Feb 26, 2011

Elegi Ritual Ikhlas IV: Enggan Pulang dan Ingin Mati?




Oleh Marsigit

Santri Kepala:

Asslamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh
Alhamdulillaah. Alhamdulillaahi wahdah shodaqo wa’dah wa nashoro ‘abdah wa ‘azza jundahu wa ‘azama wahdah. Wash-sholatu was salamu ‘alaa rasulillaah Sayyidina wa habibina wa qurrotu a’yuna Muhammadin bin ‘abdillah wa alaa alihi wa ashhabihi wa dzawil nufusil muthmainnah. Amma ba’dah.


Bapak Ibu peserta Ritual Ikhlas IV yang berbahagia, acara puncak dari segala ritual ikhlas yang kita selenggarakan ini adalah bermunajat kehadirat Allah SWT. Semoga dengan keikhlasan hati kita masing-masing maka Allah SWT ridha dengan doa-doa kita seraya mengabulkannya. Amin.

Harapan kami dari Panitia adalah bahwa setelah kita insyaallah berhasil melakukan perbaikan perihal tata cara beribadat, menertibkan salat, menambah-tambah salat sunat, salat jamaah, memperbanyak dzikir, melatihkan keikhlasan, berlatih bagaimana bersyukur itu, memohon ampun segala dosa-dosa, membersihkan hati, maka kembalilah kita ke rumah masing-masing, ke pekerjaan kita masing-masing. Beterbaranlah kita semua di muka bumi ini untuk berubudiyah dan berjuang di jalan yang diridhai Allah SWT. Amin

Sembari menunggu Acara Penutupan, kita masih mempunyai waktu yang cukup untuk mengadakan dialog dan tanya jawab. Silahkan kalau masih ada hal-hal yang ditanyakan.

Peserta Ritual Ikhlas:
Asslamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh
Yang saya hormati Santri Kepala. Tiadalah kami mampu membayangkan pikiran, ucapan, perbuatan ataupun segala harta benda yang kami miliki, mampu menukar segala kebaikan dirimu dan kebaikan diri para santri di sini yang telah dengan sabar dan ikhlas membimbing kami dalam memperbaiki tata cara ibadat kami serta usaha-usaha kami dalam meraih keridhaan kami. Kami betul-betul merasakan keadaan seperti berganti dunia, keadaan berganti seratus delapan puluh derajat, yaitu jika dibandingkan keadaan sekarang dan keadaan ketika saya baru awal mengikuti ritual ikhlas ini. Sungguh masa lampauku itu sangat aku tidak sukai, sangat aku sesali, dan saya terasa tidak mampu kembali untuk kembali mengalami masa lampauku itu. Aku ternyata telah merasakan nikmat di atas nikmat yang tidak ada tolok bandingannya, aku telah merasakan damai dan tenteram yang tidak ada tolok bandingannya, aku telah merasakan bagaimana dicintai Allah SWT, dan aku tidak mau hal-hal yang telah aku raih tersebut akan hilang begitu saja. Dunia masa lampauku, dunia yang ada di sana itu begitu buruknya sekarang aku merasakannya, maka aku betul-betul menyesali segala perbuatanku di waktu lampauku. Oleh karena itu setelah berbisik-bisik dengan sesama peserta, maka kami masih ingin mengajukan permohonan kepada Santri Kepala, yaitu bagaimana agar kami tetap tinggal di sini saja dan tidak usah pulang. Sampai akhir hayatku pula rasanya kami ikhlas tetap berada di sini dan tidak ingin pulang. Kami ingin mempertahankan dan bahkan kalau perlu kami ingi menambah-nambah ilmu lagi di sini agar hidupku lebih sempurna lagi. Bahkan sampai matipun rasanya saya ingin tetap disini. Bagiku hidup dan mati itu jaraknya sangat dekat. Wahai Santri Kepala, apakah engkau masih bersedia menjawab pertanyaan kami perihal mati? Apakah boleh kami memohon kematian agar kami segera bisa menghadap Illahi?

Santri Kepala:
Perihal kematian atau menunggu datangnya kematian? Maka kita mempunyai Ustad yang bisa kita dengarkan sebagai referensi. Untuk itu saya persilahkan Ustad Miftahus Salim, Ustad Jalaludin Rakhmat dan Ustad M Shaim, agar bisa menjelaskan perihal kematian kepada peserta Ritual Ikhlas. Silahkan.

