Feb 25, 2011

Elegi Mencocokan Teori dan Praktek

Oleh Marsigit

Teori Berjalan Kaki:

Saya ingin menjaga stamina saya, maka saya ingin sedapat mungkin berjalan kaki jika bepergian. Ke pasar, ke warung, ke toko, ke Bank, ke bengkel, ke Pom Bensin, ..bahkan ke Kantor pun saya ingin jalankaki saja. Biar sehat gitu dheh.


Praktik Berjalan Kaki:

Waduh..orang naik sepeda kok nggak hati-hati. Sembarangan lewat dia, hampir menabrak diriku, padahal aku sudah berjalan di pinggir. Uwes..orang naik sepeda, naik motor dan naik mobil kok sembarangan, ngerti ada kubangan air diterjang saja, basah dan kotor semua bajuku. Wah malu juga aku dari Pasar membawa barang-barang kayak gini bungkusan tas kresek pating pronyol. Wah..asap motor dan mobil..sangat pekat..bikin batuk. Rasanya juga nggak enak kalau jalan kaki kaya gini kehujanan, sudah harus pakai mantrol, tidak praktis lagi. Maaf saya terlambat ke Kantor, karena saya pergi ke Kantor sambil berolah raga berjalan kaki, maaf juga aroma keringatku yang tak sedap. Wah tiap hari kok minta maaf, tidak tahan rasa-rasanya. Saya rasa-rasa sangat menderita diriku ini jika aku terus-teruskan berjalan kaki. Malah sudah mulai banyak orang menyindir bahwa diriku tidak lazim dan stress. Lagi pula ketika aku lewat, tak ada orang-orang mau menegurku, sepertinya saya ini tidak ada harganya. Tukang parkir saja malah kelihatannya curiga sama saya, semprul tenan. Apalagi wanita, jan blass tidak ada yang mau nglirik saya. Ternyata teoriku berjalan kaki tidak cocok, maka saya putuskan mulai sekarang saya akan naik sepeda saja.

Teori Naik Sepeda:
Saya ingin menjaga stamina saya, maka saya ingin sedapat mungkin naik sepeda jika bepergian. Ke pasar, ke warung, ke toko, ke Bank, ke bengkel, ke Pom Bensin, ..bahkan ke Kantor pun saya ingin naik sepeda saja. Biar sehat gitu dheh.

Praktik Naik Sepeda:
Waduh..orang naik motor dan mobil kok nggak hati-hati. Sembarangan lewat dia, hampir menabrak diriku, padahal aku sudah naik sepeda di pinggir. Uwes..orang naik motor dan mobil kok sembarangan, ngerti ada kubangan air diterjang saja, basah dan kotor semua bajuku. Wah malu juga aku dari Pasar membawa barang-barang kayak gini bungkusan tas kresek pating pronyol. Wah..asap motor dan mobil..sangat pekat..bikin batuk. Rasanya juga nggak enak kalau naik sepeda kaya gini kehujanan, sudah harus pakai mantrol, tidak praktis lagi. Maaf saya terlambat ke Kantor, karena saya pergi ke Kantor sambil berolah raga naik sepeda, maaf juga aroma keringatku yang tak sedap. Wah tiap hari kok minta maaf, tidak tahan rasa-rasanya. Malah sudah mulai banyak orang menyindir bahwa diriku tidak lazim dan stress. Lagi pula ketika aku lewat, tak ada orang-orang mau menegurku, sepertinya saya ini tidak ada harganya. Tukang parkir saja nggak mau senyum dengan saya, semprul tenan. Apalagi wanita, jan blass tidak ada yang mau nglirik saya. Saya rasa-rasa sangat menderita diriku ini jika aku terus-teruskan naik sepeda. Ternyata teoriku naik sepeda tidak cocok, maka saya putuskan mulai sekarang saya akan naik motor saja. Walaupun motor pitung, nggak apalah.

Teori Naik Motor Pitung:

Saya ingin hidup sederhana, maka saya ingin hidup murah meriah dengan motor pitungku ini. Ke pasar, ke warung, ke toko, ke Bank, ke bengkel, ke Pom Bensin, ..bahkan ke Kantor pun saya ingin naik motor pitungku ini. Biar hidup tampak prasaja gitu dheh.

