Feb 26, 2011

Elegi Ritual Ikhlas IV: Enggan Pulang dan Ingin Mati?




Oleh Marsigit

Santri Kepala:

Asslamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh
Alhamdulillaah. Alhamdulillaahi wahdah shodaqo wa’dah wa nashoro ‘abdah wa ‘azza jundahu wa ‘azama wahdah. Wash-sholatu was salamu ‘alaa rasulillaah Sayyidina wa habibina wa qurrotu a’yuna Muhammadin bin ‘abdillah wa alaa alihi wa ashhabihi wa dzawil nufusil muthmainnah. Amma ba’dah.


Bapak Ibu peserta Ritual Ikhlas IV yang berbahagia, acara puncak dari segala ritual ikhlas yang kita selenggarakan ini adalah bermunajat kehadirat Allah SWT. Semoga dengan keikhlasan hati kita masing-masing maka Allah SWT ridha dengan doa-doa kita seraya mengabulkannya. Amin.

Harapan kami dari Panitia adalah bahwa setelah kita insyaallah berhasil melakukan perbaikan perihal tata cara beribadat, menertibkan salat, menambah-tambah salat sunat, salat jamaah, memperbanyak dzikir, melatihkan keikhlasan, berlatih bagaimana bersyukur itu, memohon ampun segala dosa-dosa, membersihkan hati, maka kembalilah kita ke rumah masing-masing, ke pekerjaan kita masing-masing. Beterbaranlah kita semua di muka bumi ini untuk berubudiyah dan berjuang di jalan yang diridhai Allah SWT. Amin

Sembari menunggu Acara Penutupan, kita masih mempunyai waktu yang cukup untuk mengadakan dialog dan tanya jawab. Silahkan kalau masih ada hal-hal yang ditanyakan.

Peserta Ritual Ikhlas:
Asslamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh
Yang saya hormati Santri Kepala. Tiadalah kami mampu membayangkan pikiran, ucapan, perbuatan ataupun segala harta benda yang kami miliki, mampu menukar segala kebaikan dirimu dan kebaikan diri para santri di sini yang telah dengan sabar dan ikhlas membimbing kami dalam memperbaiki tata cara ibadat kami serta usaha-usaha kami dalam meraih keridhaan kami. Kami betul-betul merasakan keadaan seperti berganti dunia, keadaan berganti seratus delapan puluh derajat, yaitu jika dibandingkan keadaan sekarang dan keadaan ketika saya baru awal mengikuti ritual ikhlas ini. Sungguh masa lampauku itu sangat aku tidak sukai, sangat aku sesali, dan saya terasa tidak mampu kembali untuk kembali mengalami masa lampauku itu. Aku ternyata telah merasakan nikmat di atas nikmat yang tidak ada tolok bandingannya, aku telah merasakan damai dan tenteram yang tidak ada tolok bandingannya, aku telah merasakan bagaimana dicintai Allah SWT, dan aku tidak mau hal-hal yang telah aku raih tersebut akan hilang begitu saja. Dunia masa lampauku, dunia yang ada di sana itu begitu buruknya sekarang aku merasakannya, maka aku betul-betul menyesali segala perbuatanku di waktu lampauku. Oleh karena itu setelah berbisik-bisik dengan sesama peserta, maka kami masih ingin mengajukan permohonan kepada Santri Kepala, yaitu bagaimana agar kami tetap tinggal di sini saja dan tidak usah pulang. Sampai akhir hayatku pula rasanya kami ikhlas tetap berada di sini dan tidak ingin pulang. Kami ingin mempertahankan dan bahkan kalau perlu kami ingi menambah-nambah ilmu lagi di sini agar hidupku lebih sempurna lagi. Bahkan sampai matipun rasanya saya ingin tetap disini. Bagiku hidup dan mati itu jaraknya sangat dekat. Wahai Santri Kepala, apakah engkau masih bersedia menjawab pertanyaan kami perihal mati? Apakah boleh kami memohon kematian agar kami segera bisa menghadap Illahi?

