Jul 31, 2010

Elegi Menggapai Mengada dan Pengada

Oleh Marsigit

Ada:
Wahai para ada, saatnya sudah marilah kita berpesta. Aku sengaja mengundangmu semua datang kemari untuk pesta. Kita perlu mengadakan pesta karena kita telah dinyatakan ada. Maka tak peduli siapakah kamu itu. Dirimu, karyamu, tulisanmu, pikiranku, temanmu, saudaramu, hatimu, logosmu, tesismu, anti-tesismu, sintesismu, pertanyaanmu, ikhlasmu, milikmu, persepsimu, pengamatanmu, pengetahuanmu, bahkan mitos-mitosmu. Pokoknya semua tanpa kecuali apa saja yang ada dan yang mungkin ada yang bisa engkau rasakan, engkau pikirkan atau engkau lakukan.



Para Ada:
Bagaimana dengan para MENGADA dan PENGADA apakah mereka diundang atau tidak?

Ada:
Lho apa itu MENGADA? Dan apa pula itu PENGADA? Dalam daftarku kok tidak ada.

Para Ada:
Kami melihat mereka bersama kami tadi. Caba panggilah.

Ada:
Wahai MENGADA dan PENGADA, siapakah dirimu itu?

Mengada dan Pengada:
Kami adalah dirimu sendiri, kami adalah anggota dari dirimu.

Ada:
Kenapa aku tidak mengenalmu?

Mengada dan Pengada:
Jika engkau belum kenal diri kami, itu berarti aku masih menjadi yang mungkin ada bagi dirimu.
Tetapi begitu engkau memanggilku maka engkau sudah mengenalku, berarti aku telah menjadi yang ada bagi dirimu.

Ada:
Aku menjadi penasaran jadinya. Wahai MENGADA coba terangkan lebih rinci sifat-sifat dirimu itu.

MENGADA:
Tiadalah ada dirimu tanpa mengada. Adanya dirimu itu sungguh karena mengada. Jadi dirimu yang ada disebabkan oleh mengadanya dirimu. Tetapi dirimu yang ada belum tentu menyebabkan diriku mengada. Maka mengada adalah bagian dari ada. Jika ada adalah subyek maka mengada adalah predikatnya. Jika mengada adalah subyek maka ada adalah predikatnya.

Ada:
Kapan ada itu dianggap tidak mengada?

Mengada:
Ada itu tidak mengada jika ada sudah merasa puas dengan dirinya sendiri dan tidak memerlukan mengada.

Ada:
Maksudmu?

Mengada:
Itulah sebenar-benar mitosmu yang paling besar dan paling halus di dunia ini.

Ada:
Aku masih tidak paham?

Mengada:
Undanganmu kepada para ada untuk mengadakan pesta adalah buktinya. Keinginanmu untuk mengadakan pesta tentang keberadaanmu, itu pertanda engkau telah merasa puas dengan statusmu sebagai ada.

Ada:
Lho apa salahnya?

Mengada:
Salahnya, engkau telah menganggap hidupmu telah usai. Engkau telah menganggap tidak ada lagi perjuangan bagi dirimu, sehingga engkau merasa memperoleh kemenanganmu, dan kemudian memutuskan untuk berpesta ria.

Ada:
Lho apa ruginya?

Mengada:
Ruginya adalah engkau menjadi tidak mengenal siapa MENGADA.

Ada:
Kalau demikian apa pula kerugianku?

Mengada:
Jika engkau tidak mengenal MENGADA maka kerugianmu adalah engkau dianggap TIDAK ADA.

Ada:
Lho..itu sesuatu yang paling aku takutkan…
Tolonglah aku wahai MENGADA, kemudian bagaimana solusinya?

Mengada:
Bukankah engkau belum mengetahui siapa diri PENGADA itu?

Ada:
Oh..maaf..wahai PENGADA..Siapakah dirimu itu?

Pengada:
Wahai sang ada. Aku tidak lain tidak bukan adalah dirimu sendiri. Aku adalah anggota dari dirimu. Jika engkau subyeknya maka belum tentu aku predikatnya, dan jika aku subyeknya maka engkau predikatnya. Keberadaanku itu menentukan dirimu, tetapi keberadanmu belum tentu menentukan diriku.

Ada:
Aku tidak paham apa maksudmu?

Pengada:
PENGADA adalah ada jika engkau mengada.

Ada:
Aku masih tidak paham?

Pengada:
Itulah buktinya. Rencanamu mengadakan pesta telah membuktikan bahwa keradaanmu itu tidak menyebabkan keberadaanku. Karena engkau merasa sudah puas dengan kedudukanmu sebagai ADA maka engkau tidak merasa perlu mengada. Karena tidak ada aktivitas mengada pada dirimu maka tidaklah juga ada pengadamu di sana.

Ada:
Memangnya kenapa ?

Pengada:
Jika tidak ada MENGADA pada dirimu maka tidak adalah PENGADA pada dirimu.

Ada:
Lalu apa ruginya?

Pengada:
Ruginya adalah engkau menjadi tidak mengenal PENGADA. Itulah mengapa engkau tidak mengundang diriku mengikuti rencana pestamu itu.

Ada:
Apa pula rugiku?

Pengada:
Jika engkau tidak mengenal PENGADA maka engkau dianggap TIDAK ADA.

Ada:
Lho..padahal itulah yang paling aku takutkan.. Wahai PENGADA..tolonglah bagaimana solusinya?

Mengada dan Pengada:
Sebetul-betul MENGADA adalah logos bagi dirimu. Jika ADA adalah tesismu maka MENGADA adalah anti-tesismu. Jika engkau telah mempunya MENGADA maka serta merta wujudmu akan berubah menjadi PENGADA. Janganlah engkau mengharap dapat menjadi PENGADA jika engkau tidak mempunyai MENGADA.

Ada:
Sebentar, jika engkau sebut tesis dan anti-tesis maka dimana sintesisnya?

Mengada dan Pengada:
Jika tesisnya adalah ADA maka anti-tesisnya adalah MENGADA. Jika anti-tesisnya adalah MENGADA maka sintetisnya adalah MENGADA.

Ada:
Kalimatmu yang terakhir sangat sulit aku pahami.

Mengada dan Pengada:
Itulah yang terjadi. Maka sebenar-benar MENGADA adalah sekaligus tesis, anti tesis dan juga sintesis. Sedang sebenar-benar PENGADA adalah anti-tesis dari MENGADA.

Ada:
Maksudnya?

Mengada dan Pengada:
Tidak akan ada PENGADA jika engkau tidak MENGADA.

Ada:
Aku masih bingung.

Mengada dan Pengada:
Itulah yang terjadi, yaitu bahwa PENGADA itu juga sekaligus tesis, anti-tesis dan juga sintesis.

Ada:
Baiklah bisakah engkau memberikan contoh konkritnya?

Mengada dan Pengada:
Misal engkau adalah MAHASISWA yang sedang menempuh perkuliahan filsafat. Maka tanda-tanganmu dalam daftar hadir merupakan bukti bahwa engkau itu ADA. Sedangkan kegiatanmu membuat komen pada elegi-elegi menunjukkan MENGADA mu. Jika engkau telah membuat komen pada elgi-elegi maka itu bukti bahwa engkau telah menjadi PENGADA, yaitu pengada akan komen-komen mu.

Ada:
Lho kalau begitu, kan sudah pantas kalau aku ingin berpesta. Karena aku sudah membuat komen.

Mengada dan Pengada:
Sebentar dulu. Sebuah komen mu itu adalah ADA bagi komen mu. Dan keberadaan sebuah komen mu belum tentu MENGADAKAN ..ADA yang lainnya. Jika demikian maka komenmu juga bukanlah suatau PENGADA terhadap yang lainnya. Maka sebuah komen mu itu bisa terancam menjadi mitos, yaitu jika engkau merasa puas hanya membuat satu komen, kemudian akan mengadakan pesta. Maka nasib dari sebuah komen yang engkau sebutkan itu persis seperti nasib dirimu yang tidak mengetahui MENGADA dan PENGADA. Jika dia kmudian juga akan mengadakan pesta, maka dia tentu akan lupa untuk mengundang semua yang ada.

