Oct 14, 2011

Elegi Bendungan Komte dan Sungai Positive




Oleh : Marsigit

Sungai transenden:
Aku adalah sungai transenden. Aku mengalirkan air. Air sungaiku bisa mengalir kemana-mana, bisa melewati siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Tetapi engkau mungkin tak percaya bahwa aku juga bisa mengalirkan air ke bawah maupun mengalirkan air ke atas. Tetapi selebar-lebar sungaiku adalah pikiran kritismu. Maka sebenar-benar sumber air sungaiku adalah pada tempat yang paling dalam di pikiranmu. Sumber air sungaiku tidaklah tunggal. Sumber air sungaiku bisa diam bisa juga bergerak. Tetapi engkau mungkin tak percaya bahwa sumber air sungaiku bisa mengeluarkan air sekaligus memasukkan air. Itulah aku sungai transenden. Tetapi engkau mungkin juga tak percaya bahwa sumber airku dapat pula menjadi muaraku. Maka sebenar-benar diriku adalah muaraku sekaligus sumber air sungaiku.

Mencari ikan di sungai transenden

Pencari ikan:

Wahai sungai transenden, dimanakah aku bisa mencari ikan di sini?

Sungai transenden:
Disetiap tempat di sini terdapat ikan. Terserahlah apa yang engkau kehendaki. Ikan besar. Ikan kecil. Semuanya ada di sini.

Pencari ikan:
Lalu bagaimanakah aku bisa menangkap ikan-ikan itu?

Sungai transenden:
Gunakanlah akal dan pikiranmu?

Pencari ikan:
Janganlah engkau memperolok-olok diriku. Bukankah engkau tahu bahwa aku sudah menggunakan akal dan pikiranku.

Sungai transenden:
Sebenar-benar ikan adalah pikiranmu itu. Maka jika engkau tidak mampu menangkap ikan maka bukankah itu pertanda engkau belum menggunakan pikiranmu? Untuk itu cobalah engkau cari umpan agar engkau mampu menangkap ikan-ikan itu.

Pencari ikan:
Saya tidak mempunyai umpan. Kalau begitu apakah umpan-umpan dari ikan yang ada dalam sungai transenden itu?

Sungai transenden:
Umpannya adalah hati nuranimu. Jikalau engkau mengaku tidak mempunyai umpan bukankah itu pertanda engkau belum menggunakan hati nuranimu.

Pencari ikan marah kepada sungai transenden dan melaporkannya kepada komte

Pencari ikan:

Wahai sungai transenden, keterlaluan amat engkau itu. Aku bertanya sederhana, maka jawabanmu berbelit-belit. Aku bertanya pendek, maka jawabanmu panjang. Aku bertanya jujur maka jawabanmu telah menghinaku. Engkau bahkan telah menuduhku tidak menggunakan pikiran. Yang lebih menyakitkan engkau telah menuduhku tidak menggunakan hati nuraniku. Maka tunggulah balasanku. Aku akan melaporkan kesombonganmu itu kepada tuanku komte.

Pencari ikan:
Wahai tuanku komte, perkenankanlah diriku mengadukan kepadamu tentang kesombongan sungai transenden. Sungai transenden telah berlaku sangat sombong dan telah menghinaku.

Komte:
Wahai pencari ikan, sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa aku telah mengetahui semua yang engkau alami. Aku bahkan mendengar dan mengerti setiap dialog antara engkau dan sungai transenden. Ketahuilah sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa aku mengalami hal yang serupa dengan dirimu, lebih dari yang engkau alami. Maka ketahuilah bahwa aku sedang menyusun rencanaku dan kekuatanku untuk membuat bendungan. Oleh karena itu maka panggilah semua teman dan saudaramu untuk membantu aku membuat bendungan yang aku beri nama bendungan komte.

