Jul 31, 2010

Elegi Menggapai Mengada dan Pengada

Oleh Marsigit

Ada:
Wahai para ada, saatnya sudah marilah kita berpesta. Aku sengaja mengundangmu semua datang kemari untuk pesta. Kita perlu mengadakan pesta karena kita telah dinyatakan ada. Maka tak peduli siapakah kamu itu. Dirimu, karyamu, tulisanmu, pikiranku, temanmu, saudaramu, hatimu, logosmu, tesismu, anti-tesismu, sintesismu, pertanyaanmu, ikhlasmu, milikmu, persepsimu, pengamatanmu, pengetahuanmu, bahkan mitos-mitosmu. Pokoknya semua tanpa kecuali apa saja yang ada dan yang mungkin ada yang bisa engkau rasakan, engkau pikirkan atau engkau lakukan.



Para Ada:
Bagaimana dengan para MENGADA dan PENGADA apakah mereka diundang atau tidak?

Ada:
Lho apa itu MENGADA? Dan apa pula itu PENGADA? Dalam daftarku kok tidak ada.

Para Ada:
Kami melihat mereka bersama kami tadi. Caba panggilah.

Ada:
Wahai MENGADA dan PENGADA, siapakah dirimu itu?

Mengada dan Pengada:
Kami adalah dirimu sendiri, kami adalah anggota dari dirimu.

Ada:
Kenapa aku tidak mengenalmu?

Mengada dan Pengada:
Jika engkau belum kenal diri kami, itu berarti aku masih menjadi yang mungkin ada bagi dirimu.
Tetapi begitu engkau memanggilku maka engkau sudah mengenalku, berarti aku telah menjadi yang ada bagi dirimu.

Ada:
Aku menjadi penasaran jadinya. Wahai MENGADA coba terangkan lebih rinci sifat-sifat dirimu itu.

MENGADA:
Tiadalah ada dirimu tanpa mengada. Adanya dirimu itu sungguh karena mengada. Jadi dirimu yang ada disebabkan oleh mengadanya dirimu. Tetapi dirimu yang ada belum tentu menyebabkan diriku mengada. Maka mengada adalah bagian dari ada. Jika ada adalah subyek maka mengada adalah predikatnya. Jika mengada adalah subyek maka ada adalah predikatnya.

Ada:
Kapan ada itu dianggap tidak mengada?

Mengada:
Ada itu tidak mengada jika ada sudah merasa puas dengan dirinya sendiri dan tidak memerlukan mengada.

Ada:
Maksudmu?

Mengada:
Itulah sebenar-benar mitosmu yang paling besar dan paling halus di dunia ini.

Ada:
Aku masih tidak paham?

Mengada:
Undanganmu kepada para ada untuk mengadakan pesta adalah buktinya. Keinginanmu untuk mengadakan pesta tentang keberadaanmu, itu pertanda engkau telah merasa puas dengan statusmu sebagai ada.

Ada:
Lho apa salahnya?

Mengada:
Salahnya, engkau telah menganggap hidupmu telah usai. Engkau telah menganggap tidak ada lagi perjuangan bagi dirimu, sehingga engkau merasa memperoleh kemenanganmu, dan kemudian memutuskan untuk berpesta ria.

Ada:
Lho apa ruginya?

Mengada:
Ruginya adalah engkau menjadi tidak mengenal siapa MENGADA.

Ada:
Kalau demikian apa pula kerugianku?

Mengada:
Jika engkau tidak mengenal MENGADA maka kerugianmu adalah engkau dianggap TIDAK ADA.

Ada:
Lho..itu sesuatu yang paling aku takutkan…
Tolonglah aku wahai MENGADA, kemudian bagaimana solusinya?

Mengada:
Bukankah engkau belum mengetahui siapa diri PENGADA itu?

Ada:
Oh..maaf..wahai PENGADA..Siapakah dirimu itu?

Pengada:
Wahai sang ada. Aku tidak lain tidak bukan adalah dirimu sendiri. Aku adalah anggota dari dirimu. Jika engkau subyeknya maka belum tentu aku predikatnya, dan jika aku subyeknya maka engkau predikatnya. Keberadaanku itu menentukan dirimu, tetapi keberadanmu belum tentu menentukan diriku.

Ada:
Aku tidak paham apa maksudmu?

Pengada:
PENGADA adalah ada jika engkau mengada.

Ada:
Aku masih tidak paham?

Pengada:
Itulah buktinya. Rencanamu mengadakan pesta telah membuktikan bahwa keradaanmu itu tidak menyebabkan keberadaanku. Karena engkau merasa sudah puas dengan kedudukanmu sebagai ADA maka engkau tidak merasa perlu mengada. Karena tidak ada aktivitas mengada pada dirimu maka tidaklah juga ada pengadamu di sana.

Ada:
Memangnya kenapa ?

Pengada:
Jika tidak ada MENGADA pada dirimu maka tidak adalah PENGADA pada dirimu.

Ada:
Lalu apa ruginya?

Pengada:
Ruginya adalah engkau menjadi tidak mengenal PENGADA. Itulah mengapa engkau tidak mengundang diriku mengikuti rencana pestamu itu.

Ada:
Apa pula rugiku?

Pengada:
Jika engkau tidak mengenal PENGADA maka engkau dianggap TIDAK ADA.

Ada:
Lho..padahal itulah yang paling aku takutkan.. Wahai PENGADA..tolonglah bagaimana solusinya?

Mengada dan Pengada:
Sebetul-betul MENGADA adalah logos bagi dirimu. Jika ADA adalah tesismu maka MENGADA adalah anti-tesismu. Jika engkau telah mempunya MENGADA maka serta merta wujudmu akan berubah menjadi PENGADA. Janganlah engkau mengharap dapat menjadi PENGADA jika engkau tidak mempunyai MENGADA.

Ada:
Sebentar, jika engkau sebut tesis dan anti-tesis maka dimana sintesisnya?

Mengada dan Pengada:
Jika tesisnya adalah ADA maka anti-tesisnya adalah MENGADA. Jika anti-tesisnya adalah MENGADA maka sintetisnya adalah MENGADA.

Ada:
Kalimatmu yang terakhir sangat sulit aku pahami.

Mengada dan Pengada:
Itulah yang terjadi. Maka sebenar-benar MENGADA adalah sekaligus tesis, anti tesis dan juga sintesis. Sedang sebenar-benar PENGADA adalah anti-tesis dari MENGADA.

Ada:
Maksudnya?

Mengada dan Pengada:
Tidak akan ada PENGADA jika engkau tidak MENGADA.

Ada:
Aku masih bingung.

Mengada dan Pengada:
Itulah yang terjadi, yaitu bahwa PENGADA itu juga sekaligus tesis, anti-tesis dan juga sintesis.

Ada:
Baiklah bisakah engkau memberikan contoh konkritnya?

Mengada dan Pengada:
Misal engkau adalah MAHASISWA yang sedang menempuh perkuliahan filsafat. Maka tanda-tanganmu dalam daftar hadir merupakan bukti bahwa engkau itu ADA. Sedangkan kegiatanmu membuat komen pada elegi-elegi menunjukkan MENGADA mu. Jika engkau telah membuat komen pada elgi-elegi maka itu bukti bahwa engkau telah menjadi PENGADA, yaitu pengada akan komen-komen mu.

Ada:
Lho kalau begitu, kan sudah pantas kalau aku ingin berpesta. Karena aku sudah membuat komen.

Mengada dan Pengada:
Sebentar dulu. Sebuah komen mu itu adalah ADA bagi komen mu. Dan keberadaan sebuah komen mu belum tentu MENGADAKAN ..ADA yang lainnya. Jika demikian maka komenmu juga bukanlah suatau PENGADA terhadap yang lainnya. Maka sebuah komen mu itu bisa terancam menjadi mitos, yaitu jika engkau merasa puas hanya membuat satu komen, kemudian akan mengadakan pesta. Maka nasib dari sebuah komen yang engkau sebutkan itu persis seperti nasib dirimu yang tidak mengetahui MENGADA dan PENGADA. Jika dia kmudian juga akan mengadakan pesta, maka dia tentu akan lupa untuk mengundang semua yang ada.

Ada:
Kemudia bagaimana solusinya?

Mengada dan Pengada:
Tiadalah dirimu itu tanpa MENGADA dan PENGADA. Maka agar engkau tetap ADA tidak ada jalan lain bagi dirimu untuk selalu MENGADA. Jika engkau telah MENGADA maka PENGADA akan selalu meyertaimu.

Ada:
Apakah aku dapat menyimpulkan bahwa sebenar-benar ADA adalah MENGADA dan PENGADA sekaligus?

Mengada dan Pengada:
Cerdas pula engkau itu. Itulah harapanku bahwa murid-muridku akan selalu bisa menyimpulkan diri meraka untuk kepentingan diri mereka pula. Sangat tepatlah kesimpulanmu itu bahwa ADA itu adalah sekaligus MENGADA dan PENGADA.

Ada:
Sebentar, jangan ditutup dulu. Bukankah di awal pembicaraan kita engkau telah menuduhku sebagai ADA yang tidak mengenal MENGADA dan PENGADA? Kalau begitu ADA tidak harus MENGADA dan PENGADA?

Mengada dan Pengada:
Tidak mengenal itu tidak berarti tidak ada.

Ada:
Lho mengapa?

Mengada dan Pengada:
Itulah kelihaian dan kelembutan MITOS. Mitos itu pulalah yang selalu mengajakmu mengadakan PESTA padahal perjuanganmu belum seberapa. Maka dirimu akan sebenar-benar ada jika engkau selalu menggapai LOGOS. Itulah kesimpulanku.

42 comments:

  1. Elli Susilawati
    16709251073
    pmatD

    Misal engkau adalah MAHASISWA yang sedang menempuh perkuliahan filsafat. Maka tanda-tanganmu dalam daftar hadir merupakan bukti bahwa engkau itu ADA. Sedangkan kegiatanmu membuat komen pada elegi-elegi menunjukkan MENGADA mu. Jika engkau telah membuat komen pada elgi-elegi maka itu bukti bahwa engkau telah menjadi PENGADA, yaitu pengada akan komen-komen mu."
    akhirnya telah saya temukan jawabannya, terima kasih pak Prof. Marsigit
    selain menjadi pengada, banyak sekali ilmu yang saya dapat setelah membaca artikel-artikel di blog ini, Sekali lagi terima kasih Pak Prof. Marsigit

    ReplyDelete
  2. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Mengada dan Pengada merupakan bagian dari ada. Kata yang mendasari kata pengada dan mengada yaitu ada. Kemudian dari elegi di atas dapat dikatakan bahwa supaya kita terlihat ada maka kita harus mengada dan menjadi pengada terlebih dahulu. Mengada adalah kata kerja. Sehingga mengada adalah sebuah kegiatan yang kita lakukan sedangkan kitanya itu merupakan pengada itu sendiri. Pengada adalah kata subjek sehingga orang yang melakukan kegiatan mengada. Keduanya saling memiliki keterkaitan.

    ReplyDelete
  3. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Ada tidak mungkin terjadi jika tidak diperoleh dari Pengada. Karena Ada yang serta merta tercipta dengan sendirinya adalah Ada sebagai wujud ciptaan Allah SWT yang maha pencipta alam semesta dan seisinya. Segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak terlepas dari keterkaitan antara Ada dan Pengada, keduanya merupakan dua hal yang berkaitan dengan hubungan sebab akibat. Ada merupakan suatu akibat dari Pengada yang dapat pula disebut sebagai hasil dari tindakan Pengada tersebut.

    ReplyDelete
  4. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Pengada dan mengada merupakan bagian dari ada. Kata yang mendasari kata pengada dan mengada yaitu ada. Kemudian dari elegi di atas dapat dikatakan bahwa supaya kita terlihat ada maka kita harus mengada dan menjadi pengada terlebih dahulu. Mengada adalah sebuah kegiatan yang kita lakukan sedangkan kitanya itu merupakan pengada itu sendiri. Pengada adalah orang yang mengada.

    ReplyDelete
  5. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Elegi di atas menceritakan antara ada, pengada, mengada yang menunjukkan jati dirinya masing-masing. Antara ada, pengada dan mengada ketiganya saling berkaitan satu sama lain. Ada dibentuk berdasarkan pengada dan mengada. Jika tidak ada salah satunya maka ada tidak akan terwujud.

    ReplyDelete
  6. Nama : Wisniarti
    NIM : 17709251037
    Kelas : PM B (Pascasarjana)

    Elegi Menggapai Mengada dan Pengada ini yang saya cerna mempunyai makna bahwa ilmu yang kita pelajari itu bukan hanya sekedar kita tahu namun akan lebih baik kita tahu, pelajari lebih dalam, ditelaah, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena jika kita hanya mengetahui ilmu itu ada namun tidak mengetahui ilmu itu mengenai apa, mengapa, untuk apa, bagaimana-nya maka kita tidak akan memperoleh sesuatu yang nantinya mungkin saja dapat berguna untuk kehidupan secara langsung maupun tidak langsung. Akan tetapi, kita juga tidak hanya sekedar memahami ilmu yang bersangkutan, akan lebih baik lagi jika ilmu yang kita pahami dan pelajari itu diimplementasikan sehingga tidak hanya berhenti pada diri kita sendiri namun bisa bermanfaat untuk orang lain dan dunia sekitar.

    Elegi ini mengajarkan kepada kita khususnya kepada saya bahwa dalam belajar itu jangan cepat puas. Karena merasa puas itu menjadikan kita berhenti untuk belajar. Ketika belajar terhenti kita mungkin akan menjadi manusia yang berpikiran sempit tanpa mau menerima perubahan yang mungkin lebih baik. Elegi ini juga menginginkan pembaca untuk melengkapi apa yang sudah dia mulai. Saya sarankan bagi teman-teman yang lain jika sudah membaca "Elegi Menggapai Mengada dan Pengada" dilanjutkan membaca "Elegi Menggapai Lengkap" karena tanpa disadari elegi-elgi yang bapak Marsigit buat ini saling berkaitan satu dengan yang lain. Dari dua elegi itu saja, secara umumu kita mempelajari bahwa belajar itu harus maksimal sampai ke praktiknya, jangan pernah merasa puas dengan sekedar tahu saja. Jika sudah menguasai semuanya maka kita harus mampu mereduksi pengetahuan kita itu agar tahu penempatan di waktu dan kondisi yang tepat.

    ReplyDelete
  7. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Filsafat adalah sesuatu yang ada dan yang mungkin ada, memepelajarinya dengan bahasa analog maka inilah kaitannya yaitu bahasa yang merupakan bagian dari sastra. sedangkan pesan yang lain yang terdapat dari penjelasan Bapak yaitu “ADA” erat kaitannya dengan mengada dan pengada. Contohnya yaitu ketika kita hadir dalam perkuliahan maka dikatakan kita ada. Lalu jika kita terus berproses membaca dan komen maka dikatakan mengada. Dan dikatakan pengada kika kita telah dan kontinu melakukan mengada ini. Sehingga “ADA” adalah kata aktif. Didapatnya tidak hanya dengan hadir tapi juga proses yang kontinu. Semoga kita senantiasa bisa mengada dan menjadi penada.

    ReplyDelete
  8. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Mengada dan pengada merupakan bagian dari ada dan merupakan satuan keastuan yang utuh. Contohnya saja Keberadaan seorang guru yang baik sebagai sesuatu yang ada (mengada dan pengada). Seorang guru terancam keberadaannya dan lenyap jika tidak mengada dan pengada.
    Kegiatan seorang guru dalam membuat penelitian menunjukkan MENGADA. Jika seorang guru telah membuat karya penelitian maka itu bukti bahwa guru tersebut telah menjadi PENGADA. Janganlah puas dengan memproduksi hasil yang sedikit (misalnya satu penelitian saja), gali potensi sebanyak mungkin agar tetap diakui menjadi guru sehingga tidak akan ketinggalan zaman. Tak lupa untuk berdoa kepada Allah SWT.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  9. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Berbicara mengenai kata ‘ADA’ dapat kita artikan dalam beberapa kata yang tergabung dengan bebrapa kata depan. MENGADA dan PENGADA adalah dua hal yang saling berkaitan satu sama lain. Kita ADA, tidak lain dikarenakan ada karena mengada sekaligus pengada. Keduanya akan selalu menyertainya. Elegi ini memberikan pelajaran bagi saya untuk terus belajar, karena ilmu itu akan selalu ADA dan MENGADA merupakan proses untuk menggapai atau mempelajari ilmu secara berkelanjutan oleh PENGADA. Semoga kita selalu istiqomah dalam melakukan suatu hal kebaikan di dunia ini. Aamiin

    ReplyDelete
  10. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Mengada dan pengada adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan untuk membuktikan satu obyek pikir itu benar adanya. Elegi menggapai mengada dan pengada ini memberikan pelajaran pada kita untuk tidak mudah puas, karena sejatinya proses mengada dan pengada tidak pernah berhenti namun kontinue untuk melahirkan ada yang lainnya.

    ReplyDelete
  11. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    "Ada, mengada, dan pengada". Ilmu adalah tidak berhenti, tidaklah final. Apalagi kita yang hanya si pemburu ilmu. Berhenti? Merasa final? Bagaimana bisa? sedang yang kita kejar saja terus berlari. Yang meskipun kita kejar saja tidak mungkin terkejar, apalagi jika kita berhenti dan berjumawa ria.
    "Ada itu tidak mengada jika ada sudah merasa puas dengan dirinya sendiri dan tidak memerlukan mengada". Sering kali saya bangga dengan keberadaan saya yang sudah saya anggap "ada", memang "ada". Tetapi ternyata saya belumlah "mengada" apalagi menjadi seorang "pengada". Karena apa? sering kali saya tinggi hati, sesuka hati menyimpulkan, padahal yang saya miliki barulah prolognya saja. Ah kali ini saya benar-benar merefleksi diri

    ReplyDelete
  12. Metia Novianti
    17709251021
    S2 Pendidikan Matematika A 2017
    Elegi ini mengajarkan kita agar tidak cepat merasa puas dengan keadaan karena ketika kita cepat merasa puas, maka kita hanya akan berada di comfort zone, akibatnya kita tidak akan maju dan tetap berada di posisi kita saat ini. Di zaman globalisasi saat ini dimana segala sesuatu bergerak dengan sangat cepat, hal ini akan berbahaya apabila tidak segera diperbaiki karena akan mengancam eksistensi kita.

    ReplyDelete
  13. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Elegi ini menggambarkan betapa banyaknya orang yang tidak menyadari kekurangan di dalam dirinya sendiri, dan banyak orang yang cepat puas dengan keadaan yang telah diraihnya. Saya sndiri merasa tertegur dengan elegi ini, mengingat betapa seringnya saya puas hanya dengan status ADA tanpa menjadi mengada dan pengada. Memang benar bahwa ilmu filsafat merupakan refleksi terhadap diri sendiri, salah satunya melalui elegi ini.

    ReplyDelete
  14. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    ada,mengada, dan pengada mempunyai keterkaitan, Sebenar-benar ada adalah mengada dan pengada. berfilsafat adalah tentang mengadakan yang mungkin ada, dengan belajar filsafat kita terus menjadi pengada yang terus mengada yang ada dan yang mungkin ada.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  15. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Ada, mengada, dan pengada merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. pengada adalah orang yang mengadakan sesuatu yang belum ada, mengubah yang tidak ada menjadi ada. ketika saya belajar saya mengadakan yang mungkin ada menjadi ada , maka saya adalah pengada
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  16. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Sebenar-benarnya ada adalah mengada dan pengada. Sehingga ada tidak akan berarti jika tidak mengada dan pengada. Contohnya siswa masuk ke perpustakaan, artinya siswa ada di perpustakaan. Kemudian jika siswa membaca dan mereview buku maka dikatakan mengada. Dan dikatakan sebagai pengada jika siswa telah secara kontinu membuat review buku. Dari elegi ini dapat saya petik pelajaran bahwa kita harus terus dan selalu berproses dalam hidup ini untuk menggapai sebuah ilmu dan impian. Terimakasih

    ReplyDelete
  17. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Ada adalah suatu obyek pikir, maka dalam komen ini saya akan mengerucutkan ada dalam ruang dan waktu materi kuliah filsafat ilmu, sehingga saya definisikan ada sebagai ilmu. Jika saya urutkan, maka yang pertama adalah pengada melakukan mengada sehingga diperoleh ada, urutan yang kedua melakukan mengada, menjadi pengada dan diperoleh ada sehingga dapat dikatakan bahwa seseorang bisa menjadi pencari ilmu, melakukan mencari ilmu sehingga diperoleh ilmu dan seseorang mencari ilmu sehingga menjadi pencari ilmu dan diperoleh ilmu. Ilmu dalam diri sesorang itu pada hakikatnya selalu bertambah seriap waktu, maka jika seseorang berhenti mencari ilmu maka dia tidak akan kenal ada dan pengada, karena dia berhenti mencari ilmu maka sesungguhnya dia telah berhenti berproses untuk mendapat ilmu baru atau didalam elegi ini orang itu dikatakan menjadi tidak ada.

    ReplyDelete
  18. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A 2017

    Dari elegi di atas, “Ada” menjadi ada jika ia “Mengada”. Dan jika ia sudah mengada maka ia disebut “Pengada”. Jadi untuk menjadi Ada maka harus menjadi Pengada. Dalam berfilsafat pun sama halnya dengan itu. Untuk mengada segala sesuatu yang ada dan mungkin ada maka jadilah pengada, dengan cara mengutarakan segala pemikiran yang ada sehingga memperoleh status Ada. Namun ada disini tidak bisa dicapai dengan cara instan, tetapi membutuhkan proses yang panjang. Dengan selalu menggali ilmu pengetahuan sehingga menambah wawasan.

    ReplyDelete
  19. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Setiap manusia tentu ingin dianggap ada. Bahkan untuk membuktikan ada nya dirinya banyak manusia yang bertindak diluar norma-nomar. Padahal ada itu jika ia telah mengada sehingga menjadi pengada. Maka sebenar- benar manusia itu ada jika ia terus mengada sehingga terus menjadi pengada karena begitu ia berhenti mengada dan menjadi pengada maka ia telah menjadi tidak ada. Dan sebenar- benar manusia itu ada jika ia telah mengada dengan terus berfikir. Pertanyaan- pertanyaan kritis adalah bukti bahawa ia berfikir maka pertanyaan- pertanyaan kritis merupakan bukti bahwa ia telah menjadi pengada.

    ReplyDelete
  20. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    "Maka agar engkau tetap ADA tidak ada jalan lain bagi dirimu untuk selalu MENGADA. Jika engkau telah MENGADA maka PENGADA akan selalu meyertaimu". Menurut saya, inilah kesimpulan dari postingan dengan judul elegi menggapai mengada dan pengada di atas. Segala yang ada dan mungkin ada tidak akan menjadi ada jika tanpa mengada dan pengada. Contohnya, ilmu itu ada. Tetapi tidak akan ada jika kita tidak mengadakannya. Artinya, ilmu itu tak terhingga banyaknya. Tetapi jika kita tidak berusaha untuk mencari dan menggalinya maka ilmu itu tidak akan kita dapatkan sehingga tidak akan ada di dalam diri kita. Sebaliknya, jika kita berusaha untuk mencari dan menuntut ilmu, maka ilmu itu akan menjadi ada, usaha kita untuk menggapainya ialah mengada, dan kita yang menggapai ilmu tersebut pengadanya. Elegi menggapai mengada dan pengada ini berpesan kepada kita untuk berusahalah jika ingin menggapai sesuatu. Karena dengan begitu, sesuatu yang ingin kita gapai akan menjadi ada, serta mengada dan pengada akan mengiringinya.

    ReplyDelete
  21. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    Pendidikan Matematika Kelas B(S2)

    Ada, Mengada, dan Pengada merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Pengada merupakan implikasi dari mengada, sedangkan mengada adalah implikasi dari ada. Refleksi dai elegi ini adalah apabila seserang yang Ada telah melakukan Mengada, maka tidak boleh lah berpuas diri hanya menjadi Pengada satu kali. Tetapi sebagai makhluk yang diwajibkan untuk mencari ilmu, hendaklah terus menjadi pengada-pengada lainnya agar siklus ada, mengada dan pengada dapat bermanfaat selain untuk diri sendiri juga pada orang lain.

    ReplyDelete
  22. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Ada, mengada dan pengada merupakan sebuah proses perjalan untuk menggapai sebuah kepentingan. Bagaimana proses sebuah keputusan, ataupunlangkah mencari sebuah ketetapan. Kalau dalam kehidupan sehari-hari seperti perumpamaan tak ada asap jika tak ada api. Jadi apaun setiap kejadian pasti unsur ada, mengada dan pengada ikut ambil serta.Begitu pula dalam ilmu pengetahuan. kalo tidak ada, Ada, pengada dan mengada mungkin tidak akan seperti sekarang ini.

    ReplyDelete
  23. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Terimakasih atas postingannya pak.
    "ADA" akan ada jika “MENGADA”. Dan jika sudah mengada maka kita disebut “PENGADA”. Jadi untuk menjadi Ada maka harus menjadi Pengada. Untuk mengada segala sesuatu yang ada dan mungkin ada disebut pengada. Untuk mengada kan sesuatu menjadi ada kita harus berusaha. Contoh membuat baju. Baju itu adalah ADA, yang di buat oleh PENGADA yang MENGADA. Dan untuk mengadakan ada kita harus selalu menuntut ilmu agar pengada yang mengadakan menjadi ada akan dapat bermanfaat bagi diri sendiri dan juga orang lain.

    ReplyDelete
  24. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Sesuatu hal itu ada karena ada yang mengadakan, yang mengadakan itu siapa, pengada. Pengada itu siapa, subjek. Kemudian pengada itu juga ada karena ada yang mengadakan, yaitu pengada yang lain. Sehingga jika diurutkan terus menerus, yang kita dapatkan pengada dari para pengada yaitu Allah SWT. Maka, janganlah berlaku sombong karena sudah merasa menjadi pengada, tetapi kita harus sadar bahwa kita itu pengada yang juga ciptaan dari pengada yaitu Allah.

    ReplyDelete
  25. Shelly LUbis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    mungkin yang dapat saya simpulkan dari tulisan ini adalah bahwa kita tidak boleh merasa puas akan ilmu pengetahuan yang telah kita pelajari dan kita kuasai, ataupun karya-karya yang telah kita kahirkan. karena dengan merasa puas dan berhenti berkarya atau belajar, maka semua yang telah kita hasilkan dan kita pelajari hanya akan menjadi mitos

    ReplyDelete
  26. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Elegi menggapai mengada dan pengada menjelaskan hubungan antara ada, mengada dan pengada. Jika dipikirkan secara logika matematika maka hubungannya adalah mengada adalah syarat perlu bagi ada, selanjutnya pengada adalah syarat perlu bagi mengada. Elegi ini juga mengingatkan pembaca bahwa terkadang sesuatu melupakan syarat perlu bagi dirinya untuk tetap dalam keeksistensiannya. Jika masing-masing hal merasa puas dengan pencapaian dirinya tanpa mempedulikan syarat perlu bagi dirinya maka saat itulah hal ini telah mengingkari dirinya.

    ReplyDelete
  27. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Ada memiliki dimensi tersendiri dalam kehidupan manusia, menjadi ada merupakan usaha seseorang dalam merubah yang mungkin ada menjadi ada. Setelah ada, jadikan hal itu mengada yang menyebabkan adanya pengada. Pengada adalah yang berperan dalam memproduksi hasil dari mengada. Pengadaan tersebut tidak cukup dilakukan sekali, melainkan harus dilakukan secara kontinue dan tidak boleh cepat puas dalam menggapai logos. Akibat yang akan dirasakan jika cepat puas dengan pencapaian ada, mengada, dan pengada adalah terjebak oleh kelembutan mitos-mitos.

    ReplyDelete
  28. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Dengan membaca postingan Bapak memberikan saya nasihat bahwa dalam hidup ini janganlah cepat-cepat merasa puas akan sesuatu yang diraih. Karena kepuasan tersebut justru akan membawa kita dalam keadaan berhenti. Berhenti untuk mengada. Berhenti untuk berusaha dan berdoa. Sebenar-benar berhenti mengada akan mengancam ada. Jadi apabila seseorang sudah merasa puas akan apa yang diperolehnya kemudian berhenti berusaha maka sebenar-benar orang tersebut terancam tidak ada.
    Seseorang dianggap ada karena mengada, pengada ada juga karena mengada. Sehingga yang terpenting adalah selalu berusaha dan terus berusaha untuk mrnggapai mengada dan pengada akan menyertainya. Sebagai seorang mahasiswa salah satu tugas mengada yaitu terus menerus belajar dan jangan sampai berhenti karena merasa puas diri akan apa yang telah dipelajarinya karena sebenar-benar yang belum diketahui lebih banyak daripada yang sudah diketahui.

    ReplyDelete
  29. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    "PENGADA adalah ada jika engkau mengada."
    Lalu mengapa ada tidak menyadari adanya pengada dan mengada? Karena ada sudah puas dengan keadaannya, merasa tak perlu lagi mengada dan menjadi pengada.
    Terkadang manusia sudah puas dengan apa yang dicapainya, tak menganggap bahwa hidup merupakan proses yang yak berhenti. Untuk membuktikan pencapaiannya sekarang, maka di masa yang akan datang masih diperlukan proses belajar dan perwujudan hasil belajar. Janganlah cepat puas akan yang twlah engkau dapat sekarang, karena jika semua hanya tentang ruang dan waktu, maka pencapaian ini akan berlalu jika tak diperjuangkan kembali di masa yang akan datang.

    ReplyDelete
  30. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Ada tanpa mengada itu tidak ada dan ada tanpa pengada juga tidak ada. Mengada dan pengada keduanya adalah anggota dari ada. Mengada adalah bagian dari ada, jika ada adalah subyek, maka mengada adalah predikatnya. Jika mengada adalah subyek, maka ada adalah predikatnya. ada dapat ada karena mengada, tetapi ada akan ada tidak cukup dengan ada saja karena ada akan ada juga jika karena pengada. Jika ada telah memiliki pengada maka wujud dari ada itu akan berubah menjadi pengada. Pengada akan diperoleh hanya jika mempunyai mengada. Ada adalah mengada dan pengada sekaligus, jika salah satunya tidak ada maka ada pun juga tidak ada.

    ReplyDelete
  31. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Terimakasih pak atas ilmu yang diberikan melalui Elegi Menggapai Mengada dan Pengada ini. dari postingan ini saya dapat menyimpulkan kita sebagai manusia harusnya jangan cepat puas akan sesuatu yang sudah kita dapatkan. karena jika cepat puas dalam mempelajari sesuatu maka tak lain dan tak bukan datanglah musuh kita sendiri yaitu si kitos. yang dengan halus masuk kedalam pikran kita.

    ReplyDelete
  32. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Ada, Mengada dan Pengada. Tiga buah kata yang saling berkaitan dan berhubungan. Manusia berada disunia merupakan bentuk dari “ada” , yakni manusia berujud, hidup dan memliki potensi. Manusia tidak cukup ada oleh karenanya perlu mengada agar tidak dianggap mati secara pikiran, manusia mengada dengan berpikir, belajar dan melakukan hal-hala yang real dan ketika ada proses pengada manusia itulah sebagai pengada. Sekilas hubungannya sederhana, namun proses dalam mengada marupakan hal yang perlu diperhatikan agar mengadanya ada dapat memberikan manfaat. Terima kasih

    ReplyDelete
  33. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillahirrohmanirrohim, terimakasih prof. Marsigit atas postingan di atas. Benar yang dikatakan dalam dialog di atas, ketika kita merasa telah ada belum tentu kita telah mengada dan pengada. Padahal mengadalah yang membuat kita menjadi ada. Secara tersirat maksud mengada berarti membuat diri kita ini ada. Jika kita tidak mengada, berarti keberadaan kita telah dilandasi dengan rasa puas dan sombong. Yang membuat diri kita ada adalah si pengada. Sehingga jika kita tidak memahami dan mengenal mengada dan pengada, sungguh kita sebenarnya tidak ada. Terlena nya kita melupakan mengada dan pengada merupakan kesalahan yang fatal. Karena kita tidak akan ada jika tidak mengenal, memahami, menyadari, dan memaknai mengada dan pengada. Keberadaan kita terlihat ketika kita berusaha menggunakan pikiran dalam setiap mengambil langkah dan keputusan, artinya ketika ada pun kita mampu dikuasai mitos yang karena nya kita merasa sudah menggapai logos. Maka berhati-hatilah dengan mitos karena sesungguhnya dia yang mampu membuat kita melupakan mengada dan pengada dalam diri kita sendiri. Wallahualam bishowab.

    ReplyDelete
  34. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih Prof untuk ilmu yang sudah diberikan. Elegi ini dapat membuat saya merefleksikan sejauh mana sikap saya dalam proses belajar. Terkadang rasa puas cenderung membuat saya menjadi tidak mampu mengada. Saya menyadari bahwa penting untuk mengenal dan sadar akan diri sendiri. Sejatinya dalam proses menuntut ilmu itu sendiri lebih menuntut seseorang agar dapat terus mengada. Dengan mengada akan suatu hal, ini juga dapat mengarahkan saya menjadi pengada sesuatu. Ya, tidak terhanyut dalam rasa kepuasan yang sifatnya hanya sesaat itu juga jawaban akan proses yang sedang saya lalui. Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih Prof.

    ReplyDelete
  35. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Ada, pengada dan mengada. Dari ketiga kata tersebut memiliki kata dasar yang sama yaitu ada, tetapi mengada dan pengada memiliki kata imbuhan "meng" dan "peng" dimana dapat merubah sifat dari kata "ada". Ada bisa menjadi subjek ketika mengada menjadi predikat. Hal ini berarti keberadaan kita dilihat dari ketika kita melakukan atau membuat sesuatu. Selain itu, ada bisa menjadi objek saat pengada menjadi subjek. Artinya, kita dilihat dari apa yang telah kita hasilkan atau kontribusi apa yang telah kita lakukan. Maka sebenar-benarnya ada tidak terlepas dari mengada dan pengada.

    ReplyDelete
  36. Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Ada, mengada dan pengada adalah satu bagian, tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Pabila kita merasa bahwa ada tanpa mengada dan pengada, maka sesungguhnya itu tidak ada, bahwa sesungguhnya kita telah termakan mitos. Mitos adalah merasa telah puas bahwa sudah tidak ada lagi yang perlu kita cari, padahal hanya ketiadaan yang kita perolehkarena kita termakan mitos. Seperti halnya menuntut ilmu, tiadalah akhir dalam menuntut ilmu, apabilakita sudah puas dengan apa yang kita miliki saat ini maka kita sudah termakan mitos. Semoga kita seau terlindungi dari mitos, karena sebenar-benarnya mitos adalah musuh dalam berfilsafat. amiin

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  37. Dewi saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr.Wb

    Elegi yang mengandung makna tersirat yaitu jangan cepat puas dengan apa yang didapat sehingga kesombongan akan menghampiri dan akan terjebak dalam sebuah mitos. Dengan kepuasan tersebut kita akan dapat melupakan seseorang yang sebenarnya adalah bagian dari diri kita yang membuat kita menjadi ada. Seperti hal nya 'ada' yang tidak mengenal mengada dan pengada dikarenakan sudah merasa puas menjadi ada, padahal tidaklah 'ada' jika tidak ada mengada dan tidak adalah pengada jika tidak ada mengada. Maka tidaklah 'ada' jika tidak ada mengada dan pengada.

    ReplyDelete
  38. Latifah Pertamawati
    S2 PM B
    17709251026

    Bismillaah..
    Segala sesuatu yang ada tercipta dari proses mengada-kan sesuatu yang belum ada oleh pengada. Pengada diadakan oleh pengada yang lain, sebelum pengada tersebut ada. Dari hal ini, dapat dilihat bahwa segala sesuatu yang ada diperoleh dari proses mengada oleh para pengada yang apabila dirunut akan menghasilkan sebuah daftar yang sangat panjang sekali. Menurut saya, hal ini dapat diibaratkan sebagai "chain rule." Sehingga, kita hendaknya bersifat rendah hati dan tidak menyombongkan diri karena sebesar-besarnya kita, terdapat orang-orang yang lebih besar sebelum kita. Sebaik-baiknya kita, sehebat-hebatnya kita, tidak akan bisa terjadi jika tidak ada banyak "baik-baik" dan "hebat-hebat" yang lain sebelumnya.

    ReplyDelete
  39. Nurika Miftahuljannah
    17709251060
    PPs P. Mat C
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Sifat sebagian besar manusia ialah selalu merasa kurang dengan apa yang telah ia miliki. Ingin A, keinginan A sudah terpenuhi ingin B. Keinginan B sudah terpenuhi ingin C. C sudah terpenuhi ingin D, dan seterusnya. Akan tetapi tak jarang ketika sudah mendapatkan apa yang ia inginkan, lantas ia merasa puas dan enggan untuk berusaha menjadi lebih baik lagi. Disitulah titik di mana keberadaannya mulai terancam. Semakin lama ia menikmati kepuasannya, merayakan hasil yang telah dicapainya, maka ia akan lupa bahwa dengan mengada. Ia tak ingin berusaha lagi dan enggan melakukan kegiatan demi kemajuannya. Dengan demikian ia tak kan menjadi pengada karena anti-tesis dari pengada tidak dipenuhi, yaitu mengada. Tanpa pengada, ia tidak mungkin ada dan akhirnya ia TIDAK ADA.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  40. Nurika Miftahuljannah
    17709251060
    PPs P. Mat C
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Banyak jalan menuju Roma, begitulah kira-kira ungkapannya. Banyak cara pula untuk menunjukkan bahwa kita ada. Agar kita ada dan diakui keberadaanya, maka kita harus melakukan mengada, yaitu berusaha sebaik mungkin yang kita bisa agar menjadi pengada. Usaha yang dapat kita lakukan adalah usaha yang sesuai dengan keahlian kita, minat kita, dedikasi kita, passion kita. Itu akan lebih mudah membuat kita untuk melakukan mengada karena kita melakukan sesuatu yang sesuai dengan yang kita senangi sehingga tidak pula menjadikannya beban terlalu berat. Dengan demikian, pengada akan segera melekat pada diri kita dan akhirnya keberadaan kita diakui sehingga kita ADA dengan MENGADA dan PENGADA yang menjadi anti-tesisnya.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  41. Muh WIldanul Firdaus
    17709251047
    PPs P.Mat C

    Penyakit yang sering diderita oleh manusia adalah merasa cepat puas dan merasa cukup terhadap ilmu yang telah diperoleh. Sehingga membuat manusia mengalami stagnasi dan tidak berkembang padahal zaman semakin berkembang. Apabila manusia berhenti belajar maka ia perlahan-lahan akan tertinggal oleh perkembangan Zaman dan akhirnya hilang. Sejatinya seseorang yang memiliki banyak ilmu kan semakin merasa banyak ilmu di luar sana yang belum dipelajari atau diketahui.
    Oleh karena itu ada harus senantiasa mengada agar tidak lenyap ditelan zaman.

    ReplyDelete
  42. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P. Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Pada hakikatnya, manusia diciptakan tidak hanya untuk menjadi ada, tetapi juga mengada. Kalau hanya sekedar menjadi ada, manusia hanya kan berkutat pada naluri-naluri kebinaangannya seperti makan, minum dan keperluan biologis. Sedangkan mengada berarti usaha untuk memenuhi kebutuhan akal dan batiniah. Untuk menggapai situasi tersebut manusia harus melalui proses pendidikan yang panjang. Sebenarnya, mengada berarti tindakan merawat hati dan pikiran.

    ReplyDelete