Nov 1, 2015

Ontologi Saintifik


Oleh Marsigit

Secara umum, objek ilmu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Letak kedudukan objek ilmu berada di dalam pikiran atau di luar pikiran. Jika kebenaran berdasarkan objek yang ada di dalam pikiran maka lahirlah filsafat Idealis, Rasionalis, dan Skeptisism. Jika kebenaran berdasarkan objek di luar pikiran maka lahirlah filsafat Realisme dan Empirisisme.

Aliran Saintisisme berusaha menggabungkan kedua aliran besar tersebut. Namun aliran Saintisme mendasarkan pada gabungan asumsi-asumsi filsafat Positivisme dan Skeptisisme, yang dengan tegas menolak pendekatan non-ilmiah termasuk religiusitas dan humaniora. Skeptisisme sendiri sebagai aliran filsafat merentang sejarahnya sejak jaman Yunani Kuno.

Kelompok Skeptis adalah berpendapat, manusia tak dapat mengetahui dengan pasti mengenai segala sesuatu di dunia di sekitar kita, atau bahkan mengenai diri kita sendiri. Oleh karena itu manusia tidak dapat benar-benar mengetahui apa yang benar dan salah (Pyrrhon, Timon, Epikurus, Socrates, dan Rene Descartes).

Sikap skeptis adalah sebuah sikap yang menyangsikan kenyataan yang diketahui baik ciri-cirinya maupun eksistensinya. Sikap skeptis sebagai unsur dasar Skeptisisme Ilmiah akan memposisikan seseorang untuk selalu mempertanyakan klaim yang kurang memiliki bukti empiris yang kuat. Skeptisisme Ilmiah inilah yang kemudian dikenal sebagai pendekatan Saintifik.

Sebagai salah satu akar dan basis Saintifisme dan Saintifik, metode Positive yang dipelopori oleh Auguste Compte, menolak tesis-tesis ilmu-ilmu humaniora (geistesweistensaften) dan juga menolak Filsafat termasuk metafisik yang ada di adalamnya; sebaliknya kaum Positive berusaha membangun struktur dunia untuk membangun dunia dengan meletakkan metode Positive di atas Filsafat dan Spiritual.

Merunut objek dan pendekatan normatifnya pada time-line sejarahnya, konsekuensi logis dari dunia kontemporer dalam mempersepsi munculnya gagasan pendekatan Saintifik, haruslah berbesar hati untuk menerima kenyataan akan munculnya ide sintetik yang bersifat radik. Secara khusus seberapa jauh kita mampu memikirkan adanya konsep-konsep Saintifisme Ideal, Saintifisme Realis, Saintifisme Rasional, Saintifisme Positif, Saintifisme Empiris, dan Saintifisme Kontemporer.

Dalam khasanah pembentukan pengetahuan, I Kant (1671) secara gamblang menguraikan bahwa “pengetahuan” haruslah merupakan sintesis antara tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesis; secara garis besar tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesis yang berasal dari Logika Pikir dan yang berasal dari Logika Pengalaman.

Yang berasal dari Logika Pikir direpresentasikan oleh Idealisme, Rasionalisme, Skeptisisme, Logisisme, Formalisme, Simbolisme, Objektivisme dan Absolutisme. Sedangkan yang berasal dari Logika Pengalaman direpresentasikan oleh Realisme, Empirisisme, Intuisionisme, dan Subjektivisme. Logika Pikir mempunyai sifat-sifat konsisten, logis, koheren, analitik, rigor, a priori, formal, murni, objektif, terukur, deduktif, abstrak, intuisi murni dan terbebas oleh ruang dan waktu; sedangkan Logika Pengalaman mempunyai sifat kecocokan, persepsi, intuisi empirik, sintetik, a posteriori, subjektif, relatif, induktif, konkrit, dan terikat oleh ruang dan waktu.

Hermenitika ilmu menjamin adanya interaksi linear dalam kesiklikan antara unsur-unsur keterwakilan logika pikir dan logika pengalaman; sehingga I Kant menegaskan bahwa sebenar-benar Ilmu adalah bersifat Sintetik a priori. Logika pikir saja tanpa adanya logika pengalaman dianggap baru mencapai setengah ilmu; demikian juga jika hanya logika pengalaman tanpa adanya logika pikir.

Dalam sejarahnya, hemenitika keilmuan tersebut menghasilkan forma interaksi yaitu Positivisme dan Saintifisme beserta turunan-turunan dalam bentuk sintak-sintak praksis kependidikan, misalnya pendekatan Saintifik, Projek Based Learning, Problem Based-Learning, Cooperative Learning, Contextual Learning, dst.

Kemudian satu hal yang perlu direnungkan adalah mengapa manusia mampu berpikir? Memikirkan pengalamannya? Dan mewujudkan pemikirannya? Logika Pikir tidak akan pernah tuntas mampu menjelaskan mengapa dan sejak kapan dimulainya logika pikir, kecuali dengan cara menentukan “titik awal”; sedangan Logika Pengalaman dengan cara “membangun kesadaran”. Namun siapakah, kapankah dan dengan cara bagaimanakah seseorang mampu menentukan “titik awal”? Dan dalam keadaan yang bagaimana dan kapan seseorang dikatakan menyadari segala sesuatu?

Pertanyaan tersebut tidak mungkin dapat dijawab, kecuali menggunakan pendekatan Ontologi dan Epistemilogi Ilmu. Dengan cara ini I Kant  menemukan unsur dasar yang merupakan titik temuantara Logika Pikir dan Logika Pengalaman, yaitu Potensi Pikir Pengalaman yang berupa Kategori: Singular, Bagian, Universal – Afirmatif, Negatif, Infinit – Kategori, Hipotetik, Sintetik.  Potensi Pikir Pengalaman inilah yang kemudian dikenal sebagai Intuisi; potensi pikir berupa Intuisi Pikir dan potensi pengalaman berupa Intuisi Empirik.

Pertanyaan selanjutnya adalah, sejak kapan manusia mempunyai Intuisi Pikir dan Intuisi Pengalaman? Untuk pertanyaan ini maka tiadalah orang termasuk pakar keilmuan, psikologi dst yang mampu menjawabnya kecuali melalui pendekatan ontologis bahwa komponen Intuisi Pikir dan Intuisi Pengalaman masing-masing terdiri dari 2 (dua) unsur Forma (wadah) dan Substansi (isi). Pertanyaan dilanjutkan, sejak kapan dan dari manakah unsur Forma Intuisi dan Substansi Intuisi, para Filsuf hanya mampu menyebutkan sebagai Fatal (takdir) dan Vital (ikhtiar manusia).

Namun untuk kepentingan pedagogik, tentunya kita tidak pusa hanya berhenti sampai di situ saja. Secara psikologis, Intuisi Pikir dan Intuisi Empirik terbawa dan terbentuk sejak manusia lahir, serta berkembang melalui interaksi dengan objek/benda terdekat di sekelilingnya termasuk orang tua, keluarga, masyarakat dan sekolah. Inilah pondasi yang seharusnya digunakan oleh setiap edukationis dan psikologis untuk mengembangkan teori-teori belajar dan mengajar.

Dari uraian di atas kiranya dapat dipahami mengapa secara filosofis dimungkinkan munculnya berbagai macam teori pembentukan ilmu, pembenaran ilmu dan macam-macam ilmu. Sifat dan kedudukan Objek Pikir dan Objek Pengalaman menentukan jenis dan sifat metode keilmuannya. Jika objeknya berada di dalam pikir (tidak dapat diamati) maka lahirlah Idealisme, Rasionalisme, Skeptisisme, Logisisme, Formalisme, Simbolisme, Objektivisme, Absolutisme, Positivisme Ideal, dan Saintifisme Ideal; jika objeknya berada di luar pikir (dapat di amati/dipersepsi) maka lahirlah Realisme, Empirisisme, Intuisionisme, Subjektivism, Positivisme Realis dan Saintifisme Realis.

Dengan gamblang, di sini kita telah memperoleh 2 (dua) macam Saintifisme yaitu Saintifisme Ideal dan Saintifisme Realis. Dikarenakan ketidakjelasan pada fase ini, maka pada tataran yang lebih rendah telah terjadi kevakuman/distorsi/reduksi dengan hanya dikenalkan saja pendekatan Saintifik; namun menurut hemat penulis, pendekatan Saintifik yang diimplementasikan pada Kurikulum 2013 adalah pendekatan yang diturunkan dari Saintifisme Realis,yaitu untuk objek-objek yang teramati (di luar pikiran).

Menurut I Kant (1671), Objek Pikir bersifat Identitas, yaitu memenuhi formula A=A. Hal ini dapat tercapai karena Objek Pikir terbebas oleh Ruang dan Waktu. Maka ditemukan X=X,  1+3 = 3+1, Y=2x-1, ..dst. Itulah sifat dari Matematika Murni, yang kemudian disebut sebagai Matematika Formal atau Matematika Aksiomatik.

Matematika Murni bersifat tautologis dengan indikator kebenarannya adalah Konsistensi. Jika tidak konsisten dikatakan bersifat kontradiksi tautologis. Semua Ilmu Formal termasuk dalam kategori ini yaitu Sain Murni, Fisika Murni, Biologi Murni, dst. (Penulis: itulah ilmunya untuk orang dewasa). Singkat kata, ilmu-ilmu dengan Objek Pikir bersifat analitik a priori. Mereka mampu memikirkannya walaupun belum memersepsi objeknya.

Objek Pengalaman bersifat Kontradiksi Ontologis yang memenuhi 3 (tiga) sifat: mereka berada dalam Ruang dan Waktu, mereka saling berhubungan, dalam mereka berlaku hukum sebab-akibat. Kontradiksi ontologis berbeda makna dengan kontradiksi tautologis. Kontradiksi ontologis diformulasikan dengan “Subjek  tidak sama dengan Predikatnya, atau S tidak sama dengan P”, maksudnya adalah bahwa setiap sifat/predikat tidaklah mungkin menyamai subjeknya.

Misal Rambut Hitam, Hitam adalah sifat Rambut, maka tidaklah pernah Hitam sama dengan Rambut, karena Rambut mempunyai sifat tidak hanya Hitam. Semua benda/sifat adalah Subjek dari suatu Predikat sekaligus Predikat dari suatu Subjek yang lain. Jika Saintifism Realis mendasarkan kepada Objek Pengalaman titik pangkal, maka adalah relevan bahwa Saintifik Realis atau yang kemudian disebut sebagai pendekatan Saintifik, menggunakan objek-objek pengalaman atau benda-benda kongkrit sebagai bahan observasinya.

Guru Matematika di sekolah, ketika menggunakan pendekatan Saintitik,  merasa gamang ketika menyuruh siswa mengamati fenomena matematika yang cukup tertulis di dalam buku teks. Hal tersebut karena belum dibedakannya antara Saintifik Ideal dan Saintifik Realis. Sedangkan untuk kelas rendah seperti di SD atau awal SMP, guru tidak merasa ragu karena objek observasinya adalah benda-banda kongkrit (Objek Pengalaman).

Apapapun objeknya, dalam pendekatan Saintifik yang sintaknya sesuai dengan yang tercantum pada Kurikulum 2013, persoalan selanjutnya adalah menjawab apa yang diamati? Bagaimana mengamatinya? Dan apa hasil pengamatannya? Ontologi pengamatan/observasi termasuk dalam ranah Fenomenologi Husserl, yang terdiri dari 2(dua) komponen utama yaitu: Abstraksi dan Idealisasi. Abstraksi mengandung arti mengambil/mengobservasi/memandang sebagian saja sifat yang ada dari Objek pengamatannya.

