Oct 26, 2014

PERBINCANGAN PARA DEWA- BERBAHAYA UNTUK DIBACA PARA DAKSA



Ass. Wr. Wb


Pesan dari saya (Marsigit) sebelum membaca naskah terkoneksi di bawah nanti ini hendaknya waspada kepada aliran-aliran yang sudah tendensius mempunyai motif, karena motif/tujuan dapat mengalahkan hakekat kebenaran. Kebencian Kurawa memberi keberanian untuk mengalahkan Kebenaran dari Keikhlasan para Pandawa. Ego/superego suatu Parpol memberi kekuatan untuk mengalahkan/meniadakan/menolak sebuah Kebenaran dari Parpol kompetitornya. Ego Rasionalisme mengabaikan kebenaran Empirisisme dan sebaliknya. Ego Kerja/Praktek mengabaikan Ego Wacana/Teori, dan sebaliknya. Ego Dunia mengabaikan Akhirat. Ego Ideal mengabaikan Realisme, dan sebaliknya. Ego Marxisme mengabaikan Spiritualisme dan Idealisme. Demikian dan seterusnya...

Sebenar-benar Bacaan berikut  adalah untuk para Dewa dan bukan untuk para Daksa. Jika para Daksa mencoba membacanya maka dia akan terancam akan termakan oleh Paramitos. Dan jika sudah demikian maka hanya Ruwatan atau ritual memohon ampun yang dapat dilakukan. Namun sebenar-benar kita tidak mampu membedakan apakah kita Dewa atau Daksa. Kita hanya mampu mencobanya.

Dalam bacaan ini saya justru merasa iba kepada Matematika Murni yang selama ini saya salahkan karena terlalu ikut campur urusan Pendidikan Matematika untuk anak-anak, sehingga menimbulkan dampak psikologi yang buruk.
Dalam bacaan ini nada-nadanya Marxistsm akan menggunakan Paradox Matematika untuk justifikasi atau pengesahan bahwa matematika hanyalah sekedar fiksi atau ideal yang kurang bermanfaat bagi explore benda-benda/materi seperti yang dikembangkan oleh Marxistme.
Walaupun saya memerjuangkan Matematika Kongkrit ( Matematika Sekolah) untuk SD dan SMP, bukan berarti saya pro-Marxisme. Saya perlu sampaikan ini karena bacaan berikut dapat menyebabkan misleading jangan-jangan aliran Realistic Mathematics dianggap pro-Marxisme.
Saya tetap konsisten bahwa Kontradiksinya matematika itu berbeda dengn Kontradiksinya filsafat/dunia/benda konkrit. Kontradiksi dalam matematika adalah Inkonsistensi atau I tidak sama dengan I; kontradiksinya filsafat/dunia/benda adalah hukum Kontradiksi yaitu bukan Hukum Identitas.
Jadi, perjuangan saya untuk mengeksplore Matematika Kongkrit semata-mata dikaitkan dengan kemampuan psikologis siswa (anak kecil).
Bagi para Dewa, silahkan bacalah secara kritis dan cermat; bagi para Daksa maka lengkapilah bacaan-bacaan yang lainnya agar ideal/kebenaran tidak mudah termakan oleh Keberaniannya Motif (Politik/Ideologi)

Selamat membaca naskah berikut:

Sunday, 25 May 2008 

yang dapat diakses di: 

http://www.marxist.com/reason-in-revolt-bab-16-matematika.htm

Wss Wr Wb
Marsigit

Catatan:
1. Engels yang banyak dikutip dalam naskah adalah Tokoh Marxisme/Materialisme selain Karl Mark
2. Dewa adalah diriku yang meningkat dimensinya dibanding diriku yang lampau dikarenakan bacaan dan ilmuku.
3. Daksa adalah diriku yang sekarang yang terjebak/terperangkap oleh ruang dan waktu dikarenakan tidak melakukan ikhtiar menembus ruang dan waktu dengan bijak (tidak membaca untuk memeroleh pengetahuan baru)
4. Marxisme/Materialisme adalah aliran filsafat yang menemukan kebenaran ada di dalam Batu/Materi.
5. Bangsa Indonesia pernah mengalami keadaan traumatis (Th.1965) dikarenakan pemberontakan
G30/s PKI yang ideologinya mendasarkan pada Marxisme/Materialisme. Mungkin generasi muda tidak mengalami dan hanya mendengar penuturan generasi tua.
6. Bacaan ini saya tayangkan karena dia merupakan anti-tesis dari Kapitalisme, dan sebaliknya. Tetapi dia juga anti-tesis dari Spiritualisme dan Idealisme. Jadi membacanya dapat dianggap secara filsafat sebagai usaha melakkan Sintesis.
7. Bekerja, bekerja dan bekerja...perlu diimbangi dengan berpikir, berpikir dan berpikir...; karena bekerja saja adalah baru separoh dunia dan terancam menjadi buta. Sedangkan berpikir saja juga hanya baru separo dunia, dan terancam menjadi kosong. Maka sebenar-benar belajar/hidup adalah berjuang agar kita tidak menjadi buta dan tidak menjadi kosong.

