Jul 31, 2010

Elegi Menggapai Lengkap

Oleh Marsigit

Obyek pikir:
Wahai lengkap, siapakah diriku itu? Apakah keadaanku itu memenuhi kelengkapan? Mengapa banyak orang memikirkan diriku beraneka ragam?



Lengkap:
Aku saat ini sedang memikirkanmu sebagai tidak lengkap. Senyatanya aku tidaklah mampu memikirkan dirimu secara lengkap. Itulah keterbatasanku. Tetapi keterbatasanku itu juga keterbatasanmu.

Obyek pikir:
Mengapa engkau menampakkan diri. Bahkan lebih dari itu? Mengapa engkau mengaku-aku dapat menjamin kelengkapanku.

Lengkap:
Itulah hakekat yang ada dan yang mungkin ada. Jika aku adalah yang mungkin ada, mengapa engkau musti protes tentang keberadaanmu. Ketahuilah wahai obyek pikir, bahwa diriku itu juga bernasib sepertimu juga. Aku tidak lain tidak bukan juga merupakan obyek pikir. Aku sepertimu juga, yaitu yang ada dan yang mungkin ada. Tetapi aku sekaligus juga merupakan metode berpikir. Aku merupakan kelengkapan atau penyeimbang dari adanya reduksi. Tugasku adalah mengawasi reduksi. Maka jika aku biarkan reduksi itu berkeliaran, itulah sebenar-benar dirimu semua. Karena engkau semua akan binasa dimangsa oleh reduksi. Maka sebetulnya fungsiku adalah menjaga dirimu semua.

Obyek pikir:
Oh maafkan aku, jika aku telah lancang terhadapmu. Tetapi mengapa engkau bersifat kontradiksi. Suatu saat engkau mengharuskan diriku untuk menggapai lengkap, tetapi suatu saat engkau selalu mengakui tidak akan pernah diriku itu menggapai lengkap. Maka manakah dirimu itu yang dapat aku percaya?

Lengkap:
Itulah sebenar-benar dirimu. Manusia itu pada hakekatnya terbatas dalam semua hal. Aku bagi dirimu adalah kontradiksi, padahal bagi diriku aku tidaklah kontradiksi. Itulah kodratnya. Itulah batas pikiranmu. Tetapi agar engkau mempunyai gambaran bagaimana sulitnya menggapai lengkap, maka undanglah teman-temanmu kemari. Aku akan berikan penjelasan secukupnya kepada engkau semua.

