Feb 26, 2011

Elegi Menggapai Sastra Jawa




Oleh Marsigit

Sastra Jawa:
Masih persoalan misteri yang tersembunyi. Kenapa engkau masih risau? Bukankah itu adalah lumrah jika memang membawa manfaat. Salah satu manfaatnya adalah agar kebenaran itu dapat disampaikan dengan cara yang santun. Bukankan ancaman bagi orang yang tidak santun itu adalah kebodohan? Maka dengan ini saya akan memberikan sedikit ruang dan waktunya bagi para anggotaku untuk menguraikan epistemologinya, bagaimana mereka sengaja menyembunyikan ontologinya.

Wangsalan:
Kenalkanlah, aku adalah wangsalan. Pekerjaanku adalah menyampaikan kebenaran ontologis, tetapi epistemologiku adalah dengan cara tak langsung. Yang aku maksud dengan cara tak langsung adalah aku selalu membuat pendahuluan kepada setiap kalimatku agar yang mendengar atau menerima pesan dariku merasa nyaman.

Sastra Jawa:
Berikanlah contohnya?

Wangsalan:
Perhatikan kalimatku ini: “Dewa tirta, tirta andheging baita”.
Dewa tirta adalah Sang Yang Baruna.
Tirta andheging baita adalah pelabuhan.
Maka sebetulnya saya ingin mengatakan:”Pra taruna, kondhang labuhe mring nagara”

Sastra Jawa:
Apakah masih ada contoh yang lain?

Wangsalan:
Perhatikan kalimatku ini:”Ujung jari, balung roning kalapa”
Ujung jari itu adalah kuku.
Balung roning kalapa itu adalah sada.
Maka sebetulnya saya ingin mengatakan:”Winengkua sayekti dadi usada”

Sastra Jawa:
Masih ada yang lain?

Wangsalan:
Perhatikan kalimatku ini:”Balung janur, janur ingisenan boga”
Balung janur itu adalah sada.
Janur ingisenan boga itu adalah kupat.
Maka sebetulnya saya ingin mengatakan:”Widada, lepat saking sambekala”

Sastra Jawa:
Selain wangsalan, apakah masih ada?

Parikan:
Kenalkan saya adalah parikan. Fungsiku adalah untuk menyampaikan ajaran moral.

Sastra Jawa:
Berikan contohnya?

Parikan:
Perhatikan kalimatku ini:”Kandang panggonan sapi”
Sebetulnya saya ingin menyampaikan pesan moral:”Ayo tandang sing premati”

Sastra Jawa:
Oh begitu, saya ingin contoh lagi?

Parikan:
Perhatikan kalimatku ini:”Rujak kawis, wontene ming awis-awis”
Sebetulnya saya ingin mengtakan:”Aja ngawis, nembah Gusti tanpa uwis”

Sastra Jawa:
Baiklah, apakah masih ada yang lainnya?

Purwakinanthi:
Kenalkan aku adalah purwakinanthi. Fungsiku juga seperti yang lainnya, hanya saja aku sangat memperhatikan keindahan.

Sastra Jawa:
Contohnya?

Purwakinanthi:
Perhatikan kalimatku ini:”Rujak laos, digodhog lestari atos”
Sebetulnya saya ingin mengatakan:”Dhurung jegos anggepe kaya wis bonthos”

Sastra Jawa:
Wah menarik, beri contohnya yang lain?

Purwakinanthi:
Perhatikan kalimatku ini:”Rujak jambe rujake wong dhemen ngame”
Sebetulnya saya ingin mengatakan:”tanpa gawe uripmu mung mampir ngombhe”

Sastra Jawa:
Apakah masih ada yang ingin menyampaikan?

Pasemon:
Kenalkan, saya adalah pasemon. Pekerjaan saya adalah menyampaikan pesan moral dengan cara simbolik atau tersirat. Aku sudah sering digunakan oleh para Wali dari Kerajaan Demak Bintara.

Sastra Jawa:
Silahkan beri contohnya?

