Feb 25, 2011

Elegi Menemukan Diriku Adalah Ketidak Adilan




Oleh Marsigit

Pikiranku:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa memikirkan satu hal saja. Nah ini aku sedang memikirkan Obyek A.

Obyek Bukan A Protes:
Wahai pikiran...kenapa engkau hanya memikirkan Obyek A saja? Padahal Obyek Bukan A itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama untuk engkau pikirkan. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Penglihatanku:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa melihat satu hal saja. Nah ini aku sedang melihat Obyek B.

Obyek Bukan B Protes:
Wahai Penglihatan...kenapa engkau hanya melihat obyek B saja? Padahal Obyek Bukan B itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama untuk engkau lihat. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Pendengaranku:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa mendengar satu hal saja. Nah ini aku sedang mendengarkan Obyek C.

Obyek Bukan C Protes:
Wahai Pendengaran...kenapa engkau hanya mendengarkan Obyek C saja? Padahal Obyek Bukan C itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama untuk engkau dengarkan. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Perasaan:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa merasakan satu hal saja. Nah ini aku sedang merasakan Obyek D.

Obyek Bukan D Protes:
Wahai Perasaan...kenapa engkau hanya merasakan Obyek D saja? Padahal Obyek Bukan D itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama untuk engkau rasakan. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Mengatakan:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa mengatakan satu hal saja. Nah ini aku sedang mengatakan Obyek E.

Obyek Bukan E Protes:
Wahai Mengatakan...kenapa engkau hanya mengatakan Obyek E saja? Padahal Obyek Bukan E itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama untuk engkau katakan. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Menulis:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa menulis satu hal saja. Nah ini aku sedang menulis Obyek F.

Obyek Bukan F Protes:
Wahai Menulis...kenapa engkau hanya menulis Obyek F saja? Padahal Obyek Bukan F itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama untuk engkau tulis. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Berdoa:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa berdoa satu hal saja. Nah ini aku sedang berdoa G.

Berdoa Bukan G Protes:
Wahai Berdoa...kenapa engkau hanya berdoa G saja? Padahal Berdoa Bukan G itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama untuk engkau gunakan berdoa. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Memakan:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa memakan satu hal saja. Nah ini aku sedang memakan Makanan H.

Makanan Bukan H Protes:
Wahai Memakan...kenapa engkau hanya memakan H saja? Padahal Makanan Bukan H itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama untuk engkau makan. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Mengarah:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa mengarah pada satu hal saja. Nah ini aku sedang mengarah ke Tujuan I.

Tujuan Bukan I Protes:
Wahai Mengarah...kenapa engkau hanya mengarah ke Tujuan I saja? Padahal Tujuan Bukan I itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama kemana engkau mengarah. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Memegang:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa memegang pada satu hal saja. Nah ini aku sedang memegang Obyek J.

Obyek Bukan J Protes:
Wahai Memegang...kenapa engkau hanya memegang Obyek J saja? Padahal Obyek Bukan J itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama untuk engkau pegang. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Mencintai:
Pada suatu saat dan suatu waktu aku hanya bisa mencintai satu hal saja. nah ini aku sedang mencintai Obyek K.

Obyek Bukan K Protes:
Wahai mencintai...kenapa engkau hanya mencintai Obyek K saja? Padahal Obyek Bukan K itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama untuk engkau cintai. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Berhenti:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa berhenti di suatu tempat saja. Nah ini aku sedang berhenti di Tempat Ini.

Tempat Bukan Ini Protes:
Wahai Berhenti...kenapa engkau hanya berhenti di Tempat Ini saja? Padahal Tempat Bukan Ini itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama sebagai tempat engkau berhenti. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Menjadi Subyek:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa menjadi sebagai subyek tertentu saja. Nah ini aku telah menjadi Matematikawan.

