Oct 14, 2011

Elegi Bendungan Komte dan Sungai Positive




Oleh : Marsigit

Sungai transenden:
Aku adalah sungai transenden. Aku mengalirkan air. Air sungaiku bisa mengalir kemana-mana, bisa melewati siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Tetapi engkau mungkin tak percaya bahwa aku juga bisa mengalirkan air ke bawah maupun mengalirkan air ke atas. Tetapi selebar-lebar sungaiku adalah pikiran kritismu. Maka sebenar-benar sumber air sungaiku adalah pada tempat yang paling dalam di pikiranmu. Sumber air sungaiku tidaklah tunggal. Sumber air sungaiku bisa diam bisa juga bergerak. Tetapi engkau mungkin tak percaya bahwa sumber air sungaiku bisa mengeluarkan air sekaligus memasukkan air. Itulah aku sungai transenden. Tetapi engkau mungkin juga tak percaya bahwa sumber airku dapat pula menjadi muaraku. Maka sebenar-benar diriku adalah muaraku sekaligus sumber air sungaiku.

Mencari ikan di sungai transenden

Pencari ikan:

Wahai sungai transenden, dimanakah aku bisa mencari ikan di sini?

Sungai transenden:
Disetiap tempat di sini terdapat ikan. Terserahlah apa yang engkau kehendaki. Ikan besar. Ikan kecil. Semuanya ada di sini.

Pencari ikan:
Lalu bagaimanakah aku bisa menangkap ikan-ikan itu?

Sungai transenden:
Gunakanlah akal dan pikiranmu?

Pencari ikan:
Janganlah engkau memperolok-olok diriku. Bukankah engkau tahu bahwa aku sudah menggunakan akal dan pikiranku.

Sungai transenden:
Sebenar-benar ikan adalah pikiranmu itu. Maka jika engkau tidak mampu menangkap ikan maka bukankah itu pertanda engkau belum menggunakan pikiranmu? Untuk itu cobalah engkau cari umpan agar engkau mampu menangkap ikan-ikan itu.

Pencari ikan:
Saya tidak mempunyai umpan. Kalau begitu apakah umpan-umpan dari ikan yang ada dalam sungai transenden itu?

Sungai transenden:
Umpannya adalah hati nuranimu. Jikalau engkau mengaku tidak mempunyai umpan bukankah itu pertanda engkau belum menggunakan hati nuranimu.

Pencari ikan marah kepada sungai transenden dan melaporkannya kepada komte

Pencari ikan:

Wahai sungai transenden, keterlaluan amat engkau itu. Aku bertanya sederhana, maka jawabanmu berbelit-belit. Aku bertanya pendek, maka jawabanmu panjang. Aku bertanya jujur maka jawabanmu telah menghinaku. Engkau bahkan telah menuduhku tidak menggunakan pikiran. Yang lebih menyakitkan engkau telah menuduhku tidak menggunakan hati nuraniku. Maka tunggulah balasanku. Aku akan melaporkan kesombonganmu itu kepada tuanku komte.

Pencari ikan:
Wahai tuanku komte, perkenankanlah diriku mengadukan kepadamu tentang kesombongan sungai transenden. Sungai transenden telah berlaku sangat sombong dan telah menghinaku.

Komte:
Wahai pencari ikan, sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa aku telah mengetahui semua yang engkau alami. Aku bahkan mendengar dan mengerti setiap dialog antara engkau dan sungai transenden. Ketahuilah sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa aku mengalami hal yang serupa dengan dirimu, lebih dari yang engkau alami. Maka ketahuilah bahwa aku sedang menyusun rencanaku dan kekuatanku untuk membuat bendungan. Oleh karena itu maka panggilah semua teman dan saudaramu untuk membantu aku membuat bendungan yang aku beri nama bendungan komte.

Komte bertitah:

Wahai para transenden, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai kualitas, saatnya sudah engkau berhent. Wahai relatif, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai para mimpi, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai nurani, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai a priori, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai intuisi, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai ideal, saatnya sudah engkau berhenti. ahai absolut, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai subyektif, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai abstrak, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai empati, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai ruang dan waktu, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai pertanyaan-pertanyaan, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai orang tua berambut putih, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai geisteswishenshaften, saatnya sudah engkau berhenti. Dengan bendunganku ini, maka engkau semua telah aku tangkap. Engkau semua itulah sebenar-benar ikan sungai transenden. Wahai pencari ikan, itulah sebenar-benar kebodohanmu, sehingga engkau tidak dapat mengenali ikan-ikannya sungai transenden. Itu disebabkan karena engkau hanya berlayar di atasnya saja, sedangkan engkau malas untuk menyelamnya. Maka ditipu dan dihina itulah perolehanmu.

