Jul 31, 2010

Elegi Menggapai Lengkap

Oleh Marsigit

Obyek pikir:
Wahai lengkap, siapakah diriku itu? Apakah keadaanku itu memenuhi kelengkapan? Mengapa banyak orang memikirkan diriku beraneka ragam?



Lengkap:
Aku saat ini sedang memikirkanmu sebagai tidak lengkap. Senyatanya aku tidaklah mampu memikirkan dirimu secara lengkap. Itulah keterbatasanku. Tetapi keterbatasanku itu juga keterbatasanmu.

Obyek pikir:
Mengapa engkau menampakkan diri. Bahkan lebih dari itu? Mengapa engkau mengaku-aku dapat menjamin kelengkapanku.

Lengkap:
Itulah hakekat yang ada dan yang mungkin ada. Jika aku adalah yang mungkin ada, mengapa engkau musti protes tentang keberadaanmu. Ketahuilah wahai obyek pikir, bahwa diriku itu juga bernasib sepertimu juga. Aku tidak lain tidak bukan juga merupakan obyek pikir. Aku sepertimu juga, yaitu yang ada dan yang mungkin ada. Tetapi aku sekaligus juga merupakan metode berpikir. Aku merupakan kelengkapan atau penyeimbang dari adanya reduksi. Tugasku adalah mengawasi reduksi. Maka jika aku biarkan reduksi itu berkeliaran, itulah sebenar-benar dirimu semua. Karena engkau semua akan binasa dimangsa oleh reduksi. Maka sebetulnya fungsiku adalah menjaga dirimu semua.

Obyek pikir:
Oh maafkan aku, jika aku telah lancang terhadapmu. Tetapi mengapa engkau bersifat kontradiksi. Suatu saat engkau mengharuskan diriku untuk menggapai lengkap, tetapi suatu saat engkau selalu mengakui tidak akan pernah diriku itu menggapai lengkap. Maka manakah dirimu itu yang dapat aku percaya?

Lengkap:
Itulah sebenar-benar dirimu. Manusia itu pada hakekatnya terbatas dalam semua hal. Aku bagi dirimu adalah kontradiksi, padahal bagi diriku aku tidaklah kontradiksi. Itulah kodratnya. Itulah batas pikiranmu. Tetapi agar engkau mempunyai gambaran bagaimana sulitnya menggapai lengkap, maka undanglah teman-temanmu kemari. Aku akan berikan penjelasan secukupnya kepada engkau semua.

Kubus:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai kubus mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku dapat menyebutkan berbagai sifatku antara lain sebagai kubus yang indah, mahal, murah, buruk, besar, kecil, terbuat dari kayu, terbuat dari besi, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai bentuk dan ukurannya saja. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan. Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Bola:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai bola mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku dapat menyebutkan berbagai sifatku antara lain sebagai bola yang indah, mahal, murah, buruk, besar, kecil, terbuat dari kayu, terbuat dari besi, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai bentuk dan ukurannya saja. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Guru matematika:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai guru matematika mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku sebagaiguru matematika dapat menyebutkan sifat-sifatku sebagai guru matematika yang gemuk, kurus, cantik, tampan, kaya, miskin, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai dari sisi kompetensi mendidik dan hubunganku dengan subyek didik dan pendidikan matematika. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Mahasiswa:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai mahasiswa mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku sebagai mahasiswa dapat menyebutkan sifat-sifatku sebagai mahasiswa yang gemuk, kurus, cantik, tampan, kaya, miskin, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan dari sisi kompetensi belajarku dan hubunganku dengan tugas-tugasku sebagai mahasiswa dan dunia mahasiswaku. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Siswa:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai siswa mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku sebagai siswa dapat menyebutkan sifat-sifatku sebagai siswa yang gemuk, kurus, cantik, tampan, kaya, miskin, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai nilai UAN. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Bilangan:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai bilangan mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku dapat menyebutkan berbagai sifatku antara lain sebagai bilangan yang indah, mahal, murah, buruk, besar, kecil, terbuat dari kayu, terbuat dari besi, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai nilai saja. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Dosen:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai dosen mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku sebagai dosen dapat menyebutkan sifat-sifatku sebagai dosen yang gemuk, kurus, cantik, tampan, kaya, miskin, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan kompetensi mengajarku dan hubunganku dengan tugas-tugasku sebagai dosen dan dunia dosenku. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Diskusi:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai diskusi mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Aku bisa menyebutkan sifat-sifatku sebagai diskusi yang mahal, murah, seru, heboh, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai diskusi yang baik. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Doa:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai doa mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Aku bisa menyebutkan sifat-sifatku sebagai doa yang mahal, murah, seru, heboh, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai doa yang khusuk. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Lengkap:
Wahai semua obyek pikir, kubus, bola, guru matematika, mahasiswa, siswa, bilangan, dosen, diskusi, doa, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi...
Wahai semua obyek pikir, kubus, bola, guru matematika, mahasiswa, bilangan, dosen, diskusi, doa, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Iba rasa hatiku menyaksikanmu dan juga menyaksikanku. Mengapa? Karena yang engkau akui sebagai kekuatanmu itu sebenarnya adalah kelemahanmu. Dengan bangganya dan sombongnya engkau selalu katakan “......dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku”. Itulah sebenar-benar kelemahanmu dan juga kelemahanku. Mengapa?
Jikalau engkau semua memang bermaksud menggapai lengkap, mengapa engkau sendiri tidak bisa lengkap menyebutkan semua sifat-sifatmu itu? Mengapa engkau musti selalu berkata “...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku”. Bukankah itu bukti bahwa tiadalah ada satu obyek pikirpun dapat aku pikirkan sebagai lengkap. Sebenar-benar lengkap adalah lengkap absolut. Itulah kelengkapan hanya milik Tuhan YME.

Semua obyek pikir bersama-sama berkata:
Wahai lengkap ampunilah aku semua. Karena kepicikanku semua itulah aku telah berbuat tidak bijaksama terhadap ketentuanmu. Tetapi bukankah engkau tahu bahwa kami semua selalu terancam oleh reduksi. Kami semua benar-benar merasa ketakutan, terhadap perilaku reduksi. Terus bagaimanakan solusinya?

Orang tua berambut putih:
Wahai lengkap. Wahai reduksi. Dan wahai semua obyek pikir. Ingatlah bahwa lengkap dan reduksi itu juga obyek pikir. Jadi ketentuan bagi obyek pikir berlaku juga bagi lengkap dan reduksi. Maka dengarkanlah semua nasehatku ini.
Ketahuilah bahwa karena keterbatasan manusia, maka dia hanya mampu memikirkan sebagian saja dari yang ada dan yang mungkin ada. Oleh karena itu maka manusia dibekali dengan metode berpikir reduksi. Sejak lahir hingga mati, semua manusia menggunakan metode reduksi. Sebetul betulnya reduksi adalah metode untuk terbebas dari jebakan ruang dan waktu.
Ketahuilah bahwa tiadalah mudah menerima bagi suatu obyek pikir untuk dihilangkan atau dieliminasi sebagian atau beberapa sifat-sifatnya. Maka itulah kodratnya bahwa manusia diberi karunia untuk selalu berikhtiar agar dapat melengkapi hidupnya. Namun ketahuilah bahwa karena keterbatasan manusia maka manusia tidak dapat lengkap memeikirkan dirinya dan juga memikirkan obyek pikirnya. Itulah kodrat Nya.
Maka dapat aku katakan bahwa sebenar-benar hidup adalah menjaga keseimbangan antara reduksi dan lengkap. Sebenar-benar reduksi adalah sesuai ruang, waktu dan peruntukkannya. Sebenar-benar lengkap adalah idamanmu. Maka bacalah elegi-elegi yang lainnya agar satu dengan yang lainnya selalu dapat dikaitkan. Baca juga khususnya elegi menggapai harmoni.
Demikianlah kesaksian saya. Renungkanlah. Selamat belajar. Semoga sukses. Amien.

14 comments:

  1. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Terima kasih atas ilmu yang disampaikan. Dari elegi diatas saya belajar mengenai lengkap dan ada kalitannya dengan reduksi. Jika berbicara tentang lengkap didunia ini tidak ada yang lengkap, yang ada hanya menggapai saja. Mengapa demikian? Karena apa yang ada dan yang mungkin ada dari obyek pikir kita itu sesungguhnya telah mengalami reduksi. Penyederhanaan sifat aslinya, sehingga hanya beberapa sifat saja yang dimunculka, ini kekurangan reduksi.
    Sedangkan hakikat lengkap hanya milik Allah Ta’ala. Sehingga yang perlu kita ikhtiarkan karena kita tidak bisa mencapai lengkap itu maka kita tetap berusaha menggapainya dengancara banyak membaca dan belajar kontinu tanpa henti.

    ReplyDelete
  2. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Manusia adalah makhluk yang terbatas dan tidak sempurna. Manusia tidak mampu mengingat seluruh obyek pikir. Oleh karena itu untuk membangun pengetahuan yang baru, manusia mereduksi sebagian obyek pikir lainnya. Manusia dituntut untuk selalu berikhtiar agar mampu menyelaraskan dan menyeimbangkan antara reduksi dan lengkap.

    ReplyDelete
  3. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Saya setuju dengan elegi ini bahwasanya dikarenakan keterbatasan manusia, maka manusia hanya mampu memikirkan sebagian saja dari yang ada dan yang mungkin ada. Oleh karena itu, manusia dibekali dengan metode berpikir reduksi dimana akan terbebas dari jebakan ruang dan waktu.
    Keterbatasan manusia ini menyebabkan manusia tidak dapat lengkap memikirkan dirinya dan juga memikirkan obyek pikirnya. Sebenar-benar hidup adalah menjaga keseimbangan antara reduksi dan lengkap. Sebenar-benar reduksi adalah sesuai ruang, waktu dan peruntukkannya. Sebenar-benar lengkap adalah sesuatu yang diidam-idamkan. Maka janganlah lupa untuk berikhtiar atau berdoa kepada Allah agar hidup menjadi lengkap.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  4. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Manusia dilahirkan dengan berbagai acam kemampuan. Salah satunya adalah kemampuan untuk berpikir. Berpikir sebetulnya tidak terbatas atau ‘infinity’. Tidak terbatas dalam hal ruang dan waktu. Seperti yang Prof. tuliskan pada Elegi Menggapai lengkap di atas. Dapat saya ambil pelajaran bahwa sebagai manusia sudah kodratnya untuk selalu berikhtiar mengharap ridhoNya. Selain itu, sebagai manusia tentu memiliki keterbatasan-keterbatasan sehingga perlu untuk memilih mana yang harus dijadikan sebagai obyek pikirnya. Reduksi dan lengkap haruslah dikombinasikan dengan baik agar terciptalah keseimbangan hidup yang lebih baik. Hal yang dapat kita lakukan sebagai manusia yaitu mempelajari ilmu-ilmu yang ada kemudian mengaplikasikan yang baik dalam kehidupan kita.

    ReplyDelete
  5. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Uraian di atas menjelaskan bahwa yang dipikirkan oleh manusia hanyalah penyederhanaan dari seluruh sifat objek. Pikiran manusia itu terbatas dan tidak mungkin memikirkan seluruh sifat suatu objek secara lengkap. Inilah yang disebut reduksi objek pikiran. Saya sepakat dengan Pak Marsigit bahwa sebenar-benar hidup adalah menjaga keseimbangan antara reduksi dan lengkap.Namun dalam melakukan reduksi objek pikir tidak sembarangan, karena sebenar-benar reduksi adalah yang sesuai ruang, waktu dan peruntukkannya.

    ReplyDelete
  6. Metia Novianti
    17709251021
    S2 Pendidikan Matematika A 2017
    Manusia dianugerahkan kemampuan untuk berpikir. Berpikir yang dilakukan berada dalam semesta yang ada dan mungkin ada sehingga kemampuan manusia untuk berpikir terbatas. Kita dapat memikirkan sesuatu sesuai konteks dan batas yang dapat kita jangkau. Maka diperlukanlah keseimbangan antara reduksi dan lengkap. Berikhtiarlah kepada Allah SWT agar selalu diberi petunjuk dan agar dilengkapi hidup kita.

    ReplyDelete
  7. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    "Maka dapat aku katakan bahwa sebenar-benar hidup adalah menjaga keseimbangan antara reduksi dan lengkap"
    Keseimbangan. Saya setuju bahwa dalam kehidupan kita sudah semestinya dijalankan secara seimbang. Sebagaimana pentingnya kedua pengetahuan, a priori da a posteriori. Sekali lagi manusi juga merupakan makhluk yang diberikan akal pikir, daya, dan nurani. Beberapa aspek tersebutlah senjata dalam berikhtiar.
    Melalui postingan ini saya kembali belajar bahwa kesombongan, tinggi hati, merasa puas, merasa cukup, merasa lengkap adalah sesuatu yang membuat kita "tidak ada".

    ReplyDelete
  8. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Seperti halnya ilmu pengetahuan yang tak pernah habis digali, maka hakikat lengkap memang tidak sesederhana itu. Keterbatasan pemikiran manusia tentang apa-apa yang ada di muka bumi ini memang sangat jelas karena manusia juga merupakan makhluk ciptaan. Maka kekurangan/kelemahan atau kelebihan/keunggulan setiap manusia yang berbeda-beda diciptakan agar tidak ada manusia yang mengaku sempurna dan lengkap, namun tetap mensyukuri apapun yang dimilikinya.

    ReplyDelete
  9. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Manusia dianugerahi sesuatu yang tidak dimiliki mahluk ciptaan Allah SWT yang lainnya, yakni akal pikiran, dengan akal pikiran tersebut manusia dapat menggunakannya untuk memenuhi kebutuhannya masing-masing sehingga dapat menggapai lengkap
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  10. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Sebanyak-banyaknya manusia berusaha menggapai lengkap, tetap saja manusia masih memiliki keterbatasan-keterbatasan yang menghalanginya untuk menggapai lengkap dengan sempurna karena manusia hanyalah mahluk ciptaan Yang Maha Sempurna.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  11. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi menggapai lengkap, dari elegi tersebut saya belajar bahwa manusia jauh dari kesempurnaan dan terbatas. Oleh karena itu manusia tidak dapat memikirkan seluruh obyek pikir secara lengkap, sehingga manusia dikaruniai lengkap dan reduksi. Maka tugas manusia adalah berikhtiar menjaga keseimbangan antara lengkap dan reduksi, sehingga dapat mencapai lengkap yang sesuai dengan yang diidamkan. Terimakasih.

    ReplyDelete
  12. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Obyek pikir adalah suatu fenomena yang dipikirkan oleh manusia. Pada hakikatnya semua obyek pikir memiliki definisi, karakteristik, dan sifat-sifat masing-masing bahkan lengkap sebagai karunia dari Allah SWT. Namun, keterbatasan manusia memunculkan reduksi terhadap obyek pikir yang dihadapi, namun sesungguhnya reduksi tersebut juga sebuah kodrat manusia dari Allah karena yang absolut menguasai semua adalah Allah SWT. Namun terkadang manusia lupa akan keterbatasannya sehingga beranggapan bahwa kelengkapan telah dimiliki. Sama halnya dengan menggapai ilmu, sesungguhkan ilmu itu sendiri akan mengalami reduksi saat diterima oleh masing-masing manusia.

    ReplyDelete
  13. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah dikaruniai dengan kemampuan berpikir. Namun juga memiliki keterbatasan dalam berpikir itu. Semua objek berpikir yang ada dan mungkin ada tidak akan bisa dipikirkan oleh manusia secara lengkap. Karena kemampuan berpikir manusia adalah metode berpikir reduksi. Berdasarkan elegi di atas, keterbatasan akan hal itu menjadikan manusia tidak akan pernah mencapai lengkap yang sesungguhnya. Karena setinggi-tinggi lengkap adalah lengkap absolut hanyalah milik Allah SWT. Oleh karena itu jangan hanya sibuk mencapai lengkap, agar hidup menjadi sebenar-benar hidup maka menyeimbangkan antara lengkap dan reduksi adalah cara terbaik untuk itu.

    ReplyDelete
  14. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Reduksi itu yang sesuai dengan ruang dan waktu sedangkan lengkap adalah idaman. Maka sebenar- benar manusia itu tidaklah lengkap. Tiadalah manusia yang mampu berpikir lengkap. Karena sebenar-benar manusia terbatas sehingga membutuhkan reduksi. Meskipun begitu setiap manusia dikaruniai akal dan pikiran agar dapat terus berusaha menjadi lengkap meskipun tidak akan pernah menjadi lengkap. Dengan terus berusaha mencapai apa yang tidak mungkin kita capai, kita akan terus berusaha menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

    ReplyDelete