Ada:
Kemudia bagaimana solusinya?

Mengada dan Pengada:
Tiadalah dirimu itu tanpa MENGADA dan PENGADA. Maka agar engkau tetap ADA tidak ada jalan lain bagi dirimu untuk selalu MENGADA. Jika engkau telah MENGADA maka PENGADA akan selalu meyertaimu.

Ada:
Apakah aku dapat menyimpulkan bahwa sebenar-benar ADA adalah MENGADA dan PENGADA sekaligus?

Mengada dan Pengada:
Cerdas pula engkau itu. Itulah harapanku bahwa murid-muridku akan selalu bisa menyimpulkan diri meraka untuk kepentingan diri mereka pula. Sangat tepatlah kesimpulanmu itu bahwa ADA itu adalah sekaligus MENGADA dan PENGADA.

Ada:
Sebentar, jangan ditutup dulu. Bukankah di awal pembicaraan kita engkau telah menuduhku sebagai ADA yang tidak mengenal MENGADA dan PENGADA? Kalau begitu ADA tidak harus MENGADA dan PENGADA?

Mengada dan Pengada:
Tidak mengenal itu tidak berarti tidak ada.

Ada:
Lho mengapa?

Mengada dan Pengada:
Itulah kelihaian dan kelembutan MITOS. Mitos itu pulalah yang selalu mengajakmu mengadakan PESTA padahal perjuanganmu belum seberapa. Maka dirimu akan sebenar-benar ada jika engkau selalu menggapai LOGOS. Itulah kesimpulanku.

84 comments:

  1. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Diri kita sendiri adalah ada, mengada, dan pengada. Setiap orang memikirkan sesuatu, mengerjakannya, mengevaluasi, kemudian memperbaiki kekeliruan yang ada dan meningkatkannya untuk lebih baik maka ia telah membuktikan bahwa dirinya adalah ada, mengada, dan pengada. Hal itu dilakukan dengan jujur, maka jujur dalam melalukan proses meliputi Ada, Mengada, Pengada.

    ReplyDelete
  2. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Ada, mengada dan pengada pada hakikatnya adalah diri ini sendiri. Diri ini pasti memikirkan sesuatu, mengerjakan sesuatu, mengevaluasi sesuatu dan pada akhirnya akan memperbaiki suatu kesalahan di dalamnya dan meningkatkannya agar menjadi lebih baik lagi. Berdasarkan hal tersebut maka diri ini telah menunjukkan bahwa ada, mengada dan pengada.

    ReplyDelete
  3. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Dalam elegi ini, elegi menggapai mengada dan pengada. Saya mengambil pelajaran, jika kita cepat puas dengan hasil yang kita terima, saat kita sebagai manusia puas maka berhentilah pikiran dan kreatif kita, bahkan kita akan berhenti belajar. Bawasanya selama kita masih hidup dalam alam semesta ini, belajar tidak akan pernah berhenti. Sehingga jika kita berhenti belajar, maka kita sudah tidak ada di alam semesta ini.

    ReplyDelete
  4. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Adanya suatu ilmu terdapat dari prosesnya yaitu belajar. Belajar sekali tidaklah menjadi pengada dari ilmumu, jadi teruslah belajar untuk menjamin keberadaan ilmumu. Tidakalah seperti peribahasaan“Tuntutlah ilmu sampai negeri Cina”, tidaklah cukup sampai cina teruslah cari ilmu-ilmu yang di atas langit itu.

    ReplyDelete
  5. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Sebenarnya si ada sudah menjadi pengada dengan mengadakan pesta. Pengada pesta karena mengada-kan pesta. Tetapi dapat dikatakan begitu jika si ada adalah even organizer yang memang tanggung jawabnya mengada pesta :D
    Jadi mungkin dapat disimpulkan bahwa seseorang menjadi ada harus tetap mengada tanggung jawabnya, supaya menjadi pengada dan tetap dianggap ada.

    ReplyDelete
  6. Ajeng Puspitasari / 14301241005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi di atas memberikan suatu sentilan bagi diri saya pribadi.
    Setiap mahasiswa, termasuk saya, selalu berupaya untuk 'ada' dalam setiap mata kuliah. Kami pun 'mengada' dengan mengerjakan tugas-tugas kuliah. Di sisi lain, hal tersebut juga telah menunjukkan bahwa kami menjadi 'pengada'. Namun sayangnya, setelah 'mengada', rasa ini menjadi puas. Sehingga tak terdapat 'mengada' yang selanjutnya, atau dengan kata lain 'pengada' pun hilang. Jika 'mengada' dan 'pengada' hilang, maka akan menjadi tidak 'ada' lagi. Semuanya berhenti. Diriku.. tidak ada.

    ReplyDelete
  7. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Ada mengada, maka ada juga pengada. Kedua hal tersebut juga berkaitan dengan mitos. Maka dikatakan bahwa sebenar – benar hidup adalah jika dapat mencapai logos. Menurut saya ini mengandung makna bahwa terlepas dari mengada dan pengada dalam dunia ini yang paling penting adalah mencapai ilmu dan kedekatan dengan Yang Maha Kuasa. Segala hal yang manusia ciptakan hanya akan sia – sia jika tidak mencapai logos. Maka adanya mengada dan pengada seharusnya tidak menjadi hambatan bagi manusia yang ingin mencapai logos.

    ReplyDelete
  8. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Suatu ada tidak akan ada apabila sebelumnya tidak ada pengada dan mengada. Mengada itu sendiri pun tidak akan ada apabila sebelumnya tidak ada pengada. Menurut saya, sagala hal atau segala kegiatan itu akan terjadi apabila sebelumnya telah direncanakan oleh perencana. Dalam hal ini, segala hal atau kegiatan adalah ada, proses perencanaan adalah mengada, dan sang perencana itu lah sang pengada.

    ReplyDelete
  9. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Ada apabila tidak ada mengada dan pengada maka ada menjadi tak ada. Ada dikatakan ada apabila telah memenuhi mengada dan pengada. Inilah kelemahan manusia yang mudah merasa puas dengan apa yang telah dicapainya saat ini, seperti pada elegi ini "ada" melakukan pesta sementara sendiri "ada" tidak mengenal "megada" dan "pengada". Agar menjadi Ada yang ada manusia haruslah terus belajar, memperbaiki diri dan jangalah mudah puas dengan apa yang telah kita dapatkan saat ini.

    ReplyDelete
  10. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saya mendapatkan pelajaran bahwa jangan merasa cepat puas. Hanya melakukan hal kecil lalu ingin berpesat seperti pada elegi di atas. Baru selesai mendapatkan satu ilmu, sudah merasa pandai. Tentu itu tidak benar. Belajar itu sepanjang hayat. Selalu, dan terus menerus, sehingga tidak ada rasa puas dalam dirinya.

    ReplyDelete
  11. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Ada, pengada, dan mengada adalah ketiga hal yang saling berhubungan. Menurut saya ada jika memang ada, mengada jika belum ada tapi diadakan, dan pengada adalah orang yang mangadakan.

    ReplyDelete
  12. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setelah membaca elegi di atas, mengingatkan saya bahwa ketika selesai membuat satu komen, jangan berhenti. Tetapi lakukan terus menerus. Karena dapat menandakan bahwa mahasiwa mengikuti kuliah. Selain itu dengan membaca dan membuat komen di blog ini, saya mendapatkan banyak ilmu baru. Termakasih

    ReplyDelete
  13. Elli Susilawati
    16709251073
    pmatD

    Misal engkau adalah MAHASISWA yang sedang menempuh perkuliahan filsafat. Maka tanda-tanganmu dalam daftar hadir merupakan bukti bahwa engkau itu ADA. Sedangkan kegiatanmu membuat komen pada elegi-elegi menunjukkan MENGADA mu. Jika engkau telah membuat komen pada elgi-elegi maka itu bukti bahwa engkau telah menjadi PENGADA, yaitu pengada akan komen-komen mu."
    akhirnya telah saya temukan jawabannya, terima kasih pak Prof. Marsigit
    selain menjadi pengada, banyak sekali ilmu yang saya dapat setelah membaca artikel-artikel di blog ini, Sekali lagi terima kasih Pak Prof. Marsigit

    ReplyDelete
  14. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Mengada dan Pengada merupakan bagian dari ada. Kata yang mendasari kata pengada dan mengada yaitu ada. Kemudian dari elegi di atas dapat dikatakan bahwa supaya kita terlihat ada maka kita harus mengada dan menjadi pengada terlebih dahulu. Mengada adalah kata kerja. Sehingga mengada adalah sebuah kegiatan yang kita lakukan sedangkan kitanya itu merupakan pengada itu sendiri. Pengada adalah kata subjek sehingga orang yang melakukan kegiatan mengada. Keduanya saling memiliki keterkaitan.

