Jul 31, 2010

Elegi Menggapai Dimensi




Oleh : Marsigit

Batu:
Jika boleh aku ingin menyampaikan isi hati dan pikiranku. Isi hati dan pikiranku akan aku sampaikan kepada siapapun, didengar ataupun tidak didengar.
Mengapa? Karena selama ini aku mengalami berbagai macam peristiwa, tetapi aku belum pernah memberitahukan kepada siapapun. Selama ini aku mengalami berbagai macam ketidak adilan. Aku mengalami penderitaan. Aku mengalami perakuan buruk. Aku mengalami pelecehan. Aku mengalami penderitaan yang luar biasa. Aku dipukul. Aku dibelah. Aku dipecah. Aku dihancurkan. Aku diledakkan. Aku diserap. Aku disedot oleh akar-akar. Aku ditumbuhi rumput-rumput. Aku disiram air. Aku dijemur di bawah terik matahari. Dan seterusnya. Aku hanya ingin mengetahui apakah nasib yang sama juga dialami oleh tumbuh-tumbuhan. Wahai tumbuh-tumbuhan, apakah engkau mendengar ceritaku ini? Jika engkau mendengar, apakah engkau juga mengalami hal yang sama denganku?

Tumbuh-tumbuhan:
Wahai batu. Sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa saya mendengan semua ceritamu. Aku juga mempunyai bermacam-macam pengalaman. Tetapi pengalamanku sedikit berbeda denganmu. Aku juga mengalami berbagai macam ketidak adilan. Aku mengalami penderitaan. Aku mengalami perakuan buruk. Aku mengalami pelecehan. Aku mengalami penderitaan yang luar biasa. Aku dipukul. Aku dibelah. Aku dipecah. Aku dihancurkan. Aku diledakkan. Aku diserap. Aku disedot oleh akar-akar. Aku ditumbuhi rumput-rumput. Aku disiram air. Aku dijemur di bawah terik matahari. Bahkan aku pernah dipotong, tetapi aku tumbuh kembali.

Batu:
Lalu apakah pengalamanmu yang berbeda dengan pengalamanku?

Tumbuh-tumbuhan:
Walaupun aku mengalami penderitaan hampir sama denganmu, tetapi setidaknya aku pernah andil sebagai sebab penderitaanmu. Bukankah engkau ingat ketika akarku menancap padamu. Goyangan tubuhku telah menentukan apakah engkau berhak memperoleh sinar atau tidak. Aku juga pernah roboh dan menimpa dirimu. Aku juga pernah digunakan orang untuk memukulmu. Aku bisa tumbuh dari kecil menjadi besar, sementara engkau tidak. Aku bisa berbuah sementara engkau tidak. Masih banyak lagi yang belum aku sebutkan. Itulah semua pengalamanku yang berbeda denganmu.

Batu:
Tidak adil. Wahai tumbuh-tumbuhan, mengapa engkau bisa melakukan yang lebih banyak dari diriku. Bahkan engkau bisa menyakiti diriku. Mengapa engkau seakan juga bisa menentukan nasib diriku? Bolehkah aku menirumu? Kalau perlu aku ingin membalas perlakuan burukmu terhadapku.

Tumbuh-tumbuhan:
Itulah sebenar-benar diriku. Dimensi diriku adalah setingkat lebih tinggi dari dimensi dirimu. Itulah kodratku dan juga kodratmu. Aku tidak tahu apakah doa-doaku dan juga doa-doamu dapat merubah nasib kita? Tunggulah batu, aku melihat ada seekor binatang hinggap pada diriku. Saya akan bertanya kepada binatang apakah mereka mempunyai pengalaman yang sama dengan kita atau tidak. Wahai binatang apakah engkau mendengarkan percakapanku dengan batu tadi? Jika engkau mendengarkan, apakah engkau juga dapat menceritakan pengalamanmu?

Binatang:
Wahai batu dan tumbuh-tumbuhan. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku mendengar semua percakapanmu berdua. Aku juga mempunyai pengalaman, tetapi pengalamanku agak berbeda dengan pengalamanmu berdua. Aku tidak banyak mengalami penderitaan. Aku tidak mengalami berbagai macam ketidak adilan. Aku tidak mengalami banyak penderitaan. Aku tidak banyak mengalami perakuan buruk. Aku tidak banyak mengalami pelecehan. Aku tidak banyak mengalami penderitaan yang luar biasa. Aku tidak banyak dipukul. Aku tidak dibelah. Aku tidak dipecah. Aku tidak dihancurkan. Aku tidak diledakkan. Aku tidak diserap. Aku tidak disedot oleh akar-akar. Aku tidak ditumbuhi rumput-rumput. Aku tidak disiram air. Aku tidak dijemur di bawah terik matahari. Tetapi aku selalu dikejar-kejar pemburu. Aku pernah ditembak. Aku pernah dipisahkan dari keluargaku. Namun pengalamn buruk itu tidak seberapa dibanding dengan pengalaman manisku. Aku mempunyai banyak pengalaman manis dan menyenangkan. Aku sering memukul engkau wahai batu dan tanaman. Aku sering menginjak-injak engkau wahai batu dan tanaman. Aku sering mengotori engkau wahai batu dan tanaman. Akulah yang sering memakan buahmu wahai tanaman. Akulah yang sering memakan daun mudamu wahai tanaman. Au juga pernah merobohkanmu. Aku juga pernah menggunakan engkau tanaman untuk memukul engkau batu. Aku gunakan engkau tanaman untuk ayunan permainanku. Aku gunakan engkau batu, untuk loncatan. Aku juga pernah memecahkanmu wahai batu. Aku bisa berlaku apa saja terhadapmu berdua.