Pasemon:
Perhatikan bait-bait nyanyianku:
"Ilir-ilir tandure wus sumilir", itulah pasemonku untuk mengajak orang-orang menggapai kesadarannya, karena kesadaran adalah awal dan pangkal dari ilmu. Sedangkan ajakanku itu dikarenakan adanya kesempatan untuk menuntut ilmu.

"Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar", itulah pasemonku untuk menggambarkan semangat "munculnya kesadaran" sebagaimana semangatnya temanten anyar.

"Bocah angon-bocah angon penekna blimbing kuwi", itulah pasemonku..bocah angon sama saja dengan bocah gunung pada Elegi saya yang lain, maksudnya adalah "keadaan tidak prejudice". Maka hanyalah orang-orang yang ikhlas dalam hati, berpikir netral, tidak prejudice, tidak berprasangka buruk, ikhlas dalam pikir atau pure-reason lah yang mampu menuntut ilmu. Maka hanya kepada merekalah aku menyuruh untuk menuntut ilmu atau "menek blimbing".

"Lunyu-lunyu penekna, kanggo masuh dodotira", itulah pasemonku untuk menggambarkan bahwa mencari ilmu itu tidaklah mudah, yaitu seperti lunyu (licinnya) memanjat pohon. Ilmu iku kelakone kanthi laku (menek). Dodot itu pakaian (Jawa: jarit/sarung), maka "masuh dodot" itu artinya membasuh baju. Artinya, ilmu itu bermanfaat untuk kepentingan dan kebutuhan menyelesaikan persoalan hidup sehari-hari.

"Dodotira kumitir bedhahing pinggir", itulah pasemonku untuk menggambarkan bahwa hidup itu penuh dengan tantangan, persoalan dan cobaan serta ujian. Kalimatku itu juga untuk menggambarkan bahwa manusia itu punya sifat tidak sempurna. Kumitir itu berkibar, artinya pertanda yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia yang mampu menyadarinya sekaligus kesadaran akan adanya suratan takdir dari Nya.

"Dondomana, jlumatana kanggo seba mengko sore", itulah pasemonku bahwa manusia juga ditakdirkan untuk berikhtiar. Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang jika ybs tidak berikhtiar. Kanggo seba mengko sore, itu artinya untuk menggapai alam abadi atau akhirat.

"Mumpung jembar kalangane", itulah pasemonku untuk menggambarkan pentingnya "ruang". Maka sadar akan ruang itu adalah suatu awal dan pangkal dari ilmu. Ruang itu adalah wadahnya ilmu. Sadar ruang itu artinya "mpan papan", mengetahui sedang bicara apa dan kepada siapa serta dimana. Itulah sopan santun memperoleh ilmu. Barang siapa tidak santun maka dia terancam tidak berilmu.

"Mumpung padhang rembulane", itulah pasemonku untuk menggambarkan pentingnya sadar "waktu".Maka sadar akan waktu itu adalah suatu awal dan pangkal dari ilmu. waktu itu adalah wadahnya ilmu. Sadar waktu itu artinya "mpan wektu", mengetahui sedang bicara apa dan kapan bicara. Itulah juga sopan santun memperoleh ilmu. Barang siapa tidak santun maka dia terancam tidak berilmu.

"Yo suraka surak hore", itulah pasemonku untuk menggambarkan bahwa suatu perolehan apapun, disadarai atau tidak disadari, itu harus merupakan kesadaran bahwa yang demikian semata-mata karena kebesaran Allah SWT. Maka manusia itu harus pandai-pandai bersyukur. Amiin.

Sastra Jawa:
Padhang trawangan. Terimakasih, terimakasih pasemon, penjelasanmu sudah sangat jelas.
Pada periode berikutnya saya ingin member kesempatan para “tembang” untuk memperkenalkan dirimu masing-masing, kalau perlu berikan contohnya?