49 comments:

  1. Asri Fauzi
    16709251009
    Pend. Matematika S2 Kelas A 2016
    Dalam memilih bacaan seharusnya perlu untuk dipilih, tidak sembarang buku bacaan untuk dibaca karena sekarang ini banyak buku bacaan yang sudah dselip-selipkan dengan aliran-aliran tendensius yang mempunyai motif tertentu. Lebih-lebih buku bacaan yang mengandung agama dan spiritual, banyak diselikan motif tertentu yang tujuannya untuk mengalahkan hakekat kebenaran. Kemudian juga dalam buku bacaan matematika anak-anak, banyak sekali yang masuk matematika murni yang menyebabkan dampak psikologi yang buruk pada anak. Oleh karena itu hati-hatilah dalam memilih bacaan untuk anak-anak, agar terhindar dari hal yang buruk untuk anak.

    ReplyDelete
  2. Ressy Rustanuarsi
    16709251033
    PPs PMAT Kelas B 2016

    Pada point 7 yang dapat saya petik adalah bahwa kita hidup harus seimbang. Seimbang dalam bekerja juga berpikir. Bekerja memerlukan pemikiran. Begitu juga berpikir juga harus di follow up dengan bekerja.

    ReplyDelete
  3. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    PPs PM B 2016

    Kebenaran merupakan sebuah hal yang relatif. Apa yang benar menurut saya belum tentu benar menurut anda, kecuali dalam hal spiritual itu adalah kebenaran absolut. Ketika kebenaran itu adalah sesuatu yang relatif maka kita tidak tahu apakah hal tersebut memang benar atau salah yang kemudian dibenarkan. Oleh karena itu, kita senantiasa memperbanyak ilmu kita, salah satu nya dengan cara membaca. karena ketika kita tahu dasar dari sesuatu maka kita akan mampu untuk berusaha mendekati kebenaran.

    ReplyDelete
  4. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Matematika murni memahami secara luas matematika, yang terkadang konsepnya berbeda dengan matematika konkrit yang dipelajari di sekolah. Matematika murni jauh diatas dan terus bisa berubah sesuai dengan teori teori yang dapat dibuktikan lebih lanjut. Namun, kondisinya dalam proses belajar di bangku sekolah, matematika yang diberikan sebaiknya adalah matematika yang bermakna, yang dapat diimplementasikan selanjutnya oleh siswa dalam kehidupan nyata.

    ReplyDelete
  5. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Matematika yang diajarkan kepada anak SD haruslah Matematika yang kongkrit, sesuai dengan perkembangan psikologi mereka. Mengajarkan sesuatu yang abstrak, dalam hal ini adalah Matematika murni dapat mengganggu dan merusak intuisi anak-anak. Saya tertarik dengan catatan ke-6 yang menyatakan bahwa bacaan ini merupakan anti tesis dari kapitalisme. Selain itu elegi ini juga merupakan antitesis dari idealisme dan spiritualisme. Kapitalisme menganggap anak/siswa sebagai tong kosong yang bisa dimasuki apa saja. Guru boleh mengajarkan apapun yang sesuai dengan ideologi kapitalisme, karena kapitalisme di sini berarti ideologi, yang memiliki motif tertentu. Idealisme juga merupakan ideologi yang menginginkan keidealan sesuatu. Mengajarkan Matematika kongkrit kepada anak berarti mengajarkan yang jauh dari ideal.

    ReplyDelete
  6. Retno Widyaningrum
    16701261004
    S3 PEP A
    Dalam penyampaian kepada peserta didik setingkat SD harus hati-hati baik materi maupun proses pembelajarannya. karena karakteistik peserta didik SD sangat berbeda dengan peserta didik SMP atau SMA apalgi mahasiswa. untuk itu perlu strategi tersendir, sehingga peserta didik mempelajarai matematika tidak merasa takut/benci/malas. Strategi pembelajaran yang membuat peserta didik merasa takut dengan matematika harus benar-benar dibuang jauh-jauh, harus dirubah yang lebih ke student center.

    ReplyDelete
  7. Retno Widyaningrum
    16701261004
    S3 PEP A
    Peserta didik bukan seperti botol kosong maka materi yang disampaikan jangan terlalu berlebihan sehingga porsi untuk mereka terlalu banyak, hal ini akan menimnulkan titik jenuh jadi malas untuk belajar.