Batu dan tumbuh-tumbuhan bersama-sama menjawab:
Tidak adil. Wahai binatang, mengapa engkau bisa melakukan yang lebih banyak dari diriku berdua. Bahkan engkau bisa menyakiti diriku berdua. Mengapa engkau seakan juga bisa menentukan nasibku berdua? Bolehkah aku berdua menirumu? Kalau perlu aku berdua ingin membalas perlakuan burukmu terhadapku.

Binatang:
Itulah sebenar-benar diriku. Dimensi diriku adalah setingkat lebih tinggi dari dimensi tumbuh-tumbuhan. Dan dua tingkat lebih tinggi dari dimensi batu. Itulah kodratku dan juga kodratmu. Aku tidak tahu apakah doa-doaku dan juga doa-doamu dapat merubah nasib kita? Tetapi tunggulah. Kelihatannya ada orang lewat. Aku ingin bertanya kepada orang itu. Wahai manusia apakah engkau mendengarkan percakapanku dengan batu dan tumbuh-tumbuhan tadi? Jika engkau mendengarkan, apakah engkau juga dapat menceritakan pengalamanmu?

Manusia :
Wahai batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku mendengar semua percakapanmu bertiga. Aku juga mempunyai pengalaman, tetapi pengalamanku sangat berbeda dengan pengalamanmu bertiga. Aku mengalami penderitaan, tetapi penderitaanku tidak seperti penderitaanmu bertiga. Aku mengalami berbagai macam ketidak adilan, tetapi bukan ketidak adilan seperti yang engkau alami. Aku mengalami banyak penderitaan, tatapi bukan penderitaan seperti yang engkau alami. Aku banyak mengalami perakuan buruk, tetapi tidak seperti perlakuan buruk yang engkau alami. Aku juga mengalami pelecehan, tetapi bukan pelecehan seperti yang engkau alami. Aku aku juga pernah dipukul. Tetapi aku tidak pernah dibelah. Aku tidak pernah dipecah. Aku tidak pernah dihancurkan. Aku tidak pernah diledakkan. Aku tidak pernah disedot oleh akar-akar. Aku tidak ditumbuhi rumput-rumput. Aku tidak disiram air. Aku tidak dijemur di bawah terik matahari. Tetapi ketahuilah bahwa aku gunakan batu dan batang tanaman untuk menangkap engkau wahai binatang. Aku jadikan engkau wahai tumbuhan dan binatang sebagai makananku. Maka aku bisa berlaku apa saja terhadapmu bertiga.

Batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang bersama-sama menjawab:
Tidak adil. Wahai manusia, mengapa engkau bisa melakukan yang lebih banyak dari diriku bertiga. Bahkan engkau bisa menyakiti diriku bertiga. Mengapa engkau seakan juga bisa menentukan nasibku bertiga? Bolehkah aku bertiga menirumu? Kalau perlu aku bertiga ingin membalas perlakuan burukmu terhadapku.

Manusia:
Itulah sebenar-benar diriku. Dimensi diriku adalah lebih tinggi dari dimensi dirimu semua. Itulah kodratku dan juga kodratmu. Aku tidak tahu apakah doa-doaku dan juga doa-doamu dapat merubah nasib kita? Tetapi tunggulah. Kelihatannya ada orang yang berbeda denganku lewat. Aku ingin bertanya kepada orang itu. Wahai saudaraku siapakah engkau? Apakah engkau mendengarkan percakapanku dengan batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang ini? Jika engkau mendengarkan, apakah engkau juga dapat menceritakan pengalamanmu?

