Oct 14, 2011

Elegi Menangkap Anomali




Oleh Marsigit

Dilema:

Pilih mana ya? Diriku atau mereka? Tenaga atau pikiranku? Perasaanku atau faktanya? Hak atau kewajibanku? Terlambat atau hasil yang baik? Tepat waktu tetapi hasil kurang baik? Diam atau bermasalah? Bicara atau juga bermasalah? Tua atau mengaku muda? Muda atau mengaku tua? Punya atau mengaku tidak punya? Tidak punya atau mengaku punya? Berbohong sedikit tetapi selamat? Jujur tetapi beresiko? Benar tetapi kurang baik atau baik tetapi kurang benar? Wah hidup kelihatannya bertambah rumit.

Ambivalen:
Ingin mendengar malah terpaksa harus melihat. Ingin melihat malah terpaksa harus mendengar. Ingin menulis malah terpaksa harus membaca. Ingin membaca malah terpaksa harus berbicara. Ingin berbicara malah terpaksa harus mendengar. Ingin memprotes malah diprotes. Ingin mendidik malah dikritik. Ingin membangun malah dikatakan merusak. Ingin menyudahi malah terpaksa harus memulai. Wah hidup kelihatannya bertambah rumit.

Kontradiksi:
Ingin mempunyai dan tidak mempunyai. Ingin melangkah dan tidak melangkah. Ingin diam dan tidak diam. Ingin bicara dan tidak bicara. Ingin menulis dan tidak menulis. Ingin tidur dan tidak tidur. Ingin protes dan tidak protes. Ingin cepat dan tidak cepat. Ingin ngono dan tidak ngono. Wah hidup kelihatannya bertambah rumit.

Munafik:
Ingin jujur tetapi terpaksa harus memfitnah. Ingin konsisten tetapi terpaksa harus melanggar. Ingin ikhlas tetapi terpaksa harus mengumpat. Ingin terhormat tetapi terpaksa harus nista. Ingin mengajak kebaikan kepada orang lain tetapi terpaksa dengan cara yang kurang baik. Ingin memberi tetapi terpaksa harus meminta. Ingin membangun tetapi terpaksa harus merusak. Wah hidup kelihatannya bertambah rumit.

Komplikasi:
Gula ini adalah obat bagi penyakitku tetapi gula ini menyebabkan diriku sakit. Aku harus bergerak agar aku sembuh dari penyakitku, tetapi gerakanku akan menyebabkan kematianku. Aku harus bicara tetapi bicaraku menyebabkan diriku harus terdiam. Lampu harus dinyalakan tetapi akan menyebabkan kematiannya. Wah hidup kelihatannya bertambah rumit.

Paralogis:
Dewa ngeja wantah. Anggota yang bukan anggota. Teman sekaligus lawan. Konsisten yang tak konsisten. Penuh yang tak penuh. Menjumlah untuk mengurangi. Mengalikan untuk membagi. Menabung untuk meminjam. Mundur untuk maju. Paradoks sebagai ilmu. Mitos sebagai logos. Logos sebagai mitos. Pintar yang bodoh. Bodoh yang pintar. Ketentuan untuk dilanggar. Larangan untuk dilaksanakan. Penampakan yang bukan penampakan. Atas yang bawah. Bawah yang atas. Depan yang belakang. Belakang yang depan. Wah hidup kelihatannya bertambah rumit.

Antinomi:
Awal ini sekaligus akhir. Awal ini ada dan tidak ada. Awal yang bukan awal. Waktu itu diskret dan kontinu. Akhir ini ada dan tidak ada. Akhir yang bukan akhir. Pikiranku rasional dan empiris. Penampakan yang tidak tampak. Diriku yang bukan diriku. Ruang tiada ruang. Waktu tiada waktu. Kosong tiada kosong. Ada tiada ada. Dalam yang dangkal. Dangkal yang dalam. Luas yang sempit. Sempit yang luas. Sebentar yang lama. Lama yang sebentar. Lazim yang aneh. Aneh yang lazim. Besar yang salah. salah yang benar. Baik yang buruk. Buruk yang baik. Mengerti yang tak mengerti. Tak mengerti yang mengerti. Pasti yang relatif. Relatif yang pasti. Besar yang kecil. Kecil yang besar. Kuat yang lemah. Lemah yang kuat. Terang yang gelap. Gelap yang terang. Basah yang kering. Kering yang basah. Satu yang banyak. Banyak yang satu. Wah hidup kelihatannya bertambah rumit.

Anomali:
Memberantas korupsi dengan korupsi. Membangun dengan merusak. Bersedekah untuk memperoleh keuntungan. Kestabilan yang goyang. Masyarakat yang sehat tetapi sakit. Inflasi yang berdeflasi. Harga murah tetapi mahal. Anti nepotisme dengan nepotisme. Anti kolusi dengan kolusi. Reformasi dengan anti reformasi. Inovasi dengan status quo. Desentralisasi yang tersentralisasi. Halal yang haram. Asli yang palsu. Terdakwa yang mendakwa. Hakim yang disidang. Guru yang cabul. Mahasiswa yang tawuran. Penegak hukum si pelanggar hukum. Kejujuran yang bohong. Kebaikan yang buruk. Kaya yang miskin. Senyuman sang penangis. Kokoh yang rapuh. Kompak yang berantakan. Penjaga yang merampok. Pembersih yang mengotori. Petunjuk yang mengacaukan. Pahlawan yang kesiangan. Wah hidup kelihatannya bertambah rumit.

25 comments:

  1. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Hidup ini penuh dengan teka-teki, didalam hidup terdapat berbagai sifat, mungkin kita pernah mengalami dilema, ambivalen, kontradiksi, munafik, komplikasi, paralogis, anatomi serta anomali. Apakah kita sudah termasuk ke dalam anomali? Tunggu,tunggu,tunggu bukan kah kita masih memiliki hati nurani serta sandaran terhadap Tuhan YME. Maka sebagai tuntunan hidup untuk menghindari masuk kedalam anomali haruslah membuka hati nurani serta bersandar pada ketentuan Allah SWT.

    ReplyDelete
  2. Elli Susilawati
    16709251073

    Dalam kehidupan kita mungkin pernah mengalami satu dari sifat dilema, ambivalen, kontradiksi, munafik, komplikasi, paralogis, antinomi, dan anomali. Bukan hanya pada diri sendiri tetapi juga pada bangsa ini. Kenapa hal ini bisa terjadi?. Mungkin karena sedikitnya ilmu kita dan rendahnya dimensi kita untuk memilih satu dari sekian banyak kemungkinan. Atau mungkin juga karena lemahnya Iman kita sehingga hal ini bisa terjadi. Mungkin, mungkin, dan mungkin inilah yang bisa saya simpulkan. Tunggu, Apakah saya sudah termasuk ke dalam anomali?

    ReplyDelete
  3. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Anomali dalam kehidupan pasti ada. Semua yang tidak mungkin pasti mungkin di dunia ini. Anomali tercermin ketika seseorang tidak mampu lagi menguasai apa yang ada dalam dirinya. Semuanya ingin diraihnya dengan menghalalkan segala cara. Maka dengan mengisi hidup kita dengan hal-hal yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain kita akan terhindar dari anomali-anomali yang ada. Dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT kita akan jauh atau terhindar dari anomali yang ada saat ini. Jauhkan sifat sombong dari diri kita.

    ReplyDelete
  4. Vidiya Rachmawati
    PM A / 17709251019

    Elegi menggapai anomali menggambarkan manusia yang dihadapkan pada pilihan yang aneh. Misal memberantas korupsi dengan korupsi, penegak hukum yang melanggar hukum, senyum para penangis, dsb. BAhwa sesungguhnya masing-masing dari hal tersebut saling berkontradiksi. Mana ada membrantas korupsi dengan korupsi lagi yang ada semakin hancur negeri ini. Mana ada penegak hukum justru melanggar hukum sendiri. MAna ada ornag menangis senyum. Namun kenyatannya hal ini semua terjadi di dunia ini. Berbagai pilihan yang dihadapkan dalam kehidupan manusia membuatnya dilema. Mebuatnya bingung untuk menetukan sikap. Membuatnya ragu dalam mengambil keputusan. Jangan mudah terkecoh dan tergoda pilihan yang menyenangkan. Percayalah bahwa satu kebaikan akan membuka pintu kebaikan lain. Lihatlah dan dengarlah dengan hati.

