Feb 25, 2011

Elegi Tarian Lenggang




Oleh Marsigit

Benar:

Wahai salah, keterlaluan benar engkau itu. Sudah berkali-kali diperingatkan tetap saja melakukan kesalahan. Apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa engkau berlaku demikian?

Salah:
Biar anjing menggonggong kafilah berlalu. Bukankah itu kata-kata mutiara yang sangat bagus. Peduli amat aku memperhatikan dirimu. Daripada hidup sekali tidak berkepribadian hanya dikarenakan memperhatikan omonganmu, lebih baik don’t care sajalah tetapi diriku tetap berkepribadian. Benar salah itu kan relatif.

Baik:

Wahai buruk, keterlaluan benar engkau itu. Sudah berkali-kali diperingatkan tetap saja melakukan hal-hal yang buruk. Apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa engkau berlaku demikian?

Buruk:
Peduli amat aku memperhatikan dirimu. Daripada hidup sekali tidak berkepribadian hanya dikarenakan memperhatikan omonganmu, lebih baik don’t care sajalah tetapi diriku tetap berkepribadian. Baik buruk itu kan relatif.

Mengerti:

Wahai tak mengerti, keterlaluan benar engkau itu. Sudah berkali-kali dijelaskan tetap saja tidak mau mengerti. Apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa engkau berlaku demikian?

Tak Mengerti:

Daripada hidup sekali tidak berkepribadian hanya dikarenakan memperhatikan omonganmu, lebih baik don’t care sajalah tetapi diriku tetap berkepribadian. Mengerti atau tak mengerti itu kan urusanku.

Jujur:
Wahai koruptor, keterlaluan benar engkau itu. Sudah berkali-kali diperingatkan tetap saja melakukan kesalahan. Apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa engkau berlaku demikian?

Koruptor:
Biar anjing menggonggong kafilah berlalu. Bukankah itu kata-kata mutiara yang sangat bagus. Peduli amat aku memperhatikan dirimu. Daripada hidup sekali tidak berkepribadian hanya dikarenakan memperhatikan omonganmu, lebih baik don’t care sajalah tetapi diriku tetap berkepribadian. Mana buktinya aku seorang koruptor?

Peduli:
Wahai tak peduli, keterlaluan benar engkau itu. Sudah berkali-kali diperingatkan tetap saja tak peduli. Apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa engkau berlaku demikian?

Tak Peduli:
Tarian lenggang. Aku sengaja menciptakan Tarian Lenggang agar bisa menjamin kepribadianku. Maka dengan Tarian Lenggangku, aku bisa menutupi semua kebisingan dari luar diriku. Tak peduli apakah itu saran, nasehat, tulisan atau bacaan. Sehingga dengan demikian aku bisa membangun duniaku tanpa terkontaminasi oleh nasehat-nasehatmu.

Ikhlas:
Wahai sombong, keterlaluan benar engkau itu. Sudah berkali-kali diajak berdialog dengan ikhlas, tetap saja engkau beraku sombong. Apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa engkau berlaku demikian?

Sombong:
Tarian lenggang. Aku sengaja menciptakan Tarian Lenggang agar bisa menjamin kepribadianku. Maka dengan Tarian Lenggangku, aku bisa menutupi semua kebisingan dari luar diriku. Tak peduli apakah itu saran, nasehat, tulisan, bacaan atau ajakanmu berdialog secara ikhlas. Sehingga dengan demikian aku bisa membangun duniaku tanpa terkontaminasi oleh saran, nasehat, tulisan, bacaan atau ajakanmu. Memangnya aku tak mengerti semua celotehmu. DenganTarian Lenggangku aku bisa cukup hanya mengintip saja semua saran, nasehat, tulisan, bacaan atau ajakanmu. Gangsi rasanya menaggapi semua ucapan dan tulisanmu.