    ReplyDelete
  8. Retno Widyaningrum
    16701261004
    S3 PEP A
    Mengajar untuk siswa SD dimulai dari benda konkret baru ke arah abstrack. Sehingga siswa tidak langsung dibei pengetahuan yang masih abstrak. Mereka harus memenuhi kaidah-kaidah pembelajran. dengan pengenalan benda-benda konkret maka akan lebih mudah mereka memahami.

    ReplyDelete
  9. Seftika Anggraini
    13301241013
    Pendidikan Matematika I 2013

    Dari naskah tersebut, yang saya terima adalah se-abstrak-abstraknya matematika, matematika akan kembali pada realistik. Seperti bilangan, saat ini sudah digunakan banyak bilangan bahkan mendekati yang tak berhingga. Namun untuk mempelajari atau menghitung bilangan tersebut, pasti dimulai dengan menghitung sampai 10 bilangan atau 20 bilangan. Seperti yang dilakukan oleh penemu bilangan zaman dahulu, menggunakan 10 karena dapat dihitung dengan jari tangan, atau yang 20 karena menggabungkan antara jari tangan dan jari kaki.
    Terima kasih

    ReplyDelete
  10. Ika Dewi Fitria Maharani
    16709251027
    PPs UNY P.Mat B 2016

    Ilmu yang dicari tanpa kesombongan akan mengubah kita yang awalnya daksa yaitu orang yang tidak bisa memanfaatkan waktu dan ruang dengan baik untuk mendapatkan ilmu menjadi seorang ewa yaitu hasil dari ikhtiar dalam mencari ilmu.

    Dalam kehidupan diperlukan keseimbangan, contohnya adalah bekerja dan berfikir. Bekerja saja akan menyebabkan tida tahu arah tujuan, sedangkan berpikir saja maka tidak akan hasil dari pikiran. Keduanya perlu dilakukan.

    ReplyDelete
  11. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP Kelas A

    Terkadang kta heran mengapa banyak anak menjadikan pelajaran matematika sebagai pelajaran yang menakutkan. Banyak juga orang tua yang mengeluh, karena sudah mendatangkan guru privat kerumah namun hasilnya masih juga tidak memuaskan. Anak masih saja susah untuk memahami pelajaran matematika. Jika ditilik lebih jauh, sebenarnya masalah kesulitan anak untuk menguasai matematika salah satunya adalah karena metode pengajaran yang tepat, yaitu tidak sesuai dengan tipe belajar sianak. Tipe anak berbeda-beda dalam belajar, ada yang bertipe visual, auditori dan kinestetik. Tentunya kita sebagai orang tua dan juga sebagai pendidik dapat memahami bagaimana karakteristik anak didik kita. Jadikanlah pelajaran matematika menjadi pelajaran yang menyenangkan dengan memberikan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik nik si anak sehingga hasilnya akan lebih optimal

    ReplyDelete
  12. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP Kelas A

    Anak-anak terutama yang masih duduk di sekolah dasar belum mampu berpikir formal, sehingga dalam belajar matematika sangat diharapkan bagi para pendidik untuk mengaitkan proses pembelajarannya menggunakan alat bantu atau benda konkret. Matematika sebagai suatu objek abstrak tentu saja akan sangat sulit dicerna oleh anak-anak SD, karena pada tahap ini anak-anakSD masih terikat dengan objek yang ditangkap dengan panca indera sehingga akan sangat memudahkan bagi mereka saat belajar matematika dengan lebih banyak menggunakan alat bantu dan alat peraga

    ReplyDelete
  13. Khaerudin
    16701621009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Carilah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok, dan carilah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya. Seperti dalam poin 7 untuk bekerja dan terus berpikir, bagaimanapun kalau kita hanya bekerja saja tanpa berpikir tidak akan ada hasil yang maksimal, dan begitu juga dalam kita berpikir harus diimbangai dengan bekerja. Maka antara bekerja dan berpikir harus ada keseimbangan diantara keduanya dalam mengimplementasikannya.

    ReplyDelete
  14. Khaerudin
    16701621009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Ketika kita menjadi daksa
    tidak ada yang perlu disombongkan dari apa yang kita miliki, karena sejatinya ilmu manusia ibarat setetes air dilautan bila di bandingkan dengan kuasa Tuhan. Maka dari itu kita tidak boleh merasa lebih pintar dan menganggap yang disekitar kita lebih bodoh sehingga kita terperdaya oleh kesombongan kita. Tetapi kita harus terus mengelola segala potensi kita milki untuk terus berdo’a dan berikhtiar agar hari esok akan lebih baik dari hari ini.

