Oct 14, 2011

Elegi Menggapai Nilai Diri

 
 Oleh Marsigit

Berikut saya nukilkan sebuah pertanyaan dari Sdr ANI ALKHAFI :
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Dalam setiap individu itu ada yang mengatakan bahwa manusia dapat menjadikan dirinya terhebat dan mengatakan dirinya termulia, apa itu juga sifat kontradiktif? Bapak yang terhormat, saya ingin tahu bagaimana caranya menjadikan diri kita sebagai perfilsafat (menyatu dan dapat memunculkan sesuatu)?
Wassalamua'alaikum Wr.Wb.



Jawaban saya (Marsigit)
Sdr Ani Alkhafi...terdapat riwayat dalam sejarahnya bahwa sejak dulu terdapat manusia melakukan perjuangan baik secara sendiri maupun secara bersama untuk mengangkat derajat dirinya maupun golongannya.
Keberhasilan yang dia atau yang mereka peroleh, secara filsafati, akan mengukuhkan kedudukan dirinya atau kelompoknya menjadi "subyek" yang kuat terhadap "obyeknya".
Obyeknya bisa berupa individu yang lainnya, bisa berupa kelompok manusia yang lainnya, atau bahkan bisa segenap alam lingkungan sekitarnya.
Kekuatan suatu subyek atau kelompok subyek terhadap yang lainnya jika tidak diimbang dengan tata aturan yang mengikatnya maka akan melahirkan berbagai bentuk eksploitasi oleh manusia yang satu atau oleh kelompok yang satu terhadap manusia yang lain atau kelompok manusia yang lain.
Singkatnya adalah eksploitasi subyek atas obyeknya. Hal yang demikian jika di ekstensikan maka bisa menimbulkan disharmoni kehidupan di atas bumi atau bahkan malapetaka.
Jangan salah paham, bahwa eksploitasi subyek atas obyeknya adalah dalam pengertian dalam sedalam-dalamnya, dan luas seluas-luasnya.
Artinya ia dapat terjadi eksploitasi oleh subyek kakak terhadap obyek adik, subyek guru terhadap obyek siswa, subyek dosen tarhadap obyek mahasiswa, subyek negara kuat terhadap obyek negara lemah, ..dst.

Dalam tata pergaulan internasional, wujudnya dapat kita lihat adanya era penjajahan dan peperangan yang tidak adil dan tidak imbang sampai sekarang.
Jika hal demikian terjadi pada individu seorang diri dalam kaitannya dengan Tuhan nya, maka yang terjadi adalah munculnya ego yang berlebihan sampai kesombongan yang tidak terampuni.
Banyak tulisan menceritakan bagaimana mulai dari Spinoza sampai dengan Syeh Siti Jenar, manusia merasa mempunyai super ego sehingga melewati batas sampai kepada pengakuan dirinya sebagai Tuhan itu sendiri.
Maka yang terjadi adalah hukuman yang setimpal bagi kesombongannya. Sungguh kesombongan itu adalah dosa pertama dan paling besar bagi manusia.
Oleh karena itu di dalam diriku tidak pernah terpikir adanya manusia terhebat dan termulia kecuali hal demikian berada dalam "hatiku", yaitu keyakinanku bahwa manusia demikian itu tidak lain tidak bukan adalah Nabi Besar Muhammad SAW. Amiin.
Sdr Ani Alkhafi..tentang nilai seorang diri, aku lebih suka mengatakan bahwa nilai atau hargamu itu adalah keunikanmu.
Tiadalah makhluk di dunia ini yang sama dengan dirimu, bahkan saudara kembarmu sekalian jika engkau punya.
Maka dunia akan bersukaria jika sempat melihat dan mendengar potensimu yaitu keunikanmu.
Tetapi ingatlah keunikanmu itu adalah ada dikarenakan orang yang lain. Maka tiadalah ada artinya dirimu itu jika tanpa orang lain. Artinya, nilai atau hargamu itu ditentukan oleh orang lain pula.
Maka bacalah elegi-elegi yang lain. Elegi-elegi itu disusun tidak hierarkhis, artinya yang lama dengan yang baru mempunyai hak yang sama untuk dibaca.
Filsafat itu adalah buah dari membaca, belajar dan pengalaman hidup. Filsafat adalah refleksi. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi kegiatan berpikir manusia itu adalah kegiatan refleksi diri.
Maka berfilsafat dengan tiada pengalaman itu artinya "kosong"; sedangkan pengalaman hidup jika tidak direfleksikan (di filsafatkan) sama artinya dengan "buta".
Itulah sungguh, orang yang paling merugi didunia adalah orang yang kosong dan buta.
Sedangkan "tidak kosong dan tidak buta" itulah sebenar-benar perjuanganmu sampai akhir hayatmu.
Ketahuilah bahwa mencari ilmu itu perlu berbekal imu. Mencari hidayah itu juga perlu berbekal hidayah.
Baik urusan dunia dan akhirat, keduanya adalah ikhlas adanya, yaitu ikhlas dalam pikiranmu dan iklhas dalam hatimu.

Tidakkah engkau menyadari bahwa serendah-rendah derajat orang mencari ilmu adalah jika ilmunya hanya digunakan dan bermanfaat bagi dirinya sendiri.
Sedangkan engkau bisa meningkatkan derajat pencarian ilmumu jika dia dapat digunakan atau bermanfaat bagi orang lain.
Namun, ketahuilah bahwa setinggi-tinggi derajat orang mencari ilmu adalah jika usahanya itu bersifat "sistemik", artinya ilmu atau pengetahuannya bermanfaat bagi orang banyak dan tidak dibatasi oleg ruang dan waktu, artinya tidak hanya bermanfaat bagi bangsanya tetapi juga bagi bangsa-bangsa di dunia.
Setinggi-tinggi pencapaian karirmu adalah jika engkau telah bisa masuk pada jajaran pergaulan internasional, berkontribusi secara aktif dan tidak hanya sekedar menjadi obyek. Itulah tujuan jangka panjangmu dan juga para muridku semua bagi yang menyadarinya.
Oleh karena itu maka sekarang engkau telah mulai memahami mengapa dalam perkuliahan filsafat ini dikembangkan belajar mengajar melalui internet atau blog.
Maka setiap jejakmu dan juga jejakku serta jejak-jejak temanmu dan murid-muridku akan secara langsung dan terus-menerus dapat diakses oleh orang lain kapanpun dan dimanapun.
Jika engkau telah menyadari hal ini semua dan juga telah menghayatinya maka itulah Rakhmat Tuhan YME telah diturunkan kepada dirimu dan juga diriku dan juga diri orang-orang yang pandai bersyukur. Amiin.
Maka baca dan renungkanlah. Amiin


36 comments:

  1. Dini Arrum Putri
    18709251003
    S2 P Math A 2018

    Ketika membaca elegi ini saya bisa menyimpulkan sekaligus belajar bahwa sebenar-benarnya dirimu hidup pasti akan membutuhkan orang lain, dan sehebat-hebatnya dirimu hidup itu juga karena ada orang lain dan tiadalah gunanya jika engkau merasa sombong karena kesombongan hanya akan membawa kita ke dalam keburukan. Sehebat-hebatnya dirimu mencari ilmu, tidak akan bermanfaat jika tidak berbagi. Dan sebenar-benarnya hidup adalah untuk selalu berikhtiar kepada Allah.

    ReplyDelete
  2. Ibrohim Aji Kusuma
    18709251018
    S2 PMA 2018

    Di atas langit masih ada langit. Sehebat apapun seseorang pasti ada yang lebih hebat lagi. Oleh karena itu, jangan pernah sombong. Setiap orang pasti masih membutuhkan bantuan orang lain. Tidak ada orang di dunia ini yang bisa mencukupi semua kebutuhannya sendiri. Maka, bisa jadi sebenar-benar orang bodoh/tidak mengerti adalah orang yang sombong. Karena semakin orang itu mengerti maka ia akan makin merasa tidak tahu apa-apa.

    ReplyDelete
  3. Ibrohim Aji Kusuma
    18709251018
    S2 PMA 2018

    Maka sebenar-benar kehebatanmu adalah keunikanmu. Menggunakain kekuatan, kecerdasan, alat paling canggih sekalipun tidak akan pernah mampu membuat kembaranmu. Bahkan sebagian saja dari dirimu masih tidak sangguh. Maka keunikanmu adalah kekuatanmu, kehebatmu, keunggulanmu. Oleh karena itu, gunakan keunikanmu itu untuk berjuang sampai keunikanmu itu menjadi nilai yang patut di apresiasi oleh orang lain.

    ReplyDelete
  4. Aizza Zakkiyatul Fathin
    18709251014
    Pps Pendidikan Matematika A

    Diri ini adalah titipan. Diri ini adalah ujian. Diri ini adalah kecil. Tidak pantas manusia sombong dihadapan Tuhan. Karena apa yang dimiliki manusia semuanya adalah titipan dan ujian. Bagaimana kita menghindarkan untuk tidak bersikap sombong adalah dengan ikhlas dalam pikir dan ikhlas dalam hati.

    ReplyDelete
  5. Aizza Zakkiyatul Fathin
    18709251014
    Pps Pendidikan Matematika A

    Setiap manusia tidak akan pernah mengerti dirinya sendiri. Manusia hanya berusaha untuk menggapai mengerti dirinya sendiri. Untuk mengerti dirinya sendiri adalah denga berilmu. Sebenar-benar orang yang berilmu tinggi adalah yang dapat memanfaatkannya untuk orang lain. Dari elegi ini Saya baru menyadari bahwa tugas komen blog ini adalah salah satu cara untuk memberikan ilmu yang kita miliki kepada orang lain sehingga komen kita pun merupakan wujud dari ilmu yang bermanfaat. Terimakasih Pak Prof telah memberikan sarana untuk menjadikan ilmu bermanfaat.

    ReplyDelete
  6. Hasmiwati
    18709251023
    S2 Pend.Matematika B 2018

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
    Menurut artikel di atas, nilai diri adalah keunikan yang dimiliki tiap orang. Tidak ada satu orang yang sama dengan orang yang lainnya. Tiap-tiap orang memiliki keunikan masing-masing. Namun keunikan yang kita miliki juga dikarenakan peran dari orang lain. Oleh karena itu, tanpa orang lain, kita bukan siapa-siapa. Jadi, nilai diri kita itu juga ditentukan oleh orang lain. Setinggi-tingginya kegiatan berfikir manusia adalah kegiatan refleksi. Jika pengalaman hidup kita tidak kita refleksikan, maka sama saja bahwa kita tidak memahami arti dari pengalaman-pengalaman tersebut. Orang yang tidak mampu merefleksikan dirinya adalah orang yang merugi. Dalam menuntut ilmu harus berbekal ilmu. Serendah-rendahnya derajat orang yang mencari ilmu adalah dia yang memanfaatkan ilmunya hanya untuk dirinya sendiri saja. Oleh karena itu, agar kita dapat meningkatkan derjat dalam mencari ilmu maka ilmu yang kita dapat harus dapat dimanfaatkan pula oleh orang lain.

    ReplyDelete
  7. Herlingga Putuwita Nanmumpuni
    18709251033
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Setiap individu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Memang sudah kodratnya bahwa manusa memiliki keterbatasan dalam hidupnya, termasuk keterbatasan pemikiran dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Namun karena keterbatasan itulah manusia harus selalu berusaha meningkatkan kemampuan pengetahuan dan ilmunya. Karena ilmu pengetahuan tersebut akan berguna bagi manusia itu sendiri. Oleh karena itu janganlah merasa sombong dan tamak atas ilmu yang dimiliki, tapi bagilah dan sampaikan ilmu yang kita miliki ke sesama, karena dengan begitu kita justru akan semakin berilmu.

    ReplyDelete
  8. Fany Isti Bigo
    18709251020
    PPs UNY PM A 2018

    Manusia dapat menjadikan dirinya hebat atau mulia hanya jika manusia itu dapat mengkhususkan dirinya pada satu domain ilmu saja, kehebatan manusia terlihat dari seberapa paham akan ilmunya dan seberapa besar ia bermanfaat dan memanfaatkan ilmunya untuk membantu orang lain. Kehebatan manusia tergantung pula dari sudut pandang manusia itu, yang telah saya sampaikan adalah definisi kehebatan oleh manusia yang bijaksana. Hal ini berkontradiksi dengan manusia yang tidak bijaksana dimana kehebatannya adalah untuk melakukan eksploitasi.

    ReplyDelete
  9. Fany Isti Bigo
    18709251020
    PPs UNY PM A 2018
    Kita tidak bisa menilai diri kita sendiri karena yang bisa menilai diri kita adalah orang lain. Orang lain menilai kita dari keunikan yang ada dalam diri kita. Tentu antara orang yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda keunikannya meskipun 2 saudara kembar sekalipun. Dan kita sebagai orang awam tentu tidak mudah untuk melihat apa keunikan yang ada di dalam diri kita, diperlukan sebuah usaha. Salah satu cara dengan merefleksikan diri kita dengan berbekal ilmu yang sudah kita miliki. Tentunya ilmu yang sudah kita miliki bermanfaat bagi diri kita sendiri dan orang lain.

    ReplyDelete
  10. Tiara Cendekiawaty
    18709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Dari elegi diatas, saya dapat menyimpulkan bahwa untuk dapat menggapai nilai diri maka harus bisa merefleksikan diri. Merefleksikan diri sehingga sadar bahwa manusia itu makhluk sosial artinya dalam hidupnya ia akan selalu membutuhkan orang lain. Dan sadar bahwa diatas langit ada langit yang artinya seluas-luas dan sedalam-dalamnya ilmu yang kita miliki ada yang lebih dari kita. Jadi mengapa kita sebagai manusia itu harus sombong dan merasa paling mulia diantara manusia lainnya? Padahal yang paling mulia di dunia ini, yang paling maha atas segalanya hanyalah Allah SWT. Manusia itu seharusnya selayaknya padi, semakin berisi semakin merunduk. Semakin berilmu maka ia akan semakin merendah dan dengan kerendahakannya ia akan membantu sesama melalui ilmunya.

    ReplyDelete
  11. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Diri sendiri bila dinilai oleh diri sendiri akan memunculkan perlawanan yang keras dari hati dan penolakan juga dari diri lain yaitu orang lain. Perbuatan, kelakuan diri ini berkaca pada respon orang lain yang melihatnya. Jangan sekali-kali menilai diri tanpa pendampingan sadar diri, hati, jiwa, rasa karena akan memunculkan sosok yang tidak diinginkan yaitu besar kepala yang susah untuk disadarkan bila tidak ditampar oleh respon orang lain. Jangan sekali-kali pula menarik diri dari dunia sosial manusia, sekalipun menarik diri dari kerumunan tetap ikut di kerumumnan itu hanya saja dengan tanpa bersikap dan amati saja kerumunan itu.

    ReplyDelete
  12. Fabri Hidayatullah
    18709251028
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Menggapai nilai diri berarti memahami hakekat nilai diri. Menurut elegi ini, nilai diri ialah keunikan, sedangkan keunikan ditentukan oleh orang lain dan tidak akan ada artinya tanpa orang lain. Maksudnya ialah bahwa kita tidak akan menjadi unik tanpa adanya perbedaan dengan orang lain. Maka, tidaklah pantas bagi manusia untuk mengaku menjadi yang termulia dan terhebat. Derajat kemuliaan dan kehebatan manusia ditentukan oleh tingkat keimanannya terhadap Allah SWT. Dan tiadalah manusia termulia dan terhebat di muka bumi ini selain Nabi Muhammad SAW. Maka Beliau diutus menjadi suritauladan bagi seluruh umat muslim hingga akhir zaman dan juga sebagai rahmat bagi seluruh alam.

    ReplyDelete
  13. Seftika Anggraini
    18709251016
    S2 PM A 2018

    Nilai diri yang paling tinggi adalah bahwa diri kita bermanfaat bagi orang lain. Termasuk dalam hal menuntut ilmu, belajar yang paling tinggi derajatnya adalah ilmu yang telah dipelajari dapat bermanfaat bagi orang lain. Akan lebih baik lagi jika bermanfaat bagi seluruh umat manusia di dunia ini. Disini lah saya mengerti kenapa kita harus menulis dan mempublikasikannya. Melalui keduanya, ilmu kita akan bermanfaat bagi semua manusia bahkan setelah kita telah tiada.
    Terima kasih

    ReplyDelete
  14. Bayuk Nusantara Kr.J.T
    18701261006

    Rasulullah SAW bersabda “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain “(HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah).
    Dari hadist di atas jelas bahwa menusia yang paling memiliki nilai diri paling tinggi adalah manusia yang paling banyak memberikan manfaat kepada orang lain.

    ReplyDelete
  15. Diana Prastiwi
    18709251004
    S2 P. Mat A 2018

    Manusia hidup di dunia ini merupakan hubungan timbal balik. Apa yang kita tanam maka itu yang kita tuai. Misalnya jika kita berbuat jahat kepada orang lain maka tidak akan pernah ada orang yang menyenangi dan membantu kita. Dan jika kita berlaku sombong pada orang lain, maka terhalanglah kita dari ilmu dan hidayah. Maka sebaiknya kita berusaha menghilangkan kesombongan agar kita selalu memperoleh hidayah dan rahmat dari Alah SWT. Dalam elegi di atas, dunia itu seperti apa yang kita pikirkan. Jika kita berpikir dunia itu baik, maka pasti akan baik. jika kita menghujat dunia, maka dunia juga akan menghujat kita. Jika kita mampu memandang diri kita sendiri, maka kita mampu memandang dunia. Maka berperilakulah yang baik dan sopan terhadap dunia maka dunia akan baik pula pada kita. Dunia berjalan sesuai dengan sikap kita dalam menghadapi dunia dan dalam sikap kita terhadap orang lain.

    ReplyDelete
  16. Deden Hidayat
    18709251032
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Elegi menggapai nilai diri dapat dilakukan dengan cara terus meningkatkan keilmuan yang kita miliki. Namun suatu ilmu akan menjadi sia-sia ketika ilmu tersebut tidak dapat kita manfaatkan kepada orang lain. Ilmu akan semakin meningkat derajatnya jika kita dapat menggunakannya atau memanfaatkannya bukan hanya untuk kepentingan pribadi melainkan juga untuk kepentingan orang lain. Maka dari itu, marilah kita selalu meningkatkan keilmuan yang kita miliki dan menggunakan atau memanfaatkan ilmu tersebut untuk kepentingan orang lain.

    ReplyDelete
  17. Muh. Fachrullah Amal
    18709251036
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Setiap individu memiliki karakter dan pemikiran yang berbeda-beda. Tidak sedikit orang-orang yang disekitar kita yang belum mengenal dirinya. Salah satu kenapa belum mengenal dirinya adalah terlalu sibuk dengan urusan orang lain, padahal sebaik-baik seseorang adalah mengenali diri sendiri. Seseorang yang memiliki sedikit ilmu namun ilmunya bermanfaat buat orang lain jauh lebih baik daripada orang yang memiliki banyak ilmu namun hanya untuk diri sendiri.

    ReplyDelete
  18. Muh. Fachrullah Amal
    18709251036
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Seseorang akan menilai kita berdasarkan kebiasaan dan perilaku kita sehari-hari. Semakin kita berbuat baik kepada orang lain seperti salin tolong menolong dalam kebaikan maka akan semakin baik diri kita dipandang oleh orang lain. Tidak ada yang bisa menjamin kita akan selalu berbuat kebaikan melainkan diri kita sendiri yang menjaminnya. Kita tahu bersama bahwa setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Orang yang menginginkan kesuksesan dalam dirinya adalah mereka yang senantiasa belajar dari kesalahan dan kegagalan dalam hidupnya.

    ReplyDelete
  19. Eka Puspita Sari
    18709251035
    S2 PM B 2018

    Satu kalimat yang amat menarik dari elegi ini yaitu “kesombongan adalah dosa pertama yang paling besar bagi manusia”. Kalimat tersebut seakan menjadi cambuk untuk saya. Tidak perlu memikirkan dosa lain seperti Murtad yang merupakan dosa besar yang tak terampuni kecuali ia benar-benar bertaubat, padahal ada dosa lain yang juga amat besar yang justru terkadang diabaikan namun tanpa sadar telah bercokol didalam hati. Dosa tersebut adalah kesombongan. Sombong adalah sesuatu yang amat tipis dan cenderung tak dapat dirasakan kecuali oleh hati-hati yang hatinya jernih dan mampu merasakannya. Awal dari kesombongan adanya di hati, maka letakkanlah hatimu didasar yang paling dasar. Karena jika hati sampai melambung tinggi maka celakalah yang terjadi.

    ReplyDelete
  20. Eka Puspita Sari
    18709251035
    S2 PM B 2018

    Ciri daripada ilmu adalah jika sesuatu tersebut memiliki manfaat. Dan manfaat tersebut tidak hanya berlaku pada dirinya sendiri saja, tetapi juga bermanfaat bagi orang lain disekitarmu. Manusia yang paling rendah derajatnya adalah manusia sombong yang tak mau menuntut ilmu. Namun, serendah-rendahnya derajat manusia diantara manusia-manusia yang menuntut ilmu adalah yang ilmunya hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri. Tidak benar-benar bermanfaat jika ilmu itu hanya engkau saja yang merasakannya. Dan jelaslah bahwa setinggi-tingginya derajat manusia diantara manusia-manusia yang menuntut ilmu adalah manusia yang ilmunya bermanfaat tidak hanya bagi dirinya, tapi bermanfaat bagi orang lain selain dirinya.

    ReplyDelete
  21. Dita Aldila Krisma
    18709251012
    PPs Pendidikan Matematika A 2018

    Manusia dibekali akal untuk berpikir. Manusia diciptakan sebagai pemimpin dimuka bumi. Akal pikiran yang telah tertanam ini hendaknya digunakan untuk kemajuan, kebaikan, serta kesejahteraan di muka bumi, bukan untuk merusak dan mendhalimi. Dengan begitu, kita membutuhkan ilmu, perlu mencarinya hingga kita tak diberi kesempatan untuk mencarinya lagi. Kita gunakan ilmu kita untuk menebar kebaikan dan kebermanfaatan untuk lingkungan sekitar, bukan hanya untuk diri sendiri.

    ReplyDelete
  22. Dita Aldila Krisma
    18709251012
    PPs Pendidikan Matematika A 2018

    Tiap individu itu unik. Keunikan inilah yang bisa menjadikan seseorang mempunyai nilai harga diri. Karena ia mempunyai potensi yang berbeda satu sama lain. Dengan begitu dikatakan unik apabila ada pembanding dengan orang lain maka setiap individu sesungguhnya saling mempengaruh dan membutuhkan orang lain. Tidak boleh ada kesombongan pada diri kita mekipun kita punya potensi yang lebih, punya keahlian dan kekayaan.

    ReplyDelete
  23. Rindang Maaris Aadzaar
    18709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2018 (PM B 2018)

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Untuk menggapai nilai diri, maka jangan sampai terlena oleh kemampuan diri sendiri juga. Seseorang sebaiknya jangan merasa cukup puas tetapi juga jangan terlalu ambisius untuk menjadi yang terbaik. Setiap orang pasti ingin menjadi pembeda, tetapi harus kembali lagi menengok dimensi yang ada di atas bahwa setinggi-tingginya ilmu, sebenar-benarnya ilmu adalah milik Allah. Oleh karena itu, sebagai umat manusia yang berilmu harus senantiasa bertawakal dan betaqwa kepada Allah
    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    ReplyDelete
  24. Luthfannisa Afif Nabila
    18709251031
    S2 Pendidikan Matematika B 2018
    Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh
    Sebenar-benar nilai diriku adalah keunikanku. Aku bukanlah kamu. Kamu bukanlah dia. Dia bukanlah kalian. Kalian bukanlah mereka. Mereka bukanlah aku. Dia bukanlah aku. Kalian bukanlah aku. Kamu bukanlah kalian. Kamu bukanlah mereka. Dia bukanlah kamu. Dia bukanlah kalian. Dia bukanlah mereka. Kalian bukanlah kamu. Mereka bukanlah kamu. Mereka bukanlah kalian. Allah menciptakan manusia itu dengan keunikan masing-masing yaitu dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Oleh sebab itu pentingnya untuk saling menghormati dan menghormati setiap keunikan. Terima kasih.
    Wassalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

    ReplyDelete
  25. Elsa Apriska
    18709251005
    S2 PM A 2018

    Manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Karena memang sudah kodratnya tidak ada manusia yang sempurna. Menggapai nilai diri yang saya pahami adalah menilai diri sendiri. Ini hal yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh setiap manusia. Karena yang bisa melihat dan menilai kita adalah orang lain. Oleh karena itu manusia tidak bisa dan boleh sombong dengan dirinya. Karena dalam kehidupan setiap orang akan membutuhkan orang lain.

    ReplyDelete
  26. Totok Victor Didik Saputro
    18709251002
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Selamat pagi dan Selamat Tahun Baru 2019 Prof.
    Menggapai nilai diri dimulai dari mengenali diri. Artinya kita memahami siapa diri kita dan apa yang ada didalamnya. Menjadikan diri kita sebagai perfilsafat adalah tantangan tersendiri bagi kita. Bagaimana caranya? Bagikan apa yang kamu peroleh kepada setiap orang maka kamu adalah perfilsafat. Selain itu, bantulah orang tersebut dalam memahami filsafat itu walaupun kita dalam proses belajar. Artinya kita berusaha menghargai diri sendiri dan orang lain dalam berfilsafat. Terima kasih.

    ReplyDelete
  27. Kartianom
    18701261001
    S3 PEP 2018

    Dalam filsafat dikatakan bahwa sebenar-benar filsafat adalah penjelasanmu. Filsafat itu adalah diri kita sendiri. Jadi sebenar-benar diri kita adalah bagaimana kita menjelaskan dan melakukannya dalam bentuk nyata. Apa yang menjadi tujuan hidup kita, apa yang menjadi impian kita, dan lain sebagainya, semuanya ditunjukkan dari perilaku kita.

    ReplyDelete
  28. Janu Arlinwibowo
    18701261012
    PEP 2018

    Kurang atau lebih adalah perlambang, dan lambang sifatnya sangat subjektif. Dan hidup ini adalah suatu kombinasi tak terhingga aspek sehingga judgement baik dan buruk tanpa konteks yang jelas membuat suatu arogansi karena sesungguhnya tidak akan mungkin dalam (misal) 1juta aspek itu semuanya kita lebih baik dari A. Dengan demikian maka baik buruk itu selalu subjektif. Bijaksananya maka lebih baik mawas diri dari pada mengukur diri sendiri.

    ReplyDelete
  29. Puspitarani
    19709251062
    S2 Pendidikan Matematika D 2019
    Terima kasih Bapak atas artikel yang telah Bapak share kepada kami. Artikel berjudul Elegi Menggapai Nilai Diri ini sangatlah bermanfaat untuk dibaca. Di dalam artikel ini ada pesan yang dapat saya peroleh untuk digunakan dalam kehidupan saya dimasa sekarang dan masa yang akan datang. Setiap insan manusia itu diciptakan oleh Tuhan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan setiap individu itu juga tercipta sebagai makhluk yang unik, yang berbeda antara satu sama lainnya. Karena itulah sangat penting bagi kita untuk bersosialisasi untuk lebih menggali keunikan yang kita miliki. Dan sebagai upaya menggali keunikan atau potensi kita kita harus terus mencari ilmu. Dan kembali lagi, setinggi- tinggi ilmu ialah yang bermanfaat bagi orang lain. Karena itulah kita tidak dapat lepas dari masyarakat. Kita berasal dari masyarakat dan sudah seharusnya kita kembali ke masyarakat untuk memberi kebermanfaatan.

    ReplyDelete
  30. Wilis Putri Hapsari
    19701251017
    S2 PEP A 2019

    Manusia yang luhur harus dapat menjadi subyek yang baik terhadap obyeknya, yang asih terhadap yang lemah, kasih terhadap yang tidak berpunya, dan asuh terhadap yang tidak berdaya. Dari sanalah nilai diri akan menjadi berharga, dan penilaian itu bukan dari dalam tetapi dari luar dan sebaik-baiknya penilai adalah Allah SWT.

    Dari dalam kita ini hanya akan dapat berasumsi bahwa kita ini unik, dan unik itu hebat, kita dicintai dan dibutuhkan, dan itu adalah sebuah kewajiban bagi kita sendiri untuk merasa hidup dan menjalaninya dengan ringan. Tetapi juga, tidak melupakan bahwa kita ini seorang hamba, yang penuh akan kurang, maka janganlah kita menyobongkan diri. Terus merefleksi pengalaman akan membawa kita menjadi bijak, dan lebih baik lagi menjalani kehidupan di hari depan.

    ReplyDelete
  31. Zuari Anzar
    19701251006
    S2 PEP A 2019

    Tanpa disadari, kita pernah atau sering menilai diri kita sendiri. Sehingga hal tersebut mengakibatkan kita merasa puas dan enggan dikritik atau diberi masukan oleh orang lain. Akan tetapi sesungguhnya yang dapat menilai diri kita adalah orang lain. Sebab, pada umumnya penilaian terhadap diri sendiri lebih mengarah pada hal-hal positif dalam rangka pembelaan diri. Begitu juga dalam mempelajari filsafat, filsafat itu adalah buah dari membaca, belajar dan pengalaman hidup. Filsafat adalah refleksi. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi kegiatan berpikir manusia itu adalah kegiatan refleksi diri. Maka berfilsafat dengan tiada pengalaman itu artinya "kosong"; sedangkan pengalaman hidup jika tidak direfleksikan (di filsafatkan) sama artinya dengan "buta". Oleh karena itu, elegi-elegi dapat dijadikan sarana refleksi diri dan hendaknya kita selalu ikhlas dalam melakukan suatu hal.

    ReplyDelete
  32. Dhamar Widya Safitri
    19701251009
    S2 PEP A 2019

    Assalamualaikum.
    Manusia tidak diciptakan untuk hidup secara individu. Banyak orang lain di sekitar yang memiliki ilmu jauh lebih banyak. Perbanyak mencari ilmu dari pengalaman orang-orang di sekitar. Perbanyak menggunakan ilmu yang dimiliki untuk membantu orang-orang di sekitar. Manusia yang hebat adalah manusia yang pandai bersyukur dengan ilmu yang dimiliki.
    Terimakasih

    ReplyDelete
  33. Hajra Yansa
    19701251012
    S2 PEP A 2019

    Saya percaya isi blog Prof dan mahasiswa yang engomentarinya sedang membuat jejak digital. Agar suatu hari ada yang membacanya dan mengambil ilmu atau manfaat dari tulisan-tulisan. Tanpa kita sadari sebenarnya kita sedang bersedekah ilmu pada generasi. Berbagi adalah cara seorang manusia untuk menyatakan eksistensi dirinya. Ilmu tidak akan pernah hilang dari diri kita. Ilmu yang dibagikan justru akan menjadi ilmu yang berkah, sperti pohon yang berbuah. Jika seseorang membagikan ilmu, maka ilmunya akan semakin bertambah. Dengan mengajarkan ilmu, ilmu yang dimiliki akan semakin menancap kuat dalam sanubarinya.Ilmu yang bermanfaat akan mendatangkan pahala bagi kita selama orang yang kita transferi ilmu menggunakannya di jalan kebaikan.

    ReplyDelete
  34. Hajra Yansa
    19701251012
    S2 PEP A 2019

    Keutamaan mengajarkan ilmu yaitu (a) akan mendapatkan pahala semisal pahala orang yang ia ajarkan, (b) Orang yang mengajarkan ilmu berarti telah melakukan amar ma’ruf nahi munkar, demi baiknya tatanan masyarakat lewat saling menasehati, (c) Termasuk bentuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. (d) Akan membimbing dan mewujudkan kehidupan bahagia pada tiap individu masyarakat dengan adanya adab dan hukum Islam yang tersebar.

    ReplyDelete
  35. Wilis Putri Hapsari
    19701251017
    S2 PEP A 2019

    Untuk menggapai nilai diri diperlukan keberterimaan pada diri sendiri. Sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Tuhan, sedangkan kesempurnaan miliki manusia adalah tidak sempurna itu sendiri. Tidak ada indikator pasti kebagusan dan kesempurnaan suatu hal karena setiap definisi melekat pada presepsi subyektivitasnya masing-masing.

    ReplyDelete
  36. Syaiful Syamsuddin
    19701261002
    S3 PEP 2019

    Assalamu alaikum wr.wb
    Filsafat adalah refleksi. Setinggi-tinggi kegiatan berpikir manusia adalah refleksi diri. Kita belajar filsafat dengan tiada pengalaman hidup itu artinya "kosong", sedangkan pengalaman hidup jika tidak direfleksikan berarti "buta". Maka untuk menggapai diri dalam hidup, hendaknya kita mampu merefleksikan pengalaman hidup kita. Dalam upaya menggapai nilai diri pun harus disertai dengan belajar dan mencari ilmu, baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat. Dalam mencari ilmu hendak lah kita menyertakan ikhlas dalam hati dan pikiran kita. Keikhlasan tersebut memungkinkan membawa kita ke arah pencerahan sehingga mampu mempelajari ilmu-ilmu tersebut. Karena tanpa kehendak-Nya kita tak mungkin mampu memahami berbagai ilmu. Ilmu yang didapat selanjutnya direfleksikan dan mampu memberikan manfaat untuk diri sendiri dan orang lain.

    ReplyDelete