Jul 31, 2010

Elegi Menggapai Pengetahuan Obyektif

Oleh Marsigit

Subyek1:
Wahai pengetahuansatu dimanakah engkau sekarang?



Pengetahuansatu:
Aku sekarang berada di dalam dirimu. Aku di dalam pikiranmu. Aku telah menjadi persepsimu. Aku telah menjadi imajinasimu. Aku telah menjadi analisismu. Aku telah menjadi tesismu. Aku telah menjadi
pendapatmu. Aku telah menjadi kesimpulanmu. Aku telah menjadi metodemu. Aku telah menjadi hak ciptamu. Itulah keadaanku sekarang, yaitu aku telah menjadi subyektifmu. Aku adalah dirimu yang subyektif, yaitu aku yang menurut ukuranmu sendiri.

Subyek1:
Tetapi mengapa engkau tampak gelisah.

Pengetahuansatu:
Aku mulai gelisah karena sedang memikirkanmu. Aku merasa tidak baik jika terus menerus tetap tinggal di dalam dirimu. Aku merasa iba terhadapmu jika nama baikmu tercemar gara-gara aku terlalu lama tinggal di dalam pikiranmu.

Subyek1:
Kemudian apa maumu.

Pengetahuansatu:
Aku ingin keluar dari dirimu. Aku ingin keluar dari dalam pikiranmu. Aku ingin mengadakan pameran. Dengan aku mengadakan pameran maka aku berharap banyak orang-orang akan mengetahui tentang diriku. Jika orang-orang banyak, mengetahui tentang diriku, maka mereka juga akan mengetahui tentang dirimu. Maka ijinkanlah aku mengadakan pameran, dan aku berjanji akan kembali masuk ke dalam dirimu, ketika sudah sampai saatnya.

Subyek1:
Baiklah kalau begitu, aku ijinkan engkau keluar dari dalam diriku dan silahkan mengadakan pameran.

Pengetahuansatu:
Terimakasih subyek1ku. Wahai orang banyak, aku berasal dari subyek1ku. Aku telah lama di dalam pikiran subyek1ku. Aku telah lama menjadi persepsi subyek1ku. Aku telah lama menjadi imajinasi subyek1ku. Aku telah lama menjadi analisis subyek1ku. Aku telah lama menjadi tesis subyek1ku. Aku telah lama menjadi pendapat subyek1ku. Aku telah lama menjadi kesimpulan subyek1ku. Aku telah lama menjadi metode subyek1ku. Aku telah lama menjadi hak cipta subyek1ku. Itulah keadaanku masa lalu, yaitu aku telah menjadi subyek1tif dari subyek1ku. Aku sekarang sudah berada di luar subyek1ku, yaitu aku telah bersiap untuk tidak menjadi ukuran dari subyek1ku sendiri. Aku siap mengadakan pameran. Maka silahkan engkau semuanya melihat diriku. Silahkan engkau semuanya meneliti diriku. Silahkan engkau semuanya mengoreksi diriku secara terbuka. Silahkan engkau semuanya menganalisis diriku. Silahkan engkau semuanya menilai diriku. Silahkan engkau semuanya memperbaikiku.

Subyek2:
Wahai pengetahuansatu maafkanlah jika aku nanti membuatmu kecewa karena aku telah menemukan bahwa ada beberapa hal darimu yang tidak sesuai dengan kebenaran umum.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah melakukan kesalahan persepsi.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah melakukan kesalahan analisi.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah membuat tesis yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah menyampaikan pendapat yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah membuat kesimpulan yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah menggunakan metode yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah lama menganggapmu sebagai benar, padahal senyatanya engkau itu adalah salah.

Subyek3:
Wahai pengetahuansatu maafkanlah jika aku nanti membuatmu kecewa karena aku telah menemukan bahwa ada beberapa hal darimu yang tidak sesuai dengan kebenaran umum.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah melakukan kesalahan persepsi.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah melakukan kesalahan analisi.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah membuat tesis yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah menyampaikan pendapat yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah membuat kesimpulan yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah menggunakan metode yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah lama menganggapmu sebagai benar, padahal senyatanya engkau itu adalah salah.

..

Subyekn:
Wahai pengetahuansatu maafkanlah jika aku nanti membuatmu kecewa karena aku telah menemukan bahwa ada beberapa hal darimu yang tidak sesuai dengan kebenaran umum.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah melakukan kesalahan persepsi.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah melakukan kesalahan analisi.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah membuat tesis yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah menyampaikan pendapat yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah membuat kesimpulan yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah menggunakan metode yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah lama menganggapmu sebagai benar, padahal senyatanya engkau itu adalah salah.

Pengetahuansatu:
Waduh, bagaimanakah nasibku ini? Padahal selama ini aku telah menjadi kebanggaan subyek1. Aku telah menjadi pedoman subyek1. Aku telah lama menjadi anak emas dari subyek1. Padahal sekarang aku tahu sebenar-benar diriku tidaklah sesuai dengan pandangan orang-orang. Aku hanya benar sesuai subyektifitas subyek1. Padahal aku ternyata salah bagi subyek2, subyek3, subyek4, ..., subyekn. Wahai para subyek semuanya, kecuali subyek1, aku minta tolonglah kepadamu. Bagaimana caranya agar aku juga benar bagi engkau semuanya.

