Jul 31, 2010

Elegi Menggapai Mengada dan Pengada

Oleh Marsigit

Ada:
Wahai para ada, saatnya sudah marilah kita berpesta. Aku sengaja mengundangmu semua datang kemari untuk pesta. Kita perlu mengadakan pesta karena kita telah dinyatakan ada. Maka tak peduli siapakah kamu itu. Dirimu, karyamu, tulisanmu, pikiranku, temanmu, saudaramu, hatimu, logosmu, tesismu, anti-tesismu, sintesismu, pertanyaanmu, ikhlasmu, milikmu, persepsimu, pengamatanmu, pengetahuanmu, bahkan mitos-mitosmu. Pokoknya semua tanpa kecuali apa saja yang ada dan yang mungkin ada yang bisa engkau rasakan, engkau pikirkan atau engkau lakukan.



Para Ada:
Bagaimana dengan para MENGADA dan PENGADA apakah mereka diundang atau tidak?

Ada:
Lho apa itu MENGADA? Dan apa pula itu PENGADA? Dalam daftarku kok tidak ada.

Para Ada:
Kami melihat mereka bersama kami tadi. Caba panggilah.

Ada:
Wahai MENGADA dan PENGADA, siapakah dirimu itu?

Mengada dan Pengada:
Kami adalah dirimu sendiri, kami adalah anggota dari dirimu.

Ada:
Kenapa aku tidak mengenalmu?

Mengada dan Pengada:
Jika engkau belum kenal diri kami, itu berarti aku masih menjadi yang mungkin ada bagi dirimu.
Tetapi begitu engkau memanggilku maka engkau sudah mengenalku, berarti aku telah menjadi yang ada bagi dirimu.

Ada:
Aku menjadi penasaran jadinya. Wahai MENGADA coba terangkan lebih rinci sifat-sifat dirimu itu.

MENGADA:
Tiadalah ada dirimu tanpa mengada. Adanya dirimu itu sungguh karena mengada. Jadi dirimu yang ada disebabkan oleh mengadanya dirimu. Tetapi dirimu yang ada belum tentu menyebabkan diriku mengada. Maka mengada adalah bagian dari ada. Jika ada adalah subyek maka mengada adalah predikatnya. Jika mengada adalah subyek maka ada adalah predikatnya.

Ada:
Kapan ada itu dianggap tidak mengada?

Mengada:
Ada itu tidak mengada jika ada sudah merasa puas dengan dirinya sendiri dan tidak memerlukan mengada.

Ada:
Maksudmu?

Mengada:
Itulah sebenar-benar mitosmu yang paling besar dan paling halus di dunia ini.

Ada:
Aku masih tidak paham?

Mengada:
Undanganmu kepada para ada untuk mengadakan pesta adalah buktinya. Keinginanmu untuk mengadakan pesta tentang keberadaanmu, itu pertanda engkau telah merasa puas dengan statusmu sebagai ada.

Ada:
Lho apa salahnya?

Mengada:
Salahnya, engkau telah menganggap hidupmu telah usai. Engkau telah menganggap tidak ada lagi perjuangan bagi dirimu, sehingga engkau merasa memperoleh kemenanganmu, dan kemudian memutuskan untuk berpesta ria.

Ada:
Lho apa ruginya?

Mengada:
Ruginya adalah engkau menjadi tidak mengenal siapa MENGADA.

Ada:
Kalau demikian apa pula kerugianku?

Mengada:
Jika engkau tidak mengenal MENGADA maka kerugianmu adalah engkau dianggap TIDAK ADA.

Ada:
Lho..itu sesuatu yang paling aku takutkan…
Tolonglah aku wahai MENGADA, kemudian bagaimana solusinya?

Mengada:
Bukankah engkau belum mengetahui siapa diri PENGADA itu?

Ada:
Oh..maaf..wahai PENGADA..Siapakah dirimu itu?

Pengada:
Wahai sang ada. Aku tidak lain tidak bukan adalah dirimu sendiri. Aku adalah anggota dari dirimu. Jika engkau subyeknya maka belum tentu aku predikatnya, dan jika aku subyeknya maka engkau predikatnya. Keberadaanku itu menentukan dirimu, tetapi keberadanmu belum tentu menentukan diriku.

Ada:
Aku tidak paham apa maksudmu?

Pengada:
PENGADA adalah ada jika engkau mengada.

Ada:
Aku masih tidak paham?

Pengada:
Itulah buktinya. Rencanamu mengadakan pesta telah membuktikan bahwa keradaanmu itu tidak menyebabkan keberadaanku. Karena engkau merasa sudah puas dengan kedudukanmu sebagai ADA maka engkau tidak merasa perlu mengada. Karena tidak ada aktivitas mengada pada dirimu maka tidaklah juga ada pengadamu di sana.

Ada:
Memangnya kenapa ?

Pengada:
Jika tidak ada MENGADA pada dirimu maka tidak adalah PENGADA pada dirimu.

Ada:
Lalu apa ruginya?

Pengada:
Ruginya adalah engkau menjadi tidak mengenal PENGADA. Itulah mengapa engkau tidak mengundang diriku mengikuti rencana pestamu itu.

Ada:
Apa pula rugiku?

Pengada:
Jika engkau tidak mengenal PENGADA maka engkau dianggap TIDAK ADA.

Ada:
Lho..padahal itulah yang paling aku takutkan.. Wahai PENGADA..tolonglah bagaimana solusinya?

Mengada dan Pengada:
Sebetul-betul MENGADA adalah logos bagi dirimu. Jika ADA adalah tesismu maka MENGADA adalah anti-tesismu. Jika engkau telah mempunya MENGADA maka serta merta wujudmu akan berubah menjadi PENGADA. Janganlah engkau mengharap dapat menjadi PENGADA jika engkau tidak mempunyai MENGADA.

Ada:
Sebentar, jika engkau sebut tesis dan anti-tesis maka dimana sintesisnya?

Mengada dan Pengada:
Jika tesisnya adalah ADA maka anti-tesisnya adalah MENGADA. Jika anti-tesisnya adalah MENGADA maka sintetisnya adalah MENGADA.

Ada:
Kalimatmu yang terakhir sangat sulit aku pahami.

Mengada dan Pengada:
Itulah yang terjadi. Maka sebenar-benar MENGADA adalah sekaligus tesis, anti tesis dan juga sintesis. Sedang sebenar-benar PENGADA adalah anti-tesis dari MENGADA.

Ada:
Maksudnya?

Mengada dan Pengada:
Tidak akan ada PENGADA jika engkau tidak MENGADA.

Ada:
Aku masih bingung.

Mengada dan Pengada:
Itulah yang terjadi, yaitu bahwa PENGADA itu juga sekaligus tesis, anti-tesis dan juga sintesis.

Ada:
Baiklah bisakah engkau memberikan contoh konkritnya?

Mengada dan Pengada:
Misal engkau adalah MAHASISWA yang sedang menempuh perkuliahan filsafat. Maka tanda-tanganmu dalam daftar hadir merupakan bukti bahwa engkau itu ADA. Sedangkan kegiatanmu membuat komen pada elegi-elegi menunjukkan MENGADA mu. Jika engkau telah membuat komen pada elgi-elegi maka itu bukti bahwa engkau telah menjadi PENGADA, yaitu pengada akan komen-komen mu.

Ada:
Lho kalau begitu, kan sudah pantas kalau aku ingin berpesta. Karena aku sudah membuat komen.

Mengada dan Pengada:
Sebentar dulu. Sebuah komen mu itu adalah ADA bagi komen mu. Dan keberadaan sebuah komen mu belum tentu MENGADAKAN ..ADA yang lainnya. Jika demikian maka komenmu juga bukanlah suatau PENGADA terhadap yang lainnya. Maka sebuah komen mu itu bisa terancam menjadi mitos, yaitu jika engkau merasa puas hanya membuat satu komen, kemudian akan mengadakan pesta. Maka nasib dari sebuah komen yang engkau sebutkan itu persis seperti nasib dirimu yang tidak mengetahui MENGADA dan PENGADA. Jika dia kmudian juga akan mengadakan pesta, maka dia tentu akan lupa untuk mengundang semua yang ada.

Ada:
Kemudia bagaimana solusinya?

Mengada dan Pengada:
Tiadalah dirimu itu tanpa MENGADA dan PENGADA. Maka agar engkau tetap ADA tidak ada jalan lain bagi dirimu untuk selalu MENGADA. Jika engkau telah MENGADA maka PENGADA akan selalu meyertaimu.

Ada:
Apakah aku dapat menyimpulkan bahwa sebenar-benar ADA adalah MENGADA dan PENGADA sekaligus?

Mengada dan Pengada:
Cerdas pula engkau itu. Itulah harapanku bahwa murid-muridku akan selalu bisa menyimpulkan diri meraka untuk kepentingan diri mereka pula. Sangat tepatlah kesimpulanmu itu bahwa ADA itu adalah sekaligus MENGADA dan PENGADA.

Ada:
Sebentar, jangan ditutup dulu. Bukankah di awal pembicaraan kita engkau telah menuduhku sebagai ADA yang tidak mengenal MENGADA dan PENGADA? Kalau begitu ADA tidak harus MENGADA dan PENGADA?

Mengada dan Pengada:
Tidak mengenal itu tidak berarti tidak ada.

Ada:
Lho mengapa?

Mengada dan Pengada:
Itulah kelihaian dan kelembutan MITOS. Mitos itu pulalah yang selalu mengajakmu mengadakan PESTA padahal perjuanganmu belum seberapa. Maka dirimu akan sebenar-benar ada jika engkau selalu menggapai LOGOS. Itulah kesimpulanku.

37 comments:

  1. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    setiap ada belum tentu mengada.
    jika ada mengada, maka ada itu adalah pengada
    antara ada, mengada, dan pengada tidak bisa dipisahkan.
    sebaik-baik ada adalah pengada, dan karena mengada, maka akan menjadi pengada

    ReplyDelete
  2. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Terkadang memahami diri sebagai ada itu sulit. Maka tidaklah heran jika untuk menjadi mengada sekaligus pengada juga sangat sulit. Namun, kita tetap harus senantiasa mengada dan menjadi pengada. Hal ini dapat dilakukan dengan terus mencurahkan ide-ide dan berkarya di bidang keahlian kita masing-masing.

    ReplyDelete
  3. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Ada pengada dan mengada adalah satu kesatuan. Ada tidak mungkin ada tanpa pengada. Dan pengada tidak bisa mendapatkan ada tanpa mengada. Dari elegi ini dapat diambil sebuah pelajaran bahwa dalam hidup ini tidak cukup hanya diam berpangku tangan dan puas dengan keadaannya. Misalnya saja seorang guru profesional tidak cukup ditunjukkan dengan dimilikinya sertifikat dan tambahan penghasilan yang diperolehnya, tetapi harus diikuti dengan aksi dan gerakan yang nyata secara proporsional sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya menuju meningkatnya profesionalitas yang dimilikinya. Jika tidak demikian maka guru profesional itu ada tetapi belum mengada dan menjadi pengada, sehingga sebenarnya dia tidak ada. Usaha untuk menjadi lebih baik dalam segala hal harus selalu dan terus dilakukan.

    ReplyDelete
  4. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    konteks ada, mengada dan pengada selalu berhubungan satu dengan yang lainnya. misalnya saja tidak akan ada PENGADA jika engkau tidak MENGADA. maka ketiga hal ini tidak dapat dipisahkan.

    ReplyDelete
  5. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Menanggapi elegi “Mitos itu pulalah yang selalu mengajakmu mengadakan PESTA padahal perjuanganmu belum seberapa. Maka dirimu akan sebenar-benar ada jika engkau selalu menggapai LOGOS”.
    Hanya karna berlandas mitos kita akhirnya berfoya-foya atau melakukan kegiatan yang tak bermanfaat dan sia-sia. Padahal ada hal yang lebih baik dan bermanfaat yaitu belajr untukmenggapai ilmuNya.

    ReplyDelete
  6. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu'alaikum. Sulit bagi saya untuk memahami elegi mengapai mengada dan pengada ini, tapi saya akan mencoba membuat refleksi sesuai pemahaman saya setelah membaca elegi. Mohon dikoreksi apabila terdapat kesalahan. Mengada dan pengada adalah satu kesatuan yang membentuk ada. Tanpa mengada dan pengada tidak ada ‘ada’.

    ReplyDelete
  7. Fatmawati
    16709251071
    S2 PM.D 2016
    Ada, mengada, dan pengada. Yang sudah ada, belum tentu berasal dari pengada yang mengada. Maka dari itu, terkadang ada itu bersifat seperti mitos, tidak sesungguhnya. Pada dasarnya urutan kejadian adalah yang pertama mengada, ada, kemudian jadi pengada. Bahwa urutan terjadinya sesuatu adalah diawali dengan mengadakan (membuat, mengkonstruk, menyusun, meramu, dll) sesuatu tersebut. kemudian sesuatu itu ada. Akhirnya orang atau pihak yang telah berusaha untuk mengadakan sesuatu tersebut disebut dengan pengada. Jika tiba-tiba sesuatu itu ada, atau tiba-tiba seseorang atau suatu pihak menjadi pengada, tanpa melalui proses tersebut, maka semua hal tersebut hanya lah mitos belaka.

    ReplyDelete
  8. Jeanete Nenabu
    15709251004
    PPS PMAT D

    Terkadang memahami diri sebagai ada sangat sulit, tidaklah heran jika untuk menjadi mengada sekaligus pengada juga sangat sulit. Meniadakan diri sebagai sosok ada adalah salah satu jalan pintas yang lebih mudah dipilih orang karena tidak memerlukan usaha yang keras namun tetap bisa memperoleh hasil yang puas. Namun, hal tersebut tidaklah benar. Seperti yang tertulis dalam elegi, jika seseorang dianggap ada maka dia harus menjadi mengada sekaligus pengaga. Memang sulit, tapi itulah yang harus dilakukan setiap orang, tidak berpuas pada dirinya tetapi terus berjuang hingga mencapai logos.

    ReplyDelete
  9. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Diri kita sendiri adalah ada, mengada, dan pengada. Setiap orang memikirkan sesuatu, mengerjakannya, mengevaluasi, kemudian memperbaiki kekeliruan yang ada dan meningkatkannya untuk lebih baik maka ia telah membuktikan bahwa dirinya adalah ada, mengada, dan pengada. Hal itu dilakukan dengan jujur, maka jujur dalam melalukan proses meliputi Ada, Mengada, Pengada.

    ReplyDelete
  10. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Ada, mengada dan pengada pada hakikatnya adalah diri ini sendiri. Diri ini pasti memikirkan sesuatu, mengerjakan sesuatu, mengevaluasi sesuatu dan pada akhirnya akan memperbaiki suatu kesalahan di dalamnya dan meningkatkannya agar menjadi lebih baik lagi. Berdasarkan hal tersebut maka diri ini telah menunjukkan bahwa ada, mengada dan pengada.

    ReplyDelete
  11. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Dalam elegi ini, elegi menggapai mengada dan pengada. Saya mengambil pelajaran, jika kita cepat puas dengan hasil yang kita terima, saat kita sebagai manusia puas maka berhentilah pikiran dan kreatif kita, bahkan kita akan berhenti belajar. Bawasanya selama kita masih hidup dalam alam semesta ini, belajar tidak akan pernah berhenti. Sehingga jika kita berhenti belajar, maka kita sudah tidak ada di alam semesta ini.

    ReplyDelete
  12. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Adanya suatu ilmu terdapat dari prosesnya yaitu belajar. Belajar sekali tidaklah menjadi pengada dari ilmumu, jadi teruslah belajar untuk menjamin keberadaan ilmumu. Tidakalah seperti peribahasaan“Tuntutlah ilmu sampai negeri Cina”, tidaklah cukup sampai cina teruslah cari ilmu-ilmu yang di atas langit itu.

    ReplyDelete
  13. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Sebenarnya si ada sudah menjadi pengada dengan mengadakan pesta. Pengada pesta karena mengada-kan pesta. Tetapi dapat dikatakan begitu jika si ada adalah even organizer yang memang tanggung jawabnya mengada pesta :D
    Jadi mungkin dapat disimpulkan bahwa seseorang menjadi ada harus tetap mengada tanggung jawabnya, supaya menjadi pengada dan tetap dianggap ada.

    ReplyDelete
  14. Ajeng Puspitasari / 14301241005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi di atas memberikan suatu sentilan bagi diri saya pribadi.
    Setiap mahasiswa, termasuk saya, selalu berupaya untuk 'ada' dalam setiap mata kuliah. Kami pun 'mengada' dengan mengerjakan tugas-tugas kuliah. Di sisi lain, hal tersebut juga telah menunjukkan bahwa kami menjadi 'pengada'. Namun sayangnya, setelah 'mengada', rasa ini menjadi puas. Sehingga tak terdapat 'mengada' yang selanjutnya, atau dengan kata lain 'pengada' pun hilang. Jika 'mengada' dan 'pengada' hilang, maka akan menjadi tidak 'ada' lagi. Semuanya berhenti. Diriku.. tidak ada.

    ReplyDelete
  15. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Ada mengada, maka ada juga pengada. Kedua hal tersebut juga berkaitan dengan mitos. Maka dikatakan bahwa sebenar – benar hidup adalah jika dapat mencapai logos. Menurut saya ini mengandung makna bahwa terlepas dari mengada dan pengada dalam dunia ini yang paling penting adalah mencapai ilmu dan kedekatan dengan Yang Maha Kuasa. Segala hal yang manusia ciptakan hanya akan sia – sia jika tidak mencapai logos. Maka adanya mengada dan pengada seharusnya tidak menjadi hambatan bagi manusia yang ingin mencapai logos.

    ReplyDelete
  16. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Suatu ada tidak akan ada apabila sebelumnya tidak ada pengada dan mengada. Mengada itu sendiri pun tidak akan ada apabila sebelumnya tidak ada pengada. Menurut saya, sagala hal atau segala kegiatan itu akan terjadi apabila sebelumnya telah direncanakan oleh perencana. Dalam hal ini, segala hal atau kegiatan adalah ada, proses perencanaan adalah mengada, dan sang perencana itu lah sang pengada.

    ReplyDelete
  17. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Ada apabila tidak ada mengada dan pengada maka ada menjadi tak ada. Ada dikatakan ada apabila telah memenuhi mengada dan pengada. Inilah kelemahan manusia yang mudah merasa puas dengan apa yang telah dicapainya saat ini, seperti pada elegi ini "ada" melakukan pesta sementara sendiri "ada" tidak mengenal "megada" dan "pengada". Agar menjadi Ada yang ada manusia haruslah terus belajar, memperbaiki diri dan jangalah mudah puas dengan apa yang telah kita dapatkan saat ini.

    ReplyDelete
  18. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saya mendapatkan pelajaran bahwa jangan merasa cepat puas. Hanya melakukan hal kecil lalu ingin berpesat seperti pada elegi di atas. Baru selesai mendapatkan satu ilmu, sudah merasa pandai. Tentu itu tidak benar. Belajar itu sepanjang hayat. Selalu, dan terus menerus, sehingga tidak ada rasa puas dalam dirinya.

    ReplyDelete
  19. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Ada, pengada, dan mengada adalah ketiga hal yang saling berhubungan. Menurut saya ada jika memang ada, mengada jika belum ada tapi diadakan, dan pengada adalah orang yang mangadakan.

    ReplyDelete
  20. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setelah membaca elegi di atas, mengingatkan saya bahwa ketika selesai membuat satu komen, jangan berhenti. Tetapi lakukan terus menerus. Karena dapat menandakan bahwa mahasiwa mengikuti kuliah. Selain itu dengan membaca dan membuat komen di blog ini, saya mendapatkan banyak ilmu baru. Termakasih

    ReplyDelete
  21. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2
    Dari elegi di atas yang dapat saya pahami adalah status (ada) itu haruslah diiringi oleh berkarya/ melakukan sesuatu (mengada) sehingga kita pun menjadi orang sesuai peran atas status kita (pengada). Agar dapat terus mengada dan menjadi pengada, maka kita membutuhkan ilmu agar yang kita lakukan itu benar atau paling tidak, mendekati benar. Misalkan sebagai seorang guru, tugas sebenarnya bukan hanya sebagai orang yang mentransfer ilmu kepada siswanya tetapi juga bertindak sebagai fasilitator bagi siswanya. Dan tidak sampai di situ sebagai guru juga mempunyai tugas untuk melalukan penelitian, setidaknya di dalam mereka sendiri, guna memacu guru untuk melakukan suatu inovasi yang berguna dalam proses pembelajaran.

    ReplyDelete
  22. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pelajaran yang dapat saya ambil adalah bahwa mengada dan pengada merupakan bagian dari ada dan merupakan satuan keastuan yang utuh. Sebagai contoh, keberadaan seorang guru yang baik sebagai sesuatu yang ada (mengada dan pengada). Seorang guru akan terancam keberadaannya dan lenyap jika tidak mengada dan pengada.

    ReplyDelete
  23. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Kegiatan seorang guru dalam membuat penelitian menunjukkan MENGADA. Jika seorang guru telah membuat karya penelitian maka itu bukti bahwa guru tersebut telah menjadi PENGADA. Namun, kita tidak boleh puas dengan hanya memproduksi hasil yang sedikit (misalnya satu penelitian saja), kita harus terus menggali potensi sebanyak mungkin agar tetap diakui sebagai seorang guru.

    ReplyDelete
  24. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam elegi menggapai mengada dan pengada tersebut menunjukkan bahwa ADA, MENGADA, dan PENGADA merupakan satu kesatuan yang utuh, artinya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Seseorang akan disebut ada bila ia telah mampu membuat sebuah karya. Ia pun sudah mengada dan sudah menjadi pengada.

    ReplyDelete
  25. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari elegi diatas kita dapat mengambil hikmah bahwa menjadi seorang pembelajar harus memiliki rasa tidak puas, karena ilmu semakin digali akan semakin banyak yang kita belum tahu, atau dalam hal ini masih menjadi mengada. Jikalau kita dengan niat dan hati ikhlas, maka kita akan melakukan pengada, sehingga ilmu yang akan didapat menjadi ada.

    ReplyDelete
  26. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Guru harus selalu menjadi mengada dan pengada. Mengada yaitu terus mengembangkan pembelajaran inovatifnya. Pengada saat guru telah mampu mengimplementasikan hasil pengembangannya terhadap pembelajaran. Maka saat kegiatan itu dijalankan, guru akan ada, menjadi manfaat bagi para siswanya

    ReplyDelete
  27. Nurrita SAbrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Esensinya dalam melakukan sesuatu hal jangan cepat puas terhadap apa yang baru dikerjakan. Terus mencoba "mengadakan pengada". Begitupula dalam belajar, untuk mengadakan pengetahuan kita harus belajar. Belajar tidak cukkup hanya sekali, tapi berkali-kali untuk mengeksistensikan pengetahuan tersebut.

    ReplyDelete
  28. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Elegi ini sebagai pengingat untuk “mengadakan” prof.Marsigit dalam pikiran kita. Sama halnya dengan tulisan beliau mengenai mengisomorpiskan pikiran beliau dalam pemikiran kita . Hal tersebutlah merupakan proses mengadakan pengada

    ReplyDelete
  29. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Sesuatu yang ada bisa jadi memang benar-benar ada atau hanyalah mitos. kejadian yang dialami di dunia ini merupakan suatu siklus. Urutannya diawali dengan sesuatu yg mengada, artinya setiap individu mengada atau mengusahakan untuk ada. Kemudia sesuatu itu menjadi benar-benar ada. Tidak sedikit siklus terhenti disini dan diperuntukkan bagi orang-orang yang mudah puas dengan pencapaiannya. Seharusnya masih ada pengada yang membuat kita bahka orang lain untuk mengada yang baru. Begitupun seterusnya.

    ReplyDelete
  30. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Namun demikian, kita juga dapat menjadi tidak ada bilamana kita tidak membuat suatu karya, misalnya penelitian. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya usaha kita untuk mengada, akibatnya, kita tidak bisa untuk disebut pula sebagai pengada. Hal demikianlah yang sebaiknya dihindari agar kita bisa menjadi manusia yang bermanfaat.

    ReplyDelete
  31. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Hakekat dari suatu hidup adalah mengada dan seseorang itu sebagai pengada dari yang diadakan. Dalam hidup kita mengadakan sesuatu maka kita disebut sebagai pengada, sedangkan jika kita tidak mengadakan sesuatu maka kita dianggap tidak melakukan apa-apa yang berarti bahwa kita bukan lagi makhluk hidup. Dalam perjalanan panjang hidup, mengadakan yang selalu adalah mengadakan sebuah pelajaran, maka kita sebagai pengada sebuah belajar karena manusia hendaknya terus belajar dari hal disekitarnya.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  32. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Mengada dan pengada adalah satu kesatuan untuk menjadi ada, mengada dan pengada itu di dalam diri kita sendiri. Jangan mudah merasa puas atas karya ataupun pencapaian yang dihasilkan oleh diri ini, teruslah mengada serta buatlah ide-ide baru agar menjadi ada.

    ReplyDelete
  33. Elli Susilawati
    16709251073
    pmatD

    Misal engkau adalah MAHASISWA yang sedang menempuh perkuliahan filsafat. Maka tanda-tanganmu dalam daftar hadir merupakan bukti bahwa engkau itu ADA. Sedangkan kegiatanmu membuat komen pada elegi-elegi menunjukkan MENGADA mu. Jika engkau telah membuat komen pada elgi-elegi maka itu bukti bahwa engkau telah menjadi PENGADA, yaitu pengada akan komen-komen mu."
    akhirnya telah saya temukan jawabannya, terima kasih pak Prof. Marsigit
    selain menjadi pengada, banyak sekali ilmu yang saya dapat setelah membaca artikel-artikel di blog ini, Sekali lagi terima kasih Pak Prof. Marsigit

    ReplyDelete
  34. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Mengada dan Pengada merupakan bagian dari ada. Kata yang mendasari kata pengada dan mengada yaitu ada. Kemudian dari elegi di atas dapat dikatakan bahwa supaya kita terlihat ada maka kita harus mengada dan menjadi pengada terlebih dahulu. Mengada adalah kata kerja. Sehingga mengada adalah sebuah kegiatan yang kita lakukan sedangkan kitanya itu merupakan pengada itu sendiri. Pengada adalah kata subjek sehingga orang yang melakukan kegiatan mengada. Keduanya saling memiliki keterkaitan.

    ReplyDelete
  35. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Ada tidak mungkin terjadi jika tidak diperoleh dari Pengada. Karena Ada yang serta merta tercipta dengan sendirinya adalah Ada sebagai wujud ciptaan Allah SWT yang maha pencipta alam semesta dan seisinya. Segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak terlepas dari keterkaitan antara Ada dan Pengada, keduanya merupakan dua hal yang berkaitan dengan hubungan sebab akibat. Ada merupakan suatu akibat dari Pengada yang dapat pula disebut sebagai hasil dari tindakan Pengada tersebut.

    ReplyDelete
  36. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Pengada dan mengada merupakan bagian dari ada. Kata yang mendasari kata pengada dan mengada yaitu ada. Kemudian dari elegi di atas dapat dikatakan bahwa supaya kita terlihat ada maka kita harus mengada dan menjadi pengada terlebih dahulu. Mengada adalah sebuah kegiatan yang kita lakukan sedangkan kitanya itu merupakan pengada itu sendiri. Pengada adalah orang yang mengada.

    ReplyDelete
  37. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Elegi di atas menceritakan antara ada, pengada, mengada yang menunjukkan jati dirinya masing-masing. Antara ada, pengada dan mengada ketiganya saling berkaitan satu sama lain. Ada dibentuk berdasarkan pengada dan mengada. Jika tidak ada salah satunya maka ada tidak akan terwujud.

    ReplyDelete