Sep 20, 2010

Elegi Menggapai Bicara




Oleh Marsigit

Kata-kata:
Wahai bicara, aku ingin protes kepadamu. Mengapa engkau duduk di situ mendahuluiku?

Bicara:
Wahai kata-kata. Tiadalah ada engkau di situ, jika tanpa aku ucapkan.

Kata-kata:
Wahai bicara, pernahkan engkau menuliskan kata-kata?

Bicara:
Wahai kata-kata, aku pernah menulis kata-kata. Maka tiadalah dirimu, jika tanpa aku tuliskan.

Kata-kata:
Wahai bicara, pernahkah engkau memikirkan kata-kata?

Bicara:
Wahai kata-kata, aku pernah memikirkan kata-kata. Maka tiadalah dirimu, jika tanpa aku pikirkan.

Kata-kata:
Wahai bicara, dengan apakah aku membuat pertanyaan-pertanyaanku?

Bicara:
Engkau membuat pertanyaan-pertanyaanmu dengan kata-kata. Jadi ..ternyata belum aku ucapkan, belum aku tuliskan, dan belum aku pikirkan, engkau telah membuat kata-katamu. Wahai kata-kata, mohon maafkan diriku, ternyata aku telah melakukan kontradiksi pada analisiku tentang kata-kata. Aku merasa bersalah. Maka aku akan menemui “bahasa” untuk mengadukan tentang nasibku ini.

Tulisan:
Wahai bicara dan kata-kata, aku ingin protes kepadamu. Mengapa engkau berdua duduk di situ mendahuluiku?

Bicara dan kata-kata:
Wahai tulisan. Tiadalah ada engkau di situ, jika tanpa aku bicarakan dan katakan.

Tulisan:
Wahai bicara dan kata-kata, pernahkan engkau membuat karya-karya menggunakan tulisan?

Bicara dan kata-kata:
Wahai tulisan, aku pernah membuat karya-karya menggunakan tulisan. Maka tiadalah dirimu, jika tanpa karya-karyaku.

Tulisan:
Wahai bicara dan kata-kata, pernahkah engkau memikirkan tulisan?

Bicara dan kata-kata:
Wahai kata-kata, aku pernah memikirkan tulisan. Maka tiadalah dirimu, jika tanpa aku pikirkan.

Tulisan:
Wahai bicara dan kata-kata, dengan apakah aku membuat pertanyaan-pertanyaanku?

Bicara dan kata-kata:
Engkau membuat pertanyaan-pertanyaanmu dengan tulisan. Jadi ..ternyata belum aku ucapkan dan belum aku pikirkan, aku telah membuat tulisan. Wahai tulisan, mohon maafkan diriku berdua, ternyata aku telah melakukan kontradiksi pada analisiku berdua tentang tulisan. Aku merasa bersalah. Maka marilah kita bertiga menemui “bahasa” untuk mengadukan tentang nasib kita ini.

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, aku bertiga merasa bingung. Maka siapakah diriku bertiga itu.

Bahasa:
Wahai tulisan, bicara dan kata-kata, sesungguhnya dimensimu itu berbeda-beda. Tulisan, bicara dan kata-kata adalah bahasa

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, kemudian, siapakah kata-kata itu?

Bahasa:
Wahai tulisan, bicara dan kata-kata, sesungguhnya kata-kata itu adalah salah satu dari diriku. Kata-kata adalah semua sifat yang ada. Maka semua sifat yang dapat engkau pikirkan dan ucapkan adalah kata-kata. Maka kata-kata itu berada di mana-mana sampai batas akal pikiranmu. Pikiranmu itu berkata. Keputusanmu itu berkata. Langkahmu itu berkata. Penampakkanmu itu berkata. Akvitasmu berkata. Pegaulanmu berkata. Keberadaanmu berkata. Penjelasanmu berkata. Pertanyaanmu berkata. Bahkan kata-katamu itu juga berkata. Semua peristiwa itu berkata. Maka semua yang ada dan yang mungkin ada itu berkata.

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, kalau begitu siapakah bicara?

Bahasa:
Wahai tulisan, bicara dan kata-kata, sesungguhnya bicara itu adalah salah satu dari diriku. Bicara adalah semua sifat yang ada. Maka semua sifat yang dapat engkau pikirkan dan ucapkan adalah bicara. Maka bicara itu berada di mana-mana sampai batas akal pikiranmu. Pikiranmu itu bicara. Keputusanmu itu bicara. Langkahmu itu bicara. Penampakkanmu itu bicara. Akvitasmu bicara. Pegaulanmu bicara. Keberadaanmu bicara. Penjelasanmu bicara. Pertanyaanmu bicara. Bahkan bicaramu itu juga bicara. Semua peristiwa itu bicara. Maka semua yang ada dan yang mungkin ada itu bicara.

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, kalau begitu siapakah tulisan?

Bahasa:
Wahai tulisan, bicara dan kata-kata, sesungguhnya tulisan itu adalah salah satu dari diriku. Tulisan adalah semua sifat yang ada. Maka semua sifat yang dapat engkau pikirkan dan ucapkan adalah tulisan. Maka tulisan itu berada di mana-mana sampai batas akal pikiranmu. Pikiranmu itu tulisan. Keputusanmu itu tulisan. Langkahmu itu tulisan. Penampakkanmu itu tulisan. Akvitasmu itu tulisan. Pegaulanmu itu tulisan. Keberadaanmu itu tulisan. Penjelasanmu itu tulisan. Pertanyaanmu itu tulisan Bahkan bicaramu itu tulisan. Semua peristiwa itu tulisan. Maka semua yang ada dan yang mungkin ada itu tulisan.

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, kalau begitu siapakah dirimu itu.

Bahasa:
Wahai tulisan, bicara dan kata-kata, sesungguhnya bahasa adalah semua sifat yang ada. Maka semua sifat yang dapat engkau pikirkan dan ucapkan adalah bahasa. Maka bahasa itu berada di mana-mana sampai batas akal pikiranmu. Pikiranmu itu bahasa. Keputusanmu itu bahasa. Langkahmu itu bahasa. Penampakkanmu itu bahasa. Akvitasmu itu bahasa. Pegaulanmu itu bahasa. Keberadaanmu itu bahasa. Penjelasanmu itu bahasa. Pertanyaanmu itu bahasa. Bahkan bicaramu itu juga itu bahasa. Semua peristiwa adalah bahasa. Maka semua yang ada dan yang mungkin ada adalah bahasa.

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, gantian saya yang ingin bertanya kepada engkau. Lalu, apakah hubungan antara bicara, kata-kata dan bahasa.

Bahasa:
Semua dari tulisan, bicara dan kata-kata adalah diriku. Bahkan lebih dari itu, semua yang dapat engkau pikirkan adalah bahasa. Semua subyek, obyek dan kalimat-kalimat adalah bahasa. Semua peristiwa adalah bahasa. Menterjemahkan adalah bahasa. Diterjemahkan adalah bahasa. Maka bahasa adalah hidup. Maka hidup adalah bahasa. Semua refleksi adalah bahasa. Maka filsafat itu adalah bahasa. Lebih dari itu, semua struktur adalah bahasa. Potensi adalah bahasa. Fakta adalah bahasa. Semua arti adalah bahasa. Kebutuhan adalah bahasa. Keinginan adalah bahasa. Maka bahasa adalah sekaligus makna dan referensinya. Tanpa kecuali maka semua elegi adalah bahasa.

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperkatakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
Itulah sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperbicarakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
Itulah sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat mempertuliskan semua yang ada dan yang mungkin ada.
Itulah sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
Maka:
Itulah sebenar-benar mendidik, yaitu seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
Maka:
Itulah sebenar-benar pembelajaran matematika, yaitu seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua matematika yang ada dan yang mungkin ada.
Maka:
Itulah mengapa elegi-elegi ini aku persembahkan untuk kamu semua wahai mahasiswaku, yaitu seberapa jauh aku memberi kesempatan dan kemampuan kepada engkau semua untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka jadikanlah elegi-elegi ini sebagai teladan bagi dirimu semua. Semoga kecerdasan menyertai pikiran dan hatimu semua. Amien.

22 comments:

  1. Dita Nur Syarafina
    NIM. 16709251003
    PPs Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Kata-kataku tidak dapat mengejar bicaraku dan bicaraku tidak dapat mengejar tulisanku. Belum selesai aku berbiacara, kata-kata yang ada di dalam pikiranku terus berkembang berlipat ganda. Bicaraku hanya akan bersifat sementara jika tidak kutuliskan, tulisan menjadi bukti bicaraku dan terus berguna untuk generasi selanjutnya. Inilah yang dipelajari filsafat, maka berfilsafat adalah seberapa jauh kita dapat memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  2. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Kata-kata, bicara, tulisan, dan bahasa merupakan satu kesatuan yang saling terikat yang harus disajikan secara selaras agar informasi yang diberikan dapat diterima dengan baik. Dalam implementasi di bidang pembelajaran matematika sebagai guru harusnya mampu membangun pembelajaran dengan komunikasi yang terbuka yaitu memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan mereka melalui memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan semua matematika yang ada dan mungkin ada dalam pikiran mereka sehingga guru dapat mengetahui tentang tingkat pemahaman siswa tentang materi pelajaran matematika yang nantinya akan menjadi bahan introspeksi guru dalam mengajar

    ReplyDelete
  3. ERFIANA NUR LAILA
    13301244009
    Pendidikan Matematika C 2013

    Apa yang tampak oleh mata kepala kita tidak selalu menggambarkan keadaan yang sebenarnya terjadi, oleh karena itu jangan lah kita cepat menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan apa yang kita lihat saja, namun kita perlu mengkajinya lebih dalam tentang hal tersebut, agar konklusi yang kita tarik tidak semena-mena karena benda yang kita lihat saja, Di dunia ini banyak sekali hal yang dapat kita amati dan dapat kita lihat, namun kita harus meyakini bahwa dibalik seseuatu ada makna yang terkandung, maka buku yang lusuh tidak selalu mengartikan bahwa buku tersebut sering dibaca atau dibawa kemana-mana, namun bisa saja buku itu pernah terkena air hujan, atau yang lainnya. Untuk menghindari kesalah pahaman kita tehdapap sesuatu maka kita perlu melakukan sebuah langkah konfirmasi terlebih dahulu, yaitu dengan mengamatinya dan mempelajarinya secara mendalam dan lebih luas.

    ReplyDelete
  4. Azwar Anwar
    16709251038
    Pendidikan Matematika S2 Kelas B 2016

    Bicara dapat diungkapkan dengan kata-kata yang kemudian ditulis dan dibahasa. Jadi anatara kata-kata, tulisan dan dibahasakan dapat saling berhubungan dan menguatkan, dengan begitu kita tidak akan mudah untuk dilupakan. Karena jika hanya diucapkan dengan kata-kata tanpa ditulis maka akan cepat lupa, begitu juga jika hanya ditulis tanpa pernah dibaca/dibahasakan maka akan mudah cepat lupa. Jadi jika kesemuanya saling dihubungkan dapat mudah untuk dipahami serta mendapatkan informasi yang benar.

    ReplyDelete
  5. Mega Puspita Sari
    16709251035
    PPs Pendidikan Matematika
    Kelas B

    Berbicara bukan sekedar mengeluarkan suara, bercuap-cuap tanpa memiliki makna dan tidak punya arah yang jelas. Menggapai cara berbicara yang bagus diimbangi dengan bertutur kata yang baik, memiliki makna dan terarah. Berbicara yang baik adalah ketika ada hal yang baik atau hal yang positive yang diambil dari pembicaraan tersebut. Berbicara merupakan salah satu aktifitas yang membutuhkan tenaga/energi, oleh karena itu jika kita renungi, alangkah ruginya ketika berbicara tanpa arah, sekedar bercuap-cuap tak guna terlebih apa yang dibicarakan tersebut sesuatu yang negatif sehingga energi itu akan terbuang dengan sia-sia.

    ReplyDelete
  6. Khintoko Intan Permatasari
    13301244011
    Pendidikan Matematika C 2013

    Tulisan berasal dari pikiran yang diterjemahkan ke dalam bahasa. Tulisan merupakan bentuk dari bahasa yang kemudian di ucapkan yang biasa disebut bicara. Bicara juga berasal dari hasil dari pikiran yang tersimpan kemudian dapat dituangkan dalam tulisan yang membetuk suatu bahasa. Kemampuan berpikir seseorang berjalan dengan sangat cepat sehingga tidak akan mampu menuliskan semua apa yang ada dalam pikiran.Sehingga bahasa dapat digunakan untuk menerjemahkan apa yang ada dalam pikiran, yaitu penggunaan bahasa yang sederhana tetapi memiliki inti yang sama. Sehingga apa yang ada dalam pikiran tidak hanya bersifat sementara.

    ReplyDelete
  7. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Elegi di atas berarti bahwa sebagai seorang guru hendaknya kita memberi kesempatan juga kepada siswa untuk mengekspresikan kata-katanya, tulisannya, bahasanya, pemikirannya. Seorang guru tidak boleh hanya memberikan ilmu kepada siswa tanpa memberika kesempatan siswanya untuk mengekpresikannya. Apalagi sampai guru memaksakan agar persepsi yang dimiliki siswa haruslah sama dengan persepsi siswa.Ddalam perkuliahan filsafat ilmu Bapak juga memberikan kesempatan kepada kami untuk mengekspresikan pemikiran kami melalui komentar di blog Bapak.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  8. Nauqi Aprilia Putri
    13301241023
    Pendidikan Matematika A 2013

    Sebelum berbicara, menuliskan dan berbahasa, tentunya merangkai kata – kata hingga dapat dipahami dan memiliki arti. Di lain sisi, maka sebenar – benar pembelajaran matematika, yaitu seberapa jauh guru memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa – siswa untuk mengatakan, membicarakan, menuliskan, dan membahasakan semua matematika yang ada dan yang mungkin ada. Karena setiap siswa memiliki hak dan kesempatan untuk dapat mengatakan pendapatnya dalam menyelesaikan masalah matematika misalnya. Semoga kita selalu diberikan kecerdasan pikiran dan hati.

    ReplyDelete
  9. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Berbicara adalah salah satu usaha untuk mengungkapkan ide dan gagasan kita. Berbicara itu hendaknya kita menggunakan kata-kata yang baik, sopan, dan dengan kerendahan hati. Kita perlu menyesuaikan apa yang kita bicarakan dengan konteks pembicaraan. Dalam berbicara, kita juga harus berhati-hati jangan sampai menimbulkan kesalahpahaman makna dengan lawan yang diajak berbicara.

    ReplyDelete
  10. Khomarudin Fahuzan
    16709251041
    PPs Pend. Matematika B

    Tanpa disadari, manusia setiap waktu itu berfilsafat, karena filsafat itu adalah olah pikir. Orang bertanya itu termasuk filsafat, karena dia melakukan olah pikir juga. Karena olah pikir, maka akan ada konflik pemikiran yang terjadi antara pemikirannya dengan pemikiran yang dipelajari. Maka dalam belajar filsafat akan bahaya jika tidak dilandasi dengan iman yang kuat, akan mudah terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran lain. Membuat komen merupakan langkah bijaksana untuk setiap orang yang ingin berfilsafat. Karena akan melakukan olah pikir atas apa yang dia pelajari, dan tidak dituntut untuk menjadi seperti yang dipelajarinya.

    ReplyDelete
  11. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Sebenar-benar filsafat adalah olah fikir sebagai proses mengadakan yang ada dan yang mungkin ada jadi segala ide,gagasan,pengetahuan,wawasan itu selamanya keberadaannya akan benar jikalah masih dalam pikiran saja dan keberadaanya itu masih bersifat subyektif maka untuk mengadakannya menjadi benar-benar ada harus diungkapakan atau dibahasakan untuk didapatkan sintesis setelah melalui proses tesis-anti tesi agar kebaradaannya dari yang ada dan mungkin ada itu tidak hanya bersifat subyektif saja tetapi objektif juga menjadi sebuah tesis yang baru.

    ReplyDelete
  12. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Melalui elegi ini, kita diharapkan bisa merefleksikannya dalam kehidupan kita. Misalnya dalam pembelajaran matematika, seperti yang disampaikan di bagian akhir elegi ini bahwa sebenar-benar pembelajaran matematika, yaitu seberapa jauh pendidik memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua matematika yang ada dan yang mungkin ada. Dengan demikian, kita diharapkan untuk bisa memberikan kesempatan pada siswa untuk aktif membangun pengetahuannya sendiri, sedangkan tugas guru ialah memfasilitasi siswa dalam belajar. Sebagai guru, kita jangan sampai menutupi kesempatan siswa untuk melakukan hal-hal tersebut karena akan mematikan potensi siswa. Maka, guru dapat membuat LKS atau media lainnya sehingga siswa mendapatkan kesempatan seluas-luasnya untuk memperkatakan memperbicarakan, mempertuliskan, dan membahasakan apa yang ia pelajari.

    ReplyDelete
  13. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Ingatlah bahwa berfilsafat adalah persesuaian antara hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan. Tidaklah ia berfilsafat ketika hatinya saja yang digunakan. Tidaklah ia berfilsafat ketika hanya pikiran saja yang digunakan. Tidaklah ia berfilsafat ketika hanya perkataan saja yang digunakan. Tidakalah ia berfilsafat ketika hanya perbuatan yang digunakan. Tidaklah ia berfilsafat ketika hanya hati dan pikiran yang digunakan. Tidaklah ia berfilsafat ketika hanya pikiran dan perkataan yang digunakan. Tidaklah ia berfilsafat ketika hanya hati dan perkataan yang digunakan. Tidaklah Ia berfilsafat ketika hanya hati, pikiran, dan perkataan yang digunakan. Itulah sebaik-baiknya jalan untuk melenyapkan kemungkaran dan kebathilan.

    ReplyDelete
  14. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    bicara, kata-kata, tulisan dan bahasa adalah suatu hal yang terbentuk dari pola pikir seseorang yang ingin di tuangkan secara nyata dalam pengalaman orang tersebut. Empat hal tersebut menjadi bermakna karena dari keempat itulah dapat timbul komunikasi antara manusia satu dan manusia lainnya yang dapat meningkatkan hubungan sesama manusia dan bahkan dari empat itu pula kita dapat meningkatkan jiwa spritual kepada sang Maha Pencipta Segalanya.

    ReplyDelete
  15. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Mungkin yang dapat saya pahami dalam membaca elegi ini adalah mengenai kebebasan berekspresi. Kebebasan berekspresi yang meliputi kebebasan dalam berbpikir, berbicara, berbahasa dan menuliskan suatu karya. Kebebasan dalam hal ini sangat diperlukan dalam pekembangan peserta didik, yakni untuk menambahkan daya kreativitas mereka. Namun kebebasan bukanlah kebebasan yang bersifat mutlak, tetapi kebebasan yang membutuhkan batasan-batasan didalamnya. Batasannya yaitu jangan samapi kebebasan yang diberikan itu melanggar kebebasan yang dimiliki oleh orang lain.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  16. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan, adalah hal yang terjadi secara berurutan dan tersistematis, semua yang ada dan yang mungkin ada. Saat semua yang ada hanya sebatas kata-kata maka akan mudah dilupakan, jika kata-kata itu dibicarakan maka kesan yang ada hanyalah sebuah wacana, saat kata-kata dan yang dibicarakan dituliskan akan menjadi sesuatu yang menguatkan dan saat apa yang dituliskan dibahasakan dengan baik maksud akan tersampaikan dengan baik pula. Jadi keempatnya sangatlah dibutuhkan dalam mendidik karena merupakan sarana untuk menyampaikan gagasan ide dan pendapat siswa. Mari kita tingkatkan kualitis diri supaya kita memiliki ilmu yang cukup untuk mengantarkan anak – anak kita menggapai cita – citanya.

    ReplyDelete
  17. Ika Nailatul Muna
    13301241050
    Pendidikan Matematika A 2013

    Dari elegi di atas kita dapat mengambil pelajaran bahwa ketika menjadi seorang guru bebaskanlah siswa untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan apa yang sedang dipelajarinya. Dengan begitu akan muncul pengetahuan-pengetahuan baru yang jika hanya dijelaskan oleh guru tidak akan muncul dalam pembelajaran. Dengan begitu, pengetahuan siswa mampu berkembang lebih luas. Itulah sebenar-benarnya pembelajaran.

    ReplyDelete
  18. Moh. Bayu Susilo
    16709251012
    S2/P. Matematika/A/2016

    Kata-kata tidak akan bisa mengejar bicara dan bicara tidak akan bisa mengejar pikiran. Semua yang dipikirkan tidak akan mampu untuk dibicarakan. Bicara dan kata-kata adalah bahasa. Pikiran membutuhkan bahasa agar pikiran dapat dikomunikasikan. Dan bahasa membutuhkan tulisan untuk bisa abadi merepresentasikan pikiran.

    ReplyDelete
  19. NUR AZIZAH
    16709251017
    PMAT KELAS A PPS UNY 2016

    Tulisan, bicara, dan kata-kata memiliki dimensi yang berbeda. Meski demikian kesemua itu merupakan bagian dari bahasa. Sedangkan bahasa adalah filsafat. Maka sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  20. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Sebenar-benar hidup adalah bahasa dan membahasakan. Lengkap dan melengkapi. Yaitu bisa disusun dengan rangkaian kata-kata, lisan yang berbicara, dan bisa dituliskan maknanya. Sebenar-benar hidup adalah menerjemahkan dan diterjemahkan.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  21. ANDI SRI MARDIYANTI SYAM
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah
    Assalamu Alaikum Wr. Wb.,

    Kematangan berpikir seseorang tercermin dari kata-katanya, bicaranya, juga tulisannya. Sangat penting bagi kita mengasah diri untuk bisa mentransformasikan apa yang ada di dalam pikiran kita memjadi kata-kata yang kemudian dikemukakan dalam bentuk bahasa lisan maupun bahasa tulisan. Dan sebenar-benarnya mengemukakan sesuatu adalah mampu menjelaskan hal yang sulit dimengerti lewat bahasa yang sederhana sehingga anak kecil pun mampu mengerti hal yang kita kemukakan. Juga seperti yang dikatakan Prof. Marsigit dalam eleginya,sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat menjadikannya kata semua yang ada dan yang mungkin ada.

    Sekian, terima kasih
    Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  22. NDI SRI MARDIYANTI SYAM
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah
    Assalamu Alaikum Wr. Wb.,

    Mengenai Elegi Menggapai Bicara Prof. Marsigit, di tengah maraknya arus komunikasi dan informasi, menjamurnya media sosial, di saat kuatnya pengaruh power now, kebebasan berekspresi kian tak terkontrol. Banyak orang yang menggunakan kebebasan berpendapatnya tanpa memperhatikan hak-hak orang lain sehingga yang terjadi adalah kebablasan berpendapat. Hal ini perlu menjadi perhatian kita semua agar hak menyatakan pendapat itu tidak sampai pada ranah privasi orang lain. Tidak sampai merendahkan harkat dan martabat orang lain. Perlu pula kita membiasakan diri, jika tidak mampu mengucapkan perkataan yang baik, sebaiknya kita diam.

    Sekian, terima kasih
    Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id