Feb 25, 2011

Elegi Memperbudak atau Diperbudak Bentuk?




Oleh Marsigit

Siswa Pemakai Sepatu:
Aku tidak suka warna dan model sepatu ini, tetapi mengapa saya harus memakainya? Oh iya lupa aku. Bukankah ini kewajibanku untuk selalu memakainya. Adalah Guru yang mewajibkan diriku untuk selalu memakai sepatu ini.

Rumput:
Wahai Siswa Pemakai Sepatu...berarti engkau itu telah diperbudak oleh warna dan model sepatu itu. Artinya, engkau telah diperbudak oleh bentuk Sepatu.

Guru :
Hai Rumput.....jangan asal bicara kau! Memakai sepatu dengan warna dan model seperti ini itu adalah kebijakanku yang aku wajibkan kepada semua anggotaku, agar tercipta keseragaman. Jika semua anggotaku sudah tampak seragam, maka hatiku akan menjadi senang. Ketahuilah bahwa hatiku selalu lebih cenderung merasa senang akan hal-hal yang bersifat seragam. Mengapa? Karena seragam itu lebih mudah dibuatnya, seragam itu lebih murah dibelinya, seragam itu lebih sederhana melayaninya, dan seragam itu lebih mudah mengaturnya.

Rumput:
Wahai Guru...kalau begitu engkau telah memperbudak bentuk Sepatu.

Cemani:
Wah kapan ya aku bisa mengganti HP ku. HP ku itu sudah canggih dan lengkap, tetapi umurnya sudah tiga tahun. Aku agak merasa malu karena tampilannya tertinggal. Jika aku mempunyai uang, maka aku akan beli HP baru yang tampilannya lebih keren.

Rumput:
Wahai Cemani...kalau begitu engkau telah diperbudak oleh bentuk HP.

Penjual HP:
Hai Rumput..jangan asal bicara kau. Mengenalkan produk-produk HP baru itu adalah misiku. Hanya dengan cara demikianlah aku memperoleh keuntunganku.

Rumput:
Wahai Penjual HP... kalau begitu engkau telah memperbudak bentuk HP.

Guru:
Ahh..kenapa mesti RPP harus seperti ini modelnya? Sebetulnya aku tidak merasa cocok dengan model seperti ini? Tetapi kenapa aku harus membuat RPP seperti ini?

Rumput:
Wahai Guru... kalau begitu engkau telah diperbudak oleh bentuk RPP.

Guru Kepala:
Hai Rumput...jangan asal bicara kau. Ketahuilah bahwa membuat RPP dengan model seperti ini itu adalah kebijakanku yang aku wajibkan kepada semua anggotaku, agar tercipta keseragaman. Jika semua anggotaku sudah membuat RPP secara seragam, maka hatiku akan menjadi senang. Ketahuilah bahwa hatiku selalu lebih cenderung merasa senang akan RPP yang bersifat seragam. Mengapa? Karena RPP yang seragam itu lebih mudah dibuatnya, RPP yang seragam itu lebih murah diproduksinya, RPP yang seragam itu lebih sederhana melayaninya, RPP yang seragam itu lebih mudah mengaturnya, dan RPP yang seragam itu lebih mudah melaporkannya.

Rumput:
Wahai Guru Kepala...kalau begitu engkau telah memperbudak bentuk RPP.

Siswa:
Ahh..kenapa mesti soalnya harus seperti ini modelnya? Sebetulnya aku tidak merasa cocok dengan model soal seperti ini? Tetapi kenapa aku harus mengerjakan soal seperti ini? Wah..kalau tidak mau mengerjakan ..ya saya tidak lulus.

Rumput:
Wahai Siswa...kalau begitu engkau telah diperbudak oleh bentuk Soal.

Guru Pembuat Soal:
Hai Rumput...jangan asal bicara kau. Ketahuilah bahwa Soal dengan model seperti ini itu adalah kebijakanku yang aku wajibkan kepada semua siswaku, agar tercipta keseragaman. Jika semua siswaku sudah mengerjakan Soal secara seragam, maka hatiku akan menjadi senang. Ketahuilah bahwa hatiku selalu lebih cenderung merasa senang akan Soal yang bersifat seragam. Mengapa? Karena Soal yang seragam itu lebih mudah dibuatnya, Soal yang seragam itu lebih murah dibuatnya, Soal yang seragam itu lebih sederhana digunakannya, Soal yang seragam itu lebih mudah mengaturnya, dan Soal yang seragam itu lebih mudah mengoreksinya.

