Jul 31, 2010

Elegi Menggapai Pengetahuan Obyektif

Oleh Marsigit

Subyek1:
Wahai pengetahuansatu dimanakah engkau sekarang?



Pengetahuansatu:
Aku sekarang berada di dalam dirimu. Aku di dalam pikiranmu. Aku telah menjadi persepsimu. Aku telah menjadi imajinasimu. Aku telah menjadi analisismu. Aku telah menjadi tesismu. Aku telah menjadi
pendapatmu. Aku telah menjadi kesimpulanmu. Aku telah menjadi metodemu. Aku telah menjadi hak ciptamu. Itulah keadaanku sekarang, yaitu aku telah menjadi subyektifmu. Aku adalah dirimu yang subyektif, yaitu aku yang menurut ukuranmu sendiri.

Subyek1:
Tetapi mengapa engkau tampak gelisah.

Pengetahuansatu:
Aku mulai gelisah karena sedang memikirkanmu. Aku merasa tidak baik jika terus menerus tetap tinggal di dalam dirimu. Aku merasa iba terhadapmu jika nama baikmu tercemar gara-gara aku terlalu lama tinggal di dalam pikiranmu.

Subyek1:
Kemudian apa maumu.

Pengetahuansatu:
Aku ingin keluar dari dirimu. Aku ingin keluar dari dalam pikiranmu. Aku ingin mengadakan pameran. Dengan aku mengadakan pameran maka aku berharap banyak orang-orang akan mengetahui tentang diriku. Jika orang-orang banyak, mengetahui tentang diriku, maka mereka juga akan mengetahui tentang dirimu. Maka ijinkanlah aku mengadakan pameran, dan aku berjanji akan kembali masuk ke dalam dirimu, ketika sudah sampai saatnya.

Subyek1:
Baiklah kalau begitu, aku ijinkan engkau keluar dari dalam diriku dan silahkan mengadakan pameran.

Pengetahuansatu:
Terimakasih subyek1ku. Wahai orang banyak, aku berasal dari subyek1ku. Aku telah lama di dalam pikiran subyek1ku. Aku telah lama menjadi persepsi subyek1ku. Aku telah lama menjadi imajinasi subyek1ku. Aku telah lama menjadi analisis subyek1ku. Aku telah lama menjadi tesis subyek1ku. Aku telah lama menjadi pendapat subyek1ku. Aku telah lama menjadi kesimpulan subyek1ku. Aku telah lama menjadi metode subyek1ku. Aku telah lama menjadi hak cipta subyek1ku. Itulah keadaanku masa lalu, yaitu aku telah menjadi subyek1tif dari subyek1ku. Aku sekarang sudah berada di luar subyek1ku, yaitu aku telah bersiap untuk tidak menjadi ukuran dari subyek1ku sendiri. Aku siap mengadakan pameran. Maka silahkan engkau semuanya melihat diriku. Silahkan engkau semuanya meneliti diriku. Silahkan engkau semuanya mengoreksi diriku secara terbuka. Silahkan engkau semuanya menganalisis diriku. Silahkan engkau semuanya menilai diriku. Silahkan engkau semuanya memperbaikiku.

Subyek2:
Wahai pengetahuansatu maafkanlah jika aku nanti membuatmu kecewa karena aku telah menemukan bahwa ada beberapa hal darimu yang tidak sesuai dengan kebenaran umum.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah melakukan kesalahan persepsi.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah melakukan kesalahan analisi.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah membuat tesis yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah menyampaikan pendapat yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah membuat kesimpulan yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah menggunakan metode yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah lama menganggapmu sebagai benar, padahal senyatanya engkau itu adalah salah.

Subyek3:
Wahai pengetahuansatu maafkanlah jika aku nanti membuatmu kecewa karena aku telah menemukan bahwa ada beberapa hal darimu yang tidak sesuai dengan kebenaran umum.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah melakukan kesalahan persepsi.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah melakukan kesalahan analisi.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah membuat tesis yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah menyampaikan pendapat yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah membuat kesimpulan yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah menggunakan metode yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah lama menganggapmu sebagai benar, padahal senyatanya engkau itu adalah salah.

..

Subyekn:
Wahai pengetahuansatu maafkanlah jika aku nanti membuatmu kecewa karena aku telah menemukan bahwa ada beberapa hal darimu yang tidak sesuai dengan kebenaran umum.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah melakukan kesalahan persepsi.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah melakukan kesalahan analisi.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah membuat tesis yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah menyampaikan pendapat yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah membuat kesimpulan yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah menggunakan metode yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah lama menganggapmu sebagai benar, padahal senyatanya engkau itu adalah salah.

Pengetahuansatu:
Waduh, bagaimanakah nasibku ini? Padahal selama ini aku telah menjadi kebanggaan subyek1. Aku telah menjadi pedoman subyek1. Aku telah lama menjadi anak emas dari subyek1. Padahal sekarang aku tahu sebenar-benar diriku tidaklah sesuai dengan pandangan orang-orang. Aku hanya benar sesuai subyektifitas subyek1. Padahal aku ternyata salah bagi subyek2, subyek3, subyek4, ..., subyekn. Wahai para subyek semuanya, kecuali subyek1, aku minta tolonglah kepadamu. Bagaimana caranya agar aku juga benar bagi engkau semuanya.

Subyek2, subyek3, subyek4, ..., subyekn bersama-sama menjawab:
Wahai pengetahuansatu, sungguh berat caranya. Sungguh panjang perjalanannya. Jika engkau menginginkan agar engkau juga benar bagi kita semua, termasuk benar bagi subyek1, maka subyek1 harus bersedia memperbaiki banyak hal.
Subyek1 harus memperbaiki persepsinya.
Subyek1 harus memperbaiki analisinya.
Subyek1 harus memperbaiki tesisnya.
Subyek1 harus memperbaiki pendapatnya.
Subyek1 harus memperbaiki metodenya.
Subyek1 harus memperbaiki kesimpulannya.

Subyek1:
Wahai subyek2, subyek3, subyek4, ..., subyekn , terimakasih atas saran dan koreksimu. Aku dengan ikhlas telah menerima semua saran dan perbaikanmu.
Aku akan memperbaikki persepsiku.
Aku akan memperbaikki analisisku.
Aku akan memperbaikki tesisku.
Aku akan memperbaikki pendapatku.
Aku akan memperbaikki metodeku.
Aku akan memperbaikki kesimpulanku.
Maka inilah persepsiku yang baru. Inilah analisisku yang baru. Inilah pendapatku yang baru. Inilah metodeku yang baru. Inilah kesimpulanku yang baru.

Pengetahuansatu:
Wahai subyek2, subyek3, subyek4, ..., subyekn , kelihatannya subyek1 tidak lagi mengakuiku. Lalu bagaimana nasibku?

Subyek2, subyek3, subyek4, ..., subyekn bersama-sama menjawab:
Wahai pengetahuansatu, itulah sebenar-benar nasibmu. Engkau telah berubah menjadi pengetahuan obyektif. Maka namamu juga telah berubah. Jika engkau tidak keberatan maka engkau akan aku sebut sebagai pengetahuandua.

Pengetahuandua:
Wahai subyek1, subyek2, subyek3, subyek4...subyekn, terimakasih aku ucapkan, karena aku telah engkau angkat menjadi pengetahuan obyektifmu. Tetapi aku merasa malu jika aku engkau angkat begitu saja tanpa engkau uji kehandalanku. ku juga merasa malu kepada pengetahuansatu, karena walaupun pengetahuansatu bersifat subyektif dan serba salah, tetapi berani mengadakan pameran. Maka aku bersedia menjadi pengetahuan obyektifmu semua dengan syarat aku diperbolehkan presentasi di seminar dan bergaul dengan orang-orang. Hal demikian juga aku maksudkan agar subyek1 bisa secara ikhlah menerimaku kembali dengan demikian aku berharap nantinya juga bisa menjadi pengetahuan subyektif dari subyek1.

Seminar dan pergaulan:
Wahai para hadirin semuanya, marilah kita bersama menguji pandatang baru kita ini, yaitu pengetahuandua, dan mengadakan diskusi dan pergaulan. Setelah kita berdiskusi, bergaul maka seminar ini mengambil kesimpulan bahwa ternyata:
Kita memutuskan bahwa pengetahuan2 adalah persepsi yang benar.
Kita memutuskan bahwa pengetahuan2 adalah analisi yang benar.
Kita memutuskan bahwa pengetahuan2 adalah tesis yang benar.
Kita memutuskan bahwa pengetahuan2 adalah pendapat yang benar.
Kita memutuskan bahwa pengetahuan2 adalah metode yang benar.
Kita memutuskan bahwa pengetahuan2 adalah kesimpulan yang benar.

Pengetahuan2:
Wahai semuanya, aku terharu mendengar semua kesaksianmu. Aku telah engkau angkat menjadi pengetahuan obyektif bagi semuanya. Bahkan aku telah divalidasi dalam seminar dan melalui pergaulanpergaulan. Aku merasa netral dan tidak berpihak. Aku adalah benar bagi semuanya tanpa kecuali. Inilah sebenar-benar diriku. Aku adalah pengetahun obyektifmu semuanya.

Pengetahuan2 bertanya kepada subyek1:
Wahai subyek1, bagaimanakah menurut pendapatmu. Bagaimanakah kondisiku. Apakah engkau bersedia menerima diriku untuk menjadi pengetahuan subyektifmu sekaligis pengetahuan obyektifmu?

Subyek1:
Aku merasa terharu melihat betapa jauh pengembaraanmu. Engkau bahkan telah merubah wajah dan isimu demi menggapai kebenaran obyektif. Aku merasa sangat bersyukur, bahwasanya aku telah diberikan rakhmat dan hidayah Nya. Maka dengan serta merta aku dengan tangan terbuka dan dengan hati ikhlas, aku bersedia menerimamu kembali. Dengan ini engkau telah menjadi pengetahuanku baik secara obyektif maupun subyektif.

Orang tua berambut putih:
Dari berbagai pertanyaanmu itu sebetulnya aku telah hadir di sisimu. Aku telah menyaksikan bagaimana subyek1 sebenar-benar belajar. Itulah usahamu menggapai pengetahuan. Amien.

27 comments:

  1. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Menyenangkan bagi saya, mengetahui suatu cara agar pengetahuan menjadi obyektif. Setiap penelitian hendaknya dipublikasikan, dibawa pada seminar, konferensi yang dihadari para pembelajar lain, mendapat komentar, dan perbaikan-perbaikan dilakukan jika masih ada yang perlu diperbaiki. Dengan demikian maka pengetahuan semakin menjadi obyektif. Selain itu pula, berbagi pengetahuan akan mengembangkan banyak orang. Pengetahuan yang disimpan sendiri hanya menjadi milik sendiri. Kita perlu berbagi, untuk meluaskan pengetahuan kita sendiri dan orang lain.

    ReplyDelete
  2. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Sungguh terbatas pemikiran dan pengetahuan saya bahwa ternyata penelitian diuji pada sidang, dipublikasikan dalam seminar dan jurnal, adalah untuk mengubah menjadi pengetahuan obyektif bagi khalayak umum dan tidak berpihak atau netral. Di forum tersebut penelitian akan mendapat banyak masukan berupa kritik dan saran yang membangun sehingga penelitian tidak lagi berupa pengetahuan yang subyektif.

    ReplyDelete
  3. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Kami memahami bahwa pengetahuan obyektif dapat dicapai dengan beberapa cara, antara lainya adalah dengan membagikan pengetahuan yang dimiliki pada orang lain. Kami menyadari bahwa dengan membagikan pengetahuan yang kami miliki kepada orang lain maka orang lain tersebut akan mengomentari pengetahuan yang kami miliki, setelah dikomentari maka akan terjadi proses berpikir ulang dan ketika ada perbaikan maka kami akan mampu untuk memperbaiki pengetahuan dan pemahaman yang kami miliki. Dengan proses-proses tersebut maka akan terstruktur dan tersusun sebuah pengetahuan yang bersifat obyektif, bukan lagi pengetahuan subyektif.

    ReplyDelete
  4. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Pengatahuan yang subyektif dapat menjadi obyektif apabila pengetahuan yang dimiliki tidak hanya disimpan untuk diri sendiri. Berbagi pengetahuan yang dimiliki kepada orang lain dapat dijadikan suatu pengetahuan baru lagi bagi kita, dikarenakan kita akan mendapatkan berbagai macam perbaikan yang mungkin sebelumnya kita tidak mengetahui kesalahan-kesalahan apa yang ada pada pengetahuan tersebut, sehingga dari perbaikan-perbaikan itulah pengetahuan sebelumnya yang bersifat subyektif dapat menjadi obyektif.

    ReplyDelete
  5. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Kebenaran subjektif adalah kebenaran yang dilahirkan dari internal persepsi dan subjektifitas pemiliknya. Sementara itu, kebenaran objektif adalah kebenaran yang lahir dari luar subjek. Ia lahir dari objek itu sendiri. Ia tidak terikat pada subjeknya. Apapun subjeknya, kebenaran objektif bersifat tetap, tidak berubah. Kebenaran objektif inilah yang harusnya menjadi kesepakatan bersama untuk dicapai. Diskusi, seminar, debat, diadakan agar kita mencapai kebenaran objektif. Jadi ketika kita mendatangi acara-acara diskusi, seminar dan debat seperti itu, kita perlu menyiapkan ruang pada pikiran kita untuk menerima kebenaran objektif. Jangan kita datang pada acara-acara seperti itu hanya untuk memaksakan kebenaran subjektif milik kita pada subjektifnya orang lain.

    ReplyDelete
  6. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Untuk membangun ilmu pengetahuan maka kita harus bisa menjelaskan kepada orang lain tentang obyek pikir yang ada dalam pikiran kita. Pun jika obyek pikir ada diluar pikiran kita maka kita juga harus mengetahuinya. Kedua hal tersebutlah yang membangun ilmu pengetahuan. Segigih-gigihnya usaha manusia berarti manusia itu sedang belajar. Belajar dan berusaha menggapai ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
  7. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Untuk membangun ilmu pengetahuan maka kita harus bisa menjelaskan kepada orang lain tentang obyek pikir yang ada dalam pikiran kita. Pun jika obyek pikir ada diluar pikiran kita maka kita juga harus mengetahuinya. Kedua hal tersebutlah yang membangun ilmu pengetahuan. Segigih-gigihnya usaha manusia berarti manusia itu sedang belajar. Belajar dan berusaha menggapai ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
  8. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Untuk membangun ilmu pengetahuan maka kita harus bisa menjelaskan kepada orang lain tentang obyek pikir yang ada dalam pikiran kita. Pun jika obyek pikir ada diluar pikiran kita maka kita juga harus mengetahuinya. Kedua hal tersebutlah yang membangun ilmu pengetahuan. Segigih-gigihnya usaha manusia berarti manusia itu sedang belajar. Belajar dan berusaha menggapai ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
  9. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Sebenarnya saya masih bingung dalam memahami elegi ini. Namun berikut akan saya coba ungkapkan sedikit tentang apa yang dapat saya pahami. Pengetahuan obyektif sangat penting, karena pengetahuan obyektif itu murni, netral, sebagaimana mestinya. Berbeda dengan pengetahuan subyektif. Pengetahuan subyektif cenderung tidak murni karena kecenderungan subyek itu adalah membenarkan apapun yang dikerjakannya. Sehingga apa yang dianggapnya benar itulah yang benar, apa yang mampu ia pikirkan itulah yang benar, sehingga pengetahuan subyektif ini akan cenderung bersifat tertutup karena ia hanya menerima apa yang menguntungkan baginya saja. Lain halnya dengan pengetahuan obyektif, ia lebih bersifat terbuka karena ia tidak terpaku pada subyek yang memikirkannya. Namun, pengetahuan obyektif ini hanya dapat dicapai oleh hati yang bersih dan ikhlas. Sedangkan kita tidak tahu kapan kita memiliki hati yang bersih dan ikhlas itu, sehingga yang dapat kita lakukan adalah berikhtiar semaksimal mungkin untuk menggapainya. Menggapai pengetahuan obyektif itu.

    ReplyDelete
  10. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Ilmu tanpa agama adalah sesat, Agama tanpa Ilmu adalah buta. Ilmu dimiliki untuk diamalkan, dengan tettap menjadikan agama sebagai dasarnya. Tanpa dasar agama maka ilmu yang dimilikinya tidak akan menjadi berkah. Pengamalan ajaran agama tidak akan berguna dalam beramal tentulah butuh ilmu, tanpa ilmu, semuanya hanyalah mustahil sebaik-baik orang adalah orang yang mengamalkan ilmunya, dan sebaik-baiknya manusia adalah dia yang berguna bagi sesamanya.

    ReplyDelete
  11. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Pengetahuan itu ada karena subjek dan objenya. Pengetahuan subjektif pengetathuan yang dipikirkan sedniri, dan pengetahuan objekntif pengetahuan yang telah didiskusikan dengan orang banyak. Kedua pengetahuan tidak lepas satu sama lain. Karena pengetahuan membutuhkan konfirmasi kebenaran jika teah dipikirkan. Dan cara mengkonfirmasi itu dengan didiskusikan dengan orang banya sehingga dapat diterima masyarakat luas.

    ReplyDelete
  12. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Manusia dilahirkan dengan bekal akal pikiran, salah satu tujuannya agar manusia dapat melogika dan melihak kebenaran secara obyektif. Oleh sebab itu, dalam belajar atau melihat sebuah permasalahan, hendaklah kita bersifat obyektif. Sehingga persepsi, analisis, tesis, pendapat, metode, dan kesimpulan yang kita ambil itu benar. Selain itu, kita juga memerlukan pengakuan secara umum agar kita dapat mencapai obyektivitas yang disebut dengan kebenaran umum.

    ReplyDelete
  13. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052

    Pengetahuan objektif dapat dimaknai sebahgai pengetahuan ang diperoleh dengan cara-cara objektif. Walaupun dikatakan pengetahuan objektif, namun sifat –sifat subjektif tidak dapat bersih darinya. Selalu ada kesubjektifan dalam dominan keobjektifan. Karena sesungguhnya ikhtiar menggapai pengetahuan objektif tidak akan pernah ada yang sampai benar-benar objektif.

    ReplyDelete
  14. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052

    Sebagai makhluk lemah, manusia sering berubah isi hati dan pikirannya, maka dai itu dalam usaha menggapai pengetahuan objektif harus didasari tekad kuat, niat ikhlas, dan doa disepanjang jalan yang dilalui. Seberapapun objektif kita, tetap ada sifat subjektif yang melekat.

    ReplyDelete
  15. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Berdasarkan Elegi Menggapai Pengetahuan Objektif tersebut, dapat diketahui bahwasannya pengetahuan dibagi menjadi dua yaitu pengetahuan subjektif dan pengetahuan objektif. Pengetahuan objektif ialah persepsi, analisis, tesis, pendapat, metode, dan kesimpulan yang benar. Apabila kita menilai sesuatu hendaknya kita bersikap objektif bukan subjektif.
    Pengetahuan subyektif di jelaskan bahwa pengetahuan yang berasal dari pemikiran diri sendiri mengenai sesuatu dan bernilai benar menurut sang pemikir (kelompok tertentu) namun belum tentu menurut orang lain. Pengetahuan bisa subjektif dan objektif jika pengetahuan objektif itu telah menggantikan pola pikir sang pemikir sehingga sang pemikir juga menilai itu benar pada dirinya sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ilania Eka Andari
      17709251050
      S2 pmat c 207

      Pengetahuan dapat dibagi dua, yaitu pengetahuan subyektif dan obyektif. Pengetahuan obyektif adalah pengetahuan yang benar menurut kita dan orang lain. Pengetahuan objektif didapatkan dari pengalaman-pengalaman berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Dari interaksi tersebut, orang lain dapat melihat dan menerima bukti kebenarannya. atau dengan kata lain, pengetahuan tersebut tidak hanya memiliki nilai kebenaran pada satu orang saja, tetapi juga untuk banyak orang.

      Delete
  16. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs PMAT C

    Terdapat dua jenis pengetahuan yaitu pengetahuan subyektif dan obyektif. Pengetahuan subyektif adalah pengetahuan yang berdasarkan pemikirannya sendiri tanpa memerhatikan unsur-unsur atau pemikiran-pemikiran lain dan akan bersifat benar bagi pemikirnya sendiri. Sedangkan pengetahuan obyektif adalah pengetahuan yang merupakan pemikirannya sendiri yang memperhatikan unsur-unsur lain serta pemikiran-pemikiran lain, persepsi-persepsi lain yang membuat benar untuk semua yang berpikir tentangnya.

    ReplyDelete
  17. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Subyektifitas akan selalu dimiliki setiap orang. Namun, dibutuhkan pengetahuan yang obyektif supaya bisa menjadi ilmu yang diterima semua kalangan. Setiap pengetahuan yang kita miliki harus terus dikembangkan melalui masukan dari berbagai pihak. Hal ini dikarenakan belum tentu benar nya menurut pandangan kita akan mendapatkan pembenaran pula dari pihak-pihak yang lainnya.

    ReplyDelete
  18. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Berdasarkan Elegi Menggapai Pengetahuan Objektif tersebut dapat diketahui bahwasannya pengetahuan dibagi menjadi dua yaitu pengetahuan subjektif dan pengetahuan objektif. Pengetahuan objektif merupakan pengetahuan yang benar menurut kita, dan juga benar menurut orang lain, cara menjadikan pengetahuan yang kita miliki bisa menjadi pengetahuan objektif yaitu kita persentasikan atau seminarkan sehingga orang lain dapat melihat dan menerima bukti kebenarannya. Sedangkan pikiran subjektif adalah pikiran yang menurut kita benar, tetapi belum tentu dapat menjadi benar orang lain.

    ReplyDelete
  19. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Pengetahuan terdiri dari yang subjektif dan objektif. Pengetahuan subjektif ketika terikat dengan persepi subjektif tiap pribadi manusia. Sedangkan pengetahuan objektif adalah ketika dia sudah berada diluar kesubjektifan manusia, dia netral dan tidak berpihak pada siapa pun. Hati ikhlas dan pikiran jernih adalah pengetahuan yang sesungguhnya yaitu pengetahuan subjektif dan juga objektif.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  20. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Dalam mengetahui pengetahuan objektif juga dibutuhkan pengetahuan subjektif. Hal tersebut karena pada daarnya pengetahuan subjektif itu merupakan hal yang digunakan dalam menggapai kemampuan objektif
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  21. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Jika yang kita bagikan adalah ilmu. Ilmu tidak akan pernah hilang dari diri kita. Ilmu yang dibagikan justru akan menjadi ilmu yang berkah, sperti pohon yang berbuah. Jika seseorang membagikan ilmu, maka ilmunya akan semakin bertambah. Dengan mengajarkan ilmu, ilmu yang dimiliki akan semakin menancap kuat dalam sanubarinya.

    ReplyDelete
  22. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam berbagi ilmu, pengatahuan objektif harus didahulukan. Sebab pengetahuan objektif sudah teruji secara ilmiah. Tatkala ada pengetahuan yang tidak objektif dan disebarkan, maka mereka akan menelah sebuah informasi kesalahan yang akan menyebabkan sebuah tidnakan yang salah satu sama lain.

    ReplyDelete
  23. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C
    Pengetahuan objektif merupakan pengetahuan yang benar menurut kita, dan juga benar menurut orang lain, pengetahuan objektif yaitu pengetahuan yang orang lain dapat melihat dan menerima bukti kebenarannya. Sedangkan pikiran subjektif adalah pikiran yang menurut kita benar, tetapi belum tentu benar bagi orang lain.

    ReplyDelete
  24. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    Dalam elegi menggapai pengetahuan diatas, menurut pendapat saya. banyak hal yang harus dilakukan dalam menggapai pengetahuan. Dalam mencapai pengetahuan yang diinginkan maka kita harus terbuka dengan orang lain, mampu berbagi ilmu dengan yang lain, dalam artian berdiskusi dalam memecahkan suatu permasalahan sehingga tercapai pengetahuan yang diinginkan.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  25. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    manusia tidak luput dari kesalahan, kadang-kadang kita harus mencoba untuk memadamkan pikiran kita atau pengetahuan kita dari diri kita sendiri, karena pikiran kita yang ada dalam diri kita sendiri yang subjektif. Kita harus meminta orang lain untuk berkonsultasi dengan mereka tentang bagaimana sikap kita selama ini. Kita harus bersedia menerima saran dan kritik dari mereka untuk kemajuan diri masa depan kita.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  26. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Elegi menggapai pengetahuan obyektif. Dalam proses mencari pengetahuan memang perlu berpikir yang panjang, baik secara obyektif maupun subyektif. Kedua al tersbut bisa saling membantu atau mala bisa menjerumuskan pengetahuan yang kurang baik. Namun sebuah proses ketika kita bertemu dengan suatu kegagalan, itu bisa menjadi sebuah kebaikan. Karena kita bisa melihat dari setiap unsur tersebut. Baik secara Obyektif maupun subyektif.

    ReplyDelete