Feb 26, 2011

Elegi Ritual Ikhlas IV: Enggan Pulang dan Ingin Mati?




Oleh Marsigit

Santri Kepala:

Asslamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh
Alhamdulillaah. Alhamdulillaahi wahdah shodaqo wa’dah wa nashoro ‘abdah wa ‘azza jundahu wa ‘azama wahdah. Wash-sholatu was salamu ‘alaa rasulillaah Sayyidina wa habibina wa qurrotu a’yuna Muhammadin bin ‘abdillah wa alaa alihi wa ashhabihi wa dzawil nufusil muthmainnah. Amma ba’dah.


Bapak Ibu peserta Ritual Ikhlas IV yang berbahagia, acara puncak dari segala ritual ikhlas yang kita selenggarakan ini adalah bermunajat kehadirat Allah SWT. Semoga dengan keikhlasan hati kita masing-masing maka Allah SWT ridha dengan doa-doa kita seraya mengabulkannya. Amin.

Harapan kami dari Panitia adalah bahwa setelah kita insyaallah berhasil melakukan perbaikan perihal tata cara beribadat, menertibkan salat, menambah-tambah salat sunat, salat jamaah, memperbanyak dzikir, melatihkan keikhlasan, berlatih bagaimana bersyukur itu, memohon ampun segala dosa-dosa, membersihkan hati, maka kembalilah kita ke rumah masing-masing, ke pekerjaan kita masing-masing. Beterbaranlah kita semua di muka bumi ini untuk berubudiyah dan berjuang di jalan yang diridhai Allah SWT. Amin

Sembari menunggu Acara Penutupan, kita masih mempunyai waktu yang cukup untuk mengadakan dialog dan tanya jawab. Silahkan kalau masih ada hal-hal yang ditanyakan.

Peserta Ritual Ikhlas:
Asslamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh
Yang saya hormati Santri Kepala. Tiadalah kami mampu membayangkan pikiran, ucapan, perbuatan ataupun segala harta benda yang kami miliki, mampu menukar segala kebaikan dirimu dan kebaikan diri para santri di sini yang telah dengan sabar dan ikhlas membimbing kami dalam memperbaiki tata cara ibadat kami serta usaha-usaha kami dalam meraih keridhaan kami. Kami betul-betul merasakan keadaan seperti berganti dunia, keadaan berganti seratus delapan puluh derajat, yaitu jika dibandingkan keadaan sekarang dan keadaan ketika saya baru awal mengikuti ritual ikhlas ini. Sungguh masa lampauku itu sangat aku tidak sukai, sangat aku sesali, dan saya terasa tidak mampu kembali untuk kembali mengalami masa lampauku itu. Aku ternyata telah merasakan nikmat di atas nikmat yang tidak ada tolok bandingannya, aku telah merasakan damai dan tenteram yang tidak ada tolok bandingannya, aku telah merasakan bagaimana dicintai Allah SWT, dan aku tidak mau hal-hal yang telah aku raih tersebut akan hilang begitu saja. Dunia masa lampauku, dunia yang ada di sana itu begitu buruknya sekarang aku merasakannya, maka aku betul-betul menyesali segala perbuatanku di waktu lampauku. Oleh karena itu setelah berbisik-bisik dengan sesama peserta, maka kami masih ingin mengajukan permohonan kepada Santri Kepala, yaitu bagaimana agar kami tetap tinggal di sini saja dan tidak usah pulang. Sampai akhir hayatku pula rasanya kami ikhlas tetap berada di sini dan tidak ingin pulang. Kami ingin mempertahankan dan bahkan kalau perlu kami ingi menambah-nambah ilmu lagi di sini agar hidupku lebih sempurna lagi. Bahkan sampai matipun rasanya saya ingin tetap disini. Bagiku hidup dan mati itu jaraknya sangat dekat. Wahai Santri Kepala, apakah engkau masih bersedia menjawab pertanyaan kami perihal mati? Apakah boleh kami memohon kematian agar kami segera bisa menghadap Illahi?

Santri Kepala:
Perihal kematian atau menunggu datangnya kematian? Maka kita mempunyai Ustad yang bisa kita dengarkan sebagai referensi. Untuk itu saya persilahkan Ustad Miftahus Salim, Ustad Jalaludin Rakhmat dan Ustad M Shaim, agar bisa menjelaskan perihal kematian kepada peserta Ritual Ikhlas. Silahkan.

