Sep 28, 2010

Elegi Menggapai Pikiran Jernih




Oleh Marsigit

Berikut saya nukilkan pertanyaan Sdr Dyah Wahyuningsih:

Ass.wrwb,

Bapak yang terhormat,dalam mempelajari filsafat kita memerlukan hati dan pikiran yang jernih.
Agar kita dapat memahami apa yang kita pelajari tersebut,lalu bagaimanakah agar hati dan pikiran kita tetap jernih?
Karena jika hati dan pikiran kita tidak jernih rasanya akan sulit memahami segala sesuatu.


Wass.wrwb

Jawaban saya (Marsigit):

Sdr Dyah Wahyuningsih, saya selalu membedakan antara kegiatan hati dan pikiran

Untuk saat ini saya akan menguraikan dulu jernihnya pikiran dalam kaitannya mempelajari filsafat.

Berfilsafat adalah kegiatan refleksi diri terhadap pikiran kita.

Dalam melakukan kegiatan refleksi diri dengan pikiran, kita dapat mengibaratkan pikiran kita sebagai cermin.

Tetapi ternyata jika hanya pikiran yang menjadi cermin, lalu bagaimana dengan obyek pikiran?

Maka aku telah menemukan bahwa semua yang aku pikirkan, yaitu semua yang ada dan yang mungkin ada pada hakekatnya adalah cermin juga.

Maka dalam berfilsafat, atau dapat saya katakan dalam berpikir refleksif, saya harus mampu menggunakan semua yang ada dan yang mungkin ada , termasuk pikiran dan hatiku, itu sebagai cermin.

Maka kata-katamu atau istilahmu “pikiran jernih” dapat saya ibaratkan sebagai “cermin yang bersih”.

Artinya saya telah menemukan bahwa, baik pikiran maupun yang aku pikirkan keduanya haruslah sebagai cermin yang bersih, atau sesuatu yang jelas.

Jernihnya pikiran atau bersihnya cermin atau jelasnya pikiran, itulah yang di dalam filsafat disebut sebagai “pure reason” atau “pikiran murni” atau “budi murni”.

Di dalam Ilmu Jiwa “pure reason” itu setara atau dapat dikatakan sebagai “tidak prejudice”.

Di dalam Elegi-elegi, itulah yang disebut sebagai “menggapai logos” atau “menggapai bukan mitos”.

Padahal aku mengetahui bahwa “semua pikiranku jika aku telah berhenti memikirkannya maka serta merta dia akan berubah menjadi mitos”.

Sedangkan “semua obyek pikiranku jika aku akan memulai memikirkannya maka dia serta merta akan menggapai logos”

Maka aku menemukan bahwa dalam berpikir, yang terjadi hanyalah pertempuran antara “mitos” dan “logos” saja.

Maka aku telah menemukan bahwa segala macam mitos itulah kotoran yang menyebabkan pikiranmu tidak jernih atau cerminmu menjadi kotor.

Sedangkan alat untuk membersihkan pikiranmu serta obyek-obyek pikiranmu adalam “pure reason” atau “menggapai logos” atau “tidak prejudice”.

Pengertian “prejudice” di dalam filsafat tidaklah serta merta berarti jelek dalam ilmu bidang seperti psikologi, melainkan “segala yang ada dan yang mungkin ada yang sedang mulai berhenti engkau pikirkan itulah prejudice, itulah tidak pure-reason, itulah tidak menggapai logos, itulah mitos, itulah kotoran cermin, itulah pikiran tidak jernih”.

Dalam perjalanan filsafat dan para filsuf, untuk mencapai keadaan seperti itu tidaklah mudah.

Dalam rangka menggapai logos, maka Socrates mengembangkan metode dialektik kritis.

Dala rangkan menggapai pikiran jernih, maka Plato membuat tangga keluar dari Gua Plato

Dalam rangka menggapai bukan mitos, maka Aristoteles mengembangkan logika dan sillogisma.

Dalam rangka menggapai pikiran jernih, maka Descartes berusaha mencari “kepastian pikir” dengan cara “meragukan semua yang ada dan yang mungkin ada”.

Rene Descartes berhasil menemukan “pikiran jernih “ yaitu “kepastian pikir” yaitu “pikiran yang tidak dapat dibantah lagi” yaitu ternyata bahwa “satu-satunya hal yang tidak dapat dibantah adalah fakta bahwa dirinyalah itu pasti adanya yaitu dirinya yang sedang BERTANYA atau BERPIKIR”.

Maka Rene Descartes menemukan bahw “cogito-ergosum” adalah satu-satunya pikiran jernih atau kepastian pikiran, yaitu bahwa “dia ada dikarenakan dia sedang bertanya”.

Itulah hukum yang ditemukan seorang Rene Descartes, bahwa jika engkau tidak mampu mengajukan pertanyaan maka akan terancam hidupmu, yaitu akan termakan ketiadaan.

Itulah sekarang maka saya juga sedang membuktikan bahwa dirimu itu ternyata ada, karena engkau telah mengajukan pertanyaan kepada diriku.

Sedangkan penjelasanku atas pertanyaanmu itulah sebenar-benar ilmuku.

Dalam rangka menggapai pure-reason, maka Immanuel Kant mensintesiskan resionalisme dan empiricisme.

Maka pikiran jernih bagi Immanuel Kant adalah “sintetik a priori”, itulah hakekat berpikir, itulah hakekat logos menurut dia.

Dalam rangka menggapai pikiran bersih maka Moore membuat filsafat bahasa sebagai "common sense".

Dalam rangka menggapai pikiran jernih, maka Auguste Comte sampai-sampai membuat Bendungan Compte (Bacalah Elegi Bendungan Compte".

Dalam rangka menggapai pikiran jernih, maka Sir Bertrand Russell sampai-sampai terperangkap di rumah paradox (Bacalah Elegi Rumah Paradox)

Dalam rangka menggapai pikiran jernih maka Socrates, Galileo dan Bruno sampai mengorbankan jiwanya.

Dalam rangka menggapai tidak prejudice, maka Husserl mengembangkan Phenomenology. Husserl sampai-sampai membuat rumah yang dia sebut sebagai “epoche” sebagai penjaranya bagi para mitos.

Maka agar memperoleh kejernihan terhadap apa yang dipikirkan, maka segala macam pengetahuan awal tentang yang akan dipikirkan itu dia anggap sebagai mitos dan dimasukkan di dalam penjara “epoche”.

Maka Husserl menemukan bahwa si makhluk jernih atau jernihnya pikiran itu tidak lain adalah 2 (dua) serangkai “abstraksi” dan “idealisasi”. Itulah yang kemudian digunakan oleh para matematikawan untuk memikirkan “konsep-konsep matematika”.

Obyek matematika adalah benda-benda pikir yang diperoleh dari benda-benda nyata dalam kehidupan sehari-hari dengan cara membersihkannya dengan metode “abstraksi” dan “idealisasi”.

Abstraksi adalah hanya memikirkan sifat-sifat tertentu saja. Misalnya bersihnya pikiran tentang “kubus” maka hanya dipikirkan tentang bentuk dan ukurannya saja. Segala macam sifat yang ada dan yang mungkin ada misalnya, harganya, bahannya, baunya, warnanya, ...semuanya dimasukkan di dalam “epoche”, artinya tidak diperhatikan.

Idealis adalah menganggap sempurna sifat yang ada. Ketahuilah bahwa tiadalah sifat sempurna di dunia ini. Tiadalah barang yang lancip di dunia ini. Ujung jarung adalah atom yang lintasannya melingkar, maka tidaklah lancip unjung jarum itu. Maka di dalam matematika sifat yang ada “dianggap sempurna”, lancip ya lancip betul, lurus ya lurus betul, datar ya datar betul, dst. Itulah idealisasi.

Ternyata aku telah menemukan bahwa pertanyaanmu tentang “pikiran jernih” itu sebetulnya persoalan filsafat khusunya epistemologi atau filsafat ilmu yang merupakan perjuangan para filsuf sejak awal hingga akhir.

Itulah mengapa aku merasa perlu segera menjawabnya. Maka uraianku semua di atas tidak lain tidak bukan adalah filsafat ilmu atau filsafat itu sendiri. Jika engkau mampu berpikir jernih, maka semua Elegi-elegi yang aku tulis itu sebetulnya adalah epistemologi atau metode berpikir atau pikiran jernih.

Demikian mudah-mudahan engkau dan teman-temanmu jernih pula dalam membaca jawabanku.

Amiin.

31 comments:

  1. Dita Nur Syarafina
    NIM. 16709251003
    PPs Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Berfilsafat adalah bagaimana merefleksi diri. Maka jika dalam berfilsafat hati ini dipenuhi amarah, prasangka, emosi, negatif thinking, dan hal-hal buruk lainnya maka hasilnya filsafat juga tidak baik. Kemungkinannya filsafatnya bisa salah ruang dan waktu atau terjebak mitos. Maka dari itu pikiran jernih sangat dibutuhkan ketika berfilsafat, pikiran jernih didapatkan melalui kondisi hati yang ikhlas dan pikiran yang open minded. Hati yang ikhlas dan pikiran open minded didapat atas kepasrahan dan doa kepada Allah SWT. Maka selalu berdoalah agar dapat menuju hati dan pikiran jernih.

    ReplyDelete
  2. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    “Berfilsafat adalah kegiatan refleksi diri terhadap pikiran kita.” Maka proses berpikir yang baik tentulah berpikir dengan pikiran yang jernih. Pikiran yang jernih adalah modal bagi kita dalam berfilsafat untuk dapat berpikir analitik dan sintetik. Karena tanpa hal tersebut maka justru nanti bisa membuat kita terjerumus kepada hal yang berbahaya. Kejernihan pikiran akan membuat kita berpikir fokus terarah dan tidak tergoda oleh hal-hal yang lain. Namun, untuk menggapai pikiran yang jernih tidaklah semudah yang kita bisa katakan karena prosesnya memerlukan waktu yang tidak sedikit dan berlangsung sepanjang hidup kita selama kita mampu berpikir.

    ReplyDelete
  3. Areani Eka Putri
    12301249003
    Pend. Matematika Sub'12

    untuk mencapai yang belajar yang baik perlu adanya hati dan pikiran yang jernih, ketika hati kita tidak nyaman untuk melakukan atau mempelajari sesuatu maka pikiran kita juga menjadi tidak jernih sehingga memikirkan hal-hal yang negative begitu juga sebaliknya ketika kita tidak berpikir dengan jernih maka hati kita pun tidak merasa nyaman untuk mempelajari dan melakukannya. sehingga penting untuk memiliki hati dan pikiran jernih untuk mempelajari sesuatu sehingga bisa fokus dan memperoleh banyak ilmu dari berbagai macam pengetahuan. untuk itu terus berpikir positif dan mengandalkan Tuhan maka kita pasti bisa memiliki hati dan pikiran yang jernih. terimakasih

    ReplyDelete
  4. SUPIANTO
    16701261001
    S3 PEP KELAS A 2016

    sebuah cerita bijak darichina menceritakan seorang laki-laki yang berjuang untuk menuntut ilmu tentang kebijakan. maka ia pergi ke atas gunung untukmenemui sang guru. sesampainya di gunung, sang guru hanya memintanya untk berjalan maju tujuh langkah dan mundur tujuh langkah. setelah itu dia disuruh kembali pulang.
    sesampai di rumah pada tengah malam, dia mendapati istrinya tidur di kamar bersama orang lain. saat itu dia langsung marah dan hendak mengambil pedang utuk membubuh istrinya dan yang menemaninya tidur itu. namun sesaat kemudian dia teringat pada apa yang diminta oleh gurunya untuk berjalan maju dan mundur tujuh langkah sebelum mengambil sebuah keputusan. diamelakukan hal itu, lalu setelah itu amarahnya redam dan dia mencoba untuk mencaritahu dengan siapa istrinya tidur. ternyata orang yang menemani istrinya tidur itu adalah ibunya sendiri.
    apa yang dapat kita pelajari dari cerita di atas adalah bahwa untuk menggapai berpikir jernih, diperlukan waktu sesaat untuk diri sendiri untuk berpikir sebelum mengambil keputusan. pada saat-saat itu mata batin akan lebih tenang dalam memutuskan sesuatu jika dibandingkan dengan kondisi yang penuh dg ketergesa-gesaan.

    ReplyDelete
  5. Yazid Fathoni
    NIM 13301241076
    Pendidikan Matematika C 2013

    Banyak sekali cara menuju pikiran jernih, seperti dengan sintetik a priori yaitu dengan ilmu serta pengalamannnya menurut Immanuel Kant, dan ada juga dengan Abtraksi dan idealisasi menurut Husserl yang sering digunakan oleh para matematikawan untuk berpikir jernih dalam memikirkan obyek matematika yang diperoleh dari benda-benda nyata dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan Rene Descartespun mengatakan satu-satunya pikiran jernih atau kepastian pikiran yaitu bahwa "dia ada dikarenakan dia sedang bertanya", dan banyak lagi para filsuf yang menyampaikannya. Sehingga kita tinggal memilih ingin menggapai pikiran jernih kita mengikuti yang mana atau bahkan memiliki cara atau pandangan lain yang dapat membuat pikiran kita menjadi jernih itu akan jauh lebih baik.

    ReplyDelete
  6. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Berfilsafat ibaratnya adalah bercermin. Artinya kita merefleksikan apa yang kita pikirkan, yang meliputa yang ada dan yang mungkin ada. Untuk berfilsafat, dibutuhkan pikiran yang jernih, pikiran yang benar-benar bersih dari segala pemikiran yang negatif. sehingga apabila kita merefleksi apa yang kita pikirkan akan menghasilkan refleksi yang jelas dan jernih seperti halnya pikiran kita. Berpikir refleksif harus bersifat intensif dan ekstensif yaitu dengan mengembangkan pengetahuan dengan terus bertanya dan berpikir mengenai yang ada dan mungkin ada agar kita terus dapat meningkatkan kemampuan berpikir kita

    ReplyDelete
  7. Azwar Anwar
    16709251038
    Pendidikan Matematika S2 Kelas B 2016

    Filsafat berarti berpikir. Bagaiamana dengan berfikir kita menjadi tahu, bisa membuat pikiran lebih jernih jika dilakukan dengan ikhlas. Pikiran yang jernih dapat mengembangkan kemampuan kita dalam berfilsafat serta mencoba menemukan jawaban-jawaban terhadap isu-isu paling penting bagi kita dan manusia lainnya. Berpikir filsafat itu harus secara mendalam dan meluas agar apa yang kita peroleh sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Untuk menggapai pikiran yang jernih harus terus dilatih agar kemampuan tidak hilang begitu saja.

    ReplyDelete
  8. Ressy Rustanuarsi
    16709251033
    PPs PMAT Kelas B 2016

    Betapa pentingnya memiliki pikiran yang jernih dalam segala aspek kehidupan, salah satunya dalam belajar filsafat kita harus berpikiran yang jernih agar mudah menerima, mudah memahami. Selain itu dalam mengambil keputusan juga kita dituntut memiliki pikiran yang jernih, agar tidak salah mengambil keputusan yang malah dapat merugikan orang lain. Perbaikilah niat, belajarlah filsafat, dekatkanlah diri dengan Sang Pencipta agar selalu diberkahi pikiran yang jernih.

    ReplyDelete
  9. ERFIANA NUR LAILA
    13301244009
    Pendidikan Matematika C 2013

    Pertanyaan-pertanyaan terkait filsafat pendidikan matematika merupakan gambaran dari para mitos yang ada di dalam pikiran kita semua yang sedang memberontak karena ingin mengetahui jati dirinya yang sebenarnya, Maka mitos yang satu dengan yang lainnya pun berbeda-beda ,, sehingga berfilsafat dengan memunculkan satu buah pertanyaan saja dapat membuat kita belajar lebih banyak dengan menyampaikan pendapat kita terhadap pertanyaan yang dilontarkan oleh orang lain, sehingga secara tidak langsung terjadi proses pembelajaran yang sangat komunikatif yang terjadi antar sesama mahasiswa.

    ReplyDelete
  10. Nauqi Aprilia Putri
    13301241023
    Pendidikan Matematika A 2013

    Berfilsafat adalah kegiatan refleksi diri yang merupakan kegiatan berpikir yang paling tinggi. Pikiran maupun yang dipikirkan keduanya haruslah sebagai cermin yang bersih, atau sesuatu yang jelas. Jernihnya pikiran atau bersihnya cermin atau jelasnya pikiran, itulah yang di dalam filsafat disebut sebagai “pure reason” atau “pikiran murni” atau “budi murni”. “segala yang ada dan yang mungkin ada yang sedang mulai berhenti dipikirkan itu yang dinamakan prejudice, yaitu tidak pure-reason, maka tidak menggapai logos melainkan mitos, maka itu yang disebut kotoran cermin, itulah pikiran tidak jernih”.
    Obyek matematika adalah benda – benda yang diperoleh dari benda-benda nyata dalam kehidupan sehari-hari dengan cara membersihkannya dengan metode “abstraksi” dan “idealisasi”. “Abstraksi” adalah hanya memikirkan sifat-sifat tertentu saja, sedangkan segala macam sifat yang ada dan yang mungkin ada tidak diperhatikan. “Idealisasi” adalah menganggap sempurna sifat yang ada atau data dikatakan benar – benar memiliki sifat yang dimaksud.

    ReplyDelete
  11. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Filsafat mengajarkan kita untuk merefleksi diri kita sendiri, merefleksi hati dan pikiran. Hati dan pikiran kita sebagai cermin yang bersih. Logos merupakan alat untuk membersihka pikiran kita, sedangkan mitos dapat membuat pikiran kita tidak jernih. Untuk menggapai pikiran jernih itu tidaklah mudah. Konsep matematika sendiri ditemukan oleh para ahli melalui pikiran yang jernih, serangkaian dari abstraksi dan idealisasi.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  12. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016
    Mengacu pada jawaban Prof.Marsigit pada elegi menggapai fikiran jernih di atas berikut saya menganologikan dengan bahasa pemahaman saya
    1.Filsafat itu adalah proses refleksi diri
    2.Refleksi adalah proses bercermin
    3.Layaknya orang yang bercermin agar cermin itu bisa merefleksi wujud asli kita maka haruslah cermin
    yang bersih
    4.Bersih disini dimana cermin itu bebas dari kotoran
    5.Kotoran yang dimadsud adalah bersih dari mitos-mitos
    6.Mitos sendiri saat manusia berhenti menggunakan senjata canggih ciptaan Allah SWT yang dianugrahi
    kepada manusia berupa Fikiran, maka mitos sendiri berhentinya memikirkan terhadap sesuatu yang ada
    dan mungkin yang mungkin ada
    7.Maka Diperlukan alat untuk membersihkan kotoran dari cermin tersebut yakitu bisa berupa Lap/Tisue
    apapun itu yang penting bisa untuk membersihkan cermin
    8.Alat pembersih adalah fikiran murni
    9.Fikiran murni sebagai alat pembersih haruslah benar-benar bisa digunakan untuk membersihkan
    kotoran dari cermin. Dan agar alat itu memilki validitas dan reliabilitas yang signifikan haruslah
    dites tingkat validitas dan reliabilitasnya bisa melalui proses metode pengujian dengan cara
    1)dialektika yaitu proses bertesis-ber antitesis-bersintetis;2)abstraki dan idealis;3) sintetik a
    priori agar menciptakan alat yang valid dan reliabel
    10.Jika Fikiran murni sudah benar-benar bisa dikatakan alat yang valid dan reliabel dalam
    membersihkan kotoran maka;
    11.Cermin itu sudah dapat merefleksikan wujud diri kita yang sebenarnya dalam artian kita bisa
    melihat dan mengenal diri kita sendiri contohnya kita tau letak tahi lalt kita diman, jerawat
    kita tumbuh, ada flek noda hitam di wajah, badan kita mengalami pertumbuhan tinggi ... dst. Ini
    semua adalah hakekat dari belajar filsafat yaitu proses mengenal diri sendiri karena filsafat itu
    adalah diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  13. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Sebenar-benar ilmu yang paling murni adalah matematika. Ia tidak tersentuh oleh kotornya hal-hal dunia yang mengotorinya. Matematika hanya mengajarkan cara berpikir yang benar untuk mendapatkan kesimpulan yang benar. Matematika ketika keluar dari pikiran hanyalah bayangan dari pemikiran matematika itu sehingga ia bisa dikonkritkan. Matematika murni dan suci karena keabstrakannya. Akrena kesucian dan keabstrakannya maka matematika mampu menunjukkan keberadaan Tuhan yang hanya dianggap dogma dan dongeng bagi sebagian orang belum jernih pikirannya.

    ReplyDelete
  14. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Apabila pikiran kita jernih maka hasil pemikiran kita pun akan menjadi jelas. Maka dapat dikatakan bahwa pikiran jernih merupakan pikiran yang jelas. Para filsuf telah melakukan berbagai macam upaya dalam mencapai pikiran jernih. Kita sebagai mahasiswa juga dapat berupaya untuk menggapai pikiran jernih, yaitu dengan banyak-banyak membaca. Semakin banyak bacaan yang kita baca akan semakin berkembang pengetahuan yang kita miliki. Selain membaca, pikiran jernih juga dapat dimulai dengan aktivitas berfikir kritis dan bertanya tentang segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Aktivitas tersebut tidak boleh berhenti, karena apabila kita berhenti berpikir kritis dan bertanya maka kita akan terancam oleh mitos.

    ReplyDelete
  15. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Menurut saya pribadi untuk dapat berpikir secara jernih maka saya membutuhkan suasana yang hening dan otak berada dalam kondisi alpha. Sehingga daya kreativitas dapat muncul. Karena menurut penelitian untuk dapat berpikir jernih dan kreativ maka otak harus berada dalam kondisi gelombang alpha, sehingga apa yang kita pikirkan itu tidak bersifat grusah-grusuh (tidak tergesa-gesa).

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  16. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Kita harus mengusahakan pikiran kita dalam keadaan jernih. Karena Sering kali masalah begitu mudah dipecahkan saat kita berpikir jernih. Saat pikiran kita kacau, dunia terasa gelap sehingga solusi pun tidak nampak, padahal ada di depan kita. Akhirnya kita stress, mengambil keputusan yang salah, dan hanya memberikan solusi sesaat. Saat keputusan diambil hanya merupakan solusi sesaat, bisa jadi malah menimbulkan masalah yang lebih besar di kemudian hari.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  17. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Penyebab utama pikiran tidak jernih adalah kondisi emosi yang sedang negatif. Kondisi emosi yang negatif akan mengundang pikiran-pikiran negatif sehingga memenuhi pikiran kita. Jika mood kita sedang jelek, marah, tertekan, dan kepepet sering kali dibayangi oleh rasa takut dan keinginan untuk segera menyelesaikan masalah dengan tergesa-gesa.
    Pikiran negatif menjadikan kita banyak pikiran, sehingga pikiran kita malah memikirkan berbagai hal yang sebenarnya tidak perlu kita pikirkan. Pikiran-pikiran yang tidak kita perlukan seolah seperti sampah yang berserakan dan mengotori jalan. Saat jalan sudah kotor, Anda tidak bisa melihat jalan dengan jelas, padahal bisa saja ada lubang besar yang membahayakan. Begitu juga dengan pikiran, jika banyak “sampah” pikiran negatif, kita tidak akan bisa melihat solusi.


    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  18. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Langkah pertama untuk menjernihkan pikiran diawali dari Hati. Hati kita harus bersih terlebih dahulu. Sebagaimana di elegi ritual ikhlas, untuk membersihkan hati kita harus mendekatkan diri kepada-Nya, melakukan ibadah dengan sebenar-benarnya.
    Ketahuilah, bahwa dalam tubuh terdapat mudghah (segumpal daging), jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati. (HR. Bukhari dan Muslim)

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  19. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    untuk merefleksikan diri jernih pikiran tidaklah cukup, untuk dapat menggunakan yang ada dan yang mungkin ada maka kita harus menggunakan pikiran dan hati sebagai cermin. Karena hati adalah batas dari pikiran, dengan demikian pikiran yang jernih adalah berpikir dengan hati, jadi untuk dapat memahami segala sesuatu membutuhkan pemikiran yang jernih. Begitu juga ketika memahami filsafat. Apabila pikiran kita jernih maka kita akan mudah dalam memahaminya namun apabila pikiran kita tidak jernih maka kita tidak dapat memahami filsafat tersebut dengan baik.

    ReplyDelete
  20. Moh. Bayu Susilo
    16709251012
    S2/P. Matematika/A/2016

    Elegi Menggapai Pikiran Jernih mengajarkan bahwa dalam berfilsafat diharuskan menjernihkan pikiran terlebih dahulu dari negative thinking. Hal itu penting agar dapat ikhlasdalam proses melakukan tesis dan antitesis dan tidak terjebak dalam mitos. Setiap nilai-nilai filsafat hanya bisa diraih dari pikiran yang jernih dari segala hal yang dapat menghambat dalam tesis dan antitesis seperti kesombongan dan ketidakikhlasan.

    ReplyDelete
  21. Annisa Eprila Fauziah
    16709251040
    PPs P.Mat B 2016

    Pada dasarnya ilmu pengetahuan merupakan sekumpulan mitos-mitos yang kemudian disepakati dengan menggunakan metode abtraksi dan idealis, metode ini tidak hanya berlaku di bidang matematika, tetapi semua ilmu pengetahuan juga menggunakannya. pikiran tidak boleh berhenti, karena akan menjadi mitos. Oleh karena itu berpikir jernih adalah cara untuk merubah mitos menjadi logos, dimana jernihnya pikiran didasari oleh "pure reason".

    ReplyDelete
  22. Assalamualaikum, wr. wb.

    Berpikir jernih adalah saat kita berpikir, pikiran kita bersih dari emosi negatif, pikiran negatif, dan persepsi yang salah terhadap masalah. Hal-hal yang mengotori pikiran kita bisa membahayakan hasil pemikiran kita. Pertama kita tidak bisa melihat masalah dengan benar sebab pandangan kita tertutupi oleh kotoran. Tidak bisa melihat masalah dengan jelas akan menjadikan diri kita mengambil solusi yang salah.Penyebab kedua adalah saat pikiran kita tertutupi oleh berbagai hal yang negatif, kita tidak akan mampu melihat solusi, tidak akan mampu melihat ide-ide yang sebenarnya berlimpah, bahkan tidak mampu mencerna nasihat yang bisa saja merupakan nasihat emas tetapi terlihat seperti lumpur. Ibarat Anda memakai kacamata kotor, maka penglihatan Anda bisa terganggu. Oleh karenanya elegi ini memaparkan bagaimana pentingnya menggapai pikiran jernih dalam menggapai ilmu.

    Dwi Margo Yuwono
    S3 PEP Kelas A

    ReplyDelete
  23. NUR AZIZAH
    16709251017
    PMAT KELAS A PPS UNY 2016

    Berpikir jernih adalah hal yang penting saat kita akan berfilsafat. Seperti halnya saat belajar, tanpa pikiran dan hati yang jernih maka kita tidak akan dapat menerima kebaikan sebagai sebuah kebaikan. Ada banyak sekali cara untuk menggapai berpikir jernih. Para filsuf memiliki teorinya masing-masing untuk menggapai pikiran yang jernih.

    ReplyDelete
  24. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Berpikir jernih adalah sejernih air mengalir. Nantinya akan keruh oleh ilmu pengetahuan. Tidak apa-apa. Dalam memahami sesuatu atau memperoleh ilmu pegetahuan, kita memang harus bingung dahulu. Nantinya pikiran kita sendiri yang akan membersihkannya dan membuatnya jernih kembali. Perlu adanya pembuktian-pembuktian. Seorang Rene Descartes juga dapat berpikir jernih apakah ini mimpi atau bukan karena ada bukti yang dia temukan sendiri.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  25. Ika Nailatul Muna
    13301241050
    Pendidikan Matematika A 2013

    Hal yang dapat saya pelajari dari elegi di atas adalah untuk mempelajari ilmu diperlukan pikiran yang jernih. Berpikir jernih dilakukan dengan metode abstraksi dan idealisasi yaitu berpikir sifat tertentu dari suatu obyek dan menganggapnya sempurna.

    ReplyDelete
  26. ANDI SRI MARDIYANTI SYAM
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah
    Assalamu Alaikum Wr. Wb.,

    Saya sepakat bahwa pikiran dan hati yang jernih sangat menentukan perjalanan kita dalam menuntut ilmu. Jika kita menuntut ilmu dengan hati dan pikiran yang jernih maka akan lebih mudah bagi kita memahami hal tersebut. Sebaliknya, jika pikiran dan hati kita kotor, maka semakin sulit pula ilmu tersebut akan kita terima. Ulama sufii mengingatkan, Al-Ilmu Nurun wa nurullah laa yuhdaa lil ’aashiii yang artinya Ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang bermaksiat kepada-Nya.

    Sekian, terima kasih
    Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  27. ANDI SRI MARDIYANTI SYAM
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah
    Assalamu Alaikum Wr. Wb.,

    Dalam menggapai pikiran yang jernih agar kita dimudahkan dalam menuntut ilmu, maka hal pertama yang harus kita lakukan adalah memperbaiki niat. Niatkan bahwa tujuan kita menuntut ilmu agar bisa memberikan manfaat tidak hanya untuk diri sendiri melainkan juga untuk orang lain yang ada di sekitar kita. Juga hindarilah sifat sombong.Ulama filsuf berkata, Ilmu ada tiga tahapan. Jika seorang memasuki tahapan pertama, ia akan sombong. Jika ia memasuki tahapan kedua ia akan tawadhu’. Dan jika ia memasuki tahapan ketiga ia akan merasa dirinya tidak ada apa-apanya.

    Sekian, terima kasih
    Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  28. Bismillah
    Ratih Kartika
    16701251005
    PPS PEP B 2016


    Assalamualaikumwarahmatulahiwabarrakatuh
    Jernih artinya bersih, tidak terkotori. Pikiran jernih artinya pikiran bersih dan berasal dari keikhlasan hati. Kita harus membebaskan pikiran kita dari kotoran sehingga kita bisa mendapatkan ketengan jiwa dan bisa melakukan refleksi sehingga kita mudah dalam belajar dan memahami sesuatu.



    Terimakasih.
    Wassalamualaikumwarahmatulahiwabarakatuh

    ReplyDelete
  29. Khomarudin Fahuzan
    16709251041
    PPs Pend. Matematika B


    Pikiran jernih tentu sangat dibutuhkan bagi setiap manusia. Dengan pikiran jernih kita dapat membuat keputusan dengan tepat, dengan pikiran jernih kita dapat bertindak sesuai dengan ruang dan waktu. Dengan pikiran jernih, maka kita dapat membangun diri kita menjadi lebih baik lagi. pikiran jernih itu diperlukan ketika menghadapi keadaan yang emosional. Karena hati dan pikiran itu berbeda, tetapi saling terkait, saling mempengaruhi. Hati sedang ribut, pikiran kacau, maka tentu apapun yang dilakukan itu bukan keputusan yang terbaik. Sehingga walaupun hati sedang ribut, pikiran harus tetap jernih untuk menghasilkan keputusan yang terbaik.

    ReplyDelete
  30. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    Dari jawaban bapak marsigit saya sangat setuju. Dalam berfilsafat atau sebut saja proses berfikir untuk membangun diri tentulah pikiran-pikiran itu adalah hal-hal yang mampu membuat diri kita menjadi semakin baik. Proses berpikir yang baik tentulah berpikir dengan pikiran yang jernih. Karena tanpa hal tersebut maka justru nanti bisa membuat kita terjerumus kepada hal yang berbahaya. Tak lupa sebagai orang yang beriman maka sudah sepatutnya kita senantiasa berserah diri untuk semua hal. Karena dengan hal itulah kita mampu berfikir jernih dan tidak keluar dari batasan-batasan dalam berpikir.

    ReplyDelete
  31. Herlingga Putuwita Nanmumpuni
    Pendidikan Matematika A 2013
    13301241019

    Berikut ini adalah point penting yang saya peroleh dari membaca elegi di atas : Berfilsafat adalah kegiatan refleksi diri terhadap pikiran kita. Maka dalam berfilsafat, atau dapat dikatakan dalam berpikir refleksif, harus mampu menggunakan semua yang ada dan yang mungkin ada , termasuk pikiran dan hati, itu sebagai cermin. Jernihnya pikiran atau bersihnya cermin atau jelasnya pikiran, itulah yang di dalam filsafat disebut sebagai “pure reason” atau “pikiran murni” atau “budi murni”. Di dalam Elegi-elegi, itulah yang disebut sebagai “menggapai logos” atau “menggapai bukan mitos”.

    Dalam mempelajari dan memahami pengetahuan diperlukan pikiran jernih. Untuk bisa berpikir jernih juga diperlukan upaya-upaya tersendiri yang tentunya tidak mudah, jadi teruslah berlatih untuk menggapai sebenar-benarnya pikiran jernih.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id