Jul 31, 2010

Elegi Menggapai Pengetahuan Obyektif

Oleh Marsigit

Subyek1:
Wahai pengetahuansatu dimanakah engkau sekarang?



Pengetahuansatu:
Aku sekarang berada di dalam dirimu. Aku di dalam pikiranmu. Aku telah menjadi persepsimu. Aku telah menjadi imajinasimu. Aku telah menjadi analisismu. Aku telah menjadi tesismu. Aku telah menjadi
pendapatmu. Aku telah menjadi kesimpulanmu. Aku telah menjadi metodemu. Aku telah menjadi hak ciptamu. Itulah keadaanku sekarang, yaitu aku telah menjadi subyektifmu. Aku adalah dirimu yang subyektif, yaitu aku yang menurut ukuranmu sendiri.

Subyek1:
Tetapi mengapa engkau tampak gelisah.

Pengetahuansatu:
Aku mulai gelisah karena sedang memikirkanmu. Aku merasa tidak baik jika terus menerus tetap tinggal di dalam dirimu. Aku merasa iba terhadapmu jika nama baikmu tercemar gara-gara aku terlalu lama tinggal di dalam pikiranmu.

Subyek1:
Kemudian apa maumu.

Pengetahuansatu:
Aku ingin keluar dari dirimu. Aku ingin keluar dari dalam pikiranmu. Aku ingin mengadakan pameran. Dengan aku mengadakan pameran maka aku berharap banyak orang-orang akan mengetahui tentang diriku. Jika orang-orang banyak, mengetahui tentang diriku, maka mereka juga akan mengetahui tentang dirimu. Maka ijinkanlah aku mengadakan pameran, dan aku berjanji akan kembali masuk ke dalam dirimu, ketika sudah sampai saatnya.

Subyek1:
Baiklah kalau begitu, aku ijinkan engkau keluar dari dalam diriku dan silahkan mengadakan pameran.

Pengetahuansatu:
Terimakasih subyek1ku. Wahai orang banyak, aku berasal dari subyek1ku. Aku telah lama di dalam pikiran subyek1ku. Aku telah lama menjadi persepsi subyek1ku. Aku telah lama menjadi imajinasi subyek1ku. Aku telah lama menjadi analisis subyek1ku. Aku telah lama menjadi tesis subyek1ku. Aku telah lama menjadi pendapat subyek1ku. Aku telah lama menjadi kesimpulan subyek1ku. Aku telah lama menjadi metode subyek1ku. Aku telah lama menjadi hak cipta subyek1ku. Itulah keadaanku masa lalu, yaitu aku telah menjadi subyek1tif dari subyek1ku. Aku sekarang sudah berada di luar subyek1ku, yaitu aku telah bersiap untuk tidak menjadi ukuran dari subyek1ku sendiri. Aku siap mengadakan pameran. Maka silahkan engkau semuanya melihat diriku. Silahkan engkau semuanya meneliti diriku. Silahkan engkau semuanya mengoreksi diriku secara terbuka. Silahkan engkau semuanya menganalisis diriku. Silahkan engkau semuanya menilai diriku. Silahkan engkau semuanya memperbaikiku.

Subyek2:
Wahai pengetahuansatu maafkanlah jika aku nanti membuatmu kecewa karena aku telah menemukan bahwa ada beberapa hal darimu yang tidak sesuai dengan kebenaran umum.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah melakukan kesalahan persepsi.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah melakukan kesalahan analisi.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah membuat tesis yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah menyampaikan pendapat yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah membuat kesimpulan yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah menggunakan metode yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah lama menganggapmu sebagai benar, padahal senyatanya engkau itu adalah salah.

Subyek3:
Wahai pengetahuansatu maafkanlah jika aku nanti membuatmu kecewa karena aku telah menemukan bahwa ada beberapa hal darimu yang tidak sesuai dengan kebenaran umum.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah melakukan kesalahan persepsi.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah melakukan kesalahan analisi.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah membuat tesis yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah menyampaikan pendapat yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah membuat kesimpulan yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah menggunakan metode yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah lama menganggapmu sebagai benar, padahal senyatanya engkau itu adalah salah.

..

Subyekn:
Wahai pengetahuansatu maafkanlah jika aku nanti membuatmu kecewa karena aku telah menemukan bahwa ada beberapa hal darimu yang tidak sesuai dengan kebenaran umum.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah melakukan kesalahan persepsi.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah melakukan kesalahan analisi.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah membuat tesis yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah menyampaikan pendapat yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah membuat kesimpulan yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah menggunakan metode yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah lama menganggapmu sebagai benar, padahal senyatanya engkau itu adalah salah.

Pengetahuansatu:
Waduh, bagaimanakah nasibku ini? Padahal selama ini aku telah menjadi kebanggaan subyek1. Aku telah menjadi pedoman subyek1. Aku telah lama menjadi anak emas dari subyek1. Padahal sekarang aku tahu sebenar-benar diriku tidaklah sesuai dengan pandangan orang-orang. Aku hanya benar sesuai subyektifitas subyek1. Padahal aku ternyata salah bagi subyek2, subyek3, subyek4, ..., subyekn. Wahai para subyek semuanya, kecuali subyek1, aku minta tolonglah kepadamu. Bagaimana caranya agar aku juga benar bagi engkau semuanya.

Subyek2, subyek3, subyek4, ..., subyekn bersama-sama menjawab:
Wahai pengetahuansatu, sungguh berat caranya. Sungguh panjang perjalanannya. Jika engkau menginginkan agar engkau juga benar bagi kita semua, termasuk benar bagi subyek1, maka subyek1 harus bersedia memperbaiki banyak hal.
Subyek1 harus memperbaiki persepsinya.
Subyek1 harus memperbaiki analisinya.
Subyek1 harus memperbaiki tesisnya.
Subyek1 harus memperbaiki pendapatnya.
Subyek1 harus memperbaiki metodenya.
Subyek1 harus memperbaiki kesimpulannya.

Subyek1:
Wahai subyek2, subyek3, subyek4, ..., subyekn , terimakasih atas saran dan koreksimu. Aku dengan ikhlas telah menerima semua saran dan perbaikanmu.
Aku akan memperbaikki persepsiku.
Aku akan memperbaikki analisisku.
Aku akan memperbaikki tesisku.
Aku akan memperbaikki pendapatku.
Aku akan memperbaikki metodeku.
Aku akan memperbaikki kesimpulanku.
Maka inilah persepsiku yang baru. Inilah analisisku yang baru. Inilah pendapatku yang baru. Inilah metodeku yang baru. Inilah kesimpulanku yang baru.

Pengetahuansatu:
Wahai subyek2, subyek3, subyek4, ..., subyekn , kelihatannya subyek1 tidak lagi mengakuiku. Lalu bagaimana nasibku?

Subyek2, subyek3, subyek4, ..., subyekn bersama-sama menjawab:
Wahai pengetahuansatu, itulah sebenar-benar nasibmu. Engkau telah berubah menjadi pengetahuan obyektif. Maka namamu juga telah berubah. Jika engkau tidak keberatan maka engkau akan aku sebut sebagai pengetahuandua.

Pengetahuandua:
Wahai subyek1, subyek2, subyek3, subyek4...subyekn, terimakasih aku ucapkan, karena aku telah engkau angkat menjadi pengetahuan obyektifmu. Tetapi aku merasa malu jika aku engkau angkat begitu saja tanpa engkau uji kehandalanku. ku juga merasa malu kepada pengetahuansatu, karena walaupun pengetahuansatu bersifat subyektif dan serba salah, tetapi berani mengadakan pameran. Maka aku bersedia menjadi pengetahuan obyektifmu semua dengan syarat aku diperbolehkan presentasi di seminar dan bergaul dengan orang-orang. Hal demikian juga aku maksudkan agar subyek1 bisa secara ikhlah menerimaku kembali dengan demikian aku berharap nantinya juga bisa menjadi pengetahuan subyektif dari subyek1.

Seminar dan pergaulan:
Wahai para hadirin semuanya, marilah kita bersama menguji pandatang baru kita ini, yaitu pengetahuandua, dan mengadakan diskusi dan pergaulan. Setelah kita berdiskusi, bergaul maka seminar ini mengambil kesimpulan bahwa ternyata:
Kita memutuskan bahwa pengetahuan2 adalah persepsi yang benar.
Kita memutuskan bahwa pengetahuan2 adalah analisi yang benar.
Kita memutuskan bahwa pengetahuan2 adalah tesis yang benar.
Kita memutuskan bahwa pengetahuan2 adalah pendapat yang benar.
Kita memutuskan bahwa pengetahuan2 adalah metode yang benar.
Kita memutuskan bahwa pengetahuan2 adalah kesimpulan yang benar.

Pengetahuan2:
Wahai semuanya, aku terharu mendengar semua kesaksianmu. Aku telah engkau angkat menjadi pengetahuan obyektif bagi semuanya. Bahkan aku telah divalidasi dalam seminar dan melalui pergaulanpergaulan. Aku merasa netral dan tidak berpihak. Aku adalah benar bagi semuanya tanpa kecuali. Inilah sebenar-benar diriku. Aku adalah pengetahun obyektifmu semuanya.

Pengetahuan2 bertanya kepada subyek1:
Wahai subyek1, bagaimanakah menurut pendapatmu. Bagaimanakah kondisiku. Apakah engkau bersedia menerima diriku untuk menjadi pengetahuan subyektifmu sekaligis pengetahuan obyektifmu?

Subyek1:
Aku merasa terharu melihat betapa jauh pengembaraanmu. Engkau bahkan telah merubah wajah dan isimu demi menggapai kebenaran obyektif. Aku merasa sangat bersyukur, bahwasanya aku telah diberikan rakhmat dan hidayah Nya. Maka dengan serta merta aku dengan tangan terbuka dan dengan hati ikhlas, aku bersedia menerimamu kembali. Dengan ini engkau telah menjadi pengetahuanku baik secara obyektif maupun subyektif.

Orang tua berambut putih:
Dari berbagai pertanyaanmu itu sebetulnya aku telah hadir di sisimu. Aku telah menyaksikan bagaimana subyek1 sebenar-benar belajar. Itulah usahamu menggapai pengetahuan. Amien.

43 comments:

  1. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Dalam kehidupan, kita tidak harus melihat sesuatu yang subjektif. Karena secara subjektif, kita akan melihat sesuatu hanya di satu sisi, yaitu sisi yang benar atau sisi yang salah. Jadi, kita harus melihat sesuatu dengan objektif. Hal ini karena dengan objektif, kita akan melihat sesuatu dalam kondisi nyata dan tidak hanya di satu sisi, tetapi juga di dua sisi yang terdiri dari sisi kanan dan sisi yang salah. Pengetahuan subyektif merupakan pengetahuan yang berasal dari pemikiran diri sendiri mengenai sesuatu dan bernilai benar menurut yang memikirkan, tetapi belum tentu benar menurut orang lain. Sedangkan, pengetahuan obyektif adalah pengetahuan yang berasal dari pemikiran sendiri kemudian dikemukankan kepada orang lain dan mendapat perbaikan-perbaikan dari orang lain, sehingga pemikiran tersebut dapat bernilai benar oleh semua orang.

    ReplyDelete
  2. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    amal tanpa ilmu adalah sesat
    ilmu tanpa amal adalah celaka
    ilmu dimiliki utuk diamalkan, tanpa amalan nyata, maka ilmunya tidak akan berguna
    dalam beramal (menggurui) tentulah butuh ilmu, tanpa ilmu, semuanya hanyalah mustahil
    sebaik-baik orang adalah orang yang mengamalkan ilmunya

    ReplyDelete
  3. Fatmawati
    16709251071
    S2 PM.D 2016
    menarik sekali elegi ini. disini diceritakan proses terbentuknya pengetahuan baru yang obyektif atau diakui berbagai pihak. tak jarang memang jika seseorang menemukan pengetahuan baru, tanpa sadar dia akan menyombongkan hal tersebut dan tidak lagi berpikir obyektif. padahal, pengetahuan baru tersebut masih bersifat benar hanya untuk dirinya. maka dari itu, pengetahuan baru harus diketahui oleh orang lain. kemudian biarlah orang lain mengembangkan pengetahuan baru tersebut. hingga akhirnya sifat benar nya tidak hanya menurut satu orang, tapi menurut semua orang yang telah mendalami pengetahuan baru tersebut. jika sudah mencapai pada titik ini, maka pengetahuan baru yang digenggam oleh satu orang tadi akan menjadi pengetahuan obyektif, yang kebenarannya diakui semua pihak. walaupun sudah menjadi pengetahuan obyektif juga masih harus dikembangkan lagi.

    ReplyDelete
  4. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Pengetahuan dapat dipandang dari dua sudut pandang, yaitu pengetahuan subyektif dan pengetahuan obyektif. Pengetahuan subyektif adalah pengetahuan yang benar menurut diri kita sendiri. Sedangkan pengetahuan obyektif adalah pengetahuan yang benar menurut kita dan juga menurut orang lain. Cara menjadikan pengetahuan yang kita miliki bisa menjadi pengetahuan obyektif yaitu dengan mempublishnya sehingga orang lain dapat melihat dan menerima kebenarannya.

    ReplyDelete
  5. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Bisa saja dalam pengetahuan obyektif dipandang sebagai pengetahuan yang berasal dari pemikiran sendiri kemudian di kemukankan kepada orang lain, kemudian terdapat perbaikan-perbaikan dari orang lain dan kemudian kesimpulannya dapat bernilai benar oleh semua orang. Atau juga dapat berarti pengetahuan objektif didapatkan dari pengalaman-pengalaman berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Dari interaksi tersebut akan terjadi pembentukan persepsi, menganalisis, membuat tesis, berpendapat, menggunakan metode, mengambil kesimpulan. Dengan proses itu dilakukan secara bersama maka akan didapatkan pengetahuan yang tidak hanya memiliki nilai kebenaran pada satu orang saja, tetapi juga bersifat universal.

    ReplyDelete
  6. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    pengetahuan di dapat dengan sebenar-benarnya belajar, maka perjuangan untuk belajar itu amat lah tidak mudah. banyak halang merintang dalam menggapainya.
    pengetahuan hanya akan ada jika kita benar-benar mau dan berniat untuk serius dalam belajar dan dia akan ada bersama orang-orang yang berpikir.

    ReplyDelete
  7. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Pengetahuan yang Obyetif tetap memerlukan pengetahuan subjektif untuk menggapainya. Tanpa subjektif ilmu obyektif tidak dapat diperoleh.
    Akan tetapi proporsi obyektif dan subyektif ini harus didominasi oleh obyektif.
    Karena jika subyektif yang dikedepankan akan menghambat usaha dalam menggapai pengetahuan yang obyektif karena manusia sebagai makhlukNya adalah makhluk yang sanagt mudah berubah-rubah isi pikiran dan hatinya.

    ReplyDelete
  8. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu'alaikum. Pengetahuan itu ada karena subjek dan objenya. Pengetahuan subjektif pengetathuan yang dipikirkan sedniri, dan pengetahuan objekntif pengetahuan yang telah didiskusikan dengan orang banyak. Kedua pengetahuan tidak lepas satu sama lain. Karena pengetahuan membutuhkan konfirmasi kebenaran jika teah dipikirkan. Dan cara mengkonfirmasi itu dengan didiskusikan dengan orang banya sehingga dapat diterima masyarakat luas.

    ReplyDelete
  9. Jeanete Nenabu
    15709251004
    PPS PMAT D 2015

    Untuk menggapai pengetahuan obyektif dibutuhkan pembelajaran yang terus menerus. Tidak ada pengetahuan yang tetap sama, pengetahuan dalam diri manusia akan terus berubah. Jika manusia tidak terus menerus memperbaiki persepsi, analisis, tesis, pemdapat, metode dan kesimpulan yang dipunyai, pengetahuan yang ada hanya akan menjadi pengetahuan yang subjektif saja dan bukan pengetahuan yang objektif dan juga subjektif.

    ReplyDelete
  10. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Pengetahuan subyektif di jelaskan bahwa pengetahuan yang berasal dari pemikiran diri sendiri mengenai sesuatu dan bernilai benar menurut sang pemikir (kelompok tertentu) namun belum tentu menurut orang lain.Pengetahuan obyektif adalah pengetahuan yang berasal dari pemikiran sendiri kemudian di kemukankan kepada orang lain.Kemudian terdapat perbaikan-perbaikan dari orang lain dan kemudian kesimpulannya dapat bernilai benar oleh semua orang.

    ReplyDelete
  11. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Pengetahuan bisa subjektif dan objektif jika pengetahuan objektif itu telah menggantika pola pikir sang pemikir sehingga sang pemikir juga menilai itu benar pada dirinya sendiri.

    ReplyDelete
  12. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Saat seseorang belum mencoba untuk keluar dari pengetahuan subyektif, orang itu membuka pikirannya dengan orang lain. Karena jika diri kita dan orang lain mengatakan hal yang sama untuk sebuah pegetahuan, maka itulah pengetahuan obyektif. Bahkan untuk menerima pengetahuan byektif pun sangat sulit ketika dalam pola pikir kita masih terkungkung dengan pemikiran subyektif diri sendiri.

    ReplyDelete
  13. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Objektif merupakan lawan kata dari subjektif. Dikatakan pengetahuan objektif apabila pengtahuan tersebut jika penilaian yang diberikan oleh saya dan orang lain adalah sama. Agar pengetahuan yang kita miliki dapat disebut objektif maka diperlukan adanya publikas dapat berupa seminar yang disaksikan oleh banyak orang.

    ReplyDelete
  14. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Cara yang bisa digunakan untuk menilai keobjektifan adalah dengan mencoba membandingkan hasil penilaian beberapa orang. Jika hasilnya sama persis atau cenderung sama, maka bisa disebut penilaiannya bersifat objektif. Contohnya, mahasiswa yang akan menyusun tesis maka diperlukan bimbingan dari dosen, jika ada yang belum sesuai mak direvisi. Setelah itu akan memperoleh pemikiran yang sama, sehingga pengetahuan objektif itu akan tercapai.

    ReplyDelete
  15. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sebagai individu pastilah memilik satu titik focus dalam pandangannya maka muncullah pengetahuan subjektif yang bertolah ukur pada dirinya sendiri. Namun jika pengetahuan itu mau dipandang sebagai ilmu, perlulah diukur dari berbagai sudut pandang sehingga terpampang sebagai pengetahuan yang objektif diukur dari berbagai sudut pandang. Sehingga perlulah komunikasi atau publikasi dalam pengetahuan untuk menguji kebenaran dari pengetahuan itu sebagai pengetahuan yang objektif sehingga tidak perlu bersandar pada satu subjek saja.

    ReplyDelete
  16. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Dalam hidup ini sering seseorang sudah merasa dirinya paling hebat, paling pintar. Padahal setelah dia keluar dari alam pikirannya dan mecoba untuk mengeluarkan ide-idenya kepada khalayak ramai, disitulah baru terasa akan kekurangan. Jika diibaratkan katak dalam tempurung, dia sudah merasa paling segala-galanya tapi setelah tempurung di muka baru merasakan akan kekerdilan dirinya. Maka janganlah merasa sombong dengan apa yang kita miliki, karena di dunia ini tidak ada yang sempurna, masih ada langit di atas langit, teruslah belajar sesuai dengan pepatah “tuntutlah ilmu dari buayan sampai liang lahat.

    ReplyDelete
  17. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Pengetahuan objektif dapat diperoleh jika bersedia merubah pengetahuan subjektifnya menjadi terbuka dan bersifat netral. Dengan begitu pengetahuan akan dapat diterapkan dan diterima di berbagai obyek, dapat menerima pengetahuan dari berbagai subyek, dan tanpa memihak. Pengetahuan subjektif merupakan mengetahuan parsial, karena kita hanya memandangnya dari satu sisi, tidak bersifat terbuka. Ketika kita menerapkan pengetahuan objektif, maka segala hal terpusat pada objek tersebut, kita melihat dari segala sisi objek tersebut sehingga kita mendapatkan penilaian yang sebenar-benar tampak pada objek tersebut. inilah yang disebut sebagai pengetahuan yang menyeluruh.

    ReplyDelete
  18. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Dalam memandang ilmu pengetahuan tentunya akan berbeda – beda. Ada yang memandang subyektif ataupun obyektif. Ilmu yang diperoleh mungkin benar bagi seseorang tapi mungkin salah bagi orang lain, maka dapat dikatakan bahwa kebenaran ilmu itu relatif. Bagaimana memperoleh ilmu tersebut juga tergantung dari masing – masing orang. Butuh usaha yang terus menerus untuk memahami ilmu dan mencari ilmu. Ilmu akan kaya jika terus dipelajari, dan hendaknya juga dibagikan dengan orang lain agar ilmu yang dimiliki tidak mengendap dan bermanfaat bagi orang lain.

    ReplyDelete
  19. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Belajar adalah proses sepanjang hayat. Dalam kehidupan sehari – hari akan adabanyak hal baru, sehingga seseorang akan belajar untuk dapat memahami, mengadaptasi, hal baru tersebut. Oleh karena itu, presepsi tiap orang bisa berbeda – beda, ada yang dianggap benar dan ada yang salah. Untuk mendapatan pengetahuan yang objektif tentu ilmuwan – ilmuwan pada jaman dahulu memiliki presepsi – presepsiyang berbeda kemudian mereka saling memberikan pendapat satu sama lain, sehingga mendapatkan ilmu yang objektif dan dipercaya banyak orang.

    ReplyDelete
  20. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari elegi di atas saya belajar untuk selalu terbuka untuk mendengarkan pendapat, masukan dan koreksi dri orang lain. Karena apa yang kita tahu belum tentu benar seutuhnya, sehingga pendapat orang lain akan membuka pikiran kita untuk berpikir dengan sudut pandang yang lain sehingga tidak merasa benar sendiri.

    ReplyDelete
  21. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Segala hal yang ada di dunia ini dapat dipandang secara subjektif atau objektif. Suatu pengetahuan pun juga dapat dipandang dengan dua sudut pandang tersebut. Sudut pandang subjektif diperoleh berdasarkan persepsi diri masing-masing orang, sedangkan sudut pandang objektif berdasarkan dari apa yang terlihat oleh semua orang sehingga menimbulkan pemikiran yang sama satu sama lainnya. Oleh karenanya, alangkah baiknya dalam membangun suatu pengetahuan itu dengan berpikiran secara objektif bukan subjektif.

    ReplyDelete
  22. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi ini sangat menarik, yang saya dapat dari elegi ini. Janganlah mudah berbangga diri dengan ilmu yang kita miliki saat ini karena masih banyak ilmu-ilmu diluar sana yang masih belum kita ketahui. Belajar dan terus belajar adalah cara kita menambah ilmu pengetahuan kita dan juga dengan belajar hal-hal baru yang belum kita ketahui maka kita juga dapat menilai apakah ilmu yang saat ini kita punya sudah benar atau belum. Maka perbanyaklah diskusi agar ilmu yang kita miliki semakin berkembang kearah yang benar.

    ReplyDelete
  23. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Ilmu yang kita miliki seharusnya dapat bermanfaat bagi orang lain, melalui ilmu yang kita miliki maka kita dapat diketahui orang lain. mungkin kita dapat bermanfaat bagi mereka ataupun kita dapat menolong mereka dengan ilmu yang kita dapatkan. ilmu adalah segalanya, tetapi jangan lupakan agama di dalamnya.

    ReplyDelete
  24. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2
    Pengetahuan dibedakan menjadi 2 macam, yaitu pengetahuan subjektif dan pengetahuan objektif. Pengetahuan subjektif berasal dari diri kita sendiri, berupa apa yang ada dalam pikiran kita, yang kita simpan dan pahami sedemikian mungkin. Sedangkan pengetahuan obyektif merupakan pengetahuan yang berasal dari pemikiran sendiri kemudian di kemukankan kepada orang lain, kemudian terdapat perbaikan-perbaikan dari orang lain dan kemudian kesimpulannya dapat bernilai benar oleh semua orang. Pengetahuan bisa subjektif dan objektif jika pengetahuan objektif itu telah menggantikan pola pikir sang pemikir sehingga sang pemikir juga menilai itu benar pada dirinya sendiri.

    ReplyDelete
  25. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pengetahuan objektif ialah persepsi, analisis, tesis, pendapat, metode, dan kesimpulan yang benar. Objektif berarti benar-benar sesuai dengan kenyataan. Jadi, kita menilai sesuatu atau seseorang itu berdasarkan kenyataan, bukan berdasarkan faktor subjektivitas.

    ReplyDelete
  26. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pelajaran yang dapat saya ambil dari “Elegi Menggapai Pengetahuan Obyektif” adalah jika kita belajar sungguh-sungguh, berusaha untuk menggapai pengetahuan, tak lupa diselingi dengan berdo’a dan menerima semua saran, koreksi, kritik dan perbaikan dengan ikhlas maka hasil dari semua jerih payah kita akan maksimal.

    ReplyDelete
  27. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Di dunia ini, terdapat pengetahuan yang bersifat subjektif dan objektif. Pengetahuan yang subjektif ialah pengetahuan yang didasari dari pemikiran seseorang. Sedangkan pengetahuan yang objektif ialah berdasarkan kenyataan, realitanya, dan kebenarannya.

    ReplyDelete
  28. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan elegi di atas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dibagi menjadi dua, yaitu pengetahuan subjektive dan pengetahuan objektive. Begitu juga dalam dunia pendidikan, guru pasti menggunakan pengetahuan dalam hal penilaian. Namun, perlu diingat bahwa dalam melakukan penilaian terhadap siswa dibutuhkan objektivitas. Misalnya penilaian hasil belajar siswa harus dilakukan dengan penilaian objektive, yaitu dilakukan dengan mengukur potensi siswa yang sesungguhnya sesuai kompetensi yang dibelajarkan. Penilaian hasil belajar hendaknya tidak dipengaruhi oleh perbedaan latar belakang agama, sosial-ekonomi, budaya, bahasa, gender, dan hubungan emosional. Pengetahuan objektif tersebut antara lain persepsi, analisis, tesis, pendapat, metode, dan kesimpulan yang benar.

    ReplyDelete
  29. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi diatas menggambarkan bahwa sebagai guru kita memang memiliki pengetahuan subjektif dan objektif. Pengetahuan yang baik adalah pengetahuan yang objektif, dimana guru mendapatkan pengetahuannya dari hasil diskusi, sharing, dan saling terbuka dengan pengetahuan di luar pikiran mereka. Sehingga akan terbentuk guru yang inovatif, mampu mencari referensi dari luar untuk perkembangan pribadinya

    ReplyDelete
  30. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pada bagian awal elegi secara tersirat dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dalam pikiran setiap orang bersifat subjektif. Dan untuk meng-objektifkannya diperlukan suatu "pameran" dalam artian pameran disini adalah penerimaan oleh orang-orang

    ReplyDelete
  31. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pengetahuan secara sifat dapat dipandang menjadi dua yakni bersifat subjektif dan objektif. Subjektif dalam artian pengetahuan baru merupakan intuisis dari seseorang sehinnga nilai kebenarannya masih relatif. Sedangkan pengetahuan bersifat objektif ini yakni memandang dari suatu pengetahuan dari 2 sisi yakni diri sendiri dan kemudian melihat anggapan orang lain mengenai suatu pengetahuan itu sendri. Nilai kebenarannya dapat dapat sama antara satu dan lainnya dapat juga berbeda sehingga untuk menyamakannya perlu adanya kesepakatan dan perbaikan secara bersama-sama.

    ReplyDelete
  32. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Berbicara soal pengetahuan, apa yang telah dimiliki seseorang adalah pengetahuan yang bersifat subjektif. Tidak sedikit dari manusia jika sudah mendapatkan dan menguasai pengetahun baru, maka akan muncul sekecil kesombongan dalam dirinya. Hal itu menyebabkan diri seseorang menutup pintu pendapat dan kritikan orang lain. Untuk itu, pesan dalam elegi ini adalah tetap lah terbuka dalam menerima kritikan atas apa yang sudah diperoleh, sehingga dapat dikembangan dari pengetahuan yang baru dianggap benar oleh diri kita menuju pengetahuan yang dianggap benar oleh semua orang. Pengetahuan inilah yang bersifat objbektif.

    ReplyDelete
  33. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Kita, sebagai manusia sebaiknya jangan pernah lelah untuk mencari ilmu. Ilmu yang ada di dunia sungguhlah banyak jumlahnya. Namun, dalam mencari ilmu, sebaiknya kita jangan sombong. Jangan merasa bahwa kita sudah menguasai ilmu tersebut secara benar, bisa saja suatu saat nanti ada pembuktian baru bahwa ilmu yang kita percayai kebenarannya adalah tidak benar. Oleh karena itu, sebaiknya kita selalu memohon ampun kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  34. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Dalam elegi tersebut terdapat percakapan yang dilakukan oleh objek dan pengetahuannya. Dalam konteks yang dimaksud saya menangkap bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang hendaknya tidak untuk disimpan sendiri, melainkan untuk ditunjukan kepada orang lain. Menunjukan pengetahuan yang dimiliki disini dimaksud untuk mengetahui jika pengetahuan yang dimiliki bisa jadi salah dari pengetahuan yang benar sehingga diperlukan sebuah perbaikan dari pengetahuan yang dimiliki.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  35. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Pengetahuan itu ada berdasarkan subjek dan objeknya, seseorang tentunya memiliki ilmu atau pengetahuan secara subjektif. Akan tetapi kebenaran pada pengetahuan subjektif bersifat relatif. Oleh karena itu diperlukan pengetahuan yang bersifat objektif yang dapat diterima oleh orang lain melalui sebuah diskusi yang mencangkup perbaikan serta ide-ide dalam pengetahuan tersebut, agar pengetahuan tersebut dapat diterima oleh semua pihak.

    ReplyDelete
  36. Elli Susilawati
    16709251073
    PMAT D 16

    Dari artikel di atas, saya menyimpulkan bahwa kita harus banyak belajar. Pengetahuan subjektif saja tidak cukup. Kita harus berinteraksi dengan subjek lain untuk memeriksa pengetahuan kita apakah subjektif atau objektif.

    ReplyDelete
  37. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Berbicara tentang obyektif sangat erat kaitannya denga subyektif. Obyektif dan subyektif itu relatif tergantung pada keluasan atau tentang intensif atau tidaknya kita dalam mengambil suatu ranah. Pada ilegi ini diceritakan usaha yang telah dilakukan supaya pengetahuan yang dimiliki menjadi obyektif. Benar bahwa pengetahuan dapat dipandang secara subyektif dan obyektif. Namun, sebaik-baiknya pengetahuan yaitu pengetahuan yang obyektif sehingga kita harus berusaha supaya pengetahuan kita menjadi obyektif yaitu benar menurut umum. Proses yang perlu dilalui untuk itu adalah membuat orang lain tahu dulu tentang pengetahuan kita kemudian ada komentar ketika pengtahuan kita belum bisa dibenarkan secara umum. Akhirnya setelah ada revisi dan pengatahuan kita sesuai yang diharapkan umum maka pengetahuan tersebut telah menjadi obyektif.

    ReplyDelete
  38. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Pengetahuan dapat diperoleh dari berbagai hal. Salah satunya ialah melalui tindakan penelitian guna mencari suatu kebenaran atas dugaan dari hasil olah pikirnya. Maka pengetahuan yang didapatkan dari penelitian akan bersifat obyektif berdasarkan kebenaran dan fakta-fakta yang terjadi.

    ReplyDelete
  39. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Adanya sikap obyektif dalam suatu penelitian sangatlah penting agar tidak dapat terjadinya suatu manipulasi, yang memulai pembicaraanya berdasarkan fakta dengan menyatakan segala sesuatu tidak dicampuri oleh perasaan senang atau tidak senang. Sehingga hasil penelitian yang didapat benar-benar sesuai dengan kebenaran yang ada.

    ReplyDelete
  40. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Elegi ini menceritakan usaha yang telah dilakukan supaya pengetahuan yang dimiliki menjadi obyektif. Benar bahwa pengetahuan dapat dipandang secara subyektif dan obyektif. Namun, sebaik-baiknya pengetahuan yaitu pengetahuan yang obyektif sehingga kita harus berusaha supaya pengetahuan kita menjadi obyektif yaitu benar menurut umum. Proses yang perlu dilalui untuk itu adalah membuat orang lain tahu dulu tentang pengetahuan kita kemudian ada komentar ketika pengtahuan kita belum bisa dibenarkan secara umum. Akhirnya setelah ada revisi dan pengatahuan kita sesuai yang diharapkan umum maka pengetahuan tersebut telah menjadi obyektif.

    ReplyDelete
  41. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Terdapat dua kategori pengetahuan, yaitu pengetahuan subyektif dan pengetahuan obyektif. Pengetahuan subyektif merupakan pengetahuan awal dari hasil pikiran manusia pada diri manusia sendiri, sedangkan pengetahuan obyektif merupakan mensintesiskan pengetahuan yang dimiliki diri sendiri dan orang lain. Untuk menggapai pengetahuan obyektif adalah dengan usaha dan niat untuk senantiasa belajar.

    ReplyDelete
  42. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Pengetahuan subjektif itu ada dalam pikiran, persepsi, imajinasi, analisis, tesis, pendapat, kesimpulan, dan metode menurut ukuran kita sendiri. Kita begitu sombong menggunakan ukuran kita sendiri, tak pedulikan ukuran standar yang digunakan oleh orang pada umumnya. Padahal benar menurut kita, belum tentu benar menurut orang lain pada umumnya. Jika kita tak juga berusaha memperbaiki apa yang telah menjadi pedoman kita, mungkin kita akan terus dianggap salah oleh sebagian besar orang karena kita menggunakan ukuran yang kita buat sendiri. Oleh karena itu dibutuhkan perjuangan untuk berusaha mencapai pengetahuan objektif yang menggunakan ukuran orang banyak, bukan lagi ukuran individual. Namun untuk mencapai pengetahuan objektif tersebut dibutuhkan usaha yang sungguh-sungguh dengan tak lupa melantunkan doa-doa pada-Nya agar kita senantiasa menjadi pribadi yang objektif dalam berbagai bidang kehidupan.

    ReplyDelete
  43. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Manusia hidup sejatinya untuk mencari pengetahuan. Pengetahuan merupakan sebuah persepsi, sebuah analisis, sebuah tesis, muncul dari pendapat, metode yang digunakan dan kesimpulan akan segala sesuatu yang telah ada. Pengetahuan dibagi menjadi dua yaitu pengetahuan subjektif dan pengetahuan objektif. Ketika seseorang mencoba dan ternyata ia melakukan kesalahan dan tidak berhasil, disana ada pengetahuan dan hikmah yang dapat diambil. Manusia yang pantang menyerah maka ia akan kembali melakukannya dengan tidak mengulangi kesalahan yang ada.

    ReplyDelete