Feb 26, 2011

Elegi Menggapai Sastra Jawa




Oleh Marsigit

Sastra Jawa:
Masih persoalan misteri yang tersembunyi. Kenapa engkau masih risau? Bukankah itu adalah lumrah jika memang membawa manfaat. Salah satu manfaatnya adalah agar kebenaran itu dapat disampaikan dengan cara yang santun. Bukankan ancaman bagi orang yang tidak santun itu adalah kebodohan? Maka dengan ini saya akan memberikan sedikit ruang dan waktunya bagi para anggotaku untuk menguraikan epistemologinya, bagaimana mereka sengaja menyembunyikan ontologinya.

Wangsalan:
Kenalkanlah, aku adalah wangsalan. Pekerjaanku adalah menyampaikan kebenaran ontologis, tetapi epistemologiku adalah dengan cara tak langsung. Yang aku maksud dengan cara tak langsung adalah aku selalu membuat pendahuluan kepada setiap kalimatku agar yang mendengar atau menerima pesan dariku merasa nyaman.

Sastra Jawa:
Berikanlah contohnya?

Wangsalan:
Perhatikan kalimatku ini: “Dewa tirta, tirta andheging baita”.
Dewa tirta adalah Sang Yang Baruna.
Tirta andheging baita adalah pelabuhan.
Maka sebetulnya saya ingin mengatakan:”Pra taruna, kondhang labuhe mring nagara”

Sastra Jawa:
Apakah masih ada contoh yang lain?

Wangsalan:
Perhatikan kalimatku ini:”Ujung jari, balung roning kalapa”
Ujung jari itu adalah kuku.
Balung roning kalapa itu adalah sada.
Maka sebetulnya saya ingin mengatakan:”Winengkua sayekti dadi usada”

Sastra Jawa:
Masih ada yang lain?

Wangsalan:
Perhatikan kalimatku ini:”Balung janur, janur ingisenan boga”
Balung janur itu adalah sada.
Janur ingisenan boga itu adalah kupat.
Maka sebetulnya saya ingin mengatakan:”Widada, lepat saking sambekala”

Sastra Jawa:
Selain wangsalan, apakah masih ada?

Parikan:
Kenalkan saya adalah parikan. Fungsiku adalah untuk menyampaikan ajaran moral.

Sastra Jawa:
Berikan contohnya?

Parikan:
Perhatikan kalimatku ini:”Kandang panggonan sapi”
Sebetulnya saya ingin menyampaikan pesan moral:”Ayo tandang sing premati”

Sastra Jawa:
Oh begitu, saya ingin contoh lagi?

Parikan:
Perhatikan kalimatku ini:”Rujak kawis, wontene ming awis-awis”
Sebetulnya saya ingin mengtakan:”Aja ngawis, nembah Gusti tanpa uwis”

Sastra Jawa:
Baiklah, apakah masih ada yang lainnya?

Purwakinanthi:
Kenalkan aku adalah purwakinanthi. Fungsiku juga seperti yang lainnya, hanya saja aku sangat memperhatikan keindahan.

Sastra Jawa:
Contohnya?

Purwakinanthi:
Perhatikan kalimatku ini:”Rujak laos, digodhog lestari atos”
Sebetulnya saya ingin mengatakan:”Dhurung jegos anggepe kaya wis bonthos”

Sastra Jawa:
Wah menarik, beri contohnya yang lain?

Purwakinanthi:
Perhatikan kalimatku ini:”Rujak jambe rujake wong dhemen ngame”
Sebetulnya saya ingin mengatakan:”tanpa gawe uripmu mung mampir ngombhe”

Sastra Jawa:
Apakah masih ada yang ingin menyampaikan?

Pasemon:
Kenalkan, saya adalah pasemon. Pekerjaan saya adalah menyampaikan pesan moral dengan cara simbolik atau tersirat. Aku sudah sering digunakan oleh para Wali dari Kerajaan Demak Bintara.

Sastra Jawa:
Silahkan beri contohnya?

Pasemon:
Perhatikan bait-bait nyanyianku:
"Ilir-ilir tandure wus sumilir", itulah pasemonku untuk mengajak orang-orang menggapai kesadarannya, karena kesadaran adalah awal dan pangkal dari ilmu. Sedangkan ajakanku itu dikarenakan adanya kesempatan untuk menuntut ilmu.

"Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar", itulah pasemonku untuk menggambarkan semangat "munculnya kesadaran" sebagaimana semangatnya temanten anyar.

"Bocah angon-bocah angon penekna blimbing kuwi", itulah pasemonku..bocah angon sama saja dengan bocah gunung pada Elegi saya yang lain, maksudnya adalah "keadaan tidak prejudice". Maka hanyalah orang-orang yang ikhlas dalam hati, berpikir netral, tidak prejudice, tidak berprasangka buruk, ikhlas dalam pikir atau pure-reason lah yang mampu menuntut ilmu. Maka hanya kepada merekalah aku menyuruh untuk menuntut ilmu atau "menek blimbing".

"Lunyu-lunyu penekna, kanggo masuh dodotira", itulah pasemonku untuk menggambarkan bahwa mencari ilmu itu tidaklah mudah, yaitu seperti lunyu (licinnya) memanjat pohon. Ilmu iku kelakone kanthi laku (menek). Dodot itu pakaian (Jawa: jarit/sarung), maka "masuh dodot" itu artinya membasuh baju. Artinya, ilmu itu bermanfaat untuk kepentingan dan kebutuhan menyelesaikan persoalan hidup sehari-hari.

"Dodotira kumitir bedhahing pinggir", itulah pasemonku untuk menggambarkan bahwa hidup itu penuh dengan tantangan, persoalan dan cobaan serta ujian. Kalimatku itu juga untuk menggambarkan bahwa manusia itu punya sifat tidak sempurna. Kumitir itu berkibar, artinya pertanda yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia yang mampu menyadarinya sekaligus kesadaran akan adanya suratan takdir dari Nya.

"Dondomana, jlumatana kanggo seba mengko sore", itulah pasemonku bahwa manusia juga ditakdirkan untuk berikhtiar. Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang jika ybs tidak berikhtiar. Kanggo seba mengko sore, itu artinya untuk menggapai alam abadi atau akhirat.

"Mumpung jembar kalangane", itulah pasemonku untuk menggambarkan pentingnya "ruang". Maka sadar akan ruang itu adalah suatu awal dan pangkal dari ilmu. Ruang itu adalah wadahnya ilmu. Sadar ruang itu artinya "mpan papan", mengetahui sedang bicara apa dan kepada siapa serta dimana. Itulah sopan santun memperoleh ilmu. Barang siapa tidak santun maka dia terancam tidak berilmu.

"Mumpung padhang rembulane", itulah pasemonku untuk menggambarkan pentingnya sadar "waktu".Maka sadar akan waktu itu adalah suatu awal dan pangkal dari ilmu. waktu itu adalah wadahnya ilmu. Sadar waktu itu artinya "mpan wektu", mengetahui sedang bicara apa dan kapan bicara. Itulah juga sopan santun memperoleh ilmu. Barang siapa tidak santun maka dia terancam tidak berilmu.

"Yo suraka surak hore", itulah pasemonku untuk menggambarkan bahwa suatu perolehan apapun, disadarai atau tidak disadari, itu harus merupakan kesadaran bahwa yang demikian semata-mata karena kebesaran Allah SWT. Maka manusia itu harus pandai-pandai bersyukur. Amiin.

Sastra Jawa:
Padhang trawangan. Terimakasih, terimakasih pasemon, penjelasanmu sudah sangat jelas.
Pada periode berikutnya saya ingin member kesempatan para “tembang” untuk memperkenalkan dirimu masing-masing, kalau perlu berikan contohnya?

Mijil:
Aku adalah nama tembang. Tetapi aku mempunyai arti sebagai “lahir”. Maka tembanganku itu menggambarkan bagaimana keadaan permulaan kehidupan itu. Berikut adalah contoh tembang mijil:”Madya ratri kentarnya mangikis, sira sang lir sinom, saking taman miyos butulane, datan wonten cethine udani, lampahe lestari, wus ngambah marga gung” (Serat Srikandhi Maguru Manah dalam Soetrisno)

Sinom:
Aku adalah nama tembang. Aku mempunyai arti “muda”. Maksudnya aku bisa melambangkan keadaan seorang anak muda yang mulai berkembang. Tembangku “Mangkana janma utama, tuman-tumaneming sepi, ing saben rikala mangsa, masah amemasuh budi, laire anetepi, ing roh kasatriayanipun, susila anoraga, wignya met tyasing sesame, yeku aran wong barek berag agama”(Serat Wedhatama dalam Soetrisno)

