Jul 31, 2010

Elegi Menggapai Mengada dan Pengada

Oleh Marsigit

Ada:
Wahai para ada, saatnya sudah marilah kita berpesta. Aku sengaja mengundangmu semua datang kemari untuk pesta. Kita perlu mengadakan pesta karena kita telah dinyatakan ada. Maka tak peduli siapakah kamu itu. Dirimu, karyamu, tulisanmu, pikiranku, temanmu, saudaramu, hatimu, logosmu, tesismu, anti-tesismu, sintesismu, pertanyaanmu, ikhlasmu, milikmu, persepsimu, pengamatanmu, pengetahuanmu, bahkan mitos-mitosmu. Pokoknya semua tanpa kecuali apa saja yang ada dan yang mungkin ada yang bisa engkau rasakan, engkau pikirkan atau engkau lakukan.



Para Ada:
Bagaimana dengan para MENGADA dan PENGADA apakah mereka diundang atau tidak?

Ada:
Lho apa itu MENGADA? Dan apa pula itu PENGADA? Dalam daftarku kok tidak ada.

Para Ada:
Kami melihat mereka bersama kami tadi. Caba panggilah.

Ada:
Wahai MENGADA dan PENGADA, siapakah dirimu itu?

Mengada dan Pengada:
Kami adalah dirimu sendiri, kami adalah anggota dari dirimu.

Ada:
Kenapa aku tidak mengenalmu?

Mengada dan Pengada:
Jika engkau belum kenal diri kami, itu berarti aku masih menjadi yang mungkin ada bagi dirimu.
Tetapi begitu engkau memanggilku maka engkau sudah mengenalku, berarti aku telah menjadi yang ada bagi dirimu.

Ada:
Aku menjadi penasaran jadinya. Wahai MENGADA coba terangkan lebih rinci sifat-sifat dirimu itu.

MENGADA:
Tiadalah ada dirimu tanpa mengada. Adanya dirimu itu sungguh karena mengada. Jadi dirimu yang ada disebabkan oleh mengadanya dirimu. Tetapi dirimu yang ada belum tentu menyebabkan diriku mengada. Maka mengada adalah bagian dari ada. Jika ada adalah subyek maka mengada adalah predikatnya. Jika mengada adalah subyek maka ada adalah predikatnya.

Ada:
Kapan ada itu dianggap tidak mengada?

Mengada:
Ada itu tidak mengada jika ada sudah merasa puas dengan dirinya sendiri dan tidak memerlukan mengada.

Ada:
Maksudmu?

Mengada:
Itulah sebenar-benar mitosmu yang paling besar dan paling halus di dunia ini.

Ada:
Aku masih tidak paham?

Mengada:
Undanganmu kepada para ada untuk mengadakan pesta adalah buktinya. Keinginanmu untuk mengadakan pesta tentang keberadaanmu, itu pertanda engkau telah merasa puas dengan statusmu sebagai ada.

Ada:
Lho apa salahnya?

Mengada:
Salahnya, engkau telah menganggap hidupmu telah usai. Engkau telah menganggap tidak ada lagi perjuangan bagi dirimu, sehingga engkau merasa memperoleh kemenanganmu, dan kemudian memutuskan untuk berpesta ria.

Ada:
Lho apa ruginya?

Mengada:
Ruginya adalah engkau menjadi tidak mengenal siapa MENGADA.

Ada:
Kalau demikian apa pula kerugianku?

Mengada:
Jika engkau tidak mengenal MENGADA maka kerugianmu adalah engkau dianggap TIDAK ADA.

Ada:
Lho..itu sesuatu yang paling aku takutkan…
Tolonglah aku wahai MENGADA, kemudian bagaimana solusinya?

Mengada:
Bukankah engkau belum mengetahui siapa diri PENGADA itu?

Ada:
Oh..maaf..wahai PENGADA..Siapakah dirimu itu?

Pengada:
Wahai sang ada. Aku tidak lain tidak bukan adalah dirimu sendiri. Aku adalah anggota dari dirimu. Jika engkau subyeknya maka belum tentu aku predikatnya, dan jika aku subyeknya maka engkau predikatnya. Keberadaanku itu menentukan dirimu, tetapi keberadanmu belum tentu menentukan diriku.

Ada:
Aku tidak paham apa maksudmu?

Pengada:
PENGADA adalah ada jika engkau mengada.

Ada:
Aku masih tidak paham?

Pengada:
Itulah buktinya. Rencanamu mengadakan pesta telah membuktikan bahwa keradaanmu itu tidak menyebabkan keberadaanku. Karena engkau merasa sudah puas dengan kedudukanmu sebagai ADA maka engkau tidak merasa perlu mengada. Karena tidak ada aktivitas mengada pada dirimu maka tidaklah juga ada pengadamu di sana.

Ada:
Memangnya kenapa ?

Pengada:
Jika tidak ada MENGADA pada dirimu maka tidak adalah PENGADA pada dirimu.

Ada:
Lalu apa ruginya?

Pengada:
Ruginya adalah engkau menjadi tidak mengenal PENGADA. Itulah mengapa engkau tidak mengundang diriku mengikuti rencana pestamu itu.

Ada:
Apa pula rugiku?

Pengada:
Jika engkau tidak mengenal PENGADA maka engkau dianggap TIDAK ADA.

Ada:
Lho..padahal itulah yang paling aku takutkan.. Wahai PENGADA..tolonglah bagaimana solusinya?

Mengada dan Pengada:
Sebetul-betul MENGADA adalah logos bagi dirimu. Jika ADA adalah tesismu maka MENGADA adalah anti-tesismu. Jika engkau telah mempunya MENGADA maka serta merta wujudmu akan berubah menjadi PENGADA. Janganlah engkau mengharap dapat menjadi PENGADA jika engkau tidak mempunyai MENGADA.

Ada:
Sebentar, jika engkau sebut tesis dan anti-tesis maka dimana sintesisnya?

Mengada dan Pengada:
Jika tesisnya adalah ADA maka anti-tesisnya adalah MENGADA. Jika anti-tesisnya adalah MENGADA maka sintetisnya adalah MENGADA.

Ada:
Kalimatmu yang terakhir sangat sulit aku pahami.

Mengada dan Pengada:
Itulah yang terjadi. Maka sebenar-benar MENGADA adalah sekaligus tesis, anti tesis dan juga sintesis. Sedang sebenar-benar PENGADA adalah anti-tesis dari MENGADA.

Ada:
Maksudnya?

Mengada dan Pengada:
Tidak akan ada PENGADA jika engkau tidak MENGADA.

Ada:
Aku masih bingung.

Mengada dan Pengada:
Itulah yang terjadi, yaitu bahwa PENGADA itu juga sekaligus tesis, anti-tesis dan juga sintesis.

Ada:
Baiklah bisakah engkau memberikan contoh konkritnya?

Mengada dan Pengada:
Misal engkau adalah MAHASISWA yang sedang menempuh perkuliahan filsafat. Maka tanda-tanganmu dalam daftar hadir merupakan bukti bahwa engkau itu ADA. Sedangkan kegiatanmu membuat komen pada elegi-elegi menunjukkan MENGADA mu. Jika engkau telah membuat komen pada elgi-elegi maka itu bukti bahwa engkau telah menjadi PENGADA, yaitu pengada akan komen-komen mu.

Ada:
Lho kalau begitu, kan sudah pantas kalau aku ingin berpesta. Karena aku sudah membuat komen.

Mengada dan Pengada:
Sebentar dulu. Sebuah komen mu itu adalah ADA bagi komen mu. Dan keberadaan sebuah komen mu belum tentu MENGADAKAN ..ADA yang lainnya. Jika demikian maka komenmu juga bukanlah suatau PENGADA terhadap yang lainnya. Maka sebuah komen mu itu bisa terancam menjadi mitos, yaitu jika engkau merasa puas hanya membuat satu komen, kemudian akan mengadakan pesta. Maka nasib dari sebuah komen yang engkau sebutkan itu persis seperti nasib dirimu yang tidak mengetahui MENGADA dan PENGADA. Jika dia kmudian juga akan mengadakan pesta, maka dia tentu akan lupa untuk mengundang semua yang ada.

Ada:
Kemudia bagaimana solusinya?

Mengada dan Pengada:
Tiadalah dirimu itu tanpa MENGADA dan PENGADA. Maka agar engkau tetap ADA tidak ada jalan lain bagi dirimu untuk selalu MENGADA. Jika engkau telah MENGADA maka PENGADA akan selalu meyertaimu.

Ada:
Apakah aku dapat menyimpulkan bahwa sebenar-benar ADA adalah MENGADA dan PENGADA sekaligus?

Mengada dan Pengada:
Cerdas pula engkau itu. Itulah harapanku bahwa murid-muridku akan selalu bisa menyimpulkan diri meraka untuk kepentingan diri mereka pula. Sangat tepatlah kesimpulanmu itu bahwa ADA itu adalah sekaligus MENGADA dan PENGADA.

Ada:
Sebentar, jangan ditutup dulu. Bukankah di awal pembicaraan kita engkau telah menuduhku sebagai ADA yang tidak mengenal MENGADA dan PENGADA? Kalau begitu ADA tidak harus MENGADA dan PENGADA?

Mengada dan Pengada:
Tidak mengenal itu tidak berarti tidak ada.

Ada:
Lho mengapa?

Mengada dan Pengada:
Itulah kelihaian dan kelembutan MITOS. Mitos itu pulalah yang selalu mengajakmu mengadakan PESTA padahal perjuanganmu belum seberapa. Maka dirimu akan sebenar-benar ada jika engkau selalu menggapai LOGOS. Itulah kesimpulanku.

26 comments:

  1. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Hmmm... Ternyata memang sedemikian lembutnya mitos itu. Saya mulai melihat wajahnya muncul setiap kali ada kepuasan, kesombongan, mandeg. Ada pun adalah mitos jika ia tidak membawa serta mengada dan pengada, sebab mereka berdua inilah yang menyebabkan ada itu bergerak, tidak mandeg.
    Trimakasih untuk elegi yang indah ini, mengenai tiga hal yang harus senantiasa berada bersama agar tidak terjadi kemandegan. Adaku akan senantiasa menjadi ada jika aku terus mengada dan menjadi pengada pula. Belajar filsafat menyadarkan kita untuk selalu menggapai logos. Berarti pula menggapai ada. Berarti pula menggapai mengada dan pengada.
    Seorang guru juga menjadi ada jika ia sekaligus mengada dan pengada. Ia akan dikenal sebagai guru jika senantiasa mendidik para siswa sehingga siswa menjadi pribadi yang mampu membangun logosnya sendiri, sehingga ia pun menjadi pengada ada yang lain. Ini mengingatkan saya juga untuk berhati-hati sebagai guru, sebab sedemikian pentingnya posisi guru itu dapat menentukan sifat ataupun memberi kesempatan murid dalam menggapai logosnya.

    ReplyDelete
  2. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Berhenti berikhtiar karena mengganggap telah mencapai keberhasilan akan memunculkan mitos yang menyebabkan kita menjadi tiada. Ketika diri merasa sudah berhasil, merasa sudah sukses, sudah merasa puas dan kemudian berhenti berikhtiar maka diri telah gagal menggapai logos. Manusia harus terus menerus berusaha menggapai logosnya dan jangan sampai termakan oleh mitosnya. Berhenti berusaha akan membuat diri tidak berkembang, mandeg,dan ajeg. Benarlah sabda Rasulullah SAW bahwa manusia yang merugi adalah yang hari ini tidak lebih baik dari hari kemarin. Manusia harus terus berusaha dan berikhtiar hingga mencapai jannahNya.

    ReplyDelete
  3. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Kami memahami bahwa segala sesuatu itu ada karena ada sesuatu yang menjadikannya ada yaitu pengada. Demikian pula dengan ilmu, kami memahami bahwa saat kami belum belajar maka belum ada ilmu yang kita miliki, setelah kami belajar maka kami memahami ilmu tersebut sehingga ilmu tersebut menjadi ada. Proses pembelajaran ini kami pahami sebagai proses mengada dan kami yang sedang belajar saat itu kami berperan sebagai pengada. Dan proses ada, mengada dan pengada ini harus terus berlanjut untuk mencari ilmu dan pengalaman lainnya sehingga mampu membangun ilmu yang dalam dan luas.

    ReplyDelete
  4. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Hidup adalah sebuah siklus antara ada mengada dan pengada. Siklus ini akan terhenti ketika kita dimakan mitos. Kita dianggap dimakan mitos bila kita berhenti, tidak bergerak. Seorang dosen dianggap ada, ketika dia senantiasa mengajar, membimbing, meneliti. maka bisa dikatakan bahwa mengajar, membimbing, meneliti adalah wujud dari mengada dosen. Ketika dosen sudah tidak mengajar, tidak lagi membimbing, tidak lagi meneliti maka hilanglah status dosennya. Maka hilanglah ada dosen itu. Oleh karena itu, hidup kita harus selalu kita gerakkan siklus hidupnya. Kita harus selalu mengada, harus selalu menjadi pengada. Tanpa pengada, tanpa mengada, kita tidak lagi dianggap ada.

    ReplyDelete
  5. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Setiapa perjuangan harus lengkap terdiri dari ada, pengada, dan mengada. Jika hanya ada maka bisa dikatakan tidak ada, harus lengkap ketiga-tiganya. Kadang kita sudah puas dengan yang ada tanpa mau mengada. Pun kita juga kadang sudah puas dan merasa bangga karena sudah pernah ada, mengada, dan pengada. Padahal dalam hidup ini ketiga komponen tersebut harus selalu dilakukan dalam rangka menggapai logos. Jika kita berhenti maka akan terancam dan terjebak mitos, karena mitos itu sungguh lembut dan melenakan.

    ReplyDelete
  6. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Inti dari segala sesuatu yang kita pelajari adalah yang ada dan yang mungkin ada. Setiap ada belum tentu mengada. Jika ada mengada, maka ada itu adalah pengada antara ada, mengada, dan pengada tidak bisa dipisahkan. Sebaik-baik ada adalah pengada, dan karena mengada, maka akan menjadi pengada. Setiap yang mungkin ada merupan sesuatu yang dalam waktunya akan menjadi ada

    ReplyDelete
  7. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Sulit bagi saya untuk memahami elegi mengapai mengada dan pengada ini, tapi saya akan mencoba membuat refleksi sesuai pemahaman saya setelah membaca elegi. Mohon dikoreksi apabila terdapat kesalahan. Mengada dan pengada adalah satu kesatuan yang membentuk ada. Tanpa mengada dan pengada tidak ada ‘ada’.

    ReplyDelete
  8. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Berfilsafat itu artinya berpikir sesuai dengan yang ada dan yang mungkin ada, karena berfilsafat itu pada hakikatnya adalah mengada. Segalanya yang ada dan yang mungkin ada itu bisa dipikirkan, dengan berpikir menandakan bahwa kita itu ada. Setiap orang pasti selalu berpikir setiap waktunya selama masih hidup, bahkan ketika tidak tahu pasti apa yang dipikirkannya saja itu sudah disebut dengan berpikir.

    ReplyDelete
  9. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Setelah mencoba memahami elegi ini, saya belajar bahwa suatu yang ada itu haruslah didahului dengan mengada yang dilakukan pengada. Maka dari itu, pengada selalu diiringi oleh berkarya atau melakukan sesuatu atau yang disebut mengada. Agar dapat terus mengada dan menjadi pengada, maka kita membutuhkan ilmu agar dalam mengada kita melakukan itu dengan benar atau paling tidakberuhasa untuk benar.

    ReplyDelete
  10. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052

    Pada elegi tersebut, dalam kegiatan mengada dan menjadi pengada, maka kita harus mengeggtahui dulu, mempunyai ilmunya dlu. Walaupun secara dzahir kita tidak dapat melihhat, bukan berarti sesautu itu tidak ada. Contohnya hamba dengan Tuhannya, secara dzhir wujudnya tidak kita kenali, bukan berarti Tuhan tidak ada. Tetapi kita yakin dalam hati tentang eksistensinya sebagai pengatur kehidupan adalah sesuatu yang ada

    ReplyDelete
  11. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052

    Rintangan dalam mengada dan menjadi pengada sangatlah berat. Mitos selalu hadir dalam hati dan pikiran, membisikkan dan mengajak kepada pesta pora, padahal tugasmu sebagai penggapai logos belum selesai. Maka akan lama ketika kita menuruti mitos dan mengabaikan usaha dalam menggapai logos, sebagai modal untuk mengada dan menjadi pengada.

    ReplyDelete
  12. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Ada pengada dan mengada adalah satu kesatuan. Ada tidak mungkin ada tanpa pengada, dan pengada tidak bisa mendapatkan ada tanpa mengada. Hal ini menurut saya mempunyai makna pula bahwa untuk mendapatkan sesuatu atau mencapai cita-cita maka kita harus mempunyai niat dan kita berusaha keras jiwa dan raga melakukan sesuatu sebagai jalan menuju cita-cita tersebut. Tidak lah mungkin cita-cita tercapai jika kita tidak mempunyai cita-cita, atau kita tidak berusaha meraihnya.
    Hal yang dapat saya petik dalam elegi ini ,Ada, mengada, dan pengada adalah diri kita sendiri. Setiap orang memikirkan sesuatu, mengerjakannya, mengevaluasi, kemudian memperbaiki kekeliruan yang ada dan meningkatkannya untuk lebih baik maka ia telah membuktikan bahwa dirinya adalah ada, mengada, dan pengada

    ReplyDelete
  13. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Manusia hidup untuk mengada. Salah satu manfaat filsafat adalah sebagai alat mencari kebenaran dari gejala fenomena yang ada, mempertahankan, menunjang dan melawan/berdiri netral terhadap pandangan filsafat lainnya. Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia. Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan. Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan.

    ReplyDelete
  14. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs PMAT C

    Sesuatu itu menjadi ada jika telah mengada sehingga menjadi pengada. Maka antara ada, mengada, dan pengada merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan. Maka sbagai seorang manusia kita akan ada jika telah mengada sehingga menjadi pengada. Kita akan ada sebagai apa adalah pilihan dari mengada kita sehingga kita menjadi pengada seperti apa. Dua orang bisa sama-sama ada, tetapi yang satu bisa ada karena telah melakukan kerusakan sehingga ia menjadi pengrusak dan yang satu ada karena ia melakukan kebaikan.

    ReplyDelete
  15. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Dalam hal ini pada intinya kita tidak boleh cepat puas akan apa yang telah kita dapatkan. Jika kita merasa cepat puas terhadap apa yang kita capai, maka kita akan berheti berkarya. Setelah kita berhenti berkarya maka kita tidak bisa lagi menjadi pengada. Jika kita tidak lagi menjadi pengada tentunya eksistensi kita tidak dapat dinyatakan bahwa kita ada. Keberadaan kita dapat dibuktikan melalui karya-karya kita, sehingga dalam hal ini berkaryalah maka engkau ada. Menurut Rene Deschartes, berpikirlah maka engkau ada. Bila orang sudah tidak mau berpikir, maka ibaratnya orang tersebut sudah mati.

    ReplyDelete
  16. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Atau dapat pula diartikan, untuk mempertahankan keberadaan dan eksistensi kita, untuk membuktikan kalau kita memang ada, maka janganlah merasa cepat berpuas diri. Kita tidak akan pernah ada tanpa terus memperbaiki diri, tanpa pergerakan, tanpa pembuktian yang terus menerus bahwa kita ada.

    ReplyDelete
  17. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi menggapai mengada dan pengada menjelaskan tentang bagaimana kita menjadikan ada dengan mengada dan dengan mengada kita menjadi pengada. Objek filsafat meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Ketika kita menjadikan dari yang mungkin ada menjadi ada, maka kita sedang mengada dan dengan mengada maka kita akan menjadi pengada. Dengan mengada kita berarti melakukan proses mengada, dan mengada merupakan tesis sekaligus antitesis.

    ReplyDelete
  18. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Yang dapat saya pahami dari elegi ini adalah baik ,Ada, mengada, dan pengada adalah diri kita sendiri. Setiap orang memikirkan sesuatu, mengerjakannya, mengevaluasi, kemudian memperbaiki kekeliruan yang ada dan meningkatkannya untuk lebih baik maka ia telah membuktikan bahwa dirinya adalah ada, mengada, dan pengada.

    ReplyDelete
  19. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Tugas manusia di dunia adalah untuk membuktikan keberadaannya. Keberadaan manusia barulah terbukti jika manusia memiliki unsur ada, mengada dan perngada.Ada berarti itu hanya sebatas fisik/material saja, oleh karena itu jika kebaradaan manusia hanya sampai ada saja maka keberadaanya belum lah terbukti, sehigga manusia memerlukan unsur mengada dan pengada.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  20. Assalamualaikum, wr.wb.
    Manusia akan memiliki unsur mengada ketika manusia menggunakan hati dan pikirannya untuk menghasilkan suatu karya. Dan dari sini maka manusia akan berubah dari hanya sekedar ada menjadi pengada. Lalu keberadaannya pun akan terbukti dengan sesungguhnya.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  21. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Hidup di dunia ini sebenarnya terdapat pengada untuk mengadakan sesuatu yang mungkin ada. Sesuatu yang tidak ada di depan kita bukan berarti hal tersebut itu tidak ada dan juga tidak berarti ada. Namun apa yang tidak ada di depan kita itu sesuatu yang mungkin ada. Sesuatu yang mungkin ada akan direalkan oleh pengada agar menjadi ada. Jadi, semua yang ada di dunia ini sesungguhnya berasal dari sesuatu yang mungkin ada kemudian di adakan oleh pengada.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  22. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Tatkala membaca secara runtut mengenai artikel ini penulis dapat pahami, bahwa seseorang menjadi ada –di sini dicontohkan sebagai sosok pengajar, maka kita harus ada unsur pendukung lainnya. Tatkala kita telah melakukan sebuah kecurangan, maka ada pada diri kita harus tersisihkan. Dengan kata lain, tindakan yang harus kita kerjakan dalam “mengada” dalam diri kita harus bersifat jujur. Jujur dalam segahal hal, tatkala ini bisa berjalan maka plagiat atau pemalsuan dalam bentuk apapun.

    ReplyDelete
  23. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Sikap jujur harus dimiliki oleh mereka yang dianggap sebagai orang pembimbing, sebab mereka merupakan sebuah contoh sederhana bagi yang dibimbing. Kita akan mengamini bahwa, guru kecing berdiri maka murid kencing lari. Tatkala guru sudah bersikap tidak baik, maka murid akan melampaui apa yang dilakukan oleh gurunya.

    ReplyDelete
  24. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    Dari elegi menggapai mengada dan pengada diatas, menurut saya pengada itu merupakan sesuatu yang memancing ada untuk menjadi ada dan menjadikan mengada menjadi ada. karena dengan adanya pengada maka mengundang yang lainnya untung ikut bergabung menjadi suatu yang ada dan yang mungkin ada.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  25. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Ada tidak mungkin ada tanpa pengada. Dan pengada tidak bisa mendapatkan ada tanpa mengada.
    Disini menurut saya mempunyai makna pula bahwa untuk mendapatkan sesuatu atau mencapai cita-cita maka kita harus mempunyai niat dan kita berusaha keras jiwa dan raga melakukan sesuatu sebagai jalan menuju cita-cita tersebut.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  26. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Ada, mengada dan pengada merupakan sebuah proses perjalan untuk menggapai sebuah kepentingan. Bagaimana proses sebuah keputusan, ataupunlangkah mencari sebuah ketetapan. Kalau dalam kehidupan sehari-hari seperti perumpamaan tak ada asap jika tak ada api. Jadi apaun setiap kejadian pasti unsur ada, mengada dan pengada ikut ambil serta.Begitu pula dalam ilmu pengetahuan. kalo tidak ada, Ada, pengada dan mengada mungkin tidak akan seperti sekarang ini.

    ReplyDelete