    ReplyDelete
  15. kesombongan tdk lah menjadikan sebuah kebahagiaan, apalagi manusia hanyalah ciptaan dari tuhan yang lemah. sehngga kesombongan dapat menjadikan kesengsaraan manusia sendiri. kemudian seorang pendidik Haruslah bersikap teliti dan berpikir secara kritis dalam memilih buku bacaan, karena dapat memberikan pengaruh positif maupun negatif bagi pembacanya.

    M. Saufi Rahman
    S3 PEP Kelas A
    16701261024

    ReplyDelete
  16. SHALEH
    S3 PEP A 2016
    16701261010

    Interaksi antara Pandawa dan Kurawa di jagat pewayangan pendidikan Nasional, menggambarkan sebuah dinamika keseimbangan. Di dunia ini yang ada menjaga keseimbangannya dengan berpasangan, sepwrti: hitam-putih, baik-buruk, suka-duka dan sebagainya. Ketika para Kurawa berpacu untuk memaksakan motif dan tujuannya, maka Pandawa haruslah teguh dan istiqomah terhadap kebenarannya. Di dunia pendidikan, Para akademisi adalah Pandawa-pandawa pendidikan yang diharapkan menciptakan keseimbangan hubungan Pandawa-Kurawa jagat pendidikan Nasional.

    ReplyDelete
  17. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    dalam proses pembelajaran matematika terbagi atas dua yaitu matematika murni dan matematika sekolah. Kedua hal ini tidak dapat di satukan karena proses pembelajaran yang terjadi di dalamnya itu berbeda. Matematika murni dalam penerapannya seharusnya bukan berada pada ranah sekolah dikarenakan pada sekolah bukan memahami matematika secara mendalam melainkan bagaimana agar siswa dapat memecahkan masalah dalam kehidupannya dengan menggunakan matematika, ini sejalan dengan yang dikemukana oleh Aristotels yang mengatakan bahwa ilm itu berasal dari pengalaman, sedangkan dalam matematika murni berlandaskan dari pola pikir Plato yang mengatakan bahwa ilmu itu berasal dari pikiran yang bersifat abstrak.

    ReplyDelete
  18. Seftika Anggraini
    13301241013
    Pendidikan Matematika I 2013

    Dewa dan daksa adalah tingkatan dalam filsafat ini. Merasa menjadi daksa itu merasa sangat kecil. Lalu, bagaimana supaya dapat mencapai tingkat dewa? Berapa lama untuk mencapai tingkat dewa?

    ReplyDelete
  19. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Masalah mengenai menjadi dewa ataupun daksa tergantung dari pandangan ruang dan waktu dimana kita dibicarakan. Paham materialistik yang pernah hampir meruntuhkan Pancasila dan NKRI sebaiknya harus selalu diwaspadai kedepannya. Jangan sampai kita terjatuh pada lubang yang sama sebanyak dua kali. Sehingga untuk mengantisipasi gelombang materialistik kita juga harus mengetahui dan mempelajari materialistik itu sendiri, sehingga bila kita sudah tahu dan mengetahui apa itu paham materialistik, maka kita bisa membuat suatu anti-tesis nya dimana anti tesis itu digunakan untuk menanggulangi paham tersebut.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  20. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Dari Elegi di atas, point 8 kembali mengingatkan saya untuk tetap menyeimbangkan antara Doa dan Usaha. Bagaimana Ikhtiar yang kita lakukan harus dibarengi Doa, memohon kepada Sang Empunya Segala, Allah SWT.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  21. Umi Arismawati
    13301241032
    Pendidikan Matematika A 2013

    Perkembangan dari matematika adalah hasil dari kebutuhan manusia yang sungguh material. Bilangan yang mula hanya terdapat 10 angka berkembang menjadi puluhan, ratusan, ribuan, dst. Dan matematika terus berkembang seerti adanya penjumlahan dan pengurangan serta ilmuyang lebih rumit lagi.

    ReplyDelete
  22. Umi Arismawati
    13301241032
    Pendidikan Matematika A 2013

    Ada beberapa kontradiksi dalam matematika yang diantaranya bilangan irrasional dan bilangan pi. Para pengikut Pythagoras yang belakangan menemukan bahwa banyak bilangan, seperti akar kuadrat dari dua, yang tidak dapat dinyatakan dalam bilangan pecahan, seperti akar dari dua. Bilangan tersebut adalah bilangan irrasional. pi juga merupakan bilangan yang sampaisekarang nilai tepat dari bilangan ini tidak akan pernah dapat ditemukan.

    ReplyDelete
  23. Umi Arismawati
    13301241032
    Pendidikan Matematika A 2013

    Matematika sekolah haruslah matematika kongkrit.Hal ini agar siswa lebih mudah dipamahi siswa. Siswa juga lebih mengertimanfaat dari belajar matematika dalam kehidupan sehari-hari. sehingga tidak lagi banyak anggapan matematika merupakan ilmu hitung yanghanya menghafalkan rumus.

    ReplyDelete
  24. Berbicara masalah anak-anak
    Berbicara masalah intuisi
    Berbicara masalah bermain
    Berbicara masalah menyenangkan
    Berbicara masalah anak-anak
    maka
    jangan dipaksa, tapi biasakanlah
    jangan disuruh, tapi mintalah
    Jangan didoktrin, tapi diberitahu
    Sbenar-benarnya anak-anak adalah jiwa yang masih sepi dan kosong, maka isilah dengan setiap kebaikan, maka ia akan baik di kemudian hari.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S-3 PEP UNY

    ReplyDelete
  25. Secara konkret jika dikaitkan dengan" kemampuan psikologis siswa (anak kecil)"
    Seakan-akan ada kelas yang berbeda pada karakteristik siswa yang berbeda. Hal ini ditunjukkan dengan skema perbandingan karakter peserta didik. seperti pada:

    "Bagi para Dewa, silahkan bacalah secara kritis dan cermat; bagi para Daksa maka lengkapilah bacaan-bacaan yang lainnya agar ideal/kebenaran tidak mudah termakan oleh Keberaniannya Motif""

    Tentu dewa memiliki perspektif yang berbeda-beda dan tidak kompulsif menjadi satu,namun perlu diketahui, motif adalah motif yang bisa mengubah paradigma apapun menjadi bagaimanapun.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S-3 PEP UNY

    ReplyDelete
  26. Memet Sudaryanto
    16701261005
    S-3 PEP UNY


    Berdasarkan teori tentang psikologi perkembangan yang terkait dengan perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap operasi konkret. Dari apa yang dipelajari di sekolah, anak belajar menghubungkan antara konsep-konsep baru dengan konsep-konsep lama. Pada masa ini anak belajar untuk membentuk konsep-konsep tentang angka ,ruang,waktu, fungsi badan,peran jenis kelamin,moral. Pembelajaran di SD cepat dipahami anak, apabila anak dilibatkan langsung melakukan atau praktik apa yang diajarkan gurunya.

    ReplyDelete
  27. Nabi Muhammad saw bersabda: ” ajarilah putra-putrimu berenang memanjat” (HR At­-Tahatwi). Dalam hadis lain beliau juga bersabda ” mengajari anak-anakmu berenang dan memanah adalah kewajiban,” beliau lalu berkata” ajari anakmu memanah latihlah berkuda sampai mereka lancar” (HR. Bukhari).


    Hadist tersebut memperjelas konsep mengenai pembelajran yang konkret pada mata pelajaran matematika

    ReplyDelete
  28. Nabi Muhammad saw bersabda: ” ajarilah putra-putrimu berenang memanjat” (HR At­-Tahatwi). Dalam hadis lain beliau juga bersabda ” mengajari anak-anakmu berenang dan memanah adalah kewajiban,” beliau lalu berkata” ajari anakmu memanah latihlah berkuda sampai mereka lancar” (HR. Bukhari).


    Hadist tersebut memperjelas konsep mengenai pembelajran yang konkret pada mata pelajaran matematika

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 UNY PEP

    ReplyDelete
  29. Niswah Qurrota A'yuni
    NIM. 16709251023
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas B 2016

    Assalamu'alaikum Wr.Wb.,

    Teori-teori matematika telah, di satu pihak, merupakan sumber dari satu kemajuan yang dahsyat dalam ilmu pengetahuan, dan, di pihak lain, merupakan sumber dari sejumlah besar kesalahan dan kesalahpahaman yang telah, dan masih terus memiliki konsekuensi-konsekuensi negatif yang mendasar. Kesalahan sentralnya adalah upaya untuk mereduksi proses alam yang kompleks, dinamis dan penuh kontradiksi ini menjadi rumus-rumus yang statis, kuantitatif dan teratur. Hal ini terlihat dari pembelajaran matematika di sekolah yang direduksi menjadi rumus-rumus statis, kuantitatif dan teratur. Seharusnya pembelajaran matematika di sekolah tidak hanya terfokus pada rumus-rumus statis dan kuantitatis tersebut, tetapi juga diimbangi dengan eksplorasi kongkrit dan kualitatif. Sehing saya stuju sekali dengan point nomor 7 tentang keseimbangan, bahwa bekerja saja tidaklah cukup. Slogan yang dipopulerkan oleh tokoh terkenal dan fenomenal ini membuat saya malah berpikir bahwa jika hanya bekerja saja, maka kerbau saja bekerja menggarap sawah. Hewan pun bekerja mencari nafkah. Jadi memang segala sesuatu harus dilakukan dengan seimbang agar tidak terperangkap menjadi mitos/daksa/anomali.

    Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  30. Cermat dalam memilih buku sebagai sumber bacaan adalah bijak, terutama bijak bagi orang tua dalam memilih buku bacaan untuk anak-anaknya karena seperti yang kita tahu sekarang ini bahkan buku sekolah saja terdapat konten-konten yang tidak seharusnya diperuntukkan bagi anak-anak, seperti tidak ada pengawasan dari pihak-pihak terkait. OLeh karena itu, perlu adanya peran aktif dari orang tua, guru dan pihak-pihak terkait dalam mengawasi buku bacaan anak-anak kita agar tidak diselipi paham-paham yang bertentangan dan tidak sesuai dengan umur dan perkembangan psikologi anak.

    Triwid Syafarotun Najah
    16701261011
    PEP S3 (A) 2016

    ReplyDelete
  31. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Sejak jaman Pythagoras, klaim-klaim yang paling megah telah dibuat atas nama matematika, yang telah digambarkan sebagai ratu dari segala ilmu pengetahuan, kunci ajaib yang membuka semua pintu ke jagad raya. Kontradiksi dalam matematika, contohnya mustahil untuk menyatakan panjang diagonal dari sebuah persegi panjang dalam bentuk bilangan kuadrat. Para pengikut Pythagoras menemukan bahwa banyak bilangan, seperti akar kuadrat dari dua, yang tidak dapat dinyatakan dalam bilangan disebut dengan bilangan irasional". Namun, sekalipun akar dua tidak dapat dinyatakan dengan pecahan sekalipun, ia tetap berguna untuk menemukan panjang sisi dari sebuah segitiga. Maka bilangan irasional adalah salah satu yang menunjukkan ciri-ciri yang aneh dan kontradiktif, dan semuanya tidak dapat diabaikan dalam pekerjaan-pekerjaan ilmu pengetahuan modern.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  32. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Setiap yang ada dan yang mungkin ada, ada batasan-batasannya. Allah memberikan kebebasan manusia untuk hidup dan merasakan kesenangan di dunia, namun juga ada batasnya. Agar kita tidak terpengaruh dengan budaya-budaya merusak. Begitu juga belajar filsafat. Tidk semua bisa kita sentuh bidangnya. Juga harus berdasarkan pemikiran para filsuf agar semata-mata kita tidak menempuh aliran yang menyesatkan hidup kita dan agar kita selalu ingat pada Sang Pencipta.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  33. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Dalam mengajar guru haruslah bersikap ramah, dan juga menghargai peserta didik, tidak berbuat semena-mena. Karena peserta didik juga memiliki perasaan, apabila tersakiti dia akan membenci guru tersebut yang juga dapat berakibat membenci mata pelajarannya, dan dia akan menjadi malas belajar, kemudian malas sekolah.

    ReplyDelete
  34. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Cara mengajar siswa SD, SMP, dan SMA janganlah sama, harus dengan perlakuan yang berbeda. Matematika untuk anak SD adalah matematika konkret, jadi sebaiknya mengajarnya harus menggunakan alat peraga. Matematika abstrak apabila diajarkan kepada anak SD maka dapat menimbulkan dampak psikologi yang buruk.

    ReplyDelete
  35. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Saya tertarik dengan point nomor 7 dalam catatan di atas, bahwa dalam kehidupan ini sebelum melakukan tidakan sebaiknya kita berpikir terlebih dahulu, akan tetapi janganlah kita terlalu lama banyak berpikir karena akan menjadi kosong atau tidak menghasilkan sesuatu, Bekerja saja tanpa berpikir pun dapat berakibat menimbulkan kegagalan. Jadi harus seimbang, sehingga kita tidak akan mengalami penyesalan di kemudian hari.

    ReplyDelete
  36. Luthfannisa Afif Nabila
    13301241041
    Pendidikan Matematika A 2013
    Saya setuju dengan pernyataan diatas bahwa matematika murni seharusnya tidak mencampuri urusan pendidikan matematika untuk anak-anak. Matematika konkrit seharusnya disesuaikan dengan kemampuan psikologis siswa. Kemampuan setiap orang berbeda-beda disesuaikan dengan porsinya. Misalnya saja bayi yang baru lahir sudah disuruh makan nasi, nah brarti kan itu kemampuan tidak sesuai porsinya. Kita juga harus memikirkan hal itu. Sebagai petinggi seharusnya memiliki pertimbangan-pertimbangan dan tidak mengutamakan keegoisan.

