Jul 31, 2010

Elegi Menggapai Dimensi




Oleh : Marsigit

Batu:
Jika boleh aku ingin menyampaikan isi hati dan pikiranku. Isi hati dan pikiranku akan aku sampaikan kepada siapapun, didengar ataupun tidak didengar.
Mengapa? Karena selama ini aku mengalami berbagai macam peristiwa, tetapi aku belum pernah memberitahukan kepada siapapun. Selama ini aku mengalami berbagai macam ketidak adilan. Aku mengalami penderitaan. Aku mengalami perakuan buruk. Aku mengalami pelecehan. Aku mengalami penderitaan yang luar biasa. Aku dipukul. Aku dibelah. Aku dipecah. Aku dihancurkan. Aku diledakkan. Aku diserap. Aku disedot oleh akar-akar. Aku ditumbuhi rumput-rumput. Aku disiram air. Aku dijemur di bawah terik matahari. Dan seterusnya. Aku hanya ingin mengetahui apakah nasib yang sama juga dialami oleh tumbuh-tumbuhan. Wahai tumbuh-tumbuhan, apakah engkau mendengar ceritaku ini? Jika engkau mendengar, apakah engkau juga mengalami hal yang sama denganku?

Tumbuh-tumbuhan:
Wahai batu. Sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa saya mendengan semua ceritamu. Aku juga mempunyai bermacam-macam pengalaman. Tetapi pengalamanku sedikit berbeda denganmu. Aku juga mengalami berbagai macam ketidak adilan. Aku mengalami penderitaan. Aku mengalami perakuan buruk. Aku mengalami pelecehan. Aku mengalami penderitaan yang luar biasa. Aku dipukul. Aku dibelah. Aku dipecah. Aku dihancurkan. Aku diledakkan. Aku diserap. Aku disedot oleh akar-akar. Aku ditumbuhi rumput-rumput. Aku disiram air. Aku dijemur di bawah terik matahari. Bahkan aku pernah dipotong, tetapi aku tumbuh kembali.

Batu:
Lalu apakah pengalamanmu yang berbeda dengan pengalamanku?

Tumbuh-tumbuhan:
Walaupun aku mengalami penderitaan hampir sama denganmu, tetapi setidaknya aku pernah andil sebagai sebab penderitaanmu. Bukankah engkau ingat ketika akarku menancap padamu. Goyangan tubuhku telah menentukan apakah engkau berhak memperoleh sinar atau tidak. Aku juga pernah roboh dan menimpa dirimu. Aku juga pernah digunakan orang untuk memukulmu. Aku bisa tumbuh dari kecil menjadi besar, sementara engkau tidak. Aku bisa berbuah sementara engkau tidak. Masih banyak lagi yang belum aku sebutkan. Itulah semua pengalamanku yang berbeda denganmu.

Batu:
Tidak adil. Wahai tumbuh-tumbuhan, mengapa engkau bisa melakukan yang lebih banyak dari diriku. Bahkan engkau bisa menyakiti diriku. Mengapa engkau seakan juga bisa menentukan nasib diriku? Bolehkah aku menirumu? Kalau perlu aku ingin membalas perlakuan burukmu terhadapku.

Tumbuh-tumbuhan:
Itulah sebenar-benar diriku. Dimensi diriku adalah setingkat lebih tinggi dari dimensi dirimu. Itulah kodratku dan juga kodratmu. Aku tidak tahu apakah doa-doaku dan juga doa-doamu dapat merubah nasib kita? Tunggulah batu, aku melihat ada seekor binatang hinggap pada diriku. Saya akan bertanya kepada binatang apakah mereka mempunyai pengalaman yang sama dengan kita atau tidak. Wahai binatang apakah engkau mendengarkan percakapanku dengan batu tadi? Jika engkau mendengarkan, apakah engkau juga dapat menceritakan pengalamanmu?

Binatang:
Wahai batu dan tumbuh-tumbuhan. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku mendengar semua percakapanmu berdua. Aku juga mempunyai pengalaman, tetapi pengalamanku agak berbeda dengan pengalamanmu berdua. Aku tidak banyak mengalami penderitaan. Aku tidak mengalami berbagai macam ketidak adilan. Aku tidak mengalami banyak penderitaan. Aku tidak banyak mengalami perakuan buruk. Aku tidak banyak mengalami pelecehan. Aku tidak banyak mengalami penderitaan yang luar biasa. Aku tidak banyak dipukul. Aku tidak dibelah. Aku tidak dipecah. Aku tidak dihancurkan. Aku tidak diledakkan. Aku tidak diserap. Aku tidak disedot oleh akar-akar. Aku tidak ditumbuhi rumput-rumput. Aku tidak disiram air. Aku tidak dijemur di bawah terik matahari. Tetapi aku selalu dikejar-kejar pemburu. Aku pernah ditembak. Aku pernah dipisahkan dari keluargaku. Namun pengalamn buruk itu tidak seberapa dibanding dengan pengalaman manisku. Aku mempunyai banyak pengalaman manis dan menyenangkan. Aku sering memukul engkau wahai batu dan tanaman. Aku sering menginjak-injak engkau wahai batu dan tanaman. Aku sering mengotori engkau wahai batu dan tanaman. Akulah yang sering memakan buahmu wahai tanaman. Akulah yang sering memakan daun mudamu wahai tanaman. Au juga pernah merobohkanmu. Aku juga pernah menggunakan engkau tanaman untuk memukul engkau batu. Aku gunakan engkau tanaman untuk ayunan permainanku. Aku gunakan engkau batu, untuk loncatan. Aku juga pernah memecahkanmu wahai batu. Aku bisa berlaku apa saja terhadapmu berdua.

Batu dan tumbuh-tumbuhan bersama-sama menjawab:
Tidak adil. Wahai binatang, mengapa engkau bisa melakukan yang lebih banyak dari diriku berdua. Bahkan engkau bisa menyakiti diriku berdua. Mengapa engkau seakan juga bisa menentukan nasibku berdua? Bolehkah aku berdua menirumu? Kalau perlu aku berdua ingin membalas perlakuan burukmu terhadapku.

Binatang:
Itulah sebenar-benar diriku. Dimensi diriku adalah setingkat lebih tinggi dari dimensi tumbuh-tumbuhan. Dan dua tingkat lebih tinggi dari dimensi batu. Itulah kodratku dan juga kodratmu. Aku tidak tahu apakah doa-doaku dan juga doa-doamu dapat merubah nasib kita? Tetapi tunggulah. Kelihatannya ada orang lewat. Aku ingin bertanya kepada orang itu. Wahai manusia apakah engkau mendengarkan percakapanku dengan batu dan tumbuh-tumbuhan tadi? Jika engkau mendengarkan, apakah engkau juga dapat menceritakan pengalamanmu?

Manusia :
Wahai batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku mendengar semua percakapanmu bertiga. Aku juga mempunyai pengalaman, tetapi pengalamanku sangat berbeda dengan pengalamanmu bertiga. Aku mengalami penderitaan, tetapi penderitaanku tidak seperti penderitaanmu bertiga. Aku mengalami berbagai macam ketidak adilan, tetapi bukan ketidak adilan seperti yang engkau alami. Aku mengalami banyak penderitaan, tatapi bukan penderitaan seperti yang engkau alami. Aku banyak mengalami perakuan buruk, tetapi tidak seperti perlakuan buruk yang engkau alami. Aku juga mengalami pelecehan, tetapi bukan pelecehan seperti yang engkau alami. Aku aku juga pernah dipukul. Tetapi aku tidak pernah dibelah. Aku tidak pernah dipecah. Aku tidak pernah dihancurkan. Aku tidak pernah diledakkan. Aku tidak pernah disedot oleh akar-akar. Aku tidak ditumbuhi rumput-rumput. Aku tidak disiram air. Aku tidak dijemur di bawah terik matahari. Tetapi ketahuilah bahwa aku gunakan batu dan batang tanaman untuk menangkap engkau wahai binatang. Aku jadikan engkau wahai tumbuhan dan binatang sebagai makananku. Maka aku bisa berlaku apa saja terhadapmu bertiga.

Batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang bersama-sama menjawab:
Tidak adil. Wahai manusia, mengapa engkau bisa melakukan yang lebih banyak dari diriku bertiga. Bahkan engkau bisa menyakiti diriku bertiga. Mengapa engkau seakan juga bisa menentukan nasibku bertiga? Bolehkah aku bertiga menirumu? Kalau perlu aku bertiga ingin membalas perlakuan burukmu terhadapku.

Manusia:
Itulah sebenar-benar diriku. Dimensi diriku adalah lebih tinggi dari dimensi dirimu semua. Itulah kodratku dan juga kodratmu. Aku tidak tahu apakah doa-doaku dan juga doa-doamu dapat merubah nasib kita? Tetapi tunggulah. Kelihatannya ada orang yang berbeda denganku lewat. Aku ingin bertanya kepada orang itu. Wahai saudaraku siapakah engkau? Apakah engkau mendengarkan percakapanku dengan batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang ini? Jika engkau mendengarkan, apakah engkau juga dapat menceritakan pengalamanmu?

Manusia berilmu:
Wahai batu, tumbuh-tumbuhan, binatang dan saudaraku. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku mendengar semua percakapanmu berempat. Aku juga mempunyai pengalaman, tetapi pengalamanku sangat berbeda dengan pengalamanmu berempat. Aku mengalami penderitaan, tetapi penderitaanku tidak seperti penderitaanmu berempat. Aku mengalami berbagai macam ketidak adilan, tetapi bukan ketidak adilan seperti yang engkau alami. Aku mengalami banyak penderitaan, tatapi bukan penderitaan seperti yang engkau alami. Aku banyak mengalami perakuan buruk, tetapi tidak seperti perlakuan buruk yang engkau alami. Aku juga mengalami pelecehan, tetapi bukan pelecehan seperti yang engkau alami. Aku aku juga pernah dipukul. Tetapi aku tidak pernah dibelah. Aku tidak pernah dipecah. Aku tidak pernah dihancurkan. Aku tidak pernah diledakkan. Aku tidak pernah disedot oleh akar-akar. Aku tidak ditumbuhi rumput-rumput. Aku tidak disiram air. Aku tidak dijemur di bawah terik matahari. Tetapi ketahuilah bahwa aku gunakan batu dan batang tanaman untuk menangkap engkau wahai binatang. Aku jadikan engkau wahai tumbuhan dan binatang sebagai makananku. Maka aku bisa berlaku apa saja terhadapmu bertiga. Wahai saudaraku sesama manusia, aku juga pernah meninggalkanmu sendirian. Aku pernah tidak memberimu hakmu. Aku sering menyuruhmu. Aku selalu mengaturmu. Aku membayar gajimu. Aku sering tak peduli denganmu. Aku sering tidak mendengarkan ucapan dan usulmu. Aku sering bepergian sedangkan engkau aku suruh untuk menjaga di sini. Aku punya banyak teman sedangkan engkau tidak punya teman. Aku punya banyak hiburan sedangkan engkau tidak. Aku punya banyak pengalaman sedangkan engkau tidak. Aku punya banyak keterampilan sedangkan engkau tidak. Aku selalu mengetahui dimana, kapan, kemana, dengan siapa dirimu itu. Seangkan engkau tidak mengetahuiku. Maka sebenar-benar diriku adalah dapat menentukan dirimu semua.

Batu, tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia yang pertama tadi bersama-sama menjawab:
Tidak adil. Mengapa engkau bisa melakukan yang lebih banyak dari diriku berempat?. Bahkan engkau bisa menyakiti diriku berempat. Mengapa engkau seakan juga bisa menentukan nasibku berempat? Bolehkah aku berempat menirumu? Kalau perlu aku berempat ingin membalas perlakuan burukmu terhadapku.

Manusia berilmu:
Itulah sebenar-benar diriku. Dimensi diriku adalah lebih tinggi dari dimensi dirimu semua. Itulah kodratku dan juga kodratmu. Aku tidak tahu apakah doa-doaku dan juga doa-doamu dapat merubah nasib kita? Tetapi inilah kesaksianku. Bahwa untuk engkau saudaraku manusia, maka ikhtiarmu juga merupakan kodratmu. Itulah sebenar-benar keunggulan manusia dari batu, tumbuhan dan binatang. Jika engkau berusaha, maka dimensimu dapat meningkat setara dengan dimensiku, yaitu menjadi orang yang berilmu. Tetapi tunggulah. Kelihatannya ada orang yang berbeda denganku lewat. Aku ingin bertanya kepada orang itu. Wahai saudaraku siapakah engkau? Apakah engkau mendengarkan percakapanku dengan batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang ini? Jika engkau mendengarkan, apakah engkau juga dapat menceritakan pengalamanmu?

Manusia bernurani dan berilmu:
Wahai batu, tumbuh-tumbuhan, binatang dan saudaraku-saudaraku. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku mendengar semua percakapanmu semua. Aku juga mempunyai pengalaman, tetapi pengalamanku sangat berbeda dengan pengalamanmu semua. Aku mengalami penderitaan, tetapi penderitaanku tidak seperti penderitaanmu semua. Aku mengalami berbagai macam ketidak adilan, tetapi bukan ketidak adilan seperti yang engkau alami. Aku mengalami banyak penderitaan, tatapi bukan penderitaan seperti yang engkau alami. Aku banyak mengalami perakuan buruk, tetapi tidak seperti perlakuan buruk yang engkau alami. Aku juga mengalami pelecehan, tetapi bukan pelecehan seperti yang engkau alami. Aku aku juga pernah dipukul. Tetapi aku tidak pernah dibelah. Aku tidak pernah dipecah. Aku tidak pernah dihancurkan. Aku tidak pernah diledakkan. Aku tidak pernah disedot oleh akar-akar. Aku tidak ditumbuhi rumput-rumput. Aku tidak disiram air. Aku tidak dijemur di bawah terik matahari. Tetapi ketahuilah bahwa aku gunakan batu dan batang tanaman untuk menangkap engkau wahai binatang. Aku jadikan engkau wahai tumbuhan dan binatang sebagai makananku, selama itu diijinkan oleh Tuhanku. Maka aku berusaha hidup seimbang dan harmonis. Wahai saudaraku sesama manusia, aku juga pernah meninggalkanmu sendirian, tetapi semata karena aku ingin berdoa dan menuntut ilmu. Aku berusaha jangan sampai tidak memberimu hakmu. Aku berusaha menyuruhmu sesuatu fungsi dan tugasmu. Aku mengaturmu itu memang karena amanah yang diberikan kepadaku. Aku berusaha membayar gajimu dengan tepat. Aku selalu berusaha memperdulikanmu. Aku selalu berusaha mendengarkan ucapan dan usulmu. Jika aku sering bepergian sedangkan engkau aku suruh untuk menjaga di sini, itu adalah semata-mata karena perbedaan tugas kita masing-masing. Aku punya banyak teman dan aku anggap engkau juga teman-temanku. Aku punya banyak hiburan tetapi semata-mata untuk mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Aku punya banyak pengalaman tetapi aku berusaha menggunakannya untuk kemaslahatan umat. Aku mengajak kepada saudara-saudaraku marilah selalu menuntut ilmu baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat, agar kita bisa meningkatkan dimensi kita. Setinggi tinggi dimensi adalah dimensi absolut, yaitu dimensi Tuhan YME. Aku berusaha selalu melantunkan doa-doaku. Doa-doaku itu adalah untuk semuanya. Ya Tuhan limpahkanlah karunia dan hidayah Mu bagi hamba-hambamu ini. Amien.

45 comments:

  1. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D
    Kita tidak bisa merubah takdir yang telah ditetapkan-Nya. Yang bisa kita lakukan adalah berdoa dan berikhtiar agar diberikan yang terbaik bagi kita, bukan yang terbaik menurut kita. Semoga kita dapat meningkatkan dimensi kita menjadi lebih baik tanpa melewati batas-batas-Nya

    ReplyDelete
  2. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Manusia hidup dengan menjalani dan memainkan peran pada dimensi masing-masing. Dalam hidup ini terdapat banyak dimensi. Semua yang ada mengalami dan menjalankan tugas pada dimensinya masing-masing. Seperti batu, tumbuhan, hewan begitupun manusia. Manusia juga dalam menjalankan kehidupan ini memiliki dimensi masing-masing. Mereka memiliki pekerjaan, tempat tinggal, dan teman pergaulan yang berbeda-beda. Tingkatan dimensi tersebut juga berbeda-beda. Mungkin dengan ilmu pengetahuan manusia dapat meningkatkan tingkat dimensi mereka. Namun, kita ketahui bahwa puncak atau yang berada pada dimensi tertinggi adalah Allah Yang Maha Esa.

    ReplyDelete
  3. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Bagaimana Allah SWT telah menciptakan makhluk di alam semesta ini terdiri dari dimensi yang saling berbeda, dimana dalam semua aspek ciptaan mempunyai eksistensi diri. Perubahan-perubahan yang terjadi seiring berjalannya waktu dapat mempengaruhi dimensi.

    ReplyDelete
  4. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Manusia tercipta pada dimensinya masing-masing sesuai dengan takdir yang telah dituliskan untuknya dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Sehingga dimensi itu akan terus bergerak mengalami perubahan sebagai pengaruh kondisi dan situasi dalam menjalani kehidupan. Namun dimensi yang tetap dan abadi hanya milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  5. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Di dunia ini terdapat banyak dimensi. Semua yang ada mengalami dan menjalankan tugas pada dimensinya masing-masing. Seperti batu, tumbuhan, hewan begitupun manusia. Manusia juga dalam menjalankan kehidupan ini memiliki dimensi masing-masing. Mereka memiliki pekerjaan, tempat tinggal, dan teman pergaulan yang berbeda-beda. Tingkatan dimensi tersebut juga berbeda-beda. Mungkin dengan ilmu pengetahuan manusia dapat meningkatkan tingkat dimensi mereka. Namun, kita ketahui bahwa puncak atau yang berada pada dimensi tertinggi adalah Allah Yang Maha Esa.

    ReplyDelete
  6. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Dimensi yang akan membedakan mahluk satu dengan yang lainnya. Dimensi yang diceritakan dalam elegi di atas meliputi dimensi pada mahluk hidup seperti tumbuhan, hewan dan manusia sedangakan untuk benda mati digambarkan oleh batu. Kita tahu bahwa batu benda mati yang tidak akan punya interaksi dengan apapun. Tapi ternyata batu mempunyai suara, gerakan dan lain sebagainya dikarenakan adanya dimensi. Dimensi manusia dalam kehidupan merupakan dimensi yang tinggi dari mahluk Allah lainnya karena manusia mempunyai akal sedangkan yang lainnya tidak.

    ReplyDelete
  7. Nama : Wisniarti
    NIM : 17709251037
    Kelas : PM B (Pascasarjana)


    MasyaAllah bapak, saya sangat menyukai postingan ini. Postingan "Elegi Menggapai Dimensi" ini mengajarkan bahwa kehidupan ini harus seimbang antara ilmu dan agama. Ilmu dan agama menjadikan manusia menjadi manusia yang cerdas dalam berpikir, cerdas dalam bersikap dan cerdas dalam menghargai perbedaan. Semakin dibaca dan dipahami elegi ini semakin menusuk diri saya sendiri. Saya semakin merasa tidak mengetahui apa-apa, saya merasa ikhtiar saya masih sangat kurang, saya merasa agama saya juga masih sangat kurang. Saya sangat setuju dengan tulisan ini yang mengatakan bahwa seseorang itu dibedakan dari ikhtiarnya. Semoga kita menjadi seseorang yang bernurani dan berilmu.

    Elegi Mengggapai Dimensi ini juga mengajarkan kepada kita bahwa setiap yang ada di muka bumi ini mempunyai permasalahan dan kelebihan yang bereda-beda. Sudut pandang kita saja yang bisa mendefinisikan apakah permasalahan tersebut sangat berat, buruk atau sama sekali tak ada manfaatnya. Seprti batu, dia hanya sadar terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapinya, tetapi dia tidak menyadari hal-hal yang telah dia korbankan untuk membantu tumbuhan, hewan, dan manusia. Begitupun tumbuhan, dia hanya meratapi permasalahannya tanpa menyadari bahwa dia telah berjasa agar binatang dan manusia tidak kelaparan, begitu juga binatang dan manusia yang pertama. Menyadari bahwa kita bermanfaat untuk orang lain bukan untuk menjadikan kita menjdi besar kepala, namun untuk kita senantiasa bersyukur atas nikmat-Nya. Dengan kita menyadari bahwa kita mempunyai manfaat untuk yang lain meski kecil akan menyadarkan kita betapa besar Allah SWT menciptakan semuanya, sehingga sesuatu yang kecilpun bisa bermnfaat dan dibutuhkan untuk yang lainnya.

    ReplyDelete
  8. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Tuhan sebagai pemilik dimensi absolut menciptakan manusia sebagai makhluk ciptaan dengan dimensi terbaik dibandingkan makhluk lainnya. Namun antara satu individu dengan yang lainnya, mereka sendirilah yang menentukan tingkatan dimensinya masing- masing yaitu berdasarkan ilmu dan ketaqwaannya. Manusia dengan dimensi yang tinggi memiliki nurani dan ilmu yang lebih baik, mereka memahami bahwa mereka memiliki tugas untuk selalu berikhtiar, menjaga alam semesta beserta isinya, dan peduli terhadap yang lainnya, serta mengajak makhluk yang lainnya untuk berjalan sesuai alur yang benar.

    ReplyDelete
  9. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan matematika A (PM A)

    Manusia pada hakekatnya adalah adalah mahluk yang serba terhubung, dengan masyarakat, lingkunganya, dirinya sendiri, dan tuhan yaitu Allah SWT. Manusia merupakan makhluk yang sempurna dibandingkan dengan makhluk tuhan lainnya. Manusia diberikan anugerah yang berbeda pula dengan makhluk yang lainnya. Melalui ilmu, kita dapat mempelajari berbagai dimensi dalam kehidupan. Seseorang dapat merubah tingkatan dimensinya sesuai dengan ilmu yang ia miliki. Cara pandang seseorang akan berbeda pula satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, seperti apa yang Prof. tuliskan di atas, bahwa setinggi-tinggi dimensi adalah dimensi absolut, yaitu dinemsi Tuhan YME.

    ReplyDelete
  10. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Apa yang dapat saya tangkap dari “Elegi Menggapai Dimensi” bahwa setiap makhluk yang diciptakan di dunia ini mempunyai dimensi dan derajat yang berbeda-beda. Masing-masing sudah ditentukan takdir, namun takdir itu bisa diubah dengan usaha dan do’a. Di dalam dunia ini manusia merupakan makhluk Tuhan yang paling sempurna namun di dalam ketidaksempurnaan. Andai kata kita sudah sempurna, maka kita tidak akan mengerti arti kehidupan. Manusia tidak pernah merasa puas maka yang perlu kita lakukan yaitu bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang, yakinlah bahwa kita terlahir di dunia ini mempunyai manfaat bagi orang lain dan janganlah mengeluh.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  11. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Manusia bernurani dan berilmu lebih tinggi dimensinya daripada manusia berilmu. Hal ini dikarenakan ilmu saja tidak cukup untuk menjadi manusia yang lebih tinggi dimensinya kita juga harue memiliki nurani. Manusia bernurani akan lebih bijak, lebih dapat menghargai orang lain dan lebih mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan kepadanya. Setiap manusia dapat meningkatkan dimensinya dengan berusaha untuk menambah ilmu dan menggunakan nuraninya. Setinggi-tinggi dimensi adalah absolut, yaitu dimensi Allah SWT.

    ReplyDelete
  12. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi diatas, saya dapat mengetahui bahwa dalam hidup ini ada yang namanya dimensi. Dmensi atau tingkatan. Bahasa filsafatnya sering disebut ada yang dewa, ada yang cemani dll. Misalkan dimensinya Batu dan tumbuhan itu berbeda. Dimensi tumbuhan berada diatas batu. Dan begitu seterusnya hingga tingkatan tertinggi. Sehingga sebenarnya jika ditihat lagi ketika kita sudah merasa puas akan suatu hal, maka sejatinya kita belum cukup, sehingga kita perlu terus mengembangkan diri kita mengembangkan dimensi kita. Semoga kita senantiasa diberi kemudahan dan keberkahan untuk menggapai dimensi yang lebih tinggi dan menggembangkan diri. Aminn

    ReplyDelete
  13. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Dimensi itu struktur, struktur itu bertingkat-tingkat. Semua hal yang ada di dunia ini berstruktur berhirarki. Antara objek satu dengan yang lain berbeda, struktur dalam suatu objek saja memiliki perbedaan. Meskipun berbeda-beda tetapi ada satu kesamaan dimensi yang paling tunggi hanya dimiliki oleh Tuhan saja.

    ReplyDelete
  14. Metia Novianti
    17709251021
    S2 Pendidikan Matematika A 2017
    Manusia diciptakan Allah SWT berbeda dari makhluk-makhluk lainnya. Tingkatan derajat atau dimensi antara satu manusia dengan manusia lainnya juga berbeda-beda, tergantung pada ilmu, nurani dan ketakwaannya. Semuanya itu harus kita jalankan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas agar kita dapat mencapai derajat yang tinggi di mata Allah SWT.

    ReplyDelete
  15. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Dari postingan di atas, saya berpendapat bahwa semua makhluk di bumi ini sudah berada pada kodrat dan dimensinya masing-masing. Batu, tumbuhan, dan hewan berada pada kodratnya saja. Sedangkan manusia berada pada kodrat dan dimensinya. Artinya, segala yang ada dalam batu, hewan, dan tumbuhan sudah ada dan semestinya memang ada pada mereka, tanpa adanya peningkatan. Berbeda dengan manusia, manusia memiliki daya dan akal pikir serta hati nurani. Maka dengan ketiga hal tersebut, manusia akan senantiasa dapat meningkatkan dimensinya. Melaui usaha dan kepasrahan kepada Ilahi tentu manusia dapat mencapai dimensi yang lebih tinggi. Bukankah "maka ikhtiarmu juga merupakan kodratmu"?

    ReplyDelete
  16. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Elegi ini menunjukkan bahwa setinggi-tingginya derajat manusia di bumi adalah manusia yang melakukan segalanya dalam aturan yang dibenarkan Sang Pencipta. Sebagai makhluk hidup yang diberikan akal dan pikiran, sudah sepantasnya manusia berada pada dimensi yang berbeda dengan batu, tumbuhan, dan binatang. Namun manusia yang seperti apakah yang berada pada dimensi lebih tinggi dari manusia lainnya? Nuranilah yang membedakannya. Bahkan disaat kita berpikir bahwa kita telah menjadi manusia yang baik, akankah benar di mata Allah? Hidup di dunia hanya sementara, manusia harus menghindari sifat mendzalimi baik sesama manusia, maupun kepada hewan, binatang, dan benda lainnya.

    ReplyDelete
  17. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Allah SWT menciptakan mahluk-mahluk-Nya dengan berbagai macam dimensi. setiap mahluk memiliki berbagai dimensinya sendiri-sendiri. dimensi dapat diartikan sebagai tempat atau posisi atau kedudukan mahluk tersebut di dalam sistem. pembeda setiap mahluk di dalam sistem adalah dimensi
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  18. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Setiap orang memiliki dimensi yang berbeda-beda, dimensi dapat juga diartikan sebagai posisi atau kedudukan seseorang di dalam sistem, setinggi apapun dimensi suatu mahluk di dalam sistem, jangan lupa bahwa ada dimensi tertinggi di dalam sistem kehidupan
    manapun, dimensi tertinggi tentu saja Tuhan.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  19. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna karena dia diciptakan dengan bekal akal pikiran. Kemudian makhluk yang lain diciptakan dengan dimensinya masing-masing. Dimensi yang berbeda ini bukanlah untuk membedakan strata sehingga yang lebih tinggi dapat menindas yang lebih rendah, namun dimensi ini memberikan kesempatan kepada dimensi yang lebih tinggi untuk membimbing dimensi yang lebih rendah dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki.

    ReplyDelete
  20. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Manusia pada hakikatnya diciptakan Allah sebagai mahluk yang paling sempurna diantara mahluk-mahluk Allah yang lain. Perbedaan manusia dengan mahluk yang lain adalah manusia dikaruniai akal dan pikiran sehingga dapat berpikir. Maka yang membedakan dimensi antar manusia semata-mata adalah ilmu dan iman yang dimiliki. Manusia dituntut untuk berikhtiar dan berdoa agar dapat meningkatkan diminseinya, namun manusia tidak akan mampu mencapai dimensi yang absolut. Hal itu karena dimensi yang absolut semata-mata hanyanyah milik Allah. Terimakasih.

    ReplyDelete
  21. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Setiap makhluk di muka bumi ini memiliki tingkat/ dimensi yang berbeda-beda. Dimensi tertinggi adalah dimensi absolut yaitu dimensi Allah SWT. Manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya tentunya ingin menggapai dimensi yang lebih baik. Maka untuk menggapai dimensi lebih tinggi jika dibandingkan dengan orang lain adalah dengan bernurani dan berilmu. Menempatkan hak dan kewajiban kita sesuai dengan ruang dan waktu, tidak saling mendzalimi diantara sesama dan tentunya hal tersebut dijalankan sesuai dengan ilmu yang didapat, yang tidak hanya ilmu dunia saja tetapi juga ilmu akhirat, agar ada keselarasan diantara keduanya (dunia dan akhirat). Dengan begitu tercapailah dimensi yang lebih baik dari dimensi sebelumnya. Namun setinggi-tinggi dimensi yang dapat dicapai manusia, tetap bahwa dimensi tertinggi hanyalah milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  22. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Setiap makhluk yang diciptakan di dunia ini memiliki kodratnya masing- masing. Karena itulah keadilan itu bukan berarti harus mendapatkan perlakuan yang sama. Batu tidaklah mungkin mendapat perlakuan yang sama dengan tumbuhan. Sebagaimana tumbuhan tidaklah mungkin mendapat perlakuan yang sama dengan binatang apalagi manusia. Bahkan sesama manusia tidaklah mungkin mendapat perlakuan yang sama. Semua saling melengkapi satu sama lain, tumbuhan tidak lah dapat melakukan penyerbukan jika tidak memperoleh bantuan binatang, manusia atau angin. Sebagaimana binatang tidak dapat memperoleh makanan tanpa tumbuhan. Manusia pun tidak akan ada atasan jikalau tidak ada bawahan. Maka yang terpenting adalah bagaimana setiap makhluk menggunakan keduudkan yang dimilikinya untuk memberikan manfaat dengan ikhlas kepada makhluk lain. Dan manusia sebagai makhluk yang diberi akal pikiran hendaklah berusaha menjadi lebih baik.

    ReplyDelete
  23. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Dimensi kehidupan yang ada dalam pandangan manusia bersifat relatif. Manusia yang satu dipandang mempunyai dimensi yang lebih tinggi dibanding manusia yang lain karena ilmu, harta, jabatan, keturunan, dan lain-lainnya. Apa yang menjadi parameter tingkatan dimensi dalam pandangan manusia hanya dilihat fisik atau luarnya saja. Berbeda dengan tingkatan dimensi dalam pandangan Allah SWT. Allah SWT menilai manusia dari hati dan taqwanya. Semua manusia berdimensi sama di hadapan Allah SWT, yang membedakannya ialah ketaqwaannya. Oleh karena itu, sebagai manusia hendaknya kita selalu memperbaiki diri, membersihkan hati, dan meningkatkan ketaqwaan agar dipandang oleh Allah SWT. Meskipun begitu, kita sebagai manusia tidak akan mencapai dimensi tertinggi karena setinggi-tinggi dimensi adalah dimensi absolut, yaitu dimensi ALlah SWT.

    ReplyDelete
  24. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Setiap objek yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini memiliki dimensi yang berbeda-beda. Bahkan antar objek yang sejenis pun juga berdimensi. Kita sebagai manusia memiliki dimensi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan ciptaan Allah yang lainnya, seperti benda mati, tumbuhan dan binatang. Lebih dari itu, dalam lingkup manusia pun juga terdapat berbagai dimensi.

    ReplyDelete
  25. Manusia yang berilmu memiliki dimensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan manusia yang tidak berilmu. Jika kita berusaha meningkatkan ilmu, maka dimensi kita akan meningkat. Sementara manusia yang berilmu saja memiliki dimensi yang lebih rendah dibandingkan dengan manusia yang berilmu sekaligus bernurani. Manusia yang berilmu dan bernurani ialah manusia yang sopan santun terhadap ruang dan waktu. Maka, kita hendaknya selalu mengembangkan ilmu pengetahuan yang kita miliki, baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat. Namun, di atas itu semua, dimensi yang paling tinggi ialah dimensi Tuhan Yang Maha Esa.

    ReplyDelete
  26. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    Pendidikan Matematika Kelas B(S2)


    Setiap manusia setidaknya pernah mengalami rasa seperti menderita, kehancuran, perlakuan buruk, atau merasa tidak adil. Hal tersebut karena sifat manusia yang lebih mengingat ketidakberuntungan yang hanya sedikit dibandingkan dengan karunia dan kebahagian yang banyak yang telah diberikan oleh Tuhan. Setiap orang memang pernah melakukan kesalahan, baik disengaja ataupun tidak sengaja dan hal tersebut yang menjadi penyebab runtuhnya rasa kasih karena telah dikecewakan. Tetapi kita patut menyadari belum tentu perlakuan yang dilakukan oleh orang lain terhadap diri kita memiliki maksud buruk. Bisa saja itu merupakan pikiran-pikiran buruk kita terhadap orang lain yang tidak memiliki niat jahat terhadap diri kita.

    ReplyDelete
  27. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Pengalaman setiap manusia pasti berbeda dan setiap pengalaman tersebut pasti ada maksud yang tersebunyi, tergantung bagaimana kita sebagai insan manusia menyikapi setiap pengalaman tersebut. Karena pengalaman manusia tidak selamanya pengalaman baik saja, terkdang pengalaman yang kurang baik diperlukan untuk membuat manusia tersebut menjadi lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  28. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Dimensi dalam kehidupan berbeda-beda. Dimensi tertinggi adalah dimensi absolut yaitu dimensi Allah SWT. Setiap manusia, akan menentukan tingkatan dimensinya masing- masing berdasarkan ilmu dan ketaqwaannya. Manusia dengan dimensi yang tinggi memiliki nurani dan ilmu yang lebih baik. Dan sudah hakekatnya bahwa manusia membutuhkan alam sekitar seperti batu, tumbuhan dan hewan. Semua sudah di atur oleh Allah SWT.

    ReplyDelete
  29. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    dari tulisan di atas, pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa pada hakekatnya, hanya manusia yang bernurani dan berilmu lah yang dapat menempatkan dimensi nya terhadap dimensi-dimensi yang lain dengan posisi dan porsi yang tepat. dan semua yang terjasi diantara para dimensi pada hakekatnya dalam kendali dimensi absolut, yaitu dimensi Tuhan YME

    ReplyDelete
  30. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Elegi menggapai dimensi menunjukkan tingkatan dimensi dari paling rendah ke tinggi. Dimensi terendah dalam elegi ini adalah batu, tingkat dimensi selanjutnya adalah tumbuhan, lalu binatang, kemudian manusia, selanjutnya manusia berilmu, lalu manusia bernurani dan berilmu. Elegi ini menyampaikan bahwa dimensi dengan tingkat yang lebih tinggi dapat mengatur dan memanfaatkan dimensi tingkat di bawahnya. Dimensi manusia bernurani dan berilmu dalam memiliki niat yang baik dengan dimensi tingkat dibawahnya. Jadi, sebagai manusia milikilah dimensi bernurani dan berilmu. Akan tetapi, dimensi yang absolut adalah dimensi milik Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Maha Esa sudah barang tentu Maha Pengatur dan Maha Penyayang terhadap semua tingkat dimensi yang ada.

    ReplyDelete

  31. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Setiap yang Allah ciptakan memiliki keadaan yang berbeda-beda sehingga menempati dimensi ruang dan waktunya masing-masing. Begitupun manusia, meskipun sama-sama manusia tetapi jika pondasinya berbeda maka memiliki dimensi ruang dan waktu yang berbeda pula. Ketika subjek melihat subjek lain yang dapat melakukan lebih banyak hal, pada saat itu pula subjek lain berpotensi melakukan perubahan cara berpikir dan cara bertahan hidup supaya meraih dimensi ruang dan waktu yang lebih baik lagi. Manusia yang memiliki dimensi ruang dan waktu yang paling baik yaitu manusia yang bernurani dan berilmu. Selain pandai bersyukur atas dimensinya, manusia tersebut juga tidak hanya mendoakan dirinya sendiri melainkan mendoakan untuk saudara-saudaranya juga supaya mendapatkan karunia dan hidayah Allah SWT.

    ReplyDelete
  32. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)
    Terimakasih Prof
    Saya belajar tentang dimensi. Menurut pemahaman saya setelah membaca postingan Bapak, segala yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini memiliki dimensi masing-masing. Dimensi dari bawah adalah benda-benda mati misalnya batu, kemudian naik yaitu dimensi tumbuh-tumbuhan, naik lagi dimensi hewan, di atas dimensi hewan ada dimensi manusia. Dalam hidup ini dimensi manusia pun masih bertingkat dari bawah yaitu dimensi manusia yang tidak berilmu, dimensi manusia berilmu, dan yang paling tinggi adalah dimensi manusia berilmu dan bernurani. Selanjutnya hal yang dapat saya pelajari adalah bahwa seseorang yang berilmu akan dapat memiliki kuasa atas segala yang ada dan yang mungkin ada pada dimensi di bawahnya tetapi seringkali menggunakan kuasanya untuk menyiksa dan berlaku tidak adil. Sedangkan ketika manusia berilmu juga bernurani akan dapat menggunakan kuasanya sebagai amanah dan untuk menjaga serta mengayomi apa yang menjadi obyek kuasa tersebut.

    ReplyDelete
  33. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Dimensi manusia ya dimensi manusia. Tidak mungkin manusia bisa menembus dimensi hewan, malaikat apalagi dimensi spiritual tertinggi yaitu Allah. Maka dari itu, setiap ujian cobaan yang datang sudah tentu sudah sesuai dengan takarannya. Cobaan tidak pernah melebihi batas kemampuan kita. Manusia diciptakan hanya untuk beribadah semata-mata kepada ALLAH SWT untuk meningkatkan derajat(dimensi)nya. Dan untuk meningkatkan derajat dimensinya tersebut manusia harus belajar, mengaji, berguru, berilmu. Seperti yang ada bahwa dimensi yang tertinggi adalah demensi spiritual yang mendasari semua kegiatan.

    ReplyDelete
  34. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Tuhan mencipkatakan segala hal di bumi, ada maksud-Nya. Batu memiliki tugas dan tanggungjawabnya sendiri. Tumbuhan memiliki tugas dan tanggungjawabnya sendiri. Binatang memiliki tugas dan tanggungjawabnya sendiri. Manusia pun memiliki memiliki tugas dan tanggungjawabnya sendiri. Semua sudah memiliki kodrat masing-masing. Itulah yang saya pahami tentang dimensi. Dalam menjalani tugas dan tanggungjawab, kita banyak mengalami rintangan. Semakin tinggi tingkatan dimensi, maka makin berat pula rintangannya. Dibelah, dipecah, dipukul, diinjak, berat memang, karena dimensi kita berbeda dengan dimensi batu atau tumbuhan ataupun hewan, karena tugas dan tanggungjawab kita juga berbeda. Yang menjadi pilihan kita adalah bagaimana sikap kita. Memilih untuk mati atau bertumbuh menjasi aemakin kuat dalam menjalani hidup. Bersyukur untuk setiap rintangan yang ada dalam hidup yang akan membuat kita semakin kuat.

    ReplyDelete
  35. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Percakapan batu, tumbuhan binatang, manusia merupakan bentuk dari dinamnika kedidupan di dunia. Bahwasanya setiap makhluk ciptaan Nya tidak lepas akan adanya kebahagiaan dan cobaan. Cobaan makhluk satu dan lainnya boleh jadi berbeda karena sesunggunya keadilan bukan karena sama, namun keadilan itu adalah sesuai porsinya. Maka dari titu hidup adalah sawang sinawang, kita tidak boleh iri dengan kehidupan orang lain karena kehidupan yang kita miliki adalah hal yang terbaik anugerah dari Tuhan. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  36. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  37. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Terimakasih prof, ilmu yang prof sampaikan melalui elegi ini sangat membuat saya terkesan serta kagum. saya kagum tentang percakapan manusia batu hewan dan tumbuhan yang membawa makna ini.
    manusia diciptakan berbeda dengan makhluk lainnya. yang membedakannya ialah akal yang dipakai untuk menjalakan perbuatan perbuatan berlandaskan akhlak. tidak ada yang dapat merubah takdir Allah. kita tidak bisa memilih kodrat kita masing-masing namun apapun kita, dapat dipasti cuma ada satu pencipta dimuka bumi ini. yaitu Allah SWT. dengan begitu benar kata org berilmu dan berhati nurani mari kita menjadi pribadi yang mengunakan pengalaman pengalaman yang kita telah lakukan untuk kemaslahatan umat untuk menjadi daerah kita menjadi lebih baik dan berkah. aminn

    ReplyDelete
  38. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Hakekat manusia sebagai makhluk Allah Swt., diciptakan dalam bentuk paling sempurna. Manusia adalah makhluk spiritual yang akan menjalani fase-fase peristiwa kehidupan baik sebelum lahir, sekarang maupun setelah mati. Begitupun dengan batu dan tumbuh-tumbuhan yang juga makhluk ciptaan Allah Swt yang merupakan makhluk spiritual, mereka diam-diam berdzikir tanpa kita ketahui, dan mereka juga bisa menjadi saksi atas perbuatan baik-buruk manusia kelak di akhirat.

    ReplyDelete
  39. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Mengawali tanggapan yang saya berikan rasanya tidak lengkap tanpa pengucapan syukur terlebih dahulu. Saya merasa bersyukur diciptakan oleh Allah dengan bentuk yang sempurna dari makhluk ciptaan yang lainnya. Akal dan hati yang ada di dalam diri dapat mengarahkan pada suatu ilmu dan memaknai pengalaman yang terjadi. Melalui ulasan ini memberikan pandangan bahwa saat saya mencari keadilan di dunia mungkin sepertinya saya juga tidak mendapatkan keadilan yang mutlak. Lain halnya dengan sifat Maha Adil pada Allah yang senantiasa bersifat absolut. Namun, bagaimana kita melihat suatu keadilan yang Allah berikan kepada manusia ataupun makhluk hidup lainnya? Semoga saya dapat menemukannya dalam postingan yang lain. Terima kasih Prof untuk ilmu yang sudah diberikan.

    ReplyDelete
  40. Nurika Miftahuljannah
    17709251060
    PPs P. Mat C
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Aamiin aamiin aamiin Ya Rabbal ‘alamin. Semoga Allah mengabulkan do’a Profesor dan umat manusia yang lainnya yang berdoa memohon kepada Allah SWT dan Allah mengembalikan doa yang baik kepada kita semua. Aamiin.
    Tulisan Prof. pada elegi ini bermaksud untuk menjelaskan bahwa semua makhluk di dunia ini baik yang hidup maupun mati memiliki dimensinya masing-masing. Semua memiliki kodratnya sendiri-sendiri baik itu dalam bentuk kebahagiaan maupun penderitaannya. Tak jarang kita selalu menginginkan diri kita menjadi seperti orang lain yang kita anggap memiliki kelebihan. Selalu merasa kurang atas apa yang sudah kita miliki. Apa sebenarnya yang menyebabkan hal tersebut terjadi ??? Mungkin kita perlu berintrospeksi diri. Sudahkah kita bersyukur? Sudahkah kita berusaha? Sudahkah kita berdoa?
    Hanya kita sendiri yang bisa menjawab.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  41. Nurika Miftahuljannah
    17709251060
    PPs P. Mat C
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Semua makhluk di dunia ini memang memiliki dimensi masing-masing. Tetapi kita juga berhak berusaha agar dimensi kita menjadi lebih baik. Mengurangi penderitaan, meningkatkan taraf kebahagiaan. Dalam agama saya, yaitu Islam jika ingin dilimpahkan rezeki kia diajarkan untuk selalu bersyukur dengan apa yang usdah kita miliki, bersedekah kepada mereka yang membutuhkan, dan tak lupa disertai dengan doa yang bisa dilakukan dengan sholat Dhuha. Saya pribadi sangat meyakini itu semua dan alhamdulillah dalam segala keadaan apapun saya merasa Allah selalu membukakan jalan dari masalah yang ada. Wallahualam. Semua kita sendiri yang merasakan. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang disayang Allah SWT dan dimudahkan dalam usaha melangkah ke arah dimensi yang lebih baik. Aamiin.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  42. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Dimensi manusia ya dimensi manusia. Tidak mungkin manusia bisa menembus dimensi hewan, malaikat apalagi dimensi spiritual tertinggi yaitu Allah. Maka dari itu, setiap ujian cobaan yang datang sudah tentu sudah sesuai dengan takarannya. Cobaan tidak pernah melebihi batas kemampuan kita. Manusia diciptakan hanya untuk beribadah semata-mata kepada ALLAH SWT untuk meningkatkan derajat(dimensi)nya. Setiap dimensi ada ujiannya sendiri, menikmati dan selalu bersyukur atas apa yang diberikan oleh Allah adalah hal paling bisa dilakukan untuk menggapai ridho-Nya. Dan untuk meningkatkan derajat dimensinya tersebut manusia harus belajar, mengaji, berguru, berilmu. Seperti yang ada bahwa dimensi yang tertinggi adalah demensi spiritual yang mendasari semua kegiatan.

    ReplyDelete
  43. Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Dari elegi diatas kita ketahui bahwa mahluk hidup itu berdimensi-dimensi, mulai dari dimensi yang rendah hingga dimensi yang tinggi. Dimensi yang tinggi selalu mendapatkan hak dan keistimewaan tersendiri dibandingkan dengan mahluk yang berdimensi lebih rendah. Bicara mengenai dimensi mahluk adalah bicara tentang potensi yang dianugerahkan Tuhan kepada mahluk-Nya. Potensi tersebut adalah potensi fatal dan potensi fital. Potensi fatal adalah potensi yang diberikan Tuhan kepada mahluk dari awal dan tidak dapat dirubah. Sedangkan potensi fital adalah potensi usaha dan doa, bahwa mahluk dapat merubah nasibnya dengan usaha dan doa.

    Sebagai manusia, kita diberi dimensi yang tinggi dibanding dengan mahluk yang lain sebagai potensi fatal, itu adalah kesempurnaan yang diberikan Tuhan kepada manusia. Walaupun begitu manusia memiliki potensi fital untuk menaikkan dimensi ketingkat yang lebih tinggi. Sejatinya manusia yang memiliki dimensi tertinggi adalah manusia yang berilmu, dan menjalankan sunatullah. Semoga kita diberi kemampuan untuk selalu berusaha dan berdoa menggapai dimensi tersebut.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  44. Latifah Pertamawati
    S2 PM B
    17709251026

    Bismillaah..
    Baru saja saya melihat personifikasi batu tumbuhan dan hewan yang sangat menarik sekali. Mereka ibarat sesuatu yang mampu berbicara dan mengemukakan pendapat-pendapatnya. Jika dilihat secara dalam menurut keyakinan agama saya, memang benar semua ciptaan Tuhan bertasbih dan senantiasa menyebut namaNya. Memang benar bahwa semua hal yang ada (dan mungkin ada) sudah tertulis oleh Tuhan sejak awal. Akan tetapi, manusia sebagai makhluk yang mempunyai derajat paling tinggi dari makhluk lainnya diberikan kemampuan untuk memilih dan kemampuan yang lebih untuk berpikir. Sebagai makhluk yang paling mulia, hendaknya manusia memanfaatkan anugerah yang telah diberikan Tuhan tersebut untuk mempelajari dan menelusuri apa-apa yang ada dan mungkin ada sehingga menjadi manusia yang berilmu (dan bernurani). Maka sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang mampu mensyukuri segala sesuatu yang ada serta mengenali keberadaan Tuhan disekitarnya.

    ReplyDelete
  45. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P. Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Dunia yang kita tempati ini adalah dimensi material yang empirik. Akhirat atau kehidupan setelah kematian adalah dimensi kekal yang abadi. Mimpi yang kita alami selama tertidur adalah dimensi abstrak yang tidak nyata. Menggapai dimensi adalah upaya menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya. Beramal dunia adalah bekal menuju ke dimensi akhirat yang kekal. Dunia yang materil ini adalah fanah sedangkan yang abadi adalah akhirat. Keterkaitan antara dua dimensi itu sangatlah kuat. Kita sebagai manusia hanya bisa berdoa dan bertakwa kepada Allah SWT. Agar selalu diiberi ridhonya. Aamii!!

    ReplyDelete