Komte membuat sungai positive

Komte:

Wahai masa depanku, aku telah sediakan sungai yang lebih besar ketimbang sungai transenden. Lupakan saja sungai transenden itu. Inilah sebenar-benar sungai. Aku telah menciptakan sungai positive buatmu. Sungai positive inilah sebagai hasil karyaku dengan bendunganku ini, yaitu bendungan komte. Maka sebenar-benar sungai adalah sungai positive. Maka tumbuh dan berkembanglah benih-benih kedalam sungaiku ini.

Komte menabur benih:
Wahai benih objektif, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih kepastian, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih ilmiah, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih prosedur, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih logico, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih hipotetiko, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih induksi, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih manipulasi, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih kuantitative, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih simplifikasi, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih konkrit, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih eksperimen, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih formula, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih statistik, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih standard, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih terukur, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih reliabilitas, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih industri, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih keniscayaan, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih random, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih representasi, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih lambang, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih wadah, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih rekayasa, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih model, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih cuplikan, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih remote, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih mesin, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. . Wahai benih kapital, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih material, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih praktis, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih otomatis, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih teknologi, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih rumah kaca, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih monokultur, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai naturweistesshaften, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang.

Di muara sungai komte, tumpukan sampah menggunung dan banyak ikan-ikan mati

Sampah1:

Wahai sampah2 temanku, mengapa engkau tertidur di situ tak berdaya. Engkau terlihat mati tak mau, hiduppun enggan.

Sampah2:

Wahai sampah1 temanku, ketahuilah bahwa sebenar-benar diriku bukanlah ikan dari sungai positive. Jika aku dipaksa hidup di sungai positive ini maka tunggu waktu sajalah kematianku. Kalau boleh aku pun ingin bertanya, wahai sampah1 temanku. Kenapa pula, engkau tertidur di situ tak berdaya. Engkau terlihat mati tak mau, hiduppun enggan.

Sampah1:
Wahai sampah1 temanku, ketahuilah bahwa sebenar-benar diriku bukanlah ikan dari sungai positive. Jika aku dipaksa hidup di sungai positive ini maka tunggu waktu sajalah kematianku. Kalau boleh aku pun ingin bertanya, wahai sampah1 temanku. Kenapa pula, engkau tertidur di situ tak berdaya. Engkau terlihat mati tak mau, hiduppun enggan. Kalau boleh marilah kita bertanya, kepada ikan-ikan itu. Wahai ikan-ikan, kenapa pula, engkau tertidur di situ tak berdaya. Engkau terlihat mati tak mau, hiduppun enggan.

Ikan-ikan:

Wahai sampah1 dan sampah2 temanku, ketahuilah bahwa sebenar-benar diriku bukanlah ikan dari sungai positive. Jika aku dipaksa hidup di sungai positive ini maka tunggu waktu sajalah kematianku. Kalau boleh aku pun ingin bertanya, wahai sampah-sampah sungai positive temanku. Bagaimana pula kita bisa tetap hidup di sini. Itu ada orang tua lewat. Mari kita tanyakan kepadanya, bagaimana kita tetap hidup. Wahai orang tua, bukankah engkau termasuk yang sudah ditangkap oleh komte. Padahal aku tahu bahwa komte telah membuat bendungan besar. Tetapi kenapa engkau bisa sampai di sungai positive ini?

Orang tua berambut putih:

Itulah sebenar-benar diriku. Aku adalah pertanyaan bagi semuanya. Sehebat-hebat bendungan komte, tidak akan bisa mencegah diriku hadir dalam pertanyaanmu. Maka begitu engkau bertanya tentang masa depan hidupmu, maka aku hadirlah di hadapanmu. Sebenar-benar diriku adalah pertanyaan mereka. Sebenar-benar diriku adalah ilmu mereka, yaitu bagi semua ikan-ikan baik ikan-ikannya sungai transenden maupun ikan-ikannya sungai positive.

