Jul 31, 2010

Elegi Menggapai Mengada dan Pengada

Oleh Marsigit

Ada:
Wahai para ada, saatnya sudah marilah kita berpesta. Aku sengaja mengundangmu semua datang kemari untuk pesta. Kita perlu mengadakan pesta karena kita telah dinyatakan ada. Maka tak peduli siapakah kamu itu. Dirimu, karyamu, tulisanmu, pikiranku, temanmu, saudaramu, hatimu, logosmu, tesismu, anti-tesismu, sintesismu, pertanyaanmu, ikhlasmu, milikmu, persepsimu, pengamatanmu, pengetahuanmu, bahkan mitos-mitosmu. Pokoknya semua tanpa kecuali apa saja yang ada dan yang mungkin ada yang bisa engkau rasakan, engkau pikirkan atau engkau lakukan.



Para Ada:
Bagaimana dengan para MENGADA dan PENGADA apakah mereka diundang atau tidak?

Ada:
Lho apa itu MENGADA? Dan apa pula itu PENGADA? Dalam daftarku kok tidak ada.

Para Ada:
Kami melihat mereka bersama kami tadi. Caba panggilah.

Ada:
Wahai MENGADA dan PENGADA, siapakah dirimu itu?

Mengada dan Pengada:
Kami adalah dirimu sendiri, kami adalah anggota dari dirimu.

Ada:
Kenapa aku tidak mengenalmu?

Mengada dan Pengada:
Jika engkau belum kenal diri kami, itu berarti aku masih menjadi yang mungkin ada bagi dirimu.
Tetapi begitu engkau memanggilku maka engkau sudah mengenalku, berarti aku telah menjadi yang ada bagi dirimu.

Ada:
Aku menjadi penasaran jadinya. Wahai MENGADA coba terangkan lebih rinci sifat-sifat dirimu itu.

MENGADA:
Tiadalah ada dirimu tanpa mengada. Adanya dirimu itu sungguh karena mengada. Jadi dirimu yang ada disebabkan oleh mengadanya dirimu. Tetapi dirimu yang ada belum tentu menyebabkan diriku mengada. Maka mengada adalah bagian dari ada. Jika ada adalah subyek maka mengada adalah predikatnya. Jika mengada adalah subyek maka ada adalah predikatnya.

Ada:
Kapan ada itu dianggap tidak mengada?

Mengada:
Ada itu tidak mengada jika ada sudah merasa puas dengan dirinya sendiri dan tidak memerlukan mengada.

Ada:
Maksudmu?

Mengada:
Itulah sebenar-benar mitosmu yang paling besar dan paling halus di dunia ini.

Ada:
Aku masih tidak paham?

Mengada:
Undanganmu kepada para ada untuk mengadakan pesta adalah buktinya. Keinginanmu untuk mengadakan pesta tentang keberadaanmu, itu pertanda engkau telah merasa puas dengan statusmu sebagai ada.

Ada:
Lho apa salahnya?

Mengada:
Salahnya, engkau telah menganggap hidupmu telah usai. Engkau telah menganggap tidak ada lagi perjuangan bagi dirimu, sehingga engkau merasa memperoleh kemenanganmu, dan kemudian memutuskan untuk berpesta ria.

Ada:
Lho apa ruginya?

Mengada:
Ruginya adalah engkau menjadi tidak mengenal siapa MENGADA.

Ada:
Kalau demikian apa pula kerugianku?

Mengada:
Jika engkau tidak mengenal MENGADA maka kerugianmu adalah engkau dianggap TIDAK ADA.

Ada:
Lho..itu sesuatu yang paling aku takutkan…
Tolonglah aku wahai MENGADA, kemudian bagaimana solusinya?

Mengada:
Bukankah engkau belum mengetahui siapa diri PENGADA itu?

Ada:
Oh..maaf..wahai PENGADA..Siapakah dirimu itu?

Pengada:
Wahai sang ada. Aku tidak lain tidak bukan adalah dirimu sendiri. Aku adalah anggota dari dirimu. Jika engkau subyeknya maka belum tentu aku predikatnya, dan jika aku subyeknya maka engkau predikatnya. Keberadaanku itu menentukan dirimu, tetapi keberadanmu belum tentu menentukan diriku.

