Feb 26, 2011

Elegi Menggapai Sastra Jawa




Oleh Marsigit

Sastra Jawa:
Masih persoalan misteri yang tersembunyi. Kenapa engkau masih risau? Bukankah itu adalah lumrah jika memang membawa manfaat. Salah satu manfaatnya adalah agar kebenaran itu dapat disampaikan dengan cara yang santun. Bukankan ancaman bagi orang yang tidak santun itu adalah kebodohan? Maka dengan ini saya akan memberikan sedikit ruang dan waktunya bagi para anggotaku untuk menguraikan epistemologinya, bagaimana mereka sengaja menyembunyikan ontologinya.

Wangsalan:
Kenalkanlah, aku adalah wangsalan. Pekerjaanku adalah menyampaikan kebenaran ontologis, tetapi epistemologiku adalah dengan cara tak langsung. Yang aku maksud dengan cara tak langsung adalah aku selalu membuat pendahuluan kepada setiap kalimatku agar yang mendengar atau menerima pesan dariku merasa nyaman.

Sastra Jawa:
Berikanlah contohnya?

Wangsalan:
Perhatikan kalimatku ini: “Dewa tirta, tirta andheging baita”.
Dewa tirta adalah Sang Yang Baruna.
Tirta andheging baita adalah pelabuhan.
Maka sebetulnya saya ingin mengatakan:”Pra taruna, kondhang labuhe mring nagara”

Sastra Jawa:
Apakah masih ada contoh yang lain?

Wangsalan:
Perhatikan kalimatku ini:”Ujung jari, balung roning kalapa”
Ujung jari itu adalah kuku.
Balung roning kalapa itu adalah sada.
Maka sebetulnya saya ingin mengatakan:”Winengkua sayekti dadi usada”

Sastra Jawa:
Masih ada yang lain?

Wangsalan:
Perhatikan kalimatku ini:”Balung janur, janur ingisenan boga”
Balung janur itu adalah sada.
Janur ingisenan boga itu adalah kupat.
Maka sebetulnya saya ingin mengatakan:”Widada, lepat saking sambekala”

Sastra Jawa:
Selain wangsalan, apakah masih ada?

Parikan:
Kenalkan saya adalah parikan. Fungsiku adalah untuk menyampaikan ajaran moral.

Sastra Jawa:
Berikan contohnya?

Parikan:
Perhatikan kalimatku ini:”Kandang panggonan sapi”
Sebetulnya saya ingin menyampaikan pesan moral:”Ayo tandang sing premati”

Sastra Jawa:
Oh begitu, saya ingin contoh lagi?

Parikan:
Perhatikan kalimatku ini:”Rujak kawis, wontene ming awis-awis”
Sebetulnya saya ingin mengtakan:”Aja ngawis, nembah Gusti tanpa uwis”

Sastra Jawa:
Baiklah, apakah masih ada yang lainnya?

Purwakinanthi:
Kenalkan aku adalah purwakinanthi. Fungsiku juga seperti yang lainnya, hanya saja aku sangat memperhatikan keindahan.

Sastra Jawa:
Contohnya?

Purwakinanthi:
Perhatikan kalimatku ini:”Rujak laos, digodhog lestari atos”
Sebetulnya saya ingin mengatakan:”Dhurung jegos anggepe kaya wis bonthos”

Sastra Jawa:
Wah menarik, beri contohnya yang lain?

Purwakinanthi:
Perhatikan kalimatku ini:”Rujak jambe rujake wong dhemen ngame”
Sebetulnya saya ingin mengatakan:”tanpa gawe uripmu mung mampir ngombhe”

Sastra Jawa:
Apakah masih ada yang ingin menyampaikan?

Pasemon:
Kenalkan, saya adalah pasemon. Pekerjaan saya adalah menyampaikan pesan moral dengan cara simbolik atau tersirat. Aku sudah sering digunakan oleh para Wali dari Kerajaan Demak Bintara.

Sastra Jawa:
Silahkan beri contohnya?

Pasemon:
Perhatikan bait-bait nyanyianku:
"Ilir-ilir tandure wus sumilir", itulah pasemonku untuk mengajak orang-orang menggapai kesadarannya, karena kesadaran adalah awal dan pangkal dari ilmu. Sedangkan ajakanku itu dikarenakan adanya kesempatan untuk menuntut ilmu.

"Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar", itulah pasemonku untuk menggambarkan semangat "munculnya kesadaran" sebagaimana semangatnya temanten anyar.

"Bocah angon-bocah angon penekna blimbing kuwi", itulah pasemonku..bocah angon sama saja dengan bocah gunung pada Elegi saya yang lain, maksudnya adalah "keadaan tidak prejudice". Maka hanyalah orang-orang yang ikhlas dalam hati, berpikir netral, tidak prejudice, tidak berprasangka buruk, ikhlas dalam pikir atau pure-reason lah yang mampu menuntut ilmu. Maka hanya kepada merekalah aku menyuruh untuk menuntut ilmu atau "menek blimbing".

"Lunyu-lunyu penekna, kanggo masuh dodotira", itulah pasemonku untuk menggambarkan bahwa mencari ilmu itu tidaklah mudah, yaitu seperti lunyu (licinnya) memanjat pohon. Ilmu iku kelakone kanthi laku (menek). Dodot itu pakaian (Jawa: jarit/sarung), maka "masuh dodot" itu artinya membasuh baju. Artinya, ilmu itu bermanfaat untuk kepentingan dan kebutuhan menyelesaikan persoalan hidup sehari-hari.

"Dodotira kumitir bedhahing pinggir", itulah pasemonku untuk menggambarkan bahwa hidup itu penuh dengan tantangan, persoalan dan cobaan serta ujian. Kalimatku itu juga untuk menggambarkan bahwa manusia itu punya sifat tidak sempurna. Kumitir itu berkibar, artinya pertanda yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia yang mampu menyadarinya sekaligus kesadaran akan adanya suratan takdir dari Nya.

"Dondomana, jlumatana kanggo seba mengko sore", itulah pasemonku bahwa manusia juga ditakdirkan untuk berikhtiar. Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang jika ybs tidak berikhtiar. Kanggo seba mengko sore, itu artinya untuk menggapai alam abadi atau akhirat.

"Mumpung jembar kalangane", itulah pasemonku untuk menggambarkan pentingnya "ruang". Maka sadar akan ruang itu adalah suatu awal dan pangkal dari ilmu. Ruang itu adalah wadahnya ilmu. Sadar ruang itu artinya "mpan papan", mengetahui sedang bicara apa dan kepada siapa serta dimana. Itulah sopan santun memperoleh ilmu. Barang siapa tidak santun maka dia terancam tidak berilmu.

"Mumpung padhang rembulane", itulah pasemonku untuk menggambarkan pentingnya sadar "waktu".Maka sadar akan waktu itu adalah suatu awal dan pangkal dari ilmu. waktu itu adalah wadahnya ilmu. Sadar waktu itu artinya "mpan wektu", mengetahui sedang bicara apa dan kapan bicara. Itulah juga sopan santun memperoleh ilmu. Barang siapa tidak santun maka dia terancam tidak berilmu.