Bukan Matematikawan Protes:
Wahai Menjadi Subyek...kenapa engkau hanya menjadi Matematikawan saja? Padahal Bukan Matematikawan itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama sebagai subyek menjadimu. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Diriku:
Oh...hhh sang Bagawat kenapa setiap hal pada diriku selalu menghasilkan Ketidak Adilan?

Bagawat:
Itulah manusia yang mempunyai sifat serba terbatas. Dan itulah gunanya berpikir dan menyadari. Jikalau engkau telah menyadari betapa .....sangat sangat sangat sangat sangat ....sangat.... terbatas.... kemampuan dirimu itu, apalagi setiap hal pada dirimu selalu menghasilkan ke Tidak Adilan maka apakah lagi yang engkau banggakan dan engkau sombongkan pada dirimu itu. Tiada engkau sadari, maka engkau telah selalu berbuat dosa karenanya. Maka selalu mohon ampunlah kepada Tuhan Mu atas Ketidak Adilan yang setiap saat engkau produksi itu. Tiadalah manusia mampu menghilangkan kesombongan kecuali atas pertolongan Allah SWT. Amiin.

35 comments:

  1. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    saya merasa tidak adil terhadap diriku sendiri. terkadang aku hanya menggunakan sebagian anggota tubuh dan tidak menggunakan bagian tubuh lain. terkadang porsi kerja masing-masing anggota tubuhku berbeda. ada yang bekerja sangat keras dan ada yang tidak.

    ReplyDelete
  2. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Manusia memiliki keterbatasan. Manusia dikatakan sempurna jika manusia tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan di dalam dirinya. Jika manusia bisa melakukan segala hal maka sesungguhnya dia bukan manusia. Tidak ada yang bisa disombongkan pada diri ini, banyak sekali yang tidak bisa dilakukan oleh diri ini. Oleh karena itu, bersikap wajarlah dan ikhlas dalam menghadapi kehidupan ini. Dan mintalah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Aamiin

    ReplyDelete
  3. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Manusia diciptakan oleh Allah dengan berbagai keterbatasan dalam diri masing-masing. Setiap manusia memiliki keterbatasan masing-masing. Keterbatasan tersebut dapat berupa kemampuan, pemikiran, perasaan dan lainnya. Adanya keterbatasan ini dapat membuat ketidakadilan bagi orang lain dan mungkin juga diri kita sendiri. Selama hidup di dunia, sulit bagi manusia untuk berlaku adil. Sebenar-benarnya diri kita adalah hanya bisa berusaha untuk adil. Keadilan yang sesungguhnya hanyalah milik Allah semata.

    ReplyDelete
  4. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Elegi menemukan diriku adalah ketidak adilan ini sungguh benar adanya di kehidupan nyata. Elegi ini sungguh menyadarkan bahwa kita sebagai manusia sangatlah terbatas dalam segala hal. Kita tidak bisa memikirkan semuanya dalam suatu waktu, kita tidak dapat mengerjakan suatu pekerjaan yang besar jika hanya sendiri, kita butuh bantuan orang lain di saat kita kesusahan, kita butuh teman untuk menemi hidup kita. Tetapi sebenarnya itulah hakikat kita sebagai hamba-Nya. Terbatas, lemah, tidak berdaya jika tanpa pertolongan-Nya. Oleh karena itu, janganlah kita berjalan di muka bumi dengan sombong, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat disombongkan walau hanya sedikit saja.

    ReplyDelete
  5. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A 2017

    Adil berasal dari bahasa Arab yang berarti berada di tengah-tengah, jujur, lurus, dan tulus. Secara terminologis adil bermakna suatu sikap yang bebas dari diskriminasi, ketidakjujuran. Dengan demikian orang yang adil adalah orang yang sesuai dengan standar hukum baik agama, negara, maupun sosial. Dari elegi ini kita mengetahui ketidak adilan yang dimaksud tergantung dari sudut pandang atau saat situasi dan kondisi seperti apa dan bagaimana, karena adil adalah menempatkan sesuatu sesuai dengan porsinya. Manusia memiliki sifat serba terbatas. Sungguh manusia apabila ia tidak bisa menempatkan sesuatu sesuai kadarnya maka akan ada ketidak adilan dalam dirinya. Maka sudah sepatutnya kita selalu rendah hati dan kembali kepada Sang Pemilik Keadilan itu, Allah SWT.

