Feb 26, 2011

Elegi Menggapai Ontologi dan Epistemologi Jawa: Hubungan subyek predikat dalam Serat Sastra Gending

Oleh Marsigit

Ontologi menjawab hakekat yang ada. Serat Sastra Gending adalah karya Sultan Agung ing Mataram (1613-1645). Damarjati Supajar mengungkapkan bahwa karya ini mengandung nilai-nilai kefilsafatan yang tinggi. Di sini saya hanya fokus untuk mengungkap sebagian kecil saja dari isi Serat Sastra Gending yang menunjukkan adanya pemikiran tentang ontologi dan epistemologi hubungan SUBYEK-PREDIKAT. Hubungan subyek-predikat ini sejalan dengan pemikiran Immanuel Kant (1724-1802) yang akhirnya menghasilkan proses berpikir ANALITIK atau SINTETIK.



Berikut saya nukilkan hubungan subyek-predikat dalam Serat Sastra Gending (Damarjati Supajar, 2001):

1. Jika subyeknya DZAT, maka predikatnya SIFAT. Hubungannya dijelaskan sebagai berikut:

Jawa:
Dat lan sifat upami, Sayekti dingin datira, Dupi wus ana sipate, Mulajamah aranira, Awal lan akhirira, Kang sifat tansah kawengku, Marang dat kajatinira

Terjemahan:
Dzat dan sifat selalu, lebih dulu dzatnya, ketika sudah ada sifat, yang disebut Mulajamah, yang awal dan yang akhir, sifat selalu termuat, dalam hakekat dzat

2. Jika subyeknya RASA maka predikatnya PANGRASA, jika subyeknya CIPTA maka predikatnya RIPTA, jika subyeknya YANG DI SEMBAH maka predikatnya YANG MENYEMBAH. Hubungannya dijelaskan sebagi berikut:

Jawa:
Rasa pangrasa upami, Yekti dingin rasanira, Pangrasa kari anane, Kang cipta-kulawan ripta, Sayekti dingin cipta, Kang ripta pan gendingipun, Kang nembah lan kang di sembah.

Terjemahan:
Hati dan pikiran ibaratnya, lebih unggul pikiran pasti, dari keberadaan pikiran, Sedang kreasi dan perangkaian, tentu lebih utama kreasi, dari rangkaian tembang, seperti yang menyembah danyang disembah.

3. Jika subyeknya adalah KODRAT maka predikatnya adalah IRADAT. Jika subyeknya YANG KADIM maka predikatnya YANG BARU, jika subyeknya SASTRA maka predikatnya GENDING, jika subyeknya YANG DISEMBAH maka predikatnya YANG MENYEMBAH, jika subyeknya RASA maka predikatnya PANGRASA. Hubungannya dijelaskan sebagi berikut:

Jawa:
Yekti dingin kang pinuji, Kahanane kang anembah, Saking kodrating Hyang manon, Apan kinarya lantaran, Sajatining panembah, Wisesaning dat mrih ayu, Amuji ing dewekira.

Umpamane jalu lawan estri, Yen saresmi jroning rokhmat pada, Pranyata iku tandane, Tuhu tuhuning kawruh, Ing pamoring anyar lan kadim, Dat lawan sipatira,Sastra gendingipun, Kang rasa lawan pangrasa, Estri priya pamornya kapurba, Wening, Atetep tinetepan.

Terjemah:
Tentu lebih dulu yang disembah, dari pada yang menyembah, dari hakekat Hyang Agung, berguna sebagai sarana, hakekat penyembahan, kepada Dzat untuk keselamatan, memuja kepada Nya.
Seperti suami istri, bila bersetubuh dalam kebenaran, merupakan perumpamaan, bagi pengetahuan sejati, meleburnya yang fana dan baka, antara dzat dan sifat, antara sastra dan gending, antara hati dan pikiran, rahasis pria-wanita yang terangkum, menyatu dalam kesatuan.

4. Jika subyeknya adalah YANG BERCERMIN maka predikatnya adalah BAYANGANNYA. Hubungannya dijelaskan sebagi berikut:

Jawa:
Mulajamah loroning ngatunggil, Tinggal rasa rasa kawisesan, Nging lamun dadi tuduhe, Wajib ing prianipun, Kadya ngakal pinurbeng alip, Lir warna jro paesan, Iku pamenipun, Kang ngilo jatining sastra, Kang wayangan gending, Sasirnaning cermin, manjing jatining sastra.

Terjemahan:
Mulajamah kesatuan dua hal, yang itu menjadi kiasan, substansi kejantanan, pemikiran yang bermula dari alif, itulah perumpamaan, yang bercermin ibarat sastra, danbayangan itu adalah gending, selesai bercermin, bayangan kembali kepada sastra.

5. Jika subyeknya adalah SUARA maka predikatnya adalah GEMA. Jika subyeknya adalah LAUTAN maka predikatnya adalah IKANNYA. Hubungannya dijelaskan sebagi berikut:

Jawa:
Lir kumandang lan swara upami, Kumandanging barat gending ngakal, Sastra upama swarane, Gending kumandang barung, Wangsul marang swara umanjing, Lir minojro samodra, Mina gendingipun sastra upama amandaya, Mina yekti anaya saking jaladri, Myang kauripanira.

Terjemahan:
Seperti gema dengan suara, gema itu perumpamaan gending, suara ibarat sastra, setelah gema gending berlalu, ia kembali kepada sastra, seperti ikan di lautan, ikan adalah gending, dan sastra adalah kehidupannya, ikan selalu kembali keair, yang menjadi kehidupannya.

6. Jika subyeknya adalah PRADANGGA maka predikatnya adalah GENDING. Hubungannya dijelaskan sebagi berikut:

Jawa:
Pejahing mina awor jaladri, Jro samodra pasti isi mina, Tan kena pisah karone, Malih ngibaratipun, Lir niyaga nabuh kang gending, Niyaga sastranira, Gending gendingipun, Barang reh purbeng niyaga, Kasebuting niyaga dening kang gending, Panjang yen cinarita.

Terjemahan:
Ikan hidup mati di lautan, di dalam laut pasti berisi ikan, keduanya tidak pernah terpisahkan, seperti perumpamaan, seperti alat musik dengan pemainnya, pemain adalah sastra, alat musik adalah gendingnya, setelah selesai memainkan musik,baru bisa dipilah pemain dan alat, panjang bila harus dijelaskan.

Demikian seterusnya. Di dalam Serat Sastra Ganding tersebut masih disebutkan dan diuraikan:
Jika subyeknya adalah PAPAN TULIS maka predikatnya adalah TULISANNYA, jika subyeknya YANG DISEMBAH maka predikatnya adalah yang MENYEMBAH, jika subyeknya adalah MANIKMAYA maka predikatnya adalah BATARA GURU, jika subyeknya adalah DALANG maka predikatnya adalah WAYANG, jika subyeknya adalah BUSUR maka predikatnya adalah ANAK PANAHNYA, jika subyeknya adalah WISNU maka predikatnya adalah KRESNA.

Berikut saya tambahkan lagi:

7. Jika subyeknya PAPAN TULIS maka predikatnya adalah TULISANNYA, jika subyeknya YANG DISEMBAH maka predikatnya adalah YANG MENYEMBAH.
Hubungannya dijelaskan sebagi berikut:

Jawa:
Dewa watak hawa sanga, Wus kanyatan gumlaring bumi langit, Iku kawruhana sagung, Endi kang luhur andap, Upamane papan lawan tulisipun, Kanyatan ingkang anembah, Kalawan ingkang pinuji

Terjemahan:
Dewa dan sembilan hawa nafsu, fenomena bumi dan langit, itu harus menjadi pengetahuan, tentang yang tinggi dan yang rendah, seperti papan tulias dengan tulisan, bagaikan hamba yang menyembah, dengan Tuhan yang disembah

8. Jika subyeknya MANIKMAYA maka predikatnya adalah BATARA GURU.
Hubungannya dijelaskan sebagi berikut:

Jawa:
Papan moting kawisesan, Manikmaya purbaning papan wening, Tulise mangsi Hyang Guru, Sastra upama papan, Gending ngakal upama mangsi wus dawuh, Yen dingin mangsinira, Ngendi nggone tibeng tulis.

Terjemahan:
Papan tempat kekuasaan, Manikmaya menjadi papan azali, Batara Guru menjadi tulisannya, Sastra adalah papan, Kata yang tertulis ibarat gending, bila harus lebih dulu tulisan, dimana ia akan diguratkan.

9. Jika subyeknya WISNU maka predikatnya adalah KRESNA
Hubungannya dijelaskan sebagi berikut:

Jawa:
Kayata Narendra Kresna, Lawan risang Batara Wisnumurti, Iku ngibarat satuhu, Loro-loroning tunggal, Tanggal cipta sarasa sauripipun, Hyang Wisnu umpama sastra, Sri Kresna umpama Gending.

Terjemahan:
Seperti raja Khrisna, dengan dewa Wisnu yang Agung, itu hakekatnya, dua hal yang satu adanya, menyatu dalam berbagai halnya, Wisnu ibarat sastra, Khrisna ibarat gendingnya.


Demikianlah hanya sebagian yang saya sampaikan. Semoga bermanfaat. Amiin

Referensi:
Dr. Damarjati Supajar, 2001, Filsafat Sosial Serat Sastra Gending, Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru

54 comments:

  1. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Salah satu yang dibahas dalam elegi ini adalah tentang subjek dan prediket, dimana jika subyek adalah rasa maka predikatnya berupa pangrasa, jika subyek adalah cipta maka predikat berpa ripta, jika subyek adalah yang di sembah maka predikat berupa yang menyembah. Dalam hal ini seperti hati dan pikiran yang diibaratkan secara pasti lebih unggul pikiran berdasarkan keberadaan pikiran dan dari sisi keilmuannya.

    ReplyDelete
  2. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Subjek dan predikat akan selalu berdampingan. Mengapa? Karena subjek selalu mendahului predikat dan juga predikat selalu mengenai sifat dari subjek. Jadi sbjek tiada aka nada makna tanpa predikat. Dan predikat tidak akan jelas sifatnya jika tanpa subjek.

    ReplyDelete
  3. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Filsafat adalah refleksi kehidupan, merefleksikan apapun bentuknya tentu ada batasan – batasannya yaitu  kita wajib taat pada aturan  yang ditetapkan oleh yang Maha mengatur yaitu Allah swt. Di dalam sastra gending diatas kental dengan bahasa simbolik. Bahasa simbolik yang tertulis: sastra diartikan sebagai Tuhan yang mencipta, sedangkan gendhing adalah makhluk yang dicipta. Subjek dan predikat adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, mereka adalah dua hal berbeda yang selalu ada dalam kehidupan manusia. Dimana ada subjek disitu pasti ada predikat. Karena subjek tak akan berarti jika tidak ada predikat, begitu juga dengan predikat.

    ReplyDelete
  4. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Filsafat sangat dekat dengan kehidupan manusia. Filsafat ada pada segala aspek kehidupan, seperti aspek budaya dan kesenian jawa dalam menggambarkan kehidupan manusia dalam menggapai sebuah keseimbangan dan keteraturan hidup. Filsafat jawa terkandung nilai-nilai adiluhung yang bisa digunakan dan dipelajari oleh siapapun.

    ReplyDelete
  5. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam meyampaikan pesan moral dalam kebudayaan Jawa juga dilakukan melalui Serat Sastra Gending. Di dalam tulisan tersebut dijelaskan bahwa apa hubungan subyek dan predikat. Semua itu dituliskan semata – mata untuk menyampaikan ilmu kepada para pembaca nya agar senantiasa berperilaku baik dan selalu bersyukur mengingat Tuhan YME

    ReplyDelete
  6. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Subyek dan predikat memang tidak dapat dipisahkan. mereka pasti selalu berhubungan. entah bagaimanapun ada subyek ada juga predikat. seperti syarat sebuah kalimat, harus ada subyek dan predikat. berikut juga dengan artikel yang di bahas di atas.

    ReplyDelete
  7. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Subjek dan predikat adalah adalah dua hal yang saling berkaitan. Subjek adalah yang melakukan perlakuan sedangkan predikat adalah perlakuan yang dilakukan. Dalam sastra Jawa misalnya yang dituliskan di atas, “rasa pangrasa upami, Yekti dingin rasanira, Pangrasa kari anane, Kang cipta-kulawan ripta, Sayekti dingin cipta, Kang ripta pan gendingipun, Kang nembah lan kang di semba”, yag artinya “Hati dan pikiran ibaratnya, lebih unggul pikiran pasti, dari keberadaan pikiran, Sedang kreasi dan perangkaian, tentu lebih utama kreasi, dari rangkaian tembang, seperti yang menyembah danyang disembah”. Subjek dan predikat tidak hanya terdapat dalam kalimat namun dapat juga terdapat dalam kehidupan kita. Di mana keduanya ada kaitannya dengan kehidupan manusia. Misalnya hubungan manusia dengan manusia lainnya, maupun manusia dengan Sang Pencipta. Sehingga setiap sisi kehidupan manusia sebenarnya mempunyai subjek dan predikat yang saling berkaitan

    ReplyDelete
  8. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Subjek dan predikat adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Seperti halnya yang ada di elegi ini "Seperti raja Khrisna, dengan dewa Wisnu yang Agung, itu hakekatnya, dua hal yang satu adanya, menyatu dalam berbagai halnya, Wisnu ibarat sastra, Khrisna ibarat gendingnya" ini sudah mengibaratkan bahwa ada dua hal didunia ini yang saling berkaitan dimana jika tidak ada satunya yang keduanya tidak akan ada.

    ReplyDelete
  9. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Hal yang terkandung dalam Serat sastra gending oleh Sultan Agunging Mataram ini ialah nilai-nilai kefilsafatan yang tinggi yang memuat pemikiran mengenai ontologi dan epistemologi hubungan antara subjek dan predikat yang sejalan dengan pemikiran Immanuel Kant. Subjek merupakan yang dikenai suatu perbuatan dan predikat adalah yang melakukan perbuatan tersebut. Subjek dan predikat merupakan 2 hal yang tidak dapat dipisahkan. Contoh berdasarkan elegi ini ialah jika subjeknya ialah yang disembah, maka predikatnya ialah yang menyembah.

    ReplyDelete
  10. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi menggapai ontologi dan epistemologi jawa menjelaskan tentang hubungan subjek predikat dalam serat sastra gending. Hubungan antara subjek dan predikat adalah dimana subjek merupakan predikat, dan predikat pasti termuat didalam subjek. Predikat adalah semua sifat yang ada dari subjek. Sifat meliputi yang ada dan yang mungkin ada sebagai sifat, salah satuya adalah bahwa hubungan subjek dan predikat itu bersifat determin atau menentukan. Determine menjatuhkan sifat baik pada subjek yang lain maupun pada objeknya atau pada predikat.

    ReplyDelete
  11. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Subyek dan predikat merupakan dua hal yang berbeda tetapi saling berhubungan. Seperti dalam salah satu karya dari Jawa yang dirujuk yaitu Serat Sastra Gending. Karya tersebut membuka pemikiran saya bahwa tidak hanya berkaitan dengan ilmu saja yang ada hubungannya dengan filsafat, tetapi melalui seni maupun kebudayaan kita dapat mempelajari filsafat. Menurut pemahaman saya dari Elegi menggapai Ontologi dan Epistemologi Jawa yaitu subyek akan selalu ada bersama dengan predikat. Subyek akan selalu ada di depan predikat, dan predikat akan dikenai sifat dari subyek.

    ReplyDelete
  12. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Subjek dan predikat merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Sebagaimana dalam serat sastra gending karya Sultan Agung Ing Mataram. Jika subjeknya dzat maka predikatnya sifat. Jika subjeknya suara maka predikatnya gema. Jika subjeknya bercermin predikanya adalah bayangannya. Jika subjeknya lautan maka predikatnya adalah ikannya. Manusia sebagai subjek di dunia ini tentu tidak dapat dipisahkan dari predikatnya yang salah satunya adalah perbuatannya. Maka manusia tidak dapat dipisahkan dari segala perbuatannya. Maka sebagai seorang manusia kita bisa memilih predikat kita akankah perbuatan yang baik ataukah perbuatan yang buruk.

    ReplyDelete
  13. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Elegi ini sungguh membawa saya pada keadaan-keadaan yang semestinya saya harus berada. Subyek dan predikat, saling mengikuti dan tidak bisa dipisahkan. Dan pada elegi ini saya mengetahui subyek dan predikat dalam sastra Jawa. Indah, penuh makna, saya belajar. Inshaallah

    ReplyDelete
  14. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Serat sastra gending merupakan karya seni yang di dalamnya dapat dikaji dan dapat menjadi bahan dalam berfilsafat. Subjek dan predikat dapat dikaji melalui sastra ini. Dimana subjek tidak sama dengan predikat. Berfilsafat juga bisa dari hal-hal sederhana di sekitar kita. Kerudung bisa menjadi subjek dan kepala menjadi objek, baju menjadi subjek dan badan menjadi objek. Jadi segala sesuatu yang ada di muka bumi bisa dikenai subjek maupun objek.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  15. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Elegi membahas hubungan subyek dan predikat dalam serat sastra gending jawa. Subyek yang berbeda menghasilkan predikat yang juga berbeda, misalnya jika subyek adalah rasa maka predikatnya berupa pangrasa, jika subyek adalah cipta maka predikat berpa ripta, jika subyek adalah yang di sembah maka predikat berupa yang menyembah. Subyek selalu mendahului predikat dan predikat selalu mengenai sifat dari subyek. Hubungan keduanya menghasilkan proses berpikir analitik (dari yang apa yang belum diketahui ke yang sudah diketahui) atau sintetik (dari yang sudah diketahui menghasilkan apa yang ingin diketahui).

    ReplyDelete
  16. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    Pendidikan Matematika Kelas B(S2)

    Elegi ini memberikan pengetahuan bahwa dalam meningkatkan dimensi hidup, seseorang dapat melakukan tiga langkah yaitu : (1) menyadari ruang dan waktu, maksudnya agar seseorang tersebut harus dapat memafaatkan dan menyesuaikan diri dalam setiap keadaan, (2) menganalisis yang bersifat intensif dan ekstensif, maksudnya adalah berpikir secara intensif atau sedalam-dalamnya dan berpikir ekstensi atau berpikir seluas-luasnya, yaitu segala sesuatu yang akan kita lakukan harus dipikirkan, dan (3) selalu berusaha menggapai logos dan menggapai bukan mitos, maksudnya adalah manusia harus selalu berusaha melakukan hal yang terbaik, walaupun dia telah merasa mencapai pada hal yang tertinggi namun manusia selalu haru berusaha mempelajari dan mencari ilmu terus menerus agar manusia tidak tertinggal dengan pemikiran yang semakin luas dan dalam dari orang yang tidak berhenti belajar. Ternyata ketiga langkah tersebut selaras dengan pewayangan yang merupakan budaya sli Indonesia.

    ReplyDelete
  17. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Elegi di atas menunjukkan bahwa filsafat dapat kita pelajari dari kebudayaan masyarakat jawa. Serat Sastra Gending mengandung hubungan subjek predikat yang dapat kita refleksikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Subjek dan predikat saling berhubungan. Subjek memilih predikatnya sesuai dengan apa yang akan subjek tempuh atau jalankan. Subjek akan menjadi lebih bermakna saat memiliki subjek. Suatu filsafat dapat menjadi acuan dalam berkehidupan asalkan tidak bertentangan dengan ajaran agama.

    ReplyDelete
  18. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Melalui elegi ini, kita ditunjukkan bahwa dengan berolah pikir secara ekstensif dan intensif, kita akan menemukan berbagai hubungan ilmu pengetahuan, salah satunya tentang filsafat jawa yang ternyata berkaitan erat dengan pemikiran Immanuel kant. Tentu hal ini dapat kita lakukan bila kita mau belajar dan mencari ilmu pengetahuan. Selain itu, melalui elegi ini kita dapat melihat bahwa predikat selalu termaktub (melekat) di dalam subyek. Atau dapat dikatakan bahwa subyek berkuasa atas predikat.

    ReplyDelete
  19. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi menggapai ontologi dan epistemologi Jawa : Hubungan subyek predikat dalam serat sastra gending, dari elegi ini dapat disimpulkan bahwa subyek dan predikat adalh dua hal yang berbeda namun saling berhubungan. Subyek akan ada di depan predikat dan predikat akan dikenai sifat dari subyek. Sehingga subyek yang berbeda akanmenghasilkan predikat yang berbeda pula, misalnya subyeknya dzat maka predikatnya adalah sifat, subyeknya rasa maka predikanya adalah pangrasa, subyeknya yang disembah maka predikatnya adalah yang menyembah. Hubungan antara subyek dan predikat tersebut, pada akhirnya akan menghasilkan proses berfikir analitik dan sintetik. Terimakasih.

    ReplyDelete
  20. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Salah satu hal menarik dalam belajar filsafat adalah banyak hal dapat dikaitkan dengan ilmu filsafat, termasuk Serat Sastra Gending sebagaimana disampaikan dalam elegi ini. Hal ini tentu saja tidak bisa dilakukan oleh sebarang orang. Perlu ilmu pengetahuan dan pengalaman yang baik untuk dapat menghubungkannya, dan membuatnya memiliki arti. Selai itu, elegi ini memberikan pemahaman kepada saya bahwa subjek selalu lebih dulu dari predikatnya. Yang disembah tentunya lebih dulu ada dari pada yang menyembah, dan adanya yang menyembah disebabkan adanya yang disembah. Sastra lebih dulu ada dari pada gending, dan adanya gending disebabkan oleh adanya sastra, dsb.

    ReplyDelete
  21. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Belajar filsafat artinya belajar berpikir mengenai suatu objek pikir dan dengan berpikir maka dapat mengaitkan segala hal dalam kehidupan ini sehingga menjadi penuh makna. Seperti pada Elegi Menggapai ontologi dan Epistimologi Jawa ini. Elegi ini menguraikan hubungan antara subjek dan predikat dalam serat sastra gending. Orang-orang yang dapat menghubungkan kebudayaan dengan kehidupan sehari-hari dan dapat bersifat secara umum berarti dia memiliki ilmu yang sangat luas sehingga pemikirannya menjadi sangat hebat. Dari Elgi ini juga saya mempelajari bahwasahnya subjek predikat itu memiliki hubungan yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Begitupun dalam suatu kalimat syarat awalnya yaitu minimal memiliki pola subjek dan predikat.

    ReplyDelete
  22. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    assalamu'alaikum wr.wb

    dari tulisan pada elegi di atas saya mendapatkan kesimpulan bahwa subyek dan obyek itu bisa menggambarkan dua hal yang berlawanan, dua hal yang berhubungan, dan bisa juga dua hal yang berkaitan erat satu sama lain. tetapi kadang bisa juga termasuk dua hal yang saling membutuhkan.

    ReplyDelete
  23. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Memahami tulisan di atas bahwa adanya subyek dan predikat merupakan satu kesatuan yang tak mungkin terpisahkan apapun subyeknya pastilah ia memiliki predikat. Karena setiap yang ada pasti akan mengada meskipun tidak mengada itu tetap predikat. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  24. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih Prof untuk ilmu yang sudah diberikan. Saya mencermati ulasan di atas bahwa jika diibaratkan manusia sebagai subyek, maka predikatnya adalah melakukan segala sesuatu yang diniatkan karena Allah SWT. Tiadalah manusia di muka bumi melainkan atas kehendak-Nya. Maka dari itu, sudah sepatutnya manusia beribadah sepanjang hayat dan patuh akan perintah-Nya. Kemudian, tidak lupa untuk bersyukur atas karunia yang diberi oleh Tuhan.

    ReplyDelete
  25. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Terima kasih atas ilmu yang diberikan. Mengapa harus membahas tentang sastra dan gending? Karena filsafat ini meliputi hal yang ada. Sastra jawa ini dari pembahasan subyek predikat ini sesuai dengan pemikiran Immanuel kant tentang analitik dan sintetik. Dalam sastra gending ini ada beberapa kaitannya pula dengan Keagungan Allah Ta’ala. Maka dalam gending ini juga terlihat bahwa aspek spiritual juga sangat penting. Dalam hal ini sastra jawa akan dikaitkan dengan aspek spiritualitas karena ini adalah dasar kehidupan yang penting.