Manusia berilmu:
Wahai batu, tumbuh-tumbuhan, binatang dan saudaraku. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku mendengar semua percakapanmu berempat. Aku juga mempunyai pengalaman, tetapi pengalamanku sangat berbeda dengan pengalamanmu berempat. Aku mengalami penderitaan, tetapi penderitaanku tidak seperti penderitaanmu berempat. Aku mengalami berbagai macam ketidak adilan, tetapi bukan ketidak adilan seperti yang engkau alami. Aku mengalami banyak penderitaan, tatapi bukan penderitaan seperti yang engkau alami. Aku banyak mengalami perakuan buruk, tetapi tidak seperti perlakuan buruk yang engkau alami. Aku juga mengalami pelecehan, tetapi bukan pelecehan seperti yang engkau alami. Aku aku juga pernah dipukul. Tetapi aku tidak pernah dibelah. Aku tidak pernah dipecah. Aku tidak pernah dihancurkan. Aku tidak pernah diledakkan. Aku tidak pernah disedot oleh akar-akar. Aku tidak ditumbuhi rumput-rumput. Aku tidak disiram air. Aku tidak dijemur di bawah terik matahari. Tetapi ketahuilah bahwa aku gunakan batu dan batang tanaman untuk menangkap engkau wahai binatang. Aku jadikan engkau wahai tumbuhan dan binatang sebagai makananku. Maka aku bisa berlaku apa saja terhadapmu bertiga. Wahai saudaraku sesama manusia, aku juga pernah meninggalkanmu sendirian. Aku pernah tidak memberimu hakmu. Aku sering menyuruhmu. Aku selalu mengaturmu. Aku membayar gajimu. Aku sering tak peduli denganmu. Aku sering tidak mendengarkan ucapan dan usulmu. Aku sering bepergian sedangkan engkau aku suruh untuk menjaga di sini. Aku punya banyak teman sedangkan engkau tidak punya teman. Aku punya banyak hiburan sedangkan engkau tidak. Aku punya banyak pengalaman sedangkan engkau tidak. Aku punya banyak keterampilan sedangkan engkau tidak. Aku selalu mengetahui dimana, kapan, kemana, dengan siapa dirimu itu. Seangkan engkau tidak mengetahuiku. Maka sebenar-benar diriku adalah dapat menentukan dirimu semua.

Batu, tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia yang pertama tadi bersama-sama menjawab:
Tidak adil. Mengapa engkau bisa melakukan yang lebih banyak dari diriku berempat?. Bahkan engkau bisa menyakiti diriku berempat. Mengapa engkau seakan juga bisa menentukan nasibku berempat? Bolehkah aku berempat menirumu? Kalau perlu aku berempat ingin membalas perlakuan burukmu terhadapku.

Manusia berilmu:
Itulah sebenar-benar diriku. Dimensi diriku adalah lebih tinggi dari dimensi dirimu semua. Itulah kodratku dan juga kodratmu. Aku tidak tahu apakah doa-doaku dan juga doa-doamu dapat merubah nasib kita? Tetapi inilah kesaksianku. Bahwa untuk engkau saudaraku manusia, maka ikhtiarmu juga merupakan kodratmu. Itulah sebenar-benar keunggulan manusia dari batu, tumbuhan dan binatang. Jika engkau berusaha, maka dimensimu dapat meningkat setara dengan dimensiku, yaitu menjadi orang yang berilmu. Tetapi tunggulah. Kelihatannya ada orang yang berbeda denganku lewat. Aku ingin bertanya kepada orang itu. Wahai saudaraku siapakah engkau? Apakah engkau mendengarkan percakapanku dengan batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang ini? Jika engkau mendengarkan, apakah engkau juga dapat menceritakan pengalamanmu?

Manusia bernurani dan berilmu:
Wahai batu, tumbuh-tumbuhan, binatang dan saudaraku-saudaraku. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku mendengar semua percakapanmu semua. Aku juga mempunyai pengalaman, tetapi pengalamanku sangat berbeda dengan pengalamanmu semua. Aku mengalami penderitaan, tetapi penderitaanku tidak seperti penderitaanmu semua. Aku mengalami berbagai macam ketidak adilan, tetapi bukan ketidak adilan seperti yang engkau alami. Aku mengalami banyak penderitaan, tatapi bukan penderitaan seperti yang engkau alami. Aku banyak mengalami perakuan buruk, tetapi tidak seperti perlakuan buruk yang engkau alami. Aku juga mengalami pelecehan, tetapi bukan pelecehan seperti yang engkau alami. Aku aku juga pernah dipukul. Tetapi aku tidak pernah dibelah. Aku tidak pernah dipecah. Aku tidak pernah dihancurkan. Aku tidak pernah diledakkan. Aku tidak pernah disedot oleh akar-akar. Aku tidak ditumbuhi rumput-rumput. Aku tidak disiram air. Aku tidak dijemur di bawah terik matahari. Tetapi ketahuilah bahwa aku gunakan batu dan batang tanaman untuk menangkap engkau wahai binatang. Aku jadikan engkau wahai tumbuhan dan binatang sebagai makananku, selama itu diijinkan oleh Tuhanku. Maka aku berusaha hidup seimbang dan harmonis. Wahai saudaraku sesama manusia, aku juga pernah meninggalkanmu sendirian, tetapi semata karena aku ingin berdoa dan menuntut ilmu. Aku berusaha jangan sampai tidak memberimu hakmu. Aku berusaha menyuruhmu sesuatu fungsi dan tugasmu. Aku mengaturmu itu memang karena amanah yang diberikan kepadaku. Aku berusaha membayar gajimu dengan tepat. Aku selalu berusaha memperdulikanmu. Aku selalu berusaha mendengarkan ucapan dan usulmu. Jika aku sering bepergian sedangkan engkau aku suruh untuk menjaga di sini, itu adalah semata-mata karena perbedaan tugas kita masing-masing. Aku punya banyak teman dan aku anggap engkau juga teman-temanku. Aku punya banyak hiburan tetapi semata-mata untuk mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Aku punya banyak pengalaman tetapi aku berusaha menggunakannya untuk kemaslahatan umat. Aku mengajak kepada saudara-saudaraku marilah selalu menuntut ilmu baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat, agar kita bisa meningkatkan dimensi kita. Setinggi tinggi dimensi adalah dimensi absolut, yaitu dimensi Tuhan YME. Aku berusaha selalu melantunkan doa-doaku. Doa-doaku itu adalah untuk semuanya. Ya Tuhan limpahkanlah karunia dan hidayah Mu bagi hamba-hambamu ini. Amien.