Kubus:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai kubus mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku dapat menyebutkan berbagai sifatku antara lain sebagai kubus yang indah, mahal, murah, buruk, besar, kecil, terbuat dari kayu, terbuat dari besi, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai bentuk dan ukurannya saja. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan. Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Bola:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai bola mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku dapat menyebutkan berbagai sifatku antara lain sebagai bola yang indah, mahal, murah, buruk, besar, kecil, terbuat dari kayu, terbuat dari besi, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai bentuk dan ukurannya saja. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Guru matematika:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai guru matematika mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku sebagaiguru matematika dapat menyebutkan sifat-sifatku sebagai guru matematika yang gemuk, kurus, cantik, tampan, kaya, miskin, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai dari sisi kompetensi mendidik dan hubunganku dengan subyek didik dan pendidikan matematika. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Mahasiswa:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai mahasiswa mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku sebagai mahasiswa dapat menyebutkan sifat-sifatku sebagai mahasiswa yang gemuk, kurus, cantik, tampan, kaya, miskin, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan dari sisi kompetensi belajarku dan hubunganku dengan tugas-tugasku sebagai mahasiswa dan dunia mahasiswaku. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Siswa:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai siswa mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku sebagai siswa dapat menyebutkan sifat-sifatku sebagai siswa yang gemuk, kurus, cantik, tampan, kaya, miskin, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai nilai UAN. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Bilangan:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai bilangan mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku dapat menyebutkan berbagai sifatku antara lain sebagai bilangan yang indah, mahal, murah, buruk, besar, kecil, terbuat dari kayu, terbuat dari besi, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai nilai saja. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Dosen:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai dosen mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku sebagai dosen dapat menyebutkan sifat-sifatku sebagai dosen yang gemuk, kurus, cantik, tampan, kaya, miskin, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan kompetensi mengajarku dan hubunganku dengan tugas-tugasku sebagai dosen dan dunia dosenku. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Diskusi:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai diskusi mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Aku bisa menyebutkan sifat-sifatku sebagai diskusi yang mahal, murah, seru, heboh, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai diskusi yang baik. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Doa:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai doa mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Aku bisa menyebutkan sifat-sifatku sebagai doa yang mahal, murah, seru, heboh, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai doa yang khusuk. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Lengkap:
Wahai semua obyek pikir, kubus, bola, guru matematika, mahasiswa, siswa, bilangan, dosen, diskusi, doa, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi...
Wahai semua obyek pikir, kubus, bola, guru matematika, mahasiswa, bilangan, dosen, diskusi, doa, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Iba rasa hatiku menyaksikanmu dan juga menyaksikanku. Mengapa? Karena yang engkau akui sebagai kekuatanmu itu sebenarnya adalah kelemahanmu. Dengan bangganya dan sombongnya engkau selalu katakan “......dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku”. Itulah sebenar-benar kelemahanmu dan juga kelemahanku. Mengapa?
Jikalau engkau semua memang bermaksud menggapai lengkap, mengapa engkau sendiri tidak bisa lengkap menyebutkan semua sifat-sifatmu itu? Mengapa engkau musti selalu berkata “...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku”. Bukankah itu bukti bahwa tiadalah ada satu obyek pikirpun dapat aku pikirkan sebagai lengkap. Sebenar-benar lengkap adalah lengkap absolut. Itulah kelengkapan hanya milik Tuhan YME.

Semua obyek pikir bersama-sama berkata:
Wahai lengkap ampunilah aku semua. Karena kepicikanku semua itulah aku telah berbuat tidak bijaksama terhadap ketentuanmu. Tetapi bukankah engkau tahu bahwa kami semua selalu terancam oleh reduksi. Kami semua benar-benar merasa ketakutan, terhadap perilaku reduksi. Terus bagaimanakan solusinya?

Orang tua berambut putih:
Wahai lengkap. Wahai reduksi. Dan wahai semua obyek pikir. Ingatlah bahwa lengkap dan reduksi itu juga obyek pikir. Jadi ketentuan bagi obyek pikir berlaku juga bagi lengkap dan reduksi. Maka dengarkanlah semua nasehatku ini.
Ketahuilah bahwa karena keterbatasan manusia, maka dia hanya mampu memikirkan sebagian saja dari yang ada dan yang mungkin ada. Oleh karena itu maka manusia dibekali dengan metode berpikir reduksi. Sejak lahir hingga mati, semua manusia menggunakan metode reduksi. Sebetul betulnya reduksi adalah metode untuk terbebas dari jebakan ruang dan waktu.
Ketahuilah bahwa tiadalah mudah menerima bagi suatu obyek pikir untuk dihilangkan atau dieliminasi sebagian atau beberapa sifat-sifatnya. Maka itulah kodratnya bahwa manusia diberi karunia untuk selalu berikhtiar agar dapat melengkapi hidupnya. Namun ketahuilah bahwa karena keterbatasan manusia maka manusia tidak dapat lengkap memeikirkan dirinya dan juga memikirkan obyek pikirnya. Itulah kodrat Nya.
Maka dapat aku katakan bahwa sebenar-benar hidup adalah menjaga keseimbangan antara reduksi dan lengkap. Sebenar-benar reduksi adalah sesuai ruang, waktu dan peruntukkannya. Sebenar-benar lengkap adalah idamanmu. Maka bacalah elegi-elegi yang lainnya agar satu dengan yang lainnya selalu dapat dikaitkan. Baca juga khususnya elegi menggapai harmoni.
Demikianlah kesaksian saya. Renungkanlah. Selamat belajar. Semoga sukses. Amien.

13 comments:

  1. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    manusia hanya bisa memikirkan sesuatu yang ada dan yang mungkin ada,
    itupun masih dipersingkat lagi, manusia memikirkan sesuatu yang sedang ia pikirkan,
    sesuatu yang lain ditaruh di rumah epoche
    dalam memahami reduksi, tentulahh kita memerlukan lengkap, karena keduanya saling ada dan saling kontradiksi

    ReplyDelete
  2. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan kodrat terbatas. Yang kita perbuat ataupun yang kita pikirkan tidak perbah bisa mencapai lengkap. Karena kelengkapan absolute hanya milik Allah SWT. Dengan keterbatasannya manusia tidak mampu menjadi lengkap ini, karena itu manusia selalu melakukan reduksi dalam hidupnya.

    ReplyDelete
  3. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Manusia pada hakekatnya merupakan makhluk yang mempunyai keterbatasan. Tidaklah mungkin kita berpikir tentang sesuatu secara menyeluruh karena keterbatasan kita. disini di perlukan reduksi Adalah bijak jika dalam melakukan reduksi tersebut (baik sadar maupun tidak sadar), manusia sopan terhadap ruang dan waktu. Manusia mempunyai peran sendiri-sendiri. Juga tergantung ruang dan waktu. Tak hanya tu, dalam obyek pikiran manusiapun juga punya hakekat sendiri-sendiri. Juga tergantung ruang dan waktu. Maka oleh sebab itulah manusia menempatkan obyek pikir juga harus memperhatikan ruang dan waktu keduanya sehingga jikalau melakukan reduksi (dan pasti melakukan reduksi) maka hal tersebut tidak berpengaruh banyak terhadap hakekat obyek pikir yang sedang dipikirkan saat itu.

    ReplyDelete
  4. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    kita sebagai manusia yang memiliki keterbatasan dalam berpikir. maka dari itu Allah menciptakan pemikiran yang bisa direksi. dengan demikian manusia mampu untuk mengklasifikasikan mana informasi yang mungkin dan tidak mungkin untuk dipertimbangkan. dalam proses berpikir bahwasanya tidak semua akan kita ingat dalam memori. karena sesuatu hal itu bisa jadi ada dan yang tidak mungkin ada,

    ReplyDelete
  5. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Sebenar-benar lengkap adalah idamanmu. “Idamanmu” pada elegi tersebut menyebutkan “mu” pada banyak individu.
    Sudah dapat dipastikan bahwasannya banyak sekali individu yang adal. Sehingga banyak sekali makna idaman yang ada.
    Setiap manusia memaknai idaman sendiri- sendiri sesuai dengan dimensinya.

    ReplyDelete
  6. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu'alaikum. manusia memang diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna, namun dalam kesempurnaan tersebut diciptakan pula keterbatasan. Hal tersebut bisa dikatakan sebangai ketidaklengkapan dalam lengkap. Menurut saya hal itu diciptakan agar manusia dapat mensyukuri segala kelengkapan dan keterbatasan yang telah diberikan Allah SWT.

    ReplyDelete
  7. Fatmawati
    16709251071
    S2 PM.D 2016
    Lengkap adalah sempurna. Kesempurnaan hanyalah milik Allah. Jadi semua yang ada di alam semesta ini (makhluk) hanya bisa berupaya menjadi lengkap. Tidak bisa menjadi lengkap sebenarnya. Dalam upaya tersebut pasti ada ruang kosong sebelum mencapai lengkap. Hal ini lah yang harus disadari oleh obyek pikir. Bahwa di dalam dirinya ada ruang kosong yang mungkin tidak sesuai dengan diri (kontradiksi) atau hal-hal yang tidak bisa ia sebutkan dan jelaskan, yang akhirnya direduksi menjadi bagian yang mewakili. Pesan dan kesimpulan dari orang tua berambut putih, bahwa, ‘sebenar-benar hidup adalah menjaga keseimbangan antara reduksi dan lengkap. Sebenar-benar reduksi adalah sesuai ruang, waktu dan peruntukkannya. Sebenar-benar lengkap adalah idamanmu’. Jadi sebagai manusia atau mahkluk sudah seharusnya kita berupaya untuk menjadi lengkap, memperoleh apa yang diidamkan. Namun tidak pula lupa untuk menyadari bahwa lengkap sesungguhnya hanyalah milik Allah, dan kita hanya bisa berupaya semaksimal mungkin sesuai dengan ruang, waktu dan peruntukannya.

    ReplyDelete
  8. Jeanete Nenabu
    15709251004
    PPS PMAT D 2015

    Manusia sebenarnya terbatas, tanpa disadari, saat mempelajari sesuatu, meskipun dirasa sudah lengkap, tapi sebenarnya masih ada yang kurang karena kegiatan berpikir manusia adalah kegiatan berpikir reduksi. Maka, sebagai manusia yang terbatas belajarlah untuk bersyukur. Sebenar-benarnya lengkap adalah idaman manusia dan sebenar-benarnya reduksi adalah sesuai ruang, waktu dan peruntukannya. bereduksi bukan berarti sengaja tidak melengkapi, namun berusaha untuk menyeimbangkan hidup ke arah kebaikan.

    ReplyDelete
  9. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Hakekat lengkap adalah segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini, keberadaannya bisa didalam maupun diluar pikiran. Manusia memiliki keterbatasan dalam memilikirkan yang ada dan yang mungkin ada, sehingga manusia tidak dapat lengkap memikirkan dirinya dan obyek pikirnya. Karena sebenar-benar lengkap adalah lengkap absolute, yaitu lengkap milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  10. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya. Sempurna karena dibekali akal dan pikiran sejak ia ada di dunia ini. Namun kesempurnaan tersebut tidaklah absolut, karena hal tersebut hanya dimiliki oleh Allah SWT. Manusia masih penuh ketaklengkapan. Walaupun ia memiliki 1000 kelebihan pasti ia memiliki minimal sebuah kelemahan yang ditutupinya. Jika ia tidak mengetahuinya maka ia termasuk ke dalam orang – orang yang sombong.

    ReplyDelete
  11. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Saat saya merenungkan hal elegi menggapai lengkap ini, saya berfikir kita sebagai manusia hanya dapat berusaha untuk menggapai lengkap, namun lengkap kita manusia hanya relatif. Lengkap absolut hanya milik Tuhan YME. Reduksi pikiran kita manusia salah satu yang membuat kita tidak lengkap. Itu salah satu keterbatasan kita.

    ReplyDelete
  12. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saya setuju dengan elegi ini bahwasanya dikarenakan keterbatasan manusia, maka manusia hanya mampu memikirkan sebagian saja dari yang ada dan yang mungkin ada. Oleh karena itu, manusia dibekali dengan metode berpikir reduksi dimana akan terbebas dari jebakan ruang dan waktu. Keterbatasan manusia ini menyebabkan manusia tidak dapat lengkap memikirkan dirinya dan juga memikirkan obyek pikirnya. Oleh karena itu kita harus berikhtiar dan berdoa kepada Allah agar hidup kita menjadi lengkap.

    ReplyDelete
  13. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Manusia sebagai makhluk mempunyai dimensinya sendiri. Tak akan menjangkau dimensinya lebih tinggi. Maka tidak lengkaplah dia sebagai manusia. Objek pikir merupakan hasil dari manusia yang tidak lengkap pula. Kekuatanmu merupakan kelemahanmu, tidaklah perlu sombong akan kekuatanmu. Berpikirlah lebih luas untuk sedikit lebih dekat ke dimensi yang lebih tinggi.

    ReplyDelete