Sampah-sampah dan ikan-ikan bersama-sama bertanya:
Wahai orang tua berambut putih, jawablah pertanyaanku ini, bagaimana agar aku bisa tetap hidup.

Orang tua berambut putih:
Sebenar-benar dirimu adalah sama semua bagi yang lain penghuni sungai positive ini. Mereka semua juga terancan kematian sepertimu. Jika mereka tampak gagah perkasa, itu hanyalah bersifat sementara dan manipulatif. Namun sebenar-benar mereka sebetulnya sedang menuju kematiannya. Maka agar engkau tetap hidup, serta-merta menujulah ke rembesan air sungai transenden. Mengapa? Karena pada rembesan air sungai transenden itulah engkau akan berjumpa teman-temanmu.

Sampah dan ikan:
Siapakah sebenar-benar teman diriku yang akan membuatku tetap hidup.

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar temanmu, yaitu hati nuranimu. Temuilah kualitas, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah relatif, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah mimpi, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah nurani, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah ka priori, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah intuisi, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah ideal, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah absolut, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah subyektif, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah abstrak, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah empati, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah ruang dan waktu, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah pertanyaan, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah geisteswishenshaften, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah spiritual, karena itu bagian dari hidupmu.

Sungai positive semakin besar beserta cabang-cabangnya, bagaimana nasib sampah dan ikan-ikan itu?
Ruang dan waktu akan menjawabnya pada Elegi berikutnya.

25 comments:

  1. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Yang saya tangkap pada elegi diatas bahwa manusia memili pemikiran yang harus seimbang dengan hati nurani. Apabila hati dan fikiran tidak seimbang dan selaras maka bisa saja kita sulit menggapai tujuan yang yang kita miliki. Sebaiknya kita bisa memahami diri sendiri terlebih dahulu.

    ReplyDelete
  2. Elli Susilawati
    16709251073

    Ketika objektif, kepastian, ilmiah, prosedur, logico, hipotetiko, induksi, manipulasi, kuantitative, simplifikasi, konkrit, eksperimen, formula, statistik, standard, terukur, reliabilitas, industri, keniscayaan, random, representasi, lambang, wadah, rekayasa, model, cuplikan, remote, mesin, kapital, material, praktis, otomatis, teknologi, rumah kaca, monokultur, dan naturweistesshaften dibiarkan jalan sendiri-sendiri tanpa diringi dengan hati nurani maka hal-hal yang telah disebutkan di atas tidak lain hanyalah sebuah sampah. Tidak bermanfaat sama sekali bahkan dapat merusak ekosistem yang ada di dalamnya.

    ReplyDelete
  3. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Sungai transenden menggambarkan pemikiran seseorang yang diperoleh dari pemikiran kritis yang dapat mengubah yang tidak mungkin menjadi mungkin berdasarkan pengetahuan yang diperolehnya. Pengetahuan diperoleh dari berbagai sumber yang ada, tidak hanya satu melainkan banyak agar pemikiran yang kita punyai semakin kritis. Sedangkan komte menunjukkan kekuasaan yang tidak digunakan dengan semestinya, penguasa yang hanya mementingkan ego belaka tanpa memikirkan resiko apa yang terjadi. Sungai yang dibangun transeden bermuara kemana-mana dan semua mahluk hidup dapat hidup di dalamnya sedangkan dimuara sungai komtebanyak tumpukan sampah dan banyak ikan mati di dalamnya.

    ReplyDelete
  4. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Dengan membaca postingan ini saya menyadari bahwa hidup senantiasa membutuhkan keseimbangan. Ada kualitatif tentu ada kuantitatif. Tidak ada yang benar-benar mutlak dan tunggal. Pada elegi "bendungan comte" ini saya melihat bahwa konsep "bendungan komte" berupaya memberikan doktrin bahwa hidup tidak perlu hati nurani, tidk perlu relatif, dan seterusnya sesuai dengan statement postingan di atas yang saya kutip dan saya letakkan di bawah ini.
    "Itulah sebenar-benar temanmu, yaitu hati nuranimu. Temuilah kualitas, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah relatif, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah mimpi, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah nurani, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah ka priori, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah intuisi, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah ideal, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah absolut, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah subyektif, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah abstrak, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah empati, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah ruang dan waktu, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah pertanyaan, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah geisteswishenshaften, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah spiritual, karena itu bagian dari hidupmu"

    ReplyDelete
  5. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Berdasarkan “Elegi Bendungan Komte dan Sungai Positive” bahwa dalam menjalani kehidupan di dunia ini kita perlu hati nurani, dimana hati nurani akan menemani kita dalam mengambil sebuah tindakan dan keputusan. Perbanyak doa supaya hati nurani kita tidak terpengaruh dengan godaan setan.
    Jika seseorang mengkritik, memberi saran kepada kita ataupun menasehati kita, ambil hal yang positif mungkin mereka ingin kita menjadi yang lebih baik, kita harus berpikir positif.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  6. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Bagian terpenting dalam hidup adalah menyadari bahwa diri ini adalah sama dihadapan Allah SWT. Semua penghuni kehidupan ini berpeluang sama dalam kematian, yaitu pasti menghadapi dan menemuinya. Semuanya hanya bersifat sementara, dan hanya Allah SWT lah kekal adanya. Seperti ulasan dalam elegi di atas, bahwa “maka agar engkau tetap hidup, serta merta menuju lah ke rembesan air sungai transenden”. Sungai transenden dianalogikan sebagai tempat dimana kita dapat menemui apapun di dalamnya. Tempat dimana kita bisa menemukan tema-teman kita yang membuat kita terus hidup. Dan maksud dari teman tersebut adalah hati nurani dari diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  7. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    PPs. PM A 2017

    Kullu nafsin dzaiqotul maut. Setiap jiwa akn menemui kematian. Tidak memandang yang kuat, tampan, cantik, kaya, miskin, semuanya makhluk hidup pasti mati. Termasuk manusia. Manusia sebagai makhluk yang paing sempurna hendaknya berbuat baik di dunia sebagai bekal di akhirat.
    Selain itu, manusia perlu untuk selalu mengingat kematian. Kita sendiri tidak tau kapan kita mati, yang tau hanyalah Allah semata. Kita hendaknya selalu berbuat baik kapan pundan dimana pun kita berada agar sewaktu-waktu kita diambil nyawa oleh malaikat, kita dalam keadaan khusnul khotimah. Aamiin.

    ReplyDelete
  8. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Elegi bendungan komte dan sungai positif ini mengungkapkan tentang struktur kehidupan yang diciptakan oleh Auguste Compte. Struktur tersebut meletakkan agama pada struktur yang paling bawah, kemudian yang di atasnya adalah filsafat, dan yang paling atas ialah positif atau saintifik. Dengan kata lain, struktur ini telah mengutamakan kehidupan yang ilmiah, real dan nyata dengan mengabaikan spiritualitas. Struktur mempengaruhi dan mengancam struktur kehidupan yang lain, seperti halnya struktur kehidupan kita yang seharusnya meletakkan kehidupan spiritual sebagai struktur yang paling tinggi hingga kita tidak berdaya untuk bisa menghindarinya. Padahal ancaman tersebut semakin berkembang dan meluas. Oleh karena itu, agar selamat dapat menjalani kehidupan ini, kita harus senantiasa menggunakan akal pikiran dan hati nurani. Senantiasa memohon pertolongan Allah SWT.

    ReplyDelete
  9. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Pada postingan ini, merupakan bentuk keseimbangan dan kesinambungan antara pikiran, dan hati. Untuk menciptakan keputusan yang baik, maka diperlukan pemikiran yang baik pula, pikiran yang baik itu juga dilandasi dengan hati yang baik. Jika terlalu banyak pikiran kotor, maka kadang akan menghasilkan keputusan yang kurang tepat. Sehingga dalam mengambil keputusan baiknya dilandasi dengan pikiran yang positif, dan hatinya pun juga bersih, selain itu juga sesuai dengan ruang dan waktunya. Sehingga sebenarnya kita dapat menciptakan sendiri keputusan yang baik itu.

    ReplyDelete
  10. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Allah menganugerahkan kita akal, pikiran, dan hati nurani agar kita bisa menggunakannya untuk berpikir, bertindak, dan bersikap. Apabila kita belum mencapai apa yang kita inginkan, mungkin kita belum menggunakan akal dan pikiran kita. Lalu ketika sudah menggunakan akal pikiran kita, namun masih belum mendapatkan yang diinginkan, bisa jadi karena kite belum menggunakan hati nurani kita. Jika hanya menggunakan akal dan pikiran maka semua akan rusak dan berjalan tidak sebagaimana mestinya. Maka dari itu elegi ini menyampaikan tenatng keseimbangan antara hati dan pikiran. Gunakan hati sebagai pengendali sifat-sifat buruk yang dapat merusak diri kita sendiri. Sebaik-baik makhluk adalah yang dapat mengendalikan tindakan yang berasal dari akal dan pikiran dengan hati nurani.