    ReplyDelete
  37. Septi Puji Rahayu
    13301241028
    Pendidikan Matematika A 2013

    Matematika murni tidak salah diterapkan dalam matematika sekolah, tetapi jangan diberlakukan serentak untuk semua siswa karena tidak semua siswa mampu dan bisa untuk menerima itu. Kalau matematika sekolahnya saja tidak cukup akan fatal jika dipaksakan dengan matematika murni. Oleh karena itu, guru harus bisa memahami kondisi siswa-siswanya.

    ReplyDelete
  38. Septi Puji Rahayu
    13301241028
    Pendidikan Matematika A 2013

    Matematika memang seolah sesuatu hal fiksi karena secara kasat mata kita tidak mampu melihat ilmunya. Kita hanya bisa memandang aplikasi dari ilmunya. Matematika ada di dalam pikiran setiap manusia. Namun hanya orang-orang tertentu saja yang bisa memperlihatkan dan menunjukkan itu dalam sebuah tulisan.

    ReplyDelete
  39. Septi Puji Rahayu
    13301241028
    Pendidikan Matematika A 2013

    Selain itu, elegi ini juga mengajarkan kepada kita bahwa matematika murni dan pendidikan matematika adalah dua hal yang berbeda. Pendidikan matematika lebih cocok untuk anak usia sekolah, karena disesuaikan dengan daya tangkap dan tingkat kesulitannya juga dapat lebih mudah diselesaikan siswa. Sedangkan matematika murni biasanya diperuntukkan untuk orang dewasa.

    ReplyDelete
  40. Dyah Padmi
    13301241031
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Matematika telah ada sejak ribuan tahun lalu, mengindikasikan bahwa matematika sebagai ilmu hitung memanglah dibutuhkan oleh manusia sejak zaman dahulu. Maka sebenarnya matematika berangkat dari kenyataan, yaitu hal-hal yang konkrit atau memang ada. Contohnya adalah penemuan bilangan irrasional, yang ditemukan dari mengukur diagonal suatu ubin persegi. Ubin persegi adalah benda konkrit, yang mengantarkan penemu ke bilangan irrasional yang merupakan bagian dari matematika formal.

    ReplyDelete
  41. Dyah Padmi
    13301241031
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Dalam hal ini, matematika realistik adalah dasar dari segala bentuk matematika terapan. Perbedaan secara major terletak pada matematika dalam dunia pendidikan dan matematika dalam dunia terapan. Pendidikan matematika diperuntukkan bagi anak-anak, sedangkan matematika murni atau terapan diperuntukkan bagi orang dewasa yang sudah mengenal abstraksi dan telah berada di tingkat formal. Sedangkan untuk remaja, masih membutuhkan benda konkrit namun sudah mulai dikenalkan kepada abstraksi.

    ReplyDelete
  42. Rospala Hanisah Yukti Sari
    16790251016
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A Tahun 2016

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    menurut saya, dalam baca’an kali ini bagaimana Archimedes menghitung bilangan antara nilai 3,14085 dan 1, 14286. Tapi jika kita mencoba menuliskan nilai persisnya, kita akan mendapatkan nilai yang aneh:  = 3,141592653589... dan seterusnya hingga. Selain itu, akar kuadrat dari minus satu, yang bukan merupakan bilangan aritmatik sama sekali, para ahli matematika merujuknya sebagai "bilangan imajiner", karena tidak ada bilangan riil yang, jika dikalikan dengan dirinya sendiri, akan menghasilkan minus satu, karena dua bilangan minus akan menghasilkan bilangan plus.

    Sehingga, dalam penjabaran ini maka terdapat banyak bilangan yang memerlukan penelaahan lebih lanjut. Terkadang bilangan yang ada bersifat kontradiktif antara satu dengan yang lainnya. Sehingga, bilangan tersebut terkesan tidak konsisten.

    Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

    ReplyDelete
  43. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    PEP B 2016

    Pada dasarnya matematika adalah kumpulan dari suatu nilai kebenaran yang berisi pernyataan yang dilengkapi oleh bukti nyata. Matematika memerlukan pemikiran yang reflektif agar dapat menyelesaikan persoalan-persoalan mengenai segala hal.

