Oct 14, 2011

Elegi Bendungan Komte dan Sungai Positive




Oleh : Marsigit

Sungai transenden:
Aku adalah sungai transenden. Aku mengalirkan air. Air sungaiku bisa mengalir kemana-mana, bisa melewati siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Tetapi engkau mungkin tak percaya bahwa aku juga bisa mengalirkan air ke bawah maupun mengalirkan air ke atas. Tetapi selebar-lebar sungaiku adalah pikiran kritismu. Maka sebenar-benar sumber air sungaiku adalah pada tempat yang paling dalam di pikiranmu. Sumber air sungaiku tidaklah tunggal. Sumber air sungaiku bisa diam bisa juga bergerak. Tetapi engkau mungkin tak percaya bahwa sumber air sungaiku bisa mengeluarkan air sekaligus memasukkan air. Itulah aku sungai transenden. Tetapi engkau mungkin juga tak percaya bahwa sumber airku dapat pula menjadi muaraku. Maka sebenar-benar diriku adalah muaraku sekaligus sumber air sungaiku.

Mencari ikan di sungai transenden

Pencari ikan:

Wahai sungai transenden, dimanakah aku bisa mencari ikan di sini?

Sungai transenden:
Disetiap tempat di sini terdapat ikan. Terserahlah apa yang engkau kehendaki. Ikan besar. Ikan kecil. Semuanya ada di sini.

Pencari ikan:
Lalu bagaimanakah aku bisa menangkap ikan-ikan itu?

Sungai transenden:
Gunakanlah akal dan pikiranmu?

Pencari ikan:
Janganlah engkau memperolok-olok diriku. Bukankah engkau tahu bahwa aku sudah menggunakan akal dan pikiranku.

Sungai transenden:
Sebenar-benar ikan adalah pikiranmu itu. Maka jika engkau tidak mampu menangkap ikan maka bukankah itu pertanda engkau belum menggunakan pikiranmu? Untuk itu cobalah engkau cari umpan agar engkau mampu menangkap ikan-ikan itu.

Pencari ikan:
Saya tidak mempunyai umpan. Kalau begitu apakah umpan-umpan dari ikan yang ada dalam sungai transenden itu?

Sungai transenden:
Umpannya adalah hati nuranimu. Jikalau engkau mengaku tidak mempunyai umpan bukankah itu pertanda engkau belum menggunakan hati nuranimu.

Pencari ikan marah kepada sungai transenden dan melaporkannya kepada komte

Pencari ikan:

Wahai sungai transenden, keterlaluan amat engkau itu. Aku bertanya sederhana, maka jawabanmu berbelit-belit. Aku bertanya pendek, maka jawabanmu panjang. Aku bertanya jujur maka jawabanmu telah menghinaku. Engkau bahkan telah menuduhku tidak menggunakan pikiran. Yang lebih menyakitkan engkau telah menuduhku tidak menggunakan hati nuraniku. Maka tunggulah balasanku. Aku akan melaporkan kesombonganmu itu kepada tuanku komte.

Pencari ikan:
Wahai tuanku komte, perkenankanlah diriku mengadukan kepadamu tentang kesombongan sungai transenden. Sungai transenden telah berlaku sangat sombong dan telah menghinaku.

Komte:
Wahai pencari ikan, sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa aku telah mengetahui semua yang engkau alami. Aku bahkan mendengar dan mengerti setiap dialog antara engkau dan sungai transenden. Ketahuilah sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa aku mengalami hal yang serupa dengan dirimu, lebih dari yang engkau alami. Maka ketahuilah bahwa aku sedang menyusun rencanaku dan kekuatanku untuk membuat bendungan. Oleh karena itu maka panggilah semua teman dan saudaramu untuk membantu aku membuat bendungan yang aku beri nama bendungan komte.

Komte bertitah:

Wahai para transenden, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai kualitas, saatnya sudah engkau berhent. Wahai relatif, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai para mimpi, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai nurani, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai a priori, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai intuisi, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai ideal, saatnya sudah engkau berhenti. ahai absolut, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai subyektif, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai abstrak, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai empati, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai ruang dan waktu, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai pertanyaan-pertanyaan, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai orang tua berambut putih, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai geisteswishenshaften, saatnya sudah engkau berhenti. Dengan bendunganku ini, maka engkau semua telah aku tangkap. Engkau semua itulah sebenar-benar ikan sungai transenden. Wahai pencari ikan, itulah sebenar-benar kebodohanmu, sehingga engkau tidak dapat mengenali ikan-ikannya sungai transenden. Itu disebabkan karena engkau hanya berlayar di atasnya saja, sedangkan engkau malas untuk menyelamnya. Maka ditipu dan dihina itulah perolehanmu.

Komte membuat sungai positive

Komte:

Wahai masa depanku, aku telah sediakan sungai yang lebih besar ketimbang sungai transenden. Lupakan saja sungai transenden itu. Inilah sebenar-benar sungai. Aku telah menciptakan sungai positive buatmu. Sungai positive inilah sebagai hasil karyaku dengan bendunganku ini, yaitu bendungan komte. Maka sebenar-benar sungai adalah sungai positive. Maka tumbuh dan berkembanglah benih-benih kedalam sungaiku ini.

Komte menabur benih:
Wahai benih objektif, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih kepastian, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih ilmiah, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih prosedur, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih logico, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih hipotetiko, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih induksi, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih manipulasi, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih kuantitative, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih simplifikasi, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih konkrit, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih eksperimen, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih formula, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih statistik, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih standard, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih terukur, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih reliabilitas, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih industri, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih keniscayaan, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih random, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih representasi, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih lambang, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih wadah, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih rekayasa, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih model, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih cuplikan, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih remote, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih mesin, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. . Wahai benih kapital, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih material, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih praktis, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih otomatis, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih teknologi, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih rumah kaca, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih monokultur, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai naturweistesshaften, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang.

Di muara sungai komte, tumpukan sampah menggunung dan banyak ikan-ikan mati

Sampah1:

Wahai sampah2 temanku, mengapa engkau tertidur di situ tak berdaya. Engkau terlihat mati tak mau, hiduppun enggan.

Sampah2:

Wahai sampah1 temanku, ketahuilah bahwa sebenar-benar diriku bukanlah ikan dari sungai positive. Jika aku dipaksa hidup di sungai positive ini maka tunggu waktu sajalah kematianku. Kalau boleh aku pun ingin bertanya, wahai sampah1 temanku. Kenapa pula, engkau tertidur di situ tak berdaya. Engkau terlihat mati tak mau, hiduppun enggan.

Sampah1:
Wahai sampah1 temanku, ketahuilah bahwa sebenar-benar diriku bukanlah ikan dari sungai positive. Jika aku dipaksa hidup di sungai positive ini maka tunggu waktu sajalah kematianku. Kalau boleh aku pun ingin bertanya, wahai sampah1 temanku. Kenapa pula, engkau tertidur di situ tak berdaya. Engkau terlihat mati tak mau, hiduppun enggan. Kalau boleh marilah kita bertanya, kepada ikan-ikan itu. Wahai ikan-ikan, kenapa pula, engkau tertidur di situ tak berdaya. Engkau terlihat mati tak mau, hiduppun enggan.

Ikan-ikan:

Wahai sampah1 dan sampah2 temanku, ketahuilah bahwa sebenar-benar diriku bukanlah ikan dari sungai positive. Jika aku dipaksa hidup di sungai positive ini maka tunggu waktu sajalah kematianku. Kalau boleh aku pun ingin bertanya, wahai sampah-sampah sungai positive temanku. Bagaimana pula kita bisa tetap hidup di sini. Itu ada orang tua lewat. Mari kita tanyakan kepadanya, bagaimana kita tetap hidup. Wahai orang tua, bukankah engkau termasuk yang sudah ditangkap oleh komte. Padahal aku tahu bahwa komte telah membuat bendungan besar. Tetapi kenapa engkau bisa sampai di sungai positive ini?