Rumput:
Wahai Guru Pembuat Soal...kalau begitu engkau telah memperbudak bentuk Soal.

Cantraka:
Kenapa teorinya harus begitu? Kenapa seakan tidak ada Teori alternatif yang lain. Tetapi saya merasa belum cukup pengetahuanku untuk menanyakan perihal teori-teori yang lain.

Rumput:
Wahai Cantraka...kalau begitu engkau telah diperbudak oleh satu bentuk Teori.

Bagawat:
Hai Rumput...jangan asal bicara kau. Ketahuilah bahwa Teori yang ini itu adalah teoriku yang aku berikan kepada semua cantraka, agar tercipta keseragaman. Jika semua siswaku sudah mempunyai Teorisecara seragam, maka hatiku akan menjadi senang. Ketahuilah bahwa hatiku selalu lebih cenderung merasa senang akan Teori yang bersifat seragam. Mengapa? Karena Teori yang seragam itu lebih mudah dibuatnya, Teori yang seragam itu lebih murah dibuatnya, Teori yang seragam itu lebih sederhana digunakannya, Teori yang seragam itu lebih mudah mengaturnya, dan Teori yang seragam itu lebih menjamin legitimasiku.

Rumput:
Wahai Bagawat...kalau begitu engkau telah memperbudak suatu bentuk Teori tertentu.

Akar Rumput:
Wahai Rumput...aku merasa heran kepadamu. Kenapa engkau selalu bisa saja mengambil kesimpulan atas perbincangan orang-orang itu. Tetapi anehnya kesimpulanmu itu selalu salah satu dari kalau tidak “memperbudak bentuk” ya “diperbudak bentuk”? Bolehkah saya mengetahui apa maksud kesimpulan-kesimpulanmu itu?

Rumput:
Wahai Akar Rumput...aku sedang menyaksikan masyarakat sedang mengalami ketegangan antara kehidupan dan bentuk. Dikarenakan ketegangan itulah aku juga sedang menyaksikan bahwa hampir semua orang yang aku saksikan itu ternyata telah gagal menangkap masa depannya, artinya aku juga masih sedang menyaksikan bahwa krisis multi dimensi itu ternyata masih prevalen dan imanen dalam masyarakat dan bangsa kita.

Akar Rumput:
Apakah ciri-ciri dan sebab pokok dari krisis multidimensi yang melanda bangsa ini?

Rumput:
Ciri-ciri pokok dari krisis mutidimensi adalah Ketidakberdayaan Bentuk. Itulah dampak dari perang yang digelorakan oleh sang Powernow. Ketahuilah bahwa usaha sang Powernow untuk menguasai dunia dengan cara menaklukan negara-negara Dunia Timur dan Dunia Selatan, telah menebarkan konflik tak terkendali. Konflik tak terkendali artinya konflik yang tidak diketahui bagaimana cara mengembangkan managemen mengatasinya.

Akar Rumput:
Contohnya..konflik-konflik apa saja?

Rumput:
Konflik antara wadah dan isinya. Konflik antara bentuk dan substansinya. Konflik antara subyek dan obyeknya. Konflik antar subyek. Konflik antar obyek. Konflik internal subyek. Konflik internal obyek. Konflik antara kebutuhandan perjuangan. Konflik antara baik dan buruk. Konflik antara para baik. Terlebih-lebih konflik antara para buruk. Itulah bahwa bangsa kita sedang dilanda skeptisisme masal.

Akar Rumput:
Apa yang disebut skeptisisme masal?

Rumput:
Skeptisisme masal adalah sikap jenuh, sikap bosan, tidak percaya, tidak semangat, putus asa, frustasi, ingkar janji, berbohong, serba instant, tidak sabar, mudah emosi, tidak toleran, tidak asih, tidak asuh, tidak berkomitmen, tidak berdisiplin, hidup dalam kepalsuan, tidak ada tauladan, kacaunya pedoman, hilangnya jati diri, bersifat tamak, keinginan melebihi kemampuan, hidup parsial, kekerabatan menjadi kebisnisan, artis seni menjadi artis bisnis, tidak mengerti jangka panjang, hanya untuk sekarang dan jangka pendek, memperbudak bentuk, dan diperbudak bentuk.

Akar Rumput:
Apa hubungan antara skeptisisme masal dengan bentuk?

Rumput:
Dikarenakan skeptisisme masal maka semua bentuk menjadi kehilangan makna. Bentuk telah diperbudak, dan bentuk telah digunakan untuk memperbudak. Bentuk telah dimanipulasi. Bentuk-bentuk asli telah dianggap tidak memadai, kemudian digantikanlah dengan bentuk-bentuk baru. Bentuk-bentuk baru yang tidak memadai segera diganti dengan bentuk-bentuk baru lagi, sehingga praktis tidak berbentuk.

Akar Rumput:
Wah aku bingung mengikuti penjelasanmu. Bagaimana contoh konkritnya?

Rumput:
Gotong royong adalah bentuk lama dan sudah digantikan dengan arisan, bahkan arisan mobil. Menabung adalah bentuk lama, bentuk barunya adalah kredit kendaraan. Berkunjung digantikan dengan sms. Kerjasama berubah menjadi kolusi. Ikhlas berdoa berganti dengan berdoa via pulsa. Tenaga kerja manusia diganti dengan tenaga robot. Kebenaran diganti dengan kesepakatan. Kasus besar dialihkan dengan kasus besar lainnya. Pertunjukan wayang semalam suntuk diganti dengan pertunjukan wayang dua jam. Yang penting bisa berkumpul diganti yang penting bisa makan. Mengusir penjajah diganti dengan menjajah bangsa sendiri. Peraturan diganti dengan pendekatan. Haram diubah menjadi halal. Asli diganti asli tetapi palsu. Pendingin es diganti borax atau formalin. Tuntunan diubah menjadi tontonan. Lokal diganti import. Ekspor barang diganti ekspor manusia. Tarian sakral diubah untuk tarian ngamen. Benar diganti dengan yang salah. Salah dibenarkan. Ranah hukum diganti ranah politik. Jelas diganti dengan yang kabur. Dst...

Akar Rumput:
Apa dampaknya?

Rumput:
Dampaknya jelas..hidup dalam ambivalensi dan dalam kepalsuan. Ambivalensi itu adalah disharmoni. Disharmoni itu kacau, tidak tenteram, hitam, sedih, panas, gersang, gerah, unsur-unsurnya syaitan, unsur-unsurnya neraka. Kepalsuan itu artinya hidup seakan-akan atau seperti. Seakan-akan punya. Seakan-akan pandai. Seakan-akan bisa. Seakan-akan ikhlas. Seakan-akan sanggup. Seakan-akan bekerjasama. Seakan-akan resmi. Seakan-akan syah. Seakan-akan ada. Seakan-akan hebat. Seakan-akan benar. Seakan-akan murah. Seakan-akan membantu. Seakan-akan penting. Seakan-akan wakil rakyat. Seakan-akan koalisi. Seakan-akan gratis. Seakan-akan pemimpin. Seakan-akan jujur. Seakan-akan adil. Seakan-akan...dst. Itulah sebenar-benar krisis multidimensi bangsaku itu.

Akar Rumput:
Mengapa masyarakat dan bangsaku bisa seperti itu

Rumput:
Itulah buah karya sang Powernow yang ingin menguasai dunia. Bukankah dia telah sesumbar, bahwa sebelum saatnya menggunakan okol, yaitu senjata pamungkasnya, maka dia akan menggunakan akalnya terlebih dulu untuk menguasai raja-raja dunia timur dan dunia selatan.

27 comments:

  1. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Semakin lama, baik secara sadar maupun tidak, kita sudah diperbudak dan memperbudak bentuk. Dari bangun tidur sampai tidur lagi dipenuhi dengan yang namanya “perbudakan”. Krisis multidimensi sudah mendarah daging bagi bangsa ini termasuk diri pribadi. Jadi bagaimanakah agar kita tidak semakin terperosok ke dalam jurang disharmoni ini?. Berdoa yang dapat saya lakukan saat ini

    ReplyDelete
  2. Muhammad Mufti Hanafi
    13301244005
    Pendidikan Matematika 2013

    Sebuah kritikan yang mendidik. Seorang terkadang hanya fokus pada penampilan semata, tak mau mencari hakikat pada barang dan kegiatannya. Dalam dataran praktik seorang semakin hari semakin tertarik dengan yang instan. Tak bisa membeli HP mahal membeli HP yang punya tampilan sama yang penting murah meski kualitas tak bermutu. Tuntutan gaya dan kemudahan membuat badan terasa berat untuk berjuang dan mengandalkan potensi kritis untu7k mencapai pengetahuan hakikat. Masalahnya hanya satu, terbawa arus Power Now.

