Sep 25, 2010

Elegi Sang Bagawat Menggapai Kesempatan




Oleh Marsigit

Transenden:

Ooo.oo..begitu..jadi ternyata aku menemukan bahwa ada bermacam-macam dimensi Bagawat dalam rentang ruang dan waktunya. Sebetul-betul Bagawat adalah pembawa, pengembang dan pemelihara ilmu bagi dimensinya. Setelah aku mengadakan Seminar Pertama Para Bagawat, sekarang sudah agak jelas mengapa persoalan-persoalan itu muncul. Aku juga bersyukur karena semakain banyak Bagawat menyadari keberadaan Bagawat yang lain. Melalui konferensi itu aku juga telah menemukan bahwa sebenar-benar Bagawat adalah pengada dan pemelihara logos.

 Bagawat Powernow itu ternyata adalah Bagawat Posmo dimana dia tidak mengontologikan sosok pribadi yang terisolasi. Dia betul-betul menyatu dan berkiprah ditengah samodra jejaring neolisme. Tiadalah Bagawat di bawah level Posmo seperti Bagawat Modern, Bagawat Tradisional dst mampu menandinginya. Sebenar-benar ilmu bagi Bagawat Posmo adalah manfaat-manfaatnya. Barang siapa tidak mendukung manfaatnya maka akan tergilaslah mereka itu. Itulah sebenar-benar penampakan Dajal yaitu sebuah Sistem Parsial yang hanya menguntungkan sebagian golongan saja. Sedangkan untuk kelompok yang lainnya, mereka cenderung memaksakan kehendaknya. Setinggi-tinggi Bagawat di Indonesia, termasuk Pemimpinnya, hanyalah sampai level Bagawat Tradisional dan sebagian Modern. Maka ibarat Burung Rajawali dengan Burung Perkutut perbandingannya. Solusinya adalah agar semakin banyak Bagawat-Bagawat kita yang menyadarinya dan memperteguh iman, taqwa dan doa meminta pertolongan Allah SWT. Tiadalah manusia itu mampu mengusir anak cucu syaitan, apalagi godfathernya syaitan kecuali atas pertolongan Allah SWT. Amiin.

Paralogos:
Wahai ...transenden...mengapa engkau lebih suka mengomentari keadaan para Bagawat Posmo dan perilakunya, padahal aku menyaksikan bahwa engkau itu sungguh hidup dan produk masyarakat paling banter sebagian Modern. Aku juga melihat bahwa dalam dirimu itu masih melekat sifat-sifatnya masyarakat Tribal dan masyarakat Tradisional. Bukankah sesungguh-sungguh yang terjadi adalah bahwa engkau itu sangat dekat dengan persoalan masyarakatmu? Hemm...gerah rasanya mengikuti perkembangan keadaan yang ada. Ternyata yang namanya krisis itu telah melanda semua aspek kehidupan. Tidak ketinggalan aku sedang menyaksikan banyak para Bagawat dari berbagai ruang dan waktu juga mengalami krisis. Ada diantara mereka mengalami kebigungan, ada yang kesurupan, ada yang melakukan plagiat, ada yang menari-nari tak peduli lingkungan, ada yang euphoria menemukan kedudukan baru, ada yang sibuk bersembunyi dari segala kritik, ada yang terkejut dengan suasana baru kemudian stress, ada yang sibuk menggali parit untuk mengalirkan udara, ada yang sibuk mempertahankan kedudukan dengan berbagai cara, ada yang sibuk main paksa, ada yang sangat sibuk dan over loaded aktivitasnya, ada yang terbatuk karena terlalu lama menahan diri, ada juga meledak-ledak memprotes suasana yang dihadapinya. Ada Bagawat yang sedang terlena tetapi tidak merugikan orang lain, ada Bagawat yang sedang terlena dan dimanfaatkan orang lain, tetapi ada Bagawat yang terlena tetapi merugikan orang lain. Ternyata aku menemukan paling banyak para Bagawat sedang mengalami kebimbangan dan memilih lebih baik diam dari pada bicara atau bertindak. Jika keadaan ini diterus-teruskan, wah..keadaannya bisa semakin runyam. Bagawat ...itulah setinggi-tinggi pengemban ilmu atau logos. Jika para Bagawat mengalami krisis, aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasib para Cantraka, para Rakata, dan para Cemani.

Transenden:
Wahai Paralogos...kalau begitu apa yang engkau pikirkan itu persis sama dengan apa yang aku pikirkan. Lalu..apa masalahnya?

Paralogos:

Saya ingin bertanya perihal krisis yang dihadapi para Bagawat?

Transenden:
Memahami krisis itu tergantung persepsi masing-masing. Aku juga dapat memberikan pemahamanku sendiri. Menurutku krisis itu adalah kesempatan.

Paralogos:
Apakah kesempatan itu?

Transenden:
Para Bagawat sedang berada di persimpangan jalan. Di persimpangan jalan itulah mereka mempunyai kesempatan, tetapi ketika datang kesempatan itu ternyata dia bersifat jamak. Ada kesempataku berbelok ke kiri, ke kanan, serong kiri, serong kanan, berbalik tetapi juga bisa terus jalan lurus. Anehnya, ada pula kesempatan untuk ragu-ragu bahkan diam doing nothing. Maka satu-satunya kepastian adalah bahwa para Bagawat mempunyai kesempatan memilih. Itulah harga yang selama ini mereka cari dan mereka perjuangkan. Tetapi ingin aku katakan bahwa tidak memilih pun merupakan kesempatanku.

Paralogos:
Mohon diterangkan lebih lanjut perihal kesempatan?

Transenden:
Kesempatan adalah kemerdekaan. Kesempatan adalah potensi sekaligus fakta. Maka sebenar-benar hidup adalah kesempatan. Jikalau seseorang sudah tidak mempunyai kesempatan maka tiadalah dia dapat dikatakan sebagai hidup. Maka jikalau kamu menginginkan tetap hidup maka gapailah kesempatan itu.

Paralogos:
Lalu apa relevansinya kesempatan itu dengan krisis yang dialami para Bagawat?

Transenden:
Hidupmu adalah karena hidupnya orang lain. Jika tiadalah orang lain hidup disekitarmu, maka siapakah yang akan mengatakan bahwa dirimu hidup. Oleh karena itu maka wajib hukumnya bahwa engkau sebagai Bagawat harus selalu menghidup-hidupkan murid-muridnya dan masyarakatnya. Murid-muridnya dan masyarakatnya yang hidup itulah yang akan menyanyikan bahwa dirimu juga hidup. Maka sebenar-benar hidup adalah hidup dan saling menghidupkan.

Paralogos:
Lho..jadi ternyata ada kaitannya antara krisis, kesempatan dan hidup?

Transenden:

Jika engkau telah benar-benar hidup dan telah benar-benar hidup dan menghidupkan, maka tiadalah sesuatu di dunia ini yang tidak kait berkait. Maka kesempatan itu sebenarnya adalah hidup dan hidup itu adalah kesempatan. Semua yang ada di dunia itu kait berkait, dan itu adalah karena pikiranmu yang hidup. Maka jikalau engkau ingin melihat dunia, maka tengoklah ke dalam pikiranmu, karena dunia itu persis seperti apa yang engkau pikirkan. Demikian juga bagi para Bagawat.

Paralogos:
Wahai Transenden...bagaimana dengan sifat Bagawat yang mempunyai kuasa, paling tidak kuasa diberi amanah untuk mengemban ilmu?

Transenden:
Kesempatan itu adalah keadaan. Kesempatan itu adalah sifat. Kesempatan adalah keadaan di mana suatu sifat tidak tertutup oleh sifat yang lain. Jika suatu sifat menutup sifat yang lain, maka sifat yang menutup dikatakan “menentukan” dan sifat yang tertutup dikatakan “ditentukan”.

Paralogos:
Apa relevansinya sifat menentukan dan sifat ditentukan dengan kekuasaan para Bagawat?.

Transenden:

Menentukan dan ditentukan itu adalah hubungan kuasa yang satu dengan tidak kuasa yang lain. Bukankah sudah pernah aku katakan bahwa para bagawat itu kuasa terhadap murid danmasyarakatnya,. Di sadari atau tidak disadari, disengaja atau tidak disengaja, maka para Bagawat itu adalah kuasa untuk menutup sifat murid-muridnya, pengikutnya dan masyarakatnya. Sedangkan murid-muridnya, pengikutnya dan masyarakatnya tidak kuasa untuk menghindar dari sifat menutup para Bagawat. Padahal sebenar-benar orang yang paling berbahaya di dunia ini adalah mereka yang sangat menikmati kegiatannya menutipi sifat-sifat yang lainnya. Maka para Bagawat seperti halnya orang-orang yang lainnya dapat sangat berbahaya bagi murid-muridm, pengikut dan masyarakatnya jika mereka sangat menikmati kegiatannya menutupi sifat mereka. Maka sebenar-benarnya tidak hidup adalah jika sifat-sifatnya tertutup oleh sifat yang lain.

Paralogos:
Mohon apakah bisa diterangkan lebih detail lagi karena menurut saya sangat penting.

Transenden:
Bagawat yang baik adalah Bagawat yang mampu hidup dan menghidup-hidupkan murid-murid, pengikut dan masyarakatnya. Maka janganlah sekali-kali keberadaannya dan kegiatannya sebagai Bagawat menutup sifat-sifat mereka. Karena sifat yang tertutup itulah sebenar-benar tiada kesempatan. Ciri-ciri seorang Bagawat menutup sifat-sifat murid-murid, pengikut dan masyarakatnya adalah jika dia secara sepihak mendiskripsikan ciri-cirinya. Jika mereka katakan muridnya sebagai malas, padahal dia belum tentu malas, maka yang demikian itu Bagawat telah menutupi sifatnya. Jika dia katakan bahwa muridnya bodoh, padahal belum tentu dia bodoh, maka yang demikian itu telah menutupi sifatnya. Jika mereka katakan bahwa muridnya tidak berkarakter maka itulah keadaan Bagawat yang sedang menutupi sifat-sifatnya. Jika secara sepihak Bagawat mengklaim bahwa untuk membangun karakter murid-muridnya harus melalui pemaksaan, maka itulah kegiatan mereka sedang menutup sifat-sifat murid-muridnya. Ketika mereka bicara sementara muridnya mendengar, maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika mereka bekerja sementara muridnya melihat, maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika mereka bertanya sementara muridnya berusaha menjawab maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika Bagawat berinisiatif sementara muridnya menunggu, itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika Bagawat menyuruh sementara muridmu melaksanakannya maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika Bagawat menilai prestasi siswanya maka itu adalah kejadian lain dari kegiatan mereka menutupi sifat-sifatnya. Maka adalah sungguh berdosalah bagi orang-orang yang gemar menutupi sifat orang lain, karena yang demikian dampaknya begitu besar bagi murid-muridnya. Bahkan aku bisa katakan bahwa menutupi sifat itu tidak lain tidak bukan adalah pembunuhan secara perlahan-lahan. Waspadalah.....karena dengan begitu maka maksudmu membangun karakter bisa saja berakibat justru membunuhnya.

Bagawat:
Sebentar...bolehkah aku ikut bertanya wahai Transenden. Jikalau sebaliknya, maksudku justeru yang melakukan atau yang menutui sifat itu murid, yaitu muridku menutupi sifat gurunnya aku sang Bagawat, bukankah itu sama dosanya.

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar hakekat kesempatan, hakekat sifat dan hakekat kuasa. Sifat-sifat dari orang berkuasa adalah lain pula sifatnya dengan sifat-sifat orang yang tidak atau kurang berkuasa. Jikalau muridmu bicara dan kamu mendengarkan, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Jikalau muridmu bertanya dan engkau menjawab, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Jikalau muridmu berinisiatif dan engkau menunggu, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Jikalau muridmu melakukan kegiatan sementara engkau menontonnya, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Demikian seterusnya. Jadi sifat memberi kesempatan dan sifat menutup sifat, adalah berbeda-beda sifatnya sesuai domisilinya, apakah dalam orang yang berkuasa atau dalam orang yang dikuasai. Ituykah usahamu menggapai kesempatan.

Bagawat:

Kenapa engkau sebut aku sebagai Bagawat menggapai kesempatan. Padahal sesuai dengan uraianmu mestinya aku lebih tepat kalau kau sebut sebagai Bagawat memberi kesempatan.

Transenden:
Itulah ujianku terhadap dirimu. Kalau itu adalah engkau sendiri yang mengatakan maka baiklah untuk dirimu. Tetapi jikalau aku yang mengatakan maka tidak baiklah untuk dirimu. Mengapa? Karena dengan demikian aku telah menutupi sifatmu.

Bagawat:
Oh ..Transenden, mohon maaf, bukankah Transenden telah berbuat kontradiktif, ambivalensi atau bertentangan di dalam dirimu sendiri sendiri. Di dalam Agama itu disebut sebagai munafik. Bagaimana menurutmu?

Transenden:
Benar ucapanmu. Sampai di sini aku merasa terharu walau mungkin kamu tidak demikian. mengapa karena engkau mulai menyadarinya. Sampai di sinilah aku akan katakan sesuatu yang tidak bisa aku katakan sebelumnya.

Bagawat:
Apa itu guru? Tolong jelaskan. Aku menjadi penasaran dibuatnya.

Transenden:
Benar ucapanmu. Ketika aku berbicara panjang lebar kepadamu, maka aku sedang dalam proses menutupi sifat-sifatmu. Padahal aku sedang berbicara memberi kesempatan. Jadi aku tidak bisa memberi kesempatan tanpa menutupi sifat-sifatmu. Maka aku tidak bisa terhindar dari pertentangan dalam diriku. Jikalau engkau sensitif dan peka maka dapat aku katakan “pertentangan” itulah sebenar-benar hakekat hidup itu.

Bagawat:
Oh Transenden mengapa demikian. Mengapa aku capai-capai mengikuti penjelasanmu ternyata engkau hanyalah sebuah kontradiksi. Oh Tuhan ampunilah aku, ya Tuhan. Guru macam apalah engkau ini. Kenapa engkau mengajariku banyak hal padahal engkau sendiri adalah kontradiksi. Aku sudah tidak bisa lagi menangis. Air mataku sudah kering. Lalu aku harus bagaimana?

Transenden:
Tenang dan sabarlah. Karena ciri-ciri orang cerdas adalah jika dia bisa mengendalikan secara proporsional perasaannya.

Bagawat:

Saya harus sabar bagaiman guru? Bukankah selama ini kau telah menipuku. Menipuku secara besar-besaran. Maka tiadalah ampun bagimu, wahai guruku.

Transenden:
Padahal apa yang akan aku katakan justeru lebih berat dari itu. Sudah saya katakan berkali-kali bahwa diriku tidak lain tidak bukan adalah pengetahuanmu. Telah terbukti bahwa diriku tidak bisa terhindar dari pertentangan, maka dapat aku katakan bahwa bahwa sebenar-benar ilmumu itu adalah pertentangan atau kontradiksi. Tiadalah suatu ilmu tanpa kontradiksi, karena jika tidak ada kontradiksi maka itu berarti berlaku hukum identitas. tetapi dengan hukum identitas kita tidak akan mendapat ilmu apa-apa. Karena A adalah A itulah hukum identitas. “Aku” adalah “Aku” itu juga hukum identitas. Ketahuilah bahwa kalimat “Saya adalah guru” itu sebenar-benar kontradiktif dalam filsafat. Mengapa? Itu adalah kontradiktif dan tetap kontradiktif sampai engkau dapat membuktikan bahwa “Saya” itu identik atau persis saama dengan “guru”. Padahal kita tahu bahwa “saya” tidaklah sama dengan “guru”. “saya” mempunyai sifat-sifat yang berlainan dengan “guru”. Demikian pula bahwa “2+3=5” adalah juga kontradiktif secara filsafati mengapa, karena sebenar-benar bahwa “2+3” belumlah sama dengan “5” sebelum engkau mampu membuktikannya. Engkau tidak dapat mengatakan 2 buku ditambah 3 pensil sama dengan 5 buku. Kenapa? itulah karena buku dan pensil adalah dua ruang yang berbeda.

Bagawat:
Wahai guru, aku belum bisa menerima penjelasanmu itu. Karena guruku yang lain mengatakan “Jagalah hatimu dan jangan sampai ada pertentangan di situ. Jika terdapat satu saja pertentangan di hatimu, maka itu pertanda syaitan duduk di situ”. Kalau begitu apakah engkau sedang mengajarkan ilmunya syaitan kepadaku guru?

Transenden:

Benar pertanyaanmu dan benar pula ucapan gurumu yang lain itu. Sedari awal yang aku bicarakan adalah tentang dirimu dan diriku. Berkali-kali aku katakan bahwa diriku adalah ilmumu. Ilmumu adalah pikiranmu. Jadi sebenar-benar aku adalah pikiranmu. Jadi konradiksiku adalah kontradiksi dalam pikiranmu. Barang siapa ingin memperoleh ilmu dalam pikirannya, maka bersiaplah dia menemukan kontradiksi-kontradiksi itu.

Bagawat:
Terus bagaimana dengan hatiku ini guru?

Transenden:

Hatimu adalah jiwamu. Hatimu adalah hidupmu. Hidupmu tidak lain tidak bukan adalah hatimu. Maka barang siapa baik hatinya maka baik pula hidupnya. Dan barang siapa buruk hatinya maka buruk pula hidupnya. Sebenar-benar hatimu itu adalah satu, yaitu rakhmat Nya. Maka hatimu tidak lain tidak bukan adalah ibadahmu. Sebenar-benar hatimu adalah doa-mu. Jadi tiadalah pertentangan dan keragua-raguan di sana. Barang siapa membiarkan adanya pertentangan dan keragu-raguan di hati maka syaitan lah yang akan menghuni hatinya. Maka dengan tegas aku katakan jagalah hatimu jangan sampai ada pertentangan ataupun kontradiksi.

Bagawat:
Hah.. itulah sebenar-benar ilmuku guru. Oh Tuhan ampunilah segala dosaku. Aku telah berbuat durhaka kepada guruku. Kenapa guruku yang begitu hebat telah aku sumpah serapah. Manusia macam apakah aku ini ya Tuhan. Kiranya engkau cabut nyawaku sebagai tebusannya, maka ikhlaslah aku. Wahai guruku, sudilah engkau memaafkan diriku, dan sudilah aku masih tetap bersamamu.

Transenden:

Itulah sebenar-benar ilmu. Itulah sebenar-benar rakhmat. Yaitu jikalau engkau menyadari kelemahanmu dan selalu mohon ampun ke hadlirat Nya. Untuk meningkatkan profesionalismemu maka belajar dan selalu belajarlah, membaca dan selalu membacalah, bertanya dan selalu bertanyalah, berdoa dan selalu berdoalah. Inilah sebenar-benar kesempatan itu. Maka raihlah kesempatan itu. Tetapi janganlah salah paham karena sebenar-benar Bagawat menggapai kesempatan adalah jika dia dapat selalu hidup dan menghidupkan murid-muridnya. Maka sebenar-benar Bagawat menggapai kesempatan adalah jika murid-muridnya sebenar-benar menggapai kesempatan pula. Maka sebenar-benar hidup adalah memberi dan diberi kesempatan. Itulah amanah yang telah aku berikan kepadamu wahai para Bagawat, yaitu membangun hidup dunia dan akhiratmu agar engkau dapat pula membangun hidup dunia dan akhirat para muridmu pula.

Amiin.

25 comments:

  1. Dita Nur Syarafina
    NIM. 16709251003
    PPs Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Kesempatan adalah kemerdekaan. Kesempatan adalah potensi sekaligus fakta. Sebenar-benarnya hidup adalah kesempatan. Allah SWT memberikan hidup di dunia ini adalah kesempatan bagi manusia untuk beribadah dan bermanfaat bagi sesama makhluk ciptaan Allah SWT. Kesempatan lainnya yang sangat penting bagi manusia adalah kesempatan untuk mengubah nasib, manusia diberikan hak sebesar-besar untuk mengubah nasibnya. Lebih spesifik lagi, guru diberikan kesempatan berilmu untuk membagi ilmunya kepada siswanya. Siswa diberikan kesempatan untuk menerima ilmu dari guru, memahaminya, dan mengembangkannya. Untuk itu, tidak boleh satu pihak menutupi kesempatan pihak lainnya karna itu termasuk perbuatan dzalim. Guru tidak boleh mengajar hal-hal yang nantinya siswa malah akan semakin bingung, berarti siswa kehilangan kesempatannya karena guru. Itulah batasan yang harus guru sadari.

    ReplyDelete
  2. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Sebenar-benarnya kesempatan adalah ketika menyadarai kelemahan namun tetap bangkit untuk selalu menjadi lebih baik. Namun baik disini bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain. Memberikan kesemptanan untuk orang lain ikut maju itulah salah satu bentuk agar kita semakin lebih baik. Seseorang yang berbicara bahwa kesempatan hanya datang sekali dalam hidup, sesungguhnya belum sadar tentang arti dari sebuah kehidupan yang sedang kita jalani dan kurang bersyukur kepada semua yang diberikan oleh Tuhan. Jangan pernah mengeluh pada keadaan & kekurangan pada diri kita selama ini karena keluhan itu tidak akan merubah kehidupan kita lebih baik kedepan malah kita menjadi orang yang bersifat angkuh ketika dewasa nantinya.

    ReplyDelete
  3. Nur Dwi Laili Kurniawati
    13301241063
    Pendidikan Matematika C 2013

    Kesempatan terhebat bagi seorang guru adalah memberikan kesempatan bagi siswa- siswanya. Dengan memberikan kesempatan kepada siswa- siswanya esok guru akan memiliki kesempatan indah menyaksikan siswa- siswanya memperoleh ilmunya sendiri, membangun pemikirannya sendiri. Dengan memberikan kesempatan kepada siswa- siswanya lusa guru akan memiliki kesempatan menakjubkan memihat siswa- siswanya bermetamorfosa sesuai dengan potensi yang mereka miliki. Karena sebenar- benar memberikan kesempatan bagi siswa tidaklah menutup kesempatan bagi seorang guru. Karena sebenar- benar memberikan kesempatan bagi siswa adalah jalan bagi guru untuk menggapai kesempatan- kesempatan terbaik dengan melihat kesuksesan siswanya.

    ReplyDelete
  4. Areani Eka Putri
    12301249003
    Pend. Matematika Sub'12

    elegi menggapai kesempatan memberikan banyak hal, menyadarkan kita bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang berbeda-beda. setiap ada kesempatan gunakanlah sebaik mungkin dan jangan disia-siakan karena ketika menghilangkan kesempatan itu hilang juga sebagian ilmu kita. selagi ada waktu dan kesempatan belajarlah, berdoa dan bersyukur sehinga bisa mengambil keputusan yang tepat dalam menjalankan kesempatan-kesempatan yang ada. terimakasih.

    ReplyDelete
  5. Yazid Fathoni
    NIM 13301241076
    Pendidikan Matematika C 2013

    Sebenar-benar hidup adalah kesempatan. Jikalau seseorang sudah tidak mempunyai kesempatan maka tiadalah dia dapat dikatakan sebagai hidup. Maka jikalau kamu menginginkan tetap hidup maka gapailah kesempatan itu. Sering mendengar tentang kesempatan kedua, tapi ingatlah jangan mengandalkan kesempatan kedua itu, lakukanlah atau jalanilah kesempatan yang pertama dengan sungguh-sungguh, sebaik mungkin, semaksimal mungkin yang akan mengurangi rasa penyesalan akibat kehilangan kesempatan itu sendiri.

    ReplyDelete
  6. SUPIANTO
    16701261001
    S3 PEP KELAS A 2016

    obek filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. kita sudah terbiasa berpikir mengenai sesuatu yang ada (empiris), namun jarang untuk berpikir sesuatu yang mungkin ada (metafisik). sumber dari penemuan-penemuan adalah dari hasil berpkir tentang sesuatu yang mungkin ada. ini merupakan metode berpikir spekulatif yang masuh dalamranah dunia filsafat. oleh karenaya, kesempatan yang berwujud apapun dapat diraih melalui berpikir tentang sesuatu yang mungkin ada, yang dapat menyulut pikiran spekulatif kita dan berupaya untuk menemukan sesuatu yang mungkin ada itu. di sinilah kunci kesempatan itu dapat diraih atau tidak.

    ReplyDelete
  7. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Sebenar-benarnya hidup adalah kesempatan, Jikalau seseorang sudah tidak mempunyai kesempatan maka tiadalah dia dapat dikatakan sebagai hidup. Sehingga dalam hidup ini kita akan memiliki berbagai kesempatan untuk dipilih dan dijalani, pilihlah kesempatan yang benar-benar baik dan jangan banyak menunda untuk memilih karena bisa saja kesempatan tidak akan datang lagi,misalnya kita memilih dan diberi kesempatan menjadi mahasiswa pasca sarjana di UNY, maka di dalam ini juga akan terdapat banyak kesempatan yang harus kita pilih, kesempatan untuk mengerjakan tugas atau tidak, kesempatan untuk datang kuliah atau tidak, kesempatan untuk belajar atau bermain, kesempatan terus melanjutkan kuliah atau berhenti dan masih banyak lagi kesempatan yang kita miliki ketika kita memilih menjadi mahasiswa pasca sarjana di UNY. Sehingga walaupun kesempatan itu bersifat merdeka tetapi alangkah baiknya jika kita mampu memilih dan melakukan kesempatan-kesempatan yang sifatnya baik dan bermanfaat.

    ReplyDelete
  8. Azwar Anwar
    16709251038
    Pendidikan Matematika S2 Kelas B 2016

    Menggapai kesempatan adalah salah satu tujuan hidup. Jikalau ada kesempatan yang baik maka manfaatkanlah dengan sebaik mungkin dan jangan menundanya. Karena belum tentu itu datang untuk kedua kalinya. Dan yang paling penting adalah kesempatan untuk selalu beribadah, serta menikmati apa yang telah diberikan kepada kita. Memanfaatkan kesempatan itu pun harus sungguh-sungguh dan benar dilakukannya jika tidak maka kita telah menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

    ReplyDelete
  9. Nauqi Aprilia Putri
    13301241023
    Pendidikan Matematika A 2013

    Kesempatan merupakan saat kritis, di mana dapat dimanfaatkan, diambil atau hanya sekadar tahu dan disisa – siakan begitu saja. Kesempatan pun tidak hanya kita yang diberi namun juga dapat memberikan. Dalam kehidupan sehari – hari tentu banyak kesempatan yang telah kita punya, satu hal yang paling sering kita lakukan namun sering pula kita melupakannya, yaitu diberinya kesempatan untuk dapat menghirup oksigen dan bernafas sehingga sampai saat ini kita masih diberi kesempatan untuk hidup dalam arti sebenarnya. Jika menyiakan – menyiakan kesempatan untuk hidup, bisa saja saat ini sudah melakukan tindakan yang menghilangkan nyawa. Memberi kesempatan pada orang lain juga merupakan hal yang bijaksana menurut saya, namun disesuaikan dengan konteksnya. Misalkan, dalam pembelajaran di sekolah, seorang guru memberikan kesempatan pada siswanya untuk dapat mencari informasi terkait materi yang diajaran, atau memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya tentang materi tersebut, atau memberikan pendapat mengenai cara dalam menyelesaikan persoalan pada materi yang disampaiakan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa guru harus menghidupkan siswa – siswanya. Sebenar – benar hidup adalah hidup dan saling menghidupkan sehingga saling terkait satu dan lainnya.

    ReplyDelete
  10. Nauqi Aprilia Putri
    13301241023
    Pendidikan Matematika A 2013

    Dengan menjaga hati, maka akan terjadi diberi ataupun memberi kesempatan. Hati adalah jiwa. Hati adalah hidup. Maka jika seseorang baik hatinya maka baik pula hidupnya, begitu pula jika seseorang buruk hatinya maka buruk pula hidupnya. Dalam hati yang paling dalam ada rahmat Nya. Cerminan dari hati yaitu ibadah dan doa. Semoga kita segera menyadari kelemahan yang kita miliki atau kesalahan yang pernah dilakukan dan selalu mohon ampun kehadlirat-Nya. Dengan terus belajar, maka yang belum tahu menjadi tahu dan yang sudah tahu menjadi lebih paham. Belajar dapat dengan membaca, bertanya pada orang yang sudah paham, atau yang lainnya. Maka semakin banyak ilmu yang dimiliki, maka semakin lebih mengerti bagaimana harus bertindak, tahu apa yang harus dipikirkan, atau bahkan apa yang harus diperbaiki. Tak lupa selalu berdoa, maka rahmat-Nya juga akan didapatkan sehingga kita dapat meraih kesempatan itu. Maka sebenar-benar hidup adalah memberi dan diberi kesempatan, yaitu kesempatan membangun hidup dunia dan akhirat.

    ReplyDelete
  11. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Kesempatan yang kita miliki dibatasi oleh ruang dan waktu yang yang kita miliki. Untuk itu selama masih memiliki kesempatan dalam hidup. Kesempatan diisi dengan mencari pengetahuan, menuntut ilmu sabik-baiknya. Kesempatan yang kita miliki merupakan amanah dari Allah SWT. Sebagai guru kesempatan kita adalah memberikan ilmu kepada siswa kita. Itulah amanah yang harus kita jaga.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  12. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Quote dari elegi ini adalah jika engkau ingin tau bentuk dunia seperti apa maka tenghoklah pikiranmu karena dunia itu persis seperti apa yang engkau pikirkan. Memilki makna yang sangat dalam sebagai faedah hidup, ternyata dunia itu adalah cermina/refleksi dari pikiran kita sendiri dalam artian bahwa jika kita hati kita senyum dalam memandang dunia maka dunia itu sendiri akan merefleksikan dirinya dalam senyuman juga kepada kita maka baik dan buruknya dalam hidup itu tergantung hati dan fikiran kita, jika hati dan fikiran kita buruk maka kita akan menciptakan dunia yang buruk juga tetapi jika merefleksikan hati dan fikiran ini baik maka dunia juga akan merefleksikan dirinya dalam keadaan baik. Jadi saya bisa mengatakan bahwa dunia ini adalah hasil dari refleksi hati dan pikiran kita masing-masing. Maka bentuk dunia sendiri ditentukan berdasarkan rancangan dari hati dan fikiran kita. Hidup ini hanya sekali maka ciptkanlah dunia dengan sebaik mungkin karena waktu itu terus berjalan linear lurus kedepan, dia tidak bisa kemabali kemasa lalu memberikan kita kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dimasa lampau.

    ReplyDelete
  13. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Bagawat ialah pembawa, pengembang dan pemelihara ilmu pengetahuan. Berdasarkan elegi ini, bagawat menggapai kesempatan ialah bagawat yang menggapai kesempatan sekaligus memberikan kesempatan bagi yang dikuasa. Bagawat ini memiliki arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Bila dikaitkan dengan pembelajaran matematika, bagawat dapat diartikan sebagai guru matematika. Maka guru menggapai kesempatan ialah apabila guru dapat menggapai kesempatan sekaligus memberikan kesempatan bagi siswanya. Dalam pembelajaran guru hendaknya memberikan kesempatan kepada siswanya untuk berbicara, bertanya, berinisiatif, berfikir, dan mengerjakan. Seperti yang disampaikan dalam elegi ini, guru yang menutupi kesempatan siswa dalam membangun pengetahuannya akan membunuh potensi dan pola pikir siswa. Selain itu, guru juga harus senantiasa mengembangkan pengetahuannya.

    ReplyDelete
  14. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Kesempatan bisa saja merupakan peluang. Kesempatan memiliki dimensi yang berbeda dengan momentum. Maka dari itu disebutknlah hal seperti diatas bahwa kesempatan itu ada banyak jalurnya, bhkan tidak memilih pun adalah sebuah kesempatan. Sehingga kesempatan adalah pilihan. Namun skala yang lebih besar adalah momentum yang memeiliki dimensi yang lebih tinggi dengan dari kesempatan. Kesempatan hanyalah merupakan pilihan, namun momentum adalah menentukan. Kesempatan bersifat jamak, namun momentum bersifat tunggal karena ia hanya datang hanya pada saat tertentu untuk untuk membuat kita menentukan dan waktu kemunculannya lebih sedikit ketimbang kesempatan yang ada.

    ReplyDelete
  15. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    kuasa dan kesempatan selalu ada dalam diri setia manusia, sang begawat pun memiliki hal yang sama. Ketika sang begawat mempunyai kuasa maka setidak-tidaknya untuk selalu memberi kesempatan kepada orang lain agar engkau mendengarkan dan menyimak tentag persepsi suatu hal yang akan meyakinkan dirimu, meyakinkan pikiranmu tentang suatu hal, buka karena ia menutupi sifatmu akan tetapi ia menjadikan engkau agar tidak berpikir secara subyektif.

    ReplyDelete
  16. Fitri Ayu Ningtiyas
    16709251037
    S2 P.Mat B UNY 2016

    Dari elegi sang begawat menggapai kesempatan diatas dapat diperoleh pelajaran bahwa hatimu adalah jiwa dan hidup dimana hidup tidak lain tidak bukan adalah tentang hati. Maka semakin baik hati seseorang akan semakin baik pula hidupnya, dan semakin buruk hati seseorang akan semakin buruk pula hidupnya. Karena sebenar-benar hati adalah satu, yaitu rakhmat Allah SWT. Dan sebenar-benar hati adalah doa-doa yang kita panjatkan.

    ReplyDelete
  17. misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    kesempatan adalah suatu kejadian atau suatu keadaan yang menjadi sebab pendukung dan kebetulan dari suatu kejadian. sebab spesifik suatu kejadian ialah apa yang sungguh-sungguh menhasilkan kejadian itu. kesempatan merupakan perangkat kondisi kausal umum yang menyediakan kesempatan bagi sebab-sebab spesifik untuk bertindak (atau membuatnya berlangsung). contohnya tingkat bakteri yang makin betambah menyebabkan susu menjadi asam. kesempatan berbeda dengan sebab, karena kesempatan dapat menghadirkan aneka macam fakta, yang tidak berhubungan secara niscaya dengan peristiwa, hasil. kesempatan dapat memunculkan satu atau lain fenomen hanya karena fenomen itu telah disiapkan oleh proses perkembangan niscaya dan alamiah.

    ReplyDelete
  18. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Kesempatan merupakan suatu anugrah yang sangat luar biasa yang dari Allah SWT. Namun terkadang kita sering terlena dalam mengambil kesempatan itu, kadang kita melewatkannya begitu saja. Kesempatan juga merupakan suatu kenikmatan. Mempunyai kesehatan, kekayaan, waktu luang, kelengkapan anggota tubuh sebenarnya merupakan suatu kesempatan, kesempatan untuk melakukan hal terbaik ketika sehat maka kesempatan untuk banyak beribadah dan bekerja, ketika kaya berarti kesempatan untuk beramal sebanyak-banyaknya, ketika ada waktu luang berarti kesempatan untuk berkarya. Oleh karena itu pandai-pandailah kita dalam menggunakan kesempatan yang telah diberikan oleh Allah SWT. Jangan sampai kita melewatkannya begitu saja.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  19. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Dalam hidup ini kesempatan terkadang tidaklah datang dua kali, contohnya ya hidup itu sendiri. Telah diriwayatkan dalam al-quran kurang lebih bahwa ketika seseorang telah berada di alam kubur, maka orang-orang akan merasa sangat menyesal atas apa yang telah dikerjakan selama di dunia, kemudian mereka semua memohon agar dapat dikembalikan ke dunia meskipun sehari saja. Maka nikmat Allah yang mana yang engkau dustakan. Jadi dalam hal ini menjadi peringatan buat kita semua agar ketika kita hidup didunia ini maka isilah semaksimal mungkin, seimbangkan antara kehidupan duniawi dan juga bekal untuk kehidupan di akhirat, janganlah kita selalu mementingkan kebutuhan duniawi semata. Ingat dunia sementara dan akhirat selamanya.


    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  20. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Salah satu kesempatan yang dianugrahkan Allah SWT bagi bangsa ini adalah kemerdekaan. Kemerdekaan merupakan suatu kesempatan yang sangat nikmat. Masih banyak bangsa di dunia ini yang tidak menikmati kemerdekaan, misalnya saja Palestin yang masih saja digempur oleh laknatullah Israel. Meskipun secara de facto masih banyak hal-hal di Indonesia yang belum bisa dikatakan merdeka, namun secara de jure alhamdulillah indonesia sudah merdeka. Sehingga dalam hal ini marilah kita mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif, janganlah selalu mau menang sendiri atas segala ego dan pendapat. Hindarilah berpecah belah dalam mengisi kemerdekaan ini. Mari kita bersama-sama bahu membahu membangun bangsa ini.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  21. Moh. Bayu Susilo
    16709251012
    S2/P. Matematika/A/2016

    Kesempatan adalah kesadaran manusia dalam posisinya pada ruang dan waktu. Jadi sebenar-benarnya hidup adalah kesempatan. Jika manusia tidak memahami posisinya dalam dimensi ruang dan waktu maka dapat pula dia disebut mati. Kesempatan selalu ada pada dimensi ruang dan waktu, tidak pernah hilang, selagi manusia menyadarinya. Namun kebanyakan manusia tidak menyadari adanya kesempatan yang selalu hadir dalam kehidupannya. Sehingga tidak mampu memanfaatkan kesempatan itu untuk terus berproses menjadi lebih baik.

    ReplyDelete
  22. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend Matematika S2 Kelas B

    Kesempatan dapat dimaknai sebagai keadaan di mana suatu sifat tidak tertutup oleh sifat yang lain. Jika suatu sifat menutup sifat yang lain, maka sifat yang menutup dikatakan “menentukan” dan sifat yang tertutup dikatakan “ditentukan”. Siswa seharusnya diberikan kesempatan untuk memperoleh keterampilan matematika, membangun konsep dan pengertiannya sendiri, menemukan rumus-rumus matematika. Semoga kita sebagai guru mampu memberikan kesempatan untuk mempelajari matematika yang beraneka ragam, dengan alat peraga atau fasilitas yang beraneka ragam pula, dengan buku matematika yang beraneka ragam pula, dengan kompetensi yang beraneka ragam pula, dengan waktu yang beraneka ragam pula, walaupun mereka semua ada dalam satu kelas, yaitu kelas pembelajaran matematika yang akan kita selenggarakan. Karena apabila kita tidak memberikan kesempatan pada siswa maka dapat dikatakan pembunuhan karakter, padahal niat awal membangun karakter namun cara yang digunakan adalah cara membunuh karakter. Semoga kelak jika menjadi guru kita terhindar dari upaya pembunuhan karakter murid dan senantiasa mampu meberikan kesempatan kepada murid untuk mengkonstruksi pengetahuannya.

    ReplyDelete
  23. NUR AZIZAH
    16709251017
    PMAT KELAS A PPS UNY 2016

    Sebenar-benar hidup adalah kesempatan. Maka saat kesempatan itu berakhir maka berakhir jugalah hidup. Saat mendapat kesempatan maka sebaiknya kita manfaatkan dengan sebaik mungkin sebab orang lain belum tentu mendapat kesempatan seperti yang kita dapat. Menurut saya memahami bahwa memanfaatkan kesempatan dengan baik adalah sama sebagaian dari bersyukur. Sedang dalam syukur itu ada harmoni yang tercipta dalam kehidupan. Sebagai contoh, saat kita menjadi guru maka kita diberi kesempatan seluas-luasnya untuk membagi ilmu dengan murid kita, begitu pula saat kita jadi murid kita diberi kesempatan seluas-luasnya untuk memperoleh ilmu dari guru.

    ReplyDelete
  24. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Kesempatan adalah kemerdekaan. Kesempatan bukanlah memaksakan kehendak. Kita bebas mengambil kesempatan atau tidak. Namun jika baik kenapa tidak diambil kesempatan itu. Hakekat kesempatan adalah perubahan.
    Contoh kesempatan adalah kita memberi kesempatan murid untuk pintar dan bertanya, bukan berarti kita memaksakan kehendak kepada murid untuk mengikuti kehendak kita. Memang susah membuat murid kita paham apalagi dengan materi yang banyak dan waktu yang sedikit. Oleh karena itu perlu lah siswa diberi kesempatan belajar di luar sekolah dengan cara diberikan les.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  25. Ika Nailatul Muna
    13301241050
    Pendidikan Matematika A 2013

    Setiap manusia memiliki kesempatan. Setiap manusia berhak pula memberikan kesempatan kepada manusia lain. Sebenar-benar hidup adalah memberi dan diberi kesempatan. Kita hanya peru berusaha dan selalu berdoa kepada Tuhan YME untuk menggapai kesempatan kita dan memberikan jalan untuk kesempatan orang lain.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id