Orang tua berambut putih:

Itulah sebenar-benar diriku. Aku adalah pertanyaan bagi semuanya. Sehebat-hebat bendungan komte, tidak akan bisa mencegah diriku hadir dalam pertanyaanmu. Maka begitu engkau bertanya tentang masa depan hidupmu, maka aku hadirlah di hadapanmu. Sebenar-benar diriku adalah pertanyaan mereka. Sebenar-benar diriku adalah ilmu mereka, yaitu bagi semua ikan-ikan baik ikan-ikannya sungai transenden maupun ikan-ikannya sungai positive.

Sampah-sampah dan ikan-ikan bersama-sama bertanya:
Wahai orang tua berambut putih, jawablah pertanyaanku ini, bagaimana agar aku bisa tetap hidup.

Orang tua berambut putih:
Sebenar-benar dirimu adalah sama semua bagi yang lain penghuni sungai positive ini. Mereka semua juga terancan kematian sepertimu. Jika mereka tampak gagah perkasa, itu hanyalah bersifat sementara dan manipulatif. Namun sebenar-benar mereka sebetulnya sedang menuju kematiannya. Maka agar engkau tetap hidup, serta-merta menujulah ke rembesan air sungai transenden. Mengapa? Karena pada rembesan air sungai transenden itulah engkau akan berjumpa teman-temanmu.

Sampah dan ikan:
Siapakah sebenar-benar teman diriku yang akan membuatku tetap hidup.

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar temanmu, yaitu hati nuranimu. Temuilah kualitas, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah relatif, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah mimpi, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah nurani, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah ka priori, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah intuisi, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah ideal, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah absolut, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah subyektif, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah abstrak, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah empati, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah ruang dan waktu, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah pertanyaan, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah geisteswishenshaften, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah spiritual, karena itu bagian dari hidupmu.

Sungai positive semakin besar beserta cabang-cabangnya, bagaimana nasib sampah dan ikan-ikan itu?
Ruang dan waktu akan menjawabnya pada Elegi berikutnya.

74 comments:

  1. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Sebenar – benarnya teman di hidup ini adalah hati nurani sendiri. Karena hati nurani mengetahui kapan kita melakukan hal baik dan buruk. Dan semua itu tergantung dari ini dalam mengambil keputusan apakah mengikuti hati nurani apa tidak. Oleh karena itu jangan sampai hati nurani ternoda hingga tidak peka akan perbuatan buruk, maka akan menjadi buruklah diri ini.

    ReplyDelete
  2. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    untuk mememcahkan persoalan maka dibutuhkan pemikiran yang jernih. Dan semua persoalan itu pada hakikatnya ada dalam pikiran kita, masalah yang besar dan kecil itu juga ada dalam pemikiran kita, jadi untuk mengatasi apakah masalah itu besar atau kecil tergantung dari cara kita memecahkan dan memikirkan masalah. Dan hati adalah pusat dari segalanya, dengan hati yang jernih maka persoalan apapun yang ada di dunia ini akan terselesaikan, karena di dalam hati yang jernih terdapat pemikiran yang bijaksana.

    ReplyDelete
  3. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Segala sesuatu di dunia itu sudah diciptakan oleh Allah Swt. secara berpasang-pasangan sehingga ketika kita hanya memperhatikan yang satu dan mengabaikan yang lain maka akan terjadi ketimpangan. Akan ada hal-hal yang tidak sesuai, dan ketika dipaksa untuk menyesuaikan maka hal tersebut akan mati. Karenanya, segala sesuatu itu harus seimbang, dan tidak boleh berat sebelah. Seperti ketika kita memperhatika dunia, maka kita harus memperhatika kahirat kita. ketika kita menggunakan pikiran, maka kita harus menggunakan hati nurani kita. segala hal yang seimbang itu akan terasa indah. Tetapi kita hanyalah makhluh sempurna yang berada salam ketidaksempurnaan, sehingga tetap ada beberapa hal yang lebih condong. Yang perlu kita lakukan yaitu jangan terlalu berlebihan ketika condong kepada sesuatu, karena segala hal yang berlebihan itu sejatinya memang tidak baik.

    ReplyDelete
  4. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Pada dasarnya manusia itu fitrah atau terlahir dalam keadaan suci. Dan dengan dianugrahkannnya akal dan nafsu oleh Allah untuk memimpin bumi ini kebanyakan yang menyalahgunakan. Dimana terjadinya kerusakan di laut dan darat karena ulah manusia yang mendominasi nafsunya. Selain itu, akal budi menuntun pembentukan pengetahuan secara sistematis dengan mengatur pencarian kita atas kondisi-kondisi absolut dari semua kondisi kontingen yang akan mendukung seluruh pengetahuan. Inilah akal budi ideal pada tataran teoritis. Ketika pencarian ini mendorong dirinya untuk membuat penegasan yang menyangkut realitas supersensibel pada wilayah metafisika kuno, akal budi tersebut disebut akal budi spekulatif. Kant mengatakan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini, termasuk manusia berperilaku menurut hukum - hukum tertentu. Tetapi, hanya makhluk rasional lah yang dapat berperilaku sesuai dengan konsepsi hukum-hukum tersebut.

    ReplyDelete
  5. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Bagian hidup ada bermacam – macam, seperti yang dijelaskan dalam elegi diatas bahwa ada kualitas, relatif, intuisi, subjektif, absolut, abstrak, spiritual, dan yang lainnya. Tetapi dari semua itu sumber dari hidup menurut saya sebenarnya terletak dari dalam hati nurani. Hati nurani akan mengarahkan manusia pada pilihan yang baik dalam hidup, namun pilihan keputusan itu semuanya kembali kepada manusia itu sendiri apakah mau mengikuti hati nurani atau tidak. Kesulitan – kesulitan yang dialami dalam hidup akan memberikan pelajaran berharga untuk mengambil keputusan selanjutnya, maka gunakan hati nurani dan melibatkannya dalam mengambil keputusan dalam hidup.

    ReplyDelete
  6. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Dari elegi ini terlihat bagaimana usaha pencari ikan yang tidak ingin mencari ikan dengan baik tetapi merasa bahwa dia dibodohi dan tidak ingin mendengar kata-kata sungai transenden tapi malah akhirnya membantu berdirinya bendungan komte dan sungai positivism. Karena dia tidak mau menyelam tetapi hanya ingin berlayar diatasnya saja dia tidak mendapat yang baik tetapi dia ditipu dan dihina. Bagaimana degan kita? Apakah kita hanya ingin mencari sedikit ilmu saja? Kita ibaratnya sedang meraba sesuatu tanpa mengecap sesuatu yang baik. Jika kita seperti pencari ikan, niscaya kita hanya akan ditipu dan dihina.

    ReplyDelete
  7. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Terkadang kita tergiur dengan hal yang lebih baik dan lebih besar tanpa memperhatikan dan mengkritisi semua yang ada. sesuatu yang baik mungkin hanya baik di luarnya. Bisa jadi kita malah dijebak dan hasilnya malah lebih buruk lagi. apalagi jika kita akhirnya kehilangan hati nurani kita. Maka kita hanya akan seperti ikan-ikan di bendungan yang hidup segan mati pun tak mau karena tidak berasal dari tempat itu.

    ReplyDelete
  8. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    “Itulah sebenar-benar temanmu, yaitu hati nuranimu. Temuilah kualitas, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah relatif, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah mimpi, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah nurani, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah ka priori, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah intuisi, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah ideal, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah absolut, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah subyektif, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah abstrak, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah empati, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah ruang dan waktu, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah pertanyaan, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah geisteswishenshaften, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah spiritual, karena itu bagian dari hidupmu.” Dari sini terlhat bahwa kita tidak dapat hidup jika hanya melihat dari satu sisi saja. Hidup harus seimbang, karena itu tetapkanlah hatimu sebagai pemimpin bagi pikiranmu.

    ReplyDelete
  9. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari elegi ini, janganlah dalam berpikir kritis hanya terpaku terhadap msatu pandangan saja. Namun tetap harus berpikir kritis dari berbagai pendangan, dari atas, bawah, depan, belakang, samping kiri, seorng kiri, serong kanan, kanan, dan seterusnya. Isi pikiran kritismu dengan berbagai sudut pandang, karena jika tidak maka sebenar-benarnya dirimu hanyalah mitos. Sehingga untuk mengatasi itu, terus buka lah pikiran dan hati untuk selalu menjelajah seluruh bagiannya.

    ReplyDelete
  10. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Dalam hidup jangan terlalu mementingkan diri sendiri. kita juga butuh orang lain, dan sebenar benarnya teman adalah hati nurani. Gunakanlah hati nurani dalam menjalani kehidupan ini karena hati nurani selalu berkata jujur dan yang terbaik bagi kita. jangan hanya mementingkan ego dan belajar untuk menghargai diri sendiri.

    ReplyDelete
  11. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Yang saya tangkap pada elegi diatas bahwa manusia memili pemikiran yang harus seimbang dengan hati nurani. Apabila hati dan fikiran tidak seimbang dan selaras maka bisa saja kita sulit menggapai tujuan yang yang kita miliki. Sebaiknya kita bisa memahami diri sendiri terlebih dahulu.

    ReplyDelete
  12. Elli Susilawati
    16709251073

    Ketika objektif, kepastian, ilmiah, prosedur, logico, hipotetiko, induksi, manipulasi, kuantitative, simplifikasi, konkrit, eksperimen, formula, statistik, standard, terukur, reliabilitas, industri, keniscayaan, random, representasi, lambang, wadah, rekayasa, model, cuplikan, remote, mesin, kapital, material, praktis, otomatis, teknologi, rumah kaca, monokultur, dan naturweistesshaften dibiarkan jalan sendiri-sendiri tanpa diringi dengan hati nurani maka hal-hal yang telah disebutkan di atas tidak lain hanyalah sebuah sampah. Tidak bermanfaat sama sekali bahkan dapat merusak ekosistem yang ada di dalamnya.

    ReplyDelete
  13. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Sungai transenden menggambarkan pemikiran seseorang yang diperoleh dari pemikiran kritis yang dapat mengubah yang tidak mungkin menjadi mungkin berdasarkan pengetahuan yang diperolehnya. Pengetahuan diperoleh dari berbagai sumber yang ada, tidak hanya satu melainkan banyak agar pemikiran yang kita punyai semakin kritis. Sedangkan komte menunjukkan kekuasaan yang tidak digunakan dengan semestinya, penguasa yang hanya mementingkan ego belaka tanpa memikirkan resiko apa yang terjadi. Sungai yang dibangun transeden bermuara kemana-mana dan semua mahluk hidup dapat hidup di dalamnya sedangkan dimuara sungai komtebanyak tumpukan sampah dan banyak ikan mati di dalamnya.

    ReplyDelete
  14. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Dengan membaca postingan ini saya menyadari bahwa hidup senantiasa membutuhkan keseimbangan. Ada kualitatif tentu ada kuantitatif. Tidak ada yang benar-benar mutlak dan tunggal. Pada elegi "bendungan comte" ini saya melihat bahwa konsep "bendungan komte" berupaya memberikan doktrin bahwa hidup tidak perlu hati nurani, tidk perlu relatif, dan seterusnya sesuai dengan statement postingan di atas yang saya kutip dan saya letakkan di bawah ini.
    "Itulah sebenar-benar temanmu, yaitu hati nuranimu. Temuilah kualitas, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah relatif, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah mimpi, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah nurani, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah ka priori, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah intuisi, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah ideal, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah absolut, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah subyektif, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah abstrak, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah empati, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah ruang dan waktu, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah pertanyaan, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah geisteswishenshaften, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah spiritual, karena itu bagian dari hidupmu"

    ReplyDelete
  15. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Berdasarkan “Elegi Bendungan Komte dan Sungai Positive” bahwa dalam menjalani kehidupan di dunia ini kita perlu hati nurani, dimana hati nurani akan menemani kita dalam mengambil sebuah tindakan dan keputusan. Perbanyak doa supaya hati nurani kita tidak terpengaruh dengan godaan setan.
    Jika seseorang mengkritik, memberi saran kepada kita ataupun menasehati kita, ambil hal yang positif mungkin mereka ingin kita menjadi yang lebih baik, kita harus berpikir positif.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  16. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Bagian terpenting dalam hidup adalah menyadari bahwa diri ini adalah sama dihadapan Allah SWT. Semua penghuni kehidupan ini berpeluang sama dalam kematian, yaitu pasti menghadapi dan menemuinya. Semuanya hanya bersifat sementara, dan hanya Allah SWT lah kekal adanya. Seperti ulasan dalam elegi di atas, bahwa “maka agar engkau tetap hidup, serta merta menuju lah ke rembesan air sungai transenden”. Sungai transenden dianalogikan sebagai tempat dimana kita dapat menemui apapun di dalamnya. Tempat dimana kita bisa menemukan tema-teman kita yang membuat kita terus hidup. Dan maksud dari teman tersebut adalah hati nurani dari diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  17. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    PPs. PM A 2017

    Kullu nafsin dzaiqotul maut. Setiap jiwa akn menemui kematian. Tidak memandang yang kuat, tampan, cantik, kaya, miskin, semuanya makhluk hidup pasti mati. Termasuk manusia. Manusia sebagai makhluk yang paing sempurna hendaknya berbuat baik di dunia sebagai bekal di akhirat.
    Selain itu, manusia perlu untuk selalu mengingat kematian. Kita sendiri tidak tau kapan kita mati, yang tau hanyalah Allah semata. Kita hendaknya selalu berbuat baik kapan pundan dimana pun kita berada agar sewaktu-waktu kita diambil nyawa oleh malaikat, kita dalam keadaan khusnul khotimah. Aamiin.

    ReplyDelete
  18. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Elegi bendungan komte dan sungai positif ini mengungkapkan tentang struktur kehidupan yang diciptakan oleh Auguste Compte. Struktur tersebut meletakkan agama pada struktur yang paling bawah, kemudian yang di atasnya adalah filsafat, dan yang paling atas ialah positif atau saintifik. Dengan kata lain, struktur ini telah mengutamakan kehidupan yang ilmiah, real dan nyata dengan mengabaikan spiritualitas. Struktur mempengaruhi dan mengancam struktur kehidupan yang lain, seperti halnya struktur kehidupan kita yang seharusnya meletakkan kehidupan spiritual sebagai struktur yang paling tinggi hingga kita tidak berdaya untuk bisa menghindarinya. Padahal ancaman tersebut semakin berkembang dan meluas. Oleh karena itu, agar selamat dapat menjalani kehidupan ini, kita harus senantiasa menggunakan akal pikiran dan hati nurani. Senantiasa memohon pertolongan Allah SWT.

    ReplyDelete
  19. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Pada postingan ini, merupakan bentuk keseimbangan dan kesinambungan antara pikiran, dan hati. Untuk menciptakan keputusan yang baik, maka diperlukan pemikiran yang baik pula, pikiran yang baik itu juga dilandasi dengan hati yang baik. Jika terlalu banyak pikiran kotor, maka kadang akan menghasilkan keputusan yang kurang tepat. Sehingga dalam mengambil keputusan baiknya dilandasi dengan pikiran yang positif, dan hatinya pun juga bersih, selain itu juga sesuai dengan ruang dan waktunya. Sehingga sebenarnya kita dapat menciptakan sendiri keputusan yang baik itu.

    ReplyDelete
  20. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Allah menganugerahkan kita akal, pikiran, dan hati nurani agar kita bisa menggunakannya untuk berpikir, bertindak, dan bersikap. Apabila kita belum mencapai apa yang kita inginkan, mungkin kita belum menggunakan akal dan pikiran kita. Lalu ketika sudah menggunakan akal pikiran kita, namun masih belum mendapatkan yang diinginkan, bisa jadi karena kite belum menggunakan hati nurani kita. Jika hanya menggunakan akal dan pikiran maka semua akan rusak dan berjalan tidak sebagaimana mestinya. Maka dari itu elegi ini menyampaikan tenatng keseimbangan antara hati dan pikiran. Gunakan hati sebagai pengendali sifat-sifat buruk yang dapat merusak diri kita sendiri. Sebaik-baik makhluk adalah yang dapat mengendalikan tindakan yang berasal dari akal dan pikiran dengan hati nurani.

    ReplyDelete
  21. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Kita setiap hari dan setiap saat punya fenomena komte. Fenomena komte yaitu perilaku manusia yang lebih memilih dunia daripada akhirat. Artinya adalah gaya hidup kekinian yang telah meniru kehidupan bangsa barat. Kapitalisme, hedonisme, utilitarisme, individualisme, dan berbagai isme-isme unsur dari powernow. Powernow adalah mementingkan duniawi dan menomor akhir kan agama, bahkan sama sekali menghilangkan agama. Hal ini bertentangan dengan pancasila yang dimilki oleh bangsa indonesia. Pancasila menomorsatukan agama sedangkan urusan duniawi setelahnya. Hal ini terlihat dari sila pertamanya yang berbunyi “Ketuhanan yang maha Esa”. Oleh karena itu sebagai manusia yang bijak seharusnya kita lebih waspada dan menekan fenomena komte.
    Jangan sampai kita seperti ikan-ikan kecil di dalam elegi tersebut. Ikan-ikan kecil yang secara sadar memakan sampah=sampah dan limbah dari fenomena komte, yaitu kapitalisme dan sebagainya. Ikan yang ekosistemnya berada di paling bawah. Yang selalu dieksploitasi dan dimanfaatkan. Kemudian dengan lugunya mau untuk diberi sampah-sampah hasil industri yang kita sedikit sekali mendapatkan manfaatnya. Jangan sampai seperti ikan kecil yang karena memakan limbah sehingga mati sia-sia. Mati sebagai ikan kecil yang berada di rantai makanan paling bawah. Yang tergiur dengan gaya hidup mewah tetapi tidak sadar telah terjerumus ke dalam lautan yang tercemar.

    ReplyDelete
  22. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Pembeda manusia yang satu dan yang lainnya adalah hatinya. Hati menjadi penetu sumber dan muara aliran yang dituju. Hati akan mengarahkan akal dan pikiran, bukan untuk bergerak mendekati berbagai manipulatif melainkan bergerak untuk mendekati harmoni-harmoni kehidupan. Hati yang bersih, pikiran yang jernih akan lahir dari iman yang kuat. Semoga kita senantiasa selalu memohon petunjuk dari-Nya.

    ReplyDelete
  23. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Pelajaran yang dapat dipetik dari elegi bendungan komte dan sungai positive bahwa untuk menggapai suatu hal harus menggunakan akal, pikiran, dan hati nurani. Selain itu, kita juga harus memahami dan mengenal baik sesuatu yang ingin kita capai tersebut, karena bagaimana akan bisa dicapai jika tidak mengenali seluk beluknya. Untuk itu, kita harus mendalami hal tersebut, tidak boleh setengah-setengah apalagi tidak ingin susah, yang ada malah kita nanti diperalat oleh objek lain yang berniat memanfaatkan kita untuk kepentingan pribadinya.

    ReplyDelete
  24. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Bendungan komte dengan segala propagandanya membuat yang terjebak di dalamnya mengesampingkan spiritual dan hanya mementingkan duniawi saja. Mereka melakukan segala sesuatu hanya menggunakan akal pikiran saja. Padahal, untuk menggapai sungai transenden, tidak cukup hanya menggunaakan akal pikiran saja, melainkan harus menggunakan hati nurani. Dengan hati nurani kita dapat berfikir jernih dan dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Hati nurani inilah yang akan membantu kita terbebas dari belenggu bendungan komte dan menuju nilai-nilai spiritual.
    Terima kasih banyak pak atas ilmunya.

    ReplyDelete
  25. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Membaca ulasan ini begitu mengalirkan semangat dalam jiwa. Alurnya begitu asyik untuk dibaca dan saya begitu menikmati saat membacanya. Ikan-ikan kecil yang ada di sungai ibarat manusia yang sedang mencari kehidupan. Manusia memiliki pilihan dalam hidup. Layaknya ikan yang berada di sungai yang keruh, ia masih bisa mencari aliran sungai yang jernih untuk ditinggali. Begitu halnya manusia yang dibekali dengan potensi begitu luar biasa di dalam dirinya, hendaknya memiliki keberanian untuk menjalani hidup dengan kualitas terbaik. Semua yang ada di dunia masih bersifat relatif. Jadi, setiap pilihan yang akan diambil tentunya disesuaikan dengan ruang dan waktunya. Satu hal yang mungkin menghinggapi pikiran manusia saat berada pada lingkungan yang kurang baik atau lingkungan yang menghambat dirinya untuk tumbuh, yaitu rasa ketakutan dalam dirinya. Ia takut untuk melakukan adaptasi dengan lingkungan yang baru, ia takut untuk melangkahkan kaki, dan takut untuk membuat suatu keputusan. Bertahan agar dapat terus hidup hingga akhir waktu yang telah digariskan oleh Tuhan juga hakikatnya dapat bersifat relatif. Contohnya, saat seseorang merasa senang dan menikmati hidupnya maka secara tidak sadar ia telah melakukan upaya untuk perpanjangan hidupnya sendiri. Perlu sekali untuk keluar dari zona nyaman. Sejatinya kehidupan juga bersifat dinamis. Hidup kita tergantung pada bagaimana diri kita menghayatinya.

    ReplyDelete
  26. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Berdasarkan elegi di atas, bendungan komte diibaratkan seperti halnya fenomena komte yang menganut aliran positivism. Komte menutup mata pada transenden, a priori, absolut, metafisika, dll. Ilmu pengetahuan didapat dari fakta-fakta yang teramati, sehingga positivisme menolak metafisika dan meletakkan agama di urutan paling bawah. Sampai saat ini pun bendungan komte tersebut sungguh masih ada. Maka sungguh sebenar-benar fenomena komte adalah berada pada diri masing-masing. Untuk itu sebenar-benar teman adalah hati nurani, adalah benar adanya. Memfilter apa yang seharusnya dan tidak seharusnya, apa yang baik dan buruk, apa yang benar dan salah, tergantung dari hati nurani masing-masing. Jika jernih hati nuraninya, maka baiklah hasilnya, namun jika keruh hati nuraninya maka buruklah hasilnya.

    ReplyDelete
  27. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Pada elegi ini, dapat dikatakann bahwa pada diri setiap orang punya hati nurani. Baik tidaknya seseorang tergantung dengan hati nuraninya, inilah pembeda diri kita dengan orang lain. Maka, perbaiki diri kita, menuju ridhonya, perbaiki hati agar kita menjadi orang orang yang di cintaiNya.
    Karena, hati nurani inti dari segalanya.

    ReplyDelete
  28. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Setiap manusia diberi kenikatan kelebihan berupa akal pikiran, yang di dalamnya tekandung nurani, untuk bepikir secara jernih, sesuai dengan kemampuan dan hati. Dari elegi di atas kita diharapkan untuk selalu berpikir positive menggunakan akal pikiran beserta nurani.