    ReplyDelete
  3. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Belajar filosofi akan menguntungkan bagi para guru matematika dan sain ketika karena akan mengembangkan visi mengenai pendidikan matematika dan sain beserta seluruh aspeknya. Diibaratkan guru matematika dan sain tanpa filosofi akan buta. Inilah mengapa penting bagi guru untuk tidak melupakan filosofi dari pelajaran yang diajarkannya. Sehingga nantinya, para guru matematika dan sain akan mengerti apakah perbuatan mereka dalam membelajarkan sesuatu kepada siswa telah sesuai dengan filosofinya atau belum.

    ReplyDelete
  4. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Kekuatan powernow sekarang memang sudah mempengaruhi bangsa Indonesia. Postingan ini dibuat tahun 2011 yang lalu, apalagi sekarang, powernow sudah merajalela mempengaruhi kehidupan bangsa Indonesia. Powernow membuat bangsa Indonesia kehilangan jati dirinya. Masyarakat Indonesia lebih takjub dan kagum terhadap bentuk bangsa luar. Sepertinya, bentuk-bentuk bangsa luar tersebut telah memperbudak bangsa Indonesia. Oleh karena itu, mari kita jaga Indonesia ini dari kekuatan powernow. Kita sebagai bangsa Indonesia harus mampu memilih bentuk-bentuk apa saja yang sesuai dengan bangsa ini dan berdampak baik untuk kemajuan bangsa Indonesia. Bentuk yang baik, itulah yang kita terapkan. Sehingga harapannya, kitalah yang menguasai bentuk dari bangsa luar di negara kita sendiri bukan malah sebaliknya kita yang diperbudak oleh bentuk-bentuk tersebut.

    ReplyDelete
  5. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Salah satu contoh konkret skeptisme masal adalah dengan permainan masa kecil yang berubah bentuk menjadi game di gadget. Anak-anak jaman sekarang telah kehilangan masa kecilnya, kedatangan teknologi seperti gadget saat ini telah menghilangkan permainan-permainan tradisional, yang bisa kumpul digantikan yang bisa makan, saat ini kita bisa bertemu dengan teman-teman kita asalkan kita berada di satu tempat yang sama, yaitu sama-sama sedang makan, namun yang terjadi saat itupun kita sibuk dengan HP masing-masing. Hingga akhirnya teknologi yang dulu mendekatkan yang jauh, kini berubah menjauhkan yang dekat, dan yang jauh semakin jauh.

    ReplyDelete
  6. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Era modern saat ini telah mengalami banyak perubahan. Perkembangan teknologi akhir-akhir ini sangat sangat pesat. Kita bisa lihat teknologi HandPhone, PDA, Komputer demikian luarbiasanya, dalam hitungan bulan atau minggu sudah mengeluarkan seri terbaru. Dan orang-orang pun banyak yang mengikutinya. Adanya perkembangan tersebut banyak menguntungkan bahkan memudahkan kita dalam melakukan banyak hal. Di samping itu, salah satu fenomena dari efek negatif perkembangan teknologi adalah timbulnya perilaku asosial. Merealisasikan atau memanfaatkan teknologi agar bernilai postif tidaklah gampang. Tapi, itulah tantangan zaman yang harus kita jawab. Oleh karena itu, sebagai generasi muda, sudah sepantasnya kitalah yang menguasai teknologi, bukan teknologi yang menguasai kita. Selain itu, memanfaatkan teknologi dengan sebaik mungkin untuk mendukung hal – hal positif dalam kehidupan sehari – hari.

    ReplyDelete
  7. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Perkembangan zaman yang begitu cepat menjadikan kita tanpa sadar diperbudak oleh bentuk. Apabila dahulu memiliki hp yang daapt digunakan berkomunikasi sudahlah cukup, tetapi saat ini banyak masyarakat yang senang sekali bergonta-ganti smartphone. Begitu keluar smartphone yang baru masyarakat berbondong-bondong untuk membelinya meskipun telah memiliki smartphone yang masih berfungsi dengan baik. Budaya konsumtif merupakan bukti bahwa masyarakat telah diperbudak oleh bentuk. Maka agar kita dapat terlepas dari perbudakan kita harus senantiasa memilah mana yang merupakan kebutuhan dan keinginan. Jangan sampai kita tergoda oleh nafsu dan gengsi semata sehingga diperbudak oleh bentuk.

