Feb 25, 2011

Elegi Pertandingan Tinju antara Kualitatif melawan Kuantitatif




Oleh Marsigit

Monolog Kuantitatif:
Besar harapanku. Kecil rintanganku. Panjang perjalananku. Pendek jangkauanku. Tepat sasaranku. Separuh peluangku. Penuh perolehanku. Kosong negatifku. Sepuluh nilaiku. Dua ratus persen kenaikan gajiku. Semua itu ada dalam daftar. Aku dapat menggambarnya. Aku dapat menghitungnya. Ini dia grafiknya. Dalam seminggu, sepuluh kegiatanku. Dalam sebulan, lima belas pekerjaanku. Ditambah waku, dikurangi daya, hasilnya tetap. Benarlah jawabanku dan salahlah jawabanmu. Kalkulasiku tepat dan kalkulasimu tidak tepat. Perkiraanku benar perkiraanmu salah. Jika engkau wakilnya, aku tidak butuh mereka. Satu untuk semuanya. Terpaksa aku tentukan, engkau itu lima atau delapan. Jika engkau lima, maka semuanya adalah lima, jika engkau delapan maka semuanya adalah delapan. Ambil sembarang bilangan, kalikan tujuh dan tambahlah tujuh kemudian bagilah dengan tujuh, hasilnya kurangi dengan satu, berapakah bilangan itu? Sembilan puluh persen ingatanku masih baik, yang lima persen sering lupa. Banyak tidurku tidak boleh lebih dari kerjaku. Pikiran ku acak terhadap mereka. Segerombolan orang-orang itu tidak mengetahui diriku. Aku hanya melihat dia cacah kepalanya. Luas pikirannya tidak lebih dari satu meter persegi. Dalam hatinya tidak lebih dari sepuluh senti meter. Cintaku kepadamu masih sembilan puluh lima persen. Keyakinanku tiga perempat. Lambang adalah mutiaraku, rumus adalah primadonaku, prinsip adalah semangatku.


Monolog Kualitatif:
Kugapai harapanku. Kulalui rintanganku. Kutempuh perjalananku. Kurasa jangkauanku. Baiklah sasaranku. Berharap peluangku. Halal perolehanku. Haram negatifku. Memuaskan nilaiku. Bermanfaat kenaikan gajiku. Apalah artinya daftar. A[pa perlu aku menggambarnya. Aku dapat merasakannya. Ini dia refleksiku. Dalam seminggu, ibadahku. Dalam sebulan, tanggungjawabku. Kesadaranku dan lingkunganku, menentukan keberadaanku. Etika jawabanku dan jawabanmu. Perasaanku dan perasaanmu. Apakah pantas aku memilih. Apakah pantas aku memberitahu. Aku tidak berani menentukan engkau lima atau delapan. Aku lebih suka bercerita dan berkomunikasi tentang dan dengan engkau. Janganlah berlaku sombong dan arogan. Lebih baik tidur dari pada berbuat dosa. Hatiku membatasi pikiranku. Sungguh malang nasibnya, hanya bernasib terwakili. Itulah pertimbanganku. Semoga hatiku berdzikir. Tak terukurlah cintaku itu. Au hanya bisa berharap dan berdoa. Apalah artinya lambang, aku lebih suka maknanya. Apalah artinya rumus, aku lebih suka hakekatnya. Apalah artinya prinsip, aku lebih suka realitanya.

Wasit:
Wahai kuantitatif, terdengar hebat pula ucapanmu itu. Ucapanmu penuh dengan kuantitatif dan angka-angka. Tidaklah mudah memahami ucapanmu. Kelihatannya, engkau memang kuantitatif minded. Wahai kualitatif, terdengar indah ucapanmu itu. Ucapanmu penuh dengan kualitatif dan makna. Tidaklah mudah memahami ucapanmu. Kelihatannya, engkau memang kualitatif minded. Namun aku melihat ada kelemahan di masing-masing dirimu itu. Kelemahanmu adalah engkau berdua ternyata mempunyai pamrih dan maksud tertentu dalam monologmu. Sebenar-benar dirimu adalah menyindir satu dengan yang lain. Lebih dari itu engkau berdua tampak sekali bersaing memperebutkan sesuatu. Padahal ketahuilah bahwa aku adalah seorang wasit tinju. Pekerjaanku adalah mengadu dan mempertemukan orang-orang yang saling siap bertarung. Maka kalau boleh aku ingin bertanya. Daripada saling menyindir, maukah engkau berdua aku adu, dalam pertandingan tinju antara kualitatif melawan kuantitatif.

