Jul 31, 2010

Elegi Menggapai Dimensi




Oleh : Marsigit

Batu:
Jika boleh aku ingin menyampaikan isi hati dan pikiranku. Isi hati dan pikiranku akan aku sampaikan kepada siapapun, didengar ataupun tidak didengar.
Mengapa? Karena selama ini aku mengalami berbagai macam peristiwa, tetapi aku belum pernah memberitahukan kepada siapapun. Selama ini aku mengalami berbagai macam ketidak adilan. Aku mengalami penderitaan. Aku mengalami perakuan buruk. Aku mengalami pelecehan. Aku mengalami penderitaan yang luar biasa. Aku dipukul. Aku dibelah. Aku dipecah. Aku dihancurkan. Aku diledakkan. Aku diserap. Aku disedot oleh akar-akar. Aku ditumbuhi rumput-rumput. Aku disiram air. Aku dijemur di bawah terik matahari. Dan seterusnya. Aku hanya ingin mengetahui apakah nasib yang sama juga dialami oleh tumbuh-tumbuhan. Wahai tumbuh-tumbuhan, apakah engkau mendengar ceritaku ini? Jika engkau mendengar, apakah engkau juga mengalami hal yang sama denganku?

Tumbuh-tumbuhan:
Wahai batu. Sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa saya mendengan semua ceritamu. Aku juga mempunyai bermacam-macam pengalaman. Tetapi pengalamanku sedikit berbeda denganmu. Aku juga mengalami berbagai macam ketidak adilan. Aku mengalami penderitaan. Aku mengalami perakuan buruk. Aku mengalami pelecehan. Aku mengalami penderitaan yang luar biasa. Aku dipukul. Aku dibelah. Aku dipecah. Aku dihancurkan. Aku diledakkan. Aku diserap. Aku disedot oleh akar-akar. Aku ditumbuhi rumput-rumput. Aku disiram air. Aku dijemur di bawah terik matahari. Bahkan aku pernah dipotong, tetapi aku tumbuh kembali.

Batu:
Lalu apakah pengalamanmu yang berbeda dengan pengalamanku?

Tumbuh-tumbuhan:
Walaupun aku mengalami penderitaan hampir sama denganmu, tetapi setidaknya aku pernah andil sebagai sebab penderitaanmu. Bukankah engkau ingat ketika akarku menancap padamu. Goyangan tubuhku telah menentukan apakah engkau berhak memperoleh sinar atau tidak. Aku juga pernah roboh dan menimpa dirimu. Aku juga pernah digunakan orang untuk memukulmu. Aku bisa tumbuh dari kecil menjadi besar, sementara engkau tidak. Aku bisa berbuah sementara engkau tidak. Masih banyak lagi yang belum aku sebutkan. Itulah semua pengalamanku yang berbeda denganmu.

Batu:
Tidak adil. Wahai tumbuh-tumbuhan, mengapa engkau bisa melakukan yang lebih banyak dari diriku. Bahkan engkau bisa menyakiti diriku. Mengapa engkau seakan juga bisa menentukan nasib diriku? Bolehkah aku menirumu? Kalau perlu aku ingin membalas perlakuan burukmu terhadapku.

Tumbuh-tumbuhan:
Itulah sebenar-benar diriku. Dimensi diriku adalah setingkat lebih tinggi dari dimensi dirimu. Itulah kodratku dan juga kodratmu. Aku tidak tahu apakah doa-doaku dan juga doa-doamu dapat merubah nasib kita? Tunggulah batu, aku melihat ada seekor binatang hinggap pada diriku. Saya akan bertanya kepada binatang apakah mereka mempunyai pengalaman yang sama dengan kita atau tidak. Wahai binatang apakah engkau mendengarkan percakapanku dengan batu tadi? Jika engkau mendengarkan, apakah engkau juga dapat menceritakan pengalamanmu?

Binatang:
Wahai batu dan tumbuh-tumbuhan. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku mendengar semua percakapanmu berdua. Aku juga mempunyai pengalaman, tetapi pengalamanku agak berbeda dengan pengalamanmu berdua. Aku tidak banyak mengalami penderitaan. Aku tidak mengalami berbagai macam ketidak adilan. Aku tidak mengalami banyak penderitaan. Aku tidak banyak mengalami perakuan buruk. Aku tidak banyak mengalami pelecehan. Aku tidak banyak mengalami penderitaan yang luar biasa. Aku tidak banyak dipukul. Aku tidak dibelah. Aku tidak dipecah. Aku tidak dihancurkan. Aku tidak diledakkan. Aku tidak diserap. Aku tidak disedot oleh akar-akar. Aku tidak ditumbuhi rumput-rumput. Aku tidak disiram air. Aku tidak dijemur di bawah terik matahari. Tetapi aku selalu dikejar-kejar pemburu. Aku pernah ditembak. Aku pernah dipisahkan dari keluargaku. Namun pengalamn buruk itu tidak seberapa dibanding dengan pengalaman manisku. Aku mempunyai banyak pengalaman manis dan menyenangkan. Aku sering memukul engkau wahai batu dan tanaman. Aku sering menginjak-injak engkau wahai batu dan tanaman. Aku sering mengotori engkau wahai batu dan tanaman. Akulah yang sering memakan buahmu wahai tanaman. Akulah yang sering memakan daun mudamu wahai tanaman. Au juga pernah merobohkanmu. Aku juga pernah menggunakan engkau tanaman untuk memukul engkau batu. Aku gunakan engkau tanaman untuk ayunan permainanku. Aku gunakan engkau batu, untuk loncatan. Aku juga pernah memecahkanmu wahai batu. Aku bisa berlaku apa saja terhadapmu berdua.

Batu dan tumbuh-tumbuhan bersama-sama menjawab:
Tidak adil. Wahai binatang, mengapa engkau bisa melakukan yang lebih banyak dari diriku berdua. Bahkan engkau bisa menyakiti diriku berdua. Mengapa engkau seakan juga bisa menentukan nasibku berdua? Bolehkah aku berdua menirumu? Kalau perlu aku berdua ingin membalas perlakuan burukmu terhadapku.

Binatang:
Itulah sebenar-benar diriku. Dimensi diriku adalah setingkat lebih tinggi dari dimensi tumbuh-tumbuhan. Dan dua tingkat lebih tinggi dari dimensi batu. Itulah kodratku dan juga kodratmu. Aku tidak tahu apakah doa-doaku dan juga doa-doamu dapat merubah nasib kita? Tetapi tunggulah. Kelihatannya ada orang lewat. Aku ingin bertanya kepada orang itu. Wahai manusia apakah engkau mendengarkan percakapanku dengan batu dan tumbuh-tumbuhan tadi? Jika engkau mendengarkan, apakah engkau juga dapat menceritakan pengalamanmu?

Manusia :
Wahai batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku mendengar semua percakapanmu bertiga. Aku juga mempunyai pengalaman, tetapi pengalamanku sangat berbeda dengan pengalamanmu bertiga. Aku mengalami penderitaan, tetapi penderitaanku tidak seperti penderitaanmu bertiga. Aku mengalami berbagai macam ketidak adilan, tetapi bukan ketidak adilan seperti yang engkau alami. Aku mengalami banyak penderitaan, tatapi bukan penderitaan seperti yang engkau alami. Aku banyak mengalami perakuan buruk, tetapi tidak seperti perlakuan buruk yang engkau alami. Aku juga mengalami pelecehan, tetapi bukan pelecehan seperti yang engkau alami. Aku aku juga pernah dipukul. Tetapi aku tidak pernah dibelah. Aku tidak pernah dipecah. Aku tidak pernah dihancurkan. Aku tidak pernah diledakkan. Aku tidak pernah disedot oleh akar-akar. Aku tidak ditumbuhi rumput-rumput. Aku tidak disiram air. Aku tidak dijemur di bawah terik matahari. Tetapi ketahuilah bahwa aku gunakan batu dan batang tanaman untuk menangkap engkau wahai binatang. Aku jadikan engkau wahai tumbuhan dan binatang sebagai makananku. Maka aku bisa berlaku apa saja terhadapmu bertiga.

Batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang bersama-sama menjawab:
Tidak adil. Wahai manusia, mengapa engkau bisa melakukan yang lebih banyak dari diriku bertiga. Bahkan engkau bisa menyakiti diriku bertiga. Mengapa engkau seakan juga bisa menentukan nasibku bertiga? Bolehkah aku bertiga menirumu? Kalau perlu aku bertiga ingin membalas perlakuan burukmu terhadapku.

Manusia:
Itulah sebenar-benar diriku. Dimensi diriku adalah lebih tinggi dari dimensi dirimu semua. Itulah kodratku dan juga kodratmu. Aku tidak tahu apakah doa-doaku dan juga doa-doamu dapat merubah nasib kita? Tetapi tunggulah. Kelihatannya ada orang yang berbeda denganku lewat. Aku ingin bertanya kepada orang itu. Wahai saudaraku siapakah engkau? Apakah engkau mendengarkan percakapanku dengan batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang ini? Jika engkau mendengarkan, apakah engkau juga dapat menceritakan pengalamanmu?

Manusia berilmu:
Wahai batu, tumbuh-tumbuhan, binatang dan saudaraku. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku mendengar semua percakapanmu berempat. Aku juga mempunyai pengalaman, tetapi pengalamanku sangat berbeda dengan pengalamanmu berempat. Aku mengalami penderitaan, tetapi penderitaanku tidak seperti penderitaanmu berempat. Aku mengalami berbagai macam ketidak adilan, tetapi bukan ketidak adilan seperti yang engkau alami. Aku mengalami banyak penderitaan, tatapi bukan penderitaan seperti yang engkau alami. Aku banyak mengalami perakuan buruk, tetapi tidak seperti perlakuan buruk yang engkau alami. Aku juga mengalami pelecehan, tetapi bukan pelecehan seperti yang engkau alami. Aku aku juga pernah dipukul. Tetapi aku tidak pernah dibelah. Aku tidak pernah dipecah. Aku tidak pernah dihancurkan. Aku tidak pernah diledakkan. Aku tidak pernah disedot oleh akar-akar. Aku tidak ditumbuhi rumput-rumput. Aku tidak disiram air. Aku tidak dijemur di bawah terik matahari. Tetapi ketahuilah bahwa aku gunakan batu dan batang tanaman untuk menangkap engkau wahai binatang. Aku jadikan engkau wahai tumbuhan dan binatang sebagai makananku. Maka aku bisa berlaku apa saja terhadapmu bertiga. Wahai saudaraku sesama manusia, aku juga pernah meninggalkanmu sendirian. Aku pernah tidak memberimu hakmu. Aku sering menyuruhmu. Aku selalu mengaturmu. Aku membayar gajimu. Aku sering tak peduli denganmu. Aku sering tidak mendengarkan ucapan dan usulmu. Aku sering bepergian sedangkan engkau aku suruh untuk menjaga di sini. Aku punya banyak teman sedangkan engkau tidak punya teman. Aku punya banyak hiburan sedangkan engkau tidak. Aku punya banyak pengalaman sedangkan engkau tidak. Aku punya banyak keterampilan sedangkan engkau tidak. Aku selalu mengetahui dimana, kapan, kemana, dengan siapa dirimu itu. Seangkan engkau tidak mengetahuiku. Maka sebenar-benar diriku adalah dapat menentukan dirimu semua.

Batu, tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia yang pertama tadi bersama-sama menjawab:
Tidak adil. Mengapa engkau bisa melakukan yang lebih banyak dari diriku berempat?. Bahkan engkau bisa menyakiti diriku berempat. Mengapa engkau seakan juga bisa menentukan nasibku berempat? Bolehkah aku berempat menirumu? Kalau perlu aku berempat ingin membalas perlakuan burukmu terhadapku.

Manusia berilmu:
Itulah sebenar-benar diriku. Dimensi diriku adalah lebih tinggi dari dimensi dirimu semua. Itulah kodratku dan juga kodratmu. Aku tidak tahu apakah doa-doaku dan juga doa-doamu dapat merubah nasib kita? Tetapi inilah kesaksianku. Bahwa untuk engkau saudaraku manusia, maka ikhtiarmu juga merupakan kodratmu. Itulah sebenar-benar keunggulan manusia dari batu, tumbuhan dan binatang. Jika engkau berusaha, maka dimensimu dapat meningkat setara dengan dimensiku, yaitu menjadi orang yang berilmu. Tetapi tunggulah. Kelihatannya ada orang yang berbeda denganku lewat. Aku ingin bertanya kepada orang itu. Wahai saudaraku siapakah engkau? Apakah engkau mendengarkan percakapanku dengan batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang ini? Jika engkau mendengarkan, apakah engkau juga dapat menceritakan pengalamanmu?

