Jul 31, 2010

Elegi Menggapai Dimensi




Oleh : Marsigit

Batu:
Jika boleh aku ingin menyampaikan isi hati dan pikiranku. Isi hati dan pikiranku akan aku sampaikan kepada siapapun, didengar ataupun tidak didengar.
Mengapa? Karena selama ini aku mengalami berbagai macam peristiwa, tetapi aku belum pernah memberitahukan kepada siapapun. Selama ini aku mengalami berbagai macam ketidak adilan. Aku mengalami penderitaan. Aku mengalami perakuan buruk. Aku mengalami pelecehan. Aku mengalami penderitaan yang luar biasa. Aku dipukul. Aku dibelah. Aku dipecah. Aku dihancurkan. Aku diledakkan. Aku diserap. Aku disedot oleh akar-akar. Aku ditumbuhi rumput-rumput. Aku disiram air. Aku dijemur di bawah terik matahari. Dan seterusnya. Aku hanya ingin mengetahui apakah nasib yang sama juga dialami oleh tumbuh-tumbuhan. Wahai tumbuh-tumbuhan, apakah engkau mendengar ceritaku ini? Jika engkau mendengar, apakah engkau juga mengalami hal yang sama denganku?

Tumbuh-tumbuhan:
Wahai batu. Sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa saya mendengan semua ceritamu. Aku juga mempunyai bermacam-macam pengalaman. Tetapi pengalamanku sedikit berbeda denganmu. Aku juga mengalami berbagai macam ketidak adilan. Aku mengalami penderitaan. Aku mengalami perakuan buruk. Aku mengalami pelecehan. Aku mengalami penderitaan yang luar biasa. Aku dipukul. Aku dibelah. Aku dipecah. Aku dihancurkan. Aku diledakkan. Aku diserap. Aku disedot oleh akar-akar. Aku ditumbuhi rumput-rumput. Aku disiram air. Aku dijemur di bawah terik matahari. Bahkan aku pernah dipotong, tetapi aku tumbuh kembali.

Batu:
Lalu apakah pengalamanmu yang berbeda dengan pengalamanku?

Tumbuh-tumbuhan:
Walaupun aku mengalami penderitaan hampir sama denganmu, tetapi setidaknya aku pernah andil sebagai sebab penderitaanmu. Bukankah engkau ingat ketika akarku menancap padamu. Goyangan tubuhku telah menentukan apakah engkau berhak memperoleh sinar atau tidak. Aku juga pernah roboh dan menimpa dirimu. Aku juga pernah digunakan orang untuk memukulmu. Aku bisa tumbuh dari kecil menjadi besar, sementara engkau tidak. Aku bisa berbuah sementara engkau tidak. Masih banyak lagi yang belum aku sebutkan. Itulah semua pengalamanku yang berbeda denganmu.

Batu:
Tidak adil. Wahai tumbuh-tumbuhan, mengapa engkau bisa melakukan yang lebih banyak dari diriku. Bahkan engkau bisa menyakiti diriku. Mengapa engkau seakan juga bisa menentukan nasib diriku? Bolehkah aku menirumu? Kalau perlu aku ingin membalas perlakuan burukmu terhadapku.

Tumbuh-tumbuhan:
Itulah sebenar-benar diriku. Dimensi diriku adalah setingkat lebih tinggi dari dimensi dirimu. Itulah kodratku dan juga kodratmu. Aku tidak tahu apakah doa-doaku dan juga doa-doamu dapat merubah nasib kita? Tunggulah batu, aku melihat ada seekor binatang hinggap pada diriku. Saya akan bertanya kepada binatang apakah mereka mempunyai pengalaman yang sama dengan kita atau tidak. Wahai binatang apakah engkau mendengarkan percakapanku dengan batu tadi? Jika engkau mendengarkan, apakah engkau juga dapat menceritakan pengalamanmu?

Binatang:
Wahai batu dan tumbuh-tumbuhan. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku mendengar semua percakapanmu berdua. Aku juga mempunyai pengalaman, tetapi pengalamanku agak berbeda dengan pengalamanmu berdua. Aku tidak banyak mengalami penderitaan. Aku tidak mengalami berbagai macam ketidak adilan. Aku tidak mengalami banyak penderitaan. Aku tidak banyak mengalami perakuan buruk. Aku tidak banyak mengalami pelecehan. Aku tidak banyak mengalami penderitaan yang luar biasa. Aku tidak banyak dipukul. Aku tidak dibelah. Aku tidak dipecah. Aku tidak dihancurkan. Aku tidak diledakkan. Aku tidak diserap. Aku tidak disedot oleh akar-akar. Aku tidak ditumbuhi rumput-rumput. Aku tidak disiram air. Aku tidak dijemur di bawah terik matahari. Tetapi aku selalu dikejar-kejar pemburu. Aku pernah ditembak. Aku pernah dipisahkan dari keluargaku. Namun pengalamn buruk itu tidak seberapa dibanding dengan pengalaman manisku. Aku mempunyai banyak pengalaman manis dan menyenangkan. Aku sering memukul engkau wahai batu dan tanaman. Aku sering menginjak-injak engkau wahai batu dan tanaman. Aku sering mengotori engkau wahai batu dan tanaman. Akulah yang sering memakan buahmu wahai tanaman. Akulah yang sering memakan daun mudamu wahai tanaman. Au juga pernah merobohkanmu. Aku juga pernah menggunakan engkau tanaman untuk memukul engkau batu. Aku gunakan engkau tanaman untuk ayunan permainanku. Aku gunakan engkau batu, untuk loncatan. Aku juga pernah memecahkanmu wahai batu. Aku bisa berlaku apa saja terhadapmu berdua.