Kuantitatif dan Kualitatif secara bersama menjawab:
Aku bersedia.

Wasit:
Tetapi ketahuilah bahwa pertandingan tinju itu hanyalah pertanyaanku-pertanyaanku yang perlu engkau jawab silih bergantian. Apakah setuju?

Kuantitatif dan Kualitatif secara bersama menjawab:
Setuju

Wasit:
Baiklah aku mulai dengan pertenyaanku.
Bagaimanakah engkau bisa mendefinisikan dirimu masing-masing?

Kuantitatif:
Aku adalah kuantitatif. Kuantitatif adalah diriku. Lima adalah contohnya. Maka lambang adalah diriku.
Obyektif adalah tujuanku. Konsisten adalah jiwaku. Tempat tinggalku di pikiran orang-orang.

Kualitatif:
Aku sulit mendefinisikan diriku, karena aku bersifat kualitatif. Aku juga sulit mengambil contoh buatku, karena contohnya sangat banyak dan kontekstual. Aku juga sulit mendefinisikan tujuanku karena itu semata-mata tergantung dari subyeknya. Tetapi yang paling merisaukanku adalah aku tidak tahu di mana jiwaku? Tempat tinggalku di hati setiap insan.

Wasit:
Jika engkau menjadi guru, bagaimanakah engkau mengetahui kompetensi siswa-siswamu?

Kuantitatif:
Aku buat soal obyektif. Aku hitung benarnya. Aku tak peduli keadaan mereka. Maka jika skornya tinggi maka nilainya tinggi juga. Titik. Begitu saja kok repot.

Kuantitaif:
Aku buat catatan-catatan portfolio. Aku membuat tugas. Aku sarankan mereka menggunakan komputer. Aku perkenankan mereka promosi diri. Kadang-kadang aku perlu mengobservasi dan wawancara dengannya. Menilai seseorang memang repot. Tidaklah mudah memberi predikat kepada seseorang. Bukanlah kalau kita memberi predikat tidak benar, ityu adalah dosa?

Wasit:
Bagaimana engkau menganggap dan bergaul dengan siswa-siswamu.

Kuantitatif:
Aku sebenarnya enggan menjawab pertanyaanmu itu. Pertenyaanmu itu terlalu naif bagiku. Apa perlunya saja. Pekerjaanku sangat banyak. Jadi aku batasi pergaulanku dengan siswaku. Kalau perlu aku menghindar bisa bertemu dengannya. Bagiku murid-muridku adalah banyaknya mereka sebanyak aku membilang.

Kualitatif:
Pertanyaanmu sangat baik. Itulah pertanyaan yang selalu aku tunggu. Aku memandang setiap siswa adalah dunia. Jadi setiap siswa adalah segenap isi dan misterinya. Maka tidaklah mudah bergaul dengannya. Aku harus mengembangkan metode dan teknologi agar aku mampu melayani belajar mereka. Mereka semua adalah berbeda-beda. Masing-masing perlu perhatian khusus. Bagiku murid-muridku masing-masing adalah benih-benih yang dalam pertumbuhan dan perkembangannya memerlukan bantuan, pupuk, dan memberisihakan hama-hama.

Wasit:
Coba terangkan bagaimana anda satu dengan yang lain saling membutuhkan?

Kuantitatif:
Sebenar-benar diriku tidaklah memerlukan kualitatif. Bagiku kualitatif adalah tidak pasti dan itu menjadi keadaan buruk bagiku.

Kualitatif:
Sebenar-benar diriku adalah tidak sepenuhnya kualitatif. Aku masih membutuhkan kuantitatif dalam kegiatanku. Maka aku sangat perlu menjalin hubungan yang baik dengan kuantitatif.

Wasit:
Terangkan apakah cita-cita hidupmu masing-masing?

Kuantitatif:
Aku hanyalah berhenti di sini. Tiadalah cita-cita ada dalam hidupku.

Kualitatif:
Aku tidak tahu kapan aku mulai, dan au tidak tahu kapan aku berakhir. Cita-citaku adalah untuk semaksimal mungkin demi kemslahatan manusia semuanya. Aku berharap bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi semua.

Wasit:
Terangkan bagaimana anda masing-masing dapat membantu siswa belajar?

Kuantitatif:
Dengan metode numerik dan logika aku pastikan siswa-siswa melakukannya. Kepastian adalah jiwaku. Perhitungan-perhitungan adalah panglimaku.

Kualitatif:
Doa, motivasi, semangat adalah modal untuk belajar. Sikap dan perbuatan perlu disesuaikan agar murid mampu memperoleh kompetensinya. Dengan pengetahuan yang diperoleh, kemudian berilah kesempatan kepada murid-murid untuk mengembangkan keterampilan dan pengalamannya.

Wasit:
Bagaimana engkau beribadah?

Kuantitatif:
Aku lafalkan seribu kali doa. Beres.

Kualitatif:
Aku berlatih berdoa. Aku sadar tidak mudah untuk berdoa. Dari satu milyar doaku belumlah ada jaminan bahwa satu diantaranya dapat diterima. Tetapi ikhtiar adalah kewajibanku. Maka aku akan selalu mencoba untuk berdoa, karena aku yakin Tuhan YME akan mendengar setiap doa ku.

Wasit:
Prit..prit. Cukup. Dari catatan, observasi dan rekaman data serta kualitas jawaban. Aku memutuskan bahwa kualitatif telah memenangkan pertandingan, tetapi dengan catatan sebegai berikut: pertama, engkau tak boleh lagi saling mengejek apa lagi saling bertanding; kedua, engkau sebenarnya saling membutuhkan; ketiga, jika engkau mampu saling bekerja sama maka perolehanmu akan lebih besar dari yang sudah engkau peroleh selama ini; keempat, tetapi ingatlah bahwa pada setiap perjalananmu, maka kualitatiflah komandannya; kelima, dalam keadaan tertentu maka kuantitatif mampu bekerja sangat efektif dengan hasil yang besar jika didukung oleh kualitatif; dan terakhir, hidup rukunlah selalu selama hayatmu dalam saling harmoni. Amien.

28 comments:

  1. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Perbedaan jelas sekali terlihat antara kuantitatif dan kualitatif. Kuantitaatif dan kualitatif masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun dari perbedaan tersebutlah maka dituntut untuk mengkombinasikan keduanya agar saling melengkapi. Sebagai guru matematika harus mampu menempatkan kuantitaatif dan kualitatif sesuai bidangnya. Ketika ingin mengukur dari segi kognitif maka menggunakan kuantitatif diiringi kualitatif. Ketika ingin mengukur dari segi afektif maka menggunakan kualitatif diiringi kuantitatif.

    ReplyDelete
  2. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Bila dikaitkan dengan kehidupan manusia, antara kualitatif dan kuantitatif menggambarkan usaha dan doa yang telah dilakukan oleh manusia demi mencapai sesuatu. Untuk mencapai suatu hal, manusia perlu berusaha, berikhtiar. Namun hanya dnegan usaha hal tersebut tentu tidak cukup. Sebagai hamba Allah, tentunya kita harus selalu beriman dan selalu berdoa kepada Allah, memohon kepada Allah supaya diberikan hasil terbaik dari apa yang telah diusahakannya. Antara doa dan usaha ini harus seimbang.

    ReplyDelete
  3. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Postingan ini berbicara mengenai metode penelitian yakni metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Sepengetahuan saya, metode kualitatif dan metode kuantitatif sama-sama banyak digunakan dalam penelitian-penelitian, tetapi ada juga yang memakai keduanya dalam suatu penelitian. Tetapi, dari membaca postingan di atas, saya merasa bahwa metode kualitatif lebih luas. Apakah benar pendapat saya ini? Karena jika di keadaan nyata, kita tidak bisa hanya mengandalkan angka-angka saja. Kita butuh penjelasan mengapa angka tersebut bisa diperoleh. Tetapi jika begini, benarlah kesimpulan yang terakhir bahwa lebih baik jika metode kuantitatif dan metode kualitatif digunakan bersama.

    ReplyDelete
  4. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Kualitatif dan kuantitatif. Pandangan guru dalam penilaian siswanya, penilaiannya secara kualitatif memang terasa lebih rumit dan lama, akan tetapi nilainya akan lebih mencerminkan kemampuan siswa. Meskipun kualitatif lebih unggul, tetapi kualitatif tidak bisa hidup sendiri, penilaian kualitatif pun membutuhkan beberapa penilaian kuantitatif . keduanya saling membutuhkan, saling mengisi satu sama lain.

    ReplyDelete
  5. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Kuantitatif dan kualitatif adalah dua hal yang berbeda tetapi saling berkaitan. Secara epistemologis, dalam penelitian kuantitatif diterima suatu paradigma, bahwa sumber pengetahuan paling utama adalah fakta yang sudah pernah terjadi, dan lebih khusus lagi hal-hal yang dapat ditangkap pancaindera. Sedangkan
    paradigma kualitatif berpandangan bahwa fenomena sosial, budaya, dan tingkah laku manusia tidak cukup dengan merekam hal-hal yang tampak secara nyata, melainkan juga harus mencermati secara keseluruhan. Keduanya jelas memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Salah satu perbedaannya terletak pada orientasi dari masing-masing, untuk kuantitatif berorientasi pada hasil, tetapi untuk kualitatif berorientasi terhadap proses. Dari elegi di atas, dapat saya ambil pelajaran bahwa berkaitan dengaan pembelajaran, maka tidalah salah jika kita sebagai pendidik menggunakan kedua metode tersebut sebagai penilaian. Jadi, penilaian tidaklah berdasarkan pada hasil, akan tetapi proses selama peserta didik mengikuti pembelajaran juga termasuk dalam penilaian.

    ReplyDelete
  6. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Meskipun berbeda, kuantitatif dan kualitatif merupakan dua hal yang saling berhubungan dan tdiak dapay dipisahkan. Keduanya ada untuk saling melengkapi datu sama lain. Seorang guru dalam melakukan penilaian kepada siswa-siswanya membutuhkan kuantitatif dan kualitatif. Kuantitatif untuk menilai aspek pengetahuan dan keterampilan, kualitatif untuk menilai spiritual dan sosial. Maka kuantitaif dan kualitatif bergantung ruang dan waktu. Ada saat kita memerlukan kuantitatif, ada saat kita memerlukan kualitatif, ada saat kita membutuhkan keduanya.

    ReplyDelete
  7. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Postingan kali ini membahas tentang suatu metode penelitian, yaitu kuantitatif dan kualitatif. Kuantitatif menggunakan dasar hukum yang kuat melalui perhitungan yang dilakukan untuk membuktikan bahwa hipotesisnya benar. Sedangkan kualitatif mendiskripsikan permaslahan yang ada menggunakan tulisan. Keduanya jika dilihat sekilas seperti saling berlawanan, tetapi 2 jenis peneltian itu dapat dikombinasikan menjadi mix method. Sehingga lengkap, ada perhitungan untuk menguji asumsi, kemudian dijawabkan dijabarkan melalui penelitian kualitatif sehingga hasilnya menjadi lebih maksimum.

    ReplyDelete
  8. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Dari beberapa aspek yang disinggung tentang kuantitatif dan kualitatif, saya tertarik pada bagian penilaian siswa (Ya ampun apakah ini menunjukkan ketidak adilan saya?). Saya melihat bahwa penilaian lebih baik dilakukan dengan cara kualitatif. Guru harus membuat catatan-catatan hasil belajar siswa-siswanya, maka dengan itu guru akan semakin berusaha untuk mengenal lebih dalam muridnya. Menurut saya, penilaian secara numerik akan menghasilkan sistem "rangking". Dan menurut saya kembali, sistem rangking akan menghasilkan sedikit siswa pintar sertabanyak siswa minder, tidak percaya diri, dan tidak peka dengan potensi yang dimiliki.

    ReplyDelete
  9. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Kualitatif dan kuantitatif bukanlah sesuatu yang bertolak belakang namun memiliki sudut pandang yang berbeda. Dan kedua ilmu ini saling membutuhkan satu sama lain untuk memperkuat keberadaannya masing-masing. Data kuantitatif akan kurang jelas tanpa paparan kualitatif dan data kualitatif akan berdiri kurang kuat tanpa didukung data kuantitatif. Maka penyatuan kuantitatif dan kualitatif akan memberikan pemahaman dan keakuratan yag lebih dalam. Kuantitatif dan kualitatif memberikan pelajaran kepada kita bahwa manusia adalah makhluk sosial. Individu yang satu membutuhkan yang lain. Oleh karena itu dalam kehidupan hendaklah kita saling mendukung dalam kerukunan sehingga tercapai keharmonisan.

    ReplyDelete
  10. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Berdasarkan elegi di atas, metode kualitatif dan kuantitatif memiliki karakteristik serta kelebihan masing-masing, dan apabila dikombinasikan dapat diperoleh hasil yang lebih memuaskan.
    Dalam dunia pendidikan, guru perlu melakukan penilaian kualitatif maupun kuantitatif. Penilaian kuantitatif nantinya akan menyentuh kognisi dan moralitas siswa, sedangkan pada penilaian kualitatif bersifat deskriptif yaitu mengungkapkan hal-hal positif dari siswa serta menunjukkan kekurangan dan upaya perbaikan yang harus dilakukan.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  11. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    Pendidikan Matematika Kelas B(S2)

    Elegi ini menceritakan tentang perbedaan pikiran, pandangan dari kualitatif dan kuantitaif, di mana antara mereka berdua yang lebih unggul atau yang mana lebih bermanfaat dari yang lain. Refleksi dari elegi ini adalah bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangnnya masing-masing. Kadang kelebihan yang dimiliki akan menutup pikiran seseorang bahwa dirinya tidak memiliki kekurangan. Bahkan dia merasa bahwa orang lainlah yang memiliki kekurangan dan hanya melihat kekurangan orang lain tersebut. Padahal apabila mereka saling membantu maka kelebihan dan kekurangan tersebut akan menyatu dan akan menghasilkan kolaborasi yang akan lebih bermanfaat. Sehingga untuk menghasilkan kolaborasi tersebut diperlukan rasa saling berbagi atau tidak merasa paling lebih atau paling kurang dari yang lainnya.

    ReplyDelete
  12. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Jika dikaitkan dengan pembelajaran, kenyataannya kebanyakan guru lebih banyak menggunakan kuantitatif daripada kualitatif. Kuantitatif dianggap lebih mudah untuk dilakuan. Padahal jika orientasi pembelajaran hanya fokus pada kuantitaif saja, maka pembelajaran menjadi kurang memperhatikan kualitasnya. Pembelajaran yang mementingkan kuantitatif hanya fokus hasil akhir saja tanpa peduli prosesnya. Di dalam pembelajaran, meskipun tidak dapat terlepas dari kuantitatif, kualitatif menjadi lebih penting. Maka hendaknya, pembelajaran menggunakan kualitatif sebagai acuannya dan kuantitatif sebagai pelengkaonya. Keduanya akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik bila dapat digunakan dengan tepat sesuai dengan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  13. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Kuantitatif dan kualitatif merupakan dua metode yang memiliki paradigma jauh berbeda namun keduanya sangat dibuthkan dalam kehidupan manusia. Jika kita analogikan, kuantitatif ibaratnya adalah pikiran dan kualitatif ibaratnya hati. Dalam menghadapi suatu permasalahan atau dalam mengambil suatu keputusan, hendaknya kita pikirkan benar-benar mana yang terbaik dan mana yang berfaedah. Setelah kita pikirkan dari segala sudut pandang, barulah kita putuskan dalam hati. Sebagai seorang guru juga sebaiknya kita tidak hanya mementingkan hasil, melainkan prosesnya juga. Kareana itulah dalam proses pembelajaran hendaknya kita menggunakan kualitatif dibarengi kuantitatif untuk memperoleh hasil yang maksimal.

    ReplyDelete
  14. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi Pertandinga Tinju antara Kualitatif melawan Kuantitatif, dari elegi ini didapat bahwa kuantitafif dan kualitatif mempunyai landasan dan sudut pandang yang berbeda sehingga antara kuantitafi dan kualitatif tidak dapat di satukan. Walaupun keduanya tidak dapat disatukan, namun keduanya bisa saling melengkapi. Contohnya saja dalam penilaian kompetensi siswa dengan menggunakan kualitatif guru akan lebih detail mengetahu kompetensi yang dimiliki siswa dari berbagai aspek afektif, kognitif dan psikomotorik. Sehingga guru dapat memahami komeptensi siswa secara lebih mendalam tidak terbatas dengan angka-angka. Bukan berarti angka-angka tidak penting, namun angka-angka hanya menujukkan kompetensi anak dari permukaannya saja. Hal itu dapat dijadikan pelengkap untuk mendukung data kualitatif yang telah dimiliki guru. Terimakasih.

    ReplyDelete
  15. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Ada orang yang terlalu mencintai kuantitatif. Ada orang yang terlalu mencintai kualitatif. Kuantitatif unggul pada data dan angka sedangkan kualitatif unggul dalam kedalamannya. Tak ada yang lebih baik atau lebih buruk, semua memiliki manfaat masing-masing. Memilih yang mana, tergantung pada tujuannya. Tak ada yang lebih rumit atau lebih simpel. Kuantitatif dan kualitatif memang sama saja. Pada hakekatnya terlalu mencintai memang tak baik.

    ReplyDelete
  16. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Dari elegi di atas bercerita bahwa kuantitaf adalah suatu kepastian, tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Sedangkan kualitatif adalah suatu keadaan dimana proses menjadi lebih baik, akan menjadi sesuatu hal yang penting. Pelajaran yang dapat diambil janganlah kita hanya menilai sesuatu yang pasti atau terlihat saja, lihat dan pahami kondisi sekitar, jangan menjudge sesuatu itu buruk, kalau kita belum mengetahui keadaan sebenarnya. Kualitatif dan Kuantitatif sebenarnya
    saling membutuhkan,agar mendapatkan hasil yang lebih maka kualitatif dan kuantitatif harus mampu saling bekerja sama. Tetapi setiap segala sesuatu maka kualitatiflah komandannya dalam artian kondisi keadaan sekitar adalah hal yang terpenting.

    ReplyDelete
  17. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Pada dasarnya, kualitatif dan kuantitatif adalah dua hal yang cukup berbeda, namun keduanya dapat berjalan beriringan dengan selaras. Bahkan keduanya akan saling membutuhkan dan dapat bekerja sama dengan baik. Kualitatif akan lebih dominan dan lebih efektif ketika semesta pembicaraannya luas atau terbuka. Sementara kuantitatif akan lebih efektif jika semesta pembicaraannya tertutup. Dalam Elegi ini dicontohkan dalam kegiatan pembelajaran, kuantitatif dapat mengambil peran dalam hal yang berkaitan dengan logika dan metode numerik, hal ini dekat dengan masalah pengetahuan dan prestasi belajar siswa. Namun disisi lain, kualitatif hadir dalam posisi yang lain dan tentunya tak kalah penting. Yakni dengan memainkan peran penting untuk aspek sikap dan perilaku, termasuk modal dalam belajar yang meliputi doa, motivasi, dan semangat.

    ReplyDelete
  18. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Saya sangat tertarik dengan alur cerita dari Elegi Pertandingan Tinju antara Kualitatif melawan Kuantitatif. Penjelasan mengenai perbedaan kualitatif dan kuantitatif dibuat seperti tokoh yang bergerak, tokoh yang memiliki perasaan dan mampu berpindah layaknya manusia, serta terdapat percakapan-percakapan interaksi yang membuat cerita ini semakin hidup. Dengan metode penjelasan seperti ini menjadikan pembaca tertarik untuk membaca hingga akhir. Mungkin metode menjelaskan materi dengan bercerita seperti ini bisa diterapkan dalam kegiatan pembelajaran atau ketika membuat instrumen pembelajaran.

    Pada Elegi ini menguraikan perbedaan Penelitian kualitatif dan Penelitian kuantitatif, kelebihan penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Penelitian Kualitatif lebih kepada penelitian yang meneliti dengan kualitas suatu objek penelitian dan dijelaskan secara narasi dan deskriptif sedangkan penelitian kuantitatif mengutamakan angka yang tidak dipengaruhi oleh sifat atau psikologo dari objek penelitian.

    ReplyDelete
  19. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Elegi pertandingan tinju antara kualitatif dan kuantitatif ini menunjuukkan perdebatan antara dua buah prinsip yang menurut saya sama-sama baik. Paham antara kualitatif dan kuantitatif akan selalu berusaha menunjukkan bahwa prinsip mereka yang paling baik, padahal dari mereka keduanya sama-sama mempunyai peran serta yang bagus dalam perkembangan aman. Kualitatif memperlihatkan, bahawa tidak semua harus diukur dengan angka, hasilnya pun bisa dipakai sebagai pola pikir oleh yang lainnya. Sedangan kuantitatif, menunjukkan data yang akurat, sejauh mana bisa dipertanggungjawabkan melalui adanya angka-angka tersebut

    ReplyDelete
  20. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Dalam hidup ini kualitatif dan kuantitatif keduanya sama-sama diperlukan. Ada kalanya harus mengutamakan kualitatif dan ada kalanya mengutamakan kuantitatif. Tetapi keduanya harus bisa saling melengkapi kekurangan masing-masing. Misal ketika menjadi seorang guru ternyata yang lebih dibutuhkan adalah kualitatif meskipun dalam penerapannya juga memerlukan kuantitatif untuk melengkapinya. Jadi yang terpenting adalah bukan mempertentangkan keduanya tetapi bagaimana agar keduanya bisa saling melengkapi dan saling menghargai keberadaan.

    ReplyDelete
  21. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    kualitatif dan kuantitatif memang dua hal yang saling bertolak belakang, tapi saling memerlukan satu sama lain, dan juga saling berhubungan di beberapa kasus penelitian. bahkan pada penelititan tidak mutlak terdiri dari penelitian kualitatif atau penelitian kuantitatif saja, tetapi ada juga penelitian campuran yang menggunakan keduanya.

    ReplyDelete
  22. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Kualitatif dan kuantitatif memiliki ruang dan waktunya masing-masing. Ketika keduanya di benturkan maka sepatutnya tidak ada dari keduanya yang kalah, pula tidak ada dari keduanya yang menang, karena sejatinya keduanya sama-sama penting. Dalam hal penilian siswa kualitatif dan kuantitatif memiliki peran yang sangat penting, dillihat dari aspek kognitif siswa sebaiknnya menggunakan kuantitatif karena hal ini dapat mencerminkan kemampuan siswa secara objektif, sedangkan secara efektif dapat menggunakan kualitatif. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  23. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Uraian diatas menjelaskan mengenai perbedaan paradigma penelitian kualitatif dan kuantitatif. Dalam kehidupan sehari-hari paradigma kualitatif memegang peranan yang sangat penting. Kehidupan sosial, pengalaman, kondisi masyarakat, dapat dijelaskan secara naratif, fenomenologis, etgnografis, dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Ulasan, uraian, dan cerita, tergolong pendekatan kualitatif yang memberikan makna lebih luas terhadap objek yang menhjadi perhatian. Bentuk pendekatan kualitatif yang menguraikan, menceritakan atau mendeskripsikan, rentan akan terjadinya subjektivitas. Berbeda dengan pendekatan ini, pendekatan kuantitatif biasanya menekankan kekuatan dan keakuratan perhitungan data dan uji statistik. Walau sebenarnya pendekatan kuantitatif juga membutuhkan pemaknaan dari angka-angka, yang sebenarnya berupa deskripsi yang juga menyerupai pendekatan kualitatif. Maka dari itu muncullah mix method, yang mengharmonisasikan antara kualitatif dan kuantitatif.

    ReplyDelete
  24. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Saya sangat kagum dengan elegi ini. Saya menyadari bahwa setiap metode baik itu kualitatif ataupun kuantitatif sejatinya memiliki keberfungsian pada kondisinya masing-masing. Saya menganggap wasit telah bijaksana dalam menyikapi perdebatan antara keduanya. Penerapan dalam konteks penelitian tentunya diharapkan kedua metode tersebut dapat memberikan gambaran dan penjelasan yang kompleks terkait fenomena atau permasalahan yang ingin diungkap. Perpaduan kedua metode dalam satu penelitian akan menambah kekayaan informasi dan hasil yang akan diperoleh. Pesan yang tersirat yang saya cermati dalam ulasan ini adalah jangan sesekali menganggap diri sendiri tidak membutuhkan orang lain. Sejatinya manusia saling membutuhkan satu sama lain dikarenakan manusia adalah makhluk sosial.

    ReplyDelete
  25. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi di atas kita mengetahui tentang penelitian kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kualitatif yang saya pahami sejauh ini merupakan penelitian alamiah, dimana murni kejadian yang terjadi dilapangan biasa tersajikan dengan deskriptif. Sedangkan penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang bisa berupa treatmen dan tersajikan dengan data perhitungan. Kedua penelitian ini dijadikan paradigma, dimana sebenarnya keduanya bisa dipakai bersama sehingga dinamai mix-metod.

    ReplyDelete
  26. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas postingan diatas. Di dalam kehidupan, paradigma kualitatif memegang peranan yang sangat penting. Kehidupan sosial, budaya, pengalaman, kondisi masyarakat, dapat dijelaskan secara deskriptif, naratif, fenomenologis, etgnografis, dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Kuantitatif pun juga dapat diterima sebagai suatu paradigma, bahwa sumber pengetahuan paling utama adalah fakta yang sudah pernah terjadi, dan lebih khusus lagi hal-hal yang dapat ditangkap dengan pancaindera. Saya menjadi tahu bahwa baik itu kualitatif ataupun kuantitatif sejatinya memiliki keberfungsian pada kondisinya masing-masing. Sang wasit dianggap telah bijaksana dalam menyikapi perdebatan antara keduanya. Penerapan dalam konteks penelitian tentunya diharapkan kedua metode tersebut dapat memberikan gambaran dan penjelasan yang kompleks terkait fenomena atau permasalahan yang diteliti dan ingin diungkap ke publik. Sehingga muncullah mixmethod sebagai gabungan dan kolaborasi dari keduanya. Seperti halnya manusia tidak akan mampu hidup sendiri, karena segala sesuatunya pasti ada kelebihan dan kekurangan sehingga kita membutuhkan orang lain guna membantu kita menutupi dan mengikis segala kekuarangan kita, dan kita pun juga dibuthhkan oranglain dalam rangka membantu dia menutupi dan mengurangi kekurangan darinya. itulah manusia, sejatinya kita memang diciptakan untuk membantu sesama manusia. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  27. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    PPs. PM A 2017

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Terima kasih pak atas elegi di atas. Kualitatif merupakan suatu perspeksi seseorang dan untuk membuktikan persepsi itu maka harus di uji terlebih dahulu agar di dapatkan data yang kuantitatif .sehingga apabila antara kualitatif dan kuantitatif sama maka persepsi ittu dapat di percaya.

    ReplyDelete
  28. Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Kualitaif dan kuantitatif adalah sesuatu yang dibutuhkan dan harus dimiliki oleh setiap guru. Mengatur kuantitatif dan kualitatif tidaklah mudah, itu semua adalah tantangan bagi guru. Mengatasi murid adalah antara yang kuantitatif dan kualitatif sesuai dan berimbang, karena kalau hilang salah satunya dapat mengakibatkan timbulnya mitos. Tugas ini sangat berguna bagi setiap murid, karena baik kuantitaitf maupun kualitatif dapat marubah dunia dan kehidupan mereka. Semoga guru-guru dapat selalu mengoptimalakan kemampuan murid secara kuantitatif maupun kualitaitif. Amiin.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete