Feb 26, 2011

Elegi Menggapai Sastra Jawa




Oleh Marsigit

Sastra Jawa:
Masih persoalan misteri yang tersembunyi. Kenapa engkau masih risau? Bukankah itu adalah lumrah jika memang membawa manfaat. Salah satu manfaatnya adalah agar kebenaran itu dapat disampaikan dengan cara yang santun. Bukankan ancaman bagi orang yang tidak santun itu adalah kebodohan? Maka dengan ini saya akan memberikan sedikit ruang dan waktunya bagi para anggotaku untuk menguraikan epistemologinya, bagaimana mereka sengaja menyembunyikan ontologinya.

Wangsalan:
Kenalkanlah, aku adalah wangsalan. Pekerjaanku adalah menyampaikan kebenaran ontologis, tetapi epistemologiku adalah dengan cara tak langsung. Yang aku maksud dengan cara tak langsung adalah aku selalu membuat pendahuluan kepada setiap kalimatku agar yang mendengar atau menerima pesan dariku merasa nyaman.

Sastra Jawa:
Berikanlah contohnya?

Wangsalan:
Perhatikan kalimatku ini: “Dewa tirta, tirta andheging baita”.
Dewa tirta adalah Sang Yang Baruna.
Tirta andheging baita adalah pelabuhan.
Maka sebetulnya saya ingin mengatakan:”Pra taruna, kondhang labuhe mring nagara”

Sastra Jawa:
Apakah masih ada contoh yang lain?

Wangsalan:
Perhatikan kalimatku ini:”Ujung jari, balung roning kalapa”
Ujung jari itu adalah kuku.
Balung roning kalapa itu adalah sada.
Maka sebetulnya saya ingin mengatakan:”Winengkua sayekti dadi usada”

Sastra Jawa:
Masih ada yang lain?

Wangsalan:
Perhatikan kalimatku ini:”Balung janur, janur ingisenan boga”
Balung janur itu adalah sada.
Janur ingisenan boga itu adalah kupat.
Maka sebetulnya saya ingin mengatakan:”Widada, lepat saking sambekala”

Sastra Jawa:
Selain wangsalan, apakah masih ada?

Parikan:
Kenalkan saya adalah parikan. Fungsiku adalah untuk menyampaikan ajaran moral.

Sastra Jawa:
Berikan contohnya?

Parikan:
Perhatikan kalimatku ini:”Kandang panggonan sapi”
Sebetulnya saya ingin menyampaikan pesan moral:”Ayo tandang sing premati”

Sastra Jawa:
Oh begitu, saya ingin contoh lagi?

Parikan:
Perhatikan kalimatku ini:”Rujak kawis, wontene ming awis-awis”
Sebetulnya saya ingin mengtakan:”Aja ngawis, nembah Gusti tanpa uwis”

Sastra Jawa:
Baiklah, apakah masih ada yang lainnya?

Purwakinanthi:
Kenalkan aku adalah purwakinanthi. Fungsiku juga seperti yang lainnya, hanya saja aku sangat memperhatikan keindahan.

Sastra Jawa:
Contohnya?

Purwakinanthi:
Perhatikan kalimatku ini:”Rujak laos, digodhog lestari atos”
Sebetulnya saya ingin mengatakan:”Dhurung jegos anggepe kaya wis bonthos”

Sastra Jawa:
Wah menarik, beri contohnya yang lain?

Purwakinanthi:
Perhatikan kalimatku ini:”Rujak jambe rujake wong dhemen ngame”
Sebetulnya saya ingin mengatakan:”tanpa gawe uripmu mung mampir ngombhe”

Sastra Jawa:
Apakah masih ada yang ingin menyampaikan?

Pasemon:
Kenalkan, saya adalah pasemon. Pekerjaan saya adalah menyampaikan pesan moral dengan cara simbolik atau tersirat. Aku sudah sering digunakan oleh para Wali dari Kerajaan Demak Bintara.

Sastra Jawa:
Silahkan beri contohnya?

Pasemon:
Perhatikan bait-bait nyanyianku:
"Ilir-ilir tandure wus sumilir", itulah pasemonku untuk mengajak orang-orang menggapai kesadarannya, karena kesadaran adalah awal dan pangkal dari ilmu. Sedangkan ajakanku itu dikarenakan adanya kesempatan untuk menuntut ilmu.

"Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar", itulah pasemonku untuk menggambarkan semangat "munculnya kesadaran" sebagaimana semangatnya temanten anyar.

"Bocah angon-bocah angon penekna blimbing kuwi", itulah pasemonku..bocah angon sama saja dengan bocah gunung pada Elegi saya yang lain, maksudnya adalah "keadaan tidak prejudice". Maka hanyalah orang-orang yang ikhlas dalam hati, berpikir netral, tidak prejudice, tidak berprasangka buruk, ikhlas dalam pikir atau pure-reason lah yang mampu menuntut ilmu. Maka hanya kepada merekalah aku menyuruh untuk menuntut ilmu atau "menek blimbing".

"Lunyu-lunyu penekna, kanggo masuh dodotira", itulah pasemonku untuk menggambarkan bahwa mencari ilmu itu tidaklah mudah, yaitu seperti lunyu (licinnya) memanjat pohon. Ilmu iku kelakone kanthi laku (menek). Dodot itu pakaian (Jawa: jarit/sarung), maka "masuh dodot" itu artinya membasuh baju. Artinya, ilmu itu bermanfaat untuk kepentingan dan kebutuhan menyelesaikan persoalan hidup sehari-hari.

"Dodotira kumitir bedhahing pinggir", itulah pasemonku untuk menggambarkan bahwa hidup itu penuh dengan tantangan, persoalan dan cobaan serta ujian. Kalimatku itu juga untuk menggambarkan bahwa manusia itu punya sifat tidak sempurna. Kumitir itu berkibar, artinya pertanda yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia yang mampu menyadarinya sekaligus kesadaran akan adanya suratan takdir dari Nya.

"Dondomana, jlumatana kanggo seba mengko sore", itulah pasemonku bahwa manusia juga ditakdirkan untuk berikhtiar. Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang jika ybs tidak berikhtiar. Kanggo seba mengko sore, itu artinya untuk menggapai alam abadi atau akhirat.

"Mumpung jembar kalangane", itulah pasemonku untuk menggambarkan pentingnya "ruang". Maka sadar akan ruang itu adalah suatu awal dan pangkal dari ilmu. Ruang itu adalah wadahnya ilmu. Sadar ruang itu artinya "mpan papan", mengetahui sedang bicara apa dan kepada siapa serta dimana. Itulah sopan santun memperoleh ilmu. Barang siapa tidak santun maka dia terancam tidak berilmu.

"Mumpung padhang rembulane", itulah pasemonku untuk menggambarkan pentingnya sadar "waktu".Maka sadar akan waktu itu adalah suatu awal dan pangkal dari ilmu. waktu itu adalah wadahnya ilmu. Sadar waktu itu artinya "mpan wektu", mengetahui sedang bicara apa dan kapan bicara. Itulah juga sopan santun memperoleh ilmu. Barang siapa tidak santun maka dia terancam tidak berilmu.

"Yo suraka surak hore", itulah pasemonku untuk menggambarkan bahwa suatu perolehan apapun, disadarai atau tidak disadari, itu harus merupakan kesadaran bahwa yang demikian semata-mata karena kebesaran Allah SWT. Maka manusia itu harus pandai-pandai bersyukur. Amiin.

Sastra Jawa:
Padhang trawangan. Terimakasih, terimakasih pasemon, penjelasanmu sudah sangat jelas.
Pada periode berikutnya saya ingin member kesempatan para “tembang” untuk memperkenalkan dirimu masing-masing, kalau perlu berikan contohnya?

Mijil:
Aku adalah nama tembang. Tetapi aku mempunyai arti sebagai “lahir”. Maka tembanganku itu menggambarkan bagaimana keadaan permulaan kehidupan itu. Berikut adalah contoh tembang mijil:”Madya ratri kentarnya mangikis, sira sang lir sinom, saking taman miyos butulane, datan wonten cethine udani, lampahe lestari, wus ngambah marga gung” (Serat Srikandhi Maguru Manah dalam Soetrisno)

Sinom:
Aku adalah nama tembang. Aku mempunyai arti “muda”. Maksudnya aku bisa melambangkan keadaan seorang anak muda yang mulai berkembang. Tembangku “Mangkana janma utama, tuman-tumaneming sepi, ing saben rikala mangsa, masah amemasuh budi, laire anetepi, ing roh kasatriayanipun, susila anoraga, wignya met tyasing sesame, yeku aran wong barek berag agama”(Serat Wedhatama dalam Soetrisno)