Santri Kepala:
Perihal kematian atau menunggu datangnya kematian? Maka kita mempunyai Ustad yang bisa kita dengarkan sebagai referensi. Untuk itu saya persilahkan Ustad Miftahus Salim, Ustad Jalaludin Rakhmat dan Ustad M Shaim, agar bisa menjelaskan perihal kematian kepada peserta Ritual Ikhlas. Silahkan.

Miftahus Salim:
Asslamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh
Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Ya Allah, aku mohon petunjuk-Mu akan arah yang baik dan benar untuk setiap langkahku. Mudahkan jalanku, kuatkan imanku..ya Allah. Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Tahu yang terbaik bagi umat-Mu. Ya Allah, tambahlah ilmuku, bimbinglah aku agar mendapat hanya ilmu yang lurus dan benar sesuai dengan syariat-Mu dan ajaran rasul-Mu. Bimbinglah aku agar imuku menjadi ilmu yang bermanfaat, jauh dari riya’, mudahkanlah mulutku untuk membaca dan memahami Al-Quran. Jadikanlah aku umat-Mu yang pandai menyampaikan ayat-ayat-Mu dengan ikhlas, tidak riya’, mudahkan mulutku untuk berkomunikasi dengan lancar dan tawadhu, jadikan aku orang yang tawadhu, mudahkan hati dan pikiranku untuk menganalisa ilmu agama secara benar dan lurus.

Bapak ibu sekalian, Allah SWT berfirman: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan yang sebenar-benarnya. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan’ (Surat Al- Anbiya:35). Allah menciptakan kehidupan ini silih berganti antara kejadian satu dengan kejadian lain. Dulu hidup lalu dimatikan, yang mati lalu dihidupkan. Begitulah Allah menunjukkan kekuasaan-Nya. Dan akhirnya semua kembali kepada-Nya. “Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. dan engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas) (QS Ali Imran:27). “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah” (QS: Adz-Dzariyat:49)

Bagawat Rama:
Uztad, umur saya sudah banyak...tetapi belum juga aku dijemput kematianku. Apakah aku boleh membayang-bayangkan kematianku dalam pikiranku itu?

Miftahus Salim:
Setiap tubuh yang berjiwa pasti merasakan mati, bahwasanya pahalamu akan disempurnakan di hari kiamat. Barang siapa dihindarkandari neraka dan diangkat ke surga, sungguh menanglah dia (Ali-Imran:185). “Hingga ketika seseorang diantara mereka itu mati, ia berkata : Ya Tuhan kembalikan aku ke dunia. Mungkin aku bisa beramal kebaikan yang dulu aku tinggalkan, sekali-kali tidak, sungguh itu suatu kalimat, dia mengatakannya. Dibelakang mereka ada dinding sampai hari kebangkitan (QS. Al Mukminun: 101-109). Maka jawaban dari pertanyaan anda dapat saya berikan sebagai:”Seseorang tidak tahu pasti apa yang akn diperbuat besok pagi dan tiada pula mengetahui secara pasti di bumi/daerah mana ia akan mati” (QS.Lukman:34). Rasulullah SAW bersabda:”Sering-seringlah mengingat peristiwa yang akan melenyapkan segala bentuk kelezatan yakni mati (HR Turmudzi).

Dewi Umaya:
Ustad, bagaimana persisnya dan apa yang terjadi jika terompet kematian itu telah ditiup-Nya? Bagaimana dengan amal-amal kita? Bagaimana dengan dosa-dosa kita? Apakah Tuhan akan mengangkat pemenang-pemenang? Dan siapakah sang pemenang itu?