Miftahus Salim:
Asslamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh
Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Ya Allah, aku mohon petunjuk-Mu akan arah yang baik dan benar untuk setiap langkahku. Mudahkan jalanku, kuatkan imanku..ya Allah. Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Tahu yang terbaik bagi umat-Mu. Ya Allah, tambahlah ilmuku, bimbinglah aku agar mendapat hanya ilmu yang lurus dan benar sesuai dengan syariat-Mu dan ajaran rasul-Mu. Bimbinglah aku agar imuku menjadi ilmu yang bermanfaat, jauh dari riya’, mudahkanlah mulutku untuk membaca dan memahami Al-Quran. Jadikanlah aku umat-Mu yang pandai menyampaikan ayat-ayat-Mu dengan ikhlas, tidak riya’, mudahkan mulutku untuk berkomunikasi dengan lancar dan tawadhu, jadikan aku orang yang tawadhu, mudahkan hati dan pikiranku untuk menganalisa ilmu agama secara benar dan lurus.

Bapak ibu sekalian, Allah SWT berfirman: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan yang sebenar-benarnya. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan’ (Surat Al- Anbiya:35). Allah menciptakan kehidupan ini silih berganti antara kejadian satu dengan kejadian lain. Dulu hidup lalu dimatikan, yang mati lalu dihidupkan. Begitulah Allah menunjukkan kekuasaan-Nya. Dan akhirnya semua kembali kepada-Nya. “Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. dan engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas) (QS Ali Imran:27). “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah” (QS: Adz-Dzariyat:49)

Bagawat Rama:
Uztad, umur saya sudah banyak...tetapi belum juga aku dijemput kematianku. Apakah aku boleh membayang-bayangkan kematianku dalam pikiranku itu?

Miftahus Salim:
Setiap tubuh yang berjiwa pasti merasakan mati, bahwasanya pahalamu akan disempurnakan di hari kiamat. Barang siapa dihindarkandari neraka dan diangkat ke surga, sungguh menanglah dia (Ali-Imran:185). “Hingga ketika seseorang diantara mereka itu mati, ia berkata : Ya Tuhan kembalikan aku ke dunia. Mungkin aku bisa beramal kebaikan yang dulu aku tinggalkan, sekali-kali tidak, sungguh itu suatu kalimat, dia mengatakannya. Dibelakang mereka ada dinding sampai hari kebangkitan (QS. Al Mukminun: 101-109). Maka jawaban dari pertanyaan anda dapat saya berikan sebagai:”Seseorang tidak tahu pasti apa yang akn diperbuat besok pagi dan tiada pula mengetahui secara pasti di bumi/daerah mana ia akan mati” (QS.Lukman:34). Rasulullah SAW bersabda:”Sering-seringlah mengingat peristiwa yang akan melenyapkan segala bentuk kelezatan yakni mati (HR Turmudzi).

Dewi Umaya:
Ustad, bagaimana persisnya dan apa yang terjadi jika terompet kematian itu telah ditiup-Nya? Bagaimana dengan amal-amal kita? Bagaimana dengan dosa-dosa kita? Apakah Tuhan akan mengangkat pemenang-pemenang? Dan siapakah sang pemenang itu?

Miftahus Salim:
“Ketika terompet ditiup, maka tiadalah hubungan darah antara mereka dihari itu, dan tiada pula kesempatan saling bertanya diantara mereka. Maka barang siapa banyak amal perbuatan baiknya, mereka itulah yang menang. Danbarang siapa yang ringan amalnya, maka mereka itulah yang sangat merugikandirinya, kekal menjadi penghuni neraka. Api membakar muka mereka, sehingga muka mereka bermuram durja didalamnya. Apakah ayat-ayat Ku tiada dibacakan, lalu kamu berdusta kepadanya? Jawab mereka:”ya Tuhan, kami telah bertekuk lutut pada nafsu sial kami, sehingga kami termasuk masyarakat sesat. QS Al Mukminin:101-115). Ketika ajal mereka tiba, mereka tiada daya menangguhkannya ataupun menyegerakannya sesaatpun (QS Al-a’raf:34)

Cantraka Sakti:
Bagaimanakah sikap kita menghadapi kematian? Bersedihkan atau bergembirakah?

Miftahus Salim:
Jika kematian sudah ditentukan, maka tidak ada seorangpun yang dapat mencegahnya. Firman Allah SWT:”Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat pula memajukannya (QS Al-A’raf: 34). Selanjutnya saya minta rekan Ustad jalaludin Rakhmat untuk menjelaskan lebih lanjut perihal kematian ini.

