Jul 31, 2010

Elegi Menggapai Lengkap

Oleh Marsigit

Obyek pikir:
Wahai lengkap, siapakah diriku itu? Apakah keadaanku itu memenuhi kelengkapan? Mengapa banyak orang memikirkan diriku beraneka ragam?



Lengkap:
Aku saat ini sedang memikirkanmu sebagai tidak lengkap. Senyatanya aku tidaklah mampu memikirkan dirimu secara lengkap. Itulah keterbatasanku. Tetapi keterbatasanku itu juga keterbatasanmu.

Obyek pikir:
Mengapa engkau menampakkan diri. Bahkan lebih dari itu? Mengapa engkau mengaku-aku dapat menjamin kelengkapanku.

Lengkap:
Itulah hakekat yang ada dan yang mungkin ada. Jika aku adalah yang mungkin ada, mengapa engkau musti protes tentang keberadaanmu. Ketahuilah wahai obyek pikir, bahwa diriku itu juga bernasib sepertimu juga. Aku tidak lain tidak bukan juga merupakan obyek pikir. Aku sepertimu juga, yaitu yang ada dan yang mungkin ada. Tetapi aku sekaligus juga merupakan metode berpikir. Aku merupakan kelengkapan atau penyeimbang dari adanya reduksi. Tugasku adalah mengawasi reduksi. Maka jika aku biarkan reduksi itu berkeliaran, itulah sebenar-benar dirimu semua. Karena engkau semua akan binasa dimangsa oleh reduksi. Maka sebetulnya fungsiku adalah menjaga dirimu semua.

Obyek pikir:
Oh maafkan aku, jika aku telah lancang terhadapmu. Tetapi mengapa engkau bersifat kontradiksi. Suatu saat engkau mengharuskan diriku untuk menggapai lengkap, tetapi suatu saat engkau selalu mengakui tidak akan pernah diriku itu menggapai lengkap. Maka manakah dirimu itu yang dapat aku percaya?

Lengkap:
Itulah sebenar-benar dirimu. Manusia itu pada hakekatnya terbatas dalam semua hal. Aku bagi dirimu adalah kontradiksi, padahal bagi diriku aku tidaklah kontradiksi. Itulah kodratnya. Itulah batas pikiranmu. Tetapi agar engkau mempunyai gambaran bagaimana sulitnya menggapai lengkap, maka undanglah teman-temanmu kemari. Aku akan berikan penjelasan secukupnya kepada engkau semua.

Kubus:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai kubus mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku dapat menyebutkan berbagai sifatku antara lain sebagai kubus yang indah, mahal, murah, buruk, besar, kecil, terbuat dari kayu, terbuat dari besi, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai bentuk dan ukurannya saja. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan. Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Bola:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai bola mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku dapat menyebutkan berbagai sifatku antara lain sebagai bola yang indah, mahal, murah, buruk, besar, kecil, terbuat dari kayu, terbuat dari besi, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai bentuk dan ukurannya saja. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Guru matematika:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai guru matematika mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku sebagaiguru matematika dapat menyebutkan sifat-sifatku sebagai guru matematika yang gemuk, kurus, cantik, tampan, kaya, miskin, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai dari sisi kompetensi mendidik dan hubunganku dengan subyek didik dan pendidikan matematika. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Mahasiswa:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai mahasiswa mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku sebagai mahasiswa dapat menyebutkan sifat-sifatku sebagai mahasiswa yang gemuk, kurus, cantik, tampan, kaya, miskin, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan dari sisi kompetensi belajarku dan hubunganku dengan tugas-tugasku sebagai mahasiswa dan dunia mahasiswaku. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Siswa:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai siswa mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku sebagai siswa dapat menyebutkan sifat-sifatku sebagai siswa yang gemuk, kurus, cantik, tampan, kaya, miskin, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai nilai UAN. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Bilangan:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai bilangan mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku dapat menyebutkan berbagai sifatku antara lain sebagai bilangan yang indah, mahal, murah, buruk, besar, kecil, terbuat dari kayu, terbuat dari besi, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai nilai saja. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Dosen:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai dosen mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku sebagai dosen dapat menyebutkan sifat-sifatku sebagai dosen yang gemuk, kurus, cantik, tampan, kaya, miskin, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan kompetensi mengajarku dan hubunganku dengan tugas-tugasku sebagai dosen dan dunia dosenku. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Diskusi:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai diskusi mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Aku bisa menyebutkan sifat-sifatku sebagai diskusi yang mahal, murah, seru, heboh, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai diskusi yang baik. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Doa:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai doa mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Aku bisa menyebutkan sifat-sifatku sebagai doa yang mahal, murah, seru, heboh, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai doa yang khusuk. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Lengkap:
Wahai semua obyek pikir, kubus, bola, guru matematika, mahasiswa, siswa, bilangan, dosen, diskusi, doa, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi...
Wahai semua obyek pikir, kubus, bola, guru matematika, mahasiswa, bilangan, dosen, diskusi, doa, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Iba rasa hatiku menyaksikanmu dan juga menyaksikanku. Mengapa? Karena yang engkau akui sebagai kekuatanmu itu sebenarnya adalah kelemahanmu. Dengan bangganya dan sombongnya engkau selalu katakan “......dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku”. Itulah sebenar-benar kelemahanmu dan juga kelemahanku. Mengapa?
Jikalau engkau semua memang bermaksud menggapai lengkap, mengapa engkau sendiri tidak bisa lengkap menyebutkan semua sifat-sifatmu itu? Mengapa engkau musti selalu berkata “...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku”. Bukankah itu bukti bahwa tiadalah ada satu obyek pikirpun dapat aku pikirkan sebagai lengkap. Sebenar-benar lengkap adalah lengkap absolut. Itulah kelengkapan hanya milik Tuhan YME.

