Oct 15, 2010

Elegi Pemberontakan Para Obyek




Oleh: Marsigit

Obyek satu:
Wahai subyekku, sungguh hebatlah engkau itu. Sungguh perkasalah engkau di situ. Sungguh digdayalah engkau di situ. Sungguh besarlah engkau di situ. Sungguh tinggilah engkau di situ. Sungguh kuasalah engkau di situ. Sungguh dominannya engkau di situ. Sungguh rapatlah engkau di situ. Sungguh solidlah engkau di situ. Sungguh tegarlah engkau di situ. Sungguh menentukanlah engkau di situ. Tetapi juga sungguh menakutkanlah engkau di situ. Janganlah engkau bergerak atau berucap. Engkau di situ terdiam saja aku sungguh takut terhadap dirimu. Aku merasa lemah di dekat dirimu. Aku merasa kecil di dekat dirimu. Aku merasa rendah di dekat dirimu. Aku merasa tertutup di dekat dirimu. Aku merasa kacau dan berantakan di dekat dirimu. Aku merada ciut nyaliku di dekat dirimu. Aku merasa tidak dapat berbuat apa-apa di dekat dirimu. Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu adalah determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu.


Obyek dua:
Wahai obyek satu, sungguh hebatlah engkau itu. Aku merasa tidak dapat berbuat apa-apa di dekat dirimu. Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu adalah determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu.

Obyek ketiga:
Wahai obyek dua, sungguh hebatlah engkau itu. Aku merasa tidak dapat berbuat apa-apa di dekat dirimu. Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu adalah determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu.
.... dst

Obyek ke n:
Wahai obyek ke n-1, sungguh hebatlah engkau itu. Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu adalah determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu.

Obyek ke n masih ingin bicara:
Wahai obyek ke 1, obyek ke 2, obyek ke 3, obyek ke 4, ...obyek ke n-1, sungguh hebatlah engkau itu. Sungguh perkasalah engkau di situ. Sungguh digdayalah engkau di situ. Sungguh besarlah engkau di situ. Sungguh tinggilah engkau di situ. Sungguh kuasalah engkau di situ. Sungguh dominannya engkau di situ. Sungguh rapatlah engkau di situ. Sungguh solidlah engkau di situ. Sungguh tegarlah engkau di situ. Sungguh menentukanlah engkau di situ. Tetapi juga sungguh menakutkanlah engkau di situ. Janganlah engkau bergerak atau berucap. Engkau di situ terdiam saja aku sungguh takut terhadap dirimu. Aku merasa lemah di dekat dirimu. Aku merasa kecil di dekat dirimu. Aku merasa rendah di dekat dirimu. Aku merasa tertutup di dekat dirimu. Aku merasa kacau dan berantakan di dekat dirimu. Aku merada ciut nyaliku di dekat dirimu. Aku merasa tidak dapat berbuat apa-apa di dekat dirimu. Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu semua adalah determinis-determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu semua adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu semua. Ya Tuhan betapa sengsara hidupku ini. Kenapa semua yang ada di sekitarku bersifat mengendalikanku. Kenapa yang ada di sekitarku selalu menimpakan sifat-sifatnya kepadaku. Kenapa aku tidak dapat menunjuk sifat-sifatku walau sebuahpun. Maka sebenar-benar diriku itu adalah sudah tiada. Tiadalah diriku. Tiadalah pikiranku. Tiadalah hatiku. Tiadalah jiwaku. Tiadalah jati diriku. Dan tiadalah identitasku. Maka senyata-nyatanya semua yang ada disekitarku adalah monster-monster pemangsa sifat-sifatku. Apakah masih ada makhluk yang dapat aku ajak bicara?

Orang tua berambut putih datang:
Akulah orang yang selalu muncul pada setiap pertanyaan. Karena sebetul-betul diriku adalah ilmumu. Boleh yang lain habis dan lenyap dari dirimu. Tetapi selama engkau masih mampu bertanya, maka dirikulah yang masih tersisa.