43 comments:

  1. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Elegi yang amat menarik. Manusia secara kodrat memang menjadi makhluk yang lebih mulia dibanding lainnya. Hal itu karena manusia mempunyai akal, akan tetapi manusia juga memiliki nafsu yang bisa menempatkan manusia lebih rendah daripada binatang. Adapun tingkatan manusia pun yang berbeda – beda. Orang biasa tentu lebih rendah dari pada orang berilmu. Namun orang berilmu masih rendah dibanding orang yang memiliki ilmu sekaligus nurani. Namun, sebaik – baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

    ReplyDelete
  2. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Allah SWT menciptakan makhluk itu bermacam-macam. Berbagai ciptaan-Nya tersebut diciptakan dengan karakteristik yang berbeda-beda serta tingkatan dimensi yang berbeda pula. Manusia menempati dimensi yang paling tinggi di antara ciptaan Allah di dunia ini. Manusia yang berilmu yang memiliki dimensi yang lebih tinggi lagi. Namun, tetap jangan sampai sombong karena setinggi tinggi dimensi adalah milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  3. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dalam elegi ini dapat dipahami bahwa di dunia ini ada banyak sekali bentuk dari ciptaan Allah. Bisa berupa makhuk hidup seperti hewan dan tumbuhan ataupun benda-benda mati misalkan batu dan tanah. Dari kesemua itu semuanya memiliki dimensi tersendiri dalam kehidupan di dunia ini. Yang kesemuanya saling berkaitan dan saling melengkapi. Tidak ada dimensi ciptaan Allah yang lebih tinggi diantara ciptaan yang lainnya. Kesemuanya memiliki dimensi sebagai ciptaan Allah. Setinggi-tinggi dimensi adalah dimensi absolut yaitu Allah SWT dan hanya kepada-Nya kita bergantung dan kepada-Nya kita memohon pertolongan.

    ReplyDelete
  4. Nahrul Pintoko Aji
    14301244008
    Pendidikan Matematika A 2014

    Sebagai makhluk kita harus menerima ketetapan ketetapan yang kita peroleh dari tuhan kita. Kita diberi derajat yang berbeda beda, kasta antar mahluk itu berbeda beda, dan semua itu sudah adil. Memang derajat manusia atau dimensi yang di huni lebih tinggi dari makhluk lain, lebih lebih manusia yang berilmu.

    ReplyDelete
  5. Nahrul Pintoko Aji
    14301244008
    Pendidikan Matematika A 2014

    Semakin rendah dimensi, semain rendah kapasitas dan mobilitas kita di alam ini. Namun, sebenarnya seua makhluk berasal dari dimensi yang tak terhingga menyatu dengan tuhan. kemudian kita ditempatkan pada dimensi dimensi sesuai ketetapannya yang semua itu sudah adil. Tinggal bagaimana kesadaran kita terhadap kondisi saat ni. Kita harus menyadari keberadaan kita jauh dari tuhan kita sehingga terketuk hati kita untuk mendekat. Serendah rendahnya dimensi makhluk, masih dapat kembali kepada dimensi yang mutlak melalui proses peribadahan. Jin yang menghuni dimensi lebih tinggi dari manusia pun dapat dilampaui tempatnya.

    ReplyDelete
  6. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    allah dalam menciptakan sesuatu pasti ada manfaatnya. walaupun ada hal baik dan buruk dalam setiap makhluk hidup tapi itu semua akan menjadi baik di akhirnya. hendaknya kita melihat dari sisi manfaatnya. memang kadang kita belum mengerti kenapa bentuk kita seperti ini, kenapa sikap kita begini, tapi semua itu akan terjawab nantinya, seiiring dengan waktu.

    ReplyDelete
  7. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Hidup adalah belajar. Mulai dari belajar nonformal hingga belajar secara formal.
    Belajar dalam kehiudpan sehari- hari sangatlah penting sebagi modal dalam bersosial dengan masyarakat.
    Sedangkan pembelajaran secara formal bermanfaat untuk meningkatkan kemmapuan terutama secara kognitif, dan selanjutnya afektif.
    Ketika kegiatan belajar pada kedua hal ini seimbang maka manusia akan mencapai dimensi yang diharapkan, yaitu ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.