Semua obyek pikir bersama-sama berkata:
Wahai lengkap ampunilah aku semua. Karena kepicikanku semua itulah aku telah berbuat tidak bijaksama terhadap ketentuanmu. Tetapi bukankah engkau tahu bahwa kami semua selalu terancam oleh reduksi. Kami semua benar-benar merasa ketakutan, terhadap perilaku reduksi. Terus bagaimanakan solusinya?

Orang tua berambut putih:
Wahai lengkap. Wahai reduksi. Dan wahai semua obyek pikir. Ingatlah bahwa lengkap dan reduksi itu juga obyek pikir. Jadi ketentuan bagi obyek pikir berlaku juga bagi lengkap dan reduksi. Maka dengarkanlah semua nasehatku ini.
Ketahuilah bahwa karena keterbatasan manusia, maka dia hanya mampu memikirkan sebagian saja dari yang ada dan yang mungkin ada. Oleh karena itu maka manusia dibekali dengan metode berpikir reduksi. Sejak lahir hingga mati, semua manusia menggunakan metode reduksi. Sebetul betulnya reduksi adalah metode untuk terbebas dari jebakan ruang dan waktu.
Ketahuilah bahwa tiadalah mudah menerima bagi suatu obyek pikir untuk dihilangkan atau dieliminasi sebagian atau beberapa sifat-sifatnya. Maka itulah kodratnya bahwa manusia diberi karunia untuk selalu berikhtiar agar dapat melengkapi hidupnya. Namun ketahuilah bahwa karena keterbatasan manusia maka manusia tidak dapat lengkap memeikirkan dirinya dan juga memikirkan obyek pikirnya. Itulah kodrat Nya.
Maka dapat aku katakan bahwa sebenar-benar hidup adalah menjaga keseimbangan antara reduksi dan lengkap. Sebenar-benar reduksi adalah sesuai ruang, waktu dan peruntukkannya. Sebenar-benar lengkap adalah idamanmu. Maka bacalah elegi-elegi yang lainnya agar satu dengan yang lainnya selalu dapat dikaitkan. Baca juga khususnya elegi menggapai harmoni.
Demikianlah kesaksian saya. Renungkanlah. Selamat belajar. Semoga sukses. Amien.

44 comments:

  1. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D

    Dapat dikatakan sempurna jika di dalam diri manusia terdapat kekurangan dan kelebihan. Setiap manusia berbeda-beda kombinasi kelebihan dan kekurangan. Untuk itulah maka manusia membutuhkan manusia lainnya untuk saling melengkapi sehingga terjadilah harmonisasi antara mereka.

    ReplyDelete
  2. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Elegi menjelaskan tentang kelengkapan.Kelengkatan terhadap obyek pikir di mana kita tidaklah pernah memikirkannya secara lengkap. Karena manusia sejatinya memiliki keterbatasan dan dengan metode berpikirnya yang reduksi maka seseorang itu hanya mampu membayangkan suatu obyek dengan batas tertentu. Mendengar kata lengkap saya ingat teori godel tentang kelengkapan. Teorema tidak lengkap yang pertama yaitu:
    Jika matematika lengkap maka matematika tidak konsisten.