Setiap Objek pengamatan mempunyai beribu-ribu sifat namun, untuk Matematika misalnya, sifat Kubus yang diamati adalah perihal bentuk, ukuran dan banyaknya sisi, rusuk dan sudut. Sifat-sifat bahan terbuat dari materi tertentu, keindahan, kualitas, harga dst tidaklah termasuk ranah yang diobservasi. Sifat yang diabaikan (tidak perlu diperhatikan) kemudian disimpan ditempat yang disebut sebagai Epoche. Sedangkan Idealisasi adalah menganggap sempurna sifat yang ada, misal bahwa terdapat sudut lancip, maka yang dimaksud adalah lancip sempurna; tidak dalam kondisi agak lancip, kurang lancip, dst.

Kegiatan observasi diawali dengan (tingkat) Kesadaran akan objek yang akan diobservasi sehingga observer mempunyai daya sensibilitas observasi. Daya sensibilitas observasi ini penting untuk menghasilkan Representasi dari objek teramati yang berupa Persepsi objek teramati. Pada tahap ini, pengalaman mengobservasi yang diperoleh (Logika Pengalaman) tidak dapat bekerja/berdiri sendiri tanpa bantuan Logika Pikir, yaitu dengan hadirnya kemampuan Imajinasi dengan cara sintesis, sehingga gabungan antara pengalaman mengobservasi dan imajinasi menghasilkan Pengetahuan Pikir dan Sensasi Pengalaman.

Mengapa? Dia dikatakan Pengetahuan Pikir jika sesuai dengan Aksioma atau Postulat Pikir. Dan dikatakan Sensasi Pengalaman jika sesuai dengan Hukum Sebab-Akibat dan Hubungan antar Satuan Pengalaman. Aksioma/Postulat Pikir dan Satuan Pengalaman tersebut berdomisili di dalam Kategori Berpikir (I Kant) yang terbawa sejak lahir sebagai Fatal dan Vital, dan terdiri dari Forma dan Substansi; dan bersifat intuitif (hasil berpikir dan pengalaman). Interaksi antara Pengetahuan Pikir dan Sensasi Pengalaman tersebut itulah yang kemudian disebut sebagai Ilmu (Pengetahuan), yang bersifat sintetik a priori. Sintetik sensasinya, dan a priori pikirannya.

Secara ontologis, yang dimaksud kegiatan “mengasosiasi” pada pendekatan Saintifik adalah mencari Postulat-postulat Pikir mana yang bersesuaian dengan Sensasi Pengalamannya. Itulah kesulitan yang dialami oleh para observer, termasuk observer dewasa apalagi observer anak-anak. Kesesuaian antara postulat-postulat pikir dan sensasi-sensasi pengalaman, menghasilkan apa yang disebut sebagai Konsep (orang awam mengatakan sebagai Pengertian).

Apapun dari setiap Konsep, maka terdiri dari Forma (wadah) dan Sibstansi (Isi). Formanya berupa Kategori Berpikir dan Substansinya berupa Sensasi Pengalaman. Kategori Berpikir merupakan genus (unsur dasar) yang dengan kegiatan berpikir dan sensasinya akan menemukan postulat-postulat berpikir selanjutnya secara berkhirarkhi dan kompleks. Maka secara ontologis, dengan sintak-sintak pendekatan Saintifik diharapkan Subjek Belajar akan mampu menemukan, memperkokoh dan mengembangkan Kategori Berpikir sebagai unsur dasar setiap Ilmu (Pengetahuannya), yang dituntun secara konsisten, rigor, analitik, logik, formal, abstrak, identitas, a priori, dan tautologi oleh Postulat-postulat Umumnya, yang telah diakui kebenarannya secara koheren oleh komunitas keilmuannya; serta dilandasi secara kokoh oleh Sensasi Pengalamannya, dengan kesadaran bahwa Sensasi Pengalamannya tersebut bersifat sintetik a posteriori.

Dengan berkembangnya secara intensif dan ekstensif Kategori Berpikir akan diperoleh Struktur Pengetahuan yang kemudian disebut sebagai Ilmu Pengetahuan. Dengan Ilmu Pengetahuan yang telah berhasil dibangunnya itu maka seseorang akan memperoleh nilai-nilai kebijakannya, antara lain adalah mengambil Keputusan/Judgment (sekarang disebut Evaluasi-tahap akhir taksonomi Bloom) secara tepat dan bijaksana. Secara ontologis, kegiatan belajar seseorang dapat dikatakan sebagai menembus Ruang dan Waktu. Sebenar-benar orang cerdas adalah jika mampu menembus dan berada dalam Ruang dan Waktu yang benar (Jawa: sopan santun).

Yogyakarta, Nopember 2015


122 comments:

  1. Rizki Ayu Amalia
    13301241038
    Pendidikan Matematika A 2013

    Pendekatan saintifik menurut saya adalah sebuah langkah yang baik dalam pembelajaran di kelas. Namun, ada hal yang terlupakan bahwa tidak semua materi atau mata pelajaran dapat menerapkan pendekatan saintifik ini.

    ReplyDelete
  2. hermenitika dalam saintifik merupakan hal yang menarik jika diterapkan dalam ilmu pendidikan sains, sehingga siswa akan lebih tajam dalam memahami semua ilmu tsb. sebaliknya jika diimplementasikan pada ilmu pengetahuan non sains, maka akan mengakibatkan sebuah kerancuan. hal ini merupakan saintifik berdasarkan pengalaman dan logika, tanpa dipengaruhi alam. jika hemenitika saintifik diterapkan dg baik maka siswa akan menembus ruang dan waktu yang benar.

    M. Saufi Rahman
    16701261024
    S3 PEP kelas A

    ReplyDelete
  3. Khaerudin
    16701621009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Awal akhir zaman objek filsafat yang melahirkan beberapa tokoh aliran filsafat seperti Plato yang lebih ke arah spiritual bagian dari realisme sedangkan Aristoteles yang lebih condong ke arah materi sebagai bagian dari aliran empirisme. Imanuel Kant dengan pemikirannya yang dianggap lebih modern. Sedangkan A. Komte yang mengganggap agama lebih rendah dari saintifik dan filsafat dala pembangunan dunia.

    ReplyDelete
  4. Dian Rizki Herawati
    13301241057
    P.Mat A 2013

    menurut saya, berpikir merupakan proses mencari kebenaran tentang fenomena yang terjadi di sekitar. Dengan berpikir seseorang akan mendapatkan pelbagai pengetahuan.

    ReplyDelete
  5. Annisa Nur Arifah
    13301241011
    Pendidikan Matematika A 2013

    Menurut artikel di atas, kegiatan belajar seseorang dapat dikatakan sebagai menembus Ruang dan Waktu. Dan sebenar-benar orang cerdas adalah jika mampu menembus dan berada dalam Ruang dan Waktu yang benar (Jawa: sopan santun). Namun bagaimana dengan orang pintar? Apakah sebenar-benarnya orang pintar juga jika mampu menembus dan berada dalam Ruang dan Waktu yang benar?

    ReplyDelete
  6. Luthfannisa Afif Nabila
    13301241041
    Pendidikan Matematika A 2013
    Dalam postingan diatas dikatakan bahwa Logika Pengalaman dengan cara membangun kesadaran, bagaimana jika seseorang mempunyai pengalaman yang buruk lalu dia sadar akan pengalamannya tersebut, dan kemudian ke depannya dia terjebak lagi dalam pengalaman yang buruk tersebut padahal ia telah menyadarinya, bagaimana logika pengalaman memandang hal tersebut?

    ReplyDelete
  7. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    s2 PEP B 2016

    ontologi adalah kajian filsafat yang membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret, ontologi membahas realitas atau sesuatu identitas dengan apa adanya. pada hakikatnya pendekatan saintifik terbentuk dengan 2 ide yaitu saintifik ideal dan saintifik realitis. pada penerapan kurikulum 2013 yang di tetapkan adalah saintifik realitas yang saintifik yang obyeknya hanya ada diluar pikiran tidak mencakup didalam pemikiran atau ideal.

    ReplyDelete
  8. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Setiap Objek pengamatan mempunyai beribu-ribu sifat namun, untuk Matematika misalnya, sifat Kubus yang diamati adalah perihal bentuk, ukuran dan banyaknya sisi, rusuk dan sudut. Sifat-sifat bahan terbuat dari materi tertentu, keindahan, kualitas, harga dst tidaklah termasuk ranah yang diobservasi. Sifat yang diabaikan (tidak perlu diperhatikan) kemudian disimpan ditempat yang disebut sebagai Epoche. Sedangkan Idealisasi adalah menganggap sempurna sifat yang ada, misal bahwa terdapat sudut lancip, maka yang dimaksud adalah lancip sempurna; tidak dalam kondisi agak lancip, kurang lancip, dst.

    ReplyDelete
  9. Rofiah Yusuf
    13301241039
    Pendidikan Matematika I 2013

    Kurikulum 2013 yang sedang digalakkan saat ini adalah kurikulum yang metode pengajarannya menggunakan pendekatan saintifik. Dimana pembelajaran berpusat pada siswa (student-centered). Pendekatan saintifik yang diterapkan pada kurikulum 2013 memiiki beberapa kelemahan dan kelebihan. Dari Ontologi saintifik ini kita dapat memiliki pengetahuan lebih mengenai pendekatan saintifik.

    ReplyDelete
  10. Paparan yang ada dalam ontologi saintiifik ini sungguh memberikan banyak pandangan baru mengenai saintifik itu sendiri yang pada akhirnya digunakan sebagai pendekatan pembelajaran. Disebutkan bahwa secara ontologis, melalui sintak-sintak pendekatan Saintifik akan membimbing siswa untuk menemukan, memperkokoh dan mengembangkan kategori berpikir sebagai unsur dasar pengetahuannya, yang dituntun secara konsisten, rigor, analitik, logik, formal, abstrak, identitas, a priori, dan tautologi oleh Postulat-postulat; serta dilandasi secara kokoh sensasi pengalamannya, dengan kesadaran bahwa sensasi pengalamannya tersebut bersifat sintetik a posteriori. Dengan pengetahuannya, diharapkan siswa memperoleh nilai-nilai kebijakannya. Sehingga Pendekatan saintifik ini diharapkan mampu menuntun siswa memperoleh kebajikannya melalui pengetahuannya yang mampu menembus ruang dan waktu secara santun.

    ReplyDelete
  11. Afifah Nur Indah Sari
    13301244006
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Kurikulum 2013 mengamanatkan pendekatan saintifik (ilmiah) dalam pembelajaran. Hal ini didasarkan atas asumsi bahwa pada prinsipnya proses pembelajaran dapat dipadankan dengan suatu proses ilmiah. Pendekatan saintifik diyakini dapat menjadi titian emas perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah lebih mengedepankan pelararan induktif (inductive reasoning) ketimbang penalaran deduktif (deductivereasoning)

    ReplyDelete
  12. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  13. Nikhu Wahyu
    13301244001
    Pendidikan Matematika 2013

    Kelompok Skeptis adalah berpendapat, manusia tak dapat mengetahui dengan pasti mengenai segala sesuatu di dunia di sekitar kita, atau bahkan mengenai diri kita sendiri. Oleh karena itu manusia tidak dapat benar-benar mengetahui apa yang benar dan salah (Pyrrhon, Timon, Epikurus, Socrates, dan Rene Descartes).
    Tidak selamanya sesuatu yg benar itu benar dan yg salah itu salah. Yang meninlai itu adalah manusia yg memiliki perspektif yg berbeda beda. Sehingga menurut saya kebenran yg palong benar ketika "kebenaran" saya di dasarkan pengalaman saya dan memperhatikan pengalaman orang lain.