Obyek ke n:
Wahai orang tua berambut putih. Apakah engkau mendengar semua kalimat dan percakapanku? Jika ya maka bagaimanakah kelanjutan diriku itu. Kemudian apa pula yang harus aku lakukan.

Orang tua berambut putih:
Betul katamu. Aku mendengar semua yang engkau katakan. Inilah kesaksianku, bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa semua ucapan-ucapanmu itu hanyalah berkenaan dengan hubungan antar sifat-sifat. Subyek akan selalu menimpakan sifat-sifat kepada obyeknya, baik disengaja maupun tidak disengaja. Maka sebenar-benar untung adalah menjadi subyek, dan sebenar-benar rugi adalah menjadi obyek.

Obyek ke n:
Siapakah sebenarnya subyek dan obyek itu?

Orang tua berambut putih:
Subyek adalah mereka yang berkuasa. Sedangkan obyek adalah mereka yang dikuasai.

Obyek ke n:
Contoh kongkritnya?

Orang tua berambut putih:
Si kaya adalah subyek, sedangkan obyeknya adalah si miskin. Si tua adalah subyek, sedangkan si muda adalah obyeknya. Si pemodal adalah subyek, sedangkan si peminjam adalah obyeknya. Si bapak adalah subyek, sedangkan si anak adalah obyeknya. Si dosen adalah subyek, sedangkan si mahasiswa adalah obyeknya. Si guru adalah subyek, sedangkan si siswa adalah obyeknya. Si mobil adalah subyek, sedangkan si montor adalah obyeknya. Si lurah adalah subyek, sedangkan si carik adalah obyeknya. Si canggih adalah subyek, sedangkan si tradisional adalah obyeknya. Si mahal adalah subyek, sedangkan si murah adalah obyeknya. Si bicara adalah subyek, sedangkan si diam adalah obyeknya. Si banyak adalah subyek, sedangkan si sedikit adalah obyeknya. Si ketua adalah subyek, sedangkan si anggota adalah obyeknya. Si cantik adalah subyek, sedangkan si tidak cantik adalah obyeknya. Si banyak teman adalah subyek, sedangkan si sedikit teman adalah obyeknya. dst.dst.

Obyek ke n:
Jikalau aku ingin jadi subyek, maka siapakah obyekku itu?

Orang tua berambut putih:
Sayangnya tiadalah sesuatupun bersedia menjadi obyekmu.

Obyek ke n:
Ini tidak adil. Aku harus tuntut keadilan. Aku ingin memberontak. Mereka dan aku toh sama-sama makhluk hidup. Mengapa mesti aku dan mereka mempunyai nasib yang berbeda. Aku ingin merdeka dari segala sifat yang menimpaku.

Orang tua berambut putih:
Inilah kesaksianku. Aku benar-benar telah menyaksikan dirimu telah menjadi subyek. Sedangkan obyeknya adalah keinginanmu untuk merdeka.

36 comments:

  1. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari elegi tersebut, hal yang dapat saya pahami adalah bahwa manusia selalu merasa tidak puas. Manusia selalu melihat ke atas, hingga yang timbul hanyalah rasa iri dan ingin menyaingi. Melihat ke atas memang perlu untuk menjadi pemacu diri agar senantiasa giat dalam beribadah kepada Allah. namun untuk urusan duniawi, akan lebih bijak jika kita memandang ke bawah agar selalu bersyukur.

    ReplyDelete
  2. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari elegi di atas, terlihat bahwa obyek yang juga merupakan subyek itu selalu merasa kurang, dia selalu merasa berada di bawah. Hal itulah yang membuat dia bertanya bagaimana untuk mejadi subyek, dia tidak ingin menjadi obyek dari yang lain. Artinya, jika kita selalu melihat ke atas, maka sesungguhnya ketidaktentraman jiwa akan selalu menghantui. Karena akan selalu ada langit di atas langit

    ReplyDelete
  3. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Filsafat Pendidikan Matematika 2013

    Setelah membaca elegi mengenai subyek dan obyek ini bisa diketahui bahwa seorang subyek pun bisa menjadi obyek dari subyek yang lain. Obyek yang mengetahui akan merasa subyek itu lebih hebat dan ingin seperti subyek. Namun obyek yang memahami akan mengerti bahwa sebagai obyek juga bisa menjadi subyek bagi obyek yang lain.