    ReplyDelete
  11. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Kita setiap hari dan setiap saat punya fenomena komte. Fenomena komte yaitu perilaku manusia yang lebih memilih dunia daripada akhirat. Artinya adalah gaya hidup kekinian yang telah meniru kehidupan bangsa barat. Kapitalisme, hedonisme, utilitarisme, individualisme, dan berbagai isme-isme unsur dari powernow. Powernow adalah mementingkan duniawi dan menomor akhir kan agama, bahkan sama sekali menghilangkan agama. Hal ini bertentangan dengan pancasila yang dimilki oleh bangsa indonesia. Pancasila menomorsatukan agama sedangkan urusan duniawi setelahnya. Hal ini terlihat dari sila pertamanya yang berbunyi “Ketuhanan yang maha Esa”. Oleh karena itu sebagai manusia yang bijak seharusnya kita lebih waspada dan menekan fenomena komte.
    Jangan sampai kita seperti ikan-ikan kecil di dalam elegi tersebut. Ikan-ikan kecil yang secara sadar memakan sampah=sampah dan limbah dari fenomena komte, yaitu kapitalisme dan sebagainya. Ikan yang ekosistemnya berada di paling bawah. Yang selalu dieksploitasi dan dimanfaatkan. Kemudian dengan lugunya mau untuk diberi sampah-sampah hasil industri yang kita sedikit sekali mendapatkan manfaatnya. Jangan sampai seperti ikan kecil yang karena memakan limbah sehingga mati sia-sia. Mati sebagai ikan kecil yang berada di rantai makanan paling bawah. Yang tergiur dengan gaya hidup mewah tetapi tidak sadar telah terjerumus ke dalam lautan yang tercemar.

    ReplyDelete
  12. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Pembeda manusia yang satu dan yang lainnya adalah hatinya. Hati menjadi penetu sumber dan muara aliran yang dituju. Hati akan mengarahkan akal dan pikiran, bukan untuk bergerak mendekati berbagai manipulatif melainkan bergerak untuk mendekati harmoni-harmoni kehidupan. Hati yang bersih, pikiran yang jernih akan lahir dari iman yang kuat. Semoga kita senantiasa selalu memohon petunjuk dari-Nya.

    ReplyDelete
  13. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Pelajaran yang dapat dipetik dari elegi bendungan komte dan sungai positive bahwa untuk menggapai suatu hal harus menggunakan akal, pikiran, dan hati nurani. Selain itu, kita juga harus memahami dan mengenal baik sesuatu yang ingin kita capai tersebut, karena bagaimana akan bisa dicapai jika tidak mengenali seluk beluknya. Untuk itu, kita harus mendalami hal tersebut, tidak boleh setengah-setengah apalagi tidak ingin susah, yang ada malah kita nanti diperalat oleh objek lain yang berniat memanfaatkan kita untuk kepentingan pribadinya.

    ReplyDelete
  14. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Bendungan komte dengan segala propagandanya membuat yang terjebak di dalamnya mengesampingkan spiritual dan hanya mementingkan duniawi saja. Mereka melakukan segala sesuatu hanya menggunakan akal pikiran saja. Padahal, untuk menggapai sungai transenden, tidak cukup hanya menggunaakan akal pikiran saja, melainkan harus menggunakan hati nurani. Dengan hati nurani kita dapat berfikir jernih dan dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Hati nurani inilah yang akan membantu kita terbebas dari belenggu bendungan komte dan menuju nilai-nilai spiritual.
    Terima kasih banyak pak atas ilmunya.

    ReplyDelete
  15. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Membaca ulasan ini begitu mengalirkan semangat dalam jiwa. Alurnya begitu asyik untuk dibaca dan saya begitu menikmati saat membacanya. Ikan-ikan kecil yang ada di sungai ibarat manusia yang sedang mencari kehidupan. Manusia memiliki pilihan dalam hidup. Layaknya ikan yang berada di sungai yang keruh, ia masih bisa mencari aliran sungai yang jernih untuk ditinggali. Begitu halnya manusia yang dibekali dengan potensi begitu luar biasa di dalam dirinya, hendaknya memiliki keberanian untuk menjalani hidup dengan kualitas terbaik. Semua yang ada di dunia masih bersifat relatif. Jadi, setiap pilihan yang akan diambil tentunya disesuaikan dengan ruang dan waktunya. Satu hal yang mungkin menghinggapi pikiran manusia saat berada pada lingkungan yang kurang baik atau lingkungan yang menghambat dirinya untuk tumbuh, yaitu rasa ketakutan dalam dirinya. Ia takut untuk melakukan adaptasi dengan lingkungan yang baru, ia takut untuk melangkahkan kaki, dan takut untuk membuat suatu keputusan. Bertahan agar dapat terus hidup hingga akhir waktu yang telah digariskan oleh Tuhan juga hakikatnya dapat bersifat relatif. Contohnya, saat seseorang merasa senang dan menikmati hidupnya maka secara tidak sadar ia telah melakukan upaya untuk perpanjangan hidupnya sendiri. Perlu sekali untuk keluar dari zona nyaman. Sejatinya kehidupan juga bersifat dinamis. Hidup kita tergantung pada bagaimana diri kita menghayatinya.

    ReplyDelete
  16. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Berdasarkan elegi di atas, bendungan komte diibaratkan seperti halnya fenomena komte yang menganut aliran positivism. Komte menutup mata pada transenden, a priori, absolut, metafisika, dll. Ilmu pengetahuan didapat dari fakta-fakta yang teramati, sehingga positivisme menolak metafisika dan meletakkan agama di urutan paling bawah. Sampai saat ini pun bendungan komte tersebut sungguh masih ada. Maka sungguh sebenar-benar fenomena komte adalah berada pada diri masing-masing. Untuk itu sebenar-benar teman adalah hati nurani, adalah benar adanya. Memfilter apa yang seharusnya dan tidak seharusnya, apa yang baik dan buruk, apa yang benar dan salah, tergantung dari hati nurani masing-masing. Jika jernih hati nuraninya, maka baiklah hasilnya, namun jika keruh hati nuraninya maka buruklah hasilnya.

    ReplyDelete
  17. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Pada elegi ini, dapat dikatakann bahwa pada diri setiap orang punya hati nurani. Baik tidaknya seseorang tergantung dengan hati nuraninya, inilah pembeda diri kita dengan orang lain. Maka, perbaiki diri kita, menuju ridhonya, perbaiki hati agar kita menjadi orang orang yang di cintaiNya.
    Karena, hati nurani inti dari segalanya.

    ReplyDelete
  18. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Setiap manusia diberi kenikatan kelebihan berupa akal pikiran, yang di dalamnya tekandung nurani, untuk bepikir secara jernih, sesuai dengan kemampuan dan hati. Dari elegi di atas kita diharapkan untuk selalu berpikir positive menggunakan akal pikiran beserta nurani.

    ReplyDelete
  19. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Setelah saya membaca, hal yang saya pahami adalah bahwa aliran bendungan komte telah mematikan ikan-ikan di aliran sungai transcenden. Semua itu menggambarkan bahwa pada kehidupan ini positivis telah menyingkirkan hati nurani, relatif, mimpi, intuisi, ideal, absolut, subyektif, abstrak, empati, pertanyaan kemudian menggantinya dengan obyektif, kepastian, ilmiah, prosedur, induksi, manipulasi, konkrit, eksperimen, praktis. Banyak ikan-ikan mati di muara komte bermakna bahwa aspek-aspek dalam transcenden akan dimatikan oleh positivis diantaranya adalah berusaha mematikan hati dan spiritual. Usaha yang hendaknya dilakukan ikan-ikan adalah mencari aliran yang membuat hidup lagi itu bermakna bahwa agar hati dan spiritual tetap hidup maka segera mencari ilmu yang berlandaskan dengan spiritual agar selalu ingat dan menyadari akan kodrat manusia.

    ReplyDelete
  20. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi di atas, menurut saya ikan-ikan dalam elegi ini mungkin dapat dianalogikan dengan manusia zaman sekarang. Kita sejatinya secara naluri telah dilahirkan di sungai transenden atau dalam suasana kehidupan yang seharusnya menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat. Namun, akhir akhir ini muncul bendungan komte atau zaman powernow sekarang ini dengan pahamnya yaitu positivisme. Dimana mementingkan kehidupan dunia dengan cara mencari kebenaran rasional dengan saintifik dan menyampingkan aspek spiritualitas. Sunggu mngenaskan. Sehingga yang perlu kita ambil dari sini yaitu kita haruslah sadar akan perkembangan yang sangat pesat dalam segala aspek tetapi janganlah mengabaikan aspek spiritualitas. Semoga kita senantiasa waspada dan senantiasa diberi petunjuk dalam kebenaran.

    ReplyDelete
  21. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas ulasan yang menarik di atas. Pelajaran yang dapat saya ambil adalah aliran bendungan komte telah mematikan ikan-ikan di aliran sungai transenden. Semua itu menggambarkan bahwa pada kehidupan ini positivis telah menyingkirkan hati nurani, relatif, mimpi, intuisi, ideal, absolut, subyektif, abstrak, dan empati kemudian menggantinya dengan obyektif, kepastian, ilmiah, prosedur, induksi, manipulasi, dan yang tertera pada konsep saintifik. Maka berpikirlah menggunakan akal dan pikiran dengan berlandaskan pada hati dan nurani agar ilmu yang kita dapatkan mendapatkan karunia dan keberkahan dari Sang Empunya Ilmu. Dengan hati nurani pula lah kita dapat berfikir jernih, dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, serta membantu kita terbebas dari belenggu bendungan komte dan menuju kemurnian nilai-nilai spiritual. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  22. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Menarik bagi saya,sehingga saya sempat berhenti membaca elegi ini untuk mencari siapa dan seperti apa sebenarnya tokoh Komte ini. Wah, kagum saya melihat teori-teori yang dihasilkannya. Wah tapi kaget saya mendapati kisah yang cukup tragis. Ia sempat masuk rumah sakit jiwa. Wah, sungguh saya merasa keseimbangan dalam hidup memang dibutuhkan. Melulu berpikir sambil berdoa dan berserah bisa membuat kita gila ternyata.

    ReplyDelete
  23. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Hati manusia memiliki peranan yang sangat besar. Ketika seseorang sudah dan sedang bingung dengan pemikirannya, maka hanyalah hati yang dapat ditanya untuk mennetukan keputusan. Oleh karena itu saat kita dalam memutuskan suatu perkara hendaknya selain menggunakan pikiran juga dapat menggunakan hati untuk menyeimbangkan dan lebih memantapkan bahawa keputusan yang diambil tidaklah keliru. Logika memang bisa dipikirkan oleh akal namun perasaan hanyalah hati yang dapat menentukan.

    ReplyDelete
  24. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Sungai transenden di ibaratkan lingkungan hidup dan ikan-ikan merupakan manusia yang sednag hidup di lingkungan tersebut. Sejatinya trassenden merupakan lingkungan hidup yang nyata didalamnya ada berbagai keuntungan yang dijemput dengan tantangan yang tentunya tidak gampang. Nah, hal ini sama sekali bukan kendala namun hal ini sebagai tantangan untuk meningkatkan potensi diri karena sejatinya kalo kita hidup di lingkungan sendiri tanpa tantangan seperti komte yang membangunkan kolom untuk pengikutnya, jelas saja ikan-ikan mati dan terdapat sampah karena ikan-ikan mati ibarat manusia yang hidup di zona nyaman yang jarang sekali atau malah sama sekali tidak pernah menghadapi tantangan sehingga pemikiran mereka cenderung tidak terasah. Ileh karenanya, sebaik-baik lingkungan adalah lingkungan yang membawa kita ke dalam perubahan menuju arah positif. Terima Kasih

    ReplyDelete
  25. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Kehidupan itu harus balance. Hidup tidak selamanya objektif, tetapi sebagian pula subjektif. Hidup tidak selamanya kepastian, tetapi sebagian pula relatif. Hidup tidak selamanya kuantitatif, tetapi sebagian pula kualitatif. Hidup tidak selamanya prosedural, tetapi sebagian pula intuitif, dan lain-lain. Begitulah hidup yang seharusnya menyeimbangkan antara pikiran dan hati. Mengikuti aliran sungai Compte jika tanpa landasan hati nurani / spiritual bisa saja tersesat bahkan sampai tidak percaya akan Tuhan. Tanpa landasan hati nurani, aliran Compte hanya melihat kenyataan di depannya secara objektif, teknologi, kepastian, tanpa melihat ada sesuatu yang abstrak, kualitatif, bahkan ghaib yang terlibat pula dalam kehidupan ini.

    ReplyDelete