Feb 25, 2011

Elegi Memperbudak atau Diperbudak Bentuk?




Oleh Marsigit

Siswa Pemakai Sepatu:
Aku tidak suka warna dan model sepatu ini, tetapi mengapa saya harus memakainya? Oh iya lupa aku. Bukankah ini kewajibanku untuk selalu memakainya. Adalah Guru yang mewajibkan diriku untuk selalu memakai sepatu ini.

Rumput:
Wahai Siswa Pemakai Sepatu...berarti engkau itu telah diperbudak oleh warna dan model sepatu itu. Artinya, engkau telah diperbudak oleh bentuk Sepatu.

Guru :
Hai Rumput.....jangan asal bicara kau! Memakai sepatu dengan warna dan model seperti ini itu adalah kebijakanku yang aku wajibkan kepada semua anggotaku, agar tercipta keseragaman. Jika semua anggotaku sudah tampak seragam, maka hatiku akan menjadi senang. Ketahuilah bahwa hatiku selalu lebih cenderung merasa senang akan hal-hal yang bersifat seragam. Mengapa? Karena seragam itu lebih mudah dibuatnya, seragam itu lebih murah dibelinya, seragam itu lebih sederhana melayaninya, dan seragam itu lebih mudah mengaturnya.

Rumput:
Wahai Guru...kalau begitu engkau telah memperbudak bentuk Sepatu.

Cemani:
Wah kapan ya aku bisa mengganti HP ku. HP ku itu sudah canggih dan lengkap, tetapi umurnya sudah tiga tahun. Aku agak merasa malu karena tampilannya tertinggal. Jika aku mempunyai uang, maka aku akan beli HP baru yang tampilannya lebih keren.

Rumput:
Wahai Cemani...kalau begitu engkau telah diperbudak oleh bentuk HP.

Penjual HP:
Hai Rumput..jangan asal bicara kau. Mengenalkan produk-produk HP baru itu adalah misiku. Hanya dengan cara demikianlah aku memperoleh keuntunganku.

Rumput:
Wahai Penjual HP... kalau begitu engkau telah memperbudak bentuk HP.

Guru:
Ahh..kenapa mesti RPP harus seperti ini modelnya? Sebetulnya aku tidak merasa cocok dengan model seperti ini? Tetapi kenapa aku harus membuat RPP seperti ini?

Rumput:
Wahai Guru... kalau begitu engkau telah diperbudak oleh bentuk RPP.

Guru Kepala:
Hai Rumput...jangan asal bicara kau. Ketahuilah bahwa membuat RPP dengan model seperti ini itu adalah kebijakanku yang aku wajibkan kepada semua anggotaku, agar tercipta keseragaman. Jika semua anggotaku sudah membuat RPP secara seragam, maka hatiku akan menjadi senang. Ketahuilah bahwa hatiku selalu lebih cenderung merasa senang akan RPP yang bersifat seragam. Mengapa? Karena RPP yang seragam itu lebih mudah dibuatnya, RPP yang seragam itu lebih murah diproduksinya, RPP yang seragam itu lebih sederhana melayaninya, RPP yang seragam itu lebih mudah mengaturnya, dan RPP yang seragam itu lebih mudah melaporkannya.

Rumput:
Wahai Guru Kepala...kalau begitu engkau telah memperbudak bentuk RPP.

Siswa:
Ahh..kenapa mesti soalnya harus seperti ini modelnya? Sebetulnya aku tidak merasa cocok dengan model soal seperti ini? Tetapi kenapa aku harus mengerjakan soal seperti ini? Wah..kalau tidak mau mengerjakan ..ya saya tidak lulus.

Rumput:
Wahai Siswa...kalau begitu engkau telah diperbudak oleh bentuk Soal.