Komte bertitah:

Wahai para transenden, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai kualitas, saatnya sudah engkau berhent. Wahai relatif, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai para mimpi, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai nurani, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai a priori, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai intuisi, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai ideal, saatnya sudah engkau berhenti. ahai absolut, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai subyektif, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai abstrak, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai empati, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai ruang dan waktu, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai pertanyaan-pertanyaan, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai orang tua berambut putih, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai geisteswishenshaften, saatnya sudah engkau berhenti. Dengan bendunganku ini, maka engkau semua telah aku tangkap. Engkau semua itulah sebenar-benar ikan sungai transenden. Wahai pencari ikan, itulah sebenar-benar kebodohanmu, sehingga engkau tidak dapat mengenali ikan-ikannya sungai transenden. Itu disebabkan karena engkau hanya berlayar di atasnya saja, sedangkan engkau malas untuk menyelamnya. Maka ditipu dan dihina itulah perolehanmu.

Komte membuat sungai positive

Komte:

Wahai masa depanku, aku telah sediakan sungai yang lebih besar ketimbang sungai transenden. Lupakan saja sungai transenden itu. Inilah sebenar-benar sungai. Aku telah menciptakan sungai positive buatmu. Sungai positive inilah sebagai hasil karyaku dengan bendunganku ini, yaitu bendungan komte. Maka sebenar-benar sungai adalah sungai positive. Maka tumbuh dan berkembanglah benih-benih kedalam sungaiku ini.

Komte menabur benih:
Wahai benih objektif, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih kepastian, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih ilmiah, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih prosedur, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih logico, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih hipotetiko, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih induksi, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih manipulasi, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih kuantitative, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih simplifikasi, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih konkrit, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih eksperimen, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih formula, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih statistik, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih standard, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih terukur, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih reliabilitas, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih industri, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih keniscayaan, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih random, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih representasi, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih lambang, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih wadah, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih rekayasa, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih model, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih cuplikan, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih remote, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih mesin, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. . Wahai benih kapital, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih material, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih praktis, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih otomatis, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih teknologi, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih rumah kaca, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih monokultur, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai naturweistesshaften, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang.

Di muara sungai komte, tumpukan sampah menggunung dan banyak ikan-ikan mati

Sampah1:

Wahai sampah2 temanku, mengapa engkau tertidur di situ tak berdaya. Engkau terlihat mati tak mau, hiduppun enggan.

Sampah2:

Wahai sampah1 temanku, ketahuilah bahwa sebenar-benar diriku bukanlah ikan dari sungai positive. Jika aku dipaksa hidup di sungai positive ini maka tunggu waktu sajalah kematianku. Kalau boleh aku pun ingin bertanya, wahai sampah1 temanku. Kenapa pula, engkau tertidur di situ tak berdaya. Engkau terlihat mati tak mau, hiduppun enggan.

Sampah1:
Wahai sampah1 temanku, ketahuilah bahwa sebenar-benar diriku bukanlah ikan dari sungai positive. Jika aku dipaksa hidup di sungai positive ini maka tunggu waktu sajalah kematianku. Kalau boleh aku pun ingin bertanya, wahai sampah1 temanku. Kenapa pula, engkau tertidur di situ tak berdaya. Engkau terlihat mati tak mau, hiduppun enggan. Kalau boleh marilah kita bertanya, kepada ikan-ikan itu. Wahai ikan-ikan, kenapa pula, engkau tertidur di situ tak berdaya. Engkau terlihat mati tak mau, hiduppun enggan.

Ikan-ikan:

Wahai sampah1 dan sampah2 temanku, ketahuilah bahwa sebenar-benar diriku bukanlah ikan dari sungai positive. Jika aku dipaksa hidup di sungai positive ini maka tunggu waktu sajalah kematianku. Kalau boleh aku pun ingin bertanya, wahai sampah-sampah sungai positive temanku. Bagaimana pula kita bisa tetap hidup di sini. Itu ada orang tua lewat. Mari kita tanyakan kepadanya, bagaimana kita tetap hidup. Wahai orang tua, bukankah engkau termasuk yang sudah ditangkap oleh komte. Padahal aku tahu bahwa komte telah membuat bendungan besar. Tetapi kenapa engkau bisa sampai di sungai positive ini?