    ReplyDelete
  15. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Ada tidak mungkin terjadi jika tidak diperoleh dari Pengada. Karena Ada yang serta merta tercipta dengan sendirinya adalah Ada sebagai wujud ciptaan Allah SWT yang maha pencipta alam semesta dan seisinya. Segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak terlepas dari keterkaitan antara Ada dan Pengada, keduanya merupakan dua hal yang berkaitan dengan hubungan sebab akibat. Ada merupakan suatu akibat dari Pengada yang dapat pula disebut sebagai hasil dari tindakan Pengada tersebut.

    ReplyDelete
  16. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Pengada dan mengada merupakan bagian dari ada. Kata yang mendasari kata pengada dan mengada yaitu ada. Kemudian dari elegi di atas dapat dikatakan bahwa supaya kita terlihat ada maka kita harus mengada dan menjadi pengada terlebih dahulu. Mengada adalah sebuah kegiatan yang kita lakukan sedangkan kitanya itu merupakan pengada itu sendiri. Pengada adalah orang yang mengada.

    ReplyDelete
  17. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Elegi di atas menceritakan antara ada, pengada, mengada yang menunjukkan jati dirinya masing-masing. Antara ada, pengada dan mengada ketiganya saling berkaitan satu sama lain. Ada dibentuk berdasarkan pengada dan mengada. Jika tidak ada salah satunya maka ada tidak akan terwujud.

    ReplyDelete
  18. Nama : Wisniarti
    NIM : 17709251037
    Kelas : PM B (Pascasarjana)

    Elegi Menggapai Mengada dan Pengada ini yang saya cerna mempunyai makna bahwa ilmu yang kita pelajari itu bukan hanya sekedar kita tahu namun akan lebih baik kita tahu, pelajari lebih dalam, ditelaah, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena jika kita hanya mengetahui ilmu itu ada namun tidak mengetahui ilmu itu mengenai apa, mengapa, untuk apa, bagaimana-nya maka kita tidak akan memperoleh sesuatu yang nantinya mungkin saja dapat berguna untuk kehidupan secara langsung maupun tidak langsung. Akan tetapi, kita juga tidak hanya sekedar memahami ilmu yang bersangkutan, akan lebih baik lagi jika ilmu yang kita pahami dan pelajari itu diimplementasikan sehingga tidak hanya berhenti pada diri kita sendiri namun bisa bermanfaat untuk orang lain dan dunia sekitar.

    Elegi ini mengajarkan kepada kita khususnya kepada saya bahwa dalam belajar itu jangan cepat puas. Karena merasa puas itu menjadikan kita berhenti untuk belajar. Ketika belajar terhenti kita mungkin akan menjadi manusia yang berpikiran sempit tanpa mau menerima perubahan yang mungkin lebih baik. Elegi ini juga menginginkan pembaca untuk melengkapi apa yang sudah dia mulai. Saya sarankan bagi teman-teman yang lain jika sudah membaca "Elegi Menggapai Mengada dan Pengada" dilanjutkan membaca "Elegi Menggapai Lengkap" karena tanpa disadari elegi-elgi yang bapak Marsigit buat ini saling berkaitan satu dengan yang lain. Dari dua elegi itu saja, secara umumu kita mempelajari bahwa belajar itu harus maksimal sampai ke praktiknya, jangan pernah merasa puas dengan sekedar tahu saja. Jika sudah menguasai semuanya maka kita harus mampu mereduksi pengetahuan kita itu agar tahu penempatan di waktu dan kondisi yang tepat.

    ReplyDelete
  19. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Filsafat adalah sesuatu yang ada dan yang mungkin ada, memepelajarinya dengan bahasa analog maka inilah kaitannya yaitu bahasa yang merupakan bagian dari sastra. sedangkan pesan yang lain yang terdapat dari penjelasan Bapak yaitu “ADA” erat kaitannya dengan mengada dan pengada. Contohnya yaitu ketika kita hadir dalam perkuliahan maka dikatakan kita ada. Lalu jika kita terus berproses membaca dan komen maka dikatakan mengada. Dan dikatakan pengada kika kita telah dan kontinu melakukan mengada ini. Sehingga “ADA” adalah kata aktif. Didapatnya tidak hanya dengan hadir tapi juga proses yang kontinu. Semoga kita senantiasa bisa mengada dan menjadi penada.

    ReplyDelete
  20. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Mengada dan pengada merupakan bagian dari ada dan merupakan satuan keastuan yang utuh. Contohnya saja Keberadaan seorang guru yang baik sebagai sesuatu yang ada (mengada dan pengada). Seorang guru terancam keberadaannya dan lenyap jika tidak mengada dan pengada.
    Kegiatan seorang guru dalam membuat penelitian menunjukkan MENGADA. Jika seorang guru telah membuat karya penelitian maka itu bukti bahwa guru tersebut telah menjadi PENGADA. Janganlah puas dengan memproduksi hasil yang sedikit (misalnya satu penelitian saja), gali potensi sebanyak mungkin agar tetap diakui menjadi guru sehingga tidak akan ketinggalan zaman. Tak lupa untuk berdoa kepada Allah SWT.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  21. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Berbicara mengenai kata ‘ADA’ dapat kita artikan dalam beberapa kata yang tergabung dengan bebrapa kata depan. MENGADA dan PENGADA adalah dua hal yang saling berkaitan satu sama lain. Kita ADA, tidak lain dikarenakan ada karena mengada sekaligus pengada. Keduanya akan selalu menyertainya. Elegi ini memberikan pelajaran bagi saya untuk terus belajar, karena ilmu itu akan selalu ADA dan MENGADA merupakan proses untuk menggapai atau mempelajari ilmu secara berkelanjutan oleh PENGADA. Semoga kita selalu istiqomah dalam melakukan suatu hal kebaikan di dunia ini. Aamiin

    ReplyDelete
  22. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Mengada dan pengada adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan untuk membuktikan satu obyek pikir itu benar adanya. Elegi menggapai mengada dan pengada ini memberikan pelajaran pada kita untuk tidak mudah puas, karena sejatinya proses mengada dan pengada tidak pernah berhenti namun kontinue untuk melahirkan ada yang lainnya.

    ReplyDelete
  23. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    "Ada, mengada, dan pengada". Ilmu adalah tidak berhenti, tidaklah final. Apalagi kita yang hanya si pemburu ilmu. Berhenti? Merasa final? Bagaimana bisa? sedang yang kita kejar saja terus berlari. Yang meskipun kita kejar saja tidak mungkin terkejar, apalagi jika kita berhenti dan berjumawa ria.
    "Ada itu tidak mengada jika ada sudah merasa puas dengan dirinya sendiri dan tidak memerlukan mengada". Sering kali saya bangga dengan keberadaan saya yang sudah saya anggap "ada", memang "ada". Tetapi ternyata saya belumlah "mengada" apalagi menjadi seorang "pengada". Karena apa? sering kali saya tinggi hati, sesuka hati menyimpulkan, padahal yang saya miliki barulah prolognya saja. Ah kali ini saya benar-benar merefleksi diri

    ReplyDelete
  24. Metia Novianti
    17709251021
    S2 Pendidikan Matematika A 2017
    Elegi ini mengajarkan kita agar tidak cepat merasa puas dengan keadaan karena ketika kita cepat merasa puas, maka kita hanya akan berada di comfort zone, akibatnya kita tidak akan maju dan tetap berada di posisi kita saat ini. Di zaman globalisasi saat ini dimana segala sesuatu bergerak dengan sangat cepat, hal ini akan berbahaya apabila tidak segera diperbaiki karena akan mengancam eksistensi kita.