    ReplyDelete
  5. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Di dunia ini tidak ada yang berubah, di dunia ini pula tidak ada yang tetap. kita tidak akan pernah bisa menyebutkan semua perbedaan antara diri kita dengan orang lain. Karena orang itu sifat, sifat selalu berubah. Diri kita yang tadi berbeda dengan diri kita yang sekarang. Bahkan berbeda pula dengan diri kita yang nanti. Demikian juga orang lain pun begitu. Dulu jelas beda dengan sekarang. Dulu baik, sekarang buruk, mungkin saja. Dulu jahat sekarang baik, juga mungkin. Oleh karena itu, agar perubahan yang terjadi selalu positif, maka perlu kita meneguhkan hati dan pikiran agar selalu pada jalan yang benar. Seperti dalam mencari ilmu itu juga begitu, perlu adanya keikhlasan hati dan pikiran dalam menuntut ilmu agar kita tidak terjerumus pada kehidupan yang semakin rumit. Serta agar diri kita yang sekarang selalu menjadi lebih baik dari yang dulu.

    ReplyDelete
  6. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    PPs. PM A 2017

    Elegi di atas mencerminkan kehidupan saat ini. Banyak sekali kontradiksi, anomali, kemunafikan yang ada. Sulit membedakan mana yang sebenar-benarnya baik dan yang sebenar-benarnya buruk, yang fakta dan yang pura-pura, seoalh-olah hidup ini sandiwara.
    Intinya, sebaiknya manusia itu kembali intropeksi diri bahwa setiap manusia yang diciptakan di dunia ini merupakan khalifah. Menentramkan bumi(dan seisinya) bukan merusak, mengamankan bumi (dan seisinya) bukan membahayakan.

    ReplyDelete
  7. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    "Elegi menggapai anomali". Perbincangan dengan tulisan yang membawa saya berkata "wah benar juga" di akhir setiap paragraf.
    Benar juga. Di dunia ini kehidupan adalah kontradiktif, adalah komplikasi, adalah paralogis, dan adalah lainnya lagi sesuai yang ada pada postingan ini yang saya benar-benar setuju.
    Pada bagian anomali, saya membaca "Anti kolusi dengan kolusi". Memang karena keadaanya atau karena saya seorang yang sedang negative thingking, saya berpikir bahwa hidup saat ini penuh dengan liku liku anomali.

    ReplyDelete
  8. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Anomali merupakan penyimpangan atau keanehan yang muncul karena berbagai faktor. Di dalam hidup ini, berbagai permasalahan muncul dan harus segera diatasi. Namun, berbagai anomali justru terjadi dalam kehidupan ini, permasalahan-permalahan yang muncul tersebut justru diselesaikan dengan cara-cara yang tidak benar, bahkan bukanya memberi solusi justru menimbulkan permasalahan baru. Keadaan tersebut membawa kita pada dilema, mana jalan yang akan kita pilih.

    ReplyDelete
  9. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Anomali merupakan keanehan bahwa di dunia ini segala sesuatu bersifat kontradiksi. Dirimu pun kontradiksi, hidup mu juga munafik. Maka segala sesuatu hekdaknya diawali dengan doa kepala Allah SWT dan niat, semoga Allah memberi petunjuk segala sesuatunya yang tepat untuk kita.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  10. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Rumitnya persoalan yang terjadi dalam kehidupan ini tidak lain dan tidak bukan adalah karena manusia itu sendiri. Banyak kerumitan yang terjadi namun diselesaikan dengan kerumitan pula. Sebagai analoginya, ketika kita ingin memadamkan api, namun yang kita gunakan adalah bahan bakar minya. Tidak semakin mengecil namun semakin membesar. Begitulah hidup, ada kebaikan ada pula keburukan. Pilihan terbaik yang bisa kita lakukan hanyalah tidak memperburuk keadaan yang sudah buruk. Jika bisa malah membantu memperbaiki keadaan tersebut sehingga anomali kehidupan ayang ada dapat berkurang.