Miftahus Salim:
Asslamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh
Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Ya Allah, aku mohon petunjuk-Mu akan arah yang baik dan benar untuk setiap langkahku. Mudahkan jalanku, kuatkan imanku..ya Allah. Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Tahu yang terbaik bagi umat-Mu. Ya Allah, tambahlah ilmuku, bimbinglah aku agar mendapat hanya ilmu yang lurus dan benar sesuai dengan syariat-Mu dan ajaran rasul-Mu. Bimbinglah aku agar imuku menjadi ilmu yang bermanfaat, jauh dari riya’, mudahkanlah mulutku untuk membaca dan memahami Al-Quran. Jadikanlah aku umat-Mu yang pandai menyampaikan ayat-ayat-Mu dengan ikhlas, tidak riya’, mudahkan mulutku untuk berkomunikasi dengan lancar dan tawadhu, jadikan aku orang yang tawadhu, mudahkan hati dan pikiranku untuk menganalisa ilmu agama secara benar dan lurus.

Bapak ibu sekalian, Allah SWT berfirman: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan yang sebenar-benarnya. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan’ (Surat Al- Anbiya:35). Allah menciptakan kehidupan ini silih berganti antara kejadian satu dengan kejadian lain. Dulu hidup lalu dimatikan, yang mati lalu dihidupkan. Begitulah Allah menunjukkan kekuasaan-Nya. Dan akhirnya semua kembali kepada-Nya. “Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. dan engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas) (QS Ali Imran:27). “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah” (QS: Adz-Dzariyat:49)

Bagawat Rama:
Uztad, umur saya sudah banyak...tetapi belum juga aku dijemput kematianku. Apakah aku boleh membayang-bayangkan kematianku dalam pikiranku itu?

Miftahus Salim:
Setiap tubuh yang berjiwa pasti merasakan mati, bahwasanya pahalamu akan disempurnakan di hari kiamat. Barang siapa dihindarkandari neraka dan diangkat ke surga, sungguh menanglah dia (Ali-Imran:185). “Hingga ketika seseorang diantara mereka itu mati, ia berkata : Ya Tuhan kembalikan aku ke dunia. Mungkin aku bisa beramal kebaikan yang dulu aku tinggalkan, sekali-kali tidak, sungguh itu suatu kalimat, dia mengatakannya. Dibelakang mereka ada dinding sampai hari kebangkitan (QS. Al Mukminun: 101-109). Maka jawaban dari pertanyaan anda dapat saya berikan sebagai:”Seseorang tidak tahu pasti apa yang akn diperbuat besok pagi dan tiada pula mengetahui secara pasti di bumi/daerah mana ia akan mati” (QS.Lukman:34). Rasulullah SAW bersabda:”Sering-seringlah mengingat peristiwa yang akan melenyapkan segala bentuk kelezatan yakni mati (HR Turmudzi).

Dewi Umaya:
Ustad, bagaimana persisnya dan apa yang terjadi jika terompet kematian itu telah ditiup-Nya? Bagaimana dengan amal-amal kita? Bagaimana dengan dosa-dosa kita? Apakah Tuhan akan mengangkat pemenang-pemenang? Dan siapakah sang pemenang itu?

Miftahus Salim:
“Ketika terompet ditiup, maka tiadalah hubungan darah antara mereka dihari itu, dan tiada pula kesempatan saling bertanya diantara mereka. Maka barang siapa banyak amal perbuatan baiknya, mereka itulah yang menang. Danbarang siapa yang ringan amalnya, maka mereka itulah yang sangat merugikandirinya, kekal menjadi penghuni neraka. Api membakar muka mereka, sehingga muka mereka bermuram durja didalamnya. Apakah ayat-ayat Ku tiada dibacakan, lalu kamu berdusta kepadanya? Jawab mereka:”ya Tuhan, kami telah bertekuk lutut pada nafsu sial kami, sehingga kami termasuk masyarakat sesat. QS Al Mukminin:101-115). Ketika ajal mereka tiba, mereka tiada daya menangguhkannya ataupun menyegerakannya sesaatpun (QS Al-a’raf:34)

Cantraka Sakti:
Bagaimanakah sikap kita menghadapi kematian? Bersedihkan atau bergembirakah?