Batu dan tumbuh-tumbuhan bersama-sama menjawab:
Tidak adil. Wahai binatang, mengapa engkau bisa melakukan yang lebih banyak dari diriku berdua. Bahkan engkau bisa menyakiti diriku berdua. Mengapa engkau seakan juga bisa menentukan nasibku berdua? Bolehkah aku berdua menirumu? Kalau perlu aku berdua ingin membalas perlakuan burukmu terhadapku.

Binatang:
Itulah sebenar-benar diriku. Dimensi diriku adalah setingkat lebih tinggi dari dimensi tumbuh-tumbuhan. Dan dua tingkat lebih tinggi dari dimensi batu. Itulah kodratku dan juga kodratmu. Aku tidak tahu apakah doa-doaku dan juga doa-doamu dapat merubah nasib kita? Tetapi tunggulah. Kelihatannya ada orang lewat. Aku ingin bertanya kepada orang itu. Wahai manusia apakah engkau mendengarkan percakapanku dengan batu dan tumbuh-tumbuhan tadi? Jika engkau mendengarkan, apakah engkau juga dapat menceritakan pengalamanmu?

Manusia :
Wahai batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku mendengar semua percakapanmu bertiga. Aku juga mempunyai pengalaman, tetapi pengalamanku sangat berbeda dengan pengalamanmu bertiga. Aku mengalami penderitaan, tetapi penderitaanku tidak seperti penderitaanmu bertiga. Aku mengalami berbagai macam ketidak adilan, tetapi bukan ketidak adilan seperti yang engkau alami. Aku mengalami banyak penderitaan, tatapi bukan penderitaan seperti yang engkau alami. Aku banyak mengalami perakuan buruk, tetapi tidak seperti perlakuan buruk yang engkau alami. Aku juga mengalami pelecehan, tetapi bukan pelecehan seperti yang engkau alami. Aku aku juga pernah dipukul. Tetapi aku tidak pernah dibelah. Aku tidak pernah dipecah. Aku tidak pernah dihancurkan. Aku tidak pernah diledakkan. Aku tidak pernah disedot oleh akar-akar. Aku tidak ditumbuhi rumput-rumput. Aku tidak disiram air. Aku tidak dijemur di bawah terik matahari. Tetapi ketahuilah bahwa aku gunakan batu dan batang tanaman untuk menangkap engkau wahai binatang. Aku jadikan engkau wahai tumbuhan dan binatang sebagai makananku. Maka aku bisa berlaku apa saja terhadapmu bertiga.

Batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang bersama-sama menjawab:
Tidak adil. Wahai manusia, mengapa engkau bisa melakukan yang lebih banyak dari diriku bertiga. Bahkan engkau bisa menyakiti diriku bertiga. Mengapa engkau seakan juga bisa menentukan nasibku bertiga? Bolehkah aku bertiga menirumu? Kalau perlu aku bertiga ingin membalas perlakuan burukmu terhadapku.

Manusia:
Itulah sebenar-benar diriku. Dimensi diriku adalah lebih tinggi dari dimensi dirimu semua. Itulah kodratku dan juga kodratmu. Aku tidak tahu apakah doa-doaku dan juga doa-doamu dapat merubah nasib kita? Tetapi tunggulah. Kelihatannya ada orang yang berbeda denganku lewat. Aku ingin bertanya kepada orang itu. Wahai saudaraku siapakah engkau? Apakah engkau mendengarkan percakapanku dengan batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang ini? Jika engkau mendengarkan, apakah engkau juga dapat menceritakan pengalamanmu?