"Yo suraka surak hore", itulah pasemonku untuk menggambarkan bahwa suatu perolehan apapun, disadarai atau tidak disadari, itu harus merupakan kesadaran bahwa yang demikian semata-mata karena kebesaran Allah SWT. Maka manusia itu harus pandai-pandai bersyukur. Amiin.

Sastra Jawa:
Padhang trawangan. Terimakasih, terimakasih pasemon, penjelasanmu sudah sangat jelas.
Pada periode berikutnya saya ingin member kesempatan para “tembang” untuk memperkenalkan dirimu masing-masing, kalau perlu berikan contohnya?

Mijil:
Aku adalah nama tembang. Tetapi aku mempunyai arti sebagai “lahir”. Maka tembanganku itu menggambarkan bagaimana keadaan permulaan kehidupan itu. Berikut adalah contoh tembang mijil:”Madya ratri kentarnya mangikis, sira sang lir sinom, saking taman miyos butulane, datan wonten cethine udani, lampahe lestari, wus ngambah marga gung” (Serat Srikandhi Maguru Manah dalam Soetrisno)

Sinom:
Aku adalah nama tembang. Aku mempunyai arti “muda”. Maksudnya aku bisa melambangkan keadaan seorang anak muda yang mulai berkembang. Tembangku “Mangkana janma utama, tuman-tumaneming sepi, ing saben rikala mangsa, masah amemasuh budi, laire anetepi, ing roh kasatriayanipun, susila anoraga, wignya met tyasing sesame, yeku aran wong barek berag agama”(Serat Wedhatama dalam Soetrisno)

Maskumambang:
Kenalkan, aku juga nama tembang jawa. Maskumambang itu terdiri dari emas atau perhiasan. Kumambang berarti terlihat dan bersinar. Aku menggambarkan keadaan seorang anak yang menuju dewasa, sudah mulai akil balig, bersinar seperti perhiasan emas. Tembangku:”Gelangsaran Putri Cina kawlas asih, Wara Kelaswara, Pedhangen juren wak mami, Aja andedawa lara” (Serat Menak dalam Soetrisno)

Asmaradana:
Kenalkan aku adalah juga nama tembang jawa. Asmara itu cinta, dana itu memberi. Jadi aku menggambarkan keadaan remaja atau orang muda yang sedang berkisah kasih. Tembangku:”Dudu ngakeh trusing gendhing, ngakal lungiting susastra, ngakal ing gendhing jatine, babaring jatining sastra, kawitaning aksara, sawiji alif kang tuduh, mengku gaibul uwiyah” (Serat Sastra Gendhing dalam Soetrisno)

Dhandhanggula:
Dhandang itu hitam. Gula itu manis. Gula hitam itu manisnya madu. Jadi aku menggambarkan seseorang yang telah menemukan manisnya kehidupan, yaitu pasangan suami isteri. Tembangku:”Rukun Islam kang lima puniki, katindakna mring pra sasama, aja padha ditinggalke, rukun lima puniku, sahadate kang angka siji, kang angka lara salat, dene kang katelu, ramadhan nindakna pasa, kapat zakat ping lima ngibadah haji, rukun Islam sampurna” (Anom Surata dalam Soetrisno).

Kinanthi:
Kinanti itu menanti. Aku adalah ajakan untuk menapaki rumah tangga yang baik. Tembangku:”Mangka kanthining tumuwuh, kanthi harsayeng kayun, kanthi pedah luhung, sayekti kanthi utama” (Soetrisno)

Gambuh:
Gambuh itu cocok, harmoni, seimbang, jumbuh, selaras, serasi. Aku melambangkan kehidupan rumah tangga yang mawadah, warokhmah dan sakinah. Tembangku:”Rasaning tyas kayungyun, angayomi lukitaning gambuh, gambir wana kalawan hening ing ati, katenta kudu pitutur, sumingkiring reh tyas mirong” (Serat Sabdatama dalam Soetrisno)

Durmo:
Dur itu mundur. Mo itu momor. Maksudnya adalah aku menggambarkan keadaan di mana manusia sudah saatnya mundur dari dunia dan maju menghadapi akhirat. Tembangku:”Gunane sanepan paribasan jawi, ngaka madya krama hinggil, lire tata krama, kanggo jroning pasrawungan, tindak tanduk kang becik, tan tanpa kulakan, nanging bisa mranani”(Purwadi, Desa Mawa cara dalam Soetrisno)

Pangkur:
Pangkur betul-betul mungkur. Tidak ada waktu lagi untu menunda persiapan akhir menuju akhirat. Tembangku:”Mingkar mingkuring ukara, akarana karenaning mardisiwi, sinawung resmining kidung, sinuba sinukarta, mrih kretarta pakartine ngelmu luhung, kang tumrap neng tanah jawa, agama ageing aji”(Serat Wedhatama dalam Soetrisno)

Megatruh:
Megat itu pisah. Ruh itu arwah. Megatruh itu pisahnya jiwa dan raga atau meninggal dunia. Tembangku:”Para jalma sajroning jaman pakewuh, kasudranira andadi, durune saya ndarung, keh tyas mirong murang margi, kasekten wus nora katon”(Serat Sabda Jati dalam Soetrisno)

Pocung:
Pocung adalah tata cara ngrupti orang meninggal dunia, memandikan, menyolatkan dsb. Tembangku:”Bapak pucung dudu watu dudu gunung, sangkaning ing sabrang, ngon-ingoning sang Bupati, yen lumlaku si pucung lembehan grana”.

Sastra Jawa:
Baik..baik..wah..wah njlimet tenan. Terimakasih. Semoga bermanfaat. Amiin

Referensi:
Dr. Soetrisno, R, MSi, 2004, Nilai Filosofis Kidung Pakeliran, Yogyakarta: Adita Pressindoesti

66 comments:

  1. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Salah satu hal yang dibahas pada elegi diatas adalah tentang “Yo suraka surak hore" yang menggambarkan tentang apapun yang diperoleh manusia, disadari atau tidak ,haruslah merupakan kesadaran bahwa yang apapun yang kita terima, baik atau buruk semua hanya berdasar kehendak Allah SWT, dan yang demikian itu juga semata-mata karena kebesaran Allah SWT. Maka sudah sepantasnya manusia husnuzon pada semua rencana Tuhannya agar apapun yang menjadi takdir Allah dapat dilalui dengan hti ikhlas dan penuh rasa syukur.

    ReplyDelete
  2. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Ada bahasa yang tak dapat disampaikan dengan bahasa pada umumnya. Namun dengan sastra jawa nan lembut pesan – pesan moral dapat tersampaikan dengan baik dan menyentuh para pembacanya tanpa diselimuti rasa tersinggung. Sesungguhnya maksud dan tujuan penulis ingin memeberikan pesan yang membangun untuk menjadikannya lebih baik lagi ke depannya.

    ReplyDelete
  3. Berbagai bentuk sastra jawa yaitu wangsalan, parikan, purwakinanthi, pasemon, mijil, sinom, maskumambang, asmaradana, dhandhanggula, kinanthi, gambuh, durmo, pangkur, megatruh, dan pocung. Dalam keindahannya terkandung makna atau arti yang terkandung didalamnya. Dalam sastra Jawa ini terdapat makna moral dan kandungan filosofi Jawa yang dapat kita pelajari. Makna-makna moral, etika, dan estetika yang harus dilestarikan. Keragaman sastra Jawa ini menunjukkan salah satu kekayaan budaya Indonesia yang harus tetap kita lestarikan. Sekarang sangat jarang karya sastra jawa yang beredar dilingkungan kita. Seakan karya tersebut hilang.

    ReplyDelete
  4. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Perbedaan antara ilmu pengetahuan modern dengan ilmu pengetahuan jawa adalah bila ilmu pengetahuan modern mempunyai sifat yang selalu mengejar kebenaran, dan ilmu pengetahuan jawa tujuannya juga sama, tetapi bila ilmu pengetahuan modern menggunakan hasil pemikiran yang rasional dengan tujuan mencapai kebenaran dengan logika sedangkan ilmu pengetahuan jawa selalu mementingkan kebenaran etika, yaitu kebenaran dengan sifat yang bermanfaat bagi masyarakat. Kebudayaan jawa adalah hasil perkembangan masyarakat jawa yang dipelihara atas dasar kesadaran akan penting dan perlunya "nilai-nilai dalam masyarakat" tersebut, sedang pengetahuan dan filsafat jawa adalh ilmu pengetahuan dan filsafat asli yang timbul dalam kehidupan leluhur-leluhur kita dulu.

    ReplyDelete
  5. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Dari elegi diatas tradisi merupakan peninggalan dari nenek moyang yang harus kita jaga. Sudah sepantasnya kita melestarikan peninggalan nenek moyang kita dan menanamkan norma-norma baik yang ditinggalkan leluhur kita agar bangsa kita menjadi bangsa yang baik. Sastra sebagai cermin (mirror) masyarakat sering mengungkapkan perjuangan umat manusia dalam menentukan masa depan berdasarkan imajinasi, perasaan dan intuisinya. Dalam sastra Jawa terdapat banyak karya yang mengandung pesan atau nasihat  yang ingin disampaikan oleh para penciptanya. Pesan atau nasihat itu meliputi segala pesan atau nasihat yang sangat baik bila diterapkan dalam kehidupan manusia.

    ReplyDelete
  6. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Orang yang bijaksana sangat berhati-hati dalam bertutur kata dan dalam segala hal, supaya tidak terjerumus pada hal yang sia-sia. Demikian halnya dengan sastra jawa, bisa dijadikan salah satu sarana untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Seperti guru ditiru, itu artinya menjadi guru adalah suatu yang sangat mulia, karena yang boleh ditiru itu adalah orang yang memang punya keistimewaan dimata Allah.

    ReplyDelete
  7. Ika AGustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan MAtematika I 2014

    Salah satu pepatah Jawa yang menarik perhatian saya adalah "Guru, digugu lan ditiru" atau dalam bahasa Indonesia "Guru, dipercaya dan diikuti". Seperti inilah gambaran seorang guru. Siswa selalu mneganggap guru sebagai panutan yang benar. Sebagian siswa akan meniru setiap gerak-gerik dan ucapan guru. Oleh karenanya, guru harus selalu berhati-hati dalam bersikap, dan berbicara.

    ReplyDelete
  8. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pada dasarnya, pendidikan telah dilakukan oleh nenek moyang kita sejak beribu-ribu abad yang lalu. Pembelajaran yang dilakukan tidaklah sama seperti sekarang. Mereka melakukan proses pembelajaran di dalam kehidupan sehari-hari, seperti kegiatan berburu, memasak, mananam tanaman, dan lain sebagainya. Media yang digunakanpun juga sedikit berbeda, misalkan menggunakan lagu-lagu yang berisikan nasihat-nasihat bagi umat manusia.

    ReplyDelete
  9. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Memberikan nasihat itu bisa dengan banyak cara. Kadang nasihat tidak dapat diterima dengan mudah oleh setiap orang. Agar nasihat dapat diterima maka diperlukan pengucapan yang santun sehingga tidak menyakiti hati orang lain. Dalam budaya jawa, ada banyak cara yang dapat digunakan untuk memberikan nasihat kepada orang lain, yaitu salah satunya dengan unen – unen atau tetembungan . Setiap unen – unen atau tetembungan itu memiliki pesan moral yang tersirat di dalamnya. Macam – macam unen – unen antar lain wangsalan, parikan, purwakanthi, pasemon.

    ReplyDelete
  10. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Salah satu lagu yang dijelaskan di atas adalah lagu Lir – Ilir yang mana lagu tersebut dibuat oleh Sunan Kalijaga untuk menyebarkan agama islam di Pulau Jawa. Hal itu menandakan bahwa untuk menyampaikan ilmu kepada orang lain tidak harus melalui diskusi, seminar terbuka, tetapi juga bisa melalui kebudayaan yang ada di masyarakat tersebut, dalam hal ini khususnya kebudayaan Jawa.

    ReplyDelete
  11. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Seseorang dapat memberikan nasihat dan ajakan kepada orang lain dengan cara halus, seperti tembang lir ilir di atas yang memiliki makna sangat dapat mengena. mengajak orang orang untuk sadar akan beberapa hal. bahwa di dalam hidup ini banyak yang harus diperbaiki.

    ReplyDelete
  12. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Dalam elegi di atas yang diangkat adalah mengenai filsafat sastra jawa. Sastra jawa adalah salah satu sarana untuk menyampaikan kebenaran-kebenaran tersirat secara santun dan indah. Adapun wangsalan, wangsalan adalah sastra jawa yang bertujuan untuk menyampaikan kebenaran ontologis. Kemudian parikan dan pasemon adalah sastra jawa yang berisi pesan moral. Jadi sesungguhnya proses kehidupan manusia dan pesan-pesan yang baik untuk kehidupan manusia dapat disampaikan dengan cara yang santun dan indah, yaitu melalui sastra jawa.

    ReplyDelete
  13. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika

    Didalam sastra jawa terdapat adanya unsur seni yang sangat bernilai tinggi selain itu terdapat banyak makna disetiap sastranya. Jika kandungan didalam sastra tersebut diterapkan didalam kehidupan sehari-hari maka akan sangat baik bagi kehidupan kita. Namun kenyataannya banyak orang jawa yang tidak mengerti makna dari karya jawa yang ia ketahui.

    ReplyDelete
  14. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam Elegi menggapai sastra jawa di atas menunjukkan bahwa kebuduyaan jawa khususnya sastra jawa sangat banyak macamnya. Banyak makna-makna kehidupan yang dapat dipetik dalam sastra jawa tersebut. Salah satu yang menarik adalah pasemon yang menceritakan makna dari Lir Ilir. Di bait terakhir disebutkan bahwa manusia harus pandai-pandai bersyukur kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  15. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Salah satu sastra jawa yang lain yaitu tembang macapat. Terdapat 11 macam tembang. Tembang-tembang tersebut yaitu Mijil, Sinom, Maskumambang, Asmaradana, Dhandanggula, Kinanthi, Gambuh, Durmo, Pangkur, Megatruh, dan Pocung. Jika diperhatikan lagi, bahwa tembang-tembang tersebut merupakan representasi kehidupan kita. Mulai dari lahir (Mijil) sampai dengan saat kita siap dimakamkan (Pocung)

    ReplyDelete
  16. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Dalam budaya jawa banyak terkandung nilai kehidupan dan budi luhur. Antara lain ialah filosofis kebaikan, pesan moral walaupun secara inplisit. Namun generasi saat ini banyak yang tidak mengerti bahwa dibalik wangsalan, parikan, tembang-tembang jawa terkandung pesan-pesan moral kehidupan.

