Nov 6, 2014

Penerapan Filsafat Ilmu pada Pendidikan Matematika 1

Ass wr wb



Pada hari ini Kamis, 6 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika Kelas PM A di R 306 B Pasca Lama pk 07.30 sd 09.10, saya akan memberi pengantar tentang Penerapan Filsafat Ilmu untuk Pendidikan Matematika. Kuliah di hadiri oleh 21 mahasiswa. Sementara saya menyilahkan para mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan.


Baiklah untuk membahas tentang penerapan Filsafat Ilmu pada Pendidikan Matematika, maka pertama-tama kita perlu mendudukan atau memosisikan Filsafat Ilmu dalam konteks yang mendahului atau melatarbelakangi atau yang mendasari segala bentuk atau aspek pengembangan Pendidikan Matematika.

Langkah berikutnya adalah mengidentifikasi atau mereview karakteristik, cakupan, metode dan macam-macam bentuk Filsafat Ilmu berdasarkan pikiran para Filsuf yang merentang dalam sejarahnya.

Setelah itu kita berusaha untuk melakukan hal yang sama yaitu mengidentifikasi dan mereview karakteristik, cakupan, metode dan macam-macam bentuk implementasi dan pengembangan Pendidikan Matematika merentang dari tataran ideal, realis, rasional, empiris, sampai dengan socio-constructivis dan kontemporer, beserta segala seluk-beluk permasalahan yang muncul berdasarkan konteks budaya, filsafat, ideologi dan politik.

Ternyata aku telah menemukan dua dunia yang telah, sedang dan akan berkemistri yaitu dunia Filsafat Ilmu dan dunia Pendidikan Matematika.

Mengidentifikasi atau mereview kharakter, secara filsafati berari mencari tesis-tesis, dan anti-tesis, anti tesis serta membuat  sintesis-sintesis. Hal demikian telah kita lakukan sejak dari kegiatan perkuliahan pertama hingga sekarang.

Saya mempunyai keyakinan, bahwa para mahasiswa peserta kuliah ini sudah mempunyai pengetahuan dan pengalaman masing-masing sebagai prerequisite dalam menjawab persoalan yang saya kemukakan pada hari ini yaitu bagaimana penerapan Filsafat Ilmu dalam Pendidikan Matematika.

Untuk itu berikut ini saya akan memberi kesempatan brainstorming kepada para mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaannya, sebagai berikut:

1. Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?
2. Bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas?
3. Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan?
4. Apakah pembelajaran matematika berbasis proyek mempunyai landasan filsafat?
5. Bagaimana filsafat memandang adanya konsep-konsep matematika seperti bilangan, geometri, dst?
6. Apa yang dimaksud sikap matematika secara filsafat?
7. Apakah hakekat komunikasi dan komunikasi matematika secara filsafat?
8. Apakah hakikat penugasan kepada siswa itu? Termasuk di dalamnya apakah hakikat sebuah PR ditinjau secara filsafat?
9. Sejauh mana kita dapat mengambangkan nilai-nilai spiritual dalam pembelajaran matematika?
10. Bagaimana filsafat memandang bahwa dalam pembelajaran yang diselenggarakan oleh seorang guru, maka guru yang bersangkutan pun perlu berlaku santun? Santun terhadap apa dan siapa dan bagaimana mewujudkannya?
11. Secara filsafat, apakah yang dimaksud dengan kompetensi itu? Secara khusus apakah yang dimaksud dengan Kompetensi Siswa? Kompetensi Guru dan Kompetensi Matematika?
12. Apakah hakekat Mengajar, Mendidik, Belajar, Metode, RPP, LKS, Menilai, dst?
13. Secara filsafat, apakah sebenarnya konsep Pendidikan itu? Apakah perbedaan Pendidikan sebagai Investasi dan Sebagai Kebutuhan, serta bagaimana implikasinya terhadap Kurikulum?
14. Secara filsafat, Matematika yang seperti apa yang cocok dan yang tidak cocok untuk anak kecil? Apakah ada matematika yang hanya untuk orang dewasa? Secara labih khusus, apakah sebenarnya yang disebut matematika sebagai Ratu atau matematika sebagai Pelayan? Apakah untuk seorang anak kecil dalam belajar matematika sudah dapat sampai ke wacana menjadi Ratu atau Pelayan?
15. Apakah pikiran para siswa (anak kecil) sudah dapat disebut sebagai berfilsafat? Jika belum bagaimana penjelasannya?
16. Bagaimana menerapkan pendekatan Hermenitika dalam pembelajaran matematika?
17. Bagaimana atau sejauh mana aliran-aliran filsafat, seperti Idealisme, Realisme, Rasionalisme dan Empirisime, menampakan diri dalam implementasi kegiatan praktis, seperti halnya pada pembelajaran matematika?
18. Bagaimana kedudukan Persepsi, Apersepsi, Imajinasi, dan Intuisi dalam Filsafat; serta bagaimana implikasinya dalam pendidikan/pembelajaran matematika?
19. Apakah yang dimaksud sebagai Pemecahan Masalah (Problem Solving) secara filsafati?
20. Apakah secara filsafati ada konsep keikhlasan dalam belajar matematika? Jika ada, mohon penjelasannya?
21. Bagaimana filsafat mampu menjelaskan fenomena psikologi dalam belajar matematika, misalnya rasa percaya diri, motivasi, rasa ingin tahu, ingin bertanya, belajar sendiri, ingin bekerja sama, kecemasan, kreativitas, daya juang, sikap matematika, sikap terhadap matematika, sikap menghargai, sikap toleransi, dst?
22. Bagaimana filsafat memandang adanya praktik pembelajaran matematika yang masih tradisional dan yang sudah inovatif? Apakah ada konsep pembelajaran matematika kontemporer?
23. Apakah perbedaan filsafat dan ideologi pendidikan?; dan bagaimana implikasinya terhadap pembelajaran matematika? Secara lebih khusus apakah yang dimaksud dengan pembelajaran matematika yang bersifat Progresif dan Konservatif?

Baiklah saudara semua. Saya sangat mengapresiasi partisipasi dari anda untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaannya. Saya minta maaf karena keterbatasan ruang dan waktu saya tidak dapat menyebutkan setiap nama dari penanya.

Agar diperoleh pengetahuan yang bersifat cair, demokratis, natural, dan menanmpung semua aspirasi, maka saya menyilahkan pembaca yang budiman untuk menanggapi atau menjawab satu atau lebih dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Saya sendiri sebagai dosen pengampu akan memberikan/menguraikan jawaban-jawaban saya dalam perkuliahan di kelas dan ada kemungkinan akan saya posting juga.

Kuliah ini sengaja saya share agar dapat memberi manfaat yang lebih luas.

Demikianlah saya menunggu partisipasi anda semua. Semoga bermanfaat. Amin

Dosen ybs

Marsigit






60 comments:

  1. Nurul Imtikhanah
    13301244002
    Pendidikan Matematika C 2013

    Mencoba menanggapi pertanyaan tenatnag bagaimana filsafat memandang tentang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa, menurut saya manusia diciptakan berbeda-beda. Apabila dalam imu matematika kita mengenal x=x maka hal tersebut tidak akan berlaku dalam kehidupan nyata. Setiap manusia pastilah berbeda, maupun seroang kembar identik sekalipun pasti akan terdapat perbedaan dari segi karakter. Adapun perbedaan kemampuan berpikir seseorang tergantung atas pengalaman dan bagaiman acara orang tersebut memperlakukan kehidupannya sehingga perbedaan karakter dan kemampuan berpikir adalah anugerah dari yang kuasa.

    ReplyDelete
  2. Riska Ayu Ardani
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Bagaimana filsafat memandang adanya konsep-konsep matematika seperti bilangan, geometri, dsb?
    Salah satu konsep yang dipandang dan memiliki korelasi dengan filsafat adalah logika matematika (materi logika)
    Nama logika pertama kali muncul pada filsuf Cicero (abad ke 1 sebelum Masehi) dalam arti "seni berdebat". Bagian dari logika adalah asas asas yang menentukakan pemikiran yang lurus, tepat, dan sehat. Berpikir merupakan sebuah materi dari logika itu sendiri. Pada logika berfikir sesuatu dipandang dari sudut kelurusan dan ketepatannya,karena hal ini merupakan bentuk formal dari logika. logika tidak termasuk dalam sebuah ilmu pengetahuan melainkan mendahului terbentuknya ilmu pengetahuan yang kemudian digunakan sebagai persiapan untuk berpikir dengan cara ilmiah.

    ReplyDelete
  3. Firda Listia Dewi
    16701251014
    PEP S2 Kelas B

    15. Apakah pikiran para siswa (anak kecil) sudah dapat disebut sebagai berfilsafat? Jika belum bagaimana penjelasannya?

    Filsafat ada dalam diri kita semua. Tidak terkecuali pada anak-anak. Secara alamiah, anak-anak telah memiliki intuisi filosofis untuk mempertanyakan segala sesuatu. Bahkan untuk menjawab pertanyaan yang muncul dari anak-anak perlu dilakukan pendekatan sejarah, politik, maupun ekonomi. Hal ini sejalan dengan pernyataan Maughn Gregory(Professor di Montclair State University, Amerika Serikat), bahwa pemahaman dan gaya berpikir filsafat yang diberikan sejak anal-anak dapat meningkatkan kemampuan berbahasa, kemampuan berhubungan dengan orang lain, kemampuan berhadapan dengan kegagalan, dan kemampuan berpikir terbuka.

    ReplyDelete
  4. Diah Ayu IndraningtiasOctober 27, 2016 at 6:01 AM

    Diah Ayu Indraningtias
    13301241049
    Pendidikan Matematika A 2013

    Bismillah
    Saya ingin menanggapi pertanyaan di atas:
    19. Apakah yang dimaksud sebagai Pemecahan Masalah (Problem Solving) secara filsafati?

    Problem solving adalah suatu proses mental dan intelektual dalam menemukan masalah dan memecahkan berdasarkan data dan informasi yang akurat, sehingga dapat diambil kesimpulan yang tepat dan cermat (Hamalik, 1994:151). Sedangkan filsafat menurut Driyakarya adalah perenungan yang sedalam-dalamnya tentang sebab-sebabnya ada dan berbuat, perenungan tentang kenyataan yang sedalam-dalamnya sampai “mengapa yang penghabisan“. Selain itu filsafat menurut Sidi Gazalba adalah mencari kebenaran dari kebenaran untuk kebenaran, tentang segala sesuatu yang di masalahkan, dengan berfikir radikal, sistematik dan universal. Dari pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pemecahan masalah secara filsafati adalah memecahkan/menyelesaikan masalah dengan mencari kebenaran dari segala sesuatu yang di masalahkan, dengan berfikir radikal, sistematik dan universal. Adapun langkah- langkahnya adalah sebagai berikut.
    1. Mengidentifikasi masalah secara tepat
    2. Menentukan sumber dan akar penyebab dari masalah
    3. Menentukan solusi masalah secara efektif dan efisien.
    Adapun langkah-langkah Solusi masalah yang efektif dan efisien yaitu:
    a. Mendefinisikan secara tertulis
    b. Membangun diagram sebab akibat yang dimodifikasi untuk mendefinisikan : 1) akar penyebab dari masalah itu, 2) penyebab-penyebab yang tidak dapat dikendalikan, namun dapat diperkirakan
    c. Setiap akar penyebab dari masalah dimasuskkan ke dalam diagram sebab akibat . sedangkan penyebab yang tidak dapat diperkirakan, didaftarkan pada sebab akibat itu secara tersendiri
    d. Mendefinisikan tindakan atau solusi yang efektif melalui memperhatikan dan mempertimbangkan : 1)pencegahan terulang atau muncul kembali penyebab –penyebab itu, 2) tindakan yang diambil harus ada di bawah pengendalian kita, dan 3) memenuhi tujuan dan target kinerja yang ditetapkan.
    e. Menerapkan atau melakukan implementasi atau tindakan-tindakan yang diajukan

    ReplyDelete
  5. DARWIS CAHYO NUGROHO
    13301244014
    PENDIDIKAN MATEMATIKA C 2013

    Belajar matematika menyenangkan.
    Tidak hanya Matematika, mata pelajaran apapun akan menyenangkan jika penyampaian guru sampaik kepada siswa dengan baik. Selama ini siswa berkata bahwa matematika tidak menyenangkan. Itu semua karena materi matematika tidak sampai kepada siswa sehingga nilai mereka jelek. Nilai jelek itulah yang membuat persepsi matematika tidak menyenangkan.

    ReplyDelete
  6. DARWIS CAHYO NUGROHO
    13301244014
    PENDIDIKAN MATEMATIKA C 2013


    Terdapat hubungan yang kuat antara perilaku guru dengan keyakinannya.
    1. Keyakinan mengenai pengajaran dan pembelajaran. Komponen penting filsafat pendidikan seorang guru adalah bagaimana memandang pengajaran dan pembelajaran, dengan kata lain, apa peran pokok guru? Sebagian guru memandang pengajaran sebagai sains, suatu aktifitas kompleks. Sebagian lain memandang sebagai suatu seni, pertemuan yang sepontan, tidak berulang dan kreatif antara guru dan siswa. Yang lainnya lagi memandang sebagai aktifitas sains dan seni. Berkenaan dengan pembelajaran, sebagian guru menekankan pengalaman-pengalaman dan kognisi siswa, yang lainnya menekankan perilaku siswa.
    2. Keyakinan mengenai siswa. Akan berpengaruh besar pada bagaimana guru mengajar? Seperti apa siswa yang guru yakini, itu didasari pada pengalaman kehidupan unik guru.