Jalaludin Rakhmat:
Terimakasih. Matilah kamu sebelum mati. Allah mematikan kamu dari diri-dirimu dengan kematian keinginan yang berupa peniadaan (fana) dalam keesaan. Lalu Allah menghidupkankamu dengan kematian hakiki, yakni al-baqa sesudah al-fana dengan wujud al-haqqani yang dianugerahkan kepadanya. Kemudian kepada-Nya kamu dikembalikan untuk penyaksian.

Muhammad Nurikhlas:
Mohon dijelaskan kembali apa yang dimaksud ‘mati sebelum mati’?

Jalaludin Rakhmat:
Dalam Surat Al-Baqarah ayat 260 Allah berfirman:”Dan Ingatlah ketika Ibrahim berkata,’Ya Tuhanku, perlihatkan kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati’ Allah berfirman,’Belum yakinkah kamu? Ibrahim menjawab,’Aku telah meyakininya, tetapi agar hatiku tetap mantap dengan imanku’. Allah berfirman,’Kalau demikian ambillah empat ekor burung dan cincanglah semua olehmu. Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggilah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera’. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Dewi Umaya:
Aku belum jelas perihal mati sebelum mati dan apa hubungannya dengan keempat burung itu?

Jalaludin Rakhmat:
Kita hanya akan bisa hidup kembali setelah mati, bila kita membunuh empat ekor unggas yang mencerminkan diri kita atau ego kita. Keempat ekor unggas itu adalah Bebek sebagai lambang kerakusan, Ayam Jantan sebagai lambang nafsu, Burung Merak sebagai lambang kesombongan, dan Burung Gagak sebagai lambang keinginan.

Bagawat Rama:
Bagaimana jika umurku yang sudah tua renta ini, sementara fisikku sudah tidak mampu melakukan banyak aktivitas, tetapi aku belum berhasil membunuh burung-burung egoku itu?

Jalaludin Rakhmat:
Itulah kematian ruju idhtirari, yaitu kembali kepada Allah secara terpaksa. Bagi orang-orang yang ikhlas, kematian adalah jembatan untuk menyeberang dari keburukan dan kesengsaraan ke surga yang luas, yaitu enikmatan abadi. Sedangkan bagi orang-orang yang belum ikhlas, kematian adalah perpindahan dari istana ke penjara dan azab. Membunuh burung-burung egois itulah sebagai lambang keikhlasan kita masing-masing. Bagi orang-orang yang belum ikhlas, dunia itu adalah surga, sedang kematian adalah neraka Jahim. Sebaliknya, bagi orang-orang yang sudah ikhlas, dunia adalah penjara, sedangkan kematian adalah jembatan menuju surga.

Bagawat Rama:
Bagi diriku yang sebetulnya juga ingin mati, apakah masih ada teladan yang dapat aku ambil?

M Shaim:
Begini Bagawat Rama, teladan yang paling baik adalah melihat apa yang diucapkan dan dikerjakan orang-orang mulia ketika menghembuskan nafas terakhirnya. Apa yang mereka wasiatkan? Dst. Menjelang detik-detik terakhir kehidupan dunianya, Rasulullah SAW berkali-kali mengucapkan:”Shalat, jagalah shalat dan para budak-budak kalian” (HR Ibnu Majah:2625). Setelah itu beliau pingsan, dan ketika sadar, beliau bersabda:”Aku berpesan kepada kalian, berbuat baiklah pada wanita”. Diriwayatkan oleh Aisyah ra, ia berkata:”Saya melihat Rasulullah ketika akan meninggal. Di samping beliau ada sebuah gelas yang berisi air. Beliau memasukkan tangan beliau ke dalam gelas itu kemudian membasuh wajah beliau dengan air itu, kemudian berdoa: “Ya Allah, tolonglah aku dalam sakaratul maut ini”. A’isyah ra menambahkan:”Ketika keadaan Rasulullah semakin kritis, beliau menarik tangan beliau dari tanganku kemudia berdoa:”Ya Allah, ampunilah aku danpertemukanlah aku dengan orang-orang yang mulia di sisi-Mu” (HR Ibnu Majah: IX/16)

Dewi Umaya:
Apakah masih ada teladan-teladan yang lainnya?

