Feb 25, 2011

Elegi Tarian Lenggang




Oleh Marsigit

Benar:

Wahai salah, keterlaluan benar engkau itu. Sudah berkali-kali diperingatkan tetap saja melakukan kesalahan. Apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa engkau berlaku demikian?

Salah:
Biar anjing menggonggong kafilah berlalu. Bukankah itu kata-kata mutiara yang sangat bagus. Peduli amat aku memperhatikan dirimu. Daripada hidup sekali tidak berkepribadian hanya dikarenakan memperhatikan omonganmu, lebih baik don’t care sajalah tetapi diriku tetap berkepribadian. Benar salah itu kan relatif.

Baik:

Wahai buruk, keterlaluan benar engkau itu. Sudah berkali-kali diperingatkan tetap saja melakukan hal-hal yang buruk. Apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa engkau berlaku demikian?

Buruk:
Peduli amat aku memperhatikan dirimu. Daripada hidup sekali tidak berkepribadian hanya dikarenakan memperhatikan omonganmu, lebih baik don’t care sajalah tetapi diriku tetap berkepribadian. Baik buruk itu kan relatif.

Mengerti:

Wahai tak mengerti, keterlaluan benar engkau itu. Sudah berkali-kali dijelaskan tetap saja tidak mau mengerti. Apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa engkau berlaku demikian?

Tak Mengerti:

Daripada hidup sekali tidak berkepribadian hanya dikarenakan memperhatikan omonganmu, lebih baik don’t care sajalah tetapi diriku tetap berkepribadian. Mengerti atau tak mengerti itu kan urusanku.

Jujur:
Wahai koruptor, keterlaluan benar engkau itu. Sudah berkali-kali diperingatkan tetap saja melakukan kesalahan. Apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa engkau berlaku demikian?

Koruptor:
Biar anjing menggonggong kafilah berlalu. Bukankah itu kata-kata mutiara yang sangat bagus. Peduli amat aku memperhatikan dirimu. Daripada hidup sekali tidak berkepribadian hanya dikarenakan memperhatikan omonganmu, lebih baik don’t care sajalah tetapi diriku tetap berkepribadian. Mana buktinya aku seorang koruptor?

Peduli:
Wahai tak peduli, keterlaluan benar engkau itu. Sudah berkali-kali diperingatkan tetap saja tak peduli. Apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa engkau berlaku demikian?

Tak Peduli:
Tarian lenggang. Aku sengaja menciptakan Tarian Lenggang agar bisa menjamin kepribadianku. Maka dengan Tarian Lenggangku, aku bisa menutupi semua kebisingan dari luar diriku. Tak peduli apakah itu saran, nasehat, tulisan atau bacaan. Sehingga dengan demikian aku bisa membangun duniaku tanpa terkontaminasi oleh nasehat-nasehatmu.

Ikhlas:
Wahai sombong, keterlaluan benar engkau itu. Sudah berkali-kali diajak berdialog dengan ikhlas, tetap saja engkau beraku sombong. Apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa engkau berlaku demikian?

Sombong:
Tarian lenggang. Aku sengaja menciptakan Tarian Lenggang agar bisa menjamin kepribadianku. Maka dengan Tarian Lenggangku, aku bisa menutupi semua kebisingan dari luar diriku. Tak peduli apakah itu saran, nasehat, tulisan, bacaan atau ajakanmu berdialog secara ikhlas. Sehingga dengan demikian aku bisa membangun duniaku tanpa terkontaminasi oleh saran, nasehat, tulisan, bacaan atau ajakanmu. Memangnya aku tak mengerti semua celotehmu. DenganTarian Lenggangku aku bisa cukup hanya mengintip saja semua saran, nasehat, tulisan, bacaan atau ajakanmu. Gangsi rasanya menaggapi semua ucapan dan tulisanmu.

Moral:
Wahai para hati yang masih membeku. Kunjungilah orang-orang yang tak mau mengunjungimu. Bersilaturakhimlah kepada orang-orang yang tak mau bersilaturakhim kepadamu. Berbicaralah kepada orang-orang yang tak mau berbicara kepadamu. Maafkanlah orang-orang yang tak mau memaafkan dirimu.

Hati Beku:
Wahai moral, janganlah engkau hanya bisa menggurui diriku. Dengan Tarian Lenggangku maka aku bisa melihat bahwa dirimu juga tidak mampu melaksanakan semua ucapanmu itu.