Subyek2, subyek3, subyek4, ..., subyekn bersama-sama menjawab:
Wahai pengetahuansatu, sungguh berat caranya. Sungguh panjang perjalanannya. Jika engkau menginginkan agar engkau juga benar bagi kita semua, termasuk benar bagi subyek1, maka subyek1 harus bersedia memperbaiki banyak hal.
Subyek1 harus memperbaiki persepsinya.
Subyek1 harus memperbaiki analisinya.
Subyek1 harus memperbaiki tesisnya.
Subyek1 harus memperbaiki pendapatnya.
Subyek1 harus memperbaiki metodenya.
Subyek1 harus memperbaiki kesimpulannya.

Subyek1:
Wahai subyek2, subyek3, subyek4, ..., subyekn , terimakasih atas saran dan koreksimu. Aku dengan ikhlas telah menerima semua saran dan perbaikanmu.
Aku akan memperbaikki persepsiku.
Aku akan memperbaikki analisisku.
Aku akan memperbaikki tesisku.
Aku akan memperbaikki pendapatku.
Aku akan memperbaikki metodeku.
Aku akan memperbaikki kesimpulanku.
Maka inilah persepsiku yang baru. Inilah analisisku yang baru. Inilah pendapatku yang baru. Inilah metodeku yang baru. Inilah kesimpulanku yang baru.

Pengetahuansatu:
Wahai subyek2, subyek3, subyek4, ..., subyekn , kelihatannya subyek1 tidak lagi mengakuiku. Lalu bagaimana nasibku?

Subyek2, subyek3, subyek4, ..., subyekn bersama-sama menjawab:
Wahai pengetahuansatu, itulah sebenar-benar nasibmu. Engkau telah berubah menjadi pengetahuan obyektif. Maka namamu juga telah berubah. Jika engkau tidak keberatan maka engkau akan aku sebut sebagai pengetahuandua.

Pengetahuandua:
Wahai subyek1, subyek2, subyek3, subyek4...subyekn, terimakasih aku ucapkan, karena aku telah engkau angkat menjadi pengetahuan obyektifmu. Tetapi aku merasa malu jika aku engkau angkat begitu saja tanpa engkau uji kehandalanku. ku juga merasa malu kepada pengetahuansatu, karena walaupun pengetahuansatu bersifat subyektif dan serba salah, tetapi berani mengadakan pameran. Maka aku bersedia menjadi pengetahuan obyektifmu semua dengan syarat aku diperbolehkan presentasi di seminar dan bergaul dengan orang-orang. Hal demikian juga aku maksudkan agar subyek1 bisa secara ikhlah menerimaku kembali dengan demikian aku berharap nantinya juga bisa menjadi pengetahuan subyektif dari subyek1.

Seminar dan pergaulan:
Wahai para hadirin semuanya, marilah kita bersama menguji pandatang baru kita ini, yaitu pengetahuandua, dan mengadakan diskusi dan pergaulan. Setelah kita berdiskusi, bergaul maka seminar ini mengambil kesimpulan bahwa ternyata:
Kita memutuskan bahwa pengetahuan2 adalah persepsi yang benar.
Kita memutuskan bahwa pengetahuan2 adalah analisi yang benar.
Kita memutuskan bahwa pengetahuan2 adalah tesis yang benar.
Kita memutuskan bahwa pengetahuan2 adalah pendapat yang benar.
Kita memutuskan bahwa pengetahuan2 adalah metode yang benar.
Kita memutuskan bahwa pengetahuan2 adalah kesimpulan yang benar.

Pengetahuan2:
Wahai semuanya, aku terharu mendengar semua kesaksianmu. Aku telah engkau angkat menjadi pengetahuan obyektif bagi semuanya. Bahkan aku telah divalidasi dalam seminar dan melalui pergaulanpergaulan. Aku merasa netral dan tidak berpihak. Aku adalah benar bagi semuanya tanpa kecuali. Inilah sebenar-benar diriku. Aku adalah pengetahun obyektifmu semuanya.

Pengetahuan2 bertanya kepada subyek1:
Wahai subyek1, bagaimanakah menurut pendapatmu. Bagaimanakah kondisiku. Apakah engkau bersedia menerima diriku untuk menjadi pengetahuan subyektifmu sekaligis pengetahuan obyektifmu?

Subyek1:
Aku merasa terharu melihat betapa jauh pengembaraanmu. Engkau bahkan telah merubah wajah dan isimu demi menggapai kebenaran obyektif. Aku merasa sangat bersyukur, bahwasanya aku telah diberikan rakhmat dan hidayah Nya. Maka dengan serta merta aku dengan tangan terbuka dan dengan hati ikhlas, aku bersedia menerimamu kembali. Dengan ini engkau telah menjadi pengetahuanku baik secara obyektif maupun subyektif.

Orang tua berambut putih:
Dari berbagai pertanyaanmu itu sebetulnya aku telah hadir di sisimu. Aku telah menyaksikan bagaimana subyek1 sebenar-benar belajar. Itulah usahamu menggapai pengetahuan. Amien.

45 comments:

  1. Elli Susilawati
    16709251073
    PMAT D 16

    Dari artikel di atas, saya menyimpulkan bahwa kita harus banyak belajar. Pengetahuan subjektif saja tidak cukup. Kita harus berinteraksi dengan subjek lain untuk memeriksa pengetahuan kita apakah subjektif atau objektif.

    ReplyDelete
  2. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Berbicara tentang obyektif sangat erat kaitannya denga subyektif. Obyektif dan subyektif itu relatif tergantung pada keluasan atau tentang intensif atau tidaknya kita dalam mengambil suatu ranah. Pada ilegi ini diceritakan usaha yang telah dilakukan supaya pengetahuan yang dimiliki menjadi obyektif. Benar bahwa pengetahuan dapat dipandang secara subyektif dan obyektif. Namun, sebaik-baiknya pengetahuan yaitu pengetahuan yang obyektif sehingga kita harus berusaha supaya pengetahuan kita menjadi obyektif yaitu benar menurut umum. Proses yang perlu dilalui untuk itu adalah membuat orang lain tahu dulu tentang pengetahuan kita kemudian ada komentar ketika pengtahuan kita belum bisa dibenarkan secara umum. Akhirnya setelah ada revisi dan pengatahuan kita sesuai yang diharapkan umum maka pengetahuan tersebut telah menjadi obyektif.

    ReplyDelete
  3. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Pengetahuan dapat diperoleh dari berbagai hal. Salah satunya ialah melalui tindakan penelitian guna mencari suatu kebenaran atas dugaan dari hasil olah pikirnya. Maka pengetahuan yang didapatkan dari penelitian akan bersifat obyektif berdasarkan kebenaran dan fakta-fakta yang terjadi.

    ReplyDelete
  4. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Adanya sikap obyektif dalam suatu penelitian sangatlah penting agar tidak dapat terjadinya suatu manipulasi, yang memulai pembicaraanya berdasarkan fakta dengan menyatakan segala sesuatu tidak dicampuri oleh perasaan senang atau tidak senang. Sehingga hasil penelitian yang didapat benar-benar sesuai dengan kebenaran yang ada.

    ReplyDelete
  5. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Elegi ini menceritakan usaha yang telah dilakukan supaya pengetahuan yang dimiliki menjadi obyektif. Benar bahwa pengetahuan dapat dipandang secara subyektif dan obyektif. Namun, sebaik-baiknya pengetahuan yaitu pengetahuan yang obyektif sehingga kita harus berusaha supaya pengetahuan kita menjadi obyektif yaitu benar menurut umum. Proses yang perlu dilalui untuk itu adalah membuat orang lain tahu dulu tentang pengetahuan kita kemudian ada komentar ketika pengtahuan kita belum bisa dibenarkan secara umum. Akhirnya setelah ada revisi dan pengatahuan kita sesuai yang diharapkan umum maka pengetahuan tersebut telah menjadi obyektif.

    ReplyDelete
  6. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Terdapat dua kategori pengetahuan, yaitu pengetahuan subyektif dan pengetahuan obyektif. Pengetahuan subyektif merupakan pengetahuan awal dari hasil pikiran manusia pada diri manusia sendiri, sedangkan pengetahuan obyektif merupakan mensintesiskan pengetahuan yang dimiliki diri sendiri dan orang lain. Untuk menggapai pengetahuan obyektif adalah dengan usaha dan niat untuk senantiasa belajar.

    ReplyDelete
  7. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Pengetahuan subjektif itu ada dalam pikiran, persepsi, imajinasi, analisis, tesis, pendapat, kesimpulan, dan metode menurut ukuran kita sendiri. Kita begitu sombong menggunakan ukuran kita sendiri, tak pedulikan ukuran standar yang digunakan oleh orang pada umumnya. Padahal benar menurut kita, belum tentu benar menurut orang lain pada umumnya. Jika kita tak juga berusaha memperbaiki apa yang telah menjadi pedoman kita, mungkin kita akan terus dianggap salah oleh sebagian besar orang karena kita menggunakan ukuran yang kita buat sendiri. Oleh karena itu dibutuhkan perjuangan untuk berusaha mencapai pengetahuan objektif yang menggunakan ukuran orang banyak, bukan lagi ukuran individual. Namun untuk mencapai pengetahuan objektif tersebut dibutuhkan usaha yang sungguh-sungguh dengan tak lupa melantunkan doa-doa pada-Nya agar kita senantiasa menjadi pribadi yang objektif dalam berbagai bidang kehidupan.

    ReplyDelete
  8. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Manusia hidup sejatinya untuk mencari pengetahuan. Pengetahuan merupakan sebuah persepsi, sebuah analisis, sebuah tesis, muncul dari pendapat, metode yang digunakan dan kesimpulan akan segala sesuatu yang telah ada. Pengetahuan dibagi menjadi dua yaitu pengetahuan subjektif dan pengetahuan objektif. Ketika seseorang mencoba dan ternyata ia melakukan kesalahan dan tidak berhasil, disana ada pengetahuan dan hikmah yang dapat diambil. Manusia yang pantang menyerah maka ia akan kembali melakukannya dengan tidak mengulangi kesalahan yang ada.

    ReplyDelete
  9. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Sebagai manusia kita dibekali dengan pengetahuan. Pengetahuan yang kita miliki bisa saja masih berupa pengetahuan yang subjektif. Jika Seseorang masih menyimpan ilmu untuk dirinya sendiri maka ilmu tersebut hanya akan menjadi pengetahuan subjektif saja. Oleh karena itu untuk menggapai pengetahuan objektif diperlukan adanya pertukaran pikiran dengan orang lain, saling menerjemahkan pengetahuan subjektif agar menjadi pengetahuan objektif. Demikianlah yang sebenar-benarnya belajar untuk menggapai pengetahuan objektifnya.

    ReplyDelete
  10. Nama : Wisniarti
    NIM : 17709251037
    Kelas : PM B (Pascasarjana)

    Sifat terbuka dan bersedia untuk dikritik akan menjadikan seseorang lebih baik dari sebelumnya. Tidak ada ruginya jika ilmu yang kita miliki dibagi dengan orang-orang, dengan sharing ke orang-orang, kita bisa belajar banyak dan merivisi kekeliruan yang selama ini tidak kita ketahui dan menganggap kesalahan yang dibuat adalah benar.

    ReplyDelete
  11. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Terima kasih atas Ilmu yang telah Bapak berikan. Dari elegi ini saya mengetahui yang pertama, Pengetahuan itu ada dalam pikiran, dalam persepsi. Berupa imajinasi, menjadi analisis, menjadi tesis, bentuknya berupa pendapat, kesimpulan, metode, hak cipta. Pengetahuan akan didapat jika seseorang ikhlas dalam pikir dan hati. Manusia hanya bisa menggapai pengetahuan. Diaman a sejatinya pengetahuan adalah milik Allah Ta’ala. Semoga kita senantiasa ikhlas dalam pikir dan hati agar mendapat pengetahuan yang berkah. Aminn

    ReplyDelete
  12. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Ilmu pengetahuan terus berkembang seiring perkembangan zaman. Apabila seseorang tetap mempertahankan presepsinya tentang sesuatu hal tanpa memperdulikan perkembangan ilmu maka akan mengakibatkan hal tersebut dipertanyakan kebenarannya. Oleh karena itu seseorang harus mengikuti perkembangan,bekerja keras, serta bekerjasama dengan yang lain dalam membangun pengetahuan sehingga lahirnya pengetahuan yang obyektif.

    ReplyDelete
  13. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Pelajaran yang dapat saya ambil dari “Elegi Menggapai Pengetahuan Obyektif” adalah jika kita belajar sungguh-sungguh, berusaha untuk menggapai pengetahuan, tak lupa diselingi dengan berdo’a dan menerima semua saran, koreksi, kritik dan perbaikan dengan ikhlas maka hasil dari semua jerih payah kita akan maksimal.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  14. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Pengetahuan ada untuk dicari, dipelajari, dan bahkan diperlukan untuk menjawab permasalahan yang ada dalam kehidupan. Pengetahuan ilmiah atau ilmu merupakan alat bagi manusia untuk memcahkan berbagai masalah atau persoalan yang dihadapi manusia. Keberadaan pengetahuan ini semakin luas seiring dengan perkembangan zaman. Pengetahuan akan berkembang selama keberadaan manusia yang kontinu. Luasnya pengetahuan juga tidak akan sampai pada akal pikiran manusia. Oleh karena itu, dari Elegi ini dapat saya ambil pelajaran bahwa pengetahuan tidak hanya terbatas pada satu hal saja, namun pengetahuan dapat berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Pengetahuan hanyalah milik Allah SWT, dan apa saja yang ada di dunia ini akan kembali pula pada Nya. Semoga dengan adanya pengetahuan yang tak terhingga ini dapat menambah iman kita kepada Allah SWT. Aamiin

    ReplyDelete
  15. Metia Novianti
    17709251021
    S2 Pendidikan Matematika A 2017
    Suatu pengetahuan obyektif dari seorang subyek akan menjadi subyektif apabila kebenarannya dapat diterima oleh subyek-subyek lain. Ketika pengetahuan ini tidak dapat dianggap benar oleh subyek-subyek yang lain, maka persepsi, analisi, tesis, pendapat, kesimpulan dan metodenya harus diperbaiki. Elegi ini mengajarkan kita agar berani mengakui kesalahan dan mau menerima saran, kritikan dan pendapat yang lain agar kita tidak terjerumus ke dalam jurang kesalahan.

    ReplyDelete
  16. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Subyek 2,3,4, hingga subyek n menunjukkan bahwa sebenar-benarnya pembelajar adalah orang yang mau memperbaiki dan tidak berhenti mencari hal yang baru. Kita sering bangga akan suatu pengetahuan yang kita miliki, namun pada kenyataannya ilmu itu juga berada di dalam orang lain, bahkan telah jauh ditelaah kembali, diperbaiki, atau ditambah subyeknya. Maka inti dari elegi ini menurut saya adalah, bahkan ilmu yang telah kita yakini kebenarannya suatu waktu perlu kita kaji kembali, atau ditambah.

    ReplyDelete
  17. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    pengetahuan yang kita miliki, percayai, dan kita jadikan dasar pada berbagai macam aspek dalam hidup kita, belum tentu bernilai benar, belum tentu hal tersebut merupakan hal yang dipercayai juga oleh orang lain. hanya ada satu hal untuk mengetahuinya, yaitu dengan menunjukkannya ke orang lain, dengan begitu kita dapat menentukan apakah hal yang telah kita percayai selama ini merupakan hal yang mutlak dapat kita percayai seutuhnya ataukah terdapat beberapa hal salah yang dilihat orang lain tapi tak tampak dihadapan kita.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  18. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Berdiskusi merupakan salah satu cara yang tepat untuk dapat bertukar pengetahuan sambil mengoreksi pengetahuan-pengetahuan yang telah kita miliki dan percayai sejak lama. karena terkadang fakta yang kita percayai secara obyktif ternyata berbeda di mata orang lain, dan membuat fakta itu nyatanya adalah fakta subyektif yang tidak semua orang dapat meyakininya.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  19. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Persepsi dan pemikiran tiap individu adalah benar bagi individu yang bersangkutan. Akan tetapi di dalam hidup ini kita terjemah dan menterjemahkan, saling hidup dan menghidupi. Kedua hal tersebut kita peroleh melalui interaksi sosial. Melalui interaksi inilah kita akan sampai pada tahap pendewasaan, di mana persepsi yang selama ini kita amini akan divalidasi oleh lingkungan. Bila mana lingkungan menerima, bisa dikatakan ilmu atau apapun yang ada dalam diri kita adalah obyektif. Beda lagi jika apa yang kita amini sampai kapanpun hanya diamini oleh diri sendiri, sudah tentu itu subyektif. Oleh karena itu untuk mencapai keobyektifan kita senantiasa harus berkembang dan berusaha menggapai pengetahuan.

    ReplyDelete
  20. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi Menggapai Pengetahuan, dari elegi ini saya belajar bahwa kita sebagai pembelajar sebaiknya selalu bersungguh-sungguh dalam mengejar ilmu pengetahuan dan janganlah menjadi pembelajar yang sombong yang merasanya dirinya paling benar. Hal itu karena ilmu pengetahuan yang kita dapatkan akan selalu mengalami perbaikan jika kita senantiasa menyempunakannya dengan menerima masukan, kritik dan saran dari luar. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  21. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Ilmu itu di dapat dari proses pengalaman, pengamatan dan penemuan. Maka sesorang akan mempunyai pandangan subyektif tentang suatu pengetahuan baru yang dperoleh. Elegi di atas menggambarkan bahwa jika kita memperoleh pengetahuan subyektif maka kita harus mulai beragi dengan orang lain dan melakukan disukusi sehingga pengetahuan yang kita peroleh akan menjadi pengetahuan yang bersifat obyektif.

    ReplyDelete
  22. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Pengetahuan subjektif ialah pengetahuan yang berasal dari pendapat atau pemikiran diri sendiri yang hanya diakui oleh pemilik pengetahuan itu sendiri. Sedangkan pengetahuan objektif merupakan pengetahuan yang tidak hanya oleh diri kita sendiri tetapi juga oleh orang lain. Maka sebenar- benar pengetahuan subjektif dapat menjadi pengetahuan objektif yaitu dengan menyampaikan pengetahuan subjektif tersebut kepada orang lain sehingga orang lain dapat menguji kebenaran pengetahuan tersebut. Karena itulah setiap orang harus berani menyampaikan pengetahuan subjektifnya sehingga dapat didengar orang lain dan dapat dikoreksi sehingga pengetahuan subjektif tersebut dapat sekaligus menjadi pengetahuan objektif.

    ReplyDelete
  23. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Pengetahuan bersifat subjektif karena berasal dari pemikiran diri sendiri dan bernilai benar menurut sang pemikir tetapi belum tentu benar menurut orang lain. Untuk menjadi pengetahuan objektif, pemikiran yang awalnya berasal dari diri sendiri tadi haruslah dikemukakan kepada orang lain, kemudian adanya perbaikan atau masukan terhadap pengetahuan tersebut kemudian kesimpulannya bernilai benar untuk semua orang. Maka tercapailah pengetahuan obyektif tersebut. Pengetahuan tidak akan pernah habis untuk digali, sehingga pengetahuan subjektif akan terus bermunculan. Dan pengetahuan obyektif maupun subjektif akan terus ada.

    ReplyDelete
  24. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Subyektif adalah keadaan dimana seseorang bertindak berdasarkan perasaan atau keinginan sendiri. Sedangkan obyektif ialah keadaan dimana seseorang bertindak berdasarkan fakta atau data yang ada. Sikap obyektif adalah sikap yang harus dikedepankkan bagi seseorang dalam menyelesaikan suatu masalah. Masalah yang diselesaikan secara obyektif akan memuaskan berbagai pihak. Untuk seorang guru, sikap obyektif ini harus dijunjung tinggi dalam lingkungan belajar di sekolah. Sikap obyektif dari seorang guru akan dirasakan sebagai sebuah keadilan bagi siswa.

    ReplyDelete
  25. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    Pendidikan Matematika Kelas B(S2)

    Dalam menggapai pengetahuan terdapat beberapa proses yaitu pengetahuan terdapat pada diri sendiri,kemudian dalam pikian, selanjutnya pengetahuan tersebut akan menjadi persepsi.Persepsi tersebut akan terus berkembang menjadi imajinasi. Dari imajinasi tersebut nnati akan berkembang menjadi analisi, dan analisis-analisis yang telah terkumpul tersebut akan manjadi tesis, dilanjtutkan dengan menyampaikan pendapat untuk selanjutnya dijadikan kesimpulan. Pengetahuam tersebut dapat saja menjadi metode bagi orang lain tetapi tetap pengetahuan ini akan menjadi hak cipta dari penemu pengetahuan.

    ReplyDelete
  26. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Dalam proses mencari pengetahuan memang perlu berpikir yang panjang, baik secara obyektif maupun subyektif. Kedua al tersbut bisa saling membantu atau mala bisa menjerumuskan pengetahuan yang kurang baik. Namun sebuah proses ketika kita bertemu dengan suatu kegagalan, itu bisa menjadi sebuah kebaikan. Karena kita bisa melihat dari setiap unsur tersebut. Baik secara Obyektif maupun subyektif.

    ReplyDelete
  27. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Subjektifitas itu sangat bergantung pada pengetahuan dari manusianya itu sendiri. Ketika pengetahuannya luas mengenai suatu hal, maka akan kuat. Jika tidak, maka tentu rapuh. Maka muncul kelehmahan dari subjektifitas, yaitu karena manusia itu sifat, maka kadang berbeda dengan orang lain, sehingga akan timbul konflik perbedaan pendapat. Sedangkan objektifitas itu adalah apa adanya, apa adanya itu bukan dari manusianya, tetapi dari suatu hal itu, yang setiap orang pasti juga setuju. Subjektif itu menurut pemikiran kita sendiri, objektif itu apa adanya, tidak ada campur tangan tambahan dari kita. Oleh karena itu kadang objektifitas itu perlu sebagai wujud penyatuan persepsi dari setiap orang atas sesuatu hal.

    ReplyDelete
  28. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Ilmu pengetahuan ada yang subyektif dan ada yang obyektif. Subyektif adalah pengetahuan yang sesuai dengan semau kita, tanpa perduli lingkungan berdasarkan yang ada. Dari elegi ini mengajarkan saya bahwa segala hal tidak ada yang sempurna. Jika saya telah merasa memiliki ilmu pengetahuan, bukan berarti saya menutup informasi dari orang lain. Saya harus selalu mendengarkan informasi, kritik dan saran, agar untuk kedepannya menjadi lebih baik, sehingga ilmu yang kita miliki akan lebih bermanfaat. Jadi, terimalah kritik dan saran yang membangun dari siapapun, lalu perbaiki diri sesuai dengan saran yang membangun untuk diri kita.

    ReplyDelete
  29. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    dari tulisan ini saya menyimpulklan bahwa seseorang hendaknya tidak merasa bahwa ilmu yang telah dimilikinya adalah cukup dan berbangga dengan hal tersebut, karena sesungguhnya ilmu pengetahuan itu tidaklah boleh subyektif. seseorang itu tetaplah harus belajar dari yang lainnya, dengan begitu seseorang tersebut akan tersadar bahwa betapa sedikitnya ilmu pengetahuan yang dimilikinya saat ini, dan betapa mungkin bahwa pengetahuan yang dimilikinya bisa jadi belum tepat dari sudut pandang yang lain

    ReplyDelete
  30. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Elegi ini menjelaskan pengembaraan pengetahuan subyektif menjadi pengetahuan obyektif. Pengetahuan subyektif dianggap benar oleh satu sisi saja atau disebut subyektif dan belum tentu benar jika dipandang dari sisi lain. Sedangkan pengetahuan obyektif ialah pengetahuan yang diakui kebenarannya dari segala sisi. Pengembaraan pengetahuan subyektif dari elegi ini menyiratkan perjalanan seseorang untuk menjadi lebih baik dan diakui oleh khalayak. Diawali dengan pengetahuan yang dianggap benar hanya dari satu sisi, kemudian berintrospeksi dari penilaian sisi lain dan mengakui kesalahan yang ada pada diri, lalu melalui pengujian oleh para khalayak untuk dapat diakui keberadaannya. Begitu juga proses yang sepatutnya dilalui oleh kita jika ingin menjadi lebih baik dan tetap berada dalam keeksistensian dalam kebenaran.

    ReplyDelete
  31. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Elegi ini meceritakan manusia yang mau berusaha memperbaiki kesalahan yang selama ini ia anggap benar. Banyak yang tidak bisa menerima pendapatnya yang menurutnya benar tapi sebenarnya salah. Kemudian ia berusaha bekerja keras agar pengetahuannya diterima. Akhirnya berkat usahanya ia dapat berubah sifat dan sikapnya sehingga pendapatnya, ilmunya diterima banyak orang dan bahkan disenangi oleh banyak orang.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  32. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Saya sungguh belajar banyak dari elegi ini. Pertama, saya belajar bagaimana kita mengungkapkan pengetahuan atau pemikiran kita. Tak baik hanya menyimpannya sendiri, akan lebih baik dibuat pameran untuknya. Mengapa pemikiran kita lebih baik dikeluarkan? Karena, ada kemungkinan pemikiran kita itu masih perlu diperbaiki atau ditambahkan oleh orang lain sebagai subyek. Hal ini merupakan pelajaran kedua yang saya dapatkan dari elegi di atas. Ketika kita mengungkapkan pikiran kita, maka subyek lain akan membantu untuk mengungkapkan pikirannya juga dan kita dapat saling berbincang untuk saling menambah pengetahuan kita. Maka sungguh sangat baik memiliki sikap terbuka atas pemikiran orang lain pula.

    ReplyDelete
  33. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Subyek sangat berbeda dengan obyek. Subyek hanya memikirkan hal-hal yang benar menurut apa yang ada di fikirannya sendiri, pengetahuan yang ada pada diri seseorang yang digunakan untuk menarik suatu persepsi, pendapat, kesimpulan, ataupun segala sesuatu yang dilakukan tanpa melihat pengatahuan yang ada diluar, tanpa melihat kebenaran menurut subyek yang lain.

    ReplyDelete
  34. Menurut pemikiran yang subyektif, segala pengetahuan yang dimiliki adalah benar dan satu-satunya yang benar.
    Berbeda dengan pemikiran yang obyektif, pemikiran yang obyektif netral dan tidak memihak. Pemikiran yang obyektif melihat kenyataan pengetahuan diluar, bersedia melakukan percobaan, membandingkan dengan pengetahuan yang lain, dan selalu berusaha untuk menggapai pengetahuan yang sebanyak-banyaknya. Obyektif adalah benar bagi semuanya tanpa terkecuali, sedangkan subyektif benar menurut masing-masing orang saja.

    ReplyDelete
  35. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    saya sangat suka dengan sifat subyek 1 yang mana dia dengan legowo menerima dikritik oleh teman-temannya sang subyek2, subyek3, subyek4. memang seperti ini lah seharusnya yang diterapkan di manapun. boleh bersikap kritis namun jangan marah jika dikritisi. di elegi ini saya mendapatkan ilmu tentang bagaimana kita sesama manusia harus bersikap legowo dalam menerima suatu kritikan.

    ReplyDelete
  36. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Saya belajar bahwa dalam memperoleh pengetahuan berawal dari pengetahuan subyektif. Dari pengetahuan subyektif tersebut apabila ternyata belum sesuai dengan lingkungan maka kita bisa menerima dan terus menerus memperbaiki pengetahuan dengan cara membaca dan belajar sampai pengetahuan atau persepsi kita sesuai dengan lingkungan sekitar. Sehingga sampai pada pengetahuan obyektif. Jadi dalam menggapai pengetahuan obyektif dapat bermula dari persepsi-persepsi subyektif kemudian mau mencari tahu kekurangan dan kesalahan-kesalahan tentang persepsinya yang diikuti dengan kebaikan, begitulah menggapai pengetahuan obyektif.

    ReplyDelete
  37. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Manusia haruslah berusaha mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang begitu banyaknya ada di muka bumi ini. Dengan berbekal ilmu pengetahuan yang dimiliki, manusia dapat melakukan sesuatu yang dapat bermanfaat bagi dirinya maupun bagi orang lain. Dalam menggapai ilmu pengetahuan, terlebih dahulu kita gapai ilmu pengetahuan yang subjektif. Karena ilmu pengetahuan subjektif merupakan bentuk dari ilmu pengetahuan yang kita pikirkan dan kita rencanakan. Setelah memiliki ilmu pengetahuan subjektif, barulah kita menggapai ilmu pengetahuan objektif. Ilmu pengetahuan objektif ini merupakan bentuk pergerakan dari ilmu pengetahuan subjektif yang telah didapat. Oleh karena itu, setelah mendapatkan ilmu pengetahuan baik subjektif maupun objektif, kita janganlah lupa atas pemberian rahmat dan hidayah Nya. Karena hidayah Nya lah kita mampu menggapai pengetahuan subjektif dan objektif.

    ReplyDelete
  38. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Untuk menggapai ke’objektif’an, kita dapat belajar dari perilaku netralitas dewan juri dalam memutuskan pemenang lomba. Misal dalam suatu kontes bernyanyi. Juri yang objektif tentu akan menilai peserta lomba dengan benar-benar melihat kualitas menyanyi dari berbagai aspek seperti artikulasi, pitch control, dinamika, penjiwaan, dan penampilan. Juri yang objektif akan mengabaikan asal daerah peserta, umur peserta, ganteng atau cantiknya peserta, dan hal-hal lain di luar fokus ketrampilan menyanyi. Ternyata untuk menggapai objektif juga diperlukan reduksi. Jika tidak demikian, juri bisa saja berubah menjadi subjektif, ketika peserta kontes adalah anak atau saudaranya atau tetangganya sendiri. Epoche sangat diperlukan dalam hal ini. Segala sesuatu diluar ketrampilan bernyanyi harus disimpan sementara waktu dalam epoche untuk mendapatkan peserta yang layak (berkualitas) untuk menjadi juara kontes bernyanyi.

    ReplyDelete
  39. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih sekali Prof atas ilmu yang sudah diberikan. Saya menyadari bahwa diri saya dapat dikatakan sebagai subyek ataupun obyek. Dalam proses belajar, saya sebagai subyek dapat terlihat melalui usaha yang saya lakukan untuk mencari ilmu melalui bertanya. Sebaliknya, saya menjadi obyek saat saya sebagai seseorang yang difasilitasi oleh para dosen. Kemudian, saya berharap dapat menjadi subyek dan obyek yang sesuai dengan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  40. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Terimakasih Prof. Marsigit atas ulasan di atas. Menjadi obyek dan bersifat obyektif bukanlah mudah. Menjadi obyek mungkin ketika saya sedang dikelas dan sedang belajar bersama teman-teman yang sedang menerima dan menangkap ilmu yang diberikan oleh guru, sedang memiliki sifat obyektif itu haruslah dilandaskan rasa netralitas dan tidak memihak salah satunya. Dari elegi ini pula saya jadi belajar bagaimana pengetahuan harus bersifat obyektif, tidak hanya ajeg dan teguh pada satu pandangan pemikiran, namun juga harus terbuka dan memandang segala sesuatu dari sisi yang lain. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  41. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Ilmu pengetahuan seharusnya bersifat objektif. Artinya adalah semua pernyataan yang dikemukakan harus bersifat jujur, mengandung data dan informasi yang akurat, bebas dari prasangka, sesuai dengan kondisi yang sebenarnya (berdasarkan ruang dan waktu), tidak menimbulkan kesenjangan dan tidak berkaitan dengan kepentingan pribadi. Karna ilmu itu luas, maka manusia sebagai pencari ilmu harus dapat membedakan pengetahuan yang bersifat objektif maupun subjektif.

    ReplyDelete
  42. Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Dari elegi di atas menceritakan tentang bagaimana menggapai pengetahuan obyektif. Pengetahuan obyekti adalah pengetahuan yang sesungguhnya benar, bukan hanya dari satu sudut pandang, tapi berbagai sudut pandang. Untuk mendapatkan pengetahuan yang objektif kita harus open mind, mengutarakan dan mengkomunikasikan pengetahuan kita kepada orang lain yang memiliki pengetahuan yang lebih. Kita harus open dan menerima semua kritik, saran, opini, kemudian kita pilih yang dapat membangun pengetahuan kita. Dengan mengkomunikasikan pengetahuan, kita akan membangun pengetahuan kita dari berbagai sudut pandang.

    Saya percaya bahwa di dunia ini tidak ada yang gratis, begitu pula ilmu. Mungkin akan membutuhkan bayaran yang mahal, dalam hal ini bayaran bukan berarti uang, namun segala sesuatu yang kita korbankan. Baik waktu, tenaga, usaha, hati, kesempatan, maupun perasaan. Mungkin tidak mudah dalam menggapai pengetahuan yang obyektif, butuh pengorbanan. Semoga Tuhan selalu mempermudah kita dalam menggapai ilmu dan pengetahuan. Amiin.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  43. Latifah Pertamawati
    S2 PM B
    17709251026

    Bismillaah..z
    Manusia berhak untuk berpikir dan mengasumsikan suatu hal. Akan tetapi, belum tentu pikiran-pikiran tersebut sesuai dengan pengetahuan orang lain, dan pengetahuan umum yang telah berkembang di masyarakat. Jika demikian, tentu saja apa yang kita pikirkan belum pasti dapat diterapkan dan dirujuk oleh orang lain. Oleh karena itu, sebagai manusia yang diberikan anugerah (olah) pikir, sebaiknya kita mengkonfirmasi pikiran-pikiran kita dengan cara belajar dan mencari informasi. Kita pasti tidak ingin bahwa pikiran-pikiran tersebut hanya menjadi sebuah angan-angan tanpa kepastian.

    Suatu bentuk pemikiran (yang baik) perlu disampaikan sehingga olah pikir kita memiliki manfaat baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Tetapi apabila pikiran kita tersebut adalah pemikiran yang tidak tepat presepsi dan konsep, maka kita harus ikhlas untuk memperbaiki presepsi dan konsep yang sudah ada dalam pikiran. Bukankah sebaik-baiknya pemikiran itu adalah pemikiran yang bermanfaat? Memang, hal ini tergantung kemauan kita, apakah kita ingin menjadi orang yang memiliki pikiran yang bermanfaat, atau pun tidak.

    ReplyDelete
  44. Muh WIldanul Firdaus
    17709251047
    PPs P.Mat C

    Untuk menggapai obyketifikasi pengetahuan kita harus mempublikasikan tersebut agar tidak hanya diri sendiri yang mengetahuinya. Apabila pengetahuan tersebut hanya diri sendiri ini yang tahu, maka pengetahuan tersebut masih bersifat subjektif. Mau belajar dan memperbaiki diri, termasuk menerima berbagai masukan dari banyak orang merupakan sarana untuk mengobyektifkan pengetahuan.

    ReplyDelete
  45. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P. Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Subjektifisme memang cenderung menghalangi kita dalam menggapai kebenaran objektif. Namun tanpa subjektifitas, manusia tidak akan mampu menalar kehidupan. Untuk menggapai pengetahuan objektif dibutuhkan penalran yang baik melalui proses pendidikan yang baik dengan cara mempelajari setiap perspektif berbeda dalam memandang kehidupan dan pengetahuan. Di antara perspektif-perspektif itu terselip kebenaran-kebenaran yang akan terakumulasi ke dalam cara kita berfikir.

    ReplyDelete