M Shaim:
Uqbah bin Abu ash-Shahba menuturkan, ketika Ali akan meninggal, berwasiat kepada anaknya Al-Hasan:”Ananda, hafalkan dariku empat hal dan empat hal lainnya”. Al-Hasan bertanya:”Apakah itu ayahnda?”. Ali menjawab:”Kekayaan yang paling kaya adalah kaya akal, kemiskinan terbesar adalah kebodohan, kesedihan yang paling mengerikan adalah sifat ujub, dan kemuliaan yang paling utama adalah akhlak yang baik”. Lalu apa empat hal yang lainnya?. Ali menjawab:”Jauhilah pertemanan dengan orang yang bodoh karena ia ingin memanfaatkanmu kemudian merusakmu. Jauhilah berkawan dengan orang yang suka bohong, kerana dia akan mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat (memutar balikkan kebenaran), Jauhilah berkawan dengan orang bakhil karena dia akan melarangmu mendapatkan hal yang paling kamu butuhkan. Jauihilah berkawan dengan orang yang berbuat dosa, karena ia akan menjualmu dengan harga murah”.

Muhammad Nurikhlas:
Wahai Ustad M Shaim, dikarenakan para peserta Ritual Ikhlas ini telah merasa nyaman di sini dan enggan pulang, malah ada sebagian diantara mereka malah lebih menginginkan kematiannya. Apakah masih ada lagi teladan, nasehat atau wasiat perihal urusan dunia-akhirat, dari orang-orang mulia ketika akan mati?

M Shaim:
Semua peserta Ritual Ikhlas yang saya hormati. Diriwayatkan oleh Sa’id bin al-Musayyab, ketika akan meninggal, Abu Ubaidah memanggil orang muslim yang mendatanginya dan berkata:”Saya berpesan kepada kalian, jika kalian mau menerimanya, niscaya kalian akan tetap dalam kebaikan. Pesan saya: Dirikanlah Shalat, berpuasalah di bulan Ramadhan, bersadaqahlah, tunaikanhaji, makmurkanlah bumi ini, saling bersilaturakhimlah, berikan nasehat kepada para pemimpin danjangan membingungkan mereka, serta janganlah sampai terpedaya oleh dunia. Walaupaun ada orang yang dapat hidup selama seratus tahun, namun pasti akan kembali kepada kematian yang kalian lihat ini. Allah telah menetapkan kematian bagi anak turun Adam, mereka semua akan mati. Orang yang paling cerdas di antara mereka ialah orang yang paling taat kepada Tuhanya danyang paling tahu tentang hari kembalinya. Wassalamu’alaikum wa rahmatullah. hai Mu’adz bin Jabal, sambunglah silaturakhim dengan orang-orang”

Santri Kepala:
Bapak, Ibu dan saudara semua peserta Ritual Ikhlas IV. Semoga semua Tausiah dari para Ustad kita dapat memberikan pencerahan dan bekal kita untuk mengarungi hidup ini dunia wal akhirah. Uraian dari Ustad M Shaim tentang teladan, pesan dan wasiat dari orang-orang mulia kiranya sangat bermanfaat bagi kita semua. Pesan Abu Ubaidah memberi kekuatan kita agar marilah setelah selesai kegiatan ritual ikhlas ini kita bertebaran di muka bumi untuk masih tetap berjuang di jalan Allah. Marilah kita bersama berdoa untuk memanjatkan puji syukur kita atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT kepada Kita. Doa kita juga sekaligus sebagai penutup rangkaian kegiatan kegiatan Ritual Ikhlas I sampai dengan IV. Allohuma ij’alana minadz dzaakiriena wadz dzaakirot. Allohumma nawwir qulubana bikulli hidayatika kama nawwarta binuri syamsika abadan abadan. Robbana taqobbal minna innaka Antas Samie’ul ‘Alaiem watub ‘alaina innaka Anta Tawwabur Rohiem. Robbana dholamna anfusana wa inlam taghfir lana watarhamna lanakunanna minal khosirien. Robbana atina fid dunya hasanatan wafil akhiroti hasanatan wa qina adzaban naar, wa adkhilna jannata ma’al abror Ya ‘Aziezu Ya ghoffar. Wa sholallohu ‘alaa Sayyidina Muhammadin an-nabiyyil umiyyi wa a’alaa alihi wa shohbihi wa azwajihi wa dzurriyyatihi wa ahli baitihi ajma’ien wasallam. Subhana Roobika Robbil ‘Izzati ‘amma yashifuun wa salamun ‘alal mursalien wal hamdulullahi Robbil ‘alamien. Demikian Bapak ibu semua, mudah-mudahan kita selalu dimudahkan urusan dunia dan akhiratnya. Amin. Wallohu muwafiq ilaa aqwamith thoriq.

Wassalamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

24 comments:

  1. Dita Nur Syarafina
    NIM. 16709251003
    PPs Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Kematian adalah perpindahan kehidupan sementara menuju kehidupan abadi. Seperti olahraga, kita melalukan pemanasan dahulu baru ke olahraga sesungguhnya. Begitu juga kehidupan ini, kehidupan dunia hanyalah pemanasan. Kehidupan abadi kelak tempatnya di akhirat. Hendaklah selagi masih hidup, masih sehat, masih berakal, masih mampu bersedekah, beribadah, berdoa sebanyak-banyaknya. Karena penyesalan selalu nggak on time.

    ReplyDelete
  2. Nira Arsoetar
    16709251018
    PPS UNY Pendidikan Matematika
    Kelas A

    Kematian adalah jembatan menuju surga, menurut elegi di atas. Benar sekali. Kadang kita sebagai manusia lupa tujuan kita hidup di dunia untuk apa. Dunia itu fana dan hanya sebentar, maka pernah dibilang, sebaik-baiknya orang adalah yang mengingat mati. Karena dengan mengingat kematian kita akan semakin khusyuk beribadah dan tidak mencampuradukkan urusan akhirat dengan dunia. Ketika kita hidup di dunia dan saat kematian menghampiri, setidaknya kita dalam keadaaan khusnul khotimah dan membawa tabungan amal yang banyak serta menjadi hamba Allah yang shaleh/shalehah. Itu yang dimaksud dengan kematian adalah jembatan menuju surge. Satu yang harus kita pegang teguh, jangan terlena akan kenikmatan dunia. Gunakanlah kesempatan hidup di dunia dengan sebaik-baiknya untuk beribadah dan melakukan aktivitas yang positif dan diridhoi Allah, karena kematian datangnya pasti dan kita tidak tahu kapan akan mengahmpiri kita.

    ReplyDelete
  3. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PPs UNY PEP kelas A

    Jembatan antara dunia dan akhirat, salah satunyaa, adalah kematian. Kematian merupakan langkah awal menuju kehidupan baru. Segala apa yang kita lakukan di dunia akan menjadi kunci kita memasuki pintu akhirat. Pintu yang mana yang dapat dibuka dengan kunci tersebut bergantung pada gerigi-gerigi kunci yang telah kita ukir di dunia.
    Sebaik-baik manusia adalah yang taat kepada Allah SWT, dengan melaksanakan segala yang telah diperintahkan-Nya dan menjauhi segala yang telah dilarang-Nya. Mari kita bersama-sama mempersiapkan diri menghadapi kematian dengan meningkatkan ketaatan kita kepada-Nya.

    ReplyDelete
  4. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Kehidupan ini hanyalah awal dari sekian tahapan kita menuju surga. Kita hanya singgah sejenak di dunia dari suatu rangkaian perjalanan yang amat panjang. Kematian memang tidak dapat kita hindari dan tidak ada yang bisa menolong kita, keluarga pun tak akan bisa menolong kita dari kematian yang sudah ditentukan oleh Allah SWT. Dunia ini kita harus terus sadar tentang siapa diri kita, untuk apa kita diciptakan, kemanakah kita hendak menuju setelah kehidupan dunia, dan berapa lamanya kita hidup merupakan rahasia Allah SWT.

    ReplyDelete
  5. Siska Nur Rahmawati
    16701251028
    PEP-B 2016



    Terima kasih Prof. Marsigit yang sudah membuat elegi ini. Saya banyak mengambil manfaat dari elegi ini. Terima kasih yang sudah menyadarkan saya dan selalu mengingatkan saya untuk selalu memperbanyak ibadah untuk bekal di akhirat nanti. Banyak elegi-elegi yang mengajarkan untuk ikhlas. Namun, sering kali saya masih sulit untuk menerapkannya di dalam kehidupan. Entah karena apa, namun saya merasa bahwa masih mementingkan kepentingan dunia saja.

    ReplyDelete
  6. Azwar Anwar
    16709251038
    Pendidikan Matematika S2 Kelas B 2016

    Kematian pastinya akan datang kepada semua umat manusia tanpa terkecuali, hanya waktunya masih dirahasiakan oleh Allah SWT. Dunia adalah sebuah tempat persinggahan sementara, akhirat lah selamanya. Jika ingin mendapat surga di akhirat, maka kadarnya akan dilihat dari kehidupannya selama hidup di dunia. Jika di dunia kita banyak beribadah kepada Allah dan menjalankan semua perintahnya maka surga ganjarannya begitu juga sebaliknya. Maka dari itu manfaatkan hidup kita di dunia untuk lebih beribadah kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  7. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Kematian adalah suatu hal yang mutlak, setiap yang bernyawa pasti akan mati. Kematian merupakan proses kembalinya manusia kepada sang Pencipta, kematian tidak dapat ditawar, apabila waktunya sudah tiba maka tiadalah manusia yang mampu untuk menghindarinya. Maka selama kita masih belum diperhadapkan dengan kematian gunakanlah waktu yang ada untuk memperbanyak berdoa dan beribadah kepada Tuhan YME dengan melakukan perintahNya dan menjauhi laranganNya niscaya kita akan mendapat tempat yang terbaik di dalam hidup setelah kematian kelak

    ReplyDelete
  8. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Kematian adalah takdir yang telah ditetapkan Allah untuk setiap makhluknya. Siap atau tidak, ia tetap datang menghampiri. Kita harus bersiap diri untuk menghadapinya. Karena sesungguhnya kita hidup untuk mati dan mati untuk hidup.

    ReplyDelete
  9. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Elegi di atas mengingatkan kita bahwa semua yang hidup pasti akan mati. Hidup ini hanyalah sementara. Jangan sampai selama hidup kita terlena dengan kehidupan dunia, lupa dengan sebener-benar tempat kita kekal yaitu kehidupan akhirat. Orang yang tidak merugi di kehidupan dunianya adalah orang yang memanfaatkan sebaik-baiknya ruang dan waktu yang dimiliki. Menghabiskna hidup taat kepada Allah SWT, sehingga memiliki ketenangan hati, siap jika kelak dipanggil oleh Sang Pemilik.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  10. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Bahwa Kematian adalah sesuatu yang pasti. Tidak ada yag dapat mencegahnya. Tidak akan ada tempat persembunyian untuk lari dari kematian. Kita sebagai makhluknya hanya bisa menunggu dan menghadapi kematian. Dan bahwa kematian didunia hanyalah awal dari kehidupan yang baru. Aku sendiri meyakini bahwa setelah kematianku aku akan dibangkitkan kembali sesuai dengan kehendak-Nya. Sehingga kematian adalah jembatan menuju kehidupan yang baru. Maka untuk melewati jembata itu, kita perlu mempersiapkan diri sebaik mungkin, karena kita tidak akan pernah menyangka-nyangka kapan dalam perjalanan hidup kita yang pertama ini akan berjumpa dengan jembatan kematian yang mau tidak mau, enggan tidak enggan, akan kita lalui.

    ReplyDelete
  11. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Hal yang jadi renungan kita bersama adalah sesungguhnya di hidup yang kita jalan isekarang ini banyak dijumpai orang-orang mati sebelum mati atau lebih ekstreamnya arwah-arwah hidup yang bergentayangan dimana orang-orang ini dicirikan dengan sikap kerakuasan, nafsu, kesombongan, keinginan yang tiada batas didalam dirinya. Dan ke empat dari sifat tersebut mungkin ada dalam diri kita termasuk diriku yang tidak kita sadari. Astagfirulloha`adzim semoga kita tergolong hamba-Nya yang diridhoi-Nya. Amin

    ReplyDelete
  12. RatihKartika
    16701251005
    PPS PEP B 2016



    Assalamualaikumwarahmatulahiwabarrakatuh
    Urip mung mampir ngombe. Maka dari istilah tersebut kita belajar bahwa hidup itu sementara. Hidup itu hanya lading bagi kita untuk mencari sebanyak banyak dan sebaik baiknya bekal. Sebaik baik manusia adalah yang menaati perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Semoga kia termasuk di dalamnya AAmiin.



    Terimakasih.
    Wassalamualaikumwarahmatulahiwabarakatuh

    ReplyDelete
  13. Areani Eka Putri
    12301249003
    Pend. Matematika Sub'12

    Kematian adalah suatu hal yang mutlak terjadi. Semua yang hidup saat ini pastinya kelak akan menghadapi yang namanya kematian. Hanya saja kenikmatan yang ada di dunia ini seringnya membuat siapaun terlena, terlebih bagi orang-orang yang tidak mengetahui hakikat kehidupan. Bahwasanya kehidupan ini adalah dalam rangka mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian dan kehidupan yang hakiki yaitu kehidupan setelah kematian. Orang yang cerdas adalah orang yang bersungguh-sungguh mempersiapkan kehidupan setelah kematian.

    ReplyDelete
  14. Budi Yanto
    16709251024
    P. Mat S2 Kelas B 2016
    Kematian adalah sesuatu yang pasti. Ibarat tamu yang datang tanpa permisi lalu masuk ke dalam rumah tanpa basa-basi. Dalam percakapan dengan muridnya Imam Al Ghazali mengatakan bahwa "Yang paling dekat adalah kematian. Yang paling jauh adalah masa lalu. Yang paling besar adalah hawa nafsu. Yang paling berat adalah memegang amanah. Yang paling ringan adalah meninggalkan sholat. Dan yang paling tajam adalah lisan manusia. Manusia pasti mengalami mati, tidak tahu kapan apakah beberapa detik atau menit kemudian tidak ada yang tahu. Bahkan vonis dokter tentang umur seseorang yang sakit kronis tidak bisa menjamin berapa lama lagi umur seseorang tersebut. Dalam surat Luqman ayat 34: “Dan tiada seorang jiwa pun yang mengetahui di belahan bumi manakah ia akan mati”.

    ReplyDelete
  15. Fitri Ayu Ningtiyas
    16709251037
    S2 P.Mat B UNY 2016

    Kematian akan mendatangi siapapun, kapanpun dan dimanapun tanpa diduga-dug karena syarat mati tidak harus tua. Setiap orang telah memiliki janji kematiannya sendiri dengan Allah. Ini hanya perihal kesiapan dan tanggung jwab terhadap apa yang dilakukan semasa hidup di dunia. Karena bagi orang yang ikhlas, kematian akan menjadi jembatan untuk menyeberang dari keburukan dan kesengsaraan menuju kenikmatan abadi. Sedangkan bagi orang yang belum ikhlas, kematian adalah perpindahan dari istana ke penjara dan azab. Dan bagi orang yang belum ikhlas lagi, dunia adalah surganya, sedangkan kematian adalah nerakanya.

    ReplyDelete
  16. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Setiap yang hidup pasti akan mati. Meskipun begitu, kematian merupakan rahasia Allah SWT. Kita sebagai makhluknya hendaknya selalu mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian karena kematian bisa datang kapan saja dan pada siapa saja, tidak memandang usia, sehat atau sakit, dan lain sebagainya. Sebagaimana yang diungkapkan dalam elegi ini, kematian merupakan jembatan untuk menyeberang dari keburukan dan kesengsaraan ke surga yang merupakan kenikmatan abadi. Sebaliknya, bagi orang-orang yang belum ikhlas, kematian merupakan perpindahan dari istana menuju azab. Ikhlas ini dalam artian yang luas, diantaranya dengan membunuh kerakusan, hawa nafsu, kesombongan dan keinginan. Ikhlas juga dilakukan dengan senantiasa meningkatkan kualitas ibadah, memohon ampun, selalu mengingat Allah SWT dan berjuang di jalan-Nya pada setiap urusan di dunia ini.

    ReplyDelete
  17. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    Semua yang hidup saat ini pastinya kelak akan menghadapi yang namanya kematian. Kematian adalah takdir yang telah ditetapkan Allah kepada setiap manusia,siap atau tidak ia tetap datang menghampiri. Maka dalam hidup ini, Berikhtiarlah seolah-seolah kamu akan hidup selamanya dan beribadahlah seolah-olah kamu akan mati. Bahwasanya kehidupan ini adalah dalam rangka mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian dan kehidupan yang hakiki yaitu kehidupan setelah kematian. Mari kita terus persiapkan diri untuk menghadapi kematian, yang tidak siapapun yang mengetahui kapan datangnya,kecuali Allah.

    ReplyDelete
  18. Achmad Rasyidinnur
    16701251032
    PEP S2 B

    Keinginan untuk mati tidak mudah diniatkan apalagi dipraktikkan. Kehidupan begitu sangat dinikmati bagi yang sudah merasakan nikmatnya hidup di dunia. Namun, jika keyakinan akan kebenaran hidup setelah mati diyakini, maka dia akan melakukannya. Sebenarnya keinginan mati belum terasa indah dipikiran dan hatinya.

    “Beribadah” merupakan ritual yang memerlukan pengorbanan waktu dan tenaga. Alangkah besarnya waktu dan tenaga itu apabila dipakai satu hari untuk bekerja, berapa rupiah akan mereka dapatkan. Bagaimana jika sebulan, dan bagaimana jika setahun, dan berpuluh-puluh tahun. Sangat berat berkorban jika tidak diikuti keikhlasan, karena aikhlaslah yang mampu mengorbankan yang namanya waktu, tenaga, bahkan harta.

    ReplyDelete
  19. Achmad Rasyidinnur
    16701251032
    PEP S2 B

    Kematian merupakan tingkat pengorbanan tertinggi dalam imanen. Bahwa pengeorbanan diri atau mati merupakan tindakan ekstrim. Dan pengorbanan ini hanya bisa dan diyakini bagi seseorang yang sudah sangat.. sangat.. sangat... dekat denga kekasihnya, yaitu tuhannya. Itulah hebatnya jika manusia mampu mengenal dirinya dan memahami tuhannya. Apabila seseorang mengenal dirinya, maka dia akan mengenal tuhannya. Apabila dia sudah mengenal tuhannya maka apapun juga akan dia korbankan sebagai bentuk kecintaannya. Apabila sudah cinta maka tidak ada yang dilihatnya, tidak ada yang didengarnya, dan tidak ada yang dipikirkannya melainkan hanya satu-saatunya yaitu kekasihnya, Tuhan yang maha esa.

    ReplyDelete
  20. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Semua orang pasti ingin hidup seratus tahun lagi. Padahal dunia dan seisinya hanyalah 1% dari nikmat yang Allah janjikan kepada manusia. Sedangkan 99% nya Allah menjanjikan kebahagiaan akhirat. Tidak perlulah manusia risau hanya perlu mengikuti tatanan yang ada.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  21. Aprisal
    16709251019
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Assalamu alaikum

    Pada hakekatnya kehidupan di dunia ini adalah sifatnya fana atau tidak kekal. Kehidupan di dunia merupakan awal dari perjalanan panjang kita menuju kehidupan yang abadi yang kehidupan di akhirat kelak. Dalam melakukan perjalanan panjang tentunya kita membutuhkan bekal yang cukup agar kita sampai tanpa permasalahan di tempat tujuan, maka dunia inilah tempat manusia mengumpulkan bekal yang secukup-cukupnya yaitu bekal berupa amal-amalan sholeh. Untuk menuju kehidupan di akhirat maka kita akan melalui yang namanya kematian. Kematian merupakan jembatan antara dunia dan akhirat. Kematian pasti akan di alami oleh setiap manusia, sebagaimana dalam Al Qur an telah dijelaskan bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mengalami yang namanya kematian. Maka dari itu sebelum kita menghadapi yang namanya kematian, kita persiapkan bekal yang akan dibawa ke akhirat, dan sebaik-baik bekal yaitu amalan soleh.

    Waalaikum salam wr.wb

    ReplyDelete
  22. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    “Cukuplah jadikan kematian sebagai pengingatmu”. Mati adalah sesuatu yang pasti terjadi pada setiap yang hidup. Manusia yang enggan pulang adalah mereka yang berlomba-lomba untuk memenuhi kehidupan dunianya saja tetapi melupakan bekal untuk kehidupan setelah kematianya. Padahal sebenar-benar kehidupan kekal adalah kehidupan setelah kematian.

    ReplyDelete
  23. Moh. Bayu Susilo
    16709251012
    S2/P. Matematika/A/2016

    Kematian bisa dipandang sebagai awal dari kehidupan. Kehidupan adalah pilihan dan kematian adalah sebuah kepastian. dan sebenar-benarnya pelajaran adalah kematian. "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Al-Imran:185)

    ReplyDelete
  24. RAHMANITA SYAHDAN
    16709251013
    PPs Pmat A 2016

    Bismillahirrahmanirrahim
    saya ingin berkomentar dengan ungkapan “Matilah Kamu Sebelum Kamu Mati”.
    Ungkapan ini mengandung dua makna. Makna pertama ialah, matilah kamu dari alam nafsu dan kekufuran sebelum ajal menjemputmu. Adapun makna kedua ialah jalan cinta adalah jalan musibah dan kesulitan. Pertama-tama, manusia harus membersihkan batinnya, supaya cahaya Ilahiah muncul dalam dirinya. Dan itu tidak akan tercapai kecuali dengan melewati berbagai musibah dan kesulitan yang telah ditetapkan atas manusia. Jika kita meninggalkan dunia dalam keadaan telah membunuh Tuhan-tuhan lain yang ada dalam diri kita, maka sungguh kita bahagia. Namun, jika kita diam dan tidak melangkah di dunia ini, dengan paksa kita tetap akan dikeluarkan dari dunia ini. Jika seorang anak pergi ke kamar mandi dengan sukarela, maka dia tidak menghadapi banyak kesulitan. Tetapi, jika dia tidak mau pergi ke kamar mandi, tidak mau mandi dan membersihkan dirinya, maka kupingnya akan dijewer, dan dipaksa pergi ke kamar mandi. Begitu juga arti dari ungkapan ‘Matilah kamu sebelum kamu mati.’ Jika engkau melepaskan kendali dunia dengan sukarela, dan memang itu yang diminta, maka sungguh engkau berbahagia. Namun, jika tidak, maka engkau akan dikeluarkan dari dunia dengan mendapat berbagai musibah dan kesulitan.”

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id