Jul 31, 2010

Elegi Perbincangan Para Banyak

Oleh Marsigit
(Khusus untuk perbincangan filsafat, dan bukan untuk referensi langsung ke pembelajaran matematika)

Para banyak:
Wahai orang tua berambut putih, sebentar dulu...janganlah tergesa pergi... Aku para banyak masih ingin menyampaikan pemikiranku kepadamu. Selama ini tiadalah orang itu peduli terhadapku dan terhadap para anggotaku. Tetapi aku selalu tertimpakan oleh pemikiran, sikap dan perbuatan mereka. Kalau yang lain juga sudah menyampaikan pemikiran melalui berbagai forum misalnya konferensi, seminar,perbincangan, dst, maka kami juga ingin melakukan hal yang sama.



Orang tua berambut putih:
Oh engkau para banyak. Aku minta maaf belum bisa memberimu kesempatan untuk menyampaikan pemikiranmu dan para anggotamu. Sebetulnya aku untuk sementara akan off dulu, untuk memberikan kesempatan para subyek dan para obyek merenungkan pemikirannya. Tetapi ternyata engkau telah mendatangiku. Baiklah, silahkan.

Satu:
Kenalkan, aku adalah satu. Satu adalah anggota dari para banyak. Tiadalah banyak itu tanpa pernah dimulai dari diriku. Satu itu bukanlah satu. Oleh karena satu itu bukan satu, maka aku dapat berusaha menggunakan pikiranku untuk memikirkan satu. Padahal engkau tahu bahwa satu itu dapat berkenaan dengan segala yang ada dan yang mungkin ada. Oleh karena itu aku dapat meletakkan satu di depan setiap yang ada dan yang mungkin ada. Misalnya aku dapat mengatakan satu buku, satu pensil, satu guru, satu siswa, satu lautan, satu bicara, satu pikiran, satu pendapat, satu tingkat, satu dimensi, satu dunia, ...dst. Dari contoh-contoh itu maka dapat aku katakan bahwa satu itu ada banyak tak terhingga. Itulah sebenar-benar satu, yaitu bahwa satu adalah satu dari sekian banyak anggota para banyak.

Dua:
Kenalkan, aku adalah dua. Dua adalah anggota dari para banyak. Dua itu bukanlah dua. Oleh karena dua itu bukan dua, maka aku dapat berusaha menggunakan pikiranku untuk memikirkan dua. Padahal engkau tahu bahwa dua itu dapat berkenaan dengan segala yang ada dan yang mungkin ada. Oleh karena itu aku dapat meletakkan dua di depan setiap yang ada dan yang mungkin ada. Misalnya aku dapat mengatakan dua buku, dua, pensil, dua guru, dua siswa, dua lautan, dua bicara, dua pikiran, dua pendapat, dua tingkat, dua dimensi, dua dunia, ...dst. Dari contoh-contoh itu maka dapat aku katakan bahwa dua itu ada banyak tak terhingga. Itulah sebenar-benar dua, yaitu bahwa dua adalah satu dari sekian banyak anggota para banyak.

Tiga:
Kenalkan, aku adalah tiga. Tiga adalah anggota dari para banyak. Tiga itu bukanlah tiga. Oleh karena tiga itu bukan tiga, maka aku dapat berusaha menggunakan pikiranku untuk memikirkan tiga. Padahal engkau tahu bahwa tiga itu dapat berkenaan dengan segala yang ada dan yang mungkin ada. Oleh karena itu aku dapat meletakkan tiga di depan setiap yang ada dan yang mungkin ada. Misalnya aku dapat mengatakan tiga buku, tiga pensil, tiga guru, tiga siswa, tiga lautan, tiga bicara, tiga pikiran, tiga pendapat, tiga tingkat, tiga dimensi, tiga dunia, ...dst. Dari contoh-contoh itu maka dapat aku katakan bahwa tiga itu ada banyak tak terhingga. Itulah sebenar-benar tiga, yaitu bahwa tiga adalah satu dari sekian banyak anggota para banyak.

Empat:
Kenalkan, aku adalah empat. Empat adalah anggota dari para banyak. Empat itu bukanlah empat. Oleh karena empat itu bukan empat, maka aku dapat berusaha menggunakan pikiranku untuk memikirkan empat. Padahal engkau tahu bahwa empat itu dapat berkenaan dengan segala yang ada dan yang mungkin ada. Oleh karena itu aku dapat meletakkan empat di depan setiap yang ada dan yang mungkin ada. Misalnya aku dapat mengatakan empat buku, empat pensil, empat guru, empat siswa, empat lautan, empat bicara, empat pikiran, empat pendapat, empat tingkat, empat dimensi, empat dunia, ...dst. Dari contoh-contoh itu maka dapat aku katakan bahwa empat itu ada banyak tak terhingga. Itulah sebenar-benar empat, yaitu bahwa empat adalah satu dari sekian banyak anggota para banyak.

Lima:
Kenalkan, aku adalah lima. Lima adalah anggota dari para banyak. Lima itu bukanlah lima. Oleh karena lima itu bukan lima, maka aku dapat berusaha menggunakan pikiranku untuk memikirkan lima. Padahal engkau tahu bahwa lima itu dapat berkenaan dengan segala yang ada dan yang mungkin ada. Oleh karena itu aku dapat meletakkan lima di depan setiap yang ada dan yang mungkin ada. Misalnya aku dapat mengatakan lima buku, lima pensil, lima guru, lima siswa, lima lautan, lima bicara, lima pikiran, lima pendapat, lima tingkat, lima dimensi, lima dunia, ...dst. Dari contoh-contoh itu maka dapat aku katakan bahwa lima itu ada banyak tak terhingga. Itulah sebenar-benar lima, yaitu bahwa lima adalah satu dari sekian banyak anggota para banyak.

Banyak:
Kenalkan, aku adalah banyak. Banyak adalah anggota dari para banyak. Banyak itu bukanlah banyak. Oleh karena banyak itu bukan banyak, maka aku dapat berusaha menggunakan pikiranku untuk memikirkan banyak. Padahal engkau tahu bahwa banyak itu dapat berkenaan dengan segala yang ada dan yang mungkin ada. Oleh karena itu aku dapat meletakkan banyak di depan setiap yang ada dan yang mungkin ada. Misalnya aku dapat mengatakan banyak buku, banyak pensil, banyak guru, banyak siswa, banyak lautan, banyak bicara, banyak pikiran, banyak pendapat, banyak tingkat, banyak dimensi, banyak dunia, ...dst. Dari contoh-contoh itu maka dapat aku katakan bahwa banyak itu ada banyak tak terhingga. Itulah sebenar-benar banyak, yaitu bahwa banyak adalah satu dari sekian banyak anggota para banyak.

Para banyak:
Kenalkan, aku adalah para banyak. Para banyak adalah anggota dari para banyak. Para banyak itu bukanlah para banyak. Oleh karena para banyak itu bukan para banyak, maka aku dapat berusaha menggunakan pikiranku untuk memikirkan para banyak. Padahal engkau tahu bahwa para banyak itu dapat berkenaan dengan segala yang ada dan yang mungkin ada. Oleh karena itu aku dapat meletakkan para banyak di depan setiap yang ada dan yang mungkin ada. Misalnya aku dapat mengatakan para banyak buku, para banyak pensil, para banyak guru, para banyak siswa, para banyak lautan, para banyak bicara, para banyak pikiran, para banyak pendapat, para banyak tingkat, para banyak dimensi, para banyak dunia, ...dst. Dari contoh-contoh itu maka dapat aku katakan bahwa para banyak itu ada para banyak tak terhingga. Itulah sebenar-benar para banyak, yaitu bahwa para banyak adalah satu dari sekian banyak anggota para banyak.

Orang tua berambut putih:
Lantas, apa masalahmu jika engkau semua telah menyampailkan pemikiranmu?

Para banyak:
Yang menjadi masalah adalah sulitnya manusia memahami tentang satu bukanlah satu, dua bukanlah dua, tiga bukanlah tiga, empat bukanlah empat, lima bukanlah lima, dan banyak bukanlah banyak, serta para banyak bukanlah para banyak.

Orang tua berambut putih:
Apa pentingnya memahami hal yang demikian itu?

Para banyak:
Jika mereka belum memahami para banyak maka mereka akan mengalami kesulitan untuk memahami obyek yang bicara, mengalami kesulitan untuk memahami subyek yang menjadi obyek, mengalami kesulitan untuk memahami obyek yang menjadi subyek, mengalami kesulitan untuk memahami kuasa yang dikuasai, mengalami kesulitan untuk memahami yang ada dan yang mungkin ada, mengalami kesulitan untuk memahami tetap yang berubah, mengalami kesulitan untuk memahami berubah yang tetap, mengalami kesulitan untuk memahami benar yang salah, mengalami kesulitan untuk memahami salah yang benar, mengalami kesulitan untuk memahami baik yang buruk, mengalami kesulitan untuk memahami buruk yang baik, mengalami kesulitan untuk memahami awal yang tidak berawal, mengalami kesulitan untuk memahami akhir yang tidak berakhir, mengalami kesulitan untuk memahami pertanyaan yang bukan pertanyaan, mengalami kesulitan untuk memahami reduksi menuju kelengkapan, mengalami kesulitan untuk memahami kelengkapan yang tereduksi, mengalami kesulitan untuk memahami hidup yang mati, mengalami kesulitan untuk memahami mati yang hidup, mengalami kesulitan untuk memahami dunia di syurga, mengalami kesulitan untuk memahami syurga di dunia, mengalami kesulitan untuk memahami dunia di neraka, mengalami kesulitan untuk memahami neraka di dunia, mengalami kesulitan untuk memahami logosnya mitos, mengalami kesulitan untuk memahami mitosnya logos, mengalami kesulitan untuk memahami pikiran di hati, mengalami kesulitan untuk memahami hati di pikiran, mengalami kesulitan untuk memahami guru sebagai siswa, mengalami kesulitan untuk memahami siswa sebagai guru, mengalami kesulitan untuk memahami hakekat dibalik penampakan, mengalami kesulitan untuk memahami elegi-elegi, mengalami kesulitan untuk memahami merterjemahkan dan diterjemahkan, mengalami kesulitan untuk memahami memperbincangkan segala yang ada dan yang mungkin ada, mengalami kesulitan untuk memahami fatamorgana, mengalami kesulitan untuk mengenali para mitos, dan mengalami kesulitan untuk mengenali musuh-musuh hati.

Orang tua berambut putih:
Wahai para banyak. Sungguh mulia hatimu itu. Sungguh agung pemikiranmu itu. Semoga pemikiran-pemikiranmu itu dapat dibaca oleh para logos, sehingga para logos itu bisa selalu mengatasi para mitos-mitosnya. Mudah-mudahan uraianmu ini juga bisa menjadi jawaban dan solusi bagi yang masih kesulitan memahami elegi-elegi. Dan semoga apa yang telah engkau sampaikan dapat mencerdaskan kita semua dan menambah iman dan taqwa kita kepa Allah SWT. Amien.

10 comments:

  1. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Arti banyak adalah besar jumlahnya. Banyak lebih diartikan pada sisi kuantitas suatu benda yang dapat dihitung maupun yang tidak dapat dihitung menggunakan satuan tertentu. Banyak adalah lebih dari satu, akan tetapi satu yang kita ketahui bukanlah satu. Satu itu bisa berarti yang lainnya tergantung ruang dan waktunya. Satu bukanlah sebuah gambar dituliskan dengan garis tegak lurus. Satu itudapat berkenaan dengan segala yang ada dan mingkin ada. Satu dapat diletakkan didepan setiap yang ada dan yang mungkin ada. Sebenar-benarnya satu adalah satu dari sekian banyak anggota para banyak.

    ReplyDelete
  2. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Berdasarkan “Elegi Perbincangan Para Banyak” bahwa banyak itu tak terhingga. Namun banyaknya banyak pun juga terbatas. Aku mempunyai dua roti, maka roti itu banyaknya dua. Namun dua tidak sama dengan dua. Dua pertama akan beda dengan dua yang kedua, perbedaan tersebut dipengaruhi oleh ruang dan waktu.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  3. Nama : Wisniarti
    NIM : 17709251037
    Kelas : PM B (Pascasarjana)

    Postingan "Elegi Perbincangan para Banyak" menceritakan pada pembaca bahwa "banyak" disini bukan pada sesuatu yang dapat dibilang namun lebih dari itu. Misalnya kita menggunakan "lima" seperti yang bapak tulis dipostingan ini "aku dapat mengatakan lima buku, lima pensil, lima guru, lima siswa, lima lautan, lima bicara, lima pikiran, lima pendapat, lima tingkat, lima dimensi, lima dunia, ...dst. Dari contoh-contoh itu maka dapat aku katakan bahwa lima itu ada banyak tak terhingga" artinya lima disini bukanlah sesuatu yang hanya dapat dibilang yang terbatas, namun lebih dari itu.

    ReplyDelete
  4. Metia Novianti
    17709251021
    S2 Pendidikan Matematika A 2017
    Satu itu ada banyak tak terhingga. Dua adalah satu dari sekian banyak anggota para banyak. Diantara satu dan dua, masih banyak anggota para banyak yang lainnya. Seperti yang pernah dituliskan John Green dalam The Fault in Our Stars, “some infinities are bigger than other infinities”.

    ReplyDelete
  5. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Dari elegegi perbincangan para banyak ini kita dapat mengambil pelajaran agar kita harus memiliki pengetahuan tentang suatu hal secara luas agar kita terhindar dari segala kesulitan dan mitos yang dapat mempengaruhi pemikiran kita. Selain itu, dalam menghadapi suatu permasalahan diperlukan kejernihan dalam berpikir dan bertindak, tidak boleh asal bertindak tanpa dilandasi oleh pikiran yang jernih dan melihat situasi.

    ReplyDelete
  6. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Satu, dua, tiga, empat, kebanyakan diartikan sebagai satu, dua, tiga, empat yaitu bilangan yang terbatas. Namun jika kita melihatnya dari sudut pandang ruang dan waktu yang berbeda maka satu, dua, dst dapat berarti berarti tak terhingga. Misalnya satu buku, satu pensil, satu bumi dst. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kita memahami apa yang terjadi di dunia ini janganlah melihat dari satu sudut pandang saja. Lihatlah dari berbagai sudut pandang, agar kita lebih memahami dan bijaksana menyikapi berbagai fenomena yang ada di dunia ini. Terima Kasih

    ReplyDelete
  7. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Mohon ijin, melalui postingan ini saya menyadari bahwa manusia sangat sulit menggapai logos, karena selalu terkejar-kejar oleh mitos. Manusia terkadang hanya memikirkan yang ada dan melupakan yang mungkin ada. Manusia seringkali berfikir absolut (satu adalah satu, dua adalah dua), padahal yang benar-benar kebenaran absolut adalah ketetapan Allah SWT.

    ReplyDelete
  8. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Filsafat itu mengkaji suatu hal dengan intensif dan ekstensif, maka dia pun juga menkaji banyak dengan sangat intensif. Bahwa ternyata satu itupun adalah banyak karena satu bukan hanya satu, tetapi satu adalah banyak hal. Dari satu saja kita sudah dapat menemukan hal yang sebelumnya tidak kita ketahui.

    ReplyDelete
  9. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Menurut elegi di atas, banyak adalah sesuatu yang dapat dibilang dan mungkin juga tidak dapat dibilang. Satu yang kita pikir selama ini untuk melambangkan hal yang sedikit, ternyata bukanlah satu seperti apa yang kita pikirkan. Satu merupakan bagian dari banyak. Satu bukanlah satu. Satu itu banyak tak terhingga. Maksudnya, ketika ketika mengatakan ini adalah satu roti. Ternyata, kita dapat menggunakan satu untuk hal yang lain seperti satu meja, satu buku, satu kata, satu rumah, satu mobil, dan satu-satu yang lainnya yang tak tehingga banyaknya. Dan juga, ketika kita makan satu roti tersebut, maka satu itu tidak akan hilang, satu itu akan tetap ada dan digunakan untuk yang tak terhingga lainnya. Maka satu itu adalah bagian dari banyak dan tak terhingga banyaknya.

    ReplyDelete
  10. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Banyak hal yang terlihat tidak hanya seperti yang terlihat, yang terdengar tidak hanya seperti yang terdengar, yang ada tidak hanya yang ada. Jika kita melihat meja hanya pada permukaanya kita bisa mengatakan meja itu bersih, tetapi belum tentu jika kita melihat dari bawah. Sebagaimana satu itu tidak hanya satu. Ada satu meja, satu kursi, satu bunga, san satu-satu yang lain, maka satu bukanlah satu. Sebagaimana dalam memahami ilmu- ilmu lain termasuk membaca elegi- elegi ini, kita harus membuka pemikiran kita seluas- luasnya, membuka pemiliran kita agar semakin kritis dan melihat tidak hanya dari yang terlihat.

    ReplyDelete