Manusia berilmu:
Wahai batu, tumbuh-tumbuhan, binatang dan saudaraku. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku mendengar semua percakapanmu berempat. Aku juga mempunyai pengalaman, tetapi pengalamanku sangat berbeda dengan pengalamanmu berempat. Aku mengalami penderitaan, tetapi penderitaanku tidak seperti penderitaanmu berempat. Aku mengalami berbagai macam ketidak adilan, tetapi bukan ketidak adilan seperti yang engkau alami. Aku mengalami banyak penderitaan, tatapi bukan penderitaan seperti yang engkau alami. Aku banyak mengalami perakuan buruk, tetapi tidak seperti perlakuan buruk yang engkau alami. Aku juga mengalami pelecehan, tetapi bukan pelecehan seperti yang engkau alami. Aku aku juga pernah dipukul. Tetapi aku tidak pernah dibelah. Aku tidak pernah dipecah. Aku tidak pernah dihancurkan. Aku tidak pernah diledakkan. Aku tidak pernah disedot oleh akar-akar. Aku tidak ditumbuhi rumput-rumput. Aku tidak disiram air. Aku tidak dijemur di bawah terik matahari. Tetapi ketahuilah bahwa aku gunakan batu dan batang tanaman untuk menangkap engkau wahai binatang. Aku jadikan engkau wahai tumbuhan dan binatang sebagai makananku. Maka aku bisa berlaku apa saja terhadapmu bertiga. Wahai saudaraku sesama manusia, aku juga pernah meninggalkanmu sendirian. Aku pernah tidak memberimu hakmu. Aku sering menyuruhmu. Aku selalu mengaturmu. Aku membayar gajimu. Aku sering tak peduli denganmu. Aku sering tidak mendengarkan ucapan dan usulmu. Aku sering bepergian sedangkan engkau aku suruh untuk menjaga di sini. Aku punya banyak teman sedangkan engkau tidak punya teman. Aku punya banyak hiburan sedangkan engkau tidak. Aku punya banyak pengalaman sedangkan engkau tidak. Aku punya banyak keterampilan sedangkan engkau tidak. Aku selalu mengetahui dimana, kapan, kemana, dengan siapa dirimu itu. Seangkan engkau tidak mengetahuiku. Maka sebenar-benar diriku adalah dapat menentukan dirimu semua.

Batu, tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia yang pertama tadi bersama-sama menjawab:
Tidak adil. Mengapa engkau bisa melakukan yang lebih banyak dari diriku berempat?. Bahkan engkau bisa menyakiti diriku berempat. Mengapa engkau seakan juga bisa menentukan nasibku berempat? Bolehkah aku berempat menirumu? Kalau perlu aku berempat ingin membalas perlakuan burukmu terhadapku.

Manusia berilmu:
Itulah sebenar-benar diriku. Dimensi diriku adalah lebih tinggi dari dimensi dirimu semua. Itulah kodratku dan juga kodratmu. Aku tidak tahu apakah doa-doaku dan juga doa-doamu dapat merubah nasib kita? Tetapi inilah kesaksianku. Bahwa untuk engkau saudaraku manusia, maka ikhtiarmu juga merupakan kodratmu. Itulah sebenar-benar keunggulan manusia dari batu, tumbuhan dan binatang. Jika engkau berusaha, maka dimensimu dapat meningkat setara dengan dimensiku, yaitu menjadi orang yang berilmu. Tetapi tunggulah. Kelihatannya ada orang yang berbeda denganku lewat. Aku ingin bertanya kepada orang itu. Wahai saudaraku siapakah engkau? Apakah engkau mendengarkan percakapanku dengan batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang ini? Jika engkau mendengarkan, apakah engkau juga dapat menceritakan pengalamanmu?