Maskumambang:
Kenalkan, aku juga nama tembang jawa. Maskumambang itu terdiri dari emas atau perhiasan. Kumambang berarti terlihat dan bersinar. Aku menggambarkan keadaan seorang anak yang menuju dewasa, sudah mulai akil balig, bersinar seperti perhiasan emas. Tembangku:”Gelangsaran Putri Cina kawlas asih, Wara Kelaswara, Pedhangen juren wak mami, Aja andedawa lara” (Serat Menak dalam Soetrisno)

Asmaradana:
Kenalkan aku adalah juga nama tembang jawa. Asmara itu cinta, dana itu memberi. Jadi aku menggambarkan keadaan remaja atau orang muda yang sedang berkisah kasih. Tembangku:”Dudu ngakeh trusing gendhing, ngakal lungiting susastra, ngakal ing gendhing jatine, babaring jatining sastra, kawitaning aksara, sawiji alif kang tuduh, mengku gaibul uwiyah” (Serat Sastra Gendhing dalam Soetrisno)

Dhandhanggula:
Dhandang itu hitam. Gula itu manis. Gula hitam itu manisnya madu. Jadi aku menggambarkan seseorang yang telah menemukan manisnya kehidupan, yaitu pasangan suami isteri. Tembangku:”Rukun Islam kang lima puniki, katindakna mring pra sasama, aja padha ditinggalke, rukun lima puniku, sahadate kang angka siji, kang angka lara salat, dene kang katelu, ramadhan nindakna pasa, kapat zakat ping lima ngibadah haji, rukun Islam sampurna” (Anom Surata dalam Soetrisno).

Kinanthi:
Kinanti itu menanti. Aku adalah ajakan untuk menapaki rumah tangga yang baik. Tembangku:”Mangka kanthining tumuwuh, kanthi harsayeng kayun, kanthi pedah luhung, sayekti kanthi utama” (Soetrisno)

Gambuh:
Gambuh itu cocok, harmoni, seimbang, jumbuh, selaras, serasi. Aku melambangkan kehidupan rumah tangga yang mawadah, warokhmah dan sakinah. Tembangku:”Rasaning tyas kayungyun, angayomi lukitaning gambuh, gambir wana kalawan hening ing ati, katenta kudu pitutur, sumingkiring reh tyas mirong” (Serat Sabdatama dalam Soetrisno)

Durmo:
Dur itu mundur. Mo itu momor. Maksudnya adalah aku menggambarkan keadaan di mana manusia sudah saatnya mundur dari dunia dan maju menghadapi akhirat. Tembangku:”Gunane sanepan paribasan jawi, ngaka madya krama hinggil, lire tata krama, kanggo jroning pasrawungan, tindak tanduk kang becik, tan tanpa kulakan, nanging bisa mranani”(Purwadi, Desa Mawa cara dalam Soetrisno)

Pangkur:
Pangkur betul-betul mungkur. Tidak ada waktu lagi untu menunda persiapan akhir menuju akhirat. Tembangku:”Mingkar mingkuring ukara, akarana karenaning mardisiwi, sinawung resmining kidung, sinuba sinukarta, mrih kretarta pakartine ngelmu luhung, kang tumrap neng tanah jawa, agama ageing aji”(Serat Wedhatama dalam Soetrisno)

Megatruh:
Megat itu pisah. Ruh itu arwah. Megatruh itu pisahnya jiwa dan raga atau meninggal dunia. Tembangku:”Para jalma sajroning jaman pakewuh, kasudranira andadi, durune saya ndarung, keh tyas mirong murang margi, kasekten wus nora katon”(Serat Sabda Jati dalam Soetrisno)

Pocung:
Pocung adalah tata cara ngrupti orang meninggal dunia, memandikan, menyolatkan dsb. Tembangku:”Bapak pucung dudu watu dudu gunung, sangkaning ing sabrang, ngon-ingoning sang Bupati, yen lumlaku si pucung lembehan grana”.

Sastra Jawa:
Baik..baik..wah..wah njlimet tenan. Terimakasih. Semoga bermanfaat. Amiin

Referensi:
Dr. Soetrisno, R, MSi, 2004, Nilai Filosofis Kidung Pakeliran, Yogyakarta: Adita Pressindoesti

37 comments:

  1. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Jujur, saya tidak mengerti bahasa Jawa tapi saya mencoba memahami elegi ini. Yang membedakan sastra Jawa dengan sastra yang lain adalah pada penggunaan bahasa Jawa. Menurut saya, sastra jawa disampaikan dengan bahasa jawa yang sangat sopan dan tidak to the point atau menggunakan kiasan. Di dalam sastra jawa sangat banyak mengandung nilai kebijaksanaan, maka untuk seseorang yang belajar dan mencoba memahami sastra jawa, reguklah kebijaksanaan Jawa sebanyak mungkin maka Anda akan menjadi manusia yang bijaksana pula.

    ReplyDelete
  2. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Sastra merupakan suatu seni yang harus selalu di lestarikan, Di elegi ini juga di eksplor tentang wangsalan, parikan, purwakinanthi, pasemon, dan tembang macapat. yang merupakan unsur-unsur sastra jawa. Sastra jawab sangat deket dengan keimanan kita dan perbaikan moral. Sastra jawa mengandung banyak pesan kehidupan.

    ReplyDelete
  3. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Di balik keindahan sastra Jawa ini, terkandung pesan dan nasihat yang ingin disampaikan oleh para penciptanya. Inilah cara orang jawa untuk menyampaikan pesan atau nasihat kepada orang lain, menggunakan cara yang halus dan sopan, bahkan dengan memikirkan keindahan di dalamnya.

    ReplyDelete
  4. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Budaya jawa memiliki beraneka ragam bentuk dan bernilai luhir. Antara lain yang berkaitan dengan filosofi, berkaitan dengan sastra, berkaitan dengan lagu, kesenian, tradisi dan permainnya. Budaya jawa sangatlah kaya dan sarat akan nilai – nilai luhur.
    Ajaran nilai budi pekerti luhur yang termuat dalam berbagai karya sastra Jawa perlu disampaikan ulang kepada generasi muda, agar mereka mempunyai watak budi pekerti yang baik seperti yang diharapkan oleh generasi tua sesuai dengan ajaran yang disampaikan dalam karya-karya bahasa dan sastra Jawa. Transformasi ajaran budi pekerti luhur budaya Jawa, bisa lewat pendidikan formal (PAUD, TK, SD, dll), nonformal (sanggar, paguyuban, dll), dan pendidikan keluarga.

    ReplyDelete
  5. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Dalam elegi menggapai sastra jawa, sastra jawa diibaratkan sebagai media yang digunakan oleh orang jawa untuk menyampaikan kebenaran dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Sastra jawa yang dipaparkan dalam elegi ini yaitu wangsalan, parikan, purwakinanthi, pasemon, mijil, sinom, maskumambang, asmaradana, dhandhanggula, kinanthi, gambuh, durmo, pangkur, megatruh, dan pocung. Sastra-sastra jawa yang dikemukakan dapat berbeda-beda bentuk penyampaiannya, tetapi sebagai suatu seni sastra, sastra jawa diyakini memiliki unsur keindahan tersendiri dalam menyampaikan nilai-nilai luhurnya, sehingga nilai-nilai luhur yang disampaikan melalui sastra jawa ini dapat terus dipegang dan dijunjung oleh orang-orang yang mewarisinya.

    ReplyDelete
  6. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Sastra Jawa merupakan pemikiran-pemikiran dan gagasan-gagasan yang dituangkan dalam bentuk karya seni dengan menggunakan bahasa Jawa. Sastra Jawa erat kaitannya dengan kebudayaan orang Jawa. Bagi orang Jawa, budaya mengandung makna menjadi beradab atau bijaksana. Oleh karena itu, dengan mempelajari sastra Jawa, kita dapat belajar menjadi manusia yang lebih beradab dan bijaksana.

    ReplyDelete
  7. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Salah satu lagu macapat yang ada adalah Megatruh, yang artinya:
    Megat itu pisah. Ruh itu arwah. Megatruh itu pisahnya jiwa dan raga atau meninggal dunia. Tembangku:”Para jalma sajroning jaman pakewuh, kasudranira andadi, durune saya ndarung, keh tyas mirong murang margi, kasekten wus nora katon”(Serat Sabda Jati dalam Soetrisno).
    Dalam lagu ini menceritakan ketika manusia sebagai hambaNya pasti suatu ketika akan kembali kepadaNya. Darimana dia berasal maka akan kembali ke tempatnya.
    Dan dinia ini sudah menjadi kewajiban manusia untuk mencari bekal di kehidupan setelah dunia.

    ReplyDelete
  8. Jeanete Nenabu
    15709251004
    PPS Pend. Matematika D

    Elegi ini mengingatkan bahwa semua peninggalan nenek moyang kita itu memiliki makna. Elegi ini menjelaskan berbagai maksud dan makna sastra jawa dari berbagai sudut pandang. Dengan demikian, sepatutnya kita itu mencintai dan melestarikan setiap budaya yang ada karena sebetulnya mereka memiliki banyak pessan moral yang tersembunyi.

    ReplyDelete
  9. Jeanete Nenabu
    15709251004
    PPS Pend. Matematika D

    Elegi ini juga mengajarkan bahwa cara menyampaikan pesan pada orang lain itu bisa beragam. Dan cara orang menanggapi pesan tersebut juga beragam. Ada orang yang hanya melihat pesan luarnya tidak betul-betul berusaha untuk memahami makna tersirat dari suatu hal, ada orang yang meluangkan waktu untuk berusaha memahami pesan yang tersirat dari suatu kejadian. Ini menandakan berpikir ekstensif dan intensif.

    ReplyDelete
  10. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu'alaikum. Sastra budaya di Indonesia ini begitu kaya, salah satunya sastra jawa. Dalam sastra jawa selalu terkandung pesan-pesan hidup didalamnya. Bhakan dalam huruf jawa terkandung cerita yang sungguh bagus. Dalam tembang-tembang jawa juga terdapat pesan hidup yang masih dapat diaplikasikan sampai sekarang.

    ReplyDelete
  11. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Dalam lagu macapat ada juga judul lagu yaitu Pocung, yang artinya:
    Pocung adalah tata cara ngrupti orang meninggal dunia, memandikan, menyolatkan dsb. Tembangku:”Bapak pucung dudu watu dudu gunung, sangkaning ing sabrang, ngon-ingoning sang Bupati, yen lumlaku si pucung lembehan grana”.
    Dalam lagu macapat ini yang merupakan lagu dari tanah jawa ini memiliki filosofi yang sangat mendalam. Hal sekecil apapun dijelaskan secara mendetail.

    ReplyDelete
  12. ARNY HADA INDA
    16709261079
    PPS-MAT D 2016 (S2)
    Manusia memiliki hubungan erat dengan kebudayaan, begitu juga untuk melestarikan kebudayaan manusia sangat berperan penting. Sebab, manusia yang menciptakan budaya, dan manusia juga yang harus menjaga, mempertahankan, dan melestarikan budaya tersebut. Kita pun sudah mengetahui unsur-unsur kebudayaan salah satunya adalah bahasa (sastra). Secara etimologi (asal-usul kata) kesusastraan berarti karangan yang indah. Sastra (dari bahasa Sansekerta) artinya adalah tulisan, karangan. Tapi sekarang pengertian “kesusastraan” semakin berkembang melebihi pengertian etimologi tersebut. Selain itu dalam arti kesusastraan, sastra bisa dibagi menjadi sastra tertulis dan sastra lisan. Di sini sastra tidak banyak berhubungan dengan sastra tulisan, tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu.

    ReplyDelete
  13. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016 (S2)
    Sudah tidak bisa disangkal lagi kalau sekarang kebudayaan dan kesusastraan Jawa yang ada di Indonesia ini sudah hampir hilang. Pada umumnya masyarakat Indonesia di jaman sekarang ini merasa gengsi jika masih mempertahankan kebudayaannya. Sebagai contoh, orang Jawa yang pindah ke Jakarta dan berbicara bahasa Indonesia masih ada logat ‘medok’-nya akan ditertawai oleh orang Jakarta, sehingga orang Jawa tersebut belajar untuk beradaptasi dengan lingkungan dan meninggalkan atau bisa aja melupakan bahasa Jawa dan kesan ‘medok’ tersebut. Berbeda dengan orang Indonesia yang sudah lama tinggal di luar negeri, akan merasa bangga jika bisa lancar berbahasa asing.

    ReplyDelete
  14. Sumandri
    16709251072
    S2 pendidikan Matematika 2016

    Sastra sebagai cermin (mirror) masyarakat sering mengungkapkan perjuangan umat manusia dalam menentukan masa depan berdasarkan imajinasi, perasaan dan intuisinya. Orang yang bijaksana sangat berhati – hati dalam segala hal, supaya tidak terjerumus pada hal yang sia – sia. Demikian halnya dengan sastra jawa, bisa dijadikan salah satu sarana untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

    ReplyDelete
  15. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPs Pendidikan Matematika 2016 Kelas D

    sastra jawa adalah salah satu budaya di Indones. banyak makna dan kata bijak didalamnya. mungkin kita sulit memahaminya, namun dengan baca baca baca kita perlahan bisa mengambil manfaat dari nasehat yang terkandung di dalamnya

    ReplyDelete
  16. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Salah satu hal yang dibahas pada elegi diatas adalah tentang “Yo suraka surak hore" yang menggambarkan tentang apapun yang diperoleh manusia, disadari atau tidak ,haruslah merupakan kesadaran bahwa yang apapun yang kita terima, baik atau buruk semua hanya berdasar kehendak Allah SWT, dan yang demikian itu juga semata-mata karena kebesaran Allah SWT. Maka sudah sepantasnya manusia husnuzon pada semua rencana Tuhannya agar apapun yang menjadi takdir Allah dapat dilalui dengan hti ikhlas dan penuh rasa syukur.

    ReplyDelete
  17. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Ada bahasa yang tak dapat disampaikan dengan bahasa pada umumnya. Namun dengan sastra jawa nan lembut pesan – pesan moral dapat tersampaikan dengan baik dan menyentuh para pembacanya tanpa diselimuti rasa tersinggung. Sesungguhnya maksud dan tujuan penulis ingin memeberikan pesan yang membangun untuk menjadikannya lebih baik lagi ke depannya.

    ReplyDelete
  18. Berbagai bentuk sastra jawa yaitu wangsalan, parikan, purwakinanthi, pasemon, mijil, sinom, maskumambang, asmaradana, dhandhanggula, kinanthi, gambuh, durmo, pangkur, megatruh, dan pocung. Dalam keindahannya terkandung makna atau arti yang terkandung didalamnya. Dalam sastra Jawa ini terdapat makna moral dan kandungan filosofi Jawa yang dapat kita pelajari. Makna-makna moral, etika, dan estetika yang harus dilestarikan. Keragaman sastra Jawa ini menunjukkan salah satu kekayaan budaya Indonesia yang harus tetap kita lestarikan. Sekarang sangat jarang karya sastra jawa yang beredar dilingkungan kita. Seakan karya tersebut hilang.

    ReplyDelete
  19. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Perbedaan antara ilmu pengetahuan modern dengan ilmu pengetahuan jawa adalah bila ilmu pengetahuan modern mempunyai sifat yang selalu mengejar kebenaran, dan ilmu pengetahuan jawa tujuannya juga sama, tetapi bila ilmu pengetahuan modern menggunakan hasil pemikiran yang rasional dengan tujuan mencapai kebenaran dengan logika sedangkan ilmu pengetahuan jawa selalu mementingkan kebenaran etika, yaitu kebenaran dengan sifat yang bermanfaat bagi masyarakat. Kebudayaan jawa adalah hasil perkembangan masyarakat jawa yang dipelihara atas dasar kesadaran akan penting dan perlunya "nilai-nilai dalam masyarakat" tersebut, sedang pengetahuan dan filsafat jawa adalh ilmu pengetahuan dan filsafat asli yang timbul dalam kehidupan leluhur-leluhur kita dulu.

    ReplyDelete
  20. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Dari elegi diatas tradisi merupakan peninggalan dari nenek moyang yang harus kita jaga. Sudah sepantasnya kita melestarikan peninggalan nenek moyang kita dan menanamkan norma-norma baik yang ditinggalkan leluhur kita agar bangsa kita menjadi bangsa yang baik. Sastra sebagai cermin (mirror) masyarakat sering mengungkapkan perjuangan umat manusia dalam menentukan masa depan berdasarkan imajinasi, perasaan dan intuisinya. Dalam sastra Jawa terdapat banyak karya yang mengandung pesan atau nasihat  yang ingin disampaikan oleh para penciptanya. Pesan atau nasihat itu meliputi segala pesan atau nasihat yang sangat baik bila diterapkan dalam kehidupan manusia.

    ReplyDelete
  21. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Orang yang bijaksana sangat berhati-hati dalam bertutur kata dan dalam segala hal, supaya tidak terjerumus pada hal yang sia-sia. Demikian halnya dengan sastra jawa, bisa dijadikan salah satu sarana untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Seperti guru ditiru, itu artinya menjadi guru adalah suatu yang sangat mulia, karena yang boleh ditiru itu adalah orang yang memang punya keistimewaan dimata Allah.

    ReplyDelete
  22. Ika AGustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan MAtematika I 2014

    Salah satu pepatah Jawa yang menarik perhatian saya adalah "Guru, digugu lan ditiru" atau dalam bahasa Indonesia "Guru, dipercaya dan diikuti". Seperti inilah gambaran seorang guru. Siswa selalu mneganggap guru sebagai panutan yang benar. Sebagian siswa akan meniru setiap gerak-gerik dan ucapan guru. Oleh karenanya, guru harus selalu berhati-hati dalam bersikap, dan berbicara.

    ReplyDelete
  23. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pada dasarnya, pendidikan telah dilakukan oleh nenek moyang kita sejak beribu-ribu abad yang lalu. Pembelajaran yang dilakukan tidaklah sama seperti sekarang. Mereka melakukan proses pembelajaran di dalam kehidupan sehari-hari, seperti kegiatan berburu, memasak, mananam tanaman, dan lain sebagainya. Media yang digunakanpun juga sedikit berbeda, misalkan menggunakan lagu-lagu yang berisikan nasihat-nasihat bagi umat manusia.

    ReplyDelete
  24. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Memberikan nasihat itu bisa dengan banyak cara. Kadang nasihat tidak dapat diterima dengan mudah oleh setiap orang. Agar nasihat dapat diterima maka diperlukan pengucapan yang santun sehingga tidak menyakiti hati orang lain. Dalam budaya jawa, ada banyak cara yang dapat digunakan untuk memberikan nasihat kepada orang lain, yaitu salah satunya dengan unen – unen atau tetembungan . Setiap unen – unen atau tetembungan itu memiliki pesan moral yang tersirat di dalamnya. Macam – macam unen – unen antar lain wangsalan, parikan, purwakanthi, pasemon.

    ReplyDelete
  25. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Salah satu lagu yang dijelaskan di atas adalah lagu Lir – Ilir yang mana lagu tersebut dibuat oleh Sunan Kalijaga untuk menyebarkan agama islam di Pulau Jawa. Hal itu menandakan bahwa untuk menyampaikan ilmu kepada orang lain tidak harus melalui diskusi, seminar terbuka, tetapi juga bisa melalui kebudayaan yang ada di masyarakat tersebut, dalam hal ini khususnya kebudayaan Jawa.

    ReplyDelete
  26. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Seseorang dapat memberikan nasihat dan ajakan kepada orang lain dengan cara halus, seperti tembang lir ilir di atas yang memiliki makna sangat dapat mengena. mengajak orang orang untuk sadar akan beberapa hal. bahwa di dalam hidup ini banyak yang harus diperbaiki.

    ReplyDelete
  27. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Dalam elegi di atas yang diangkat adalah mengenai filsafat sastra jawa. Sastra jawa adalah salah satu sarana untuk menyampaikan kebenaran-kebenaran tersirat secara santun dan indah. Adapun wangsalan, wangsalan adalah sastra jawa yang bertujuan untuk menyampaikan kebenaran ontologis. Kemudian parikan dan pasemon adalah sastra jawa yang berisi pesan moral. Jadi sesungguhnya proses kehidupan manusia dan pesan-pesan yang baik untuk kehidupan manusia dapat disampaikan dengan cara yang santun dan indah, yaitu melalui sastra jawa.

    ReplyDelete
  28. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika

    Didalam sastra jawa terdapat adanya unsur seni yang sangat bernilai tinggi selain itu terdapat banyak makna disetiap sastranya. Jika kandungan didalam sastra tersebut diterapkan didalam kehidupan sehari-hari maka akan sangat baik bagi kehidupan kita. Namun kenyataannya banyak orang jawa yang tidak mengerti makna dari karya jawa yang ia ketahui.

    ReplyDelete
  29. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam budaya Jawa banyak sekali cara yang digunakan untuk memberikan ilmu. Salah satunya melalui tembang – tembang Jawa, tembang atau lagu Jawa yang terkenal antara lain Mijil, Sinom, Maskumambang, Asmarandana, Dhandhanggula, Kinanthi, Gambuh, Durmo, Pangkur, Megatruh, dan Pocung. Setiap – setiap tembang tersebut memiliki makna tersendiri yang menggambarkan perjalanan seseorang dari lahir ke bumi sampai ke akhirat. Di setiap tembang juga selalu ada pesan moral yang tersirat.

    ReplyDelete
  30. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Sastra Jawa memberi pesan bahwa menjaga relasi dengan orang lain sangatlah penting. Tidak kalah pentingnya dalam hal menyampaikan maksud kepada orang lain. Dalam menyampaikan maksud perlu mempertimbangkan pemilihan bahasa yang tepat dan dapat diterima,. Selain bahasa yang perlu diperhatikan adalah cara menyampaikan pun tentunya dengan cara yang sopan dan santun sesuai kebudayaan bangsa kita. Selain itu juga menyiratkan tentang kebijaksanaan hidup dan bahwa segala sesuatu yang dalam kehidupan ini dapat digambarkan melalui budaya. Tugas kita semua adalah menjaga kelestarian budaya agar tetap terjaga.

    ReplyDelete
  31. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setelah membaca elegi di atas, ternyata budaya jawa mempunyai nilai kebudayaan yang sangat tinggi. Sastra jawa mengandung arti pesan moral tentang nilai-nilai kehidupan serta mengajarkan sopan santun atau unggah-ungguh. Bahkan perjalanan manusia dari lahir sampai meninggal pun terkandung dalam macam-macam tembang jawa.

    ReplyDelete
  32. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Di zaman sekarang ini banyak orang yang tidak mau melestarikan kebudayaan jawa. Padahal kebudayaan jawa mempunyai nilai-nilai moral yang tinggi. Banyak kejadian dimana orang tua malah bangga anaknya pintar berbahasa inggris, tetapi tidak tahu bahasa jawa.

    ReplyDelete
  33. Ajeng Puspitasari/ 14301241005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Sastra jawa sebenarnya mengandung banyak peajaran bermakana, bahkan mengandung kebaikan. Saya ambil contoh tentang wangsalan. Wangsalan bertugas menyampaikan kebenaran namun dengan cara tak langsung. Nah, coba jika diambil pelajarannya. Kita sering mendapatkan rintangan, ujian, dan hambatan. Namun, tujuan dari semua itu ialah demi kebaikan kita, agar dimensi kita naik tingkat. Bukankah konsep ini sama dengan wangsalan?. Namun, menjadi peringatan bagi saya ribadi pula. Saya orang jawa namun tak memahami seluk beluk sastra jawa itu sendiri, padahal budayanya sungguh elok.

    ReplyDelete
  34. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam Elegi menggapai sastra jawa di atas menunjukkan bahwa kebuduyaan jawa khususnya sastra jawa sangat banyak macamnya. Banyak makna-makna kehidupan yang dapat dipetik dalam sastra jawa tersebut. Salah satu yang menarik adalah pasemon yang menceritakan makna dari Lir Ilir. Di bait terakhir disebutkan bahwa manusia harus pandai-pandai bersyukur kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  35. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Salah satu sastra jawa yang lain yaitu tembang macapat. Terdapat 11 macam tembang. Tembang-tembang tersebut yaitu Mijil, Sinom, Maskumambang, Asmaradana, Dhandanggula, Kinanthi, Gambuh, Durmo, Pangkur, Megatruh, dan Pocung. Jika diperhatikan lagi, bahwa tembang-tembang tersebut merupakan representasi kehidupan kita. Mulai dari lahir (Mijil) sampai dengan saat kita siap dimakamkan (Pocung)

    ReplyDelete
  36. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Dalam budaya jawa banyak terkandung nilai kehidupan dan budi luhur. Antara lain ialah filosofis kebaikan, pesan moral walaupun secara inplisit. Namun generasi saat ini banyak yang tidak mengerti bahwa dibalik wangsalan, parikan, tembang-tembang jawa terkandung pesan-pesan moral kehidupan.

    ReplyDelete
  37. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Hal ini dapat dikarenakan pembelajaran mengenai hal ini yang mulai mengurang ataupun karena adanya budaya barat yang ikut mempengauhi perkembangan anak muda jaman sekarang. Oleh karena itulah generasi muda kita seharusnya tak hanya mengikuti perkembangan jaman saja hingga melupakan warisan budayanya sendiri. Belajar dan memahami serta melestarikan warisan budaya adalah suatu hal yang harus dilakukan.

    ReplyDelete