    ReplyDelete
  3. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Kadang manusia tidak sadar diri dengan menganggap bahwa kemampuannya tidak terbatas. Padahal kuasa, tenaga, kemampuan, akal pikiran yang dimiliki manusia ialah terbatas. Dapat dikatakan segalanya yang dimiliki manusia ada batasnya. Jadi manusia tidaklah sempurna karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  4. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Allah SWT memberikan kemampuan berpikir bagi manusia agar manusia mampu mengembangkannya untuk melengkapi ketidaksempurnaannya. Maka untuk melengkapi hidupnya seorang manusia diwajibkan untuk selalu berikhtiar dan berdoa kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  5. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Menurut elegi menggapai kelengkapan ini semua yang menjadi obyek pikir tidaklah pernah dipikirkan secara lengkap oleh seseorang. Karena manusia sejatinya memiliki keterbatasan dan dengan metode berpikirnya yang reduksi maka seseorang itu hanya mampu membayangkan suatu obyek dengan batas tertentu. Kemudian dijelaskan bahwa lengkap itu sendiri tidaklah bisa dikatakan lengkap karena lengkap juga merupakan obyek pikir. Selain itu, saya juga memahami bahwa obyek pikir itu merupakan sesuatu yang lengkap namun manusia yang memikirkannya tidak pernah secara lengkap.

    ReplyDelete
  6. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Setiap manusia pasti menginginkan kehidupan yang lengkap. Manusia pasti selalu berpikir bagaimana menggapai kelengkapan tersebut, namun saat itulah ketidaklengkapan ada pada diri manusia. Karena manusia hanya mampu berpikir pada objek yang terbatas. Manusia hanya bisa berdoa dan berikhtiar kepada Allah swt.

    ReplyDelete
  7. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Manusia hakekatnya terbatas dalam semua hal. Dalam berfikir, berkata, bertindak, bahkan dalam berdo’a pun terbatas. Manusia selalu berdo’a dan berusaha dengan sungguh-sungguh akan tetapi keterbatasan manusia selalu menjadi kendalanya dalam memikirkan objek yang ada dan yang mungkin ada agar terbebas dari ruang dan waktu. Semua orang menginginkan kelengkapan dari hidupnya akan tetapi banyak yang mencari-cari kelengkapan dalam dunianya sampai lupa akan kelengkapan untuk akhiratnya. Maka kita harus selalu berdzikir kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  8. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi menggapai lengkap menceritakan bagaimana kelengkapan menuju kesempurnaan. Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna diantara ciptaan-Nya. Namun tiadalah manusia yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan semata. Setiap manusia pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan, tidak ada alas an bagi kita untuk terlalu membanggakan diri apabila kita memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Begitu pula sebaliknya jika kita mempunyai kekurangan jangan terlalu merendahkan diri. Kekurangan kita adalah alas an untuk kita selalu introspeksi diri dan selalu berjuang untuk meningkatkan kekurangan kita menjadi kelebihan dan untuk selalu mensyukurapa yang Allah berikan kepada kita.

    ReplyDelete
  9. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Sesungguhnya tiada yang sempurna, kesempurnaan itu hanyalah milik Allah. Setiap makhluk selalu mengharap kelengkapan namun selalu saja ada reduksi yang menyertainya karena sebenar-benarnya kehidupan adalah adanya keseimbangan antara kelengkapan dan reduksi sehingga selalu saja ada kaya miskin, baik buruk, pintar bodoh dan seterusnya. Manusia juga dikaruniai kemampuan untuk menyederhanakan semua yang ada dan yang mungkin ada yang menjadi obyek pikirannya. Inilah yang dinamakan kemampuan mereduksi. Kemampuan ini pun juga terbatas. Oleh karena itu, kita harus berpikir reduksi dengan dengan tepat, sesuai dengan ruang dan waktu, kapan, dimana, dan kepada siapa reduksi itu kita lakukan.

    ReplyDelete
  10. Nama : Wisniarti
    NIM : 17709251037
    Kelas : PM B (Pascasarjana)

    "sebenar-benar hidup adalah menjaga keseimbangan antara reduksi dan lengkap. Sebenar-benar reduksi adalah sesuai ruang, waktu dan peruntukkannya. Sebenar-benar lengkap adalah idamanmu".

    Selama ini seringkali terlintas seperti alur elegi ini, "saya bisa kok membuat kue seperti si A, saya bisa kok mengerjakan soal Biologi seperti si B, saya bisa kok membuat hiasan muka seperti si C, saya bisa kok seprti D, E, F, dst. Namun kenapa saya hanya diminta untuk mengajar matematika? Kenapa saya tidak diberikan kesempatan untuk ikut pelatihan P? dst". Setelah membaca postingan ini dan membaca nasehat pada bagian akhir, saya pikir memang hidup ini butuh reduksi bukan untuk menghilangkan atau merendahkan seseorang/sesuatu namun untuk memfokuskan agar bisa menghasilkan sesuatu yang benar-benar bernilai dan mempunyai ciri yang membedakan dengan orang/benda lainnya.