Manusia bernurani dan berilmu:
Wahai batu, tumbuh-tumbuhan, binatang dan saudaraku-saudaraku. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku mendengar semua percakapanmu semua. Aku juga mempunyai pengalaman, tetapi pengalamanku sangat berbeda dengan pengalamanmu semua. Aku mengalami penderitaan, tetapi penderitaanku tidak seperti penderitaanmu semua. Aku mengalami berbagai macam ketidak adilan, tetapi bukan ketidak adilan seperti yang engkau alami. Aku mengalami banyak penderitaan, tatapi bukan penderitaan seperti yang engkau alami. Aku banyak mengalami perakuan buruk, tetapi tidak seperti perlakuan buruk yang engkau alami. Aku juga mengalami pelecehan, tetapi bukan pelecehan seperti yang engkau alami. Aku aku juga pernah dipukul. Tetapi aku tidak pernah dibelah. Aku tidak pernah dipecah. Aku tidak pernah dihancurkan. Aku tidak pernah diledakkan. Aku tidak pernah disedot oleh akar-akar. Aku tidak ditumbuhi rumput-rumput. Aku tidak disiram air. Aku tidak dijemur di bawah terik matahari. Tetapi ketahuilah bahwa aku gunakan batu dan batang tanaman untuk menangkap engkau wahai binatang. Aku jadikan engkau wahai tumbuhan dan binatang sebagai makananku, selama itu diijinkan oleh Tuhanku. Maka aku berusaha hidup seimbang dan harmonis. Wahai saudaraku sesama manusia, aku juga pernah meninggalkanmu sendirian, tetapi semata karena aku ingin berdoa dan menuntut ilmu. Aku berusaha jangan sampai tidak memberimu hakmu. Aku berusaha menyuruhmu sesuatu fungsi dan tugasmu. Aku mengaturmu itu memang karena amanah yang diberikan kepadaku. Aku berusaha membayar gajimu dengan tepat. Aku selalu berusaha memperdulikanmu. Aku selalu berusaha mendengarkan ucapan dan usulmu. Jika aku sering bepergian sedangkan engkau aku suruh untuk menjaga di sini, itu adalah semata-mata karena perbedaan tugas kita masing-masing. Aku punya banyak teman dan aku anggap engkau juga teman-temanku. Aku punya banyak hiburan tetapi semata-mata untuk mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Aku punya banyak pengalaman tetapi aku berusaha menggunakannya untuk kemaslahatan umat. Aku mengajak kepada saudara-saudaraku marilah selalu menuntut ilmu baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat, agar kita bisa meningkatkan dimensi kita. Setinggi tinggi dimensi adalah dimensi absolut, yaitu dimensi Tuhan YME. Aku berusaha selalu melantunkan doa-doaku. Doa-doaku itu adalah untuk semuanya. Ya Tuhan limpahkanlah karunia dan hidayah Mu bagi hamba-hambamu ini. Amien.

33 comments:

  1. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Kehidupan ini berlapis-lapis, berdimensi. Dari batu sampai spiritual. Manusia berdimensi pula, dan yang absolut adalah dimensi Tuhan. Manusia diberi akal budi, hati, yang membuatnya berpotensi memiliki dimensi yang lebih tinggi. Kuliah filsafat ini tanpa disadari ternyata membawa mahasiswa untuk menggapai dimensi yang lebih tinggi jika dijalani sungguh dengan ikhlas. Berbagai elegi yang dapat dibaca dalam blog ini semakin membawa para mahasiswa termasuk saya untuk menghayati hidup dan segala aspek yang terkandung di dalamnya.
    Bersyukur saya boleh mendapat kesempatan untuk menggapai ilmu dan sekaligus nurani melalui belajar filsafat ini, yang sungguh terasa menuntun untuk menuju dimensi yang lebih tinggi. Semakin mampu berelasi dengan orang lain, alam sekitar, dan juga semakin belajar ikhlas dalam hati, senantiasa tertuju kepada Tuhan dengan doa dan ikhtiar.

    ReplyDelete
  2. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Terima kasih Prof untuk ilmu yang telah Prof bagikan melalui elegi menggapai dimensi. Batu, tumbuhan, dan manusia mempunyai pengalaman dan perlakuan yang berbeda karena berbeda dimensinya. Dalam elegi ini saya disadarkan kembali bahwa sesama manusia pun berdimensi. Manusia tidak berilmu akan kalah dimensi atau derajatnya dengan manusia yang berilmu, manusia yang berilmu lebih rendah dimensinya dibandingkan manusia yang bernurani (beriman) dan berilmu. Benarlah firman Allah dalam QS Al Mujadalah ayat 11 bahwa Allah akan meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu.

    ReplyDelete
  3. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Kami meyakini bahwa setiap makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT dengan kehendak dan kuasa-Nya pasti mempunyai takdir dan dimensinya masing-masing baik makhluk hidup maupun maksluk yang tak hidup. Semua makhluk ciptaan Allah SWT memiliki peran masing-masing dalam kehidupan ini. Dan masing-masing makhluk akan mempertanggungjawabkan bagaimana dia menjalankan perannya tersebut di muka bumi terutama manusia. Setinggi-tingginya dimensi yaitu dimensi ketuhanan dimana tiada benda atau makhluk apapun yang mampu menyamai Tuhan YME seberapapun besarnya keinginan dan kekuatan benda atau makhluk tersebut. Tuhan itu hanya satu dan akan tetap satu tidak akan bertambah atau berkurang yaitu Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Umat manusia manusia sebagai makhluk yang diberi akal dan pikiran oleh Alloh SWT, hanya dapat berusaha menjalankan perannya sebagai khalifah di bumi ini dengan sebaik-baiknya.

    ReplyDelete
  4. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Terimaksih pak sudah memberikan elegi menggapi dimensi ini, sehingga saya pribadi dapat memahami dimensi-dimensi antara batu, tumbuhan, binatang dan manusia. Tidak hanya memahami akan tetapi dapat lebih menghargai dan menjaga satu sama lain. Pada dasarnya memang antar sesama makhluk hidup yang allah ciptakan mempunyai kodratnya masing-masing. Begitu juga manusia. Manusia mempunyai kodrat tersendiri akan tetapi setiap individu mempunyai jalan hidupnya msing-masing. Dari kodrat dan adanya jalan hidup yang berbeda-beda harus kita jadikan sebagai rasa syukur dan tidak ada ajang pendengkian satu sama lain. Agar tetap menjadi insan yang selalu rendah hati dan ikhlas dihadapan Allah swt.

    ReplyDelete
  5. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Allah menciptakan segala sesuatunya dengan tugas, peran dan fungsinya masing-masing. tidaklah sama tugas batu dengan tugas tumbuhan. Tidak sama pula tugas tumbuhan dengan manusia. Semuanya telah diciptakan sepaket dengan tugasnya masing-masing. maka penting bagi setiap komponen untuk focus menyelesaikan tugasnya masing-masing, tidak overlap mengambil tugas pihak lain, pun tidak berlepas tangan dengan melimpahkan tugasnya pada pihak lain. Yang perlu dilakukan hanyalah focus menyelesaikan apa yang menjadi kewajibannya dan saling menghargai, saling menghormati antar sesame makhluk ciptaan Allah.

    ReplyDelete
  6. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Sebenar-benarnya hidup adalah menuju dimensi yang tinggi. Agar kita mempunyai dimensi yang lebih, maka pikiran dan pengalaman kita harus lebih luas, dalam, dan tinggi. Tapi karena manusia gejalanya lurus menuju siklik, berputar, artinya ada masanya dimana apa yang kita ingat menjadi lupa. Tingkah laku orang tua menjadi anak-anak lagi. Siklik terluar kita adalah spiritualisme. Sesungguhnya setinggi-tingginya dimensi adalah dimensi absolut, yaitu dimensi Allah SWT. Maka hendaknya selalu berpegang teguh pada pondasi spiritual kita

    ReplyDelete
  7. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Pengalaman-pengalaman bisa dikonstruksi menjadi ilmu. Pengalaman-pengalaman tentu berbeda-beda, namun point penting elegi diatas adalah menggunakan pengalaman-pengalaman untuk kemaslahatan umat. Menggunakannya pun harus seimbang, sehingga bisa bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang banyak. Di dunia ini dimensi bertingkat-tingkat, ada usaha untuk selalu meningkatkan dimensi, namun sebenar-benarnya manusia berusaha menggapai dimensi tertinggi tapi tidak akan mencapainya karena dimensi absolut hanya dimiliki Allah saja.

    ReplyDelete
  8. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Apabila kita ingin mengapai dimensi diri kita yang dapat menyelamatkan kita dari dunia dan akhirat, salah satu caranya adalah dengan menyeimbangkan antara kebutuhan dunia dan akhirat kita. Dengan kita bekerja atau beraktifitas yang positif kita dapat mengejar kehidupan dunia kita, ditambah dengan beribadah kita dapat mengejar pahala untuk bekal kehidupan akhirat kita. Begitulah kehidupan manusia semakin ia memperdalam iman dan taqwa, maka derajatnya akan semakin tinggi di hadapan Allah SWT.

    ReplyDelete
  9. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Elegi yang amat menarik. Manusia secara kodrat memang menjadi makhluk yang lebih mulia dibanding lainnya. Hal itu karena manusia mempunyai akal, akan tetapi manusia juga memiliki nafsu yang bisa menempatkan manusia lebih rendah daripada binatang. Adapun tingkatan manusia pun yang berbeda – beda. Orang biasa tentu lebih rendah dari pada orang berilmu. Namun orang berilmu masih rendah dibanding orang yang memiliki ilmu sekaligus nurani. Namun, sebaik – baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

    ReplyDelete
  10. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Semua makhluk ciptaan Tuhan memiliki dimensinya masing-masing. Semua mkhluk memiliki cerita dan pengalamannya sendiri-sendiri. tidak bisa disamakan dimensi dari ciptaan Tuhan, tapi antar dimensi itu saling mempengaruhi baik dalam hal kebaikan maupun kejelekan. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang sempurna dengan akalnya. Akal manusia semestinya dapat memahami perbedaan dimensi itu dan dapat menjaganya agar terus seimbang. Sebagai manusia yang berakal tidak baik jika serakah. Semua memiliki dimensi dan aturannya masing-masing agar dapat berjalan dengan teratur.

    ReplyDelete
  11. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Dimensi kehidupan itu ada ruang dan waktu, kemudian dimensi filsafat ilmu itu sendiri mencakup tiga hal, yang pertama dimensi ontologi, yang kedua dimensi epistemologis, dan yang ketiga dimensi aksiologi. Ketiganya membentuk suatu susunan filsafat yang memimpin perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan selanjutnya.

    ReplyDelete
  12. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Segala yang ada di dunia ini secara filsafat bertingkat atau berdimensi. Dimensi paling rendah adalah benda mati, misalnya batu. Batu tidak mampu berkomunikasi, batu hanya menjadi saksi. Batu tidak bisa bergerak sendiri, harus ada energi lain yang mengenainya. Dimensi diatasnya adalah tumbuhan, kemudian hewan. Manusia menempati dimensi paling tinggi diantara makhluk lain di dunia. Manusia mampu berkomunikasi, berinteraksi, merasakan cinta, dibekali dengan pikiran sehingga memiliki ilmu, dibekali hati nurani dan juga nafsu. Maka dari itu, sudah selayaknya manusia bersyukur atas apa yang dimiliki. Bentuk syukur dapat diwujudkan dengan senantiasa berdzikir dan melakukan kebaikan, tidak merusak, dan tidak merugikan. Jika dengan semua kelebihan yang dimiliki manusia tidak menggunakannya untuk kebaikan dan justru menggunakannya untuk keburukkan, maka sesungguhnya itu tidak lebih baik dari sebuah batu.

    ReplyDelete
  13. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Terimakasih prof. Marsigit atas postingan di atas. Kali ini saya belajar bagaimana segala yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini memiliki dimensi, tugas, fungsi, dan kodratnya masing-masing. Semua berperan dan berdaya guna pada ruang dan waktunya masing-masing. Kemudian setiap kita masing-masing akan mempertanggungjawabkan bagaimana kita menjalankan perannya tersebut di muka bumi terutama manusia. Setinggi-tingginya dimensi yaitu dimensi ketuhanan dimana tiada benda atau makhluk apapun yang mampu menyamai dan menyetarakan Allah swt dengan yang lain, seperti apapun bentuk, dan sekuat atau sebesar apapun keinginan dan kekuatan benda atau makhluk tersebut, tiadalah yang bisa menandinginya. Semoga kita tetap menjadi hamba yang penuh ikhlas dan syukur serta sadar akan dimensi kita di dunia. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  14. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052

    Manusia memiliki kemampuan olah piker yang sepurna dibandingkan makhlk hidup lainnya. Untuk itu, manusia dapat belajar dalam kondisi apapun, melalui persepsi dan pengalaman manusia dapat belajar. Pengalaman dapat berupa yang formal, seperti sekolah, kuliah, les, dsb atau non-formal. Sebenar-benar manusia hidup adalah untuk belajar

    ReplyDelete
  15. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052

    Dengan belajar, maka kita akan selalu melakukan olah piker. Dengan melakukan olah piker, maka manusia menjadi hidup dan menghidupi. Belajar adalah sebuah aktivitas, tujuannya dapat berupa kognitif dan afektif. Keberhasilan belajar terjadi jika kedua hal ini bisa seimbang dan bersinergi. Sehingga seorang manusia akan mencapai dimensi yang lebih tinggi, yaitu bermanfaat didunia dan diakhirat

    ReplyDelete
  16. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Segala yang ada di dunia dan alam semesta ini adalah ciptaan Allah SWT. Berbagai ciptaan yang diciptakan secara berbeda-beda dengan karakteristik yang berbeda-beda pula. Dengan keanekaragaman tersebut menjadikan kehidupan ini berjalan secara seimbang. Setiap ciptaan Allah tersebut memiliki dimensi. Manusia menempati dimensi yang paling tinggi, lalu di bawahnya ada tumbuhan dan hewan, serta dimensi yang paling rendah adalah benda mati. Perlu diingat bahwa manusia yang berilmu dan bermanfaatlah yang memiliki dimensi yang tertinggi dan dimensi yang absolute hanyalah milik sang pencipta yaitu Allah SWT

    ReplyDelete
  17. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Sebagai tambahan, Dalam elegi di atas, terdapat percakapan hewan, tumbuhan, batu, manusia, manusia yang memiliki pengetahuan, dan manusia yang memiliki bernurani dan pengetahuan. Dimensi seperti ukuran atau tingkatan. Perbedaannya terletak pada tingkatan – tingkatan dimensi yang didasarkaan atas sifat dan kodrat dari makhluk tersebut. Dimensi batu satu tingkat dibawah tumbuhan, dimensi tumbuhan satu tingkat dibawah hewan, dimensi hewan satu tingkat dibawah manusia biasa, manusia biasa satu tingkat dibawah manusia berilmu, manusia berilmu satu tingkat dibawah manusia yang bernurani dan berilmu, begitulah dimensi atau tigkatan yang relatif menurut obyek. Namun, dimensi tertinggi dan dimensi absolut adalah dimensi pencipta kita di dunia ini, Allah SWT.

    ReplyDelete
  18. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Elegi tersebut menyadarkan kita bahwa kebenaran manusia itu relatif. benarnya manusia sesuai dengan sudut pandang dan keperluan orang memandang kebenaran itu sendiri. jika meruapkan kebenaran mesti dirakan oleh semua orang, dan setiap orang mengatakan itu benar. Kebenaran yang sejati adalah kebenaran absolute milik Allah SWT. sesuatu yang datangnya dari Tuhan Yang Maha Esa adalah sesuai yang benar adanya, pasti benar jika dibuktikan. namun terkadang manusia sulit untuk menerima kebenaran yang kekal ini.Maka untuk memutuskan kebenaran, kita harus berlandaskan dan berdekatan dengan Allah SWT. Apalagi kebenaran itu tergantung ruang dak waktu , persepsi setiap orang pun berbeda beda. Maka hanya kepadaNya kita berlindung

    ReplyDelete
  19. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Dalam filsafat kita ketahui ada empat dimensi yang begitu terkenal yaitu dimensi material, formal, normatif, dan spiritual. Dimensi-dimensi itu berguna untuk mengintesifkan pengertian dari suatu istilah, makna atau bahasa. Dimensi material meliputi spiritual, dimensi formal meliputi material dan spiritual, dimensi normatif meliputi formal dan spiritual, dan dimensi spiritual meliputi semuanya yaitu material, formal dan normatif.

    ReplyDelete
  20. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs PMAT C

    Manusia merupakan makhluk yang diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk mengubah dimensinya. Perubahan dimensi dan kodrat ini dapat berubah menjadi lebih tinggi (lebih baik) atau bahkan lebih rendah bahkan dari benda mati sekalipun. Dengan ikhtiar (usaha) untuk menjadi lebih baik dimensi serta kodratnya akan menjadi lebih tinggi, tetapi untuk manusia yang tidak berikhtiar dimensi serta kodratnya akan lebih rendah bahkan dari benda mati sekalipun. Karena itulah kita harus menggunakan kesempatan yang kita miliki sebaik mungkin.

    ReplyDelete
  21. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Setiap benda yang ada di muka bumi ini memiliki dimensinya masing-masing. Manusia sebagai makhluk yang berada dalam dimensi yang lebih tinggi daripada makhluk dan benda yang lainnya, hendaklah terus meningkatkan tingkatan dimensinya.

    ReplyDelete
  22. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Menjadi manusia yang memiliki dimensi tinggi saja tidaklah akan bermakna apabila sifatnya menyakiti makhluk lainnya. Manusia haruslah memiliki iman dan ilmu supaya bisa menjadi manusia yang berlaku adil terhadap makhluk Allah yang lain.

    ReplyDelete
  23. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Seperti yang diungkapkan pada elegi diatas bahwa setinggi-tinggi dimensi adalah dimensi absolut yaitu dimensi Tuhan yang Maha Esa. Kita sebagai umat manusia agar selalu menuntut ilmu agar dapat meningkatkan dimensi kita dan lebih mendekatkan diri kepadanya. Sesuai dengan Firman Allwa SWT “Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku” (Q.S adz-Dzaariyaat ayat 56)”

    ReplyDelete
  24. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Jika manusia telah menggunakan akal pikirannya, namun tidak mengesampingkan hati, sebenarnya manusia itu telah mencapai dimensi yang lebih tinggi. Hati digunakan untuk mengendalikan pikiran, begitu pula sebaliknya. Tidak semua hal mampu dipikirkan oleh pikiran manusia karena pikiran manusia terbatas dan bersifat sementara, di saat itu kita harus menggunakan hati nurani. Dalam meraih kesuksesan sebaiknya jangan hanya mengandalkan kekuatan pikiran semata, berusahalah menggunakan kekuatan hati nurani.
    Setiap manusia memiliki definisi sukses masing masing, dan kita tidak hanya harus sukses di dunia, maupun juga di akhirat. Selalu mendekatkan diri pada Allah karena pada akhirnya tujuan manusia adalah untuk mendapatkan rahmat Allah SWT. Maka dari itu, sebagai manusia yang telah dibekali akal pikiran dan hati nurani, harus mampu mengejar ilmu-ilmu dunia maupun akhirat. Ilmu akhirat berguna untuk memantaskan diri dan menambah keimanan serta akhlak mulia sehingga dapat memperoleh kebahagiaan dunia daan akhirat.

    ReplyDelete
  25. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Di dalam kehidupan, semua makhluk hidup diciptakan oleh Tuhan YME dengan tingkatan/dimensi yang berbeda-beda. Hal itu tergantung pada pada kodrat yang telah Tuhan pilihkan atau takdirkan olehnya. Namun makhluk hidup yang memiliki dimensi paling tinggi adalah manusia bernurani dan berilmu, hal ini berarti di dalam kehidupannya dia tidak hanya mementingkan urusan dunia namun juga mementingkan urusan akhirat. Dia selalu berikhtiar namun tidak lupa bersyukur, beribadah, dan berdoa.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  26. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Dalam kehiduapn kita, kita semua diberikan perintah untuk selalu membaca dan membaca. Hal ini sebagai tanda bahwa kita hidup itu harus belajar dan belajar. Jadi belajar sepanjang hayart memang penting, karena belajar sepanjang hayat tidak akan habis ilmu yang dipelajari. Karena ilmu yang ada di dunia ini sangatlah luas sekali. Jadi selalu hauslah akan ilmu guna berfikir untuk belajar dan terus belajar sampai akhir hayat.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  27. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    “Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu, dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Muj├ódalah 11). Salah satu penjelasan ayat ini, seperti pemahamanku yang dituliskan dalam artikel di atas. Orang-orang akan diangkat drajatanya tatkala mereka berilmu, batu dan tubuhan –contoh dalam artikel, menjelaskan bagaimana mereka sderajat. Kemudian diatas mereka ada manusia, kemudian ada manusia yang berilmu. Mereka saling membanggakan dirinya sendiri satu sama lain. Tetapi ada satu oang yang tidak membanggakan dirinya, yakni manusia yang berilmu tetapi memiliki nurani mengenai kemanusia. Sebab nurani ini yang dapat menghargai satu sama lain dalam kehidupan ini.

    ReplyDelete
  28. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dari artikel ini dapat disimpulkan bahwa diatasnya ilmu ada sebuah nurani. Nurani yang akan membawakan seseorang bisa mengakomodir serta menghargai satu sama lain. Coba perhatikan penggalan kalimata ini, “Aku mengajak kepada saudara-saudaraku marilah selalu menuntut ilmu baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat, agar kita bisa meningkatkan dimensi kita. Setinggi tinggi dimensi adalah dimensi absolut, yaitu dimensi Tuhan YME.”

    ReplyDelete
  29. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    mausia merupakan ciptaan Tuhan yang paling sempurna, manusia diberi akal fikiran supaya mereka bisa menciptakan keadaan damai dan seimbang didunia. manusia juga perlu menuntut ilmu supaya mereka bisa membagikan ilmu yang mereka dapat kepada sesamanya

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dewi Thufaila
      17709251054
      Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

      Assalamualaikum.wr.wb

      trimakasih pak, setelah saya membaca elegi diatas saya mengetahui bahwa kesemuanya itu memiliki tingkatan dimensi masing-masing, semua sudah sesuai dengan kodratnya. baik sebagai tumbuhan,hewan, manusia, maupun manusia berilmu. semua itu sudah memiliki kapasitasnya masing-masing tinggal bagaimana obyek-obyek tersebut dalam tingkatan dimensinya menggunakan secara maksimal.

      Wassalamualaikum.wr.wb

      Delete
  30. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    Dari berbagai artikel yang saya baca begitupun dalam mempelajari filsafat jika ditinjau lebih jauh dalam filsafat terdapat empat dimensi yaitu dimensi material, formal, normatif, dan spiritual. keempat dimensi itu masih berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Material berdimensi, formal berdimensi, normatif berdimensi, dan spiritual juga berdimensi. Dimensi material meliputi spiritual, dimensi formal meliputi material dan spiritual, dimensi normatif meliputi formal dan spiritual, dan dimensi spiritual meliputi semuanya yaitu material, formal dan normatif.Dimensi material itu secara singkat berarti isi. Dimensi material itu dapat diartikan bagaimana orang melihat dan memaknai benda-benda di sekitar kita.Dimensi formal juga berdimensi. Misalkan kalau kita kedatangan tamu, cara berpakaian seseorang menunjukkan tingkat keformalannya.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  31. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Elegi menggapai dimensi, setiap hal memiliki dimensi yang berbeda. Setiap manusia mempunyai nasib yang berbeda. Setiap siswa memikirkan suatu hal dengan cara yang berbeda. Dalam pembelajaran di era saat ini, kami para guru diminta untuk melatih anak memperoleh ilmu melalui pengalaman dalam pembelajaran. Dengan pengalaman tersbeut diharapkan siswa bisa menanamkan konsep tentang pengetahuan lebih dalam agar lebih mudah dalam mengikuti proses selanjutnya.

    ReplyDelete
  32. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Manusia adalah makhluk yang paling sempurnadi muka bumi. Oleh karena itu, Allah menunjuk manusia sebagai khalifah. Sebagai khalifah, manusia harus menjaga dan melestarikan semua yang ada dan yang mungki ada di sekitarnya. Sesungguhnya Allah SWT menciptakan semua yang ada dan yang mungkin ada untuk mempermudah manusia dalam meningkatkan dimensinya, yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaanya pada Tuhan YME.

    ReplyDelete