    ReplyDelete
  11. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Banyak kejadian di dunia ini yang ternyata saling beranomali. Penegak hukum justru melanggar hukum, contohnya: hakim yang disuap. Penjaga yang merampok, contohnya para pembantu atau security yang justru mencuri barang-barang di rumah milik majikannya. Halal yang haram, contohnya: umroh itu halal, bahkan dianjurkan. Tetapi banyak para petinggi kita melakukan umroh dengan hasil korupsi. Itulah keburukan-keburukan yang seolah terbungkus oleh kebaikan. Untuk itu, marilah kita niatkan semua aktivitas hidup ini kita karena Allah SWT. Kalau niaatnya sudah baik dan sempurna, InsyaAllah aktivitas yang dilakukan juga baik.

    ReplyDelete
  12. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  13. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Elegi ini menggambarkan berbagai disharmoni fungsi yang terjadi di tengah kehidupan. Banyak profesi yang berjalan bertolakbelakang dengan perannya. Keselahan dibrantas dengan kesalahan. Kejahatan dilakukan secara berjamaah. Cover yang bagus berisi kejelekan. Itulah sederetan penyimpangan akibat manusia mengejar kesenangan dunia. Padahal sebenar-benar kesenangan adalah kesenangan akhirat.

    ReplyDelete
  14. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Anomali. Sesuatu yang tidak sama dengan yang seharusnya/ penyimpangan dari normal. Kehidupan sekarang tambah rumit saja. Korupsi diberantas dengan korupsi. Bagaimana Allah tidak murka dengan manusia-manusia di zaman ini, niat bersodaq karena ada embel-embelnya, seharusnya menjadi panutan (guru) malah bertindak tidak senonoh, seharusnya menjatuhkan hukuman (hakim) malah di hukum, seharusnya melindungi keluarganya malah membunuh keluarganya, seharusnya belajar (siswa) malah bolos, seharusnya jujur malah berbohong, seharusnya, dst.
    Ayok segera tangkap anomali individu, setidaknya kita mulai dari diri kita sendiri, ala bisa karena biasa.

    ReplyDelete
  15. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Semua orang mungkin pernah menghadapi keadaan yang tak sesuai dengan harapannya. Ini membuat hidup seseorang mungkin mengalami dilema, kontradiksi, ambivalen, munafik, komplikasi, paralogis, anatomi serta anomali. Tapi untuk mengatasinya tentu kembali lagi pada masing-masing individu, apakah ia akan menghadapinya dengan tuntunan dan petunjuk Allah SWT, ataukah ia hanya memikirkan cara tersingkat dan termudah bahkan merugikan orang lain agar semua persoaalannya beres. Hidup itu adalah pilihan dan pilihan-pilihan itulah yang akan menentukan kemana kita nantinya.

    ReplyDelete
  16. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Dari elegi menangkap anomaly di atas menggambarkan adanya tesis dan anti tesis dalam setiap pikiran, perbuatan, sifat, maupun sikap dalam kehidupan. Untuk menangkap anomaly pada elegi ini adalah dengan melakukan hal yang kontradiksi. Maka agar hidup tidak menjadi rumit, memilih sesuatu harus berdasarkan sesuatu yang baik dan positif dan memberikan manfaat kepada diri maupun orang lain. Dengan begitu sesuatu yang negatif tidak semakin memberikan dampak negatif pula.

    ReplyDelete
  17. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Membaca ini, muncul dalam benak saya berbagai pertanyaan. Bagaimana cara seseorang agar dapat terlepas dari anomali yang ada?. Namun, apakah itu mungkin terjadi? Apakah selama masih di dunia anomali akan selalu menjadi bayang-bayang manusia? Saya penasaran dengan jawaban-jawabannya dan semoga saya menemukan jawaban tersebut.

    ReplyDelete
  18. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Elegi Menangkap Anomali, dari postingan di atas dapat saya simpulkan bahwa anomali adalah suatu penyimpangan dari yang seharusnya. Dalam kehidupan kita banyak disharmoni yang terjadi. Antara pernyataan dengan tindakan tidak selaras. Ini telah terbukti, contohnya ada orang yang melarang kita untuk suatu hal, tapi suatu ketika ia bisa melakukan itu semua. Anomali ini sudah menjadi kebiasaan setiap orang dalam kehidupan yang ada di dunia ini.

    ReplyDelete
  19. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Elegi menangkap anomali, sebagai seorang manusia kita pasti sering berhadapan dengan situasi yang menyulitkan dalam mengambil keputusan. Terkadang dalam mengambil keputusan menimbulkan banyak pertentangan, baik itu dari dalam diri kita ataupun dengan orang lain. semoga kita senantiasa bijak dalam mengambil keputusan.

    ReplyDelete
  20. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Terima kasih atas ilmu yang diberikan. Anlomali adalah menghilangkan sesuatu dengan sesuatu itu. Disini kita juga belajar tentang bahwa dunia ini sebenarnya separuh ini dan separuh itu. saling bertolak belakang namun berdampingan, saling bertolak belakang namun sebenarnya berada diperbatasan. Yaitu dilema, ambivalen, kontradiksi, munafik, komplikasi, paralogis, antinomi, dan anomali ini sebagai contoh yang berbeda namun berada diperbatasan.

    ReplyDelete
  21. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  22. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas ilmunya. Menurut saya anomali merupakan penyimpangan atau keanehan yang terjadi atau dengan kata lain tidak seperti biasanya. Anomali juga sering di sebut sebagai suatu kejadian yang tidak bisa diperkirakan sehingga sesuatu yang terjadi akan berubah-ubah dari kejadian biasanya. Sungguh miris, niat hati melakukan segala yang positif namun dengan cara yang tidak sesuai dengan ruang dan waktunya. Saya teringat dengan pemerintah Indonesia saat ini. Niat membangun namun semua kekayaan kita dijual kepada para aseng, niat mensejahterakan rakyat namun perlahan kita juga dijajah. Saya tidak habis pikir, apakah tidak ada cara lain untuk mewujudkan tujuan dan cita-cita dengan cara yang lebih luhur dan baik, apakah sama dengan "berbohong demi kebaikan", Wallahu'alam bishowab, semoga kita selalu dijaga Allah dari perbuatan keji dan mungkar, serta memberi petunjuk disetiap kehidupan kita. Amin.

    ReplyDelete
  23. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Hidup memang semakin lama semakin rumit. Dilema, ambivalen, kontradiksi, komplikasi dan teman-temannya sebenarnya mengajak kita menyadari bahwa kerumitan hidup terkadang kita yang membuat sendiri. Sebenar-benar hidup kita adalah pilihan, maka saya bingung mengapa banyak yang memilih untuk membuat hidupnya menjadi lebih rumit. Terlibat dalam korupsi, melanggar peraturan, melakukan cara bodoh seperti plagiarisme supaya kelihatan pintar. Manusia sadar hal yang ia lakukan akan membuat hidupnga menjadi lebih rumit, tapi masih saja dilakukan.. sungguh tak habis dipikir

    ReplyDelete
  24. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Setiap orang memiliki pemikiran dan arah masing-masing. Apabila keadaan seseorang memperlihatkan adanya ketidakcocokan antara kenyataan dari kondisi mayoritas masyarakat atau sering disebut anomali akan menyebabkan konsekuensi. Jika seseorang memandang anomali tersbeut dengan pandangan negatif maka akan menimbulkan krisis kepercayaan diri dan dia akan merasa canggung untuk beradaptasi dengan yang lain. Namun apabila anomali dikelola dengan hal yang positif, maka anomali tersebut akan berperan baik dalam memunculkan sebuah ide baru bahkan penemuan yang belum diteliti oleh orang lain.

    ReplyDelete
  25. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Elegi di atas membrikan gambaran atas berbagai komponen hidup yang kadang sulit untuk di mengerti. Menagkap anomali berarti berusaha mempelajari dan memahami berbagai keadaan dalam hidup seperti adanya dilema, ambivalen, kontradiksi, munafik, komplikasi, paralogis, antinomy. Keadaan –keadaan itu bukan untuk di hindari pula bukan untuk di tiadakan. Namun, smeua harus kita hadapi dengan berbagai bekal yang telah kita miliki. Terima Kasih.

    ReplyDelete