Manusia bernurani dan berilmu:
Wahai batu, tumbuh-tumbuhan, binatang dan saudaraku-saudaraku. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku mendengar semua percakapanmu semua. Aku juga mempunyai pengalaman, tetapi pengalamanku sangat berbeda dengan pengalamanmu semua. Aku mengalami penderitaan, tetapi penderitaanku tidak seperti penderitaanmu semua. Aku mengalami berbagai macam ketidak adilan, tetapi bukan ketidak adilan seperti yang engkau alami. Aku mengalami banyak penderitaan, tatapi bukan penderitaan seperti yang engkau alami. Aku banyak mengalami perakuan buruk, tetapi tidak seperti perlakuan buruk yang engkau alami. Aku juga mengalami pelecehan, tetapi bukan pelecehan seperti yang engkau alami. Aku aku juga pernah dipukul. Tetapi aku tidak pernah dibelah. Aku tidak pernah dipecah. Aku tidak pernah dihancurkan. Aku tidak pernah diledakkan. Aku tidak pernah disedot oleh akar-akar. Aku tidak ditumbuhi rumput-rumput. Aku tidak disiram air. Aku tidak dijemur di bawah terik matahari. Tetapi ketahuilah bahwa aku gunakan batu dan batang tanaman untuk menangkap engkau wahai binatang. Aku jadikan engkau wahai tumbuhan dan binatang sebagai makananku, selama itu diijinkan oleh Tuhanku. Maka aku berusaha hidup seimbang dan harmonis. Wahai saudaraku sesama manusia, aku juga pernah meninggalkanmu sendirian, tetapi semata karena aku ingin berdoa dan menuntut ilmu. Aku berusaha jangan sampai tidak memberimu hakmu. Aku berusaha menyuruhmu sesuatu fungsi dan tugasmu. Aku mengaturmu itu memang karena amanah yang diberikan kepadaku. Aku berusaha membayar gajimu dengan tepat. Aku selalu berusaha memperdulikanmu. Aku selalu berusaha mendengarkan ucapan dan usulmu. Jika aku sering bepergian sedangkan engkau aku suruh untuk menjaga di sini, itu adalah semata-mata karena perbedaan tugas kita masing-masing. Aku punya banyak teman dan aku anggap engkau juga teman-temanku. Aku punya banyak hiburan tetapi semata-mata untuk mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Aku punya banyak pengalaman tetapi aku berusaha menggunakannya untuk kemaslahatan umat. Aku mengajak kepada saudara-saudaraku marilah selalu menuntut ilmu baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat, agar kita bisa meningkatkan dimensi kita. Setinggi tinggi dimensi adalah dimensi absolut, yaitu dimensi Tuhan YME. Aku berusaha selalu melantunkan doa-doaku. Doa-doaku itu adalah untuk semuanya. Ya Tuhan limpahkanlah karunia dan hidayah Mu bagi hamba-hambamu ini. Amien.

15 comments:

  1. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Tuhan sebagai pemilik dimensi absolut menciptakan manusia sebagai makhluk ciptaan dengan dimensi terbaik dibandingkan makhluk lainnya. Namun antara satu individu dengan yang lainnya, mereka sendirilah yang menentukan tingkatan dimensinya masing- masing yaitu berdasarkan ilmu dan ketaqwaannya. Manusia dengan dimensi yang tinggi memiliki nurani dan ilmu yang lebih baik, mereka memahami bahwa mereka memiliki tugas untuk selalu berikhtiar, menjaga alam semesta beserta isinya, dan peduli terhadap yang lainnya, serta mengajak makhluk yang lainnya untuk berjalan sesuai alur yang benar.

    ReplyDelete
  2. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan matematika A (PM A)

    Manusia pada hakekatnya adalah adalah mahluk yang serba terhubung, dengan masyarakat, lingkunganya, dirinya sendiri, dan tuhan yaitu Allah SWT. Manusia merupakan makhluk yang sempurna dibandingkan dengan makhluk tuhan lainnya. Manusia diberikan anugerah yang berbeda pula dengan makhluk yang lainnya. Melalui ilmu, kita dapat mempelajari berbagai dimensi dalam kehidupan. Seseorang dapat merubah tingkatan dimensinya sesuai dengan ilmu yang ia miliki. Cara pandang seseorang akan berbeda pula satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, seperti apa yang Prof. tuliskan di atas, bahwa setinggi-tinggi dimensi adalah dimensi absolut, yaitu dinemsi Tuhan YME.

    ReplyDelete
  3. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Apa yang dapat saya tangkap dari “Elegi Menggapai Dimensi” bahwa setiap makhluk yang diciptakan di dunia ini mempunyai dimensi dan derajat yang berbeda-beda. Masing-masing sudah ditentukan takdir, namun takdir itu bisa diubah dengan usaha dan do’a. Di dalam dunia ini manusia merupakan makhluk Tuhan yang paling sempurna namun di dalam ketidaksempurnaan. Andai kata kita sudah sempurna, maka kita tidak akan mengerti arti kehidupan. Manusia tidak pernah merasa puas maka yang perlu kita lakukan yaitu bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang, yakinlah bahwa kita terlahir di dunia ini mempunyai manfaat bagi orang lain dan janganlah mengeluh.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  4. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Manusia bernurani dan berilmu lebih tinggi dimensinya daripada manusia berilmu. Hal ini dikarenakan ilmu saja tidak cukup untuk menjadi manusia yang lebih tinggi dimensinya kita juga harue memiliki nurani. Manusia bernurani akan lebih bijak, lebih dapat menghargai orang lain dan lebih mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan kepadanya. Setiap manusia dapat meningkatkan dimensinya dengan berusaha untuk menambah ilmu dan menggunakan nuraninya. Setinggi-tinggi dimensi adalah absolut, yaitu dimensi Allah SWT.

    ReplyDelete
  5. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi diatas, saya dapat mengetahui bahwa dalam hidup ini ada yang namanya dimensi. Dmensi atau tingkatan. Bahasa filsafatnya sering disebut ada yang dewa, ada yang cemani dll. Misalkan dimensinya Batu dan tumbuhan itu berbeda. Dimensi tumbuhan berada diatas batu. Dan begitu seterusnya hingga tingkatan tertinggi. Sehingga sebenarnya jika ditihat lagi ketika kita sudah merasa puas akan suatu hal, maka sejatinya kita belum cukup, sehingga kita perlu terus mengembangkan diri kita mengembangkan dimensi kita. Semoga kita senantiasa diberi kemudahan dan keberkahan untuk menggapai dimensi yang lebih tinggi dan menggembangkan diri. Aminn

    ReplyDelete
  6. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Dimensi itu struktur, struktur itu bertingkat-tingkat. Semua hal yang ada di dunia ini berstruktur berhirarki. Antara objek satu dengan yang lain berbeda, struktur dalam suatu objek saja memiliki perbedaan. Meskipun berbeda-beda tetapi ada satu kesamaan dimensi yang paling tunggi hanya dimiliki oleh Tuhan saja.

    ReplyDelete
  7. Metia Novianti
    17709251021
    S2 Pendidikan Matematika A 2017
    Manusia diciptakan Allah SWT berbeda dari makhluk-makhluk lainnya. Tingkatan derajat atau dimensi antara satu manusia dengan manusia lainnya juga berbeda-beda, tergantung pada ilmu, nurani dan ketakwaannya. Semuanya itu harus kita jalankan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas agar kita dapat mencapai derajat yang tinggi di mata Allah SWT.

    ReplyDelete
  8. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Dari postingan di atas, saya berpendapat bahwa semua makhluk di bumi ini sudah berada pada kodrat dan dimensinya masing-masing. Batu, tumbuhan, dan hewan berada pada kodratnya saja. Sedangkan manusia berada pada kodrat dan dimensinya. Artinya, segala yang ada dalam batu, hewan, dan tumbuhan sudah ada dan semestinya memang ada pada mereka, tanpa adanya peningkatan. Berbeda dengan manusia, manusia memiliki daya dan akal pikir serta hati nurani. Maka dengan ketiga hal tersebut, manusia akan senantiasa dapat meningkatkan dimensinya. Melaui usaha dan kepasrahan kepada Ilahi tentu manusia dapat mencapai dimensi yang lebih tinggi. Bukankah "maka ikhtiarmu juga merupakan kodratmu"?

    ReplyDelete
  9. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Elegi ini menunjukkan bahwa setinggi-tingginya derajat manusia di bumi adalah manusia yang melakukan segalanya dalam aturan yang dibenarkan Sang Pencipta. Sebagai makhluk hidup yang diberikan akal dan pikiran, sudah sepantasnya manusia berada pada dimensi yang berbeda dengan batu, tumbuhan, dan binatang. Namun manusia yang seperti apakah yang berada pada dimensi lebih tinggi dari manusia lainnya? Nuranilah yang membedakannya. Bahkan disaat kita berpikir bahwa kita telah menjadi manusia yang baik, akankah benar di mata Allah? Hidup di dunia hanya sementara, manusia harus menghindari sifat mendzalimi baik sesama manusia, maupun kepada hewan, binatang, dan benda lainnya.

    ReplyDelete
  10. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Allah SWT menciptakan mahluk-mahluk-Nya dengan berbagai macam dimensi. setiap mahluk memiliki berbagai dimensinya sendiri-sendiri. dimensi dapat diartikan sebagai tempat atau posisi atau kedudukan mahluk tersebut di dalam sistem. pembeda setiap mahluk di dalam sistem adalah dimensi
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  11. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Setiap orang memiliki dimensi yang berbeda-beda, dimensi dapat juga diartikan sebagai posisi atau kedudukan seseorang di dalam sistem, setinggi apapun dimensi suatu mahluk di dalam sistem, jangan lupa bahwa ada dimensi tertinggi di dalam sistem kehidupan
    manapun, dimensi tertinggi tentu saja Tuhan.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  12. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna karena dia diciptakan dengan bekal akal pikiran. Kemudian makhluk yang lain diciptakan dengan dimensinya masing-masing. Dimensi yang berbeda ini bukanlah untuk membedakan strata sehingga yang lebih tinggi dapat menindas yang lebih rendah, namun dimensi ini memberikan kesempatan kepada dimensi yang lebih tinggi untuk membimbing dimensi yang lebih rendah dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki.

    ReplyDelete
  13. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Manusia pada hakikatnya diciptakan Allah sebagai mahluk yang paling sempurna diantara mahluk-mahluk Allah yang lain. Perbedaan manusia dengan mahluk yang lain adalah manusia dikaruniai akal dan pikiran sehingga dapat berpikir. Maka yang membedakan dimensi antar manusia semata-mata adalah ilmu dan iman yang dimiliki. Manusia dituntut untuk berikhtiar dan berdoa agar dapat meningkatkan diminseinya, namun manusia tidak akan mampu mencapai dimensi yang absolut. Hal itu karena dimensi yang absolut semata-mata hanyanyah milik Allah. Terimakasih.

    ReplyDelete
  14. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Setiap makhluk di muka bumi ini memiliki tingkat/ dimensi yang berbeda-beda. Dimensi tertinggi adalah dimensi absolut yaitu dimensi Allah SWT. Manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya tentunya ingin menggapai dimensi yang lebih baik. Maka untuk menggapai dimensi lebih tinggi jika dibandingkan dengan orang lain adalah dengan bernurani dan berilmu. Menempatkan hak dan kewajiban kita sesuai dengan ruang dan waktu, tidak saling mendzalimi diantara sesama dan tentunya hal tersebut dijalankan sesuai dengan ilmu yang didapat, yang tidak hanya ilmu dunia saja tetapi juga ilmu akhirat, agar ada keselarasan diantara keduanya (dunia dan akhirat). Dengan begitu tercapailah dimensi yang lebih baik dari dimensi sebelumnya. Namun setinggi-tinggi dimensi yang dapat dicapai manusia, tetap bahwa dimensi tertinggi hanyalah milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  15. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Setiap makhluk yang diciptakan di dunia ini memiliki kodratnya masing- masing. Karena itulah keadilan itu bukan berarti harus mendapatkan perlakuan yang sama. Batu tidaklah mungkin mendapat perlakuan yang sama dengan tumbuhan. Sebagaimana tumbuhan tidaklah mungkin mendapat perlakuan yang sama dengan binatang apalagi manusia. Bahkan sesama manusia tidaklah mungkin mendapat perlakuan yang sama. Semua saling melengkapi satu sama lain, tumbuhan tidak lah dapat melakukan penyerbukan jika tidak memperoleh bantuan binatang, manusia atau angin. Sebagaimana binatang tidak dapat memperoleh makanan tanpa tumbuhan. Manusia pun tidak akan ada atasan jikalau tidak ada bawahan. Maka yang terpenting adalah bagaimana setiap makhluk menggunakan keduudkan yang dimilikinya untuk memberikan manfaat dengan ikhlas kepada makhluk lain. Dan manusia sebagai makhluk yang diberi akal pikiran hendaklah berusaha menjadi lebih baik.

    ReplyDelete