Jul 31, 2010

Elegi Menggapai Lengkap

Oleh Marsigit

Obyek pikir:
Wahai lengkap, siapakah diriku itu? Apakah keadaanku itu memenuhi kelengkapan? Mengapa banyak orang memikirkan diriku beraneka ragam?



Lengkap:
Aku saat ini sedang memikirkanmu sebagai tidak lengkap. Senyatanya aku tidaklah mampu memikirkan dirimu secara lengkap. Itulah keterbatasanku. Tetapi keterbatasanku itu juga keterbatasanmu.

Obyek pikir:
Mengapa engkau menampakkan diri. Bahkan lebih dari itu? Mengapa engkau mengaku-aku dapat menjamin kelengkapanku.

Lengkap:
Itulah hakekat yang ada dan yang mungkin ada. Jika aku adalah yang mungkin ada, mengapa engkau musti protes tentang keberadaanmu. Ketahuilah wahai obyek pikir, bahwa diriku itu juga bernasib sepertimu juga. Aku tidak lain tidak bukan juga merupakan obyek pikir. Aku sepertimu juga, yaitu yang ada dan yang mungkin ada. Tetapi aku sekaligus juga merupakan metode berpikir. Aku merupakan kelengkapan atau penyeimbang dari adanya reduksi. Tugasku adalah mengawasi reduksi. Maka jika aku biarkan reduksi itu berkeliaran, itulah sebenar-benar dirimu semua. Karena engkau semua akan binasa dimangsa oleh reduksi. Maka sebetulnya fungsiku adalah menjaga dirimu semua.

Obyek pikir:
Oh maafkan aku, jika aku telah lancang terhadapmu. Tetapi mengapa engkau bersifat kontradiksi. Suatu saat engkau mengharuskan diriku untuk menggapai lengkap, tetapi suatu saat engkau selalu mengakui tidak akan pernah diriku itu menggapai lengkap. Maka manakah dirimu itu yang dapat aku percaya?

Lengkap:
Itulah sebenar-benar dirimu. Manusia itu pada hakekatnya terbatas dalam semua hal. Aku bagi dirimu adalah kontradiksi, padahal bagi diriku aku tidaklah kontradiksi. Itulah kodratnya. Itulah batas pikiranmu. Tetapi agar engkau mempunyai gambaran bagaimana sulitnya menggapai lengkap, maka undanglah teman-temanmu kemari. Aku akan berikan penjelasan secukupnya kepada engkau semua.

Kubus:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai kubus mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku dapat menyebutkan berbagai sifatku antara lain sebagai kubus yang indah, mahal, murah, buruk, besar, kecil, terbuat dari kayu, terbuat dari besi, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai bentuk dan ukurannya saja. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan. Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Bola:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai bola mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku dapat menyebutkan berbagai sifatku antara lain sebagai bola yang indah, mahal, murah, buruk, besar, kecil, terbuat dari kayu, terbuat dari besi, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai bentuk dan ukurannya saja. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Guru matematika:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai guru matematika mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku sebagaiguru matematika dapat menyebutkan sifat-sifatku sebagai guru matematika yang gemuk, kurus, cantik, tampan, kaya, miskin, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai dari sisi kompetensi mendidik dan hubunganku dengan subyek didik dan pendidikan matematika. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Mahasiswa:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai mahasiswa mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku sebagai mahasiswa dapat menyebutkan sifat-sifatku sebagai mahasiswa yang gemuk, kurus, cantik, tampan, kaya, miskin, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan dari sisi kompetensi belajarku dan hubunganku dengan tugas-tugasku sebagai mahasiswa dan dunia mahasiswaku. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Siswa:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai siswa mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku sebagai siswa dapat menyebutkan sifat-sifatku sebagai siswa yang gemuk, kurus, cantik, tampan, kaya, miskin, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai nilai UAN. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Bilangan:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai bilangan mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku dapat menyebutkan berbagai sifatku antara lain sebagai bilangan yang indah, mahal, murah, buruk, besar, kecil, terbuat dari kayu, terbuat dari besi, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai nilai saja. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Dosen:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai dosen mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku sebagai dosen dapat menyebutkan sifat-sifatku sebagai dosen yang gemuk, kurus, cantik, tampan, kaya, miskin, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan kompetensi mengajarku dan hubunganku dengan tugas-tugasku sebagai dosen dan dunia dosenku. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Diskusi:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai diskusi mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Aku bisa menyebutkan sifat-sifatku sebagai diskusi yang mahal, murah, seru, heboh, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai diskusi yang baik. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Doa:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai doa mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Aku bisa menyebutkan sifat-sifatku sebagai doa yang mahal, murah, seru, heboh, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai doa yang khusuk. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Lengkap:
Wahai semua obyek pikir, kubus, bola, guru matematika, mahasiswa, siswa, bilangan, dosen, diskusi, doa, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi...
Wahai semua obyek pikir, kubus, bola, guru matematika, mahasiswa, bilangan, dosen, diskusi, doa, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Iba rasa hatiku menyaksikanmu dan juga menyaksikanku. Mengapa? Karena yang engkau akui sebagai kekuatanmu itu sebenarnya adalah kelemahanmu. Dengan bangganya dan sombongnya engkau selalu katakan “......dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku”. Itulah sebenar-benar kelemahanmu dan juga kelemahanku. Mengapa?
Jikalau engkau semua memang bermaksud menggapai lengkap, mengapa engkau sendiri tidak bisa lengkap menyebutkan semua sifat-sifatmu itu? Mengapa engkau musti selalu berkata “...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku”. Bukankah itu bukti bahwa tiadalah ada satu obyek pikirpun dapat aku pikirkan sebagai lengkap. Sebenar-benar lengkap adalah lengkap absolut. Itulah kelengkapan hanya milik Tuhan YME.

Semua obyek pikir bersama-sama berkata:
Wahai lengkap ampunilah aku semua. Karena kepicikanku semua itulah aku telah berbuat tidak bijaksama terhadap ketentuanmu. Tetapi bukankah engkau tahu bahwa kami semua selalu terancam oleh reduksi. Kami semua benar-benar merasa ketakutan, terhadap perilaku reduksi. Terus bagaimanakan solusinya?

Orang tua berambut putih:
Wahai lengkap. Wahai reduksi. Dan wahai semua obyek pikir. Ingatlah bahwa lengkap dan reduksi itu juga obyek pikir. Jadi ketentuan bagi obyek pikir berlaku juga bagi lengkap dan reduksi. Maka dengarkanlah semua nasehatku ini.
Ketahuilah bahwa karena keterbatasan manusia, maka dia hanya mampu memikirkan sebagian saja dari yang ada dan yang mungkin ada. Oleh karena itu maka manusia dibekali dengan metode berpikir reduksi. Sejak lahir hingga mati, semua manusia menggunakan metode reduksi. Sebetul betulnya reduksi adalah metode untuk terbebas dari jebakan ruang dan waktu.
Ketahuilah bahwa tiadalah mudah menerima bagi suatu obyek pikir untuk dihilangkan atau dieliminasi sebagian atau beberapa sifat-sifatnya. Maka itulah kodratnya bahwa manusia diberi karunia untuk selalu berikhtiar agar dapat melengkapi hidupnya. Namun ketahuilah bahwa karena keterbatasan manusia maka manusia tidak dapat lengkap memeikirkan dirinya dan juga memikirkan obyek pikirnya. Itulah kodrat Nya.
Maka dapat aku katakan bahwa sebenar-benar hidup adalah menjaga keseimbangan antara reduksi dan lengkap. Sebenar-benar reduksi adalah sesuai ruang, waktu dan peruntukkannya. Sebenar-benar lengkap adalah idamanmu. Maka bacalah elegi-elegi yang lainnya agar satu dengan yang lainnya selalu dapat dikaitkan. Baca juga khususnya elegi menggapai harmoni.
Demikianlah kesaksian saya. Renungkanlah. Selamat belajar. Semoga sukses. Amien.

25 comments:

  1. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Keterbatasan manusia, keterbatasanku, menemui bahwa manusia, diriku tidaklah lengkap. Pemahamanku tentang diriku sendiri pun jauh dari lengkap. Namun aku merefleksikan bahwa inilah yang membuat aku bisa hidup, bersosial. Aku tidak dapat membayangkan diriku yang memikirkan sesuatu dengan lengkap, aku tak kan berhasil mengkomunikasikan apapun kepada orang lain, sebab tak kan selesai aku menjelaskan segalanya agar lengkap. Di sini reduksi kemudian membuat hidup menjadi lebih seimbang. Aku jadi bersyukur karena diciptakan terbatas. Dengan begini aku bisa menikmati kehidupanku, dan mensyukuri alam semesta yang di luar pikiranku untuk mengetahuinya secara lengkap. Dari situ aku bisa menyadari betapa kecilnya diriku ini, di tengah kemahakuasaan Tuhan.

    ReplyDelete
  2. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Sewaktu membaca elegi menggapai reduksi saya berpikir saya telah menambah ilmu saya, namun ketika membaca elegi menggapai lengkap saya berpikir bahwa ternyata saya masih belum tahu apa-apa, saya masih harus terus membaca dan belajar.
    Manusia mempunyai keterbatasan. Tidak hanya keterbatasan kemampuan, identitas, sifat melainkan juga terbatas dalam memikirkan yang ada dan yang mungkin ada, terbatas karena tidak dapat lengkap memikirkan dirinya dan obyek pikirnya. Maka benarlah firman Allah dalam Q.S Al Baqarah ayat 216 bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang baik dan yang buruk, sedangkan manusia tidak mengetahui.

    ReplyDelete
  3. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Kami memahami bahwa salah satu indikator sempurna adalah lengkap, Lengkap adalah idaman, namun dalam perjalanan kadang terjadi reduksi, jadi dalam menjalani kehidupan ini kami menyadari bahwa sesungguhnya kami harus dan mampu untuk menjaga keseimbangan antara reduksi dan kelengkapan. Sebenar-benar reduksi yang dilakukan secara bijaksana adalah reduksi yang dilakukan sesuai dan tepat dengan ruang, waktu dan peruntukkannya. Sebenar-benar lengkap adalah idaman bagi semua orang. Akan tetapi hal yang kami pahami seseungguh sesuatu yang sudah lengkap itu belum tentu sempurna.

    ReplyDelete
  4. Dewi saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Elegi menggapai lengkap ini mengingatkan kita kembali bahwa apapun yang ada dalam diri kita semuanya mempunyai keterbatasan. keterbatsan itulah yang bisa dikatakn reduksi dari apa yang sudah dianggap lengkap sesuai dengan ruang dan waktunya. Dan untuk menjadi lengkap adalah harapan bagi semua orang, akan tetapi kita harus menyadari hal itu dengan mengimbangi keterbataan-keterbatasa yang dimiliki. Sehingga kita dapat sadar tidak ada yang dapat memnuhi kelengkpan tersebut kecuali Allah, dan manusia hanaya lah dapat terus berusaha untuk menggapai lengkap, bukan menganggap apa yang ada pada diri kita sudah lengkap dan tidak ada keterbatasannya.

    ReplyDelete
  5. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Manusia bukanlah makhluk yang tidak memiliki batas kemampuan. Bahkan cukup mengerikan jika manusia tidak memiliki batas kemampuan. Jika manusia tidak memilki batas kemampuan, manusia bisa melihat makhluk-makhluk gaib yang selama ini tidak bisa kita lihat karena keterbatasan manusia. Jika manusia tidak memiliki batas kemampuan, manusia bisa mendengar jeritan jenazah yang telah dikubur. Sungguh mengerikan. Maka beruntunglah manusia karena memiliki keterbatasan. Karena keterbatasan ini pula, manusia mengembangkan berfikir reduksi. Mereduksi pikiran dan ingatan yang dirasa tidak diperlukan untuk memecahkan suatu masalah.

    ReplyDelete
  6. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Manusia mempunyai batasan-batasan yang tentunya malah akan mempermudah hidupnya. Misalnya dalam mengingat sesuatu, kita pasti ada yang kelupaan suatu saat. Coba misalkan seseorang ingat semuanya, maka hidupnya akan tidak tenang karena selalu kepikiran masa lalu, sehingga jadi susah move on. Secara langsung manusia menggunakan metode reduksi dalam hidupnya, sehingga pada hakekatnya manusia itu tidak akan pernah lengkap, namun menuju lengkap.

    ReplyDelete
  7. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Sudah kodratnya bahwa manusia itu memiliki keterbatasan. Ia tidak akan pernah bisa mengungkap semua yang ada dan yang mungkin ada. Ia tidak akan bisa menyebutkan segala sesuatu dengan lengkap, termasuk menyebutkan sifat-sifat dirinya secara lengkap. Oleh karena itu sejak lahir hingga mati semua orang menggunakan metode reduksi. Dari sini dapat kita ambil hikmahnya bahwa, sebenar-benar kata orang tentang kita, semua itu ia katakan dengan metode reduksi atau apa yang ia pikirkan tentang kita adalah sudah mengalami reduksi, sehingga kita tidak boleh mudah berbangga diri karena sanjungan manusia dan juga sebaliknya kita tidak boleh mudah terpuruk dengan celaan manusia. Sebener-benar yang bisa menilai kita dengan lengkap adalah Allah SWT. Oleh karena itu hendaknya kita tidak perlu risau dengan apa yang akan orang pikirkan tentang kita, tapi risaulah dengan apa yang Allah akan pikirkan tentang kita, bagaimana Allah akan menilai kita, karena hanya Dia yang mampu menilai kita dengan lengkap. Wallahua’lam.

    ReplyDelete
  8. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Manusia hanya bisa memikirkan sesuatu yang ada dan yang mungkin ada, itupun masih dipersingkat lagi, manusia memikirkan sesuatu yang sedang ia pikirkan, sesuatu yang lain ditaruh di rumah epoche dalam memahami reduksi, tentulahh kita memerlukan lengkap, karena keduanya saling ada dan saling kontradiksi

    ReplyDelete
  9. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. manusia memang diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna, namun dalam kesempurnaan tersebut diciptakan pula keterbatasan. Hal tersebut bisa dikatakan sebangai ketidaklengkapan dalam lengkap. Menurut saya hal itu diciptakan agar manusia dapat mensyukuri segala kelengkapan dan keterbatasan yang telah diberikan Allah SWT.

    ReplyDelete
  10. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Pelajaran yang dapat saya ambil dari elegi ini, adalah lengkap dapat dimaknai sebagai sesuatu yang sempurna, semua sifat ada dan melekat, hingga tidak ada yang tidak disebutkan. Tidak ada satupun di sunia ini yang lengkap , pasti ada yang kurang. Sebenar-benar lengkap hanya milik Tuhan. Selain itu, dalam memandang atau melihat sesuatu atau seseorang, hendaklah tidak hanya melihat dari satu sisi saja karena setiap hal memiliki banyak sifat, meski manusia juga memiliki keterbatasan untuk melihat semua sifat itu. Setidaknya, kita bisa menjadi lebih bijaksana dengan melihat sesuatu atau seseorang tidak hanya dari satu sisi saja.

    ReplyDelete
  11. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismuillah, dari elegi ini kembali saya menginstropeksi diri bahwa ternyata saya masih belum tahu apa-apa, saya masih harus terus membaca dan belajar akan banyak hal. Manusia mempunyai keterbatasan, baik kemampuan, identitas, atau keterbatasan dalam memikirkan yang ada dan yang mungkin ada, terbatas karena tidak dapat lengkap memikirkan dirinya dan obyek pikirnya. Sehingga, disinilah kita perlu rendah hati, bahwa kelengkapan yang kita sebebanrnya tidak lah lengkap. Tidak ada satupun di sunia ini yang lengkap, pasti ada yang kurang. Karena sebenar-benar Dzat yang lengkap hanyalah Allah swt. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  12. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052

    Lengkap berarti komplit, padahal sebenar-benar lengkap adalah berbatas ruang dan waktunya. Manusia kesulitan memahami seluruh lengkap jika tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, maka terjadilah reduksi dari lengkap sesuai ruang dan waktunya. Keingintahuan dan keinginan yang lengkap adalah yang mengerti ruang dan waktunya, tujuannya apa, digunakan untuk apa.

    ReplyDelete
  13. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052

    Dari elegi tersebut juga dimaknai bahwa lengkap berarti adalah sebuah idaman. Idaman setiap orang tentunya juga berbeda beda, sehingga lengkap menurut setiap orang juga berbeda-beda. Idaman setiap orang bergantung pada dimensinya, pengetahuannya,dan ilmunya.

    ReplyDelete
  14. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Manusia bukanlah makhluk yang sempurna. Manusia memiliki keterbatasan-keterbatasan dalam setiap dirinya. Pikiran manusiapun juga terbatas. Manusia tidak bisa dan tidak mampu memikirkan semua hal yang ada di dunia ini, hanya dapat memikirkan sebagian saja yang ada. Oleh karena itu maka manusia dibekali dengan metode berpikir reduksi. Sejak lahir hingga mati, semua manusia menggunakan metode reduksi. Sebetul betulnya reduksi adalah metode untuk terbebas dari jebakan ruang dan waktu

    ReplyDelete
  15. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Sebagai tambahan, Lengkap dalam artian sempurna adalah hanya milik Sang Pencipta. Tidak lah mungkin kita lengkap dalam segala hal. Menurut saya lengkap dalam elegi ini adalah bagaimana kita berpikir dengan baik dan sehat. Tidaklah mungkin kita berpikir tentang sesuatu secara menyeluruh karena keterbatasan kita. Lengkap dalam hal ini adalah saling melengkapi. Ilmu pengetahuan adalah hasil pemikiran-pemikiran orang-orang yang didalamnya saling melengkapi sehingga membentuk satu kesatuan dan selama ada yang berpikir maka ilmu akan terus berkembang.

    ReplyDelete
  16. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Elegi diatas menjelaskan tentang kelengkapan alias kesempurnaan yang hanya dimiliki oleh Allah SWT. Dari elegi tersebut kita belajar bahwa kita terbatas dan ilmu pengetahuan itu tidak terbatas dan selalu berkembang. Maka kita boleh berpuas diri dan lelah dalam belajar. ilmu manusia dimata Tuhan Yang Maha Esa, hanya setets air di laut. bisa diayangkan bahwa banyak ketidak tahuan manusia, Jadi tidak boleh sombong dengan pengetahuan yang dimiliki manusia, karena manusia harus selalu belajar dan belajar serta berfikir dalam kehidupan. lengkap untuk ilmu pengetahuan yang seallau berkembang adalah sesuatu yang tidak bisa ditempuh. sehingga tugas kita hanya belajar, belajar dan belajar sampai ajal menjemputnya.

    ReplyDelete
  17. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Manusia adalah makhluk yang sempurna dibalik ketidaksempurnaannya. Namun manusia selalu merasa kurang, ketakutan, iri terhadap segala sesuatu yang dimiliki orang lain, padahal tanpa dia sadari bahwa Tuhan telah menciptakan segala kekurangannya disertai pula dengan segala kelebihan. Terkadang manusia tidak menyadari apa yang dimilikinya karena terlalu sibuk dengan pikiran-pikiran negatif yang menghinggapinya. Lengkap yang mutlak itu hanya milik Tuhan, namun manusia bisa berusaha untuk menggapai lengkap nya dengan terus belajar menjadi pribadi yang lebih berilmu dan beriman.

    ReplyDelete
  18. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Dari elegi diatas dapat dipahami bahwa sebenar-benar reduksi dan lengkap adalah unsuru sebuah keseimbangan. Reduksi harus disesuaikan dengan ruang dan waktunya dan kita sebagai manusia telah diciptakan oleh yang maha kuasa untuk memenuhi kodratnya untuk senantiasa berikhtiar memenuhi kelengkapan hidup

    ReplyDelete
  19. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Manusia diciptakan dengan kodrat memiliki banyak keterbatasan. Manusia yang paling cerdas sekalipun tidak akan bisa menggapai segalanya yang ada. Sudah menjadi garisan bahwa manusia tidak bisa memikirkan semuanya yang ada dan yang mungkin ada.
    Oleh karena itu, seharusnya manusia tidak sombong ataupun membanggakan diri, karena apa yang diketahuinya tidaklah seberapa. Kelengkapan dan kesempurnaan hanya milik Allah SWT, Lengkap milik manusia masih relatif terhadap ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  20. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang terbatas, yang tidak sempurna. Sehingga ia hanya akan mampu mengenali sebagian sifat dari segala yang ada dan mungkin ada. Yang mengetahui semua sifatnya secara lengkap hanyalah Tuhan YME. Ketika kita memikirkan lengkap, itu hanya terjadi di dalam pikiran saja karena sampai disitulah batas dia mampu memikirkannya
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  21. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Idaman merupakan sebnar-benanrya lengkap dalam hidup kita. Karena kelengkapas kita itu sesuai dengan dimana kita semua. Sehingga idaman dari masing-masing orang itu berbeda. Hal ini memberikan makna bahwa lengkap bagi masing-masing individu itu juga tidak sama. Hal ii dikarenakan kita mengartikannya berdasarkan apa yang ada di dalam ruang dan waktu.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  22. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    “Sebenar-benar reduksi adalah sesuai ruang, waktu dan peruntukkannya. Sebenar-benar lengkap adalah idamanmu.” Kalimat ini menjalaskan bagaiman ilmu akan bermanfaat tatkala melihat unsure itu terjadi, baik ruang, waktu serta peruntukkannya. Melainkan satu tindakan ini maka ilmu yang sebagai jalan hidup manusia akan menjadi sebuah tindakan Cuma-Cuma. Sayangnya, sedikit orang yang memahami ilmu dalam kehidupan menggunakan tiga komponen tersebut, maka banyak orang yang memiliki kekurangan dan kelebihan satu sama lain. Dengan tindakan ini, kita harus saling menghargai satu sama lain dan saling melengkapi dalam kehidupan ini.

    ReplyDelete
  23. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    pada hakekatnya manusia tidak bisa berfikir secara lengkap, otak manusia tidak bisa memikirkan hal yang banyak secara bersamaan. itulah keterbatasan yang dimiliki manusia, mereka hanya memikirkan sebagian hal yang mampu mereka pikir. sebagian lagi dipikir oleh manusia yang lain yang bisa mengerjakan bagian tersebut. semua yang lengkap tidak dimiliki oleh manusia tetapi hanya milik Tuhan.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  24. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Lengkap merupakan hal yang perfect atau sempurna, dalam kehidupan ini pemilik lengkap yang absolut hanyalah milik Allah SWT. Makhluk Tuhan tidak ada yang sempurna. Semua memiliki keterbatasan, dimana keterbatasan itu meliputi obyek pikir yang diantaranya bersifat reduksi. Oleh karena itu, keterbatasan obyek pikir, kelengkapan yang bersifat reduksi dari manusia merupakan salah satu cara untuk berikhtiar melengkapi hidupnya.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  25. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Elegi menggapai lengkap. Dalam kehidupan setiap manusia pasti ingin memiliki sesuatu yang lengkap sesuai dengan harapan dan keinginan. Namun manusia memiliki banyak kekurangan untu bisa lengkap dalam semua hal, oleh karena itu sbagai manusia yang penuh kekurangan kita sebaiknya sadar dan tawakal terhadap apa yang telah kita miliki tanpa memaksakan untuk lengkap dalam segala hal.

    ReplyDelete