Moral:
Wahai para hati yang masih membeku. Kunjungilah orang-orang yang tak mau mengunjungimu. Bersilaturakhimlah kepada orang-orang yang tak mau bersilaturakhim kepadamu. Berbicaralah kepada orang-orang yang tak mau berbicara kepadamu. Maafkanlah orang-orang yang tak mau memaafkan dirimu.

Hati Beku:
Wahai moral, janganlah engkau hanya bisa menggurui diriku. Dengan Tarian Lenggangku maka aku bisa melihat bahwa dirimu juga tidak mampu melaksanakan semua ucapanmu itu.

Inovasi:
Wahai para tradisional, keterlaluan benar engkau itu. Sudah berkali-kali dikirim penataran tetap saja tidak mau melakukan inovasi. Apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa engkau berlaku demikian?

Tradisional:
Tarian lenggang. Aku sengaja menciptakan Tarian Lenggang agar bisa menjamin kepribadianku. Maka dengan Tarian Lenggangku, aku bisa menutupi semua kebisingan dari luar diriku. Tak peduli apakah itu saran, nasehat, tulisan, bacaan atau ajakanmu berdialog secara ikhlas. Sehingga dengan demikian aku bisa membangun duniaku tanpa terkontaminasi oleh saran, nasehat, tulisan, bacaan atau ajakanmu. Memangnya aku tak mengerti semua celotehmu. DenganTarian Lenggangku aku bisa cukup hanya mengintip saja semua saran, nasehat, tulisan, bacaan atau ajakanmu. Dengan Tarian Lenggang aku tidak melihat manfaat inovasi itu. Tidaklah ada hubungan antara pelatihan dengan inovasi bagi diriku. Itulah Tarian Lenggang ku.

3 comments:

  1. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Setiap manusia pernah melakukan kesalahan, pernah melakukan hal buruk, akan tetapi jika kesalahan yang sama diulangi secara terus menerus, itu artinya manusia tersebut sudah tersesat dan terlanjur salah. Seseorang yang sudah berada dijalan yang salah biasanya membenarkan apa yang salah, mengatakan hal baik kepada sesuatu hal yang buruk, membenarkan korupsi dan sebagainya. Elegi tarian lenggang menjelaskan tentang sikap ketidakpedulian kepada nasihat, saran, kritik yang membangun dan juga peringatan-peringatan lain yang bertujuan untuk memperbaiki sikap dan perbuatan seseorang.

    ReplyDelete
  2. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Elegi Tarian Lenggang ini menjelaskan berbagai macam sifat dari manusia. Baik dan buruk, benar dan salah, jujur, dan sebagainya. Seseorang tidak akan terlepas dari sifat tersebut. Sepertilah hidup. Hidup adalah pilihan. Diri kita sendiri yang akan menentukan bagaimana hidup ini. Jika kita berbuat salah, maka akui lah. Jangan merubah kesalahan tersebut menjadi suatu kebenaran yang membohongi orang lain. Jangan pula seperti penciptaan tarian Lenggeng yang tidak mau memperdulikan nasehat, saran, maupun ajakan untuk berbuat lebih baik. Ketika sudah terjerumus, maka akan lebih terjerumus lagi kita dalam keburukan ketika tidak mendengarkan orang lain untuk menuju kebaikan.

    ReplyDelete
  3. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Tarian lenggang tidak lain dan tidak bukan adalah kesombongan dan kerasnya hati hingga menutup diri dari berbagai nasihat dan masukan yang diberikan. Maka dari itu sebagai seorang manusia kita harus berusaha menghapus kesombongan, kita harus berusaha melunakkan hati kita agar mau mendengarkan nasihat yang diberikan orang lain. Maka upaya yang dapat kita lakukan agar terhindar dari tarian lenggang adalah dengan senantiasa beribadah kepada Allah SWT. Semoga kita senantiasa dilembutkan hatinya dan dijauhkan dari kesombongan agar terhindar dari tarian lenggang dan mau mendengarkan segala nasihat yang membangun diri kita. Amin.

    ReplyDelete