Miftahus Salim:
Jika kematian sudah ditentukan, maka tidak ada seorangpun yang dapat mencegahnya. Firman Allah SWT:”Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat pula memajukannya (QS Al-A’raf: 34). Selanjutnya saya minta rekan Ustad jalaludin Rakhmat untuk menjelaskan lebih lanjut perihal kematian ini.

Jalaludin Rakhmat:
Terimakasih. Matilah kamu sebelum mati. Allah mematikan kamu dari diri-dirimu dengan kematian keinginan yang berupa peniadaan (fana) dalam keesaan. Lalu Allah menghidupkankamu dengan kematian hakiki, yakni al-baqa sesudah al-fana dengan wujud al-haqqani yang dianugerahkan kepadanya. Kemudian kepada-Nya kamu dikembalikan untuk penyaksian.

Muhammad Nurikhlas:
Mohon dijelaskan kembali apa yang dimaksud ‘mati sebelum mati’?

Jalaludin Rakhmat:
Dalam Surat Al-Baqarah ayat 260 Allah berfirman:”Dan Ingatlah ketika Ibrahim berkata,’Ya Tuhanku, perlihatkan kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati’ Allah berfirman,’Belum yakinkah kamu? Ibrahim menjawab,’Aku telah meyakininya, tetapi agar hatiku tetap mantap dengan imanku’. Allah berfirman,’Kalau demikian ambillah empat ekor burung dan cincanglah semua olehmu. Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggilah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera’. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Dewi Umaya:
Aku belum jelas perihal mati sebelum mati dan apa hubungannya dengan keempat burung itu?

Jalaludin Rakhmat:
Kita hanya akan bisa hidup kembali setelah mati, bila kita membunuh empat ekor unggas yang mencerminkan diri kita atau ego kita. Keempat ekor unggas itu adalah Bebek sebagai lambang kerakusan, Ayam Jantan sebagai lambang nafsu, Burung Merak sebagai lambang kesombongan, dan Burung Gagak sebagai lambang keinginan.

Bagawat Rama:
Bagaimana jika umurku yang sudah tua renta ini, sementara fisikku sudah tidak mampu melakukan banyak aktivitas, tetapi aku belum berhasil membunuh burung-burung egoku itu?

Jalaludin Rakhmat:
Itulah kematian ruju idhtirari, yaitu kembali kepada Allah secara terpaksa. Bagi orang-orang yang ikhlas, kematian adalah jembatan untuk menyeberang dari keburukan dan kesengsaraan ke surga yang luas, yaitu enikmatan abadi. Sedangkan bagi orang-orang yang belum ikhlas, kematian adalah perpindahan dari istana ke penjara dan azab. Membunuh burung-burung egois itulah sebagai lambang keikhlasan kita masing-masing. Bagi orang-orang yang belum ikhlas, dunia itu adalah surga, sedang kematian adalah neraka Jahim. Sebaliknya, bagi orang-orang yang sudah ikhlas, dunia adalah penjara, sedangkan kematian adalah jembatan menuju surga.

Bagawat Rama:
Bagi diriku yang sebetulnya juga ingin mati, apakah masih ada teladan yang dapat aku ambil?

M Shaim:
Begini Bagawat Rama, teladan yang paling baik adalah melihat apa yang diucapkan dan dikerjakan orang-orang mulia ketika menghembuskan nafas terakhirnya. Apa yang mereka wasiatkan? Dst. Menjelang detik-detik terakhir kehidupan dunianya, Rasulullah SAW berkali-kali mengucapkan:”Shalat, jagalah shalat dan para budak-budak kalian” (HR Ibnu Majah:2625). Setelah itu beliau pingsan, dan ketika sadar, beliau bersabda:”Aku berpesan kepada kalian, berbuat baiklah pada wanita”. Diriwayatkan oleh Aisyah ra, ia berkata:”Saya melihat Rasulullah ketika akan meninggal. Di samping beliau ada sebuah gelas yang berisi air. Beliau memasukkan tangan beliau ke dalam gelas itu kemudian membasuh wajah beliau dengan air itu, kemudian berdoa: “Ya Allah, tolonglah aku dalam sakaratul maut ini”. A’isyah ra menambahkan:”Ketika keadaan Rasulullah semakin kritis, beliau menarik tangan beliau dari tanganku kemudia berdoa:”Ya Allah, ampunilah aku danpertemukanlah aku dengan orang-orang yang mulia di sisi-Mu” (HR Ibnu Majah: IX/16)

Dewi Umaya:
Apakah masih ada teladan-teladan yang lainnya?

M Shaim:
Uqbah bin Abu ash-Shahba menuturkan, ketika Ali akan meninggal, berwasiat kepada anaknya Al-Hasan:”Ananda, hafalkan dariku empat hal dan empat hal lainnya”. Al-Hasan bertanya:”Apakah itu ayahnda?”. Ali menjawab:”Kekayaan yang paling kaya adalah kaya akal, kemiskinan terbesar adalah kebodohan, kesedihan yang paling mengerikan adalah sifat ujub, dan kemuliaan yang paling utama adalah akhlak yang baik”. Lalu apa empat hal yang lainnya?. Ali menjawab:”Jauhilah pertemanan dengan orang yang bodoh karena ia ingin memanfaatkanmu kemudian merusakmu. Jauhilah berkawan dengan orang yang suka bohong, kerana dia akan mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat (memutar balikkan kebenaran), Jauhilah berkawan dengan orang bakhil karena dia akan melarangmu mendapatkan hal yang paling kamu butuhkan. Jauihilah berkawan dengan orang yang berbuat dosa, karena ia akan menjualmu dengan harga murah”.

Muhammad Nurikhlas:
Wahai Ustad M Shaim, dikarenakan para peserta Ritual Ikhlas ini telah merasa nyaman di sini dan enggan pulang, malah ada sebagian diantara mereka malah lebih menginginkan kematiannya. Apakah masih ada lagi teladan, nasehat atau wasiat perihal urusan dunia-akhirat, dari orang-orang mulia ketika akan mati?

M Shaim:
Semua peserta Ritual Ikhlas yang saya hormati. Diriwayatkan oleh Sa’id bin al-Musayyab, ketika akan meninggal, Abu Ubaidah memanggil orang muslim yang mendatanginya dan berkata:”Saya berpesan kepada kalian, jika kalian mau menerimanya, niscaya kalian akan tetap dalam kebaikan. Pesan saya: Dirikanlah Shalat, berpuasalah di bulan Ramadhan, bersadaqahlah, tunaikanhaji, makmurkanlah bumi ini, saling bersilaturakhimlah, berikan nasehat kepada para pemimpin danjangan membingungkan mereka, serta janganlah sampai terpedaya oleh dunia. Walaupaun ada orang yang dapat hidup selama seratus tahun, namun pasti akan kembali kepada kematian yang kalian lihat ini. Allah telah menetapkan kematian bagi anak turun Adam, mereka semua akan mati. Orang yang paling cerdas di antara mereka ialah orang yang paling taat kepada Tuhanya danyang paling tahu tentang hari kembalinya. Wassalamu’alaikum wa rahmatullah. hai Mu’adz bin Jabal, sambunglah silaturakhim dengan orang-orang”

Santri Kepala:
Bapak, Ibu dan saudara semua peserta Ritual Ikhlas IV. Semoga semua Tausiah dari para Ustad kita dapat memberikan pencerahan dan bekal kita untuk mengarungi hidup ini dunia wal akhirah. Uraian dari Ustad M Shaim tentang teladan, pesan dan wasiat dari orang-orang mulia kiranya sangat bermanfaat bagi kita semua. Pesan Abu Ubaidah memberi kekuatan kita agar marilah setelah selesai kegiatan ritual ikhlas ini kita bertebaran di muka bumi untuk masih tetap berjuang di jalan Allah. Marilah kita bersama berdoa untuk memanjatkan puji syukur kita atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT kepada Kita. Doa kita juga sekaligus sebagai penutup rangkaian kegiatan kegiatan Ritual Ikhlas I sampai dengan IV. Allohuma ij’alana minadz dzaakiriena wadz dzaakirot. Allohumma nawwir qulubana bikulli hidayatika kama nawwarta binuri syamsika abadan abadan. Robbana taqobbal minna innaka Antas Samie’ul ‘Alaiem watub ‘alaina innaka Anta Tawwabur Rohiem. Robbana dholamna anfusana wa inlam taghfir lana watarhamna lanakunanna minal khosirien. Robbana atina fid dunya hasanatan wafil akhiroti hasanatan wa qina adzaban naar, wa adkhilna jannata ma’al abror Ya ‘Aziezu Ya ghoffar. Wa sholallohu ‘alaa Sayyidina Muhammadin an-nabiyyil umiyyi wa a’alaa alihi wa shohbihi wa azwajihi wa dzurriyyatihi wa ahli baitihi ajma’ien wasallam. Subhana Roobika Robbil ‘Izzati ‘amma yashifuun wa salamun ‘alal mursalien wal hamdulullahi Robbil ‘alamien. Demikian Bapak ibu semua, mudah-mudahan kita selalu dimudahkan urusan dunia dan akhiratnya. Amin. Wallohu muwafiq ilaa aqwamith thoriq.

Wassalamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

26 comments:

  1. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. Kita sebagai makhluk yang bernyawa sudah seharusnya untuk berusaha semaksimal mungkin untuk berjuang menjalani hidup ini. Karena dimana, kapan, dan bagaimana kita mati, hanyalah Allah SWT yang mengetahuinya, maka kita tidak boleh lalai akan kewajiban kita sebagai hamba-Nya.

    ReplyDelete
  2. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Mengingat mati sebenarnya suatu yang dituntut pada setiap orang. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan” (HR. An Nasai no. 1824, Tirmidzi no. 2307 dan Ibnu Majah no. 4258 dan Ahmad 2: 292. Hadits ini hasan shahih menurut Syaikh Al Albani). Yang dimaksud adalah kematian. Kematian disebut haadzim (pemutus) karena ia menjadi pemutus kelezatan dunia. Mati itu sebuah kepastian. Maka kita berdoa agar dimatikan dalam keadaan Khusnul Khatimah. Aamiin

    ReplyDelete
  3. Nikhu Wahyu Raharjo
    13301244001
    Pendidikan Matematika 2013

    kullu nafi zdaiqotul maut. setiap diri akan mencicipi kematian. sungguh matinya diri tidak ada yang tahu. itu haq rahasia Allah. yang hanya bisa kita lakukan adalah memperbanyak bekal sebelum mati menjemput kita.

    ReplyDelete
  4. Nikhu Wahyu Raharjo
    13301244001
    Pendidikan Matematika 2013

    sebaik baiknya bekal adalah amal baik. "beramalah untuk dunia seakan akan engkau hidup selamanya, dan beramalah untuk akhirat seakan engkau mati esok hari".

    ReplyDelete
  5. Nikhu Wahyu Raharjo
    13301244001
    Pendidikan Matematika 2013

    merinding saya ketika berbicara mengenai kematian. yang tidak ada orang tahu kapan terjadi. tak dapat dimundurkan, tidak dapat disegerakan.

    dan cukuplah bagi kamu kematian sebagai pengingat. mengingat segala perbuatan yang telah saya kerjakan. apakah mampu untuk mendapatkan rohmat Allah sehingga di izinkan untuk memasuki surga

    ReplyDelete
  6. Muhammad Mufti Hanafi
    13301244005
    Pendidikan Matematika 2013

    Berbicara kematian terkadang seorang memaksakan untuk tidak turut campur, niat hendak mengesampingkan fikir namun yang ada justru meniadakan fikir. Jika fikir dibarengi hati maka kebenaran dapat tampak dengan bimbingan Allah. Hal yang pasti mendatangi setiap manusia dan menjadi titik awal kehidupan masa depan justru menjadi pacuan dan perhatian. Bagi orang yang cerdas akan terus kokoh memegang prinsip berbekal sebelum masa hisab, dan menikmati setelah tak lagi ada masa berbekal.

    ReplyDelete
  7. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Kematian adalah takdir yang tidak dapat dihindarkan oleh setiap makhluk hidup di muka bumi ini. Allah telah menetapkan kepada setiap manusia kapan waktu kembali menghadap Yang Kuasa. Kita sebagai manusia hanya dapat menjalani hidup dan mengisi kehidupan yang sudah dianugerahkan oleh Allah dengan sebaik-baiknya. Kita harus bersykur atas segala rahmat yang selalu Allah berikan kepada kita.

    ReplyDelete
  8. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Dalam menjalani hidup ini sebaiknya kita selalu melakukan hal hanya karena Allah. Kita perlu memperbanyak tabungan amal untuk bekal dan senentiasalah mengingat kematian, agar segala langkah yang kita ambil selalu berhati-hati dan hanya mengharapkan ridho Allah SWT.