    ReplyDelete
  4. Endryana Listyarini
    14301241034
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Antara subyek dan obyek sangatlah berkaitan dan ketergantungan. Subyek bisa menjadi baik ataupun buruk kepada obyek. Subyek yang buruk akan selalu mempengaruhi dan menguasai si obyek dan obyek pun akan dalam kendalinya. Kalaupun obyek tidak ingin dijadikan kendali si subyek, maka subyek tersebut tidak bisa dikatakan sebagai “real subyek” karena subyek tidak memiliki obyek.

    ReplyDelete
  5. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    S2 Pendidikan Matematika D

    Berbicara masalah objek dan subjek akan sangat menarik untuk diperbincangkan. Karena dengan adanya subjek dan objek maka akan terdapat sebuah filsafat. Subjek dan objek juga sangat berhubungan dengan dunia ini. Karena dunia terdri dari subjek dan objek yang di ciptakan oleh Allah. Mengenai pemberontakan objek dan subjek sangat lah mungkin mereka berontak karena subjek objek itu tidak sempurna, pasti ada kekeurangan dari mereka masing-masing. Akan tetapi bisa di minimalisirkan pemeberontakan mereka dengan adnaay salaing pengertian antara subjek dan objek itu sendiri

    ReplyDelete
  6. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Subjek ini aka nada bila ada objek. Hal ini karena adanya objek, maka subjek ini mempunyai kuasa atau dengan kata lain subjek adalah mereka yang berkuasa, sedangkan obyek adalah mereka yang dikuasai. Antara subyek dan obyek ini saling melengkapi. Dalam pembelajaran, guru merupakan subjek dan siswanya ialah objek. Antara guru dan siswa akan saling melengkapi. Adanya guru ini bertugas sebagai seorang fasilitator. Sehingga siswa akan dapat bekerja dan belajar dengan kondusif dan menyenangkan.

    ReplyDelete
  7. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    objek adalah sebuah konsep, abstraksi atau sesuatu yang diberi batasan jelas dan dimaksudkan untuk sebuah aplikasi. sebuah objek adalah suatu yang mempunyai keadaan, perilaku, dan identitas. Keadaan dari objek adalah satu dari kondisi yang memungkinkan dimana objek dapat muncul, dan dapat secara normal berubah berdasarkan waktu. sebagai guru, maka objeknya adalah siswa kita. akan tetapi meskipun siswa adalah objek dari gurunya, kita hendaknya tidak sewenang-wenang mengatur, menindas, dan memperlakukan semau kita. Kita harus berbuat baik kepadanya dengan mentransfer ilmu, karena guru dapat menjadi subjek karena siswanya menjadi objek.

    ReplyDelete
  8. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Kehidupan yang kita jalani sampai saat ini tentu tidak terlepas dari tindakan yang kita lakukan terhadap suatu hal. Kita atau orang yang melakukan sesuatu disebut sebagai subyek. Siapa atau apa yang kita targetkan dari tindakan kita disebut sebagai obyek. Dari Elegi Pemberontakan para beda yang Prof. tuliskan di atas, dapat saya ambil pelajaran bahwa tudak adalah yang lebih berkuasa di dunia ini kecuali Allah SWT. Meskipun kita bisa menganggap diri kita sebagai subyek, tetapi, kita pun merupakan obyek dari apa yang Allah SWT inginkan. Oleh kerana itu, tidak sepantasnya kita sebagai makhlukNya untuk berperilaku sombong, bahkan meremehkan, menindas, ataupun berkuasa terhadap orang lain.

    ReplyDelete
  9. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    "Subyek adalah mereka yang berkuasa sedangkan obyek adalah mereka yang dikuasai". Terlepas dari hubungan subyek-obyek si kaya dan si miskin, hubungan subyek-obyek si canti dan si tidak cantik, dan seterusnya. Pada akhirnya setiap diri bisa menjadi subyek maupun obyek. Menjadi subyek atas orang lain sebagai obyek maupun menjadi obyek atas orang lain sebagai subyek. Atau malah sebagai subyek dan obyek dalam satu diri manusia, "Aku benar-benar telah menyaksikan dirimu telah menjadi subyek. Sedangkan obyeknya adalah keinginanmu untuk merdeka". Oleh karena itu, alangkah lebih baik jika kita berkedudukan sebagai subyek yang menguasai untuk senantiasa bertindak bijaksana. Sang guru dan si murid, ada kalanya sang guru harus memberikan ruang si murid untuk menjadi subyek, paling tidak untuk dirinya sendiri. Sang murid, hendaklah belajar menciptakan obyek yang positif di dalam dirimu, munculkan keinginan untuk berprestasi, keinginan untuk rajin membaca referensi, dan lainnya. Sesungguhnya dunia itu adalah diri kita masing-masing.

    ReplyDelete
  10. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Saya tertarik pada kalimat "Subyek adalah mereka yang berkuasa sedangkan obyek adalah mereka yang dikuasai". Menurut saya, dalam hidup ini hendaknya yang menjadi subyek adalah diri kita dan nafsu kita adalah obyeknya. Artinya, diri kitalah yang harus menguasai nafsu kita, bukan malah sebaliknya, nafsu yang menguasai diri kita. Ketika nafsu sudah menguasai diri, maka akan muncul sifat-sifat yang jauh dari Tuhan. Perbuatan-perbuatan tercela yang dilakukan manusia sebenarnya terjadi karena nafsu yang tidak bisa dikuasi, seperti malas beribadah, boros, egois, keinginan untuk kaya tetapi tidak mau bekerja, dan lain-lainnya. Akan tetapi jika kita dapat menguasai nafsu yang ada di dalam diri kita, maka ridho-Nya pun akan menjadi nyata.

    ReplyDelete
  11. Assalamu'alaikum wr.wb.

    Subyek adalah mereka yang berkuasa, sementara objek adalah mereka yang dikuasai. Orang berambut putih adalah ilmu pengetahuan. Diri kita adalah subyek sementara hawa nafsu adalah objeknya. Maka kita harus bisa mengendalikan objek dengan sebaik-baiknya, agar antara subjek dan objek tetap harmonis.

    Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    ReplyDelete
  12. Gamarina Isti R
    17790251036
    Pendidkan Matematika Kelas B

    Subjek adalah mereka yang berkuasa sedangkan objek adalah mereka yang dikuasai. Contohnya dalam pembelajaran adalah guru adalah subjek sedangka siswa adalah objekya. Subjek akan selalu menimpakkan sifat-sifatnya kepada objeknya, maka akan lebih menguntungkan subjek dari pada objek. Refleksinya adalah saat menjadi seorang guru dia dapat menimpakan sifat-sifatnya kepada siswa dan menjadi teladan oleh siswa. Oleh karena itu sebagai seorang guru kita harus menjaga setiap tata krama, kelakuan, dan pemikiran, karena hal itu akan dapat mempengaruhi siswa secara langsung.

    ReplyDelete
  13. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Pelajaran yang dapat saya peroleh setelah membaca “Elegi Pemberontakan Para Obyek“ adalah janganlah menjadi orang yang berpikir bahwa dia tak berguna. Raihlah semua cita-citamu setinggi langit, biarlah orang berkata apa dan buktikan bahwa kita bisa. Ya kita boleh memandang orang lain itu lebih tinggi dari kita, untuk memotivasi kita menjadi hal yang lebih baik. Namun janganlah menjadi orang yang rendah diri dan berpikir negatif terhadap diri kita sendiri.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  14. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu’alaikum wr. wb
    Di dalam kehidupan ini pasti akan ada yang menjadi subyek dan obyek. Subjek merupakan penguasa yang dapat mengatur dan objek adalah yang dikuasai atau yang diatur. Akan tetapi, pelajaran yang dapat kita ambil dari percakapan tersebut, jika kita merasa menjadi obyek dan merasa menjadi manusia yang paling tidak beruntung, kita masih tetap bisa menjadi subyek dengan catatan kita harus bisa mengendalikan diri sendiri untuk bangkit dan semangat berjuang agar bisa menjadi subyek dan memiliki obyek.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  15. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Sebagai seorang calon guru nantinya saya akan menjadi subjek bagi murid- murid saya. Menjadi subjek adalah suatu ujian Allah SWT kepada kita. Karena subjek merupakan mereka yang kuasa. Dan kuasa itulah ujian yang Allah berikan. Karena ujian bagi mereka yang berkuasa adalah menggunakan kekuasaan tidak sesuai tempatnya. Maka kekuasaan itulah terkadang menjadi ladang pahala dan terkadang menjadi ladang dosa. Maka ujian bagi para subjek adalah menggunakan kekuasaannya agar bermanfaat bagi para objek. Sebagaimana ujian bagi para guru adalah menggunakan kekuasaannya untuk memfasilitasi para objeknya dalam belajar.

    ReplyDelete
  16. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Salah satu hal utama yang diperlukan agar lahirnya kedamaian di dunia ini adalah keadilan. Para penguasa harus bertindak adil terhadap orang-orang yang dikuasainya dan orang-orang yang dikuasai jangan hanya pasrah terhadap perlakuan yang diterima karena sebenar-benarnya keberanian orang yang dikuasai adalah ketakutan bagi penguasanya.

    ReplyDelete
  17. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Subjek dianggap sebagai subjek ketika ia memiliki objek. Objek dianggap objek ketika ia memiliki subjek. Tiadalah subjek tanpa objek, tiada pulalah objek tanpa subjek. Subjek dan objek merupakan sesuatu yang saling berhubungan. Oleh karena itu keduanya harus melaksanakan tugas dan kewajibannya secara proporsional dan sesuai pada tempatnya. Semua yang ada dan yang mungkin ada dalam kehidupan ini adalah subjek dan objek bergantung pada ruang dan waktu. Dan setinggi-tingginya subjek dalam kehidupan ini adalah Allah SWT Yang Maha Kuasa. Janganlah kita berbuat sombong dan berusahalah terus untuk menggapai ridho Allah SWT.

    ReplyDelete
  18. Indah Purnama Sari
    17701251035
    PEP B 2017

    masing-masing dari kita adalah subjek dan objek. kita bakal menjadi objek ketika orang lain menilai kita. dan kita menjadi objek ketika kita menilai orang lain. hidup itu balance tidak hanya soal selalu menilai tapi juga dinilai. tidak hanya melulu menjadi yang diatas tapi pasti pernah menjadi yang dibawah. sebelum menjadi guru kita pernah menjadi murid. sebelum menjadi dewasa kita pernah menjadi remaja.
    maka hiduplah sesuai dengan jalurnya masing-masing. ketika kita menjadi objek maka usahakan yang terbaik, dan ketika kita menjadi subjek jangan terlalu sombong dan menjudge sang objek. hidup adalah memberi dan menerima.
    allah mengatakan "barang siapa mempermudah urusan saudaranya maka akan aku permudah dia dalam urusannya".

    ReplyDelete
  19. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Subjek adalah penguasa dan objek adalah yang dikuasai. Subjek menjadi yang menonjol, sedangkan objek menjadi pendukung keberadaan subjek. Jika diilustrasikan dalam kegiatan belajar mengajar, ada yang berpendapat bahwa subjek belajar adalah guru dan siswa sebagai objeknya. Jika paham dunia pendidikan selalu seperti ini maka siswa akan menjadi apatis dan selalu menunggu perintah dari guru, singgah kemampuan siswa menjadi terbatas. Namun, sekarang yang harus ditonjolkan adalah kemerdekaan siswa untuk tidak selalu menjadi objek dalam kegiatan belajar mengajar, namun berubah menjadi subjek. Maka diharapkan akan menumbuhkan kemampuan dan kreatifitas siswa lebih fleksibel.

    ReplyDelete
  20. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Pada dasarnya setiap manusia itu telah menjadi subjek. Iya subjek. Subjek bagi dirinya sendiri. Untuk menjadi subjek yang tingkatannya lebih tinggi lagi, manusia harus bisa menjadi subjek bagi dirinya terlebih dahulu. Ketika kita sedang menjadi subjek bagi diri kita sendiri bukan berarti kita terlepas menjadi objek. Kita sangat perlu mengetahui berada diposisi objek, karena dengan kita mengetahui posisi sebagai objek, kita akan bisa menjadi subjek yang bijak dan betanggungjawab. Intinya menjadi subjek maupun objek, jadilah diri yang cedas dan bijak.
    Adanya subjek dan objek, si kaya dan si miskin, si rajin dan si malas, si guru dan si murid, si cantik dan si kurang cantik, dan masih banyak lagi. Itu semua ada untuk saling melengkapi. Itu semua tercipta untuk saling menguatkan, bukan saling berkuasa apalagi dikuasai.

    ReplyDelete
  21. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP Kelas B 2017

    Tulisan diatas tersirat bahwa segala sesuatu yang terjadi dapat ditunjukkan sebab dan akibatnya. Tidak ada hal yang terjadi berdasarkan kebebasan kehendak atau kebebasan memilih atau secara kebetulan. Bahkan, ketika kita diberi kebebasan untuk memilih pun kita tetap harus punya alasan atau setidaknya memahami sebab dan akibat atas pilihan kita. Maka timbullah pertanyaan di benak saya "Seberapa jauhkah derajat kebebasan sesorang dalam mengarahkan serta mengendalikan prilakunya dalam kehidupan sehari-hari? Seberapa jauh prilaku sesorang ditentukan oleh faktor-faktor diluar pengetahuan sadarnya?
    Jadi, kesimpulan yang saya ambil dari tulisan diatas bahwa tidak ada prilaku manusia yang terjadi secara kebetulan atau karena memang manusia itu sendiri yang memilih untuk melakukannya.

    ReplyDelete
  22. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Dari elegi ini mengajarkn kita bahwa ketika ingin menjadi subjek maka harus ada objek. Dan adanya objek karena adanya subjek. Jadi hal tersebut menandakan adanya hubungan sebab akibat antara subjek dan objek. Namun setinggi-tinggi keinginan untuk menjadi subjek, pasti akan ada subjek di atasnya lagi, karena di atas langit ada langit. Jadi tidak akan subjek akan selalu menjadi subjek, karena setinggi-tinggi subjek adalah Allah SWT, yang menciptakan segala sesuatu apapun di dunia ini menjadi objek. Maka janganlah cepat berpuas hati terhadap apa yang kita anggap menjadikan diri pribadi sebagai subjek. Karena adanya subjek dan objek tercipta untuk saling melengkapi, seperti Si kaya adalah subyek, sedangkan obyeknya adalah si miskin. Si tua adalah subyek, sedangkan si muda adalah obyeknya. Si pemodal adalah subyek, sedangkan si peminjam adalah obyeknya. Si bapak adalah subyek, sedangkan si anak adalah obyeknya. Si dosen adalah subyek, sedangkan si mahasiswa adalah obyeknya. Si guru adalah subyek, sedangkan si siswa adalah obyeknya, dll.

    ReplyDelete
  23. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Dalam elegi ini mengisahkan tentag sudut pandang manusia. Dimana kita semua mempunyai sudut pandang masing-masing, tapi antara obyek dan subyek ada beberapa hal yang bisa saya ambil, ada pepatah menyebutkan, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin dan lapang sebelu sempit. Sebaiknya kita manusia berusaha dengan sebaik mungkin sebelum tugas kita sebagai manusia berhenti.

    ReplyDelete
  24. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Berdasarkan artikel di atas, saya dapat menyimpulkan bahwa obyek dikenai sifat dari subyek. Apabila diimplikasikan dalam pembelajaran, maka siswa dapat menjadi obyek pembelajaran atau dapat menjadi subyek pembelajaran. Siswa sebagai obyek pembelajran mencerminkan pembelajaran yang bersifat teacher-centered, sedangkan siswa sebagai subyek pembelajaran merupakan sifat dari pembelajaran student-centered. Pembelajaran teacher-centered cenderung membuat siswa pasif dalam kegiatan pembelajaran karena hanya menggantungkan sumber pengetahuan dari guru. Lain halnya dengan pembelajaran student-centeredd yang membuat siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran karena mereka difasilitasi untuk membentuk pengetahuan mereka sendiri.

    ReplyDelete
  25. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi Pemberontakan Para Obyek. Setelah membaca elegi ini saya belajar bahwa semua mahluk hidup memiliki kedudukan sebagai subyek dan obyek. Sesunggunya kita ini adalah subyek selama kita masih terus berpikir dan memiliki keinginan. Minimal, kita adalah penguasa diri kita sendiri. Dalam diri manusia memiliki potensi baik dan potensi jahat. Oleh karena itu melalui ikhtiar dan berdoa Kita harus senantiasa menguasai diri kita untuk memelihara dan mengembangkan potensi baik serta mengubur dalam-dalam potensi jahat dalam diri kita. Terimakasih.

    ReplyDelete
  26. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Berbicara tentang obyek maka tidak tertinggal pula subyek. Dimana subyek disini digambarkan dengan sosok yang mendominasi.sedangkan obyek adalah yang dikuasai subyek. Dalam konteks pendidikan, maka kita seharusnya mengubah persepsi bahwa subyek pembelajaran adalah guru menjadi subyek pembelajaran adalah siswa. Dan sebenar-benar diri kita adalah keseimbangan antara subyek dan obyek. Disini disampaikan protes para obyek yang kerasa ditindas oleh subyeknya. Disini kita mendapatkan hikmah agar tak semana-mena dalam menjadi pemimpin. Karena sejatinya diatas langit masih ada langit, maknanya ketika kita merasa palingkuasa, maka di atas kita masih ada yang berkuasa. Dan tentunya yang Maha Kuasa atas segalanya adalah Allah SWT.

    ReplyDelete
  27. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    "Subyek akan selalu menimpakan sifat-sifat kepada obyeknya, baik disengaja maupun tidak disengaja."
    Seakan-akan obyek adalah bawahan dan subyek adalah atasan. Subyek berhak menentukan bentuk obyeknya. Hal ini banyak terjadi pada orangtua dan anak, pada guru dan siswa. Apakah subyek sudah cukup baik untuk menimpakan sikapnya kepada obyek? Sungguh sombongnya si subyek menganggap sikap dirinya pantas ditimpakan untuk orang lain.

    ReplyDelete
  28. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Aha… tidak ada faedahnya meratapi nasib atau keadaan, sebab itu selalu membuat kita berada dalam posisi obyek. Saya jadi menyadari ini dengan membaca elegi pemberontakan para obyek. Setiap manusia adalah potensi, yang juga berpotensi menjadi subyek, ketika ia berkeinginan untuk merdeka, ketika ia berpikir dan memiliki kehendak. Hanya diriku sendiri yang bisa memperjuangkan hal ini. Aku maju atau tidak adalah pilihanku, hendak menjadi obyek atau menjadi subyek.

    ReplyDelete
  29. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Subyek dan obyek merupakan dua kata yang tak bisa dipisahkan. Berdasarkan tulisan diatas bahwa manusia yang memiliki potensi berusaha untuk selalu mengada agar tidak sekedar ada bisa memilik untuk menjadi obyek ataupun subyek, semua tergantung dnegan usaha dan niatnya. Menurut kami manusia menjadi subyek mana kala dia dapat mengendalikan nafsu dan amarahnya karena dia mampu menyetir dan menempatkan emosinya dan manusia menjadi obyek manakala dirinya di kuasai hawa nafsu yakni manusia selalu menuruti keinginanya entah keinginan itu dibutuhkan untuk hidupnya atau tidak. Astagfirullahaladzim.
    Terima kasih.

    ReplyDelete
  30. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    pada hakekatnya dapat disimpulklan bahwa subyek dan objek itu dapat merupakan dua hal yang saling berlawanan. jika kita pilih lupa sebagai subjeknya, maka yang akan menjadi objek adalah ingat. maka kita harus bijak menghadapi dua hal yang saling bertolak belakang, subjek dan objek yang ada dan yang mungkin ada agar kita tidak tertinggal menjadi sebuah mitos.

    ReplyDelete
  31. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih Prof untuk ilmu yang diberikan. Ulasan di atas saya mencermatinya sebagai manusia dapat menjadi obyek ataupun subyek. Perlu disadari bahwa obyek sendiri terkadang tidak mampu untuk menyesuaikan pada peran dirinya sendiri. Ini yang membuat obyek dapat beralih menggapai subyek. Muncul pertanyaan dalam benak saya. Apakah obyek mampu bersifat secara aktif?

    ReplyDelete
  32. Kartika Pramudita
    17701251021
    PEP B (S2)

    Dunia ini adalah kumpulan para obyek dan para subyek. Obyek dari sesuatu bisa menjadi subyek dari yang lain. Semua yang ada dan yang mungkin ada itu berstruktur, dan strukturnya tak hingga. Subyek selalu berkuasa atas obyeknya, akan tetapi hidup ini relatif dan bisa berubah-ubah. Seseorang yang hari ini menjadi obyek atas orang lain bisa jadi besok menjadi subyek untuk yang lain. Menurut saya untuk mengatasi ketidakadilan yang dirasakan para obyek maka perlu untuk berusaha keras dan mempunyai keinginan untuk bangkit dari ketidakadilan tersebut.

    ReplyDelete
  33. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Relasi subjek-objek adalah relasi kuasa yang menunjukkan adalah suat kelas yang berkuasa (subjek) terhadap kelasa yang dikuasai (objek). Relasi tersebut menunjukkan adanya ketidakseimbangan kekuatan. Akibatnya objek hanya akan menjadi entitas yang pasif. Oleh karena itu, pemberontakan para objek adalah suatu hal yang wajar. Sebuah titik balik atas ketertindasannya. Keberhasilan pemberontakan tersebut akan menghasilkan dua hal: pertama, objek akan menjadi subjek yang baru; kedua, akan tercipta kesetaraan (terhapusnya relasi subjek-objek).

    ReplyDelete
  34. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Objek dan subjek keduanya adalah saling berkaitan. Jika tidak ada subjek maka tidak ada objek, jika tidak ada objek maka tidak ada subjek. Walaupun berkaitan mereka memiliki strata yang berbeda. Dimana subjek lebih ke yang berkuasa dan objek yang dikuasi. Setiap orang dapat memilih ingin menjadi subjek atau objek. Tergantung dari usaha yang mereka miliki. Jika seseorang menjadi objek, orang tersebut bisa saja berubah menjadi subjek, karena usaha mereka untuk menjadi yang lebih baik dan berkualitas.

    ReplyDelete
  35. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Berbicara tentang obyek dan subyek sama seperti wadah dan isi yang saling berkaitan dan ketergantungan. Obyek bisa menjadi subyek dan subyek bisa menjadi obyek. Subyek bisa menjadi baik ataupun buruk kepada obyek. Subyek yang buruk akan selalu mempengaruhi dan menguasai obyek dan obyek pun akan dalam kendalinya. apabila kita merasa sebagai obyek yang dikendalikan oleh subyek kita bisa menjadi real subyek dengan cara mampu mengendalikan diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  36. Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Bahwa segenapyang menjadi objek itu tidak berkenan menjadi objek. Semua ingin menjadi objek, mungkin itlah yang terjadi. Tetapi sesungguhnya tiadalah mahluk yang tidak menjadi objek, dan mereka dianugrahi kesempatan menjadi subjek. Maka sebaik-baiknya mahluk adalah yang mampu menerima kodratnya baik sebagai objek dan subjek, serta bersyukur dengan semua yang telah dan belum terjadi. Maka dari itulah kita belajar filsafat, untuk mencairkan fikiran. Karena tiadalah alasan bagi kita untuk berhenti belajar, karena orang tua berambut putih selalu datang setiap adanya pertanyaan. Semoga kita selalu diberikan keihlasan dan tidak menjadi mitos. Amiin.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete