Oct 15, 2010

Elegi Pemberontakan Para Obyek




Oleh: Marsigit

Obyek satu:
Wahai subyekku, sungguh hebatlah engkau itu. Sungguh perkasalah engkau di situ. Sungguh digdayalah engkau di situ. Sungguh besarlah engkau di situ. Sungguh tinggilah engkau di situ. Sungguh kuasalah engkau di situ. Sungguh dominannya engkau di situ. Sungguh rapatlah engkau di situ. Sungguh solidlah engkau di situ. Sungguh tegarlah engkau di situ. Sungguh menentukanlah engkau di situ. Tetapi juga sungguh menakutkanlah engkau di situ. Janganlah engkau bergerak atau berucap. Engkau di situ terdiam saja aku sungguh takut terhadap dirimu. Aku merasa lemah di dekat dirimu. Aku merasa kecil di dekat dirimu. Aku merasa rendah di dekat dirimu. Aku merasa tertutup di dekat dirimu. Aku merasa kacau dan berantakan di dekat dirimu. Aku merada ciut nyaliku di dekat dirimu. Aku merasa tidak dapat berbuat apa-apa di dekat dirimu. Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu adalah determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu.


Obyek dua:
Wahai obyek satu, sungguh hebatlah engkau itu. Aku merasa tidak dapat berbuat apa-apa di dekat dirimu. Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu adalah determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu.

Obyek ketiga:
Wahai obyek dua, sungguh hebatlah engkau itu. Aku merasa tidak dapat berbuat apa-apa di dekat dirimu. Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu adalah determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu.
.... dst

Obyek ke n:
Wahai obyek ke n-1, sungguh hebatlah engkau itu. Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu adalah determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu.

Obyek ke n masih ingin bicara:
Wahai obyek ke 1, obyek ke 2, obyek ke 3, obyek ke 4, ...obyek ke n-1, sungguh hebatlah engkau itu. Sungguh perkasalah engkau di situ. Sungguh digdayalah engkau di situ. Sungguh besarlah engkau di situ. Sungguh tinggilah engkau di situ. Sungguh kuasalah engkau di situ. Sungguh dominannya engkau di situ. Sungguh rapatlah engkau di situ. Sungguh solidlah engkau di situ. Sungguh tegarlah engkau di situ. Sungguh menentukanlah engkau di situ. Tetapi juga sungguh menakutkanlah engkau di situ. Janganlah engkau bergerak atau berucap. Engkau di situ terdiam saja aku sungguh takut terhadap dirimu. Aku merasa lemah di dekat dirimu. Aku merasa kecil di dekat dirimu. Aku merasa rendah di dekat dirimu. Aku merasa tertutup di dekat dirimu. Aku merasa kacau dan berantakan di dekat dirimu. Aku merada ciut nyaliku di dekat dirimu. Aku merasa tidak dapat berbuat apa-apa di dekat dirimu. Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu semua adalah determinis-determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu semua adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu semua. Ya Tuhan betapa sengsara hidupku ini. Kenapa semua yang ada di sekitarku bersifat mengendalikanku. Kenapa yang ada di sekitarku selalu menimpakan sifat-sifatnya kepadaku. Kenapa aku tidak dapat menunjuk sifat-sifatku walau sebuahpun. Maka sebenar-benar diriku itu adalah sudah tiada. Tiadalah diriku. Tiadalah pikiranku. Tiadalah hatiku. Tiadalah jiwaku. Tiadalah jati diriku. Dan tiadalah identitasku. Maka senyata-nyatanya semua yang ada disekitarku adalah monster-monster pemangsa sifat-sifatku. Apakah masih ada makhluk yang dapat aku ajak bicara?

Orang tua berambut putih datang:
Akulah orang yang selalu muncul pada setiap pertanyaan. Karena sebetul-betul diriku adalah ilmumu. Boleh yang lain habis dan lenyap dari dirimu. Tetapi selama engkau masih mampu bertanya, maka dirikulah yang masih tersisa.

Obyek ke n:
Wahai orang tua berambut putih. Apakah engkau mendengar semua kalimat dan percakapanku? Jika ya maka bagaimanakah kelanjutan diriku itu. Kemudian apa pula yang harus aku lakukan.

Orang tua berambut putih:
Betul katamu. Aku mendengar semua yang engkau katakan. Inilah kesaksianku, bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa semua ucapan-ucapanmu itu hanyalah berkenaan dengan hubungan antar sifat-sifat. Subyek akan selalu menimpakan sifat-sifat kepada obyeknya, baik disengaja maupun tidak disengaja. Maka sebenar-benar untung adalah menjadi subyek, dan sebenar-benar rugi adalah menjadi obyek.

Obyek ke n:
Siapakah sebenarnya subyek dan obyek itu?

Orang tua berambut putih:
Subyek adalah mereka yang berkuasa. Sedangkan obyek adalah mereka yang dikuasai.

Obyek ke n:
Contoh kongkritnya?

Orang tua berambut putih:
Si kaya adalah subyek, sedangkan obyeknya adalah si miskin. Si tua adalah subyek, sedangkan si muda adalah obyeknya. Si pemodal adalah subyek, sedangkan si peminjam adalah obyeknya. Si bapak adalah subyek, sedangkan si anak adalah obyeknya. Si dosen adalah subyek, sedangkan si mahasiswa adalah obyeknya. Si guru adalah subyek, sedangkan si siswa adalah obyeknya. Si mobil adalah subyek, sedangkan si montor adalah obyeknya. Si lurah adalah subyek, sedangkan si carik adalah obyeknya. Si canggih adalah subyek, sedangkan si tradisional adalah obyeknya. Si mahal adalah subyek, sedangkan si murah adalah obyeknya. Si bicara adalah subyek, sedangkan si diam adalah obyeknya. Si banyak adalah subyek, sedangkan si sedikit adalah obyeknya. Si ketua adalah subyek, sedangkan si anggota adalah obyeknya. Si cantik adalah subyek, sedangkan si tidak cantik adalah obyeknya. Si banyak teman adalah subyek, sedangkan si sedikit teman adalah obyeknya. dst.dst.

Obyek ke n:
Jikalau aku ingin jadi subyek, maka siapakah obyekku itu?

Orang tua berambut putih:
Sayangnya tiadalah sesuatupun bersedia menjadi obyekmu.

Obyek ke n:
Ini tidak adil. Aku harus tuntut keadilan. Aku ingin memberontak. Mereka dan aku toh sama-sama makhluk hidup. Mengapa mesti aku dan mereka mempunyai nasib yang berbeda. Aku ingin merdeka dari segala sifat yang menimpaku.

Orang tua berambut putih:
Inilah kesaksianku. Aku benar-benar telah menyaksikan dirimu telah menjadi subyek. Sedangkan obyeknya adalah keinginanmu untuk merdeka.

20 comments:

  1. Aristiawan
    17701251025
    PEP B 2017

    Kita bisa menjadi subjek dan objek disaat bersamaan. Dosen dapat menjadi subjek bagi mahasiswanya, tapi di saat yang bersamaan ia adalah objek dari dekan. Dekan adalah subjek dari dosen, tapi ia adalah objek dari rektor. Rector meskipun adalah subjek dari dekan, tapi ia adalah objek dari menteri. Menteri adalah subjek dari rector, tapi ia adalah objek dari presiden. Presiden adalah subjek dari para menteri, tapi ia harusnya adalah objek dari rakyatnya. Sementara itu, rakyat adalah objek dari Tuhan. Maka sebenar-benar subjek adalah Tuhan Yang Maha Kuasa

    ReplyDelete
  2. Muh Wildanul Firdaus
    17709251057
    Pendidikan Matematika S2 Kelas C

    Setiap objek adalah bayangan dari subjek di dalam ruang dan waktunya. Seseorang bisa menjadi subjek dan objek dari orang satu orang yang sama. sebagai contoh, Seorang Dekan menjadi subjek dari dosen-dosen di fakultasnya. Namun ada salah satu dosen di fakultasnya merupakan seorang Rektor. Maka dari itu Dekan tersebut kemudian bisa disebut sebagai objek dari seorang dosen di fakultasnya yang mempunyai jabatan sebagai Rektor.

    ReplyDelete
  3. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Segala sesuatu dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Terkadang mereka bisa menjadi subyek atau obyek sekaligus pada waktu yang bersamaan. Ini tergantung pada usaha si subyek/ obyek dalam menjadikan dirinya sebagai subyek atau obyek.
    Dianalogikan dalam suatu pemerintahan, presiden adalah suatu subyek bagi para menteri sehingga menteri adalah obyeknya, namun menteri sekaligus sebagai subyek bagi keputusan yang diambil sehingga keputusan adalah sebagai obyek.

    ReplyDelete
  4. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Dalam dialog di atas, terdapat dua peran yang terjadi yaitu menjadi subjek dan objek. Kehidupan ini bersifat hemenetika seperti yang dijelaskan oleh Pak Marsigit dalam kelas filsafat. Karena itu, terdapat keterkaitan antara satu makhluk dengan makhluk yang lain atau biasa diartikan saling menerjemahkan. Nah, disitu menimbulkan peran subjek dan objek antar makhluk (baik makhluk hidup maupun mati). Misalkan: Indah memakai kerudung. Disini Indah menerjemahkan kerudung dan kerudung juga menerjemahkan Indah. Indah sebagai subjek dan kerudung sebagai objek.

    ReplyDelete
  5. Hendaknya kita dapat menempatkan diri sebagai objek maupun objek dalam kehidupan. Karena tidak selamanya manusia itu hanya menerima tindakan orang lain atau bertindak sendiri tanpa memikirkan orang lain. Intinya, kita perlu menyeimbangkan peran subjek maupun objek.
    Selain itu, jika berbicara subjek dan objek dalam konteks pembelajaran di kelas. Siswa adalah subjek sekaligus objek belajar. Ini yang seringkali disalahartikan oleh guru bahwa siswa hanyalah objek belajar, yaitu mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru, mencatat tulisan guru di papan tulis, menulis dikte guru, tanpa diberi kesembatan untuk membangun pengetahuannya sendiri melalui aktivitas yang lebih menyenangkan. Itu menjadi tantangan guru saat ini, yaitu menjadikan siswa sebagai subjek belajar dan guru sebagai fasilitator. Jika tidak begitu, maka siswa akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh pengalaman belajar yang baik.

    ReplyDelete
  6. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Dari elegi diatas saya merefleksi bahwa subyek dan obyek itu saling membutuhkan, sama saja seperti wadah dan isis. Tak ada subyek jika tak ada obyek dan tak ada obyek jika tak ada subyek. Subyek dan obyek memiliki perannya masing-masing yang saling mempengaruhi.

    ReplyDelete
  7. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Setiap manusia dapat menjadi subjek maupun objek. Jikalau ia mampu memerdekakan dirinya dan menimpakan sifatnya kepada yang lain maka dia adalah subjek. Jikalau ia dikuasai oleh yang lain maka dirinya adalah objek. Jika sesuatu dianggap sebagai objek maka akan ada hal lain yang bertindak sebagi subjeknya. Dikarenakan objek ada karena ia mempunyai subjek, demikian juga sebaliknya.

    ReplyDelete
  8. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Subjek dan objek adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya memiliki keterkaitan. Dalam kehidupan ini terdapat ruang dan waktu, dimana akan berubah sesuai perjalanannya. Dengan begitu subjek dan objek akan ikut berubah juga sesuai dengan perkembangan dan perjalanannya, baik maklhuk hidup maupun benda-benda lain.

    ReplyDelete
  9. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Elegi ini menggambarkan bahwa setiap orang atau bahkan setiap hal bisa menjadi objek maupun objek. Ada kalanya subjek berubah menjadi objek dan sebaliknya objek bisa berubah menjadi subjek. Pada hakekatnya, dalam hidup ini kita semua dapat berperan sebagai subjek dan sekaligus objek. Dan setinggi-tingginya subjek dalam kehidupan ini adalah Allah Yang Maha Kuasa yang benar-benar menguasai seluruh alam beserta isinya. Dan setinggi-tingginya peranan sebagai objek dalam hidup ini adalah keinginan kita untuk berkembang dan terus maju menjadi lebih baik sesuai dengan jalan yang diridhoi-Nya.

    ReplyDelete
  10. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Elegi ini mencerminkan bahwa objek selalu tergantung dengan subjek. Dosen adalah subjeknya mahasiswa, Mahasiswa bisa jadi subjeknya adek tingkat dibawahnya. Orang tua adalah subjek dari anak-anaknya. Namun di sisi lain, kita juga mampu menjadi subjek dan objek sekaligus. Hal itu tergantung peran dalam ruang dan waktunya masing-masing. Misal saja, dosen adalah subjek dari mahasiswa, namun juga objek bagi kaprodi, dekan, dan rektor, dan masih banyak lagi contoh yang lainnya. Pelajaran yang dapat kita ambil adalah, meskipun kita hanya sebuah objek dari suatu subjek, kita tetap harus memiliki pendirian yang kokoh dan konsisten, belum tentu kekuasaan dan kesewenang-wenangan subjek berada pada cara dan jalan yang benar. Maka dari itu kita harus sellau memohon perlindungan dan petunjuk Allah swt baik posisi kita sebagai objek maupuk subjek. Karena hakikatnya sebenar-benar dan setinggi-tinggi subjek hanyalah Allah swt yang menguasai seluruh alam beserta isinya. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  11. Objek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Yang ada seperti yang bisa kita indra seperti besar kecil, baru lama, kotor jernih. Setiap objek memiliki tesis selalu memiliki anti-tesisnya. Maka sebagai objek sudah sepantasnya mensyukuri ada nya objek tersebut

    ReplyDelete
  12. Sebuah rasa kasih syang Tuhan terhadap para objek sudah sepantasnya disyukuri. Apapun yang terjadi pada objek adalah bentu cinta-Nya kepada kita. Untuk itu kita hanya perlu ikhtiar dan berdoa saja, menerima dengan ikhlas apapun yang terjadi. Memberikan segala usaha untuk mencapai hal yang diinginkaan

    ReplyDelete
  13. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Segala sesuatu bisa disebut subyek namun juga bisa disebut obyek. Seperti rantai makanan ada pemangsa dan dimangsa, pemangsa yang paling atas juga bisa dimangsa oleh bakteri yang menguraikannya saat pemangsa sudah mati, begitu seterusnya. Jadi dengan adanya subyek dan obyek maka akan ada keseimbangan di dunia ini.

    ReplyDelete
  14. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Masalah subyek dan obyek semuanya bisa saja terjadi ada kalanya kita menjadi subyek, ada kalanya kita menjadi obyek, ada kalanya kita menjadi subyek sekaligus menjadi obyek. Misalnya saja ketika kita belajar dikelas, maka kita menjadi obyek dan dosen kita bisa menjadi subyek dalam keadaan yang sama kita menjadi subyek buat baju kita, dan baju kita yang kita pakai menjadi obyeknya. Sehingga dalam hal ini kita bisa menjadi subyek dan menjadi obyek sekaligus. Jadi tidak ada alasan sesungguhnya bagi onyek untuk memberontak untuk menjadi subyek karena obyek pun akan bisa menjadi subyek, tergantung situasi dan konteks pembicaraannya.

    ReplyDelete
  15. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    sebenarnya Tuhan telah adali dalam emncipytakan apa yang ada di dunia ini mulai dari manusia, hewan, benda-benda mati dan lain sebagainya, karena memang pada dasarnya Tuhan memberikan para makhluknya keistimewaan masing-masing. Hal inilah yang menjadikan akan indahnya perbedaan antara makhluk yang ada di dunia ii. Masing-masing makhluk diciptakan juga pasanganya. Pasangan yang diberikan juga pasangan yang terbaik bagi masing-masing mereka. Pasnagan diberikan untuk memperindah aapa yang sudah indah di dunia ini.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  16. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Sewaktu masih SD, saya teringat dengan gambar kerbau yang punggungnya ada seekor burung. Burung yang selalu hinggap untuk menikmati kutu-kutu yang ada dipunggung kerbau, sedangkan kerbau semakin nyaman dengan tingkah laku burung tersebut. Keduanya mendapatkan sebuah keuntungan yang bersama, tidak ada yang dirugikan satu sama lain.
    Tindakan burung beserta kerbau ini memberikan gambar bagai seseorang harus dapat menjadi objek maupun subjek. Kedua hal yang berbeda tetapi memiliki sebuah keuntungan bersama demi menciptakan kehidupan yang nyaman. Kita sebagai manusia harus dapat menjadi subjek maupun ojek. Subjek untuk menilai seseorang untuk mendapatkan ilmu, serta harus siap menjadi objek untuk dipandang subjek. Oleh karena itu, kita haus selalu mawasdiri dan memperbaiki diri dari waktu ke waktu.

    ReplyDelete
  17. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Kita akan memahami bahwa “Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu semua adalah determinis-determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu semua adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu semua.” Tindakan ini harus menjadi sebuah pemberontakan bagi diri ini, bahwa aku tanpa mu, hindup akan siasia.

    ReplyDelete
  18. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Subjek dan objek adalah dua hal yang berhubungan. Jika ada subjek maka ada objek, dan jika ada objek maka sudah pasti ada subjeknya. Subjek dan objek memiliki perannya masing-masing, akan tetapi subjek memiliki dimensi yang lebih tinggi sehingga ia pun menguasai objek.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  19. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    elegi diatas mengajarkan bahwa subyek adalah mereka yang berkuasa dan obyek adalah mereka yang dikuasai oleh subyek. manusia adalah makhlul hidup yang diciptakan untuk membantu sesama bukan untuk memerintah atau pun berkuasa atas manusia lainnya.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  20. Dheni Nugroho
    17709251023
    PPs Pendidikan Matematika

    Subyek adalah orang yang berkuasa dan obyek adalah orang yang berkuasa. Saya ingin mengibaratkan subyek ini sebagai guru dan obyek ini sebagai siswa. Tidadalah benar jika seorang guru memposisikan dirinya sebagai subyek karena sejatinya siswa sebagai obyek ingin merdeka, mereka ingin belajar matematika secara bebas. Jika guru selalu menjadi subyek maka yang terjadi adalah pembelajaran yang otoriter. Maka, kita sebagai calon guru mari tidak berlaku sebagai subyek untuk selalu memperdekakakn siswa kita akan mereka bisa "bebas" dalam belajar matematika.

    ReplyDelete