Oct 14, 2011

Elegi Bendungan Komte dan Sungai Positive




Oleh : Marsigit

Sungai transenden:
Aku adalah sungai transenden. Aku mengalirkan air. Air sungaiku bisa mengalir kemana-mana, bisa melewati siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Tetapi engkau mungkin tak percaya bahwa aku juga bisa mengalirkan air ke bawah maupun mengalirkan air ke atas. Tetapi selebar-lebar sungaiku adalah pikiran kritismu. Maka sebenar-benar sumber air sungaiku adalah pada tempat yang paling dalam di pikiranmu. Sumber air sungaiku tidaklah tunggal. Sumber air sungaiku bisa diam bisa juga bergerak. Tetapi engkau mungkin tak percaya bahwa sumber air sungaiku bisa mengeluarkan air sekaligus memasukkan air. Itulah aku sungai transenden. Tetapi engkau mungkin juga tak percaya bahwa sumber airku dapat pula menjadi muaraku. Maka sebenar-benar diriku adalah muaraku sekaligus sumber air sungaiku.

Mencari ikan di sungai transenden

Pencari ikan:

Wahai sungai transenden, dimanakah aku bisa mencari ikan di sini?

Sungai transenden:
Disetiap tempat di sini terdapat ikan. Terserahlah apa yang engkau kehendaki. Ikan besar. Ikan kecil. Semuanya ada di sini.

Pencari ikan:
Lalu bagaimanakah aku bisa menangkap ikan-ikan itu?

Sungai transenden:
Gunakanlah akal dan pikiranmu?

Pencari ikan:
Janganlah engkau memperolok-olok diriku. Bukankah engkau tahu bahwa aku sudah menggunakan akal dan pikiranku.

Sungai transenden:
Sebenar-benar ikan adalah pikiranmu itu. Maka jika engkau tidak mampu menangkap ikan maka bukankah itu pertanda engkau belum menggunakan pikiranmu? Untuk itu cobalah engkau cari umpan agar engkau mampu menangkap ikan-ikan itu.

Pencari ikan:
Saya tidak mempunyai umpan. Kalau begitu apakah umpan-umpan dari ikan yang ada dalam sungai transenden itu?

Sungai transenden:
Umpannya adalah hati nuranimu. Jikalau engkau mengaku tidak mempunyai umpan bukankah itu pertanda engkau belum menggunakan hati nuranimu.

Pencari ikan marah kepada sungai transenden dan melaporkannya kepada komte

Pencari ikan:

Wahai sungai transenden, keterlaluan amat engkau itu. Aku bertanya sederhana, maka jawabanmu berbelit-belit. Aku bertanya pendek, maka jawabanmu panjang. Aku bertanya jujur maka jawabanmu telah menghinaku. Engkau bahkan telah menuduhku tidak menggunakan pikiran. Yang lebih menyakitkan engkau telah menuduhku tidak menggunakan hati nuraniku. Maka tunggulah balasanku. Aku akan melaporkan kesombonganmu itu kepada tuanku komte.

Pencari ikan:
Wahai tuanku komte, perkenankanlah diriku mengadukan kepadamu tentang kesombongan sungai transenden. Sungai transenden telah berlaku sangat sombong dan telah menghinaku.

Komte:
Wahai pencari ikan, sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa aku telah mengetahui semua yang engkau alami. Aku bahkan mendengar dan mengerti setiap dialog antara engkau dan sungai transenden. Ketahuilah sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa aku mengalami hal yang serupa dengan dirimu, lebih dari yang engkau alami. Maka ketahuilah bahwa aku sedang menyusun rencanaku dan kekuatanku untuk membuat bendungan. Oleh karena itu maka panggilah semua teman dan saudaramu untuk membantu aku membuat bendungan yang aku beri nama bendungan komte.

Komte bertitah:

Wahai para transenden, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai kualitas, saatnya sudah engkau berhent. Wahai relatif, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai para mimpi, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai nurani, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai a priori, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai intuisi, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai ideal, saatnya sudah engkau berhenti. ahai absolut, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai subyektif, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai abstrak, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai empati, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai ruang dan waktu, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai pertanyaan-pertanyaan, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai orang tua berambut putih, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai geisteswishenshaften, saatnya sudah engkau berhenti. Dengan bendunganku ini, maka engkau semua telah aku tangkap. Engkau semua itulah sebenar-benar ikan sungai transenden. Wahai pencari ikan, itulah sebenar-benar kebodohanmu, sehingga engkau tidak dapat mengenali ikan-ikannya sungai transenden. Itu disebabkan karena engkau hanya berlayar di atasnya saja, sedangkan engkau malas untuk menyelamnya. Maka ditipu dan dihina itulah perolehanmu.

Komte membuat sungai positive

Komte:

Wahai masa depanku, aku telah sediakan sungai yang lebih besar ketimbang sungai transenden. Lupakan saja sungai transenden itu. Inilah sebenar-benar sungai. Aku telah menciptakan sungai positive buatmu. Sungai positive inilah sebagai hasil karyaku dengan bendunganku ini, yaitu bendungan komte. Maka sebenar-benar sungai adalah sungai positive. Maka tumbuh dan berkembanglah benih-benih kedalam sungaiku ini.

Komte menabur benih:
Wahai benih objektif, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih kepastian, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih ilmiah, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih prosedur, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih logico, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih hipotetiko, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih induksi, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih manipulasi, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih kuantitative, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih simplifikasi, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih konkrit, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih eksperimen, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih formula, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih statistik, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih standard, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih terukur, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih reliabilitas, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih industri, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih keniscayaan, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih random, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih representasi, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih lambang, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih wadah, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih rekayasa, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih model, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih cuplikan, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih remote, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih mesin, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. . Wahai benih kapital, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih material, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih praktis, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih otomatis, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih teknologi, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih rumah kaca, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih monokultur, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai naturweistesshaften, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang.

Di muara sungai komte, tumpukan sampah menggunung dan banyak ikan-ikan mati

Sampah1:

Wahai sampah2 temanku, mengapa engkau tertidur di situ tak berdaya. Engkau terlihat mati tak mau, hiduppun enggan.

Sampah2:

Wahai sampah1 temanku, ketahuilah bahwa sebenar-benar diriku bukanlah ikan dari sungai positive. Jika aku dipaksa hidup di sungai positive ini maka tunggu waktu sajalah kematianku. Kalau boleh aku pun ingin bertanya, wahai sampah1 temanku. Kenapa pula, engkau tertidur di situ tak berdaya. Engkau terlihat mati tak mau, hiduppun enggan.

Sampah1:
Wahai sampah1 temanku, ketahuilah bahwa sebenar-benar diriku bukanlah ikan dari sungai positive. Jika aku dipaksa hidup di sungai positive ini maka tunggu waktu sajalah kematianku. Kalau boleh aku pun ingin bertanya, wahai sampah1 temanku. Kenapa pula, engkau tertidur di situ tak berdaya. Engkau terlihat mati tak mau, hiduppun enggan. Kalau boleh marilah kita bertanya, kepada ikan-ikan itu. Wahai ikan-ikan, kenapa pula, engkau tertidur di situ tak berdaya. Engkau terlihat mati tak mau, hiduppun enggan.

Ikan-ikan:

Wahai sampah1 dan sampah2 temanku, ketahuilah bahwa sebenar-benar diriku bukanlah ikan dari sungai positive. Jika aku dipaksa hidup di sungai positive ini maka tunggu waktu sajalah kematianku. Kalau boleh aku pun ingin bertanya, wahai sampah-sampah sungai positive temanku. Bagaimana pula kita bisa tetap hidup di sini. Itu ada orang tua lewat. Mari kita tanyakan kepadanya, bagaimana kita tetap hidup. Wahai orang tua, bukankah engkau termasuk yang sudah ditangkap oleh komte. Padahal aku tahu bahwa komte telah membuat bendungan besar. Tetapi kenapa engkau bisa sampai di sungai positive ini?

Orang tua berambut putih:

Itulah sebenar-benar diriku. Aku adalah pertanyaan bagi semuanya. Sehebat-hebat bendungan komte, tidak akan bisa mencegah diriku hadir dalam pertanyaanmu. Maka begitu engkau bertanya tentang masa depan hidupmu, maka aku hadirlah di hadapanmu. Sebenar-benar diriku adalah pertanyaan mereka. Sebenar-benar diriku adalah ilmu mereka, yaitu bagi semua ikan-ikan baik ikan-ikannya sungai transenden maupun ikan-ikannya sungai positive.

Sampah-sampah dan ikan-ikan bersama-sama bertanya:
Wahai orang tua berambut putih, jawablah pertanyaanku ini, bagaimana agar aku bisa tetap hidup.

Orang tua berambut putih:
Sebenar-benar dirimu adalah sama semua bagi yang lain penghuni sungai positive ini. Mereka semua juga terancan kematian sepertimu. Jika mereka tampak gagah perkasa, itu hanyalah bersifat sementara dan manipulatif. Namun sebenar-benar mereka sebetulnya sedang menuju kematiannya. Maka agar engkau tetap hidup, serta-merta menujulah ke rembesan air sungai transenden. Mengapa? Karena pada rembesan air sungai transenden itulah engkau akan berjumpa teman-temanmu.

Sampah dan ikan:
Siapakah sebenar-benar teman diriku yang akan membuatku tetap hidup.

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar temanmu, yaitu hati nuranimu. Temuilah kualitas, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah relatif, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah mimpi, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah nurani, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah ka priori, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah intuisi, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah ideal, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah absolut, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah subyektif, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah abstrak, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah empati, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah ruang dan waktu, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah pertanyaan, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah geisteswishenshaften, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah spiritual, karena itu bagian dari hidupmu.

Sungai positive semakin besar beserta cabang-cabangnya, bagaimana nasib sampah dan ikan-ikan itu?
Ruang dan waktu akan menjawabnya pada Elegi berikutnya.

16 comments:

  1. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Saya agak kesulitan memahami makna yang terkandung dari elegi ini. Tapi, saya sedkit memahami bahwa bendungan diartikan tentang halangan yang sengaja dibuat untuk menghalangi sesuatu yang seharusnya berjalan dengan alami dan sesuai fitrah. Mungkinkah? Ternyata tidak, kalaupun berhasil membendung, hal itu hanya bersifat sementara dan selanjutnya malah akan merusak keseimbangan. Hal yang bisa saya petik adalah, biarkan segala sesuatu berjalan sesuai fitrahnya. Hal itu adalah desain terbaik yang telah Alloh skenariokan untuk hambanya. Apabila ada yang menurut kita tidak sesuai, anggaplah itu sebagai ujian atau tantangan yang harus kita taklukkan.

    ReplyDelete
  2. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Tahap positif berusaha untuk menemukan hubungan seragam dalam gejala. Pada tahap ini seseorang tahu bahwa tiada gunanya untuk mempertanyakan atau pengetahuan yang mutlak, baik secara teologis ataupun secara metafisika. Comte menganggap pandangannya berlaku bagi perkembangan rohani seluruh umat manusia, bahkan berlaku bagi setiap masing-masing individu itu sendiri. Ketika seorang masih perpandangan teologis berarti ia masih berfikiran kuno/ketinggalan zaman walaupun ia hidup dizaman yang modern. Dan ketika orang berfikiran realitas/nyata maka dia dapat sebagai seorang yang modern walaupun dimana saja mereka berada. Pendapat ini jika dilihat dari sudut pandangnya akan lebih menjurus kepada tahap dalam keyakinan hati manusia.

    ReplyDelete
  3. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Sebenar-benar temanmu, yaitu hati nuranimu.Hati nurani tak pernah berbohong.
    Hati nurani tak pernah menghianati apa yang sebenarnya terjadi dan sebernanya ingin dilakukan.
    Berbeda halnya dengan mulut yang kadang berbunyi tak sesuai dengan kenyataan.

    ReplyDelete
  4. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Sebenar-benar ikan adalah pikiranmu itu. Maka jika engkau tidak mampu menangkap ikan maka bukankah itu pertanda engkau belum menggunakan pikiranmu? Umpan adalah hati nuranimu. Elegi ini sejalan dengan pemikiran saya bahwa pikiran dan hati tidak dapat terpisah. Ketika dihadangakan dengan sebuah masalah maka gunakanlah hati dan pikiran agar sejalan dengan selaras.

    ReplyDelete
  5. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    makna yang saya pahami dari elegi ini adalah bahwasanya kita itu merupakan kumpulan dari berbagai bagian dari diri kita. dalam nyatanya kita memang tidak sendiri, ada bagian dari kita yang selalu menemi seperti hati nurani, pikiran.

    ReplyDelete
  6. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Auguste Comte ialah seorang filsuf besar dan berpengaruh yang menggagas aliran positivisme. Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisika. Secara umum, para penganut paham positivisme memiliki minat kuat terhadap sains dan mempunyai sikap skeptis terhadap ilmu agama dan hal-hal yang berbau metafisika (Susanto, 2014).

    ReplyDelete
  7. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Fenomena Comte berdampak besar dalam kehidupan di era perkembangan teknologi mutakhir saat ini. Fenomena comte ini bagai pisau bermata dua. Jika dimanfaatkan dengan baik maka dampak positiflah yang ditimbulkan. Jika dimanfaatkan dengan tidak benar maka dampak negatiflah yang ditimbulkan. Seiring fenomena compte yang mengalir deras, benih-benih seperti logico, kapital, material, budaya instan, gadget turut disemaisuburkan. Oleh karena itu, cara yang bisa dilakukan untuk menghadapi dampak dari fenomena compte dan tidak terbawa arus negatifnya adalah dengan cara membentengi diri dengan memperkuat spiritual, mempertebal iman dan takwa, juga belajar dengan pikiran jernih dan hati nurani.

    ReplyDelete
  8. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Yang dapat saya tangkap dari elegi ini bahwa, dimanapun dan bagaimanapun situasi dan kondisinya, kita harus tetap menggunakan akal dan pikiran untuk menggapai tujuan. Akal dan pikiran itupun harus sesuai dengan hati nurani. Kualitas, relatif, mimpi, nurani, a priori, intuisi, ideal, absolut, subyektivitas, abstrak, empati, pertanyaan dan yang terpenting spiritual sangat menentukan kualitas pemikiran kita.

    ReplyDelete
  9. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari elegi di atas dapat disimpulkan bahwa sebenar-benar teman, yaitu hati nurani. Kita ibaratkan saja hati nurani sebuah kertas suci berwarna putih yang berisi kebaikan-kebaikan. Ketika kertas itu ada noda tinta walau satu titik saja akan terlihat jelas. Nah, saat kita bisa melihat titik itu bahwa itu perbuatan salah maka kebaikan, kesucian masih ada dalam hati nurani kita. Oleh karena itu, agar hidup lebih berkualitas, biasakan diri kita untuk selalu bersikap positif, menggunakan hati nurani, ideal, empati, dan berkembang menjadi pribadi yang positif.

    ReplyDelete
  10. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016 (S2)
    Hati nurani adalah bagian dari kehidupan kita. Hati nurani akan membawa kita untuk membicarakan yang realita, bukan fenomena. Hati nurani membawa kita untuk mengatakan apa adanya, bukan rekayasa Hati nurani akan menolong kita untuk jujur, bukan memanipulasi. Hati nurani akan membawa kita untuk menyatakan kebenaran, bukan sekadar retorika atau gaya bicara yang luar biasa Siapa pun kita, perlu dikoreksi secara seksama, apakah sebagai manusia kita sudah hidup suci dan kudus di hadapan Tuhan? Secara umum, pembentukan hati nurani itu ditentukan beberapa hal. Masa lalu seseorang sangat menentukan cepat atau lambatnya pembentukan hati nurani itu. Pendidikan keluarga atau pola hidup keluarga juga berperan dalam membentuk hati nurani seseorang. Kalau anak berbuat salah tidak ditegor, jika nanti mencuri pun dia tidak akan merasa bersalah, karena sudah biasa demikian pula pola budaya atau adat-istiadat yang dianut. Misalnya, apakah adatnya mengesahkan balas dendam? Sehingga kalau membalas dendam tidak akan merasa bersalah, malah sebaliknya, kalau tidak membalas dendam justru merasa salah. Hal seperti ini akan membentuk hati nurani yang tidak murni, baik, tetapi rusak dan kacau-balau.

    ReplyDelete
  11. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Dalam hidup manusia terdiri dari banyak bagian yaitu kualitas, relatif, ,mimpi, nurani, ka priori, intuisi, idealis, absolut, subyektif, empati, ruang dan waktu, pertanyaan, geisteswishenshaften, dan spiritual.
    Dari banyak bagian muara akhirnya merupakan spiritual dimana menjadi petunjuk dalam hidup manusia.

    ReplyDelete
  12. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Jika aliran sungai transenden ini adalah ilmu pengetahuan, maka untuk mendapatkan ikan-ikannya harus kita lalui dengan proses serta pikiran kritis dan hati yang bersih. Jembatan komte ini adalah gambaran jika seseorang menuntut ilmu dengan keinginan menggunkan cara yang praktis-praktis saja. Memang lehit bagus dan gagah didepan namun mudah koyah dan mati, karena sesungguhnya belajar itu harus sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya.

    ReplyDelete
  13. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. sulit bagi saya untuk memahami elegi ini, namun saya akan mencoba merefleksi berdasarkan sepemahaman saya setelh membaca elegi. Mohon dikoreksi jika terdapat kesalahan dalam merefleksi. Segala sesuatu itu punya sifat alamiah, segala sesuatu akan mengalir sesuai dengan ketetapan hukum alam. Terkadang ada hambatan yang menghambat, tapi karena sifat alamiahnya maka hambatan akan dapat diatasi dengan baik.

    ReplyDelete
  14. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Perkembangan ilmu pengetahuan dalam elegi di atas pada awalnya dianggap ada karena adanya wahyu atau dari Allah SWT atau bisa dikatakan ilmu pengetahuan itu berasal dari apa yang kita yakini, hal ini digambarkan oleh Sungai transenden. Sedangkan bendungan komte adalah pemikiran baru manusia mengenai ilmu dengan menggunakan metode ilmiah. Suatu ilmu akan benar jika melalui metode ilmiah. Maka kita semua yang sedang belajar menuntut ilmu harus bertolak lebih dalam bahkan harus mendalami secara luas ilmu yang kita pelajari. Sebagai contoh dalam mempelajari filsafat ini kitapun harus mempelajari dengan baik sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Karena akan sangat berbahaya jika kita hanya mempelajari sebagian saja.

    ReplyDelete
  15. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Sebenar – benarnya teman di hidup ini adalah hati nurani sendiri. Karena hati nurani mengetahui kapan kita melakukan hal baik dan buruk. Dan semua itu tergantung dari ini dalam mengambil keputusan apakah mengikuti hati nurani apa tidak. Oleh karena itu jangan sampai hati nurani ternoda hingga tidak peka akan perbuatan buruk, maka akan menjadi buruklah diri ini.

    ReplyDelete
  16. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    untuk mememcahkan persoalan maka dibutuhkan pemikiran yang jernih. Dan semua persoalan itu pada hakikatnya ada dalam pikiran kita, masalah yang besar dan kecil itu juga ada dalam pemikiran kita, jadi untuk mengatasi apakah masalah itu besar atau kecil tergantung dari cara kita memecahkan dan memikirkan masalah. Dan hati adalah pusat dari segalanya, dengan hati yang jernih maka persoalan apapun yang ada di dunia ini akan terselesaikan, karena di dalam hati yang jernih terdapat pemikiran yang bijaksana.

    ReplyDelete