Maskumambang:
Kenalkan, aku juga nama tembang jawa. Maskumambang itu terdiri dari emas atau perhiasan. Kumambang berarti terlihat dan bersinar. Aku menggambarkan keadaan seorang anak yang menuju dewasa, sudah mulai akil balig, bersinar seperti perhiasan emas. Tembangku:”Gelangsaran Putri Cina kawlas asih, Wara Kelaswara, Pedhangen juren wak mami, Aja andedawa lara” (Serat Menak dalam Soetrisno)

Asmaradana:
Kenalkan aku adalah juga nama tembang jawa. Asmara itu cinta, dana itu memberi. Jadi aku menggambarkan keadaan remaja atau orang muda yang sedang berkisah kasih. Tembangku:”Dudu ngakeh trusing gendhing, ngakal lungiting susastra, ngakal ing gendhing jatine, babaring jatining sastra, kawitaning aksara, sawiji alif kang tuduh, mengku gaibul uwiyah” (Serat Sastra Gendhing dalam Soetrisno)

Dhandhanggula:
Dhandang itu hitam. Gula itu manis. Gula hitam itu manisnya madu. Jadi aku menggambarkan seseorang yang telah menemukan manisnya kehidupan, yaitu pasangan suami isteri. Tembangku:”Rukun Islam kang lima puniki, katindakna mring pra sasama, aja padha ditinggalke, rukun lima puniku, sahadate kang angka siji, kang angka lara salat, dene kang katelu, ramadhan nindakna pasa, kapat zakat ping lima ngibadah haji, rukun Islam sampurna” (Anom Surata dalam Soetrisno).

Kinanthi:
Kinanti itu menanti. Aku adalah ajakan untuk menapaki rumah tangga yang baik. Tembangku:”Mangka kanthining tumuwuh, kanthi harsayeng kayun, kanthi pedah luhung, sayekti kanthi utama” (Soetrisno)

Gambuh:
Gambuh itu cocok, harmoni, seimbang, jumbuh, selaras, serasi. Aku melambangkan kehidupan rumah tangga yang mawadah, warokhmah dan sakinah. Tembangku:”Rasaning tyas kayungyun, angayomi lukitaning gambuh, gambir wana kalawan hening ing ati, katenta kudu pitutur, sumingkiring reh tyas mirong” (Serat Sabdatama dalam Soetrisno)

Durmo:
Dur itu mundur. Mo itu momor. Maksudnya adalah aku menggambarkan keadaan di mana manusia sudah saatnya mundur dari dunia dan maju menghadapi akhirat. Tembangku:”Gunane sanepan paribasan jawi, ngaka madya krama hinggil, lire tata krama, kanggo jroning pasrawungan, tindak tanduk kang becik, tan tanpa kulakan, nanging bisa mranani”(Purwadi, Desa Mawa cara dalam Soetrisno)

Pangkur:
Pangkur betul-betul mungkur. Tidak ada waktu lagi untu menunda persiapan akhir menuju akhirat. Tembangku:”Mingkar mingkuring ukara, akarana karenaning mardisiwi, sinawung resmining kidung, sinuba sinukarta, mrih kretarta pakartine ngelmu luhung, kang tumrap neng tanah jawa, agama ageing aji”(Serat Wedhatama dalam Soetrisno)

Megatruh:
Megat itu pisah. Ruh itu arwah. Megatruh itu pisahnya jiwa dan raga atau meninggal dunia. Tembangku:”Para jalma sajroning jaman pakewuh, kasudranira andadi, durune saya ndarung, keh tyas mirong murang margi, kasekten wus nora katon”(Serat Sabda Jati dalam Soetrisno)

Pocung:
Pocung adalah tata cara ngrupti orang meninggal dunia, memandikan, menyolatkan dsb. Tembangku:”Bapak pucung dudu watu dudu gunung, sangkaning ing sabrang, ngon-ingoning sang Bupati, yen lumlaku si pucung lembehan grana”.

Sastra Jawa:
Baik..baik..wah..wah njlimet tenan. Terimakasih. Semoga bermanfaat. Amiin

Referensi:
Dr. Soetrisno, R, MSi, 2004, Nilai Filosofis Kidung Pakeliran, Yogyakarta: Adita Pressindoesti

23 comments:

  1. Alfiramita hertanti
    NIM 17709251008
    P.Matematika kelas A 2017

    assalamualaikum wr. wb. salah-satu kendala utama saya sebagai mahasiswa rantau di yogyakarta adalah persoalan bahasa. bahasa jawa bagi saya dalah bahasa yang rumit selai saya sangat respect pada orang-orang jawa yang tidak pernah merasa sungkan untuk menuturkannya di mana saja. bahkan orang sekelas prof. marsigit menggunakan bahsa jawa sebagai salah-satu bahasa komunikasi dalam kelas. hal semacam ini membuat bahasa jawa tetap bertahan eksistensinya sebagai budaya bangsa. namun dalam hal ini, bahkan untuk menggapai sastra jawa yang kompleks itu, menghapalkan kata-kata atau menuturkannya saja bagi saya sangat rumit. tapi saya menganggap itu adalah suatu tantangan.

    ReplyDelete
  2. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Sastra jawa banyak sekali macamnya. Salah satu yang termasuk ke dalam sastra jawa dalah tembang jawa. Dalam tembang jawa terdapat 11 jenisnya. Secara keseluruhan tembang-tembang tersebut menceritakan perjalan manusia dari lahir hingga meninggal dunia. Tembang jawa ini bisa dilantunkan seperti lagu. Betawa luhurnya sastra jawa yang kita miliki. Hal ini perlu dilestarikan ke anak didik kita. Sehingga tidak tertinggal informasi tentang budayanya sendiri.

    ReplyDelete
  3. Muh Wildanul Firdaus
    17709251057
    Pendidikan Matematika S2 Kelas C

    Penyampaian pesan kebenaran memerlukan cara yang santun agar dapat diterima dengan nyaman oleh penerima pesannya. Dalam tradisi jawa ada banyak cara salah satunya yaitu dengan menggunakan sastra jawa. Seringkali dalam penyampaian pesannya, sastra jawa tidak langsung kepada poin pesannya namun diubah agar memiliki nilai estetik sehingga terasa santun didengar oleh penerimanya.

    ReplyDelete
  4. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Hal yang dapat saya pelajari dari elegi ini adalah, bahwa setiap orang punya cara masing-masing untuk menyampaikan maksud dan tujuannya. Yang terpenting adalah saling memahami dan berusaha untuk tidak mudah prejudice. Ada orang yang jika bicara seperti marah-marah, padahal maksudnya baik, memang begitulah kebiasaannya bicara. Ada orang yang bicara dengan mimik wajah ketus, padahal maksudnya baik, memang begitulah karakternya, dsb. Hendaknya kita tidak mudah menjudge orang lain jelek hanya karena tidak sependapat dengan kita, atau karena ketidakjelasan penjelasannya. Oleh karenanya kita perlu saling menerjemahkan.

    ReplyDelete
  5. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Sastra merupakan seni kebudayaan yang dapat menjadi jalur atau fasilitas untuk menyebarkan kebaikan. Dalam elegi ini menjelaskan tentang sastra Jawa, yang memiliki banyak jenis. Salah satunya adalah lagu atau nyanyian. Setiap bait yang ada di dalam lagu memiliki nilai dan makna yang kuat dalam menyampaikan pesannya. Sastra Jawa termasuk sastra Indonesia. oleh karena itu untuk menjaga sastra Indonesia salah satu caranya adalah dengan tetap menjaga esistensi sastra Jawa itu sendiri.

    ReplyDelete
  6. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B 2017

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Beda daerah, beda bahasa, beda logatnya. Meski berbeda kita tetap dalam satu payung, yang bernama Indonesia. Selain identitas, bahasa mengajarkan kita bersikap, berprilaku sesuai ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  7. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh


    Budaya jawa memiliki beraneka ragam bentuk dan bernilai luhir. Antara lain yang berkaitan dengan filosofi, berkaitan dengan sastra, berkaitan dengan lagu, kesenian, tradisi dan permainnya. Budaya jawa sangatlah kaya dan sarat akan nilai – nilai luhur.
    Ajaran nilai budi pekerti luhur yang termuat dalam berbagai karya sastra Jawa perlu disampaikan ulang kepada generasi muda, agar mereka mempunyai watak budi pekerti yang baik seperti yang diharapkan oleh generasi tua sesuai dengan ajaran yang disampaikan dalam karya-karya bahasa dan sastra Jawa. Transformasi ajaran budi pekerti luhur budaya Jawa, bisa lewat pendidikan formal yaitu PAUD, TK dan SD serta nonformal sanggar dan paguyuban dan pendidikan keluarga.

    ReplyDelete
  8. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PMC

    Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya, salah satunya adalah sastra jawa. Bahkan dalam sastra jawa terdapat berbagai bentuk seperti parikan, purwakinanthi, tembang, dan berbagai macam lainnya yang berisi nasihat. Nasihat dalam sastra jawa tersebut disampaikan dengan bahasa yang indah. Maka kita juga dapa belajar dari sastra jawa ini bahwa dalam menyampaikan nasihat hendaklah kita menggunakan Bahasa yang halus dan sopan.

    ReplyDelete
  9. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Sastra budaya di Indonesia ini begitu kaya, salah satunya sastra jawa. Dalam sastra jawa selalu terkandung pesan-pesan hidup didalamnya. Bhakan dalam huruf jawa terkandung cerita yang sungguh bagus. Dalam tembang-tembang jawa juga terdapat pesan hidup yang masih dapat diaplikasikan sampai sekarang.

    ReplyDelete
  10. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Elegi di atas yang menggambarkan filsafat tentang bahasa jawa. Begitu banyak makna yang bermanfaat dalam filsafat bahasa jawa. sastra jawa memiliki moral yang baik dan patut untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk menjaga kebudayaan yang dimiliki Indonesia.

    ReplyDelete
  11. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Dengan elegi menggapai sastra jawa, kini saya mengerti arti dari lagu “lir-ilir”. Saya sering mendengar lagu tersebut sejak saya kecil, bahkan saya juga sering menyanyikannya, namun saya tidak pernah mencari tahu apa sebenarnya isi dan makna dari lagu tersebut, ternyata maknanya begitu dalam. Lagu lir-ilir menceritakan tentang bagaimana kita menggapai ilmu. Sesungguhnya dalam mencari ilmu itu tidak mudah, dibutuhkan kesungguhan dan juga keiklasan. Elegi ini juga menjelaskan bahwa semua tembang jawa seperti mijil, sinom, maskumambang, dan lainnya memiliki arti yang dalam tentang nilai-nilai kehidupan.

    ReplyDelete
  12. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Dalam elegi ini memiliki makna bahwa dalam sastra jawa terdapat tembang, parikan, maupun lakon wayang yang senantiasa memberikan nsihat. Makna nasihat yang terkandung di dalamnya begitu mendalam. Disampaikan dengan bahasa yang indah dan halus serta sarat akan makna. Seperti demikian ini seharusnya nasihat diberikan. Nasihat dengan penyampaian yang baik dengan tata bahasa yang halus dan sopan akan lebih mengena dan didengar daripada nasihat yang disampaikan dengan mengggunakan kata-kata kasar.

    ReplyDelete
  13. Nurika Miftahuljannah
    17709251060
    PPs P. Mat C
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Sastra jawa adalah salah satu budaya yang dimiliki oleh Indonesi, khususnya rakyat Jawa. Dalam sastra jawa terdapat berbagai bentuk seperti parikan, purwakinanthi, tembang, dan berbagai macam lainnya yang berisi nasihat. Nasihat dalam sastra jawa tersebut disampaikan dengan bahasa yang indah. Maka kita juga dapa belajar dari sastra jawa ini bahwa dalam menyampaikan nasihat hendaklah kita menggunakan bahasa yang halus dan sopan. Meskipun banyak misteri yang tersimpan dalam sastra Jawa, namun tidak mengurangi keindahan dari sastra Jawa yang tidak ada duanya di dunia.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  14. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Dalam jawa, sopan santun, unggah ungguh sangat begitu diperhatikan. Misalnya dalam berbicara, memberi nasehat, beraktivitas dan lain sebagainya. Karena kebenaran akan mudah diterima jika dibungkus dengan bungkus yang baik pula. Kebaikan akan diterima bila disampaikan dengan yang baik-baik pula. Maka dari itu, mengedepankan sopan santun, tata krama, unggah ungguh harus menjadi kebiasaan dalam keseharian kita

    ReplyDelete
  15. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Salut dengan kayanya nilai-nilai yang terkandung dalam sastra jawa. Bahkan dari proses lahir sampai meninggalpun bisa diwujudkan dalam bentuk sastra. Sastra jawa selain memuat nilai-nilai kehidupan juga sering digunakan untuk misi menyebarkan aga islam. Pada masa itu penyebaran agama islam melalui sastra sangat digandrungi masyarakat, misalnya wayang. Jadi sewaktu dapat tugas dari prof untuk menonton wayang di sonobudoyo saya jadi sadar betapa sastra dan budaya itu merupakan unsur penting dalam sebuah peradaban.

    ReplyDelete
  16. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Jawa merupakan salah satu suku yang ada di Indonesia yang kaya akan bahasanya. Memiliki budaya atau adat yang beraneka ragam. Sejak SD, sastra jawa sudah mulai dikenalkan kepada siswa siswa oleh guru kelas maupun guru khusus lulusan pendidikan bahasa jawa. Sastra jawa yang sampai saat ini masih dikenal dan dikenalkan kepada khalayak umum gar tidak punah oleh arus globalisasi. Banyak orang luar dari Indonesia yang sengaja datang ke Indonesia untuk belajar bahasa Jawa beserta sastra jawa dan budaya-budayanya.

    ReplyDelete
  17. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Setiap daerah memiliki keluhuran budayanya masing-masing. Nenek moyang kita memiliki dan menggunakan cara-cara yang halus dalam penyampaian pesan moral. Sastra merupakan salah satu media dalam penyampaian pesan secara halus. Setiap budaya yang kita miliki hendaknya dijaga dan dilestarikan karena budaya merupakan identitas dari diri dan membangun karakter suatu bangsa.

    ReplyDelete
  18. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Sastra jawa yang ada di Indonesia ini sangatlah memberikan keindahan pada kehiudpan yang ada di dunia ini. Sastra jawa memberikan kontribusi pada kelembutan yang ada di dunia ini. Jika dilihat, kelembutan hati seluruh negara di dunia ini lebih didominasi oleh orang Indonesia. Sedangkan kelembutan hati itu tergambar pada pulau jawa dibandingkan dengan pulau-pulau yang lainnya. Sehingga sastra jawa disini memberikan corak keindahan pada dunia.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  19. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Dari elegi diatas tradisi merupakan peninggalan dari nenek moyang yang harus kita jaga. bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai tradisinya sendiri dan peninggalan bangsanya sendiri. Bangsa lain tidak akan mampu menghargai bangsa kita jika kita sendiri tidak dapat menghargainya.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  20. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Bangsa lain tidak akan mampu menghargai bangsa kita jika kita sendiri tidak dapat menghargainya. Sudah sepantasnya kita melestarikan peninggalan nenek moyang kita dan menanamkan norma-norma baik yang ditinggalkan leluhur kita agar bangsa kita menjadi bangsa yang baik.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  21. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Banyak media yang dapat dilakukan untuk menyampaikan pembelajaran, pengetahuan, dan nilai-nilai agama, misalnya seperti menggunakan sastra jawa seperti ini. Selain memberikan pembelajaran penggunaan sastar jawa ini dapat sekaligus melestarikan sastra jawa itu sendiri.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  22. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Sejujurnya sampai saat ini saya masih belum mengerti sama sekali bahasa jawa, apalagi sastra jawa. Sastra merupakan ilmu yang mempelajari tentang keindahan bahasa. Nilai keindahan yang dimiliki oleh bahasa, sehingga bahasa juga memiliki nilai etik dan estetika. Dengan bahasa juga orang bisa menilai sejauh apa kedalaman ilmu yang dimilik seseorang dan bagaimana seseorang mengatur cara berbahasa, mengartikan bahwa seseorang itu mengerti akan nilai kesopanan.

    ReplyDelete
  23. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya, Prof. berkesempatan untuk menuntut ilmu di tanah jawa merupakan suatu hal yang saya syukuri karena saya dapat menambah wawasan saya mengenai budaya dalam negeri sendiri. namun tidak hanya itu, saya juga menghadapi tantangan, yaitu dalam memahami bahasa jawa itu sendiri. namun itu tidak menjadi kendala yang besar karena orang0orang di sekitar saya tidak segan-segan mengajarkan beberapa kosa kata jawa yang saya tidak mengerti.

    ReplyDelete