    ReplyDelete
  44. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Assalamu`alaikum WR.WB
    Dari http://www.marxist.com/reason-in-revolt-bab-16-matematika.htm jujur saya sangat sukar dalam memahami bahasanya/kata-katanya yang menggunakan bahasa matematika murni tapi satu point yang saya tangkap disini adalah percobaan Archimedes dalam memecahkan persoalan pi(phi) dimana pi (phi) dalam pemahamannya begitu sederhana yakni bilangan itu sebagai rasio antara keliling dan diameter dari sebuah lingkaran tapi yang mau pecahkan oleh archimedes yakni keanehan bilangan dibelakang desimal dari phi(3,14) dan hasilnya pun tidak ditemukan angka pasti justru malah didapat nilai yang aneh dimana p = 3,14159265358979323846264338327950... dan seterusnya sampai tak berhingga

    ReplyDelete
  45. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Disini saya melihat betapa para ilmuan barat memaksa untuk memisahakan matematika dengan konsep agama/Ketuhanan dalam artian mereka tidak terima suatu bilangan yang bersifat tak terhingga yang sejatinya menggambarkan kebesaran Allah SWT (padalah yang namanya ilmu itu tidak berdasarkan materinya tetapi berdasarkan cara kita melihat materi itu sendiri). Keadaan seperti ini mengesampingkan esensi dari matematika bahwa hakekatnya ilmu yang paling suci dalam islam adalah MATEMATIKA sebagai contoh 7 dikali 4 meskipun disuap oleh milyaran rupiah meskipun sedang ditodong oleh pistol tetap hasilnya adalah 28, contoh lain matematika juga menggambarkan kepada kita akan proses hisab di Akhirat dimana segala amal perbuatan akan dihitung. Jadi satu hal pemahaman terkait matematika yang harus diterapkan disekolah-sekolah bahwa matematika itu bukanlah pelajaran umum melainkan pelajaran agama yang palin suci. Demikian Wassalamu`alaikum WR.WB

    ReplyDelete
  46. Fitri Ayu Ningtiyas
    16709251037
    S2 P.Mat B UNY 2016

    Matematika merupakan ilmu yang menjadi pemacu perkembangan ilmu pengetahuan lain, tidak dapat dipungkiri bahwa matematika memiliki kontribusi dalam kehidupan kita sebab matematika bisa bermanfaat dalam setiap aspek kehidupan. Namun tentu saja kesahihan model matematik mereka tidaklah tergantung pada pembenaran yang diperoleh secara empirik, melainkan semata pada kualitas estetika dari persamaan-persamaannya. Dan kembali, walaupun demikian, matematika tetap tidak bisa hidup tanpa dorongan ilmu pengetahuan lainnya.

    ReplyDelete
  47. Achmad Rasyidinnur
    16701251032
    PEP S2 B

    Memperhatikan kontekstual penjelasan tulisan mengenai ketidakberhinggaan: “Ide tentang ketakberhinggaan sangat sulit dipahami, karena, sekilas hal itu berada di luar pengalaman manusia. Pikiran manusia terbiasa menangani hal-hal yang berhingga, yang dinyatakan dalam ide-ide yang berhingga. Segala sesuatu memiliki awal dan akhir. Ini adalah pemikiran yang akrab dengan kita. Tapi apa yang akrab tidak harus selalu benar. Sejarah pemikiran matematik memiliki beberapa pelajaran penting tentang hal ini. Untuk waktu yang lama, para ahli matematika, setidaknya di Eropa, berusaha mengusir konsep ketakberhinggaan. Alasan mereka untuk melakukan hal ini sangat jelas. Selain adanya kesulitan untuk mengonsepkan ketakberhinggaan, dalam makna yang murni matematik hal ini merupakan satu kontradiksi.

    ReplyDelete
  48. Achmad Rasyidinnur
    16701251032
    PEP S2 B

    Matematika berurusan dengan besaran yang berhingga. Ketakberhinggaan, karena sifat dasarnya, tidak akan dapat diukur atau dihitung. Hal ini berarti bahwa terdapat konflik yang riil di antara keduanya. Untuk alasan ini, para ahli matematika besar dari jaman Yunani kuno menganggap ketakberhinggaan sebagai sebuah wabah. Walau demikian, sejak awal filsafat, orang telah berspekulasi tentang ketakberhinggaan. Anaximander (610-547 SM) mengambil hal ini sebagai basis dari filsafatnya.

    ReplyDelete
  49. Achmad Rasyidinnur
    16701251032
    PEP S2 B

    Para ahli matematika pada zaman yunani kuno bisa saja salah atau kontradiktif. Saat dimana ilmu pengetahuan telah maju dan bilangan menjadi varian, hingga menggambarkan ketidaberhinggaannya. Seperti rumus 1/0 menjadi 0/1. Menjelaskan suatu kondisi menjadi sangat tidak pasti dan tidak dapat dijangkau.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id