Feb 25, 2011

Elegi Menemukan Diriku Adalah Ketidak Adilan




Oleh Marsigit

Pikiranku:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa memikirkan satu hal saja. Nah ini aku sedang memikirkan Obyek A.

Obyek Bukan A Protes:
Wahai pikiran...kenapa engkau hanya memikirkan Obyek A saja? Padahal Obyek Bukan A itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama untuk engkau pikirkan. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Penglihatanku:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa melihat satu hal saja. Nah ini aku sedang melihat Obyek B.

Obyek Bukan B Protes:
Wahai Penglihatan...kenapa engkau hanya melihat obyek B saja? Padahal Obyek Bukan B itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama untuk engkau lihat. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Pendengaranku:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa mendengar satu hal saja. Nah ini aku sedang mendengarkan Obyek C.

Obyek Bukan C Protes:
Wahai Pendengaran...kenapa engkau hanya mendengarkan Obyek C saja? Padahal Obyek Bukan C itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama untuk engkau dengarkan. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Perasaan:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa merasakan satu hal saja. Nah ini aku sedang merasakan Obyek D.

Obyek Bukan D Protes:
Wahai Perasaan...kenapa engkau hanya merasakan Obyek D saja? Padahal Obyek Bukan D itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama untuk engkau rasakan. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Mengatakan:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa mengatakan satu hal saja. Nah ini aku sedang mengatakan Obyek E.

Obyek Bukan E Protes:
Wahai Mengatakan...kenapa engkau hanya mengatakan Obyek E saja? Padahal Obyek Bukan E itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama untuk engkau katakan. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Menulis:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa menulis satu hal saja. Nah ini aku sedang menulis Obyek F.

Obyek Bukan F Protes:
Wahai Menulis...kenapa engkau hanya menulis Obyek F saja? Padahal Obyek Bukan F itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama untuk engkau tulis. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Berdoa:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa berdoa satu hal saja. Nah ini aku sedang berdoa G.

Berdoa Bukan G Protes:
Wahai Berdoa...kenapa engkau hanya berdoa G saja? Padahal Berdoa Bukan G itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama untuk engkau gunakan berdoa. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Memakan:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa memakan satu hal saja. Nah ini aku sedang memakan Makanan H.

Makanan Bukan H Protes:
Wahai Memakan...kenapa engkau hanya memakan H saja? Padahal Makanan Bukan H itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama untuk engkau makan. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Mengarah:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa mengarah pada satu hal saja. Nah ini aku sedang mengarah ke Tujuan I.

Tujuan Bukan I Protes:
Wahai Mengarah...kenapa engkau hanya mengarah ke Tujuan I saja? Padahal Tujuan Bukan I itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama kemana engkau mengarah. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Memegang:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa memegang pada satu hal saja. Nah ini aku sedang memegang Obyek J.

Obyek Bukan J Protes:
Wahai Memegang...kenapa engkau hanya memegang Obyek J saja? Padahal Obyek Bukan J itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama untuk engkau pegang. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Mencintai:
Pada suatu saat dan suatu waktu aku hanya bisa mencintai satu hal saja. nah ini aku sedang mencintai Obyek K.

Obyek Bukan K Protes:
Wahai mencintai...kenapa engkau hanya mencintai Obyek K saja? Padahal Obyek Bukan K itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama untuk engkau cintai. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Berhenti:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa berhenti di suatu tempat saja. Nah ini aku sedang berhenti di Tempat Ini.

Tempat Bukan Ini Protes:
Wahai Berhenti...kenapa engkau hanya berhenti di Tempat Ini saja? Padahal Tempat Bukan Ini itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama sebagai tempat engkau berhenti. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Menjadi Subyek:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa menjadi sebagai subyek tertentu saja. Nah ini aku telah menjadi Matematikawan.

Bukan Matematikawan Protes:
Wahai Menjadi Subyek...kenapa engkau hanya menjadi Matematikawan saja? Padahal Bukan Matematikawan itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama sebagai subyek menjadimu. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Diriku:
Oh...hhh sang Bagawat kenapa setiap hal pada diriku selalu menghasilkan Ketidak Adilan?

Bagawat:
Itulah manusia yang mempunyai sifat serba terbatas. Dan itulah gunanya berpikir dan menyadari. Jikalau engkau telah menyadari betapa .....sangat sangat sangat sangat sangat ....sangat.... terbatas.... kemampuan dirimu itu, apalagi setiap hal pada dirimu selalu menghasilkan ke Tidak Adilan maka apakah lagi yang engkau banggakan dan engkau sombongkan pada dirimu itu. Tiada engkau sadari, maka engkau telah selalu berbuat dosa karenanya. Maka selalu mohon ampunlah kepada Tuhan Mu atas Ketidak Adilan yang setiap saat engkau produksi itu. Tiadalah manusia mampu menghilangkan kesombongan kecuali atas pertolongan Allah SWT. Amiin.

5 comments:

  1. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Elegi menemukan diriku adalah ketidak adilan ini sungguh benar adanya di kehidupan nyata. Elegi ini sungguh menyadarkan bahwa kita sebagai manusia sangatlah terbatas dalam segala hal. Kita tidak bisa memikirkan semuanya dalam suatu waktu, kita tidak dapat mengerjakan suatu pekerjaan yang besar jika hanya sendiri, kita butuh bantuan orang lain di saat kita kesusahan, kita butuh teman untuk menemi hidup kita. Tetapi sebenarnya itulah hakikat kita sebagai hamba-Nya. Terbatas, lemah, tidak berdaya jika tanpa pertolongan-Nya. Oleh karena itu, janganlah kita berjalan di muka bumi dengan sombong, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat disombongkan walau hanya sedikit saja.

    ReplyDelete
  2. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A 2017

    Adil berasal dari bahasa Arab yang berarti berada di tengah-tengah, jujur, lurus, dan tulus. Secara terminologis adil bermakna suatu sikap yang bebas dari diskriminasi, ketidakjujuran. Dengan demikian orang yang adil adalah orang yang sesuai dengan standar hukum baik agama, negara, maupun sosial. Dari elegi ini kita mengetahui ketidak adilan yang dimaksud tergantung dari sudut pandang atau saat situasi dan kondisi seperti apa dan bagaimana, karena adil adalah menempatkan sesuatu sesuai dengan porsinya. Manusia memiliki sifat serba terbatas. Sungguh manusia apabila ia tidak bisa menempatkan sesuatu sesuai kadarnya maka akan ada ketidak adilan dalam dirinya. Maka sudah sepatutnya kita selalu rendah hati dan kembali kepada Sang Pemilik Keadilan itu, Allah SWT.

    ReplyDelete
  3. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Sifat manusia memang terbatas. Adil adalah salah satu perilaku manusia yang terkadang mudah diucapkan namun susah untuk dilakukan. Seperti firman Allah dalam Q.S. Al Hujurat : 9 yang artinya “ dan berlaku adilah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” Jika dikaitkan dengan posisi kita sebagai pendidik, terkadang untuk berlaku adil kepada peserta didik kita sulit dilakukan. Misalnya ketika kita memberikan perlakuan kepada mereka. Ada siswa A yang sangat kita sukai karena suatu hal, sedangkan siswa B sedikit membuat kita kecewa. Secara tidak langsung sikap kita tentu akan berbeda terhadap kedua siswa tersebut. Hal ini merupakan contoh kecil yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Dari elegi ini, dapat saya ambil pelajaran bahwa meskipun berlaku adil itu tidak mudah karena keterbatasan kita sebagai manusia, tetapi berusaha adil setidaknya bisa kita lakukan. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin

    ReplyDelete
  4. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Adil berarti tidak berat sebelah, tidak memihak, tidak berpihak, berpihak kepada yang benar, berpegang kepada kebenaran dan sepatutnya. Dengan demikian seseorang disebut berlaku adil apabila dia tidak berat sebelah dalam menilai sesuatu, tidak berpihak kepada salah satu. Namun kita sebagai manusia yang tak sempurna sering kali berbuat ketidak adilan, mungkin menurut kita sudah adil, akan tetapi sebenarnya adil itu adalah relatif. Adil menurut kita belum tentu adil menurut orang lain. Sebesar apapun usaha kita dalam keadilan, maka hanya Tuhan yang paling adil atas segalanya.

    ReplyDelete
  5. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Manusia itu bersifat terbatas sehingga cenderung tidak adil. Bagaimanalah seorang manusia akan melihat seluruh objek yang ada didunia ini dari berbagai sisi jikalau ia hanya memiliki dua mata? Bagaimanalah seorang manusia akan mendengar seluruh suara dari berbagai frekuensi jikalau ia hanya memiliki dua telinga? Bagaimanalah manusia mampu melangkah diluasnya bumi ini jikalau hanya memiliki dua kaki? Maka sebenar-benar manusia adalah terbatas, sehingga senantiasa membutuhkan pertolongan dari Allah SWT. Maka apalah lagi yang mampu kita sombongkan sebagai manusia dengan segala keterbatasan dan ketidak adilan yang kita miliki dan perbuat? Semoga kita senantiasa terhindar dari kesombongan. Amin.

    ReplyDelete