    ReplyDelete
  8. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Melakukan sesuatu sesuai dengan aturan bukan berarti kita diperbudak oleh aturan tersebut melainkan adalah bentuk kepatuhan dan penyelarasan kita terhadap lingkungan. Begitu pula sebaliknya, apabila kita membuat aturan dan mewajibkan aturan tersebut maka bukan berarti kita memperbudak subyek yang menjalankan aturan tersebut melainkan itu sebagai usaha menyelaraskan dan melatih subyek utuk tumbuh menjadi pribadi yang bertanggungjawab. Namun dalam perkembangan zaman jangan sampai kita terbuai dengan kemajuan tetapi kita harus mem-filter segala perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada. Jangan biarkan skeptisisme menghilangkan makna segala bentuk yang harmoni menjadi disharmoni. Oleh karena itu kita harus menggunakan akal pikiran yang jernih serta selalu memohon petunjuk dari sang maha kuasa agar tidak memperbudak dan diperbudak oleh kemajuan zaman.

    ReplyDelete
  9. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Selamat. Selamat untuk kita yang menikmati keterbudakan ini. Pada elegi ini saya melihat bahwa manusia adalah yang suka melebih-lebihkan, adalah yang berlebihan, adalah yang berusaha mengingkari keberadaan dan kemampuannya. Oh iya ada lagi. Saya juga melihat bahwa manusia terlalu tidak mau menikmati proses, terlalu tergesa-gesa menaiki tangga di atasnya, sebenarnya kaget juga mereka? cultural leg mungkin. Mereka yang terbuka dengan inovasi lalu melepaskan tradisi. Bukan inovasi menurutku. Mungkin bukan termakan inovasi, mereka, manusia termakan kemudahan yang ditawarkan si empunya globalisasi. Lihat saja:
    "Gotong royong adalah bentuk lama dan sudah digantikan dengan arisan, bahkan arisan mobil. Menabung adalah bentuk lama, bentuk barunya adalah kredit kendaraan. Berkunjung digantikan dengan sms. Kerjasama berubah menjadi kolusi. Ikhlas berdoa berganti dengan berdoa via pulsa. Tenaga kerja manusia diganti dengan tenaga robot. Kebenaran diganti dengan kesepakatan. Kasus besar dialihkan dengan kasus besar lainnya. Pertunjukan wayang semalam suntuk diganti dengan pertunjukan wayang dua jam. Yang penting bisa berkumpul diganti yang penting bisa makan. Mengusir penjajah diganti dengan menjajah bangsa sendiri. Peraturan diganti dengan pendekatan. Haram diubah menjadi halal. Asli diganti asli tetapi palsu. Pendingin es diganti borax atau formalin. Tuntunan diubah menjadi tontonan. Lokal diganti import. Ekspor barang diganti ekspor manusia. Tarian sakral diubah untuk tarian ngamen. Benar diganti dengan yang salah. Salah dibenarkan. Ranah hukum diganti ranah politik. Jelas diganti dengan yang kabur"

    ReplyDelete
  10. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Pelajaran yang dapat diambil dari elegi memperbudak atau diperbudak bentuk yaitu kita jangan melihat atau menilai sesuatu hanya dari dasarnya saja, pahami lebih dalam maknanya secara intensive, kemudian terjemahkanlah hasilnya dengan teliti. Intinya jangan mudah menyimpulkan atas apa yang terjadi, karena bisa jadi kesimpulan yang kita maksud malah berbeda dari faktanya. Pada masalah keseragaman di atas sebenarnya banyak makna, bagaimana situasi dan kebutuhan dari keseragaman itu sendiri. Keseragaman yang benar itu keseragaman yang positif dan bermanfaat bagi banyak orang.