    ReplyDelete
  17. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Hal ini dapat dikarenakan pembelajaran mengenai hal ini yang mulai mengurang ataupun karena adanya budaya barat yang ikut mempengauhi perkembangan anak muda jaman sekarang. Oleh karena itulah generasi muda kita seharusnya tak hanya mengikuti perkembangan jaman saja hingga melupakan warisan budayanya sendiri. Belajar dan memahami serta melestarikan warisan budaya adalah suatu hal yang harus dilakukan.

    ReplyDelete
  18. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Pelajaran hidup dapat kita ambil dari berbagai aspek, seperti dalam elegi yang bapak tuliskan di atas yang membahas tentang sastra jawa. Hal ini membuka pemikiran saya bahwa melalui sastra atau kesenian yang berasal dari jawa kita dapat mempelajari suatu ilmu, atau dengan kata lain terdapat hikmah dibalik sastra jawa yang telah ada sejak zaman nenek moyang kita. Salah satu sastra jawa yaitu parikan yang bermaksud untuk menyampaikan ajaran moral bagi para pembacanya. Selain itu ada pula pasemon yang berupa nyanyian dan ternyata telah digunakan para wali dari kerajaan terdahulu untuk mengajarkan pesan moral bagi para pendengarnya. Selanjutnya adalah tembang yang biasa dikenal dengan tembang macapat dan digunakan pula sebagai perantara menyampaikan pesan moral bagi pendengarnya. Tembang macapat merupakat salah satu tembang jawa yang sarat akan makna dan nilai-nilai luhur kehidupan manusia. Tembang macapat yang digolongkan menjadi sebelas menggambarkan kisah atau perjalanan manusia dari masa didalam kandungan ibu sampai meninggal dunia menghadap tuhan maha kuasa. Berdasarkan hal tersebut, sudah semestinya kita sebagai manusia untuk selalu mencari ilmu sampai kapanpun dan dimanapun.

    ReplyDelete
  19. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Pesan moral dapat diletakkan dan diperoleh di mana saja. Sastra Jawa salah satunya. Saya sebagai orang yang lahir dan besar di tanah Jawa merasa sedang melakukan recharge sastra Jawa lewat elegi ini. Tapi secara intrinsik, saya memahami bahwa budaya-budaya Jawa yang masih hidup kuat di lingkungan saya mengandung pesan moral yang tinggi, terdapat pesan beretikan yang dikemas secara apik dalam estetika.

    ReplyDelete
  20. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Subhanallah, ternyata budaya jawa mempunyai nilai kebudayaan yang sangat tinggi. Sastra jawa mengandung arti tentang nilai-nilai kehidupan, mengajarkan sopan santun atau unggah-ungguh, juga terdapat pesan moral. Bahkan perjalanan manusia dari lahir sampai meninggal pun terkandung didalam macam-macam tembang jawa.
    Namun sayangnya, di jaman ini banyak orang yang tidak mau melestarikan kebudayaan jawa. Banyak kejadian dimana orang tua malah bangga anaknya pintar berbahasa inggris, tetapi tidak tahu bahasa jawa. Sungguh memprihatinkan.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  21. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Sastra yang kita kenal sebagai seni kebudayaan bukanlah hiburan semata namun mengandung nilai dan pesan moral. Salah satu contoh sastra jawa adalah lagu lir ilir. Lagu ini tidak hanya sekedar nyanyian biasa namun mengandung pesan/makna tentang asal-usul dan tujuan hidup. Lagu ini mengajak untuk melakukan kebaikan di tengah kesempatan yang terbentang di dunia sebagai bekal hari akhir Semoga kita sebagai sang begawat diberikan pikiran yang jernih untuk mudah memahami makna yang tersirat dan melestarikan sastra-sastra yang berseni dan berilmu.

    ReplyDelete
  22. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    Pendidikan Matematika Kelas B(S2)

    Setiap negara memiliki kebudayaannya masing-masing, dan setiap kebudayaan memiliki kelebihan dan nasihat yang dapat mengarahkan masyarakat dalam negara tersebut mempelajarinya dan menjadikan warga yang lebih baik. Contohnya saja pada kebudayaan Jawa yang memiliki kesastraan yang sarat akan nasihat yang dapat membimbing kita ke arah yang lebih baik. Sastra Jawa tersebut adalah seperti wangsalan, parikan, purwakanthi, pasemon, mijil, sinom, maskumambang, asmaradana, dhandhanggula, kinanthi, gambuh, durmo, pangkur, megatruh, dan pocung. Semuanya mengandung pesan-pesan yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat di Indonesia, seperti mengajarkan untuk bersyukur, ikhlas, bertakwa, dan menyadari kebesaran dan karunia Tuhan yang telah diberikan selama ini. Syair-syair yang dilantunkan tersebut diiringi dengan nada-nada yang enak di dengar sehingga penikmatnya dapat menyanyikan secara bersama-sama agar semakin menghayati dan mengetahui maksud lagu tersebut.

    ReplyDelete
  23. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Subhanallah, luar biasa sekali kebudayaan dan Sastra Jawa. Seperti beberapa sumber yang pernah saya dapatkan mungkin itu merupakan salah satu cara dari wali terdahulu untuk mengajarkan Agama islam di tengah budaya Kejawen yang sudah mendarah daging. Akhirnya nilai-nilai islam dikemas dalam bentuk Lagu-Lagu, kebiasaan maupun ibadah-ibadah yang tentunya tidak bertentangan dengan ajaran islam. Mari kita melestarikan budaya Jawa tanpa harus melanggar batas-batas keIslaman kita.

    ReplyDelete
  24. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Obyek pikir filsafat ialah meliputi semua yang ada dan yang mungkin ada. Demikian pula dengan sastra jawa juga dapat kita jadikan sebagai objek pikir filsafat yang kita refleksikan melalui olah pikir filsafat. Di samping indah didengar dan diucapkan, di dalam sastra jawa terdapat banyak sekali pesan dan nasehat yang disampaikan dengan cara tidak langsung. Bahasa yang digunakan tidak dapat dengan mudah langsung dipahami oleh pendengarnya, tetapi setiap kalimatnya memiliki makna yang mendalam. Dengan nasihat yang seperti itu, orang-orang tidak akan mudah tersinggung. Dalam bahasa filsafat, sastra jawa memiliki epistemologi (cara) untuk menyembunyikan ontologi (hakekat)-nya.

    ReplyDelete
  25. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi menggapai sastra jawa, dari elegi ini saya belajar bahwasanaya dari sastra jawa kita dapat mempelajari mengenai moral kehidupan dan perjalanan hidup dari lahir, anak-anak, muda, dewasa, menikah, tua dan akhirnya meninggal. Contohnya saja dari Purwokinanthi ”tanpa gawe uripmu mung mampir ngombhe”, yang kurang lebih artinya hidup di dunia ini Cuman sebentar sehingga kita harus memanfaatkan dengan sebaikbaiknya untuk menuntut ilmu dan beribadah kepada Allah swt. Itulah nilai moral yang kita dapat dari purwokinanthi. Sementara itu dari sebuah tembang tenyata menggambarkan sebuah siklus kehidupan yaitu (1) mijil menggambarkan kelahiran (2) Sinom menggambarkan masa muda (3) Maskumambang menggambarkan anak yang menuju kedewasaan (4) Asmaradana menggambarkan orang muda yang mulai merasakan jatuh cinta (5) Dhandhanggula menggambarkan penikahan (6) Kinanthi menggambarkan memulai kehidupan rumah tangga (7) Gambuh menggambarkan rumah tangga yang sakinah mawadah dan warohmah (8) Durmo menggambarkan masa tua dimana sudah saatnya untuk lebih mendekatkan dirikepada Allah (9) Pangkur menggambarkan akhir kehidupan semakin dekat (10) Megatruh menggambarkan kematian dan (11) Pocung menggambarkan tata cara memperlakukan jenazah (setelah kematian). Terima Kasih.

    ReplyDelete
  26. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Terimakasih pak atas postingan yang berjudul Elegi Menggapai Sastra Jawa. Saya memang bukan orang jawa dan saya juga kurang memahami arti dari bahasa jawa. Saya hanya mengerti beberapa kata dan kalimat saja dari bahasa jawa. Dari postingan bapak yang menggunakan bahasa jawa, saya menjadi termotivasi untuk mempelajari bahasa jawa, karena saya sangat meyakini banyak ilmu yang diperoleh ketika kita mengerti bahasa, selain bahasa ibu. Meskipun saya harus membacara berulang ulang kalimat yang bapak tulis dari postingan yang menggunakan bahasa jawa, setidaknya saya bisa membiasakan diri dengan kata-katanya. Kemudian, saya terbantu juga dengan komentar-komentar teman-teman yang memang asli jawa atau sudah lama tinggal di jawa, setidaknya saya mengerti apa yang ingin disampaikan dari tulisan ini. Setelah saya membaca komentar dari mbak Septiyana Wulandari, ternyata postingan ini ingin menyampaikan moral kehidupan dan proses hidup manusia dari lahir hingga mati. Saya ucapkan banyak terimakasih juga kepada teman-teman yang berkomentar mengenai intisari dari postingan ini.

    ReplyDelete
  27. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Terimakasih pak atas postinganyya. ELegi menggapai sastra jawa disini, menggambarkan perjalanan kehidupan manusia. Sastra Jawa pada postingan ini seperti wangsalan, parikan, purwakanthi, pasemon, mijil, sinom, maskumambang, asmaradana, dhandhanggula, kinanthi, gambuh, durmo, pangkur, megatruh, dan pocung. Semuanya mengandung pesan-pesan yang bermanfaat bagi kehidupan. Menceritakan perjalanan hidup dari lahir, hingga nantinya kita telah dikubur menjadi jenazah.

    ReplyDelete
  28. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    PPs. PM A 2017

    Sastra jawa merupakan salah satu bukti kekhasan Indonesia. Sastra jawa memiliki keunikan yaitu memiliki banyak kosakata yang dapat dijadikan sebuah alimat yang indah yang mengandung arti kehidupan seperti contoh di atas.
    Kosa kata Jawa yang paling saya suka adalah lir ilir dan 3 semboyan Ki Hajar Dewantara, yaitu Ing ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Karena menurut saya semboyan2 tersebut dapat dijadikan motivasi dan penyemangat dalam kehidupan ini.

    ReplyDelete
  29. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    Dari elegi di atas, saya melihat betapa banyak hal -hal yang ada dan yang mungkin ada yang bisa digambarkan dengan sastra jawa. disini sastra jawa menunjukkan salah satu ciri khas dari bangsa indonesia yang terdiri dari beragam bahasa, suku, dan budaya.

    ReplyDelete
  30. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Sasatra jawa melahirkan berbagai kesenian yang beragam dan dalam hal ini kami sering merasa menjadi orang jawa tetapi ora njawani, karena kami terkadang masih asing dan malahan kadang tidak mengerti apa arti bahkan maknanya. Selain menjadi alat komunikasi sastra-sastra jawa tersebut juga menjadi kesenian yang pada zaman sekarang sering di tinggalkan prang kalangan pemuda-pemuda jawa, hal ini mejadai intropeksi bagi kami untuk mengeksiskan lagi sastra jawa di kalangan muda agar tidak punah. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  31. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Uraian di atas menggambarkan bahwa banyak makna kehidupan yang dapat digali dari Sastra Jawa, seperti wangsalan, tembang, parikan, pasemon, dan purwokinanthi. Seperti lagu Lir ilir yang sangat popular bagi masyarakat Jawa. Lagu lir ilir ini diciptakan oleh Sunan Kalijaga dan digunakan dalam berdakwah penyebaran ajaran agama Islam. Banyak makna yang tersirat dari lagu indah tersebut. Seperti dalam lirik “Dondomana, jlumatana kanggo seba mengko sore” yang bermakna bahwa dalam hidup ini, manusia harus selalu berikhtiar. Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, jika mereka tidak mau mengubahnya sendiri (ikhtiar). ”Mumpung jembar kalangane” menunjukkan kesadaran ruang dan “mumpung padhang rembulane” menunjukkan kesadaran waktu. Selain itu, dalam Sastra Jawa juga ada parikan atau dalam Bahasa Indonesia disebut pantun. Pantun ini tentunya berupa pantun nasehat yang memberikan pesan kehidupan pada manusia untuk hidup lebih baik.

    ReplyDelete
  32. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih sekali saya ucapkan kepada Bapak yang telah berbagi ilmu melalui postingan ini. Saya sangat penasaran dengan sastra Jawa. Meski saya orang Jawa yang dibesarkan di Pulau Sumatera merasakan bahwa betapa indahnya sastra Jawa. Saya baru mengetahui sastra tersebut saat saya merantau belajar ke pulau Jawa. Jiwa saya meski dibesarkan di pulau Sumatera namun sangatlah tentram saat berada di pulau Jawa. Saya tidaklah tahu semua bahasa Jawa yang tertulis di dalamnya. Adanya arti sedikit yang diberikan pada pernyataan dalam ulasan di atas sedikit membuat saya terkagum dan merenung isi yang tersirat dalam sastra tersebut. Saya sangat suka dengan bahasan yang terkait dengan sopan santun. Inilah yang membawa kesuksesan dalam menuntut ilmu. Semoga seiring waktu yang saya jalani dalam proses belajar saat ini mampu meningkatkan sopan santun dalam diri saya. Saya juga semakin sadar bahwa sopan santun harus diutamakan saat menuntut ilmu.

    ReplyDelete
  33. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Menurut elegi ini, sastra adalah hasil kreasi dari manusia, maka sastra memiliki banyak macam. Contohnya sastra indonesia, sastra inggris, sastra jawa, dll. Sastra jawa berkembang karena dahulu orang-orang di jawa menggunakan bahasa sehari-hari yang mudah mereka pahami, sehingga kemudian berkembang dan banyak yang mempelajarinya. Tidak hanya meliputi bahasa saja, tetapi melingkupi hal-hal yang berhubungan dengan adat jawa, sopan santun, tata krama, nyanyian klasik jawa misalnya tembang macapat, pantun atau parikan. Hal tersebut merupakan bentuk ungkapan dari pemikiran yang filosofis dari orang jawa.

    ReplyDelete
  34. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Filsafat meliputi segala yang ada dan yang mungkin ada. Sehingga segala aspek dalam kehidupan dapat dijelaskan secara filsafat. Termasuk tentang sastra jawa. Dalam sastra jawa terdapat wangsalan, wangsalah adalah menyampaikan sesuatu dengan analogi. Ada juga parikan yaitu tentang ajaran moral. Ada juga purwakinanthi yang berisikan moral namun disampaikan dengan keindahan. Ada juga pasemon, ada juga macam-macam tembang atau lagu. Mulai dari lagu mijil, sinom, maskumambang, asmaradana, pocung yang sering kita dengar dan lain masih banyak juga. Disinilah kita sebagai warga negara harus bisa melestarikan apa yang dimiliki bangsa salah satunya suku jawa maka budaya di dlamnya harus terus dilestarikan.

    ReplyDelete
  35. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas artikel menarik di atas. Dri elegi di atas kita menjadi tahu bahwa orang-orang terdahulu khususnya mereka yang lahir dan besar di jawa, menciptakan sastra jawa sedemikian rupa yang amat erat dan sangat berkaitan denga kehidupan sehari-hari. Mereka menganalogikan segala sesuatunya menjadi bentuk pantun, puisi, peribahasa, tembang-tembang dan masih banyak lagi. Dan yang terkandung di dalamnya penuh dengan pelajaran dan nilai moral. Andai semua orang yang terlahir dan besar di jawa mereka tahu dan paham betul dengan seluk beluk dan makna dari sastra jawa yang telah dibuat oleh orang-orang terdahulu maka mereka akan semakin baik dalam memaknai hidup, berperilaku apik sesuai adat dan budaya, bercita-cita yang luhur dan bertujuan yang jelas dan terarah. Inilah yang harus kita lestarikan, jangan sampai sampai kita lupa dengan jasa para pendahulu kita yang sudah gencar dalam mempromosikan budaya dengan menanamkan nilai moral dan makna kehidupan yang positif bagi kita semua. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  36. Kartika Pramudita
    17701251021
    PEP B (S2)

    Membaca elegi ini saya berpikir tentang luar biasanya sastra Jawa yang dapat dikaitkan dengan berbagai aspek kehidupan. Di samping keindahan sastra terdapat pesan moral yang disampaikan dengan sangat kental. Banyak hal yang bisa bermanfaat dalam belajar menggapai sastra Jawa diantaranya dapat menikmati keindahan bahasa dengan banyak tingkatan dan peruntukannya, serta belajar dari nilai-nilai yang terkandung dalam sastra tersebut. Bacaan tersebut juga menggugah keinginan saya untuk belajar tentang budaya Jawa yang begitu indahnya dan menyentuh pikiran dan hati. Meskipun sulit untuk menemukan makna yang terkandung di dalamnya karena pesan itu disampaikan secara tersirat dengan bahasa sastra.

    ReplyDelete
  37. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb

    Beberapa orang memiliki cara tersendiri dalam mengungkapkan sesuatu.Membahasakannya ada yang secara langsung dan ada juga yang tidak langsung.Elegi ini sangat memiliki nilai estetika yang menarik.Di balik kata-katanya ada makna yang tersirat yang indah.Menurut saya ini adalah cara yang lugas dalam menyampaikan sesuatu.Nilai-nilai yang terakandung di dalamnya ada nilai sosial , spiritual, berisikan nasehat atau motivasi.

    ReplyDelete
  38. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Begitu kayanya budaya Jawa. Sastra-satranya pun sangat indah, jika dalam pelajaran bahasa Indonesia ada pantun, maka dalam bahasa jawa ada wangsalan, parikan, dan purwakinanthi. Jikalau tidak salah, sastra jawa ini mirip dengan pantun, hanya saja makna yang terkandung di dalam sastra jawa lebih kepada nilai-nilai moral bagaimana adat di tanah Jawa. Sedangkan nyanyian lir-ilir tersebut, sudah lama saya mendengar dan kadang juga sering menyanyikannya sendiri, tetapi saya baru mengetahui ternyata itu dinamakan pasemon, yaitu suatu sastra jawa yang berisi pesan moral yang cara penyampaiannya dengan cara simbolik atau nyayian. Sedangkan macam-macam tembang yang saya ketahui hanyalah asmaradana, dhangdhanggula, dan kinanthi, ternyata masih banyak juga jenis tembang yang lainnya.

    ReplyDelete
  39. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Filsafat adalah ilmu yang sangat luas dan melekat pada segala hal, belajar filsafat dapat dilakukan melalui apa saja dan dimana saja. Diantaranya dapat dilakukan melalui budaya dan bahasa daerah, salah satunya Jawa. Orang Jawa sudah sejak lama dinilai kental dengan nilai-nilai filsafat luhur yang kuat dalam budaya dan bahasanya. dalam astra Jawa misalnya. Sastra Jawa tidak hanya memiliki nilai keindahan dalam tata bahasanya namun juga mengandung pesan moral atau nilai kebaikan. Dari wangsalan, parikan, pasemon, sampai macapat, semua mengandung arti tersembunyi dan arti tersebut mengandung nilai-nilai kebaikan yang luhur.

    ReplyDelete
  40. Alfiramita hertanti
    NIM 17709251008
    P.Matematika kelas A 2017

    assalamualaikum wr. wb. salah-satu kendala utama saya sebagai mahasiswa rantau di yogyakarta adalah persoalan bahasa. bahasa jawa bagi saya dalah bahasa yang rumit selai saya sangat respect pada orang-orang jawa yang tidak pernah merasa sungkan untuk menuturkannya di mana saja. bahkan orang sekelas prof. marsigit menggunakan bahsa jawa sebagai salah-satu bahasa komunikasi dalam kelas. hal semacam ini membuat bahasa jawa tetap bertahan eksistensinya sebagai budaya bangsa. namun dalam hal ini, bahkan untuk menggapai sastra jawa yang kompleks itu, menghapalkan kata-kata atau menuturkannya saja bagi saya sangat rumit. tapi saya menganggap itu adalah suatu tantangan.

    ReplyDelete
  41. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Sastra jawa banyak sekali macamnya. Salah satu yang termasuk ke dalam sastra jawa dalah tembang jawa. Dalam tembang jawa terdapat 11 jenisnya. Secara keseluruhan tembang-tembang tersebut menceritakan perjalan manusia dari lahir hingga meninggal dunia. Tembang jawa ini bisa dilantunkan seperti lagu. Betawa luhurnya sastra jawa yang kita miliki. Hal ini perlu dilestarikan ke anak didik kita. Sehingga tidak tertinggal informasi tentang budayanya sendiri.