    ReplyDelete
  6. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Sifat manusia memang terbatas. Adil adalah salah satu perilaku manusia yang terkadang mudah diucapkan namun susah untuk dilakukan. Seperti firman Allah dalam Q.S. Al Hujurat : 9 yang artinya “ dan berlaku adilah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” Jika dikaitkan dengan posisi kita sebagai pendidik, terkadang untuk berlaku adil kepada peserta didik kita sulit dilakukan. Misalnya ketika kita memberikan perlakuan kepada mereka. Ada siswa A yang sangat kita sukai karena suatu hal, sedangkan siswa B sedikit membuat kita kecewa. Secara tidak langsung sikap kita tentu akan berbeda terhadap kedua siswa tersebut. Hal ini merupakan contoh kecil yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Dari elegi ini, dapat saya ambil pelajaran bahwa meskipun berlaku adil itu tidak mudah karena keterbatasan kita sebagai manusia, tetapi berusaha adil setidaknya bisa kita lakukan. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin

    ReplyDelete
  7. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Adil berarti tidak berat sebelah, tidak memihak, tidak berpihak, berpihak kepada yang benar, berpegang kepada kebenaran dan sepatutnya. Dengan demikian seseorang disebut berlaku adil apabila dia tidak berat sebelah dalam menilai sesuatu, tidak berpihak kepada salah satu. Namun kita sebagai manusia yang tak sempurna sering kali berbuat ketidak adilan, mungkin menurut kita sudah adil, akan tetapi sebenarnya adil itu adalah relatif. Adil menurut kita belum tentu adil menurut orang lain. Sebesar apapun usaha kita dalam keadilan, maka hanya Tuhan yang paling adil atas segalanya.

    ReplyDelete
  8. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Manusia itu bersifat terbatas sehingga cenderung tidak adil. Bagaimanalah seorang manusia akan melihat seluruh objek yang ada didunia ini dari berbagai sisi jikalau ia hanya memiliki dua mata? Bagaimanalah seorang manusia akan mendengar seluruh suara dari berbagai frekuensi jikalau ia hanya memiliki dua telinga? Bagaimanalah manusia mampu melangkah diluasnya bumi ini jikalau hanya memiliki dua kaki? Maka sebenar-benar manusia adalah terbatas, sehingga senantiasa membutuhkan pertolongan dari Allah SWT. Maka apalah lagi yang mampu kita sombongkan sebagai manusia dengan segala keterbatasan dan ketidak adilan yang kita miliki dan perbuat? Semoga kita senantiasa terhindar dari kesombongan. Amin.

    ReplyDelete
  9. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    "Itulah manusia yang mempunyai sifat serba terbatas. Dan itulah gunanya berpikir dan menyadari. Jikalau engkau telah menyadari betapa .....sangat sangat sangat sangat sangat ....sangat.... terbatas.... kemampuan dirimu itu, apalagi setiap hal pada dirimu selalu menghasilkan ke Tidak Adilan maka apakah lagi yang engkau banggakan dan engkau sombongkan pada dirimu itu. Tiada engkau sadari, maka engkau telah selalu berbuat dosa karenanya. Maka selalu mohon ampunlah kepada Tuhan Mu atas Ketidak Adilan yang setiap saat engkau produksi itu. Tiadalah manusia mampu menghilangkan kesombongan kecuali atas pertolongan Allah SWT. Amiin"

    Penutup yang sangat langsung meluncur pada poin utamanya. Manusia adalah makhluk yang serba terbatas, tapi lucunya masih banyak yang menyombongkan aspek yang dipikirnya unggul, padahal itu akan membuat dirinya semakin terlihat terbatas, bukan? Karena apa? Ya karena hidup ini terdapat banyak aspek, sedang engkau hanya tahu satu aspek, sungguh terlalu dini untuk menjadi sombong. Maka sekali lagi, elegi ini mengingatkan saya pada momen perkuliah pertama bersama Bapak Marsigit. Momen apa? ya semuanya. Terlebih ketika Pak Marsigit menyampaikan betapa doa sebelum beraktifitas itu penting. Momen di mana Pak Marsigit bersama-sama dengan mahasiswa melantunkan doa bersama di awal perkuliahan. Betapa doa itu penting. Betapa "hati" tiada boleh dibikin kacau.

    ReplyDelete
  10. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Berdasarkan 'Elegi Menemukan Diriku Adalah Ketidak Adilan' bahwa manusia mempunyai sifat serba terbatas. Maka tak pantas jika kita bersikap menyombongkan diri, berdoalah serta berusahalah agar lebih mendekatkan diri kepada Allah sehingga kita akan selalu bersyukur atas kenikmatan yang telah diberikan. Manusia diciptakan sempurna dalam ketidaksempurnaan, ya karena sifat terbatas yang dimiliki manusia.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  11. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Manusia adalah makhluk yang paling sempurna dibandingkan makhluk lainnya namun segala yang ada dan yang mungkin ada pada manusia adalah berada pada keterbatasan oleh karena itu manusia selalu menerapkan ilmu reduksi. Sesuatu yang benar datangnya dari TuhanYang Maha Esa dan sesuatu kesalahan datangnya dari manusia. Sebenar-benarnya penilaian manusia belum tentu benar dimata sang mahakuasa, dan seadil-adil menurut manusia belum tentu adil menurut sang mahakuasa. Karena manusia adalah makhluk yang tidak pernah luput dari khilaf dan salah, maka sebenar-benar manusia yang berilmu adalah yang mau mengintropeksi diri, menyadari segala kelemahan dan kekurangannya serta selalu memohon ampun dan petunjuk dari Nya.

    ReplyDelete
  12. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017
    Manusia dianugerahi akal pikiran. Seseorang dapat memikirkan suatu hal pada suatu waktu, seseorang dapat melakukan satu hal dalam satu waktu. Terkadang apabila kita melakukan dua hal dalam satu waktu atau lebih dari itu, hasil yang diperoleh tidak maksimal. Manusia yang diciptakan dengan segala kekurangan dan kelebihan memang memiliki kemampuan yang terbatas. Namun keterbatasan itu bukanlah menjadi alasan untuk berhenti berusaha bersikap adil. Adil itu harus disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan tiap-tiap orang. Berdoalah kepada Allah SWT agar kita dapat diberi petunjuk untuk dapat bersikap adil.

    ReplyDelete
  13. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    Pendidikan Matematika Kelas B(S2)



    Pada hakikatnya manusia memiliki sifat yang terbatas, dalam ketrebatasan tersebut bisa saja manusia melakukan ketidakadilan yang akan berdampak buruk bagi orang lain. Manusia bisa saja tidakk menyadari bahwa dirinya sedang melakukan ketidakadilan kepada orang lain, hal tersebut disebabkan oleh keterbatasan manusia tersebut. Oleh karena untuk mengurangi ketidakadilan tersebut sebagai manusia harus selalu berusaha berbuat baik kepada semua orang dan tidak melakukan kesombongan, karena apabila manusia sudah memiliki sifat sombong akan semakin kuat bahwa dia akan melakukan ketidakadilan kepada orang lain. Hanya kepada Allah SWT kita memohon untuk ditunjukkkan dan diarahkan pada jalan lurus, jalan yang jauh dari kesombongan yang dapat menyebabkan ketidakadilan kepada orang lain.