Miftahus Salim:
“Ketika terompet ditiup, maka tiadalah hubungan darah antara mereka dihari itu, dan tiada pula kesempatan saling bertanya diantara mereka. Maka barang siapa banyak amal perbuatan baiknya, mereka itulah yang menang. Danbarang siapa yang ringan amalnya, maka mereka itulah yang sangat merugikandirinya, kekal menjadi penghuni neraka. Api membakar muka mereka, sehingga muka mereka bermuram durja didalamnya. Apakah ayat-ayat Ku tiada dibacakan, lalu kamu berdusta kepadanya? Jawab mereka:”ya Tuhan, kami telah bertekuk lutut pada nafsu sial kami, sehingga kami termasuk masyarakat sesat. QS Al Mukminin:101-115). Ketika ajal mereka tiba, mereka tiada daya menangguhkannya ataupun menyegerakannya sesaatpun (QS Al-a’raf:34)

Cantraka Sakti:
Bagaimanakah sikap kita menghadapi kematian? Bersedihkan atau bergembirakah?

Miftahus Salim:
Jika kematian sudah ditentukan, maka tidak ada seorangpun yang dapat mencegahnya. Firman Allah SWT:”Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat pula memajukannya (QS Al-A’raf: 34). Selanjutnya saya minta rekan Ustad jalaludin Rakhmat untuk menjelaskan lebih lanjut perihal kematian ini.

Jalaludin Rakhmat:
Terimakasih. Matilah kamu sebelum mati. Allah mematikan kamu dari diri-dirimu dengan kematian keinginan yang berupa peniadaan (fana) dalam keesaan. Lalu Allah menghidupkankamu dengan kematian hakiki, yakni al-baqa sesudah al-fana dengan wujud al-haqqani yang dianugerahkan kepadanya. Kemudian kepada-Nya kamu dikembalikan untuk penyaksian.

Muhammad Nurikhlas:
Mohon dijelaskan kembali apa yang dimaksud ‘mati sebelum mati’?

Jalaludin Rakhmat:
Dalam Surat Al-Baqarah ayat 260 Allah berfirman:”Dan Ingatlah ketika Ibrahim berkata,’Ya Tuhanku, perlihatkan kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati’ Allah berfirman,’Belum yakinkah kamu? Ibrahim menjawab,’Aku telah meyakininya, tetapi agar hatiku tetap mantap dengan imanku’. Allah berfirman,’Kalau demikian ambillah empat ekor burung dan cincanglah semua olehmu. Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggilah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera’. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Dewi Umaya:
Aku belum jelas perihal mati sebelum mati dan apa hubungannya dengan keempat burung itu?

Jalaludin Rakhmat:
Kita hanya akan bisa hidup kembali setelah mati, bila kita membunuh empat ekor unggas yang mencerminkan diri kita atau ego kita. Keempat ekor unggas itu adalah Bebek sebagai lambang kerakusan, Ayam Jantan sebagai lambang nafsu, Burung Merak sebagai lambang kesombongan, dan Burung Gagak sebagai lambang keinginan.

Bagawat Rama:
Bagaimana jika umurku yang sudah tua renta ini, sementara fisikku sudah tidak mampu melakukan banyak aktivitas, tetapi aku belum berhasil membunuh burung-burung egoku itu?

Jalaludin Rakhmat:
Itulah kematian ruju idhtirari, yaitu kembali kepada Allah secara terpaksa. Bagi orang-orang yang ikhlas, kematian adalah jembatan untuk menyeberang dari keburukan dan kesengsaraan ke surga yang luas, yaitu enikmatan abadi. Sedangkan bagi orang-orang yang belum ikhlas, kematian adalah perpindahan dari istana ke penjara dan azab. Membunuh burung-burung egois itulah sebagai lambang keikhlasan kita masing-masing. Bagi orang-orang yang belum ikhlas, dunia itu adalah surga, sedang kematian adalah neraka Jahim. Sebaliknya, bagi orang-orang yang sudah ikhlas, dunia adalah penjara, sedangkan kematian adalah jembatan menuju surga.

Bagawat Rama:
Bagi diriku yang sebetulnya juga ingin mati, apakah masih ada teladan yang dapat aku ambil?

M Shaim:
Begini Bagawat Rama, teladan yang paling baik adalah melihat apa yang diucapkan dan dikerjakan orang-orang mulia ketika menghembuskan nafas terakhirnya. Apa yang mereka wasiatkan? Dst. Menjelang detik-detik terakhir kehidupan dunianya, Rasulullah SAW berkali-kali mengucapkan:”Shalat, jagalah shalat dan para budak-budak kalian” (HR Ibnu Majah:2625). Setelah itu beliau pingsan, dan ketika sadar, beliau bersabda:”Aku berpesan kepada kalian, berbuat baiklah pada wanita”. Diriwayatkan oleh Aisyah ra, ia berkata:”Saya melihat Rasulullah ketika akan meninggal. Di samping beliau ada sebuah gelas yang berisi air. Beliau memasukkan tangan beliau ke dalam gelas itu kemudian membasuh wajah beliau dengan air itu, kemudian berdoa: “Ya Allah, tolonglah aku dalam sakaratul maut ini”. A’isyah ra menambahkan:”Ketika keadaan Rasulullah semakin kritis, beliau menarik tangan beliau dari tanganku kemudia berdoa:”Ya Allah, ampunilah aku danpertemukanlah aku dengan orang-orang yang mulia di sisi-Mu” (HR Ibnu Majah: IX/16)

Dewi Umaya:
Apakah masih ada teladan-teladan yang lainnya?

M Shaim:
Uqbah bin Abu ash-Shahba menuturkan, ketika Ali akan meninggal, berwasiat kepada anaknya Al-Hasan:”Ananda, hafalkan dariku empat hal dan empat hal lainnya”. Al-Hasan bertanya:”Apakah itu ayahnda?”. Ali menjawab:”Kekayaan yang paling kaya adalah kaya akal, kemiskinan terbesar adalah kebodohan, kesedihan yang paling mengerikan adalah sifat ujub, dan kemuliaan yang paling utama adalah akhlak yang baik”. Lalu apa empat hal yang lainnya?. Ali menjawab:”Jauhilah pertemanan dengan orang yang bodoh karena ia ingin memanfaatkanmu kemudian merusakmu. Jauhilah berkawan dengan orang yang suka bohong, kerana dia akan mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat (memutar balikkan kebenaran), Jauhilah berkawan dengan orang bakhil karena dia akan melarangmu mendapatkan hal yang paling kamu butuhkan. Jauihilah berkawan dengan orang yang berbuat dosa, karena ia akan menjualmu dengan harga murah”.

Muhammad Nurikhlas:
Wahai Ustad M Shaim, dikarenakan para peserta Ritual Ikhlas ini telah merasa nyaman di sini dan enggan pulang, malah ada sebagian diantara mereka malah lebih menginginkan kematiannya. Apakah masih ada lagi teladan, nasehat atau wasiat perihal urusan dunia-akhirat, dari orang-orang mulia ketika akan mati?

M Shaim:
Semua peserta Ritual Ikhlas yang saya hormati. Diriwayatkan oleh Sa’id bin al-Musayyab, ketika akan meninggal, Abu Ubaidah memanggil orang muslim yang mendatanginya dan berkata:”Saya berpesan kepada kalian, jika kalian mau menerimanya, niscaya kalian akan tetap dalam kebaikan. Pesan saya: Dirikanlah Shalat, berpuasalah di bulan Ramadhan, bersadaqahlah, tunaikanhaji, makmurkanlah bumi ini, saling bersilaturakhimlah, berikan nasehat kepada para pemimpin danjangan membingungkan mereka, serta janganlah sampai terpedaya oleh dunia. Walaupaun ada orang yang dapat hidup selama seratus tahun, namun pasti akan kembali kepada kematian yang kalian lihat ini. Allah telah menetapkan kematian bagi anak turun Adam, mereka semua akan mati. Orang yang paling cerdas di antara mereka ialah orang yang paling taat kepada Tuhanya danyang paling tahu tentang hari kembalinya. Wassalamu’alaikum wa rahmatullah. hai Mu’adz bin Jabal, sambunglah silaturakhim dengan orang-orang”