    ReplyDelete
  14. Risa Tri Oktaviani
    13301241016
    Pendidikan Matematika A 2013

    Menarik sekali dengan kata yang bapak sebutkan di atas, mengenai logika pikir dan logika pengalaman
    karena keduanya memang sangat berkaitan,
    seperti kita tahu bahwa logika adalah hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa, sehingga dengan berbekal akal pikir rasional dan pengalaman kita bisa menerapkannya pendekatan atau proses pembelajaran tersebut

    ReplyDelete
  15. Risa Tri Oktaviani
    13301241016
    Pendidikan Matematika A 2013

    Terimakasih kepada bapak marsigit atas posingan mengenai Ontologi Saintifik ini, karena sangatlah membantu dan menambah pengetuhan saya.
    seperti yang pernah saya sebutkan di atas bahwa logika pikir dan logika pengalaman saling berkaitan dan tidak bisa berdiri sendiri sperti yang bapak sebutkan di atas,
    karena pengalaman akan lebih mendekatkan kepada kebenaran dan pikiran akan lebih mendekatkan pada logis, tertata dan terukur

    ReplyDelete
  16. Fajar Yanuar
    13301244021
    Pend. Matematika C 2013

    Santsisme yang berusaha menggabungkan aliran objek di dalam pikira dan objek di luar pikiran ternyata menolak dengan tegas penedkatan non-ilmiah yang termasuk juga religiusitas yang di negara kita sangat dijunjung dengan baik. Selain itu santisisme juga menggabungkan asumsi-asumsi filsafat positivism dan skeptisisme yang nantinya menjadi dasar pendekatan saintifik.

    ReplyDelete
  17. Fajar Yanuar
    13301244021
    Pend. Matematika C 2013

    mengenai Logika pikir dan logika pengalaman mempunyai sifat nya masing-masing, menurut imanuel kant sebenar-benar Ilmu adalah bersifat Sintetik a priori. Jadi harus ada interaksi antara logika pikir dan logika pengalaman yang saling keterkaitan antar unsur-unsur di dalamnya yaitu dengan adanya hermenetika ilmu yang menajminnya. jadi pembelajaran yang baik mungkin dapat terjadi dengan adanya iteraksi antara logika pikir dan logika pengalaman sesorang, dengan adanya interaksi tersebut siswa dapat menganalisis kejadian-kejadian dari pengalamannya yang sesuai dengan ilmu yang diterimanya di bangku sekolah.

    ReplyDelete
  18. Andhita Wicaksono Nugroho
    13301241065
    Pendidikan Matematika C 2013

    Terima kasih Pak, postingan ini sangat bermanfaat bagi saya dalam mencari ilmu

    ReplyDelete
  19. Teduh Sukma Wijaya
    13301241073
    Pendidikan Matematika C 2013

    Sebenar-benar orang cerdas adalah jika mampu menembus dan berada dalam Ruang dan Waktu yang benar (Jawa: sopan santun).

    ReplyDelete
  20. Eka Pravista
    13301241004
    Pendidikan Matematika A 2013

    Berdasarkan elegi Ontologi saintifik mengungkapkan bahwa pendekatan saintifik dapat disebut juga dengan skeptisisme ilmiah. Sedangkan skeptisisme merupakan aliran filsafat yang sudah ada sejak jaman yunani kuno. Sikap skeptis adalah sebuah sikap yang menyangsikan kenyataan yang diketahui baik ciri-cirinya maupun eksistensinya. Dengan Sikap skeptis maka seseorang akan mempertanyakan klain yang kurang memiliki bukti empiris yang kuat. Selain itu, salah satu akar saintifik adalah metode positive yang dipelopori oleh Auguste Compte yang menolah ilmu humaniora dan filsafat. Kemudia kaum positive membangun struktur dunia dengan meletakkan metode positive diatas filsafat dan spiritual. Sungguh miris, ideologi bangsa Indonesia adalah Pancasila, yang sila pertamanya menjujung tinggi nilai ketuhanan, namun kurikulum pendidikannya kental akan pendekatan saintifik yang meletakakkan spiritual menjadi struktur paling bawah.

    ReplyDelete
  21. Rospala Hanisah Yukti Sari
    16790251016
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A Tahun 2016.

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Dari penjelasan tersebut bahwa saintifik didasarkan kepada metode positivisme yang meniadakan religiuitas dan humaniora. Metode positivisme dipelopori oleh auguste compte. Maka, sungguh sangat disayangkan jika metode saintifik diajarkan di sekolah. Siswa bisa jadi kehilangan identitasnya sebagai seorang muslim disebabkan agama diindahkan dari ranah kehidupan. Metode saintifik yang mengindahkan humaniora juga bisa menjadi peluang untuk menciptakan kepribadian siswa yang “cuek” terhadap permasalahan masyarakat yang semakin kompleks. Jika metode saintifik ini terus dibiarkan, maka bisa jadi “bom waktu” bagi negeri indonesia disebabkan generasi mudanya sendiri kehilangan jati dirinya sebagai seorang muslim yang sengaja dijauhkan dari nilai-nilai agama.

    Maka harus ada sistem yang menggantikan kurikulum pendidikan yang kapitalis-sekuler dengan sistem pendidikan islam yang berasal dari sang khalik. Agar tercipta kepribadian yang berilmu, bertakwa dan berakhlak mulia.

    Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    ReplyDelete
  22. Dalam mengimplementasikan pendekatan saintifik, materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, ataupun khayalan semata. Berpikir merupakan proses mencari kebenaran tentang fenomena yang terjadi di sekitar. Hal ini menjadi tantangan sendiri khususnya bagi guru matematika SMA dalam memfasilitasi kegiatan pembelajaran di kelas, sehingga pembelajaran matematika tidak terkesan sebagai mata pelajaran yang menjadi momok yang berkutat pada angka saja. Oleh karena itu, berdasarkan Saintifik Realis atau yang kemudian disebut sebagai pendekatan Saintifik, siswa perlu menggunakan objek-objek pengalaman atau benda-benda kongkrit sebagai bahan observasinya. Sudah seharusnya sebagai guru perlu mencari solusi sehingga matematika tidak lagi terkesan abstrak di mata siswa.
    Abidin
    16709251002
    S2 Pmat A 2016

    ReplyDelete
  23. Aliran saintisme mendasarkan pada gabungan asumsi-asumsi filsafat positivisme dan skeptisisme. Sikap skeptis adl sebuah sikap yang menyangsikan kenyataan yang diketahui baik ciri cirinya maupun eksistensinya. Sikap skeptis menjadi dasar skeptisisme yang kemudian dikenal pendekatan saintifik. Salah satu akar saitifik adalah positive yang mana membangun dunia dengan meletakkan metode positive di atas Filsafat dan spritual. Nah bagaimana jadinya ketika saat sekarang ini Kurikulum 2013 berbasis pendekatan saintifik? Apa yang akan terjadi? Padahal Indonesia sebagai bangsa Timur meletakkan spritual paling tinggi dalam membangun dunia
    Miftahir Rizqa
    PEP S3 Kelas A
    16701261027

    ReplyDelete
  24. Rizqi Nefi Marlufi
    13301241035
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Dari bacaan diatas saya dapat mengatahui bahwa sebenar-benar ilmu adalah bersifat sintetik a priori. Logika pikir saja tanpa adanya logika pengalaman dianggap baru mencapai setengah ilmu, demikian juga logika pengalaman tanpa logika pikir. Karena ilmu bisa menjadi dasar untuk menjalaninya, sedangkan pengalaman bisa menjadi dasar untuk belajar. Logika pikir merupakan titik awal dan logika pengalaman adalah untuk membangun kesadaran.

    ReplyDelete
  25. Rizqi Nefi Marlufi
    13301241035
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Dengan membaca bacaan diatas pula saya mengetahui ontologi saintifik. Secara ontologis, dengan sintak-sintak pendekatan Saintifik diharapkan Subjek Belajar akan mampu menemukan, memperkokoh dan mengembangkan Kategori Berpikir sebagai unsur dasar setiap Ilmu (Pengetahuannya), yang dituntun secara konsisten, rigor, analitik, logik, formal, abstrak, identitas, a priori, dan tautologi oleh Postulat-postulat Umumnya, yang telah diakui kebenarannya secara koheren oleh komunitas keilmuannya; serta dilandasi secara kokoh oleh Sensasi Pengalamannya, dengan kesadaran bahwa Sensasi Pengalamannya tersebut bersifat sintetik a posteriori.

    ReplyDelete
  26. Rizqi Nefi Marlufi
    13301241035
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Secara ontologis, kegiatan belajar seseorang dapat dikatakan sebagai menembus Ruang dan Waktu. Sebenar-benar orang cerdas adalah jika mampu menembus dan berada dalam Ruang dan Waktu yang benar. Melalukan semuanya melihat situasi waktu dan tempat yang ada. Dengan mengatahui ruang dan waktu seseorang dapat mengerti bagaimana dia harus bersikap dan berpikir bagaimana untuk mengatasi semuanya.

    ReplyDelete
  27. Annisa Eprila Fauziah
    16709251040
    PPs P. Matematika Kelas B 2016


    Aliran saintifisme merupakan gabungan dari kedudukan ilmu pengetahuan yang berada di dalam pikiran dan di luar pikiran. Saintifisme ideal menitikberatkan kepada olah pikir manusia, sedangkan saintifisme realis diperoleh dari pengalaman/kenyataan. Pendekatan saintifik dalam kurikulum 2013 lebih condong pada pengimplementasian saintifisme realis saja, padahal pada kenyataannya saintifisme idealis juga harus dipahami.

    ReplyDelete
  28. Lazuardi Nugroho
    13301244017
    S1 Pendidikan Matematika C 2013
    Dengan Ilmu Pengetahuan yang telah berhasil dibangunnya itu maka seseorang akan memperoleh nilai-nilai kebijakannya, antara lain adalah mengambil Keputusan/Judgment (sekarang disebut Evaluasi-tahap akhir taksonomi Bloom) secara tepat dan bijaksana. Artinya adalah bahwa dalam setiap pengambilan keputusan tidak gegabah dan penuh dengan pertimbangan, berhati-hati dalam mengambil sikap dan memikirkan dampak dari pengambilan keputusan tersebut.

    ReplyDelete
  29. Lazuardi Nugroho
    13301244017
    S1 Pendidikan Matematika C 2013
    Secara ontologis, kegiatan belajar seseorang dapat dikatakan sebagai menembus Ruang dan Waktu. Sebenar-benar orang cerdas adalah jika mampu menembus dan berada dalam Ruang dan Waktu yang benar. Artinya bahwa orang yang cerdas adalah orang yang visioner, selalu memandang ke depan, selalu bergerak, ingin maju dan berkembang, mengoptimalkan potensi – potensi yang ia miliki.