    ReplyDelete
  11. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Ya… keadaan sekarang ini seperti di dalam ‘Elegi Memperbudak atau diperbudak bentuk?’. Semua orang ingin mengikuti perkembangan zaman. Orang sering belum puas dalam memenuhi kebutuhannya bahkan mayoritas dari mereka mengikuti gaya hidup mewah (glamoritas tanpa batas). Terkadang hidup dalam disharmoni dan kepalsuan. Oleh karena itu, perbanyak doa dan usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah, sehingga menjadi orang yang akan selalu bersyukur atas nikmat-Nya.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  12. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017
    Saat ini, banyak manusia yang telah diperbudak oleh kesenangan duniawi. Diperbudak oleh hartanya dan diperbudak oleh gaya hidup yang tidak sesuai Al-Qur'an. seperti yang telah dikatakan dalam hadis, “Demi Allah. Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian. Akan tetapi aku khawatir ketika dibukakan kepada kalian dunia sebagaimana telah dibukakan bagi orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian pun berlomba-lomba dalam mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang terdahulu itu. Sehingga hal itu membuat kalian menjadi binasa sebagaimana mereka dibinasakan olehnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Krisis ini terjadi karena karakter, hati dan keyakinan yang mulai lemah. Perbanyaklah berdoa dan dekatkan diri kepada Allah SWT agar kita selalu terjaga dan terhindar dari perbuatan maksiat.

    ReplyDelete
  13. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    Pendidikan Matematika Kelas B(S2)

    Kehidupan di dunia ini telah diselaraskan dengan banyak aturan. Aturan ini dibuat untuk standarisasi seluruh kegiatan di Indonesia yang terdiri dari berbagai macam pulau dan memiliki populasi lebih dari dua ratus lima puluh juta. Sehingga apabila tidak adanya aturan yang selaras akan menjadikan kesulitan bagi penguasa untuk melaksanakan tujuan dari negara yang beraneka ragam.Tetapi apabila terjadi disharmonisasi yang sebabkan oleh banyaknya perubahan yang membuat masyarakat tidak siap atau kaget dalam mengahdapinya maka budaya, tradisi, dan kebiasaan yang telah tertanam sejak bangsa Indonesia merdeka akan terancam punah padahal hal terebut bukanlah jati diri dari masyarakat Indonesia yang nantinya jati diri ini akan mudah dimanfaatkan oleh bangsa lain untuk mengintervensi bangsa Indonesia. Oleh karena itu, di era globalisasi ini hendaknya selalu ada penyaring terhadap arus yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa. Karena suatu bangsa akan berbeda dengan bangsa lain ketika bangsa tersebut memiliki jati diri yang tidak dimiliki negara lain.

    ReplyDelete
  14. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Diperbudak artinya suatu kondisi dimana mindset kita sudah diatur pikiran lain. Dengan kata lain diperbudak itu sama saja tidak merdeka. Terbatas dalam hal apapun, tidak merdeka, dan membatasi ruang gerak. Diperbudak tentu saja tidaklah enak, maka supaya kita tidak diperbudak, harus memperkuat iman, jangan mudah terombang ambingkan keadaan, dan atur hawa nafsu kita, jangan sampai pikiran kita dikuasai oleh nafsu, karena nafsu akan membuat ketidakseimbangan antara hati dan pikiran.

    ReplyDelete
  15. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PM A 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Dampak dari powernow telah menyebar ke dalam berbagai aspek kehidupan kita. Segala macam teknologi, kemudahan, dan hiburan yang diciptakan oleh power now telah mengubah bentuk budaya dan kebiasaan kita. Bahkan dapat dikatakan bahwa kita telah diperbudak oleh bentuk-bentuk teknologi dan penemuan yang diciptakan oleh power now. Hal ini diakibatkan oleh kekuasaan power now yang selalu diperkuat sementara kita tidak mampu mengendalikan diri. Kehidupan kita yang humanis dan agamis telah bergeser menjadi kapitalis, hedonis, materialis, dan utilitarianis. Menghadapi kenyataan ini, seharusnya kita lebih kritis dalam menghadapi segala permasalahan hidup sehingga tidak mudah terpengaruh oleh keburukan. Mungkin kita tidak akan mampu mengembalikan situasi ini, tetapi akan lebih baik jika kita lebih bijak dalam menghadapinya.

    ReplyDelete
  16. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi Memperbudak atau diperbudak bentuk. Dari elegi ini saya dapat menyimpulkan bahwa saat kita mengikuti aturan dan peraturan yang ada, itu bukan berarti kita diperbudak oleh aturan (bentuk) . Namun Sebagai bentuk kepatuhan kita terhadapat peraturan yang ada. Begitu pula dengan pembuat peraturan, itu bukan berarti memperbudak para pengikut (bentuk) .Namun sebagai salah satu cara untuk mendisiplinkan. Adanya era globalisasi kita jangan selalu mengikuti arus yang ada, namun kita harus selektif dalam menghadapi perubahan di era globalisasi. Hal itu, agar kita tidak diperbudak oleh kemudahan di era globalisasi. TerimaKasih.