Praktek Naik Motor Pitung:
Waduh..orang naik motor baru dan mobil kok nggak hati-hati. Sembarangan lewat dia, hampir menabrak diriku, padahal aku sudah naik motor pitungku ini di pinggir. Uwes..orang naik motor baru, dan mobil kok sembarangan, ngerti ada kubangan air diterjang saja, basah dan kotor semua bajuku. Wah malu juga aku dari Pasar membawa barang-barang kayak gini bungkusan tas kresek pating pronyol. Wah..asap motor baru dan mobil..sangat pekat..bikin batuk. Rasanya juga nggak enak kalau naik motor pitung kaya gini kehujanan, sudah harus pakai mantrol, tidak praktis lagi. Maaf saya terlambat ke Kantor, karena saya pergi ke Kantor naik motor pitung yang sering mogok, maaf juga aroma keringatku yang tak sedap. Wah tiap hari kok minta maaf, tidak tahan rasa-rasanya. Malah sudah mulai banyak orang menyindir bahwa diriku tidak lazim dan stress. Lagi pula ketika aku lewat, tak ada orang-orang mau menegurku, sepertinya saya ini tidak ada harganya. Tukang parkir saja nggak mau senyum dengan saya, semprul tenan. Apalagi wanita, jan blass tidak ada yang mau nglirik saya. Saya rasa-rasa sangat menderita diriku ini jika aku terus-teruskan naik motor pitung. Ternyata teoriku naik motor pitung tidak cocok, maka saya putuskan mulai sekarang saya akan naik motor baru saja. Walaupun saya harus kredit, tetapi kan penampilanku wah, motor baruu..uu.

Teori Naik Motor Baru:

Saya ingin memperbaharui hidup saya, maka saya ingin hidup seperti layaknya orang-orang itu, kalau bisa ya lebih dari mereka. Ke pasar, ke warung, ke toko, ke Bank, ke bengkel, ke Pom Bensin, ..bahkan ke Kantor pun..bahkan kemanapun..kapanpun tidak terasa lelah bagiku. Dasar motor baruu..uu.

Praktek Naik Motor Baru:
Waduh..orang naik mobil kok nggak hati-hati. Sembarangan lewat dia, hampir menabrak diriku, padahal aku sudah naik motor baru ini di pinggir. Uwes..orang naik mobil kok sembarangan, ngerti ada kubangan air diterjang saja, basah dan kotor semua bajuku. Wah malu juga aku dari Pasar membawa barang-barang kayak gini bungkusan tas kresek pating pronyol, walaupun motorku baru. Wah..asap mobil..sangat pekat..bikin batuk. Rasanya juga nggak enak kalau naik motor kaya gini kehujanan, sudah harus pakai mantrol, tidak praktis lagi, walaupun motor baru. Maaf saya terlambat ke Kantor, karena saya pergi ke Kantor cuma naik motor. Jika naik mobil, mungkin saya bisa lebih awal dan tidak terlambat. Maaf juga aroma keringatku yang tak sedap, bau debu dan air hujan, ya karena hanya naik motor. Wah tiap hari kok minta maaf, tidak tahan rasa-rasanya. Aku heran, kenapa orang-orang kok tidak pada heran denganku, pada hal motorku sudah baru. Oh rupanya di sana-sisni sudah banyak motor. Aku juga heran kenapa para wanita juga tidak ngelirikku, oh rupanya karena juga tidak heran dengan motor baru. Tukang parkir saja denganku cuma biasa-biasa saja, tak ada pertanyaan apalagi pujian. Saya rasa-rasa aku jadi kepengin naik mobil. Wah tetapi harga mobil itu kan mahal. Tetapi mobil lawas kan murah. Ternyata teoriku naik motor baru sudah tidak cocok lagi, maka saya putuskan mulai sekarang saya akan beli mobil saja, walaupun mobil lawas. Walaupun saya harus kredit dan hanya bisa mendapatkan mobil lawas, tetapi kan penampilanku wah, naik mobii..ill.

Teori Naik Mobil Lawas:
Saya ingin memperbaharui hidup saya, maka saya ingin hidup seperti layaknya orang-orang itu, kalau bisa ya lebih dari mereka. Ke pasar, ke warung, ke toko, ke Bank, ke bengkel, ke Pom Bensin, ..bahkan ke Kantor pun..bahkan kemanapun..kapanpun tidak terasa lelah bagiku. Dasar mobil, walaupun lawas ya gak apa-apa, tetapi kan tetap mobil.