Santri Kepala:
Bapak, Ibu dan saudara semua peserta Ritual Ikhlas IV. Semoga semua Tausiah dari para Ustad kita dapat memberikan pencerahan dan bekal kita untuk mengarungi hidup ini dunia wal akhirah. Uraian dari Ustad M Shaim tentang teladan, pesan dan wasiat dari orang-orang mulia kiranya sangat bermanfaat bagi kita semua. Pesan Abu Ubaidah memberi kekuatan kita agar marilah setelah selesai kegiatan ritual ikhlas ini kita bertebaran di muka bumi untuk masih tetap berjuang di jalan Allah. Marilah kita bersama berdoa untuk memanjatkan puji syukur kita atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT kepada Kita. Doa kita juga sekaligus sebagai penutup rangkaian kegiatan kegiatan Ritual Ikhlas I sampai dengan IV. Allohuma ij’alana minadz dzaakiriena wadz dzaakirot. Allohumma nawwir qulubana bikulli hidayatika kama nawwarta binuri syamsika abadan abadan. Robbana taqobbal minna innaka Antas Samie’ul ‘Alaiem watub ‘alaina innaka Anta Tawwabur Rohiem. Robbana dholamna anfusana wa inlam taghfir lana watarhamna lanakunanna minal khosirien. Robbana atina fid dunya hasanatan wafil akhiroti hasanatan wa qina adzaban naar, wa adkhilna jannata ma’al abror Ya ‘Aziezu Ya ghoffar. Wa sholallohu ‘alaa Sayyidina Muhammadin an-nabiyyil umiyyi wa a’alaa alihi wa shohbihi wa azwajihi wa dzurriyyatihi wa ahli baitihi ajma’ien wasallam. Subhana Roobika Robbil ‘Izzati ‘amma yashifuun wa salamun ‘alal mursalien wal hamdulullahi Robbil ‘alamien. Demikian Bapak ibu semua, mudah-mudahan kita selalu dimudahkan urusan dunia dan akhiratnya. Amin. Wallohu muwafiq ilaa aqwamith thoriq.

Wassalamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

16 comments:

  1. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam elegi ritual ikhlas IV enggan pulang dan ingin mati saya diingatkan tentang kematian itu pasti akan mendatangi setiap yang berjiwa. Begitu banyak dosa yang telah saya lakukan, baik yang tidak saya sengaja maupun yang saya sengaja. Semoga kita termasuk orang orang yang tidak lupa unutk selalu beristigfar mengharap ampunanNya. Aamiin

    ReplyDelete
  2. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Terima kasih sekali lagi Prof karena lagi-lagi telah membagikan ilmu yang sangat manfaat. Membaca elegi ritual ikhlas IV kali ini membuat saya merenung, bahkan untuk menghadapi ulangan akhir semester saja saya masih merasa belum siap apalagi menghadapi kematian. Padahal ulangan akhir semester sudah jelas kapan terjadinya dan tempatnya, sedangkan saya tidak mengetahui kapan dan dimana kematian akan menjemput. Seharusnya saya lebih bersiap untuk menghadapi mati. Jika saya gagal dalam ujian di kampus maka saya dapat mengulang kembali, tetapi jika saya gagal dalam ujian hidup maka saya tidak dapat kembali ke dunia setelah mati. Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa mengingat mati dan mempersiapkannya.

    ReplyDelete
  3. Muh Wildanul Firdaus
    17709251057
    Pendidikan Matematika S2 Kelas C

    Bagi orang-orang yang ikhlas, kematian adalah jembatan untuk menyeberang dari keburukan dan kesengsaraan ke surga yang luas, yaitu kenikmatan abadi. Maka mereka senantiasa mempersiapkan diri untuk bertemu kematian. Kematian adalah sarana pulang kepada Sang Khaliq. Orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengingat kepulangannya (kematian).

    ReplyDelete
  4. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B 2017

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Kematian itu jalan kita untuk pulang ke tempat yang sesungguhnya, mengembalikan fitrah kita sebagai manusia ciptaan-Nya. Jika kematian di analogikan seperti pulang ke kampung halaman, maka seharusnya kita membawa oleh-oleh untuk orang yang menunggu kita di kampung. Oleh-oleh apa yang seharusnya kita bawa kematian datang menjemput kita untuk pulang yaitu amal kebaikan pastinya. Wallahu'alam

    ReplyDelete
  5. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Kematian itu akan dirasakan oleh tiap – tiap yang bernyawa. Itu adalah pasti. Secanggih apapun usaha manusia tidak bisa memundurkan kematian. Tidak ada manusia yang abadi. Semua jiwa pasti akan mati dan kembali kepada Tuhannya. Bekal apa yang sudah kita persiapkan? Itulah pertanyaanya. Mengapa Tuhan merahasiakan kapan kita mati? Agar kita selalu siap dalam menjemputnya. Agar kita tidak menunda – nunda kewajiban dan perbuatan baik

    ReplyDelete
  6. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Setiap orang pasti memiliki masa lalu, masa lalu tidak bisa dihapus, dan tidak mungkin meminta orang lain untuk benar-benar melupakan masa lalu. Masa lalu ada sebagai pelajaran hidup, entah itu masa lalu baik atau buruk. Kematian itu pasti datangnya, takdir kematian itu sudah jelas tertulis untuk setiap manusia. Tugas manusia berusaha sebaik mungkin menjadi lebih baik tiap harinya agar tak ada penyesalan dikemudian.

    ReplyDelete
  7. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Semua orang ingin mati dalam keadaan khusnul khotimah . Untuk itulah diperlukan persiapan. Diantaranya adalah mencontoh kebiasaan orang-orang khusnul khotimah. Menjadikan kebiasaan-kebiasaan mereka menjadi kebiasaan kita, seperti dzikir. Karena kematian itu dapat menjemput kita kapan saja.

    ReplyDelete
  8. Nurika Miftahuljannah
    17709251060
    PPs P. Mat C
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Setiap orang pasti memiliki masa lalu yang akan menjadi kenangan yang sulit untuk dilupakan. Masa lalu merupakan pelajaran hidup, entah itu baik atau buruk. Kematian itu pasti datangnya, takdir kematian itu sudah jelas tertulis untuk setiap manusia. Tugas manusia berusaha sebaik mungkin menjadi lebih baik agar tidak ada penyesalan dikemudian hari. Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Terima kasih sekali lagi Prof. yang telah membagikan ilmu yang sangat bermanfaat ini untuk kami.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  9. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Sesungguhnya orang yang cerdas adalah orang yang senantiasa mengingat mati dan mempersiapkan untuk kematiannya. Bagi orang-orang yang senantiasa menjadikan akherat sebagai tujuan hidupnya, menjadikan kematian sebagai pengingatnya, maka ia akan senantiasa melakukan aktivitas-aktivitas yang baik dan dengan cara yang terbaik. Karena ia sadar kematian bisa sewaktu-waktu datang, tidak peduli ia sedang apa, tak peduli apakah ia sudah siap atau belum. Kita bisa saja mati saat sedang berjalan, atau ketika sedang naik kereta, sedang kuliah, sedang tidur ataupun dalam kondisi yang lain, tak peduli pagi, siang, atau sore. Ataupun tak memperdulikan apakah sebelumnya kita sakit atau tidak. Maka demi mendapatkan akhir hidup yang baik, khusnul khotimah, maka kita selalu membingkai aktivitas kita dengan aktivitas-aktivitas yang baik, agar jika sewaktu-waktu kematian datang kita tidak perlu risau karena kita dalam keadaan yang baik

    ReplyDelete
  10. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Ibarat teko yang diisi air terus menerus maka suatu saat akan penuh, air yang penuh diibaratkan ilu. Supaya tidak penuh maka air harus dialirkan ketempat lain, artinya ilmu yang kita dapat harus kita tularkan kepada orang lain. Namun pada hakikatnya ilmu yang kita berikan kepada orang lain tidaklah berkurang, namun teko kitalah yang semakin besar sehingga bisa menampung air berikutnya, kemudian teko semakin membesar, membesar dan membesar. Artinya menuntut ilmu itu tiada batasannya, namun juga harus diamalkan.

    ReplyDelete
  11. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Dalam hidup ini setiap orang pernah mengalami keadaan menyenangkan setelah keaadaan di masa lalu yang buruk. Kebanyakan orang tidak ingin kembali ke keadaannya yang lama, saat ia telah berada pada keaadan yang yaman. Ada perasaan takut ketika harus meninggalkan keadaan nyaman. Orang-orang takut tidak bisa menjaga kebiasaannya pada keadaan nyaman ketika mereka kembali ke keadaan yang lama. Padahal kita hidup di dunia itu secara bervariasi. Kadang kita perlu merasakan berada pada keadaan yang tidak nyaman agar benar-benar bisa merasakan keadaan yang nyaman.

    ReplyDelete
  12. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Kematian merupakan sesuatu yang pasti terjadi. Jika kematian sudah ditentukan, maka tidak ada seorangpun yang dapatmencegahnya. Datangnya kematian adalah misteri bagi setiap orang. Tak ada yang tahu pasti kapan datangnya kiamat. Kematian bisa saja datang bagi mereka yang tua maupun muda, yang sehat maupun sakit. Sebagai seorang yang beriman kita hanya wajib meyakininya. Jika dsudah datang saatnya nanti, maka pintu taubat kita telah ditutup, maka selagi kita diberi kesempatan hidup di dunia ini beribadahlah seakan akan kita akan mati besok.

    ReplyDelete
  13. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Rasa syukur dalam diri manusia harus mulai ditanam ketika manusai tersebut masih muda. Hal ini akan memberikan dampak yang baik jika terus dilatih untuk bersyukur dan bersyukur sehingga apa yang dimilikinya itu tidak selalu merasa kurang karena ikhlas apa yang diberikan dengan usaha yang maksimal juga.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  14. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    setiap mahkluk hidup pasti akan mati, entah kapan dan dimana itu sudah digariskan oleh Tuhan. kehidupan kita telah diatur oleh Tuhan, manusia tinggal menjalankan apa yang sudah ditakdirkan. Kita hanya akan bisa hidup kembali setelah mati, bila kita membunuh empat ekor unggas yang mencerminkan diri kita atau ego kita.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  15. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    Keempat ekor unggas itu adalah Bebek sebagai lambang kerakusan, Ayam Jantan sebagai lambang nafsu, Burung Merak sebagai lambang kesombongan, dan Burung Gagak sebagai lambang keinginan. kehidupan kita telah diatur oleh Tuhan, manusia tinggal menjalankan apa yang sudah ditakdirkan.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  16. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya, Prof. kematian adalah suatu hal yang mutlak/pasti dan tidak bisa ditawar lagi. tidak ada yang bisa menghindari kematian. manusia tidak kuasa memajukan atau menunda waktu kematian tersebut. yang bisa manusia lakukan adalah menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya, yakni amal shalih untuk persiapan kehidupan kekal setelah kematian tersebut.

    ReplyDelete