Inovasi:
Wahai para tradisional, keterlaluan benar engkau itu. Sudah berkali-kali dikirim penataran tetap saja tidak mau melakukan inovasi. Apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa engkau berlaku demikian?

Tradisional:
Tarian lenggang. Aku sengaja menciptakan Tarian Lenggang agar bisa menjamin kepribadianku. Maka dengan Tarian Lenggangku, aku bisa menutupi semua kebisingan dari luar diriku. Tak peduli apakah itu saran, nasehat, tulisan, bacaan atau ajakanmu berdialog secara ikhlas. Sehingga dengan demikian aku bisa membangun duniaku tanpa terkontaminasi oleh saran, nasehat, tulisan, bacaan atau ajakanmu. Memangnya aku tak mengerti semua celotehmu. DenganTarian Lenggangku aku bisa cukup hanya mengintip saja semua saran, nasehat, tulisan, bacaan atau ajakanmu. Dengan Tarian Lenggang aku tidak melihat manfaat inovasi itu. Tidaklah ada hubungan antara pelatihan dengan inovasi bagi diriku. Itulah Tarian Lenggang ku.

25 comments:

  1. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Tarian lenggang menggambarkan suatu kegiatan acuh tak acuh/”masa bodoh” terhadap keadaan di sekitarnya. Dengan tari lenggang tersebut ia bisa menjadikan kepribadiannya. Tak peduli apakah itu saran, nasehat, tulisan, bacaan atau ajakan berdialog secara ikhlas. Namun ketidakpeduliannya itu menjadikannya terus dalam keadaan disharmoni.

    ReplyDelete
  2. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Manusia pasti tak luput dari adanya kesalahan, karena setiap manusia memiliki kekurangan dan keterbatasan. Kesalahan tersebut kadang terjadi walaupun ian tahu apa hal yang dilakukan itu salah. Adanya peringatan dan nasehat kadang diabaikan sehingga kesalahanpun terjadi. Banyak manusia yang menganggap bahwa ukuran benar dan salah ialah relatif. Sebagai orang timur yang beragama, seharusnya kita mempunyai rasa malu kepada Allah karena melakukan banyak sekali perbuatan dosa.

    ReplyDelete
  3. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Setiap manusia pernah melakukan kesalahan, pernah melakukan hal buruk, akan tetapi jika kesalahan yang sama diulangi secara terus menerus, itu artinya manusia tersebut sudah tersesat dan terlanjur salah. Seseorang yang sudah berada dijalan yang salah biasanya membenarkan apa yang salah, mengatakan hal baik kepada sesuatu hal yang buruk, membenarkan korupsi dan sebagainya. Elegi tarian lenggang menjelaskan tentang sikap ketidakpedulian kepada nasihat, saran, kritik yang membangun dan juga peringatan-peringatan lain yang bertujuan untuk memperbaiki sikap dan perbuatan seseorang.

    ReplyDelete
  4. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Elegi Tarian Lenggang ini menjelaskan berbagai macam sifat dari manusia. Baik dan buruk, benar dan salah, jujur, dan sebagainya. Seseorang tidak akan terlepas dari sifat tersebut. Sepertilah hidup. Hidup adalah pilihan. Diri kita sendiri yang akan menentukan bagaimana hidup ini. Jika kita berbuat salah, maka akui lah. Jangan merubah kesalahan tersebut menjadi suatu kebenaran yang membohongi orang lain. Jangan pula seperti penciptaan tarian Lenggeng yang tidak mau memperdulikan nasehat, saran, maupun ajakan untuk berbuat lebih baik. Ketika sudah terjerumus, maka akan lebih terjerumus lagi kita dalam keburukan ketika tidak mendengarkan orang lain untuk menuju kebaikan.

    ReplyDelete
  5. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Tarian lenggang tidak lain dan tidak bukan adalah kesombongan dan kerasnya hati hingga menutup diri dari berbagai nasihat dan masukan yang diberikan. Maka dari itu sebagai seorang manusia kita harus berusaha menghapus kesombongan, kita harus berusaha melunakkan hati kita agar mau mendengarkan nasihat yang diberikan orang lain. Maka upaya yang dapat kita lakukan agar terhindar dari tarian lenggang adalah dengan senantiasa beribadah kepada Allah SWT. Semoga kita senantiasa dilembutkan hatinya dan dijauhkan dari kesombongan agar terhindar dari tarian lenggang dan mau mendengarkan segala nasihat yang membangun diri kita. Amin.

    ReplyDelete
  6. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Pendapat saya, "tarian lenggang" pada elegi ini saya lihat sebagai sifat yang sesungguhnya dibuat-buat oleh si pemiliknya, yaitu manusia. Bisa saja dikatakan sebagai sifat yang munafik. Lantas apa alasannya? karena sesungguhnya beberapa aspek yang dimunculkan dalam elegi ini mencerminkan keadaan sesungguhnya dalam kehidupan kita, di mana sebenarnya kita mengetahui kesalahan yang kita perbuat, tapi dengan sengaja kita tetap bertahan pada kesalahan tersebut.

    ReplyDelete
  7. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Bismillah
    Berdasarkan 'Elegi Tarian Lenggang' bahwa kita harus melakukan inovasi dan jangan cepat merasa puas, selain itu kita harus sadar diri terhadap peranan ini. Jika kita seorang pelajar, maka kewajiban kita ya belajar. Jangan hanya belajar jika ada yang menyuruh atau hanya saat akan ulangan. Kita harus bisa memenejemen dan membagi waktu dengan baik sehingga apa yang kita lakukan akan bermanfaat. Gunakan waktu lenggangmu sebelum datang masa sibukmu. Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  8. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Teman yang baik adalah teman yang mau mengigatkan kesalahan temannya. Orang yang belum mampu mengaplikasikan suatu ilmu secara maksimal pada dirinya bukan berarti ia tidak boleh menyampaikan ilmu tersebut kepada orang lain. Dan apa yang disampaikan orang lain baik itu ilmu maupun penilaian harusnya tidak ditutupi dengan tarian lenggang. Tarian lenggang malah membuat seseorang bersikap acuh terhadap kesalahan sendiri. Semoga kita dijauhkan dari pemikiran untuk menciptakan tarian lenggang dan mari kita menerima kritik dengan terbuka sebagai sarana membangun diri lebih baik ke depannya.

    ReplyDelete
  9. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017
    Elegi tarian lenggang ini menggambarkan seseorang yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Yang dipikirkan hanyalah aku aku dan aku. Ia menutup mata pada kenyataan yang telah dia perbuat dan menutup telinga terhadap nasehat-nasehat yang diberikan oleh orang lain untuk dirinya. Ia tidak peduli akan nasehat, saran dan kritik yang diberikan orang lain. Terkadang kita perlu untuk mendengarkan nasehat, saran dan kritikan dari orang lain karena sebagai manusia, kita pasti pernah melakukan kesalahan. Dengan mendengarkan orang lain, kita dapat mengintrospeksi diri agar menjadi manusia yang lebih baik.

    ReplyDelete
  10. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    Pendidikan Matematika Kelas B(S2)

    Setiap orang memiliki pribadi yang berbeda, karena pada hakikatnya manusia memang beragam. Refleksi dari elegi ini adalah apabila seseorang tidak berpikir fleksibel atau dia tidak menyukai adanya peubahan walaupun perubahan itu berarti positif dia tidak akan mau untuk menerapkan atau membuat inovasi baru walaupun telah diberikan nasihat, saran, tulisan, pelatihan, penataran.Hal tersebut dikarenakan dia telah mengunci dan telah membuat kenyamanan pada diri sendiri sehingga dapat dikatakan orang tersebut egois dan tidak mau susah sendiri. Dalam pembelajaran hal tersebut nampak pada guru yang telah nyaman pada pembelajaran yang mengharuskan pada student center, tetapi guru tersebut telah terbiasa pada teacher center. Menurut guru tersebut teacher center merupakan yang paling baik dengan berbagai alasannya seperti waktu lebih efisien, akan adanya pengetahuan satu arah, dan keadaan kelas lebih terkondisi. Tetapi apabila guru tersebut tidak telena dengan kenyamanan tari lenggangnya, guru tersebut akan mengetahu bahwa student center lebih efekti dan akan menghasilkan pembelajaran yang bermkna

    ReplyDelete
  11. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Menurut saya, pesan tersirat dari elegi di atas ialah tentang prinsip hidup yang dipegang kuat. Menjadi seseorang yang memliki prinsip hidup yang dipegang kuat adalah hal yang baik, karena itu menunjukan bahwa seseorang tersebut mempunyai pendirian yang teguh. Akan tetapi, akan menjadi tidak baik jika prinsip hidup yang dipegang teguh tersebut ialah prinsip hidup yang kontradiksi dengan norma yang ada di kehidupan. Sehingga, seseorang yang mempunyai prinsip hidup yang dipegang teguh, dan prinsip hidup tersebut tidak sesuai dengan norma yang ada dimasyarakat, hendaknya seseorang tersebut bisa menerima dengan lapang dada masukan atau nasihat dari orang lain untuk mengubah prinsip hidup tersebut. Dalam hidup, kita boleh-boleh saja mempunyai tekad untuk tidak memperdulikan perkataan orang lain terhadap kita, seperti istilah pada postingan di atas "biar anjing menggonggong kafilah berlalu". Hal itu berlaku jika perkataan orang-orang tersebut tidak membawa dampak baik bagi diri kita. Tetapi jika perkataan orang tersebut berupa nasihat karena prinsip hidup kita yang salah sehingga menyebabkan kita menjadi sombong, korupsi, tidak peduli, dan sikap-sikap buruk yang lainnya, maka hendaknya kita menerima dan mendengarkan, serta menjadikan hal itu sebagai pijakan untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  12. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Tarian lenggang dianalogikan sebagai wujud ketidakpedulian manusia. Seseorang yang tidak peduli terhadap kritik, saran, dan nasihat dari orang lain. Menurut orang yang bertarian lenggang, apa yang dia lakukan itulah yang benar karena sesuai dengan karakternya sendiri. Seseorang seringkali mengerti tentang kesalahan dan keburukannya, tetapi cenderung enggan meninggalkannya, terlebih untuk memperbaikinya. Padahal apa yang ia pertahankan itu bisa saja menjadi sebuah malapetaka untuk dirinya sendiri dan juga orang lain. Kritik, saran, dan nasihat dari orang lain memang dapat bermacam-macam. Pada dasarnya kritik dan saran bertujuan untuk membawa kebaikan, semua itu tergantung pada ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  13. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi Tarian Lenggang, elegi ini secara garis besar menjelaskan mengenai salah satu sifat manusia yang menutup diri dari pengaruh dunia luar (diluar dirinya), walaupun pengaruh dunia luar dapat membangun kepribadiannya sehingga menjadi pribadi yang lebih baik. Oleh karena itu, dari cerita ini saya belajar bahwa manusia itu tempatnya sifat salah, benar, sombong, ikhlas, baik, buruk dan lainya. Untuk itu kita harus membuka diri untuk menerima kritik dan saran dari luar dengan selektif, sehingga kita dapat membangun kepribadiaan yang lebih baih. Terima kasih.

    ReplyDelete
  14. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Setiap orang memiliki padangan yang berbeda, dan terkadang pandangan tersebut dijadikan patokan kebenaran untuk menilai orang lain. Standar kebenaran itulah yang terkadang membuat tembok pemisah tercipta untuk memisahkan diri dari lingkungan yang diaggapnya tak sejalan. Orang yang mengganggap dirinya benar mempunyai kecenderungan untuk memberitahu orang yang ia anggap salah mengenai kesalahannya. Orang yang mengganggap dirinya salah mempunyai kecenderungan untuk menutup diri dari pembenaran orang-orang yang menganggap dirinya benar karena cara penyampaian mereka yang dianggap kurang menyenangkan.
    Pada akhirnya, benar dan salah, baik dan buruk memang hanya masalah perspektif.

    ReplyDelete
  15. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Elegi ini menceritakan bahwa bwnar salah, baik buruk itu relatif. Tergantung sudut pandang olah fikir manusai, dan tergantung dengan ruang dan waktu. Namun jika diberi masukan atau masehat hendakny kita mendengarkan dahulu, lalu mencerna apa yang dinasehati itu. Jika nasehat itu baik dan demi kebaikan maka janganlah kita acuh seperti yang di lambangkan dengan tarian lenggang. Tarian ini melambangkan bahwa seseorang yang acuh, tidak perduli atas masukan orang lain. KIta memang bagus jika punya prinsip yang kuat, tapi bukan berarti kita tidak menerima masukan dari orang lain. Masukan itu perlu, demi membangun dan demi kemajuan diri kita sendiri. Jadi jika ada masukan dari orang lain, hendaknya dipikirkan dulu nasehatnya, ambil hal baiknya untuk memperbaiki diri.

    ReplyDelete
  16. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Setelah mencoba memahami elegi ini, mohon ijin untuk menyampaikan pendapat menurut sudut pandang saya. Namun, sebelumnya mohon maaf jika penafsiran saya terhadap tari lenggang belum tepat nantinya. Menurut sepemahaman saya setelah membaca elegi ini, tari lenggang menggambarkan wujud kesombongan yang mengacuhkan dan tidak mempedulikan nasihat, saran, tulisan, dan omongan orang lain. Tarian lenggang juga merupakan wujud kesombongan yang menganggap dirinyalah yang paling benar, dan tanpa bantuan orang lain pun ia merasa bahwa dirinya sudah mampu melakukan apa yang ia mau. Tarian lenggang ini merupakan gambaran pandangan tradisional yang tidak mau menerima adanya inovasi yang sebenarnya memiliki nilai kebaikan didalamnya. Sikap seperti ini tentu tidak boleh kita lakukan, terlebih dalam kaitannya dengan menuntut ilmu. Pasalnya, dalam proses menuntut ilmu sebaiknya kita memposisikan diri layaknya gelas kosong, sehingga apa yang kita pelajari dapat masuk dalam pikiran. Selain itu agar menjadi sesuatu yang berkah, sudah seharusnya kita menuntut ilmu dengan berlandaskan keikhlasan hati dan pikiran, serta menjauhi sifat somboong.

    ReplyDelete
  17. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Elegi Tarian Lenggang ini menurut pendapat saya memiliki beberapa pesan tersirat diantaranya yaitu tentang keteguhan prinsip, kesombongan, dan kepedulian. Orang-orang yang memiliki prinsip yang teguh itu baik. Dia bisa mempertahan dirinya dari kegiatan-kegiatan diluar prinsipnya sehingga dia bisa menjalani hidupnya sesuai dengan tujuannya. Namun, dengan prinsip yang teguh bukan berarti bahwa pendapatnya itu yang benar dan pendapat orang lain kurang benar, hingga akhirnya sifat sombong dan merasa paling benar memenuhi dirinya. Semoga kita bukan golongan orang-orang seperti itu. Kemudian pesan yang lainnya yaitu kepedulian, Saya tidak tahu dengan pasti definisi peduli itu seperti apa. Namun menurut saya peduli itu adalah perasaan yang tidak menginginkan orang yang dekat dengan kita sedih, terluka, ataupun rugi dan merasa kesulitan dalam menjalani hidup. Peduli bisa diperlihatkan dengan tingkah laku atau ucapan seseorang.

    ReplyDelete
  18. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Elegi tarian lenggang ini elegi yang sangat menarik. Ia akan melenggangkan apa saja, meski perbuatan itu buruk dan merugikan sekitarnya. Seseorang dengan tarian lenggangnya seolah ‘menutup kuping’ akan nasihat-nasihat, teguran, pesan, dari orang-orang disekitarnya. Koruptor akan terus menjadi koruptor, walau sudah diperingatkan berkali-kali. Bandar narkoba, masih saja melakukan transaksi narkoba walau sudah di penjara. Mereka tetap melenggangkan segalanya, seolah dunia ini surga, tiada penghalang, dan rintangannya.

    ReplyDelete
  19. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Elegi tarian lenggang ini menunjukkan seseorang yang tidak perduli dengan orang lain, seolah dia hanya ingin hidup sesuai dengan keinginannya sendiri. Padahal sebagai manusia, kita ditakdirkan menjadi makhluk sosial, makhluk yang membutuhkan orang lain dalam kehidupannya. Oleh karena itu, kita diharapkan tidak semena-mena ataupun tidak perduli terhadap orang lain. Mungkin kita bisa mengguanakan cara yang lebih baik agar kita tidak memutus silaturahmi.

    ReplyDelete
  20. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Tarian lenggang yang dimaksud dalam bacaan tersebut menurut saya adalah menutup diri atau membatasi saran, masukan, ajakan yang berasal dari luar demi mempertahankan apa yang telah dilakukannya dan dianggapnya benar atau bahkan dianggap sebagai jati dirinya. Sehingga dengan tarian lenggang seseorang menganggap bahwa saran, ajakan yang berasal dari luar adalah tidak baik bagi dirinya. Salah satu contoh, seorang guru yang mengajar tradisional kemudian diberikan pelatihan dan seminar tentang pembelajaran inovatif, guru tersebut hanya sekedar mengiyakan saja tentang belajar inovatif tetapi enggan menerima dan menerapkan pembelajaran inovatif karena menurutnya pembelajaran yang digunakan selama ini sudah cukup.

    ReplyDelete
  21. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    Dari elegi tarian lenggang ini seperti seolah-olah menggambarkan seseorang yang mencoba membentengi dirinya dari pengaruh-pengaruh negatif dari luar. maka dengan itu kita juga seharusnya bisa menjadi seperti itu, menghindarkan diri dari hal-hal yang bersifat kemunafikan ,kesombongan, ketidak pedulian, dan hal-hal lainnya yang bisa merusak hati dan menghancurkan kepribadian kita.

    ReplyDelete
  22. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Dengan membaca tulisan di atas , teringah sebuat kata-kata jawa bahwa “uripli sawang sinawang”. Para subyek yang melakukan percakapan diatas membawa karakternya masing-masing, hal ini sama seperti manusia yakni lahir dengan sifat dan karakter masing-masing yang unik dan lingkunganlah yang memberikan pengauh sehingga bisa daja karakter orang berubah sejalan bertambahnya usia. Membaca tulisan diatas pula memberikan pelajaran bahwa hiduplah dengan cara dan gaya mu sendiri dengan tidak mengenyampingkan aturan-aturan Allah dan hiraukan omongan-omongan yang dapat menjatuhkan mental karena hal itu tidak membangun. Terim kasih

    ReplyDelete
  23. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih Prof atas ilmu yang telah diberikan. Ini sangat inspiratif dan menggugah hati. Menurut saya, orang lain juga berperan dalam segala hal dalam hidup kita. Hal-hal yang baik dari orang lain dapat dijadikan sebagai pacuan dalam melakukan kebaikan dan dijadikan sebagai motivasi. Namun, hal-hal yang buruk dapat pula dihiraukan. Menerima kritikan yang membangun sangatlah baik. Jika mendapatkan kritikan yang menurut kita tidak begitu memiliki manfaat dapat diabaikan. Sebaliknya, orang-orang yang setia untuk mengingatkan kita pada arah kebaikan adalah orang-orang yang sebaiknya didekati. Mereka pula yang akan mengajak kita menuju jalan kebaikan yang diniatkan karena Allah semata. Penting juga untuk menguatkan hati dan keyakinan pada Allah.

    ReplyDelete
  24. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    awal membaca judul saya bertanya apa itu tarian langgan karena dari elegi di atas dapat disimpulkan mengenai sesuatu yang berkebalikan saja. Dari elegi tersebut Benar salah, baik buruk, mengerti tidak mengerti, jujur tidak jujur, peduli tidak peduli adalah hal yang berlawanan yang memang saling bersandingan. Mereka berdua ada di dunia sebagai pelengkap dan ujiannya di dunia. Yang satu baik ada yang satu buruk ini ada agar tau yang mana yang baik dan mana yang buruk agar dapat memilih mana yang baik mana yang buruk. Dikatakan dunia ini serba ada namun tergantung bagaimana kita memilih. Tentunya kita memilih yang terbaik untuk hidup kita, maka meminta petunjuk dari Yang Maha Esa adalah menjadi penting.

    ReplyDelete
  25. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas ulasan yang menarik diatas. Saya menjadi tahu bahwa tarian lenggang diciptakan dengan niat dan misi seperti yang disebutkan diatas. Ketika hati nurani berkata baik dan ingin melakukan segala sesuatu nya dengan baik maka akan ada antek-antek syetan yang selalu membersamainya, sehingga potensi keburukan dan kebathilan itu akan selalu ada. Ketika hati telah dikuasai dengan segala yang buruk, maka tarian lenggang mengibaratkan bahwa dirinya itu konsisten, tidak peduli dengan hinaan, celotehan, nasehat, kritik, dan juga saran dari orang lain, dari pihak lain, dari pengaruh lain. Itulah perangai buruk yang harus kita hindarkan, prinsip tarian lenggang ini kita patut dicontoh karena segala masukan yang ada tidak ia hiraukan, hanya menar saja terus menerus seakan-akan membuat orang lain disekitarnya akan merasa kesal dan sebal saat memberi masukan dan nasehat kepadanya. Tentunya kita kita boleh seperti itu, haruslah kita mampu membedakan mana yang baik dan buruk serta selalu minta diiringi doa dan meminta petunjuk kepada Allah swt, amin. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete