Sep 20, 2010

Elegi Hamba Menggapai Wadah dan Isi




Oleh: Marsigit

Wadah, bangga dengan statusnya
Aku adalah wadah. Wadah bagi semuanya. Ini adalah statusku. Aku sekaligus namaku. Tiadalah suatu isi apapun tidak memerlukan wadah. Maka barang siapa mereka mengaku sebagai isi maka pastilah mereka memerlukanku. Lebih dari itu barang siapa mengaku sebagai wadah maka akupun wadahnya. Maka aku adalah wadah bagi semuanya tanpa kecuali. Oleh karena itu maka sudah pantaslah jika aku memang memperoleh kedudukann istimewa. Aku tidak perlu pusing-pusing mengurusi isi dan juga wadah-wadah yang lain, karena semuanya itu akan masuk kedalamku, yaitu mereka akan selaluterwadahkan oleh ku.

Isi, bangga dengan statusnya
Aku adalah isi. Isi bagi semuanya. Ini adalah statusku. Aku sekaligus namaku. Tiadalah suatu wadah apapun tidak memerlukan isi. Maka barang siapa mereka mengaku sebagai wadah maka pastilah mereka memerlukanku. Lebih dari itu barang siapa mengaku sebagai wadah maka akupun isinya. Maka aku adalah isi bagi semuanya tanpa kecuali. Oleh karena itu maka sudah pantaslah jika aku memang memperoleh kedudukann istimewa. Aku tidak perlu pusing-pusing mengurusi wadah dan juga wadah-wadah yang lain, karena semuanya itu akan memerlukanku, yaitu mereka akan mencari isi.

Siswa tertegun melihat wadah dan isi gurunya:
Aku melihat guru-guru di sana. Kelihatannya mereka adalah wadah-wadah yang besar. Tetapi aku heran mengapa wadah-wadah itu tidak serakus biasanya. Biasanya mereka selalu melahap apapun isi dan wadah. Kenapa untuk pelajaran kali ini dia menginginkan aku sebagai isi. Padahal sebesar-besar tujuan hidupku adalah wadah pula. Tetapi aku pernah melihat dan mendengar bisik-bisik sesama para guru. Aku agak terkejut karena, dalam bisik-bisiknya, para guru itu ternyata sangat menginginkan wadahku pula. Tetapi di depanku mereka hanya menginginkan isiku. Maka aku berkesimpulan bahwa guru-gur itu ternyata bersifat manipulatif.

Mahasisa dan guru tertegun melihat wadah dan isi dosennya:
Aku melihat dosen-dosen di sana. Kelihatannya mereka adalah wadah-wadah yang besar. Tetapi aku heran mengapa wadah-wadah itu tidak serakus biasanya. Biasanya mereka selalu melahap apapun isi dan wadah. Kenapa untuk kuliah kali ini dia menginginkan aku sebagai isi. Padahal sebesar-besar tujuan hidupku adalah wadah pula. Tetapi aku pernah melihat dan mendengar bisik-bisik sesama para dosen. Aku agak terkejut karena, dalam bisik-bisiknya, para dosen itu ternyata sangat menginginkan wadahku pula. Tetapi di depanku mereka hanya menginginkan isiku. Maka aku berkesimpulan bahwa dosen-dosen itu ternyata bersifat manipulatif.

Dosen tertegun melihat wadah dan isi orang tua berambut putih:
Aku melihat para orang tua berambut putih di sana. Kelihatannya mereka adalah wadah-wadah yang besar. Tetapi aku heran mengapa wadah-wadah itu tidak serakus biasanya. Biasanya mereka selalu melahap apapun isi dan wadah. Kenapa untuk kali ini dia menginginkan aku sebagai isi. Padahal sebesar-besar tujuan hidupku adalah wadah pula. Tetapi aku pernah melihat dan mendengar bisik-bisik sesama para orang tua berambut putih. Aku agak terkejut karena, dalam bisik-bisiknya, para orang tua berambut putih itu ternyata sangat menginginkan wadahku pula. Tetapi di depanku mereka hanya menginginkan isiku. Maka aku berkesimpulan bahwa para orang tua berambut putih itu ternyata bersifat manipulatif.

Siswa bertanya kepada mahasiswa:
Wahai kakak-kaka mahasiswa. Bolehkah aku bertanya kepadamu. Sebetul-betul dirimu itu, mementingkan wadah atau isi?Bagaimana menurutmu apakah engkau lebih suka wadah atau isi?

Mahasiswa1:
Wahai adikku siswa yang ku banggakan, bukankah statusku sebagai mahasiswa itu adalah wadah. Itu adalah hak istimewaku. Itulah pula wadah yang mungkin perlu engkau gapai. Terus terang saja, aku lebih suka wadah. Mengapa? Karena selama ini aku hidup dan dihidupkan oleh wadahku. Maka wadah bagiku adalah segala-galanya. Bahkan aku dapat katakan bahwa sebenar-benar diriku adalah wadahku. Buat apalah isi bagiku. Bagiku isi hanyalah basa basi.

Mahasiswa2:
Wahai adikku siswa yang ku banggakan, bukankah selama ini aku tidak pernah
membangga-banggakan wadahku. Apalah artinya kedudukanku sebagai mahasiswa jika aku tidak mampu menunjukkan potensiku sebagai mahasiswa. Maka aku adalah orang yang sangat khawatir dengan wadah. Sebaliknya, seumur-umur hidupku adalah isi itulah tujuanku. Aku bahka rela kulepas statusku sebagai mahasiswa jikalau itu memang perlu demi aku menggapai isiku. Maka sebenar-benar aku, dapat aku katakan bahwa aku adalah isiku.

Guru bertanya kepada dosen:
Wahai para dosenku. Bolehkah aku bertanya kepadamu. Sebetul-betul dirimu itu, mementingkan wadah atau isi?Bagaimana menurutmu apakah engkau lebih menyukai wadah atau isi?

Dosen1:
Wahai guru yang ku banggakan, bukankah statusku sebagai dosen itu adalah wadah. Itu adalah hak istimewaku. Itulah pula wadah yang mungkin perlu engkau gapai. Terus terang saja, aku lebih suka wadah. Mengapa? Karena selama ini aku hidup dan dihidupkan oleh wadahku. Maka wadah bagiku adalah segala-galanya. Bahkan aku dapat katakan bahwa sebenar-benar diriku adalah wadahku. Buat apalah isi bagiku. Bagiku isi hanyalah basa basi.

Dosen2:
Wahai guru yang ku banggakan, bukankah selama ini aku tidak pernah
membangga-banggakan wadahku. Apalah artinya kedudukanku sebagai dosen jika aku tidak mampu menunjukkan potensiku sebagai dosen. Maka aku adalah orang yang sangat khawatir dengan wadah. Sebaliknya, seumur-umur hidupku adalah isi itulah tujuanku. Aku bahka rela kulepas statusku sebagai dosen jikalau itu memang perlu demi aku menggapai isiku. Maka sebenar-benar aku, dapat aku katakan bahwa aku adalah isiku.

Siswa, mahasiswa, guru dan dosen bimbang memikirkan wadah dan isi:
Dari percakapan yang kita dengar tentang wadah dan isi, aku menjadi bimbang. Apa sebetulnya wadah itu? Apa sebetulnya isi itu. Jika aku minum segelas air, maka gelas adalah wadahnya, dan air adalah isinya. Tetapi jika aku sebut air adalah wadah, maka aku belum tahu pasti apakah isinya, mungkin salah satu isinya adalah oksigen. Tetapi jika aku berpikir bahwa oksigen adalah wadah, maka aku semakin bingung apakah sebenarnya isinya. Jika siswa adalah wadah, maka isinya adalah kemampuannya dan kepribadiannya. Jika wadahku adalah mahasiswa maka isiku adalah kemampuan dan kepribadiannya. Jika guru adalah wadahku maka isiku adalah kemampuan dan kepribadiannya. Jika dosen adalah wadahku maka kemampuan dan kepribadianku adalah isinya. Nah ini aku temukan ijasah dan sertifikat. Aku cari-cari dalam daftar tetapi aku tidak menemukan secara tegas bahwa ijasah dan sertifikat adalah isi, tetapi samar-samar tertulis mereka sebagai wadah.

Orang tua berambut putih datang menghampiri siswa, mahasiswa, guru dan mahasiswa

Siswa, mahasiswa, guru dan dosen bersama-sama menegur orang tua berambut putih:
Wahai orang tua berambut putih. Kenapa engkau duduk di situ? Bukankan untuk duduk di situ engkau harus berbekal wadah dan isi. Maka tunjukkan manakah wadah dan isimu?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa sebenar-benar diriku adalah tidak punya wadah, dan sebenar-benar diriku adalah tidak punya isi. Satu-satunya yang aku punya adalah kemampuanku untuk selalu hadir pada setiap pertannyaanmu.

Siswa bertanya tentang isinya:
Wahai orang tua berambut putih, kalau begitu tunjukkanlah kepadaku, sebagai seorang siswa, apakah isiku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang siswa, maka isimu adalah rasa syukurmu bahwa engkau telah menjadi siswa, kemudian rasa syukurmu akan menghasilkan rasa senang dan motivasi untuk menjadi siswa yang baik dan berprestasi, untuk mewujudkan cita-citamu itu maka engkau perlu menyesuaikan sikap dan perbuatanmu. Sesuaikanlah sikap dan perbuatanmu itu sebagaimana engkau menginginkan sebagai seorang siswa yang baik dan berprestasi. Tidak hanya itu, engkaupun harus iklhas, tawadu’ dan istiqomah untuk selalu mencari dan menambah-tambah ilmumu agar engkau memperoleh keterampilan sebagaimana engkau dituntut sebagai seorang siswa yang baik dan berprestasi. Janganlah puas sampai disitu, karena sebagai siswa yang baik dan berprestasi juga dituntut untuk mengembangkan dan mencari pengalaman. Itulah sebenar-benar isi dari seorang siswa.

Siswa bertanya tentang wadahnya:
Lalu sebagai seorang siswa, maka apakah wadahku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang siswa maka wadahmu adalah status, kedudukan, tugas dan tangungjawabmu sebagai siswa. Tetapi harap ingatlah bahwa engkau akan selalu diminta pertanggungjawaban akan wadahmu itu. Maka ada atau tidaknya wadahmu itu tergantung bagaimana mengisi wadah itu. Wadahmu bisa sempit bisa juga luas, bisa kecil bisa juga besar, bisa penting bisa juga tidak penting, bisa ada bisa juga tidak ada. Maka sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa wadah tidaklah mempunyai batas dengan isi. Wadahmu akan selalu hadir ketika engkau wujudkan isimu. Maka sebenar-benar wadah tidak lain tidak bukan adalah isi. Maka tersesatlah wahai para siswa yang hanya mengejar wadah tetapi tidak mau mengisinya. Tetapi benar-benar merugilah jika para siswa hanya mengejar isi tetapi tidak mau mengenal wadahnya.

Guru bertanya tentang isinya:
Wahai orang tua berambut putih, kalau begitu tunjukkanlah kepadaku, sebagai seorang guru, apakah isiku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang guru, maka isimu adalah rasa syukurmu bahwa engkau telah menjadi guru, kemudian rasa syukurmu akan menghasilkan rasa senang dan motivasi untuk menjadi guru yang baik dan berprestasi. Untuk mewujudkan cita-citamu itu menjadi guru yang baik maka engkau perlu menyesuaikan sikap dan perbuatanmu. Sesuaikanlah sikap dan perbuatanmu itu sebagaimana engkau menginginkan sebagai seorang guru yang baik dan berprestasi. Tidak hanya itu, engkaupun harus iklhas, tawadu’ dan istiqomah untuk selalu mencari dan menambah-tambah ilmumu agar engkau memperoleh keterampilan sebagaimana engkau dituntut sebagai seorang guru yang baik dan berprestasi. Janganlah puas sampai disitu, karena sebagai guru yang baik dan berprestasi juga dituntut untuk mengembangkan dan mencari pengalaman. Itulah sebenar-benar isi dari seorang guru.

Guru bertanya tentang wadahnya:
Lalu sebagai seorang guru, maka apakah wadahku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang guru maka wadahmu adalah status, kedudukan, tugas dan tangungjawabmu sebagai guru. Tetapi harap ingatlah bahwa engkau akan selalu diminta pertanggungjawaban akan wadahmu itu. Maka ada atau tidaknya wadahmu itu tergantung bagaimana mengisi wadah itu. Wadahmu bisa sempit bisa juga luas, bisa kecil bisa juga besar, bisa penting bisa juga tidak penting, bisa ada bisa juga tidak ada. Maka sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa wadah tidaklah mempunyai batas dengan isi. Wadahmu akan selalu hadir ketika engkau wujudkan isimu. Maka sebenar-benar wadah tidak lain tidak bukan adalah isi. Maka tersesatlah wahai para guru yang hanya mengejar wadah tetapi tidak mau mengisinya. Tetapi benar-benar merugilah jika seorang guru hanya mengejar isi tetapi tidak mau mengenal wadahnya.

Mahasiwa bertanya tentang isinya:
Wahai orang tua berambut putih, kalau begitu tunjukkanlah kepadaku, sebagai seorang mahasiswa, apakah isiku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang mahasiswa, maka isimu adalah rasa syukurmu bahwa engkau telah menjadi mahasiswa, kemudian rasa syukurmu akan menghasilkan rasa senang dan motivasi untuk menjadi mahasiswa yang baik dan berprestasi. Untuk mewujudkan cita-citamu itu menjadi mahasiswa yang baik maka engkau perlu menyesuaikan sikap dan perbuatanmu. Sesuaikanlah sikap dan perbuatanmu itu sebagaimana engkau menginginkan sebagai seorang mahasiswa yang baik dan berprestasi. Tidak hanya itu, engkaupun harus iklhas, tawadu’ dan istiqomah untuk selalu mencari dan menambah-tambah ilmumu agar engkau memperoleh keterampilan sebagaimana engkau dituntut sebagai seorang mahasiswa yang baik dan berprestasi. Janganlah puas sampai disitu, karena sebagai seorang mahasiswa yang baik dan berprestasi juga dituntut untuk mengembangkan dan mencari pengalaman. Itulah sebenar-benar isi dari seorang mahasiswa.

Mahasiswa bertanya tentang wadahnya:
Lalu sebagai seorang mahasiswa, maka apakah wadahku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang mahasiswa maka wadahmu adalah status, kedudukan, tugas dan tangungjawabmu sebagai mahasiswa. Tetapi harap ingatlah bahwa engkau akan selalu diminta pertanggungjawaban akan wadahmu itu. Maka ada atau tidaknya wadahmu itu tergantung bagaimana mengisi wadah itu. Wadahmu bisa sempit bisa juga luas, bisa kecil bisa juga besar, bisa penting bisa juga tidak penting, bisa ada bisa juga tidak ada. Maka sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa wadah tidaklah mempunyai batas dengan isi. Wadahmu akan selalu hadir ketika engkau wujudkan isimu. Maka sebenar-benar wadah tidak lain tidak bukan adalah isi. Maka tersesatlah wahai para mahasiswa yang hanya mengejar wadah tetapi tidak mau mengisinya. Tetapi benar-benar merugilah jika seorang mahasiswa hanya mengejar isi tetapi tidak mau mengenal wadahnya.

Dosen bertanya tentang isinya:
Wahai orang tua berambut putih, kalau begitu tunjukkanlah kepadaku, sebagai seorang dosen, apakah isiku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang dosen, maka isimu adalah rasa syukurmu bahwa engkau telah menjadi dosen, kemudian rasa syukurmu akan menghasilkan rasa senang dan motivasi untuk menjadi dosen yang baik dan berprestasi. Untuk mewujudkan cita-citamu itu menjadi dosen yang baik maka engkau perlu menyesuaikan sikap dan perbuatanmu. Sesuaikanlah sikap dan perbuatanmu itu sebagaimana engkau menginginkan sebagai seorang dosen yang baik dan berprestasi. Tidak hanya itu, engkaupun harus iklhas, tawadu’ dan istiqomah untuk selalu mencari dan menambah-tambah ilmumu agar engkau memperoleh keterampilan sebagaimana engkau dituntut sebagai seorang dosen yang baik dan berprestasi. Janganlah puas sampai disitu, karena sebagai seorang dosen yang baik dan berprestasi juga dituntut untuk mengembangkan dan mencari pengalaman. Itulah sebenar-benar isi dari seorang dosen.

Dosen bertanya tentang wadahnya:
Lalu sebagai seorang dosen, maka apakah wadahku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang dosen maka wadahmu adalah status, kedudukan, tugas dan tangungjawabmu sebagai dosen. Tetapi harap ingatlah bahwa engkau akan selalu diminta pertanggungjawaban akan wadahmu itu. Maka ada atau tidaknya wadahmu itu tergantung bagaimana mengisi wadah itu. Wadahmu bisa sempit bisa juga luas, bisa kecil bisa juga besar, bisa penting bisa juga tidak penting, bisa ada bisa juga tidak ada. Maka sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa wadah tidaklah mempunyai batas dengan isi. Wadahmu akan selalu hadir ketika engkau wujudkan isimu. Maka sebenar-benar wadah tidak lain tidak bukan adalah isi. Maka tersesatlah wahai para dosen yang hanya mengejar wadah tetapi tidak mau mengisinya. Tetapi benar-benar merugilah jika seorang dosen hanya mengejar isi tetapi tidak mau mengenal wadahnya.

Siswa, mahasiswa, guru dan dosen secara bersama-sama bertanya:
Lalu, bagaimanakah agar aku bisa selalu mewujudkan wadahku dan bisa mengisinya?

Orang tua berambut putih:
Serendah-rendah kualitas wadah adalah jika isinya hanya untuk dirimu sendiri. Maka tingkatkanlah wadahmu itu. Tetapi serendah-rendah lagi kualitas hidupmu adalah jika engkau tidak mampu mengisi wadahmu. Karena sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa wadahmu tidak lain tidak bukan adalah amanah bagimu. Sedangkan isi adalah usaha dan ikhtiarmu. Tetapi jika engkau mampu mewujudkan bahwa isimu juga bermanfaat bagi orang lain, maka itulah sebenar-benar wadahmu yang meningkat kualitasnya. Barang siapa mampu meningkatkan kualitas wadahnya maka meningkat pula kualitas isinya, dan dengan demikian meningkat pula kualitas dan dimensi hidupnya. Namun tantangan terbesarmu adalah sejauh mana dirimu bekerjasama dengan orang lain, sejauh mana engkau masuk dan memuat jejaring, sejauh mana engkau mampu berkomunikasi, sejauh mana engkau duduk dan berperan pada jejaring yang lebih luas sehingga engkau dapat berperan dan berkontribusi untuk orang-orang banyak pada tataran aatau level yang lebih luas pula. Itulah setinggi-tinggi kualitas wadah dan isimu di dunia ini.

Siswa, mahasiswa, guru dan dosen secara bersama-sama bertanya:
Terimakasih orang tua berambut putih. Kemudian kalau boleh kami masih ingin bertanya. Maka, sebagai orang tua berambut putih apakah wadah dan isimu itu?

Orang tua berambut putih:
Bagi orang-orang yang baru mengenalku, maka jawabanku adalah bahwa sebenar-benar diriku adalah tidak punya wadah dan tidak punya isi. Tetapi karena engkau telah lama mengenal diriku, maka jawabanku adalah bahwa sebenar-benar diriku adalah pengetahuanmu. Diriku adalah ilmumu. Diriku adalah pertanyaanmu. Tempat tinggalku adalah pada batas pengetahuanmu. Maka keberadaanku tergantung dirimu. Maka sebenar-benar tempat tinggalku adalah pada batas antara wadah dan isimu. Tugas dan fungsiku adalah menjadi saksi atas keberadaanmu. Jadi wadahku tidak lain tidak bukan adalah dirimu sendiri. Dan isiku tidak lain-tidak bukan adalah dirimu juga. Maka sebenar-benar diriku adalah semua wadah dan isi mu para siswa. Sebenar-benar diriku adalah wadah dan isi mu pada mahasiswa. Sebenar-benar diriku adalah wadah dan isi mu pada guru. Sebenar-benar diriku adalah wadah dan isi mu pada dosen. Dan sebenar-benar diriku adalah wadah dan isi bagi semua. Itulah ilmu, sekaligus wadah dan isinya bagi semuanya.

Ini ada mahasiswa yang ingin menyampaikan pendapatnya, siapa nama dan apa prodinya? Silahkan

Mahasiswa:
Kenalkan Pak saya HERU SUKOCO, no 11709251019, mahasiswa PPs UNY P. Mat 2011 Kelas B
Menurut saya Pak, sebagai seorang muslim sebenarnya manusia itu pada kodratnya sudah membawa amanah yang diberikan Allah SWT sejak lahir, yaitu menjadi pemimpin (wadah) di dunia ini. Serendah-rendahnya wadah tersebut adalah diri kita sendiri, artinya kita harus mampu memimpin diri sendiri. Dengan cara bagaimana, yaitu dengan melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Jika kita mempunyai jabatan atau status atau pekerjaan itulah wadah kita di dunia ini. Isinya adalah bagaimana kita menjalankan jabatan atau status atau pekerjaan tersebut dengan sebaik-baiknya. Kualitas isi ditentukan seberapa besar usaha kita untuk terus dan terus meningkatkan dimensi kita, apalagi jika isi tersebut bermanfaat bagi banyak orang. Jika saya mahasiswa S2 (wadah), maka belajar filsafat adalah salah satu cara untuk mengisi wadah tersebut. Dengan belajar kita akan menemukan ‘orang tua berambut putih’, yaitu pengetahuan untuk meningkatkan dimensi kita. Semoga kita semua sadar akan wadah dan isi dari diri kita masing-masing sehingga kehidupan di negara kita ini dapat kembali ke jalan yang seharusnya. Amin. Serendah-rendahnya kualitas wadah dan isi kita di dunia adalah jika kita mempunyai wadah dan isi yang setinggi-tingginya namun menggunakannya untuk perbuatan-perbuatan tidak baik dan merugikan banyak orang. Ingat, wadah dan isi kita di dunia ini kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akherat oleh Allah SWT.

Orang Tua Berambut Putih:
Alahamdulillah. Amin

29 comments:

  1. Raden Muchammad Nurrizal Hasbi Ashshidiqqie
    13301244013
    S1 Pendidikan Matematika C 2013

    Wadah dan isi adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan, saling berhubungan satu sama lain. Sebuah wadah tak akan artinya jika tidak ada isinya. Begitu pula isi, isi tak akan ada artinya jika tidak ada wadah yang menampungnya. Wadah diumpamakan sebagai status/kedudukan kita, sedangkan isi adalah usaha dan ikhtiar kita, bisa juga dikatakan sebagai ilmu.

    ReplyDelete
  2. Raden Muchammad Nurrizal Hasbi Ashshidiqqie
    13301244013
    S1 Pendidikan Matematika C 2013

    Sebuah wadah yang berisi penuh akan memiliki kualitas yang sangat baik apabila mampu memberikan kebermanfaatan bagi orang lain, akan tetapi akan memiliki kualitas yang sangat rendah apabila tidak pernah di isi sama sekali.

    ReplyDelete
  3. Dita Nur Syarafina
    NIM. 16709251003
    PPs Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Setiap orang di dunia ini memiliki wadah dan isi. Wadah adalah statusnya, profesinya, jabatannya, kedudukannya. Isi adalah ilmunya, pengetahuannya, keyakinannya, prinsipnya. Maka setiap manusia hendaklah terus mencari isi bagi wadah statusnya. Seorang ibu mencari pengetahuan tentang parenting dan mengurus suami karena statusnya sebagai ibu. Seorang guru mencari pengetahuan tentang metode pembelajara yang sesuai dengan siswa karena wadahnya sebagai seornag guru pengajar. Isi dapat menjadi baik atau buruk tergantung pengetahuan apa yang kita ambil. Koruptor tentu isinya buruk karena tidak menjalankan tugas wadahnya sebagai wakil rakyat.

    ReplyDelete
  4. Nur Dwi Laili Kurniawati
    13301241063
    Pendidikan Matematika C 2013

    Wadah dan isi adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Tiadalah disebut wadah jikalau tanpa isi dan tiadalah isi jikalau tanpa wadah. Maka sebenar- benar wadah da nisi adalah hal yang saling melengkapi. Wadah adalah kedudukan, kedudukan yang kita miliki. Maka isi dari wadah kita adalah peranan- peranan yang dapat kita lakukan dengan keududukan kita. Isi dari wadah kita bisalah isi yang baik dan wadah yang buruk. Kita dapat mengisi kedudukan kita dengan memberikan manfaat bagi orang- orang di sekitar kita tetapi kita juga dapat menggunakan kedudukan kita dengan menebar keburukan dan kesengsaraan bagi orang lain. Maka jika wadah kita adalah mahasiswa, jadilah mahasiswa yang memiliki semangat dalam mencari ilmu, semangat dalam berprestasi, dan menebar manfaat dengan prestasi kita.

    ReplyDelete
  5. Areani Eka Putri
    12301249003
    Pend. Matematika Sub'12

    dari Elegi diatas dapat diketahui bahwa wadah dan isi adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, karena jika hanya memiliki wada tetapi tidak empunyai maka wadah itu tidak berfungsi begitu juga sebaliknya, ketika hanya memiliki isi tetapi tidak memiliki wadah maka apalah gunanya isi tersebut. untuk itu wadah yang yang sudah menjadi milik kita haruslah diisi sesuai dengan besarnya wadah itu, menjadi seorang mahasiswa tetaplah mengasah kemauan, bersyukur, dan tetap melakukan yang terbaik untuk dapat menjadi pribadi yang luar biasa dan tetap mengandalkan Tuhan. terimakasih

    ReplyDelete
  6. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Wadah dan isi dapat diibaratkan seperti sebuah pasangan yang tak dapat dipisahkan karena wadah dan isi saling membutuhkan, wadah membutuhkan isi dan isi juga membutuhkan wadah. Wadah dalam elegi di atas dianalogikan sebagai status dan jabatan sedangkan isi berkaitan dengan kemampuan mempertanggung jawabkan status dan jabatan. Seseorang bisa saja memiliki status (wadah) sebagai mahasiswa tapi belum tentu kemampuannya (isi) seperti mahasiswa. Karena itu baiknya kita mampu mempertanggung jawabkan status/jabatan yang dipercayakan pada kita agar selaras dengan kemampuan (isi) kita.

    ReplyDelete
  7. Azwar Anwar
    16709251038
    Pendidikan Matematika S2 Kelas B 2016

    Wadah sesuatu yang biasa terdapat isinya. Tetapi bisa saja isinya kosong atau tidak ada. Tergantung apakah mau diisi atau tidak, wadah dan isi saling membutuhkan dan disesuaikan dengan konteks dan kondisinya. Wadah dapat menentukan isinya, karena setiap wadah belum tentu memiliki isi yang bagus. Begitu juga dengan isi dapat menetukan wadahnya, karena setiap isi belum tentu memiliki wadah yang bagus. Maka dari itu harus di sesuaikan dengan kondisi dan konteksnya serta ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  8. ANDI SRI MARDIYANTI SYAM
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillahirrahmanirrahim
    Assalamu Alaikum Wr. Wb.,

    Analogi wadah dan isi dalam tulisan Prof. Marsigit bisa diibaratkan layaknya seorang guru dan murid. Guru adalah wadah yang terisi (Berilmu). Sedangkan murid adalah wadah yang belum terisi (belum cukup berilmu). Keduanya memegang peran yang sama-sama penting. Secerdas apapun seorang guru, jika tidak ada yang berperan sebagai murid maka, tak akan ada artinya. Kepada siapa seorang guru akan mentransfer ilmu. Tanpa adanya murid, di dalam kelas guru layaknya orang gila yang hanya berbicara sendiri tanpa ada yang mendengarkan. Olehnya itu, sebagai seorang guru. Sebagai seorang yang mengaku berilmu. Juga sebagai murid yang nantinya akan menjadi guru. Berprilakulah layaknya padi. Kian berisi kian merunduk.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  9. ANDI SRI MARDIYANTI SYAM
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillahirrahmanirrahim
    Assalamu Alaikum Wr. Wb.,

    Perjalanan menuntut ilmu juga bisa diartikan sebagai perjuangan mengisi wadah yang tadinya kosong. Namun kita perlu sadar, agar kita bisa menjadi orang yang benar-benar berilmu, maka kita sepatutnya merasa sebagai wadah yang kosong. Sebab orang yang selalu merasa sebagai wadah kosong, proses pengisiannya relatif lebih mudah. Sebaliknya, wadah yang sudah terisi penuh akan sulit diisi karena tak ada lagi ruang untuk menampung isi yang baru. Semoga dalam setiap kesempatan memperdalam ilmu, kita senantiasa mengosongkan wadah agar wadah kita selalu bisa diisi oleh hal-hal yang baru. Amin.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  10. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Kualitas suatu wadah dilihat dari isinya. Selain itu meningkatkan kualitas wadah atau meningkatkan kualitas pikiran dnegan cara membiasakan diri berpikir kritis. Pikiran juga dapat menjadi wadah, mengisinya dengan berbagai ilmu pengetahuan. Dikatakan bahwa serendah-rendahnya kualitas wadah jika isisnya hanya unutuk diri sendiri. Jadi ilmu yang telah kita peroleh melalui proses berpikir tentunya harus bermanfaat bagi banyak pihak.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  11. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Wadah dan isi adalah dua hal yang saling berkaitan. Wadah ini nantinya akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat. Oleh karena itu, kita haruslah dapat meningkatkan kualitas wadah kita. Cara untuk meningkatkan kualitas wadah adalah dengan meningkatkan kualitas isi. Isi dari wadah adalah bagaimana usaha atau ikhtiar kita dalam menjalankan status atau jabatan itu dengan sebaik-baiknya.

    ReplyDelete
  12. Khomarudin Fahuzan
    16709251041
    PPs Pend. Matematika B

    Wadah itu bisa sama dengan isi, tetapi isi belum tentu sama dengan wadah. Wadah adalah formalnya, sedangkan isi adalah substansinya. Misalnya rambut berwarna hitam. Rambut itu wadahnya, sedangkan hitam itu isinya. Rambut itu bisa sama dengan hitam, tetapi hitam belum tentu sama dengan rambut. Isi tanpa wadah juga tidak ada artinya, ibarat air teh dan gelas. Ingin meminum air teh tetapi tidak ada gelasnya, semua tercecer dilantai, bagaimana bisa diminum. Sama halnya ada gelasnya, tetapi tidak ada isinya. Sehingga dalam segala hal ituada tempat dan kedudukannya masing-masing, tinggal bagaimana kita memposisikan diri menjadi seorang yang baik apa buruk.

    ReplyDelete
  13. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Wadah yang saya pahami di elegi ini adalah diriku sendiri dimana besar kecilnya wadahku sendiri tergantung dari isinya berupa ilmu yang aku terima, bagus tidaknya wadahku sendiri adalah tergantung kebermanfaatan isi berupa ilmu dalam wadahku/diriku terhadap kemaslahatan diriku dan orang lain. Jadi bisa saya katakan wadahku ini merupakan segala hal yang bersifat material (urusan duniawi seperti kedudukan, status, pangkat dll) dimana Isi berupa ilmu lah yang memberikan corak/motif terhadap diriku dilihat dari azas kebermanfaatan yang bisa aku berikan terhadap diriku sendiri dan orang lain.

    ReplyDelete
  14. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Elegi wadah dan isi ini mengandung makna tentang sesuatu yang diamanahkan pada kita dan ikhtiar yang kita lakukan untuk menjaga amanah tersebut. Wadah dapat dianalogikan sebagai amanah, amanah dapat bermacam-macam, misalnya status, kedudukan, jabatan, tugas, dan tanggung jawab lainnya. Sedangkan isi dapat dianalogikan sebagai usaha atau ikhtiar dalam menjalankan amanah tersebut. Ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui iktiar merupakan wadah dan isinya. Serendah-rendahnya amanah adalah yang ikhtiarnya hanya untuk diri sendiri sehingga tidak membawa manfaat bagi yang lain. Sementara serendah-rendahnya hidup adalah jika tidak melakukan ihktiar dalam menjalankan amanahnya. Oleh karena itu, manusia hendaknya senantiasa melakukan ihktiar dan mengembangkan kemampuan untuk memberikan manfaat bagi orang banyak. Dengan begitu, kualitas hidup pun akan meningkat. Selain itu, amanah dan ikhtiar yang kita lakukan nantinya akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.

    ReplyDelete
  15. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Itulah himpunan dan anggota-anggotanya. Anggota himpunan tidak akan bisa disebut anggota himpunan jika ia tidak masuk dalam sebuah himpunan. Begitupun dengan himpunan. Himpunan tanpa anggota hanyalah sebuah kekosongan dan kehampaan yaitu himpunan kosong. Setiap anggota memiliki sifat-sifat yang bersesuaian namun tidak bisa dikatakan sama dikarenakan sifatnya yang bermiliar-miliar pangkat bermiliar-miliar. Ketika anggota itu sudah disesuaikan dengan konteks ruang dan waktunya berdasarkan sifat-sifatnyayang bersesuaian maka ia akan dihimpun kedalam suatu wadah yang disebut dengan himpunan. Meskipun Himpunan memanglah melingkupi anggota-anggotanya sebagai isi, namun himpunan itu tidak akan ada apa-apanya jika jika a hanya berisi kekosongan dan kehampaan. Meskipun ia tetap bernama himpunan, yaitu himpunan kosong.

    ReplyDelete
  16. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    tiada suatu wadah tanpa memerlukan isi dan tiada suatu isi tanpa memerlukan wadah, kedua hal ini harus seiring sejalan dengan diri kita. Karena ukuran wadah itu dapat berbentuk apapun sesuai dengan bagaimana kita mempertanggung jawabkannya. Sedangkan isi dari wadah juga dapat kita atur sesuai dengan keinginan kita apakah isi tersebut berupa hal yang positif atau negatif ataupun tidak keduanya semua tergantung bagaimana kita melakukan kesemua itu. ketika pemenuhan wadah dan isi telah terlaksana dalam diri setiap manusia maka jangan sampai isi tersebut berubah menjadi kesombongan yang dapat menghancurkan wadah yang ada karena apabila itu terjadi pertanggung jawaban atas wadah yang engkau gunakan sangat sangsikan.

    ReplyDelete
  17. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Wadah dan isi merupakan hal yang harus dapat dipertanggungjawabkan. Jika kita menganalogikan wadah itu sebagai ijazah kita, maka wadah itu harus mempunyai isi yang pantas bagi wadahnya, apa artinya yakni ijazah yang kita miliki itu harus sesuai dengan ilmu yang kita miliki, dalam artian yang lebih khusus kita harus bisa mempertanggungjawabkan ijazah kita tersebut dalam bidang keilmuan kita. Wadah dan isi memang saling memerlukan, keduanya bagaikan pistol dan peluru, jika salah satunya tidak ada maka tidak dapat digunakan dengan maksimal.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  18. Eka Pravista
    13301241004
    Pendidikan Matematika A 2013

    Wadah dan isi adalah dua hal yang saling berkaitan. Wadah ini nantinya akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat. Oleh karena itu, kita haruslah dapat meningkatkan kualitas wadah kita. Cara untuk meningkatkan kualitas wadah kita adalah dengan meningkatkan kualitas isi. Isi dari wadah adalah bagaimana usaha atau ikhtiar kita dalam menjalankan status atau jabatan itu dengan sebaik-baiknya. Isi ini juga bisa berupa kemampuan dan kepribadian yang kita miliki. Serendah-rendahnya isi adalah isi yang hanya untuk diri kita sendiri. Kemampuan yang kita miliki hendaknya dapat bermanfaat bagi orang lain. Kebermanfaatan kemampuan kita inilah yang sebenar-benarnya dapat meningkatkan kualitas wadah kita.

    ReplyDelete
  19. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    Dari elegi ini, dapat dipahami bahwa wadah dan isi adalah hal yang saling melengkapi, memiliki hubungan erat dan saling membutuhkan, wadah membutuhkan isi dan isi juga membutuhkan wadah. disisi lain kita sebagai wadah tetapi di sisi lain kita juga sebagai isi. Yang dimaksud wadah disini adalah status atau jabatan, sedangkan isinya adalah bagaimana usaha atau ikhtiar kita dalam menjalankan status atau jabatan itu dengan sebaik-baiknya. Jadi berusahalah supaya kita dapat menggapai wadah dan isi sesuai dengan ruang dan waktu kita masing-masing.

    ReplyDelete
  20. Ika Nailatul Muna
    13301241050
    Pendidikan Matematika A 2013

    Dari elegi di atas kita dapat mengambil pelajaran bahwa status sosial merupakan amanah yang harus disertai dengan kualitas diri yang tinggi. Selain itu, sangat penting untuk menyebarkan kebermanfaatan kepada orang lain.

    ReplyDelete
  21. Fitri Ayu Ningtiyas
    16709251037
    S2 P.Mat B UNY 2016

    Setiap yang ada dan mungkin ada di dunia ini memiliki wadah dan isi. Hakikat kualitas suatu wadah dapat dilihat dari isinya, sebab sesederhana apapun wadahnya jika mengandung isi yang berharga maka meningkatlah esensi dari wadah tersebut. Demikian pula halnya pikiran sebagai wadah dan ilmu sebagai isi. Jika pikiran tidak menampung isi dalam hal ini ilmu didalamnya, maka pikiran hanya akan menjadi angan-angan.

    ReplyDelete
  22. Nauqi Aprilia Putri
    13301241023
    Pendidikan Matematika A 2013

    Wadah dan isi tidak bisa berpisah. Karena isi tidak dapat dikatakan isi jika tidak ada wadah. Sedangkan wadah tak ada artinya jika tak ada isinya. Di lain sisi, sebagai seseorang yang memiliki isi dan wadah, maka isi merupakan rasa syukur bahwa diri telah menjadi seseorang yang memiliki peran, kemudian rasa syukur akan menghasilkan rasa senang dan motivasi untuk menjadi seseorang yang baik dan berprestasi dalam perannya, untuk mewujudkan keberhasilan dalamm peran, maka perlu menyesuaikan sikap dan perbuatan. Tidak hanya itu, dalam mewujudkannya harus dengan rasa iklhas, tawadu’ dan istiqomah untuk selalu mencari dan menambah ilmu agar memperoleh keterampilan sebagaimana telah dituntut sebagai seorang yang baik dan berprestasi dalam peran. Jangan puas sampai disitu, karena sebagai seseorang yang memiliki peran yang baik dan berprestasi juga dituntut untuk mengembangkan dan mencari pengalaman. Itulah yang merupakan isi dari seseorang yang memiliki peran. Melakukan yang terbaik dalam memiliki peran.

    ReplyDelete
  23. Nauqi Aprilia Putri
    13301241023
    Pendidikan Matematika A 2013

    Sebutan peran yang dimiliki oleh seseorang dikatakan sebagai wadah yang dapat berupa status, kedudukan, tugas dan tangungjawab dalam peran tersebut. Tetapi selalu ada pertanggungjawaban akan wadah tersebut. Maka ada atau tidaknya wadah tergantung bagaimana mengisi wadah itu. Wadah dapat diartikan sempit bisa juga luas, bisa kecil bisa juga besar, bisa penting bisa juga tidak penting, bisa ada bisa juga tidak ada. Yang sebenarnya terjadi adalah bahwa wadah tidaklah mempunyai batas dengan isi. Wadah akan selalu hadir ketika diri mewujudkan isi. Maka sebenar – benar wadah adalah isi. Tentu proses sangat mempengaruhi pada hasil. Namun, manakala seseorang hanya mengejar hasilnya saja tanpa melalui proses atau secara instan, maka orang tersebut tak memiliki isi. Karena yang berkah adalah ketika berjuang dalam hal baik dan jujur.

    ReplyDelete
  24. Nauqi Aprilia Putri
    13301241023
    Pendidikan Matematika A 2013

    Kualitas wadah dan isi dipengaruhi oleh usaha seseorang untuk mewujudkannya, bagaimana cara memperolehnya dan hasil yang akan diperolehnya. Isi yang dihasilkan hendaknya tidak untuk diri sendiri, namun juga untuk orang lain, lingkungan sekitar, negara bahkan dunia, maka dapat dikatakan bahwa hal tersebut dapat meningkatkan kualitas hidup. Wadah merupakan amanah. Sedangkan isi adalah usaha dan ikhtiar. Dalam hidup ini, tentunya kita memiliki tantangan dalam menghadapi sesuatu, menurut penjelasan di atas, tantangan terbesar yang harus kita hadapi adalah bagaimana diri kita dapat bekerjasama dengan orang lain, berkomunikasi, dapat berperan dan berkontribusi untuk orang – orang banyak. Semoga kita dapat menjadi seseorang yang bermanfaat bagi sesama. Amin.

    ReplyDelete
  25. Moh. Bayu Susilo
    16709251012
    S2/P. Matematika/A/2016

    Wadah yang hakiki pada manusia adalah kesempatan. Kesempatan selalu beriringan dengan ruang dan waktu. Tinggal bagaimana manusia dapat mengisi kesempatan itu menjadi sebuah hal berguna dan bermanfaat. Karena sebenar-benarnya hidup adalah kesempatan. Sehingga bila manusia tidak menyadari adanya kesempatan maka dia bisa disebut telah mati secara filsafat. Tugas manusia adalah mengisi wadah yang berupa kesempatan itu menjadi sebuah ilmu dan bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.

    ReplyDelete
  26. NUR AZIZAH
    16709251017
    PMAT KELAS A PPS UNY 2016

    Wadah dan isi adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Wadah ada sebab ada isi, begitu pula isi ada karena ada wadah. Setiap wadah adalah isi dan setiap isi adalah wadah. Dalam elegi di atas, wadah merujuk pada status sedangkan isi adalah kompetensi yang harus dimiliki untuk berkaitan dengan wadah yang dimiliki. Sebagai contoh, mahasiswa adalah wadah dan belajar adalah isi.

    ReplyDelete
  27. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    Wadah adalah tempat yang menampung isi. Seperti air mempunyai wadah misalnya mangkuk. Wadah seorang siswa adalah sekolah, kelas, lembaga pendidikan lainnya. Namun isinya adalah rasa syukurnya, rasa terima kasihnya, semangatnya untuk belajar, motivasinya untuk memperoleh pendidikan. Wadah seseorang yang punya keyakinan akan Tuhan adalah agamanya, kelompok diskusinya, dsb. Isinya adalah rasa syukurnya menjadi bagian dari agam itu, ibadahnya, kekhidmatannya, dsb. Dapat dikatakan bahwasannya dimana ada isi pasti ada wadahnya.

    ReplyDelete
  28. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Wadah dunia adalah semata-mata tanggung jawabnya untuk selalu berputar pada porosnya dan melindungi umat manusia dari benturan-benturan. Sedangkan isi dari dunia adalah semata-mata keikhlasannya dalam menjalankan titah Tuhan untuk selalu berputar pada porosnya. Jadi dia selalu bersyukur dan bertasbih. Wadah itu yang menaungi. Wadah itu kewajiban-kewajiban kita sedangkan isi itu keikhlasan dan rasa syukur kita menjalankannya. Jadi isi adalah subwadah. Allah Maha Pemberi Rezeki.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  29. Iqlima Ramadhani Fabella
    13301241017
    Pendidikan Matematika A 2013

    Dari elegi di atas, bahwasanya adalah hidup ini merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan dengan baik, disertai dengan kualitas diri yang tinggi dan baik pula. Selain itu, sangat penting juga untuk kita menjadi bermanfaat kepada orang lain.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id