    "Sebenar-benar reduksi adalah sesuai ruang, waktu dan peruntukkannya". Benar sekali. Mungkin saja kita bisa memasak dengan baik sekaligus mampu menyelesaikan soal-soal olimpiade matematika, mungkin saja kita juga mampu berbenah dan menatata ruangan bak arsitek interior, dan kemungkinan-kemungkinan yang lain. Namun, ada kalanya kita tidak membutuhkan semua itu, yang dibutuhkan hanya kemampuan memasak jika di rumah maka tereduksilah kemampuan super menyelesaikan soal olimpiade matematika. Begitupun sebaliknya, mungkin ketika mengajar matematika yang dibutuhkan kemampuan menyelesaikan soal-soal matematika maka tereduksilah kemampuan memasak. Postingan Elegi Menggapai Lengkap ini menyadarkan kita untuk pintar dalam menempatkan sesuatu dengan mereduksi sesuatu yang tidak pada tempat, waktu dan keperluannya. Meski begitu ikhtiar dalam berbagai hal dan doa tetap harus dipupuk agar semakin menjadi manusia yang senantiasa cerdas dalam mereduksi seusai dengan yang diperlukan serta bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

    ReplyDelete
  11. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    S2 Pend Matematika 2017

    Terimakasih bapak postingannya.
    Postingan bapak memberikan nasehat kepada saya agar saya dibekali dengan metode berpikir reduksi. Sejak lahir hingga mati, semua manusia menggunakan metode reduksi untuk terbebas dari jebakan ruang dan waktu. Kodratnya bahwa manusia diberi karunia untuk selalu berikhtiar agar dapat melengkapi hidupnya. Jadi kita harus bisa memilah milah ilmu yang kita gunakan tepat pada tempatnya. Karena dalam hidup tidak semua keahlian/ilmu dapat kita gunakan dalam situasi tertentu.

    ReplyDelete
  12. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Terima kasih atas ilmu yang disampaikan. Dari elegi diatas saya belajar mengenai lengkap dan ada kalitannya dengan reduksi. Jika berbicara tentang lengkap didunia ini tidak ada yang lengkap, yang ada hanya menggapai saja. Mengapa demikian? Karena apa yang ada dan yang mungkin ada dari obyek pikir kita itu sesungguhnya telah mengalami reduksi. Penyederhanaan sifat aslinya, sehingga hanya beberapa sifat saja yang dimunculka, ini kekurangan reduksi.
    Sedangkan hakikat lengkap hanya milik Allah Ta’ala. Sehingga yang perlu kita ikhtiarkan karena kita tidak bisa mencapai lengkap itu maka kita tetap berusaha menggapainya dengancara banyak membaca dan belajar kontinu tanpa henti.

    ReplyDelete
  13. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Manusia adalah makhluk yang terbatas dan tidak sempurna. Manusia tidak mampu mengingat seluruh obyek pikir. Oleh karena itu untuk membangun pengetahuan yang baru, manusia mereduksi sebagian obyek pikir lainnya. Manusia dituntut untuk selalu berikhtiar agar mampu menyelaraskan dan menyeimbangkan antara reduksi dan lengkap.

    ReplyDelete
  14. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Saya setuju dengan elegi ini bahwasanya dikarenakan keterbatasan manusia, maka manusia hanya mampu memikirkan sebagian saja dari yang ada dan yang mungkin ada. Oleh karena itu, manusia dibekali dengan metode berpikir reduksi dimana akan terbebas dari jebakan ruang dan waktu.
    Keterbatasan manusia ini menyebabkan manusia tidak dapat lengkap memikirkan dirinya dan juga memikirkan obyek pikirnya. Sebenar-benar hidup adalah menjaga keseimbangan antara reduksi dan lengkap. Sebenar-benar reduksi adalah sesuai ruang, waktu dan peruntukkannya. Sebenar-benar lengkap adalah sesuatu yang diidam-idamkan. Maka janganlah lupa untuk berikhtiar atau berdoa kepada Allah agar hidup menjadi lengkap.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  15. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Manusia dilahirkan dengan berbagai acam kemampuan. Salah satunya adalah kemampuan untuk berpikir. Berpikir sebetulnya tidak terbatas atau ‘infinity’. Tidak terbatas dalam hal ruang dan waktu. Seperti yang Prof. tuliskan pada Elegi Menggapai lengkap di atas. Dapat saya ambil pelajaran bahwa sebagai manusia sudah kodratnya untuk selalu berikhtiar mengharap ridhoNya. Selain itu, sebagai manusia tentu memiliki keterbatasan-keterbatasan sehingga perlu untuk memilih mana yang harus dijadikan sebagai obyek pikirnya. Reduksi dan lengkap haruslah dikombinasikan dengan baik agar terciptalah keseimbangan hidup yang lebih baik. Hal yang dapat kita lakukan sebagai manusia yaitu mempelajari ilmu-ilmu yang ada kemudian mengaplikasikan yang baik dalam kehidupan kita.