    ReplyDelete
  14. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum prof,
    Elegi ini menyadarkan kita bahwa kita hanyalah makhluk yang sangat terbatas. Segala kemampuan dan setiap yang kita lakukan selalu meliputi keterbatasan. Maka tidaklah pantas bagi kita untuk sedikitpun berlaku sombong. Karena keterbatasan itu, sebagai manusia kita tidak akan pernah bisa berlaku adil, bahkan terhadap diri kita sendiri. Di samping itu, tanpa kita sadari kita telah sering melakukan banyak dosa karena ketidakadilan yang telah kita perbuat sehingga hendaknya kita senantiasa memohon ampun kepada Allah SWT dan memohon pertolongan-Nya.

    ReplyDelete
  15. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Manusia itu diciptakan dalam bentuk yang sempurna, tetapi tidak sempurna. Sempurna karena diberi anugerah berupa hati dan pikiran. Tidak sempurna karena salah satunya adalah tidak bisa adil dalam segala hal, contohnya adalah tidak bisa adil dengan pandangan belakang kita. Bisa dikatakan manusia itu sempurna dalam ketidaksempurnaan. Manusia itu sifat, banyak kekurangannya, sehingga tidak boleh sombong dengan apa yang dimilikinya. Karena kesombongan hanya akan membuat hati menjadi kacau, karena masih ada yang lebih tinggi dari kita, yaitu Tuhan yang Maha segalanya.

    ReplyDelete
  16. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi menemukan diriku adalah ketidakadilan, dari elegi ini saya belajar bahwa manusia itu dipenuhi oleh keterbatasan. Kita ini mahluk terbatas, terbatas dalam berpikir, terbatas dalam, melihat, terbatas dalam mendengar dan terbatas dalam segala hal. Keterbatasan yang ada dalam diri kita, akan selalu menciptakan ketidakadilan, Oleh karena itu kita sebagai manusia tidaklah pantas untuk menyombongkan diri karena kita adalah mahluk yang terbatas. Namun keterbatasan itulah hakikat kita sebagai mahluk Allah, sehingaa sebagai manusia yang kita harus selalu meminta petunjuk dan pertolongan dari Allah untuk menghilangkan kesombongan dalam diri kita. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  17. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Elegi mencerminkan bahwa dalam hidup penuh dengan ketidak adilan. Itulah manusia yang mempunyai sifat serba terbatas. Kita harus sadari bahwa kemampuan didiri kira terbatas, apalagi setiap hal pada menghasilkan ke tidak adilan. Karena terbatasnya kemampuan didiri kita maka janganlah kita sombong, karena apa yang harus disombongkan dengan keterbatasan yang ada.

    ReplyDelete
  18. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Dibanding dengan makhluk lainnya, mungkin manusia bisa dikatakan yang paling sempurna. Namun dalam kesempurnaan yang terbatas, karena sebenar-benarnya sempurna hanya milik Tuhan. Dari elegi menemukan diriku adalah ketidakadilan ini kita dapat memahami betapa terbatasnya manusia. Manusia memiliki kemampuan berpikir yang terbatas sehingga tidak semua yang ada dan mungkin ada dapat mereka pikirkan. Manusia juga memiliki penglihatan terbatas, sehingga tidak sanggup melihat setiap hal yang ada dan mungkin ada. Manusia memiliki pendengaran yang terbatas pula, sehingga hanya mampu mendengar sebagian dari yang keseluruhan ada dan mungkin ada. dsb. Apa yang manusia pikirkan, lihat, dengar, dsb, hanyalah terbatas pada satu atau beberapa hal saja. Inilah bukti bahwa manusia sangat - sangat terbatas dalam setiap apa yang mereka miliki. Dengan keterbatasan ini hendaklah manusia sadar diri dan tidak berlaku sombong atas apa yang dimilikinya.

    ReplyDelete
  19. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Manusia memiliki keinginan untuk dapat melakukan apapun dengan sempurna. Manusia merupakan makhluk yang selalu ingin yang terbaik setelah diberikan sesuatu yang terbaik. Karena memang manusia memiliki keistimewaan yaitu memiliki akal pikiran, memiliki perasaan, yang tidak dimiliki oleh makhluk ciptaan-Nya yang lain. Karena itulah tidak sedikit manusia yang merasa dirinya telah mampu dan telah sempurna dalam segala hal. Manusia tidak jarang bersikap sombong. Padahal jika ingin direnungkan secara mendalam seperti pada Elegi Menemukan Diriku adalah Ketidak Adilan ini manusia itu penuh dengan ketidak sempurnaan. Manusia itu penuh dengan ketidak adilan, baik pada dirinya sendiri maupun orang lain. Oleh karena manusia itu makhluk yang terbatas sama dengan makhluk-Nya yang lain maka sebaiknya sifat sombong harus dijauhkan dari diri. Karena apa yang mesti disombongkan dan dibanggakan dari ketidak sempurnaan. Semoga Allah SWT mengampuni setiap kesalahan dan dosa-dosa yang sengaja atau tidak sengaja, dosa yang telah dilakukan atau yang masih dipikirkan. Aamiin

    ReplyDelete
  20. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Mesti sadar dan paham bahwa manusia hidup dalam kesempurnaan yang terbatas, namun seringkali kita tergoda oleh setan dan terjerumus dalam kesombongan. Jikalau kita telah tanpa sadar berbuat kesombongan atas apa yang kita miliki dan kita lakukan, satu - satunya cara terbaik untuk membebaskan diri dari dosa dan kesalahan tersebut adalah dengan bertaubat dan memohon ampun kepada Allah SWT. Setelah itu, hendaklah berdoa dan meminta petunjuk serta perlindungan Allah agar senantiasa ditunjukkan jalan kebenaran dan di jauhkan dari sifat sombong yang meupakan salah satu penyakit hati yang paling berbahaya. Sebagaimana nasihat begawat dalam elegi ini, bahwa tiada seorangpun yang dapat menghilangkan kesombongan, kecuali atas pertolongan Allah SWT. Semoga kita semua dijauhkan dari sifat sombong yang terhina. Aamiin.

    ReplyDelete
  21. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Elegi Menemukan Diriku Adalah Ketidak Adilan menurut pendapat saya adalah hakekat dari ketidakadilan itu sendiri yang dimiliki oleh manusia. Manusia merupakan makhluk yang memiliki sifat terbatas, dari segi pemikiran, penglihatan, pendengaran, perasaan, dan perkataan. Terkadang manusia tidak menyadari semua ini dan berlaku sombong, padahal hidup dan kehidupan manusia dibatasi oleh ruang dan waktu sehingga sebenarnya tidak ada hal yang perlu disombongkan.

    ReplyDelete
  22. Sepintar apapun diri kita, namun kita hanya menguasai satu bidang saja, padahal ada banyak sekali bidang-bidang yang ada di dunia ini. Oleh karena itu, kita tidak boleh tinggi hati. Seperti kata pepatah diatas langit masih ada langit, begitu pula dengan manusia.
    Ketika kita sombong, disaat itulah ketidak adilan muncul. Kita tidak boleh merendahkan orang lain, semua manusia itu sama. Hanya Tuhan YME yang mempunyai keadilan yang absolut.

    ReplyDelete
  23. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    PPs. PM A 2017

    Manusi memang di harapkan dapat berlaku adil.namun pernah dalam diri kita merasakan suatu ketidak adilan ..contohnya kita merasa hidup kita tidak adik dengan apa yang di takdirkan tuhan .namun menurut Tuhan itu adalah adil . jika kita hanya menggangap suatu perkara dari 1sudut pandang diri kita mungkin itu dianggap tidak adil.jadi cobalah memandangnya dari sudut pandang yang lain agar mendapatkan keadilan itu.

    ReplyDelete
  24. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Elegi menemukan diriku adalah ketidak adilan, dari elegi diatas menunjukkan bahwa, kita manusia mempunyai banyak keterbatasan, tidak bisa memaksakan sempurna seperti apa yang ada dalam benak kita. dalam elegi ini, kita diminta untuk lebih memahami karakter diri kita, adil seperti apa yang kita inginkan. Bukankan hanya Dia yang Maha Adil...

    ReplyDelete
  25. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Bermilyar-milyar hal di dunia ini,tetapi yang dapat dipikirkan manusia hanya sekelebatan. Betapa terbatasnya pikiran manusia, bahkan dirinya sendiri tak bisa seutuhnya dipikirkan. Karena seadil-adilnya manusia,hanya Tuhan yang mampu berlaku adil.

    ReplyDelete
  26. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Saya semakin menyadari bahwa diri saya selalu diselimuti dosa akan ketidakadilan. Ketidakadilan saya untuk memperlakukan diri sendiri juga saat ini masih sulit untuk dikondisikan. Memforsir diri pada kegiatan-kegiatan sehari-hari. Bahkan terkadang menahan rasa lapar sejenak dan telat makan. Sungguh, ini dosa yang saya terkadang juga tidak sadari. Ampuni diri ini ya Robb. Terimakasih Prof atas ulasan ini.

    ReplyDelete
  27. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak, membaca elegi menemukan diriku adalah ketidak adilan ini saya merasa sadar bahwa kemampuan saya sangatlah terbatas. Semua itu terjadi karena keterbatasan. Ketidak adilan itu terjadi sekali lagi karena keterbatasan. Oleh karena itu keterbatasan ini hendanya menjadi pengingat agar manusia dapat selalu ingat kepada Kuasa Allah. Manusia selalu ingat akan kodratnya. Sehingga dapat selalu memohon ampun kepada Allah atas segala kelancangan dalam berbuat.

    ReplyDelete
  28. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    setelah membaca elegi di atas, saya kembali diingatkan betapa kita sebagai manusia mempunyai sifat yang sanga terbatas. untuk itu dalah setiap hal, setiap objek yang ada dan yang mungkin ada, kita membutuhkan keputusan untuk memilih, walaupun itu akan memunculkan ketidakadilan, tetapi itu adalah hal yang mutlak harus kita lakukan dikarenakan keterbatasan yang kita miliki

    ReplyDelete
  29. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Ketidakadilan muncul ketika pikiran manusia yang serba terbatas dalam hal berfikir. Dia memikirkan onyek A, belum tentu onbyek B dapat dipikirkan sekaligus. Oleh karenanya manusia dilarang untuk bersifat sombong karena sungguh sombong itu hanya milik Allah SWT. Manusia yang merupakan makhluk ciptaan Nya yang tidak lepas dari salah dan lupa. Terima Kasih

    ReplyDelete
  30. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Uraian di atas menjelaskan bahwa segala sesuatu yang kita lakukan semuanya serba terbatas. Manusia tidak bisa memikirkan semua hal, manusia tidak bisa pandai dalam segala hal, manusia tidak bisa melihat semua hal, manusia tidak mampu mendengar semua hal. Tetapi kita diberi kemampuan untuk dapat memilah mana yang baik dan pantas: mana hal yang pantas untuk dilihat, mana sesuatu yang pantas untuk didengar, mana sesuatu yang layak untuk dipikirkan. Kemampuan memilah tersebut, erat kaitannya dengan reduksi dari segala hal untuk mendapatkan kefokusan (apa yang menjadi perhatian dan sesuai kebutuhan).

    ReplyDelete
  31. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Terima kasih atas ilmu yang diberikan.
    Dari elegi ini kita disadarkan bahwa sejatinya diri kita ini ternyata orang yang tidak adil. Maka dikatakan bahwa manusia ini memang tidak sempurna, oleh karena itu yang bisa dilakukan oleh manusia yaitu hanya ikhtiar. Sebagai contoh yang menunjukkan kita tak bisa adil yaitu dari sikap kita ketika melakukan berpikir, melihat, mendengar, merasa, mengatakan, menulis, berdoa, memakan, mengarah, memegang, mencintai hanya bisa 1 aktivitas saja tak bisa lebih. Ini menunjukkan juga bahwa kemampuan manusia ini terbatas. Maka manusia dilarang sombong.

    ReplyDelete
  32. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017

    Bagi manusia sebuah kalimat pun dapat membuat persepsi yang berbeda- beda bagi manusia lain. maka dari itu ketika kita merasa tidak ada keadilan pada diri kita maka cobalah mencari keadilan itu .jangan biarkan persepsi ketidak adilan itu membunuh pendapat kita sendiri.

    ReplyDelete
  33. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas ilmu yang diberikan di atas. Itulah manusia, pasti mempunyai sifat serba terbatas. Dan itulah gunanya berpikir dan menyadari. Jika kita telah menyadari bahwa kita terbatas terhadap kemampuan yang kita miliki,itulah sebaik-baik manusia yang rendah hati. Namun bukan rendah hati yang menyelimuti, rendah diri juga sering dan ada dalam menghambat setiap langkah kita. Merasa ketidak adilan selalu ada pada diri kita padahal itu merupakan bentuk pemberian dan karuniaNya merupakan salah satu perbuatan keji dan membuat kita semakin terbelakang. Menghambat motivasi dan niat kita untuk membangun dan memperbaiki kualitas diri sehingga kita akan terkekang dengan rasa ketidak adilan itu sendiri. Sehingga jangan sampai kita memperbesar rasa rendah diri kita dan kita merasa hidup dalam penuh ketidak adilan yang menyebabkan kita semakin minder dan tidak berdaya guna. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  34. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Keterbatasan dan ketidak sempurnaan manusia salah satunya adalah ketidak adilan dalam dirinya. Karena yang mampu sebenar-benar adil hanyalah Tuhan Yang Maha Esa. Manusia tidak bisa berbuat adil dengan seadil-adilnya untuk semua orang yang ada disekitarnya disebabkan karena manusia memikirkan banyak hal dalam satu waktu, dan manusia memiliki pertimbangan yang sekiranya keputusannya dapat memberikan keadilan, padahal adil setiap orang berbeda atau bisa dikatakan relatif nagi setiap orang. Maka dari itu, sangat sulit keadilan manusia untuk diberikan kepada banyak orang. Salah satu contohnya saja pada satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan dua orang anak. Padahal, di sini hanya dua orang anak, tetapi keadilan orang tua untuk keduanya sangatlah susah sekali. Meskipun begitu, manusia tetap berusaha sebaik mungkin untuk berbuat adil, dengan susahnya berbuat adil tidak lantas begitu saja untuk tidak berusaha adil.

    ReplyDelete
  35. Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Dari elegi diatas akau menemukan bahawa diriku adalah suatu ketidak adilan. Ketidak adilanku itu berasal dari keterbatasan maupun ketidak mampuanku. Aku menemukan diriku yang terbatas, bahwa banyak sekali ketidak adilan yang aku lakukan. Maka dari itu aku sadar bahwa satu-satunya yang adil dan sempurna adalah Allah SWT, jadi seharusnya aku selalu memohon ampun dan terus bersyukur akan semua berkah, karunia, keadilan, ilmu, dan semua yang ada pada diriku, karena aku sadar, aku bukanlah apa-apa tanpa tuhan. Semoga kita selalu dapat berpikir jernih dan selalu mengagungkan Allah SWT. Amiin.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete