Oct 14, 2011

Elegi Menggapai Nilai Diri

 
 Oleh Marsigit

Berikut saya nukilkan sebuah pertanyaan dari Sdr ANI ALKHAFI :
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Dalam setiap individu itu ada yang mengatakan bahwa manusia dapat menjadikan dirinya terhebat dan mengatakan dirinya termulia, apa itu juga sifat kontradiktif? Bapak yang terhormat, saya ingin tahu bagaimana caranya menjadikan diri kita sebagai perfilsafat (menyatu dan dapat memunculkan sesuatu)?
Wassalamua'alaikum Wr.Wb.



Jawaban saya (Marsigit)
Sdr Ani Alkhafi...terdapat riwayat dalam sejarahnya bahwa sejak dulu terdapat manusia melakukan perjuangan baik secara sendiri maupun secara bersama untuk mengangkat derajat dirinya maupun golongannya.
Keberhasilan yang dia atau yang mereka peroleh, secara filsafati, akan mengukuhkan kedudukan dirinya atau kelompoknya menjadi "subyek" yang kuat terhadap "obyeknya".
Obyeknya bisa berupa individu yang lainnya, bisa berupa kelompok manusia yang lainnya, atau bahkan bisa segenap alam lingkungan sekitarnya.
Kekuatan suatu subyek atau kelompok subyek terhadap yang lainnya jika tidak diimbang dengan tata aturan yang mengikatnya maka akan melahirkan berbagai bentuk eksploitasi oleh manusia yang satu atau oleh kelompok yang satu terhadap manusia yang lain atau kelompok manusia yang lain.
Singkatnya adalah eksploitasi subyek atas obyeknya. Hal yang demikian jika di ekstensikan maka bisa menimbulkan disharmoni kehidupan di atas bumi atau bahkan malapetaka.
Jangan salah paham, bahwa eksploitasi subyek atas obyeknya adalah dalam pengertian dalam sedalam-dalamnya, dan luas seluas-luasnya.
Artinya ia dapat terjadi eksploitasi oleh subyek kakak terhadap obyek adik, subyek guru terhadap obyek siswa, subyek dosen tarhadap obyek mahasiswa, subyek negara kuat terhadap obyek negara lemah, ..dst.

Dalam tata pergaulan internasional, wujudnya dapat kita lihat adanya era penjajahan dan peperangan yang tidak adil dan tidak imbang sampai sekarang.
Jika hal demikian terjadi pada individu seorang diri dalam kaitannya dengan Tuhan nya, maka yang terjadi adalah munculnya ego yang berlebihan sampai kesombongan yang tidak terampuni.
Banyak tulisan menceritakan bagaimana mulai dari Spinoza sampai dengan Syeh Siti Jenar, manusia merasa mempunyai super ego sehingga melewati batas sampai kepada pengakuan dirinya sebagai Tuhan itu sendiri.
Maka yang terjadi adalah hukuman yang setimpal bagi kesombongannya. Sungguh kesombongan itu adalah dosa pertama dan paling besar bagi manusia.
Oleh karena itu di dalam diriku tidak pernah terpikir adanya manusia terhebat dan termulia kecuali hal demikian berada dalam "hatiku", yaitu keyakinanku bahwa manusia demikian itu tidak lain tidak bukan adalah Nabi Besar Muhammad SAW. Amiin.
Sdr Ani Alkhafi..tentang nilai seorang diri, aku lebih suka mengatakan bahwa nilai atau hargamu itu adalah keunikanmu.
Tiadalah makhluk di dunia ini yang sama dengan dirimu, bahkan saudara kembarmu sekalian jika engkau punya.
Maka dunia akan bersukaria jika sempat melihat dan mendengar potensimu yaitu keunikanmu.
Tetapi ingatlah keunikanmu itu adalah ada dikarenakan orang yang lain. Maka tiadalah ada artinya dirimu itu jika tanpa orang lain. Artinya, nilai atau hargamu itu ditentukan oleh orang lain pula.
Maka bacalah elegi-elegi yang lain. Elegi-elegi itu disusun tidak hierarkhis, artinya yang lama dengan yang baru mempunyai hak yang sama untuk dibaca.
Filsafat itu adalah buah dari membaca, belajar dan pengalaman hidup. Filsafat adalah refleksi. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi kegiatan berpikir manusia itu adalah kegiatan refleksi diri.
Maka berfilsafat dengan tiada pengalaman itu artinya "kosong"; sedangkan pengalaman hidup jika tidak direfleksikan (di filsafatkan) sama artinya dengan "buta".
Itulah sungguh, orang yang paling merugi didunia adalah orang yang kosong dan buta.
Sedangkan "tidak kosong dan tidak buta" itulah sebenar-benar perjuanganmu sampai akhir hayatmu.
Ketahuilah bahwa mencari ilmu itu perlu berbekal imu. Mencari hidayah itu juga perlu berbekal hidayah.
Baik urusan dunia dan akhirat, keduanya adalah ikhlas adanya, yaitu ikhlas dalam pikiranmu dan iklhas dalam hatimu.

Tidakkah engkau menyadari bahwa serendah-rendah derajat orang mencari ilmu adalah jika ilmunya hanya digunakan dan bermanfaat bagi dirinya sendiri.
Sedangkan engkau bisa meningkatkan derajat pencarian ilmumu jika dia dapat digunakan atau bermanfaat bagi orang lain.
Namun, ketahuilah bahwa setinggi-tinggi derajat orang mencari ilmu adalah jika usahanya itu bersifat "sistemik", artinya ilmu atau pengetahuannya bermanfaat bagi orang banyak dan tidak dibatasi oleg ruang dan waktu, artinya tidak hanya bermanfaat bagi bangsanya tetapi juga bagi bangsa-bangsa di dunia.
Setinggi-tinggi pencapaian karirmu adalah jika engkau telah bisa masuk pada jajaran pergaulan internasional, berkontribusi secara aktif dan tidak hanya sekedar menjadi obyek. Itulah tujuan jangka panjangmu dan juga para muridku semua bagi yang menyadarinya.
Oleh karena itu maka sekarang engkau telah mulai memahami mengapa dalam perkuliahan filsafat ini dikembangkan belajar mengajar melalui internet atau blog.
Maka setiap jejakmu dan juga jejakku serta jejak-jejak temanmu dan murid-muridku akan secara langsung dan terus-menerus dapat diakses oleh orang lain kapanpun dan dimanapun.
Jika engkau telah menyadari hal ini semua dan juga telah menghayatinya maka itulah Rakhmat Tuhan YME telah diturunkan kepada dirimu dan juga diriku dan juga diri orang-orang yang pandai bersyukur. Amiin.
Maka baca dan renungkanlah. Amiin


28 comments:

  1. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Nilai diri manusia dapat diartikan pada kualitas diri, menurut saya kualitas diri meliputi ilmu, aqidah serta sikap dan prilaku. Maka setinggi tinggi nya manusia ialah manusia yang berilmu, mengaplikasikan ilmunya pada kehidupan serta bersedia berbagi ilmu yang dimilikinya. Akan tetapi tentu saja manusia dibawah kuasa Allah SWT, dan berharap mendapatkan ridhoNya dalam setiap langkah kehidupan yang dijalani. Oleh karna itu setinggi-tinggi manusia ialah yang memiliki kerendahan hati.

    ReplyDelete
  2. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D

    Nilai diri adalah keunikan diri sendiri. Semua memiliki keunikan masing-masing. Maka tingkatkanlah dimensi kita sesuai dengan karakteristik kita. Belajar dan terus belajar, membaca dan terus membaca, berdoa dan terus berdoa, Insya Allah kita akan meningkatkan dimensi kita. Jadilah orang yang bermanfaat bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga harus kepada orang lain bahkan bangsa lain. Dan jadikanlah Rasulullah Salallahu ‘alaihiwa sallam sebagai suri tauladan kita dalam menghadapi hidup ini.

    ReplyDelete
  3. Endryana Listyarini
    14301241034
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Bahwa sebenar-benarnya diri adalah bersifat terbuka. Jadi kita mau menjadi apapun yang kita mau. Diriku adalah pemikiranku, sifat-sifatku, tindakanku, tidak aa yang menyamai diriku karena Allah SWT menciptakan makhluknya berbeda-beda.

    ReplyDelete
  4. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Objek dalam filsafat meliputi semua yang ada dan yang mungkin ada dalam batasan ruang dan waktu. Dengan berfilsafat kita dapat melakukan refleksi terhadap semua yang pernah kita lakukan untuk tidak mengulangi kembali kesalahan yang sama. Ilmu yang baik ialah ilmu yang dapat bermanfaat bagi orang lain dan dapat digunakan oleh siapapun dan kapanpun sehingga agar ilmu yang kita sampaikan ke siswa dapat melekat pada siswa harusnya kita menghindari memberikan konsep secara hafalan kepada anak didik kita.

    ReplyDelete
  5. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Saya sangat tertarik dengan pernyataan Pak Marsigit yang menyebutkan bahwa setinggi-tinggi kegiatan berpikir manusia itu adalah kegiatan refleksi diri. Kadang dalam keseharian banyak orang terlalu sering menilai orang lain. Membicarakan sampai membuka aib orang lain, seperti menjadi kebiasaan dalam suatu perbincangan. Kadang kita lupa untuk menilai diri kita sendiri. Sudah sejauh mana memberikan kebermanfaatan kepada masyarakat? Sejauh mana peran kita membantu saudara, orangtua, bangsa, dan negara? Menilai diri sendiri itu seperti berkaca dan kita dapati banyak noda dalam diri kita, sehingga noda-noda itu dapat segera dibersihkan. Jangan sampai kita paham betul noda-noda orang lain, sementara noda menumpuk dalam diri, kita tidak tahu sama sekali.

    ReplyDelete
  6. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Saya setuju dengan pernyataan Prof. Marsigit yang mengatakan bahwa keunikan itu bergantung pada nilai atau harga yang ada di dalam diri kita. Kita adalah apa yang kita fikirkan. Maka untuk menjadi seorang yang bernilai, baik itu di hadapan Tuhan maupun di hadapan manusia, maka milikilah hati yang bersih. Hati yang bersih akan mendatangkan keridhoan-Nya dan keridhoan makhluk Tuhan yang lainnya. Hati yang bersih inilah yang akan membuat setiap orang unik dari yang lainnya, karena setiap orang pun akan berbeda bagaimana cara menggapai hati bersihnya.

    ReplyDelete
  7. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Serendah-rendahnya derajat orang mencari ilmu adalah jika ilmunya dipakai dan hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri. Ilmu yang kita miliki meskipun sebatas kuku tangan, namun berguna bagi orang lain akan lebih berarti daripada ilmu yang sedalam samudra dan setinggi langit namun hanya berguna untuk diri sendiri maka tiadalah artinya, karena setinggi-tinggi derajat orang mencari ilmu adalah jika usahanya bersifat sistemik, artinya ilmu atau pengetahuannya bermanfaat bagi orang banyak dan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, artinya tidak hanya bermanfaat bagi bangsanya juga begi bangsa-bangsa di Dunia.

    ReplyDelete
  8. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    "..tentang nilai seorang diri, aku lebih suka mengatakan bahwa nilai atau hargamu itu adalah keunikanmu"
    Saya sangat setuju dengan pernyataan di atas. Sangat setuju bahwa di dunia ini tidak ada manusia yang tidak bernilai, karena semua hadir dengan membawa keunikan masing-masing. Maka benar juga bahwa sebenarnya tidak ada orang yang tidak berharga di muka bumi ini. Jadi menurut saya, seburuk apapun keadaan kita saat ini jangan pernah berpikir atau menganggap bahwa kita adalah si rendah diri. Akan tetapi, keseimbangan juga harus dimunculkan dalam hidup kita. Ketika kita menyadari bahwa kita itu unik maka kita bernilai, maka seudah selayaknya pula kita menyadari bahwa "Tetapi ingatlah keunikanmu itu adalah ada dikarenakan orang yang lain. Maka tiadalah ada artinya dirimu itu jika tanpa orang lain. Artinya, nilai atau hargamu itu ditentukan oleh orang lain pula"

    ReplyDelete
  9. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Dosa pertama dan paling besar bagi manusia adalah kesombongan. Tidak sepantasnya manusia melakukan hal tersebut. Namun tanpa kita sadari, tanpa kita fahami apa yang kita lakukan masih sering tergolong dalam kesombongan. Kesombongan tidak hanya bisa terjadi pada sesama manusia, bahkan kepada Allah SWT pun bisa saja kita melakukannya. Sebagai makhluk sosial, tentu kita tidak dapat hidup secara sendiri atau individu. Kita memerlukan orang lain. Seperti ulasan dalam Elegi yang Bapak tuliskan di atas, bahwa “keunikanmu itu adalah ada dikarenakan orang lain.” Ketika kita berilmu dan sedang mempelajari ilmu, tentu kita akan berpikir. Setinggi – tingginya kegiatan berpikir itulah tempat kita refleksi diri. Oleh karena itu, sering-seringlah kita untuk berpikir sehingga secara tidak langsung kita telah melakukan refleksi diri. Refleksi apa yang telah kita lakukan, bagaimana tingkah laku kita, apakah kita sudah memberikan manfaat terhadap orang lain atau kah ternyata hanya kesombongan yang kita lakukan. Hal ini juga menjadi renungan bagi saya.

    ReplyDelete
  10. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    PPs. PM A 2017

    Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lain. Dari kalimat tersebut dapat diambil inti sari bahwa manusia akan menjadi pribadi yang mulia juga berkat orang lain. Bukan semata-mata karena dirinya sendiri. Seperti seorang guru, guru dipandang mulia karena ia membagikan ilmu dan pengalaman kepada murid-muridnya. Namun hakikatnya kemuliaan yang sejadi itu kemuliaan di hadapan Allah, bukan karena manusia. Yaitu dilakukan dengan hati yang ikhlas, tawadlu', semata-mata karena Allah.

    ReplyDelete
  11. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof
    Menggapai nilai diri berarti memahami hakekat nilai diri. Menurut elegi ini, nilai diri ialah keunikan, sedangkan keunikan ditentukan oleh orang lain dan tidak akan ada artinya tanpa orang lain. Maksudnya ialah bahwa kita tidak akan menjadi unik tanpa adanya perbedaan dengan orang lain. Maka, tidaklah pantas bagi manusia untuk mengaku menjadi yang termulia dan terhebat. Derajat kemuliaan dan kehebatan manusia ditentukan oleh tingkat keimanannya terhadap Allah SWT. Dan tiadalah manusia termulia dan terhebat di muka bumi ini selain Nabi Muhammad SAW. Maka Beliau diutus menjadi suritauladan bagi seluruh umat muslim hingga akhir zaman dan juga sebagai rahmat bagi seluruh alam.

    ReplyDelete
  12. Anisa Saafitri
    17701251038
    PEPB

    Hubungan kita dengan dunia seperti hubungan timbal balik. Apa yang kita tanam maka itu yang kita tuai. Misalnya jika kita berbuat jahat kepada orang lain maka tidak akan pernah ada orang yang menyenangi dan membantu kita. Dan jika kita berlaku sombong pada orang lain, maka terhalanglah kita dari ilmu dan hidayah. Maka sebaiknya kita berusaha menghilangkan kesombongan agar kita selalu memperoleh hidayah dan rahmat dari Alah SWT.
    Dalam elegi di atas, dunia itu seperti apa yang kita pikirkan. Jika kita berpikir dunia itu baik, maka pasti akan baik. jika kita menghujat dunia, maka dunia juga akan menghujat kita. Jika kita mampu memandang diri kita sendiri, maka kita mampu memandang dunia. Maka berperilakulah yang baik dan sopan terhadap dunia maka dunia akan baik pula pada kita. Dunia berjalan sesuai dengan sikap kita dalam menghadapi dunia dan dalam sikap kita terhadap orang lain.

    ReplyDelete
  13. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Pada elegi ini nilai diri pada intinya adalah introspeksi diri. Apakah baik, atau buruk, pintar apa bodoh, malas apa rajin. Semua itu bisa dinilai dengan melihat diri kita sendiri, kemudian dibandingkan dengan yang seharusnya seperti apa, yang ideal seperti apa. Agar kita dapat bertindak lebih baik lagi ke depan, maka menggapai nlai diri ini saya rasa perlu karena dengan demikian kita bisa mengetahui apa kelebihan dan kelamahan kita.

    ReplyDelete
  14. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Manusia adalah makhluk yang paling sempurna namun segala kemampuan manusia bersifat terbatas. Manusia tidak luput dari salah dan dosa maka tiadalah satu alasanpun baginya untuk menyombongkan diri. Manusia selalu membutuhkan kehadiran orang lain maka tiadalah nilai diri satu manusia tanpa manusi lainnya. Untuk mampu menjadi pribadi yang lebih baik, manusia harus senantiasa intropeksi diri maka tiadalah isi manusia tanpa refleksi diri. Manusia di dunia adalah untuk mencari bekal yaitu ilmu dan iman dan sebenar-benar orang yang berilmu adalah yang memberi manfaat bagi orang lain dan senantiasa selalu bersyukur kepada Tuhan yang mahakuasa.

    ReplyDelete
  15. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Pada Elegi Menggapai Nilai Diri ini merupakan refleksi bagi kita, untuk selalu intropeksi diri, bahwa tidak ada manusia yang sempurna, dan menjalani hidup ini sendiri. Setiap manusia membutuhkan bantuan dari yang lain. Karena sebenar-benar manusia yang baik adalah memberikan nilai kepada yang lain. Dengan memberi manfaat kepada yang lain. Maka sudah sepantasnya kita selalu refleksi serta meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Nya agar kita selalu diberi kekuatan lahir bathin dan dilancarkan dalam menjalankan segala sesuatunya. Karena sekeras apapun yang dilakukan manusia tidak akan berhasil tanpa kuasa dari Allah.

    ReplyDelete
  16. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Yah benar sekali Pak, manusia termulai dan terhebat adalah Nabi Muahammad SAW. Manusia yang seharusnya patut di contoh, diteladani dan dikagumi. Manusia-manusia yang seperti kita tidak pantas mengatakan dirinya terhebat/memiliki kehebatan, tetapi lebih pantas memiliki keunikan. Keunikan ada pada diri seseorang karenan adanya penilain dari orang lain, keunikan ada dalam diri seseorang karena adanya usaha dalam menggapai logos. Sebenar –benar menggapai logos adalah dilandasi dengan logos. Tidak berhenti sampai di sini, sebaik-baik ilmu yang sudah kita peroleh harus bisa menjadi manfaat bagi diri sendiri dan juga orang lain. Inilah fungsi dari tugas filsafat ilmu, untuk bisa merefleksikan setiap pertemuan kuliah dan memostingnya di blog masing-masing, yang tujuannya untuk berbagi ilmu yang telah dipelajari, supaya bermanfaat bagi banyak orang.

    ReplyDelete
  17. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Manusia diciptakan oleh Allah SWT berbeda satu dengan yang lainnya. Dalam perbedaan itu, janganlah sekali-kali manusia memiliki ego yang berlebihan sampai kesombongan yang tidak terampuni dan merasa lebih baik dari manusia lainnya. Karena sungguh kesombongan itu adalah dosa pertama dan paling besar bagi manusia. Dalam menggapai nilai diri, nilai atau hargamu itu ditentukan oleh orang lain pula. Kita dapat meningkatkan derajat pencapaian ilmu untuk meningkatkan nilai diri. Ilmuakan lebih bermakna jika dapat digunakan dan bermanfaat bagi banyak orang dan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  18. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Terimakasih pak atas postingannya, postingan ini mengajarkan kepada saya untuk menjadi orang yang rendah hati. Artinya janganlah kita sombong atas yang kita punya. Selain itu dalam hidup kita harus berguna bagi diri kita sendiri, keluarga, teman, dan negara. Setinggi tingginya ilmu yang kita miliki, maka kita tidak akan menjadi apa apa jika ilmu itu hanya untuk diri kita, berbagilah ilmu untuk orang lain.
    Untuk mengetahui derajat diri kita, maka kita membutuhkan orang lain untuk menjadi pandangannya. Artinya menentukan sebagaimana diri kita sesuai dengan sudut pandang. Untuk menjadi filsafat tidaklah mudah. Filsafat itu adalah buah dari membaca, belajar dan pengalaman hidup. Filsafat adalah refleksi. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi kegiatan berpikir manusia itu adalah kegiatan refleksi diri. Oleh sebab itu untuk menjadi filsuf sebaiknya kita dapat menilai diri kita sendiri terlebih dahulu.

    ReplyDelete
  19. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Terima kasih atas informasinya, Prof. Saya setuju dengan pernyataan bapak bahwa sebenar-benarnya filsafat adalah adalah buah dari membaca, belajar dan pengalaman hidup. Belajar dari diri kita di hari-hari sebelumnya. Begitu banyak hal yang kita alami dalam kehidupan kita sehingga begitu banyak pula pelajaran yang dapat kita ambil dari pengalaman itu untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

    ReplyDelete
  20. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B


    Setiap manusia di muka bumi ini diciptakan dengan keunikannya masing-masing. Ketika berbicara tentang nilai diri adalah keunikan diri, saya sangat setuju. Setiap orang unik, namun tak banyak yang sadar akan keunikannya. Di sini refleksi diri sangatlah penting untuk menemukan keunikan diri dan mengembangkannya demi mencapai nilai diri yang maksimal.

    ReplyDelete
  21. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Setiap individu mempunyai sifat dan karakter masing-masing. Kita sebagai manusia diberi kenikmatan kelebihan berupa akal dan pikiran. Namun terkadang kita terlupa dengan batasan dari akal dan pemikiran kita, terkadang kita hanya menuruti ego, nafsu akan sesuatu hal hingga kita terlupa akan diri kita sendiri. oleh karena itu dalam belajar filsafat kita selalu diingatkan untuk menjadi manusia yang bersinergi dengan manusia lainnya.

    ReplyDelete
  22. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Ulasan yang begitu menginspirasi. Terima kasih Prof. Selama ini saya sendiri juga belum tahu telah sejauh mana ilmu yang saya miliki sudah bermanfaat atau tidak bagi orang lain. Namun, sejatinya diri ini juga memiliki keinginan yang kuat bahwa ilmu yang ada dapat memberi manfaat tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga orang lain. Saat ini satu tekad yang dapat saya lakukan adalah berusaha untuk melakukan apa yang ada dalam pikiran saya dan memikirkan atas tindakan-tindakan yang telah saya lakukan. Perjalanan mencari ilmu bagi saya begitu panjang, seiring dalam pencarian ilmu tersebut saya mengusahakan pikiran saya dapat membantu orang-orang yang memang membutuhkan bantuan saya. Semoga Tuhan juga mengarahkan saya pada perilaku yang konsisten dalam mencari ilmu.

    ReplyDelete
  23. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Nilai diri seseorang akan lebih tinggi apabila ia mau berusaha mencari ilmu dan pengalaman. Namun ilmu dan pengalaman tersebut ternyata belumlah cukup apabila hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri. Nilai diri seseorang yang memiliki ilmu akan meningkat apabila ilmu tersebut dapat bermanfaat juga bagi orang lain. Namun belum lah cukup apabila bermanfaat bagi orang lain di sekitar. Nilai diri seseorang akan tinggi apabila memiliki ilmu dan bermanfaat bagi orang lain dan banyak orang tidak hanya di sekitar tetapi juga di dunia ini.

    ReplyDelete
  24. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi di atas hikmah yang dapat diambil sangat banyak sekali tentang nilai diri. Menurut Bapak Prof. Dr. Marsigit. M. A yang dimaksud dengan nilai diri adalah keunikan dari masing-masing diri itu sendiri, karena setiap orang itu berbeda dan tidak ada yang menyamai siapapun bahkan kembarannya sekalipun. Kemudian berkaitan dengan eksistensi atau keberadaan seseorang yang senantiasa memperjuangkan dirinya sendiri atau golongannya dan mengaggap dirinya atau kedudukannya terbaik adalah sejatinya hanya penggapaian dan yang tak boleh adalah jika sudah melampaui batas, jika telah sombong, ego hingga mengganggap dirinya adalah Tuhan. Ini yang dilarang, keeksistensian yang tanpa batas. Sesungguhnya yang kita lakukan semua ini adalah boleh dengan batasa, hanya di hati saja. Karena yang paling mulia dan eksis sejatinya adalah Rasulullah Muhammad SAW. Kemudian hikmah yang lain berkaitan tentang mencari ilmu yang bisa bermanfaat bagi orang lain dengan cara refleksi, menghayati apa yang telah dilakukan dan akan dilakukan serta terus membaca.

    ReplyDelete
  25. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah terimakasih prof. Marsigit atas postingan kali ini. Dari elegi di atas, saya belajar untuk berusaha menilai diri saya dari kacamata obyektif. Seseorang yang mampu menganggap dirinya terhebat dan mengatakan dirinya termulia, itulah seburuk manusia, dimana hatinya terselimuti rasa sombong dan tinggi hati. Saya setuju bahwa serendah-rendah derajat orang mencari ilmu adalah jika ilmunya hanya digunakan dan bermanfaat bagi dirinya sendiri. Sehingga bagaimana ia mampu menilai dirinya sendiri sedangkan subyektifitas diri saja masih berkuasa dan menutup diri atas pandangan orang lain. Benar bahwa manusia diciptakan berbeda, bahkan bayi yang kembar identik sekalipun pasti memiliki perbedaan yang orang tidak tahu dimana letak perbedaannya. Keunikan ada pada diri seseorang karena adanya penilain dari orang lain, keunikan ada dalam diri seseorang karena adanya usaha nya dia dalam menggapai logos.Namun perlu disadari bahwa diri yang baik, hanya mampu dan diterima jika dinilai oleh orang lain terlebih penilaian dari Sang Maha Sempurna. Sebaik-baik penilaian diri yang hakiki merupakan penilaian dari Allah, sehingga untuk menggapai nilai diri, buatlah diri agar bernilai dimata Allah swt. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  26. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Tuhan telah menciptakan manusia dengan karakteristik, sifat, fan wajah yang berbeda. Walaupun manusia tersebut merupakan manusia kembar tidak akan ditemukan kesamaan sedikitpun, fisik juga akan ditemukan perbedaan apalagi sifat dari seseorang. Hal tersebut disebabkan oleh sikap orang dalam bertingkah, sifat yang dimiliki seseorng, pengalaman yang telh dialami, dan pengetahuan yang dicapai setiap orang berbeda. Oleh karena itu sebagai seorang guru harus dapat beradaptasi dengan perbedaan siswa-siswa yang dimilikinya, sehingga dapat memfasilitasi semua keragaman siswa tersebut.

    ReplyDelete
  27. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Menggapai nilai diri mencerminkan manusia yang berusahan mencari bagaimana kualitas dirinya dalam hidup ini. Menurut kami kualitas diri manusia berkenaan dengan seberapa banyak ilmu yang dimilikinya dan bagaimana dia membagikan ilmu yang dimilikinya. Seorang manusia tidak berhak menganggap dirinya terbaik ataupun menganggap dirinya terhebat ataupun pula termulai.karena hal tersebut mencerminakan kesombongan dan sesungguhkannya yang dapat memberikan lebel tersebut hanyalah Allah. Hal ini sesuai potongan Q.S Al Mujadilah :11 "Niscaya Allah akan mengangkat(derajat)orang-orang berimam diantara kamu dan orang-orang yang yang diberi ilmu beberapa darajat". sehingga fokus manusia sebagai hambanya dalam hidup ini seharusnya selalu bersyukur dan memaksimalkan segala satu yang diberikan oleh Allah yakni dengan berfikir (berfilsafat) untuk menggapai jalan menuju rodho Nya tanpa di campuri sifat riya, khibir, sombong dll.Terima Kasih.

    ReplyDelete
  28. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb

    Saya memetik kalimat dari Elegi Menggapi Nilai Diri ini yaitu "Tetapi ingatlah keunikanmu itu adalah ada dikarenakan orang yang lain. Maka tiadalah ada artinya dirimu itu jika tanpa orang lain. Artinya, nilai atau hargamu itu ditentukan oleh orang lain pula".
    Saya sangat setuju dengan kalimat tersebut, bahwasannya kita tidak dapat terlepas dari bantuan dan pendapat orang lain. Dengan merefleksi diri dan selalu dapat berkomunikasi baik dengan orang lain merupakan salah satu cara agar kita dapat mengetahui nilai keunikan dari diri kita.

    ReplyDelete