Ada:
Aku tidak paham apa maksudmu?

Pengada:
PENGADA adalah ada jika engkau mengada.

Ada:
Aku masih tidak paham?

Pengada:
Itulah buktinya. Rencanamu mengadakan pesta telah membuktikan bahwa keradaanmu itu tidak menyebabkan keberadaanku. Karena engkau merasa sudah puas dengan kedudukanmu sebagai ADA maka engkau tidak merasa perlu mengada. Karena tidak ada aktivitas mengada pada dirimu maka tidaklah juga ada pengadamu di sana.

Ada:
Memangnya kenapa ?

Pengada:
Jika tidak ada MENGADA pada dirimu maka tidak adalah PENGADA pada dirimu.

Ada:
Lalu apa ruginya?

Pengada:
Ruginya adalah engkau menjadi tidak mengenal PENGADA. Itulah mengapa engkau tidak mengundang diriku mengikuti rencana pestamu itu.

Ada:
Apa pula rugiku?

Pengada:
Jika engkau tidak mengenal PENGADA maka engkau dianggap TIDAK ADA.

Ada:
Lho..padahal itulah yang paling aku takutkan.. Wahai PENGADA..tolonglah bagaimana solusinya?

Mengada dan Pengada:
Sebetul-betul MENGADA adalah logos bagi dirimu. Jika ADA adalah tesismu maka MENGADA adalah anti-tesismu. Jika engkau telah mempunya MENGADA maka serta merta wujudmu akan berubah menjadi PENGADA. Janganlah engkau mengharap dapat menjadi PENGADA jika engkau tidak mempunyai MENGADA.

Ada:
Sebentar, jika engkau sebut tesis dan anti-tesis maka dimana sintesisnya?

Mengada dan Pengada:
Jika tesisnya adalah ADA maka anti-tesisnya adalah MENGADA. Jika anti-tesisnya adalah MENGADA maka sintetisnya adalah MENGADA.

Ada:
Kalimatmu yang terakhir sangat sulit aku pahami.

Mengada dan Pengada:
Itulah yang terjadi. Maka sebenar-benar MENGADA adalah sekaligus tesis, anti tesis dan juga sintesis. Sedang sebenar-benar PENGADA adalah anti-tesis dari MENGADA.

Ada:
Maksudnya?

Mengada dan Pengada:
Tidak akan ada PENGADA jika engkau tidak MENGADA.

Ada:
Aku masih bingung.

Mengada dan Pengada:
Itulah yang terjadi, yaitu bahwa PENGADA itu juga sekaligus tesis, anti-tesis dan juga sintesis.

Ada:
Baiklah bisakah engkau memberikan contoh konkritnya?

Mengada dan Pengada:
Misal engkau adalah MAHASISWA yang sedang menempuh perkuliahan filsafat. Maka tanda-tanganmu dalam daftar hadir merupakan bukti bahwa engkau itu ADA. Sedangkan kegiatanmu membuat komen pada elegi-elegi menunjukkan MENGADA mu. Jika engkau telah membuat komen pada elgi-elegi maka itu bukti bahwa engkau telah menjadi PENGADA, yaitu pengada akan komen-komen mu.

Ada:
Lho kalau begitu, kan sudah pantas kalau aku ingin berpesta. Karena aku sudah membuat komen.

Mengada dan Pengada:
Sebentar dulu. Sebuah komen mu itu adalah ADA bagi komen mu. Dan keberadaan sebuah komen mu belum tentu MENGADAKAN ..ADA yang lainnya. Jika demikian maka komenmu juga bukanlah suatau PENGADA terhadap yang lainnya. Maka sebuah komen mu itu bisa terancam menjadi mitos, yaitu jika engkau merasa puas hanya membuat satu komen, kemudian akan mengadakan pesta. Maka nasib dari sebuah komen yang engkau sebutkan itu persis seperti nasib dirimu yang tidak mengetahui MENGADA dan PENGADA. Jika dia kmudian juga akan mengadakan pesta, maka dia tentu akan lupa untuk mengundang semua yang ada.

Ada:
Kemudia bagaimana solusinya?

Mengada dan Pengada:
Tiadalah dirimu itu tanpa MENGADA dan PENGADA. Maka agar engkau tetap ADA tidak ada jalan lain bagi dirimu untuk selalu MENGADA. Jika engkau telah MENGADA maka PENGADA akan selalu meyertaimu.

Ada:
Apakah aku dapat menyimpulkan bahwa sebenar-benar ADA adalah MENGADA dan PENGADA sekaligus?

Mengada dan Pengada:
Cerdas pula engkau itu. Itulah harapanku bahwa murid-muridku akan selalu bisa menyimpulkan diri meraka untuk kepentingan diri mereka pula. Sangat tepatlah kesimpulanmu itu bahwa ADA itu adalah sekaligus MENGADA dan PENGADA.

Ada:
Sebentar, jangan ditutup dulu. Bukankah di awal pembicaraan kita engkau telah menuduhku sebagai ADA yang tidak mengenal MENGADA dan PENGADA? Kalau begitu ADA tidak harus MENGADA dan PENGADA?

Mengada dan Pengada:
Tidak mengenal itu tidak berarti tidak ada.

Ada:
Lho mengapa?

Mengada dan Pengada:
Itulah kelihaian dan kelembutan MITOS. Mitos itu pulalah yang selalu mengajakmu mengadakan PESTA padahal perjuanganmu belum seberapa. Maka dirimu akan sebenar-benar ada jika engkau selalu menggapai LOGOS. Itulah kesimpulanku.

31 comments:

  1. Aizza Zakkiyatul Fathin
    18709251014
    Pps Pendidikan Matematika A
    Di dunia ini hanya ada dan yang mungkin ada. Keberadaan ada ditentukan bagaimana ada itu mengada kemudian menjadi pengada. Ada, mengada dan pengada harus dilakukan oleh manusia sepanjang hidupnya. Karena sebenar-benar manusia hidup adalah mengada untuk menjadi pengada dan diakui keberadaanya. Jika tidak mengada maka manusia sudah merasa sombong dengan apa yang ia peroleh. Maka ikhtiar dan doa adalah bentuk dari mengada untuk menjadi pengada dan diakui keberadaannya.

    ReplyDelete
  2. Dini Arrum Putri
    18709251003
    S2 P Math A 2018

    Dalam elegi ini dijelaskan mengenai sesuatu yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini. Sesuatu tersebut dikatakan ada karena ada pengada. Dan di dalam kehidupan, kita pasti akan mengalami yang namanya ada, pengada, dan mengada. Tinggal bagaimana manusia belajar untuk menyikapi hal-hal yang negatif dan positif yang akan terjadi di dalam kehidupannya.

    ReplyDelete
  3. SUHERMI
    18709251007
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA A

    Sebenar-benarnya ada jika dapat mengenali mengada dan pengada. Masih sulit bagi saya pribadi untuk selalu menjabarkan setiap hal yang ada pada diri saya untuk mencari mengada dan pengada. Itulah keterbatasan fikiran saya yang masih menjadi bentuk ketidaklengkapan saya dalam berfikir. Semoga kedepannya saya dapat memikirkan yang ada pada diri saya dan mengenali pengada dan mengada yang menyertainya.

    ReplyDelete
  4. Herlingga Putuwita Nanmumpuni
    18709251033
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Kita akan dikatakan sebenar-benarnya ada ketika selalu mengapai logos, kita tidak boleh hanya berhenti menjadi mitos. Membaca dan membuat komen-komen pada elegi-elegi yang telah diposting oleh Pak Marsigit adalah sebuah bentuk usaha untuk bisa terus menggapai logos. Banyak membaca bacaan-bacaan dan ilmu-ilmu yang bermanfaat sangatlah penting gunanya untuk pengetahuan kita, dimana pengetahuan tersebut dapat diambil maknanya dan nilainya untuk diterapkan dan diaplikasikan dalam berbagai permasalahan hidup yang dialami.

    ReplyDelete
  5. Ameliasari Tauresia Kesuma
    18701261015
    S3 Penelitian dan Evaluasi Pendidikan

    Ada mengada dan pengada - Ada jika ketemu dengan Ada yang lain maka dia menjadi Mengada, Mengada jika bertemu dengan Ada meka menjadi Pengada

    Ada atau being merupakan dasar pemikiran refleksi para filsuf dari jaman Aristoteles. Saat membaca Novel Filsafat "Dunia Sophie" oleh Jostein Gaarder - pertanyaan pertama yang diajukan adalah Siapakah kamu? Darimana datangnya dunia? yang membuat Sophie berpikir darimana dia berasal - bagaimana dia menjadi Ada.

    Dasar Filsafat adalah berpikir, olah pikir yang timbul dari pertanyaan pikir. Demikian pula dengan Ada - banyak Ada yang harus dipikirkan dan direfleksikan bagaimana bisa kita Ada. Namun ujungnya tetap harus berbatas IMAN dan Keyakinan.

    ReplyDelete
  6. Totok Victor Didik Saputro
    18709251002
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Selamat malam Prof.
    Mengada dan pengada adalah dua hal yang saling berkaitan. Mengada muncul karena apa yang ada dan mungkin ada dalam pikiran. Apa yang ada dan mungkin ada dalam pikiran dapat menyebabkan munculnya pengada. Sebenar-benar mengada dan pengada muncul karena adanya mitos. Ini bukanlh dirimu yang sebenar-benarnya. Oleh sebab itu, munculkanlah logos sehingga hal ini menunjukkan dirimu yang sebenarnya. Terima kasih.

    ReplyDelete
  7. Endah Kusrini
    18709251015
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Dari elegi ini saya belajar bahwa agar tetap ada, kita harus terus mengada, sehingga kita bisa menjadi pengada. Artinya untuk tetap hidup, manusia tidak boleh berhenti pada satu pencapaian. Manusia harus terus bergerak dan berproses. Sekalinya manusia merasa puas, artinya manusia telah terancam mitos.

    ReplyDelete
  8. Bayuk Nusantara Kr.J.T
    18701261006

    Manusia memiliki potensi menjadi pengada melalui pemikiran-pemikirannya untuk mengada sesuatu yang ada. Elegi ini mengajak kita untuk kembali merenungkan apakah kita ini sudah merasa cukup hanya menjadi simbolik dari ada saja tanpa berusaha menjadi pengada yang bisa mengada yang ada bukan untuk ada nya kita sendiri tapi bisa menjadi ada bagi yang lainnya. Mari renungkan bersama agar Ilmu dipelajari mejadi ilmu nyata dalam kita mengenal sesuatu yang ada dan mungkin ada dalam diri kita ini.

    ReplyDelete
  9. Yoga Prasetya
    18709251011
    S2 Pendidikan Matematika UNY 2018 A
    Olah pikir filsafat yang memikirkan tentang yang ada dan yang mungkin ada. Mengada dan pengada merupakan sesuatu yang harus kita jalani secara terus menerus. Menjadi ada, mengada dan pengada merupakan suatu hal yang berkesinambungan. Kita ada untuk mengadakan hal yang belum tentu ada. Begitu juga dengan Pengada, untuk mengadakan hal yang belum tentu ada. Manusia ada karena manusia bisa mengada dan menjadi pengada.

    ReplyDelete
  10. Erma Zelfiana Surni
    18709251009
    S2. P.Matematika A 2018

    Assalamualaikum Wr. Wb
    Ada-mengada-pengada merupakan fase siklik yang terus berputar. adanya MENGADA menyebabkan ADA menjadi PENGADA, Juga akan membuat PENGADA itu menjadi ADA. Fase siklik itu akan terhenti ketika tidak ada lagi proses MENGADA, proses MENGADA yang terhenti itulah stagnansi pada ADA, dan stagnansi pada ADA itulah MITOS. Terjebak pada beberapa kejelasan itu adalah ADA yang tidak MENGADA lagi. Dalam proses belajar saya menganggap ADA-MENGADA-PENGADA itu sebagai Input-proses-output. Input itu adalah kita yang masih belum tahu sesuatu kemudian berproses dengan terus belajar untuk mendapatkan pengetahuan baru. Kita yang memiliki pengetahuan baru kemudian harus kembali berproses untuk mendapatkan pengetahuan baru lainnya, begitu seterusnya.

    ReplyDelete
  11. Elsa Apriska
    18709251005
    S2 PM A 2018

    Objek filsafat yang sudah kita ketahui yaitu yang ada dan yang mungkin ada. Dari elegi di atas saya menangkap bahwa dalam hidup ini agar selalu ada kita harus selalu mengada dan bisa juga menjadi pengada. Hal lain yang saya peroleh dari elegi ini adalah teruslah mengada atau jangan cepat puas atas apa yang sudah kita peroleh.

    ReplyDelete
  12. Yuntaman Nahari
    18709251021
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Sesuatu akan menjadi ada apabila dia mengada dan menjadi pengada. Dalam unsur ada, terkandung unsur mengada dan pengada. Sehingga apabila tidak ada unsur mengada dan pengada, maka sesuatu itu tidak ada/belum ada. Jadi dalam hidup kita harus mampu membuat dari yang mungkin ada menjadi ada. Apabila seseorang tidak mengada maka dia akan menjadi mitos. Mitos yang selalu mengajak berpesta padahal perjuangan belum seberapa. Maka dirimu akan menjadi sebenar-benar ada jika engkau selalu menggapai logos.

    ReplyDelete
  13. Dita Aldila Krisma
    18709251012
    PPs Pendidikan Matematika A 2018

    Ada, Mengada, Pengada. Ada jika sudah ditimpa dengan ada yang lain maka menjadi mengada, Mengada jida sudah menghasilkan ada yang lain menjadi pengada. Sesuatu yang sebelumnya merupakan yang mungkin ada kemudian menjadi ada dipikiran. Proses mengada dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya bertanya dan mengajukan pertanyaan. Sedangkan pengada merupakan yang menjadikan sesuatu itu ada. Yang mampu memahami dan menanyakan ada adalah manusia itu sendiri, karena manusia memiliki pikiran dan hati untuk mengolah ada.

    ReplyDelete
  14. Janu Arlinwibowo
    18701261012
    PEP 2018

    Keberadaan seseorang ditandakan dengan dirinya telah menjadi pengada yang menghasilkan proses mengada. Padahal dalam segala situasi kita harus ada, oleh karena itu hukumnya mutlak bahwa kita harus selalu mengada dan menjadi pengada. Cepat puas adalah ancaman besar bagi keberadaanmu, mudah menyerah juga ancaman besar keberadaanmu, jika telah terinfeksi ancaman tersebut makan keberadaanmu terancam pula.

    ReplyDelete
  15. Fany Isti Bigo
    18709251020
    PPs UNY PM A 2018

    Sebagai manusia kita harus memiliki sifat yang ada, mengada dan pengada. Kita ADA jika terdapat bukti atau fakta yang terjadi yang menunjukkan bahwa kita itu benar-benar ada. Kita MENGADA jika kita telah melakukan sesuatu kegiatan. jika kita telah melakukan kegiatan MENGADA maka otomatis kita juga sebagai PENGADA.
    "Tiadalah dirimu itu tanpa MENGADA dan PENGADA. Maka agar engkau tetap ADA tidak ada jalan lain bagi dirimu untuk selalu MENGADA. Jika engkau telah MENGADA maka PENGADA akan selalu meyertaimu."

    ReplyDelete
  16. Rindang Maaris Aadzaar
    18709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2018 (PM B 2018)

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Mengada dari ada menjadi pengada. Semua yang adalah pengada. Semua yang ada adalah mengada. Semua yang ada adalah ada. Aturan hirarkisnya adalah ada, mengada, kemudian baru pengada. Pengada itu hasil. Semuanya bisa dibolak-balik karena ingin membuat bingung pikiran untuk pembelajaran. Jika sudah pasti justru sulit belajar filsafat, maka belajar filsafat adalah dekontruksi (membongkar kejelasan dalam pikiran).
    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    ReplyDelete
  17. Rindang Maaris Aadzaar
    18709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2018 (PM B 2018)

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Fungsi filsafat adalah mengadakan dari yang mungkin ada menjadi ada dalam pikiran masing-masing. Jika tidak aktif membaca dan tidak mendapat pertanyaan lalu apa? Karena objek dalam filsafat itu adalah semuanya, dari yang ada dan yang mungkin ada. Sehingga ada itu berada dalam pikiran dan mengada adalah membawa dalam pikiran. Dari mengada bisa menjadi ada
    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    ReplyDelete
  18. Eka Puspita Sari
    18709251035
    S2 PM B 2018

    Mengada merupakan sebuah bentuk usaha agar sesuatu tetap ada, dan jika iya telah melakukan mengada maka jadilah iya sebagai pengada yang telah melakukan ada. Jadi, adanya ada karena usaha dari mengada yang kemudian ada tersebut menjadi pengada. Dalam elegi tersebut, dikatakan bahwa ada melakukan sebuah pesta karena menganggap bahwa dirinya telah ada. Padahal pada kenyataanya adalah sebuah ada akan tetap menjadi ada jika ia senantia melakukan mengada. Gambaran ada yang melakukan pesta merupakan gambaran manusia yang cepat puas atas apa yang telah ia capai, seperti misalnya cepat-cepat bersantai setelah mengadakan 1 komen, padahal masih ada 599 komen lain yang dituntut untuk selalu diadakan melalui proses mengada. Istirahat memang perlu, namun janganlah merasa cepat puasa dengan apa yang baru kita capai.

    ReplyDelete
  19. Agnes Teresa Panjaitan
    S2 Pendidikan Matematika A 2018
    18709251013

    Mengada dan pengada adalah dua hal yang pada umumnya dilakukan pada setiap yang ada, mengada adalah proses dalam pengada dan pengada adalah bukti ada. Seperti contoh yang ada dalam tulisan ini, seorang mahasiswa dalam perkuliahan filsafat dalam menghadari perkuliahan dapat dikatakan ada dan dalam menuju pengada mahasiswa melakukan serangkaian aktivitas seperti melakukan tugas dan memberi komentar terhadap blog yang merupakan pendukung perkuliahan filsafat dan ketika tugas sudah dilakukan dan dikumpulkan maka mahasiswa telah menjadi pengada. Pengada dan mengada adalah proses yang merupakan pilihan bagi yang ada. Apakah hanya menjadi ada atau menjadi ada dan menjadi pengada.

    ReplyDelete
  20. Luthfannisa Afif Nabila
    18709251031
    S2 Pendidikan Matematika B 2018
    Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh
    Janganlah pernah merasa puas atas pencapaian yang kau dapatkan. Dalam Hadits Riwayat Bukhari, Rasulullah SAW bersabda “Seandainya manusia diberi dua lembah berisi harta, tentu ia masih menginginkan lembah yang ketiga. Yang bisa memenuhi dalam perut manusia hanyalah tanah. Allah tentu akan menerima taubat bagi siapa saja yang ingin bertaubat.” Teruskanlah meningkatkan kualitas hidupmu dengan cara-cara yang baik. Tiadalah ada jika tanpa pengada dan mengada. Selalulah berpikir kritis untuk menggapai logosmu dan menghancurkan mitosmu. Terima kasih.
    Wassalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  21. Amalia Nur Rachman
    18709251042
    S2 Pendidikan Matematika B UNY 2018

    Ketika sudah menyelesaikan suatu hal maka naluri manusia akan berhenti setelah segalanya dianggap selesai. Padahal ketika satu urusan sudah selesai maka akan ada urusan lain yang harus kita kerjakan. Jadi kesimpulannya jangan mudah puas atas apa yang telah kita lakukan, karena apa yang sudah kita lakukan tersebut belum tentu cukup sampai disitu, bahkan masih jauh dari kata selesai jika dibandingkan dengan yang lain. Istilah selesai memang bersifat relatif bergantung pada tiap individu masing masing. Sehingga selalu bersyukur dan merefleksi diri dalam setiap pencapaian dan selalu berfikir untuk terus maju serta tidak mudah terlena oleh kesenangan sesaat dan menunda sebuah pekerjaan.

    ReplyDelete
  22. Kartianom
    18701261001
    S3 PEP 2018

    Agar tetap ADA maka dengan cara MENGADA. Dengan MENGADA maka PENGADA akan selalu menyertai. Sehingga ADA itu adalah MENGADA sekaligus PENGADA. Berlaku juga untuk manusia, diaakui ada jika ia mengada dan menjadi pengada. Dalam hati, pikiran, maupun kenyataan. Mengada dan menjadi pengada salah satunya dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan yang kita miliki.

    ReplyDelete
  23. Diana Prastiwi
    18709251004
    S2 P. Mat A 2018

    Objek flsafat meliputi yang ada dan yang mungkin ada di pikiran. Jika diekstensikan menjadi yang ada dan yang mungkin ada di hatimu. Cara mengetahui yang ada di pikiran dan hati beda domain. Persoalan filsafat itu hanya ada dua, yaitu memahami apa yang ada di luar pikiran dan menjelaskan apa yang ada di dalam pikiran. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang mampu menjelaskan pikirannya. Maka sebenar-benarnya kita tidak ada satu orangpun di dunia yang mampu menjelaskan pikirannya sendiri, yang ada hanya berusaha serta memahami yang di luar pikiran. Bermilyar pangkat bermilyar yang belum anda ketahui itu yang belum anda pikirkan, banyak sekali. Maka sebenar-benar manusia adalah yang mengerti sedikit dan yang mengerti sedikit tidak akan pernah mengerti. Lantas mengapa manusia sombong? Kalau berusaha mengerti banyak hal itu boleh. Tapi kalau mengklaim sudah mengerti banyak hal itu yang menjadi bencana. Mengaku sudah mengerti padahal belum mengerti. Jadi, kita tidak mempunyaia alasan untuk sombong.

    ReplyDelete
  24. Wilis Putri Hapsari
    19701251017
    S2 PEP A 2019

    Cogito ergo sum. Aku berpikir maka aku ada, sesungguhnya tidak hanya sampai disitu, karena mengada dan pengada perlu diakui dan ditunaikan hak nya. Keberadaan komentar ini adalah tesis, sedang mengadakan komentar ini adalah antitesisnya. Apabila mengadakan komentar ini adalah tesis, maka pengadaan komentar ini adalah antitesisnya. Ketika saya sedang membaca tulisan pada elegi ini, maka keberadaan tulisan ini adalah mungkin ada. Tetapi tersebutlah sudah dalam pikiran apabila komentar ini akan diadakan, maka dia ada. Maka, ketidak beradaan komentar ini adalah mitos.

    ReplyDelete
  25. Tiara Wahyu Anggraini
    19709251065
    S2 Pendidikan Matematika D 2019

    Keberadaan ada ditentukan bagaimana ada itu mengada kemudian menjadi pengada. Sebenar-benarnya ada ketika selalu mengapai logos, dan tidak hanya berhenti menjadi mitos. Salah satu cara agar kita dapat menggapai logos yaitu dengan membaca artikel-artikel bapak sehingga nantinya kita akan memperoleh ilmu-ilmu yang bermanfaat yang mana memiliki makna dan nilai untuk di terapkan dan diaplikasikan di kehidupan sehari-hari ketika mengalami permasalahan.

    ReplyDelete
  26. Aulia Nur Arivina
    18709251051
    S2 Pendidikan Matematika C 2018

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Ada, mengada, dan pengada mempunyai keterkaitan satu sama lain. Jika ada tidak ada maka tidak akan mengada dan pengada. Jika tidak ada mengada makan tidak ada pengada. Dan jika tidak ada pengada tidak ada mengada. Pengada dan mengada adalah bagian dari ada. Jika ada adalah subyek maka mengada adalah predikatnya. Jika mengada adalah subyek maka ada adalah predikatnya. Mengada adalah sebuah proses, sedangkan pengada adalah hasil. Jika kita tidak berproses maka tidak ada hasilnya. Jika tidak ada hasilnya berarti kita tidak berproses.

    ReplyDelete
  27. Zuari Anzar
    19701251006
    S2 PEP A 2019

    ADA, MENGADA dan PENGADA mempunyai keterkaitan satu sama lain. ADA nyata ada jika dia MENGADA dan akibatnya dia menjadi PENGADA apa yang telah dilakukan dengan MENGADA. Hal tersebut memberikan gambaran ADAnya manusia itu dikatakan MENGADA jika menjadi PENGADA. Jika seseorang sudah puas dengan keberADAannya maka dia tidak akan lagi melakukan usaha MENGADA untuk menyatakan keberadaanya, maka dia telah melupakan mengapa dia ADA. Sehingga segala yang ada dan mungkin ada juga menjadi saksi bagi keberADAannya, MENGADAnya dan PENGADAnya.

    ReplyDelete
  28. Hajra Yansa
    19701251012
    S2 PEP A 2019

    Dirimu, karyamu, tulisanmu, pikiranku, temanmu, saudaramu, hatimu, logosmu, tesismu, anti-tesismu, sintesismu, pertanyaanmu, ikhlasmu, milikmu, persepsimu, pengamatanmu, pengetahuanmu, bahkan mitos-mitosmu adalah bentuk eksistensi. Saat manusia merasa puas berarti manusia sebenarnya tidak ada karena tidak ada lagi ang ingin dilakukan untuk menunjukan keberadaan. Sedangkan jika manusia terus bergerak dan berkarya berarti manusia ingin tetap menunjukan eksistensinya pada manusia laiinnya

    ReplyDelete
  29. Puspitarani
    19709251062
    S2 Pendidikan Matematika D 2019

    Terima kasih Bapak atas Elegi Menggapai Mengada dan Pengada yang telah Bapak share kepada kami. Setiap diri seseorang bisa menjadi mengada dan pangada. Elegi ini mengajarkan saya untuk tidak berpuas terlebih dahulu dengan semua yang telah kita raih saat ini, karena kita masih mempunyai banyak keinginan untuk lebih baik lagi kedepannya. Masa depan kita masih panjang, apa yang telah kita capai pada hari ini akan memberikan kepuasan tersendiri untuk kita, namun ingatlah masih ada hari esok yang dengan berjalannya waktu kita akan menemukan keinginan-keinginan baru kita, dan keinginan itu ingin kita capai juga. Namun yang perlu ditekankan disini adalah manusia tidak memiliki rasa puas atas apa yang telah dimilikinya, namun manusia harus mensyukuri apa yang telah Allah kasih padanya sedetikpun. Bersyukur karena kita masih diberikan nafas hingga detik ini, bersyukur masih diberikan kesehatan hingga detik ini, dan bersyukur untuk semuanya.

    ReplyDelete
  30. Ardhya Handayani
    19701251015
    S2 PEP 2019 A

    Hal yang dapat saya ambil dari elegi ini adalah bagaimana pentingya mengada dan pengada dalam kehidupan dan jalanya pikiran. Sering dijelaskan kepada kami mengenai yang ada dan yang mungkin ada. Ada disebabkan dari mengada dan pengada, ketika tidak ada lagi mengada dan pengada dalam pikiran akal manusia maka mati pikiranya. Hal ini karena tidak ada lagi proses mengolah hingga menjadi ada dalam pikiranya. Konsep ada juga bias dikatakan sebagai kepuasan dan merasa diri adalah yang terhebat (Kesombongan) disinilah dimungkinkan berhentinya mengada dan pengada, karena seseorang cenderung berhenti untuk belajar dan menambah wawasanya.

    ReplyDelete
  31. Dhamar Widya Safitri
    19701251009
    S2 PEP A 2019

    Assalamualaikum.
    Jika engkau merasa puas dengan statusmu sebagai ada, maka hidupmu telah usai. Tidak ada lagi perjuangan dan usaha untuk memperoleh kemenangan. Dan jika seperti itu, maka engkau dianggap tidak ada.
    Terimakasih

    ReplyDelete