Jul 31, 2010

Elegi Menggapai Dimensi




Oleh : Marsigit

Batu:
Jika boleh aku ingin menyampaikan isi hati dan pikiranku. Isi hati dan pikiranku akan aku sampaikan kepada siapapun, didengar ataupun tidak didengar.
Mengapa? Karena selama ini aku mengalami berbagai macam peristiwa, tetapi aku belum pernah memberitahukan kepada siapapun. Selama ini aku mengalami berbagai macam ketidak adilan. Aku mengalami penderitaan. Aku mengalami perakuan buruk. Aku mengalami pelecehan. Aku mengalami penderitaan yang luar biasa. Aku dipukul. Aku dibelah. Aku dipecah. Aku dihancurkan. Aku diledakkan. Aku diserap. Aku disedot oleh akar-akar. Aku ditumbuhi rumput-rumput. Aku disiram air. Aku dijemur di bawah terik matahari. Dan seterusnya. Aku hanya ingin mengetahui apakah nasib yang sama juga dialami oleh tumbuh-tumbuhan. Wahai tumbuh-tumbuhan, apakah engkau mendengar ceritaku ini? Jika engkau mendengar, apakah engkau juga mengalami hal yang sama denganku?

Tumbuh-tumbuhan:
Wahai batu. Sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa saya mendengan semua ceritamu. Aku juga mempunyai bermacam-macam pengalaman. Tetapi pengalamanku sedikit berbeda denganmu. Aku juga mengalami berbagai macam ketidak adilan. Aku mengalami penderitaan. Aku mengalami perakuan buruk. Aku mengalami pelecehan. Aku mengalami penderitaan yang luar biasa. Aku dipukul. Aku dibelah. Aku dipecah. Aku dihancurkan. Aku diledakkan. Aku diserap. Aku disedot oleh akar-akar. Aku ditumbuhi rumput-rumput. Aku disiram air. Aku dijemur di bawah terik matahari. Bahkan aku pernah dipotong, tetapi aku tumbuh kembali.

Batu:
Lalu apakah pengalamanmu yang berbeda dengan pengalamanku?

Tumbuh-tumbuhan:
Walaupun aku mengalami penderitaan hampir sama denganmu, tetapi setidaknya aku pernah andil sebagai sebab penderitaanmu. Bukankah engkau ingat ketika akarku menancap padamu. Goyangan tubuhku telah menentukan apakah engkau berhak memperoleh sinar atau tidak. Aku juga pernah roboh dan menimpa dirimu. Aku juga pernah digunakan orang untuk memukulmu. Aku bisa tumbuh dari kecil menjadi besar, sementara engkau tidak. Aku bisa berbuah sementara engkau tidak. Masih banyak lagi yang belum aku sebutkan. Itulah semua pengalamanku yang berbeda denganmu.

Batu:
Tidak adil. Wahai tumbuh-tumbuhan, mengapa engkau bisa melakukan yang lebih banyak dari diriku. Bahkan engkau bisa menyakiti diriku. Mengapa engkau seakan juga bisa menentukan nasib diriku? Bolehkah aku menirumu? Kalau perlu aku ingin membalas perlakuan burukmu terhadapku.

Tumbuh-tumbuhan:
Itulah sebenar-benar diriku. Dimensi diriku adalah setingkat lebih tinggi dari dimensi dirimu. Itulah kodratku dan juga kodratmu. Aku tidak tahu apakah doa-doaku dan juga doa-doamu dapat merubah nasib kita? Tunggulah batu, aku melihat ada seekor binatang hinggap pada diriku. Saya akan bertanya kepada binatang apakah mereka mempunyai pengalaman yang sama dengan kita atau tidak. Wahai binatang apakah engkau mendengarkan percakapanku dengan batu tadi? Jika engkau mendengarkan, apakah engkau juga dapat menceritakan pengalamanmu?