    ReplyDelete
  42. Muh Wildanul Firdaus
    17709251057
    Pendidikan Matematika S2 Kelas C

    Penyampaian pesan kebenaran memerlukan cara yang santun agar dapat diterima dengan nyaman oleh penerima pesannya. Dalam tradisi jawa ada banyak cara salah satunya yaitu dengan menggunakan sastra jawa. Seringkali dalam penyampaian pesannya, sastra jawa tidak langsung kepada poin pesannya namun diubah agar memiliki nilai estetik sehingga terasa santun didengar oleh penerimanya.

    ReplyDelete
  43. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Hal yang dapat saya pelajari dari elegi ini adalah, bahwa setiap orang punya cara masing-masing untuk menyampaikan maksud dan tujuannya. Yang terpenting adalah saling memahami dan berusaha untuk tidak mudah prejudice. Ada orang yang jika bicara seperti marah-marah, padahal maksudnya baik, memang begitulah kebiasaannya bicara. Ada orang yang bicara dengan mimik wajah ketus, padahal maksudnya baik, memang begitulah karakternya, dsb. Hendaknya kita tidak mudah menjudge orang lain jelek hanya karena tidak sependapat dengan kita, atau karena ketidakjelasan penjelasannya. Oleh karenanya kita perlu saling menerjemahkan.

    ReplyDelete
  44. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Sastra merupakan seni kebudayaan yang dapat menjadi jalur atau fasilitas untuk menyebarkan kebaikan. Dalam elegi ini menjelaskan tentang sastra Jawa, yang memiliki banyak jenis. Salah satunya adalah lagu atau nyanyian. Setiap bait yang ada di dalam lagu memiliki nilai dan makna yang kuat dalam menyampaikan pesannya. Sastra Jawa termasuk sastra Indonesia. oleh karena itu untuk menjaga sastra Indonesia salah satu caranya adalah dengan tetap menjaga esistensi sastra Jawa itu sendiri.

    ReplyDelete
  45. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B 2017

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Beda daerah, beda bahasa, beda logatnya. Meski berbeda kita tetap dalam satu payung, yang bernama Indonesia. Selain identitas, bahasa mengajarkan kita bersikap, berprilaku sesuai ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  46. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh


    Budaya jawa memiliki beraneka ragam bentuk dan bernilai luhir. Antara lain yang berkaitan dengan filosofi, berkaitan dengan sastra, berkaitan dengan lagu, kesenian, tradisi dan permainnya. Budaya jawa sangatlah kaya dan sarat akan nilai – nilai luhur.
    Ajaran nilai budi pekerti luhur yang termuat dalam berbagai karya sastra Jawa perlu disampaikan ulang kepada generasi muda, agar mereka mempunyai watak budi pekerti yang baik seperti yang diharapkan oleh generasi tua sesuai dengan ajaran yang disampaikan dalam karya-karya bahasa dan sastra Jawa. Transformasi ajaran budi pekerti luhur budaya Jawa, bisa lewat pendidikan formal yaitu PAUD, TK dan SD serta nonformal sanggar dan paguyuban dan pendidikan keluarga.

    ReplyDelete
  47. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PMC

    Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya, salah satunya adalah sastra jawa. Bahkan dalam sastra jawa terdapat berbagai bentuk seperti parikan, purwakinanthi, tembang, dan berbagai macam lainnya yang berisi nasihat. Nasihat dalam sastra jawa tersebut disampaikan dengan bahasa yang indah. Maka kita juga dapa belajar dari sastra jawa ini bahwa dalam menyampaikan nasihat hendaklah kita menggunakan Bahasa yang halus dan sopan.

    ReplyDelete
  48. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Sastra budaya di Indonesia ini begitu kaya, salah satunya sastra jawa. Dalam sastra jawa selalu terkandung pesan-pesan hidup didalamnya. Bhakan dalam huruf jawa terkandung cerita yang sungguh bagus. Dalam tembang-tembang jawa juga terdapat pesan hidup yang masih dapat diaplikasikan sampai sekarang.

    ReplyDelete
  49. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Elegi di atas yang menggambarkan filsafat tentang bahasa jawa. Begitu banyak makna yang bermanfaat dalam filsafat bahasa jawa. sastra jawa memiliki moral yang baik dan patut untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk menjaga kebudayaan yang dimiliki Indonesia.

    ReplyDelete
  50. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Dengan elegi menggapai sastra jawa, kini saya mengerti arti dari lagu “lir-ilir”. Saya sering mendengar lagu tersebut sejak saya kecil, bahkan saya juga sering menyanyikannya, namun saya tidak pernah mencari tahu apa sebenarnya isi dan makna dari lagu tersebut, ternyata maknanya begitu dalam. Lagu lir-ilir menceritakan tentang bagaimana kita menggapai ilmu. Sesungguhnya dalam mencari ilmu itu tidak mudah, dibutuhkan kesungguhan dan juga keiklasan. Elegi ini juga menjelaskan bahwa semua tembang jawa seperti mijil, sinom, maskumambang, dan lainnya memiliki arti yang dalam tentang nilai-nilai kehidupan.

    ReplyDelete
  51. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Dalam elegi ini memiliki makna bahwa dalam sastra jawa terdapat tembang, parikan, maupun lakon wayang yang senantiasa memberikan nsihat. Makna nasihat yang terkandung di dalamnya begitu mendalam. Disampaikan dengan bahasa yang indah dan halus serta sarat akan makna. Seperti demikian ini seharusnya nasihat diberikan. Nasihat dengan penyampaian yang baik dengan tata bahasa yang halus dan sopan akan lebih mengena dan didengar daripada nasihat yang disampaikan dengan mengggunakan kata-kata kasar.

    ReplyDelete
  52. Nurika Miftahuljannah
    17709251060
    PPs P. Mat C
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Sastra jawa adalah salah satu budaya yang dimiliki oleh Indonesi, khususnya rakyat Jawa. Dalam sastra jawa terdapat berbagai bentuk seperti parikan, purwakinanthi, tembang, dan berbagai macam lainnya yang berisi nasihat. Nasihat dalam sastra jawa tersebut disampaikan dengan bahasa yang indah. Maka kita juga dapa belajar dari sastra jawa ini bahwa dalam menyampaikan nasihat hendaklah kita menggunakan bahasa yang halus dan sopan. Meskipun banyak misteri yang tersimpan dalam sastra Jawa, namun tidak mengurangi keindahan dari sastra Jawa yang tidak ada duanya di dunia.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  53. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Dalam jawa, sopan santun, unggah ungguh sangat begitu diperhatikan. Misalnya dalam berbicara, memberi nasehat, beraktivitas dan lain sebagainya. Karena kebenaran akan mudah diterima jika dibungkus dengan bungkus yang baik pula. Kebaikan akan diterima bila disampaikan dengan yang baik-baik pula. Maka dari itu, mengedepankan sopan santun, tata krama, unggah ungguh harus menjadi kebiasaan dalam keseharian kita

    ReplyDelete
  54. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Salut dengan kayanya nilai-nilai yang terkandung dalam sastra jawa. Bahkan dari proses lahir sampai meninggalpun bisa diwujudkan dalam bentuk sastra. Sastra jawa selain memuat nilai-nilai kehidupan juga sering digunakan untuk misi menyebarkan aga islam. Pada masa itu penyebaran agama islam melalui sastra sangat digandrungi masyarakat, misalnya wayang. Jadi sewaktu dapat tugas dari prof untuk menonton wayang di sonobudoyo saya jadi sadar betapa sastra dan budaya itu merupakan unsur penting dalam sebuah peradaban.

    ReplyDelete
  55. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Jawa merupakan salah satu suku yang ada di Indonesia yang kaya akan bahasanya. Memiliki budaya atau adat yang beraneka ragam. Sejak SD, sastra jawa sudah mulai dikenalkan kepada siswa siswa oleh guru kelas maupun guru khusus lulusan pendidikan bahasa jawa. Sastra jawa yang sampai saat ini masih dikenal dan dikenalkan kepada khalayak umum gar tidak punah oleh arus globalisasi. Banyak orang luar dari Indonesia yang sengaja datang ke Indonesia untuk belajar bahasa Jawa beserta sastra jawa dan budaya-budayanya.

    ReplyDelete
  56. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Setiap daerah memiliki keluhuran budayanya masing-masing. Nenek moyang kita memiliki dan menggunakan cara-cara yang halus dalam penyampaian pesan moral. Sastra merupakan salah satu media dalam penyampaian pesan secara halus. Setiap budaya yang kita miliki hendaknya dijaga dan dilestarikan karena budaya merupakan identitas dari diri dan membangun karakter suatu bangsa.

    ReplyDelete
  57. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Sastra jawa yang ada di Indonesia ini sangatlah memberikan keindahan pada kehiudpan yang ada di dunia ini. Sastra jawa memberikan kontribusi pada kelembutan yang ada di dunia ini. Jika dilihat, kelembutan hati seluruh negara di dunia ini lebih didominasi oleh orang Indonesia. Sedangkan kelembutan hati itu tergambar pada pulau jawa dibandingkan dengan pulau-pulau yang lainnya. Sehingga sastra jawa disini memberikan corak keindahan pada dunia.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  58. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Dari elegi diatas tradisi merupakan peninggalan dari nenek moyang yang harus kita jaga. bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai tradisinya sendiri dan peninggalan bangsanya sendiri. Bangsa lain tidak akan mampu menghargai bangsa kita jika kita sendiri tidak dapat menghargainya.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  59. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Bangsa lain tidak akan mampu menghargai bangsa kita jika kita sendiri tidak dapat menghargainya. Sudah sepantasnya kita melestarikan peninggalan nenek moyang kita dan menanamkan norma-norma baik yang ditinggalkan leluhur kita agar bangsa kita menjadi bangsa yang baik.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  60. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Banyak media yang dapat dilakukan untuk menyampaikan pembelajaran, pengetahuan, dan nilai-nilai agama, misalnya seperti menggunakan sastra jawa seperti ini. Selain memberikan pembelajaran penggunaan sastar jawa ini dapat sekaligus melestarikan sastra jawa itu sendiri.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  61. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Sejujurnya sampai saat ini saya masih belum mengerti sama sekali bahasa jawa, apalagi sastra jawa. Sastra merupakan ilmu yang mempelajari tentang keindahan bahasa. Nilai keindahan yang dimiliki oleh bahasa, sehingga bahasa juga memiliki nilai etik dan estetika. Dengan bahasa juga orang bisa menilai sejauh apa kedalaman ilmu yang dimilik seseorang dan bagaimana seseorang mengatur cara berbahasa, mengartikan bahwa seseorang itu mengerti akan nilai kesopanan.

    ReplyDelete
  62. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya, Prof. berkesempatan untuk menuntut ilmu di tanah jawa merupakan suatu hal yang saya syukuri karena saya dapat menambah wawasan saya mengenai budaya dalam negeri sendiri. namun tidak hanya itu, saya juga menghadapi tantangan, yaitu dalam memahami bahasa jawa itu sendiri. namun itu tidak menjadi kendala yang besar karena orang0orang di sekitar saya tidak segan-segan mengajarkan beberapa kosa kata jawa yang saya tidak mengerti.

    ReplyDelete
  63. Yuni Pratiwi
    15301241005
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Kebudayaan jawa memang beragam bentuknya, salah satunya ialah sastra jawa. Sastra jawa ini pun masih dibagi menjadi beberapa bagian, salah satunya yaitu tembang jawa. Dalam masing-masing tembang juga menceritakan mengenai kehidupan, seperti mijil yang menggambarkan lahirnya manusia didunia, sinom yang berarti masa muda, maskumambang yang berarti emas atau perhiasan, ini adalah masa dimana anak sudah tumbuh dewasa, dan baligh, asmaradana yang berari berkisah kasih, dhandhanggula yang berarti manisnya kehidupan sebagai pasangan suami istri, kinanthi yang berarti rumah tangga yang baik, gambuh yang melambangkan kehidupan keluarga yang sakinah, mawadah, warokhmah, durmo yang melambangkan saatnya manusia mundur dari dunia dan maju ke akhirat, pangkur yang berarti persiapan menuju akhirat, megatruh yang berarti berpisahnya raga dan nyawa, dan yang terakhir pocung yaitu tatacara ngrupti orang meninggal. Sehingga tembang jawa ini melambangkan kehidupan manusia dari sejak lahir hingga tutup usia.

    ReplyDelete
  64. Monica Ansella
    15301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Selama saya mempelajari sastra Jawa mulai dari Sekolah Dasar hingga saat ini, saya memperoleh banyak sekali ajaran-ajaran. Memang tidak semua sastra Jawa saya pelajari di sekolah, apalagi di universitas karena program studi yang saya ambil adalah pendidikan matematika, Bahasa Jawa pun sudah tidak ada dalam pilihan mata kuliah saya. Namun dari elegi ini saya kembali diingatkan betapa luas dan indahnya sastra-sastra Jawa yang mengandung nasehat-nasehat. Sastra Jawa memang begitu indah dan menarik untuk diselami. Orang Jawa sebaiknya tidak melupakan sastra-sastra ini. Aja nganti wong Jawa ilang jawane.

    ReplyDelete
  65. Qorry Aina Fitroh
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241047

    Sastra Jawa memiliki berbagai kebudayaan. Dan setiap sastra Jawa memiliki arti yang sesuai dan dikaitkan dengan kehidupan. Perlunya dilakukan pelestarian terhadap sastra Jawa agar tidak mudah. Sebab generasi muda saat ini jarang yang mengenal sastra Jawa dengan baik, meskipun mereka orang Jawa. Semoga kebudayaan Indonesia tetap lestari.

    ReplyDelete
  66. Aji Pangestu
    15301241009
    S1 Pendidikan Matematika I 2015
    Dalam memberikan nasihat kepada orang lain, dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan sastra jawa berupa lagu.

    ReplyDelete