    ReplyDelete
  8. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu'alaikum. Semua makhluk ciptaan Tuhan memiliki dimensinya masing-masing. Semua mkhluk memiliki cerita dan pengalamannya sendiri-sendiri. tidak bisa disamakan dimensi dari ciptaan Tuhan, tapi antar dimensi itu saling mempengaruhi baik dalam hal kebaikan maupun kejelekan. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang sempurna dengan akalnya. Akal manusia semestinya dapat memahami perbedaan dimensi itu dan dapat menjaganya agar terus seimbang. Sebagai manusia yang berakal tidak baik jika serakah. Semua memiliki dimensi dan aturannya masing-masing agar dapat berjalan dengan teratur.

    ReplyDelete
  9. Fatmawati
    16709251071
    S2 PM.D 2016
    Menurut sepemahaman saya, dimensi merupakan tahapan, capaian, porsi, yang bersesuaian dengan barang-barang atau hal-hal yang ada pada dimensi tersebut. misalnya batu, dimensinya hanya sampai disitu, terkena panas, hujan, dibelah, diserap, dll. Begitu juga tumbuhan dan binatang. Masing-masing mempunyai dimensi yang berbeda satu sama lain. namun untuk manusia ada sedikit perbedaan. manusia diciptakan Allah mempunyai akal dan pikiran. Ini lah keistimewaan manusia diantara makhluk ciptaan Allah yang lainnya. Maka dari itu, manusia tidak hanya mempunyai satu dimensi, tapi manusia dapat melalui beberapa dimensi. Dan pada setiap peningkatan dimensi tersebut, maka yang harus dilakukan manusia adalah memanfaatkan keistimewaannya tadi. Yaitu memanfaatkan akal dan pikiran untuk berusaha mencapai dimensi yang lebih tinggi dari sebelumnya.

    ReplyDelete
  10. Jeanete Nenabu
    15709251004
    PPS Pend. Matematika D 2015

    Segala sesuatu di dunia ini tergantung dimensi, ruang dan waktunya. TUHAN menciptakan semua unsur di dunia sesuai dengan fungsinya masing-masing. Maka semua yang kita alami dalam hidup itu adalah karena keberadaan kita dalam dimensi kita. Belajar untuk rendah hati dan terus mengerjakan tugas kita dengan sebaik-baiknya itulah yang harus dilakukan. Dan jika kita sudah sampai pada dimensi yang tinggi, jangan melupakan orang-orang yang dimensinya berada dibawah kita, seperti yang dilakukan oleh manusia berilmu dan bernurani.

    ReplyDelete
  11. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Seperti yang telah kita ketahui dari elegi-elegi sebelumnya bahwa manusia terikat oleh ruang dan waktu. Antara manusia yang satu dengan yang lain tidak akan pernah ada pada dimensi yang sama bahkan antara diri kita sendiri tidak akan pernah sama. Sebaik-baik dalam menggapai dimensi adalah yang dapat menjadi lebih baik lagi dari dimensi sebelumnya. Dari yang tidak tahun menjadi tahu, tidak paham menjadi paham dan sebagainya.

    ReplyDelete
  12. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Kehidupan memiliki dimensi. Dimensi tersebut adalah spiritual, normatif, formal dan material. Namun setinggi – tingginya dimensi tidak ada yang melampaui dimensi spiritual. Karena spiritual adalah dimensi tertinggi di jagat raya ini. Dimana telah ada hubungan antara hati, kepercayaan hati nurani dan di luar dari segala akal pikiran. Keabsolutan sesungguhnya terletak pada dimensi ini, yaitu bahwa Allah adalah Tuhan Semesta Alam.

    ReplyDelete
  13. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Kesulitan dan kesenangan semua hal di alam semesta sudah memiliki dimensinya masing-masing, bahkan penderitaan manusia satu dengan manusia yang lainnya pun berbeda, semua ada dimensinya. Dimensi yang mutlak telah ditentukan oleh sang Maha Pencipta, kodrat yang tidak mungkin berubah. Namun dalam penderitaan yang berbeda dalam mengalaminya, alangkah baiknya kita manusia dapat mengambil nilai yang dapat dijadikan pelajaran dalam kehidupan kita.

    ReplyDelete
  14. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setiap makhluk yang diciptakan di dunia ini mempunyai dimensi, derajat, serta takdir yang berbeda-beda. Namun takdir itu bisa diubah melalui usaha dan doa. Manusia merupakan makhluk Tuhan yang paling sempurna namun di dalamnya masih memiliki ketidaksempurnaan. Manusia tidak pernah merasa puas maka yang perlu kita lakukan sebagai manusia adalah bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang, jangan mengeluh, dan selalu yakin bahwa lahirnya kita di dunia ini mempunyai manfaat bagi orang lain.

    ReplyDelete
  15. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sebagai makhluk di dunia ini memiliki kodratnya sendiri-sendir. Tidaklah perlu sombong atas kodratmu, baik rendah maupun tinggi. Patutlah kau bersyukur. Setinggi-tingginya kodratmu kau tidak akan melampaui kuasa tuhanmu. Syukuri kodratmu sebagai makhluk tuhan, jagalah dimensimu, jangan berperilaku sombong terhadap dimensi dibawahmu.

    ReplyDelete
  16. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Elegi diatas adalah elegi yang sangat menarik dimana masing-masing dari benda-benda tersebut merasakan ketidakadilan, namun itulah kodrat yang diberikan kepada kita. Dan sebenar-benar manusia yang berilmu adalah manusia yang selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan kepadanya, karena di balik semua itu ada hikmahnya yang sangat dalam dan kita ketahui setelah kita melewatinya. Selalulah berdoa kepada Sang Khalik untuk semua mahluk agar kita dalam lindungan dan ridhoNya.

    ReplyDelete
  17. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Dimensi adalah taraf kehidupan dapat kita nilai dari banyak sisi. Baik dan buruknya dimensi tergantung bagaimana cara kita memandang. Setiap yang ada memiliki taraf dimensi yang berbeda. Perbedaan dimensi ini bukanlah untuk menunjkkan siapa yang paling hbat. Perbedaan dimensi ini lebih melihat pada kebermaknanaan sesuatu itu sendiri dan bagaimana hal tersebut berguna bagi yang lainnya.

    ReplyDelete

  18. Ajeng Puspitasari / 14301241005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi di atas sarat akan ilmu yang dapat dipetik oleh kita yang membacanya.
    Pertama, setiap makhluk memiliki perannya masing-masing. Setiap makhluk juga memiliki fungsinya masing-masing. Setiap makhluk juga memiliki 'masalahnya' masing-masing. Maka sebagai salah satu makhluk-Nya, kita harus dapat melakoni peran kita masing-masing, semata-mata untuk meggapai ridho-Nya dan agar bermanfaat bagi yang lainnya.

    ReplyDelete
  19. Ajeng Puspitasari / 14301241005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Terdapat pelajaran lain yang saya petik. Kedua, sebagai manusia, kita memiliki suatu 'dimensi' tertentu. Di sini saya artikan sebagai kedudukan ilmu. Semakin tinggi ilmu seseorang, maka dimensinya juga akan semakin tinggi. Namun, ilmu dunia, tak mampu berjalan sendiri karena dariya tak akan memberikan manfaat. Maka, harus dibarengi pula dengan ilmu akhirat, yang akan menjaga nurani dan hati kita tetap jernih.

    ReplyDelete
  20. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Dari elegi menggapai dimensi di atas dapat dipetik kesimpulan bahwa dimensi mulai dari batu sampai manusia bernurani dan berilmu seperti memang ditakdirkan bertingkat. Tetapi mungkin masih ada satu tingkatan lagi diatas manusia bernurani dan berilmu, yaitu manusia yang sudah paham dan mengenal alamnya dan Tuhannya, yang menganggap semua ciptaan Tuhan YME sudah diberikan haknya yang dijamin oleh-Nya, sehingga dia tidak merasa mendapat perlakuan buruk dari lingkungannya, dan paham bahwa batu, tumbuhan, hewan, tidak merasa dirugikan, karena sesungguhnya mereka hanya bertasbih untuk-Nya.

    ReplyDelete
  21. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Membalas menyakiti orang lain dari perbuatan yang pernah dilakukan dalam menyakiti kita merupakan hal yang kurang baik. Karena dengan demikian maka kita tidak ada bedanya dengan ia yang menyakiti kita. Mengendalikan diri, berbuat baik, dan menuntut ilmu merupakan hal yang dapat dilakukan untuk meninggikan dimensi kita. Namun dari hal tersebut hendaknya tetap menjauhi sikap sombong agar tidak terjebak dalam dimensinya sendiri, karena yang mempunyai hidup ini adalah Tuhan dan Dia yang berkuasa atas segala yang terjadi dalam hidup kita.

    ReplyDelete
  22. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Allah SWT menciptakan berbagai macam makhluk ciptaan-Nya dengan tingkatan, dimensi, atau derajat yang berbeda-beda. Manusia merupakan salah satu makhluk ciptaan-Nya yang berada pada dimensi yang paling tinggi dibandingkan makhluk ciptaan Allah lainnya. Di antara manusia-manusia itu sendiri, manusia yang berilmu dan bernurani lah yang berada pada dimensi lebih tinggi dari manusia lainnya.

    ReplyDelete
  23. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Meskipun manusia berada pada dimensi yang paling tinggi daripada makhluk ciptaan Allah lainnya, manusia harus lah rendah hati dan menghargai makhluk lainnya. Karena semua yang manusia itu berbuat akan kembali kepada ke manusia itu sendiri.

    ReplyDelete
  24. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang paling mulia jika dibandingkan dengan makhluk lain. Hal yang membedakan manusia dengan makhluk lain adalah spiritual, emosional dan intelektual. Segala sesuatu yang diciptakan memiliki dimensi masing-masing dan segala sesuatu diciptakan pasti ada fungsinya.

    ReplyDelete
  25. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Salah satu hal yang saya dapatkan dari elegi di atas adalah setiap makhluk yang diciptakah Tuhan YME itu berbeda –beda. Jangan merasa rendah di antara yang lainya, jangan merasa paling menderita. Karena sebenarnya masih banyak makhluk di luar sana yang lebih menderita dari kita, hanya saja kita tidak tahu. Semua itu sudah diatur oleh Tuhan YME. Percaya saja bahwa semua itu yang terbaik.

    ReplyDelete
  26. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dimensi setiap makhluk ciptaan-Nya itu berbeda – beda. Untuk menaikkan dimensi yang dimiliki tentu butuh proses. Manusia berilmu dimensinya lebih rendah daripada manusia benurani dan berilmu. Dimensi bisa dinaikkan dengan belajar. Sebagai mahasiswa, salah satu contoh konkret yang bisa dilakukan dengan belajar, senantiasa menngejar ilmu, dan yang terpenting adalah membaca. Salah satunya dengan membaca blog ini, bisa mendapatkan banyak ilmu baru dan dapat menaikkan dimensi kita

    ReplyDelete
  27. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Seperti layaknya batu dan tumbuhan. kita sebagai manusia pasti pernah merasa diperlakukan tidak adil juga dengan manusia lain. mungkin saat di lingkungan keluarga, di sekolah, di kampus mungkin banyak perlakuan tidak adil yang kita merasa dapatkan. tetapi sesungguhnya bagaimanapun itu pasti ada hal yang orang lain juga rasakan terhadap kita atas ketidakadilan. mungkin orang lain merasa lebih tidak beruntung dibanding kita padahal kita juga merasa tidak beruntung dibanding mereka tetapi bersyukur adalah hal yang paling tepat.

    ReplyDelete
  28. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang paling sempurna di antara makhluk-makhluk yang lain. Manusia dianugerahkan akal untuk senantiasa memikirkan dengan matang apa yang mereka lakukan.Tinggal bagaimana akal dan fikiran tersebut kita gunakan untuk menuju dimensi yang lebih tinggi, untuk meningkatkan pengetahuan dan ilmu kita, bukan untuk mengejar materi keduniawian saja. Selain itu setiap manusia juga dibekali hati dan hawa nafsu. Dengan itu manusia dapat meningkatkan kualitas hidup mereka ke dimensi yang jauh lebih tinggi bahkan lebih daripada malaikat sekalipun, karena timbulnya perasaan yang selalu istiqomah dan senantiasa meningkatkan kualitas imannya kepada Allah SWT. Namun demikian dengan hawa nafsu juga seorang manusia dapat lebih rendah daripada makhluk lainnya. Maka sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang mempunyai hati yang bersih dan pikiran yang jernih.

    ReplyDelete
  29. Salma Maulida Karima
    14301241021
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi diatas menceritakan bahwa setiap makhluk yang ada di dunia memiliki dimensinya sendiri, yang bertingkat atas dasar akal dan nuraninya. Semakin dia berakal dan bernurani berarti semakin dia dapat memaknai setiap hidupnya, tidak mempertanyakan kenapa saya diciptakan jika saya akan selalu menderita dan seterusnya. Namun, tetaplah diingat bahwasanya dimensi tertinggi adalah Allah SWT semata.

    ReplyDelete
  30. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi menggapai dimensi di atas sangat menarik untuk dibaca. Dari elegi di atas bahwa sesungguhnya makhluk Allah SWT mempunyai dimensi atau peran masing-masing di dunia ini. Sudah selayaknya kita sebagai manusia memainkan peran sebaik-baiknya agar bermanfaat untuk makhluk Allah lainnya.

    ReplyDelete
  31. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam elegi tersebut dapat dianalogikan sebagai manusia dengan dimensi-dimensi yang berbeda-beda. Semakin tinggi dimensi seseorang, maka semakin tinggi pula ia dapat memahami arti kehidupan. Hal tersebut dikarenakan manusia tersebut selalu bersyukur atas apa yang telah ia dapatkan selama ini.

    ReplyDelete
  32. Nurrita SAbrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setiap sesuatu hal memiliki dimensi yang berbeda. Fungsi dan tujuannya juga bergantung dengan dimensi suatu hal tersebut. Sebenar-benar fungsi dan tujuannya merupakan kodrat yang telah ditentukannya dan kita harus menerimanya dengan lapang.

    ReplyDelete
  33. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setiap hal didunia ini memiliki tingkatan dimensi yang berbeda-beda dan hal tersebut merupakan suatu ketetapan. Setinggi-tinggi dimensi merupakan dimensi-Nya sang Maha Kuasa. Semakin tinggi dimensi seseorang maka seharusnya semakin tunduklah dia kepada Sang Maha Kuasa.

    ReplyDelete
  34. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Manusia diciptakan atas ketentuanNya. Dan apa yang menjadi ketentuanNya adalah tepat. Setiap manusia memiliki ruang dan waktu yang berbeda, begitupun dengan dimensi-dimensinya. Memang dimensi seorang petani akan berbeda dengan dimensi seorang pedagang. Dimensi yang lebih tinggi adalah dimensi bagi orang-orang yang berilmu. Tuhan akan meninggikan derajat atau dimensi hambanya, apabila hambanya yang mau merubahnya. Jadilah manusia yang mampu menembus ruang dan waktu untuk terus menggapai dimensi.