Guru Pembuat Soal:
Hai Rumput...jangan asal bicara kau. Ketahuilah bahwa Soal dengan model seperti ini itu adalah kebijakanku yang aku wajibkan kepada semua siswaku, agar tercipta keseragaman. Jika semua siswaku sudah mengerjakan Soal secara seragam, maka hatiku akan menjadi senang. Ketahuilah bahwa hatiku selalu lebih cenderung merasa senang akan Soal yang bersifat seragam. Mengapa? Karena Soal yang seragam itu lebih mudah dibuatnya, Soal yang seragam itu lebih murah dibuatnya, Soal yang seragam itu lebih sederhana digunakannya, Soal yang seragam itu lebih mudah mengaturnya, dan Soal yang seragam itu lebih mudah mengoreksinya.

Rumput:
Wahai Guru Pembuat Soal...kalau begitu engkau telah memperbudak bentuk Soal.

Cantraka:
Kenapa teorinya harus begitu? Kenapa seakan tidak ada Teori alternatif yang lain. Tetapi saya merasa belum cukup pengetahuanku untuk menanyakan perihal teori-teori yang lain.

Rumput:
Wahai Cantraka...kalau begitu engkau telah diperbudak oleh satu bentuk Teori.

Bagawat:
Hai Rumput...jangan asal bicara kau. Ketahuilah bahwa Teori yang ini itu adalah teoriku yang aku berikan kepada semua cantraka, agar tercipta keseragaman. Jika semua siswaku sudah mempunyai Teorisecara seragam, maka hatiku akan menjadi senang. Ketahuilah bahwa hatiku selalu lebih cenderung merasa senang akan Teori yang bersifat seragam. Mengapa? Karena Teori yang seragam itu lebih mudah dibuatnya, Teori yang seragam itu lebih murah dibuatnya, Teori yang seragam itu lebih sederhana digunakannya, Teori yang seragam itu lebih mudah mengaturnya, dan Teori yang seragam itu lebih menjamin legitimasiku.

Rumput:
Wahai Bagawat...kalau begitu engkau telah memperbudak suatu bentuk Teori tertentu.

Akar Rumput:
Wahai Rumput...aku merasa heran kepadamu. Kenapa engkau selalu bisa saja mengambil kesimpulan atas perbincangan orang-orang itu. Tetapi anehnya kesimpulanmu itu selalu salah satu dari kalau tidak “memperbudak bentuk” ya “diperbudak bentuk”? Bolehkah saya mengetahui apa maksud kesimpulan-kesimpulanmu itu?

Rumput:
Wahai Akar Rumput...aku sedang menyaksikan masyarakat sedang mengalami ketegangan antara kehidupan dan bentuk. Dikarenakan ketegangan itulah aku juga sedang menyaksikan bahwa hampir semua orang yang aku saksikan itu ternyata telah gagal menangkap masa depannya, artinya aku juga masih sedang menyaksikan bahwa krisis multi dimensi itu ternyata masih prevalen dan imanen dalam masyarakat dan bangsa kita.

Akar Rumput:
Apakah ciri-ciri dan sebab pokok dari krisis multidimensi yang melanda bangsa ini?

Rumput:
Ciri-ciri pokok dari krisis mutidimensi adalah Ketidakberdayaan Bentuk. Itulah dampak dari perang yang digelorakan oleh sang Powernow. Ketahuilah bahwa usaha sang Powernow untuk menguasai dunia dengan cara menaklukan negara-negara Dunia Timur dan Dunia Selatan, telah menebarkan konflik tak terkendali. Konflik tak terkendali artinya konflik yang tidak diketahui bagaimana cara mengembangkan managemen mengatasinya.

Akar Rumput:
Contohnya..konflik-konflik apa saja?

Rumput:
Konflik antara wadah dan isinya. Konflik antara bentuk dan substansinya. Konflik antara subyek dan obyeknya. Konflik antar subyek. Konflik antar obyek. Konflik internal subyek. Konflik internal obyek. Konflik antara kebutuhandan perjuangan. Konflik antara baik dan buruk. Konflik antara para baik. Terlebih-lebih konflik antara para buruk. Itulah bahwa bangsa kita sedang dilanda skeptisisme masal.

Akar Rumput:
Apa yang disebut skeptisisme masal?

Rumput:
Skeptisisme masal adalah sikap jenuh, sikap bosan, tidak percaya, tidak semangat, putus asa, frustasi, ingkar janji, berbohong, serba instant, tidak sabar, mudah emosi, tidak toleran, tidak asih, tidak asuh, tidak berkomitmen, tidak berdisiplin, hidup dalam kepalsuan, tidak ada tauladan, kacaunya pedoman, hilangnya jati diri, bersifat tamak, keinginan melebihi kemampuan, hidup parsial, kekerabatan menjadi kebisnisan, artis seni menjadi artis bisnis, tidak mengerti jangka panjang, hanya untuk sekarang dan jangka pendek, memperbudak bentuk, dan diperbudak bentuk.

Akar Rumput:
Apa hubungan antara skeptisisme masal dengan bentuk?

Rumput:
Dikarenakan skeptisisme masal maka semua bentuk menjadi kehilangan makna. Bentuk telah diperbudak, dan bentuk telah digunakan untuk memperbudak. Bentuk telah dimanipulasi. Bentuk-bentuk asli telah dianggap tidak memadai, kemudian digantikanlah dengan bentuk-bentuk baru. Bentuk-bentuk baru yang tidak memadai segera diganti dengan bentuk-bentuk baru lagi, sehingga praktis tidak berbentuk.

Akar Rumput:
Wah aku bingung mengikuti penjelasanmu. Bagaimana contoh konkritnya?

Rumput:
Gotong royong adalah bentuk lama dan sudah digantikan dengan arisan, bahkan arisan mobil. Menabung adalah bentuk lama, bentuk barunya adalah kredit kendaraan. Berkunjung digantikan dengan sms. Kerjasama berubah menjadi kolusi. Ikhlas berdoa berganti dengan berdoa via pulsa. Tenaga kerja manusia diganti dengan tenaga robot. Kebenaran diganti dengan kesepakatan. Kasus besar dialihkan dengan kasus besar lainnya. Pertunjukan wayang semalam suntuk diganti dengan pertunjukan wayang dua jam. Yang penting bisa berkumpul diganti yang penting bisa makan. Mengusir penjajah diganti dengan menjajah bangsa sendiri. Peraturan diganti dengan pendekatan. Haram diubah menjadi halal. Asli diganti asli tetapi palsu. Pendingin es diganti borax atau formalin. Tuntunan diubah menjadi tontonan. Lokal diganti import. Ekspor barang diganti ekspor manusia. Tarian sakral diubah untuk tarian ngamen. Benar diganti dengan yang salah. Salah dibenarkan. Ranah hukum diganti ranah politik. Jelas diganti dengan yang kabur. Dst...

Akar Rumput:
Apa dampaknya?

Rumput:
Dampaknya jelas..hidup dalam ambivalensi dan dalam kepalsuan. Ambivalensi itu adalah disharmoni. Disharmoni itu kacau, tidak tenteram, hitam, sedih, panas, gersang, gerah, unsur-unsurnya syaitan, unsur-unsurnya neraka. Kepalsuan itu artinya hidup seakan-akan atau seperti. Seakan-akan punya. Seakan-akan pandai. Seakan-akan bisa. Seakan-akan ikhlas. Seakan-akan sanggup. Seakan-akan bekerjasama. Seakan-akan resmi. Seakan-akan syah. Seakan-akan ada. Seakan-akan hebat. Seakan-akan benar. Seakan-akan murah. Seakan-akan membantu. Seakan-akan penting. Seakan-akan wakil rakyat. Seakan-akan koalisi. Seakan-akan gratis. Seakan-akan pemimpin. Seakan-akan jujur. Seakan-akan adil. Seakan-akan...dst. Itulah sebenar-benar krisis multidimensi bangsaku itu.

Akar Rumput:
Mengapa masyarakat dan bangsaku bisa seperti itu

Rumput:
Itulah buah karya sang Powernow yang ingin menguasai dunia. Bukankah dia telah sesumbar, bahwa sebelum saatnya menggunakan okol, yaitu senjata pamungkasnya, maka dia akan menggunakan akalnya terlebih dulu untuk menguasai raja-raja dunia timur dan dunia selatan.

5 comments:

  1. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Elegi memperbudak atau diperbudak bentuk menurut pendapat saya merupakan dua hal yang merupakan sebab – akibat dan menghasilkan suatu kesenjangan dan ketidakharmonisan. Kita dapat diperbudak karena ada yang memperbudak, begitu juga jika kita memperbudak maka pasti akan ada yang diperbudak. Hal seperti ini sebenarnya cukup ironis jika berada di posisi yang salah atau dipandang dari sisi negatif. Namun, jika kita mampu melihatnya dari sisi positif, konteks diperbudak dan memperbudak akan membawa manfaat.

    ReplyDelete
  2. Contohnya saja saat kita belajar, jika kita tidak diperbudak oleh keadaan yang disebut dengan belajar maka kita tidak akan memperoleh ilmu dan tidak akan menambah pengetahuan. Dari sini kita dapat melihat, ternyata kita diperbudak oleh belajar dan belajar memperbudak kita. Namun, kita sendiri mengetahui bahwa belajar memiliki manfaat.

    ReplyDelete
  3. Tri Puji Astuti
    13301241037
    Pendidikan Matematika A 2013

    Berdasarkan elegi tersebut, saya menjadi tau bahwa Skeptisisme masal adalah sikap jenuh, sikap bosan, tidak percaya, tidak semangat, putus asa, frustasi, ingkar janji, berbohong, serba instant, tidak sabar, mudah emosi, tidak toleran, tidak asih, tidak asuh, tidak berkomitmen, tidak berdisiplin, hidup dalam kepalsuan, tidak ada tauladan, kacaunya pedoman, hilangnya jati diri, bersifat tamak, keinginan melebihi kemampuan, hidup parsial, kekerabatan menjadi kebisnisan, artis seni menjadi artis bisnis, tidak mengerti jangka panjang, hanya untuk sekarang dan jangka pendek, memperbudak bentuk, dan diperbudak bentuk. Karena skeptisisme masal maka semua bentuk menjadi kehilangan makna.

    ReplyDelete
  4. Tri Puji Astuti
    13301241037
    Pendidikan Matematika A 2013

    Bangsa ini sedang mengalami krisis multidimensi. Yang mana ciri-ciri pokok dari krisis mutidimensi adalah Ketidakberdayaan Bentuk. Terjadi konflik dimana-mana. Konflik antara wadah dan isinya. Konflik antara bentuk dan substansinya. Konflik antara subyek dan obyeknya. Konflik antar subyek. Konflik antar obyek. Konflik internal subyek. Konflik internal obyek. Konflik antara kebutuhandan perjuangan. Konflik antara baik dan buruk. Konflik antara para baik. Terlebih-lebih konflik antara para buruk. Itulah bahwa bangsa kita sedang dilanda skeptisisme masal.

    ReplyDelete
  5. Siska Nur Rahmawati
    16701251028
    PEP-B 2016

    Konflik terjadi karena terdapat kesalahpahaman yang pada pikiran kita. Konflik bisa bermula dari adanya sikap skeptis. Untuk menghindari sikap skeptis, ada baiknya memang kita memperluas pengetahuan dan pemahaman kita agar tidak mudah diperbudak atau memperbudak bentuk. Konflik bisa terjadi dimana saja, dan kapan saja. Oleh karena itu, kita harus membentengi diri kita dengan pondasi yang kuat.

    ReplyDelete


Note: Only a member of this blog may post a comment.