    ReplyDelete
  17. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Dari elegi ini saya dapat mengetahui apa perbedaan diperbudak dengen memperbudak. Zaman sekarang tanpa kita sadari bahwa kita telah banyak diperbudak oleh bentuk. Dan aturan telah memperbudak kita. Namun yang namanya aturan harus lah dipatuhi, kita harus mau mengikuti yang memperbudak dengan mengabaikan yang diperbudak bentuk. Jadi jika ada pilihan memperbudak atau diperbudak bentuk? maka jawabannya adalah memperbudak. Kita mau tak mau harus ikuti aturan yang memperbudakan kita.

    ReplyDelete
  18. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Elegi ini memberikan gambaran kepada kita mengenai perubahan - perubahan yang terjadi disekitar kita akhibat dari pengaruh powernow. Apakah kita akan memperbudak atau diperbudak? Hal itu tentu membutuhkan pilihan. Ketika kita hanya menerima semua perubahan dan kemajuan yang diberikan oleh dunia luar, bukan tidak mungkin secara lambat laun dan tanpa disadari kita akan menjadi budak atau diperbudak oleh kemajuan dan perubahan - perubahan tersebut. Sementara itu, jika kita ingin memperbudak perubahan dan kemajuan teknologi, hendaklah kita bersikap selektif terhadap perubahan, perkembangan dan kemajuan jaman yang dihembuskan dari dunia luar. Untuk itu, mari kita ambil hal - hal positifnya, dan tinggalkan semua hal yang bertentangan dengan norma kita, semua hal yang merusak nilai - nilai moral dan budaya luhur kita.

    ReplyDelete
  19. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Elegi ini menguraikan keadaan manusia pada zaman sekarang khusunya keadaan masyarakat Indonesia yang secara tidak menyadari sedikit demi sedikit menjadi budak dari perkembangan zaman. Masyarakat yang diperbudak oleh perkembangan zaman itu merupakan masyarakat yang tidak mampu untuk menseleksi powernow yang semakin hari semakin meningkat perkembangannya. Masyarakat banyak diperdaya dengan kemudahan, kecepatan, dan keterjangkauan informasi luar yang mungkin saja tidak sesuai dengan kebudayaan yang ada di dalam negeri. Perkembangan zaman itu seharusnya yang diperbudak oleh kita, dalam artian kita yang mengendalikan perkembangan zaman sehingga tidak terlena dengan powernow yang sedikit sekali membawa dampak baik bagi kita.

    ReplyDelete
  20. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Elegi ini menggambarkan bahwa manusia menjadi diperbudak oleh suatu hal. Entah itu barang, sistem, uang dan lain-lain. Jika manusia mau melakukan berbagai cara untuk mendapatkan hal yang diinginkan, tak peduli dengan cara yang benar atau salah maka manusia tersebut sudah diperbudak. Namun diperbudak juga tidak ada salahnya, misal siswa sekolah harus datang tepat waktu tidak boleh terlambat, siswa tersebut diperbudak oleh sistem, namun sistem tersebut untuk membentuk siswa agar disiplin yang bermanfaat dikemudian hari. Memperbudak atau diperbudak itu bisa salah dan juga bisa benar, tergantung konteksnya berdasarkan ruang dan waktu

    ReplyDelete
  21. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Ketika membaca elegi ini saya jadi teringat elegi yang pernah saya baca sebelumnya yaitu tentang elegi wadah dan isi, terkadang kita hanya memperhatikan bentuk luar, seolah kita tertinggal dengan jaman hanya dikarenakan bentuk, padahal dalam bentuk tersbeut belum tentu apa yang ada didalamnya ketinggalan jaman. Sebaiknya saat kita melihat sesuatu kita tidak serta merta menjustifikasi terhadap bentuk, isi atau materi yang didalamnya juga perlu kita pahami sebelum kita menjustifikasi.

    ReplyDelete
  22. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Guru yang mengkritik namun tak mau dikritik. Apa yang menjadi kritiknya sebenarnya ia yang membuat sendiri. Sadar atau tidak sadar,ia sebenarnya sedang mengkritik dirinya sendiri.

    ReplyDelete
  23. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    ini adalah salah satu contoh yang berkaitan dengan komen saya di elegi sebenulnya, yaitu bahwa lewat tulisan dalaml bentuk elegi dapat disampaikan pandangan-pandangan atau ide-ide yang kadang tidak disadari oleh orang-orang bahwa hal tersebut sesungguhnya ada atau terjadi. seperti halnya bentuk-bentuk lama yang diubah ke bentuk baru semisal gotong royong seperti yang disebutkan di atas, yang sebelumnya tidak kita sadari.

    ReplyDelete
  24. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Budak, memperbudak dan diperbudak tidak lepas dari kehidupan manusia dan perbudakan paling nyata adalah perbudakan oleh nafsu danemosi manusia. Adanya percakapan siswa, guru, begaeat, cantraka, akar rumput dan rumput benar memberikan gambaram bahwa kehidupan ini tidak lepas dari sistem, sistem sekolah menggunakan seragam, sepatu dan system lain yang lebih banyak. Tujuan system adalah menyeragamkan agar subyek mudak untuk digerakkan, tidak salah memang jika system ini di formalkan karena sesungguhnya sitem penilaian di Indonesia ini syarat akan keformalan. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  25. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Kita tidak sadar ternyata perkembangan teknologi telah memperbudak kita. Seiring majunya teknologi, hidup kita seperti semakin diatur oleh teknologi tersebut. Hidup kita menjadi seperti terkekang dan dipaksa untuk mengikuti alur perkembangan teknologi. Ambil saja contoh sederhana, yaitu mewabahnya penggunaan smartphone. Lalu muncul aplikasi-aplikasi seperti facebook, instagram, line, Whatsapp, dan lain-lain. Berapa kali kita membuka aplikasi tersebut dalam sehari?? Bisakah kita menghitungnya?? Jangankan satu hari, satu jam saja tanpa menyentuh aplikasi tersebut rasanya aneh hidup ini. Bahkan gara-gara membuka aplikasi smartphone berjam-jam, seseorang lupa Sholat, lupa makan, lupa mandi, lupa mengerjakan tugas, dan lain-lain. Itulah bukti bahwa smartphone telah berhasil menguasai diri kita, bahkan menguasai hampir seluruh kehidupan umat di dunia.

    ReplyDelete
  26. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Dengan membaca elegi memperbudak atau diperbudak bentuk ini menyadarkan kepada kita bahwa saat ini kita mengalaminya. Siswa yang selama ini diperbudak oleh soal, aturan, instrumen belajar, metode belajar dan guru yang selama ini memperbudak soal, aturan, instrumen belajar, metode belajar. Ternyata hal tersebut terjadi karena seseorang telah tidak mampu memanfaatkan sesuatu sesuai kebutuhan masa depan. Ternyata hal tersebut karena pengaruh dari power now yang tidak pernah disadari. Maka dari itu agar tidak semakin terpuruk bangsa ini hendaknya kita bersama-sama belajar untuk lebih tajam menatap masa depan.

    ReplyDelete
  27. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas artikel menarik diatas. Memperbudak atau diperbudak sepertinya sudah menjadi hal yang lumrah dan arak terjadi dalam kehidupan saat ini. Dalam hal pembelajaran di sekolah, terlihat sekali bahwa siswa telah diperbudak oleh soal, permasalahan, aturan, rumus, instrumen pembelajaran, kompetensi yang harus ditempuh, metode belajar dan lain sebagainya. Sedangkan gurulah yang memperbudak soal, permasalahan, aturan, rumus, instrumen pembelajaran, kompetensi yang harus ditempuh, metode belajar tersebut. Mungkin adanya memperbudak dan diperbudak berguna dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia secara standar dan normal , namun apakah keterbatasan ini herus terus terjadi dan dialami oleh semua manusia. Apalagi jaman semakin canggih, tidak hanya kita yang memperbudak segala gaya hidup namun akibat globalisasi inilah kita juga diperbudak oleh gaya hidup yang lebih modern dan semakin tidak teratur. Ternyata hal tersebut dapat terjadi karena manusia tidak mampu memanfaatkan segala sesuatu nya sesuai kebutuhan dan tidak mampu menempatkannya sesuai ruang ruang dan waktunya. Maka kita wajib berkonsentrasi dengan tujuan hidup kita, fokus menatap masa depan, selalu berpasrah diri dan berusaha qonaah terhadap apa yang terjadi dan apa yang telah kita miliki saat ini, karena kalau tidak kita akan semakin terpuruk dan hidup dengan penuh kekufuran. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete