh-sungguhnya, berperilakulah sesuai dengan dimensimu, tidak mengada-ngada berperilaku bak petinggi dimensi tertinggi.

    ReplyDelete
  18. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Ada tesis, maka ada pula anti tesis. Segala hal yang terjadi ada yang baik dan ada yang buruk. Salah satu kegiatan yang buruk yaitu dengan plagiat. Plagiat sama halnya dengan menipu diri sendiri, orang lain, dan menipu Tuhan. Hidup tidak akan tenang dan gelisah. Maka semoga kita semua dapat menghindari plagiat dan lebih percaya kepada hasil karya sendiri bagaimanapun bentuk dan hasilnya. Dengan demikian tidak akan menjadi pribadi yang hanya bermental instant tetapi juga menjadi pribadi yang pekerja keras dan jujur dalam situasi apapun yang dihadapi. Tidak mudah memang, tetapi marilah bersama – sama untuk menghindari plagiat dan segala bentuk pemalsuan.

    ReplyDelete
  19. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Kesimpulan yang saya dapat dari perbincangan antimoni dan paralogos mengarah pada tanggungjawablah yang membuat sesuatu yang Ada menjadi Pengada dengan Mengada tugasnya. Atau dengan mengada tugas atau kewajiban, sesuatu menjadi Pengada dan akan dianggap Ada dengan sebenar-benarnya.
    Jika sesuatu yang Ada tersebut tidak Mengada tanggungjawabnya dengan benar, sama saja keberAdaannya tidak bisa diperhitungkan dan dapat dianggap tidak ada secara hakikat. Seharusnya sang imuwan plagiat dan guru pemalsu pak malu dengan pengakuan keberAdaannya, jika mereka tahu apa yang diperbincangkan si antimoni dan paralogos.

    ReplyDelete
  20. Ajeng Puspitasari / 14301241005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Salah satu makna yang dapat saya ambil dari tulisan di atas ialah bahwa kita telah 'ada'. Bagi saya pribadi, saya 'ada' sebagai seorang mahasiswa. Namun, rasa puas dan bangga akan 'ada' tidaklah cukup karena harus diimbangi dengan 'mengada' dan mewujudkan diri sebagai 'pengada'. Sesungguhnya, ketika kita melatih diri untuk tetap 'ada', 'mengada', dan 'pengada', maka kita pun telah memupuk diri agar kelak juga menjadi seorang guru yang tidak hanya puas dengan 'ada', dan yang tidak puas hanya menjadi seorang plagiarisme.

    ReplyDelete
  21. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Plagiat merupakan kegiatan meniru, menjiplak dan menggunakan karya orang lain tanpa mencantumkan identitas pembuatnya. Hal semacam itu banyak dijumpai diseluruh lapisan masyarakat, salah satunya adalah orang-orang yang bekerja di bidang pendidikan. Guru sebagai salah satu pendidik hendaknya menghindari perilaku tersebut.

    ReplyDelete
  22. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi di atas menjelaskan mengenai budaya plagiat yang telah merambah ke dunia pendidikan. Plagiarisme merupakan suatu tindak kecurangan yang sering dilakukan dan bahkan telah membudaya. Dalam mencapai tujuan, tak jarang sebagian orang mengambil jalan pintas untuk mencapainya. Di dunia pendidikan sering kita temukan budaya copy paste. Mereka memanfaatkan karya-karya orang lain untuk dijadikan karyanya. Hal tersebut sungguh mencerminkan moral yang buruk.

    ReplyDelete
  23. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Plagiarisme ini tak hanya dilakukan oleh peserta didik, golongan pendidik pun tak jarang berlaku curang seperti ini. Penguatan karakter perlu ditanamkan baik dalam diri peserta didik maupun pendidik. Sebab keduanya harus saling bersinergi untuk mencapai tujuan pendidikan.

    ReplyDelete
  24. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Hal menarik dari elegi di atas yaitu mengenai ada, mengada, dan pengada. Disebutkan bahwa “Misal engkau adalah seorang Guru, maka Ijazahmu dan penulisan gelarmu di depan namamu itu pertanda bahwa engkau Guru ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatanmu mengajar, menulis dan melakukan Penelitian Tindakan Kelas itu menunjukkan dirimu sebagai Guru MENGADA. Jika engkau terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanmu itulah maka engkau telah mewujudkan dirimu sebagai Guru PENGADA.” Pernyataan tersebut mengingatkan kita mengenai realita pendidikan sekarang yang kerap kita temui ketidakprofesionalan seorang pendidik. Profesi yang dimiliki memang ada, namun terkadang gelar ‘ada’ tidak diimbangi dengan mengada dan pengada. Oleh karena itu diperlukan adanya suatu kesadaran dari masing-masing komponen pendidikan untuk selalu berkarya dengan hasil usaha sendiri.

    ReplyDelete
  25. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Plagiasi atau biasa disebut plagiat memang kini marak dilakukan oleh beberapa orang. jika ingin mengutip karya orang lain maka harus dengan aturan yang sudah ditentukan dan tak lupa mencantumkan sumber. karena tanpa mencatumkan sumber maka akan dinamakan plagiat. karena menggunakan karya orang lain tanpa ada sumber asli yang tercantum.

    ReplyDelete
  26. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sebagai seorang panutan bagi siswa, seorang pendidik diharuskan untuk tidak plagiarisme karena hal tersebut merupakan perbuatan yang tidak mengapresiasi usaha orang lain. Namun bukan hanya guru saja melainkan semua orang baik siswa maupun masyarakat untuk tidak melakukan plagiarisme.

    ReplyDelete
  27. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Tiadalah ADA tanpa adanya MENGADA dan PENGADA. Pengada akan muncul dari adanya Mengada. Begitu pula ADA adalah akibat dari MENGADA dan PENGADA. Jadi ADA, MENGADA dan PENGADA adalah 3 hal yang tidaklah bisa untuk dipiahkan karena ketiganya saling terkait dan saling terhubung. Seperti dalam elegi ini yang membahas mengenai plagiat. Plagiat muncul karena seseorang tidak yakin dengan apa yang dilakukan atau dibuatnya sehingga ia melakukan peniruan terhadap sesuatu hal yang telah diakui. Untuk menghindai adanya plagiat adalah dengan yakin apa yang kita buat dan juga jika kita memiliki acuan maka sebutkan acuan tersebut sebagai sumbernya agar tidak disebut sabagai seorang plagiat.

    ReplyDelete
  28. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sebagai seseorang yang terpelajar, baik ilmuan ataupun guru hendaknya memiliki dan menanamkan sifat ilmiah yang selalu diajarkan sejak berada dibangku sekolah. Kegiatan plagiarism merupakan kegiatan yang sangat tidak dianjurkan, karena hal itu hanya akan merugikan pembuat/pencipta/penulis utama yang telah mengorbankan seluruh jiwa raga hanya untuk membuat karya tersebut.

    ReplyDelete
  29. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Jika sebagai seorang pendidik saja sudah memalsukan sesuatu lalu bagaimana anak didiknya kelak. guru adalah dgugu dan ditiru. oleh karenanya bersikap baik sebagai seorag guru adalah kewajiban. agar anak didik bangsa kii kelas juga menjadi pribadi yang baik dan jujur.

    ReplyDelete
  30. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi di atas mengisahkan tentang ADA, MENGADA, dan PENGADA. Ketiganya adalah satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan. Kita dapat disebut ada saat kita sudah mampu membuat suatu karya yang bermanfaat untuk orang lain. Disaat kita membuat, itulah yang dinamakan MENGADA, dan kita bisa disebut PENGADA saat itu juga.

    ReplyDelete
  31. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Seseorang yang memplagiat karya orang lain secara tidak langsung sudah mendeklarasikan dirinya sebagai seorang yang tidak ada. Hal tersebut dikarenakan orang tersebut belum paham betul tentang makna ada, mengada, dan pengada dimana ketiganya merupakan satu kesatuan yang utuh. Sedangkan seorang plagiat tersebut tidak mengada, karena ia hanya menjiplak, meniru karya orang lain.

    ReplyDelete
  32. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Berdasarkan tulisan di atas, yang dapat saya ambil pelajaran adalah kita mestinya selalu mengintrospeksi diri kita sendiri dan menetapkan batasan diri agar tidak melakukan hal-hal yang tidak diharapkan. Sesungguhnya ilmuwan yang plagiat itu ilmuan yang tidak mengenali bahwa dirinya sendiri itu ada.

    ReplyDelete
  33. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Berdasarkan elegi diatas bahwasanya plagiat sudah merambah ke dunia serta bisa dilakukan oleh siapa saja termasuk contoh diatas (ilmuan plagiat dan guru pemalsu PAK). Padahal guru atau dosen memiliki tanggung jawab pembelajaran dari ilmu yang dimilikinya, bukan dari hasil plagiat. Filsafat bisa memunculkan banyak ide ide baru karena memiliki konsep berfikir yang ada dan mungkin ada, maka munculah Mengada Pengada dan Ada.

    ReplyDelete
  34. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Guru, dalam bahasa Jawa dapat berarti digugu dan ditiru. Artinya, guru itu sebagai role model, guru itu menjadi panutan bagi muridnya. Elegi tersebut menceritakan kelakuan dosen dan guru yang tidak patut ditiru, demi untuk mendapatkan kesenangan yang semu.

    ReplyDelete
  35. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Guru, digugu dan ditiru. Seorang dosen yang plagiat? Seorang guru yang memalsukan? Tidakkah keduanya berhubungan?
    Guru pasti pernah menjadi murid dari dosen, yang artinya bahwa dosen adalah guru bagi guru. Maka akan sesuai dengan "pepatah" Jawa yang mengatakan guru itu digugu dan ditiru. Kelakuan guru (dosen) yang tidak baik akan melahirkan murid (guru) yang tidak baik pula. Begitulah seterusnya akan berlangsung.

    ReplyDelete
  36. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Ada, mengada, dan menjadi pengada, itulah proses yang harus ditempuh. Guru merupakan seorang pengada. Guru dikatakan mengada bila ia telah menghasilkan suatu karya. Bila ia tidak menghasilkan karya, maka ia tak akan disebut sebagai seorang pengada. Sebagai pengada, dibutuhkan suatu kreatifitas yang tinggi.

    ReplyDelete
  37. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Selain itu juga diperlukan adanya upaya dan usaha dalam mencapai pengada. Adanya kerjasama juga dapat membantu dalam menjadikan guru sebagai seorang pengada. Sehingga ia tidak akan menjadi penjiplak.

    ReplyDelete