    ReplyDelete
  35. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Percakapan yang terjadi adalah antara batu, tumbuhan, manusia dan juga bintang yang saling membicarakan hal yang mereka alami masing-masing. Hal yang mereka alami berbeda-beda dan saling terkait. Meskipun kejadian yang dimaksud adalah kejadian yang sama namun kejadian tersebut diceritakan dalam sudut pandang yang berbeda, maka itu berarti dimensi yang dialami oleh batu, tumbuhan, manusia dan bintang berbeda, sehingga pengalaman mereka juga berbeda-beda.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  36. Desinta Armiani
    143012141041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Pada kodratnya manusia adalah makhluk yang paling sempurna, derajat manusia ada diatas makhluk lainya. Semuanya adalah ketetapan Allah SWT. Akan tetapi manusia manusia diberi akal dan kemampuan serta manusia bisa memilih penggunaan akal dan kemampuan itu hanya untuk merusak, atau digunakan untuk merawat serta menjaga makhluk ciptaan yang lainya.

    ReplyDelete
  37. Desinta Armiani
    143012141041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Intinya manusia adalah makhluk yang paling tinggi kodratnya dibandingkan makhluk lainya. Tetapi manusia memiliki nurani bahwa manusia memiliki tanggung jawab menjaga alam serta melestarikan alam. Manusia harus menyadari pentingnya ciptaan lainya, karena manusa tidak bisa hidup jika tidak ada makhluk penunjangnya seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan

    ReplyDelete
  38. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D
    Kita tidak bisa merubah takdir yang telah ditetapkan-Nya. Yang bisa kita lakukan adalah berdoa dan berikhtiar agar diberikan yang terbaik bagi kita, bukan yang terbaik menurut kita. Semoga kita dapat meningkatkan dimensi kita menjadi lebih baik tanpa melewati batas-batas-Nya

    ReplyDelete
  39. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Manusia hidup dengan menjalani dan memainkan peran pada dimensi masing-masing. Dalam hidup ini terdapat banyak dimensi. Semua yang ada mengalami dan menjalankan tugas pada dimensinya masing-masing. Seperti batu, tumbuhan, hewan begitupun manusia. Manusia juga dalam menjalankan kehidupan ini memiliki dimensi masing-masing. Mereka memiliki pekerjaan, tempat tinggal, dan teman pergaulan yang berbeda-beda. Tingkatan dimensi tersebut juga berbeda-beda. Mungkin dengan ilmu pengetahuan manusia dapat meningkatkan tingkat dimensi mereka. Namun, kita ketahui bahwa puncak atau yang berada pada dimensi tertinggi adalah Allah Yang Maha Esa.

    ReplyDelete
  40. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Bagaimana Allah SWT telah menciptakan makhluk di alam semesta ini terdiri dari dimensi yang saling berbeda, dimana dalam semua aspek ciptaan mempunyai eksistensi diri. Perubahan-perubahan yang terjadi seiring berjalannya waktu dapat mempengaruhi dimensi.

    ReplyDelete
  41. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Manusia tercipta pada dimensinya masing-masing sesuai dengan takdir yang telah dituliskan untuknya dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Sehingga dimensi itu akan terus bergerak mengalami perubahan sebagai pengaruh kondisi dan situasi dalam menjalani kehidupan. Namun dimensi yang tetap dan abadi hanya milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  42. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Di dunia ini terdapat banyak dimensi. Semua yang ada mengalami dan menjalankan tugas pada dimensinya masing-masing. Seperti batu, tumbuhan, hewan begitupun manusia. Manusia juga dalam menjalankan kehidupan ini memiliki dimensi masing-masing. Mereka memiliki pekerjaan, tempat tinggal, dan teman pergaulan yang berbeda-beda. Tingkatan dimensi tersebut juga berbeda-beda. Mungkin dengan ilmu pengetahuan manusia dapat meningkatkan tingkat dimensi mereka. Namun, kita ketahui bahwa puncak atau yang berada pada dimensi tertinggi adalah Allah Yang Maha Esa.

    ReplyDelete
  43. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Dimensi yang akan membedakan mahluk satu dengan yang lainnya. Dimensi yang diceritakan dalam elegi di atas meliputi dimensi pada mahluk hidup seperti tumbuhan, hewan dan manusia sedangakan untuk benda mati digambarkan oleh batu. Kita tahu bahwa batu benda mati yang tidak akan punya interaksi dengan apapun. Tapi ternyata batu mempunyai suara, gerakan dan lain sebagainya dikarenakan adanya dimensi. Dimensi manusia dalam kehidupan merupakan dimensi yang tinggi dari mahluk Allah lainnya karena manusia mempunyai akal sedangkan yang lainnya tidak.

    ReplyDelete