Mijil:
Aku adalah nama tembang. Tetapi aku mempunyai arti sebagai “lahir”. Maka tembanganku itu menggambarkan bagaimana keadaan permulaan kehidupan itu. Berikut adalah contoh tembang mijil:”Madya ratri kentarnya mangikis, sira sang lir sinom, saking taman miyos butulane, datan wonten cethine udani, lampahe lestari, wus ngambah marga gung” (Serat Srikandhi Maguru Manah dalam Soetrisno)

Sinom:
Aku adalah nama tembang. Aku mempunyai arti “muda”. Maksudnya aku bisa melambangkan keadaan seorang anak muda yang mulai berkembang. Tembangku “Mangkana janma utama, tuman-tumaneming sepi, ing saben rikala mangsa, masah amemasuh budi, laire anetepi, ing roh kasatriayanipun, susila anoraga, wignya met tyasing sesame, yeku aran wong barek berag agama”(Serat Wedhatama dalam Soetrisno)

Maskumambang:
Kenalkan, aku juga nama tembang jawa. Maskumambang itu terdiri dari emas atau perhiasan. Kumambang berarti terlihat dan bersinar. Aku menggambarkan keadaan seorang anak yang menuju dewasa, sudah mulai akil balig, bersinar seperti perhiasan emas. Tembangku:”Gelangsaran Putri Cina kawlas asih, Wara Kelaswara, Pedhangen juren wak mami, Aja andedawa lara” (Serat Menak dalam Soetrisno)

Asmaradana:
Kenalkan aku adalah juga nama tembang jawa. Asmara itu cinta, dana itu memberi. Jadi aku menggambarkan keadaan remaja atau orang muda yang sedang berkisah kasih. Tembangku:”Dudu ngakeh trusing gendhing, ngakal lungiting susastra, ngakal ing gendhing jatine, babaring jatining sastra, kawitaning aksara, sawiji alif kang tuduh, mengku gaibul uwiyah” (Serat Sastra Gendhing dalam Soetrisno)

Dhandhanggula:
Dhandang itu hitam. Gula itu manis. Gula hitam itu manisnya madu. Jadi aku menggambarkan seseorang yang telah menemukan manisnya kehidupan, yaitu pasangan suami isteri. Tembangku:”Rukun Islam kang lima puniki, katindakna mring pra sasama, aja padha ditinggalke, rukun lima puniku, sahadate kang angka siji, kang angka lara salat, dene kang katelu, ramadhan nindakna pasa, kapat zakat ping lima ngibadah haji, rukun Islam sampurna” (Anom Surata dalam Soetrisno).

Kinanthi:
Kinanti itu menanti. Aku adalah ajakan untuk menapaki rumah tangga yang baik. Tembangku:”Mangka kanthining tumuwuh, kanthi harsayeng kayun, kanthi pedah luhung, sayekti kanthi utama” (Soetrisno)

Gambuh:
Gambuh itu cocok, harmoni, seimbang, jumbuh, selaras, serasi. Aku melambangkan kehidupan rumah tangga yang mawadah, warokhmah dan sakinah. Tembangku:”Rasaning tyas kayungyun, angayomi lukitaning gambuh, gambir wana kalawan hening ing ati, katenta kudu pitutur, sumingkiring reh tyas mirong” (Serat Sabdatama dalam Soetrisno)

Durmo:
Dur itu mundur. Mo itu momor. Maksudnya adalah aku menggambarkan keadaan di mana manusia sudah saatnya mundur dari dunia dan maju menghadapi akhirat. Tembangku:”Gunane sanepan paribasan jawi, ngaka madya krama hinggil, lire tata krama, kanggo jroning pasrawungan, tindak tanduk kang becik, tan tanpa kulakan, nanging bisa mranani”(Purwadi, Desa Mawa cara dalam Soetrisno)

Pangkur:
Pangkur betul-betul mungkur. Tidak ada waktu lagi untu menunda persiapan akhir menuju akhirat. Tembangku:”Mingkar mingkuring ukara, akarana karenaning mardisiwi, sinawung resmining kidung, sinuba sinukarta, mrih kretarta pakartine ngelmu luhung, kang tumrap neng tanah jawa, agama ageing aji”(Serat Wedhatama dalam Soetrisno)

Megatruh:
Megat itu pisah. Ruh itu arwah. Megatruh itu pisahnya jiwa dan raga atau meninggal dunia. Tembangku:”Para jalma sajroning jaman pakewuh, kasudranira andadi, durune saya ndarung, keh tyas mirong murang margi, kasekten wus nora katon”(Serat Sabda Jati dalam Soetrisno)

Pocung:
Pocung adalah tata cara ngrupti orang meninggal dunia, memandikan, menyolatkan dsb. Tembangku:”Bapak pucung dudu watu dudu gunung, sangkaning ing sabrang, ngon-ingoning sang Bupati, yen lumlaku si pucung lembehan grana”.

Sastra Jawa:
Baik..baik..wah..wah njlimet tenan. Terimakasih. Semoga bermanfaat. Amiin

Referensi:
Dr. Soetrisno, R, MSi, 2004, Nilai Filosofis Kidung Pakeliran, Yogyakarta: Adita Pressindoesti

23 comments:

  1. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam Elegi menggapai sastra jawa di atas menunjukkan bahwa kebuduyaan jawa khususnya sastra jawa sangat banyak macamnya. Banyak makna-makna kehidupan yang dapat dipetik dalam sastra jawa tersebut. Salah satu yang menarik adalah pasemon yang menceritakan makna dari Lir Ilir. Di bait terakhir disebutkan bahwa manusia harus pandai-pandai bersyukur kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  2. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Salah satu sastra jawa yang lain yaitu tembang macapat. Terdapat 11 macam tembang. Tembang-tembang tersebut yaitu Mijil, Sinom, Maskumambang, Asmaradana, Dhandanggula, Kinanthi, Gambuh, Durmo, Pangkur, Megatruh, dan Pocung. Jika diperhatikan lagi, bahwa tembang-tembang tersebut merupakan representasi kehidupan kita. Mulai dari lahir (Mijil) sampai dengan saat kita siap dimakamkan (Pocung)

    ReplyDelete
  3. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Dalam budaya jawa banyak terkandung nilai kehidupan dan budi luhur. Antara lain ialah filosofis kebaikan, pesan moral walaupun secara inplisit. Namun generasi saat ini banyak yang tidak mengerti bahwa dibalik wangsalan, parikan, tembang-tembang jawa terkandung pesan-pesan moral kehidupan.

    ReplyDelete
  4. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Hal ini dapat dikarenakan pembelajaran mengenai hal ini yang mulai mengurang ataupun karena adanya budaya barat yang ikut mempengauhi perkembangan anak muda jaman sekarang. Oleh karena itulah generasi muda kita seharusnya tak hanya mengikuti perkembangan jaman saja hingga melupakan warisan budayanya sendiri. Belajar dan memahami serta melestarikan warisan budaya adalah suatu hal yang harus dilakukan.

    ReplyDelete
  5. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Pelajaran hidup dapat kita ambil dari berbagai aspek, seperti dalam elegi yang bapak tuliskan di atas yang membahas tentang sastra jawa. Hal ini membuka pemikiran saya bahwa melalui sastra atau kesenian yang berasal dari jawa kita dapat mempelajari suatu ilmu, atau dengan kata lain terdapat hikmah dibalik sastra jawa yang telah ada sejak zaman nenek moyang kita. Salah satu sastra jawa yaitu parikan yang bermaksud untuk menyampaikan ajaran moral bagi para pembacanya. Selain itu ada pula pasemon yang berupa nyanyian dan ternyata telah digunakan para wali dari kerajaan terdahulu untuk mengajarkan pesan moral bagi para pendengarnya. Selanjutnya adalah tembang yang biasa dikenal dengan tembang macapat dan digunakan pula sebagai perantara menyampaikan pesan moral bagi pendengarnya. Tembang macapat merupakat salah satu tembang jawa yang sarat akan makna dan nilai-nilai luhur kehidupan manusia. Tembang macapat yang digolongkan menjadi sebelas menggambarkan kisah atau perjalanan manusia dari masa didalam kandungan ibu sampai meninggal dunia menghadap tuhan maha kuasa. Berdasarkan hal tersebut, sudah semestinya kita sebagai manusia untuk selalu mencari ilmu sampai kapanpun dan dimanapun.

    ReplyDelete
  6. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Pesan moral dapat diletakkan dan diperoleh di mana saja. Sastra Jawa salah satunya. Saya sebagai orang yang lahir dan besar di tanah Jawa merasa sedang melakukan recharge sastra Jawa lewat elegi ini. Tapi secara intrinsik, saya memahami bahwa budaya-budaya Jawa yang masih hidup kuat di lingkungan saya mengandung pesan moral yang tinggi, terdapat pesan beretikan yang dikemas secara apik dalam estetika.

    ReplyDelete
  7. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Subhanallah, ternyata budaya jawa mempunyai nilai kebudayaan yang sangat tinggi. Sastra jawa mengandung arti tentang nilai-nilai kehidupan, mengajarkan sopan santun atau unggah-ungguh, juga terdapat pesan moral. Bahkan perjalanan manusia dari lahir sampai meninggal pun terkandung didalam macam-macam tembang jawa.
    Namun sayangnya, di jaman ini banyak orang yang tidak mau melestarikan kebudayaan jawa. Banyak kejadian dimana orang tua malah bangga anaknya pintar berbahasa inggris, tetapi tidak tahu bahasa jawa. Sungguh memprihatinkan.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  8. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Sastra yang kita kenal sebagai seni kebudayaan bukanlah hiburan semata namun mengandung nilai dan pesan moral. Salah satu contoh sastra jawa adalah lagu lir ilir. Lagu ini tidak hanya sekedar nyanyian biasa namun mengandung pesan/makna tentang asal-usul dan tujuan hidup. Lagu ini mengajak untuk melakukan kebaikan di tengah kesempatan yang terbentang di dunia sebagai bekal hari akhir Semoga kita sebagai sang begawat diberikan pikiran yang jernih untuk mudah memahami makna yang tersirat dan melestarikan sastra-sastra yang berseni dan berilmu.

    ReplyDelete
  9. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    Pendidikan Matematika Kelas B(S2)

    Setiap negara memiliki kebudayaannya masing-masing, dan setiap kebudayaan memiliki kelebihan dan nasihat yang dapat mengarahkan masyarakat dalam negara tersebut mempelajarinya dan menjadikan warga yang lebih baik. Contohnya saja pada kebudayaan Jawa yang memiliki kesastraan yang sarat akan nasihat yang dapat membimbing kita ke arah yang lebih baik. Sastra Jawa tersebut adalah seperti wangsalan, parikan, purwakanthi, pasemon, mijil, sinom, maskumambang, asmaradana, dhandhanggula, kinanthi, gambuh, durmo, pangkur, megatruh, dan pocung. Semuanya mengandung pesan-pesan yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat di Indonesia, seperti mengajarkan untuk bersyukur, ikhlas, bertakwa, dan menyadari kebesaran dan karunia Tuhan yang telah diberikan selama ini. Syair-syair yang dilantunkan tersebut diiringi dengan nada-nada yang enak di dengar sehingga penikmatnya dapat menyanyikan secara bersama-sama agar semakin menghayati dan mengetahui maksud lagu tersebut.

    ReplyDelete
  10. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Subhanallah, luar biasa sekali kebudayaan dan Sastra Jawa. Seperti beberapa sumber yang pernah saya dapatkan mungkin itu merupakan salah satu cara dari wali terdahulu untuk mengajarkan Agama islam di tengah budaya Kejawen yang sudah mendarah daging. Akhirnya nilai-nilai islam dikemas dalam bentuk Lagu-Lagu, kebiasaan maupun ibadah-ibadah yang tentunya tidak bertentangan dengan ajaran islam. Mari kita melestarikan budaya Jawa tanpa harus melanggar batas-batas keIslaman kita.

    ReplyDelete
  11. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Obyek pikir filsafat ialah meliputi semua yang ada dan yang mungkin ada. Demikian pula dengan sastra jawa juga dapat kita jadikan sebagai objek pikir filsafat yang kita refleksikan melalui olah pikir filsafat. Di samping indah didengar dan diucapkan, di dalam sastra jawa terdapat banyak sekali pesan dan nasehat yang disampaikan dengan cara tidak langsung. Bahasa yang digunakan tidak dapat dengan mudah langsung dipahami oleh pendengarnya, tetapi setiap kalimatnya memiliki makna yang mendalam. Dengan nasihat yang seperti itu, orang-orang tidak akan mudah tersinggung. Dalam bahasa filsafat, sastra jawa memiliki epistemologi (cara) untuk menyembunyikan ontologi (hakekat)-nya.

    ReplyDelete
  12. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi menggapai sastra jawa, dari elegi ini saya belajar bahwasanaya dari sastra jawa kita dapat mempelajari mengenai moral kehidupan dan perjalanan hidup dari lahir, anak-anak, muda, dewasa, menikah, tua dan akhirnya meninggal. Contohnya saja dari Purwokinanthi ”tanpa gawe uripmu mung mampir ngombhe”, yang kurang lebih artinya hidup di dunia ini Cuman sebentar sehingga kita harus memanfaatkan dengan sebaikbaiknya untuk menuntut ilmu dan beribadah kepada Allah swt. Itulah nilai moral yang kita dapat dari purwokinanthi. Sementara itu dari sebuah tembang tenyata menggambarkan sebuah siklus kehidupan yaitu (1) mijil menggambarkan kelahiran (2) Sinom menggambarkan masa muda (3) Maskumambang menggambarkan anak yang menuju kedewasaan (4) Asmaradana menggambarkan orang muda yang mulai merasakan jatuh cinta (5) Dhandhanggula menggambarkan penikahan (6) Kinanthi menggambarkan memulai kehidupan rumah tangga (7) Gambuh menggambarkan rumah tangga yang sakinah mawadah dan warohmah (8) Durmo menggambarkan masa tua dimana sudah saatnya untuk lebih mendekatkan dirikepada Allah (9) Pangkur menggambarkan akhir kehidupan semakin dekat (10) Megatruh menggambarkan kematian dan (11) Pocung menggambarkan tata cara memperlakukan jenazah (setelah kematian). Terima Kasih.

    ReplyDelete
  13. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Terimakasih pak atas postingan yang berjudul Elegi Menggapai Sastra Jawa. Saya memang bukan orang jawa dan saya juga kurang memahami arti dari bahasa jawa. Saya hanya mengerti beberapa kata dan kalimat saja dari bahasa jawa. Dari postingan bapak yang menggunakan bahasa jawa, saya menjadi termotivasi untuk mempelajari bahasa jawa, karena saya sangat meyakini banyak ilmu yang diperoleh ketika kita mengerti bahasa, selain bahasa ibu. Meskipun saya harus membacara berulang ulang kalimat yang bapak tulis dari postingan yang menggunakan bahasa jawa, setidaknya saya bisa membiasakan diri dengan kata-katanya. Kemudian, saya terbantu juga dengan komentar-komentar teman-teman yang memang asli jawa atau sudah lama tinggal di jawa, setidaknya saya mengerti apa yang ingin disampaikan dari tulisan ini. Setelah saya membaca komentar dari mbak Septiyana Wulandari, ternyata postingan ini ingin menyampaikan moral kehidupan dan proses hidup manusia dari lahir hingga mati. Saya ucapkan banyak terimakasih juga kepada teman-teman yang berkomentar mengenai intisari dari postingan ini.

    ReplyDelete
  14. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Terimakasih pak atas postinganyya. ELegi menggapai sastra jawa disini, menggambarkan perjalanan kehidupan manusia. Sastra Jawa pada postingan ini seperti wangsalan, parikan, purwakanthi, pasemon, mijil, sinom, maskumambang, asmaradana, dhandhanggula, kinanthi, gambuh, durmo, pangkur, megatruh, dan pocung. Semuanya mengandung pesan-pesan yang bermanfaat bagi kehidupan. Menceritakan perjalanan hidup dari lahir, hingga nantinya kita telah dikubur menjadi jenazah.

    ReplyDelete
  15. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    PPs. PM A 2017

    Sastra jawa merupakan salah satu bukti kekhasan Indonesia. Sastra jawa memiliki keunikan yaitu memiliki banyak kosakata yang dapat dijadikan sebuah alimat yang indah yang mengandung arti kehidupan seperti contoh di atas.
    Kosa kata Jawa yang paling saya suka adalah lir ilir dan 3 semboyan Ki Hajar Dewantara, yaitu Ing ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Karena menurut saya semboyan2 tersebut dapat dijadikan motivasi dan penyemangat dalam kehidupan ini.

    ReplyDelete
  16. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    Dari elegi di atas, saya melihat betapa banyak hal -hal yang ada dan yang mungkin ada yang bisa digambarkan dengan sastra jawa. disini sastra jawa menunjukkan salah satu ciri khas dari bangsa indonesia yang terdiri dari beragam bahasa, suku, dan budaya.

    ReplyDelete
  17. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Sasatra jawa melahirkan berbagai kesenian yang beragam dan dalam hal ini kami sering merasa menjadi orang jawa tetapi ora njawani, karena kami terkadang masih asing dan malahan kadang tidak mengerti apa arti bahkan maknanya. Selain menjadi alat komunikasi sastra-sastra jawa tersebut juga menjadi kesenian yang pada zaman sekarang sering di tinggalkan prang kalangan pemuda-pemuda jawa, hal ini mejadai intropeksi bagi kami untuk mengeksiskan lagi sastra jawa di kalangan muda agar tidak punah. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  18. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Uraian di atas menggambarkan bahwa banyak makna kehidupan yang dapat digali dari Sastra Jawa, seperti wangsalan, tembang, parikan, pasemon, dan purwokinanthi. Seperti lagu Lir ilir yang sangat popular bagi masyarakat Jawa. Lagu lir ilir ini diciptakan oleh Sunan Kalijaga dan digunakan dalam berdakwah penyebaran ajaran agama Islam. Banyak makna yang tersirat dari lagu indah tersebut. Seperti dalam lirik “Dondomana, jlumatana kanggo seba mengko sore” yang bermakna bahwa dalam hidup ini, manusia harus selalu berikhtiar. Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, jika mereka tidak mau mengubahnya sendiri (ikhtiar). ”Mumpung jembar kalangane” menunjukkan kesadaran ruang dan “mumpung padhang rembulane” menunjukkan kesadaran waktu. Selain itu, dalam Sastra Jawa juga ada parikan atau dalam Bahasa Indonesia disebut pantun. Pantun ini tentunya berupa pantun nasehat yang memberikan pesan kehidupan pada manusia untuk hidup lebih baik.

    ReplyDelete
  19. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih sekali saya ucapkan kepada Bapak yang telah berbagi ilmu melalui postingan ini. Saya sangat penasaran dengan sastra Jawa. Meski saya orang Jawa yang dibesarkan di Pulau Sumatera merasakan bahwa betapa indahnya sastra Jawa. Saya baru mengetahui sastra tersebut saat saya merantau belajar ke pulau Jawa. Jiwa saya meski dibesarkan di pulau Sumatera namun sangatlah tentram saat berada di pulau Jawa. Saya tidaklah tahu semua bahasa Jawa yang tertulis di dalamnya. Adanya arti sedikit yang diberikan pada pernyataan dalam ulasan di atas sedikit membuat saya terkagum dan merenung isi yang tersirat dalam sastra tersebut. Saya sangat suka dengan bahasan yang terkait dengan sopan santun. Inilah yang membawa kesuksesan dalam menuntut ilmu. Semoga seiring waktu yang saya jalani dalam proses belajar saat ini mampu meningkatkan sopan santun dalam diri saya. Saya juga semakin sadar bahwa sopan santun harus diutamakan saat menuntut ilmu.

    ReplyDelete
  20. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Menurut elegi ini, sastra adalah hasil kreasi dari manusia, maka sastra memiliki banyak macam. Contohnya sastra indonesia, sastra inggris, sastra jawa, dll. Sastra jawa berkembang karena dahulu orang-orang di jawa menggunakan bahasa sehari-hari yang mudah mereka pahami, sehingga kemudian berkembang dan banyak yang mempelajarinya. Tidak hanya meliputi bahasa saja, tetapi melingkupi hal-hal yang berhubungan dengan adat jawa, sopan santun, tata krama, nyanyian klasik jawa misalnya tembang macapat, pantun atau parikan. Hal tersebut merupakan bentuk ungkapan dari pemikiran yang filosofis dari orang jawa.

    ReplyDelete
  21. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Filsafat meliputi segala yang ada dan yang mungkin ada. Sehingga segala aspek dalam kehidupan dapat dijelaskan secara filsafat. Termasuk tentang sastra jawa. Dalam sastra jawa terdapat wangsalan, wangsalah adalah menyampaikan sesuatu dengan analogi. Ada juga parikan yaitu tentang ajaran moral. Ada juga purwakinanthi yang berisikan moral namun disampaikan dengan keindahan. Ada juga pasemon, ada juga macam-macam tembang atau lagu. Mulai dari lagu mijil, sinom, maskumambang, asmaradana, pocung yang sering kita dengar dan lain masih banyak juga. Disinilah kita sebagai warga negara harus bisa melestarikan apa yang dimiliki bangsa salah satunya suku jawa maka budaya di dlamnya harus terus dilestarikan.

    ReplyDelete
  22. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas artikel menarik di atas. Dri elegi di atas kita menjadi tahu bahwa orang-orang terdahulu khususnya mereka yang lahir dan besar di jawa, menciptakan sastra jawa sedemikian rupa yang amat erat dan sangat berkaitan denga kehidupan sehari-hari. Mereka menganalogikan segala sesuatunya menjadi bentuk pantun, puisi, peribahasa, tembang-tembang dan masih banyak lagi. Dan yang terkandung di dalamnya penuh dengan pelajaran dan nilai moral. Andai semua orang yang terlahir dan besar di jawa mereka tahu dan paham betul dengan seluk beluk dan makna dari sastra jawa yang telah dibuat oleh orang-orang terdahulu maka mereka akan semakin baik dalam memaknai hidup, berperilaku apik sesuai adat dan budaya, bercita-cita yang luhur dan bertujuan yang jelas dan terarah. Inilah yang harus kita lestarikan, jangan sampai sampai kita lupa dengan jasa para pendahulu kita yang sudah gencar dalam mempromosikan budaya dengan menanamkan nilai moral dan makna kehidupan yang positif bagi kita semua. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  23. Kartika Pramudita
    17701251021
    PEP B (S2)

    Membaca elegi ini saya berpikir tentang luar biasanya sastra Jawa yang dapat dikaitkan dengan berbagai aspek kehidupan. Di samping keindahan sastra terdapat pesan moral yang disampaikan dengan sangat kental. Banyak hal yang bisa bermanfaat dalam belajar menggapai sastra Jawa diantaranya dapat menikmati keindahan bahasa dengan banyak tingkatan dan peruntukannya, serta belajar dari nilai-nilai yang terkandung dalam sastra tersebut. Bacaan tersebut juga menggugah keinginan saya untuk belajar tentang budaya Jawa yang begitu indahnya dan menyentuh pikiran dan hati. Meskipun sulit untuk menemukan makna yang terkandung di dalamnya karena pesan itu disampaikan secara tersirat dengan bahasa sastra.

    ReplyDelete