    ReplyDelete
  9. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Terimakasih Bapak atas nasihat-nasihat spiritualnya. Saya tertarik atas nasehat yang berbunyi "mati sebelum mati" yang artinya sebelum kita meninggalkan dunia ini(menjalani hidup ini), maka kita harus "mematikan" atau menghilangkan dulu sifat-sifat egois, tamak (rakus), dan sombong. Sifat-sifat tersebut perlu "dimatikan" terlebih dahulu karena sifat-sifat tersebut jika tidak "dimatikan" maka akan membuat kita jauh dari Allah SWT dan hati kita akan menjadi mati. Sungguh sebuah kerugian jika jasad kita belum "mati" tetapi hati kita sudah "mati" duluan.

    ReplyDelete
  10. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan mati. Semua manusia di dunia ini akan kembali kepada-Nya, hanya waktu yang membedakannya. Jika kematian sudah ditentukan, maka tidak seorangpun yang dapat mencegahnya. Kita tidak akan tau kapan kematian akan datang kepada kita karena kematian adalah rahasia Tuhan. Bagi orang-orang yang belum ikhlas, dunia itu adalah surge, sedangkan kematian adalah neraka jahim. Padahal sesungguhnya kehidupan yang abadi adalah kehidupan setelah kematian

    ReplyDelete
  11. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Memanjatkan doa. Melihat diri sendiri sedalam-dalamnya. Terimakasih, elegi ini membawa saya pada keadaan untuk melihat diri saya sendiri. Kematian. Sungguh tiada satupun yang mengetahui, kecuali Allah SWT. Senantiasa berdoa, agar kita senantiasa ada di jalan Nya. Amin

    ReplyDelete
  12. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Elegi ini mengajak kita untuk mengingat dan mempersiapkan diri dengan kematian. Setiap makhluk hidup pasti akan mati dan tidak ada satu orangpun yang tahu kapan kematian itu. Mati sebelum mati dalam elegi ini memberikan pesan agar kita mematikan keegoisan, mematikan segala keburukan pada diri sebelum kematian yang sesungguhnya datang. Maka kunci kesalamatan dunia dan akhirat adalah ikhlas. Ikhlas mengumpulkan bekal menuju akhirat. Semoga kita dipermudah mencapai keikhlasan dalam menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya. Amin.

    ReplyDelete
  13. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    Pendidikan Matematika Kelas B(S2)

    Setiap manusia akan merasakan kematian, tetapi kita tidak mengetahui kapan kematian tersebut akan terjadi. Oleh karena itu sebagai makhluk yang tidak mengetahui kapan terjadinya kematian maka manusia hanya bisa berusaha dengan mengumpulkan amal kebaikan dan meninggalkan keburukan yang dapat menjerumuskan kepada lembah hitam. Pikiran, ucapan, perbuatan yang dilakukan harus selalu dipikirkan apakah hal tersebut dapat bermanfaat atau malah menzalimi diri kita sendiri bahkan orang lain. Segala harta benda, teman, atau keluarga yang kita miliki tidak akan bisa membantu untuk mencegah kematian, justru amal-amal kita yang dapat membantu kita setelah kematian terjadi. Oleh karena itu mari bersama-sama berjuang untuk mencari amal dan menghindari perbuatan buruk agar kita bersama-sama dapat khusnul khatimah.

    ReplyDelete
  14. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Setiap yang hidup pasti akan mati. Meskipun begitu, kematian merupakan rahasia Allah SWT. Kita sebagai makhluknya hendaknya selalu mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian karena kematian bisa datang kapan saja dan pada siapa saja, tidak memandang usia, sehat atau sakit, dan lain sebagainya. Sebagaimana yang diungkapkan dalam elegi ini, kematian merupakan jembatan untuk menyeberang dari keburukan dan kesengsaraan ke surga yang merupakan kenikmatan abadi. Sebaliknya, bagi orang-orang yang belum ikhlas, kematian merupakan perpindahan dari istana menuju azab. Ikhlas ini dalam artian yang luas, diantaranya dengan membunuh kerakusan, hawa nafsu, kesombongan dan keinginan. Ikhlas juga dilakukan dengan senantiasa meningkatkan kualitas ibadah, memohon ampun, selalu mengingat Allah SWT dan berjuang di jalan-Nya pada setiap urusan di dunia ini.

    ReplyDelete
  15. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi Ritual Ikhlas IV : Enggan Pulang dan Ingin Mati ? Elegi ini mengungkapkan tentang pesan-pesan spiritual mengenai kematian. Kematian adalah sebuah kepastian. Setiap yang hidup pasti akan mati. Kapan datangnya kematian? Hanya Allahlah yang tahu. Kita sebagai hambaNya hanya bisa memaksimalkan ikhtiar dan ibadah kita di dunia. Agar kelak saat kematian menjemput, kita mendapatkan khusnul khotimah. Amin. Terima kasih.

    ReplyDelete
  16. Wisniarti
    17709251037
    PM B (Pascasarjana)

    "Kematian adalah sebuah kepastian", kita harus menyadari kalimat tersebut dan hendaknya selalu kita ingat. Karena tak ada satu orangpun yang dapat terhindar dan bersembunyi dari kematian. Elegi Ritual ikhlas iv - Enggan Pulang ini memberikan pelajaran dan pengingat kepada pembaca untuk tidak hanya mempersiapkan kebahagiaan dunia, namun ada yang lebih penting dari itu yaitu mempersiapkan akhirat. Karena kematian tidak dapat diprediksi kapan dan dimana akan mendatangi kita. Dengan belajar dari apa yang diucapkan dan dilakukan Rasulullah dan para sahabat sebelum meninggal, kita setidaknya dapat sedikit demi sedikit menata hidup agar orientasi kita tidak hanya pada dunia namun lebih pada akhirat.

    ReplyDelete
  17. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Kematian merupakan sesuatu yang akan dialami oleh setiap yang bernyawa. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan mungkin setiap detik terjadi kematian setiap makhluk. Elegi ini mengajarkan kita bahwa kematian yang tidak dapat dihindari itu pasti akan datang menghampiri, dan untuk itu kita harus selalu mempersiapkan diri agar kematian yang datang pada saat kita dalam kebaikan sehingga menjadi husnul khatimah, Aamiin.

    ReplyDelete
  18. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Terimakasih banyak pak atas postingannya. "Elegi Ritual Ikhlas IV: Enggan Pulang dan Ingin Mati?" mengingatkan kepada kita bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Jadi sebaik mungkin , segera mungkin kita persiapkan diri kita. Jalani semua kehidupan dengan ikhlas. Jikalau Allah masih memberikan kita kesempatan untuk bernafas, berarti Allah memberi kesmpatan kita untuk segera memperbaiki diri, mendekatkan diri kepada-Nya. Maka, ingatlah kematian ada didepan kita, kapanpun dan dimanapun. Jadi, segeralah perbaiki diri.

    ReplyDelete
  19. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    PPs. PM A 2017

    Elegi ini menyampaikan bahwa semua makhluk hidup akan mengalami kematian. NAmun yang mengetahui kapan mati hanyalah Allah semata. Manusia sebagai salah satu makhluk hidup hanya dapat berusaha sebaik mungkin untuk mendapatkan khusnul khotimah atau mati dalam keadaan baik. Kehidupan ini semata-mata hanya kesempatan bagi manusia untuk mendapat ridlo Allah.

    ReplyDelete
  20. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Membacanya tersirat perasaan haru, merenung dan menenangkan. Setiap yang bernyawa pasti akan mati, kalimat yang dapat dijadikan sebagai motivasi dalam hidup dan beribadah. Saya sendiri juga tidak tahu waktu kematian itu menjemput diri ini. Namun, satu harapan diberi bimbingan oleh Allah menuju kematian yang husnul khatimah. Dalam dunia persinggahan yang hanya sementara ini, bukti bahwa Allah memberi kesempatan pada kita semua untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Tentunya diiringi dengan doa-doa yang dapat menenangkan hati dan pikiran. Terima kasih Prof untuk ulasan ini.

    ReplyDelete
  21. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    Membaca elegi di atas kembali mengingatkan kita agar selalu waspada dan menjaga diri kita dari hal-hal yang dilarang, karena kita harus selalu siap, sehingga kapanpun tiba saatnya kita dijemput, maka kita akan selalu berusaha agar dijemput dalam keadaan yang baik, dalam keadaan beribadah, sehingga saat kita kembali dan menghadap Allah SWT, Allah telah ridho kepada kita. aamiin ya rabbal alamiin

    ReplyDelete
  22. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Kamatian adalah hal yang pasti bagi seluruh umat manusia, dia pasti datang seprti Kalam Nya dalam Q.S Al ankabut :57 “ Tiap-tiap yang berjiwa akan merasa mati. Dans esungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surge, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memberdayakan.”. Elegi di atas memberikan pelajaran bahwa setiap orang harus meyakini akan adanya kematian dalah dirinya entah itu kapan terjadi, oleh karenanya manusia harus selalu siap setiap saat dan ikhlas. Untu itu manusia harus memiliki bekal, bekal dengan selalu Taqwa kepada Allah SWT. Hal yang sering kali memberatkan adalah godaan dunia yang melenakan, sungguh manusia harus seantiasa membentengi hidupnya agar tidak terjerumus. Amien. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  23. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Kamatian adalah hal yang pasti bagi seluruh umat manusia, dia pasti datang seprti Kalam Nya dalam Q.S Al ankabut :57 “ Tiap-tiap yang berjiwa akan merasa mati. Dans esungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surge, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memberdayakan.”. Elegi di atas memberikan pelajaran bahwa setiap orang harus meyakini akan adanya kematian dalah dirinya entah itu kapan terjadi, oleh karenanya manusia harus selalu siap setiap saat dan ikhlas. Untu itu manusia harus memiliki bekal, bekal dengan selalu Taqwa kepada Allah SWT. Hal yang sering kali memberatkan adalah godaan dunia yang melenakan, sungguh manusia harus seantiasa membentengi hidupnya agar tidak terjerumus. Amien. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  24. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Kematian adalah sesuatu yang pasti dialami setiap yang bernyawa. Adapun mempersiapkan kematian adalah utama juga yaitu dengan melakukan amal kebaikan agar akhir kehidupan kita juga berakhir baik. Di awal cerita disampaikan jika peserta enggan pulang, ini juga pernah dialami oleh sahabat Rasulullah tetapi agak berbeda. Sahabar rasul pernah berkata jika dalam majelis ilmunya ia selalu ingat mati, surga dan neraka, namun saat tidak berada di majelis ilmu, maka ia lupa akan segalanya. Maka jawaban rasul yaitu teruslah demikian, artinya teruslah tetap datang ke majelis ilmu agar selalu ingat dengan kebaikan. Sehingga yang perlu kita lakukan adalah menyiapkan kematian terbaik, atau khusnul khatimah. Kematian tidak perlu ditakuti, karena jika takut mati berarti telah terjangkit penyakit hati atau penyakit-penyakitnya orang akhir zaman. Karena sejatinya kematian adalah gerbang menuju kehidupan kekal.

    ReplyDelete
  25. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas artikel menarik di atas. Sungguh indah ketika seorang hamba telah menyadari kesalahan dan perilaku buruknya di masa lampau, ddan telah mengalami proses hijrah dan perbaikan diri, ia bahkan nyaman dan tidak akan kembali pada gemerlapnya masa jahiliyahnya. Ia sadar akan pentingnya belajar ilmu agama, dan selalu betah duduk- dalam majelis-majelis ilmu, maka kerahmatan dan keberkahan lah yang akan ada dalam hidupnya. Namun, apakah dengan hal itu ia dapat langsung meminta datangnya kematian agar segera bertemu dengan Sang Pencipta. Naudzubillahimindzalik, sebaik-baik manusia tiadalah boleh ia meminta kematian, karena itu pertanda ia sombong dan merasa siap terhadap proses sidang dari Allah akan masuk ke neraka atau ke surga kah kelak. Sehingga, hikmah dari elegi ini adalah ketika kita mampu menyadari segala kesalahan dan dosa-dosa dimasa lampau jangan lah serta merta kita langsung meminta dan berkeinginan untuk menghadapnya. Karena amal dan perbuatan kita barangkali belum mencukupi sebagai bekal kita untuk masuk ke surganYa kelak dan kita wajib untuk terus menginstropeksi diri sambil mendalami ilmu-ilmu agama serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  26. Kartika Pramudita
    17701251021
    PEP B (S2)
    Pada elegi ini mengingatkan bahwa setiap orang akan mati. Semua ini menyadarkan kepada saya bahwa untuk menghadapinya harus selalu beribadah dengan ikhlas kepada Allah SWT. Karena kematian adalah jembatan menuju syurga bagi orang-orang yang ikhlas dan jembatan menuju neraka bagi orang-orang yang tidak ikhlas. Membaca elegi ini menyadarkan kepada kita bahwa kita harus selalu mengingat mati, berusaha untuk membersihkan diri dari dosa-dosa yang telah diperbuat, dan menjauhi diri dari hal-hal yang menghancurkan keimanan.

    ReplyDelete