    ReplyDelete
  16. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Uraian di atas menjelaskan bahwa yang dipikirkan oleh manusia hanyalah penyederhanaan dari seluruh sifat objek. Pikiran manusia itu terbatas dan tidak mungkin memikirkan seluruh sifat suatu objek secara lengkap. Inilah yang disebut reduksi objek pikiran. Saya sepakat dengan Pak Marsigit bahwa sebenar-benar hidup adalah menjaga keseimbangan antara reduksi dan lengkap.Namun dalam melakukan reduksi objek pikir tidak sembarangan, karena sebenar-benar reduksi adalah yang sesuai ruang, waktu dan peruntukkannya.

    ReplyDelete
  17. Metia Novianti
    17709251021
    S2 Pendidikan Matematika A 2017
    Manusia dianugerahkan kemampuan untuk berpikir. Berpikir yang dilakukan berada dalam semesta yang ada dan mungkin ada sehingga kemampuan manusia untuk berpikir terbatas. Kita dapat memikirkan sesuatu sesuai konteks dan batas yang dapat kita jangkau. Maka diperlukanlah keseimbangan antara reduksi dan lengkap. Berikhtiarlah kepada Allah SWT agar selalu diberi petunjuk dan agar dilengkapi hidup kita.

    ReplyDelete
  18. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    "Maka dapat aku katakan bahwa sebenar-benar hidup adalah menjaga keseimbangan antara reduksi dan lengkap"
    Keseimbangan. Saya setuju bahwa dalam kehidupan kita sudah semestinya dijalankan secara seimbang. Sebagaimana pentingnya kedua pengetahuan, a priori da a posteriori. Sekali lagi manusi juga merupakan makhluk yang diberikan akal pikir, daya, dan nurani. Beberapa aspek tersebutlah senjata dalam berikhtiar.
    Melalui postingan ini saya kembali belajar bahwa kesombongan, tinggi hati, merasa puas, merasa cukup, merasa lengkap adalah sesuatu yang membuat kita "tidak ada".

    ReplyDelete
  19. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Seperti halnya ilmu pengetahuan yang tak pernah habis digali, maka hakikat lengkap memang tidak sesederhana itu. Keterbatasan pemikiran manusia tentang apa-apa yang ada di muka bumi ini memang sangat jelas karena manusia juga merupakan makhluk ciptaan. Maka kekurangan/kelemahan atau kelebihan/keunggulan setiap manusia yang berbeda-beda diciptakan agar tidak ada manusia yang mengaku sempurna dan lengkap, namun tetap mensyukuri apapun yang dimilikinya.

    ReplyDelete
  20. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Manusia dianugerahi sesuatu yang tidak dimiliki mahluk ciptaan Allah SWT yang lainnya, yakni akal pikiran, dengan akal pikiran tersebut manusia dapat menggunakannya untuk memenuhi kebutuhannya masing-masing sehingga dapat menggapai lengkap
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  21. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Sebanyak-banyaknya manusia berusaha menggapai lengkap, tetap saja manusia masih memiliki keterbatasan-keterbatasan yang menghalanginya untuk menggapai lengkap dengan sempurna karena manusia hanyalah mahluk ciptaan Yang Maha Sempurna.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  22. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi menggapai lengkap, dari elegi tersebut saya belajar bahwa manusia jauh dari kesempurnaan dan terbatas. Oleh karena itu manusia tidak dapat memikirkan seluruh obyek pikir secara lengkap, sehingga manusia dikaruniai lengkap dan reduksi. Maka tugas manusia adalah berikhtiar menjaga keseimbangan antara lengkap dan reduksi, sehingga dapat mencapai lengkap yang sesuai dengan yang diidamkan. Terimakasih.

    ReplyDelete
  23. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Obyek pikir adalah suatu fenomena yang dipikirkan oleh manusia. Pada hakikatnya semua obyek pikir memiliki definisi, karakteristik, dan sifat-sifat masing-masing bahkan lengkap sebagai karunia dari Allah SWT. Namun, keterbatasan manusia memunculkan reduksi terhadap obyek pikir yang dihadapi, namun sesungguhnya reduksi tersebut juga sebuah kodrat manusia dari Allah karena yang absolut menguasai semua adalah Allah SWT. Namun terkadang manusia lupa akan keterbatasannya sehingga beranggapan bahwa kelengkapan telah dimiliki. Sama halnya dengan menggapai ilmu, sesungguhkan ilmu itu sendiri akan mengalami reduksi saat diterima oleh masing-masing manusia.

    ReplyDelete
  24. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah dikaruniai dengan kemampuan berpikir. Namun juga memiliki keterbatasan dalam berpikir itu. Semua objek berpikir yang ada dan mungkin ada tidak akan bisa dipikirkan oleh manusia secara lengkap. Karena kemampuan berpikir manusia adalah metode berpikir reduksi. Berdasarkan elegi di atas, keterbatasan akan hal itu menjadikan manusia tidak akan pernah mencapai lengkap yang sesungguhnya. Karena setinggi-tinggi lengkap adalah lengkap absolut hanyalah milik Allah SWT. Oleh karena itu jangan hanya sibuk mencapai lengkap, agar hidup menjadi sebenar-benar hidup maka menyeimbangkan antara lengkap dan reduksi adalah cara terbaik untuk itu.