Binatang:
Wahai batu dan tumbuh-tumbuhan. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku mendengar semua percakapanmu berdua. Aku juga mempunyai pengalaman, tetapi pengalamanku agak berbeda dengan pengalamanmu berdua. Aku tidak banyak mengalami penderitaan. Aku tidak mengalami berbagai macam ketidak adilan. Aku tidak mengalami banyak penderitaan. Aku tidak banyak mengalami perakuan buruk. Aku tidak banyak mengalami pelecehan. Aku tidak banyak mengalami penderitaan yang luar biasa. Aku tidak banyak dipukul. Aku tidak dibelah. Aku tidak dipecah. Aku tidak dihancurkan. Aku tidak diledakkan. Aku tidak diserap. Aku tidak disedot oleh akar-akar. Aku tidak ditumbuhi rumput-rumput. Aku tidak disiram air. Aku tidak dijemur di bawah terik matahari. Tetapi aku selalu dikejar-kejar pemburu. Aku pernah ditembak. Aku pernah dipisahkan dari keluargaku. Namun pengalamn buruk itu tidak seberapa dibanding dengan pengalaman manisku. Aku mempunyai banyak pengalaman manis dan menyenangkan. Aku sering memukul engkau wahai batu dan tanaman. Aku sering menginjak-injak engkau wahai batu dan tanaman. Aku sering mengotori engkau wahai batu dan tanaman. Akulah yang sering memakan buahmu wahai tanaman. Akulah yang sering memakan daun mudamu wahai tanaman. Au juga pernah merobohkanmu. Aku juga pernah menggunakan engkau tanaman untuk memukul engkau batu. Aku gunakan engkau tanaman untuk ayunan permainanku. Aku gunakan engkau batu, untuk loncatan. Aku juga pernah memecahkanmu wahai batu. Aku bisa berlaku apa saja terhadapmu berdua.

Batu dan tumbuh-tumbuhan bersama-sama menjawab:
Tidak adil. Wahai binatang, mengapa engkau bisa melakukan yang lebih banyak dari diriku berdua. Bahkan engkau bisa menyakiti diriku berdua. Mengapa engkau seakan juga bisa menentukan nasibku berdua? Bolehkah aku berdua menirumu? Kalau perlu aku berdua ingin membalas perlakuan burukmu terhadapku.

Binatang:
Itulah sebenar-benar diriku. Dimensi diriku adalah setingkat lebih tinggi dari dimensi tumbuh-tumbuhan. Dan dua tingkat lebih tinggi dari dimensi batu. Itulah kodratku dan juga kodratmu. Aku tidak tahu apakah doa-doaku dan juga doa-doamu dapat merubah nasib kita? Tetapi tunggulah. Kelihatannya ada orang lewat. Aku ingin bertanya kepada orang itu. Wahai manusia apakah engkau mendengarkan percakapanku dengan batu dan tumbuh-tumbuhan tadi? Jika engkau mendengarkan, apakah engkau juga dapat menceritakan pengalamanmu?

Manusia :
Wahai batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku mendengar semua percakapanmu bertiga. Aku juga mempunyai pengalaman, tetapi pengalamanku sangat berbeda dengan pengalamanmu bertiga. Aku mengalami penderitaan, tetapi penderitaanku tidak seperti penderitaanmu bertiga. Aku mengalami berbagai macam ketidak adilan, tetapi bukan ketidak adilan seperti yang engkau alami. Aku mengalami banyak penderitaan, tatapi bukan penderitaan seperti yang engkau alami. Aku banyak mengalami perakuan buruk, tetapi tidak seperti perlakuan buruk yang engkau alami. Aku juga mengalami pelecehan, tetapi bukan pelecehan seperti yang engkau alami. Aku aku juga pernah dipukul. Tetapi aku tidak pernah dibelah. Aku tidak pernah dipecah. Aku tidak pernah dihancurkan. Aku tidak pernah diledakkan. Aku tidak pernah disedot oleh akar-akar. Aku tidak ditumbuhi rumput-rumput. Aku tidak disiram air. Aku tidak dijemur di bawah terik matahari. Tetapi ketahuilah bahwa aku gunakan batu dan batang tanaman untuk menangkap engkau wahai binatang. Aku jadikan engkau wahai tumbuhan dan binatang sebagai makananku. Maka aku bisa berlaku apa saja terhadapmu bertiga.

Batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang bersama-sama menjawab:
Tidak adil. Wahai manusia, mengapa engkau bisa melakukan yang lebih banyak dari diriku bertiga. Bahkan engkau bisa menyakiti diriku bertiga. Mengapa engkau seakan juga bisa menentukan nasibku bertiga? Bolehkah aku bertiga menirumu? Kalau perlu aku bertiga ingin membalas perlakuan burukmu terhadapku.

Manusia:
Itulah sebenar-benar diriku. Dimensi diriku adalah lebih tinggi dari dimensi dirimu semua. Itulah kodratku dan juga kodratmu. Aku tidak tahu apakah doa-doaku dan juga doa-doamu dapat merubah nasib kita? Tetapi tunggulah. Kelihatannya ada orang yang berbeda denganku lewat. Aku ingin bertanya kepada orang itu. Wahai saudaraku siapakah engkau? Apakah engkau mendengarkan percakapanku dengan batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang ini? Jika engkau mendengarkan, apakah engkau juga dapat menceritakan pengalamanmu?

Manusia berilmu:
Wahai batu, tumbuh-tumbuhan, binatang dan saudaraku. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku mendengar semua percakapanmu berempat. Aku juga mempunyai pengalaman, tetapi pengalamanku sangat berbeda dengan pengalamanmu berempat. Aku mengalami penderitaan, tetapi penderitaanku tidak seperti penderitaanmu berempat. Aku mengalami berbagai macam ketidak adilan, tetapi bukan ketidak adilan seperti yang engkau alami. Aku mengalami banyak penderitaan, tatapi bukan penderitaan seperti yang engkau alami. Aku banyak mengalami perakuan buruk, tetapi tidak seperti perlakuan buruk yang engkau alami. Aku juga mengalami pelecehan, tetapi bukan pelecehan seperti yang engkau alami. Aku aku juga pernah dipukul. Tetapi aku tidak pernah dibelah. Aku tidak pernah dipecah. Aku tidak pernah dihancurkan. Aku tidak pernah diledakkan. Aku tidak pernah disedot oleh akar-akar. Aku tidak ditumbuhi rumput-rumput. Aku tidak disiram air. Aku tidak dijemur di bawah terik matahari. Tetapi ketahuilah bahwa aku gunakan batu dan batang tanaman untuk menangkap engkau wahai binatang. Aku jadikan engkau wahai tumbuhan dan binatang sebagai makananku. Maka aku bisa berlaku apa saja terhadapmu bertiga. Wahai saudaraku sesama manusia, aku juga pernah meninggalkanmu sendirian. Aku pernah tidak memberimu hakmu. Aku sering menyuruhmu. Aku selalu mengaturmu. Aku membayar gajimu. Aku sering tak peduli denganmu. Aku sering tidak mendengarkan ucapan dan usulmu. Aku sering bepergian sedangkan engkau aku suruh untuk menjaga di sini. Aku punya banyak teman sedangkan engkau tidak punya teman. Aku punya banyak hiburan sedangkan engkau tidak. Aku punya banyak pengalaman sedangkan engkau tidak. Aku punya banyak keterampilan sedangkan engkau tidak. Aku selalu mengetahui dimana, kapan, kemana, dengan siapa dirimu itu. Seangkan engkau tidak mengetahuiku. Maka sebenar-benar diriku adalah dapat menentukan dirimu semua.

Batu, tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia yang pertama tadi bersama-sama menjawab:
Tidak adil. Mengapa engkau bisa melakukan yang lebih banyak dari diriku berempat?. Bahkan engkau bisa menyakiti diriku berempat. Mengapa engkau seakan juga bisa menentukan nasibku berempat? Bolehkah aku berempat menirumu? Kalau perlu aku berempat ingin membalas perlakuan burukmu terhadapku.

Manusia berilmu:
Itulah sebenar-benar diriku. Dimensi diriku adalah lebih tinggi dari dimensi dirimu semua. Itulah kodratku dan juga kodratmu. Aku tidak tahu apakah doa-doaku dan juga doa-doamu dapat merubah nasib kita? Tetapi inilah kesaksianku. Bahwa untuk engkau saudaraku manusia, maka ikhtiarmu juga merupakan kodratmu. Itulah sebenar-benar keunggulan manusia dari batu, tumbuhan dan binatang. Jika engkau berusaha, maka dimensimu dapat meningkat setara dengan dimensiku, yaitu menjadi orang yang berilmu. Tetapi tunggulah. Kelihatannya ada orang yang berbeda denganku lewat. Aku ingin bertanya kepada orang itu. Wahai saudaraku siapakah engkau? Apakah engkau mendengarkan percakapanku dengan batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang ini? Jika engkau mendengarkan, apakah engkau juga dapat menceritakan pengalamanmu?

Manusia bernurani dan berilmu:
Wahai batu, tumbuh-tumbuhan, binatang dan saudaraku-saudaraku. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku mendengar semua percakapanmu semua. Aku juga mempunyai pengalaman, tetapi pengalamanku sangat berbeda dengan pengalamanmu semua. Aku mengalami penderitaan, tetapi penderitaanku tidak seperti penderitaanmu semua. Aku mengalami berbagai macam ketidak adilan, tetapi bukan ketidak adilan seperti yang engkau alami. Aku mengalami banyak penderitaan, tatapi bukan penderitaan seperti yang engkau alami. Aku banyak mengalami perakuan buruk, tetapi tidak seperti perlakuan buruk yang engkau alami. Aku juga mengalami pelecehan, tetapi bukan pelecehan seperti yang engkau alami. Aku aku juga pernah dipukul. Tetapi aku tidak pernah dibelah. Aku tidak pernah dipecah. Aku tidak pernah dihancurkan. Aku tidak pernah diledakkan. Aku tidak pernah disedot oleh akar-akar. Aku tidak ditumbuhi rumput-rumput. Aku tidak disiram air. Aku tidak dijemur di bawah terik matahari. Tetapi ketahuilah bahwa aku gunakan batu dan batang tanaman untuk menangkap engkau wahai binatang. Aku jadikan engkau wahai tumbuhan dan binatang sebagai makananku, selama itu diijinkan oleh Tuhanku. Maka aku berusaha hidup seimbang dan harmonis. Wahai saudaraku sesama manusia, aku juga pernah meninggalkanmu sendirian, tetapi semata karena aku ingin berdoa dan menuntut ilmu. Aku berusaha jangan sampai tidak memberimu hakmu. Aku berusaha menyuruhmu sesuatu fungsi dan tugasmu. Aku mengaturmu itu memang karena amanah yang diberikan kepadaku. Aku berusaha membayar gajimu dengan tepat. Aku selalu berusaha memperdulikanmu. Aku selalu berusaha mendengarkan ucapan dan usulmu. Jika aku sering bepergian sedangkan engkau aku suruh untuk menjaga di sini, itu adalah semata-mata karena perbedaan tugas kita masing-masing. Aku punya banyak teman dan aku anggap engkau juga teman-temanku. Aku punya banyak hiburan tetapi semata-mata untuk mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Aku punya banyak pengalaman tetapi aku berusaha menggunakannya untuk kemaslahatan umat. Aku mengajak kepada saudara-saudaraku marilah selalu menuntut ilmu baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat, agar kita bisa meningkatkan dimensi kita. Setinggi tinggi dimensi adalah dimensi absolut, yaitu dimensi Tuhan YME. Aku berusaha selalu melantunkan doa-doaku. Doa-doaku itu adalah untuk semuanya. Ya Tuhan limpahkanlah karunia dan hidayah Mu bagi hamba-hambamu ini. Amien.

25 comments:

  1. Raden Muchammad Nurrizal Hasbi Ashshidiqqie
    13301244013
    S1 Pendidikan Matematika C 2013

    Setelah saya membaca wacana di atas saya memberikan komentar bahwa Semua makhluk ciptaan Allah SWT, baik makhluk hidup maupun benda mati, memilki dimensinya masing-masing. Dimensi terendah adalah dimensi yang dimilki oleh benda mati. Makhluk hidup memiliki dimensi yang lebih tinggi dibandingkan dimensi benda mati. Buktinya adalah makhluk hidup dapat melakukan apapun terhadap benda mati sesuka hati mereka. Sedangkan benda mati tidak mempunyai kekuasaan untuk bertindak sesuka hati kepada makhluk hidup, kecuali karena kekuasaan Allah SWT.

    ReplyDelete
  2. Dita Nur Syarafina
    NIM. 16709251003
    PPs Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Elegi ini mengajarkan bahwa kita tidak boleh sombong, karena di atas langit masih ada langit. Masih ada kekuatan besar yang berada di atas kita. Ketika batu sombong, maka rumput merasa lebih hebat darinya. Ketika rumput sombong, binatang lebih hebat darinya, dan begitu seterusnya hingga elegi ini berakhir dengan kehebatan manusia benurani dan berilmu. Maka bagus-bagusnya manusia di dunia ini adalah mereka yang memakai nurani dan ilmunya untuk kebaikan semesta alam. Manusia yang nurani dan ilmunya tak tercela adalah Nabi Muhammad SAW. Rasul Allah yang bahkan mampu memaafkan orang-orang yang berbuat dzalim pada beliau, memakai nuraninya untuk memafkan dan bertindak adil terhadap musuh beliau, menggunakan ilmunya untuk kesejahteraan ajaran Allah SWT.

    ReplyDelete
  3. Yazid Fathoni
    NIM 13301241076
    Pendidikan Matematika C 2013

    Batu (benda mati), tumbuhan, hewan merupakan makhluk yang dimensi serta kodratnya tidak akan berubah. Manusia (secara keseluruhan) dimensi dan kodratnya dapat berubah. Perubahan dimensi dan kodrat ini dapat berubah menjadi lebih tinggi (lebih baik) atau bahkan lebih rendah bahkan dari benda mati sekalipun. Dengan ikhtiar (usaha) untuk menjadi lebih baik dimensi serta kodratnya akan menjadi lebih tinggi, tetapi untuk manusia yang tidak berikhtiar dimensi serta kodratnya akan lebih rendah bahkan dari benda mati sekalipun.

    ReplyDelete
  4. Nur Dwi Laili Kurniawati
    13301241063
    Pendidikan Matematika C 2013

    Keadilan itu bukan berarti harus mendapatkan perlakuan yang sama. Batu tidaklah mungkin mendapat perlakuan yang sama dengan tumbuhan. Sebagaimana tumbuhan tidaklah mungkin mendapat perlakuan yang sama dengan binatang apalagi manusia. Bahkan sesama manusia tidaklah mungkin mendapat perlakuan yang sama. Setiap makhluk yang diciptakan di dunia ini memiliki kodratnya masing- masing. Semua saling melengkapi satu sama lain, tumbuhan tidak lah dapat melakukan penyerbukan jika tidak memperoleh bantuan binatang, manusia atau angin. Sebagaimana binatang tidak dapat memperoleh makanan tanpa tumbuhan. Manusia pun tidak akan ada atasan jikalau tidak ada bawahan. Maka yang terpenting adalah bagaimana setiap makhluk menggunakan keduudkan yang dimilikinya untuk memberikan manfaat dengan ikhlas kepada makhluk lain. Dan manusia sebagai makhluk yang diberi akal pikiran hendaklah berusaha menjadi lebih baik.

    ReplyDelete
  5. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Dimensi merupakan derajat/tingkatan, sehingga semua yang ada dan yang mungkin ada memiliki dimensinya masing-masing,dan satu sama lain akan berbeda-beda.Perbedaan tingkat dimensi tersebut tergantung dari sifat subyek dan kodrat subyek tersebut.Di dalam kehidupan dunia manusia berada dan menempati dimensi yang paling tinggi karena manusia dianugerahi akal sehat untuk dapat berpikir dan hati untuk dapat membangun hubungan spiritualnya dengan Tuhan YME untuk menggapai nurani yang bersih. Namun perlu diingat bahwa manusia yang memiliki ilmu dan nurani yang bersih yang menempati dimensi yang paling tinggi, jika manusia tidak mampu menggunakan akal sehat dan hatinya dengan sebaik-baiknya maka dimensinya akan turun ke dalam dimensi hewan, tumbuhan , bahkan dimensi benda mati.

    ReplyDelete
  6. ANDI SRI MARDIYANTI SYAM
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah
    Assalamu Alaikum Wr. Wb.,

    Sebelum dilahirkan ke dunia, takdir manusia mulai dari rezeki, jodoh, dan ajal telah ditetapkan dan tertulis dengan rapi di Lauhul Mahfudz. Namun, hal itu tidak dimaksudkan sehingga kita hanya pasrah menjalani hidup, karena di sisi lain Sang Maha Pencipta menegeskan, bahwa Ia akan mengubah nasib suatu kaum, jika kaum tersebut mau mengubah nasibnya. Sehingga apa yang kita dapatkan dalam kehidupan ini tergantung dari usaha juga doa kita.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  7. ANDI SRI MARDIYANTI SYAM
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah
    Assalamu Alaikum Wr. Wb.,

    Agar kehidupan kita penuh makna, kuncinya adalah rasa syukur. Karena jika tidak dilandasi rasa syukur maka kita tidak akan pernah merasa bahagia atas apa yang sudah kita punya. Terlebih jika terus membanding-bandingkan apa yang kita punya dengan kepunyaan orang lain. Padahal akan selalu ada langit di atas langit. Maka yakinlah, jika kita bersyukur maka apa yang kita punya akan terus ditambah oleh Sang Maha Kaya. Jika kita kufur, dalam sekejap apa yang kita punya tidak mustahil akan hilang.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  8. Azwar Anwar
    16709251038
    Pendidikan Matematika S2 Kelas B 2016

    Setiap makhluk hidup mempunyai dimensi yang berbeda-beda. Tumbuhan mempunyai dimensi, binatang mempunyai dimensi, manusia mempunyai dimensi, benda mati punya juga berdimensi. Jadi dari semua itu mempunyai fungsi dan tujuan nya berbeda-beda pula. Serta derajat(tingkatan) yang berbeda juga. Makhluk hidup itu satu dengan yang lainnya saling membutuhkan dan saling mengayomi, karena di dalam kehidupan sehari-hari sering bertemu. Maka dari itu yang terpenting adalah bagaimana setiap makhluk menggunakan dimensi yang dimilikinya dapat memberikan manfaat kepada makhluk lain dan saling memberikan keuntungan satu dengan lainnya.

    ReplyDelete
  9. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Dalam filsafat setiap yang ada dan yang mungkin ada itu berdimensi. Begitu pula dengan setiap makhluk ciptaan Tuhan berdimensi. Berdasarkan elegi di atas dapat diketahui bahwa setiap makhluk Tuhan memiliki pengalaman, kelebihan, kekurangan, dan manfaat yang berbeda-beda. Mendapatkan perbuatan baik maupun buruk yang berbeda-beda pula. Melalui pengalaman tersebutlah kita dapat meningkatkan dimensi kita.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  10. Vety Triyana K
    13301241027
    P. Matematika Int 2013

    Kebenaran yang bersifat mutlak hanya dimiliki oleh Tuhan Yang Maha Esa karena sebaik-baiknya dimensi kehidupan adalah kebenaran yang nyata. Orang diciptakan oleh Tuhan dalam keadaan yang berbeda yaitu dalam berbagai keadaan dimensi ruang dan waktu sehingga setiap orang memiliki perbedaan mengalami keadaan atau kondisi, sehingga setiap orang atau dapat dikatakan juga setiap generasi dapat berpotensi memiliki perubahan cara pikir dan cara bertahan hidup, hal ini disebabkan oleh perubahan zaman yang mau tidak mau kita turut mengikutinyan karena waktu akan terus berjalan.

    ReplyDelete
  11. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Allah SWT menciptakan makhluk itu bermacam-macam. Berbagai ciptaan-Nya tersebut diciptakan dengan karakteristik yang berbeda-beda serta tingkatan dimensi yang berbeda pula. Manusia menempati dimensi yang paling tinggi di antara ciptaan Allah di dunia ini. Manusia yang berilmu yang memiliki dimensi yang lebih tinggi lagi. Namun, tetap jangan sampai sombong karena setinggi tinggi dimensi adalah milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  12. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Sesungguhnya setiap makhluk yang diciptakan oleh-Nya adalah sesuai dengan dimensinya masing-masing. Tuhan menciptakan segala sesuatu itu bertingkat-tingkat. Benda-benda yang memiliki dimensi yang lebih tinggi dapat menguasai semua benda dengan diemnsi yang ada dibawahnya. Namun sangatlah mustahil untuk benda yang berdimensi rendah menguasai benda dengan dimensi yang lebih tinggi. Samalah seperti elegi diatas, bahwa Manusia bernurani dan berilmu mampu dapat mendengar dsemua percakapan makhluk-makhluk yang ada dibawah dimensinya.

    ReplyDelete
  13. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Bahwa ini juga tersirat dalam konsep matematika yang dimulai dengan dimensi 0 yaitu titik dan dimensi 1 adalah garis, kemudian dimensi 2 dengan bangun datar, dimensi 3 dengan bangun ruang. Titik tidak mampu mencapai garis, namun garis berisikan kumpulan para titik. Garis tidak mampu mencapai persegi, namun persegi memuat titik dan garis didalamnya. Sementara persegi tdak mmpu mencapai kubus, namun kubus mampu memuat titik-titik, garis-garis, dan persegi-persegi. Begitulah seterusnya hingga mencapai puncak yang menyelimuti segalanya yaitu dimensi-n. Dan dimensi n tidak lain dan tidak bukan adalah Tuhan yang melingkupi segalanya, Pemilik dan Penguasa ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  14. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Semuanya berdimensi. Dimensi dapat diartikan sebagai suatu tingkatan. Setiap objek yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini memiliki dimensi yang berbeda-beda. Bahkan antar objek yang sejenis pun juga berdimensi. Kita sebagai manusia memiliki dimensi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan ciptaan Allah yang lainnya, seperti benda mati, tumbuhan dan binatang. Lebih dari itu, dalam lingkup manusia pun juga terdapat berbagai dimensi. Manusia yang berilmu memiliki dimensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan manusia yang tidak berilmu. Jika kita berusaha meningkatkan ilmu, maka dimensi kita akan meningkat. Sementara manusia yang berilmu saja memiliki dimensi yang lebih rendah dibandingkan dengan manusia yang berilmu sekaligus bernurani. Manusia yang berilmu dan bernurani ialah manusia yang sopan santun terhadap ruang dan waktu. Maka, kita hendaknya selalu mengembangkan ilmu pengetahuan yang kita miliki, baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat. Namun, di atas itu semua, dimensi yang paling tinggi ialah dimensi Tuhan YME.

    ReplyDelete
  15. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    dalam elegi menggapai dimensi kita di ajarkan untuk bagaimana tidak mengeluh dan berkecil hati terhadap kemampuan dan potensi diri kita. Karena Tuhan telah menciptakan kita dengan berbeda agar bagaimana kita saling membantu dan bekerja sama untuk membangun dunia ini menjadi lebih baik. sebagai makhluk ciptaanNYA masing-masing dari kita pasti mempunyai kekurangan tetapi dalam kekurangan tersebut kita di ajarkan untuk bagaimana menciptakan suatu kondisi syukur atas segala pengalaman yang ada, dan bagaimana menjadikan sebuah pengalaman menjadi suatu daya bangkit agar kita dapat terus berjalan dan hidup dengan dimensi yang ada sekarang. sesungguhnya sebaik-baik pengalaman adalah pengalaman yang timbul dari dimensi kita dan sebaik-baik dimensi adalah dimensi Tunggal atau Dimensi ke absolutan yaitu TUHAN.

    ReplyDelete
  16. Eka Pravista
    13301241004
    Pendidikan Matematika A 2013

    Dimensi perbedaan penciptaan bukanlah harus disesali, jika kita merasa kita yang paling menderita atau yang paling rendah maka sebenarnya ada yang lebih menderita dan lebih rendah dari kita. Jika kita merasa kita yang paling senang dan hebat, maka ketahuilah bahwa ada yang lebih senang dan lebih hebat dari kita. Jika kita mengetahui hal tersebut dan sadar akan hal itu maka kita termasuk orang yang berpikir dan bernurani. Namun ketika sudah memiliki hal tersebut maka kita berusaha untuk mensyukurinya bukan mengeluh atau berputus asa.

    ReplyDelete
  17. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    Tingkatan dari dimensi masing-masing orang berbeda. Namun sebagai makhluk yang diwajibkan untuk berikhtiar, kita masih bisa berusaha untuk meningkatkan dimensi kita dengan cara menuntut ilmu dunia dan akhirat. Ilmu itu lah yang dapat kita jadikan bekal untuk melangkah di muka bumi ini menuju ke alam akhirat. Sesungguhnya setinggi-tinggi dimensi adalah dimensi absolut, yaitu dimensi Allah SWT. Tugas utama kita sebagai makhluk adalah beribadah pada-Nya. Maka berusaha lah menggapai dimensi kita dengan jalan mendekatkan diri pada-Nya lewat doa dan ibadah. Semoga hidup kita selalu dalam keridhoan-Nya. Aamiin. Wallahu a’lam.

    ReplyDelete
  18. Khomarudin Fahuzan
    16709251041
    PPs Pend. Matematika B


    Dimensi itu struktur, struktur itu bertingkat-tingkat. Semua hal yang ada di dunia ini berstruktur berhirarki. Antara objek satu dengan yang lain berbeda, struktur dalam suatu objek saja memiliki perbedaan. Meskipun berbeda-beda tetapi ada satu kesamaan dimensi yang paling tunggi hanya dimiliki oleh Tuhan saja.

    ReplyDelete
  19. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    Dimensi merupakan derajat/tingkatan. Semua yang ada dan yang mungkin ada memiliki dimensinya masing-masing, satu sama lain bisa berbeda-beda. Semua itu berada dalam kuasa Sang Pencipta yang merupakan dimensi paling tinggi (dimensi absolut). Jadi dengan adanya perbedaan dimensi, janganlah merasa sombong jika memiliki dimensi lebih tinggi dar yang lain, karena setinggi-tingginya dimensi, adalah dimensi absolut yaitu Allah. Kita sebagai ciptaannya hanya bergantung dan berserah diri kepadaNya

    ReplyDelete
  20. Ika Nailatul Muna
    13301241050
    Pendidikan Matematika A 2013

    Tuhan menciptakan segala sesuatu di dunia ini memiliki perannya masing-masing seperti yang disampaikan pada elegi di atas. Masing-masing ciptaan Tuhan YME memiliki dimensinya masing-masing. Semakin tinggi dimensinya semakin banyak yang dapat ia lakukan. Tetapi bukan hanya itu, dimensinya akan lebih tinggi lagi jika yang ia lakukan bermanfaat. Maka sebagai manusia, kita harus selalu menuntut ilmu untuk meningkatkan dimensi. Selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan kepada kita karena dimensi absolut hanya milik Tuhan YME.

    ReplyDelete
  21. Fitri Ayu Ningtiyas
    16709251037
    S2 P.Mat B UNY 2016

    Setinggi-tinggi dimensi adalah dimensi absolut yang merujuk pada dimensi ketuhanan. Sebab tiada lain dan tiada bukan tujuan menuntut ilmu di dunia adalah untuk mengharap ridhoNya. Apapun yang dilakukan manusia di dunia, ia berperan sebagai khalifah paling tidak untuk dirinya sendiri. Untuk itu, ada baiknya kita meningkatkan dimensi absolut dalam menjadi khalifah untuk mempertanggungjawabkan apa yag diri ini lakukan pada YME di hari akhir nanti.

    ReplyDelete
  22. Nauqi Aprilia Putri
    13301241023
    Pendidikan Matematika A 2013

    Pengalaman yang dimiliki oleh satu orang dengan orang yang lainnya tentu berbeda. Maka, tidak dapat disamakan satu orang memiliki pengetahuan yang sama dengan yang lain. Allah memberikan pengalaman pada seseorang karena ada maksud dan tujuannya. Allahpun tahu siapa yang bisa memikul beban. Pun karena Allah selalu memberikan kekuatan pada hamba-Nya. Orang merasa iri dengan apa yang dimiliki oleh orang lain atau bahkan ingin menjadi orang lain karena tidak bersyukur dengan apa yang sudah ia miliki. Sebenarnya di balik apa yang sudah tercapai, ada perjuangan yang dilakukan. Semoga, kita selalu bisa dan pandai bersyukur atas apa yang telah terjadi dan yang dimiliki. Amin.

    ReplyDelete
  23. Nauqi Aprilia Putri
    13301241023
    Pendidikan Matematika A 2013

    Tuhan memberikan kodrat, sedangkan manusia merupakan yang tertinggi daripada tumbuhan, hewan atau bahkan sesuatu yang ada di dunia. Karena Tuhan memberikan manusia akal untuk berfikir. Kodrat manusiapun berbeda – beda tergantung pada usaha dan ikhtiar yang dilakukan. Setiap manusia memiliki hak dan berusaha untuk menjadikan hidupnya seimbang dan harmonis dan tentunya karena atas izin Tuhan. Derajat manusia dilihat dari ilmu yang ia miliki, nurani yang ia miliki, yang selalu tidak lupa pada Tuhannya, yaitu dengan berdoa. Sebaik – baik orang yaitu yang bisa memberikan manfaat bagi yang lain.

    ReplyDelete
  24. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Semua yang ada di muka bumi ini telah berjalan sesuai dengan kodratnya sebagaimana yang telah Allah SWT gariskan kepada setiap makhluknya. Adil dalam hal ini tentunya bukan keadilan dimana semuja makhluk mendapat porsi yang sama, tetapi justru adil dalam hal ini adalah jika sesuatu mandat atau hak itu sesuai dengan kebutuhannya. Misalnya saja ada dua orang bersaudara yang satu SMP dan yang satu masih kuliah, jika mereka diberi uang jajan dengan jumlah yang sama maka malahan menjadi tidak adil, karena mereka berbeda kebutuhan, meskipun bila ditinjau dari segi kuantitas memenuhi asas keadilan karena mendapat porsi yang sama. Namun dimensi anak SMP dan kuliah itu berbeda sehingga adilnya yaitu jika mereka mendapatkan porsi uang jajan sesuai kebutuhan masing-masing meskipun tidak sama dalam segi kuantitas.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  25. Moh. Bayu Susilo
    16709251012
    S2/P. Matematika/A/2016

    Pelajaran yang dapat diambil dari elegi di atas adalah di atas langit masih ada langit. Sehingga tidaklah ada tempat bagi sebuah kesombongan. Ketika kesombongan hadir dan menguasai, maka kesombongan tersebut akan membawa kepada mitos yang justru akan menghambatnya dalam menemukan logos. Dengan begitu hanya keikhlasan dan kerendahan hatilah yang akan menuntun manusia mendapatkan ilmu yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id