Praktek Naik Mobil Lawas:
Waduh..orang naik mobil baru kok nggak hati-hati. Sembarangan lewat dia, hampir menabrak diriku, padahal aku sudah naik mobil lawas ini pinggir. Uwes..orang naik mobil baru kok sembarangan, ngerti ada kubangan air diterjang saja, basah dan kotor mobilku ini. Mentang-mentang mobil baru bisa kencang jalannya. Wah malu juga aku ke Pasar membawa mobil lawasku ini, sebab aku dikira penjual sayur-mayur, ...asem tenan. Aku juga sering geram dengan mobil baru, mentang-mentang mobil baru..dengan lincahnya menyalip, main lampu jarak jauh, main klakson keras-keras. Aku juga lama-lama agak kewalahan merawat mobil lawasku ini, disamping bensinnya boros..onderdilnya mahal pula. Maaf saya terlambat ke Kantor, karena saya pergi ke Kantor cuma naik naik mobil lawas. Jika naik mobil baru, mungkin saya bisa lebih awal dan tidak terlambat. Maaf juga aroma keringatku yang tak sedap, bau debu, ya karena hanya naik mobil lawas. Wah tiap hari kok minta maaf, tidak tahan rasa-rasanya. Aku heran, kenapa orang-orang kok tidak pada heran denganku, pada hal aku sudah naik mobil, walaupun mobil lawas. Oh rupanya di sana-sisni sudah banyak mobil, bahkan banyak mobil baru. Aku juga heran kenapa para wanita juga tidak ngelirikku, oh rupanya karena juga tidak heran dengan mobil lawasku. Tukang parkir saja denganku cuma biasa-biasa saja, tak ada pertanyaan apalagi pujian. Saya rasa-rasa aku jadi kepengin naik mobil baru. Wah tetapi harga mobil baru itu kan mahal. Tetapi mobil baru kan nyaman dan bergensi. Ternyata teoriku naik mobil lawas sudah tidak cocok lagi, maka saya putuskan mulai sekarang saya akan beli mobil baru saja, walaupun saya harus mencicil Bank seumur hidup, menjual tanah, ...pokoknya habis-habisan. Walaupun saya harus mentelantarkan anak dan isteri, tetapi kan penampilanku wah, naik mobil baruu..uu.

Teori Naik Mobil Baru:
Inilah saatnya yang kutunggu-tunggu. Ini pula puncak karirku. Ini pula puncak pencapaianku. Dunia seakan telah berada digenggaman tanganku. Ke pasar, ke warung, ke toko, ke Bank, ke bengkel, ke Pom Bensin, ..bahkan ke Kantor pun..bahkan kemanapun..kapanpun tidak terasa lelah bagiku. Dasar mobil baru..penampilanku pasti akan luar biasa. Dengan mobil baruku ini, sempurna pula rasa jantanku. Semua orang akan mengagumiku. Jangankan orang-orang..akar dan rumputpun pasti akan menaruh hormat denganku. Oh mobil baru ..mobil baru.

Praktek Naik Mobil Baru:
Waduh..orang berjalan kaki kok nggak hati-hati. Sembarangan lewat dia, hampir menabrak mobil baruku, padahal aku sudah naik mobil baruku ini di tengah. Uwes..orang naik mobil kok sembarangan, ngerti ada kubangan air diterjang saja, basah dan kotor mobil baruku ini. Mereka tidak pada menyadari bahwa mobil baruku ini sangat mahal dan segala-galanya bagi diriku. Wah sayang juga aku ke Pasar membawa mobil baruku ini, sebab tidak sepadan kalau hanya sekedar beli sayuran kok naik mobil baru. Lagi pula prkirnya sangat rumit. Aku juga sering geram dengan mobil lawas, mentang-mentang mobil lawas..dengan lincahnya menyalip, tidak takut nyrempet. Aku sangat mengkhawatirkan keamanan mobil baruku. Aku bahkan lebih khawatir dengan keamanan mobil baruku dibanding anak dan isteriku. Maaf saya masih terlambat ke Kantor, karena saya pergi ke Kantor pakai mobil baru, maka saya harus pelan-pelan. Tetapi ada satu hal yang saya tidak begitu suka. Cicilannya sangat tinggi. Saya heran kenapa hanya mobil seperti ini kok harganya sangat mahal sehingga, walaupun mobilku baru tetapi saya praktis tidak bisa pergi kemana-mana karena tak kuat beli bensin. Aku juga masih heran, kenapa orang-orang kok tidak pada heran denganku, pada hal aku sudah naik mobil baru. Oh rupanya di sana-sisni sudah banyak mobil baru, bahkan banyak mobil mewah. Aku juga heran kenapa para wanita juga tidak ngelirikku, oh rupanya karena juga tidak heran dengan mobil lbaruku. Tukang parkir kok ya masih biasa-biasa saja, tak juga bertanya tentang mobil baruku. Apanya yang salah dengan mobilku ini. Apakah teoriku naik mobil baru juga tidak cocok? Wah itu tukang parkir..walaupun hanya naik sepeda motor..kok temannya banyak sekali...setiap orang menegurnya. Hai tukang parkir..apa yang membuatmu banyak teman dan tampak bahagia dari hari ke hari?