Orang tua berambut putih:

Itulah sebenar-benar diriku. Aku adalah pertanyaan bagi semuanya. Sehebat-hebat bendungan komte, tidak akan bisa mencegah diriku hadir dalam pertanyaanmu. Maka begitu engkau bertanya tentang masa depan hidupmu, maka aku hadirlah di hadapanmu. Sebenar-benar diriku adalah pertanyaan mereka. Sebenar-benar diriku adalah ilmu mereka, yaitu bagi semua ikan-ikan baik ikan-ikannya sungai transenden maupun ikan-ikannya sungai positive.

Sampah-sampah dan ikan-ikan bersama-sama bertanya:
Wahai orang tua berambut putih, jawablah pertanyaanku ini, bagaimana agar aku bisa tetap hidup.

Orang tua berambut putih:
Sebenar-benar dirimu adalah sama semua bagi yang lain penghuni sungai positive ini. Mereka semua juga terancan kematian sepertimu. Jika mereka tampak gagah perkasa, itu hanyalah bersifat sementara dan manipulatif. Namun sebenar-benar mereka sebetulnya sedang menuju kematiannya. Maka agar engkau tetap hidup, serta-merta menujulah ke rembesan air sungai transenden. Mengapa? Karena pada rembesan air sungai transenden itulah engkau akan berjumpa teman-temanmu.

Sampah dan ikan:
Siapakah sebenar-benar teman diriku yang akan membuatku tetap hidup.

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar temanmu, yaitu hati nuranimu. Temuilah kualitas, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah relatif, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah mimpi, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah nurani, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah ka priori, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah intuisi, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah ideal, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah absolut, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah subyektif, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah abstrak, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah empati, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah ruang dan waktu, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah pertanyaan, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah geisteswishenshaften, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah spiritual, karena itu bagian dari hidupmu.

Sungai positive semakin besar beserta cabang-cabangnya, bagaimana nasib sampah dan ikan-ikan itu?
Ruang dan waktu akan menjawabnya pada Elegi berikutnya.

29 comments:

  1. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Dari elegi diatas kita dapat menyimpulkan bahwa dalam menjalani setiap aktivitas hidup kita, kita harus selalu menggunakan akal sehat, pikiran, dan yang terpenting adalah hati nurani. Tentunya dalam hidup, kita pasti selalu bertemu dengan pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan ini haruslah dicari jawabannya. Hanya saja, tak semua pertanyaan itu dapat dijawab menggunakan akal pikiran. Disinilah hati nurani kita berfungsi dalam memaknai kondisi demikian

    ReplyDelete
  2. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Komte dan pencari ikan dalam membuat bendungan yang dinamai dengan bendungan komte dan sungai positif telah memiliki niat dan tujuan yang tidak baik, maka wajar saja jika hasilnya pun akan merugikan atau berdampak negatif pada semua hal yang terkandung di dalamnya. Jika ini dianalogikan dengan kehidupan yang manusia alami, maka bendungan komte dan sungai positif ini adalah nafsu negatif dalam mencapai sesuatu, sedangkan sungai trasenden adalah aspek jiwa dan hati nurani manusia. Oleh sebab itu, penting bagi manusia untuk merenungi perkataan atau nasihat dari orang tua berambut putih pada akhir elegi ini yaitu carilah rembesan air dari sungai trasenden. Hal ini menganalogikan agar manusia mau memperhatikan nutrisi bagi jiwanya.

    ReplyDelete
  3. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    lemah dan merasa tidak dapat melakukan sesuatu karena yang ada dalam benak kita hanyalah keterbatasan pikiran dan kemampuan. Sebenarnya yang membuat kita merasa seperti itu adalah diri kita sendiri sehingga kita terpenjara dalam ruang diri. Hanya hati nuranilah yang dapat mengeluarkan kita dari penjara diri kita. Dengan hati nurani, kita dapat berpikir jernih dan mengakui bahwa diri kita mampu melakukan sesuatu hal yang kadang kita anggap tidak mungkin kita lakukan. Allah SWT memberikan kita hati nurani agar kita dapat membedakan mana perbuatan yang baik dan yang buruk. Oleh karena itu, pergunakanlah selalu hati nurani dalam setiap aktivitas kehidupan agar hidup kita aman dan bebas dari penjara ketidakmampuan.

    ReplyDelete
  4. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Manusia sesungguhnya senantiasa membutuhkan hati nurani dan spiritual. Jika seorang manusia tanpa hati nurani, tanpa spiritual tampak gagah dan perkasa maka itu hanyalah bersifat sementara dan manipulatif. Ketika kita berada dalam kesulitan yang dekat dengan kematian, sesungguhnya dalam hati kita kita ber doa kepada Tuhan. Oleh karena itulah setinggi apapun jabatan kita, setinggi apapun ilmu kita, sebanyak apapun harta kita, kita tidak akan dapat lepas dari hati nurani kita, kita tidak dapat lepas dari spiritual, karena mereka merupakan bagian dari diri kita. Tanpa spiritual, tanpa hati nurani maka sebenarnya hidup kita terasa hampa meskipun memiliki banyak harta.

    ReplyDelete
  5. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Ketika kita mempunyai pemikiran yang senantiasa positif (positive thinking), maka tindakan kita akan mencerminkan bagaimana pemikiran kita itu. Sehingga orang-orang yan berada di sekitar kita tidak akan terganggu dengan tindakan maupun ucapan kita. Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Rasulullah bahwa umat Islam tidak akan pernah merisaukan orang yang berada disekitarnya.

    ReplyDelete
  6. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Saya agak kesulitan memahami makna yang terkandung dari elegi ini. Tapi, saya sedikit memahami bahwa bendungan diartikan tentang halangan yang sengaja dibuat untuk menghalangi sesuatu yang seharusnya berjalan dengan alami dan sesuai fitrah. Mungkinkah? Ternyata tidak, kalaupun berhasil membendung, hal itu hanya bersifat sementara dan selanjutnya malah akan merusak keseimbangan. Hal yang bisa saya petik adalah, biarkan segala sesuatu berjalan sesuai fitrahnya. Hal itu adalah desain terbaik yang telah Allah skenariokan untuk hambanya. Apabila ada yang menurut kita tidak sesuai, anggaplah itu sebagai ujian atau tantangan yang harus kita taklukkan.

    ReplyDelete
  7. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Segala sesuatu yang kita lakukan akan menjadi akumulasi pada suatu hasil. Sama halnya dengan beberapa sungai yang akan bermuara pada lautan. Dalam kehidupan ini memang akan ditemui beberapa sifat pada diri kita bahkan secara sadar kita juga tidak ingin sebenarnya memiliki sifat tersebut. Contohnya sifat marah, sifat marah ini apa bila terus dibiarkan atau dari sini disebut dengan sungai maka kemarahan itu akan menyebabkan kita mendapatkan hasil dalam hal ini adalah laut, seperti memiliki muka yang seram atau akan berdampak negatif pada kesehatan yang sering dilanda akibat sering marah yaitu penyakit jantung. Tentu hal tersbeut tidaklah diinginkan.

    ReplyDelete
  8. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Sungai positif mungkin bisa diibaratkan dengan kehidupan yang diisi dengan kebaikan. Berbuat baik akan berdampak positif bagi kehidupan. Jika kita memberikan kebaikan kepada orang lain, maka orang lain akan bahagia dan membuat lingkungan sekitar ikut menjadi lebih baik atau positif. Dengan cara ini, setiap orang akan merasa membahagiakan orang lain yang kemudian ikut berkontribusi menjadikan dunia lebih baik pula. Begitulah kiranya pemahaman sederhana saya terhadap elegi bendungan Komte dan sungai positif ini.

    ReplyDelete
  9. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. sulit bagi saya untuk memahami elegi ini, namun saya akan mencoba merefleksi berdasarkan sepemahaman saya setelh membaca elegi. Mohon dikoreksi jika terdapat kesalahan dalam merefleksi. Segala sesuatu itu punya sifat alamiah, segala sesuatu akan mengalir sesuai dengan ketetapan hukum alam. Terkadang ada hambatan yang menghambat, tapi karena sifat alamiahnya maka hambatan akan dapat diatasi dengan baik.

    ReplyDelete
  10. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Salah satu hal yang membedakan antara manusia dengan makhluk yang lain adalah hati nurani. Dengan hati nurani ini manusia mampu berlaku kasih. Mampu berlaku emphati. Hidupnya tidak untuk keegoisannya sendiri, melainkan juga untuk orang lain, sehingga ia akan menjadi pribadi yang senantiasa berbuat baik dan bermanfaat bagi orang lain.

    ReplyDelete
  11. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Dari elegi ini saya mempersepsikan sungai transenden dan sungai positive adalah dua hal yang saling bertentangan atau kontradiksi. Sungai transenden mengalirkan kebaikan, ini ibarat jalan yang sesuai dengan aturan Tuhan. Jalan yang penuh berkah dan ridha bagi mereka yang menyadarinya, kemudian menggunakan akal pikiran dan kegigihannya untuk mengambil berkah dan ridha tersebut. Sementara itu sungai positif sekalipun lebih menggoda, lebih besar, dengan berbagai iming-imingnya, namun dibalik itu semua ada niatan buruk. Bagi yang tidak menyadarinya, tentu sungai positif ini akan lebih dipilih, dan mereka akan dibawa hanyut sampai tidak sadar menjadi sampah-sampah disana. Maka dari itu, sebenar-benar hidup adalah hidup yang sesuai dengan aturan Tuhan, yang dilandari dengan nurani ketaqwaan dan pikiran yang ikhlas selalu berperasangka baik.

    ReplyDelete
  12. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Elegi ini menceritakan bahwasannya diri kita (manusia) itu kecil dan sama derajatnya. Kita semua juga akan menemui kematian. Ketika kita saat ini menjadi orang yang gagah, kaya, berpangkat itu hanyalah sifat sementara. Ibarat pepatah “Urip mung mampir ngombe” atau “Bondo donyo iku mung titipan”, artinya hidup itu hanya sebentar dan semua yang kita miliki saat ini hanyalah titipan dari Allah SWT. Semua akan hilang kecuali amal perbuatan kita. Marilah kita senantiasa beribadah kepada Allah SWT dan saling memberi ilmu.

    ReplyDelete
  13. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Keharmonisan hidup perlu dijaga oleh setiap manusia sebagai makhluk yang memiliki akal dan pikiran. Begitu juga dalam melakukan sesuatu dan membantu orang lain haruslah tanpa pamrih. Hukum alam menyebut, jika kita berbuat baik kepada seseorang, maka orang lain akan berbuat baik juga pada kita. Bagimana pun, berbuat baik akan memberikan dampak positif bagi kehidupan kita.

    ReplyDelete
  14. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Elegi ini memebrikan gambaran bahwa sebenar-benar temanmu adalah hati nuranimu. Hati nurani adalah teman sejati yang tidak pernah berbohong, tidak menghianati apa yang sebenarnya terjadi dan sebenarnya yang ingin dilakukan. Maka sudah dipastikan bahwa hati nurani dimiliki oleh setiap orang yang masih ada imannya. Hal ini berbeda dengan mulut yang seringkali berbicara tidak sesuai kenyataan.

    ReplyDelete
  15. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Kehidupan manusia terdiri dari banyak bagian-bagian, meliputi kualitas, relaitf, mimpi, nurani, a priori, intuisi, absolut, subjektif, empati, ruang dan waktu. Dari banyak bagian tersebut akan bermuara pada satu akhir yang disebut spiritual, yang mana menjadi petunjuk dalam hidup manusia

    ReplyDelete
  16. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Memiliki pandangan dan pikiran yang positif dalam segala hal memiliki poin tersendiri dalam kehidupan manusia. Seperti halnya kita untuk selalu berhusnudzon dengan takdir Allah. Segala halangan yang digambarkan dalam elegi ini harus dihadapi oleh pikiran yang positif dengan hati yang berdasarkan dengan spiritual yang berlandaskan agama. Maka, berbuat baiklah dengan sesama makhluk hidup sehingga kita dengan mudahnya mengunduh kebaikan juga. Pikiran yang positive menghasilkan akibat yang positive pula.

    ReplyDelete
  17. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Sungai positivisme memberikan dampak yang tidak baik bagi penghuni yang ada di dalamnya. Jika diibaratkan dalam kehidupan, maka ikan-ikan tersebut seperti kita manusia sedangkan sungai positivisme adalah paham-paham yang mencoba untuk menghapuskan nurani dari diri kita. Kita sebagai makhluk Allah yang paling sempurna sudah diberikan pikiran agar dapat berfikir dan hati agar dapat merasakan dan berempati. Seseorang atau kumpulan orang yang memiliki hati nurani tidak akan berniat untuk merugikan orang lain. Oleh karena itu, jadilah sebijak-bijaknya pribadi seperti orang tua berambut putih dan pribadi yang memiliki hati nurani.

    ReplyDelete
  18. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    dari elegi diatas, menurut saya secara pribadi, dalam kehidupan ada kehidupan dunia dann akhirat. kehidupan dalam dunia sejatinya tidak ada yang abadi. sejatinya kehidupan yaitu kehidupan akhirat namun tidak semudah itu. banyak hal positive seperti berikhtiar, beramal, ikhlas berdoa, menjalankan kehidupan dengan ikhlas hati.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  19. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207


    Selain akal pikiran, kita sebagai manusia juga dikaruniai hati nurani. Sebagai manusia kita harus bisa menyeimbangkan keduanya. Hati digunakan untuk mengendalikan pikiran, begitu pula sebaliknya. Tidak semua hal mampu dipikirkan oleh pikiran manusia karena pikiran manusia terbatas dan bersifat sementara., di saat itu kita harus menggunakan hati nurani. Dalam meraih kesuksesan sebaiknya jangan hanya mengandalkan kekuatan pikiran semata, berusahalah menggunakan kekuatan hati nurani.
    Jadikanlah hati nurani sebagai pembimbing dalam setiap langkah kehidupan. Semoga kita dapat selalu menjaga kejernihan hati, agar rahmat dan berkah dari Allah senantiasa mengalir pada diri kita.

    ReplyDelete
  20. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Meskipun dengan tujuan yang baik, namun jika sesuatu dipaksakan ditempatkan di tempat yang bukan seharusnya, maka tunggulah saatnya datang kegagalan. Karena setiap kita memiliki hati nurani dan keinginannya masing-masing, tidak bisa ditempatkan di suatu tempat dengan paksaan. Itulah yang akan terjadi ketika kita meninggalkan dan menanggalkan hati nurani. Jadikanlah hati nurani yang bersih dan pikiran yang kritis sebagai pembimbing dan pengatur dalam kehidupan kita.

    ReplyDelete
  21. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Untuk selamat dunia dan akhirat maka kita harus menggunakan pikiran, hati nurani, dan spiritual. Di dunia ini akan ada banyak masalah yang membuat pikiran kita galau, hati kita gundah, dan tekanan batin. Kita harus senantiasa berpikir untuk memecahkan masalah yang kita hadapi. Karena sebenar-benar dunia adalah pikiran kita. Dalam berpikir harus melibatkan hati nurani dan spiritual. Jika kita mampu bertahan maka merupakan sebenar-benarnya hidup.

    ReplyDelete
  22. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  23. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017
    Terima kasih atas postingannya Prof. Dapat kita simpulkan dari elegi di atas bahwa kita harus memanfaatkan kemajuan teknologi dan bukan sebliknya, malah teknologi yang mengendalikan kita. Oleh karena itu kita harus memanfaatkan teknologi tersebut dengan bijak dan dengan tetap tidak meninggalkan spiritual, moral, hati nurani, intuisi, dll.

    ReplyDelete
  24. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Elegi ini menggambarkan bahwa sesungguhnya kita dapat menuntut ilmu dimana saja dan kapan saja. Kita dapat memetik pelajaran dari segala arah tergantung kita dapat menyadarinya dengan pikiran kritis. Kesadaran kita tak lain dan tak bukan dibangun oleh hati yang ikhlas. Tanpa pikiran yang kritis dan hati yang ikhlas kita akan terggelam dalam kesombongan sehingga enggan alam menuntut ilmu.

    ReplyDelete
  25. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Sungai positive dapat dibaratkan oleh dunia saat ini yang sudah terpengaruh oleh power now(teori komte). Sedangkan ikan-ikan itu adalah diri manusia itu sendiri. Kita saat ini sedang hidup di dunia yang sudah tercemar oleh power now. Tergoda akan kecanggihan dunia melupakan spiritual dan Tuhan. Jika kita hidup di sungai ini maka manusia tidak akan memperolah kehidupan yang berkah dan hanya kerusakan yang akan dialaminya.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  26. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Sungai transenden dan sungai positive merupakan sungai yang saling berlawanan, saling bermusuhan. Jika sungai positive adalah sungai yang airnya sudah tercemar power now/keburukan, maka sungai transenden adalah sungai yang airnya jernih karena terisi dengan kebaikan-kebaikan. Seekor ikan tidak akan bertahan jika hidup di sungai positive, maka ia pun akan segera pindah ke sungai transenden, begitu pula dengan manusia. Sehingga kita pun sebaiknya menghindar dari sungai positive, dan mendekati sungai transenden. Manusia di dalam kehidupannya tidak bisa hanya menggunakan akal dan pikiran saja, namun juga harus menggunakan hati nuraninya.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  27. Kita setiap hari dan setiap saat punya fenomena komte. Fenomena komte yaitu perilaku manusia yang lebih memilih dunia daripada akhirat. Artinya adalah gaya hidup kekinian yang telah meniru kehidupan bangsa barat. Kapitalisme, hedonisme, utilitarisme, individualisme, dan berbagai isme-isme unsur dari powernow. Powernow adalah mementingkan duniawi dan menomor akhir kan agama, bahkan sama sekali menghilangkan agama. Hal ini bertentangan dengan pancasila yang dimilki oleh bangsa indonesia.

    ReplyDelete
  28. Pancasila menomorsatukan agama sedangkan urusan duniawi setelahnya. Hal ini terlihat dari sila pertamanya yang berbunyi “Ketuhanan yang maha Esa”. Oleh karena itu sebagai manusia yang bijak seharusnya kita lebih waspada dan menekan fenomena komte.

    ReplyDelete
  29. Jangan sampai kita seperti ikan-ikan kecil di dalam elegi tersebut. Ikan-ikan kecil yang secara sadar memakan sampah=sampah dan limbah dari fenomena komte, yaitu kapitalisme dan sebagainya. Ikan yang ekosistemnya berada di paling bawah. Yang selalu dieksploitasi dan dimanfaatkan. Kemudian dengan lugunya mau untuk diberi sampah-sampah hasil industri yang kita sedikit sekali mendapatkan manfaatnya. Jangan sampai seperti ikan kecil yang karena memakan limbah sehingga mati sia-sia. Mati sebagai ikan kecil yang berada di rantai makanan paling bawah. Yang tergiur dengan gaya hidup mewah tetapi tidak sadar telah terjerumus ke dalam lautan yang tercemar.

    ReplyDelete