    ReplyDelete
  30. Melania Desta Maharani
    13301244018
    Pendidikan Matematika C 2013

    Saya tertarik dengan pengertian kelompok Skeptis.Dimana dijelaskan dalam artikel diatas bahwa kelompok Skeptis adalah berpendapat, manusia tak dapat mengetahui dengan pasti mengenai segala sesuatu di dunia di sekitar kita, atau bahkan mengenai diri kita sendiri. Oleh karena itu manusia tidak dapat benar-benar mengetahui apa yang benar dan salah. Karena tidak dapat benar-benar mengetahuai apa yang benar dan apa yang salah, sehingga diharapkan mundul keinginan untuh selalu mencari tahu lebih banyak dan lebih banyak mengenai suatu informasi yang baru dengan demikian pengetahuan yang dimiliki akan semakin bertambah dan bertambah. Pengetahuan bertambah tidak hanya dari kebenaran saja, kesalahan pun akan membuat bertambahnya pengetahuan yang kita inginkan karena kita akan berusaha untuk mendapatkan kebenaran yang kita inginkan. Usahal yang dilakukan inilah akan menambah pengetahuan yang kita miliki.

    ReplyDelete
  31. Melania Desta Maharani
    13301244018
    Pendidikan Matematika C 2013

    Rasa ingin tahu menurut saya merupakan hal yang diperlukan untuk mengembangkan pengetahuan yang kita miliki masing-masing. Jika kita penasaran dengan sesuatu hal pastilah kita akan mencari informsi untuk mengatahu hal tadi dan berusaha untuk terus menggali informsi sampai hal yang kita inginkan kita dapatkan. Sama halnya dengan sikap skeptis. Sikap skeptis adalah sebuah sikap yang menyangsikan kenyataan yang diketahui baik ciri-cirinya maupun eksistensinya. Sikap skeptis sebagai unsur dasar Skeptisisme Ilmiah akan memposisikan seseorang untuk selalu mempertanyakan klaim yang kurang memiliki bukti empiris yang kuat. Sehingga, membutuhkan usaha untuk membuktikan kurangnya bukti yang empiris tadi. Yang pada akhirnya Skeptisisme Ilmiah ini dikenal sebagai pendekatan Saintifik.

    ReplyDelete
  32. Melania Desta Maharani
    13301244018
    Pendidikan Matematika C 2013

    Ilmu adalah bersifat Sintetik a priori. Logika pikir saja tanpa adanya logika pengalaman dianggap baru mencapai setengah ilmu, demikian juga jika hanya logika pengalaman tanpa adanya logika pikir.
    Logika pikir dan logika pengalaman ini saling melengkapi satu sama lain, yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya.

    ReplyDelete
  33. Melania Desta Maharani
    13301244018
    Pendidikan Matematika

    Setelah saya membaca bacaan diatas saya mendapatkan pengetahuan baru yaitu bahwa kegiatan belajar seseorang dapat dikatakan sebagai menembus Ruang dan Waktu. Maka dikatakan bahwa sebenar-benar orang cerdas adalah jika mampu menembus dan berada dalam Ruang dan Waktu yang benar, seperti sopan dan santun. Terimakasih

    ReplyDelete
  34. Nama : Muhammad Abdul Kholiq Arfani
    NIM : 13301241064
    Kelas : Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Saya tertarik dengan kalimat “manusia tak dapat mengetahui dengan pasti mengenai segala sesuatu di dunia di sekitar kita, atau bahkan mengenai diri kita sendiri. Oleh karena itu manusia tidak dapat benar-benar mengetahui apa yang benar dan salah” mungkin sebagian konflik atau pertikaian yang terjadi memang benar adamua bahwa dua pihak yang terlibat saling menganggap benar pendapat diri sendiri.

    ReplyDelete
  35. Nama : Muhammad Abdul Kholiq Arfani
    NIM : 13301241064
    Kelas : Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Menurut saya pendekatan saintifik merupakan pendekatan yang bagus karena melalui pendekatan ini siswa diberi kesempatan untuk berpikir terlebih dahulu dan tidak semata-mata hanya menerima apa yang disampaikan oleh guru.

    ReplyDelete
  36. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    pada dassarnya pembelajaran saintifik itu bagus namun apabila di pakai di dunia timur kurang sesuai dengan ruang dan waktunya, karena di dunia timur meletakkan spiritual di posisi paling atas, sedangkan saintifik itu sumber pemikirannya berasal dari A. comte yang mengatakan bahwa spiritual itu tidak logis dan harus di letakkan paling bawah. hal ini menunjukkan bahwa saintifik tidak sesuai dengan ruang dan waktu yang ada di dunia timur, padahal sebenar-benar orang cerdas adalah jika mampu menembus dan berada dalam Ruang dan Waktu yang benar. berada dalam ruang dan waktu yang benar inilah yang paling sesuai, dan itulah yang harus di tuju dengan memahami filsafat.

    ReplyDelete
  37. Puspita Sari
    13301241003
    Pend.Matematika A 2013

    Dari pembahasan diatas, bahwa ada atau mungkin ada objek dalam pembelajaran itu merupakan ontology. Hal ini berkaitan dengan sintak pendekatan saintifik 5M yaitu pada mengamati. Objek apa yang diamati ? apa hasil pengamatan? Hal ini yang menjadikan suatu objek itu ada jika diamati ada, dan menjadi objek itu mungkin ada jika kita tak bisa melihatnya.

    ReplyDelete
  38. Yosi Giyaningsih
    13301244030
    Pendidikan Matematika C 2013

    Pada perkuliahan pertemuan terakhir dengan bapak Marsigit, kita belajar mengenai sejarah filsafat dan filsafat secara keseluruhan. dalam penjelasannya, filsafat pada intinya adalah mengenai yang ada dan yang mungkin ada, itu tergantung oleh ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  39. Yosi Giyaningsih
    13301244030
    Pendidikan Matematika C 2013

    Menurut penjelasan yang saya tangkap kemarin, filsafat itu ada yang berasal dari dalam pikiran manusia, dan ada juga yang berasal dari luar pikiran manusia.setelah saya membaca postingan ini, saya menjadi lebih mengetahui mengenai objek di dalam filsafat itu sendiri. dalam postingan ini dikatakan bahwa "Jika kebenaran berdasarkan objek yang ada di dalam pikiran maka lahirlah filsafat Idealis, Rasionalis, dan Skeptisism. Jika kebenaran berdasarkan objek di luar pikiran maka lahirlah filsafat Realisme dan Empirisisme."

    ReplyDelete
  40. Yosi Giyaningsih
    13301244030
    Pendidikan Matematika C 2013

    pesan yang sering disampaikan oleh bapak Marsigit adalah bahwa jika engkau tersenyum kepada dunia, maka dunia akan tersenyum kepadamu. Hal ini berarti apa yang kita lakukan, yang kita perbuat, jika di dalam diri kita positif, maka sesuatu yang dihasilkan akan positif juga, tetapi sebaliknya jika yang kita lakukan, yang kita pikirkan adalah sesuatu yang negatif, maka hasilnya juga akan negatif.

    ReplyDelete
  41. Yosi Giyaningsih
    13301244030
    Pendidikan Matematika C 2013

    Adanya sifat konsisten atau analitik, logis atau rasional muncul aliran rasionalisme dengan tokohnya bernama R. Descartes. Descartes mengemukakan bahwa tiada ilmu jika tiada rasio. Sesuatu yang berasal dari dalam pikiran manusia bersifat apriori (paham sebelum melihat).

    ReplyDelete
  42. Yosi Giyaningsih
    13301244030
    Pendidikan Matematika C 2013

    Adanya sifat realis, muncul aliran realisme dengan tokohnya yaitu Aristoteles. Aristoteles sendiri merupakan murid dari Plato, namun pemikiran keduanya sedikit berbeda mengenai pandangan terhadap dunia.

    ReplyDelete
  43. Yosi Giyaningsih
    13301244030
    Pendidikan Matematika C 2013

    Setelah tokoh yang terkenal pada abad 15 yaitu Plato dan Aristoteles, kemudian terdapat abad pencerahan yaitu pada abad 16 dengan tokohnya yaitu R. Copernicus dan Immanuel Kant. Pada abad ini, pengertian mengenai filsafat yang sebelumnya mempunyai arti dan dalam paham yang berbeda, kemudian disatukan. Sifatnya adalah sintetik apriori yang merupakan sesuatu yang berasal dari dalam dan luar pikiran manusia.

    ReplyDelete
  44. Yosi Giyaningsih
    13301244030
    Pendidikan Matematika C 2013

    Compte berpendapat bahwa agama merupakan tingkat akhir dalam filsafat atau diletakkan di bawah sendiri. Jadi setinggi-tingginya ilmu itu merupakan filsafat itu sendiri. Aliran Compte adalah Positivisme (saintifik).

    ReplyDelete
  45. Yosi Giyaningsih
    13301244030
    Pendidikan Matematika C 2013

    Keyakinan terhadap Tuhan bersifat abstrak, namun tetap logis, tidak berubah-ubah sekalipun banyak hal sudah membantah keyakinan itu, karena keyakinan merupakan suatu prinsip yang timbul dari dalam pikiran manusia, oleh karenanya dia juga bersifat konsisten, koheren, tidak menyimpang dari aturan.

    ReplyDelete
  46. Yosi Giyaningsih
    13301244030
    Pendidikan Matematika C 2013

    Dalam filsafat, muncullah koherentisme yang berarti sesuatu yang berasal dari dalam pikiran manusia itu tetap, sesuai dengan kaidah-kaidah, konsisten, dan logis. Sesuatu yang berasal dari pikiran manusia bersifat tetap, maka dalam filsafat dikenal istilah permenides.

    ReplyDelete
  47. Yosi Giyaningsih
    13301244030
    Pendidikan Matematika C 2013

    Sifat lain dalam filsafat sebagai sesuatu dalam pikiran manusia bersifat idealis, maka dikenal istilah atau teori idealisme yang merupakan titik awal seorang filsuf dunia mengenalkan filsafat kepada murid-muridnya dan menyebarkannya ke seluruh dunia. Istilah Idealisme muncul dari seorang filsuf bernama Plato. Plato semasa hidupnya mempelajari hidup dan dunia yang dipandang dari pemikiran di dalam dirinya sendiri.

    ReplyDelete
  48. Herlingga Putuwita Nanmumpuni
    Pendidikan Matematika A 2013
    13301241019

    Dikatakan dari artikel di atas bahwa dengan berkembangnya secara intensif dan ekstensif Kategori Berpikir akan diperoleh Struktur Pengetahuan yang kemudian disebut sebagai Ilmu Pengetahuan. Dengan Ilmu Pengetahuan yang telah berhasil dibangunnya itu maka seseorang akan memperoleh nilai-nilai kebijakannya, antara lain adalah mengambil Keputusan/Judgment (sekarang disebut Evaluasi-tahap akhir taksonomi Bloom) secara tepat dan bijaksana.

    ReplyDelete
  49. MUTIARA KUSUMAWATI
    16701251007
    PEP S2 B

    Abstraksi dalam komponen ontologi mengandung arti mengambil/mengobservasi/memandang sebagian saja sifat yang ada dari objek pengamatannya. Pada tahap ini, siswa sangat membutuhkan bantuan dari guru untuk dapat melihat sifat yang ada dari objek pengamatannya.
    Objek pengamatan pada tingkat SD dan SMP lebih mudah diamati karena objek pengamatan masih merupakan benda koktret. Namun, dalam tingkat selanjutnya guru memiliki tantangan lebih besar dalam membangun kemampuan abstraksi siswa.