    ReplyDelete
  25. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Elegi ini menggambarkan betapa banyaknya orang yang tidak menyadari kekurangan di dalam dirinya sendiri, dan banyak orang yang cepat puas dengan keadaan yang telah diraihnya. Saya sndiri merasa tertegur dengan elegi ini, mengingat betapa seringnya saya puas hanya dengan status ADA tanpa menjadi mengada dan pengada. Memang benar bahwa ilmu filsafat merupakan refleksi terhadap diri sendiri, salah satunya melalui elegi ini.

    ReplyDelete
  26. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    ada,mengada, dan pengada mempunyai keterkaitan, Sebenar-benar ada adalah mengada dan pengada. berfilsafat adalah tentang mengadakan yang mungkin ada, dengan belajar filsafat kita terus menjadi pengada yang terus mengada yang ada dan yang mungkin ada.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  27. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Ada, mengada, dan pengada merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. pengada adalah orang yang mengadakan sesuatu yang belum ada, mengubah yang tidak ada menjadi ada. ketika saya belajar saya mengadakan yang mungkin ada menjadi ada , maka saya adalah pengada
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  28. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Sebenar-benarnya ada adalah mengada dan pengada. Sehingga ada tidak akan berarti jika tidak mengada dan pengada. Contohnya siswa masuk ke perpustakaan, artinya siswa ada di perpustakaan. Kemudian jika siswa membaca dan mereview buku maka dikatakan mengada. Dan dikatakan sebagai pengada jika siswa telah secara kontinu membuat review buku. Dari elegi ini dapat saya petik pelajaran bahwa kita harus terus dan selalu berproses dalam hidup ini untuk menggapai sebuah ilmu dan impian. Terimakasih

    ReplyDelete
  29. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Ada adalah suatu obyek pikir, maka dalam komen ini saya akan mengerucutkan ada dalam ruang dan waktu materi kuliah filsafat ilmu, sehingga saya definisikan ada sebagai ilmu. Jika saya urutkan, maka yang pertama adalah pengada melakukan mengada sehingga diperoleh ada, urutan yang kedua melakukan mengada, menjadi pengada dan diperoleh ada sehingga dapat dikatakan bahwa seseorang bisa menjadi pencari ilmu, melakukan mencari ilmu sehingga diperoleh ilmu dan seseorang mencari ilmu sehingga menjadi pencari ilmu dan diperoleh ilmu. Ilmu dalam diri sesorang itu pada hakikatnya selalu bertambah seriap waktu, maka jika seseorang berhenti mencari ilmu maka dia tidak akan kenal ada dan pengada, karena dia berhenti mencari ilmu maka sesungguhnya dia telah berhenti berproses untuk mendapat ilmu baru atau didalam elegi ini orang itu dikatakan menjadi tidak ada.

    ReplyDelete
  30. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A 2017

    Dari elegi di atas, “Ada” menjadi ada jika ia “Mengada”. Dan jika ia sudah mengada maka ia disebut “Pengada”. Jadi untuk menjadi Ada maka harus menjadi Pengada. Dalam berfilsafat pun sama halnya dengan itu. Untuk mengada segala sesuatu yang ada dan mungkin ada maka jadilah pengada, dengan cara mengutarakan segala pemikiran yang ada sehingga memperoleh status Ada. Namun ada disini tidak bisa dicapai dengan cara instan, tetapi membutuhkan proses yang panjang. Dengan selalu menggali ilmu pengetahuan sehingga menambah wawasan.

    ReplyDelete
  31. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Setiap manusia tentu ingin dianggap ada. Bahkan untuk membuktikan ada nya dirinya banyak manusia yang bertindak diluar norma-nomar. Padahal ada itu jika ia telah mengada sehingga menjadi pengada. Maka sebenar- benar manusia itu ada jika ia terus mengada sehingga terus menjadi pengada karena begitu ia berhenti mengada dan menjadi pengada maka ia telah menjadi tidak ada. Dan sebenar- benar manusia itu ada jika ia telah mengada dengan terus berfikir. Pertanyaan- pertanyaan kritis adalah bukti bahawa ia berfikir maka pertanyaan- pertanyaan kritis merupakan bukti bahwa ia telah menjadi pengada.

    ReplyDelete
  32. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    "Maka agar engkau tetap ADA tidak ada jalan lain bagi dirimu untuk selalu MENGADA. Jika engkau telah MENGADA maka PENGADA akan selalu meyertaimu". Menurut saya, inilah kesimpulan dari postingan dengan judul elegi menggapai mengada dan pengada di atas. Segala yang ada dan mungkin ada tidak akan menjadi ada jika tanpa mengada dan pengada. Contohnya, ilmu itu ada. Tetapi tidak akan ada jika kita tidak mengadakannya. Artinya, ilmu itu tak terhingga banyaknya. Tetapi jika kita tidak berusaha untuk mencari dan menggalinya maka ilmu itu tidak akan kita dapatkan sehingga tidak akan ada di dalam diri kita. Sebaliknya, jika kita berusaha untuk mencari dan menuntut ilmu, maka ilmu itu akan menjadi ada, usaha kita untuk menggapainya ialah mengada, dan kita yang menggapai ilmu tersebut pengadanya. Elegi menggapai mengada dan pengada ini berpesan kepada kita untuk berusahalah jika ingin menggapai sesuatu. Karena dengan begitu, sesuatu yang ingin kita gapai akan menjadi ada, serta mengada dan pengada akan mengiringinya.

    ReplyDelete
  33. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    Pendidikan Matematika Kelas B(S2)

    Ada, Mengada, dan Pengada merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Pengada merupakan implikasi dari mengada, sedangkan mengada adalah implikasi dari ada. Refleksi dai elegi ini adalah apabila seserang yang Ada telah melakukan Mengada, maka tidak boleh lah berpuas diri hanya menjadi Pengada satu kali. Tetapi sebagai makhluk yang diwajibkan untuk mencari ilmu, hendaklah terus menjadi pengada-pengada lainnya agar siklus ada, mengada dan pengada dapat bermanfaat selain untuk diri sendiri juga pada orang lain.

    ReplyDelete
  34. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Ada, mengada dan pengada merupakan sebuah proses perjalan untuk menggapai sebuah kepentingan. Bagaimana proses sebuah keputusan, ataupunlangkah mencari sebuah ketetapan. Kalau dalam kehidupan sehari-hari seperti perumpamaan tak ada asap jika tak ada api. Jadi apaun setiap kejadian pasti unsur ada, mengada dan pengada ikut ambil serta.Begitu pula dalam ilmu pengetahuan. kalo tidak ada, Ada, pengada dan mengada mungkin tidak akan seperti sekarang ini.

    ReplyDelete
  35. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Terimakasih atas postingannya pak.
    "ADA" akan ada jika “MENGADA”. Dan jika sudah mengada maka kita disebut “PENGADA”. Jadi untuk menjadi Ada maka harus menjadi Pengada. Untuk mengada segala sesuatu yang ada dan mungkin ada disebut pengada. Untuk mengada kan sesuatu menjadi ada kita harus berusaha. Contoh membuat baju. Baju itu adalah ADA, yang di buat oleh PENGADA yang MENGADA. Dan untuk mengadakan ada kita harus selalu menuntut ilmu agar pengada yang mengadakan menjadi ada akan dapat bermanfaat bagi diri sendiri dan juga orang lain.

    ReplyDelete
  36. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Sesuatu hal itu ada karena ada yang mengadakan, yang mengadakan itu siapa, pengada. Pengada itu siapa, subjek. Kemudian pengada itu juga ada karena ada yang mengadakan, yaitu pengada yang lain. Sehingga jika diurutkan terus menerus, yang kita dapatkan pengada dari para pengada yaitu Allah SWT. Maka, janganlah berlaku sombong karena sudah merasa menjadi pengada, tetapi kita harus sadar bahwa kita itu pengada yang juga ciptaan dari pengada yaitu Allah.

    ReplyDelete
  37. Shelly LUbis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    mungkin yang dapat saya simpulkan dari tulisan ini adalah bahwa kita tidak boleh merasa puas akan ilmu pengetahuan yang telah kita pelajari dan kita kuasai, ataupun karya-karya yang telah kita kahirkan. karena dengan merasa puas dan berhenti berkarya atau belajar, maka semua yang telah kita hasilkan dan kita pelajari hanya akan menjadi mitos

    ReplyDelete
  38. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Elegi menggapai mengada dan pengada menjelaskan hubungan antara ada, mengada dan pengada. Jika dipikirkan secara logika matematika maka hubungannya adalah mengada adalah syarat perlu bagi ada, selanjutnya pengada adalah syarat perlu bagi mengada. Elegi ini juga mengingatkan pembaca bahwa terkadang sesuatu melupakan syarat perlu bagi dirinya untuk tetap dalam keeksistensiannya. Jika masing-masing hal merasa puas dengan pencapaian dirinya tanpa mempedulikan syarat perlu bagi dirinya maka saat itulah hal ini telah mengingkari dirinya.

    ReplyDelete
  39. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Ada memiliki dimensi tersendiri dalam kehidupan manusia, menjadi ada merupakan usaha seseorang dalam merubah yang mungkin ada menjadi ada. Setelah ada, jadikan hal itu mengada yang menyebabkan adanya pengada. Pengada adalah yang berperan dalam memproduksi hasil dari mengada. Pengadaan tersebut tidak cukup dilakukan sekali, melainkan harus dilakukan secara kontinue dan tidak boleh cepat puas dalam menggapai logos. Akibat yang akan dirasakan jika cepat puas dengan pencapaian ada, mengada, dan pengada adalah terjebak oleh kelembutan mitos-mitos.

    ReplyDelete
  40. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Dengan membaca postingan Bapak memberikan saya nasihat bahwa dalam hidup ini janganlah cepat-cepat merasa puas akan sesuatu yang diraih. Karena kepuasan tersebut justru akan membawa kita dalam keadaan berhenti. Berhenti untuk mengada. Berhenti untuk berusaha dan berdoa. Sebenar-benar berhenti mengada akan mengancam ada. Jadi apabila seseorang sudah merasa puas akan apa yang diperolehnya kemudian berhenti berusaha maka sebenar-benar orang tersebut terancam tidak ada.
    Seseorang dianggap ada karena mengada, pengada ada juga karena mengada. Sehingga yang terpenting adalah selalu berusaha dan terus berusaha untuk mrnggapai mengada dan pengada akan menyertainya. Sebagai seorang mahasiswa salah satu tugas mengada yaitu terus menerus belajar dan jangan sampai berhenti karena merasa puas diri akan apa yang telah dipelajarinya karena sebenar-benar yang belum diketahui lebih banyak daripada yang sudah diketahui.

    ReplyDelete
  41. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    "PENGADA adalah ada jika engkau mengada."
    Lalu mengapa ada tidak menyadari adanya pengada dan mengada? Karena ada sudah puas dengan keadaannya, merasa tak perlu lagi mengada dan menjadi pengada.
    Terkadang manusia sudah puas dengan apa yang dicapainya, tak menganggap bahwa hidup merupakan proses yang yak berhenti. Untuk membuktikan pencapaiannya sekarang, maka di masa yang akan datang masih diperlukan proses belajar dan perwujudan hasil belajar. Janganlah cepat puas akan yang twlah engkau dapat sekarang, karena jika semua hanya tentang ruang dan waktu, maka pencapaian ini akan berlalu jika tak diperjuangkan kembali di masa yang akan datang.

    ReplyDelete
  42. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Ada tanpa mengada itu tidak ada dan ada tanpa pengada juga tidak ada. Mengada dan pengada keduanya adalah anggota dari ada. Mengada adalah bagian dari ada, jika ada adalah subyek, maka mengada adalah predikatnya. Jika mengada adalah subyek, maka ada adalah predikatnya. ada dapat ada karena mengada, tetapi ada akan ada tidak cukup dengan ada saja karena ada akan ada juga jika karena pengada. Jika ada telah memiliki pengada maka wujud dari ada itu akan berubah menjadi pengada. Pengada akan diperoleh hanya jika mempunyai mengada. Ada adalah mengada dan pengada sekaligus, jika salah satunya tidak ada maka ada pun juga tidak ada.

    ReplyDelete
  43. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Terimakasih pak atas ilmu yang diberikan melalui Elegi Menggapai Mengada dan Pengada ini. dari postingan ini saya dapat menyimpulkan kita sebagai manusia harusnya jangan cepat puas akan sesuatu yang sudah kita dapatkan. karena jika cepat puas dalam mempelajari sesuatu maka tak lain dan tak bukan datanglah musuh kita sendiri yaitu si kitos. yang dengan halus masuk kedalam pikran kita.

    ReplyDelete
  44. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Ada, Mengada dan Pengada. Tiga buah kata yang saling berkaitan dan berhubungan. Manusia berada disunia merupakan bentuk dari “ada” , yakni manusia berujud, hidup dan memliki potensi. Manusia tidak cukup ada oleh karenanya perlu mengada agar tidak dianggap mati secara pikiran, manusia mengada dengan berpikir, belajar dan melakukan hal-hala yang real dan ketika ada proses pengada manusia itulah sebagai pengada. Sekilas hubungannya sederhana, namun proses dalam mengada marupakan hal yang perlu diperhatikan agar mengadanya ada dapat memberikan manfaat. Terima kasih

    ReplyDelete
  45. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillahirrohmanirrohim, terimakasih prof. Marsigit atas postingan di atas. Benar yang dikatakan dalam dialog di atas, ketika kita merasa telah ada belum tentu kita telah mengada dan pengada. Padahal mengadalah yang membuat kita menjadi ada. Secara tersirat maksud mengada berarti membuat diri kita ini ada. Jika kita tidak mengada, berarti keberadaan kita telah dilandasi dengan rasa puas dan sombong. Yang membuat diri kita ada adalah si pengada. Sehingga jika kita tidak memahami dan mengenal mengada dan pengada, sungguh kita sebenarnya tidak ada. Terlena nya kita melupakan mengada dan pengada merupakan kesalahan yang fatal. Karena kita tidak akan ada jika tidak mengenal, memahami, menyadari, dan memaknai mengada dan pengada. Keberadaan kita terlihat ketika kita berusaha menggunakan pikiran dalam setiap mengambil langkah dan keputusan, artinya ketika ada pun kita mampu dikuasai mitos yang karena nya kita merasa sudah menggapai logos. Maka berhati-hatilah dengan mitos karena sesungguhnya dia yang mampu membuat kita melupakan mengada dan pengada dalam diri kita sendiri. Wallahualam bishowab.

    ReplyDelete
  46. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih Prof untuk ilmu yang sudah diberikan. Elegi ini dapat membuat saya merefleksikan sejauh mana sikap saya dalam proses belajar. Terkadang rasa puas cenderung membuat saya menjadi tidak mampu mengada. Saya menyadari bahwa penting untuk mengenal dan sadar akan diri sendiri. Sejatinya dalam proses menuntut ilmu itu sendiri lebih menuntut seseorang agar dapat terus mengada. Dengan mengada akan suatu hal, ini juga dapat mengarahkan saya menjadi pengada sesuatu. Ya, tidak terhanyut dalam rasa kepuasan yang sifatnya hanya sesaat itu juga jawaban akan proses yang sedang saya lalui. Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih Prof.

    ReplyDelete
  47. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Ada, pengada dan mengada. Dari ketiga kata tersebut memiliki kata dasar yang sama yaitu ada, tetapi mengada dan pengada memiliki kata imbuhan "meng" dan "peng" dimana dapat merubah sifat dari kata "ada". Ada bisa menjadi subjek ketika mengada menjadi predikat. Hal ini berarti keberadaan kita dilihat dari ketika kita melakukan atau membuat sesuatu. Selain itu, ada bisa menjadi objek saat pengada menjadi subjek. Artinya, kita dilihat dari apa yang telah kita hasilkan atau kontribusi apa yang telah kita lakukan. Maka sebenar-benarnya ada tidak terlepas dari mengada dan pengada.

    ReplyDelete
  48. Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Ada, mengada dan pengada adalah satu bagian, tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Pabila kita merasa bahwa ada tanpa mengada dan pengada, maka sesungguhnya itu tidak ada, bahwa sesungguhnya kita telah termakan mitos. Mitos adalah merasa telah puas bahwa sudah tidak ada lagi yang perlu kita cari, padahal hanya ketiadaan yang kita perolehkarena kita termakan mitos. Seperti halnya menuntut ilmu, tiadalah akhir dalam menuntut ilmu, apabilakita sudah puas dengan apa yang kita miliki saat ini maka kita sudah termakan mitos. Semoga kita seau terlindungi dari mitos, karena sebenar-benarnya mitos adalah musuh dalam berfilsafat. amiin

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  49. Dewi saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr.Wb

    Elegi yang mengandung makna tersirat yaitu jangan cepat puas dengan apa yang didapat sehingga kesombongan akan menghampiri dan akan terjebak dalam sebuah mitos. Dengan kepuasan tersebut kita akan dapat melupakan seseorang yang sebenarnya adalah bagian dari diri kita yang membuat kita menjadi ada. Seperti hal nya 'ada' yang tidak mengenal mengada dan pengada dikarenakan sudah merasa puas menjadi ada, padahal tidaklah 'ada' jika tidak ada mengada dan tidak adalah pengada jika tidak ada mengada. Maka tidaklah 'ada' jika tidak ada mengada dan pengada.

    ReplyDelete
  50. Latifah Pertamawati
    S2 PM B
    17709251026

    Bismillaah..
    Segala sesuatu yang ada tercipta dari proses mengada-kan sesuatu yang belum ada oleh pengada. Pengada diadakan oleh pengada yang lain, sebelum pengada tersebut ada. Dari hal ini, dapat dilihat bahwa segala sesuatu yang ada diperoleh dari proses mengada oleh para pengada yang apabila dirunut akan menghasilkan sebuah daftar yang sangat panjang sekali. Menurut saya, hal ini dapat diibaratkan sebagai "chain rule." Sehingga, kita hendaknya bersifat rendah hati dan tidak menyombongkan diri karena sebesar-besarnya kita, terdapat orang-orang yang lebih besar sebelum kita. Sebaik-baiknya kita, sehebat-hebatnya kita, tidak akan bisa terjadi jika tidak ada banyak "baik-baik" dan "hebat-hebat" yang lain sebelumnya.

    ReplyDelete
  51. Nurika Miftahuljannah
    17709251060
    PPs P. Mat C
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Sifat sebagian besar manusia ialah selalu merasa kurang dengan apa yang telah ia miliki. Ingin A, keinginan A sudah terpenuhi ingin B. Keinginan B sudah terpenuhi ingin C. C sudah terpenuhi ingin D, dan seterusnya. Akan tetapi tak jarang ketika sudah mendapatkan apa yang ia inginkan, lantas ia merasa puas dan enggan untuk berusaha menjadi lebih baik lagi. Disitulah titik di mana keberadaannya mulai terancam. Semakin lama ia menikmati kepuasannya, merayakan hasil yang telah dicapainya, maka ia akan lupa bahwa dengan mengada. Ia tak ingin berusaha lagi dan enggan melakukan kegiatan demi kemajuannya. Dengan demikian ia tak kan menjadi pengada karena anti-tesis dari pengada tidak dipenuhi, yaitu mengada. Tanpa pengada, ia tidak mungkin ada dan akhirnya ia TIDAK ADA.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  52. Nurika Miftahuljannah
    17709251060
    PPs P. Mat C
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Banyak jalan menuju Roma, begitulah kira-kira ungkapannya. Banyak cara pula untuk menunjukkan bahwa kita ada. Agar kita ada dan diakui keberadaanya, maka kita harus melakukan mengada, yaitu berusaha sebaik mungkin yang kita bisa agar menjadi pengada. Usaha yang dapat kita lakukan adalah usaha yang sesuai dengan keahlian kita, minat kita, dedikasi kita, passion kita. Itu akan lebih mudah membuat kita untuk melakukan mengada karena kita melakukan sesuatu yang sesuai dengan yang kita senangi sehingga tidak pula menjadikannya beban terlalu berat. Dengan demikian, pengada akan segera melekat pada diri kita dan akhirnya keberadaan kita diakui sehingga kita ADA dengan MENGADA dan PENGADA yang menjadi anti-tesisnya.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  53. Muh WIldanul Firdaus
    17709251047
    PPs P.Mat C

    Penyakit yang sering diderita oleh manusia adalah merasa cepat puas dan merasa cukup terhadap ilmu yang telah diperoleh. Sehingga membuat manusia mengalami stagnasi dan tidak berkembang padahal zaman semakin berkembang. Apabila manusia berhenti belajar maka ia perlahan-lahan akan tertinggal oleh perkembangan Zaman dan akhirnya hilang. Sejatinya seseorang yang memiliki banyak ilmu kan semakin merasa banyak ilmu di luar sana yang belum dipelajari atau diketahui.
    Oleh karena itu ada harus senantiasa mengada agar tidak lenyap ditelan zaman.

    ReplyDelete
  54. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P. Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Pada hakikatnya, manusia diciptakan tidak hanya untuk menjadi ada, tetapi juga mengada. Kalau hanya sekedar menjadi ada, manusia hanya kan berkutat pada naluri-naluri kebinaangannya seperti makan, minum dan keperluan biologis. Sedangkan mengada berarti usaha untuk memenuhi kebutuhan akal dan batiniah. Untuk menggapai situasi tersebut manusia harus melalui proses pendidikan yang panjang. Sebenarnya, mengada berarti tindakan merawat hati dan pikiran.

    ReplyDelete
  55. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Hmmm... Ternyata memang sedemikian lembutnya mitos itu. Saya mulai melihat wajahnya muncul setiap kali ada kepuasan, kesombongan, mandeg. Ada pun adalah mitos jika ia tidak membawa serta mengada dan pengada, sebab mereka berdua inilah yang menyebabkan ada itu bergerak, tidak mandeg.
    Trimakasih untuk elegi yang indah ini, mengenai tiga hal yang harus senantiasa berada bersama agar tidak terjadi kemandegan. Adaku akan senantiasa menjadi ada jika aku terus mengada dan menjadi pengada pula. Belajar filsafat menyadarkan kita untuk selalu menggapai logos. Berarti pula menggapai ada. Berarti pula menggapai mengada dan pengada.
    Seorang guru juga menjadi ada jika ia sekaligus mengada dan pengada. Ia akan dikenal sebagai guru jika senantiasa mendidik para siswa sehingga siswa menjadi pribadi yang mampu membangun logosnya sendiri, sehingga ia pun menjadi pengada ada yang lain. Ini mengingatkan saya juga untuk berhati-hati sebagai guru, sebab sedemikian pentingnya posisi guru itu dapat menentukan sifat ataupun memberi kesempatan murid dalam menggapai logosnya.

    ReplyDelete
  56. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Berhenti berikhtiar karena mengganggap telah mencapai keberhasilan akan memunculkan mitos yang menyebabkan kita menjadi tiada. Ketika diri merasa sudah berhasil, merasa sudah sukses, sudah merasa puas dan kemudian berhenti berikhtiar maka diri telah gagal menggapai logos. Manusia harus terus menerus berusaha menggapai logosnya dan jangan sampai termakan oleh mitosnya. Berhenti berusaha akan membuat diri tidak berkembang, mandeg,dan ajeg. Benarlah sabda Rasulullah SAW bahwa manusia yang merugi adalah yang hari ini tidak lebih baik dari hari kemarin. Manusia harus terus berusaha dan berikhtiar hingga mencapai jannahNya.

    ReplyDelete
  57. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Kami memahami bahwa segala sesuatu itu ada karena ada sesuatu yang menjadikannya ada yaitu pengada. Demikian pula dengan ilmu, kami memahami bahwa saat kami belum belajar maka belum ada ilmu yang kita miliki, setelah kami belajar maka kami memahami ilmu tersebut sehingga ilmu tersebut menjadi ada. Proses pembelajaran ini kami pahami sebagai proses mengada dan kami yang sedang belajar saat itu kami berperan sebagai pengada. Dan proses ada, mengada dan pengada ini harus terus berlanjut untuk mencari ilmu dan pengalaman lainnya sehingga mampu membangun ilmu yang dalam dan luas.

    ReplyDelete
  58. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Hidup adalah sebuah siklus antara ada mengada dan pengada. Siklus ini akan terhenti ketika kita dimakan mitos. Kita dianggap dimakan mitos bila kita berhenti, tidak bergerak. Seorang dosen dianggap ada, ketika dia senantiasa mengajar, membimbing, meneliti. maka bisa dikatakan bahwa mengajar, membimbing, meneliti adalah wujud dari mengada dosen. Ketika dosen sudah tidak mengajar, tidak lagi membimbing, tidak lagi meneliti maka hilanglah status dosennya. Maka hilanglah ada dosen itu. Oleh karena itu, hidup kita harus selalu kita gerakkan siklus hidupnya. Kita harus selalu mengada, harus selalu menjadi pengada. Tanpa pengada, tanpa mengada, kita tidak lagi dianggap ada.

    ReplyDelete
  59. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Setiapa perjuangan harus lengkap terdiri dari ada, pengada, dan mengada. Jika hanya ada maka bisa dikatakan tidak ada, harus lengkap ketiga-tiganya. Kadang kita sudah puas dengan yang ada tanpa mau mengada. Pun kita juga kadang sudah puas dan merasa bangga karena sudah pernah ada, mengada, dan pengada. Padahal dalam hidup ini ketiga komponen tersebut harus selalu dilakukan dalam rangka menggapai logos. Jika kita berhenti maka akan terancam dan terjebak mitos, karena mitos itu sungguh lembut dan melenakan.

    ReplyDelete
  60. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Inti dari segala sesuatu yang kita pelajari adalah yang ada dan yang mungkin ada. Setiap ada belum tentu mengada. Jika ada mengada, maka ada itu adalah pengada antara ada, mengada, dan pengada tidak bisa dipisahkan. Sebaik-baik ada adalah pengada, dan karena mengada, maka akan menjadi pengada. Setiap yang mungkin ada merupan sesuatu yang dalam waktunya akan menjadi ada

    ReplyDelete
  61. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Sulit bagi saya untuk memahami elegi mengapai mengada dan pengada ini, tapi saya akan mencoba membuat refleksi sesuai pemahaman saya setelah membaca elegi. Mohon dikoreksi apabila terdapat kesalahan. Mengada dan pengada adalah satu kesatuan yang membentuk ada. Tanpa mengada dan pengada tidak ada ‘ada’.

    ReplyDelete
  62. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Berfilsafat itu artinya berpikir sesuai dengan yang ada dan yang mungkin ada, karena berfilsafat itu pada hakikatnya adalah mengada. Segalanya yang ada dan yang mungkin ada itu bisa dipikirkan, dengan berpikir menandakan bahwa kita itu ada. Setiap orang pasti selalu berpikir setiap waktunya selama masih hidup, bahkan ketika tidak tahu pasti apa yang dipikirkannya saja itu sudah disebut dengan berpikir.

    ReplyDelete
  63. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Setelah mencoba memahami elegi ini, saya belajar bahwa suatu yang ada itu haruslah didahului dengan mengada yang dilakukan pengada. Maka dari itu, pengada selalu diiringi oleh berkarya atau melakukan sesuatu atau yang disebut mengada. Agar dapat terus mengada dan menjadi pengada, maka kita membutuhkan ilmu agar dalam mengada kita melakukan itu dengan benar atau paling tidakberuhasa untuk benar.

    ReplyDelete
  64. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052

    Pada elegi tersebut, dalam kegiatan mengada dan menjadi pengada, maka kita harus mengeggtahui dulu, mempunyai ilmunya dlu. Walaupun secara dzahir kita tidak dapat melihhat, bukan berarti sesautu itu tidak ada. Contohnya hamba dengan Tuhannya, secara dzhir wujudnya tidak kita kenali, bukan berarti Tuhan tidak ada. Tetapi kita yakin dalam hati tentang eksistensinya sebagai pengatur kehidupan adalah sesuatu yang ada

    ReplyDelete
  65. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052

    Rintangan dalam mengada dan menjadi pengada sangatlah berat. Mitos selalu hadir dalam hati dan pikiran, membisikkan dan mengajak kepada pesta pora, padahal tugasmu sebagai penggapai logos belum selesai. Maka akan lama ketika kita menuruti mitos dan mengabaikan usaha dalam menggapai logos, sebagai modal untuk mengada dan menjadi pengada.

    ReplyDelete
  66. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Ada pengada dan mengada adalah satu kesatuan. Ada tidak mungkin ada tanpa pengada, dan pengada tidak bisa mendapatkan ada tanpa mengada. Hal ini menurut saya mempunyai makna pula bahwa untuk mendapatkan sesuatu atau mencapai cita-cita maka kita harus mempunyai niat dan kita berusaha keras jiwa dan raga melakukan sesuatu sebagai jalan menuju cita-cita tersebut. Tidak lah mungkin cita-cita tercapai jika kita tidak mempunyai cita-cita, atau kita tidak berusaha meraihnya.
    Hal yang dapat saya petik dalam elegi ini ,Ada, mengada, dan pengada adalah diri kita sendiri. Setiap orang memikirkan sesuatu, mengerjakannya, mengevaluasi, kemudian memperbaiki kekeliruan yang ada dan meningkatkannya untuk lebih baik maka ia telah membuktikan bahwa dirinya adalah ada, mengada, dan pengada

    ReplyDelete
  67. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Manusia hidup untuk mengada. Salah satu manfaat filsafat adalah sebagai alat mencari kebenaran dari gejala fenomena yang ada, mempertahankan, menunjang dan melawan/berdiri netral terhadap pandangan filsafat lainnya. Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia. Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan. Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan.

    ReplyDelete
  68. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs PMAT C

    Sesuatu itu menjadi ada jika telah mengada sehingga menjadi pengada. Maka antara ada, mengada, dan pengada merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan. Maka sbagai seorang manusia kita akan ada jika telah mengada sehingga menjadi pengada. Kita akan ada sebagai apa adalah pilihan dari mengada kita sehingga kita menjadi pengada seperti apa. Dua orang bisa sama-sama ada, tetapi yang satu bisa ada karena telah melakukan kerusakan sehingga ia menjadi pengrusak dan yang satu ada karena ia melakukan kebaikan.

    ReplyDelete
  69. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Dalam hal ini pada intinya kita tidak boleh cepat puas akan apa yang telah kita dapatkan. Jika kita merasa cepat puas terhadap apa yang kita capai, maka kita akan berheti berkarya. Setelah kita berhenti berkarya maka kita tidak bisa lagi menjadi pengada. Jika kita tidak lagi menjadi pengada tentunya eksistensi kita tidak dapat dinyatakan bahwa kita ada. Keberadaan kita dapat dibuktikan melalui karya-karya kita, sehingga dalam hal ini berkaryalah maka engkau ada. Menurut Rene Deschartes, berpikirlah maka engkau ada. Bila orang sudah tidak mau berpikir, maka ibaratnya orang tersebut sudah mati.

    ReplyDelete
  70. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Atau dapat pula diartikan, untuk mempertahankan keberadaan dan eksistensi kita, untuk membuktikan kalau kita memang ada, maka janganlah merasa cepat berpuas diri. Kita tidak akan pernah ada tanpa terus memperbaiki diri, tanpa pergerakan, tanpa pembuktian yang terus menerus bahwa kita ada.

    ReplyDelete
  71. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi menggapai mengada dan pengada menjelaskan tentang bagaimana kita menjadikan ada dengan mengada dan dengan mengada kita menjadi pengada. Objek filsafat meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Ketika kita menjadikan dari yang mungkin ada menjadi ada, maka kita sedang mengada dan dengan mengada maka kita akan menjadi pengada. Dengan mengada kita berarti melakukan proses mengada, dan mengada merupakan tesis sekaligus antitesis.

    ReplyDelete
  72. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Yang dapat saya pahami dari elegi ini adalah baik ,Ada, mengada, dan pengada adalah diri kita sendiri. Setiap orang memikirkan sesuatu, mengerjakannya, mengevaluasi, kemudian memperbaiki kekeliruan yang ada dan meningkatkannya untuk lebih baik maka ia telah membuktikan bahwa dirinya adalah ada, mengada, dan pengada.

    ReplyDelete
  73. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Tugas manusia di dunia adalah untuk membuktikan keberadaannya. Keberadaan manusia barulah terbukti jika manusia memiliki unsur ada, mengada dan perngada.Ada berarti itu hanya sebatas fisik/material saja, oleh karena itu jika kebaradaan manusia hanya sampai ada saja maka keberadaanya belum lah terbukti, sehigga manusia memerlukan unsur mengada dan pengada.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  74. Assalamualaikum, wr.wb.
    Manusia akan memiliki unsur mengada ketika manusia menggunakan hati dan pikirannya untuk menghasilkan suatu karya. Dan dari sini maka manusia akan berubah dari hanya sekedar ada menjadi pengada. Lalu keberadaannya pun akan terbukti dengan sesungguhnya.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  75. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Hidup di dunia ini sebenarnya terdapat pengada untuk mengadakan sesuatu yang mungkin ada. Sesuatu yang tidak ada di depan kita bukan berarti hal tersebut itu tidak ada dan juga tidak berarti ada. Namun apa yang tidak ada di depan kita itu sesuatu yang mungkin ada. Sesuatu yang mungkin ada akan direalkan oleh pengada agar menjadi ada. Jadi, semua yang ada di dunia ini sesungguhnya berasal dari sesuatu yang mungkin ada kemudian di adakan oleh pengada.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  76. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Tatkala membaca secara runtut mengenai artikel ini penulis dapat pahami, bahwa seseorang menjadi ada –di sini dicontohkan sebagai sosok pengajar, maka kita harus ada unsur pendukung lainnya. Tatkala kita telah melakukan sebuah kecurangan, maka ada pada diri kita harus tersisihkan. Dengan kata lain, tindakan yang harus kita kerjakan dalam “mengada” dalam diri kita harus bersifat jujur. Jujur dalam segahal hal, tatkala ini bisa berjalan maka plagiat atau pemalsuan dalam bentuk apapun.

    ReplyDelete
  77. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Sikap jujur harus dimiliki oleh mereka yang dianggap sebagai orang pembimbing, sebab mereka merupakan sebuah contoh sederhana bagi yang dibimbing. Kita akan mengamini bahwa, guru kecing berdiri maka murid kencing lari. Tatkala guru sudah bersikap tidak baik, maka murid akan melampaui apa yang dilakukan oleh gurunya.

    ReplyDelete
  78. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    Dari elegi menggapai mengada dan pengada diatas, menurut saya pengada itu merupakan sesuatu yang memancing ada untuk menjadi ada dan menjadikan mengada menjadi ada. karena dengan adanya pengada maka mengundang yang lainnya untung ikut bergabung menjadi suatu yang ada dan yang mungkin ada.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  79. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Ada tidak mungkin ada tanpa pengada. Dan pengada tidak bisa mendapatkan ada tanpa mengada.
    Disini menurut saya mempunyai makna pula bahwa untuk mendapatkan sesuatu atau mencapai cita-cita maka kita harus mempunyai niat dan kita berusaha keras jiwa dan raga melakukan sesuatu sebagai jalan menuju cita-cita tersebut.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  80. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Ada, mengada dan pengada merupakan sebuah proses perjalan untuk menggapai sebuah kepentingan. Bagaimana proses sebuah keputusan, ataupunlangkah mencari sebuah ketetapan. Kalau dalam kehidupan sehari-hari seperti perumpamaan tak ada asap jika tak ada api. Jadi apaun setiap kejadian pasti unsur ada, mengada dan pengada ikut ambil serta.Begitu pula dalam ilmu pengetahuan. kalo tidak ada, Ada, pengada dan mengada mungkin tidak akan seperti sekarang ini.

    ReplyDelete
  81. Yuni Pratiwi
    15301241005
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Terimakasih Prof atas tulisannya, elegi ini membuat pola mikir saya semakin indah membuat saya ingin terus tahu apa kelanjutan-kelanjutan dari tulisan blog ini, serta mengajarkan saya untuk tidak puas ketika hanya membaca dan berkomentar satu dua tiga karena sesungguhnya ilmu saya masih dangkal masih dibutuhkan banyak kebiasaan membaca dan terus belajar. Menanggapi tulisan Prof pada blog ini, ada itu tidak mungkin ada tanpa pengada, dan pengada tidak mungkin ada tanpa mengada. Hal ini dapat diartikan bahwa ketika kita ingin mencapai sesuatu hal maka kita harus terus berusaha, jangan sampai kita terlanjur bangga dengan pencapaian kita saat ini karena itu hanya akan menumbuhkan mitos-mitos semata. Sesungguhnya di pencapaian kita kali ini belum seberapa, masih ada pencapaian-pencapaian yang lain yang menunggu kita didepan selahi kita masih berusaha dengan keras.

    ReplyDelete
  82. Monica Ansella
    15301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Sering kali saya puas akan suatu hal yang sebenarnya bukan merupakan akhir dalam target saya. Melalui elegi ini, saya disadarkan bahwa ternyata saya kerap jatuh dalam jebakan mitos sehingga gagal menjadi ada. Elegi ini mengajarkan saya untuk tidak terburu-buru dalam berpuas diri. Perjalanan mencapai mengada dan pengada masih sangat panjang sehingga harus selalu saya usahakan. Namun tidak ada salahnya untuk bersyukur ketika mencapai sebagian kecil dari ada itu karena sebagian ada itu juga merupakan pemberian dari Yang Maha Kuasa. Bersyukur bukan berarti berpesta, tetapi bersyukur untuk pencapaian sebagian ada, yang menandakan masih ada lanjutan untuk menggapai bagian lain dari ada itu.

    ReplyDelete
  83. Puspitarani
    15301244008
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Terima kasih Bapak atas Elegi Menggapai Mengada dan Pengada yang telah Bapak share kepada kami. Setiap diri seseorang bisa menjadi mengada dan pangada. Elegi ini mengajarkan saya untuk tidak berpuas terlebih dahulu dengan semua yang telah kita raih saat ini, karena kita masih mempunyai banyak keinginan untuk lebih baik lagi kedepannya. Masa depan kita masih panjang, apa yang telah kita capai pada hari ini akan memberikan kepuasan tersendiri untuk kita, namun ingatlah masih ada hari esok yang dengan berjalannya waktu kita akan menemukan keinginan-keinginan baru kita, dan keinginan itu ingin kita capai juga. Namun yang perlu ditekankan disini adalah manusia tidak memiliki rasa puas atas apa yang telah dimilikinya, namun manusia harus mensyukuri apa yang telah Allah kasih padanya sedetikpun. Bersyukur karena kita masih diberikan nafas hingga detik ini, bersyukur masih diberikan kesehatan hingga detik ini, dan bersyukur untuk semuanya.

    ReplyDelete
  84. Aji Pangestu
    15301241009
    S1-Pendidikan Matematika I 2015

    Dari elegi ini, saya belajar bahwa sebagai manusia, kita tidak boleh memiliki rasa cepat puas dengan apa yang kita capai, karena apa yang kita raih saat ini masih belum cukup untuk hidup kita ke depannya.

    ReplyDelete