    ReplyDelete
  26. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah terimakasih prof. Marsigit atas artikel di atas. Subyek adalah sesuatu yang selalu terlebih dahulu daripada predikat. tidak ada subyek maka tidak akan ada predikat, predikat selalu ada setelah subyek. Yang paling menarik adalah yang disembah dan yang menyembah. Seperti halnya Allah dan manusia. Ketika Allah sebagai subyek telah menetapkan sesuatu, manusia yang sekarang lah yang menjadi bentuk predikatnya. Maka segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada tercipta karena bentuk kekuasaan dan telah merupakan takdirnya. Maka sudah sepantasnya kita menjalankan apa yang diperintahkannya karena landasan spiritual yang kokoh akan mempermudah kita dalam melakukan perjalanan hidup. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  27. Kartika Pramudita
    17701251021
    PEP B (S2)

    Serat sastra gending ternyata memiliki nilai dan makna yang mendalam. Yang ada dapat berhubungan dengan yang ada lainnya. Belajar filsafat dapat dengan berbagai sumber misalnya dengan membaca dan berusaha memahami serat sastra gending. Sebuah sastra yang memiliki makna dalam menghayati hidup, menjalani hidup sesuai ruang dan waktunya. Semua tentang subyek dan predikat, mengetahui yang mana yang menjadi subyek dan menjadi predikat. Subyek selalu mendahului predikat, tidaklah mungkin predikat ada sebelum subyeknya. Semua terstruktur dan tertata dengan rapi, tidak ada yang bisa saling mendahului, tak bisa predikat mampu mendahului subyeknya.

    ReplyDelete
  28. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb

    Saya masih mengingat yang dijelaskan oleh bapak ketika pelajaran berlangsung di dalam kelas bahwa bahasa analog lebih tinggi dibandingkan bahasa perumpamaan atau bahasa kiasan.Dan Melalui elegi ini saya sedikit dapat belajar untuk mengenal bahasa jawa.Menurut saya perlu pemahaman yang mendalam untuk memahaminya.Ini merupakan satu keunikan dimana maknanya bersemayan di bilik kata.Mengandung nilai etik dan estetika,nilai sopan dan santunnya. Menjadi pembelajaran juga buat diri saya untuk mengambil faedah dari nilai-nilai tersebut.

    ReplyDelete
  29. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Sebelumnya saya belum pernah mendengar “serat sastra gending”. Aneh rasanya ketika membaca pertama kali, apa maksud dari ini semua, ini menandakan kurangnya bacaan ssaya terkait sastra jawa. Jika dikupas lebih dalam lagi, pasti dibalik sastra jawa menyimpan berjuta-juta makna dan keindahan yang tiada taranya. Pada elegi ini, pemikiran ontologi dan epistimologi hubungan subyek-predikat karya Sultan Agung ing Mataram ternyata sejalan dengan pemikiran Immanuel Kant.
    Ketika disitu ada subyek, pasti disitu juga ada predikat. Dan subyek selalu berada di depan predikat. Karena adanya subyeklah predikat itu ada. Sehingga keduanya saling melengkapi satu sama lain. mungkin baru ini saja yang bisa saya pahami dari elegi ini karena belum banyaknya bacaab saya terkait karya-karya Jawa khususnya Serta Sastra Gending.

    ReplyDelete
  30. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Serat sastra gending merupakan salah satu karya adilihung bangsa kita. Didalamnya memuat ajaran ajaran kebijakan yang mencakupmistis, sosial, politik dan filsafat. Dalam serat ini juga membahas tentang panduan manusia untuk mengenal penciptanya serta mengerjakan hal yang bermanfaat terhadap sesama manusia.

    ReplyDelete
  31. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015

    Filsafat itu berarti berolah pikir. Karena pikiran itu bersifat bebas maka setiap orang bebas untuk berfilsafat, bebas untuk berpikir. Sehingga sebenarnya dari dulu orang jawa ternyata juga sudah berfilsafat. Berfilsafat melalui lagu, melalui sastra, melalui tembang macapat, melalui gending jawa yang mengandung unsur-unsur atau nilai-nilai yang mendalam. Subjek berarti pelaku, sedangkan predikat adalah kegiatan dari subyek. Subjeknya adalah orang-orang jawa, predikatnya adalah pikirannya yang dituangkan dalam sastra, macapat, gending, dan sebagainya.