    ReplyDelete
  25. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Reduksi itu yang sesuai dengan ruang dan waktu sedangkan lengkap adalah idaman. Maka sebenar- benar manusia itu tidaklah lengkap. Tiadalah manusia yang mampu berpikir lengkap. Karena sebenar-benar manusia terbatas sehingga membutuhkan reduksi. Meskipun begitu setiap manusia dikaruniai akal dan pikiran agar dapat terus berusaha menjadi lengkap meskipun tidak akan pernah menjadi lengkap. Dengan terus berusaha mencapai apa yang tidak mungkin kita capai, kita akan terus berusaha menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  26. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Lengkap dan reduksi adalah dua hal yang beriringan. Semua hal yang Tuhan ciptakan di dunia ini bersifat sempurna dan lengkap. Seperti hal-hal yang disebutkan di atas, yakni kubus, bola, guru matematika, mahasiswa, siswa, bilangan, dosen, diskusi, doa, dan lain-lainnya, sebenarnya kesemua benda itu mempunyai sifat yang lengkap. Tetapi karena keterbatasan seorang manusia, sifat benda yang lengkap itu hanya dapat dibahas beberapa sifat saja sesuai dengan ruang dan waktunya, hal ini mengindikasikan bahwa telah terjadi reduksi. Jadi, tidak ada satu obyek pikirpun di dunia yang dapat dipikirkan secara lengkap. Karena sebenar-benarnya lengkap adalah lengkap absolut, yakni kelengkapan hanya milik Tuhan YME.

    ReplyDelete
  27. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Manusia sebagai makhluk Tuhan yang identik dengan ketidak sempurnaan hanya bisa memikirkan segala sesuatu sebagian saja, tidak bisa menyebutkan lengkap, itulah sebabnya manusia berpikir reduksi, yaitu berpikir dengan melihat peruntukkannya. Karena ketika manusia berpikir lengkap maka sesungguhnya tidak akan bisa selesai untuk menjelaskan salah satu dari objek pikir saja. Sehingga kita harus mendekatkan diri kepada Tuhan tak tidak sombong dengan apa yang kita miliki sekarang.

    ReplyDelete
  28. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    Pendidikan Matematika Kelas B(S2)

    Pada hakekarnya manusia merasa terbatas pada banyak hal. Padahal pada hakikatnya manusia adalah makhluk paling sempurna yang memiliki kemampuan berpikir yang tidak terbatas. Tetapi dengan sifat manusia yang hanya melihat keterbatasan sebagai hal yang dianggap palin menonjol dibandingkan dengan kemampuan dan kelebihan lain yang dimiliki. Sehingga hal tersebutlah yang sudah menjadi pemikiran klasik pada manusia jaman sekarang, yang melihat ketercapaian orang tidak secara keseluruhan tetapi mereka membatasi untuk melihat secara utuh. Contohnya saja dalam pembelajaran, kelulusan dahulu hanya ditentukan oleh beberapa mata pelajaran artinnya ini membatasi seseornag. Padahal kemampuan orang berbeda-beda, bisa saja dia tidak berbakat dari mata pelajaran yang diujikan pada UN, tetapi dia berbakat pada pelajaran lain. Tetapi dengan adannya keterbatasan anggapan tersebut membuat manusia tersebut seperti tidak lengkap.

    ReplyDelete
  29. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Setiap manusia mengguanakan akal pikiran untuk melakukan segala sesuatu. Namun akal pikiran tersbut juga ada batasannya, maka diatas diuaikan bagaimana reduksi pemikiran sangat perlu digunakan untuk membebaskan diri dari jebakan ruang dan waktu. Dalam mencapai harmoni, setiap manusia diharapkan bisa menjaga keseimbangan antara reduksi dan lengkap. Pemikiran mana saja yang sebaiknya digunakan. Pemikiran direduksi sesuai, ruang waktu dan tujuannya.

    ReplyDelete
  30. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Setiap manusia, setiap objek yang ada dan yang mungkin ada didunia ini tidaklah ada yang lengkap atau sempurna. Karena absolutnya lengkap dan kesempurnaan hanyalah milik Allah. Karena keterbatasan manusia, maka dia hanya mampu memikirkan sebagian saja dari yang ada dan yang mungkin ada. Oleh karena itu maka manusia dibekali dengan metode berpikir reduksi. Sejak lahir hingga mati, semua manusia menggunakan metode reduksi. Sebetul betulnya reduksi adalah metode untuk terbebas dari jebakan ruang dan waktu. Sebenar-benarnya hidup adalah menjaga keseimbangan antara reduksi dan lengkap. Sebenar-benar reduksi adalah sesuai ruang, waktu dan peruntukkannya. Sebenar-benar lengkap adalah idamanmu.

    ReplyDelete
  31. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  32. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    reduksi dan lengkap, dua hal yang sudah menjadi ketetapan di dunia ini. keduanya harus seimbang, jika terjadi ketimpangan, maka akan terjadi suatu keanehan atau mungkin kekacauan. maka sebanar-benar hidup adalah yang mengalami reduksi dan saling melengkapi.

    ReplyDelete
  33. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Elegi ini memiliki keterkaitan dengan metode berpikir reduksi, karena lengkap adalah lawan reduksi. Manusia harus senantiasa bersyukur karena Allah Subhanahu Wataalah menciptakan manusia berpikir dengan metode reduksi dari awal hidupnya hingga meninggal dunia. Coba kita bayangkan keadaan kita, jika semua tak berhingga kejadian yang ada dan telah kita lewati tetap ada dalam ingatan kita, maka kehidupan kita akan gelisah dan cemas karena bayang-bayang masa yang telah kita lewati. Akan tetapi, tiadalah Allah menciptakan sesuatu kecuali ada kebaikan di dalamnya. Oleh karena itu, sejalan dengan nasehat orang tua berambut putih pada elegi ini, menyeimbangkan antara reduksi dan lengkap adalah sebenar-benar hidup yang sebaiknya kita jalani.

    ReplyDelete
  34. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Manusia memiliki keterbatasan. Karena keterbatasan itulah sesungguhnya manusia itu sebagai tidak lengkap. Yang sebenar-benar lengkap hanyalah Allah SWT. Sebagai manusia ciptaan Allah, kita wajib berusaha menggapai kelengkapan, meskipun kita tidak akan pernah mendapatkan lengkap, setidaknya kita mendekati lengkap. Jangan sampai kita jauh dari usaha menuju kelengkapan, karena dikhawatirkan kita hanya akan bangga dengan kelengkapan sesuai dengan yang diidam-idamkan, bukan kelengkapan yang sesuai dengan usaha kita. Dengan kemampuan berpikir, diharapakan kita dapat mencapai tujuan hidup kita dengan tidak lupa senantiasa berdoa dan berikhtiar.

    ReplyDelete
  35. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Prof
    Lengkap, di dalam hidup ini lengkap merupakan hal yang diharapkan dalam berbagai aspek kehidupan. Namun, ternyata sebenar-benar lengkap adalah hanyalah milik Tuhan. Manusia hanya bisa berusaha menggapai lengkap. Lengkap ada untuk mengawasi reduksi. Karena dalam kehidupan ini manusia selalu melakukan reduksi maka reduksi harus diawasi karena reduksi yang berlebihan akan menghilangkan semua sifat dari yang ada dan yang mungkin ada sehingga perlu diimbangi dengan menggapai lengkap. Jadi hidup untuk melakukan reduksi dan menggapai lengkap.

    ReplyDelete
  36. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Sungguh amat menarik. Karena setiap obyek memiliki sifat yang sangat amat buanyak dan ingin dilihat secara lengkap. Namun, apalah manusia yang hanya mampu memikirkan bahkan kurang dari sebagiannya saja. Terimakasih kepada metode berpikir reduksi karena membantu kami memilih apa yang seharusnya kami pikirkan. Terimakasih Tuhan telah membekali manusia dengan metode berpikir reduksi. Wah, tapi kami ternyata sering menyalahgunakannya. Sengaja menghilangkan suatu sifat sehingga obyek tak ternilai dengan baik, bahkan merasa diholimi. Maafkan kami yang tak menilaimu dengan baik ya obyek, ketahuilah manusia terbatas ini tak dapat memikirkan segala hal maka kami memilih yang ingin kami pikirkan, maka maaf jika yang kami pilih kurang merepresentasikan dirimu wahai obyek. Maaf pula Tuhan, jika kami menyalahgunakan kemampuan kami untuk memilih.
    Sebagaimana tertulis dalam elegi di atas bahwa: "... sebenar-benar hidup adalah menjaga keseimbangan antara reduksi dan lengkap" maka menjaga keseimbangan itu adalah sangat amat penting. Berkaitan dengan harmoni, bagaimana keseimbangan menjadi suatu harmoni yang membuat keindahan hidup terlihat jelas.

    ReplyDelete
  37. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    tidak ada satu hal pun yang sempurna didunia ini. setiap hal pasti memiliki kelemahan dan kelebihan. namun kita sebagai manusia dapat menyeimbangkannya dengan segala hal yang ada pada diri kita. lengkap dan saling melengkapi itulah yang harus kita lakukan untuk menyeimbangkan kelemahan dan kelebihan tersebut.