    ReplyDelete
  7. DARWIS CAHYO NUGROHO
    13301244014
    PENDIDIKAN MATEMATIKA C 2013


    Perbedaan filsafat dan ideologi
    Ideologi masih bersifat angan-angan, cita-cita atau sesuatu yang masih belum dicapai.
    Filsafat bersifat langsung praktek (berfikir) dalam berupaya mencari kebenaran dengan cara berangan-angan.

    ReplyDelete
  8. DARWIS CAHYO NUGROHO
    13301244014
    PENDIDIKAN MATEMATIKA C 2013

    Ilustrasi di bawah ini mungkin dapat mempermudah menjawab pertanyaan apakah anak anak sudah berfilsafat?
    Contohnya adalah tentang kejengkelan seorang anak karena tiga anak dari teman orangtuanya yang berkunjung kerumah kemudian memindah saluran TV yang disukainya. Konsekwensinya ia tidak dapat menonton acara kesayangannya. Dengan sedih, dia bertanya kepada ibunya, Mengapa tiga orang senang lebih baik daripada satu orang?

    ReplyDelete
  9. DARWIS CAHYO NUGROHO
    13301244014
    PENDIDIKAN MATEMATIKA C 2013

    Hermeneutika merupakan proses menerjemahkan dan diterjemahkan atau merupakan kegiatan interpretasi. Segala yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini dapat diinterpretasikan menjadi suatu pengetahuan baru bagi kita. Sebagai contoh, ketika kita membaca maka kita akan melakukan interpretasi terhadap apa yang kita baca dan ini akan menjadi pengetahuan baru bagi kita. Hermeneutika digunakan di setiap sisi kehidupan. Proses menerjemahkan ini akan berlangsung terus hingga berkembang secara pesat namun juga bisa mengerucut. Namun pada prinsipnya hermeneutika dilakukan secara terus menerus dan kontinu.

    ReplyDelete
  10. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan? Belajar matematika yang menyenangkan melibatkan keaktifan siswa sehingga mereka bisa menemukan car a belajar dan konsep sendiri. Selain itu diberikan konteks sesuai tahap perkembangan mereka sehingga mereka dapat termotivasi untuk belajar.

    ReplyDelete
  11. DARWIS CAHYO NUGROHO
    13301244014
    PENDIDIKAN MATEMATIKA C 2013

    Hermenetika pembelajaran matematika terdiri dari dua unsur yaitu garis lurus dan melingkar. Garis lurus menggambarkan bahwa pembelajaran akan terus berjalan, kita tidak akan mengulanginya kembali. Sedangkan melingkar artinya kita dapat mengulanginya, hanya saja berbeda ruang dan waktunya

    ReplyDelete
  12. Afifah Nur Indah Sari
    13301244006
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Pembelajaran matematika yang didasarkan pada constructivism menekankan pada membangun pengetahuan, pemahaman, aspek psikologis, sosial dan interpersonal siswa dengan didasarkan atas kepercayaan. Kepecayaan dalam hal ini adalah bahwa guru mempercayai bahwa siswa memiliki kemampuan jika diberi kesempatan. Dengan demikian constructivism jauh letaknya dari determinis, dimana guru telah menetapkan sifat siswa atau membuat prejudice yang diistilahkan juga dengan menutupi sifat-sifat siswanya. Guru dalam kondisi demikian telah melakukan reduksi terhadap sifat siswa.

    ReplyDelete
  13. Afifah Nur Indah Sari
    13301244006
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Pada era-modern kali ini, ilmu filsafat yang dijadikan sebagai ilmu pengetahuan yang dapat merubah paradigma berfikir manusia mengalami perkembangan. Hal ini dikarenakan sifat berfikir kritis yang dilakukan para filosof tak terkecuali filosof atau ilmuwan sains dan matematika yang mampu melahirkan ide-ide dan metode pembelajarannya.

    ReplyDelete
  14. Afifah Nur Indah Sari
    13301244006
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Filsafat pendidikan adalah pemikiran-pemikiran filsafati tentang pendidikan. Dapat mengkonsentrasikan pada proses pendidikan, dapat pula pada ilmu pendidikan. Jika mengutamakan proses pendidikan, yang dibicarakan adalah cita-cita, bentuk dan metode serta hasil proses belajar itu. Jika mengutamakan ilmu pendidikan maka yang menjadi pusat perhatian adalah konsep, ide dan metode yang digunakan dalam menelaah ilmu pendidikan.

    ReplyDelete
  15. Afifah Nur Indah Sari
    13301244006
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Matematika dipandang sebagai Science of truth (Kebenaran Ilmu). Ukuran kebenaran ilmu adalah rasionalisme dan empirisme sehingga kebenaran ilmu bersifat empiris dan rasional. Sedangkan menurut Immanuel Kant, matematika merupakan cara berpikir logis yang salah atau benarnya dapat ditentukan tanpa mempelajari dunia empiris.

    ReplyDelete
  16. Nuha Fazlussalam
    13301244023
    s1 pendidikan matematika c 2013

    siswa pinta dan siswa tidak dalam belajara mtematika scara filsafat adalah tidak ada, yang ad adalah siswa belajar mateatika sesuaidengan ruang dan waktu atau siswa yangtidak sesuai dengan ruang dan waktu. peljaran matemtiak yang sesuai untuk usai anak2 secara filsafat adlah matematika yang kongkrit, matematika yang dapat dilihat oleh anak, matematika yang dapat melibatkan siswa aktif dalam belajar, matematika yang membuat siswa merasa senang, matematika yang digunakan dalam keadaan seharai dengan ruang dan waktu yang terbatas karena usainya yang masih kecil, matematika yang mencocokkan, sehingg siswa dapat termotivasi dengan materi matematika yang menyenangkan.
    interaksi guru dengan siswa dalam kegiatan pembelajaran itu dala filsafat adalah proses silaturahim, sama seperti bumi dan planet-planet yang mengeliling matahri, guru sebagai mathari dan bumi serta planet lainnya sebagi siswa,PR matematika secara filsafat adalah usaha guru untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar selalau belajar terus menrus sehingga ruang dan waktuya dapt disi dengankegiata yang positif. terimakasih pak

    ReplyDelete
  17. Harsiti Indrawati
    13301241021
    Pendidikan Matematika A 2013

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan “Bagaimana atau sejauh mana aliran-aliran filsafat, seperti Idealisme, Realisme, Rasionalisme dan Empirisime, menampakan diri dalam implementasi kegiatan praktis, seperti halnya pada pembelajaran matematika?”. Konsep idealisme adalah kesamaan, tetap, identitas. Sesungguhnya yang tetap hanya ada di pikiran kita saja. A=A, 1=1 dan seterusnya merupakan identitas. Konsep realis dapat diwujudkan dengan memberikan pengalaman belajar matematika misalnya dengan melakukan observasi langsung terkait dengan benda-benda konkret di lingkungan. Konsep Rasionalisme sangat dekat dengan matematika, karena matematika adalah ilmu logika dan sangat erat dengan rasio. Konsep empirisme dapat diwujudkan dengan menunjukan kegunaan matematika dalam kehidupan nyata.

    ReplyDelete
  18. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Bagi saya, matematika adalah suatu ilmu yang sangat istimewa karena sangat tidak mudah untuk mengubah sesuatu rumus yang sudah pasti. Sejak dulu sampai akhir zaman, saya rasa yang namanya rumus-rumus matematika sangat susah bahkan tidak bisa diubah. Sudah seperti hak paten. Sudah terbukti. Kecuali ada penemuan teorema-teorema baru ilmuwan. Dan dalam kehidupan, matematika mencakup semua ilmu.
    Apakah secara filsafati ada konsep keikhlasan dalam belajar matematika? Jika ada, mohon penjelasannya?
    Menurut saya, konsep keikhlasan sendiri sudah sering kita dengar. Bagaimana menggapai ikhlas? Untuk murid yang terlanjur memikirkan matematika adalah sesuatu yang 'terrible', kita berusaha membawa mereka ke dunianya matematika. Namun kita juga berusaha masuk ke dunia mereka. Bagaimana rasanya kita menjadi siswa dan harus duduk di saat pelajaran dan mendengarkan kita. Untuk persiapan, menurut saya pertama, kesiapan hati, karena akan memasuki dunia matematika, dengan cara persiapan spiritual. Ingatkan mereka jika kita sedang mempelajari salah satu ilmu di alam semesta ciptaan Tuhan. Selanjutnya, kita bisa mengajak mereka menyenangi matematika dulu. Ajak mereka beristirahat jika lelah pikiran. Dan berikan pengertian bahwa matematika itu berguna bagi kehidupan mereka nanti.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  19. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Bagian dari logika adalah asas asas yang menentukakan pemikiran yang lurus, tepat, dan sehat. Berpikir merupakan sebuah materi dari logika itu sendiri. Pada logika berfikir sesuatu dipandang dari sudut kelurusan dan ketepatannya,karena hal ini merupakan bentuk formal dari logika. logika tidak termasuk dalam sebuah ilmu pengetahuan melainkan mendahului terbentuknya ilmu pengetahuan yang kemudian digunakan sebagai persiapan untuk berpikir dengan cara ilmiah.

    ReplyDelete
  20. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    sosial dan interpersonal siswa didasarkan atas kepercayaan. Kepecayaan dalam hal ini adalah bahwa guru mempercayai bahwa siswa memiliki kemampuan. Dengan demikian constructivism jauh letaknya dari determinis, dimana guru telah menetapkan sifat siswa atau membuat prejudice yang diistilahkan juga dengan menutupi sifat-sifat siswanya. Guru dalam kondisi demikian telah melakukan reduksi terhadap sifat siswa.

    ReplyDelete
  21. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Secara filsafat, Matematika yang seperti apa yang cocok dan yang tidak cocok untuk anak kecil? Apakah ada matematika yang hanya untuk orang dewasa? Secara labih khusus, apakah sebenarnya yang disebut matematika sebagai Ratu atau matematika sebagai Pelayan? Apakah untuk seorang anak kecil dalam belajar matematika sudah dapat sampai ke wacana menjadi Ratu atau Pelayan?
    jawaban saya, pada dasarnya jika bersumber dari para filsuf jauhjauh hari para filsuf telah berbeda pendapat mengenai hal ini di antaranya yaitu antara Plato dan Aristoteles muridnya, apa yang di pikirkan oleh Plato ini lah yang sekarang di gunakan dalam pembelajaran matematika di indonesia dan ini pula yang di anut oleh pada matematikawan yang ada di universitas yang mengajarkan matematika murni, sedangkan Aristoteles tiak setuju, dia lebih menekankan bahwa matematika di sekolah itu tidaklah sama dengan matematika murni, sehingga seharusnya pendapat Aristoteles inilah yang sesuai dengan pendidikan yang ada di sekolah di indonesia, menurut Aristoteles dengan menggunakan metode induktif, bertitik tolak dari fakta-fakta nyata atau emprris yang berbeda dengan gurunya Plato yang menggunakan metode deduktif dan merumuskan teorinya berdasarkan kekuaan imajinatif pikiran, atau wishful thinking (Suhelmi dalam Syam,2007:29). Aristoteles merujuk pada observasi dalam pemikirannya. Aristoteles lebih realistis dibandingkan dengan Plato. Aristoteles menekankan pada bukti-fakta, hal yang konkret atau nyata. Menurut Aristoteles ide lahir dari pengamatan yang dilakukan oleh manusia sendiri. Ide tentang bentuk kursi muncul ketika manusia melakukan pengamatan dan menyimpulkan seperti apa bentuk kursi itu. Realita menurut Aristoteles adalah apa yang tertangkap oleh indra dan inilah yang mewakili bentuk sebenarnya.Akal tidak mengandung ide bawaan, tetapi akal lah yang mengabstrasikan ide dalam benda yang ditangkap oleh panca indra. sehingga matematika bagi anak kecil itu yang cocok adalah seperti yang di jelaskan oleh Aristoteles di atas. sedangkan matematika sebagai ratu adalah bahwa segala yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini selalu mbersumber dari matematika, ilmu apapun di dunia ini selalu berkaitan denagn matematika. dalam proses belajar anak kecil matematika yang ia pahami masih sebatas ratu bagi pengetahuan dirinya sendiri, bukan dalam konteks yang luas.

    ReplyDelete
  22. YUNDA VICTORINA TOBONDO
    16709251015
    P.MAT A 2016

    Saya mencoba menanggapi pertanyaan ke 10 mengenai Bagaimana filsafat memandang bahwa dalam pembelajaran yang diselenggarakan oleh seorang guru, maka guru yang bersangkutan pun perlu berlaku santun? Santun terhadap apa dan siapa dan bagaimana mewujudkannya?
    Bagi saya, setiap manusia harus mampu bertindak bijaksana dalam bertutur, begitu juga dengan guru, dan salah satu wujud dari bijaksana itu adalah kita mampu berlaku santun terhadap sesama. Karena santun adalah wujud dari bagaimana kita memndang mausia lain. Apabila dikaitkan dengan proses pembelajaran di dalam kelas, maka sebagai guru kita perlu santun kepada siswa, santu kepada ilmu pengetahuan, dan santun kepada profesi kita. Cara mewujudkannya adalah dengan memberikan pembelajaran yang bermakna bagi siswa di dalam kelas dengan tetap memegang teguh pada nilai-nilai kemanusiaan dan juga kita dapat menempatkan diri kita sesuai dengan ruang dan waktu ketika berada di dalam kelas.

    ReplyDelete
  23. Dita Aldila Krisma
    13301241002
    Pendidikan Matematika I 2013

    Saya akan membagikan apa yang saya pikirkan dari pertanyaan Apakah pikiran para siswa (anak kecil) sudah dapat disebut sebagai berfilsafat? Jika belum bagaimana penjelasannya?
    Menurut saya belum karena, berfilsafat dengan anak-anak tidak ada hubungannya dengan pelajaran filsafat namun lebih mempersilakan anak untuk bertanya dan berpikir bebas. Anak-anak bertindak dari apa yang ingin mereka tahu, anak-anak pun memiliki intuisi. Sedangkan orang dewasa memikirkan apa yang dipikirkan dan bagaimana jalan pikiran anak-anak. Mohon koreksi bila ada yang kurang tepat.

    ReplyDelete
  24. Seftika Anggraini
    13301241013
    Pendidikan Matematika I 2013

    Hakekat Mengajar, Mendidik, Belajar, Metode, RPP, LKS, Menilai, dst adalah untuk membelajarkan siswa. Semua yang disebutkan di atas adalah untuk memfasilitasi siswa belajar. Belajar adalah siswa membangun pengetahuan mereka sendiri (konstruktivistik).
    Terima kasih

    ReplyDelete
  25. Khaerudin
    16701621009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Mencoba mengomentari pernyataan sejauh mana kita dapat mengambangkan nilai-nilai spiritual dalam pembelajaran matematika. Matematika dikenal dengan ilmu deduktif. Ini berarti proses pengerjaan matematika harus bersifat deduktif. Matematika tidak menerima generalisasi berdasarkan pengamatan (induktif), tetapi harus berdasarkan pembuktian deduktif. Meskipun demikian untuk membantu pemikiran pada tahap-tahap permulaan seringkali kita memerlukan bantuan contoh-contoh khusus atau ilustrasi geometris.
    Perlu pula diketahui bahwa baik isi maupun metode mencari kebenaran dalam matematika berbeda dengan ilmu pengetahuan alam, apalagi dengan ilmu pengetahuan umum. Metode mencari kebenaran yang dipakai oleh matematika adalah ilmu deduktif, sedangkan oleh ilmu pengetahuan alam adalah metode induktif atau eksperimen.

    ReplyDelete
  26. Rospala Hanisah Yukti Sari
    16790251016
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A Tahun 2016

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    16. Bagaimana menerapkan pendekatan Hermenitika dalam pembelajaran matematika?

    Berdasarkan referensi yang pernah saya baca, hermeneutika merupakan sebuah metode untuk tafsir dan menafsirkan atau interpretasi. Pada masa Yunani metode ini digunakan untuk menafsirkan dari kitab (bibel). Hermeneia ini mengacu pada ucapan lisan, misalnya pada kasus homer.

    Homer berada diantara Tuhan dan manusia, yaitu seorang penafsir kitab. Homer dikatakan telah diilhami oleh Tuhan; dalam “perkataannya, dia telah menafsirkannya.
    Dari uraian di atas, jelas bahwa hermeneutika berasal dari hadharah (pandangan hidup yang khas) non-muslim. Maka, karena berupa pandangan atau pemikiran khas, sudah seharusnya kita sebagai seorang muslim untuk meninggalkan metode tersebut, walau atas nama ilmu pengetahuan.

    Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    ReplyDelete
  27. Seftika Anggraini
    13301241013
    Pendidikan Matematika I 2013

    Secara filsafat, Matematika yang cocok untuk anak kecil adalah matematika sekolah. Matematika sekolah bersifat nyata/konkret, yang dalam filsafat disebut sebagai aliran realisme (Aristoteles). Sedangkan matematika yang tidak cocok untuk anak kecil adalah matematika murni. Matematika murni memiliki karakteristik yamg berkebalikan dengan matematika sekolah. Matematika murni bersifat imajiner/abstrak, yang dalam filsafat disebut sebagai aliran idealisme (Plato).
    Terima kasih

    ReplyDelete
  28. Andina Yuliana Dewi
    13301241007
    P.Matematika I 2013

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan "Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?." Menurut saya, sangat wajar bahwa para siswa memiliki karakter yang berbeda-beda. Karena satu siswa akan memiliki 1 milyar pangkat 1 milyar sifat, yang tidak akan pernah sama persis dengan siswa yang lain. Setelah belajar filsafat diharapkan guru dapat memahami bahwa tidak ada yang sama di dunia ini, kecuali yang ada di pikiran kita, karena A=A diluar pikiran pun akan berbeda, A yang satu dan A yang 2 akan berbeda.

    ReplyDelete
  29. Andina Yuliana Dewi
    13301241007
    P.Matematika I 2013

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan " Apakah yang dimaksud sebagai Pemecahan Masalah (Problem Solving) secara filsafati?". Secara filsafat, kegiatan Pemecahan Masalah dapat dipandang sebagai Vitalitas atau ikhtiar. Usaha dalam memecahkan masalah tersebut dimulai dari menuliskan apa yang diketahui, kemudian informasi apa yang ada, kemudian menyelesaikan, dan looking back.

    ReplyDelete
  30. Andina Yuliana Dewi
    13301241007
    P.Matematika I 2013

    Untuk pertanyaan "Bagaimana filsafat memandang adanya konsep-konsep matematika seperti bilangan, geometri, dst?" saya ingin mecoba menanggapi. Secara filsafat, konsep Bilangan itu hanya dapat dipahami dalam Intuisi Ruang dan Waktu. Bilangan itu bermakna karena mempunyai Nilai, dan itu hanya berlaku saat berada di dalam pikiran Dan untuk penjelasan mengenai geometri yaitu segala bentuk, ukuran, dan macam-macam bangun-bangun geometri hanya dapat dipahami di dalam Intuisi Ruang dan Waktu.

    ReplyDelete
  31. Fajar Yanuar
    13301244021
    Pend. Matematika C 2013

    menanggapi pertanyaa bagaimana menerapkan hermenetika dalam pendidikan matematika. konsep dasar dari hermenitka itu sendiri adalah silaturahmi, yang berarti adanya ikata antara satu orang dengan orang yang lain. penerapannya dalam matematika sangatlah erat karena pembelajaran itu sendiri yang paling baik adalah hermenetika. jadi degan adanya interaksi atara murid dengan media pembelajaran saya rasa itu dapat sebagai salah satu peneraannya.