    ReplyDelete
  32. Muh Wildanul Firdaus
    17709251057
    Pendidikan Matematika S2 Kelas C

    Dalam Serat Sastra Gending terdapat bahasan-bahasan yang mengandung nilai kefilsafatan yang sangat tinggi. Di dalamnya dijelaskan bahwa dzat lebih dulu dari sifatnya. Jadi bentuk itu ada terlebih dahulu kemudian baru bisa dipelajari sifatnya. Dan dengan sifat-sifat dari suatu bentuk kita dapat mengidentifikasi bentuk yang lain itu termasuk dalam satu kelompok atau tidak

    ReplyDelete
  33. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Filsafat dapat memandang segala aspek kehidupan. Tidak hanya para filsuf dunia barat saja, namun Indonesia memiliki filsuf yang menerangkan bagaimana hubungan antara subyek dan prediket dalam Serat Sastra Gending. Subyek artinya pelaku atau yang melakukan, sedangkan predikat adalah yang terkena sifat atau perlakuan dari subyek. Di dalam sastra gending, antara subyek dengan predikat memliki hubungan baik secara sadar maupun tidak sadar.

    ReplyDelete
  34. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Serat sastra gending merupakan karya seni yang di dalamnya dapat dikaji dan dapat menjadi bahan dalam berfilsafat. Subjek dan predikat dapat dikaji melalui sastra ini. Dimana subjek tidak sama dengan predikat. Berfilsafat juga bisa dari hal-hal sederhana di sekitar kita. Kerudung bisa menjadi subjek dan kepala menjadi objek, baju menjadi subjek dan badan menjadi objek. Jadi segala sesuatu yang ada di muka bumi bisa dikenai subjek maupun objek.

    ReplyDelete
  35. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh


    Kesenian-kesenian tradisional jawa itu mengandung nilai filosofi yang sangat tinggi. Salah satunya adalah wayang. Wayang merupakan unsur penting dalam kehidupan jawa, yaity sebagai compelling religius mythology, yang menyatukan masyarakat jawa ecara menyeluruh, secara horizontal meliputi seluruh daerah geografi jawa, dan secara vertikal meliputi semua golongan sosial masyarakat jawa. Wayang sebagai seni pertunjukan tradisional jawa seringdiartukan sebagai “bayanmgan “ atau hanya samar-samar yang bergerak sesuai lakon/pakem yang dilakukan seorang dalang. Bayangan yang dihasilkan wayang itu sering juga dipahami sebagai gambaran perwatakan/karakter manusia sekaligus sebagai gambaran kehidupan manusia.

    ReplyDelete
  36. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PMC

    Sastra gending ini merupakan salah satu bukti betapa kayanya budaya Indonesia. Dan dari sastra gending larya Sultan Agung Ing Matarang ini kita dapat belajar bahwa subjek tidak dapat terlepas dari predikat. Jika subjeknya dzat maka predikatnya sifat. jika subjeknya suara maka predikatnya gema. Jika subjeknya bercermin predikanya adalah bayangannya. Manusia sebagai subjek di dunia ini tentu tidak dapat dipisahkan dari predikatnya yang salah satunya adalah perbuatannya.

    ReplyDelete
  37. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Indonesia merupakan negara dengan berbagai macam adat dan budaya, salah satunya budaya jawa. Budaya jawa penuh dengan makna, pesan moral dan pesan hidup. sebagai salah satunya apa yang tertuang dalam elegi diatas. Subyek dan predikat meruapakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Pesan-pesan moral dan nilai luhur selalu tersirat dalam subyek dan predikat tersebt.

    ReplyDelete
  38. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Dalam merefleksikan hidup perlulah ada batasan-batasannya. Karena ada batasan pastilah terdapat aturan-aturan. Batasan dan aturan tersebut bersumber dari Norma dan ajaran agama yang tidak bertentangan. Begitupun dalam halnya filsafat sastra jawa, pastilah ada aturan dan batasannya ketika menjadikan suatu pedoman dalam menjalaninya.

    ReplyDelete
  39. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  40. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi menggapai ontologi dan epistemologi jawa menjelaskan tentang hubungan subjek predikat dalam serat sastra gending. Hubungan antara subjek dan predikat adalah dimana subjek merupakan predikat. Dan predikat pasti termuat dalam subjek, predikat adalah semua sifat yang melekat pada subjek. Sifat meliputi yang ada dan yang mungkin ada sebagai sifat, salah satunya adalah hubungan subjek dan predikat itu bersifat determin atau menentukan. Determin menjatuhkan sifat baik pada subjek yang lain maupun pada objeknya atau pada predikatnya.

    ReplyDelete
  41. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Subjek akan membutuhkan predkat akan dapat dimaknai. Dalam elegi ini mengungkapkan bahwa subjek dan objek adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Semua makhluk yan ada di bumi ini membutuhkan subjek yang mampu menuntunnya mengetahui makna sesungguhnya tentang kehidupan yaitu Alla swt. Begitu juga membutuhkan suatu predikat sebagai sarana untuk mendapatkan kejelasan tentang kehidupan yang tengah dijalani.

    ReplyDelete
  42. Nurika Miftahuljannah
    17709251060
    PPs P. Mat C
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Serat sastra gending merupakan salah satu karya luhur bangsa kita. Didalam serat ini terdapat ajaran kebijakan yang meliputi mistis, sosial, politik dan filsafat. Dalam serat ini juga membahas tentang panduan manusia untuk mengenal penciptanya serta mengerjakan hal yang bermanfaat terhadap sesama manusia. Selain itu juga terdapat bahasan-bahasan yang mengandung nilai kefilsafatan yang sangat tinggi, yang dijelaskan bahwa dzat lebih dulu dari sifatnya. Jadi bentuk tersebut ada terlebih dahulu kemudian baru bisa dipelajari sifatnya. Sifat-sifat dari suatu bentuk dapat kita identifikasi bentuk yang lainnya apakah itu termasuk dalam satu kelompok atau tidak.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  43. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Orang jawa memang memiliki jiwa filsafat yang tinggi. Orang jawa biasanya mampu memaknai atau menyusun sesuatu dengan cara yang sangat filosofis. Misalnya dalam tata kota jogja, peletakan posisi keraton, jalan, pasar dan bangunan yang lain memiliki alasan yang sangat filosofis. Dari ceramah yang pernah saya dengar, tata letak kota jogja menggambarkan perjalanan hidup manusia dari lahir sampai mati

    ReplyDelete
  44. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Sultan agung lahir di Kotagedhe Yogyakarta dan pernah menjadi raja mataram yang saat itu merupakan kerajaan terbesar di jawa dan hampir menguasai seluruh jawa ditambah madura. Beliau merupakan sosok yang sangat konsen pada budaya dan sastra jawa, sehingga beliau dipilih menjadi pahlawan nasional. Kesusastraan yang tinggi menggambarkan peradaban yang tinggi pula, karena sastra dimanapun peradaban selalu ada dan menyertainya.

    ReplyDelete
  45. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Filsafat itu mempelajari segala aspek dan ilmu yan ada di bumi. Termasuk filsafat yang mempelajari sastra. Filsafat itu olah pikir dari kita sendiri. Subyek dapat diartikan “yang melakukan” dan predikat dapat diartikan “ akibat perlakuan dari subyek”. Seperti halnya awal dan akhir yang mimiliki sebab dan akibat, subyek dan predikatpun sejalan seperti itu.

    ReplyDelete
  46. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Betapa kaya filsafat jawa dalam menggambarkan/mengatur hidup manusia dalam menggapai sebuah keseimbangan dan keteraturan hidup. Dari elegy ini yang dapat saya serap adalah suatu predikat merupakan identitas dari subjek nya. Sedangkan subjek merupakan keadaan atau nyata atau adanya. Jadi predikat adalah sifatnya dari adanya tersebut.

    ReplyDelete
  47. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Budaya kita sangatlah kaya dan menyimpan berbagai nilai filosofi yang tinggi. Pemikiran yang tertuang di dalam adat istiadat dan kebudayaan kita selalu mengingatkan kita tentang banyak hal yang terjadi dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  48. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Subyek dan predikat merupakan dua hal yang berkaitan. Predikat mengikuti arah subyeknya. Tidak akan ada yang namanya subyek jika tidak ada predikat, dan predikat tidak akan ada tanpa adanya subyek, namun subyeklah yang menyebabkan munculnya predikat.

    ReplyDelete
  49. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Hubungan yang erat dan tak dapat dipisahkan antara subjek dan objek pada elegi ini memberikan makna bahwa memang jika pasangan yang diberikan di dunia ini merupakan pasangan yang terbaik bagi setiap makhluk. Jika terdapat individu yang mengatakan bahwa pasangan mereka itu tidak cocok dan bukan jodoh mereka, maka hal tersebut salah. Karena dalam emmilih pasangan dan menerima pasangan itu hanya dengan nafsu, bukan dengan keikhlasan yang akan memberikan dampak baik terhadap apa yang diterimanya.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  50. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    dari elegi diatas dapat diambil kesimpulan yaitu subyek dan predikat adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. ada subyek berarti harus ada predikat begitupun sebaliknya. dua hal tersebut tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  51. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Filsafat adalah olah pikir, dan karena ketika mencari ilmu berarti sedang berolah pikir maka filsafat pun dapat menyusup ke dalam ilmu apa saja, termasuk ke dalam sastra gending ini.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  52. Yuni Pratiwi
    15301241005
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Sastra gending merupakan salah satu kebudayaan jawa yang mengandung nilai-nilai filsafat yang tinggi, sesuai yang diungkapkan Darmajati Supajar. Dalam elegi ini dijelaskan bahwa suatu subjek tidak dapat dipisahkan dari predikatnya, hal ini sejalan dengan yang diungkapkan oleh Immanuel Kant. Contohnya saja, jika subyeknya dzat maka predikatnya sifat, jika subyeknya yang bercermin maka predikatnya adalah bayangannya, maka jika subyeknya manusia predikatnya adalah perbuatannya.

    ReplyDelete
  53. Aji Pangestu
    15301241009
    S1 Pendidikan Matematika I 2015
    Subyek dan predikat merupakan dua hal yang sangat erat kaitannya. Apabila ada subyek, maka ada predikat, begitu juga sebaliknya.

    ReplyDelete