Jul 31, 2010

Elegi Konferensi Kebenaran

Oleh Marsigit

Kebenaran:
Tidaklah mudah menyampaikan kebenaran. Aku telah menyaksikan para logos bertengkar memperebutkan kebenaran. Tetapi kelihatannya, tidak hanya para logos saja yang memperebutkan kebenaran, para mitos juga tidak kalah seru dalam memperebutkan kebenaran. Sedangkan aku masih menyaksikan bahwa para hati pun ternyata saling memperebutkan kebenaran. Maka aku berketetapan akan memanggil mereka semua untuk menyampaikan pikirannya masing-masing. Wahai para mitos, logos, dan hati, dengan ini aku mengundangmu semua untuk hadir pada acara konferensi kebenaran yang akan segera aku laksanakan. Silahkan masing-masing darimu menyampaikan kebenaranmu masing-masing.



Mitos:
Wahai kebenaran, janganlah engkau berlagak paling benar di hadapanku. Ketahuilah bahwa aku adalah mitos yang ada dan yang mungkin ada. Macam dan jumlahku adalah banyak tak terhingga. Aku meliputi semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka pada saatnya satu atau beberapa dari kami juga akan datang menemuimu. Aku selalu berusaha menghalangi para logos menemukan kebenaran. Aku tidak ikhlas jika para logos itu menemukan kebenaran yang sebenarnya. Maka aku berusaha agar para logos itu berhenti dalam usahanya itu. Karena jika para logos masih berusaha mencari kebenaran itu maka mereka akan tetap menjadi logos. Aku ingin agar mereka pada akhirnya juga menjadi mitos-mitos sepertiku. Itulah sebenar-benar benar bagiku. Bagiku benar adalah jika para logos itu telah menjadi mitos. Sahabatku adalah para fatamorgana.

Logos:
Wahai kebenaran, terimakasih engkau telah memberi kesempatan kepadaku. Aku menyadari bahwa diriku itu banyak dan bermacam-macam. Aku meliputi semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka pada saatnya satu atau beberapa dari kami juga akan datang menemuimu. Aku selalu berusaha menghindari bertemu dengan mitos. Aku benar-benar takut dengan perilaku mitos. Maka aku selalu berusaha agar aku bisa menemukan kebenaran yang sesungguhnya. Jika aku berhenti berusaha, maka para mitos telah mengancamku akan memangsaku semua. Itulah sebenar-benar benar bagiku. Bagiku benar adalah jika aku tetap berusaha mencari kebenaran.

Hati:
Wahai kebenaran, terimakasih engkau telah memberi kesempatan kepadaku. Aku adalah satu. Di dalam diriku yang satu itulah terdapat banyak. Maka aku meliputi semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka pada saatnya satu atau beberapa dari kami juga akan datang menemuimu. Aku selalu berusaha membersihkan hatiku. Aku benar-benar takut dengan penyakitku. Penyakitku adalah kotoran-kotoranku. Aku selalu berusaha membersihkan kotoran-kotoran atau penyakit hatiku. Tetapi aku menyadari bahwa penyakit hatiku itu sangatlah banyak. Penyakit hatiku itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Salah satu penyakit hatiku adalah godaan seekor syaitan. Padahal aku juga tahu bahwa syaitan itu banyak sekali. Syaitan itu juga meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Tiadalah daya dan upayaku mengusir para syaitan itu dari hatiku, kecuali atas bantuan tuhanku Allah SWT. Amien. Itulah sebenar-benar benar bagiku, yaitu bagaimana aku atas pertolongan Tuhan ku, aku bisa selalu membersihkan hatiku dari penyakit-penyakit hatiku.

Korespondensi:
Wahai kebenaran, terimakasih engkau telah memberi kesempatan kepadaku. Aku adalah salah satu dari sekian banyak sifatmu. Aku adalah kebenaran fakta. Fungsiku adalah menghubungkan pikiran dengan dunia fakta. Aku dikatakan benar jika pikiranku sesuai faktanya. Bagiku dunia itu adalah kenyataan. Dia adalah fakta. Bagiku 2+3 adalah 5. Itu adalah sebenar-benar kebenaran korespondensi karena aku dapat mengambil 2 batu kemudian mengambil 3 lagi batu, kemudian aku menghitung banyaknya perolehan batuku itu. Maka aku menemukan fakta bahwa 2+3 sama dengan 5. Maka kebenaran adalah fakta. Padalah aku tahu fakta itu banyak sekali. Mereka itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Maka mereka dapat mengetahui kebenaranku dengan pengelihatannya, pendengarannya, dan panca inderanya. Maka para logos itu adalah teman-temanku.

Koherensi:
Wahai kebenaran, terimakasih engkau telah memberi kesempatan kepadaku. Aku adalah salah satu dari sekian banyak sifatmu. Aku adalah kebenaran koherensi. Aku berdomisili di dalam pikiran manusia. Fungsiku adalah menjaga konsistensi atau komitmen atau janji-jani atau kesepakatan. Bagiku benar adalah konsisten atau komit atau menjaga kesepakatan. Aku tidak harus sesuai dengan faktanya. Bagiku 2+ 3 adalah 5. Itu adalah kebenaran koherensi karena aku dapat membuktikannya. Aku juga dapat dikatak sebagai kebenaran logika atau kebenaran matematika. Maka kebenaran adalah konsisten atau komit atau menjaga kesepakatan. Maka aku itu meliputi semua konsistensi atau komitmen atau janji-jani atau kesepakatan dari yang ada dan yang mungkin ada. Mereka dapat mengetahui kebenaranku dengan menggunakan akal pikirannya dan logikanya. Maka para logos itu adalah teman-temanku.

Relatif:
Wahai kebenaran, terimakasih engkau telah memberi kesempatan kepadaku. Aku adalah salah satu dari sekian banyak sifatmu. Aku adalah kebenaran relatif. Fungsiku adalah melayani individu-individu atau kelompok-kelompok. Maka kebenaran relatif itu dapat berupa kebenaran individu atau kebenaran kelompok. Aku juga boleh engkau katakan sebagai kebenaran subyektif. Kebenaranku tergantung pada individu-individu, kelompok ataupun konteks-konteksnya. Aku tahu bahwa dirimu itu sangatlah banyak. Yang relatif itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Maka kebenaran relatif itu tergantung orang, pikirannya, persepsinya, perasaannya, tujuannya, budayanya, kebiasaanya, ..dst.

Absolut:
Wahai kebenaran, terimakasih engkau telah memberi kesempatan kepadaku. Aku adalah salah satu dari sekian banyak sifatmu. Aku adalah kebenaran absolut. Orang dapat mengatakan aku juga sebagai kebenaran keyakinan. Maka tempat tinggalku adalah dalam hatiku. Kebenaran absolut itu banyaknya adalah satu. Maka kebenaran absolut itu adalah satu untuk semua yang ada dan yang mungkin ada. Kebenaran absolut itulah kebenaran Allah SWT. Aku dapat menggapai kebenaran absolut itu hanya dengan hatiku atas pertolongan Nya.

Manfaat:
Wahai kebenaran, terimakasih engkau telah memberi kesempatan kepadaku. Aku adalah salah satu dari sekian banyak sifatmu. Aku adalah kebenaran manfaat. Aku tahu bahwa aku kurang dikenal dan aku juga tahu bahwa aku tidaklah populer. Tetapi sebagian orang telah menggunakanku. Aku juga di sebut sebagai kebenaran pragmatis atau utilitarian. Benar bagiku adalah jika membawa manfaat bagiku. Padahal aku tahu bahwa diriku itu sangat banyak. Maka benar begiku adalah manfaat dari yang ada dan yang mungkin ada.

Persepsi:
Wahai kebenaran, terimakasih engkau telah memberi kesempatan kepadaku. Aku adalah salah satu dari sekian banyak sifatmu. Aku adalah kebenaran persepsi. Sesuatu itu benar jika sesuai dengan persepsiku. Aku melihat hijau maka yang benar adalah hijau. Aku tahu bahwa diriku itu banyak sekali. Persepsiku itu meliputi persepsi tentang yang ada dan yang mungkin ada.

KUASA:
Wahai kebenaran, terimakasih engkau telah memberi kesempatan kepadaku. Aku adalah salah satu dari sekian banyak sifatmu. Aku adalah kebenaran kuasa. Sesuatu itu benar jika sesuai dengan kekuasaanku. Jika tidaklah sesuai dengan kuasaku maka sesuatu itu tidaklah dapat dikatakan sebagai benar. Padahal engkau tahu bahwa kuasaku itu bisa tentang yang ada dan yang mungkin ada. Maka kebenaran kekuasaan jumlahnya ada banyak sekali. Teman-temanku adalah kuasa-kuasa yang lain yang berada dibawah kekuasaanku. Barang siapa tidak sesuai dengan kuasaku maka tidaklah benar dia bagi diriku.

30 comments:

  1. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Dalam elegi ini saya menemukan berbagai sifat kebenaran, musuh kebenaran, dan kunci kebenaran. Korespondensi, koherensi, manfaat, relatif, absolut, kuasa, persepsi adalah sifat-sifat kebenaran. Kunci kebenaran adalah logos dan hati yang bersih. Sedangkan musuh kebenaran adalah mitos dan hati yang kotor. Mitos akan menghalangi diri dari logos, sedangkan logos yang terhalangi akan menjadikan diri berhenti mencari kebenaran hakiki. Hati yang kotor akan mengundang godaan syaitan sehingga diri menjadi buta dan tuli akan kebenaran sejati.

    ReplyDelete
  2. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Mitos, logos, korepondensi, koherensi, relative, absolut, manfaat, persepsi memiliki definisi, makna mengenai kebenaran masing-masing. makna definisi dari masing-masing Mitos, logos, korepondensi, koherensi, relative, absolut, manfaat, persepsi ini dibangun sesuai dengan peran, tugas, tanggung jawab dari masing-masing Mitos, logos, korepondensi, koherensi, relative, absolut, manfaat, persepsi. Kebenaran versi mitos tentu berbeda dengan kebenaran versi logos, karena logos dan mitos memiliki perannya masing-masing. namun diatas itu semua, kebenaran dibingkai dengan kuasa Tuhan. Bila sesuai dengan kuasa Tuhan, maka itu disebut kebenaran. Bila tidak sesuai dengan kuasa Tuhan, maka tidak bisa dikatakan sebagai kebenaran.

    ReplyDelete
  3. Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Sepemahaman kami kebenaran merupakan salah satu nilai utama di dalam kehidupan manusia. Sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia. Hal ini berarti bahwa sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan selalu berusaha “memeluk” suatu kebenaran. Sejatinya manusia selalu mencari kebenaran, jika manusia mengerti dan memahami kebenaran, sifat asasinya terdorong pula untuk melaksankan kebenaran itu. Sebaliknya pengetahuan dan pemahaman tentang kebenaran, tanpa melaksanakan akan mengakibatkan munculnya konflik kebenaran, manusia akan mengalami pertentangan batin, konflik psikologis. Karena di dalam kehidupan manusia sesuatu yang dilakukan harus diiringi akan kebenaran dalam jalan hidup yang dijalaninya dan manusia juga tidak akan bosan untuk mencari kenyataan dalam hidupnya yang dimana selalu ditunjukkan oleh kebanaran. Semoga kami bisa menemukan dan melaksanakan apa yang disebut dengan kebenaran tersebut.

    ReplyDelete
  4. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Yang dapat saya simpulkan dari elegi diatas, bahwa kebenaran itu ada yang absolut dan ada yang relatif. Kebenaran absolut hanya dimiliki Allah SWT. Sedangkan kebenaran menurut manusia itu relatif tergantung sudut pandang dalam memandangnya. Dengan kebenaran yang bersifat relatif ini, tentu manusia akan mengklaim bahwa dirinya benar dan yang paling benar. Karena adanya kebenaran masing-masing orang yang bersifat relatif ini, maka di suatu negara dibuatlah hukum yang membatasi mana yang benar dan mana yang salah sehingga terciptalah harmoni di masyarakat.

    ReplyDelete
  5. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Semua elemen yang menjadi subyek di atas berbicara tentang kebenaran dan kesemuanya mengaku bahwa mereka adalah salah satu dari sekian banyak sifat kebenaran. Saya setuju dengan elegi ini karena kebenaran juga terkategori. Sesuatu dikatakan benar jika memang hal tersebut sesuai dengan kategori dalam golongannya. Misalnya, kita sebagai umat beragama tidak bisa mencampuradukkan nilai kebenaran antara agam yang satu dengan yang lainnya meskipun sesuatu itu sama-sama dikatakan benar. Mungkin demikian, mohon koreksi.

    ReplyDelete
  6. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Dari elegi ini saya menyimpulkan bahwa kebenaran itu tidak bermakna Tuhan,tergantung dari mana kita memandang dan dari mana kita memberikan indicator hal – hal termasuk salah atau benar. Dalam istilah kerenya adalah paham apa yang kita anut. Selain tidak tunggal, kebenaran pun bagi manusia bersifat relatif. Menurut saya,kebenaran itu hanya milik Allah, kebenaran yang sebenar – benarnya. Manusia hanya berusaha menggapainya. Jika dulu manusia percaya dengan kebenaran bahwa bumi adalah pusat tata surya, dan merupakan kebenaran yang diyakini bertahun – tahun, maka kini pernyataan tersebut menjadi tidak benar.

    ReplyDelete
  7. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. fitrahnya semua merasa benar, maka kebenaran itu relatif. Tapi kebenaran juga bersifat absolut. Semua orang pasti merasa benar menurut sudut pandnagnya maisng-masing dan akan menggap orang yang memiliki sudut pandang berbeda sebagai sesuatu yang salah. Dibutuhkan hati dan pikiran yang dewasa untuk mengakui kebenaran yang absolut. Dalam matematika kebenaran bersifat absolut, karena hanya ada ya dan tidak, benar dan salah.

    ReplyDelete
  8. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Menyampaikan kebenaran memang tidak mudah. Apalagi kebenaran tentang suatu hal yang sebagian orang mungkin tidak menginginkannya, misalnya kebenaran akan kegagalan. Tapi di sisi lain kebenaran pada dasarnya adalah fakta yang bisa disebut juga dengan fenomena. Dengan kebenaran, semua jelas dan tidak ada yang disembunyikan sesuai dengan fakta dan fenomena yang ada.

    ReplyDelete
  9. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Berbicara mengenai kebenararan, sesungguhnya kita tengah berbicara mengenai sesuatu yang relatif. Pasalnya benar relatif menurut manusia, serta ruang dan waktunya. Kita dapat mengatakan sesuatu itu benar melalui berbagai cara. Benar secara korespondensi artinya benar karena sesuai dengan kenyataan, sesuai dengan fakta. Benar secara koherensi artinya konsistensi dari apa yang kita ketahui yang tersusun secara logis. Kebenaran hendaknya kita dapatkan melalui ilmu. Kebenaran di dunia ini mungkin relatif karena tentu ada bahkan banyak perbedaan sebagai akibat dari sifat dunia yang memang relatif. Kebenaran absolut hanyalah milik Allah Swt.

    ReplyDelete
  10. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052

    Kebenaran adalah persepsi yang telah terbukti benar, dibuktikan dengan berbagai variasi cara dan metode dlam pembuktiannya. Persepsi didapat dari pengalaman pengalaman hidup. Semakin banyak pengalaman hidup, maka semakin bijak pula dalam menentukan suatu kebenaran.

    ReplyDelete
  11. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052

    Kebenaran juga ditentukan oleh sebuah Kuasa. Kuasa yang benar akan memberikan pernyatan kebenaran, sedangkan kuasa yang salah, akan memberi klaim kesalahan. Kuasa sendiri artinya tidak hanya satu, meliputi yang ada dan yang mungkin ada, bahkan yang tidak ada. Sehingga kuasa memberikan porsi yag besar pula untuk membenarkan atau tidak membenarkan.

    ReplyDelete
  12. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Kebenaran itu bersifat relatif. Tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Satu orang dengan orang lainnya tentulah memiliki pandangan yang bermacam-macam mengenai kebenaran. Namun penting diketahui bahwasannya kebenaran yang absolut itu merupakan kebenaran Allah SWT. Kita sebagai umat-Nya wajib untuk meyakini kebenaran yang datang dari Allah tersebut sebagai wujud keimanan kita terhadap Tuhan kita. Walaupun kondisi saat ini masih banyak manusia yang tidak mengakui kebenaran yang absolut tersebut. Semoga kita semua senantiasa mendapat petunjuk yang benar.

    ReplyDelete
  13. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Sebagai tambahan, Kebenaran yang saya pikirkan dengan yang orang lain pikirkan merupakan kebenaran yang relatif. Setiap manusia pasti selalu mencari kebenaran di dalam hidupnya. Kebenaran itu relatif, tergantung siapa yang menilai dan melihat kebenaran tersebut dari sudut pandang mana. Jadi kebenaran dan kesalahan itu saling membutuhkan satu sama lain. Tidak akan pernah ada kebenaran tanpa adanya kesalahan, begitupun sebaliknya

    ReplyDelete
  14. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Dari elegi di atas, saya memahami bahwa mitos, logos, korepondensi, koherensi, relative, absolut, manfaat, persepsi memiliki penerjemahan dan makna yang berbeda-beda mengenai kebenaran. Hermeneutika kebenaran menjadi beragam tergantung siapa yang berbicara, siapa yang melihat, siapa yang menilai, tergantung pula dengan ruang dan waktu yang mengikatnya. Kebenaran yang hakiki menurut saya adalah ketika kebenaran yang dilakukan sesuai spiritual dan keyakinan kita, itulah sebenar-benar kebenaran versi logos dan hati. Sehingga apa yang kita anggap sebagai benar itu merupakan hal yang Tuhan sukai dan sungguh-sunnguh benar sesuai perintah dan keinginanNya. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  15. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs PMAT C

    Kebenaran yang paling berbahaya adalah kebenaran kuasa. Kebenaran kuasa inilah yang dapat menjerumuskan kebenaran-kebenaran lain menjadi mitos karena yang dianggap benar adalah yang sesuai dengan kuasanya. Karena itulah sebenar-benar ujian adalah kekuasaan. Dengan kekuasaan yang dimiliki sesorang dapat membenarkan segala hal demi kepentingannya. Padahal sebenar-benar yang maha kuasa adalah milik Allah SWT, dan Allah SWT pula sebenar-benar kebenaran itu sendiri.

    ReplyDelete
  16. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Sejatinya kebenaran berasal dari zat Yang Maha Benar (Tuhan). Kemudian kebenaran tersebut berada dalam posisi dan tempat yang berubah sesuai dengan subjek maupun objek yang dilaluinya. Kebenaran bisa menjadi dirinya yang seutuhnya (benar) karena energi positif oleh manusia atau malah tertutupi oleh energi negatif manusia sehingga bukan menjadi dirinya yang seutuhnya (tidak benar).Energi positif ataupun energi negatif manusia sendiri bergantung pada akal pikiran dan hati yang diisi dengan spiritualnya. Jika spiritualnya baik maka energi yang dikeluarkan positif namun sebaliknya jika spiritualnya tidak baik maka energi yang dikeluarkannya negatif.

    ReplyDelete
  17. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Suatu kebenaran dari yang ada dan mungkin ada menurut manusia sangat relatif. Tergantung ruang dan waktu. Ilmu pengetahuan yang diyakini benar pada saat ini, belum tentu masih dianggap benar pada masa yang akan datang, karena semakin berkembangnya pengetahuan.

    ReplyDelete
  18. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Tambahan, suatu kebiasaan atau adat istiadat akan diyakini sebagai sesuatu yang benar di daerah A, belum tentu di anggap benar di daerah B. Hal ini dikarenakan perbedaan tempat, kebiasaa, dan adat. Namun, ada satu kebenaran yang bersifat mutlak yaitu kebenaran milik Allah SWT. Kebenaran yang tertuang dalam Al-Quran yang menjadi panduan manusia untuk menjalani kehidupannya secara benar.

    ReplyDelete
  19. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Semua mungkin sudah beranggapan bahwa dirinya telah mencapai kebenarn. Namun, kebenaran itu masih relatif, hanya benar menurut ruang dan waktu masing-masing. Satu orang dengan orang lainnya tentulah memiliki pandangan yang bermacam-macam mengenai kebenaran.
    Kebenaran yang mutlak hanya milik Allah SWT. Kita sebagai makhluk-Nya harus meyakini hal tersebut sebagai wujud keimanan kita terhadap-Nya.

    ReplyDelete
  20. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Kebenaran dapat dilihat oleh dua sisi, jika kita memandang kebenaran yang ada di bumi, amak dapat dikatakan kebenaran sebagai sesuatu yang relatif. Namun, jika kita memandang kebenaran yang ada di langit, maka kebenaran itu bersifat tetap. Maka dari itu, dalam memendang kebenaran di bumi kita selalu memiliki perspektif yang berbeda antar umat manusia.

    ReplyDelete
  21. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Dari elegi diatas dapat dipahami bahwa di dunia ini ada berbagai macam kebenaran. Kebenaran ini disesuaikan dengan ruang dan ruang dan waktunya. Dan kebenaran meliputi semua hal yang adan dan mungkin ada. Dimana kebenaran mitos menghalangi kebenaran logos, kebenaran hati tergantung dari kebersihan hati, kebenaran korespondensi diketahui dengan penglihatan, pendengaran dan panca inderanya, kebenaran koherensi ada pada akal pikiran dan logika, kebenaran manfaat adalah manfaat yang ada dan mungkin ada, kebenaran persepsi adalah tentang persepsi yang ada dan mungkin ada, serta kebenaran kuasa merupakan kuasa-kuasa yang dibawah kekuasaanNYA, sesungguhnya kebenaran bersifat relatif tergantung dari ruang dan waktu, Sehingga kebenaran Absolut hanya milik Allah yang maha Benar.

    ReplyDelete
  22. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Melalui elegi ini kita diberi gambaran bawha segala yang ada dan mungkin ada memiliki kebenaran. Bahkan sebuah mitos, yang selalu dianggap tidak baik pun memiliki kebenarannya sendiri. Sehingga kebenaran itu tergantung pun tergantung pada objek yang dibicarakan.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  23. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Kebenaran yang mtlak hanya kebenaran yang bersifat absolut dimana kuasa Tuhan sudah ikit campur. Sehingga jika dari pernyataan saya di atas, saya lebih dominan pada kebenaran itu tidak bersifat mutlak bagi para makhluk yang ada di dunia ini. Karena pada dasarnya kebenaran itu bersifat subyektif dimana masing-masing individu memiliki persepsi masing-masing mengenai kebenaran.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  24. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Bahwa kebenaran itu tidak tunggal. Kebenaran cukuplah milik kita sendiri ato kelompok kita sendiri. standar kebenaran dari setiap orang tidak sama. Banyak macam kebenaran; seperti kebenaran etika. Etika obyektif dapat diartikan bahwa untuk menilai kebaikan dan keburukan berdasarkan tujuan atau hasil yang akan dicapai berdasarkan akibat yang di timbulkan dari suatu tindakan, bukan tindakannya; kebenaran hakiki. Metafisika secara umum didefinisikan yaitu Ilmu ilmu yang mempelajari segala sesuatu yangberhubungan dengan ketuhanan atau sesuatu yang tidak bisa dilihat dan diraba secara fisik / terpisah dari alam material.

    ReplyDelete
  25. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C
    assalamualaikum
    Kebenaran hanya dimiliki Allah SWT. Sedangkan kebenaran menurut manusia itu relatif tergantung sudut pandang seseorang.

    ReplyDelete
  26. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    Dari elegi diatas menurut saya semua mempunyai hak untuk merasa dirinya paling benar , dan pada dasarnya penilaian kebenaran itu relatif menurut sudut pandang orang yang berbeda karena sejatinya kebenaran paling mutlak adalah milik Allah yang Kuasa.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  27. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Dalam kehidupan apa yang kita lakukan atau kerjakan benar belum tentu menurut oarang lain benar, begitupun sebaliknya. Kebenaran sulit di tentukan. Seseorang mencari alasan agar diperoleh kata 'benar'. Dan apakah kata benar tersebut bersifat kebenaran ataukah pembenaran? Sejatinya kebenaran absolut adalah kebenaran Allah SWT.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  28. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Dari elegi menggapai kebenaran bisa dilihat, kebenaran terkadang bisa berbeda tergantung dari mana kita melihatnya, misal saat kita menggunakan salah satu sisi akan hanya terlihat benar. namun ketika kita menggunakan sisi yang lain bisa jadi kebenaran itu menjadi kurang benar. Padahal sebagai manusia kita sealu mencari kebenaran. Jika manusia mengerti dan memahami kebenaran, maka ia akan terdorong untuk melaksanakan kebenaran tersebut

    ReplyDelete
  29. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Dalam kehidupan kita tidak lepas dari mitos dan logos. Perjalanan hidup kita sesungguhnya adalah mengejar logos namun dalam perjalanan kita akan menemukan mitos yang tak terhitung banyaknya. Mitos-mitos selalu akan mempengaruhi pemikiran dan hati kita sehingga kita memandangnya sebagai suatu kebenaran. Maka diperlukan hati yang jernih, pikiran yang kritis serta petunjuk dari-Nya dalam mengenali mitos.

    ReplyDelete
  30. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Kebenaran dalam persepsi manusia itu bersifat relatif. Hal itu karena, kebenaran versi manusia itu tergantung oleh ruang dan waktu. Sesuatu yang benar menurut si A belum tentu benar menurut si B. Misalnya saja siswa A salah menjawab pertanyaan guru menurut guru dan siswa yang lainnya. Namun dalam persepsi siswa A yang tidak mengikuti pelajaran saat menerangkan mengenai pertanyaan tersebut, jawabnya adalah yang benar. Sehingga tidak ada kebenaran mutlak dalam kehidupan ini. Kebenaran yang sifatnya mutlak hanyalah kebenaran milik Allah swt. Terimakasih

    ReplyDelete