    ReplyDelete
  32. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    1). Perbedaan karakter dan kemampuan berfikir dalam filsafat merupakan sebenar-benar hidup. Karena penjelmaan Manusia secara total dan sentral sesuai dengan hakikat manusia sebagai makhluk monodualisme (manusia secara kodrat terdiri dari jiwa dan raga) maka sudah jelas setiap manusia itu mempunyai atau terdiri dari berjuta-juta sifat dan setiap sifat memiliki berjuta-juta pangkat sifat serta setiap sifat memilki kualitas/tingkatan yang berbeda-beda baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Jadi perbedaan karkater dan kemampuan berfikir siswa merupakan hal yang wajar sehingga peran guru disini sebagai fasilitator dalam upaya membantu setiap siswanya mencapai aktualisasi diri mereka dengan optimal.

    ReplyDelete
  33. Andina Yuliana Dewi
    13301241007
    P.Matematika I 2013

    Saya ingin mencoba mencoba menjawab pertanyaan "Secara filsafat, Matematika yang seperti apa yang cocok dan yang tidak cocok untuk anak kecil? Apakah ada matematika yang hanya untuk orang dewasa?"
    Setelah saya membaca Hubungan Antar Aliran Filsafat, Filsafat Ilmu Dan Filsafat Matematika saya mendapat informasi bahwa Filsafat matematika itu dibagi menjadi dua yaitu matematika formal (Absolutism) dan matematika konstrutivistik (Constructivism). Matematika formal lebih sesuai digunakan pada peserta didik tingkat lanjut. Sedangkan matematika konstruktivisme lebih cocok digunakan pada peserta didik tingkat dasar.

    ReplyDelete
  34. Retno Widyaningrum
    16701261004
    S3 PEP A
    Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan diseluruh aspek kehidupan, baik orang-orang terdekat maupun masyarakat, baik yang formal maupun nonformal, dengan tujuan merubah kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik menjadi kebiasaan yang baik demi terbentuknya pribadi manusia yang baik dan berkualitas selama manusia tersebut menjalani kehidupannya.

    ReplyDelete
  35. Ika Dewi Fitria Maharani
    PPs UNY P.Mat B
    16709251027

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 9. Sejauh mana kita dapat mengembangkan nilai-nilai spiritual dalam pembelajaran matematika?
    Menurut saya nilai spiritual dalam pembelajaran matematika bisa dimulai ketika kita membiasakan memulai pembelajaran dengan berdoa, kemudian menanankan sikap jujur ketika mengerjakan ulangan, dan mengakhirinya doa agar pembelajaran ini bermanfaat untuk diri sendiri maupun orang lain. Sejatinya selama kita hidup takkan pernah lepas dengan nilai-nilai spiritual, betapa pentingnya guru menekankan bahwa belajar adalah sebuah ibadah.

    ReplyDelete
  36. Arif Dwihantoro
    13301244012
    Pendidikan Matematika C 2013

    terkait perbedaan karakter. setiap siswa memiliki kemampuan berpikir yang berbeda-beda, menurut saya perbedaan kemampuan berpikir seseorang itu tergantung atas pengetahuan, pengalaman dan bagaimana cara orang memperlakukan kehidupannya.

    ReplyDelete
  37. Arif Dwihantoro
    13301244012
    Pendidikan Matematika C 2013

    Interaksi antara guru dan siswa di kelas terjadi jika adanya media yang menjembatani interaksi tersebut, tanpa adanya media interaksi tidak dapat terjadi. Baik media melalu strategi pembeljaran yang digunakan ataupun media lain yang dapat menciptakan interaksi anatara gur dan siswa.

    ReplyDelete
  38. Menanggapi pertanyaan nomer 3
    Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenagkan ?
    Karena filsafat merupakan induk dari ilmu pengetahuan dan filsafat juga dapat memecahkan masalah yang dihadapi dalam ilmu pengetahuan serta filsafat juga dapat mencarikan jawabanya. Agar pelajaran matematika itu menyenagkan maka tugas guru yang yang memecahkanya permasalahan itu. Dalam hal ini seorang guru harus memiliki kreativitas dan inovasi dalam mengelola matematika menjadi bahan yang menarik bagi siswa. Tidak hanya mengelola bahan agar bahan pembelajaran itu menarik, guru juga harus menjadikan dirinya sebagai panutan dan idola anak didik bahkan sikap guru juga harus menyenagkan bukan menakutkan karena sosok seorang guru juga akan mempengaruhi proses pembelajaran.


    M. Saufi Rahman
    S3 PEP Kelas A
    16701261024

    ReplyDelete
  39. Defy kusumaningrum
    13301241022
    Pedidikan Matematika A 2013

    Belajar matematika yang menyenangkan menurut saya adalah belajar dimana antara guru dan siswa saling tidak memiliki keterpaksaan dalam melakukannya. Ketika salah satu pihak mengalami keterpaksaan, maka belajar tidak dapat lagi disebut sebagai belajar yang menyenangkan.

    ReplyDelete
  40. Ressy Rustanuarsi
    16709251033
    PPs PMAT Kelas B 2016

    Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan no 2. “Bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas?” Peran guru di kelas adalah menjadi fasilitator yang membimbing siswa dalam pembelajaran. Untuk itu diperlukan interaksi dua arah yang komunikatif antara guru dan siswa. Siswa harus terbuka kepada guru jika ada sesuatu yang kurang dimengertinya. Guru pun harus memandang siswa sebagai pembelajar yang perlu bimbingan dan wajar jika mengalami kesulitan maupun melakukan kesalahan. Selain itu, guru juga harus memandang bahwa siswa di kelas itu unik dengan segala perbedaannya sebagai individu, baik perbedaan karakter maupun perbedaan kemampuan berpikir, sehingga guru dapat mengakomodir hal tersebut agar siswa dapat belajar dengan baik sesuai kemampuannya.

    ReplyDelete
  41. Umi Arismawati
    13301241032
    Pendidikan Matematika A 2013

    Saya akan mencoba menanggapi tentang bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa? Dalam matematika sering ditemukan A=A. Akan tetapi sebenar-benarnya tidak ada yang sama. Saya pada detik ini dan saya pada detik berikutnya saja sudah berbeda. Saya sekarang dan saya pada detik berikutnya sudah berbeda antara ruang dan waktu. Dalam pembelajaran sendiri, pastilah selalu ada perbedaan khususnya mengenai perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa. Keanekaragaman tersebut harus dikembangkan oleh guru. Guru harus menggunakan pembelajaran yang bervariasi agak dapat mengembangkan keanekaragaman potensi siswa-siswa. Terima kasih

    ReplyDelete
  42. Umi Arismawati
    13301241032
    Pendidikan Matematika A 2013

    Komunikasi merupakan alat untuk saling berhubungan. Komunikasi dapat dilakukan secara langsung dengan lisan, dapat menggunakan tulisan atau yang lainnya. Dalam pembelajaran komunikasi itu sangat penting. Guru memberikan materi dengan saling berkomunikasi. Guru mengetahui sampai dimana siswa memahami suatu materi juga dengan komunikasi. Sehingga komunikasi merupakan hal yang penting dalam pembelajaran begitu juga dalam pendidikan matematika. Terima kasih

    ReplyDelete
  43. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Untuk pertanyaan yang pertama yaitu, bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa. Setiap siswa tentunya mempunyai karakter yang berbeda, meskipun sebagian ada yang mirip begitu pula dengan kemampuan berpikir siswa tersebut. Disinilah peran dari guru dimana seorang guru mengkreasikan berbagai macam pendekatan pembelajaran agar karakter siswa tersebut dapat terlayani. Setiap guru tentunya akan menghadapi perbedaan karakter siswa tersebut, oleh karena itu sebagai seorang guru janganlah pendekatan belajar yang monoton saja, namun harus berkreasi, misalnya memadukan antara problem possing dan cara memecahkan masalah dengan problem solving.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  44. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Untuk masalah perbedaan kemampuan berpikir siswa, dasar bertindak guru sudah mempunyai landasan dalam kurikulum 2013 yakni pada permendiknas no 65 tahun 2013 pada Bab IV pelaksanaan pembelajaran dalam lingkup pengelolaan kelas poin d yang bunyinya yaitu, guru menyesuaikan materi pelajaran dengan kecepatan dan kemampuan peserta didik. Jadi guru dalam hal ini jangan hanya mengejar target menyelesaikan KD yang harus diajarkan, untuk apa guru mengajar cepat dan sesuai target tetapi muridnya pada tidak mengerti materi pelajaran tersebut. Jadi untuk kelas yang KKM nya rendah guru bisa saja untuk memperlambat tempo agar siswa yang berkemampuan kognitif rendah juga dapat terakomodasi, karena antara siswa yang kognitif tinggi dan rendah sama-sama membayar uang spp dengan jumlah yang sama, jadi mereka juga berhak mendapatkan hal akomodasi yang sama pula.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  45. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Untuk pertannyaan mengenai perihal komunikasi antara siswa dan guru. Hubungan yang baik dapat terjadi bila ada komunikasi dua arah, khususnya dalam pembelajaran, bila ada materi yang masih kurang dipahami oleh siswa, maka guru harus menjelaskannya lebih lanjut, sehingga datangnya siswa ke sekolah itu tidak sia-sia dan ada ilmu yang dapat mereka bawa pulang ke rumah. Ada baiknya guru sekarang tidak memonopoli jalannya pembelajaran, karena kita berusaha bagaimana menumbuhkan kreativitas pada siswa, sehingga nantinya output nya siswa akan bisa menciptakan hal-hal baru dikemudian hari.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  46. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Untuk pertanyaan mengenai pembelajaran matematika yang menyenangkan. Pembelajaran matematika yang menyenangkan sebaiknya dimulai dari sikap guru yang menyenangkan terlebih dahulu, guru jangan memasang muka yang seram dihadapan siswa sebagaimana dilakukan guru-guru kami terdahulu, baru melihat mukanya saja sudah takut. Kemudian setelah menjadi guru yang menyenangkan, maka fasilitas yang menunjang pembelajaran matematika juga harus mumpuni, misalnya tersedianya berbagai media maupun alat peraga yang dapat menunjang pembelajaran matematika, kemudian setelah itu pendekatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru harus menyenangkan, bagaimana membuat siswa dapat berpikir dan berkreasi secara aktif dalam pembelajaran matematika, kemudian yang terakhir adalah rasa ikhlas untuk mengikuti pembelajaran matematika tersebut, rasa ikhlas itu harus datang dari guru maupun dari siswa itu sendiri.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  47. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Untuk pembelajaran matematika berbasis proyek apakah mempunyai landasan filsafat. Pembelajaran matematika berbasis proyek dimana siswa diberikan tugas untuk membuat sesuatu yang akan menjadi dasar penilaian nantinya merupakan pembelajaran yang sangat bagus. Dasar filsafat nya bisa berupa filsafat konstruktivisme maupun empirisme. Dimana kontruktivisme, menekankan bahwa pengetahuan itu dibangun dengan skema tersendiri oleh orang yang menjalani pembelajaran itu, sedangkan empirisme mengatakan bahwa pengetahuan dibangun berdasarkan pengalaman. Dalam pembelajaran berbasis proyek, siswa tentunya menjalani fase konstruktivisme maupun empirisme dalam membangun pengatahuannya.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  48. Fitri Ayu Ningtiyas
    16709251037
    S2 P.Mat B UNY 2016

    Menanggapi pertanyaan pertama yaitu tentang bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?. Dalam hal ini, guru sebagai pendidik kembali harus menyadari keberagaman tingkat kemampuan dan ilmu yang dimiliki siswa. Tidak hanya itu, guru harus bersikap bijaksana dalam menanggapi keheterogenan antara siswa satu dan lainnya. Sejatinya guru tidak diperkenankan menuntut siswa memiliki pemikiran utuh yang sama seperti apa yang dipikirkannya karena kembali siswa memiliki kebebasan dalam mengolah kemampuan matematisnya, semua tergantung pada peran guru sebagai fasilitator bagi siswa-siswanya.

    ReplyDelete
  49. Luthfannisa Afif Nabila
    13301241041
    Pendidikan Matematika A 2013
    Secara filsafat, matematika yang cocok untuk anak kecil adalah matematika sekolah, sedangkan matematika untuk dewasa adalah matematika terapan. Matematika sebagai ratu berarti matematika sebagai terapan, dia bukan hanya berdasarkan pengalaman namun juga berdasarkan pemikiran, ini hanya untuk dewasa, anak-anak hanya sampai dalam tahap berdasarkan pengalaman, melakukan apa yang dilihat, belom memikirkan secara abstrak. matematika sebagai ratu atau pelayan disini bisa contohnya guru sebagai fasilitator anak dalam belajar matematika.

    ReplyDelete
  50. Rofiah Yusuf
    13301241039
    Pend. Mat I 2013

    Menanggapi pertanyaan no.3 tentang bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan?
    Pandangan filsafat dalam pembelajaran matematika menyenangkan yaitu dengan filsafat, guru dapat memberi kewenangan secara bebas kepada siswa untuk mengekspresikan apa yang ingin mereka sampaikan dan apa yang ingin mereka kerjakan selama proses pembelajaran. Dalam hal ini, guru tidak memberikan batasan kepada siswa untuk berkembang dan berpikir kreatif, dengan demikian siswa akan merasa nyaman dan senang dengan pembelajaran matematika yang diajarkan di sekolah.

    ReplyDelete
  51. Rofiah Yusuf
    13301241039
    Pend. Mat I 2013

    Menanggapi pertanyaan no.1 tentang Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?
    Melalui filsafat guru dapat mempelajari pola tingkah laku para siswa, dan bagaimana dampaknya terhadap pola pikir mereka selanjutnya. Filsafat telah membuat guru menjadi lebih peka terhadap siswanya. Kepedulian guru inilah yang memang harus dibangun pada setiap pendidik, karena pada dasarnya inilah yang peling penting dalam menciptakan interaksi yang baik antar guru dengan siswanya.

    ReplyDelete
  52. Rofiah Yusuf
    13301241039
    Pend. Mat I 2013

    Dari pertanyaan-pertanyaan yang telah dijabarkan di atas, kita dapat mengetahui akan pentingnya filsafat dalam pendidikan matematika. Hal ini diterangkan dengan bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter setiap siswa di sekolah, sehingga guru atau pendidik dapat menerapkannya di setiap proses pembelajaran. Selain itu perangkat pembelajaran yang mendukung kegiatan belajar mengajar juga dapat dibuat dengan sudut pandang filsafat untuk membuat siswa lebih tertarik terhadap pelajaran yang disampaikan.

    ReplyDelete
  53. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Pembelajaran matematika yang memfasilitasi siswa untuk dapat mengembangkan logika pikirnya sejak dini memang sangat dianjurkan. Hal ini bertujuan agar siswa dapat lebih mudah menerima dan memahami materi pelajaran matematika yang diberikan oleh guru. Namun perlu diakui bahwa pembelajaran semacam ini menuntut kreatifitas dari guru sebagai pendamping belajar siswa. Guru dianjurkan untuk meningkatkan kinerja serta kreatifitasnya agar siswa menjadi lebih berminat dan terdorong untuk terus bereksplorasi dalam matematika.

    ReplyDelete
  54. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    menjawab pertanyaan no. 1 tentang "Bagaimana Filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?". Setiap manusia mempunyai perbedaan karakter antara satu dengan yang lainnya dikarenakan dipengaruhi oleh gen yang dibawa nya dan juga lingkungan ia melaksanakan aktivitas kehidupannya, 2 hal itu pula yang menyebabkan tejadinya pola pikir yang berbeda dalam diri masing-masing siswa. ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Aristoteles bahwa pengalaman lah yang mempunyai peran penting dalam keilmuan yang dimiliki oleh setiap manusia.

    ReplyDelete
  55. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    pertanyaan no 2. tentang "Bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas?". Interaksi antar guru dan siswa menurut saya itu adalah suatu hal yang sangat bagus, dikarenakan guru dan siswa masing-masing bergerak dalam menggapai ilmu, karena dari interaksi itu akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan, sedangkan menurut filsafat sebenar-benar ilmu adalah bertanya.

    ReplyDelete
  56. Niswah Qurrota A'yuni
    NIM. 16709251023
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas B 2016

    Assalamu'alaikum Wr.Wb.,

    Dunia ini berstruktur berhierarki. Siswa juga berstruktur berhierarki. Tidalah manusia yang sama dalam dunia ini. Begitupun dengan siswa. Siswa memiliki karakter dan kemampuan yang berbeda-beda. Sebagai guru kita tidak boleh menghendaki agar siswa memiliki pehaman yang sama karena itu menyalahi kodrat. Sebab siswa memiliki dunianya masing-masing yang tentu berbeda dengan dunia guru. Guru harus memfasilitasi bagaimana siswa membangun pengetahuannya. Kriteria mengajar yang terbaik dalam filsafat itu jika inisiatif dari siswa, ada proses terjemah dan menerjemahkan.

    Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  57. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas? Interaksi antara guru dengan siswa ketika terjadi komunikasi pembelajaran di dalam kelas, misalnya ketika guru bertanya kemudian siswa menjawab, begitu juga sebaliknya. Dan juga ketika guru transfer of knowledge dan siswanya dapat memahami, menanggapi, dan tidak segan untuk mengajukan pertanyaan. Maka itulah sebenar-benarnya interaksi antara guru dan siswa.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  58. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan nomor empat, yaitu bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan?
    Pada postingan lain dalam blog ini, ada yang membahas terkait pembelajaran matematika yang “ramah” bagi siswa, yang dibangun atas dasar axiomatic. Kita sadar bahwa matematika memainkan peran penting dalam kehidupan. Maka matematika selayaknya merupakan kebutuhan dan menjadi kegiatan kegiatan yang menyenangkan. Sebagaimana dari tujuannya yakni melatih siswa berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan. Karena kesimpulan dalam matematika dapat ditarik melalui proses berpikir dan bernalar. Maka, untuk mengembangkan pembelajaran “matematika” yang ramah, libatkan intuisi siswa dan kolaborasikan dengan pembelajaran yang kooperatif dan aktif.

    ReplyDelete
  59. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Saya juga akan mencoba menanggapi pertanyaan ke-19, yakni apakah yang dimaksud sebagai pemecahan masalah (problem solving) secara filsafat?
    Masih bersumber dari blog ini, yang pernah saya baca terkait pemecahan masalah dalam kacamata filsafat yakni problem solving dipandang sebagai kegiatan vitalitas atau ikhtiar. Artinya, kegiatan pemecahan masalah (problem solving) adalah bentuk usaha yang dilakukan bukan hasilnya melainkan usaha yang dilakukan.

    ReplyDelete
  60. Mega Puspita Sari
    16709251035
    PPs Pendidikan Matematika
    Kelas B

    Matematika yang cocok bagi anak kecil adalah matematika yang bersifat nyata atau konkrit, sehingga dengan mudah mereka pikirkan dan mencerna karena menyangkut kebiasaan dan keseharian mereka. Sebagai orang dewasa, apabila ingin menerapkan atau menyampaikan sebuah pembelajaran matematika kepada anak kecil maka hendaklah mengaplikasikan matematika tersebut dalam kehidupan sehari-hari, hal ini akan menjadikan anak kecil dapat membangun pengetahuanya dan konsepnya sendiri. Karena jika pemikiran orang dewasa yang abstrak dipaksakan untuk dipikirkan oleh anak kecil maka anak tersebut akan sulit untuk menemukan konsepnya sendiri.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id