Tukang Parkir:
Oalah mas..mas. Kebahagiaan itu tidak ditentukan oleh motor baru, mobil lawas, mobil baru atau mobil mewah sekalipun. Teman yang banyak juga tidak ditentukan oleh motor baru, mobil lawas, mobil baru atau mobil mewah sekalipun. Itu semua tergantung keiklhasan kita masing-masing.

31 comments:

  1. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Manusia tidak pernah puas dengan harta. Itulah sifat manusia kecuali orang yang telah Allah beri taufik untuk menyikapi harta dengan benar. Sebagaimana dengan hadist Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    “Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048)

    ReplyDelete
  2. Muhammad Mufti Hanafi
    13301244005
    Pendidikan Matematika 2013

    Manusia hidup tak pernah akan puas dalam urusan dunia, bagai dua serigala yang kelaparan dihadapkan seokor kambing. Jika kebahagiaan diukur dari material semata sampai perut dipenuhi tanah pun kebahagiaan taka akan pernah di dapat. Tepatlah pesan Rasulullah tentang kebahagiaan itu letaknya di hati, sejalan dengan itu mengutip Imam Syafii bahwa kita dapat seperti para raja dengan mewujudkan rasa qonaah.

    ReplyDelete
  3. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Terdapat kaitan antara teori dan praktek. Kadang kita selalu lupa akan teori. Seringnya kita melakukan sesuatu secara bebas tanpa mengetaui bagaimana teorinya. Hal tersebut maka dapat menimbulkan masalah. Salah satunya ialah masalah dalam dunia pendidikan. Karena biasanya antara teori ini akan berbeda dengan lapangan. Maka diperlukan untuk sangat memahami teori terlebih dahulu. Bila teori sudah matang maka coba untuk menerapkan teori tersebut dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  4. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Tulisan yang penuh dengan pesan tersirat. Dari tulisan di atas, saya merasa bahwa memang benar sifat manusia ialah tidak pernah puas dengan apa yang mereka punya. Manusia terkadang hanya memandang rumput orang lain yang hijau padahal tidak sadar bahwa rumput sendiri lebih hijau. Oleh karena itu, dalam hidup ini hendaknya kita selalu bersyukur. Bersyukur atas apa yang kita punya, dengan bersyukur hidup kita akan menjadi tenang dan semakin mendekatkan diri kita kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  5. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A 2017

    Dari elegi di atas, menyadarkan kita bahwa melaksanakan praktek sesuai teori yang ada itu tidak mudah. Banyak faktor yang membuat teori tersebut hanya menjadi sebatas teori. Manusia yang selalu merasa kurang atas apa yang sudah ia punya. Karena sungguh manusia selalu berada dalam ketidakpuasan atas apa yang sudah ia miliki. Padahal Allah SWT. telah berfirman dalam Al-Qur’an seraya menyindir kita: “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan” (QS: Ar-Rahman). Maka sudah sepatutnya kita agar selalu bersyukur atas apa yang telah Ia berikan, dan ikhlas dalam menjalankannya.

    ReplyDelete
  6. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Ukuran kebahagiaan seseorang tidak bisa dilihat dari sebanyak apa harta mereka, sebesar apa rumah mereka, sebanyak apa mobil mereka. Saat kita mendapatkan nikmat dalam berbagai hal, baik itu nikmat sehat dan lainnya, tentu kita harus mensyukurinya, dan jangan sampai kita mengingkarinya. Berbagai hal yang didapat dari Allah SWT patut disyukuri, sehingga kita dilimpahi rahmat oleh Allah. Allah berfirman dala Q.S. Al-Baqarah : 152 yang artinya “Karenanya, ingatlah kamu sekalian kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah mengingkari nikmat-Ku.”. Dari elegi di atas, dapat saya ambil pelajaran bahwa bersyukur atas nikmat Allah dan menerima segala bentuk pemberianNya merupakan sebaik-baik ikhlas dalam menerima. Dengan begitu, bahagialah ia ketika mampu menerima segala nikmat dari Allah SWT.

    ReplyDelete
  7. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Kita seringkali terlalu asyik melihat ke atas hingga lupa melihat ke bawah. Lupa mensyukuri apa yang telah kita miliki dan malah merasa iri melihat orang lain memiliki apa yang tidak kita miliki. Karena seringkali teori kebahagiaan yang kita miliki itu tidak selaras dengan praktek kebahagian yang sesungguhnya. Berfikir bahwa tepri bahagia adalah dengan memiliki harta, jabatan dan sebagainya akan bahagia, padahal prakteknya bahagia adalah bersyukur. Padahal sebenar- benar kebahagiaan bukanlah memiliki apapun yang kita inginkan, tetapi mensyukuri apapun yang kita miliki. Dengan menyuskuri apa yang kita miliki hidup kita akan menjadi lebih tenang dan bahagia. Dengan mensyukuri apa yang kita miliki kita dapat terhindar dari rasa iri dan dengki. Dengan mensyukuri apa yang kita miliki kita dapat lebih mudah menolong dan membantu saudara-saudara kita yang kekurangan.

    ReplyDelete
  8. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Teori dan praktek selalu diharapkan selaras sesuai dengan yang diharapkan, tetapi secara realistis banyak sekali teori dan praktek yang tidak sejalan dengan yang diharapkan. Kenapa hal itu bisa terjadi? Karena dalam prakteknya kita tidak mendasarinya dengan rasa ikhlas dan bersyukur atas apa yang sudah kita miliki, padahal dengan keikhlasan dan rasa bersyukur segala sesuatu yang ada akan menjadi berkah dan nikmat. Keikhlasan memang tidak dapat kita ukur dan kita ketahui apakah diri kita sudah ikhlas atau belum, namun kita harus tetap berusaha semaksimal mungkin untuk ikhlas dan bersyukur serta memasrahkan semuanya semata untuk mendapatkan Ridho-Nya. Wallahua’lam bisowaf.

    ReplyDelete
  9. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Betapa manusia adalah makhluk yang tidak pernah merasa puas. Betapa manusia adalah makhluk yang mudah sekali terjebak kesombongan. Pada elegi ini saya disuguhi realita kehidupan (di mana saya menjadi salah satu tokohnya, saya: manusia). Manusia tidak pernah merasa puas (bahkan sudah saya sebut dua kali dalam komentar ini). Ya gimana lagi, saking jengkelnya saya sama manusia. Apa sulitnya bersyukur? Selalu saja melihat ke atas. Bukannya "ndangak" lama-lama juga bikin sakit leher? Ah dasar manusia, mau dimulai kapan belajar bersyukurnya. Dasar manusia. Ya Allah tuntun hambamu ini ke jalan yang Kau ridhoi

    ReplyDelete
  10. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Teori dan praktek adalah dua hal yang harus selaras. Namun penyelarasan kedua hal tersebut bukanlah sesuatu yang mudah, akan selalu ada tantangan dan hambatan. Tantangan dan hambatan adalah penguji untuk melihat seberapa besar komitmen kita untuk mencocokkan teori dan praktek tersebut. Apabila kita gagal dengan mengatasi ujian tersebut maka kita akan terbuai dengan kemewahan dunia dan tenggelam dalam ketidaksyukuran. Orang demikian akan menghalal segala cara agar terlihat sempurna. Dan itulah manusia, makhluk yang tida pernah puas. Maka sebenar-benarnya jalan mencapai kebahagian hidup adalah dengan menyelaraskan/mencocokkan teori dan praktek serta selalu bersyukur atas segala nikmat yang diterima.

    ReplyDelete
  11. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Berdasarkan ‘Elegi mencocokan Teori dan Praktek’ bahwasanya terkadang teori dan praktik itu berbeda. Dalam manjalani kehidupan sampai saat ini, kenyataannya praktik relatif lebih sulit daripada teori. Dalam praktik terkadang kita menemui hal-hal tak terduga yang tidak dapat kita kontrol seperti dalam teorinya.
    Akan tetapi jika kita melakukan dengan ikhlas, perbedaan antara teori dan praktik tidaklah begitu berarti.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  12. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017
    Dalam kenyataan, tidak semua teori dan praktek dapat selaras seperti yang telah digambarkan dalam elegi mencocokkan teori dan praktek di atas. Meskipun memiliki teori yang bagus, seringkali dalam prakteknya orang-orang merasa selalu ingin lebih lebih dan lebih lagi. Mereka tidak menghargai apa yang dimiliki saat ini, menunjukkan sikap mereka yang tidak pernah puas. Mereka menganggap kebahagiaan dapat diraih dengan materi saja. Tapi sesungguhnya, kebahagian dapat diraih saat kita ikhlas. Ikhlas untuk menerima diri apa adanya. Ikhlas dalam hati dan pikiran.

    ReplyDelete
  13. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    Pendidikan Matematika Kelas B(S2)

    Kebahagian seseorang bukanlah ditentukan oleh kekayaan dan kemegahan yang dimiliki. Segala motor, mobil, pesawat, atau harta lainnya tidak akan bermakna apabila sebagai seorang manusia kita tidak memiliki rasa syukur. Diri kita sendirilah yang membuat semua kemewahan dunia itu dianggap sebagai penyempurna kehidupan, padahal dengan memiliki teman yang dapat membawa kita ke jalan lurus dunia akhirat adalah salah satu kebahagiaan yang dapat mengalahkan segala hal yang dianggap sebagai kemewahan. Segala bentuk fasilitas yang kita miliki di dunia ini apabila kita selalu ikhlas dalam menjalankan kehidupan disertai rasa syukur maka hidup ini akan disertai ketenangan dan kenyamanan dalam menjalankan kehidupan.Tidak akan ada yang namanya rasa curiga, was-was, dan gelisah karena melihat kesuksesan orang lain.

    ReplyDelete
  14. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Dalam elegi ini ditunjukkan bahwa teori manusia untuk menggapai kebahagiaan, penghargaan, dan kepuasaan dengan cara terus mengejar materi tidaklah cocok dengan prakteknya. Materi dan kemewahan yang diraih hanya akan terus menimbulkan ketidakpuasan. Bahkan semakin banyak materi yang dimiliki justru semakin banyak kekhawatiran yang dirasakan. Kebahagiaan yang sesungguhnya bukanlah buah dari kemewahan, melainkan buah keihkhlasan dan rasa syukur. Maka untuk bisa lebih banyak bersyukur, manusia harus lebih banyak melihat ke bawah, melihat orang-orang yang tidak lebih beruntung dari pada kita.

    ReplyDelete
  15. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Pada dasarnya teori itu akan menjadi manfaat ketika dikaitkan dengan praktek sehingga akan berguna dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, jika praktik saja, tanpa teori juga akan percuma. Maka praktik itu juga harus berdasarkan teori yang ada, sehingga kelak hasilnya sesuai dengan yang diinginkan. Selain itu, praktik yang dilandasi teori kadang akan terasa sulit jika tidak dilandasi dengan hati yang ikhlas, karena kadang teori mudah diucapkan tetapi sulit untuk dilaksanakan. Oleh karena itu sebaiknya hati kita ikhlas agar hasilnya menjadi lebih baik

    ReplyDelete
  16. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi mencocokan teori dan praktik, dari elegi ini saya dapat menyimpulkan bahwa manusia itu selalu merasa tidak puas dengan apa yang telah dimiliki. Sehingga selalu saja ada yang kurang dari nikmat yang telah diberikan oleh Allah. Inilah salah satu kekurangan manusia yaitu bersyukur. Padahal dengan bersyukur menjadikan nikmat yang kita dapat itu “cukup” untuk kita. Selain itu Allah telah menjanjikan tambahan nikmat yang melimpah bagi hambanya yang bersyukur, seperti dalam surat Ibrahim : 7 yaitu : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu) maka sesungguhnya azabKu sangat pedih”. TerimaKasih.

    ReplyDelete
  17. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Manusia memang kerap berpikir terlalu keras tentang pendapat orang lain mengenai dirinya. Bahkan beberapa orang seringkali menjadikan pendapat orang lain sebagai patokan kebahagiaan hidupnya. Kebahagiaan memang tidak berasal dari orang lain, tetapi berasal dari rasa syukur atas apa yang telah dimiliki. Ketika kebahagiaan pribadi dijadikan dasar teori yang kita anut, maka kita tak kan mudah terlalu terbawa dengan pendapat orang lain. Teori yang telah dipikirkan sebelumnya akan terasa cocok dengan praktek jika pendapat orang lain tidak dijadikan penopang utama teori yang kita anut. Pondasi teori yang kita anut harus berdasar pada kepercayaan diri dan juga berangkat dari rasa syukur atas apa yang ia miliki, sehingga pada prakteknya kita tidak mudah diombang-ambingkan oleh pendapat orang lain karena kita tahu bahwa kepercayaan kita akan teori tersebut sudah cukup membuat kita berbahagia.

    ReplyDelete
  18. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Elegi mencocokkan teori dan praktek. Pada elegi ini memberi pelajaran kepada kita bahwasanya teori memang mudah diucapkan, tapi belum tentu ketika praktek kita dapat menjalannkannya. Maka dari itu, contohnya janganlah kita mengkritik, menghina karya orang lain, karena belum tentu kita bisa membuat karya sebagus karya orang yang kita hina. Selain itu pelajaran hidup yang dapat kita pelajari yaitu, janganlah kita memiliki rasa yang tidak pernah puas. Ketika di beri A mau B, di beri B mau C, dst. Dalam hidup kita harus ikhlas apa yang ada dan yang mungkin ada dalam hidup ini. Selalu bersyukur apapun keadaan kita. Karena ketika kita tidak pernah mensyukuri apapun, maka selalu akan ada rasa ketidak puasan yang akan menghampiri kita. Jadi, selalu bersyukur dari hal terkecilpun.

    ReplyDelete
  19. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Manusia diciptakan dengan dibekali nafsu dan pikiran. Hal ini yang menyebabkan manusia memiliki pikiran tentang bagaimana ‘seandainya, idealnya, seharusnya’. Pemikiran-pemikiran tersebut mengacu pada hal ideal menurut level pemikiran mereka masing-masing dan umumnya mengarah pada kondisi yang menurutnya mampu membahagiakan. Namun, dari elegi ini kita dapat belajar, bahwa kebahagiaan sesungguhnya tidaklah ditentukan oleh apa yang kita miliki, seberapa banyak yang kita miliki, seberapa mewah yang kita miliki sebagaimana pikiran-pikiran ideal yang seringkali dibuat oleh manusia. Namun kebahagiaan itu sumbernya dari diri dan hati kita sendiri. Apapun yang kita miliki ketika hati kita ikhlas menerimanya dan selalu memanjatkan syukur atas apa yang kita miliki tersebut, maka kebahagiaan sejati akan datang dalam hidup kita.

    ReplyDelete
  20. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    tidak semua teori itu mudah di praktekkan. Ketika masih sebatas teori, semuanya terasa manis, terasa indah, akan tetapi lain halnya ketika di praktekkan karena akan banyak tantangan disana. Elegi mencocokkan teori dan praktek tersebut menggambarkan bagaimana seseorang yang secara teori mengharapkan kebahagiaan dengan mengejar materi, namun pada kenyataannya kebahagiaan itu tidak dapat diperoleh, karena kebahagiaan itu bukanlah dari materi/harta yang kita miliki namun dari keikhlasan hati kita sendiri.

    ReplyDelete
  21. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Pelajaran yang dapat diambil dari bacaan Elegi Mencocokan Teori dan Praktik yaitu teori belum tentu sama dengan praktek dan pupuk rasa syukur dengan apa yang ada pada saat ini. Manusia memang makhluk yang diciptakan untuk berpikir sehingga bisa melakukan inovasi yang terbaru. Manusia juga dibekali pikiran untuk bisa memiliki rasa syukur, karena rasa syukur bukan berhenti untuk berinovasi namun lebih ke melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan kita tanpa memaksakan ketidak mampuan sehingga membuat diri sendiri kesusahan. Semoga kita menjadi manusia yang pandai bersyukur dalam segala hal, maka tenanglah kehidupan kita.

    ReplyDelete
  22. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Elegi ini menggambarkan bahwa manusia menjadi diperbudak oleh suatu hal. Entah itu barang, sistem, uang dan lain-lain. Jika manusia mau melakukan berbagai cara untuk mendapatkan hal yang diinginkan, tak peduli dengan cara yang benar atau salah maka manusia tersebut sudah diperbudak. Namun diperbudak juga tidak ada salahnya, misal siswa sekolah harus datang tepat waktu tidak boleh terlambat, siswa tersebut diperbudak oleh sistem, namun sistem tersebut untuk membentuk siswa agar disiplin yang bermanfaat dikemudian hari. Memperbudak atau diperbudak itu bisa salah dan juga bisa benar, tergantung konteksnya berdasarkan ruang dan waktu

    ReplyDelete
  23. Elegi ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari – hari. Banyak orang – orang yang mengira bahwa kebahagiaan datang dari limpahan materi yang kita miliki dan segala kecukupan kebutuhan yang kita inginkan. Namun, pada kenyataannya keadaan seperti itu justru merupakan keadaan sebaliknya. Bukan kebahagiaan yang kita peroleh tetapi ketidakpuasan dan sikap ketidakbahagiaan yang mengikutinya.

    Mungkin dalam teori dikatakan bahwa jika kita dapat mencukupi semua kebutuhan hidup kita, makan kita dapat dengan mudah meraih apa yang kita inginkan dan mewujudkan kebahagiaan, tetapi pada praktiknya berbanding terbalik dengan teori. Hendaknya kita melakukan segala kegiatan dalam hidup ini dilandaskan dengan rasa ikhlas hati, ketulusan, dan penuh syukur, karena kebahagiaan datang dari ketulusan, keikhlasan, dan rasa syukur.

    ReplyDelete
  24. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Teori memang terkadang hanya ada di pemikiran, namun kenyataannya dalam kehidupan sehari-hari kita tidak serta merta menggunakan teori itu. Dalam praktek pun, teori tidak serta merta bisa memantapkan apa yang ada kita kerjakan. Sebagai mana manusia kita tidak bisa menyalahkan teori ataupun praktek yang terlaksana. Karena tugas kita sebagai manusia adalah berusaha yang terbaik, tapi yang berkewenangan terhadap apa yang terjadi bukan menjadi urusan manusia lagi.

    ReplyDelete
  25. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Ulasan yang sangat menarik. Menurut saya, penting sekali diri kita melihat pada kebahagiaan-kebahagiaan yang kecil sekalipun. Ini juga dapat dijadikan bahan renungan pada diri saya sendiri. Betapa nikmat yang ada dalam diri juga terkadang terlupakan. Allah memberikan nafas tanpa berbayar, senyum saat merasa bahagia dan lain sebagainya. Rasanya jika kebahagiaan berfokus pada materi tidak akan ada habis-habisnya. Bersyukur mendapat kesempatan membaca elegi ini. Setidaknya dapat mengembalikan dan membuat saya sudah sepatutnya mensyukuri nikmat yang Allah berikan selama ini baik itu nikmat yang besar maupun yang kecil. Terima kasih Prof atas ilmu yang sangat bermanfaat ini.

    ReplyDelete
  26. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    dari elegi di atas tentang teori dan praktek, sebenarnya sangat sering terjadi di sekitar kita, bahkan mungkin saja pada diri kita sendiri. untuk itu sebelum kita menyampaikan teori tentang sesuatu, ada baiknya kita niatkan agar kita juga bisa menjalankan prakteknya sesuai dengan teori. dan memang benar yang di cari di dunia ini bukan hanya materi semata yang bisa membuat kita bahagia, tetapi keikhlasan.

    ReplyDelete
  27. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Percakapan antara teori dan praktik memberikan gambran kontradiksi antara keduanya. Hal ini yang sering terjadi dilapangan bahwa isi dari teori-teori itu bersifat formal dan sistematis. Namun, ketika proses praktik dari sebuah teori pastinya sang subyek mengalami kendala yang terkadang tidak di duga pula berbagai nafsu yang kadang membuat iri seperti waktu praktik pejalan kaki mengaomentari orang yang naik motor, hal itu merupakan bentuk ketidak ikhlasan dan bentuk stengah hati dari sang subyek. Oleh karena itu, dalam melaksanakan teori ataupun perintah , sang subyek seharusnya menerima dan melaksanakan hal tersebut dengan hati yang lapang agar teori dan praktik dapat sesuai. Terima Kasih

    ReplyDelete
  28. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Komparasi antara teori dan praktik itu seperti perbandingan antara niat dan yang terjadi. Kita memiliki niat untuk bersepeda karena dalam teorinya bersepeda itu sama saja berolahraga dan dapat menyehatkan jantung kita, sistem pernafasan kita, dan pikiran kita. Tetapi pada praktiknya, yang terjadi terkadang kontradiksi, bersepeda justru membuat kita minder dengan yang mengendarai motor atau mobil. Hal ini tentu malah tidak menyehatkan pikiran kita. Bersepeda justru melelahkan karena lama untuk sampai ke tujuan. Apalagi bila hujan turun, orang yang bersepeda harus mencari tempat teduh dan menunggunya sampai reda. Jika tidak, malah bisa terkena penyakit flu atau masuk angin. Teori adalah hal yang biasanya benar berdasar pandangan umum. Padahal faktanya (atau praktinya), teori yang bersifat umum tersebut berada dalam ruang dan waktu. Sehingga suatu teori bisa sesuai atau tidak sesuai, pantas atau tidak pantas, layak atau tidak layak, dalam ruang dan waktu yang berbeda-beda.

    ReplyDelete
  29. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Dari elegi mencocokkan teori dan praktik ini yang saya pahami adalah seseorang yang tidak mau bersyukur atas apa yang dimiliki sehingga terus menerus mencari yang lain dan tidak cocok pula baginya. Sampai ternyata ia tidak tahu apa yang cocok. Menurut saya hal tersebut karena seseorang kurang bersyukur dan tidak bisa menerima dengan ikhlas akan apa yang terjadi. Sehingga agar teori dan praktik dapat cocok maka perlu keikhlasan dalam mencocokkannya.

    ReplyDelete
  30. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas ulasan yang menarik diatas. Elegi diatas sungguh apa yang sebenarnya terjadi dalam kehisupan. Seperti ibarat "Rumput tetangga lebih hijau", apa yang kita awalnya ingin kita lakukan dengan niat dan tujuan, namun praktiknya selalu saja tidak sesuai ekspektasi dan penuh keluhan. Ketika melihat yang lain lebih indah, lebih mudah, lebih praktis, lebih instan, lebih bagus, lebih terpandang, maka hati tetap tergoyah ingin seperti dia. Jadi, tidak selalu praktik mencerminkan teori, tidak selalu perbuatan mencerminkan niat. Maka disinilah keikhlasan kita diuji, berusaha menggapai cita-cita dengancara-cara yang baik dan berkah, membutuhkan praktik yang sejalan dan seimbang agar teori awal yang diciptakan dalam pikiran dapat terwujud dan tercapai dengan baik pula. Sehingga cock maupun tidak cocok antara teori dan praktik tergantung kepribadian dan aplikasi kita masing-masing dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete