Jul 31, 2010

Elegi Menggapai Dimensi




Oleh : Marsigit

Batu:
Jika boleh aku ingin menyampaikan isi hati dan pikiranku. Isi hati dan pikiranku akan aku sampaikan kepada siapapun, didengar ataupun tidak didengar.
Mengapa? Karena selama ini aku mengalami berbagai macam peristiwa, tetapi aku belum pernah memberitahukan kepada siapapun. Selama ini aku mengalami berbagai macam ketidak adilan. Aku mengalami penderitaan. Aku mengalami perakuan buruk. Aku mengalami pelecehan. Aku mengalami penderitaan yang luar biasa. Aku dipukul. Aku dibelah. Aku dipecah. Aku dihancurkan. Aku diledakkan. Aku diserap. Aku disedot oleh akar-akar. Aku ditumbuhi rumput-rumput. Aku disiram air. Aku dijemur di bawah terik matahari. Dan seterusnya. Aku hanya ingin mengetahui apakah nasib yang sama juga dialami oleh tumbuh-tumbuhan. Wahai tumbuh-tumbuhan, apakah engkau mendengar ceritaku ini? Jika engkau mendengar, apakah engkau juga mengalami hal yang sama denganku?

Tumbuh-tumbuhan:
Wahai batu. Sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa saya mendengan semua ceritamu. Aku juga mempunyai bermacam-macam pengalaman. Tetapi pengalamanku sedikit berbeda denganmu. Aku juga mengalami berbagai macam ketidak adilan. Aku mengalami penderitaan. Aku mengalami perakuan buruk. Aku mengalami pelecehan. Aku mengalami penderitaan yang luar biasa. Aku dipukul. Aku dibelah. Aku dipecah. Aku dihancurkan. Aku diledakkan. Aku diserap. Aku disedot oleh akar-akar. Aku ditumbuhi rumput-rumput. Aku disiram air. Aku dijemur di bawah terik matahari. Bahkan aku pernah dipotong, tetapi aku tumbuh kembali.

Batu:
Lalu apakah pengalamanmu yang berbeda dengan pengalamanku?

Tumbuh-tumbuhan:
Walaupun aku mengalami penderitaan hampir sama denganmu, tetapi setidaknya aku pernah andil sebagai sebab penderitaanmu. Bukankah engkau ingat ketika akarku menancap padamu. Goyangan tubuhku telah menentukan apakah engkau berhak memperoleh sinar atau tidak. Aku juga pernah roboh dan menimpa dirimu. Aku juga pernah digunakan orang untuk memukulmu. Aku bisa tumbuh dari kecil menjadi besar, sementara engkau tidak. Aku bisa berbuah sementara engkau tidak. Masih banyak lagi yang belum aku sebutkan. Itulah semua pengalamanku yang berbeda denganmu.

Batu:
Tidak adil. Wahai tumbuh-tumbuhan, mengapa engkau bisa melakukan yang lebih banyak dari diriku. Bahkan engkau bisa menyakiti diriku. Mengapa engkau seakan juga bisa menentukan nasib diriku? Bolehkah aku menirumu? Kalau perlu aku ingin membalas perlakuan burukmu terhadapku.

Tumbuh-tumbuhan:
Itulah sebenar-benar diriku. Dimensi diriku adalah setingkat lebih tinggi dari dimensi dirimu. Itulah kodratku dan juga kodratmu. Aku tidak tahu apakah doa-doaku dan juga doa-doamu dapat merubah nasib kita? Tunggulah batu, aku melihat ada seekor binatang hinggap pada diriku. Saya akan bertanya kepada binatang apakah mereka mempunyai pengalaman yang sama dengan kita atau tidak. Wahai binatang apakah engkau mendengarkan percakapanku dengan batu tadi? Jika engkau mendengarkan, apakah engkau juga dapat menceritakan pengalamanmu?

Binatang:
Wahai batu dan tumbuh-tumbuhan. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku mendengar semua percakapanmu berdua. Aku juga mempunyai pengalaman, tetapi pengalamanku agak berbeda dengan pengalamanmu berdua. Aku tidak banyak mengalami penderitaan. Aku tidak mengalami berbagai macam ketidak adilan. Aku tidak mengalami banyak penderitaan. Aku tidak banyak mengalami perakuan buruk. Aku tidak banyak mengalami pelecehan. Aku tidak banyak mengalami penderitaan yang luar biasa. Aku tidak banyak dipukul. Aku tidak dibelah. Aku tidak dipecah. Aku tidak dihancurkan. Aku tidak diledakkan. Aku tidak diserap. Aku tidak disedot oleh akar-akar. Aku tidak ditumbuhi rumput-rumput. Aku tidak disiram air. Aku tidak dijemur di bawah terik matahari. Tetapi aku selalu dikejar-kejar pemburu. Aku pernah ditembak. Aku pernah dipisahkan dari keluargaku. Namun pengalamn buruk itu tidak seberapa dibanding dengan pengalaman manisku. Aku mempunyai banyak pengalaman manis dan menyenangkan. Aku sering memukul engkau wahai batu dan tanaman. Aku sering menginjak-injak engkau wahai batu dan tanaman. Aku sering mengotori engkau wahai batu dan tanaman. Akulah yang sering memakan buahmu wahai tanaman. Akulah yang sering memakan daun mudamu wahai tanaman. Au juga pernah merobohkanmu. Aku juga pernah menggunakan engkau tanaman untuk memukul engkau batu. Aku gunakan engkau tanaman untuk ayunan permainanku. Aku gunakan engkau batu, untuk loncatan. Aku juga pernah memecahkanmu wahai batu. Aku bisa berlaku apa saja terhadapmu berdua.

Batu dan tumbuh-tumbuhan bersama-sama menjawab:
Tidak adil. Wahai binatang, mengapa engkau bisa melakukan yang lebih banyak dari diriku berdua. Bahkan engkau bisa menyakiti diriku berdua. Mengapa engkau seakan juga bisa menentukan nasibku berdua? Bolehkah aku berdua menirumu? Kalau perlu aku berdua ingin membalas perlakuan burukmu terhadapku.

Binatang:
Itulah sebenar-benar diriku. Dimensi diriku adalah setingkat lebih tinggi dari dimensi tumbuh-tumbuhan. Dan dua tingkat lebih tinggi dari dimensi batu. Itulah kodratku dan juga kodratmu. Aku tidak tahu apakah doa-doaku dan juga doa-doamu dapat merubah nasib kita? Tetapi tunggulah. Kelihatannya ada orang lewat. Aku ingin bertanya kepada orang itu. Wahai manusia apakah engkau mendengarkan percakapanku dengan batu dan tumbuh-tumbuhan tadi? Jika engkau mendengarkan, apakah engkau juga dapat menceritakan pengalamanmu?

Manusia :
Wahai batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku mendengar semua percakapanmu bertiga. Aku juga mempunyai pengalaman, tetapi pengalamanku sangat berbeda dengan pengalamanmu bertiga. Aku mengalami penderitaan, tetapi penderitaanku tidak seperti penderitaanmu bertiga. Aku mengalami berbagai macam ketidak adilan, tetapi bukan ketidak adilan seperti yang engkau alami. Aku mengalami banyak penderitaan, tatapi bukan penderitaan seperti yang engkau alami. Aku banyak mengalami perakuan buruk, tetapi tidak seperti perlakuan buruk yang engkau alami. Aku juga mengalami pelecehan, tetapi bukan pelecehan seperti yang engkau alami. Aku aku juga pernah dipukul. Tetapi aku tidak pernah dibelah. Aku tidak pernah dipecah. Aku tidak pernah dihancurkan. Aku tidak pernah diledakkan. Aku tidak pernah disedot oleh akar-akar. Aku tidak ditumbuhi rumput-rumput. Aku tidak disiram air. Aku tidak dijemur di bawah terik matahari. Tetapi ketahuilah bahwa aku gunakan batu dan batang tanaman untuk menangkap engkau wahai binatang. Aku jadikan engkau wahai tumbuhan dan binatang sebagai makananku. Maka aku bisa berlaku apa saja terhadapmu bertiga.

Batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang bersama-sama menjawab:
Tidak adil. Wahai manusia, mengapa engkau bisa melakukan yang lebih banyak dari diriku bertiga. Bahkan engkau bisa menyakiti diriku bertiga. Mengapa engkau seakan juga bisa menentukan nasibku bertiga? Bolehkah aku bertiga menirumu? Kalau perlu aku bertiga ingin membalas perlakuan burukmu terhadapku.

Manusia:
Itulah sebenar-benar diriku. Dimensi diriku adalah lebih tinggi dari dimensi dirimu semua. Itulah kodratku dan juga kodratmu. Aku tidak tahu apakah doa-doaku dan juga doa-doamu dapat merubah nasib kita? Tetapi tunggulah. Kelihatannya ada orang yang berbeda denganku lewat. Aku ingin bertanya kepada orang itu. Wahai saudaraku siapakah engkau? Apakah engkau mendengarkan percakapanku dengan batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang ini? Jika engkau mendengarkan, apakah engkau juga dapat menceritakan pengalamanmu?

Manusia berilmu:
Wahai batu, tumbuh-tumbuhan, binatang dan saudaraku. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku mendengar semua percakapanmu berempat. Aku juga mempunyai pengalaman, tetapi pengalamanku sangat berbeda dengan pengalamanmu berempat. Aku mengalami penderitaan, tetapi penderitaanku tidak seperti penderitaanmu berempat. Aku mengalami berbagai macam ketidak adilan, tetapi bukan ketidak adilan seperti yang engkau alami. Aku mengalami banyak penderitaan, tatapi bukan penderitaan seperti yang engkau alami. Aku banyak mengalami perakuan buruk, tetapi tidak seperti perlakuan buruk yang engkau alami. Aku juga mengalami pelecehan, tetapi bukan pelecehan seperti yang engkau alami. Aku aku juga pernah dipukul. Tetapi aku tidak pernah dibelah. Aku tidak pernah dipecah. Aku tidak pernah dihancurkan. Aku tidak pernah diledakkan. Aku tidak pernah disedot oleh akar-akar. Aku tidak ditumbuhi rumput-rumput. Aku tidak disiram air. Aku tidak dijemur di bawah terik matahari. Tetapi ketahuilah bahwa aku gunakan batu dan batang tanaman untuk menangkap engkau wahai binatang. Aku jadikan engkau wahai tumbuhan dan binatang sebagai makananku. Maka aku bisa berlaku apa saja terhadapmu bertiga. Wahai saudaraku sesama manusia, aku juga pernah meninggalkanmu sendirian. Aku pernah tidak memberimu hakmu. Aku sering menyuruhmu. Aku selalu mengaturmu. Aku membayar gajimu. Aku sering tak peduli denganmu. Aku sering tidak mendengarkan ucapan dan usulmu. Aku sering bepergian sedangkan engkau aku suruh untuk menjaga di sini. Aku punya banyak teman sedangkan engkau tidak punya teman. Aku punya banyak hiburan sedangkan engkau tidak. Aku punya banyak pengalaman sedangkan engkau tidak. Aku punya banyak keterampilan sedangkan engkau tidak. Aku selalu mengetahui dimana, kapan, kemana, dengan siapa dirimu itu. Seangkan engkau tidak mengetahuiku. Maka sebenar-benar diriku adalah dapat menentukan dirimu semua.

Batu, tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia yang pertama tadi bersama-sama menjawab:
Tidak adil. Mengapa engkau bisa melakukan yang lebih banyak dari diriku berempat?. Bahkan engkau bisa menyakiti diriku berempat. Mengapa engkau seakan juga bisa menentukan nasibku berempat? Bolehkah aku berempat menirumu? Kalau perlu aku berempat ingin membalas perlakuan burukmu terhadapku.

Manusia berilmu:
Itulah sebenar-benar diriku. Dimensi diriku adalah lebih tinggi dari dimensi dirimu semua. Itulah kodratku dan juga kodratmu. Aku tidak tahu apakah doa-doaku dan juga doa-doamu dapat merubah nasib kita? Tetapi inilah kesaksianku. Bahwa untuk engkau saudaraku manusia, maka ikhtiarmu juga merupakan kodratmu. Itulah sebenar-benar keunggulan manusia dari batu, tumbuhan dan binatang. Jika engkau berusaha, maka dimensimu dapat meningkat setara dengan dimensiku, yaitu menjadi orang yang berilmu. Tetapi tunggulah. Kelihatannya ada orang yang berbeda denganku lewat. Aku ingin bertanya kepada orang itu. Wahai saudaraku siapakah engkau? Apakah engkau mendengarkan percakapanku dengan batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang ini? Jika engkau mendengarkan, apakah engkau juga dapat menceritakan pengalamanmu?

Manusia bernurani dan berilmu:
Wahai batu, tumbuh-tumbuhan, binatang dan saudaraku-saudaraku. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku mendengar semua percakapanmu semua. Aku juga mempunyai pengalaman, tetapi pengalamanku sangat berbeda dengan pengalamanmu semua. Aku mengalami penderitaan, tetapi penderitaanku tidak seperti penderitaanmu semua. Aku mengalami berbagai macam ketidak adilan, tetapi bukan ketidak adilan seperti yang engkau alami. Aku mengalami banyak penderitaan, tatapi bukan penderitaan seperti yang engkau alami. Aku banyak mengalami perakuan buruk, tetapi tidak seperti perlakuan buruk yang engkau alami. Aku juga mengalami pelecehan, tetapi bukan pelecehan seperti yang engkau alami. Aku aku juga pernah dipukul. Tetapi aku tidak pernah dibelah. Aku tidak pernah dipecah. Aku tidak pernah dihancurkan. Aku tidak pernah diledakkan. Aku tidak pernah disedot oleh akar-akar. Aku tidak ditumbuhi rumput-rumput. Aku tidak disiram air. Aku tidak dijemur di bawah terik matahari. Tetapi ketahuilah bahwa aku gunakan batu dan batang tanaman untuk menangkap engkau wahai binatang. Aku jadikan engkau wahai tumbuhan dan binatang sebagai makananku, selama itu diijinkan oleh Tuhanku. Maka aku berusaha hidup seimbang dan harmonis. Wahai saudaraku sesama manusia, aku juga pernah meninggalkanmu sendirian, tetapi semata karena aku ingin berdoa dan menuntut ilmu. Aku berusaha jangan sampai tidak memberimu hakmu. Aku berusaha menyuruhmu sesuatu fungsi dan tugasmu. Aku mengaturmu itu memang karena amanah yang diberikan kepadaku. Aku berusaha membayar gajimu dengan tepat. Aku selalu berusaha memperdulikanmu. Aku selalu berusaha mendengarkan ucapan dan usulmu. Jika aku sering bepergian sedangkan engkau aku suruh untuk menjaga di sini, itu adalah semata-mata karena perbedaan tugas kita masing-masing. Aku punya banyak teman dan aku anggap engkau juga teman-temanku. Aku punya banyak hiburan tetapi semata-mata untuk mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Aku punya banyak pengalaman tetapi aku berusaha menggunakannya untuk kemaslahatan umat. Aku mengajak kepada saudara-saudaraku marilah selalu menuntut ilmu baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat, agar kita bisa meningkatkan dimensi kita. Setinggi tinggi dimensi adalah dimensi absolut, yaitu dimensi Tuhan YME. Aku berusaha selalu melantunkan doa-doaku. Doa-doaku itu adalah untuk semuanya. Ya Tuhan limpahkanlah karunia dan hidayah Mu bagi hamba-hambamu ini. Amien.

90 comments:

  1. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Allah SWT menciptakan berbagai macam makhluk ciptaan-Nya dengan tingkatan, dimensi, atau derajat yang berbeda-beda. Manusia merupakan salah satu makhluk ciptaan-Nya yang berada pada dimensi yang paling tinggi dibandingkan makhluk ciptaan Allah lainnya. Di antara manusia-manusia itu sendiri, manusia yang berilmu dan bernurani lah yang berada pada dimensi lebih tinggi dari manusia lainnya.

    ReplyDelete
  2. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Meskipun manusia berada pada dimensi yang paling tinggi daripada makhluk ciptaan Allah lainnya, manusia harus lah rendah hati dan menghargai makhluk lainnya. Karena semua yang manusia itu berbuat akan kembali kepada ke manusia itu sendiri.

    ReplyDelete
  3. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang paling mulia jika dibandingkan dengan makhluk lain. Hal yang membedakan manusia dengan makhluk lain adalah spiritual, emosional dan intelektual. Segala sesuatu yang diciptakan memiliki dimensi masing-masing dan segala sesuatu diciptakan pasti ada fungsinya.

    ReplyDelete
  4. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Salah satu hal yang saya dapatkan dari elegi di atas adalah setiap makhluk yang diciptakah Tuhan YME itu berbeda –beda. Jangan merasa rendah di antara yang lainya, jangan merasa paling menderita. Karena sebenarnya masih banyak makhluk di luar sana yang lebih menderita dari kita, hanya saja kita tidak tahu. Semua itu sudah diatur oleh Tuhan YME. Percaya saja bahwa semua itu yang terbaik.

    ReplyDelete
  5. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dimensi setiap makhluk ciptaan-Nya itu berbeda – beda. Untuk menaikkan dimensi yang dimiliki tentu butuh proses. Manusia berilmu dimensinya lebih rendah daripada manusia benurani dan berilmu. Dimensi bisa dinaikkan dengan belajar. Sebagai mahasiswa, salah satu contoh konkret yang bisa dilakukan dengan belajar, senantiasa menngejar ilmu, dan yang terpenting adalah membaca. Salah satunya dengan membaca blog ini, bisa mendapatkan banyak ilmu baru dan dapat menaikkan dimensi kita

    ReplyDelete
  6. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Seperti layaknya batu dan tumbuhan. kita sebagai manusia pasti pernah merasa diperlakukan tidak adil juga dengan manusia lain. mungkin saat di lingkungan keluarga, di sekolah, di kampus mungkin banyak perlakuan tidak adil yang kita merasa dapatkan. tetapi sesungguhnya bagaimanapun itu pasti ada hal yang orang lain juga rasakan terhadap kita atas ketidakadilan. mungkin orang lain merasa lebih tidak beruntung dibanding kita padahal kita juga merasa tidak beruntung dibanding mereka tetapi bersyukur adalah hal yang paling tepat.

    ReplyDelete
  7. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D
    Kita tidak bisa merubah takdir yang telah ditetapkan-Nya. Yang bisa kita lakukan adalah berdoa dan berikhtiar agar diberikan yang terbaik bagi kita, bukan yang terbaik menurut kita. Semoga kita dapat meningkatkan dimensi kita menjadi lebih baik tanpa melewati batas-batas-Nya

    ReplyDelete
  8. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Manusia hidup dengan menjalani dan memainkan peran pada dimensi masing-masing. Dalam hidup ini terdapat banyak dimensi. Semua yang ada mengalami dan menjalankan tugas pada dimensinya masing-masing. Seperti batu, tumbuhan, hewan begitupun manusia. Manusia juga dalam menjalankan kehidupan ini memiliki dimensi masing-masing. Mereka memiliki pekerjaan, tempat tinggal, dan teman pergaulan yang berbeda-beda. Tingkatan dimensi tersebut juga berbeda-beda. Mungkin dengan ilmu pengetahuan manusia dapat meningkatkan tingkat dimensi mereka. Namun, kita ketahui bahwa puncak atau yang berada pada dimensi tertinggi adalah Allah Yang Maha Esa.

    ReplyDelete
  9. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Bagaimana Allah SWT telah menciptakan makhluk di alam semesta ini terdiri dari dimensi yang saling berbeda, dimana dalam semua aspek ciptaan mempunyai eksistensi diri. Perubahan-perubahan yang terjadi seiring berjalannya waktu dapat mempengaruhi dimensi.

    ReplyDelete
  10. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Manusia tercipta pada dimensinya masing-masing sesuai dengan takdir yang telah dituliskan untuknya dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Sehingga dimensi itu akan terus bergerak mengalami perubahan sebagai pengaruh kondisi dan situasi dalam menjalani kehidupan. Namun dimensi yang tetap dan abadi hanya milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  11. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Di dunia ini terdapat banyak dimensi. Semua yang ada mengalami dan menjalankan tugas pada dimensinya masing-masing. Seperti batu, tumbuhan, hewan begitupun manusia. Manusia juga dalam menjalankan kehidupan ini memiliki dimensi masing-masing. Mereka memiliki pekerjaan, tempat tinggal, dan teman pergaulan yang berbeda-beda. Tingkatan dimensi tersebut juga berbeda-beda. Mungkin dengan ilmu pengetahuan manusia dapat meningkatkan tingkat dimensi mereka. Namun, kita ketahui bahwa puncak atau yang berada pada dimensi tertinggi adalah Allah Yang Maha Esa.

    ReplyDelete
  12. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Dimensi yang akan membedakan mahluk satu dengan yang lainnya. Dimensi yang diceritakan dalam elegi di atas meliputi dimensi pada mahluk hidup seperti tumbuhan, hewan dan manusia sedangakan untuk benda mati digambarkan oleh batu. Kita tahu bahwa batu benda mati yang tidak akan punya interaksi dengan apapun. Tapi ternyata batu mempunyai suara, gerakan dan lain sebagainya dikarenakan adanya dimensi. Dimensi manusia dalam kehidupan merupakan dimensi yang tinggi dari mahluk Allah lainnya karena manusia mempunyai akal sedangkan yang lainnya tidak.

    ReplyDelete
  13. Nama : Wisniarti
    NIM : 17709251037
    Kelas : PM B (Pascasarjana)


    MasyaAllah bapak, saya sangat menyukai postingan ini. Postingan "Elegi Menggapai Dimensi" ini mengajarkan bahwa kehidupan ini harus seimbang antara ilmu dan agama. Ilmu dan agama menjadikan manusia menjadi manusia yang cerdas dalam berpikir, cerdas dalam bersikap dan cerdas dalam menghargai perbedaan. Semakin dibaca dan dipahami elegi ini semakin menusuk diri saya sendiri. Saya semakin merasa tidak mengetahui apa-apa, saya merasa ikhtiar saya masih sangat kurang, saya merasa agama saya juga masih sangat kurang. Saya sangat setuju dengan tulisan ini yang mengatakan bahwa seseorang itu dibedakan dari ikhtiarnya. Semoga kita menjadi seseorang yang bernurani dan berilmu.

    Elegi Mengggapai Dimensi ini juga mengajarkan kepada kita bahwa setiap yang ada di muka bumi ini mempunyai permasalahan dan kelebihan yang bereda-beda. Sudut pandang kita saja yang bisa mendefinisikan apakah permasalahan tersebut sangat berat, buruk atau sama sekali tak ada manfaatnya. Seprti batu, dia hanya sadar terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapinya, tetapi dia tidak menyadari hal-hal yang telah dia korbankan untuk membantu tumbuhan, hewan, dan manusia. Begitupun tumbuhan, dia hanya meratapi permasalahannya tanpa menyadari bahwa dia telah berjasa agar binatang dan manusia tidak kelaparan, begitu juga binatang dan manusia yang pertama. Menyadari bahwa kita bermanfaat untuk orang lain bukan untuk menjadikan kita menjdi besar kepala, namun untuk kita senantiasa bersyukur atas nikmat-Nya. Dengan kita menyadari bahwa kita mempunyai manfaat untuk yang lain meski kecil akan menyadarkan kita betapa besar Allah SWT menciptakan semuanya, sehingga sesuatu yang kecilpun bisa bermnfaat dan dibutuhkan untuk yang lainnya.

    ReplyDelete
  14. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Tuhan sebagai pemilik dimensi absolut menciptakan manusia sebagai makhluk ciptaan dengan dimensi terbaik dibandingkan makhluk lainnya. Namun antara satu individu dengan yang lainnya, mereka sendirilah yang menentukan tingkatan dimensinya masing- masing yaitu berdasarkan ilmu dan ketaqwaannya. Manusia dengan dimensi yang tinggi memiliki nurani dan ilmu yang lebih baik, mereka memahami bahwa mereka memiliki tugas untuk selalu berikhtiar, menjaga alam semesta beserta isinya, dan peduli terhadap yang lainnya, serta mengajak makhluk yang lainnya untuk berjalan sesuai alur yang benar.

    ReplyDelete
  15. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan matematika A (PM A)

    Manusia pada hakekatnya adalah adalah mahluk yang serba terhubung, dengan masyarakat, lingkunganya, dirinya sendiri, dan tuhan yaitu Allah SWT. Manusia merupakan makhluk yang sempurna dibandingkan dengan makhluk tuhan lainnya. Manusia diberikan anugerah yang berbeda pula dengan makhluk yang lainnya. Melalui ilmu, kita dapat mempelajari berbagai dimensi dalam kehidupan. Seseorang dapat merubah tingkatan dimensinya sesuai dengan ilmu yang ia miliki. Cara pandang seseorang akan berbeda pula satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, seperti apa yang Prof. tuliskan di atas, bahwa setinggi-tinggi dimensi adalah dimensi absolut, yaitu dinemsi Tuhan YME.

    ReplyDelete
  16. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Apa yang dapat saya tangkap dari “Elegi Menggapai Dimensi” bahwa setiap makhluk yang diciptakan di dunia ini mempunyai dimensi dan derajat yang berbeda-beda. Masing-masing sudah ditentukan takdir, namun takdir itu bisa diubah dengan usaha dan do’a. Di dalam dunia ini manusia merupakan makhluk Tuhan yang paling sempurna namun di dalam ketidaksempurnaan. Andai kata kita sudah sempurna, maka kita tidak akan mengerti arti kehidupan. Manusia tidak pernah merasa puas maka yang perlu kita lakukan yaitu bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang, yakinlah bahwa kita terlahir di dunia ini mempunyai manfaat bagi orang lain dan janganlah mengeluh.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  17. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Manusia bernurani dan berilmu lebih tinggi dimensinya daripada manusia berilmu. Hal ini dikarenakan ilmu saja tidak cukup untuk menjadi manusia yang lebih tinggi dimensinya kita juga harue memiliki nurani. Manusia bernurani akan lebih bijak, lebih dapat menghargai orang lain dan lebih mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan kepadanya. Setiap manusia dapat meningkatkan dimensinya dengan berusaha untuk menambah ilmu dan menggunakan nuraninya. Setinggi-tinggi dimensi adalah absolut, yaitu dimensi Allah SWT.

    ReplyDelete
  18. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi diatas, saya dapat mengetahui bahwa dalam hidup ini ada yang namanya dimensi. Dmensi atau tingkatan. Bahasa filsafatnya sering disebut ada yang dewa, ada yang cemani dll. Misalkan dimensinya Batu dan tumbuhan itu berbeda. Dimensi tumbuhan berada diatas batu. Dan begitu seterusnya hingga tingkatan tertinggi. Sehingga sebenarnya jika ditihat lagi ketika kita sudah merasa puas akan suatu hal, maka sejatinya kita belum cukup, sehingga kita perlu terus mengembangkan diri kita mengembangkan dimensi kita. Semoga kita senantiasa diberi kemudahan dan keberkahan untuk menggapai dimensi yang lebih tinggi dan menggembangkan diri. Aminn

    ReplyDelete
  19. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Dimensi itu struktur, struktur itu bertingkat-tingkat. Semua hal yang ada di dunia ini berstruktur berhirarki. Antara objek satu dengan yang lain berbeda, struktur dalam suatu objek saja memiliki perbedaan. Meskipun berbeda-beda tetapi ada satu kesamaan dimensi yang paling tunggi hanya dimiliki oleh Tuhan saja.

    ReplyDelete
  20. Metia Novianti
    17709251021
    S2 Pendidikan Matematika A 2017
    Manusia diciptakan Allah SWT berbeda dari makhluk-makhluk lainnya. Tingkatan derajat atau dimensi antara satu manusia dengan manusia lainnya juga berbeda-beda, tergantung pada ilmu, nurani dan ketakwaannya. Semuanya itu harus kita jalankan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas agar kita dapat mencapai derajat yang tinggi di mata Allah SWT.

    ReplyDelete
  21. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Dari postingan di atas, saya berpendapat bahwa semua makhluk di bumi ini sudah berada pada kodrat dan dimensinya masing-masing. Batu, tumbuhan, dan hewan berada pada kodratnya saja. Sedangkan manusia berada pada kodrat dan dimensinya. Artinya, segala yang ada dalam batu, hewan, dan tumbuhan sudah ada dan semestinya memang ada pada mereka, tanpa adanya peningkatan. Berbeda dengan manusia, manusia memiliki daya dan akal pikir serta hati nurani. Maka dengan ketiga hal tersebut, manusia akan senantiasa dapat meningkatkan dimensinya. Melaui usaha dan kepasrahan kepada Ilahi tentu manusia dapat mencapai dimensi yang lebih tinggi. Bukankah "maka ikhtiarmu juga merupakan kodratmu"?

    ReplyDelete
  22. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Elegi ini menunjukkan bahwa setinggi-tingginya derajat manusia di bumi adalah manusia yang melakukan segalanya dalam aturan yang dibenarkan Sang Pencipta. Sebagai makhluk hidup yang diberikan akal dan pikiran, sudah sepantasnya manusia berada pada dimensi yang berbeda dengan batu, tumbuhan, dan binatang. Namun manusia yang seperti apakah yang berada pada dimensi lebih tinggi dari manusia lainnya? Nuranilah yang membedakannya. Bahkan disaat kita berpikir bahwa kita telah menjadi manusia yang baik, akankah benar di mata Allah? Hidup di dunia hanya sementara, manusia harus menghindari sifat mendzalimi baik sesama manusia, maupun kepada hewan, binatang, dan benda lainnya.

    ReplyDelete
  23. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Allah SWT menciptakan mahluk-mahluk-Nya dengan berbagai macam dimensi. setiap mahluk memiliki berbagai dimensinya sendiri-sendiri. dimensi dapat diartikan sebagai tempat atau posisi atau kedudukan mahluk tersebut di dalam sistem. pembeda setiap mahluk di dalam sistem adalah dimensi
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  24. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Setiap orang memiliki dimensi yang berbeda-beda, dimensi dapat juga diartikan sebagai posisi atau kedudukan seseorang di dalam sistem, setinggi apapun dimensi suatu mahluk di dalam sistem, jangan lupa bahwa ada dimensi tertinggi di dalam sistem kehidupan
    manapun, dimensi tertinggi tentu saja Tuhan.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  25. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna karena dia diciptakan dengan bekal akal pikiran. Kemudian makhluk yang lain diciptakan dengan dimensinya masing-masing. Dimensi yang berbeda ini bukanlah untuk membedakan strata sehingga yang lebih tinggi dapat menindas yang lebih rendah, namun dimensi ini memberikan kesempatan kepada dimensi yang lebih tinggi untuk membimbing dimensi yang lebih rendah dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki.

    ReplyDelete
  26. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Manusia pada hakikatnya diciptakan Allah sebagai mahluk yang paling sempurna diantara mahluk-mahluk Allah yang lain. Perbedaan manusia dengan mahluk yang lain adalah manusia dikaruniai akal dan pikiran sehingga dapat berpikir. Maka yang membedakan dimensi antar manusia semata-mata adalah ilmu dan iman yang dimiliki. Manusia dituntut untuk berikhtiar dan berdoa agar dapat meningkatkan diminseinya, namun manusia tidak akan mampu mencapai dimensi yang absolut. Hal itu karena dimensi yang absolut semata-mata hanyanyah milik Allah. Terimakasih.

    ReplyDelete
  27. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Setiap makhluk di muka bumi ini memiliki tingkat/ dimensi yang berbeda-beda. Dimensi tertinggi adalah dimensi absolut yaitu dimensi Allah SWT. Manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya tentunya ingin menggapai dimensi yang lebih baik. Maka untuk menggapai dimensi lebih tinggi jika dibandingkan dengan orang lain adalah dengan bernurani dan berilmu. Menempatkan hak dan kewajiban kita sesuai dengan ruang dan waktu, tidak saling mendzalimi diantara sesama dan tentunya hal tersebut dijalankan sesuai dengan ilmu yang didapat, yang tidak hanya ilmu dunia saja tetapi juga ilmu akhirat, agar ada keselarasan diantara keduanya (dunia dan akhirat). Dengan begitu tercapailah dimensi yang lebih baik dari dimensi sebelumnya. Namun setinggi-tinggi dimensi yang dapat dicapai manusia, tetap bahwa dimensi tertinggi hanyalah milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  28. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Setiap makhluk yang diciptakan di dunia ini memiliki kodratnya masing- masing. Karena itulah keadilan itu bukan berarti harus mendapatkan perlakuan yang sama. Batu tidaklah mungkin mendapat perlakuan yang sama dengan tumbuhan. Sebagaimana tumbuhan tidaklah mungkin mendapat perlakuan yang sama dengan binatang apalagi manusia. Bahkan sesama manusia tidaklah mungkin mendapat perlakuan yang sama. Semua saling melengkapi satu sama lain, tumbuhan tidak lah dapat melakukan penyerbukan jika tidak memperoleh bantuan binatang, manusia atau angin. Sebagaimana binatang tidak dapat memperoleh makanan tanpa tumbuhan. Manusia pun tidak akan ada atasan jikalau tidak ada bawahan. Maka yang terpenting adalah bagaimana setiap makhluk menggunakan keduudkan yang dimilikinya untuk memberikan manfaat dengan ikhlas kepada makhluk lain. Dan manusia sebagai makhluk yang diberi akal pikiran hendaklah berusaha menjadi lebih baik.

    ReplyDelete
  29. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Dimensi kehidupan yang ada dalam pandangan manusia bersifat relatif. Manusia yang satu dipandang mempunyai dimensi yang lebih tinggi dibanding manusia yang lain karena ilmu, harta, jabatan, keturunan, dan lain-lainnya. Apa yang menjadi parameter tingkatan dimensi dalam pandangan manusia hanya dilihat fisik atau luarnya saja. Berbeda dengan tingkatan dimensi dalam pandangan Allah SWT. Allah SWT menilai manusia dari hati dan taqwanya. Semua manusia berdimensi sama di hadapan Allah SWT, yang membedakannya ialah ketaqwaannya. Oleh karena itu, sebagai manusia hendaknya kita selalu memperbaiki diri, membersihkan hati, dan meningkatkan ketaqwaan agar dipandang oleh Allah SWT. Meskipun begitu, kita sebagai manusia tidak akan mencapai dimensi tertinggi karena setinggi-tinggi dimensi adalah dimensi absolut, yaitu dimensi ALlah SWT.

    ReplyDelete
  30. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Setiap objek yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini memiliki dimensi yang berbeda-beda. Bahkan antar objek yang sejenis pun juga berdimensi. Kita sebagai manusia memiliki dimensi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan ciptaan Allah yang lainnya, seperti benda mati, tumbuhan dan binatang. Lebih dari itu, dalam lingkup manusia pun juga terdapat berbagai dimensi.

    ReplyDelete
  31. Manusia yang berilmu memiliki dimensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan manusia yang tidak berilmu. Jika kita berusaha meningkatkan ilmu, maka dimensi kita akan meningkat. Sementara manusia yang berilmu saja memiliki dimensi yang lebih rendah dibandingkan dengan manusia yang berilmu sekaligus bernurani. Manusia yang berilmu dan bernurani ialah manusia yang sopan santun terhadap ruang dan waktu. Maka, kita hendaknya selalu mengembangkan ilmu pengetahuan yang kita miliki, baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat. Namun, di atas itu semua, dimensi yang paling tinggi ialah dimensi Tuhan Yang Maha Esa.

    ReplyDelete
  32. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    Pendidikan Matematika Kelas B(S2)


    Setiap manusia setidaknya pernah mengalami rasa seperti menderita, kehancuran, perlakuan buruk, atau merasa tidak adil. Hal tersebut karena sifat manusia yang lebih mengingat ketidakberuntungan yang hanya sedikit dibandingkan dengan karunia dan kebahagian yang banyak yang telah diberikan oleh Tuhan. Setiap orang memang pernah melakukan kesalahan, baik disengaja ataupun tidak sengaja dan hal tersebut yang menjadi penyebab runtuhnya rasa kasih karena telah dikecewakan. Tetapi kita patut menyadari belum tentu perlakuan yang dilakukan oleh orang lain terhadap diri kita memiliki maksud buruk. Bisa saja itu merupakan pikiran-pikiran buruk kita terhadap orang lain yang tidak memiliki niat jahat terhadap diri kita.

    ReplyDelete
  33. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Pengalaman setiap manusia pasti berbeda dan setiap pengalaman tersebut pasti ada maksud yang tersebunyi, tergantung bagaimana kita sebagai insan manusia menyikapi setiap pengalaman tersebut. Karena pengalaman manusia tidak selamanya pengalaman baik saja, terkdang pengalaman yang kurang baik diperlukan untuk membuat manusia tersebut menjadi lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  34. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Dimensi dalam kehidupan berbeda-beda. Dimensi tertinggi adalah dimensi absolut yaitu dimensi Allah SWT. Setiap manusia, akan menentukan tingkatan dimensinya masing- masing berdasarkan ilmu dan ketaqwaannya. Manusia dengan dimensi yang tinggi memiliki nurani dan ilmu yang lebih baik. Dan sudah hakekatnya bahwa manusia membutuhkan alam sekitar seperti batu, tumbuhan dan hewan. Semua sudah di atur oleh Allah SWT.

    ReplyDelete
  35. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    dari tulisan di atas, pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa pada hakekatnya, hanya manusia yang bernurani dan berilmu lah yang dapat menempatkan dimensi nya terhadap dimensi-dimensi yang lain dengan posisi dan porsi yang tepat. dan semua yang terjasi diantara para dimensi pada hakekatnya dalam kendali dimensi absolut, yaitu dimensi Tuhan YME

    ReplyDelete
  36. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Elegi menggapai dimensi menunjukkan tingkatan dimensi dari paling rendah ke tinggi. Dimensi terendah dalam elegi ini adalah batu, tingkat dimensi selanjutnya adalah tumbuhan, lalu binatang, kemudian manusia, selanjutnya manusia berilmu, lalu manusia bernurani dan berilmu. Elegi ini menyampaikan bahwa dimensi dengan tingkat yang lebih tinggi dapat mengatur dan memanfaatkan dimensi tingkat di bawahnya. Dimensi manusia bernurani dan berilmu dalam memiliki niat yang baik dengan dimensi tingkat dibawahnya. Jadi, sebagai manusia milikilah dimensi bernurani dan berilmu. Akan tetapi, dimensi yang absolut adalah dimensi milik Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Maha Esa sudah barang tentu Maha Pengatur dan Maha Penyayang terhadap semua tingkat dimensi yang ada.

    ReplyDelete

  37. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Setiap yang Allah ciptakan memiliki keadaan yang berbeda-beda sehingga menempati dimensi ruang dan waktunya masing-masing. Begitupun manusia, meskipun sama-sama manusia tetapi jika pondasinya berbeda maka memiliki dimensi ruang dan waktu yang berbeda pula. Ketika subjek melihat subjek lain yang dapat melakukan lebih banyak hal, pada saat itu pula subjek lain berpotensi melakukan perubahan cara berpikir dan cara bertahan hidup supaya meraih dimensi ruang dan waktu yang lebih baik lagi. Manusia yang memiliki dimensi ruang dan waktu yang paling baik yaitu manusia yang bernurani dan berilmu. Selain pandai bersyukur atas dimensinya, manusia tersebut juga tidak hanya mendoakan dirinya sendiri melainkan mendoakan untuk saudara-saudaranya juga supaya mendapatkan karunia dan hidayah Allah SWT.

    ReplyDelete
  38. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)
    Terimakasih Prof
    Saya belajar tentang dimensi. Menurut pemahaman saya setelah membaca postingan Bapak, segala yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini memiliki dimensi masing-masing. Dimensi dari bawah adalah benda-benda mati misalnya batu, kemudian naik yaitu dimensi tumbuh-tumbuhan, naik lagi dimensi hewan, di atas dimensi hewan ada dimensi manusia. Dalam hidup ini dimensi manusia pun masih bertingkat dari bawah yaitu dimensi manusia yang tidak berilmu, dimensi manusia berilmu, dan yang paling tinggi adalah dimensi manusia berilmu dan bernurani. Selanjutnya hal yang dapat saya pelajari adalah bahwa seseorang yang berilmu akan dapat memiliki kuasa atas segala yang ada dan yang mungkin ada pada dimensi di bawahnya tetapi seringkali menggunakan kuasanya untuk menyiksa dan berlaku tidak adil. Sedangkan ketika manusia berilmu juga bernurani akan dapat menggunakan kuasanya sebagai amanah dan untuk menjaga serta mengayomi apa yang menjadi obyek kuasa tersebut.

    ReplyDelete
  39. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Dimensi manusia ya dimensi manusia. Tidak mungkin manusia bisa menembus dimensi hewan, malaikat apalagi dimensi spiritual tertinggi yaitu Allah. Maka dari itu, setiap ujian cobaan yang datang sudah tentu sudah sesuai dengan takarannya. Cobaan tidak pernah melebihi batas kemampuan kita. Manusia diciptakan hanya untuk beribadah semata-mata kepada ALLAH SWT untuk meningkatkan derajat(dimensi)nya. Dan untuk meningkatkan derajat dimensinya tersebut manusia harus belajar, mengaji, berguru, berilmu. Seperti yang ada bahwa dimensi yang tertinggi adalah demensi spiritual yang mendasari semua kegiatan.

    ReplyDelete
  40. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Tuhan mencipkatakan segala hal di bumi, ada maksud-Nya. Batu memiliki tugas dan tanggungjawabnya sendiri. Tumbuhan memiliki tugas dan tanggungjawabnya sendiri. Binatang memiliki tugas dan tanggungjawabnya sendiri. Manusia pun memiliki memiliki tugas dan tanggungjawabnya sendiri. Semua sudah memiliki kodrat masing-masing. Itulah yang saya pahami tentang dimensi. Dalam menjalani tugas dan tanggungjawab, kita banyak mengalami rintangan. Semakin tinggi tingkatan dimensi, maka makin berat pula rintangannya. Dibelah, dipecah, dipukul, diinjak, berat memang, karena dimensi kita berbeda dengan dimensi batu atau tumbuhan ataupun hewan, karena tugas dan tanggungjawab kita juga berbeda. Yang menjadi pilihan kita adalah bagaimana sikap kita. Memilih untuk mati atau bertumbuh menjasi aemakin kuat dalam menjalani hidup. Bersyukur untuk setiap rintangan yang ada dalam hidup yang akan membuat kita semakin kuat.

    ReplyDelete
  41. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Percakapan batu, tumbuhan binatang, manusia merupakan bentuk dari dinamnika kedidupan di dunia. Bahwasanya setiap makhluk ciptaan Nya tidak lepas akan adanya kebahagiaan dan cobaan. Cobaan makhluk satu dan lainnya boleh jadi berbeda karena sesunggunya keadilan bukan karena sama, namun keadilan itu adalah sesuai porsinya. Maka dari titu hidup adalah sawang sinawang, kita tidak boleh iri dengan kehidupan orang lain karena kehidupan yang kita miliki adalah hal yang terbaik anugerah dari Tuhan. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  42. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Terimakasih prof, ilmu yang prof sampaikan melalui elegi ini sangat membuat saya terkesan serta kagum. saya kagum tentang percakapan manusia batu hewan dan tumbuhan yang membawa makna ini.
    manusia diciptakan berbeda dengan makhluk lainnya. yang membedakannya ialah akal yang dipakai untuk menjalakan perbuatan perbuatan berlandaskan akhlak. tidak ada yang dapat merubah takdir Allah. kita tidak bisa memilih kodrat kita masing-masing namun apapun kita, dapat dipasti cuma ada satu pencipta dimuka bumi ini. yaitu Allah SWT. dengan begitu benar kata org berilmu dan berhati nurani mari kita menjadi pribadi yang mengunakan pengalaman pengalaman yang kita telah lakukan untuk kemaslahatan umat untuk menjadi daerah kita menjadi lebih baik dan berkah. aminn

    ReplyDelete
  43. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Hakekat manusia sebagai makhluk Allah Swt., diciptakan dalam bentuk paling sempurna. Manusia adalah makhluk spiritual yang akan menjalani fase-fase peristiwa kehidupan baik sebelum lahir, sekarang maupun setelah mati. Begitupun dengan batu dan tumbuh-tumbuhan yang juga makhluk ciptaan Allah Swt yang merupakan makhluk spiritual, mereka diam-diam berdzikir tanpa kita ketahui, dan mereka juga bisa menjadi saksi atas perbuatan baik-buruk manusia kelak di akhirat.

    ReplyDelete
  44. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Mengawali tanggapan yang saya berikan rasanya tidak lengkap tanpa pengucapan syukur terlebih dahulu. Saya merasa bersyukur diciptakan oleh Allah dengan bentuk yang sempurna dari makhluk ciptaan yang lainnya. Akal dan hati yang ada di dalam diri dapat mengarahkan pada suatu ilmu dan memaknai pengalaman yang terjadi. Melalui ulasan ini memberikan pandangan bahwa saat saya mencari keadilan di dunia mungkin sepertinya saya juga tidak mendapatkan keadilan yang mutlak. Lain halnya dengan sifat Maha Adil pada Allah yang senantiasa bersifat absolut. Namun, bagaimana kita melihat suatu keadilan yang Allah berikan kepada manusia ataupun makhluk hidup lainnya? Semoga saya dapat menemukannya dalam postingan yang lain. Terima kasih Prof untuk ilmu yang sudah diberikan.

    ReplyDelete
  45. Nurika Miftahuljannah
    17709251060
    PPs P. Mat C
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Aamiin aamiin aamiin Ya Rabbal ‘alamin. Semoga Allah mengabulkan do’a Profesor dan umat manusia yang lainnya yang berdoa memohon kepada Allah SWT dan Allah mengembalikan doa yang baik kepada kita semua. Aamiin.
    Tulisan Prof. pada elegi ini bermaksud untuk menjelaskan bahwa semua makhluk di dunia ini baik yang hidup maupun mati memiliki dimensinya masing-masing. Semua memiliki kodratnya sendiri-sendiri baik itu dalam bentuk kebahagiaan maupun penderitaannya. Tak jarang kita selalu menginginkan diri kita menjadi seperti orang lain yang kita anggap memiliki kelebihan. Selalu merasa kurang atas apa yang sudah kita miliki. Apa sebenarnya yang menyebabkan hal tersebut terjadi ??? Mungkin kita perlu berintrospeksi diri. Sudahkah kita bersyukur? Sudahkah kita berusaha? Sudahkah kita berdoa?
    Hanya kita sendiri yang bisa menjawab.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  46. Nurika Miftahuljannah
    17709251060
    PPs P. Mat C
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Semua makhluk di dunia ini memang memiliki dimensi masing-masing. Tetapi kita juga berhak berusaha agar dimensi kita menjadi lebih baik. Mengurangi penderitaan, meningkatkan taraf kebahagiaan. Dalam agama saya, yaitu Islam jika ingin dilimpahkan rezeki kia diajarkan untuk selalu bersyukur dengan apa yang usdah kita miliki, bersedekah kepada mereka yang membutuhkan, dan tak lupa disertai dengan doa yang bisa dilakukan dengan sholat Dhuha. Saya pribadi sangat meyakini itu semua dan alhamdulillah dalam segala keadaan apapun saya merasa Allah selalu membukakan jalan dari masalah yang ada. Wallahualam. Semua kita sendiri yang merasakan. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang disayang Allah SWT dan dimudahkan dalam usaha melangkah ke arah dimensi yang lebih baik. Aamiin.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  47. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Dimensi manusia ya dimensi manusia. Tidak mungkin manusia bisa menembus dimensi hewan, malaikat apalagi dimensi spiritual tertinggi yaitu Allah. Maka dari itu, setiap ujian cobaan yang datang sudah tentu sudah sesuai dengan takarannya. Cobaan tidak pernah melebihi batas kemampuan kita. Manusia diciptakan hanya untuk beribadah semata-mata kepada ALLAH SWT untuk meningkatkan derajat(dimensi)nya. Setiap dimensi ada ujiannya sendiri, menikmati dan selalu bersyukur atas apa yang diberikan oleh Allah adalah hal paling bisa dilakukan untuk menggapai ridho-Nya. Dan untuk meningkatkan derajat dimensinya tersebut manusia harus belajar, mengaji, berguru, berilmu. Seperti yang ada bahwa dimensi yang tertinggi adalah demensi spiritual yang mendasari semua kegiatan.

    ReplyDelete
  48. Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Dari elegi diatas kita ketahui bahwa mahluk hidup itu berdimensi-dimensi, mulai dari dimensi yang rendah hingga dimensi yang tinggi. Dimensi yang tinggi selalu mendapatkan hak dan keistimewaan tersendiri dibandingkan dengan mahluk yang berdimensi lebih rendah. Bicara mengenai dimensi mahluk adalah bicara tentang potensi yang dianugerahkan Tuhan kepada mahluk-Nya. Potensi tersebut adalah potensi fatal dan potensi fital. Potensi fatal adalah potensi yang diberikan Tuhan kepada mahluk dari awal dan tidak dapat dirubah. Sedangkan potensi fital adalah potensi usaha dan doa, bahwa mahluk dapat merubah nasibnya dengan usaha dan doa.

    Sebagai manusia, kita diberi dimensi yang tinggi dibanding dengan mahluk yang lain sebagai potensi fatal, itu adalah kesempurnaan yang diberikan Tuhan kepada manusia. Walaupun begitu manusia memiliki potensi fital untuk menaikkan dimensi ketingkat yang lebih tinggi. Sejatinya manusia yang memiliki dimensi tertinggi adalah manusia yang berilmu, dan menjalankan sunatullah. Semoga kita diberi kemampuan untuk selalu berusaha dan berdoa menggapai dimensi tersebut.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  49. Latifah Pertamawati
    S2 PM B
    17709251026

    Bismillaah..
    Baru saja saya melihat personifikasi batu tumbuhan dan hewan yang sangat menarik sekali. Mereka ibarat sesuatu yang mampu berbicara dan mengemukakan pendapat-pendapatnya. Jika dilihat secara dalam menurut keyakinan agama saya, memang benar semua ciptaan Tuhan bertasbih dan senantiasa menyebut namaNya. Memang benar bahwa semua hal yang ada (dan mungkin ada) sudah tertulis oleh Tuhan sejak awal. Akan tetapi, manusia sebagai makhluk yang mempunyai derajat paling tinggi dari makhluk lainnya diberikan kemampuan untuk memilih dan kemampuan yang lebih untuk berpikir. Sebagai makhluk yang paling mulia, hendaknya manusia memanfaatkan anugerah yang telah diberikan Tuhan tersebut untuk mempelajari dan menelusuri apa-apa yang ada dan mungkin ada sehingga menjadi manusia yang berilmu (dan bernurani). Maka sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang mampu mensyukuri segala sesuatu yang ada serta mengenali keberadaan Tuhan disekitarnya.

    ReplyDelete
  50. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P. Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Dunia yang kita tempati ini adalah dimensi material yang empirik. Akhirat atau kehidupan setelah kematian adalah dimensi kekal yang abadi. Mimpi yang kita alami selama tertidur adalah dimensi abstrak yang tidak nyata. Menggapai dimensi adalah upaya menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya. Beramal dunia adalah bekal menuju ke dimensi akhirat yang kekal. Dunia yang materil ini adalah fanah sedangkan yang abadi adalah akhirat. Keterkaitan antara dua dimensi itu sangatlah kuat. Kita sebagai manusia hanya bisa berdoa dan bertakwa kepada Allah SWT. Agar selalu diiberi ridhonya. Aamii!!

    ReplyDelete
  51. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2

    Dimensi seseorang itu bertingkat-tingkat. Semakin banyak pengalaman dan semakin banyak seseorang belajar dari pengalaman akan menjadikan orang tersebut naik derajat nya..
    Orang yang tidak mau belajar diibaratkan seperti batu, digambarkan dalam elegi ini berada di bagian paling rendah..

    ReplyDelete
  52. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Bismillah...

    Elegi yang bapak tuliskan sungguh membuat saya berpikir, apakah yang saya lakukan selama ini benar, karena saya sering kali menceritakan permasalahan kepada teman lain yang mungkin saja teman saya itu mempunyai masalah yang lebih rumit dari saya.

    Dari elegi diatas dapat saya katakan, setiap makhluk mempunytai dimensinya sendiri. Manusia juga mempunyai dimensi yang berbeda antar manusia lainnya, tergantung manusia itu sendiri bagaimana cara ia mengatur dimensinya sendiri. Setiap makhluk memiliki tugas dan kelebihannya tersendiri, seperti tumbuhan yang memiliki kelebihan sebagai sumber utama dari kehidupan, akan tetapi tanpa air tumbuhan pun bisa mati. Jika tumbuhan mati maka akan terjadi putusnya rantai kehidupan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya setiap makhluk akan selalu terhubung sesuai dengan dimensinya.

    ReplyDelete
  53. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Kehidupan ini berlapis-lapis, berdimensi. Dari batu sampai spiritual. Manusia berdimensi pula, dan yang absolut adalah dimensi Tuhan. Manusia diberi akal budi, hati, yang membuatnya berpotensi memiliki dimensi yang lebih tinggi. Kuliah filsafat ini tanpa disadari ternyata membawa mahasiswa untuk menggapai dimensi yang lebih tinggi jika dijalani sungguh dengan ikhlas. Berbagai elegi yang dapat dibaca dalam blog ini semakin membawa para mahasiswa termasuk saya untuk menghayati hidup dan segala aspek yang terkandung di dalamnya.
    Bersyukur saya boleh mendapat kesempatan untuk menggapai ilmu dan sekaligus nurani melalui belajar filsafat ini, yang sungguh terasa menuntun untuk menuju dimensi yang lebih tinggi. Semakin mampu berelasi dengan orang lain, alam sekitar, dan juga semakin belajar ikhlas dalam hati, senantiasa tertuju kepada Tuhan dengan doa dan ikhtiar.

    ReplyDelete
  54. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Terima kasih Prof untuk ilmu yang telah Prof bagikan melalui elegi menggapai dimensi. Batu, tumbuhan, dan manusia mempunyai pengalaman dan perlakuan yang berbeda karena berbeda dimensinya. Dalam elegi ini saya disadarkan kembali bahwa sesama manusia pun berdimensi. Manusia tidak berilmu akan kalah dimensi atau derajatnya dengan manusia yang berilmu, manusia yang berilmu lebih rendah dimensinya dibandingkan manusia yang bernurani (beriman) dan berilmu. Benarlah firman Allah dalam QS Al Mujadalah ayat 11 bahwa Allah akan meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu.

    ReplyDelete
  55. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Kami meyakini bahwa setiap makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT dengan kehendak dan kuasa-Nya pasti mempunyai takdir dan dimensinya masing-masing baik makhluk hidup maupun maksluk yang tak hidup. Semua makhluk ciptaan Allah SWT memiliki peran masing-masing dalam kehidupan ini. Dan masing-masing makhluk akan mempertanggungjawabkan bagaimana dia menjalankan perannya tersebut di muka bumi terutama manusia. Setinggi-tingginya dimensi yaitu dimensi ketuhanan dimana tiada benda atau makhluk apapun yang mampu menyamai Tuhan YME seberapapun besarnya keinginan dan kekuatan benda atau makhluk tersebut. Tuhan itu hanya satu dan akan tetap satu tidak akan bertambah atau berkurang yaitu Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Umat manusia manusia sebagai makhluk yang diberi akal dan pikiran oleh Alloh SWT, hanya dapat berusaha menjalankan perannya sebagai khalifah di bumi ini dengan sebaik-baiknya.

    ReplyDelete
  56. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Terimaksih pak sudah memberikan elegi menggapi dimensi ini, sehingga saya pribadi dapat memahami dimensi-dimensi antara batu, tumbuhan, binatang dan manusia. Tidak hanya memahami akan tetapi dapat lebih menghargai dan menjaga satu sama lain. Pada dasarnya memang antar sesama makhluk hidup yang allah ciptakan mempunyai kodratnya masing-masing. Begitu juga manusia. Manusia mempunyai kodrat tersendiri akan tetapi setiap individu mempunyai jalan hidupnya msing-masing. Dari kodrat dan adanya jalan hidup yang berbeda-beda harus kita jadikan sebagai rasa syukur dan tidak ada ajang pendengkian satu sama lain. Agar tetap menjadi insan yang selalu rendah hati dan ikhlas dihadapan Allah swt.

    ReplyDelete
  57. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Allah menciptakan segala sesuatunya dengan tugas, peran dan fungsinya masing-masing. tidaklah sama tugas batu dengan tugas tumbuhan. Tidak sama pula tugas tumbuhan dengan manusia. Semuanya telah diciptakan sepaket dengan tugasnya masing-masing. maka penting bagi setiap komponen untuk focus menyelesaikan tugasnya masing-masing, tidak overlap mengambil tugas pihak lain, pun tidak berlepas tangan dengan melimpahkan tugasnya pada pihak lain. Yang perlu dilakukan hanyalah focus menyelesaikan apa yang menjadi kewajibannya dan saling menghargai, saling menghormati antar sesame makhluk ciptaan Allah.

    ReplyDelete
  58. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Sebenar-benarnya hidup adalah menuju dimensi yang tinggi. Agar kita mempunyai dimensi yang lebih, maka pikiran dan pengalaman kita harus lebih luas, dalam, dan tinggi. Tapi karena manusia gejalanya lurus menuju siklik, berputar, artinya ada masanya dimana apa yang kita ingat menjadi lupa. Tingkah laku orang tua menjadi anak-anak lagi. Siklik terluar kita adalah spiritualisme. Sesungguhnya setinggi-tingginya dimensi adalah dimensi absolut, yaitu dimensi Allah SWT. Maka hendaknya selalu berpegang teguh pada pondasi spiritual kita

    ReplyDelete
  59. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Pengalaman-pengalaman bisa dikonstruksi menjadi ilmu. Pengalaman-pengalaman tentu berbeda-beda, namun point penting elegi diatas adalah menggunakan pengalaman-pengalaman untuk kemaslahatan umat. Menggunakannya pun harus seimbang, sehingga bisa bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang banyak. Di dunia ini dimensi bertingkat-tingkat, ada usaha untuk selalu meningkatkan dimensi, namun sebenar-benarnya manusia berusaha menggapai dimensi tertinggi tapi tidak akan mencapainya karena dimensi absolut hanya dimiliki Allah saja.

    ReplyDelete
  60. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Apabila kita ingin mengapai dimensi diri kita yang dapat menyelamatkan kita dari dunia dan akhirat, salah satu caranya adalah dengan menyeimbangkan antara kebutuhan dunia dan akhirat kita. Dengan kita bekerja atau beraktifitas yang positif kita dapat mengejar kehidupan dunia kita, ditambah dengan beribadah kita dapat mengejar pahala untuk bekal kehidupan akhirat kita. Begitulah kehidupan manusia semakin ia memperdalam iman dan taqwa, maka derajatnya akan semakin tinggi di hadapan Allah SWT.

    ReplyDelete
  61. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Elegi yang amat menarik. Manusia secara kodrat memang menjadi makhluk yang lebih mulia dibanding lainnya. Hal itu karena manusia mempunyai akal, akan tetapi manusia juga memiliki nafsu yang bisa menempatkan manusia lebih rendah daripada binatang. Adapun tingkatan manusia pun yang berbeda – beda. Orang biasa tentu lebih rendah dari pada orang berilmu. Namun orang berilmu masih rendah dibanding orang yang memiliki ilmu sekaligus nurani. Namun, sebaik – baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

    ReplyDelete
  62. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Semua makhluk ciptaan Tuhan memiliki dimensinya masing-masing. Semua mkhluk memiliki cerita dan pengalamannya sendiri-sendiri. tidak bisa disamakan dimensi dari ciptaan Tuhan, tapi antar dimensi itu saling mempengaruhi baik dalam hal kebaikan maupun kejelekan. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang sempurna dengan akalnya. Akal manusia semestinya dapat memahami perbedaan dimensi itu dan dapat menjaganya agar terus seimbang. Sebagai manusia yang berakal tidak baik jika serakah. Semua memiliki dimensi dan aturannya masing-masing agar dapat berjalan dengan teratur.

    ReplyDelete
  63. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Dimensi kehidupan itu ada ruang dan waktu, kemudian dimensi filsafat ilmu itu sendiri mencakup tiga hal, yang pertama dimensi ontologi, yang kedua dimensi epistemologis, dan yang ketiga dimensi aksiologi. Ketiganya membentuk suatu susunan filsafat yang memimpin perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan selanjutnya.

    ReplyDelete
  64. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Segala yang ada di dunia ini secara filsafat bertingkat atau berdimensi. Dimensi paling rendah adalah benda mati, misalnya batu. Batu tidak mampu berkomunikasi, batu hanya menjadi saksi. Batu tidak bisa bergerak sendiri, harus ada energi lain yang mengenainya. Dimensi diatasnya adalah tumbuhan, kemudian hewan. Manusia menempati dimensi paling tinggi diantara makhluk lain di dunia. Manusia mampu berkomunikasi, berinteraksi, merasakan cinta, dibekali dengan pikiran sehingga memiliki ilmu, dibekali hati nurani dan juga nafsu. Maka dari itu, sudah selayaknya manusia bersyukur atas apa yang dimiliki. Bentuk syukur dapat diwujudkan dengan senantiasa berdzikir dan melakukan kebaikan, tidak merusak, dan tidak merugikan. Jika dengan semua kelebihan yang dimiliki manusia tidak menggunakannya untuk kebaikan dan justru menggunakannya untuk keburukkan, maka sesungguhnya itu tidak lebih baik dari sebuah batu.

    ReplyDelete
  65. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Terimakasih prof. Marsigit atas postingan di atas. Kali ini saya belajar bagaimana segala yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini memiliki dimensi, tugas, fungsi, dan kodratnya masing-masing. Semua berperan dan berdaya guna pada ruang dan waktunya masing-masing. Kemudian setiap kita masing-masing akan mempertanggungjawabkan bagaimana kita menjalankan perannya tersebut di muka bumi terutama manusia. Setinggi-tingginya dimensi yaitu dimensi ketuhanan dimana tiada benda atau makhluk apapun yang mampu menyamai dan menyetarakan Allah swt dengan yang lain, seperti apapun bentuk, dan sekuat atau sebesar apapun keinginan dan kekuatan benda atau makhluk tersebut, tiadalah yang bisa menandinginya. Semoga kita tetap menjadi hamba yang penuh ikhlas dan syukur serta sadar akan dimensi kita di dunia. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  66. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052

    Manusia memiliki kemampuan olah piker yang sepurna dibandingkan makhlk hidup lainnya. Untuk itu, manusia dapat belajar dalam kondisi apapun, melalui persepsi dan pengalaman manusia dapat belajar. Pengalaman dapat berupa yang formal, seperti sekolah, kuliah, les, dsb atau non-formal. Sebenar-benar manusia hidup adalah untuk belajar

    ReplyDelete
  67. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052

    Dengan belajar, maka kita akan selalu melakukan olah piker. Dengan melakukan olah piker, maka manusia menjadi hidup dan menghidupi. Belajar adalah sebuah aktivitas, tujuannya dapat berupa kognitif dan afektif. Keberhasilan belajar terjadi jika kedua hal ini bisa seimbang dan bersinergi. Sehingga seorang manusia akan mencapai dimensi yang lebih tinggi, yaitu bermanfaat didunia dan diakhirat

    ReplyDelete
  68. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Segala yang ada di dunia dan alam semesta ini adalah ciptaan Allah SWT. Berbagai ciptaan yang diciptakan secara berbeda-beda dengan karakteristik yang berbeda-beda pula. Dengan keanekaragaman tersebut menjadikan kehidupan ini berjalan secara seimbang. Setiap ciptaan Allah tersebut memiliki dimensi. Manusia menempati dimensi yang paling tinggi, lalu di bawahnya ada tumbuhan dan hewan, serta dimensi yang paling rendah adalah benda mati. Perlu diingat bahwa manusia yang berilmu dan bermanfaatlah yang memiliki dimensi yang tertinggi dan dimensi yang absolute hanyalah milik sang pencipta yaitu Allah SWT

    ReplyDelete
  69. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Sebagai tambahan, Dalam elegi di atas, terdapat percakapan hewan, tumbuhan, batu, manusia, manusia yang memiliki pengetahuan, dan manusia yang memiliki bernurani dan pengetahuan. Dimensi seperti ukuran atau tingkatan. Perbedaannya terletak pada tingkatan – tingkatan dimensi yang didasarkaan atas sifat dan kodrat dari makhluk tersebut. Dimensi batu satu tingkat dibawah tumbuhan, dimensi tumbuhan satu tingkat dibawah hewan, dimensi hewan satu tingkat dibawah manusia biasa, manusia biasa satu tingkat dibawah manusia berilmu, manusia berilmu satu tingkat dibawah manusia yang bernurani dan berilmu, begitulah dimensi atau tigkatan yang relatif menurut obyek. Namun, dimensi tertinggi dan dimensi absolut adalah dimensi pencipta kita di dunia ini, Allah SWT.

    ReplyDelete
  70. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Elegi tersebut menyadarkan kita bahwa kebenaran manusia itu relatif. benarnya manusia sesuai dengan sudut pandang dan keperluan orang memandang kebenaran itu sendiri. jika meruapkan kebenaran mesti dirakan oleh semua orang, dan setiap orang mengatakan itu benar. Kebenaran yang sejati adalah kebenaran absolute milik Allah SWT. sesuatu yang datangnya dari Tuhan Yang Maha Esa adalah sesuai yang benar adanya, pasti benar jika dibuktikan. namun terkadang manusia sulit untuk menerima kebenaran yang kekal ini.Maka untuk memutuskan kebenaran, kita harus berlandaskan dan berdekatan dengan Allah SWT. Apalagi kebenaran itu tergantung ruang dak waktu , persepsi setiap orang pun berbeda beda. Maka hanya kepadaNya kita berlindung

    ReplyDelete
  71. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Dalam filsafat kita ketahui ada empat dimensi yang begitu terkenal yaitu dimensi material, formal, normatif, dan spiritual. Dimensi-dimensi itu berguna untuk mengintesifkan pengertian dari suatu istilah, makna atau bahasa. Dimensi material meliputi spiritual, dimensi formal meliputi material dan spiritual, dimensi normatif meliputi formal dan spiritual, dan dimensi spiritual meliputi semuanya yaitu material, formal dan normatif.

    ReplyDelete
  72. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs PMAT C

    Manusia merupakan makhluk yang diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk mengubah dimensinya. Perubahan dimensi dan kodrat ini dapat berubah menjadi lebih tinggi (lebih baik) atau bahkan lebih rendah bahkan dari benda mati sekalipun. Dengan ikhtiar (usaha) untuk menjadi lebih baik dimensi serta kodratnya akan menjadi lebih tinggi, tetapi untuk manusia yang tidak berikhtiar dimensi serta kodratnya akan lebih rendah bahkan dari benda mati sekalipun. Karena itulah kita harus menggunakan kesempatan yang kita miliki sebaik mungkin.

    ReplyDelete
  73. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Setiap benda yang ada di muka bumi ini memiliki dimensinya masing-masing. Manusia sebagai makhluk yang berada dalam dimensi yang lebih tinggi daripada makhluk dan benda yang lainnya, hendaklah terus meningkatkan tingkatan dimensinya.

    ReplyDelete
  74. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Menjadi manusia yang memiliki dimensi tinggi saja tidaklah akan bermakna apabila sifatnya menyakiti makhluk lainnya. Manusia haruslah memiliki iman dan ilmu supaya bisa menjadi manusia yang berlaku adil terhadap makhluk Allah yang lain.

    ReplyDelete
  75. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Seperti yang diungkapkan pada elegi diatas bahwa setinggi-tinggi dimensi adalah dimensi absolut yaitu dimensi Tuhan yang Maha Esa. Kita sebagai umat manusia agar selalu menuntut ilmu agar dapat meningkatkan dimensi kita dan lebih mendekatkan diri kepadanya. Sesuai dengan Firman Allwa SWT “Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku” (Q.S adz-Dzaariyaat ayat 56)”

    ReplyDelete
  76. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Jika manusia telah menggunakan akal pikirannya, namun tidak mengesampingkan hati, sebenarnya manusia itu telah mencapai dimensi yang lebih tinggi. Hati digunakan untuk mengendalikan pikiran, begitu pula sebaliknya. Tidak semua hal mampu dipikirkan oleh pikiran manusia karena pikiran manusia terbatas dan bersifat sementara, di saat itu kita harus menggunakan hati nurani. Dalam meraih kesuksesan sebaiknya jangan hanya mengandalkan kekuatan pikiran semata, berusahalah menggunakan kekuatan hati nurani.
    Setiap manusia memiliki definisi sukses masing masing, dan kita tidak hanya harus sukses di dunia, maupun juga di akhirat. Selalu mendekatkan diri pada Allah karena pada akhirnya tujuan manusia adalah untuk mendapatkan rahmat Allah SWT. Maka dari itu, sebagai manusia yang telah dibekali akal pikiran dan hati nurani, harus mampu mengejar ilmu-ilmu dunia maupun akhirat. Ilmu akhirat berguna untuk memantaskan diri dan menambah keimanan serta akhlak mulia sehingga dapat memperoleh kebahagiaan dunia daan akhirat.

    ReplyDelete
  77. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Di dalam kehidupan, semua makhluk hidup diciptakan oleh Tuhan YME dengan tingkatan/dimensi yang berbeda-beda. Hal itu tergantung pada pada kodrat yang telah Tuhan pilihkan atau takdirkan olehnya. Namun makhluk hidup yang memiliki dimensi paling tinggi adalah manusia bernurani dan berilmu, hal ini berarti di dalam kehidupannya dia tidak hanya mementingkan urusan dunia namun juga mementingkan urusan akhirat. Dia selalu berikhtiar namun tidak lupa bersyukur, beribadah, dan berdoa.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  78. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Dalam kehiduapn kita, kita semua diberikan perintah untuk selalu membaca dan membaca. Hal ini sebagai tanda bahwa kita hidup itu harus belajar dan belajar. Jadi belajar sepanjang hayart memang penting, karena belajar sepanjang hayat tidak akan habis ilmu yang dipelajari. Karena ilmu yang ada di dunia ini sangatlah luas sekali. Jadi selalu hauslah akan ilmu guna berfikir untuk belajar dan terus belajar sampai akhir hayat.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  79. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    “Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu, dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Muj├ódalah 11). Salah satu penjelasan ayat ini, seperti pemahamanku yang dituliskan dalam artikel di atas. Orang-orang akan diangkat drajatanya tatkala mereka berilmu, batu dan tubuhan –contoh dalam artikel, menjelaskan bagaimana mereka sderajat. Kemudian diatas mereka ada manusia, kemudian ada manusia yang berilmu. Mereka saling membanggakan dirinya sendiri satu sama lain. Tetapi ada satu oang yang tidak membanggakan dirinya, yakni manusia yang berilmu tetapi memiliki nurani mengenai kemanusia. Sebab nurani ini yang dapat menghargai satu sama lain dalam kehidupan ini.

    ReplyDelete
  80. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dari artikel ini dapat disimpulkan bahwa diatasnya ilmu ada sebuah nurani. Nurani yang akan membawakan seseorang bisa mengakomodir serta menghargai satu sama lain. Coba perhatikan penggalan kalimata ini, “Aku mengajak kepada saudara-saudaraku marilah selalu menuntut ilmu baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat, agar kita bisa meningkatkan dimensi kita. Setinggi tinggi dimensi adalah dimensi absolut, yaitu dimensi Tuhan YME.”

    ReplyDelete
  81. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    mausia merupakan ciptaan Tuhan yang paling sempurna, manusia diberi akal fikiran supaya mereka bisa menciptakan keadaan damai dan seimbang didunia. manusia juga perlu menuntut ilmu supaya mereka bisa membagikan ilmu yang mereka dapat kepada sesamanya

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dewi Thufaila
      17709251054
      Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

      Assalamualaikum.wr.wb

      trimakasih pak, setelah saya membaca elegi diatas saya mengetahui bahwa kesemuanya itu memiliki tingkatan dimensi masing-masing, semua sudah sesuai dengan kodratnya. baik sebagai tumbuhan,hewan, manusia, maupun manusia berilmu. semua itu sudah memiliki kapasitasnya masing-masing tinggal bagaimana obyek-obyek tersebut dalam tingkatan dimensinya menggunakan secara maksimal.

      Wassalamualaikum.wr.wb

      Delete
  82. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    Dari berbagai artikel yang saya baca begitupun dalam mempelajari filsafat jika ditinjau lebih jauh dalam filsafat terdapat empat dimensi yaitu dimensi material, formal, normatif, dan spiritual. keempat dimensi itu masih berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Material berdimensi, formal berdimensi, normatif berdimensi, dan spiritual juga berdimensi. Dimensi material meliputi spiritual, dimensi formal meliputi material dan spiritual, dimensi normatif meliputi formal dan spiritual, dan dimensi spiritual meliputi semuanya yaitu material, formal dan normatif.Dimensi material itu secara singkat berarti isi. Dimensi material itu dapat diartikan bagaimana orang melihat dan memaknai benda-benda di sekitar kita.Dimensi formal juga berdimensi. Misalkan kalau kita kedatangan tamu, cara berpakaian seseorang menunjukkan tingkat keformalannya.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  83. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Elegi menggapai dimensi, setiap hal memiliki dimensi yang berbeda. Setiap manusia mempunyai nasib yang berbeda. Setiap siswa memikirkan suatu hal dengan cara yang berbeda. Dalam pembelajaran di era saat ini, kami para guru diminta untuk melatih anak memperoleh ilmu melalui pengalaman dalam pembelajaran. Dengan pengalaman tersbeut diharapkan siswa bisa menanamkan konsep tentang pengetahuan lebih dalam agar lebih mudah dalam mengikuti proses selanjutnya.

    ReplyDelete
  84. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Manusia adalah makhluk yang paling sempurnadi muka bumi. Oleh karena itu, Allah menunjuk manusia sebagai khalifah. Sebagai khalifah, manusia harus menjaga dan melestarikan semua yang ada dan yang mungki ada di sekitarnya. Sesungguhnya Allah SWT menciptakan semua yang ada dan yang mungkin ada untuk mempermudah manusia dalam meningkatkan dimensinya, yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaanya pada Tuhan YME.

    ReplyDelete
  85. Yuni Pratiwi
    15301241005
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Terimakasih pak Prof Marsigit atas tulisan yang sangat menginspirasi saya. Dari judul tulisan ini saya sudah penasaran tulisannya akan terfokus kepada apa. Ternyata tulisan ini berfokus pada dimensi makhluk hidup. Dari tulisan ini saya sadar bahwa sebagai manusia saya jelas bukan dimensi makhluk hidup yang paling baik, hal ini sesuai dengan tulisan prof, bahwa setinggi-tingginya dimensi absolut bukan dimensi manusia. Sebagai manusi kita harus senantiasa meningkatkan dimensi kita, harus belajar bersyukur, tidak tamak, menghargai makhluk hidup yang lain. Seperti tulisan prof mengenai manusia yang bernurani dan berilmu, meskipun kita dapat bertindak semena-mena terhadap dimensi makhluk hidup yang lain tapi kita harus ingat saling menghargai itu adalah kunci sebuah kehidupan yang seimbang dan harmonis. Bayangkan saja jika tidak ada dimensi makhluk hidup yang lain, apa kita masih bisa hidup? Tentu saja tidak bukan? Maka dari itu belajarlah untuk meningkatkan dimensi kita tanpa menghancurkan dimensi lain.

    ReplyDelete
  86. Monica Ansella
    15301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Tiap makhluk ciptaan-Nya memiliki tingkat dimensi yang berbeda. Dimensi manusia berbeda dengan dimensi binatang, dimensi tanaman, dan dimensi benda-benda mati. Tingkat dimensi manusia berada jauh lebih rendah dari dimensi absolut, yaitu Tuhan. Sebagai manusia, yang dapat dilakukan untuk menggapai dimensi absolut adalah dengan senantiasa menaati aturan-Nya. Meskipun dimensi absolut tidak akan pernah dicapai oleh manusia, setidaknya manusia harus selalu berusaha untuk mencapainya. Dengan mentaati perintah-Nya, manusia mampu memenuhi kodratnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna.

    Sayangnya, tidak jarang manusia lupa akan kodrat dan tingkat dimensinya sebagai ciptaan Tuhan. Ada manusia yang berlagak lebih tinggi dari Tuhan sehingga ia bertindak semena-mena seakan ia yang memiliki dunia. Elegi ini mengingatkan kita siapa pemilik dimensi absolut yang sesungguhnya. Dialah yang memiliki dimensi tertinggi dan selamanya tak akan tergantikan.

    ReplyDelete
  87. Puspitarani
    15301244008
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Terima kasih Bapak atas Elegi Menggapai Dimensi yang telah Bapak share kepada kami. Yang dapat saya peroleh setelah membaca elegi ini adalah kehidupan itu berlapis-lapis dan berdimensi. Allah menciptakan batu, bintang, tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia itu ada tujuannya dan ada kegunaannya. Batu mempunyai sejarahnya sendiri mengapa dia disebut batu, dan untuk apa batu digunakan. Bintang terlihat indah di malam hari. Tumbuh-tumbuhan diciptakan untuk menghijaukan bumi ini, untuk dikonsumsi oleh para konsumennya, dan manusia diciptakan untuk merawat bumi. Manusia tidak boleh semena-mena dengan batu dan tumbuh-tumbuhan sekalipun. Batu dan tumbuhan juga mempunyai perasaan. Baik manusia, batu dan tumbuh-tumbuhan sama-sama diciptakan oleh Allah untuk saling melengkapi kehidupan ini.

    ReplyDelete
  88. Febriana Putri Hutami
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241007

    Dimensi manusia berbeda dengan dimensi makhluk lain, seperti tumbuhan, binatang maupun batu. Hal ini karena manusia memiliki akal dan budi. Dimensi antara manusia satu dengan manusia yang lain pun dapat berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh ilmu yang dimiliki. Untuk menaikkan dimensi maka manusia perlu mempelajari ilmu dunia maupun ilmu akhirat, serta menyeimbangkannya dengan menngkatkan nurani yang dimiliki. Namun, setinggi-tingginya dimensi adalah dimensi absolut, yaitu dimensi Tuhan Yang Maha Esa.

    ReplyDelete