Jul 31, 2010

Elegi Menggapai Mengada dan Pengada

Oleh Marsigit

Ada:
Wahai para ada, saatnya sudah marilah kita berpesta. Aku sengaja mengundangmu semua datang kemari untuk pesta. Kita perlu mengadakan pesta karena kita telah dinyatakan ada. Maka tak peduli siapakah kamu itu. Dirimu, karyamu, tulisanmu, pikiranku, temanmu, saudaramu, hatimu, logosmu, tesismu, anti-tesismu, sintesismu, pertanyaanmu, ikhlasmu, milikmu, persepsimu, pengamatanmu, pengetahuanmu, bahkan mitos-mitosmu. Pokoknya semua tanpa kecuali apa saja yang ada dan yang mungkin ada yang bisa engkau rasakan, engkau pikirkan atau engkau lakukan.



Para Ada:
Bagaimana dengan para MENGADA dan PENGADA apakah mereka diundang atau tidak?

Ada:
Lho apa itu MENGADA? Dan apa pula itu PENGADA? Dalam daftarku kok tidak ada.

Para Ada:
Kami melihat mereka bersama kami tadi. Caba panggilah.

Ada:
Wahai MENGADA dan PENGADA, siapakah dirimu itu?

Mengada dan Pengada:
Kami adalah dirimu sendiri, kami adalah anggota dari dirimu.

Ada:
Kenapa aku tidak mengenalmu?

Mengada dan Pengada:
Jika engkau belum kenal diri kami, itu berarti aku masih menjadi yang mungkin ada bagi dirimu.
Tetapi begitu engkau memanggilku maka engkau sudah mengenalku, berarti aku telah menjadi yang ada bagi dirimu.

Ada:
Aku menjadi penasaran jadinya. Wahai MENGADA coba terangkan lebih rinci sifat-sifat dirimu itu.

MENGADA:
Tiadalah ada dirimu tanpa mengada. Adanya dirimu itu sungguh karena mengada. Jadi dirimu yang ada disebabkan oleh mengadanya dirimu. Tetapi dirimu yang ada belum tentu menyebabkan diriku mengada. Maka mengada adalah bagian dari ada. Jika ada adalah subyek maka mengada adalah predikatnya. Jika mengada adalah subyek maka ada adalah predikatnya.

Ada:
Kapan ada itu dianggap tidak mengada?

Mengada:
Ada itu tidak mengada jika ada sudah merasa puas dengan dirinya sendiri dan tidak memerlukan mengada.

Ada:
Maksudmu?

Mengada:
Itulah sebenar-benar mitosmu yang paling besar dan paling halus di dunia ini.

Ada:
Aku masih tidak paham?

Mengada:
Undanganmu kepada para ada untuk mengadakan pesta adalah buktinya. Keinginanmu untuk mengadakan pesta tentang keberadaanmu, itu pertanda engkau telah merasa puas dengan statusmu sebagai ada.

Ada:
Lho apa salahnya?

Mengada:
Salahnya, engkau telah menganggap hidupmu telah usai. Engkau telah menganggap tidak ada lagi perjuangan bagi dirimu, sehingga engkau merasa memperoleh kemenanganmu, dan kemudian memutuskan untuk berpesta ria.

Ada:
Lho apa ruginya?

Mengada:
Ruginya adalah engkau menjadi tidak mengenal siapa MENGADA.

Ada:
Kalau demikian apa pula kerugianku?

Mengada:
Jika engkau tidak mengenal MENGADA maka kerugianmu adalah engkau dianggap TIDAK ADA.

Ada:
Lho..itu sesuatu yang paling aku takutkan…
Tolonglah aku wahai MENGADA, kemudian bagaimana solusinya?

Mengada:
Bukankah engkau belum mengetahui siapa diri PENGADA itu?

Ada:
Oh..maaf..wahai PENGADA..Siapakah dirimu itu?

Pengada:
Wahai sang ada. Aku tidak lain tidak bukan adalah dirimu sendiri. Aku adalah anggota dari dirimu. Jika engkau subyeknya maka belum tentu aku predikatnya, dan jika aku subyeknya maka engkau predikatnya. Keberadaanku itu menentukan dirimu, tetapi keberadanmu belum tentu menentukan diriku.

Ada:
Aku tidak paham apa maksudmu?

Pengada:
PENGADA adalah ada jika engkau mengada.

Ada:
Aku masih tidak paham?

Pengada:
Itulah buktinya. Rencanamu mengadakan pesta telah membuktikan bahwa keradaanmu itu tidak menyebabkan keberadaanku. Karena engkau merasa sudah puas dengan kedudukanmu sebagai ADA maka engkau tidak merasa perlu mengada. Karena tidak ada aktivitas mengada pada dirimu maka tidaklah juga ada pengadamu di sana.

Ada:
Memangnya kenapa ?

Pengada:
Jika tidak ada MENGADA pada dirimu maka tidak adalah PENGADA pada dirimu.

Ada:
Lalu apa ruginya?

Pengada:
Ruginya adalah engkau menjadi tidak mengenal PENGADA. Itulah mengapa engkau tidak mengundang diriku mengikuti rencana pestamu itu.

Ada:
Apa pula rugiku?

Pengada:
Jika engkau tidak mengenal PENGADA maka engkau dianggap TIDAK ADA.

Ada:
Lho..padahal itulah yang paling aku takutkan.. Wahai PENGADA..tolonglah bagaimana solusinya?

Mengada dan Pengada:
Sebetul-betul MENGADA adalah logos bagi dirimu. Jika ADA adalah tesismu maka MENGADA adalah anti-tesismu. Jika engkau telah mempunya MENGADA maka serta merta wujudmu akan berubah menjadi PENGADA. Janganlah engkau mengharap dapat menjadi PENGADA jika engkau tidak mempunyai MENGADA.

Ada:
Sebentar, jika engkau sebut tesis dan anti-tesis maka dimana sintesisnya?

Mengada dan Pengada:
Jika tesisnya adalah ADA maka anti-tesisnya adalah MENGADA. Jika anti-tesisnya adalah MENGADA maka sintetisnya adalah MENGADA.

Ada:
Kalimatmu yang terakhir sangat sulit aku pahami.

Mengada dan Pengada:
Itulah yang terjadi. Maka sebenar-benar MENGADA adalah sekaligus tesis, anti tesis dan juga sintesis. Sedang sebenar-benar PENGADA adalah anti-tesis dari MENGADA.

Ada:
Maksudnya?

Mengada dan Pengada:
Tidak akan ada PENGADA jika engkau tidak MENGADA.

Ada:
Aku masih bingung.

Mengada dan Pengada:
Itulah yang terjadi, yaitu bahwa PENGADA itu juga sekaligus tesis, anti-tesis dan juga sintesis.

Ada:
Baiklah bisakah engkau memberikan contoh konkritnya?

Mengada dan Pengada:
Misal engkau adalah MAHASISWA yang sedang menempuh perkuliahan filsafat. Maka tanda-tanganmu dalam daftar hadir merupakan bukti bahwa engkau itu ADA. Sedangkan kegiatanmu membuat komen pada elegi-elegi menunjukkan MENGADA mu. Jika engkau telah membuat komen pada elgi-elegi maka itu bukti bahwa engkau telah menjadi PENGADA, yaitu pengada akan komen-komen mu.

Ada:
Lho kalau begitu, kan sudah pantas kalau aku ingin berpesta. Karena aku sudah membuat komen.

Mengada dan Pengada:
Sebentar dulu. Sebuah komen mu itu adalah ADA bagi komen mu. Dan keberadaan sebuah komen mu belum tentu MENGADAKAN ..ADA yang lainnya. Jika demikian maka komenmu juga bukanlah suatau PENGADA terhadap yang lainnya. Maka sebuah komen mu itu bisa terancam menjadi mitos, yaitu jika engkau merasa puas hanya membuat satu komen, kemudian akan mengadakan pesta. Maka nasib dari sebuah komen yang engkau sebutkan itu persis seperti nasib dirimu yang tidak mengetahui MENGADA dan PENGADA. Jika dia kmudian juga akan mengadakan pesta, maka dia tentu akan lupa untuk mengundang semua yang ada.

Ada:
Kemudia bagaimana solusinya?

Mengada dan Pengada:
Tiadalah dirimu itu tanpa MENGADA dan PENGADA. Maka agar engkau tetap ADA tidak ada jalan lain bagi dirimu untuk selalu MENGADA. Jika engkau telah MENGADA maka PENGADA akan selalu meyertaimu.

Ada:
Apakah aku dapat menyimpulkan bahwa sebenar-benar ADA adalah MENGADA dan PENGADA sekaligus?

Mengada dan Pengada:
Cerdas pula engkau itu. Itulah harapanku bahwa murid-muridku akan selalu bisa menyimpulkan diri meraka untuk kepentingan diri mereka pula. Sangat tepatlah kesimpulanmu itu bahwa ADA itu adalah sekaligus MENGADA dan PENGADA.

Ada:
Sebentar, jangan ditutup dulu. Bukankah di awal pembicaraan kita engkau telah menuduhku sebagai ADA yang tidak mengenal MENGADA dan PENGADA? Kalau begitu ADA tidak harus MENGADA dan PENGADA?

Mengada dan Pengada:
Tidak mengenal itu tidak berarti tidak ada.

Ada:
Lho mengapa?

Mengada dan Pengada:
Itulah kelihaian dan kelembutan MITOS. Mitos itu pulalah yang selalu mengajakmu mengadakan PESTA padahal perjuanganmu belum seberapa. Maka dirimu akan sebenar-benar ada jika engkau selalu menggapai LOGOS. Itulah kesimpulanku.

29 comments:

  1. Dita Nur Syarafina
    NIM. 16709251003
    PPs Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Sebenar-benar ADA maka sekaligus diikuti dengan MENGADA dan PENGADA. Jika ADA atau PENGADA sudah puas dengan dirinya sendiri, maka dia bukan ada melainkan masih yang mungkin ada. Itulah ADA yang terjebak dalam mitos. Contohnya jika seseorang puas dengan gelar S. Pd nya saja dan tidak mau menggunakan gelarnya untuk mengajarkan orang lain, berbagi ilmunya, dan membuat karya tulisan maka orang tersebut hanya menjadi yang mungkin ada dan telah terjebak dalam mitosnya.

    ReplyDelete
  2. Yazid Fathoni
    NIM 13301241076
    Pendidikan Matematika C 2013

    ADA itu adalah sekaligus MENGADA dan PENGADA. Sesuatu itu akan dianggap ADA jika telah MENGADA serta akibatnya adalah menjadi PENGADA, artinya misalkan ilmu akan dianggap ADA jika telah MENGADA atau melakukan kegiatan yang dapat membuktikan bahwa ilmu yang diperoleh itu telah masuk kedalam pikiran, sehingga bukti tadi itu dianggap sebagai PENGADA dari ada itu sendiri.

    ReplyDelete
  3. Nur Dwi Laili Kurniawati
    13301241063
    Pendidikan Matematika C 2013

    ADA itu jika ia telah MENGADA sehingga menjadi PENGADA. Maka sebenar- benar manusia itu ADA jika ia terus MENGADA sehingga terus menjadi PENGADA karena begitu ia berhenti MENGADA dan menjadi PENGADA maka ia telah menjado TIDAK ADA. Dan sebenar- benar manusia itu ADA jika ia telah MENGADA dengan terus berfikir. Pertanyaan- pertanyaan kritis adalah bukti bahawa ia berfikir maka pertanyaan- pertanyaan kritis merupakan bukti bahwa ia telah menjadi PENGADA.

    ReplyDelete
  4. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Untuk membuktikan bahwa sesuatu itu ada, maka harus mengada dan jika sudah melakukan mengada maka terjadilah pengada, dengan kata lain jika tidak ada mengada dan pengada maka sesuatu itu bisa dikatakan tidak ada. Misalnya saat ini saya mengunjungi dan membaca blog Pak Marsigit dengan judul ‘elegi menggapai mengada dan pengada’ untuk membuktikan bahwa saya benar-benar ada maka saya mengada dengan menuliskan komentar di kolom yang disediakan dan kemudian setelah saya memposting komentar saya diblog ini maka saya sudah mewujudkan diri menjadi pengada dan saya sudah membuktikan jika saya ada.

    ReplyDelete
  5. Azwar Anwar
    16709251038
    Pendidikan Matematika S2 Kelas B 2016

    Mengada dan pengada adalah bagian dari diri sendiri. Dengan mengada dan pengada itu menunjukkan bahwa kita ada atau dengan kata lain ada, mengada, dan pengada adalah bagian dari sesuatu yang ada di dalam kita sendiri. Setiap orang memikirkan sesuatu serta mengerjakannya untuk lebih baik maka ia telah membuktikan bahwa dirinya adalah ada, mengada, dan pengada. Usaha untuk menjadi lebih baik dalam segala hal harus selalu dan akan terus dilakukan sampai kita masih hidup di dunia.

    ReplyDelete
  6. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Agar tetap ADA maka dengan cara MENGADA. Dengan MENGADA maka PENGADA akan selalu menyertai. Sehingga ADA itu adalah MENGADA sekaligus PENGADA. Berlaku juga untuk manusia, diaakui ada jika ia mengada dan menjadi pengada. Dalam hati, pikiran, maupun kenyataan. Mengada dan menjadi pengada salah satunya dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan yang kita miliki.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  7. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Terkadang memahami diri sebagai ada itu sulit. Maka tidaklah heran jika untuk menjadi mengada sekaligus pengada juga sangat sulit. Namun, kita tetap harus senantiasa mengada dan menjadi pengada. Hal ini dapat dilakukan dengan terus mencurahkan ide-ide dan berkarya di bidang keahlian kita masing-masing.

    ReplyDelete
  8. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Ketika seseorang telah berpuas diri maka ia tidaklah mempunyai tujuan, dan jika ia sudah tidak mempunya tujuan maka ia tidaklah bisa melakukan apa-apa. Sebaik-baik Manusia adalah yang merasa rugi hari ini sama dengan hari kemarin. Mengada mungkinlah merupaka niatan dari dari seseorang dan pengada mungkin jugalah sebuah tindakan dari niatan itu. Bahwa manusia seyogyanya mempunyai pikiran dan hati untuk digunakan, membayangkan, atau mendambakan sesuatu, namun manusia memiliki sifat dimana ia juga mampu menunjukkan apa yang ada dalam pikirannya dan mnunjukkannya dengan tindakan atau perbuatan.

    ReplyDelete
  9. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Secara filsafat mungkin pula dapat dikatakan bahwa pengada adalah rasio dan pengada adalah empirik. Keduanya sebenarnya ada dalam diri tiap manusia. Mereka saling membutuhkan satu sama lain. Tidaklah salah ketika hanya mengada (rasio) yang dimiliki dan dipakai oleh ada (manusia). Dan tidaklah salah pula jika hanya pengada (empirik) yang dipakai oleh ada (manusia). Namun Alangakah lebih baik ketika keduanya dipakai dan dipergunakan oleh ada. Karena bisa jadi ada hanya menggunakan celana tapi tak menggunakan baju, atau menggunkan baju tapi tidak menggunakn celana. Itulah Synthetic A Priori.

    ReplyDelete
  10. Ika Nailatul Muna
    13301241050
    Pendidikan Matematika A 2013

    ADA harus disertai MENGADA dan PENGADA. Sesuatu akan dianggap ADA jika telah MENGADA dan menjadi PENGADA. Seorang mahasiswa dikatakan ada jika terdapat daftar hadirnya, dikatakan mengada jika mau terus belajar dan dikatakan pengada jika mau mempublikasikan karya dari ilmu-ilmu yang dipelajarinya.

    ReplyDelete
  11. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Segala yang mungkin ada akan menjadi ada karena pengada yang “selalu” mengada. Kata selalu dalam kalimat tersebut perlu digaris bawahi dan tidak dapat dihilangkan. Kata selalu tersebut menunjukkan bahwa mengada haruslah dilakukan secara terus menerus untuk mengadakan semua yang mungkin ada menjadi ada. Ketika yang mungkin ada menjadi ada dan kemudian berhenti atau sudah puas, maka itulah mitos karena ada tersebut akan menjadi tidak ada jika tidak diteruskan. Apabila kita kaitkan dengan kehidupan kita, keadaan ada yang berhenti ini dapat dianalogikan sebagai keadaan seseorang yang berhenti mengada atau berhenti berikhtiar dalam melakukan segala sesuatu. Seseorang yang sudah merasa puas dengan apa yang telah dilakukannya sebelumnya, maka sesungguhnya ia telah terjebak oleh mitos. Seharusnya, kita tidak boleh puas dengan apa yang telah kita peroleh. Kita harus senantiasa berjuang dan berikhtiar di dalam hidup ini.

    ReplyDelete
  12. Vety Triyana K
    13301241027
    P Matematika Int 2013

    Ada dan yang mungkin ada memiliki dua dimensi yang berbeda. Ada merupakan suatu dimensi dalam kehidupan manusia, menjadi ada merupakan gambaran bahwa sebenarnya di dalam kehidupann ini kita mampu merubah yang mungkin ada menjadi ada, dan setelah ada jadikan ini mengada yang menyatakan bahwa kita melakukan sebuah tindakan yang menjadikan mengada menjadi pengada. Lalu mengada itu adanya proses untuk mencari atau mengembangkan ilmu atau professional development. pengada itu mampu memproduksi seperti karya ilmiah dan jurnal atau mengadakan produk dari hasil kinerjanya. Untuk itu diperlukan metode atau strategi untuk mengukur kualitas yaitu mengada dan pengada. Sehingga dalam membangun kehidupan diperlukan keterampilan khusus untuk mengembangkan yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  13. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    Siapapun orang itu, dia harus melakukan mengada dan menjadi pengada agar ia menjadi ada. Ada pengada dan mengada adalah satu kesatuan. Ada tidak mungkin ada tanpa pengada. Dan pengada tidak bisa mendapatkan ada tanpa mengada.

    ReplyDelete
  14. Eka Pravista
    13301241004
    Pendidikan Matematika A 2013

    Ada itu tetaplah Ada tapi belum tahu apa yang ada padanya. Ada akan menyadari bahwa ada hal yang Mengada, Pengada dan hal lainnya yang ada pada Ada, ketika Ada sudah memiliki logos tentang yang Adanya. Kita tahu dan sadar akan hal yang ada pada diri kita tapi kita belum tahu bahwa hal yang ada pada diri kita itu seperti apa. Untuk mewngetahui hal tersebut maka kita harus menggali atau mempunyai logos mengenai hal tersebut.

    ReplyDelete
  15. Fitri Ayu Ningtiyas
    16709251037
    S2 P.Mat B UNY 2016

    Semua yang ada dan mungkin ada akan tetap ada dengan cara mengada. Mengada pun akan ada jika dibarengi dengan pengada. Sehingga ada dapat dirumuskan dalam pengada dan mengada. Karena segala yang mungkin ada akan menjadi ada karena pengada yang mengada. Untuk itu pengada dan mengada akan selalu berjalan bersama ada.

    ReplyDelete
  16. Nauqi Aprilia Putri
    13301241023
    Pendidikan Matematika A 2013

    Mengada merupakan suatu usaha sedangkan pengada yaitu telah melakukan usaha. Sedangkan usaha tersebut merupakan sesuatu yang dapat bermanfaat dalam peran yang ia jalani. Usaha atau mengada yang dilakukan secara terus menerus dan tak cepat puas akan usaha yang dilakukan dan hasil yang diperoleh. Pengada dan mengada saling berhubungan. Maka hendak mengada dan kemudian menjadi pengada dan diakui. Yang dilakukan adalah melakukan usaha yang terbaik. Semoga Allah selalu meridoi. Amin.

    ReplyDelete
  17. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Dalam hal ini pada intinya kita tidak boleh cepat puas akan apa yang telah kita dapatkan, jika kita merasa cepat puas terhadap apa yang kita capai, maka kita akan berheti berkarya. Nah setelah kita berhenti berkarya maka kita tidak bisa lagi menjadi PENGADA jika kita tidak lagi menjadi pengada tentunya eksistensi kita tidak dapat dinyatakan bahwa kita ADA. Keberadaan kita dapat dibuktikan melalui karya-karya kita, sehingga dalam hal ini berkaryalah maka engkau ADA. Menurut Rene Deschartes, berpikirlah maka engkau ada. Bila orang sudah tidak mau berpikir, maka ibaratnya orang tersebut sudah mati.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  18. Moh. Bayu Susilo
    16709251012
    S2/P. Matematika/A/2016

    Yang dapat dilakukan oleh manusia agar terhindar dari mitos adalah selalu berjalan melakukan tesis dan menemukan antitesisnya dan itu harus dilakukan secara kontinyu dan berkesinambungan agar manusia terhindar dari mitos dan mendapatkan logos. Jadi sudah menjadi sifat logos yang bersifat dinamis, ketika manusia berhenti maka logos itu pun akan menjadi mitos. Pada elegi diatas merupakan contohnya. Ketika pengada diikuti dengan mengada, maka dia ada. jika pengada tidak diikuti dengan mengada, maka dia masih yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  19. NUR AZIZAH
    16709251017
    PMAT KELAS A PPS UNY 2016

    Sebenar-benar ada adalah diikuti mengada dan pengada. Seseorang ketika sudah menjadi ada maka harus terus mengada dan pengada. Mengada artinya adalah suatu proses menambah kompetensi diri dan berkarya sedangkan pengada adalah suatu hasil dari proses mengada yang menjadi bukti bahwa kita ada. Maka ketiganya harus bersinergi, baik ada, pengada dan mengada adalah suatu kesatuan sehingga kita benar-benar ada.

    ReplyDelete
  20. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Ada adalah karena kita mengada dan pengada. Ada saja tidak cukup di dunia ini. Kamu ada karena kamu lahir. Kamu berpijak di tanah. Kamu bernapas. Dan sebagainya. Pengada dirimu adalah usahamu dalam mengada.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  21. Ressy Rustanuarsi
    16709251033
    PPs PMAT Kelas B 2016

    Dari elegi ini, dapat kita ketahui bahwa ada berkaitan erat dengan mengada dan pengada. Ada muncul karena mengada. Pengada adalah ada jika ada mengada. Ada tidak benar-benar ada jika masih dipengaruhi oleh mitos. Untuk itu gapailah logos.

    ReplyDelete
  22. Herlingga Putuwita Nanmumpuni
    Pendidikan Matematika A 2013
    13301241019

    Seperti yang telah dijelaskan dan dapat diambil inti sari pada elegi menggapai mengada dan pengada di atas:
    Mengada adalah bagian dari ada. Ada itu tidak mengada jika ada sudah merasa puas dengan dirinya sendiri dan tidak memerlukan mengada. Jika engkau tidak mengenal MENGADA maka kerugianmu adalah engkau dianggap TIDAK ADA. PENGADA adalah ada jika engkau mengada. Karena engkau merasa sudah puas dengan kedudukanmu sebagai ADA maka engkau tidak merasa perlu mengada. Karena tidak ada aktivitas mengada pada dirimu maka tidaklah juga ada pengadamu di sana. Jika tidak ada MENGADA pada dirimu maka tidak adalah PENGADA pada dirimu.

    ReplyDelete
  23. Herlingga Putuwita Nanmumpuni
    Pendidikan Matematika A 2013
    13301241019

    Contoh sederhana yang telah disebutkan pada elegi di atas yaitu kita sebagai MAHASISWA yang sedang menempuh perkuliahan filsafat. Maka tanda-tangan kita dalam daftar hadir merupakan bukti bahwa kita itu ADA. Sedangkan kegiatan yang kita lakukan dalam membuat komen pada elegi-elegi menunjukkan MENGADA dari diri kita. Jika kita telah membuat komen pada elgi-elegi maka itu bukti bahwa kita telah menjadi PENGADA, yaitu pengada akan komen-komen yang telah kita buat.

    ReplyDelete
  24. Herlingga Putuwita Nanmumpuni
    Pendidikan Matematika A 2013
    13301241019

    Kita akan dikatakan sebenar-benarnya ada ketika selalu mengapai logos, kita tidak boleh hanya berhenti menjadi mitos. Untuk itu dengan membaca dan membuat komen-komen dengan ikhlas pada elegi-elegi yang telah diposting oleh Pak Marsigit, maka itu adalah bentuk usaha untuk bisa terus menggapai logos.

    ReplyDelete
  25. RAHMANITA SYAHDAN
    16709251013
    PPs Pmat A 2016

    Bismillahirrahmanirrahim
    Posisi ijad (pengadaan) adalah seperti eksistensi dan sifat-sifatnya. Sebagaimana semua makhluk ada dan tidak mandiri dalam keberadaannya, serta sifat-sifat baginya sudah ditetapkan dan tidak memiliki kemandirian ddalam hal itu, telah ditetapkan juga pada mereka perbuatan-perbuatan yang memang bersumber dari mereka. Akan tetapi, mereka tidak mandiri dalam eksistensinya, dan terdapat juga perbuatan-perbuatan yang tidak mandiri dalam fa’iliyyah (subyek) dan ijad (aktivitas).

    ReplyDelete
  26. Khomarudin Fahuzan
    16709251041
    PPs Pend. Matematika B

    Adanya suatu hal itu karena ada yang mengadakan, yang mengadakan itu siapa, pengada. Pengada itu siapa, subjek. Kemudian pengada itu juga ada karena ada yang mengadakan, yaitu pengada yang lain. Sehingga jika diurutkan terus menerus hanya akan kita dapatkan pengada dari para pengada yaitu Allah SWT. Maka, janganlah berlaku sombong karena sudah merasa menjadi pengada, dapat menciptakan sesuatu, tetapi sadarlah bahwa kamu itu ciptaaan dari pengadamu.

    ReplyDelete
  27. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Manusia memiliki daya/potensi menjadi PENGADA melalui pemikiran-pemikirannya untuk MENGADA sesuatu yang ADA. Dan elegi ini mengajak kita untuk kembali merenungkan apakah kita ini sudah merasa cukup hanya menjadi simbolik dari ADA aja tanpa berusaha menjadi Pengada yang bisa MENGADA yang ADA bukan untuk ADA nya kita sendiri tapi bisa menjadi ADA bagi yang lainnya. Contoh dari yang dipaparkan di atas bahwa Mahasiswa menjadi PENGADA setelah MENGADAkan komentar di blog Prof. Marsigit sehingga mahasiswa itu menjadi ADA dalam kuliah filsafat yang diampu beliau namun sifat ADA dari komentar kita itu apakah benar2 ADA ? ADA dalam makna bisa menjadi pengetahuan baru bagi diri pribadi dan menjadi ADA juga bagi yang membaca untuk menjadi pengetahuan baru. Bukan sekedar menjadi ADA karena tuntutan perkuliahan filsafat. Mari kita renungkan bersama agar Ilmu filsafat yang kita pelajari mejadi ilmu nyata dalam kita mengenal sesuatu yang ada dan mungkin ada dalam diri kita ini. Amin

    ReplyDelete
  28. Iqlima Ramadhani Fabella
    13301241017
    Pendidikan Matematika A 2013

    Untuk menggapai ADA, maka harus disertai dengan MENGADA dan PENGADA. Sesuatu akan dianggap ADA jika telah memenuhi keduanya. Tak ada ADA tanpa MENGADA dan PENGADA. Karena semua hanyalah proses yang harus dilalui

    ReplyDelete
  29. Asri Fauzi
    16709251009
    Pend. Matematika S2 Kelas A 2016
    seseorang dikatakan ada apabila ia mengada dan pengada. Apabila ia telah mengada maka akan muncul pengada. Jika dalam hati terbersit rasa kesombongan dan puas diri maka mengada dan pengada akan hilang dan menjadikan seseorang tersebut tidak ada. Seseorang tidak akan bisa mengada apabila ia belum bisa menghilangkan rasa sombong di dalam hatinya. Maka untuk bisa menggapai mengada dan pengada, seseorang harus menghilangkan sifat sombong dan puas diri, ia harus menanamkan rasa rendah hati dan keikhlasan pada dirinya dengan begitu ia akan terus belajar dan belajar sehingga dengan sendirnya ia akan dapat menggapai mengada, pengada, dan menjadi ada. Karena sebenar-benarnya ada adalah karena mengada dan pengada.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id