Jul 31, 2010

Elegi Menggapai Awal

Oleh Marsigit

Awal:
Siapa yang dapat menjawab pertanyaanku? Apakah awal itu?



Takdir
Bagiku “awal” adalah takdir. Tuhan telah menciptakan “awal” dari semua kehidupan ini.

Permulaan:
Bagiku awal adalah permulaan. Maka setiap awal adalah permulaan.

Awal:
Wahai permulaan, lalu apakah yang dimaksud dengan “permulaan”

Permulaan:
Bagiku “permulaan” adalah “awal”.

Awal:
Itulah yang disebut lingkaran syaitan. Engkau mendefinisikan “awal” dengan “permulaan” dan mendefinisikan “permulaan” dengan “awal”. Maka aku tidak mempercayaimu.

Tidak Ada:
Bagiku “awal” itu tidak ada. Apapun engkau sebut sebagai awal maka selalu ada hal atau peristiwa yang mendahului. Maka bagiku “awal” itu tidak ada.

Awal:
Wahai “tidak ada” bukankah engkau telah menyebut bahwa “awal” itu tidak ada. Maka itulah kesimpulanmu bahwa “awal” adalah “tidak ada”. Artinya engkau telah mengakui bahwa sebetulnya ada awal, yaitu “tidak ada”.

Tidak Ada:
Jika diriku yaitu “tidak ada” adalah awal bagaimana aku bisa menjelaskannya.

Awal:
Tanyakan saja kepada Immanuel Kant. Dia telah bisa membuktikan menggunakan bahasa sintetiknya bahwa “awal” dan “tidak ada awal” kedua-duannya benar atau kedua-duanya salah.

Ada:
Bagiku "awal" adalah "ada".

Awal:
Wahai "ada", jelaskan bahwa "awal" itu "ada".

Ada:
Itu adalah keyakinanku. Aku yakin bahwa "awal" itu "ada". Sekali yakin tetap yakin. Tidak hanya keyakinanku, tetapi itulah keimananku.

Awal:
Keyakinanmu sama juga dengan keyakinanku. Tetapi di sini aku tidak hanya memerlukan keyakinan, tetapi juga pemikiran. Maka jelaskan keyakinanmu itu pada kesempatan yang lainnya.

Definisi:
Bagiku awal adalah definisi. Maka segala ilmuku itu aku mulai dengan definisi.

Awal:
Berikan contohnya?

Definisi:
Kursi adalah tempat duduk.

Awal:
Wahai definisi, bagaimana engkau bisa mendefinisikan duduk?

Definisi:
Duduk adalah keadaan berada di atas kursi.

Awal:
Itulah yang disebut sebagai lingkaran syaitan. Engkau mendefinisikan “kursi” dengan “duduk”, kemudian mendefinisikan “duduk” dengan “kursi”. Maka engkau tidak dapat dipercaya. Artinya menurutku engkau itu bukan definisi.

Analitik:
Kenalkan aku adalah analitik. Menurutku "awal" adalah "pre-assumption"

Awal:
Apakah yang dimaksud "pre-assumtion"?

Analitik:
Pre-assumption adalah anggapan awal. Dia lebih awal dari definisi. Dia yang lazimnya sudah diketahui oleh banyak orang.

Awal:
Berikan contohnya?

Analitik:
Bagi percakapan sehari-hari maka aku tidak perlu mendefinisikan "kursi". Karena menurut anggapanku semua orang yang termasuk kategori wajar-wajar, atau orang pada umumnya telah mengetahui apa itu kursi.

Awal:
Apa peranan dalam membangun ilmu pengetahuan.

Analitik:
Pre-assumption disebut juga sebagai unsur-unsur primitif dalam setiap pengetahuan. Dia adalah unsur-unsur yang cukup hanya dianggap diketahui begitu saja dan tidak perlu ditanyakan.

Awal:
Contoh kongkritnya?

Analitik:
Dalam matematika misalnya, kita tidak perlu mendefinisikan apa yang disebut sebagai "anggota", "membilang", "bangun", "sama dengan", "urut", "definisi". Maka dalam percakapan sehari-hari juga kita tidak perlu mendefinisikan "adalah".

Pengalaman:
Kenalkan aku adalah pengalaman. Bagiku "awal" adalah "kesadaranku". Maka segala macam pengalamanku bermula dari "kesadaranku".

Sintetik:
Kenalkan aku adalah sintetik. Bagiku "awal" adalah "subyek". Subyek adalah segala-galanya. Jika tikad ada "subyek" maka tidak adalah "predikat". Jika tidak ada subyek dan predikat maka tidak ada sintetik.

Vitalitas:
Kenalkan aku adalah vitalitas. Vitalitas adalah fakta hidupku. Bagiku "awal" adalah "potensi". Tiadalah vitalitas diriku jika tidak ada potensi diriku.

Takdir, Permulaan, Tidak Ada, Definisi, Analitik, Pengalaman, Sintetik, Vitalitas:
Wahai awal, berikan penjelasan kepada diriku agar aku menjadi lebih terang?

Awal:
Perkenankanlah aku juga ingin menyampaikan pemikiranku. Bagiku "awal" adalah "kontradiksi". Aku sendiri bersifat kontradiktif. Jika aku katakan engkau bukan “awal” itu adalah kata-kataku yang tadi. Tetapi kata-kataku yang nanti mungkin berlainan. Karena aku ingin mengatakan bahwa engkau semua itu ternyata adalah “awal” jika aku definisikan bahwa “awal” adalah "keputusanmu". Amiin.

6 comments:

  1. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    “Awal” mempunyai banyak definisi tergantung orang yang memikirkannya. Dalam mendefinisikan sesuatu hendaknya menggunakan kata-kata yang sudah diketahui oleh banyak orang. "Awal" bisa menjadi "kontradiksi". Hal itu terjadi jika sesuatu bukan “awal” adalah kata-kataku yang tadi. Tetapi kata-kataku yang nanti mungkin berlainan karena awal sensitif terhadap ruang dan waktu. Jika aku ingin mengatakan bahwa engkau semua itu ternyata adalah “awal” jika aku definisikan bahwa “awal” adalah "keputusanmu".
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  2. Nama : Wisniarti
    NIM : 17709251037
    Kelas : PM B (Pascasarjana)

    Elegi ini ingin menyampaikan bahwa awalan tak selalu harus terdefinisi atau harus sebagai permulaan. Awalanpun mungkin ada, mungkin tidak ada sesuai dengan keyakinan kita. "Awalan adalah keputusanmu" maksudnya keputusan yang menggiring kita untuk melakukan proses atau kegiatan lainnya untuk mendapatkan yang diinginkan. Jika awalan kita adalah penolakan maka kegiatan melaksanakan proses itupun akan terhambat.

    ReplyDelete
  3. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Awal tergantung dengan pemikiran masing-masing. Setiap hal yang ada di dunia ini pasti mempunyai awal. Tidak tahu kapan awal itu, yang jelas awal di dasarkan pada sudut pandang kita. Tidak jarang kita keliru, sehingga awal yang kita pandang bisa berubah. Inilah batas manusia dalam menggapai awal, sehingga awal tersebut sesungguhnya adalah keputusan masing-masing.

    ReplyDelete
  4. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Setiap manusia memiliki konsep ‘awal’ berdasarkan pemikiran mereka masing-masing. Konsep awal tiap individu ini berbeda-beda, karena mereka membicarakan konsep ‘awal’ dalam ruang dan waktu yang berbeda-beda pula. Awal bagiku, mungkin merupakan akhir bagimu. Awal bagimu, mungkin justru tahap akhir bagiku. Sehingga konsep awal ini bersifat relatif dan berubah-ubah.

    ReplyDelete
  5. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Awal, definisi awal dapat bermacam-macam. Definisi yang beragam tersebut sesuai dengan sudut pandang ruang dan waktu yang digunakan. Jadi, definisi awal sebagai pengalaman, permulaan, “ada”, “tidak ada” dan yang lainnya, itu bukanlah definisi yang salah. Namun, dalam mendefinisikanya harus ada argumen yang jelas sehingga dapat dimengerti. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  6. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    "Perkenankanlah aku juga ingin menyampaikan pemikiranku. Bagiku "awal" adalah "kontradiksi". Aku sendiri bersifat kontradiktif. Jika aku katakan engkau bukan “awal” itu adalah kata-kataku yang tadi. Tetapi kata-kataku yang nanti mungkin berlainan. Karena aku ingin mengatakan bahwa engkau semua itu ternyata adalah “awal” jika aku definisikan bahwa “awal” adalah "keputusanmu". Amiin"

    Sekali lagi, saya menjumpai betapa "kontradiktif" selalu muncul dan mengikuti. Berawal dari sesuatu adalah yang ada dan yang mungkin ada. Muncul keterhubungan hukum ruang dan waktu. Hingga akhirnya muncul "kontradiktif". Pada postingan ini mengangkat tentang hakikat "awal", hingga pada akhirnya terjawab bahwa definisi awal bukanlah hal tunggal. Awal adalah keputusanmu.

    ReplyDelete