    ReplyDelete
  29. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Setelah saya membaca, hal yang saya pahami adalah bahwa aliran bendungan komte telah mematikan ikan-ikan di aliran sungai transcenden. Semua itu menggambarkan bahwa pada kehidupan ini positivis telah menyingkirkan hati nurani, relatif, mimpi, intuisi, ideal, absolut, subyektif, abstrak, empati, pertanyaan kemudian menggantinya dengan obyektif, kepastian, ilmiah, prosedur, induksi, manipulasi, konkrit, eksperimen, praktis. Banyak ikan-ikan mati di muara komte bermakna bahwa aspek-aspek dalam transcenden akan dimatikan oleh positivis diantaranya adalah berusaha mematikan hati dan spiritual. Usaha yang hendaknya dilakukan ikan-ikan adalah mencari aliran yang membuat hidup lagi itu bermakna bahwa agar hati dan spiritual tetap hidup maka segera mencari ilmu yang berlandaskan dengan spiritual agar selalu ingat dan menyadari akan kodrat manusia.

    ReplyDelete
  30. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi di atas, menurut saya ikan-ikan dalam elegi ini mungkin dapat dianalogikan dengan manusia zaman sekarang. Kita sejatinya secara naluri telah dilahirkan di sungai transenden atau dalam suasana kehidupan yang seharusnya menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat. Namun, akhir akhir ini muncul bendungan komte atau zaman powernow sekarang ini dengan pahamnya yaitu positivisme. Dimana mementingkan kehidupan dunia dengan cara mencari kebenaran rasional dengan saintifik dan menyampingkan aspek spiritualitas. Sunggu mngenaskan. Sehingga yang perlu kita ambil dari sini yaitu kita haruslah sadar akan perkembangan yang sangat pesat dalam segala aspek tetapi janganlah mengabaikan aspek spiritualitas. Semoga kita senantiasa waspada dan senantiasa diberi petunjuk dalam kebenaran.

    ReplyDelete
  31. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas ulasan yang menarik di atas. Pelajaran yang dapat saya ambil adalah aliran bendungan komte telah mematikan ikan-ikan di aliran sungai transenden. Semua itu menggambarkan bahwa pada kehidupan ini positivis telah menyingkirkan hati nurani, relatif, mimpi, intuisi, ideal, absolut, subyektif, abstrak, dan empati kemudian menggantinya dengan obyektif, kepastian, ilmiah, prosedur, induksi, manipulasi, dan yang tertera pada konsep saintifik. Maka berpikirlah menggunakan akal dan pikiran dengan berlandaskan pada hati dan nurani agar ilmu yang kita dapatkan mendapatkan karunia dan keberkahan dari Sang Empunya Ilmu. Dengan hati nurani pula lah kita dapat berfikir jernih, dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, serta membantu kita terbebas dari belenggu bendungan komte dan menuju kemurnian nilai-nilai spiritual. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  32. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Menarik bagi saya,sehingga saya sempat berhenti membaca elegi ini untuk mencari siapa dan seperti apa sebenarnya tokoh Komte ini. Wah, kagum saya melihat teori-teori yang dihasilkannya. Wah tapi kaget saya mendapati kisah yang cukup tragis. Ia sempat masuk rumah sakit jiwa. Wah, sungguh saya merasa keseimbangan dalam hidup memang dibutuhkan. Melulu berpikir sambil berdoa dan berserah bisa membuat kita gila ternyata.

    ReplyDelete
  33. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Hati manusia memiliki peranan yang sangat besar. Ketika seseorang sudah dan sedang bingung dengan pemikirannya, maka hanyalah hati yang dapat ditanya untuk mennetukan keputusan. Oleh karena itu saat kita dalam memutuskan suatu perkara hendaknya selain menggunakan pikiran juga dapat menggunakan hati untuk menyeimbangkan dan lebih memantapkan bahawa keputusan yang diambil tidaklah keliru. Logika memang bisa dipikirkan oleh akal namun perasaan hanyalah hati yang dapat menentukan.

    ReplyDelete
  34. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Sungai transenden di ibaratkan lingkungan hidup dan ikan-ikan merupakan manusia yang sednag hidup di lingkungan tersebut. Sejatinya trassenden merupakan lingkungan hidup yang nyata didalamnya ada berbagai keuntungan yang dijemput dengan tantangan yang tentunya tidak gampang. Nah, hal ini sama sekali bukan kendala namun hal ini sebagai tantangan untuk meningkatkan potensi diri karena sejatinya kalo kita hidup di lingkungan sendiri tanpa tantangan seperti komte yang membangunkan kolom untuk pengikutnya, jelas saja ikan-ikan mati dan terdapat sampah karena ikan-ikan mati ibarat manusia yang hidup di zona nyaman yang jarang sekali atau malah sama sekali tidak pernah menghadapi tantangan sehingga pemikiran mereka cenderung tidak terasah. Ileh karenanya, sebaik-baik lingkungan adalah lingkungan yang membawa kita ke dalam perubahan menuju arah positif. Terima Kasih

    ReplyDelete
  35. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Kehidupan itu harus balance. Hidup tidak selamanya objektif, tetapi sebagian pula subjektif. Hidup tidak selamanya kepastian, tetapi sebagian pula relatif. Hidup tidak selamanya kuantitatif, tetapi sebagian pula kualitatif. Hidup tidak selamanya prosedural, tetapi sebagian pula intuitif, dan lain-lain. Begitulah hidup yang seharusnya menyeimbangkan antara pikiran dan hati. Mengikuti aliran sungai Compte jika tanpa landasan hati nurani / spiritual bisa saja tersesat bahkan sampai tidak percaya akan Tuhan. Tanpa landasan hati nurani, aliran Compte hanya melihat kenyataan di depannya secara objektif, teknologi, kepastian, tanpa melihat ada sesuatu yang abstrak, kualitatif, bahkan ghaib yang terlibat pula dalam kehidupan ini.

    ReplyDelete
  36. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Saya kok menangkap bahwa sungai positive yang dibuat justru menjadi bahaya bagi para ikan. Mereka justru mati, dan ternyata mereka adalah para ikan dari sungai transenden. Mengapa demikian? Saya penasaran..
    Dari sini saya berefleksi bahwa kita hidup ini jika hanya melihat 'here and there', maka kita akan selalu melihat bahwa tempat lain itu lebih baik dari tempat kita saat ini. Padahal ketika kita pindah, kita sudah tercabut dari tempat kita, dan setelah masuk ke tempat baru, barulah kita sadar bahwa itu bukan tempat kita sebenarnya. Ikan-ikan pada mati. Itu bisa jadi lambang matinya ide, matinya kreatifitas...
    Maka untuk memutuskan sesuatu, perlu hati nurani, pikiran yang jernih, agar apa yang menjadi keputusan itu sungguh sesuai dengan hati nurani.

    ReplyDelete
  37. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    "Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka seluruh tubuh juga baik. Jika segumpal daging itu rusak, maka seluruh tubuh juga rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati". (HR Muslim) Mungkin hadits inilah yang dapat mengungkapkan isi Elegi ini. Hati nurani adalah sebenar-benarnya penuntun jalan hidup kita. Setiap manusia yang terlahir di bumi ini dianugerahi “God Spot” atau titik Tuhan yang mampu mengoreksi apa yang kita lakukan sebenarnya baik atau buruk. Kita akan merasa gelisah jika kita akan melakukan hal yang buruk, tetapi kita akan merasa tentram dan tenang jika kita melakukan hal yang baik. Kita sendiri yang dapat merasannya.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  38. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Assalamu'alaikum wr. wb
    Ketenangan bisa kita dapatkan, jika kita melakukan kebaikan dan percaya akan hal-hal baik di sekitar kita. Seperti yang dilakukan pencari ikan, yang ada dalam benaknya hanya mendapatkan ikan, tetapi tidak berfikir bagaimana cara mendapatkannya, sehingga disitulah letak keputus asa an mudah timbul. Ia hanya marah dan menyalahkan orang lain, dan itu hanya membuat pikiran dan hati nya semakin tertutup. Pelajaran yang bisa di ambil yaitu selalu percaya dan yakin akan segala kondisi yang ada, terhadap apapun ujian yang menimpa, karna Allah menciptakan kesulitan bersama kemudahan.

    ReplyDelete
  39. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini kami memahami bahwa Auguste Comte dalam pemikirannya berusaha untuk mengumpulkan, mensintesiskan dan menyusun suatu pemikiran baru dari pemikiran-pemikiran transendental yang banyak dan beragam yang telah ada pada saat itu. Pemikiran-pemikiran sebelumnya, olehnya sudah dianggap tidak relevan lagi. Pemikiran-pemikiran yang telah lalu tersebut dibendung dan dinamakan sebagai bendungan Comte, dan dia mengalirkan pemikiran-pemikiran barunya dan aliran ini disebut sebagai aliran sungai positivisme Comte. Pemikiran atau idelisme positivisme ini menurutnya adalah yan paling baik dan ideal, padahal Comt sepemahaman kami telah cukup banyak melakukan reduksi terhadap hasil pikiran dari pemikir-pemikir jaman dahulu, dia tidak mengakui agama, moral, seni, dsb sebagai pengetahuan.

    ReplyDelete
  40. Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Komte adalah seorang tokoh yang mencetuskan positivisme, dimana menurutnya bahwa dalam membangun dunia itu tidak membutuhkan agama, karena agama ia pandang tidak realistis. Sungai transenden ibaratkan kehidupan yang belandasakan transenden, yaitu pandangan hidup berdasar fikiran dan hati. Sedangkan bendungan komte adalah pemikiran komte yang telah merubah dunia, yang membendung pandangan hidup berdasar hati dan fikiran. Sedangkan sungai positivisme adalah kehidupan yang berlandaskan positivisme, atau berlandaskan fikiran saja, dimana hati dianggap tidak dibutuhkan lagi. Sehingga ikan-ikan pada sungai positivisme mati, itulah yang terjadi pada saat ini dimana nurani, kebaikan, kebijakan, moral, agama, rasa, sensitifitas, dan semua yang berasal dari hati mulai mati dan hilang. Naudzubillah min dzalik, semoga kita selalu dilindungi dari kehancuran tersebut. Amiin.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  41. Alfiramita hertanti
    NIM 17709251008
    P.Matematika kelas A 2017

    assalamualaikum wr. wb. comte melahirkan positivisme dalam kajian ilmu sosial comte berhasil membangun batas-batas berupa bendungan pengetahuan pada derasnya arus sungai-sungai positive. pada hakikatnya, yang positive itu telah eksis, namun comte membingkainya dengan paradigma agar postive-positive tersebut bisa mengalir dengan tenang sehingga generasi-generasi selanjutnya akan dapat mudah memahami, mengarungi, dan menyelami fenomena-fenomena tersebut.

    ReplyDelete
  42. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Dari elegi diatas kita dapat menyimpulkan bahwa dalam menjalani setiap aktivitas hidup kita, kita harus selalu menggunakan akal sehat, pikiran, dan yang terpenting adalah hati nurani. Tentunya dalam hidup, kita pasti selalu bertemu dengan pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan ini haruslah dicari jawabannya. Hanya saja, tak semua pertanyaan itu dapat dijawab menggunakan akal pikiran. Disinilah hati nurani kita berfungsi dalam memaknai kondisi demikian

    ReplyDelete
  43. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Komte dan pencari ikan dalam membuat bendungan yang dinamai dengan bendungan komte dan sungai positif telah memiliki niat dan tujuan yang tidak baik, maka wajar saja jika hasilnya pun akan merugikan atau berdampak negatif pada semua hal yang terkandung di dalamnya. Jika ini dianalogikan dengan kehidupan yang manusia alami, maka bendungan komte dan sungai positif ini adalah nafsu negatif dalam mencapai sesuatu, sedangkan sungai trasenden adalah aspek jiwa dan hati nurani manusia. Oleh sebab itu, penting bagi manusia untuk merenungi perkataan atau nasihat dari orang tua berambut putih pada akhir elegi ini yaitu carilah rembesan air dari sungai trasenden. Hal ini menganalogikan agar manusia mau memperhatikan nutrisi bagi jiwanya.

    ReplyDelete
  44. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    lemah dan merasa tidak dapat melakukan sesuatu karena yang ada dalam benak kita hanyalah keterbatasan pikiran dan kemampuan. Sebenarnya yang membuat kita merasa seperti itu adalah diri kita sendiri sehingga kita terpenjara dalam ruang diri. Hanya hati nuranilah yang dapat mengeluarkan kita dari penjara diri kita. Dengan hati nurani, kita dapat berpikir jernih dan mengakui bahwa diri kita mampu melakukan sesuatu hal yang kadang kita anggap tidak mungkin kita lakukan. Allah SWT memberikan kita hati nurani agar kita dapat membedakan mana perbuatan yang baik dan yang buruk. Oleh karena itu, pergunakanlah selalu hati nurani dalam setiap aktivitas kehidupan agar hidup kita aman dan bebas dari penjara ketidakmampuan.

    ReplyDelete
  45. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Manusia sesungguhnya senantiasa membutuhkan hati nurani dan spiritual. Jika seorang manusia tanpa hati nurani, tanpa spiritual tampak gagah dan perkasa maka itu hanyalah bersifat sementara dan manipulatif. Ketika kita berada dalam kesulitan yang dekat dengan kematian, sesungguhnya dalam hati kita kita ber doa kepada Tuhan. Oleh karena itulah setinggi apapun jabatan kita, setinggi apapun ilmu kita, sebanyak apapun harta kita, kita tidak akan dapat lepas dari hati nurani kita, kita tidak dapat lepas dari spiritual, karena mereka merupakan bagian dari diri kita. Tanpa spiritual, tanpa hati nurani maka sebenarnya hidup kita terasa hampa meskipun memiliki banyak harta.

    ReplyDelete
  46. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Ketika kita mempunyai pemikiran yang senantiasa positif (positive thinking), maka tindakan kita akan mencerminkan bagaimana pemikiran kita itu. Sehingga orang-orang yan berada di sekitar kita tidak akan terganggu dengan tindakan maupun ucapan kita. Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Rasulullah bahwa umat Islam tidak akan pernah merisaukan orang yang berada disekitarnya.

    ReplyDelete
  47. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Saya agak kesulitan memahami makna yang terkandung dari elegi ini. Tapi, saya sedikit memahami bahwa bendungan diartikan tentang halangan yang sengaja dibuat untuk menghalangi sesuatu yang seharusnya berjalan dengan alami dan sesuai fitrah. Mungkinkah? Ternyata tidak, kalaupun berhasil membendung, hal itu hanya bersifat sementara dan selanjutnya malah akan merusak keseimbangan. Hal yang bisa saya petik adalah, biarkan segala sesuatu berjalan sesuai fitrahnya. Hal itu adalah desain terbaik yang telah Allah skenariokan untuk hambanya. Apabila ada yang menurut kita tidak sesuai, anggaplah itu sebagai ujian atau tantangan yang harus kita taklukkan.

    ReplyDelete
  48. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Segala sesuatu yang kita lakukan akan menjadi akumulasi pada suatu hasil. Sama halnya dengan beberapa sungai yang akan bermuara pada lautan. Dalam kehidupan ini memang akan ditemui beberapa sifat pada diri kita bahkan secara sadar kita juga tidak ingin sebenarnya memiliki sifat tersebut. Contohnya sifat marah, sifat marah ini apa bila terus dibiarkan atau dari sini disebut dengan sungai maka kemarahan itu akan menyebabkan kita mendapatkan hasil dalam hal ini adalah laut, seperti memiliki muka yang seram atau akan berdampak negatif pada kesehatan yang sering dilanda akibat sering marah yaitu penyakit jantung. Tentu hal tersbeut tidaklah diinginkan.

    ReplyDelete
  49. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Sungai positif mungkin bisa diibaratkan dengan kehidupan yang diisi dengan kebaikan. Berbuat baik akan berdampak positif bagi kehidupan. Jika kita memberikan kebaikan kepada orang lain, maka orang lain akan bahagia dan membuat lingkungan sekitar ikut menjadi lebih baik atau positif. Dengan cara ini, setiap orang akan merasa membahagiakan orang lain yang kemudian ikut berkontribusi menjadikan dunia lebih baik pula. Begitulah kiranya pemahaman sederhana saya terhadap elegi bendungan Komte dan sungai positif ini.

    ReplyDelete
  50. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. sulit bagi saya untuk memahami elegi ini, namun saya akan mencoba merefleksi berdasarkan sepemahaman saya setelh membaca elegi. Mohon dikoreksi jika terdapat kesalahan dalam merefleksi. Segala sesuatu itu punya sifat alamiah, segala sesuatu akan mengalir sesuai dengan ketetapan hukum alam. Terkadang ada hambatan yang menghambat, tapi karena sifat alamiahnya maka hambatan akan dapat diatasi dengan baik.

    ReplyDelete
  51. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Salah satu hal yang membedakan antara manusia dengan makhluk yang lain adalah hati nurani. Dengan hati nurani ini manusia mampu berlaku kasih. Mampu berlaku emphati. Hidupnya tidak untuk keegoisannya sendiri, melainkan juga untuk orang lain, sehingga ia akan menjadi pribadi yang senantiasa berbuat baik dan bermanfaat bagi orang lain.

    ReplyDelete
  52. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Dari elegi ini saya mempersepsikan sungai transenden dan sungai positive adalah dua hal yang saling bertentangan atau kontradiksi. Sungai transenden mengalirkan kebaikan, ini ibarat jalan yang sesuai dengan aturan Tuhan. Jalan yang penuh berkah dan ridha bagi mereka yang menyadarinya, kemudian menggunakan akal pikiran dan kegigihannya untuk mengambil berkah dan ridha tersebut. Sementara itu sungai positif sekalipun lebih menggoda, lebih besar, dengan berbagai iming-imingnya, namun dibalik itu semua ada niatan buruk. Bagi yang tidak menyadarinya, tentu sungai positif ini akan lebih dipilih, dan mereka akan dibawa hanyut sampai tidak sadar menjadi sampah-sampah disana. Maka dari itu, sebenar-benar hidup adalah hidup yang sesuai dengan aturan Tuhan, yang dilandari dengan nurani ketaqwaan dan pikiran yang ikhlas selalu berperasangka baik.

    ReplyDelete
  53. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Elegi ini menceritakan bahwasannya diri kita (manusia) itu kecil dan sama derajatnya. Kita semua juga akan menemui kematian. Ketika kita saat ini menjadi orang yang gagah, kaya, berpangkat itu hanyalah sifat sementara. Ibarat pepatah “Urip mung mampir ngombe” atau “Bondo donyo iku mung titipan”, artinya hidup itu hanya sebentar dan semua yang kita miliki saat ini hanyalah titipan dari Allah SWT. Semua akan hilang kecuali amal perbuatan kita. Marilah kita senantiasa beribadah kepada Allah SWT dan saling memberi ilmu.

    ReplyDelete
  54. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Keharmonisan hidup perlu dijaga oleh setiap manusia sebagai makhluk yang memiliki akal dan pikiran. Begitu juga dalam melakukan sesuatu dan membantu orang lain haruslah tanpa pamrih. Hukum alam menyebut, jika kita berbuat baik kepada seseorang, maka orang lain akan berbuat baik juga pada kita. Bagimana pun, berbuat baik akan memberikan dampak positif bagi kehidupan kita.

    ReplyDelete
  55. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Elegi ini memebrikan gambaran bahwa sebenar-benar temanmu adalah hati nuranimu. Hati nurani adalah teman sejati yang tidak pernah berbohong, tidak menghianati apa yang sebenarnya terjadi dan sebenarnya yang ingin dilakukan. Maka sudah dipastikan bahwa hati nurani dimiliki oleh setiap orang yang masih ada imannya. Hal ini berbeda dengan mulut yang seringkali berbicara tidak sesuai kenyataan.

    ReplyDelete
  56. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Kehidupan manusia terdiri dari banyak bagian-bagian, meliputi kualitas, relaitf, mimpi, nurani, a priori, intuisi, absolut, subjektif, empati, ruang dan waktu. Dari banyak bagian tersebut akan bermuara pada satu akhir yang disebut spiritual, yang mana menjadi petunjuk dalam hidup manusia

    ReplyDelete
  57. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Memiliki pandangan dan pikiran yang positif dalam segala hal memiliki poin tersendiri dalam kehidupan manusia. Seperti halnya kita untuk selalu berhusnudzon dengan takdir Allah. Segala halangan yang digambarkan dalam elegi ini harus dihadapi oleh pikiran yang positif dengan hati yang berdasarkan dengan spiritual yang berlandaskan agama. Maka, berbuat baiklah dengan sesama makhluk hidup sehingga kita dengan mudahnya mengunduh kebaikan juga. Pikiran yang positive menghasilkan akibat yang positive pula.

    ReplyDelete
  58. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Sungai positivisme memberikan dampak yang tidak baik bagi penghuni yang ada di dalamnya. Jika diibaratkan dalam kehidupan, maka ikan-ikan tersebut seperti kita manusia sedangkan sungai positivisme adalah paham-paham yang mencoba untuk menghapuskan nurani dari diri kita. Kita sebagai makhluk Allah yang paling sempurna sudah diberikan pikiran agar dapat berfikir dan hati agar dapat merasakan dan berempati. Seseorang atau kumpulan orang yang memiliki hati nurani tidak akan berniat untuk merugikan orang lain. Oleh karena itu, jadilah sebijak-bijaknya pribadi seperti orang tua berambut putih dan pribadi yang memiliki hati nurani.

    ReplyDelete
  59. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    dari elegi diatas, menurut saya secara pribadi, dalam kehidupan ada kehidupan dunia dann akhirat. kehidupan dalam dunia sejatinya tidak ada yang abadi. sejatinya kehidupan yaitu kehidupan akhirat namun tidak semudah itu. banyak hal positive seperti berikhtiar, beramal, ikhlas berdoa, menjalankan kehidupan dengan ikhlas hati.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  60. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207


    Selain akal pikiran, kita sebagai manusia juga dikaruniai hati nurani. Sebagai manusia kita harus bisa menyeimbangkan keduanya. Hati digunakan untuk mengendalikan pikiran, begitu pula sebaliknya. Tidak semua hal mampu dipikirkan oleh pikiran manusia karena pikiran manusia terbatas dan bersifat sementara., di saat itu kita harus menggunakan hati nurani. Dalam meraih kesuksesan sebaiknya jangan hanya mengandalkan kekuatan pikiran semata, berusahalah menggunakan kekuatan hati nurani.
    Jadikanlah hati nurani sebagai pembimbing dalam setiap langkah kehidupan. Semoga kita dapat selalu menjaga kejernihan hati, agar rahmat dan berkah dari Allah senantiasa mengalir pada diri kita.

    ReplyDelete
  61. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Meskipun dengan tujuan yang baik, namun jika sesuatu dipaksakan ditempatkan di tempat yang bukan seharusnya, maka tunggulah saatnya datang kegagalan. Karena setiap kita memiliki hati nurani dan keinginannya masing-masing, tidak bisa ditempatkan di suatu tempat dengan paksaan. Itulah yang akan terjadi ketika kita meninggalkan dan menanggalkan hati nurani. Jadikanlah hati nurani yang bersih dan pikiran yang kritis sebagai pembimbing dan pengatur dalam kehidupan kita.

    ReplyDelete
  62. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Untuk selamat dunia dan akhirat maka kita harus menggunakan pikiran, hati nurani, dan spiritual. Di dunia ini akan ada banyak masalah yang membuat pikiran kita galau, hati kita gundah, dan tekanan batin. Kita harus senantiasa berpikir untuk memecahkan masalah yang kita hadapi. Karena sebenar-benar dunia adalah pikiran kita. Dalam berpikir harus melibatkan hati nurani dan spiritual. Jika kita mampu bertahan maka merupakan sebenar-benarnya hidup.

    ReplyDelete
  63. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  64. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017
    Terima kasih atas postingannya Prof. Dapat kita simpulkan dari elegi di atas bahwa kita harus memanfaatkan kemajuan teknologi dan bukan sebliknya, malah teknologi yang mengendalikan kita. Oleh karena itu kita harus memanfaatkan teknologi tersebut dengan bijak dan dengan tetap tidak meninggalkan spiritual, moral, hati nurani, intuisi, dll.

    ReplyDelete
  65. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Elegi ini menggambarkan bahwa sesungguhnya kita dapat menuntut ilmu dimana saja dan kapan saja. Kita dapat memetik pelajaran dari segala arah tergantung kita dapat menyadarinya dengan pikiran kritis. Kesadaran kita tak lain dan tak bukan dibangun oleh hati yang ikhlas. Tanpa pikiran yang kritis dan hati yang ikhlas kita akan terggelam dalam kesombongan sehingga enggan alam menuntut ilmu.

    ReplyDelete
  66. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Sungai positive dapat dibaratkan oleh dunia saat ini yang sudah terpengaruh oleh power now(teori komte). Sedangkan ikan-ikan itu adalah diri manusia itu sendiri. Kita saat ini sedang hidup di dunia yang sudah tercemar oleh power now. Tergoda akan kecanggihan dunia melupakan spiritual dan Tuhan. Jika kita hidup di sungai ini maka manusia tidak akan memperolah kehidupan yang berkah dan hanya kerusakan yang akan dialaminya.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  67. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Sungai transenden dan sungai positive merupakan sungai yang saling berlawanan, saling bermusuhan. Jika sungai positive adalah sungai yang airnya sudah tercemar power now/keburukan, maka sungai transenden adalah sungai yang airnya jernih karena terisi dengan kebaikan-kebaikan. Seekor ikan tidak akan bertahan jika hidup di sungai positive, maka ia pun akan segera pindah ke sungai transenden, begitu pula dengan manusia. Sehingga kita pun sebaiknya menghindar dari sungai positive, dan mendekati sungai transenden. Manusia di dalam kehidupannya tidak bisa hanya menggunakan akal dan pikiran saja, namun juga harus menggunakan hati nuraninya.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  68. Kita setiap hari dan setiap saat punya fenomena komte. Fenomena komte yaitu perilaku manusia yang lebih memilih dunia daripada akhirat. Artinya adalah gaya hidup kekinian yang telah meniru kehidupan bangsa barat. Kapitalisme, hedonisme, utilitarisme, individualisme, dan berbagai isme-isme unsur dari powernow. Powernow adalah mementingkan duniawi dan menomor akhir kan agama, bahkan sama sekali menghilangkan agama. Hal ini bertentangan dengan pancasila yang dimilki oleh bangsa indonesia.

    ReplyDelete
  69. Pancasila menomorsatukan agama sedangkan urusan duniawi setelahnya. Hal ini terlihat dari sila pertamanya yang berbunyi “Ketuhanan yang maha Esa”. Oleh karena itu sebagai manusia yang bijak seharusnya kita lebih waspada dan menekan fenomena komte.

    ReplyDelete
  70. Jangan sampai kita seperti ikan-ikan kecil di dalam elegi tersebut. Ikan-ikan kecil yang secara sadar memakan sampah=sampah dan limbah dari fenomena komte, yaitu kapitalisme dan sebagainya. Ikan yang ekosistemnya berada di paling bawah. Yang selalu dieksploitasi dan dimanfaatkan. Kemudian dengan lugunya mau untuk diberi sampah-sampah hasil industri yang kita sedikit sekali mendapatkan manfaatnya. Jangan sampai seperti ikan kecil yang karena memakan limbah sehingga mati sia-sia. Mati sebagai ikan kecil yang berada di rantai makanan paling bawah. Yang tergiur dengan gaya hidup mewah tetapi tidak sadar telah terjerumus ke dalam lautan yang tercemar.

    ReplyDelete
  71. Puspitarani
    15301244008
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    Terima kasih Bapak atas artikel yang berjudul Elegi Bendungan Komte dan Sungai Positive yang telah Bapak share kepada kami. Ada makna yang tersirat dari cerita tersebut, yaitu dalam setiap tindakan yang kita lakukan haruslah kita pikirkan dengan matang-matang. Kita tidak bisa bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu akibat yang akan kita timbulkan dari perbuatan yang kita lakukan. Jangan sampai kita seperti ikan-ikan kecil di dalam elegi tersebut. Ikan-ikan kecil yang secara sadar memakan sampah=sampah dan limbah dari fenomena komte, yaitu kapitalisme dan sebagainya. Ikan yang ekosistemnya berada di paling bawah. Yang selalu dieksploitasi dan dimanfaatkan. Kemudian dengan lugunya mau untuk diberi sampah-sampah hasil industri yang kita sedikit sekali mendapatkan manfaatnya. Jangan sampai seperti ikan kecil yang karena memakan limbah sehingga mati sia-sia. Mati sebagai ikan kecil yang berada di rantai makanan paling bawah. Yang tergiur dengan gaya hidup mewah tetapi tidak sadar telah terjerumus ke dalam lautan yang tercemar.

    ReplyDelete
  72. Qorry Aina Fitroh
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241047

    Tidak boleh sombong atas ilmu yang dimiliki. Sebaiknya berpikir positiflah agar tindakan yang dihasilkan juga positif. Sebab tindakan dan ucapan mencerminkan pemikiran seseorang. Tindakan dan ucapan yang baik akan membuat orang lain senang, artinya kita membantu menjadikan dunia menjadi lebih baik pula.

    ReplyDelete
  73. Nur Sholihah
    15301241020
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Hati memang merupakan sumber dari segala tindakan, jika hati jernih dan tenang maka pikiran akan berjalan dan masalah akan lebih mudah diselesaikan. Namun ketika hati kita sudah kotor, meskipun merasa bisa menyelesaikan masalah pasti akan tetap bermuara pada masalah atau keburukan. Contohnya dalam hal ini adalah komte dan pencari ikan yang memang dari awal memiliki niat buruk dalam pembangunan bendungan.

    ReplyDelete
  74. Monica Ansella
    15301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Hati nurani adalah kunci untuk mencapai keharmonisan. Hati nurani kita perlu dikenalkan pada kualitas, relativitas, mimpi, empati, spiritual, serta ruang dan waktu untuk menjadi teman yang baik bagi hidup kita. Perkembangan benih yang ditaburkan oleh Komte memang penting, tetapi ia tidak memperhatikan banyaknya tumpukan sampah dan ikan-ikan mati yang ada di sungai positive. Ini menandakan hanya kemampuan kognitif saja yang dikembangkan di sungai positive dan perkembangan hati nurani dilupakan. Manusia hidup bukan hanya untuk menjadi pintar, tetapi untuk menjadi manusia yang manusiawi. Menggapai manusia yang manusiawi membutuhkan perkembangan pikiran dan hati nurani secara seimbang.

    ReplyDelete