Oct 15, 2010

Elegi Pemberontakan Para Obyek




Oleh: Marsigit

Obyek satu:
Wahai subyekku, sungguh hebatlah engkau itu. Sungguh perkasalah engkau di situ. Sungguh digdayalah engkau di situ. Sungguh besarlah engkau di situ. Sungguh tinggilah engkau di situ. Sungguh kuasalah engkau di situ. Sungguh dominannya engkau di situ. Sungguh rapatlah engkau di situ. Sungguh solidlah engkau di situ. Sungguh tegarlah engkau di situ. Sungguh menentukanlah engkau di situ. Tetapi juga sungguh menakutkanlah engkau di situ. Janganlah engkau bergerak atau berucap. Engkau di situ terdiam saja aku sungguh takut terhadap dirimu. Aku merasa lemah di dekat dirimu. Aku merasa kecil di dekat dirimu. Aku merasa rendah di dekat dirimu. Aku merasa tertutup di dekat dirimu. Aku merasa kacau dan berantakan di dekat dirimu. Aku merada ciut nyaliku di dekat dirimu. Aku merasa tidak dapat berbuat apa-apa di dekat dirimu. Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu adalah determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu.


Obyek dua:
Wahai obyek satu, sungguh hebatlah engkau itu. Aku merasa tidak dapat berbuat apa-apa di dekat dirimu. Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu adalah determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu.

Obyek ketiga:
Wahai obyek dua, sungguh hebatlah engkau itu. Aku merasa tidak dapat berbuat apa-apa di dekat dirimu. Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu adalah determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu.
.... dst

Obyek ke n:
Wahai obyek ke n-1, sungguh hebatlah engkau itu. Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu adalah determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu.

Obyek ke n masih ingin bicara:
Wahai obyek ke 1, obyek ke 2, obyek ke 3, obyek ke 4, ...obyek ke n-1, sungguh hebatlah engkau itu. Sungguh perkasalah engkau di situ. Sungguh digdayalah engkau di situ. Sungguh besarlah engkau di situ. Sungguh tinggilah engkau di situ. Sungguh kuasalah engkau di situ. Sungguh dominannya engkau di situ. Sungguh rapatlah engkau di situ. Sungguh solidlah engkau di situ. Sungguh tegarlah engkau di situ. Sungguh menentukanlah engkau di situ. Tetapi juga sungguh menakutkanlah engkau di situ. Janganlah engkau bergerak atau berucap. Engkau di situ terdiam saja aku sungguh takut terhadap dirimu. Aku merasa lemah di dekat dirimu. Aku merasa kecil di dekat dirimu. Aku merasa rendah di dekat dirimu. Aku merasa tertutup di dekat dirimu. Aku merasa kacau dan berantakan di dekat dirimu. Aku merada ciut nyaliku di dekat dirimu. Aku merasa tidak dapat berbuat apa-apa di dekat dirimu. Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu semua adalah determinis-determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu semua adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu semua. Ya Tuhan betapa sengsara hidupku ini. Kenapa semua yang ada di sekitarku bersifat mengendalikanku. Kenapa yang ada di sekitarku selalu menimpakan sifat-sifatnya kepadaku. Kenapa aku tidak dapat menunjuk sifat-sifatku walau sebuahpun. Maka sebenar-benar diriku itu adalah sudah tiada. Tiadalah diriku. Tiadalah pikiranku. Tiadalah hatiku. Tiadalah jiwaku. Tiadalah jati diriku. Dan tiadalah identitasku. Maka senyata-nyatanya semua yang ada disekitarku adalah monster-monster pemangsa sifat-sifatku. Apakah masih ada makhluk yang dapat aku ajak bicara?

Orang tua berambut putih datang:
Akulah orang yang selalu muncul pada setiap pertanyaan. Karena sebetul-betul diriku adalah ilmumu. Boleh yang lain habis dan lenyap dari dirimu. Tetapi selama engkau masih mampu bertanya, maka dirikulah yang masih tersisa.

Obyek ke n:
Wahai orang tua berambut putih. Apakah engkau mendengar semua kalimat dan percakapanku? Jika ya maka bagaimanakah kelanjutan diriku itu. Kemudian apa pula yang harus aku lakukan.

Orang tua berambut putih:
Betul katamu. Aku mendengar semua yang engkau katakan. Inilah kesaksianku, bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa semua ucapan-ucapanmu itu hanyalah berkenaan dengan hubungan antar sifat-sifat. Subyek akan selalu menimpakan sifat-sifat kepada obyeknya, baik disengaja maupun tidak disengaja. Maka sebenar-benar untung adalah menjadi subyek, dan sebenar-benar rugi adalah menjadi obyek.

Obyek ke n:
Siapakah sebenarnya subyek dan obyek itu?

Orang tua berambut putih:
Subyek adalah mereka yang berkuasa. Sedangkan obyek adalah mereka yang dikuasai.

Obyek ke n:
Contoh kongkritnya?

Orang tua berambut putih:
Si kaya adalah subyek, sedangkan obyeknya adalah si miskin. Si tua adalah subyek, sedangkan si muda adalah obyeknya. Si pemodal adalah subyek, sedangkan si peminjam adalah obyeknya. Si bapak adalah subyek, sedangkan si anak adalah obyeknya. Si dosen adalah subyek, sedangkan si mahasiswa adalah obyeknya. Si guru adalah subyek, sedangkan si siswa adalah obyeknya. Si mobil adalah subyek, sedangkan si montor adalah obyeknya. Si lurah adalah subyek, sedangkan si carik adalah obyeknya. Si canggih adalah subyek, sedangkan si tradisional adalah obyeknya. Si mahal adalah subyek, sedangkan si murah adalah obyeknya. Si bicara adalah subyek, sedangkan si diam adalah obyeknya. Si banyak adalah subyek, sedangkan si sedikit adalah obyeknya. Si ketua adalah subyek, sedangkan si anggota adalah obyeknya. Si cantik adalah subyek, sedangkan si tidak cantik adalah obyeknya. Si banyak teman adalah subyek, sedangkan si sedikit teman adalah obyeknya. dst.dst.

Obyek ke n:
Jikalau aku ingin jadi subyek, maka siapakah obyekku itu?

Orang tua berambut putih:
Sayangnya tiadalah sesuatupun bersedia menjadi obyekmu.

Obyek ke n:
Ini tidak adil. Aku harus tuntut keadilan. Aku ingin memberontak. Mereka dan aku toh sama-sama makhluk hidup. Mengapa mesti aku dan mereka mempunyai nasib yang berbeda. Aku ingin merdeka dari segala sifat yang menimpaku.

Orang tua berambut putih:
Inilah kesaksianku. Aku benar-benar telah menyaksikan dirimu telah menjadi subyek. Sedangkan obyeknya adalah keinginanmu untuk merdeka.

76 comments:

  1. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Subjek dan objek sangatlah berkaitan. Tiadalah objek tanpa subjek. Begitu juga sebaliknya. Subjek adalah yang menguasai. Sementara objek adalah apa yang dikuasai. Setinggi – tingginya subjek tidak ada yang dapat melampaui keabsolutan Yang Maha Kuasa. Dan sebaik – baiknya objek adalah amalan dari segala ibadah yang kita lakukan sebagai manusia yang taat akan perintahNya.

    ReplyDelete
  2. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Di dalam kehidupan itu perlu keseimbangan. Semuanya saling ketergantungan, tidak ada yang bisa hidup tanpa orang lain makanya manusia dikatakan mahluk sosial. Sebagaimana dalam elegi di atas dikatakan bahwa subjek itu tidak akan ada kalau tidak ada objek, maka walaupun dia subjek jangan semena-mena terhadap objek. Karena objeklah dia ada, maka seyogyanya berlaku baiklah kepada objek, karena dengan berlaku baik kepada objek artinya sama saja subjek berlaku baik terhadap dirinya sendiri.

    ReplyDelete
  3. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sebenar-bnarnya manusia dapat menjadi subjek maupun objek tergantung dimensi ruang dan waktunya. Namun dalam pembelajaran Guru janganlah menganggap siswa sebagai objek saja namun sebagai subjek karena merka juga berkuasa atas ilmu yang mereka dapatkan sehingga guru memfasilitasi bagaimana ilmu itu dapat mudah dikuasai oleh siswa-siswa.

    ReplyDelete
  4. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Dari artikel tersebut yang dapat saya pahami yaitu bahwa subjek adalah diri sendiri dan keinginan itu merupakan objekya. Maka dari itu setiap manusia mempunyai subjek dan objeknya masing – masing. Objek yang tidak baik dapat dikendalikan dengan senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan. Karena setinggi – tingginya subjek adalah Tuhan, maka hendaknya manusia dapat mengendalikan segala keinginannya dan mampu memaksimalkan fungsinya masing – masing untuk hal – hal yang baik, karena objek bisa menjadi subjek begitupun sebaliknya.

    ReplyDelete
  5. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Sepemahaman saya, benar jika setiap individu mengendalikan dirinya sendiri, dan menjadikan keinginanya menjadi obyek. Jadi semua individu sudah menjadi subyek, minimal untuk dirinya sendiri. Tetapi subyek dan obyek tergantung oleh sudut pandang, obyek dapat menjadikan dirinya subyek dan menjadikan si subyek menjadi obyeknya. Seperti siswa menjadi subyek yang melakukan belajar, dan menjadikan guru sebagai obyek, yaitu fasilitas belajar. Hal ini juga menunjukkan bahwa obyek dapat menjadi subyek begitu pula sebaliknya.

    ReplyDelete
  6. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Subjek pada dasarnya adalah segala sesuatu yang mengenai objek, dan objek adalah segala sesuatu yang dikenai oleh subjek. Jika ada subjek pastilah ada objek, dan jika ada objek pasti ada subjek. Kedua hal tersebut sangatlah berkaitan satu sama lain.

    ReplyDelete
  7. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Berdasarkan pemaparan di atas saya mendapatkan bahwa manusia memang sering iri atau tidak mensyukuri akan nikmat yan diberikan. banyak yang mengeluh dan merasa kurang dan kurang. tetapi jika hal tesebut menyangkut tentang ilmu maka perlulah sifat kurang itu karena sebenar benarnya ilmu adalah luas dan tak terhingga.

    ReplyDelete
  8. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Telah kita ketahui bahwa dalam kehidupan ini setiap yang diciptakan telah berpasang-pasangan, misalkan saja ada subjek pastilah juga ada objek. Sebagai objek kadang menjadi korban determinis dari para subjek. Karena selayaknya objek adalah yang dikenai perlakuan atau tindakan oleh subjek. Terserah si subjek mau menjadikan objeknya seperti apa. Apakah objek tersebut mempunyai nilai guna yang positif atau negatif. Namun demikian, dunia ini kontradiksi, tidak selamanya objek menjadi objek dan tak selamanya pula subjek menjadi subjek. Objek pada suatu ruang dan waktu tertentu kadangkala bisa menjadi subjek untuk objek yang lain. Begitu pula subjek bisa menjadi objek subjek yang lain. Selayaknya adalah sopan santun terhadap ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  9. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Setelah membaca elegi ini saya mengetahui bahwa pada dasarnya manusia ada saatnya untuk menjadi subjek dan ada saatnya juga menjadi objek bergantung pada dimensi ruang dan waktu. Subyek adalah mereka yang berkuasa. Sedangkan obyek adalah mereka yang dikuasai.Jika diimplementasikan dalam pembelajaran di kelas maka seharusnya guru menganggap siswa adalah sebagai subjek dalam pembelajaran yaitu siswa membangun sendiri pengetahuan sehhingga ia menguasai ilmunya sedangkan guru memfasilitasi siswa.

    ReplyDelete
  10. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari elegi tersebut, hal yang dapat saya pahami adalah bahwa manusia selalu merasa tidak puas. Manusia selalu melihat ke atas, hingga yang timbul hanyalah rasa iri dan ingin menyaingi. Melihat ke atas memang perlu untuk menjadi pemacu diri agar senantiasa giat dalam beribadah kepada Allah. namun untuk urusan duniawi, akan lebih bijak jika kita memandang ke bawah agar selalu bersyukur.

    ReplyDelete
  11. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari elegi di atas, terlihat bahwa obyek yang juga merupakan subyek itu selalu merasa kurang, dia selalu merasa berada di bawah. Hal itulah yang membuat dia bertanya bagaimana untuk mejadi subyek, dia tidak ingin menjadi obyek dari yang lain. Artinya, jika kita selalu melihat ke atas, maka sesungguhnya ketidaktentraman jiwa akan selalu menghantui. Karena akan selalu ada langit di atas langit

    ReplyDelete
  12. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Filsafat Pendidikan Matematika 2013

    Setelah membaca elegi mengenai subyek dan obyek ini bisa diketahui bahwa seorang subyek pun bisa menjadi obyek dari subyek yang lain. Obyek yang mengetahui akan merasa subyek itu lebih hebat dan ingin seperti subyek. Namun obyek yang memahami akan mengerti bahwa sebagai obyek juga bisa menjadi subyek bagi obyek yang lain.

    ReplyDelete
  13. Endryana Listyarini
    14301241034
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Antara subyek dan obyek sangatlah berkaitan dan ketergantungan. Subyek bisa menjadi baik ataupun buruk kepada obyek. Subyek yang buruk akan selalu mempengaruhi dan menguasai si obyek dan obyek pun akan dalam kendalinya. Kalaupun obyek tidak ingin dijadikan kendali si subyek, maka subyek tersebut tidak bisa dikatakan sebagai “real subyek” karena subyek tidak memiliki obyek.

    ReplyDelete
  14. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    S2 Pendidikan Matematika D

    Berbicara masalah objek dan subjek akan sangat menarik untuk diperbincangkan. Karena dengan adanya subjek dan objek maka akan terdapat sebuah filsafat. Subjek dan objek juga sangat berhubungan dengan dunia ini. Karena dunia terdri dari subjek dan objek yang di ciptakan oleh Allah. Mengenai pemberontakan objek dan subjek sangat lah mungkin mereka berontak karena subjek objek itu tidak sempurna, pasti ada kekeurangan dari mereka masing-masing. Akan tetapi bisa di minimalisirkan pemeberontakan mereka dengan adnaay salaing pengertian antara subjek dan objek itu sendiri

    ReplyDelete
  15. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Subjek ini aka nada bila ada objek. Hal ini karena adanya objek, maka subjek ini mempunyai kuasa atau dengan kata lain subjek adalah mereka yang berkuasa, sedangkan obyek adalah mereka yang dikuasai. Antara subyek dan obyek ini saling melengkapi. Dalam pembelajaran, guru merupakan subjek dan siswanya ialah objek. Antara guru dan siswa akan saling melengkapi. Adanya guru ini bertugas sebagai seorang fasilitator. Sehingga siswa akan dapat bekerja dan belajar dengan kondusif dan menyenangkan.

    ReplyDelete
  16. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    objek adalah sebuah konsep, abstraksi atau sesuatu yang diberi batasan jelas dan dimaksudkan untuk sebuah aplikasi. sebuah objek adalah suatu yang mempunyai keadaan, perilaku, dan identitas. Keadaan dari objek adalah satu dari kondisi yang memungkinkan dimana objek dapat muncul, dan dapat secara normal berubah berdasarkan waktu. sebagai guru, maka objeknya adalah siswa kita. akan tetapi meskipun siswa adalah objek dari gurunya, kita hendaknya tidak sewenang-wenang mengatur, menindas, dan memperlakukan semau kita. Kita harus berbuat baik kepadanya dengan mentransfer ilmu, karena guru dapat menjadi subjek karena siswanya menjadi objek.

    ReplyDelete
  17. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Kehidupan yang kita jalani sampai saat ini tentu tidak terlepas dari tindakan yang kita lakukan terhadap suatu hal. Kita atau orang yang melakukan sesuatu disebut sebagai subyek. Siapa atau apa yang kita targetkan dari tindakan kita disebut sebagai obyek. Dari Elegi Pemberontakan para beda yang Prof. tuliskan di atas, dapat saya ambil pelajaran bahwa tudak adalah yang lebih berkuasa di dunia ini kecuali Allah SWT. Meskipun kita bisa menganggap diri kita sebagai subyek, tetapi, kita pun merupakan obyek dari apa yang Allah SWT inginkan. Oleh kerana itu, tidak sepantasnya kita sebagai makhlukNya untuk berperilaku sombong, bahkan meremehkan, menindas, ataupun berkuasa terhadap orang lain.

    ReplyDelete
  18. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    "Subyek adalah mereka yang berkuasa sedangkan obyek adalah mereka yang dikuasai". Terlepas dari hubungan subyek-obyek si kaya dan si miskin, hubungan subyek-obyek si canti dan si tidak cantik, dan seterusnya. Pada akhirnya setiap diri bisa menjadi subyek maupun obyek. Menjadi subyek atas orang lain sebagai obyek maupun menjadi obyek atas orang lain sebagai subyek. Atau malah sebagai subyek dan obyek dalam satu diri manusia, "Aku benar-benar telah menyaksikan dirimu telah menjadi subyek. Sedangkan obyeknya adalah keinginanmu untuk merdeka". Oleh karena itu, alangkah lebih baik jika kita berkedudukan sebagai subyek yang menguasai untuk senantiasa bertindak bijaksana. Sang guru dan si murid, ada kalanya sang guru harus memberikan ruang si murid untuk menjadi subyek, paling tidak untuk dirinya sendiri. Sang murid, hendaklah belajar menciptakan obyek yang positif di dalam dirimu, munculkan keinginan untuk berprestasi, keinginan untuk rajin membaca referensi, dan lainnya. Sesungguhnya dunia itu adalah diri kita masing-masing.

    ReplyDelete
  19. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Saya tertarik pada kalimat "Subyek adalah mereka yang berkuasa sedangkan obyek adalah mereka yang dikuasai". Menurut saya, dalam hidup ini hendaknya yang menjadi subyek adalah diri kita dan nafsu kita adalah obyeknya. Artinya, diri kitalah yang harus menguasai nafsu kita, bukan malah sebaliknya, nafsu yang menguasai diri kita. Ketika nafsu sudah menguasai diri, maka akan muncul sifat-sifat yang jauh dari Tuhan. Perbuatan-perbuatan tercela yang dilakukan manusia sebenarnya terjadi karena nafsu yang tidak bisa dikuasi, seperti malas beribadah, boros, egois, keinginan untuk kaya tetapi tidak mau bekerja, dan lain-lainnya. Akan tetapi jika kita dapat menguasai nafsu yang ada di dalam diri kita, maka ridho-Nya pun akan menjadi nyata.

    ReplyDelete
  20. Assalamu'alaikum wr.wb.

    Subyek adalah mereka yang berkuasa, sementara objek adalah mereka yang dikuasai. Orang berambut putih adalah ilmu pengetahuan. Diri kita adalah subyek sementara hawa nafsu adalah objeknya. Maka kita harus bisa mengendalikan objek dengan sebaik-baiknya, agar antara subjek dan objek tetap harmonis.

    Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    ReplyDelete
  21. Gamarina Isti R
    17790251036
    Pendidkan Matematika Kelas B

    Subjek adalah mereka yang berkuasa sedangkan objek adalah mereka yang dikuasai. Contohnya dalam pembelajaran adalah guru adalah subjek sedangka siswa adalah objekya. Subjek akan selalu menimpakkan sifat-sifatnya kepada objeknya, maka akan lebih menguntungkan subjek dari pada objek. Refleksinya adalah saat menjadi seorang guru dia dapat menimpakan sifat-sifatnya kepada siswa dan menjadi teladan oleh siswa. Oleh karena itu sebagai seorang guru kita harus menjaga setiap tata krama, kelakuan, dan pemikiran, karena hal itu akan dapat mempengaruhi siswa secara langsung.

    ReplyDelete
  22. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Pelajaran yang dapat saya peroleh setelah membaca “Elegi Pemberontakan Para Obyek“ adalah janganlah menjadi orang yang berpikir bahwa dia tak berguna. Raihlah semua cita-citamu setinggi langit, biarlah orang berkata apa dan buktikan bahwa kita bisa. Ya kita boleh memandang orang lain itu lebih tinggi dari kita, untuk memotivasi kita menjadi hal yang lebih baik. Namun janganlah menjadi orang yang rendah diri dan berpikir negatif terhadap diri kita sendiri.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  23. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu’alaikum wr. wb
    Di dalam kehidupan ini pasti akan ada yang menjadi subyek dan obyek. Subjek merupakan penguasa yang dapat mengatur dan objek adalah yang dikuasai atau yang diatur. Akan tetapi, pelajaran yang dapat kita ambil dari percakapan tersebut, jika kita merasa menjadi obyek dan merasa menjadi manusia yang paling tidak beruntung, kita masih tetap bisa menjadi subyek dengan catatan kita harus bisa mengendalikan diri sendiri untuk bangkit dan semangat berjuang agar bisa menjadi subyek dan memiliki obyek.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  24. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Sebagai seorang calon guru nantinya saya akan menjadi subjek bagi murid- murid saya. Menjadi subjek adalah suatu ujian Allah SWT kepada kita. Karena subjek merupakan mereka yang kuasa. Dan kuasa itulah ujian yang Allah berikan. Karena ujian bagi mereka yang berkuasa adalah menggunakan kekuasaan tidak sesuai tempatnya. Maka kekuasaan itulah terkadang menjadi ladang pahala dan terkadang menjadi ladang dosa. Maka ujian bagi para subjek adalah menggunakan kekuasaannya agar bermanfaat bagi para objek. Sebagaimana ujian bagi para guru adalah menggunakan kekuasaannya untuk memfasilitasi para objeknya dalam belajar.

    ReplyDelete
  25. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Salah satu hal utama yang diperlukan agar lahirnya kedamaian di dunia ini adalah keadilan. Para penguasa harus bertindak adil terhadap orang-orang yang dikuasainya dan orang-orang yang dikuasai jangan hanya pasrah terhadap perlakuan yang diterima karena sebenar-benarnya keberanian orang yang dikuasai adalah ketakutan bagi penguasanya.

    ReplyDelete
  26. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Subjek dianggap sebagai subjek ketika ia memiliki objek. Objek dianggap objek ketika ia memiliki subjek. Tiadalah subjek tanpa objek, tiada pulalah objek tanpa subjek. Subjek dan objek merupakan sesuatu yang saling berhubungan. Oleh karena itu keduanya harus melaksanakan tugas dan kewajibannya secara proporsional dan sesuai pada tempatnya. Semua yang ada dan yang mungkin ada dalam kehidupan ini adalah subjek dan objek bergantung pada ruang dan waktu. Dan setinggi-tingginya subjek dalam kehidupan ini adalah Allah SWT Yang Maha Kuasa. Janganlah kita berbuat sombong dan berusahalah terus untuk menggapai ridho Allah SWT.

    ReplyDelete
  27. Indah Purnama Sari
    17701251035
    PEP B 2017

    masing-masing dari kita adalah subjek dan objek. kita bakal menjadi objek ketika orang lain menilai kita. dan kita menjadi objek ketika kita menilai orang lain. hidup itu balance tidak hanya soal selalu menilai tapi juga dinilai. tidak hanya melulu menjadi yang diatas tapi pasti pernah menjadi yang dibawah. sebelum menjadi guru kita pernah menjadi murid. sebelum menjadi dewasa kita pernah menjadi remaja.
    maka hiduplah sesuai dengan jalurnya masing-masing. ketika kita menjadi objek maka usahakan yang terbaik, dan ketika kita menjadi subjek jangan terlalu sombong dan menjudge sang objek. hidup adalah memberi dan menerima.
    allah mengatakan "barang siapa mempermudah urusan saudaranya maka akan aku permudah dia dalam urusannya".

    ReplyDelete
  28. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Subjek adalah penguasa dan objek adalah yang dikuasai. Subjek menjadi yang menonjol, sedangkan objek menjadi pendukung keberadaan subjek. Jika diilustrasikan dalam kegiatan belajar mengajar, ada yang berpendapat bahwa subjek belajar adalah guru dan siswa sebagai objeknya. Jika paham dunia pendidikan selalu seperti ini maka siswa akan menjadi apatis dan selalu menunggu perintah dari guru, singgah kemampuan siswa menjadi terbatas. Namun, sekarang yang harus ditonjolkan adalah kemerdekaan siswa untuk tidak selalu menjadi objek dalam kegiatan belajar mengajar, namun berubah menjadi subjek. Maka diharapkan akan menumbuhkan kemampuan dan kreatifitas siswa lebih fleksibel.

    ReplyDelete
  29. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Pada dasarnya setiap manusia itu telah menjadi subjek. Iya subjek. Subjek bagi dirinya sendiri. Untuk menjadi subjek yang tingkatannya lebih tinggi lagi, manusia harus bisa menjadi subjek bagi dirinya terlebih dahulu. Ketika kita sedang menjadi subjek bagi diri kita sendiri bukan berarti kita terlepas menjadi objek. Kita sangat perlu mengetahui berada diposisi objek, karena dengan kita mengetahui posisi sebagai objek, kita akan bisa menjadi subjek yang bijak dan betanggungjawab. Intinya menjadi subjek maupun objek, jadilah diri yang cedas dan bijak.
    Adanya subjek dan objek, si kaya dan si miskin, si rajin dan si malas, si guru dan si murid, si cantik dan si kurang cantik, dan masih banyak lagi. Itu semua ada untuk saling melengkapi. Itu semua tercipta untuk saling menguatkan, bukan saling berkuasa apalagi dikuasai.

    ReplyDelete
  30. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP Kelas B 2017

    Tulisan diatas tersirat bahwa segala sesuatu yang terjadi dapat ditunjukkan sebab dan akibatnya. Tidak ada hal yang terjadi berdasarkan kebebasan kehendak atau kebebasan memilih atau secara kebetulan. Bahkan, ketika kita diberi kebebasan untuk memilih pun kita tetap harus punya alasan atau setidaknya memahami sebab dan akibat atas pilihan kita. Maka timbullah pertanyaan di benak saya "Seberapa jauhkah derajat kebebasan sesorang dalam mengarahkan serta mengendalikan prilakunya dalam kehidupan sehari-hari? Seberapa jauh prilaku sesorang ditentukan oleh faktor-faktor diluar pengetahuan sadarnya?
    Jadi, kesimpulan yang saya ambil dari tulisan diatas bahwa tidak ada prilaku manusia yang terjadi secara kebetulan atau karena memang manusia itu sendiri yang memilih untuk melakukannya.

    ReplyDelete
  31. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Dari elegi ini mengajarkn kita bahwa ketika ingin menjadi subjek maka harus ada objek. Dan adanya objek karena adanya subjek. Jadi hal tersebut menandakan adanya hubungan sebab akibat antara subjek dan objek. Namun setinggi-tinggi keinginan untuk menjadi subjek, pasti akan ada subjek di atasnya lagi, karena di atas langit ada langit. Jadi tidak akan subjek akan selalu menjadi subjek, karena setinggi-tinggi subjek adalah Allah SWT, yang menciptakan segala sesuatu apapun di dunia ini menjadi objek. Maka janganlah cepat berpuas hati terhadap apa yang kita anggap menjadikan diri pribadi sebagai subjek. Karena adanya subjek dan objek tercipta untuk saling melengkapi, seperti Si kaya adalah subyek, sedangkan obyeknya adalah si miskin. Si tua adalah subyek, sedangkan si muda adalah obyeknya. Si pemodal adalah subyek, sedangkan si peminjam adalah obyeknya. Si bapak adalah subyek, sedangkan si anak adalah obyeknya. Si dosen adalah subyek, sedangkan si mahasiswa adalah obyeknya. Si guru adalah subyek, sedangkan si siswa adalah obyeknya, dll.

    ReplyDelete
  32. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Dalam elegi ini mengisahkan tentag sudut pandang manusia. Dimana kita semua mempunyai sudut pandang masing-masing, tapi antara obyek dan subyek ada beberapa hal yang bisa saya ambil, ada pepatah menyebutkan, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin dan lapang sebelu sempit. Sebaiknya kita manusia berusaha dengan sebaik mungkin sebelum tugas kita sebagai manusia berhenti.

    ReplyDelete
  33. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Berdasarkan artikel di atas, saya dapat menyimpulkan bahwa obyek dikenai sifat dari subyek. Apabila diimplikasikan dalam pembelajaran, maka siswa dapat menjadi obyek pembelajaran atau dapat menjadi subyek pembelajaran. Siswa sebagai obyek pembelajran mencerminkan pembelajaran yang bersifat teacher-centered, sedangkan siswa sebagai subyek pembelajaran merupakan sifat dari pembelajaran student-centered. Pembelajaran teacher-centered cenderung membuat siswa pasif dalam kegiatan pembelajaran karena hanya menggantungkan sumber pengetahuan dari guru. Lain halnya dengan pembelajaran student-centeredd yang membuat siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran karena mereka difasilitasi untuk membentuk pengetahuan mereka sendiri.

    ReplyDelete
  34. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi Pemberontakan Para Obyek. Setelah membaca elegi ini saya belajar bahwa semua mahluk hidup memiliki kedudukan sebagai subyek dan obyek. Sesunggunya kita ini adalah subyek selama kita masih terus berpikir dan memiliki keinginan. Minimal, kita adalah penguasa diri kita sendiri. Dalam diri manusia memiliki potensi baik dan potensi jahat. Oleh karena itu melalui ikhtiar dan berdoa Kita harus senantiasa menguasai diri kita untuk memelihara dan mengembangkan potensi baik serta mengubur dalam-dalam potensi jahat dalam diri kita. Terimakasih.

    ReplyDelete
  35. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Berbicara tentang obyek maka tidak tertinggal pula subyek. Dimana subyek disini digambarkan dengan sosok yang mendominasi.sedangkan obyek adalah yang dikuasai subyek. Dalam konteks pendidikan, maka kita seharusnya mengubah persepsi bahwa subyek pembelajaran adalah guru menjadi subyek pembelajaran adalah siswa. Dan sebenar-benar diri kita adalah keseimbangan antara subyek dan obyek. Disini disampaikan protes para obyek yang kerasa ditindas oleh subyeknya. Disini kita mendapatkan hikmah agar tak semana-mena dalam menjadi pemimpin. Karena sejatinya diatas langit masih ada langit, maknanya ketika kita merasa palingkuasa, maka di atas kita masih ada yang berkuasa. Dan tentunya yang Maha Kuasa atas segalanya adalah Allah SWT.

    ReplyDelete
  36. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    "Subyek akan selalu menimpakan sifat-sifat kepada obyeknya, baik disengaja maupun tidak disengaja."
    Seakan-akan obyek adalah bawahan dan subyek adalah atasan. Subyek berhak menentukan bentuk obyeknya. Hal ini banyak terjadi pada orangtua dan anak, pada guru dan siswa. Apakah subyek sudah cukup baik untuk menimpakan sikapnya kepada obyek? Sungguh sombongnya si subyek menganggap sikap dirinya pantas ditimpakan untuk orang lain.

    ReplyDelete
  37. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Aha… tidak ada faedahnya meratapi nasib atau keadaan, sebab itu selalu membuat kita berada dalam posisi obyek. Saya jadi menyadari ini dengan membaca elegi pemberontakan para obyek. Setiap manusia adalah potensi, yang juga berpotensi menjadi subyek, ketika ia berkeinginan untuk merdeka, ketika ia berpikir dan memiliki kehendak. Hanya diriku sendiri yang bisa memperjuangkan hal ini. Aku maju atau tidak adalah pilihanku, hendak menjadi obyek atau menjadi subyek.

    ReplyDelete
  38. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Subyek dan obyek merupakan dua kata yang tak bisa dipisahkan. Berdasarkan tulisan diatas bahwa manusia yang memiliki potensi berusaha untuk selalu mengada agar tidak sekedar ada bisa memilik untuk menjadi obyek ataupun subyek, semua tergantung dnegan usaha dan niatnya. Menurut kami manusia menjadi subyek mana kala dia dapat mengendalikan nafsu dan amarahnya karena dia mampu menyetir dan menempatkan emosinya dan manusia menjadi obyek manakala dirinya di kuasai hawa nafsu yakni manusia selalu menuruti keinginanya entah keinginan itu dibutuhkan untuk hidupnya atau tidak. Astagfirullahaladzim.
    Terima kasih.

    ReplyDelete
  39. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    pada hakekatnya dapat disimpulklan bahwa subyek dan objek itu dapat merupakan dua hal yang saling berlawanan. jika kita pilih lupa sebagai subjeknya, maka yang akan menjadi objek adalah ingat. maka kita harus bijak menghadapi dua hal yang saling bertolak belakang, subjek dan objek yang ada dan yang mungkin ada agar kita tidak tertinggal menjadi sebuah mitos.

    ReplyDelete
  40. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih Prof untuk ilmu yang diberikan. Ulasan di atas saya mencermatinya sebagai manusia dapat menjadi obyek ataupun subyek. Perlu disadari bahwa obyek sendiri terkadang tidak mampu untuk menyesuaikan pada peran dirinya sendiri. Ini yang membuat obyek dapat beralih menggapai subyek. Muncul pertanyaan dalam benak saya. Apakah obyek mampu bersifat secara aktif?

    ReplyDelete
  41. Kartika Pramudita
    17701251021
    PEP B (S2)

    Dunia ini adalah kumpulan para obyek dan para subyek. Obyek dari sesuatu bisa menjadi subyek dari yang lain. Semua yang ada dan yang mungkin ada itu berstruktur, dan strukturnya tak hingga. Subyek selalu berkuasa atas obyeknya, akan tetapi hidup ini relatif dan bisa berubah-ubah. Seseorang yang hari ini menjadi obyek atas orang lain bisa jadi besok menjadi subyek untuk yang lain. Menurut saya untuk mengatasi ketidakadilan yang dirasakan para obyek maka perlu untuk berusaha keras dan mempunyai keinginan untuk bangkit dari ketidakadilan tersebut.

    ReplyDelete
  42. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Relasi subjek-objek adalah relasi kuasa yang menunjukkan adalah suat kelas yang berkuasa (subjek) terhadap kelasa yang dikuasai (objek). Relasi tersebut menunjukkan adanya ketidakseimbangan kekuatan. Akibatnya objek hanya akan menjadi entitas yang pasif. Oleh karena itu, pemberontakan para objek adalah suatu hal yang wajar. Sebuah titik balik atas ketertindasannya. Keberhasilan pemberontakan tersebut akan menghasilkan dua hal: pertama, objek akan menjadi subjek yang baru; kedua, akan tercipta kesetaraan (terhapusnya relasi subjek-objek).

    ReplyDelete
  43. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Objek dan subjek keduanya adalah saling berkaitan. Jika tidak ada subjek maka tidak ada objek, jika tidak ada objek maka tidak ada subjek. Walaupun berkaitan mereka memiliki strata yang berbeda. Dimana subjek lebih ke yang berkuasa dan objek yang dikuasi. Setiap orang dapat memilih ingin menjadi subjek atau objek. Tergantung dari usaha yang mereka miliki. Jika seseorang menjadi objek, orang tersebut bisa saja berubah menjadi subjek, karena usaha mereka untuk menjadi yang lebih baik dan berkualitas.

    ReplyDelete
  44. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Berbicara tentang obyek dan subyek sama seperti wadah dan isi yang saling berkaitan dan ketergantungan. Obyek bisa menjadi subyek dan subyek bisa menjadi obyek. Subyek bisa menjadi baik ataupun buruk kepada obyek. Subyek yang buruk akan selalu mempengaruhi dan menguasai obyek dan obyek pun akan dalam kendalinya. apabila kita merasa sebagai obyek yang dikendalikan oleh subyek kita bisa menjadi real subyek dengan cara mampu mengendalikan diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  45. Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Bahwa segenapyang menjadi objek itu tidak berkenan menjadi objek. Semua ingin menjadi objek, mungkin itlah yang terjadi. Tetapi sesungguhnya tiadalah mahluk yang tidak menjadi objek, dan mereka dianugrahi kesempatan menjadi subjek. Maka sebaik-baiknya mahluk adalah yang mampu menerima kodratnya baik sebagai objek dan subjek, serta bersyukur dengan semua yang telah dan belum terjadi. Maka dari itulah kita belajar filsafat, untuk mencairkan fikiran. Karena tiadalah alasan bagi kita untuk berhenti belajar, karena orang tua berambut putih selalu datang setiap adanya pertanyaan. Semoga kita selalu diberikan keihlasan dan tidak menjadi mitos. Amiin.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  46. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015

    Pada elegi ini, subjek dan objek itu relatif, tergantung kita memandangnya. Memiliki peran masing-masing tergantung bagaimana memposisikan diri. Jika itu sesuai dengan ruang dan waktu maka akan dipandang sesuatu yang baik, tetapi jika tidak sesuai dengan ruang dan waktu akan dipandang sesuatu yang buruk. Sehingga jika kita berperan menjadi subjek maupun objek, kita harus memahami posisi kita itu dimana, bagaimana aturannya. Kita harus bisa menyesuaikan dengan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  47. Aristiawan
    17701251025
    PEP B 2017

    Kita bisa menjadi subjek dan objek disaat bersamaan. Dosen dapat menjadi subjek bagi mahasiswanya, tapi di saat yang bersamaan ia adalah objek dari dekan. Dekan adalah subjek dari dosen, tapi ia adalah objek dari rektor. Rector meskipun adalah subjek dari dekan, tapi ia adalah objek dari menteri. Menteri adalah subjek dari rector, tapi ia adalah objek dari presiden. Presiden adalah subjek dari para menteri, tapi ia harusnya adalah objek dari rakyatnya. Sementara itu, rakyat adalah objek dari Tuhan. Maka sebenar-benar subjek adalah Tuhan Yang Maha Kuasa

    ReplyDelete
  48. Muh Wildanul Firdaus
    17709251057
    Pendidikan Matematika S2 Kelas C

    Setiap objek adalah bayangan dari subjek di dalam ruang dan waktunya. Seseorang bisa menjadi subjek dan objek dari orang satu orang yang sama. sebagai contoh, Seorang Dekan menjadi subjek dari dosen-dosen di fakultasnya. Namun ada salah satu dosen di fakultasnya merupakan seorang Rektor. Maka dari itu Dekan tersebut kemudian bisa disebut sebagai objek dari seorang dosen di fakultasnya yang mempunyai jabatan sebagai Rektor.

    ReplyDelete
  49. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Segala sesuatu dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Terkadang mereka bisa menjadi subyek atau obyek sekaligus pada waktu yang bersamaan. Ini tergantung pada usaha si subyek/ obyek dalam menjadikan dirinya sebagai subyek atau obyek.
    Dianalogikan dalam suatu pemerintahan, presiden adalah suatu subyek bagi para menteri sehingga menteri adalah obyeknya, namun menteri sekaligus sebagai subyek bagi keputusan yang diambil sehingga keputusan adalah sebagai obyek.

    ReplyDelete
  50. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Dalam dialog di atas, terdapat dua peran yang terjadi yaitu menjadi subjek dan objek. Kehidupan ini bersifat hemenetika seperti yang dijelaskan oleh Pak Marsigit dalam kelas filsafat. Karena itu, terdapat keterkaitan antara satu makhluk dengan makhluk yang lain atau biasa diartikan saling menerjemahkan. Nah, disitu menimbulkan peran subjek dan objek antar makhluk (baik makhluk hidup maupun mati). Misalkan: Indah memakai kerudung. Disini Indah menerjemahkan kerudung dan kerudung juga menerjemahkan Indah. Indah sebagai subjek dan kerudung sebagai objek.

    ReplyDelete
  51. Hendaknya kita dapat menempatkan diri sebagai objek maupun objek dalam kehidupan. Karena tidak selamanya manusia itu hanya menerima tindakan orang lain atau bertindak sendiri tanpa memikirkan orang lain. Intinya, kita perlu menyeimbangkan peran subjek maupun objek.
    Selain itu, jika berbicara subjek dan objek dalam konteks pembelajaran di kelas. Siswa adalah subjek sekaligus objek belajar. Ini yang seringkali disalahartikan oleh guru bahwa siswa hanyalah objek belajar, yaitu mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru, mencatat tulisan guru di papan tulis, menulis dikte guru, tanpa diberi kesembatan untuk membangun pengetahuannya sendiri melalui aktivitas yang lebih menyenangkan. Itu menjadi tantangan guru saat ini, yaitu menjadikan siswa sebagai subjek belajar dan guru sebagai fasilitator. Jika tidak begitu, maka siswa akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh pengalaman belajar yang baik.

    ReplyDelete
  52. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Dari elegi diatas saya merefleksi bahwa subyek dan obyek itu saling membutuhkan, sama saja seperti wadah dan isis. Tak ada subyek jika tak ada obyek dan tak ada obyek jika tak ada subyek. Subyek dan obyek memiliki perannya masing-masing yang saling mempengaruhi.

    ReplyDelete
  53. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Setiap manusia dapat menjadi subjek maupun objek. Jikalau ia mampu memerdekakan dirinya dan menimpakan sifatnya kepada yang lain maka dia adalah subjek. Jikalau ia dikuasai oleh yang lain maka dirinya adalah objek. Jika sesuatu dianggap sebagai objek maka akan ada hal lain yang bertindak sebagi subjeknya. Dikarenakan objek ada karena ia mempunyai subjek, demikian juga sebaliknya.

    ReplyDelete
  54. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Subjek dan objek adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya memiliki keterkaitan. Dalam kehidupan ini terdapat ruang dan waktu, dimana akan berubah sesuai perjalanannya. Dengan begitu subjek dan objek akan ikut berubah juga sesuai dengan perkembangan dan perjalanannya, baik maklhuk hidup maupun benda-benda lain.

    ReplyDelete
  55. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Elegi ini menggambarkan bahwa setiap orang atau bahkan setiap hal bisa menjadi objek maupun objek. Ada kalanya subjek berubah menjadi objek dan sebaliknya objek bisa berubah menjadi subjek. Pada hakekatnya, dalam hidup ini kita semua dapat berperan sebagai subjek dan sekaligus objek. Dan setinggi-tingginya subjek dalam kehidupan ini adalah Allah Yang Maha Kuasa yang benar-benar menguasai seluruh alam beserta isinya. Dan setinggi-tingginya peranan sebagai objek dalam hidup ini adalah keinginan kita untuk berkembang dan terus maju menjadi lebih baik sesuai dengan jalan yang diridhoi-Nya.

    ReplyDelete
  56. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Elegi ini mencerminkan bahwa objek selalu tergantung dengan subjek. Dosen adalah subjeknya mahasiswa, Mahasiswa bisa jadi subjeknya adek tingkat dibawahnya. Orang tua adalah subjek dari anak-anaknya. Namun di sisi lain, kita juga mampu menjadi subjek dan objek sekaligus. Hal itu tergantung peran dalam ruang dan waktunya masing-masing. Misal saja, dosen adalah subjek dari mahasiswa, namun juga objek bagi kaprodi, dekan, dan rektor, dan masih banyak lagi contoh yang lainnya. Pelajaran yang dapat kita ambil adalah, meskipun kita hanya sebuah objek dari suatu subjek, kita tetap harus memiliki pendirian yang kokoh dan konsisten, belum tentu kekuasaan dan kesewenang-wenangan subjek berada pada cara dan jalan yang benar. Maka dari itu kita harus sellau memohon perlindungan dan petunjuk Allah swt baik posisi kita sebagai objek maupuk subjek. Karena hakikatnya sebenar-benar dan setinggi-tinggi subjek hanyalah Allah swt yang menguasai seluruh alam beserta isinya. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  57. Objek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Yang ada seperti yang bisa kita indra seperti besar kecil, baru lama, kotor jernih. Setiap objek memiliki tesis selalu memiliki anti-tesisnya. Maka sebagai objek sudah sepantasnya mensyukuri ada nya objek tersebut

    ReplyDelete
  58. Sebuah rasa kasih syang Tuhan terhadap para objek sudah sepantasnya disyukuri. Apapun yang terjadi pada objek adalah bentu cinta-Nya kepada kita. Untuk itu kita hanya perlu ikhtiar dan berdoa saja, menerima dengan ikhlas apapun yang terjadi. Memberikan segala usaha untuk mencapai hal yang diinginkaan

    ReplyDelete
  59. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Segala sesuatu bisa disebut subyek namun juga bisa disebut obyek. Seperti rantai makanan ada pemangsa dan dimangsa, pemangsa yang paling atas juga bisa dimangsa oleh bakteri yang menguraikannya saat pemangsa sudah mati, begitu seterusnya. Jadi dengan adanya subyek dan obyek maka akan ada keseimbangan di dunia ini.

    ReplyDelete
  60. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Masalah subyek dan obyek semuanya bisa saja terjadi ada kalanya kita menjadi subyek, ada kalanya kita menjadi obyek, ada kalanya kita menjadi subyek sekaligus menjadi obyek. Misalnya saja ketika kita belajar dikelas, maka kita menjadi obyek dan dosen kita bisa menjadi subyek dalam keadaan yang sama kita menjadi subyek buat baju kita, dan baju kita yang kita pakai menjadi obyeknya. Sehingga dalam hal ini kita bisa menjadi subyek dan menjadi obyek sekaligus. Jadi tidak ada alasan sesungguhnya bagi onyek untuk memberontak untuk menjadi subyek karena obyek pun akan bisa menjadi subyek, tergantung situasi dan konteks pembicaraannya.

    ReplyDelete
  61. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    sebenarnya Tuhan telah adali dalam emncipytakan apa yang ada di dunia ini mulai dari manusia, hewan, benda-benda mati dan lain sebagainya, karena memang pada dasarnya Tuhan memberikan para makhluknya keistimewaan masing-masing. Hal inilah yang menjadikan akan indahnya perbedaan antara makhluk yang ada di dunia ii. Masing-masing makhluk diciptakan juga pasanganya. Pasangan yang diberikan juga pasangan yang terbaik bagi masing-masing mereka. Pasnagan diberikan untuk memperindah aapa yang sudah indah di dunia ini.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  62. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Sewaktu masih SD, saya teringat dengan gambar kerbau yang punggungnya ada seekor burung. Burung yang selalu hinggap untuk menikmati kutu-kutu yang ada dipunggung kerbau, sedangkan kerbau semakin nyaman dengan tingkah laku burung tersebut. Keduanya mendapatkan sebuah keuntungan yang bersama, tidak ada yang dirugikan satu sama lain.
    Tindakan burung beserta kerbau ini memberikan gambar bagai seseorang harus dapat menjadi objek maupun subjek. Kedua hal yang berbeda tetapi memiliki sebuah keuntungan bersama demi menciptakan kehidupan yang nyaman. Kita sebagai manusia harus dapat menjadi subjek maupun ojek. Subjek untuk menilai seseorang untuk mendapatkan ilmu, serta harus siap menjadi objek untuk dipandang subjek. Oleh karena itu, kita haus selalu mawasdiri dan memperbaiki diri dari waktu ke waktu.

    ReplyDelete
  63. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Kita akan memahami bahwa “Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu semua adalah determinis-determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu semua adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu semua.” Tindakan ini harus menjadi sebuah pemberontakan bagi diri ini, bahwa aku tanpa mu, hindup akan siasia.

    ReplyDelete
  64. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Subjek dan objek adalah dua hal yang berhubungan. Jika ada subjek maka ada objek, dan jika ada objek maka sudah pasti ada subjeknya. Subjek dan objek memiliki perannya masing-masing, akan tetapi subjek memiliki dimensi yang lebih tinggi sehingga ia pun menguasai objek.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  65. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    elegi diatas mengajarkan bahwa subyek adalah mereka yang berkuasa dan obyek adalah mereka yang dikuasai oleh subyek. manusia adalah makhlul hidup yang diciptakan untuk membantu sesama bukan untuk memerintah atau pun berkuasa atas manusia lainnya.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  66. Dheni Nugroho
    17709251023
    PPs Pendidikan Matematika

    Subyek adalah orang yang berkuasa dan obyek adalah orang yang berkuasa. Saya ingin mengibaratkan subyek ini sebagai guru dan obyek ini sebagai siswa. Tidadalah benar jika seorang guru memposisikan dirinya sebagai subyek karena sejatinya siswa sebagai obyek ingin merdeka, mereka ingin belajar matematika secara bebas. Jika guru selalu menjadi subyek maka yang terjadi adalah pembelajaran yang otoriter. Maka, kita sebagai calon guru mari tidak berlaku sebagai subyek untuk selalu memperdekakakn siswa kita akan mereka bisa "bebas" dalam belajar matematika.

    ReplyDelete
  67. Lisfiyati Mukarromah
    15301241042
    Pendidikan Matematika A 2015
    Semua manusia bisa berperan sebagai subyek maupun obyek sekaligus.
    Dalam dunia pendidikan misalnya, siswa bisa dikatakan sebagai obyek pendidikan jika pada kegiatan pembelajarannya siswa hanya bertindak pasif. Pada pembelajaran seperti ini, siswa hanya mendengarkan ceramah dari guru dan hanya mengikuti semua perintah yang diberikan oleh guru. Siswa yang bertindak sebagai obyek tidak akan mencari sumber belajar lain selain dari guru, guru cenderung bersifat otoriter. Sistem pendidikan yang seperti ini sudah harus dihindari.
    Siswa seharusnya menjadi subyek dalam pembelajaran. Model pembelajaran yang sesuai yaitu dengan student center. Siswa ikut aktif berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran, sedangkan guru hanya bertindak sebagai fasilitator. Pada pembelajaran dengan student center, sumber belajar siswa bukan hanya guru. Siswa aktif belajar secara mandiri dan mencari sumber-sumber lain yang relevan. Dengan pembelajaran seperti ini siswa benar-benar menjari “subyek” dalam pembelajaran, bukan hanya menjadi “obyek” pembelajaran.

    ReplyDelete
  68. Qorry Aina Fitroh
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241047

    Subjek dan objek adalah dua hal yang saling berkaitan sehingga tidak dapat dipisahkan. Setiap diri kita bisa menjadi subjek dan objek, tergantung pemaknaan. Seperti halnya dikatakan dalam artikel di atas bahwa si guru adalah subjek, sedangkan si siswa adalah objek. Si siswa juga bisa menjadi subjek dengan objeknya belajar. Sehingga perubahan subjek dan objek bergantung pada ruang dan waktu, sesuai dengan perkembangannya.

    ReplyDelete
  69. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Puspitarani
      15301244008
      S1 Pendidikan Matematika A 2015
      Terima kaih Bapak atas artikel mengenai elegi pemberontakan para obyek yang telah Bapak share kepada kami. Menurut saya subjek dan objek itu berbeda. namun dalam suatu kesempatan baik objek dan subyek dapat saling berkaitan satu sama lain. Setiap objek adalah bayangan dari subjek di dalam ruang dan waktunya. Seseorang bisa menjadi subjek dan objek dari orang satu orang yang sama. sebagai contoh, Seorang guru menjadi subjek dari peserta didik di sekolahnya. Namun guru tersebut di sekolahnya juga merupakan seorang kepala sekolah. Maka dari itu guru tersebut kemudian bisa disebut sebagai objek dari seorang siswa yang mempunyai jabatan sebagai guru mereka, dan guru tersebut menjadi subjek dari guru yang lainnya di sekolahnya yang mempunyai jabatan sebagai kepala sekolah.

      Delete
  70. Yuni Pratiwi
    15301241005
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Sebenarnya menjadi subjek atau objek bukanlah suatu pilihan, kenapa (?) seseorang dapat menjadi subjek dan objek sekaligus. Contohnya saja kita mahasiswa, ketika dikampus kita menjadi objek sedangkan dosen menjadi subjek. Tetapi ketika kita sedang mengajar di bimbingan belajar kita menjadi subjek sedangkan anak lesnya menjadi objek. Tetapi hanya ada satu subjek yang sebenar-benarnya subjek yaitu Allah SWT.

    ReplyDelete
  71. Julialita Muhariani
    15301241004
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Setiap manusia bisa menjadi subjek dan menjadi objek, ini tergantung dengan sudut pandang yang diambil juga ruang dan waktunya. Jadi salah bila kita memperdebatkan apakah diri kita itu subjek ataukah objek. Karena pada setiap situasi dan kondisi yang berbeda maka makna subjek atau objek pun akan berubah-berubah.

    ReplyDelete
  72. Almaida Alvi Zahrotunnisa
    Pendidikan Matematika A 2015/S1
    15301241046
    Setiap orang dapat menjadi subjek dan objek tergantung ruang dan waktunya. Misalnya saya menjadi subjek bagi orang tua saya, tapi saya adalah objek bagi adik saya. Karenanya setiap manusia harus pandai menempatkan diri, baik saat menjadi subjek maupun saat menjadi objek bagi orang lain.

    ReplyDelete
  73. Zudhy Nur Alfian
    15301241035
    S1 Pend Matematika 2015

    Sebenarnya setiap makhluk hidup dapat menjadi subyek maupun obyek. Pemikiran kita adalah jikalau ada subyek maka akan ada obyek dari subyek tersebut. Ya itu benar, tetapi sekali lagi setiap makhluk hidup dapat menjadi subyek. Subyek kan berarti menguasai sedangkan obyek adalah yang dikuasai. Dari bagian terakhir artikel ini, kita tahu bahwa sesuatu bahwa suatu obyek bisa saja yaitu keinginannya sendiri yang kuat akan suatu hal. Itu berarti dirinya sebagai penguasa atas keinginannya. Jangan sampai keinginan tersebut malah berbalik menguasai diri.

    ReplyDelete
  74. Monica Ansella
    15301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Mencuplik dialog dari Orang Tua Berambut Putih: “Subyek adalah mereka yang berkuasa. Sedangkan obyek adalah mereka yang dikuasai.”
    Jika seorang pengajar masih memandang muridnya sebagai obyek belajar, bukankah berarti guru itu semata-mata ingin menguasai muridnya? Padahal dalam pembelajaran, siswa berhak untuk “menguasai” proses belajar. Pemikiran ini menjadi refleksi dan bekal bagi saya betapa pentingnya penentuan siswa sebagai subyek belajar. Untuk diriku di masa depan yang (mungkin) menjadi pengajar: Siswa sebagai subyek belajar berarti siswa membangun sendiri pengetahuannya. Bukan berarti guru lepas tangan. Peran guru adalah sebagai fasilitator. Maka dari itu, selalu ingatlah bahwa murid adalah subyek belajar, bukan sekedar orang-orang yang dapat guru kuasai dalam pembelajaran, dan adanya dirimu (sebagai pengajar) berperan dalam memfasilitasi pembelajaran itu.

    ReplyDelete
  75. Aji Pangestu
    15301241009
    S1 Pendidikan Matematika I 2015
    Semua objek yang berada di dunia ini merupakan sebaik-baik ciptaan Tuhan YME, maka dari itu, objek harus mensyukuri apa yang telah menjadi kehendakNYA.

    ReplyDelete