    ReplyDelete
  38. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih Prof untuk ilmu yang sudah diberikan. Saya menyadari bahwa diri saya sendiri tidak mampu menggapai lengkap. Saat saya merasa lengkap pada satu sisi sejatinya banyak sisi yang lain yang masih kurang namun tertutupi sifatnya. Bagi saya, jika saya dapat memperbaiki dari kekurangan-kekurangan yang ada itu juga merupakan usaha dalam menggapai lengkap relatif. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan upaya mengatasi jebakan yang selalu ada dalam ruang dan waktu. Elegi yang sangat reflektif.

    ReplyDelete
  39. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Lengkap identik dengan sempurna, pas, dan tak ada yang kurang. Seperti pendapat diatas bahwa manusia diberi nikmat jasmani dan rohani untuk selalu berikhtiar, tak luput pula dari doa dan diakhiri dengan tawakal. Akan tetapi kita juga memiliki keterbatasan akal dan pikiran yang tak mampu menembus batas, tetapi kita harus mempercayai akan kuasa-Nya.

    ReplyDelete
  40. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Elegi diatas menjelaskan tentang kelengkapan alias kesempurnaan yang hanya dimiliki oleh Allah SWT. Dari elegi tersebut kita belajar bahwa kita terbatas dan ilmu pengetahuan itu tidak terbatas dan selalu berkembang. Maka kita boleh berpuas diri dan lelah dalam belajar. Keterbasana manusia adalah hal yang memng harus diakui karena manusia tempat nyakhilaf dan juga kurang. Dengan keterbatasan yang ada tersebut kita harusselaalu menginggat yang maha sempurna. Manusia terbatas dalam ruang dan waktu. Namun datiketerbatasan yang dimilliki manusia kita harus selalu saling melengkapi kekurangan yang ada agar tercipta kehidupan yang harmonis dan saling membantu.

    ReplyDelete
  41. Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Dari elegi diatas saya menyadari bahwa objek fikir manusia itu tereduksi, baik itu secara sadar ataupun tidak sadar. Ini dikarenakan kemampuan manusia yang terbatas untuk mengungkap dan mengigat sifat-sifat dari semua objek pikir. Hal ini juga yang harus kita pahami bahwa pandangan setiap manusia akan berbeda, hal ini dikarenakan sifat yang terekam dalam fikiran manusia itu tidak lengkap, sehingga muncul sudut pandang. Semoga kita diberi kebijaksanaan oleh Tuhan sehingga dapat memadang segala sesuatu dari berbagai sudut pandang. Amiin.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  42. Latifah Pertamawati
    S2 PM B
    17709251026

    Bismillaah..
    Setelah membaca elegi diatas, yang dapat saya pikirkan adalah bahwa segala sesuatu itu tidaklah mungkin lengkap dalam pikiran manusia. Keterbatasan manusia dalam berpikir tidak memungkinkan untuk mengandaikan sesuatu yang lengkap, karena selengkap-lengkapnya suatu obyek pikir manusia, pasti masih terdapat beberapa hal yang belum termasuk dalam obyek pikir tersebut yang sebenarnya merupakan sifat dari obyek yang sedang dipikirkan. Maka, sebagai manusia yang tidak sempurna, hendaknya kita tidak terlalu ambisius dan terlalu perfeksionis dalam menjalani kehidupan. Ada kalanya sesuatu itu memang tidak semuanya harus dipikirkan, ada kalanya sesuatu itu tidak harus dimasukkan dalam obyek berpikir. Karena sebaik-baiknya pikiran manusia adalah yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain.

    ReplyDelete
  43. Muh WIldanul Firdaus
    17709251047
    PPs P.Mat C

    Obyek pikir jika berada didalam pikiran manusia akan tereduksi sehingga terbebas dari jeratan ruang dan waktu. Sehingga untuk mencapai lengkap obyek pikir tersebut harus dilekatkan dengan ruang dan waktu. Namun itu saja tidak akan pernah cukup, karena manusia memiliki keterbatasan.

    ReplyDelete
  44. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P. Matematika kelas A 2017

    Assalamualikum Wr. Wb. Dalam konteks kebutuhan sehari-hari, sebagai makhluk ekonomi, manusia tidak akan mungkin menggapai kepuasaan yang hakiki. Dengan kata lain, manusia memiliki kehendeak yang tidak terbatas. Oleh karena itu, menggapai lengkap adalah suatu yang relative tidak mungkin, sebab kelengkapan dalah ketidaklengkapan baru dalam waktu-waktu yang akan datang. Namun, Allah sudah mengatur itu. Itulah sebabnya Islam hadir untuk menghindarkan kita dari fitnah kemiskinan dan fitnah kekayaan.

    ReplyDelete