    ReplyDelete
  50. nikhu wahyu raharjo
    13301244001
    Pendidikan Matematika I 2013

    pendekatan saintifik yang digunakan di Indonesia saat ini memang unik. pendekatan ini menggabungkan metode Positive dan konsep ketuhanan yang disebutkan dalam Pancasila. tetap menggunakan konsep yang mempertanyakan klaim yang belum memiliki bukti empiris ysang kuat, namun tetap menempatkan dasar ketuhanan dalam pendekatannya.

    ReplyDelete
  51. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B (Angkatan 2016)

    Ontologi merupakan salah satu cabang ilmu dalam filsafat. Dalam artikel di atas, salah satu kesimpulan yang didapat bahwa secara ontologis, kegiatan belajar seseorang dapat dikatakan sebagai menembus Ruang dan Waktu. Sebenar-benar orang cerdas adalah jika mampu menembus dan berada dalam Ruang dan Waktu yang benar (Jawa: sopan santun). Maka, seorang yang berilmu adalah orang yang memiliki sopan santun yang benar.

    ReplyDelete
  52. Lilik Waziratul Muflihah
    13301244025
    Pend. Mat c 2013


    Pendidikan menjadi pondasi berada pada keluarga, lingkungan, dan masyarakat. Dari pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa pendidikan akan lebih menjadi bermakna apabila siswa diajak kembali kepada asalnya (lingkungan, keluarga), metode pembelajaran yang baik dan mengena adalah pembelajaran yang dekat dengan siswa.

    ReplyDelete
  53. Lilik Waziratul Muflihah
    13301244025
    Pend. Mat c 2013

    metode Positive yang dipelopori oleh Auguste Compte, menolak tesis-tesis ilmu-ilmu humaniora (geistesweistensaften) dan juga menolak Filsafat termasuk metafisik yang ada di adalamnya. Nampak bahwa prinsip positive kurang pas apabila diterapkam di Indonesia, karena pada dasarnya di Indonesia menggunakan asa kemanusiaan dalam segi mana pun. Baik dari kemasyarakatan maupun pendidikan. Pendidikan yang baik untuk siswa adalah matematika sekolah, matematika yang memanusiakan manusia.

    ReplyDelete
  54. Arif Dwihantoro
    13301244012
    Pendidikan Matematika C 2013


    Objek kajian filsafat yang ada dab mungkin ada ini menjadi titik poin dalam memahami filsafat itu sendiri. Namun, ada 3 hal yang membuat saya ingin memahami lebih dalam terkait filsafat idealis, rasionalis, dan skeptisisme yang lahir berdasarkan objek yang ada didalam pikiran.

    ReplyDelete
  55. Arif Dwihantoro
    13301244012
    Pendidikan Matematika C 2013

    Tertarik dengan pernyataan bahwa manusia tidak dapat benar-benar mengetahui apa yang benar dan salah . perlunya ilmu dan pengalaman untuk dapat menyatakan kebenaran dari suatu hal. Apa yang seseorang lakukan belum tentu benar atau salah, tapi bagaimana seseorang itu berproses untuk membenarkan atau menyalahkan hal tersebut.

    ReplyDelete
  56. Arif Dwihantoro
    13301244012
    Pendidikan Matematika C 2013

    Sikap skeptis sebagai unsur dasar Skeptisisme Ilmiah akan memposisikan seseorang untuk selalu mempertanyakan klaim yang kurang memiliki bukti empiris yang kuat. Tertarik dengan pernyatan tersebut, “selalu mempertanyakan klaim yang kurang memiliki bukti empiris yang kuat”, kebenaran suatu bukti akan dipertanyakan jika masih ada sesuatu yang janggal. Sehingga bagus ketika hal tersebut dapat diterapkan dalam pembelajaran, siswa akan termotivasi untuk mencari bukti dan tentunya harus menguatkan bukti tersebut agar tidak dipertanyakan kembali.

    ReplyDelete
  57. Arif Dwihantoro
    13301244012
    Pendidikan Matematika C 2013

    Logika pikir dan logika pengalaman yang bekerja baik akan menghasilkan suatu ide yang kreatif. Pendekatan saintifik juga berasal dari keduanya seperti yag di uraikan di atas. Sehingga baik ketika keduanya yaitu logika pikir dan logika pengalaman dapat benar-benar diterapkan dalam pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik.

    ReplyDelete
  58. Arif Dwihantoro
    13301244012
    Pendidikan Matematika C 2013

    “Logika pikir saja tanpa adanya logika pengalaman dianggap baru mencapai setengah ilmu; demikian juga jika hanya logika pengalaman tanpa adanya logika pikir”. Saya sangat setuju dengan pernyataan tersebut. sehingga perlunya menggabungkan dan mengkolaborasikan logika pikir dan logika pengalaman dalam mencapai tujuan pembelajaran.

    ReplyDelete
  59. Arif Dwihantoro
    13301244012
    Pendidikan Matematika C 2013

    Turunan-turunan positivism dan saintifisme dalam bentuk sintak-sintak praksis pendidikan ini banyak yang diterapkan dalam pembelajaran. seperti pendekatan saintifik, Projek Based Learning, Problem Based-Learning, Cooperative Learning, Contextual Learning, dst yang dijelaskan di atas. Namun, penggunaannya dalam praktek pendidikan dan pembelajaran harus tetap memperhatikan kondisi dan kebutuhan siswa, sehingga pendekatan atau strategi yang digunakan tepat untuk siswanya.

    ReplyDelete
  60. Arif Dwihantoro
    13301244012
    Pendidikan Matematika C 2013

    Menarik ketika ada pertanyaan sejak kapan manusia mempunyai Intuisi Pikir dan Intuisi Pengalaman? Dan jawaban dari artikel di atas: tiadalah orang yang mampu menjawab. Hal tersebut sama ketika seorang ditanya sejak kapan seorang ibu menyayangi anaknya? Tidaklah ada seorang yang tau titik awal dimana seorang ibu sayang terhadap anaknya karena perasaan itu memang ada dari pikiran dan pengalaman sejak seorang anak ada dipikiran ibunya.

    ReplyDelete
  61. Arif Dwihantoro
    13301244012
    Pendidikan Matematika C 2013

    Pendekatan Saintifik yang diimplementasikan pada Kurikulum 2013 adalah pendekatan yang diturunkan dari Saintifisme Realis,yaitu untuk objek-objek yang teramati. Hal tersebut sesuai dengan kondisi dan karaktertistik untuk siswa disekolah dasar dan menengah. Ketika membahas saintifisme ideal akan lebih cocok dilakasanakan pada tataran perguruan tinggi karena akan menanmbah logika pikir dan tentunya melatih berfikir abstrak pada mahasiswa untuk objek-objek di dalam pikiran.

    ReplyDelete
  62. Arif Dwihantoro
    13301244012
    Pendidikan Matematika C 2013

    Secara umum pendekatan saintifik ini baik diterapkan dalam pembelajaran di sekolah dasar dan sekolah menengah. Erat keterkaitanya dengan objek yang dapat teramati (diluar pikiran). Selain itu juga objeknya adalah benda-benda konkrit (berdasarkan pengalaman) sehingga akan mempermudah siswa dalam memahami dan mengerti apa yang sedang dipelajari.

    ReplyDelete
  63. Dengan memahami ontologi saintifik akan memperjelas bagi kita untuk memerapkan pembelajaran berdasarkan pengetahuan pikir dan sensasi pengalaman siswa sehingga dalam penerapannya sesuai ruang dan waktu atau adanya sopan santun dalam proses pembelajaran.

    Triwid Syafarotun Najah
    16701261011
    PEP S3 (A) 2016

    ReplyDelete
  64. Yosi Giyaningsih
    13301244030
    Pendidikan Matematika C 2013

    Saintifik sendiri sebenarnya berasal dari pemikiran filsuf dengan aliran saintifisme. Aliran ini muncul setelah seorang filsuf bernama Auguste Compte. Compte berpendapat bahwa saintifisme itu merupakan pendekatan ilmiah, dan tidak ada unsur non ilmiah, sehingga menurut Compte sebenarnya agama itu tidak diperlukan. Aliran Saintisme mendasarkan pada gabungan asumsi-asumsi filsafat Positivisme dan Skeptisisme, yang dengan tegas menolak pendekatan non-ilmiah termasuk religiusitas dan humaniora. Skeptisisme sendiri sebagai aliran filsafat merentang sejarahnya sejak jaman Yunani Kuno.

    ReplyDelete
  65. Yosi Giyaningsih
    13301244030
    Pendidikan Matematika C 2013

    Aliran Skeptisisme merupakan salah satu sejarah awal saintifik. aliran ini menganggap bahwa manusia tidak mengetahui secara pasti mengenai apa yang ada di dunia, sehingga mereka tidak mengetahui juga mengenai apa yang benar-benar salah maupun benar.

    ReplyDelete
  66. Yosi Giyaningsih
    13301244030
    Pendidikan Matematika C 2013

    Aliran Skeptisisme mengandung unsur yaitu mengenai sikap skeptis. skeptisime ilmiah seperti ini merupakan awal terbentuknya saintifik. Hal ini karena, sikap skeptis merupakan sifat yang mempertanyakan segala sesuatu yang belum pasti kebenarannya atau sesuatu yang tidak mempunyai bukti yang kuat.

    ReplyDelete
  67. Dita Aldila Krisma
    1330124002
    Pendidikan Matematika I 2013

    Berpikir ilmiah terdiri atas tiga sikap, yaitu: berpikir skeptis, analitis, dan kritis. (1) berpikir skeptis yaitu selalu menanyakan fakta yang dapat mendukung suatu pernyataan. Jika peneliti menyampaikan sebuah pernyataan akan lebih baik bila diberi data-data untuk mendukung pernyataan tersebut. (2) berpikir analitis yaitu selalu menganalisis setiap persoalan. Menyelesaikan masalah perlu ditinjau dari berbagai sudut pandang. (3) berpikir kritis yaitu mendasarkan pada logika dan menimbang secara obyektif berdasar akal sehat.

    ReplyDelete
  68. Dita Aldila Krisma
    1330124002
    Pendidikan Matematika I 2013

    Skeptisisme adalah (1) suatu paham bahwa kita tidak dapat mencapai kebenaran. Paham ini bisa bersifat deskriptif, de facto. Kita tidak dapat mencapai kebenaran karena kondisi tertentu, atau preskriptis seharusnya kita mendekati sesuatu dengan sikap skeptis karena kondisi tertentu. (2) suatu paham bahwa tidak dapat mengetahui realitas skeptis melebar dai ketidakercayaan komplit serta total akan segala sesuatu ke keraguan tentatif akan proses pencapaian kepastian.
    Sumber : http://arti-definisi-pengertian.info/pengertian-arti-skeptisisme/

    ReplyDelete
  69. Dita Aldila Krisma
    1330124002
    Pendidikan Matematika I 2013

    Positivisme berupaya menjabarkan pernyataan faktual, positivisme suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu-ilmu alam (empiris) sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak nilai kognitif dari studi filosofis atau metafisik.

    ReplyDelete

  70. Sikap skeptis adalah sebuah sikap yang selalu mergukan kebenaran yang tidak didasarkan pada bukti empiris.

    Muhlis Malaka
    16701269003
    PEP A 2016

    ReplyDelete
  71. Struktur Pengetahuan sains menurut ahmd tafsir terbagi atas dua, yaitu Struktur sain kealaman yang meliputi (matematika, fisika, kimia, biologi, astronomi, dan ilmu-ilme eksak lainnya, dan sain sosial yang meliputi (sosiologi, antropologi, psikologi ekonomi, sosial dan politik).

    Muhlis Malaka
    16701269003
    PEP A 2016

    ReplyDelete
  72. Jihan Ulya Mulyani
    13301244015
    Pendidikan Matematika C 2013

    paham skeptisisme merupakan nafas dari kurikulum 2013. paham skeptisisme melahirkan sikap skeptis, yaitu suatu sikap berpendapat yang menyangsikan kenyataan yang diketahui baik ciri-cirinya maupun eksistensinya. sikap ini akan memposisikan seseorang untuk selalu mempertanyakan klaim yang kurang memiliki bukti empiris yang kuat. maka dari itu dalam kurikulum 2013 terdapat sintak menanya.

    ReplyDelete
  73. Jihan Ulya Mulyani
    13301244015
    Pendidikan Matematika C 2013

    kurikulum 2013 juga menganut paham konstruktivisme, dimana siswa dituntut untuk aktif membangun pemahamannya sendiri. pemahaman siswa dibangun melalui cara berpikir kritis siswa yang mengaitkan pengalaman-pengalamannya guna membentuk suatu pemahaman konsepnya. guru sebagai fasilitator bertugas memberikan clue (petunjuk) agar siswa aktif dalam membentuk sebuah pemahaman konsep berdasarkan pengalaman yang dimilikinya

    ReplyDelete
  74. Jihan Ulya Mulyani
    13301244015
    Pendidikan Matematika C 2013

    pendekatan ontologis menyatakan bahwa komponen Intuisi Pikir dan Intuisi Pengalaman masing-masing terdiri dari 2 (dua) unsur Forma (wadah) dan Substansi (isi). kedua unsur intuisi tersebut berasal dari sebuah takdir (fatal) dan ikhtiar manusia (vital). kedua unsur tersebut selalu berdampingan. segala sesuatu di dunia ini merupakan wadah juga merupakan isi. dunia dan seisinya merupakan wadah sekaligus merupakan isi.

    ReplyDelete
  75. Jihan Ulya Mulyani
    13301244015
    Pendidikan Matematika C 2013

    sebenar-benarnya pembelajaran adalah berdasarkan objek pengetahuan dan pengalaman. objek pengetahuan bersifat tautologis apabila sifat kebenarannya konsisten seperti ilmu matematika. sedangkan objek pengalaman bersifat kontradiksi ontologis yaitu sifatnya tergantung ruang dan waktu, sifatnya saling berhubungan, dan berlaku hukum sebab-akibat.

    ReplyDelete
  76. Jihan Ulya Mulyani
    13301244015
    Pendidikan Matematika C 2013

    kontradiksi ontologis diformulasikan sebagai subjek tidak sama dengan predikatnya. seperti halnya jernih adalah sifatnya air, maka tidaklah pernah jernih sama dengan air. karena sifat air tidak hanya jernih, bisa kotor, berbau, beracun, dsb. hal tersebut menunjukkan bahwa setiap sifat/predikat tidak mungkin sama dengan subjeknya.

    ReplyDelete
  77. Jihan Ulya Mulyani
    13301244015
    Pendidikan Matematika C 2013

    seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa dunia dan seisinya merupakan wadah juga merupakan isi. namun wadah tidak akan pernah sama dengan isi. seperti predikat yang tidak akan pernah sama dengan subjeknya. engkau sebagai isinya dunia, engkau juga sebagai wadahnya semua yang ada pada dirimu. maka dunia tidak sama dengan apa yang ada pada dirimu, namun lebih dari itu.

    ReplyDelete
  78. Cinta Adi Kusumadewi
    13301241056
    Pendidikan Matematika I 2013

    Hermenitika dalam saintifik merupakan hal yang menarik jika diterapkan dalam ilmu pendidikan sains, sehingga siswa akan lebih tajam dalam memahami semua ilmu tsb. Sebaliknya,jika diimplementasikan pada ilmu pengetahuan non sains, maka akan mengakibatkan sebuah kerancuan. Hal ini merupakan saintifik berdasarkan pengalaman dan logika. Namun, disamping itu ada juga intuisi yang membangun pengalaman. Intuisi yabg dimulai dari lahirnya manusia dan dilakukan sepanjang hidupnya dengan interaksi antara keluarga, teman, dan lain lain.

    ReplyDelete
  79. Cinta Adi Kusumadewi
    13301241056
    Pendidikan Matematika I 2013

    Tidak selamanya sesuatu yg benar itu benar dan yg salah itu salah. Yang meninlai itu adalah manusia yg memiliki perspektif yg berbeda beda. Sehingga menurut saya, kebenaran yg paling benar ketika "kebenaran" di dasarkan pada pengalaman dengan memperhatikan pengalaman orang lain.

    ReplyDelete
  80. Cinta Adi Kusumadewi
    13301241056
    Pendidikan Matematika I 2013

    Setelah membaca bacaan diatas saya dapat mengatahui bahwa sebenar-benarnya ilmu adalah bersifat sintetik a priori. Logika pikir saja tanpa adanya logika pengalaman dianggap baru mencapai setengah ilmu, demikian juga logika pengalaman tanpa logika pikir. Karena ilmu bisa menjadi dasar untuk menjalaninya, sedangkan pengalaman bisa menjadi dasar untuk belajar. Logika pikir merupakan titik awal dan logika pengalaman adalah untuk membangun kesadaran. Sehingga sebenar-benarnya hidup adalah interaksi antara pemikiran (logika) dan pengalaman, atau fatal dan vital.

    ReplyDelete
  81. Cinta Adi Kusumadewi
    13301241056
    Pendidikan Matematika I 2013

    Setelah membaca bacaan diatas pula saya mengetahui ontologi saintifik. Secara ontologis, dengan sintak-sintak pendekatan Saintifik diharapkan Subjek Belajar akan mampu menemukan, memperkokoh dan mengembangkan Kategori Berpikir sebagai unsur dasar setiap Ilmu (Pengetahuannya), yang dituntun secara konsisten, rigor, analitik, logik, formal, abstrak, identitas, a priori, dan tautologi oleh Postulat-postulat Umumnya, yang telah diakui kebenarannya secara koheren oleh komunitas keilmuannya; serta dilandasi secara kokoh oleh Sensasi Pengalamannya, dengan kesadaran bahwa Sensasi Pengalamannya tersebut bersifat sintetik a posteriori. Oleh karena itu, sebenar-benarnya maksud dari ilmu adalah sintetik a posteriori, yakni berlandaskan dengan pengalaman dari pemikiran.

    ReplyDelete
  82. ERFIANA NUR LAILA
    13301244009
    Pendidikan Matematika C 2013

    Skeptisism merupakan bentuk ketidakpercayaan seseorang terhadap sesuatu yang didengarnya, atau dilihatnya. Bahwa kita sebagai manusia pembelajar, memang seharusnye memiliki sikap skeptis ini ketika belajar, karena yang namanya belajar itu bukan semata-mata menerima apa yang diinformasikan atau diajarkan oleh guru kita. Namun, jauh lebih dari itu, kita seharusnye mencari tahu asal-usul dari pengetahuan tersebut, Misalnya saja tentang pitagoras, kita semestinya tidak hanya langsung menerima begitu saja bahwa dalam teorema pitagoras, berlaku a^2 + b^2 = c^2 ,, namun kita harus memiliki rasa ata setidaknya bertanya "dari mana ?" atau " mengapa ?" dan lain sebagainya. Karena rasa ingin tau ini akan membantu kita dalam mendalami hal yang sedang kita pelajari

    ReplyDelete
  83. Lilik Waziratul Muflihah
    13301244025
    Pend. Mat c 2013

    Saintifik realis, suatu pokok bahasan yang menarik apabila di terapkan di sekolah SMP, dalam bebeberapa pokok bahasan atau materi memang diperlukan suatu pengamatan langsung untuk bisa mencapainya. Namun, pada kenyataannya sekarang banyak siswa yang enggan untuk melihat matematika secara realis.

    ReplyDelete
  84. Lilik Waziratul Muflihah
    13301244025
    Pend. Mat c 2013

    Sintak pada kurtilas tentang mengamati atau observasi, apabila disajikan pada suatu media pembelajaran katakanlah power point, saya rasa ketertarikan siswa hanya sebatas pada objek yang terlihat mata dalam hal ini sifat yang ditampakkan objek. Nah permasalahnnya sekarang adalah, menyajikan suatu objek observasi yang nantinya akan membuat siswa menjadi aktif dalam sintak selanjutnya itu yang seperti apa? Apakah harus menyajikkan suatu objek secara nyata? Bukan hanya berbentuk "model" atau "gambar"?

    ReplyDelete
  85. Lilik Waziratul Muflihah
    13301244025
    Pend. Mat c 2013

    Kalau disandingkan dengan kurtilas yang berbasis saintifik realis, metode pembelajaran yang sesuai ialah Contextual Teaching and Learning dan Realistic Mathematics Education. Terdapat suatu Sifat Contextual dan Realistic. Suatu hal yang dianggap nyata untuk siswa.

    ReplyDelete
  86. Lilik Waziratul Muflihah
    13301244025
    Pend. Mat c 2013


    Daya sensibilitas dalam kegiatan observasi dapat dibangun pada saat kegiatan pendahuluan dalam pembelajaran. Bisa dengan memotivasi siswa atau dengan menyiapkan mental siswa dengan cara memberikan suatu "goncangan" atau suatu cerita, pertanyaan mengenai hal atau materi yang akan dipelajari. Selain itu, siswa juga bisa diajak untuk mengecheck kembali peralatan yanh dibutuhkan untuk mencapai materi untuk menyiapkan fisik dan psikis siswa.

    ReplyDelete
  87. Lilik Waziratul Muflihah
    13301244025
    Pend. Mat c 2013

    Kegiatan memgasosisasi memang menjadi suatu langkah yang "sulit" bagi siswa. Solusinya terletak pada fasilitator pembelajaran yaitu guru. Bagaimana guru untuk mengarahkan agar tercapainya suatu kegiatan mengasosiasi yang sesuai dengan materi yang ada dengan suasana atau keadaan yang menyenangkan bagi siswa.

    ReplyDelete
  88. Musa Marengke
    S3 PEP Kelas A, 2016
    Menyoal pikiran prof Marsigit di atas, nampaknya bahwa ontologi saintifik telah menyejarah dalam dialektika yang melahirkan teori, menguji teori dan mengembangkan teori ontologi.Analisis lanjutan ontologi ini melahirkan spekulasi dalam berbagai term tentang apa dan bagaimana sesuatu obyek itu. Konsep "sesuatu" memerlukan persepsi dan perspektif yang melahirkan aliran yang disebut Hermeneutika.

    ReplyDelete
  89. Musa Marengke
    S3 PEP Kelas A, 2016
    Prof. Marsigit menegaskan, Hermenitika dari ilmu adalah menjamin adanya interaksi linear dalam kesiklikan antara unsur-unsur keterwakilan logika pikir dan logika pengalaman; sehingga I Kant menegaskan bahwa sebenar-benar Ilmu adalah bersifat Sintetik a priori. Logika pikir saja tanpa adanya logika pengalaman dianggap baru mencapai setengah ilmu; demikian juga jika hanya logika pengalaman tanpa adanya logika pikir.

    ReplyDelete
  90. Fadila Dyah Rahmawati
    13301241058

    Kelompok Skeptis adalah berpendapat, manusia tak dapat mengetahui dengan pasti mengenai segala sesuatu di dunia di sekitar kita, atau bahkan mengenai diri kita sendiri. Oleh karena itu manusia tidak dapat benar-benar mengetahui apa yang benar dan salah (Pyrrhon, Timon, Epikurus, Socrates, dan Rene Descartes).
    Setiap manusia memiliki sudut pandang yang berbeda dalam menilai segala sesuatu. tidak selamanya yang benar terlihat benar dimata sebagian orang dan yang salah terlihat salah. semua hanya tergantung perspektif masing-masing dalam memandang sesuatu

    ReplyDelete
  91. Fadila Dyah Rahmawati
    13301241058

    Sikap skeptis adalah sebuah sikap yang menyangsikan kenyataan yang diketahui baik ciri-cirinya maupun eksistensinya. Sikap skeptis sebagai unsur dasar Skeptisisme Ilmiah akan memposisikan seseorang untuk selalu mempertanyakan klaim yang kurang memiliki bukti empiris yang kuat. Skeptisisme Ilmiah inilah yang kemudian dikenal sebagai pendekatan Saintifik.
    Karena itulah, pembelajaran dengan pendekatan saintifik meliputi mengamati, menanya, mencoba/mengumpulkan data (informasi), mengasosiasikan/mengolah informasi, dan mengkomunikasikan. Ini adalah langkah yang baik tapi tidak semua materi dapat digunakan dengan pendekatan saintifik

    ReplyDelete
  92. Nur Anisa Dika Maharani
    13301241030
    Pendidikan Matematika I 2013

    Selamat pagi Prof. Setelah membaca postingan ini saya tertarik dengan paragraf

    "Hermenitika ilmu menjamin adanya interaksi linear dalam kesiklikan antara unsur-unsur keterwakilan logika pikir dan logika pengalaman; sehingga I Kant menegaskan bahwa sebenar-benar Ilmu adalah bersifat Sintetik a priori. Logika pikir saja tanpa adanya logika pengalaman dianggap baru mencapai setengah ilmu; demikian juga jika hanya logika pengalaman tanpa adanya logika pikir."

    Saya tertarik karena saya jadi semakin percaya bahwa apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, antara satu aspek dengan aspek lainnya akan ada keterkaitannya (tidak bisa lepas satu sama lain). Begitu pula dengan logika pikir dan logika pengalaman, jika hanya salah satunya yang diraih maka tidak akan sempurna.

    ReplyDelete
  93. Nur Anisa Dika Maharani
    13301241030
    Pendidikan Matematika I 2013

    Yang selanjutnya, saya juga cukup tertarik dengan paragraf berikut,

    "Guru Matematika di sekolah, ketika menggunakan pendekatan Saintitik, merasa gamang ketika menyuruh siswa mengamati fenomena matematika yang cukup tertulis di dalam buku teks. Hal tersebut karena belum dibedakannya antara Saintifik Ideal dan Saintifik Realis. Sedangkan untuk kelas rendah seperti di SD atau awal SMP, guru tidak merasa ragu karena objek observasinya adalah benda-banda kongkrit (Objek Pengalaman)."

    Hal yang terlintas dalam benak saya, mungkin sejak awal sebaiknya guru diberikan pengarahan mengenai saintifik ideal dan saintifik realis, sehingga guru akan lebih mudah dalam membimbing siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Atau bisa juga karena tadi dikatakan bahwa kurikulum 2013 diturunkan dari saintifik realis, maka konten/isi dari buku siswa dibuat lebih realistik.

    ReplyDelete
  94. Nur Anisa Dika Maharani
    13301241030
    Pendidikan Matematika I 2013

    Akan sangat baik jika pendidikan dapat mengembangkan struktur pengetahuan secara intensif dan ekstensif sehingga dapat membentuk ilmu pengetahuan. Karena dengan Ilmu Pengetahuan yang telah berhasil dibangunnya itu maka seseorang akan memperoleh nilai-nilai kebijakannya, antara lain adalah mengambil Keputusan/Judgment (sekarang disebut Evaluasi-tahap akhir taksonomi Bloom) secara tepat dan bijaksana. Secara ontologis, kegiatan belajar seseorang dapat dikatakan sebagai menembus Ruang dan Waktu. Sebenar-benar orang cerdas adalah jika mampu menembus dan berada dalam Ruang dan Waktu yang benar.

    ReplyDelete
  95. Fitri Ayu Ningtiyas
    16709251037
    S2 P.Mat B UNY 2016

    Dari ontologi saintifik diatas, diketahui bahwa kegiatan mengasosiasi dalam pendekatan saintifik dapat dilihat dari postulat pikir sensasi pengalaman yang menghasilkan sebuah konsep. Konsep ini terdiri dari wadah da nisi. Wadah disini dapat berupa kategori berpikir, sedangkan isi dapat berupa pengalaman. Konsep-konsep yang ada inilah yang dijadikan dasar pemikiran dalam proses pembelajaran termasuk dalam pendekatan saintifik.

    ReplyDelete
  96. Niswah Qurrota A'yuni
    NIM. 16709251023
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas B 2016

    Assalamu'alaikum Wr.Wb.,

    Pendekatan saintifik menurut Bernard dalam Keyes (2010: 21) berdasarkan pada 3 asumsi, (a) kenyataan “di luar sana” untuk diketahui, (b) observasi langsung adalah cara mengetahui itu, (c) penjelasan tentang hal-hal pada kejadian yang dapat diamati selalu mencukupi dan penjelasan metafisik tidak pernah dibutuhkan. Jadi pada dasarnya metode ilmiah membuat siswa melakukan berbagai pengalaman belajar melalui observasi dan menjelaskan hasil pengamatannya.

    Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  97. Annisa Eprila Fauziah
    16709251040
    PPs P.Mat B 2016

    Olah pikir seseorang akan berkembang jika kita mengkajinya secara intensif atau sedalam-dalamnya dan ekstensif atau seluas-luasnya, sehingga akan terbentuk sebuah rancangan keyakinan dan kesepakan dan akan berkembang menjadi ilmu pengetahuan. Budaya barat memiliki nilai kebijakan yang tinggi karena budaya berpikir mereka yang kuat, sehingga bermunculan banyak sekali ilmu pengetahuan yang dapat menuntun seseorang untuk berani mengambil keputusan dan dapat membedakan mana yang benar dan salah.

    ReplyDelete
  98. Ketertiban (cosmos) pada suatu sistem akan memancarkan nilai keindahan yang didukung dan dibentuk oleh suatu keteraturan. Keindahan itu menyimpan banyak informasi, sehingga pola-pola interaksi di antara beragam subsistem dengan berbagai ukuran dapat berlangsung secara proporsional, seimbang, serasi, dan harmonis. Pada pengertian sebaliknya, perusakan merupakan proses pemusnahan informasi, atau pembesaran entropi. Apabila ukuran entropi membesar, maka ketakteraturan akan meningkat, sehingga mutu alam semesta cenderung degradasi.


    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP A UNY

    ReplyDelete
  99. Mempelajari apa itu ilmu pengetahuan itu berarti mempelajari atau membahas esensi atau hakekat ilmu pengetahuan. Demikian pula membahas pengetahuan itu juga berarti membahas hakekat pengetahuan. Untuk itu kita perlu memahami serba sedikit Filsafat Ilmu Pengetahuan. Dengan mempelajari Filsafat Ilmu Pengetahuan di samping akan diketahui hakekat ilmu pengetahuan dan hakekat pengetahuan, kita tidak akan terbenam dalam suatu ilmu yang spesifik sehingga makin menyempit dan eksklusif. Dengan mempelajari filsafat ilmu pengetahuan akan membuka perspektif (wawasan) yang luas, sehingga kita dapat menghargai ilmu-ilmu lain, dapat berkomunikasi dengan ilmu-ilmu lain.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP UNY

    ReplyDelete
  100. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP UNY

    Secara termodinamik, dipahami bahwa entropi alam semesta terus membesar, menurut hukum kedua termodinamika, yaitu energi memang kekal adanya, tetapi proporsi energi yang dapat diperbaharui terus mengecil, sementara proporsi energi yang tidak dapat diperbaharui terus membesar. Kerusakan yang telah terjadi di dalam suatu subsistem sosial-ekonomi-budaya dan subsistem biologi-geografi-fisika-kimia merupakan akibat dari pola-pola interaksi yang memusnahkan entitas-entitas informasi. Subsistem-subsistem tersebut diperdaya sedemikian rupa sehingga perangkat memori (penyimpan, penata, pengirim, dan penerima informasi) yang ada sebelumnya menjadi terganggu bahkan terusak, hal ini berakibat pada punahnya kemampuan untuk memulihkan diri (self-recovery).

    ReplyDelete
  101. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP UNY

    Pembelajaran teknologi informasi yang akan datang perlu diupayakan agar ada keseimbangan/ keharmonisan antara pengetahuan sains itu sendiri dengan penanaman sikap-sikap ilmiah, serta nilai-nilai kearifan yang ada dalam teknologi itu sendiri. Oleh karena itu, lingkungan sosial-budaya siswa perlu mendapat perhatian serius dalam mengembangkan pendidikan teknolgi-informasi di sekolah karena di dalamnya terpendam sains asli yang dapat berguna bagi kehidupannya. Dengan demikian, pendidikan sains akan betul-betul bermanfaat bagi siswa itu sendiri dan bagi masyarakat luas. Hal ini sesuai dengan pandangan reformasi pendidikan sains dewasa ini yang menekankan pentingnya pendidikan sains bagi upaya meningkatkan tanggung jawab sosial

    ReplyDelete
  102. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Aliran Saintisisme berusaha menggabungkan idealis yang ada di dalam pikiran dan aliran realis yang ada di luar pikiran sehingga memperoleh 2 (dua) macam Saintifisme yaitu Saintifisme Ideal dan Saintifisme Realis. pendekatan Saintifik yang diimplementasikan pada Kurikulum 2013 adalah pendekatan yang diturunkan dari Saintifisme Realis,yaitu untuk objek-objek yang teramati (di luar pikiran). Dimana pembelajaran saintifik pada kurikulum 2013 meliputi mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/eksperimen, mengasosiasikan/mengolah informasi dan mengkomunikasikan.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  103. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    pendekatan saintifik yang didasarkan dari pengalaman yang terjadi dalam suatu konteks yang nyata tidak terlepas dari para filsuf seperti Immanuel Kant yang mengatakan bahwa ilmu itu berasal dari logika berpikir dan berasal dari logika pengelaman, artinya apa untuk menggapai ilmu maka dibutuhkan keselarasan antara pikiran dan pengalaman yang terjadi dalam diri kita.

    ReplyDelete
  104. Ressy Rustanuarsi
    16709251033
    PPs PMAT Kelas B 2016

    Pengamatan sebaiknya meliputi 2 komponen yaitu abstraksi dan idealisasi. Namun, faktanya saintifk hanya menyentuh komponen abstraksi saja, yakni memandang sebagian sifat yang ada dari objek pengamatannya yakni objek yang tampak saja. Seperti contoh kubus tadi yang diamati hanya bentuk, ukuran dan banyaknya sisi, rusuk dan sudut. Sedangkan yang tak tampak oleh mata seperti keindahan, kualitas, harga diabaikan. Jika siswa dibiasakan memandang ilmu sebagai objek yang tampak saja, bagaimana siswa memandang sesuatu yang tak tampak seperti spiritual. Hendaknya pembelajaran juga menyentuh ranah ini.

    ReplyDelete
  105. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Aliran Saintisisme berusaha menggabungkan aliran Idealis-Rasionalis-Skeptisism dan aliran realism-empirirsisme. Sebagai salah satu akar dan basis Saintifisme dan Saintifik, metode Positive yang dipelopori oleh Auguste Compte, menolak tesis-tesis ilmu-ilmu humaniora dan juga menolak Filsafat termasuk metafisik yang ada di adalamnya; sebaliknya kaum Positive berusaha membangun struktur dunia untuk membangun dunia dengan meletakkan metode Positive di atas Filsafat dan Spiritual.

    ReplyDelete
  106. Asri Fauzi
    16709251009
    Pend. Matematika S2 Kelas A 2016
    Dari artikel di atas, hal yang dapat dipahami adalah terdapat 2 macam Saintifisme yaitu Saintifisme Ideal dan Saintifisme Realis. Saintifisme ideal. Saintifisme Ideal lebih bersifat abstrak atau di dalam fikiran yang berasal dari logika pikir direpresentasikan oleh Idealisme, Rasionalisme, Skeptisisme, Logisisme, Formalisme, Simbolisme, Objektivisme dan Absolutisme. Sedangkan Saintifisme lebih bersifat real yang berasal dari logika pengalaman direpresentasikan oleh Realisme, Empirisisme, Intuisionisme, dan Subjektivisme. Logika Pikir mempunyai sifat-sifat konsisten, logis, koheren, analitik, rigor, a priori, formal, murni, objektif, terukur, deduktif, abstrak, intuisi murni dan terbebas oleh ruang dan waktu; sedangkan Logika Pengalaman mempunyai sifat kecocokan, persepsi, intuisi empirik, sintetik, a posteriori, subjektif, relatif, induktif, konkrit, dan terikat oleh ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  107. Ika Dewi Fitria Maharani
    16709251027
    PPs UNY P.Mat B 2016

    Ontologi saintifik ini menjelaskan bahwa saintifisme ini merupakan gabungan dari positivisme oleh auguste compte dan skeptisfisme. Mereka berusaha membuat sainfisme menjadi sesuatu yang ideal dan mengesampingkan humaniora dan religiusitas. Menganggap bahwa manusia bisa mengetahui yang benar itu benar atau sebaliknya dengan pasti. Padahal itu diluar kemampuan kita sebagai manusia. Ada hal-hal yang diabaikan atau mungkin berusaha diabaikan dalam saintik ini. Namun tentunya seideal apapun perumusan metode saintik ini, tetap tidak bisa mengabaikan kebutuhan kita sebagai manusia.

    ReplyDelete
  108. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    PPs PM B 2016

    Pendekatan saintifik yang kita kenal pada kurikulum 2013 memiliki lima sintak dalam proses pembelajarannya, yaitu mengamati/observasi, menanya, mengumpulkan data, mengasosiasi, menyimpulkan.Pada hakikatnya sintak-sintak dari pendekatan saintifik tersebut ingin menjadikan subjek belajar mampu menemukan sendiri dan memahami konsep yang mereka pelajari. Dan juga agar subjek belajar mampu menembus dan berada pada ruang dan waktu yang benar.

    ReplyDelete
  109. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    Dengan Ilmu Pengetahuan yang kita konstruk, akan memunculkan kebijaksanaan dalam menentukan, memilih, memutuskan dan memperhitungkan segala susuatu sesuai dengan keadaan. Dengan ilmu pengetahuan ini, kita akan bisa lebih mengerti dan menghargai adanya perbedaan ruang dan waktu. Sehingga kita pun akan lebih santun dalam melangkah dan bertindak. Sebenar-benar hidup yaitu mereka yang santun terhadap ruang dan waktu. Santun terhadap ruang dan waktu adalah tau posisi dimana berada dan tau bagaimana harus bersikap di posisi tersebut.

    ReplyDelete
  110. Khintoko Intan Permatasari
    13301244011
    Pendidikan Matematika C 2013

    Ontologi tidak terikat akan perwujudan tertentu. Ontologi membahas mengenai apa yang ada dan tentang yang ada. Dalam kaitannya dengan matematika maka pendekatan ontologis adalah mencari pengertian menurut akar dan dasar terdalam dari kenyataan matematika.

    ReplyDelete
  111. Khintoko Intan Permatasari
    13301244011
    Pendidikan Matematika C 2013

    Pendekatan ontologis digunakan untuk menerima kenyataan dalam matematika. Pendekatan ini berusaha untuk memahami kembali pemahaman paling dalam tentang kenyataan dari matematika konkretnya. Pada akhirnya ontology matematika bergerak melalui dua kutub yaitu dari sisi kenyataan matematika dan dari sisi matematika yang mengada.

    ReplyDelete
  112. Khintoko Intan Permatasari
    13301244011
    Pendidikan Matematika C 2013

    Contoh dari ontology matematika adalah kajian tentang pernyataan apakah bilangan itu hanya tergantung pada pemikiran manusia? Jika iya lalu bagaimanakah kita menerapkannya bagi ilmu pengetahuan. Pembahasan-pembahasan ini menggunakan prinsip ontology matematika dimana hal ini lebih mengkaji tentang objek abstrak dalam matematika.

    ReplyDelete
  113. Khintoko Intan Permatasari
    13301244011
    Pendidikan Matematika C 2013

    Para skeptik adalah orang-orang yang tiada henti mencari tahu dan bertanya mengenai berbagai hal-hal di sekitarnya. Dalam proses pencarian ini para skeptik melakukan berbagai penelitian, investigasi, penelusuran, pertimbangan, dan penilaian yang didasarkan pada bukti-bukti yang relevan dengan ditopang oleh daya pikir kritis dan berbagai argumentasi yang masuk akal. Dengan demikian, skeptisisme merupakan suatu proses dalam menerapkan pikiran kritis dan akal sehat untuk memutuskan, menentukan, menetapkan kesahihan sebuah subjek atau masalah.

    ReplyDelete
  114. Khintoko Intan Permatasari
    13301244011
    Pendidikan Matematika C 2013

    Sepatutnya skeptisisme memberikan pengaruh yang begitu kuat sekaligus positif bagi dunia. Skeptisisme adalah upaya untuk mengarahkan kembali perhatian manusia pada bukti-bukti relevan yang ditunjang oleh akal sehat. Oleh karena itu, skeptisisme berupaya mengarahkan berbagai pandangan dan ide sehat manusia demi pemikiran yang nyata dan tidak dibelenggu oleh berbagai pemikiran yang bernuansa fantasi.

    ReplyDelete
  115. Khintoko Intan Permatasari
    13301244011
    Pendidikan Matematika C 2013

    Berbagai metode saintifik adalah tolok ukur yang digunakan para skeptik. Seperti halnya kurikulum yang digunakan saat ini adalah kurikulum 2013. Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan saintifik yang memiliki lima kegiatan diantaranta adalah mengamati, menanya, mengumpulkan data, mengolah data, dan menarik kesimpulan. Semua kegiatan tersebut mengarah pada mencari dan menyelesaiakan suatu permasalahan dengan cara bertahap untuk mendapatkan suatu kebenaran.

    ReplyDelete
  116. Nurul Purnaningsih
    13301241045
    Pendidikan Matematika Inter 2013

    Terimakasih kepada Pak Prof. Marsigit karena telah memposting ontologi saintifik ini, dengan membaca ontologi saintifik ini guru maupun calon guru dapat mengetahui dasar atau latar belakang dari metode pembelajaran saintifik seperti yang telah diterapkan sesuai dengan penerapan kurikulum 2013 sehingga diharapkan tidak terdapat kesalahan ketika merumuskan kegiatan sesuai dengan sintaks pada metode saintifik.

    ReplyDelete
  117. Nurul Purnaningsih
    13301241045
    Pendidikan Matematika Inter 2013

    Menurut Descartes dalam memahami pandangan kaum skeptis dalam mencapai pengetahuan, kebenaran pengetahuan dapat dicapai dengan sikap ragu. Sikap skeptis sebagai unsur dasar Skeptisisme Ilmiah akan memposisikan seseorang untuk selalu mempertanyakan klaim yang kurang memiliki bukti empiris yang kuat, sehingga dalam pembelajaran siswa dirangsang untuk meragukan pertanyataan atau pengetahuan dan tidak serta merta menerima suatu konsep, agar mereka dapat mengkonstruk sendiri materi yang akan dipelajari melalui langkah-langkah atau sintaks dalam pendekatan saintifik.

    ReplyDelete
  118. Nikma Husna
    13301244024
    Pendidikan Matematika C 2013
    Ontologi Pendidikan Matematika mencakup bagaimana usaha guru untuk membantu siswa mencapai tujuan belajarnya secara efektif mengenai materi matematika dengan cara memfungsikan unsur-unsur kognisi siswa, terutama unsur pikiran untuk memahami stimulus dari luar melalui proses pengolahan informasi.

    ReplyDelete
  119. Nikma Husna
    13301244024
    Pendidikan Matematika C 2013
    Contoh dari ontologi matematika sekolah ialah ketika suatu pembelajaran matematika dengan tujuan objektif pembelajaran ialah siswa dapat memahami penyelesaian masalah dengan mengubah masalah nyata dalam bentuk persamaan, memahami kebenaran penyelesaian dari masalah nyata tersebut hingga siswa tersebut mampu menyelesaikan pengembangan dari masalah tersebut itulah yang disebut contoh dari ontologi dari pendidikan matematika.

    ReplyDelete
  120. Nikma Husna
    13301244024
    Pendidikan Matematika C 2013
    Ontologi Pendidikan Matematika mencakup bagaimana usaha guru untuk membantu siswa mencapai tujuan belajarnya secara efektif mengenai materi matematika dengan cara memfungsikan unsur-unsur kognisi siswa, terutama unsur pikiran untuk memahami stimulus dari luar melalui proses pengolahan informasi. Sehingga dalam hal ini tugas guru adalah membimbing siswa dalam menggunakan unsur kognisi nya untuk mencapai tujuan pembelajaran.

    ReplyDelete
  121. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Ontologi saintifik melalui mengamati, menanya, mengasosiasi/menalar, menyampaikan dan berbagi adalah kesesuaian antara aksioma atau pastulat pikir dan dikatakan sensasi pengalaman jika memenuhi untuk hukum sebab-akbiat. selain itu ontologi saintifik juga dapat dikatakan sebagai kegiatan belajar seseorang yang dalam dimensinya berusaha menembus ruang dan waktu untuk mencapai logos.

    ReplyDelete
  122. Bismillah
    Ratih Kartika
    16701251005
    PPS PEP B 2016

    Assalamualaikumwarahmatulahiwabarrakatuh¬
    Pembelajaran k 13 menggunakan pendekatan saintifik, Disebutkan bahwa secara ontologis, melalui sintak-sintak pendekatan Saintifik akan membimbing siswa untuk menemukan, memperkokoh dan mengembangkan kategori berpikir sebagai unsur dasar pengetahuannya, yang dituntun secara konsisten, rigor, analitik, logik, formal, abstrak, identitas, a priori, dan tautologi oleh Postulat-postulat; serta dilandasi secara kokoh sensasi pengalamannya, dengan kesadaran bahwa sensasi pengalamannya tersebut bersifat sintetik a posteriori.

    Wassalamualaikumwarahmatulahiwabarakatuh

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id