Nov 1, 2015

TESIS DAN ANTI-TESIS PEMAHAMAN PENDEKATAN SAINTIFIK

Oleh Marsigit

Seperti diketahui bahwa secara eksplisit pendekatan Saintifik direkomendasikan untuk metode pembelajaran (dengan didukung atau dikombinasikan dengan metode lain yang selaras) dalam kerangka Kurikulum 2013. Sebelum diuraikan tentang implementasi dan contoh-contohnya, maka di sini akan dilakukan sintesis tentang adanya dikotomi pemikiran Saintifik dan Tidak Saintifik. Pendekatan saintifik yang terdiri dari sintak: a. mengamati; b. menanya; c.    mengumpulkan informasi; d.   mengasosiasi; dan e.   mengkomunikasikan.

Terdapat pemikiran (referensi) bahwa proses pembelajaran disebut ilmiah jika memenuhi kriteria seperti berikut ini.

Tesis 1dari referensi sebelah:
Substansi atau materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.

Anti-Tesis oleh Marsigit:
Pembelajaran dengan pendekatan Saintifik tetaplah berbasis Kompetensi sesuai dengan jiwa dan semangat Kurikulum 2013. Fakta atau fenomena merupakan objek keilmuan yang digunakan untuk membangun (Ilmu) Pengetahuan dengan pendekatan Saintifik yang melibatkan unsur logika dan pengalaman. Segala macam kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng dapat berfungsi untuk memperkuat landasan pikiran dan pengalaman.

Tesis 2 dari referensi sebelah:
Penjelasan guru, respon peserta didik, dan interaksi edukatif guru-peserta didik terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis.

Anti-Tesis 2 oleh Marsigit:
Pendekatan Saintifik dapat diselenggarakan dalam kerangka Konstruksivisme, yaitu
memberi kesempatan peran siswa untuk membangun pengetahuan/konsepnya melalui fasilitasi guru. Terminologi “Penjelasan guru-respon siswa” bertentangan dengan semangat Saintisme yaitu kemandirian untuk menemukan pengetahuannya. Pemikiran subjektif diperlukan untuk memperkokoh karakter memperoleh Sensasi Pengalaman. Penalaran yang menyimpang perlu disadari dan dicarikan solusi dan penjelasannya untuk memperkokoh konsep yang telah dibangunnya.

Tesis 3 dari referensi sebelah:
Proses pembelajaran harus terhindar dari sifat-sifat atau nilai-nilai nonilmiah. Pendekatan nonilmiah dimaksud meliputi semata-mata berdasarkan intuisi, akal sehat,prangka, penemuan melalui coba-coba, dan asal berpikir kritis.Intuisi. Intuisi sering dimaknai sebagai kecakapan praktis yang kemunculannya bersifat irasional dan individual. intuisi sama sekali menafikan dimensi alur pikir yang sistemik dan sistematik.Akal sehat. Guru dan peserta didik harus menggunakan akal sehat selama proses pembelajaran, karena memang hal itu dapat menunjukan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang benar. Namun demikian, jika guru dan peserta didik hanya semata-mata menggunakan akal sehat dapat pula menyesatkan mereka dalam proses dan pencapaian tujuan pembelajaran.Prasangka. Sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang diperoleh semata-mata atas dasar akal sehat (comon sense) umumnya sangat kuat dipandu kepentingan orang (guru, peserta didik, dan sejenisnya) yang menjadi pelakunya. Ketika akal sehat terlalu kuat didompleng kepentingan pelakunya, seringkali mereka menjeneralisasi hal-hal khusus menjadi terlalu luas. Hal inilah yang menyebabkan penggunaan akal sehat berubah menjadi prasangka atau pemikiran skeptis. Berpikir skeptis atau prasangka itu memang penting, jika diolah secara baik. Sebaliknya akan berubah menjadi prasangka buruk atau sikap tidak percaya, jika diwarnai oleh kepentingan subjektif guru dan peserta didik.Penemuan coba-coba. Tindakan atau aksi coba-coba seringkali melahirkan wujud atau temuan yang bermakna. Namun demikian, keterampilan dan pengetahuan yang ditemukan dengan caracoba-coba selalu bersifat tidak terkontrol, tidak memiliki kepastian, dan tidak bersistematika baku. Tentu saja, tindakan coba-coba itu ada manfaatnya dan bernilai kreatifitas. Karena itu, kalau memang tindakan coba-coba ini akan dilakukan, harus diserta dengan pencatatan atas setiap tindakan, sampai dengan menemukan kepastian jawaban. Misalnya, seorang peserta didik mencoba meraba-raba tombol-tombol sebuah komputer laptop, tiba-tiba dia kaget komputer laptop itu menyala. Peserta didik pun melihat lambang tombol yang menyebabkan komputer laptop itu menyala dan mengulangi lagi tindakannya, hingga dia sampai pada kepastian jawaban atas tombol dengan lambang  seperti apa yang bisa memastikan bahwa komputer laptop itu bisa menyala.Berpikir kritis. Kamampuan berpikir kritis itu ada pada semua orang, khususnya mereka yang normal hingga jenius. Secara akademik diyakini bahwa pemikiran kritis itu umumnya dimiliki oleh orang yang bependidikan tinggi. Orang seperti ini biasanya pemikirannya dipercaya benar oleh banyak orang. Tentu saja hasil pemikirannya itu tidak semuanya benar, karena bukan berdasarkan hasil eksperimen yang valid dan reliabel, karena pendapatnya itu hanya didasari atas pikiran yang logis semata.

Anti-Tesis 3 oleh Marsigit:
Indikator atau kriteria sifat non Ilmiah tidak serta merta dapat diturunkan dengan menegasikan sifat Ilmiah. Pendekatan Ilmiah bersintak (sesuai dengan referensinya), maka sifat Ilmiah tidak serta merta secara rigid identik dengan sintak-sintaknya. Untuk memperoleh sintak Ilmiah terkadang subjek didik melakukan hal-hal yang dapat dikategorikan sebagai non ilmiah, misal kekeliruan mengobservasi, dan mengambil kesimpulan. Kesimpulan yang belum benar mungkin terjadi walaupun siswa sudah menggunakan sintak Saintifik.

Peran intuisi sangat penting bai sebagai Intuisi Berpikir maupun sebagai Intuisi Pengalaman.
Akal sehat sangat bermanfaat sebagai dimulainya kesadaran untuk mempersepsi objek berpikir.

Kegiatan coba-coba secara ontologis bermakna sebagai kegiatan interaksi antara pikiran dan pengalaman, antara logika dan faktanya, antara analitik dan sintetik, dan antara a priori dan a posteriori.

Berpikir kritis adalah berpikir reflektif sampai pada kemampuan mengambil keputusan secara benar.

Fenomenologi sebagai kerangka filosofis pendekatan Saintifik.

Hermenitika sebagai pendekatan epistemologi pendekatan Saintifik.

Yogyakarta, Nopember 2015


92 comments:

  1. SHALEH/S3 PEP/2016/KELAS A
    NIM: 16701261010

    PERKAWINAN PIKIRAN DAN PENGALAMAN

    Pikiran tanpa didasari dengan pengalaman adalah fatamorgana yang memiliki sifat ada dalam ketiadaanya. Dan pengalaman tanpa dilandasi dengan pikiran adalah suatu kebetulan, yang berpotensi “benar” dan “salah” atau “tepat” dan “tidak tepat”. Pikiran akan menjadi bermakna jika diuji melalui pengalaman nyata dan pengalaman akan juga lebih bermakna apabila dikaji dan dipikirkan dengan metode ilmiah. Perkawinan pikiran dan pengalaman akan melahirkan sebuah ilmu yang bermanfaat.

    ReplyDelete
  2. Luthfannisa Afif Nabila
    13301241041
    Pendidikan Matematika A 2013
    Saya setuju dengan pernyataan anti tesis 3 oleh bapak Marsigit. Bapak Marsigit mengatakan bahwa untuk memperoleh sintak ilmiah terkadang subjek didik melakukan hal-hal yang dapat dikategorikan sebagai non ilmiah, misal kekeliruan mengobservasi, dan mengambil kesimpulan. Kesimpulan yang belum benar mungkin terjadi walaupun siswa sudah menggunakan sintak Saintifik. Jadi yang dapat saya tangkap adalah untuk memperoleh sintak ilmiah itu tak lepas dari hal-hal yang dapat dikategorikan sebagai non ilmiah seperti kekeliruan mengobservasi, dan mengambil kesimpulan. Seperti hidup, untuk menjadi manusia yang lebih baik kita pasti pernah melakukan kesalahan sehingga kita belajar dari kesalahan-kesalahan tersebut untuk berikutnya kita perbaiki untuk menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Keliru itu wajar karena dari kekeliruan itu kita jadi tahu kesalahan kita sehingga didapatkan perbaikan untuk mendapatkan kesimpulan yang benar.

    ReplyDelete
  3. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Pendekatan saintifik merupakan proses mengkonstruksikan pengetahuan siswa, proses ini dapat di mulai dari pembelajaran menggunakan benda-benda konkrit untuk mendapatkan pengetahuan formal.pendekatan saintifik memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan konsepnya sendiri dalam mendapatkan pengetahuan dan memberikan ruang bagi siswa untuk membangun pengtahuan dengan pikirannya.dapat memberi kesempatan siswa untuk dapat berpikir, mengolah data, mengasosiasi, menyampaikan hasil dan menarik kesimpulan.

    ReplyDelete
  4. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 20i16

    jika pendekatan saintifik ini bisa dijalankan dengan baik pastinya tujuan dari kurikulum 2013 akan terlaksana dengan baik karena ini adalah salah satu poiner terpenting dalam pengembangan pendidikan di indonesia.

    ReplyDelete
  5. Melania Desta Maharani
    13301244018
    Pendidikan Matematika C 2013

    Saya tertarik dengan pernyataan antitesis 1 oleh Prof. Marsigit. Bahwa pembelajaran dengan pendekatan Saintifik tetaplah berbasis Kompetensi sesuai dengan jiwa dan semangat Kurikulum 2013. Fakta atau fenomena merupakan objek keilmuan yang digunakan untuk membangun (Ilmu) Pengetahuan dengan pendekatan Saintifik yang melibatkan unsur logika dan pengalaman. Segala macam kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng dapat berfungsi untuk memperkuat landasan pikiran dan pengalaman. Dalam matematika tidak dapat terlepas dari kira-kira, khayalan, lehenda, atau dongeng. Misalnya saja, kekita kita sedang mempelajari geometri, objek yang sedang dipelajari adalah benda-beda yang ada didalam benak dan bayangan kita, kemudian kita gambarkan dalam bentuk model yang dituangkan dalam sebuah gambar. Seperti saat menggambar kubus dipapan tulis, gambar dipapan tulis tersebut merupakan model dari apa yang kita khayalkan dalam pikiran kita.

    ReplyDelete
  6. Miftahir Rizqa
    PEP Kelas A
    16701261027
    Pengetahuan diperoleh dari hermenitika pikiran dan pengalaman, analitik dan sintetik, a priori (paham sebelum terjadi) dan a posteriori (paham setelah terjadi).

    ReplyDelete
  7. Miftahir Rizqa
    PEP Kelas A
    16701261027
    a priori terjadi pada orang dewasa, yang mana paham sebelum terjadi karena punya pengelaman yang banyak. Sedangkan a posteriori terjadi pada anak kecil yang mana paham sebelum terjadi. Oleh karena itu pendidikan pada tingkat dasar semestinya diawali dengan pengalaman dengan menyentuh langsung pada objek kajian agar mereka paham dan punya intuisi dalam menemukan pengetahuan yang baik

    ReplyDelete
  8. Afifah Nur Indah Sari
    13301244006
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Pendekatan scientific atau ilmiah merupakan suatu cara atau mekanisme pembelajaran untuk memfasilitasi siswa agar mendapatkan pengetahuan atau keterampilan dengan prosedur yang didasarkan pada suatu metode ilmiah.

    ReplyDelete
  9. Afifah Nur Indah Sari
    13301244006
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Pada pendekatan saintifik, substansi atau materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu. Penjelasan guru, respon peserta didik, dan interaksi edukatif guru-peserta didik terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis.

    ReplyDelete
  10. Afifah Nur Indah Sari
    13301244006
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Pendekatan saintifik diyakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Dalam pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah, para ilmuan lebih mengedepankan pelararan induktif dibandingkan dengan penalaran deduktif.

    ReplyDelete
  11. Afifah Nur Indah Sari
    13301244006
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Dari sisi konten, materi pembelajaran pada jenjang sekolah dasar ranah attitude harus lebih banyak atau lebih dominan dikenalkan, diajarkan dan atau dicontohkan pada anak, kemudian diikuti ranah skill, dan ranah knowledge lebih sedikit diajarkan pada anak. Hal ini berbanding terbalik dengan membangun soft skills dan hard skills pada jenjang perguruan tinggi. Di perguruan tinggi ranah knowledge lebih dominan diajarkan dibandingkan ranah skills dan attitude.

    ReplyDelete
  12. Afifah Nur Indah Sari
    13301244006
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Penalaran deduktif melihat fenomena umum untuk kemudian menarik simpulan yang spesifik.Sebaliknya, penalaran induktif memandang fenomena atau situasi spesifik untuk kemudian menarik simpulan secara keseluruhan.Sejatinya, penalaran induktif menempatkan bukti-bukti spesifik ke dalam relasi ide yang lebih luas. Metode ilmiah umumnya menempatkan fenomena unik dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan simpulan umum. Metode ilmiah merujuk pada teknik-teknik investigasi atas suatu atau beberapa fenomena atau gejala, memperoleh pengetahuan baru, atau mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya.

    ReplyDelete
  13. M A Kholiq Arfani
    13301241064
    PMI 2013

    Pendekatan saintifik yang dianggap sebagai pendekatan yang diharapkan dapat meningkatkan prestasi siswa dan juga keaktifan siswa seperti sebuah koin. di satu sisi merupakan pendekatan yang bagus dan tujuan yang bagus tetapi dalam pelaksanaan masih banyak hal yang kurang, dari guru, dari siswa atau abhkan dari sekolah.

    ReplyDelete
  14. DARWIS CAHYO NUGROHO
    13301244014
    PENDIDIKAN MATEMATIKA C 2013

    Menanggapi Anti-Tesis 3 tentang Pendekatan Saintifik dapat diselenggarakan dalam kerangka Konstruksivisme, yaitu
    memberi kesempatan peran siswa untuk membangun pengetahuan/konsepnya melalui fasilitasi guru. Terminologi “Penjelasan guru-respon siswa” bertentangan dengan semangat Saintisme yaitu kemandirian untuk menemukan pengetahuannya. Pemikiran subjektif diperlukan untuk memperkokoh karakter memperoleh Sensasi Pengalaman. Penalaran yang menyimpang perlu disadari dan dicarikan solusi dan penjelasannya untuk memperkokoh konsep yang telah dibangunnya. Saya setuju sekali bahwa saintifik digunakan agar siswa membangun pengetahuannya sendiri melalui usaha mereka masing-masing

    ReplyDelete
  15. Lazuardi Nugroho
    13301244017
    S1 Pendidikan Matematika C 2013
    Pendekatan Saintifik dapat diselenggarakan dalam kerangka Konstruksivisme, yaitu
    memberi kesempatan peran siswa untuk membangun pengetahuan/konsepnya melalui fasilitasi guru. Dalam teori Vygotsky disebutkan bahwa pembelajaran dapat dilakukan oleh guru secara scaffolding. Scaffolding ini yang berarti memberikan kepada siswa sejumlah bantuan besar selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada siswa tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah mampu mengerjakan sendiri. Bantuan yang diberikan pembelajar dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan masalah ke dalam bentuk lain yang memungkinkan siswa dapat mandiri. Upaya tersebut dilakukan guru agar siswa mencapai keberhasilan.

    ReplyDelete
  16. Andhita Wicaksono Nugroho
    13301241065
    Pendidikan Matematika C 2013

    Terima kasih Pak, postingan ini sangat bermanfaat bagi saya dalam mencari ilmu

    ReplyDelete
  17. Teduh Sukma Wijaya
    13301241073
    Pendidikan Matematika C 2013

    Pembelajaran dengan pendekatan Saintifik tetaplah berbasis Kompetensi sesuai dengan jiwa dan semangat Kurikulum 2013. Fakta atau fenomena merupakan objek keilmuan yang digunakan untuk membangun (Ilmu) Pengetahuan dengan pendekatan Saintifik yang melibatkan unsur logika dan pengalaman. Segala macam kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng dapat berfungsi untuk memperkuat landasan pikiran dan pengalaman.

    ReplyDelete
  18. Yosi Giyaningsih
    13301244030
    Pendidikan Matematika C 2013

    Pendekatan Sintifik yang digunakan dalam kurikulum 2013 dilakukan dengan langkah yang kita kenal dengan 5 M, yaitu mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengomunikasikan. kelima unsur ini sebenarnya merupakan langkah-langkah yang dilakukan pada proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik yang dilakukan pada umumnya.

    ReplyDelete
  19. Yosi Giyaningsih
    13301244030
    Pendidikan Matematika C 2013

    Pendekatan Saintifik memiliki isi atau materi pembelajaran. materi pembelajaran pada pendekatan saintifik berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu, bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata. Namun, saya setuju dengan pernyatan bapak Marsigit yang membuat anti tesis pernyataan ini bahwa materi pendekatan Saintifik tetaplah berbasis Kompetensi yang sesuai dengan Kurikulum 2013. Fakta atau fenomena merupakan objek keilmuan yang digunakan untuk membangun Ilmu Pengetahuan dengan pendekatan Saintifik yang melibatkan unsur logika dan pengalaman. Segala macam kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng dapat berfungsi untuk memperkuat landasan pikiran dan pengalaman.

    ReplyDelete
  20. Yosi Giyaningsih
    13301244030
    Pendidikan Matematika C 2013

    Pendekatan Saintifik merupakan suatu pendekatan yang melibatkan siswa untuk menjadi pusat pembelajaran, siswa diminta untuk selalu aktif, kreatif dan inovatif dalam hal-hal tertentu, berpikir logis dan sistematis, dan lain lain. dalam postingan ini disebutkan bahwa penjelasan guru, respon peserta didik, dan interaksi edukatif guru-peserta didik terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis, namun saya juga setuju dengan anti tesis bapak marsigit yang menyebutkan bahwa pendekatan saintifik menganut teori konstruktivisme yang memberi kesempatan siswa untuk memabngun sendiri pengetahuannya dari pengalaman yang ia dapatkan. Pemikiran subjektif diperlukan untuk memperkokoh karakter memperoleh Sensasi Pengalaman. Penalaran yang menyimpang perlu disadari dan dicarikan solusi dan penjelasannya untuk memperkokoh konsep yang telah dibangunnya.

    ReplyDelete
  21. Yosi Giyaningsih
    13301244030
    Pendidikan Matematika C 2013

    Kerangka berpikir pendekatan saintifik adalah berdasarkan pengalaman nyata. dibutuhkan interaksi antara peserta didik dan guru agar pembelajaran dengan pendekatan saintifik dapat dilakukan dengan baik. pendekatan saintifik yang pada dasarnya diperoleh dari pengalaman nyata tentu memiliki berbagai kemungkinan-kemungkinan yang tanpa disadari merupakan pemikiran yang tidak logis. oleh karena itu, guru dan siswa harus bekerjasama untuk mencari solusi dan penjelasan agar pemikiran yang tidak logis menjadi logis.

    ReplyDelete
  22. Yosi Giyaningsih
    13301244030
    Pendidikan Matematika C 2013

    Proses pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik adalah bersifat ilmiah, oleh karena itu Proses pembelajaran harus terhindar dari sifat-sifat atau nilai-nilai nonilmiah. Pendekatan nonilmiah dimaksud meliputi semata-mata berdasarkan intuisi, akal sehat,prangka, penemuan melalui coba-coba, dan asal berpikir kritis. namun, sejalan dengan hal ini, sifat-sifat non-ilmiah ternyata juga diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran. seperti anti tesis yang disampaikan oleh bapak marsigit yaitu " Peran intuisi sangat penting bai sebagai Intuisi Berpikir maupun sebagai Intuisi Pengalaman. Akal sehat sangat bermanfaat sebagai dimulainya kesadaran untuk mempersepsi objek berpikir. Kegiatan coba-coba secara ontologis bermakna sebagai kegiatan interaksi antara pikiran dan pengalaman, antara logika dan faktanya, antara analitik dan sintetik, dan antara a priori dan a posteriori. Berpikir kritis adalah berpikir reflektif sampai pada kemampuan mengambil keputusan secara benar. Fenomenologi sebagai kerangka filosofis pendekatan Saintifik. Hermenitika sebagai pendekatan epistemologi pendekatan Saintifik."

    ReplyDelete
  23. Eka Pravista
    13301241004
    Pendidikan Matematika A 2013

    Saya setuju bahwa kegiatan coba-coba melahirkan temuan yang bermakna. Di dalam pembelajaran, kegiatan coba-coba itu penting, dengan mencoba siswa jadi tau mana yang benar dan salah, dan setiap siswa akan menemukan pengalaman dan pengetahuan yang berbeda. Sehingga penting bagi guru untuk menyelaraskan hasil temuan murid-muridnya. Namun, dalam kegiatan coba-coba ini juga harus dibatasi, hal apa saja yang boleh dan tidak boleh di coba.

    ReplyDelete
  24. Eka Pravista
    13301241004
    Pendidikan Matematika A 2013

    Kemampuan berpikir kritis sebenarnya dimiliki oleh semua orang. Namun, tingkat Kemampuan berpikir kritis yang dimiliki oleh setiap orang berbeda-beda. Oleh karena itu, pendidikan di di Indonesia perlu memperhatikan bagaiman cara meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada diri siswa? Dari sejak kecil pun atau prasekolah sudah bisa diajarkan berpikir kritis, karena di elegi ini dikatakan bahwa berpikir kritis adalah berpikir reflektif sampai pada kemampuan mengambil keputusan secara benar.

    ReplyDelete
  25. Rizqi Nefi Marlufi
    13301241035
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Setelah membaca bacaan diatas saya sangat setuju dengan ketiga anti-tesis dari Pak Marsigit. Dengan gambaran yang menggabungkan dasar ilmu dan realita yang ada menjadi suatu anti-tesis yang semoga dapat dimengerti oleh semua pihak, bahwa kita tidak dapat hanya berpatok pada sesuatu yang idealis. Idealisme perlu namun harus dapat melihat realita yang ada.

    ReplyDelete
  26. Rizqi Nefi Marlufi
    13301241035
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Dari tesis dan anti tesis oleh Bapak Marsigit membuka mata dan pengetahuan saya bagaimana hidup ini tidak sepenuhnya idealis dan berjalan secara lurus-lurus saja. Terkadang pemikiran yang terkesan menyimpang dari idealisme itulah yang akan membawa kita manusia pada perubahan lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  27. Rizqi Nefi Marlufi
    13301241035
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Dengan apa yang terjadi bisa saja menjadi kontradiksi ataupun anti-tesis dari apa yang dianggap sudah ideal. Dalam pembelajaran saintifik misalnya, “Penjelasan guru-respon siswa” bertentangan dengan semangat Saintisme yaitu kemandirian untuk menemukan pengetahuannya. Pemikiran subjektif diperlukan untuk memperkokoh karakter memperoleh Sensasi Pengalaman. Penalaran yang menyimpang perlu disadari dan dicarikan solusi dan penjelasannya untuk memperkokoh konsep yang telah dibangunnya.” Cukup membuat saya merefleksikan bahwa sesuatu bahwa banyak sekali sesuatu yang mungkin tidak terpikir dalam pikiran saya. Maka sari itu memang benar bahwa menambah wawasan dengan banyak belajar dan pengalaman itu penting.

    ReplyDelete
  28. Lilik Waziratul Muflihah
    13301244025
    Pend. Mat c 2013

    Pendekatan saitifik pada kenyataannya memiliki substansi yang baik untuk siswa. Dengan berbagai sintak pembelajaran yang terstruktur akan menuntun cara berpikir siswa agar sistematis yang sesuai dengan dasar konseptual lalu kemudian prosedural. Namun, hal tersebut masih sebagian kecil yang dapat tercapai, sisanya adalah baru mencapai tingkatan pertengahan.

    ReplyDelete
  29. Lilik Waziratul Muflihah
    13301244025
    Pend. Mat c 2013

    Indikator adalah dasar pencapaian kompetensi sebagai patokan minimal kkm yang dicapai siswa. Indikator yang baik adalah yang sesuai dan diturunkan langsung dari kompetensi dasar yang disertai dengan kisi-kisi penilaian yang akan dicapai siswa, yang bersifat memanusiakan manusia sesuai dengan matematika sekolah.

    ReplyDelete
  30. Melania Desta Maharani
    13301244018
    Pendidikan Matematika C 2013

    Saya tertarik dengan anti-tesis 2 mengenai pendekatan Saintifik dapat diselenggarakan dalam kerangka Konstruksivisme, yaitu memberi kesempatan peran siswa untuk membangun pengetahuan / konsepnya melalui fasilitasi guru. Saya, fikir bahwa pendidikan di Idonesia belum bisa terlepas dari kerangka konstruksivisme. Guru masih berperan penting dalam penanaman konsep pengetahuan / materi yang ada baru setelah itu siswa akan mengembangkannya dengan sumber-sumber belajar yang mereka dapatkan baik dari buku, internet, dan yang lainnya.

    ReplyDelete
  31. Melania Desta Maharani
    13301244018
    Pendidikan Matematika C 2013

    Poses pembelajaran sangat berkaitan dengan berpikir kritis. Karena berfikir kritis merupakan berpikir reflektif sampai pada kemampuan mengambil keputusan secara benar. Baik pendekatan konstruktivis maupun pendekatan saintifik sepertinya sama-sama menginginkan sebuah proses pembelajaran yang pada akhirnya membuat peserta didik untuk berfikir kritis, sehingga dapat mengembangkan pengetahuan yang mereka dapatkan menjadi fondasi kokoh untuk dikembangkan.

    ReplyDelete
  32. Nama : Muhammad Abdul Kholiq Arfani
    NIM : 13301241064
    Kelas : Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Dalam pendekatan saintifik dengan materi pembelajaran dimulai dengan objek yang nyata maka akan membuat siswa dapat mempermudah siswa dalam membayangkan materi yang akan dipelajari.

    ReplyDelete
  33. Nama : Muhammad Abdul Kholiq Arfani
    NIM : 13301241064
    Kelas : Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Pendekatan saintifik memberikan kesempatan siswa untuk mengeksplor materi pembelajaran dan guru sebagai pembatas agar ketika mengeksplor materi pembelajaran siswa tidak terlalu jauh dari tujuan pembelajaran.

    ReplyDelete
  34. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    saya sangat setuju dengan pendapat Prof. Marsigit mengenai antitesis dari tesis 3 yang menyatan antitesis sebagai berikut Indikator atau kriteria sifat non Ilmiah tidak serta merta dapat diturunkan dengan menegasikan sifat Ilmiah. Pendekatan Ilmiah bersintak (sesuai dengan referensinya), maka sifat Ilmiah tidak serta merta secara rigid identik dengan sintak-sintaknya. Untuk memperoleh sintak Ilmiah terkadang subjek didik melakukan hal-hal yang dapat dikategorikan sebagai non ilmiah, misal kekeliruan mengobservasi, dan mengambil kesimpulan. Kesimpulan yang belum benar mungkin terjadi walaupun siswa sudah menggunakan sintak Saintifik.
    maka sama halnya dengan mata pelajaran agama, maka jika menggunakan pemahaman konsep ilmiah dan yang non ilmiah tidak dapat diterima, maka belajar agama itu tidak logis, karena kita belum mampu menjelaskan secara ilmiah, hal inikan sangat berbahaya, dan bisa-bisa membuat keimanan sesorang dan peserta didik hancur berantakan. sehingga pembelajaran saintifik dengan sintaknya harus di koreksi terlebih dahulu, sesuai atau tidak dengan keadaan kita di dunia timur ini.

    ReplyDelete
  35. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  36. Praneswari Kusuma Dewi
    13301241033
    Pendidikan Matematika A 2013

    Pendekatan saintifik adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran ilmiah di kurikulum 2013 yang melibatkan pengalaman dan pikiran. Pengalaman berupa kegiatan langsung, seperti observasi, melakukan suatu percobaan, dan lain sebagainya. Melalui pengalaman siswa bisa membuktikan secara langsung akan suatu teori tertentu yang ia pelajari. Pengalaman mencoba memberikan suatu penyelesaian terhadap suatu masalah melalui pembuktian langsung, praktik, observasi, hingga akhirnya diperoleh suatu kesimpulan. Sedangkan pikiran mencoba untuk memberi jalan keluar secara logis, membuat kesimpulan secara objektif berdasarkan pengalaman. Sehingga berpikir objektif menjadi kajian utama dalam pembelajaran ilmiah berbasis saintifik. Namun, seperti yang ditulis oleh Prof.Marsigit bahwa pemikiran subjektif diperlukan untuk memperkokoh karakter memperoleh sensasi pengalaman. Saya juga setuju akan hal ini. Jadi berpikir objektif dan subjektif keduanya sama-sama baik digunakan dalam membangun kegiatan pembelajaran.

    ReplyDelete
  37. Herlingga Putuwita Nanmumpuni
    Pendidikan Matematika A 2013
    13301241019

    Pada Anti-tesis point ke 3, Prof. Marsigit mengatakan bahwa untuk memperoleh sintak Ilmiah terkadang subjek didik melakukan hal-hal yang dapat dikategorikan sebagai non ilmiah, misal kekeliruan mengobservasi, dan mengambil kesimpulan, saya setuju dengan pendapat ini, karena faktanya hal ini benar-benar terjadi saat saya sedang menempuh ppl. Meskipun pembelajaran telah dilangsungkan menggunakan sintak Saintifik tetapi ada siswa yang menarik kesimpulan yang belum benar.

    ReplyDelete
  38. MUTIARA KUSUMAWATI
    16701251007
    PEP S2 B

    Pendekatan saintiifk adalah pendekatan ilmiah. Dalam proses pembelajaran, guru yang berperan sebagai fasilitator berfungsi untuk membantu siswa daam mengkonstruksi pemahaman secara ilmiah dan mandiri. Dengan demikian, proses penemuan pemahaman dengan coba-coba diharapkan tetap berada dalam ranah ilmiah. Proses coba-coba yang diakukan peserta didik dapat diarahkan untuk memiiki dasar secara ilmiah dalam penalarannya.

    ReplyDelete
  39. Rospala Hanisah Yukti Sari
    16790251016
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A Tahun 2016

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Dari pemaparan tersebut, sesungguhnya pendidikan saintifik ternyata berkebalikan dengan esensi pengetahuan itu sendiri. Pendidikan saintifik mengabaikan aspek pengalaman dan intuisi siswa. Padahal, hal itu perlu dikembangkan agar pengetahuan yang didapat lebih dijamin kevalidan dan reabilitasnya.

    Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    ReplyDelete
  40. Rofiah Yusuf
    13301241039
    Pend. Mat I 2013

    Pendekatan Saintifik atau yang lebih dikenal dengan pendekatan berbasis ilmiah merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang berbasis pengamatan, mengumpulkan informasi/ekspresi, mengolah informasi dan mengkomunikasikan.

    ReplyDelete
  41. Rofiah Yusuf
    13301241039
    Pend. Mat I 2013

    Pendekatan saintifik model kurikulum 2013 merupakan model pembelajaran abad ke-21. Pentingnya penekanan sikap, keterampilan dan pengetahuan pada siswa dapat menumbuhkembangkan daya kreativitas anak dalam belajar.

    ReplyDelete
  42. Rofiah Yusuf
    13301241039
    Pend. Mat I 2013

    Dalam kegiatannya, pendekatan saintifik atau model pembelajaran ilmiah ini di dalam menarik sebuah simpulan umum senantiasa memperhatikan fenomena unik yang terjadi dengan melakukan kajian secara spesifik dan juga secara detail. Pendekatan seintifik tersebut bila disimpulkan lebih merujuk kepada teknik-teknik investigasi atau mencari informasi terhadap fenomena atau suatu gejala, kemudian mencari pengetahuan baru yang kemudian memadukannya dengan pengetahuan-pengetahuan yang sebelumnya.

    ReplyDelete
  43. Arif Dwihantoro
    13301244012
    Pendidikan Matematika C 2013

    Mengamati dalam pendekatan saintifik tidak selalu siswa harus mengamati suatu kejadian atau permsalahan yang terjadi, tetapi siswa juga dapat diperintahkan untuk melakukan kegiatan yang secara tidak langsung kegiatan itu adalah hal pengamatan namun siswa dapat menjalankan kegiatan tersbut dengan lebih santai dan bahkan bisa dengan bermain.

    ReplyDelete
  44. Arif Dwihantoro
    13301244012
    Pendidikan Matematika C 2013

    Terkait materi dan subtansi dalam pembelajaran yang menggunakan pendekatan saintifik ini berbasi pada fakta dan fenomena yang ada. hal tersbut sangat memungkinkan ketika dalam pembelajaran pendekatan saintifik dikolbaorasikan atau dipadukan dengan pendekatan lainya, seerti dalam pembelajaran matematika sekarang ini yang diselenggarakanya pendidikan matematika realistik (PMRI). PMRI tersebut dirasa sesuai dengan pembelajaran yang berbasis fakta dan fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika dan nalar.

    ReplyDelete
  45. Arif Dwihantoro
    13301244012
    Pendidikan Matematika C 2013

    Pembelajaran dengan pendekatan saintifik sebaiknya tetap menekankan pada logika dan penalaran yang memperlihatkan kondisi nyata yang ada di sekitar kita, sehingga siswa akan mampu untuk mendeskripsikan dan menyelesaikan permasalahan yang ada. Selain itu, siswa lebih mampu mengimplementasikan pengetahuannya di kehidupan sehari-hari secara nyata.

    ReplyDelete
  46. Arif Dwihantoro
    13301244012
    Pendidikan Matematika C 2013


    Berfikir logis dalam pembelajaran dengan pendekatan saintifik ini dapat melatih siswa untuk mengasah daya kritisnya terhadap fakta dan fenomena yang ada. Dan sebaiknya harus dikaitkan dengan kehidupan sehari-harinya.

    ReplyDelete
  47. Arif Dwihantoro
    13301244012
    Pendidikan Matematika C 2013

    Pembelajaran dengan pendekatan saintifik cenderung menekankan pada kemampuan siswa untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan dengan melakukan beberapa kegiatan yang dapat memicu siswa. Disini guru lebih berperan untuk mengontrol kegatan yang dilakukan siswa dan menjadi penengah dari apa yang didiskusikan oleh siswa, sehingga mampu mengurangi miskonsepsi siswa.

    ReplyDelete
  48. Arif Dwihantoro
    13301244012
    Pendidikan Matematika C 2013

    Adanya kepercayaan pemikiran pada seorang yang berpendidikan tinggi karena didasarkan berdasarkan pengalaman dan tentunya karena memiliki pengalaman yang lebih dari yang lain menandakan seorang tersebut diyakini memiliki pengetahuan dan ilmu yang lebih dari yang lainya.

    ReplyDelete
  49. Arif Dwihantoro
    13301244012
    Pendidikan Matematika C 2013

    Pendekatan ilmiah yang digunakan dalam saintifik tidak semerta-merta harus berdasar penelitian, ilmiah bisa dari kegiatan sehari-hari yang di kaitkan dalam pembelajaran, sehingga dalam pendekatan saintifik untuk pembelajaran juga dapat didukung dengan strategi lain yang memunculkan pembelajaran efektif seperti iquiry, discovery, PBL, PjBL atau lainya.

    ReplyDelete
  50. Arif Dwihantoro
    13301244012
    Pendidikan Matematika C 2013

    Tiga aspek yang menarik adalah sikap, pengetahuan, dan ketrampilan. Tiga aspek tersebut menjadi penilaian yang penting dalam implementasi kurikulum 2013 yang memang menerapkan pendekatan saintifik didalamnya. Hal tersebut sangat bagus karena peserta didik akan lebih terkntrol, tidak hanya pada aspek pengetahuan saja yang dinilai untuk mengetahu perkembanganya tetapi juga sikap dan ketrampilanya.

    ReplyDelete
  51. Arif Dwihantoro
    13301244012
    Pendidikan Matematika C 2013

    Pemikiran kritis akan terus terasah ketika seorang tidak berhenti dalam belajar. Diyakini ketika seorang berhenti belajar atau tidak lagi melakukan kegiatan yang dapat membiasakan untuk berfikir itu akan mengurangi daya piker kritis seseorang.sehiingga berfikir kritis sangat diperlukan dan pembelajaran harus menenkankan daya piker kritis siswanya.

    ReplyDelete
  52. Arif Dwihantoro
    13301244012
    Pendidikan Matematika C 2013

    Pembelajaran dengan pendekatan saintifik cenderung menekankan pada kemampuan siswa untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan dengan melakukan beberapa kegiatan yang dapat memicu siswa. Disini guru lebih berperan untuk mengontrol kegatan yang dilakukan siswa dan menjadi penengah dari apa yang didiskusikan oleh siswa, sehingga mampu mengurangi miskonsepsi siswa.

    ReplyDelete
  53. Arif Dwihantoro
    13301244012
    Pendidikan Matematika C 2013

    Kekeliruan mengobservasi, dan mengambil kesimpulan terkadang sering terjadi dalam kegiatan diskusi dalam pembelajaran. Pentingnya peran guru dalam hal ini sebagai pembenar atau yang meluruskan dari hasil observasi siswa, sehingga peran guru dalam pembelajaran saintifik pun tetap diperlukan yaitu sebagai fasilitator tetapi bukan lagi teacher center.

    ReplyDelete
  54. Jihan Ulya Mulyani
    13301244015
    Pendidikan Matematika C 2013

    Pembelajaran dengan pendekatan Saintifik berdasarkan kompetensi yang ada pada kurikulum 2013 yaitu kompetensi sikap, pengetahuan, dan ketrampilan. saya setuju dengan anti-tesis 1 dari prof. marsigit bahwa objek keilmuan pendekatan saintifik tetap berupa fakta atau fenomena dengan melibatkan unsur logika dan pengalaman yang bertujuan untuk membangun (Ilmu) Pengetahuan. Segala macam kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng dapat berfungsi untuk memperkuat landasan pikiran dan pengalaman, karena kurikulum 2013 menuntut siswa untuk aktif bertanya. hal-hal yang biasa siswa tanyakan adalah segala hal yang berhubungan dengan pengalamannya, baik melalui khayalan, legenda, maupun dongeng.

    ReplyDelete
  55. Jihan Ulya Mulyani
    13301244015
    Pendidikan Matematika C 2013

    pada tesis 2 terdapat pernyataan bahwa "Penjelasan guru-respon siswa" artinya bahwa siswa akan merespon pembelajaran setelah menerima penjelasan dari guru. hal ini berarti bahwa pengalaman yang diperoleh siswa berdasarkan penjelasan guru. proses tersebut tentu akan menjadikan siswa tergantung kepada guru. padahal kurikulum 2013 bernafaskan pada pembelajaran konstruksivisme. saya sangat setuju dengan anti-tesis beliau (prof.marsigit) yang kedua ini. pembelajaran seharusnya menuntut kemandirian siswa untuk menemukan pengetahuannya sendiri berdasarkan pengalaman yang diperolehnya tanpa bergantung pada penjelasan guru. siswa hanya dipancing melalui clue (petunjuk) sehingga siswa mampu memahami konsep berdasarkan pengalaman yang dikumpulkannya. guru bersifat sebagai fasilitator siswa untuk membimbing siswa membangun pengetahuannya.

    ReplyDelete
  56. Jihan Ulya Mulyani
    13301244015
    Pendidikan Matematika C 2013

    pengimplementasian kurikulum 2013 tidak harus selalu berdasarkan penelitian ilmiah seperti halnya kegiatan di laboratorium. semua pembelajaran dapat berdasarkan pendekatan ilmiah dengan sintak saintifik 5M, seperti pendekatan PBL, PjBL, quantum learning, discovery learning, inquiri, dll.

    ReplyDelete
  57. Jihan Ulya Mulyani
    13301244015
    Pendidikan Matematika C 2013

    saya sependapat dengan pemikiran beliau (prof. marsigit) bahwa kegiatan dengan sintak ilmiah dapat menjadi non-ilmiah apabila siswa di dalam proses pembelajaran tersebut terdapat kekeliruan dalam mengobservasi dan mengambil kesimpulan. kesimpulan salah bisa terjadi apabila siswa belum memahami konsep. untuk itu, peran guru sangat diperlukan sebagai fasilitator dalam membimbing siswa menemukan konsep melalui pengalaman atau pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya yaitu dalam hal ini melalui observasi yang telah dilakukannya.

    ReplyDelete
  58. Jihan Ulya Mulyani
    13301244015
    Pendidikan Matematika C 2013

    benar pak,peran intuisi sangat penting sebagai Intuisi Berpikir maupun sebagai Intuisi Pengalaman. pikiran dan pengalaman merupakan sesuatu yang berjalan berdampingan. pemikiran ada berdasarkan pengalaman. namun, bisa juga pengalaman lahir berdasarkan pemikiran.

    ReplyDelete
  59. Musa Marengke
    S3 PEP kelas A,2016
    Dalam proses belajar mengajar dalam mata pelajaran apapun,persoalan tujuan dan orientasi pembelajaran menjadi prioritas bagi guru memproses melalui kegiatan belajar mengajar.Proses itu adalah proses yang berangkat dari nilai, dalam proses nilai menuju nilai. Jika demikian maka guru terutama guru matematikan harus memadukan antara ilmu matematika dengan proses pembelajaran pada satu proses pemberdayaan kemanusiaan sehingga pencapaian tujuannya berdasarkan nilai-nilai universal dan integralistik.

    ReplyDelete
  60. Musa Marengke
    S3 PEP kelas A,2016
    Oleh karena itu, konsep Islamisasi ilmu pengetahuan yang kini menjadi trend pembelajaran kompetensi siswa menjadi pilihan sekaligus alternatif memecahan atas dikotomi ilmu-ilmu umum(alam/dunia) dan ilmu-ilmu agama yang selama ini digencarkan orang-orang eropa ke dunia Timur. Jadi guru matematika, fisika, kimia dll ,misalnya mampu menjelaskan dan menghubungkan dengan aspek agama, moral dan kemanusiaan.

    ReplyDelete
  61. Herwati Dian Saputri
    12313244004
    Pend. Matematika (Inter.)

    Saya sangat setuju dengan beberapa antitesis yang Bapak kemukakan, terutama antitesis 2 bahwa pengetahuan itu dibangun oleh siswa itu sendiri dengan bimbingan guru. Guru sebagai fasilitator seharusnya dapat memfasilitasi siswa untuk lebih mandiri dalam mengontruksikan pengetahuan dari berbagai sumber dan pengalaman siswa. Bukan semata-mata memberikan pengetahuan begitu saja tanpa mengetahui prosesnya layaknya mengisi wadah yang kosong.

    ReplyDelete
  62. Herwati Dian Saputri
    12313244004
    Pend. Matematika (Inter.)

    Pembelajaran itu oleh siswa dan untuk siswa. Guru sehausnya menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Bukan lagi sebagai objek belajar yang hanya diberikan konsep/materi secara langsung dengan metode ceramah. Siswa juga perlu diberikan kesempatan untuk membangun pengetahuannya sendiri sehingga lebih paham dan mengena di benak mereka.

    ReplyDelete
  63. Herwati Dian Saputri
    12313244004
    Pend. Matematika (Inter.)

    Selain itu, dengan dijadikannya siswa sebagai subjek belajar. Guru juga perlu untuk memfasilitasi siswa. Baik dari sumber belajar, media pembelajaran, dll. Dengan demikian, pembelajaran di kelas dapat berjalan dengan baik dan pengetahuan siswa juga semakin baik.

    ReplyDelete
  64. Musa Marengke
    S3 PEP kelas A,2016
    Fenomena menunjukkan bahwa saat ini sebagian guru matematika/fisika/kimia di indonesia misalnya masih berpandangan bahwa ilmunya itu tidak ada hubungannya dengan agama bahkan tidak ada agama dalam silabus dan RPPnya sehingga mereka enggan memadukan dan mengaitkan. Pandangan ini bisa saja keliru. Mukankah proses pembelajaran terjadi melibatkan unsur mental agama dan emosi keagamaan? dan guru dan siswa itu adalah orang yang bergama maka perasaan dan pemikiran keagamaan tetapi menjadi privasi hidup yang tidak pernah mati.

    ReplyDelete
  65. Annisa Nur Arifah
    13301241011
    Pendidikan Matematika A 2013

    Saya setuju dengan Anti-Tesis 2 oleh Prof. Marsigit bahwa penalaran yang menyimpang perlu disadari dan dicari solusi dan penjelasannya untuk memperkokoh konsep yang telah dibangunnya. Karena penalaran yang menyimpang itu timbul dari suatu kreatifitas, serta dengan penalaran yang menyimpang mungkinakan menimbulkan kesalahan yang akan menjadi suatu pembelajaran berharga.

    ReplyDelete
  66. Fadila Dyah Rahmawati
    13301241058

    Saya setuju dengan Anti-Tesis 1 bahwa pembelajaran dengan pendekatan Saintifik tetaplah berbasis Kompetensi sesuai dengan jiwa dan semangat Kurikulum 2013. Fakta atau fenomena merupakan objek keilmuan yang digunakan untuk membangun (Ilmu) Pengetahuan dengan pendekatan Saintifik yang melibatkan unsur logika dan pengalaman. Segala macam kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng dapat berfungsi untuk memperkuat landasan pikiran dan pengalaman.
    Siswa tentu saja membutuhkan objek untuk membangun ilmu yang baru saja mereka dapatkan sebagai landasan.

    ReplyDelete
  67. Fadila Dyah Rahmawati
    13301241058

    Saya juga sangat setuju dengan anti-tesis 2 bawa Pendekatan Saintifik dapat diselenggarakan dalam kerangka Konstruksivisme, yaitu memberi kesempatan peran siswa untuk membangun pengetahuan/konsepnya melalui fasilitasi guru. Pemikiran subjektif diperlukan untuk memperkokoh karakter memperoleh Sensasi Pengalaman. Penalaran yang menyimpang perlu disadari dan dicarikan solusi dan penjelasannya untuk memperkokoh konsep yang telah dibangunnya.
    Jika di anti-tesis 1 siswa perlu objek untuk membangun ilmu yang mereka dapatkan sebagai landasan, di anti-tesis 2 siswa juga perlu pemikiran subjektif untuk memperkokoh karakter memperoleh sensasi pengalaman

    ReplyDelete
  68. Fadila Dyah Rahmawati
    13301241058

    Jadi kesimpulan yang saya dapatkan dari anti-tesis 1 dan anti-tesis 2, siswa memerlukan objek ilmu yang mampu menjadi landasan untuk ilmu yang didapat disertai dengan pemikiran subjektif yang memperkokoh karakter

    ReplyDelete
  69. Asri Fauzi
    16709251009
    Pend. Matematika S2 Kelas A 2016
    Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang berbasis pendekatana saintifik. Dalam pembelajaran dengan pendekatan saintifik menggunakan fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika. Fakta atau fenomena merupakan objek keilmuan yang digunakan untuk membangun (Ilmu) Pengetahuan. Kemudian juga pada pendektan saintifik, siswa diberikan kesempatan untuk membangun pengetahuan/konsepnya melalui penjelasan guru. Dalam pembelajaran matematika, pendekatan saintifik sangat cocok digunakan karena dengan pendekatan tersebut siswa mampu mengembangkan proses pemecahan masalah matematika.

    ReplyDelete
  70. Fitri Ayu Ningtiyas
    16709251037
    S2 P.Mat B UNY 2016

    Segala yang ada dan yang mungkin ada boleh jadi memiliki tesis dan anti-tesis. Karena pendekatan saintifik termasuk kedalam yang ada dan mungkin ada maka sudah barang tentu pendekatan ini memiliki tesis dan anti-tesisnya pula. Salah satu tesis dari pemahaman pendekatan saintifik agar memenuhi kriteria pembelajaran yang ilmiah adalah substansi atau materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu. Dari tesis ini terlihat pula perumusan anti-tesisnya yaitu pembelajaran dengan pendekatan Saintifik tetaplah berbasis kompetensi yang disesuaikan dengan kurikulum 2013 dimana fakta atau fenomena merupakan objek keilmuan yang digunakan untuk membangun (Ilmu) Pengetahuan dengan pendekatan Saintifik yang melibatkan unsur logika dan pengalaman.

    ReplyDelete
  71. Niswah Qurrota A'yuni
    NIM. 16709251023
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas B 2016

    Assalamu'alaikum Wr.Wb.,

    Pembelajaran disebut ilmiah jika dalam proses pembelajaran terhindar dari sifat-sifat atau nilai-nilai nonilmiah meliputi semata-mata berdasarkan intuisi, akal sehat, prangka, penemuan melalui coba-coba, dan asal berpikir kritis. Untuk memperoleh sintak Ilmiah terkadang subjek didik melakukan hal-hal yang dapat dikategorikan sebagai non ilmiah, misal kekeliruan mengobservasi, dan mengambil kesimpulan. Karena itu, yang perlu diingat dalam menerapkan pendekatan saintifik adalah guru kita tidak boleh menghendaki agar siswa memiliki pehaman yang sama karena itu menyalahi kodrat. Sebab siswa memiliki dunianya masing-masing yang tentu berbeda dengan dunia guru.

    Wasssalamu'alaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  72. Risa Tri Oktaviani
    13301241016
    Pendidikan Matematika A 2013

    Terima kasih kepada bapak Marsigit yang telah memposting artikel di atas. Dengan membaca artikel tersebut saya dapat belajar untuk melihat suatu obyek melalui dua sudut pandang yang berbeda b begitu pula dengan pembelajaran sainstifik. Saya setuju bahwa peran intuisi sangat penting bagi sebagai Intuisi Berpikir maupun sebagai Intuisi Pengalaman.

    ReplyDelete
  73. Risa Tri Oktaviani
    13301241016
    Pendidikan Matematika A 2013

    Kegiatan coba-coba secara ontologis bermakna sebagai kegiatan interaksi antara pikiran dan pengalaman, antara logika dan faktanya, antara analitik dan sintetik, dan antara a priori dan a posteriori. Kegiatan coba-coba menurut saya tidaklah salah apabila dilakukan dalam pembelajaran matematika. Terkadang terdapat beberapa permasalahan dalam menyelesaikan soal secara langsung bagi seorang peserta didik, namun dengan menggabungkan intuisi, pengalaman, dan logikanya ia dapat menyelesaikan permasalahantersebut meskibut harus mencoba beberapa solusi yang sesuai. Seperti halnya para ilmuan, mereka tidak dapat langsung menemukan suatu hal yang beser dalam satu kali perbuatan, namun mereka pernah mengalami kegagalan dalam kegiatan percobaannya.

    ReplyDelete
  74. Risa Tri Oktaviani
    13301241016
    Pndidikan Matematika A 2013

    Saya setuju dengan pernyataan dari bapak Marsigit bahwa Fakta atau fenomena merupakan objek keilmuan yang digunakan untuk membangun (Ilmu) Pengetahuan dengan pendekatan Saintifik yang melibatkan unsur logika dan pengalaman. Segala macam kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng dapat berfungsi untuk memperkuat landasan pikiran dan pengalaman.

    ReplyDelete
  75. SHALEH
    NIM: 16701261010
    PEP/KELAS A/2016

    Kurikulum 2013 menekankan pada substansi atau materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu. Materi dibatasi bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.
    Pendekatan ini berpotensi mengekang kreatifitas pikir dan mempersempit ruang dan waktu proses pembelajaran. Produk yang dikhawatirkan muncul dari pendekatan ini adalah manusia-manusia yang hanya cerdas secara nalar minim sensitifitas "rasa" atas sebuah fenomena. Dampak lebih lanjut, pendidikan dimungkinkan akan melahirkan generasi-generasi yang "mendewakan" pikir dan lupa "dzikir" kepada sang pencipta pikir.

    ReplyDelete
  76. SHALEH/S3 PEP/KELAS A/2016
    NIM: 16701261010

    Logika dan penalaran memiliki keterbatasan, fantasi dapat menembus sekat-sekat ruang dan waktu, ia layak mendapatkan fasilitasi untuk perkembangannya dan amat berguna dalam bidang ilmu sastra dan seni. Demikian juga dongeng dan legenda memiliki nilai-nilai kearifan sosial yang layak dikaji dan dipertahankan nilai-nilai yang relevan.

    Untuk itu, khayalan (fantasi), dongeng, dan legenda layak mendapatkan porsi sebagai salah satu bahan pembelajaran.

    ReplyDelete
  77. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Tesis memerlukan suatu antitesis untuk perbandingan. Tidak bisa kita selalu menganggap diri kita, misalnya, selalu benar. Kita butuh pembanding. Tujuannya bukan untuk mengubah diri kita 100% namun untuk evaluasi diri menuju lebih baik.
    Mengenai pendekatan saintifik, saya setuju dengan antitesis 1 bahwa dalam pembelajaran matematika tidak melulu menggunakan logika, meski logika adalah nyawa dari matematika. Maksud saya, terkadang kita memerlukan daya khayal kita untuk memikirkan sesuatu. Misalnya : bagaimana kita membayangkan suatu akar yang imajiner dan dimensi n ? Juga dimensi tak hingga?Menurut saya kurang lebih seperti itu.
    Juga saat mencoba-coba sesuatu. Bagi saya tidak apa-apa selama tidak keluar batas. Justru dengan coba-coba adalah awal dari suatu rasa suka. Tak kenal maka tak sayang. Terima kasih.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  78. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    dalam pelaksanaan kurikulum 2013 yang menggunakan pendekatan saintifik sebagai salah satu acuannya memerlukan substansi atau materi pembelajaran berdasarkan fakta atau fenomena yang ada dengan diperlukan bukti-bukti empiris yang dapat mendukung fenomena tersebut. dari hal itu sebenarnya kita di tuntut untuk dapat memecahkan suatu permasalahan yang ada dengan berdasarkan bukti empiris agar permasalahan tersebut yang sekiranya berasal dari pengalaman kita dapat di generalisasikan kepada yang lain, yang kemungkinan mendapatkan pengalaman yang mirip dengan pengalaman kita.

    ReplyDelete
  79. Ressy Rustanuarsi
    16709251033
    PPs PMAT Kelas B 2016

    Dengan berfilsafat kita belajar mengolah pikir dengan baik serta membiasakan berpikir kritis. Diharapkan dalam menghadapi fenomena sekitar kita mampu mencari anti tesisnya dan mensitesiskan sehingga kita tak hanya langsung percaya saja pada pandangan umum. Tetapi kita memiliki pemikiran sendiri mengenai hal tersebut. Dari artikel ini kita belajar bagaimana untuk lebih peka pada situasi sekitar (mengenai penerapan saintifik) dengan memahami tesis dan antitesis mengenai pendekatan saintifik.

    ReplyDelete
  80. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Dalam rangka memahami sesuatu, dapat dilakukan dengan cara membuat sintetis dan mencari anti tesisnya dari suatu tesis. Termasuk dalam memahami tentang pendekatan saintifik. Misalnya terdapat tesis sebagai berikut, Substansi atau materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata. Anti tesis yang mungkin adalah Fakta atau fenomena merupakan objek keilmuan yang digunakan untuk membangun (Ilmu) Pengetahuan dengan pendekatan Saintifik yang melibatkan unsur logika dan pengalaman. Segala macam kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng dapat berfungsi untuk memperkuat landasan pikiran dan pengalaman.

    ReplyDelete
  81. Asri Fauzi
    16709251009
    Pend. Matematika S2 Kelas A 2016
    Dalam melakukan pendekatan saintifik harus terhindar dari sifat-sifat atau nilai-nilai nonilmiah. Pendekatan nonilmiah dimaksud meliputi semata-mata berdasarkan intuisi, akal sehat,prasangka, penemuan melalui coba-coba, dan asal berpikir kritis. Di dalam pendekatan saintifik siswa dituntut berfikir lebih dalam artian lebih aktif berfikir daripada guru, mereka berusaha untuk membangun sendiri pengetahuan yang mereka miliki. Namun tidak serta merta semua hanya siswa yang beraktifitas, peran guru juga penting di dalam pendekatan saintifik yaitu sebagai fasilitator. Fasilitator untuk membantu siswa di dalam mengambil kesimpulan. Karena kesimpulan yang didapat oleh siswa di dala pendekatan saintifik belum tentu benar.

    ReplyDelete
  82. Ika Dewi Fitria Maharani
    16709251027
    PPs UNY P.Mat B 2016

    Setiap hal pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, termasuk penerapan kurikulum 13 yang menggunakan metode saintifik. Adapun perumusan metode ini yang saya tangkap ialah berusaha membuat manusia seideal mungkin, dengan mengesampingkan bahwa manusia adalah makhluk yang tidak sempurna. Salah satu contohnya adalah pernyataan bahwa siswa harus menemukan segala sesuatu dengan metode ilmiah. Saya setuju dengan pendapat Prof. Marsigit bahwa penemuan dengan metode ilmiah sekalipun pasti akan melibatkan metode non ilmiah dalam prosesnya dan itu tetap harus dihargai. Tidak serta merta kita hanya mementingkan satu hal dan mengesampingkan yang lain.

    ReplyDelete
  83. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    Fakta atau fenomena menjadi modal awal untuk dapat membangun pengetahuan kita. Namun dongeng, khayalan, kira-kira dan sebagainya juga perlu sebagai landasan awal kita dalam membangun pemahaman kita. Karena dengan adanya kira-kira, dongeng dan sebagainya, kita akan ingin lebih tahu atau membuktikan apa kita yang kita kira-kira ataupun dongen yang ada. Kira-kira ini bisa ada karena intuisi yang menghasilkan hipotesis. Dan kemudian dilakukan eksperimen untuk menguji hipotesis untuk didapatkan kebenarannya.

    ReplyDelete
  84. Khintoko Intan Permatasari
    13301244011
    Pendidikan Matematika C 2013

    Pendekatan saintifik yang sudah diterapkan pada jenjang SD/SMP/SMA pasti memiliki kelebihan dan kekurangan diantaranya dari segi kompetensi, pendekatan dan model pembelajaran, penilaian hasil belajar, struktur kurikulum, dan isi atau materi.

    ReplyDelete
  85. Khintoko Intan Permatasari
    13301244011
    Pendidikan Matematika C 2013

    Penerapan kurikulum 13 yang menggunakan metode saintifik pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Misalnya dari segi kompetensi. Terdapat beberapa kelebihan pada pendekatan saintifik dari segi kompetensi adalah adanya keseimbangan softskills dan hardskills pada aspek kompetensi lulusan yang meliputi sikap, pengetahuan dan keterampilan, kompetensi pada kurikulum 2013 menitik beratkan pada ranah sikap, sehingga pembelajaran diarahkan pada pembentukan lulusan dengan keluhuran sikap, siswa dapat mengklarifikasi tujuan pembelajaran, dan tiap mata pelajaran mendukung semua kompetensi (sikap, keteampilan, dan pengetahuan), dan memiliki kompetensi dasar yang diikat oleh kompetensi inti tiap kelas.

    ReplyDelete
  86. Khintoko Intan Permatasari
    13301244011
    Pendidikan Matematika C 2013

    Sedangkan kekurangan dari pendekatan saintifik dari segi kompetensi adalah pada pendekatan saintifik, ranah yang ditekankan adalah ranah sikap, namun esensinya pada setiap pembelajaran selalu berangkat dari KI-3 (pengetahuan) kemudian menuju KI-4 (keterampilan) dan baru diintegrasikan dengan KI-1 (sikap spiritual) dan KI-2 (sikap sosial). Sehingga ada kekhawatiran bahwa penanaman sikap justru tidak muncul dan terdapat ketidak singkronan dengan tujuan kompetensi kurikulum 2013 yang sesungguhnya, yaitu pembentukan sikap.Pemahaman SKL, Kompetensi Inti, dan Kompetensi dasar masih belum utuh diterima guru.

    ReplyDelete
  87. Khintoko Intan Permatasari
    13301244011
    Pendidikan Matematika C 2013

    Kurikulum 2013 menekankan esensi pendekatan ilmiah dalam pembelajaran. Pendekatan ilmiah diyakini sebagai dasar perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Dalam pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah, para ilmuwan lebih mengedepankan pelararan induktif (inductive reasoning) ketimbang penalaran deduktif (deductive reasoning).

    ReplyDelete
  88. Khintoko Intan Permatasari
    13301244011
    Pendidikan Matematika C 2013

    Adapun kelebihan penggunaan pendekatan saintifik adalah membuat guru memiliki keterampilan membuat RPP, dan menerapkan pendekatan scientific secara benar, materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu, dan mendorong siswa berpikir secara kritis, analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran.

    ReplyDelete
  89. Khintoko Intan Permatasari
    13301244011
    Pendidikan Matematika C 2013

    Namun ada beberapa kekurangan penggunaan pendekatan saintifik diantaranya konsep pendekatan saintifik masih belum dipahami, apalagi tentang metode pembelajaran yang kurang aplikatif disampaikan.dan embutuhkan waktu pembelajaran yang lebih lama untuk mewujudkan semua tahapan-tahapan yang ada pada pendekatan saintifik.

    ReplyDelete
  90. Nurul Purnaningsih
    13301241045
    Pendidikan Matematika Inter 2013

    Saya setuju dengan tanggapan anti-tesis 1 oleh Bapak Prof.Marsigit, karena walaupun materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu, terkadang siswa masih butuh untuk menggunakan khayalannya untuk memahami suatu konsep yang berada diluar akal pikiran mereka, contohnya ketika siswa yang berada didaerah terpencil sedang mempelajari materi volume dan luas permukaan bangun ruang dan guru hanya memfasilitasi dengan memberi contoh bangun ruang di dunia nyata dan hanya memperlihatkan gambar piramida di mesir, disini dibutuhkan khayalan (bayangan) dari siswa.

    ReplyDelete
  91. Nurul Purnaningsih
    13301241045
    Pendidikan Matematika Inter 2013

    Anti tesis 2 dari Bapak Prof. Marsigit adalah benar, bahwa pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang bersifat konstruktivisme, dimana siswa dapat mengkonstruk atau membangun sendiri pengetahuannya sedangkan guru hanya sebagai fasilitator, bukan berperan untuk memberikan penjelasan mengenai konsep-konsep kemudian menuntut respon dari peserta didik.

    ReplyDelete
  92. Nurul Purnaningsih
    13301241045
    Pendidikan Matematika Inter 2103

    Proses pembelajaran harus terhindar dari sifat-sifat atau nilai-nilai nonilmiah seperti intuisi, akal sehat,prangka, penemuan melalui coba-coba, dan asal berpikir kritis. Saya juga kurang setuju dengan kalimat tersebut, karena dalam pembelajaran terutama matematika, intuisi sangatlah diperlukan sebagai dasar berpikir agar siswa memiliki ide untuk mengkonstruk suatu konsep berdasarkan intuisi tersebut. Kegiatan coba-coba saya kira terkadang juga diperlukan ketika siswa kehilangan intuisinya.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id