Oct 14, 2011

Elegi Pengembaraan Orang Tua Berambut Putih

Oleh Marsigit



Kini aku merasa sudah saatnya aku mengembara. Supaya pengembaraanku bermakna, maka aku akan bertanya kepada para saksi. Tetapi sebelum aku bertanya kepada saksi-saksi terlebih aku ingin sampaikan bahwa sebenar-benar sebenar-benar saksi tidak lain tidak bukan adalah aku sendiri. Aku ingin mengaku bahwa aku mengetahui segala sesuatu, tetapi jika mereka bertanya kepadaku maka dengan serta merta aku tidak mengetahuinya. Mengapa? Karena sebenar-benar diriku adalah pertanyaan mereka. Bagaimana mungkin aku mengerti tentang pertanyaanku sendiri? Maka sebodoh-bodoh orang adalah diriku ini, karena aku selalu bertanya tentang segala hal, tetapi aku selalu tidak dapat menjelaskannya. Tetapi bukankah mengerti bahwa aku tidak dapat menjawab itu pertanda bahwa tidak tidak mengerti. Maka dapat aku katakan bahwa sebenar-benar diriku adalah tidak tidak mengerti. Hendaknya jangan terkejut bahwa tidak tidak mengerti itu sebenarnya adalah mengerti pula. Maka bukanlah aku yang ingin mengatakan, tetapi mereka yang boleh mengatakan bahwa aku selalu mengerti tentang pertanyaanku itu. Bukankah di sini mereka tahu bahwa sebenar-benar diriku adalah kontradiksi, karena aku sekaligus mengerti dan tidak mengerti. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu kontradiktif. Tetapi janganlah salah paham, kontradiksi itu adalah ilmu, tempat tinggalnya ada dalam pikiranmu.



Orang tua berambut putih berjumpa Socrates, Plato, Aristoteles, George Berkely, Rene Descartes, dan Immanuel Kant.
Wahai Socrates, Plato, Aristoteles, Rene Descartes, David Hume dan Immanuel Kant, ..., bolehka aku bertanya kepadamu. Menurut kesaksianmu, siapakah sebenar-benar dirimu dan sebenar-benar diriku?

Socrates:
Wahai orang tua berambut putih. Sebenar-benar diriku adalah pertanyaanku. Maka aku akan bertanya kepada siapapun tentang segala hal yang aku sukai. Sedangkan sebenar-benar dirimu adalah diriku juga. Maka sebenar-benar dirimu tidak lain adalah pertanyaanku juga pertanyaanmu. Jawaban para pakar dan para ahli itulah sebenar-benar tempat tinggalmu. Itulah sebenar-benar ilmu yaitu pertanyaanmu.

Plato:
Sebenar-benar dirimu adalah pikiranku. Sebenar-benar dirimu adalah imajinasiku. Tidak aku panggil, engkau sudah ada dalam pikiranku. Maka dirimu yang absolut itulah yang selalu aku pikirkan. Semuanya tentang dirimu sudah ada dalam pikiranku. Hanya terkadang aku sulit mengenalimu. Tetapi aku sadar, bahwa banyak orang mencoba mirip-mirip dengan mu. Itulah mereka yang dapat aku lihat dan dapat aku raba. Mereka jumlahnya sangat banyak. Tetapi mereka semuanya bersifat sementara. Maka sebenar-benar dirimu adalah ide-ide ku. Tempat tinggalmu ada dalam pikiranku. Tetapi aku selalu mengkhawatirkanmu, karena dalam pikiranku selalu ada lubang gelap seperti gua. Gua-gua seperti itulah yang menyebabkan aku sulit mengenalmu. Aku juga mengkhawatirkan akan badanku, karena badanku inilah penyebab munculnya gua-gua itu. Maka sebenar-benar dirimu adalah hamba yang terlepas dari penjara badanku. Maka sebenar-benar dirimu adalah pikiranku yang berada di luar gua kegelapanku dan terbebas dari badanku. Itulah sebenar-benar ilmu, tidak lain tidak bukan adalah pikiranku. Tetapi aku mengalami kesulitan untuk menjelaskan kepada orang-orang tentang tempat tinggalmu itu.

Aristoteles:
Aku agak berbeda dengan guruku Plato. Menurutku, sebenar-benar dirimu adalah adalah pengalamanku. Maka tempat tinggalmu adalah pada pengalamanku. Begitu aku menggapai pengalamanku maka dengan serta merta muncullah dirimu itu. Maka menurutku, sebenar-benar dirimu adalah yang dapat aku lihat, aku raba, dan aku indera. Maka sebenar-benar dirimu adalah diluar diriku. Padahal aku tahu bahwa dirimu adalah diriku. Maka aku tidak lain tidak bukan adalah sekaligus bukan aku. Mengapa? Karena aku mengalami kesulitan memahami engkau yang berada diluar diriku. Dan juga mengalami kesulitan bagaimana aku dapat menjelaskan kepada orang-orang bahwa engkau yang berada di luar diriku itu sebenar-benarnya adalah diriku.

George Berkely:
Menurutku, engkau adalah yang aku lihat atau aku persepsi. Jikalau engkau tidak adalah di situ, maka tidak adalah sebenar-benarnya engkau itu. Esse est percipi itulah kata-kataku. Maka sebenar-benar engkau adalah tipuanmu belaka. Engkau adalah fatamorgana. Maka sebenar-benar engkau yang adapat aku lihat adalah tipuan juga. Jadi apalah artnya sesuatu yang dapat engkau lihat itu, kecuali hanya tipuan belaka. Maka dunia ini tidak lain tidak bukan adalah tipuan belaka. Itulah sebenar-benar dirimu itu. Padahal aku tahu bahwa dirimu adalah diriku juga, maka sebenar-benar ilmu itu tidak lain tidak bukan adalah tipuan butamu.

Rene Descartes:
Menurutku, sebenar-benar dirimu adalah mimpiku. Tiadalah aku dapat menemukanmu tanpa mimpi-mimpi itu. Bagiku mimpi adalah nyata. Dan yang nyata bisa juga menjadi mimpiku. Maka sebenar-benar diriku adalah tidak dapat membedakan apakah kenyataan atau mimpiku. Namun aku selalu risau karena jika aku ingin berjumpa denganmu aku selalu dihadang makhluk hitam yang akan menyesatkanku, sehingga aku selalu salah mengertimu. Maka selalulah terjadi bahwa aku selalu meragukan keberadaanmu. Maka sebenar-benar dirimu adalah keraguanku itu sendiri. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu keraguanmu. Aku meragukan semuanya tanpa kecuali. Hanyalah ada satu yang tidak dapat aku ragukan yaitu diriku sendiri yang meragukan itu. Itulah satu-satunya kepastian bagiku. Cogito ergosum itulah kata-kataku, yaitu bahwa diriku itu ada karena aku tahu sedang meragukannya. Bukankah itu sebenar-benar dirimu. Maka sebenar-benar keberadaanku adalah diriku yang berpikir ini.

Immanuel Kant:
Menurutku engkau adalah pikiranku sekaligus pengalamanku. Tiadalah dirimu itu ada di situ tanpa pikiranku atau tanpa pengalamanku. Sedangkan tempat tinggalmu adalah di dalam intuisiku. Ketahuilah bahwa aku mempunyai dua intuisi yaitu intuisi ruang dan intuisi waktu. Itulah sebenar-benar tempat tinggalmu. Tetapi untuk mengerti tentang dirimu aku harus bersifat kritis. Maka sebanar-benar dirimu adalah pikiranku yang kritis. Itulah sebenar-benar ilmu, tidak lain tidak bukan adalah pikiran kritismu. Namun ketahui pula bahwa tidaklah mudah menggapai dirimu. Ketika engkau kukejar dengan pikiran kritisku, maka engkau lari menuju keputusanmu. Itulah setinggi-tinggi tempat tinggalmu, yaitu pada keputusanku. Maka sebenar-benar ilmu tidak lain tidak bukan adalah keputusanmu.

Orang tua berambut putih tidak puas dengan jawaban Socrates, Plato, Aristoteles, George Berkely, Rene Descartes, dan Immanuel Kant.
Ah, ngacau semua mereka itu. Jawaban mereka sesuai selera masing-masing. Maka belum puaslah diriku alan jawaban mereka semua. Tetapi aku sadar bahwa aku sedang berada pada jaman jauh sebelum diriku sekarang. Padahal aku belum sempat bertanya kepada orang sekarang yang berseliweran didepanku. Maka aku berjanji akan meneruskan perjalananku untuk bertanya siapa sebenarnya diriku itu?

Orang tua berambut putih bertemu Hegel, Brouwer, Russell, Wittgenstein, Hilbert, Godel, Husserll, Einstein, Lakatos dan Ernest
Wahai Hegel, Brouwer, Russell, Wittgenstein, Hilbert, Godel, Husserll, Einstein, Lakatos dan Ernest, ..bolehkah aku bertanya kepadamu. Menurut kesaksianmu, siapakah sebenar-benar dirimu dan sebenar-benar diriku itu?

Hegel:
Sebenar-benar dirimu adalah riwayatku. Padahal hidupku telah melampuai masa laluku, dan sedang mengalami waktu kiniku dan bersiap-siap untuk menempuh masa depanku. Itulah sebenar-benar dirimu, adalah sejarah bagimu. Maka akupun tidak lain tidak bukan adalah sejarah itu sendiri. Jadi sebenar-benar ilmu adalah sejarah dirimu. Hidupmu adalah sejarah diriku. Diriku adalah sejarah dunia ini. Maka sebenar-benar dunia adalah mensejarah. Ketahuilah bahwa tiadalah ada di dunia ini beserta wadah dan isinya yang tidak mensejarah. Make tersesatlah wahai orang-orang yang melupakan akan sejarahnya.

Brouwer:
Sebenar-benar dirimu adalah intuisiku. Namun hendaknya engkau ketahui bahwa intuisiku bersifat ganda. Maksudnya adalah jika aku memikirkanmu yang satu maka aku masih dapat mengingat engkau yang lain. Demikianlah seterusnya. Itulah sebenar-benar ilmuku. Yaitu intuisiku yang bersifat ganda.

Russell:
Sebenar-benar dirimu adalah logikaku. Hukum sebab-akibat dalam koherensi itulah sebenar-benar dirimu itu. Dirimu adalah konsistensi logikaku. Dirimu adalah kepastian pikiranku. Dirimu adalah kejelasan pikiranku. Maka sebenar-benar dirimu adalah premis-premis dan kesimpulan yang bersifat rigor. Tiadalah ada dirimu di situ jikalau engkau menyalahi hukum-hukumnya. Tetapi ternyata aku mempunyai musuh yang maha besar yang siap menerkam diriku. Yaitu ketika aku tidak bisa menjawab apakah engkau yang tidak sama dengan engkau itu termasuk anggota dari kumpulan engkau.

Wittgenstein:
Sebenar-benar dirimu adalah kata-kataku. Maka sebenar-benar ilmu itu adalah kata-kata. Kata-kata dan bahasa itulah rumahku. Maka engkau yang besar dapat aku lihat sebagai kumpulan engkau yang kecil-kecil. Engkau yang besar adalah gabungan engkau yang kecil-kecil. Demikianlah sifat kata-kata dan kalimat-kalimat dalam bahasa. Maka barang siapa tidak dapat mengucapkan kata-katanya, maka dia terncam kehilangan ilmunya.

Hilbert:

Sebenar-benar dirimu adalah sistimku. Sebenar-benar dirimu adalah formalitasku. Maka sistimku yang tersusun secara formal itulah sebenar-benar engkau. Itulah engkau yang mampu menaungi semuanya tanpa kecuali. Engkau yang satu adalah tujuanku. Maka tiadalah ilmu yang lain kecuali engkau yang satu itu. Engkau yang satu itulah konsistensi dan kelengkapanmu. Maka sebenar-benar ilmu adalah satu, konsisten dan lengkap. Tetapi aku bermimpi akan ada seseorang muridku yang membalikkan pikiranku ini. Tetapi entahlah.

Godel:
Sebenar-benar dirimu adalah pilihanmu. Engkau tingal memilih salah satu. Jika engkau memilih konsisten, maka tidak akan lengkapkah engkau itu. Jika engkau memilih kelengkapan, maka tidak akanlah engkau itu konsisten. Untuk itu aku berani mempertaruhkan segalanya di depan guruku Hilbert bahwa pernyataanku itu memang benar demikianlah.

Husserll:

Sebenar benar dirimu adalah hanya sebagian dari diriku. Engkau tidak akan mengerti akan dirimu jika engkau berusaha menggapai semuanya. Maka sebenar-benar ilmu adalah phenonemologi, yaitu sebagian darimu yang aku sembunyikan yang lainnya di dalam rumah epoche. Jika aku berpikir tentang satu maka aku singkirkan yang lainnya. Aku bersihkan pikiranku dari memikirkan yang lainnya. Jika aku memikirkan engkau sebagai kubus matematika, maka aku singkirkan semua sifat-sifat yang tidak aku kehendaki. Bukankah ketika aku memikirkan kubus matematika aku tidak perlu memikirkan aroma, aku tidak perlu memikirkan harga jual, aku tidak perlu memikirkan keindahan. Itu semua aku simpan dalam rumah epoche. Sedang yang aku pikirkan hanyalah ukuran dan bentuk dari kubus itu. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu satu atau beberapa sifat dari dirimu yang aku pilih untuk aku pikirkan.

Einstein:

Sebenar-benar dirimu adalah ketidak pastianmu. Tetapi hendahlah engkau ingat bahwa ketidak pastianmu itulah sebenar-benar kepastian. Maka relativisme itulah kata-kataku. Aku tidak pernah pasti dapat menentukan dirimu. Namun, itu juga kepastianku. Aku memastikan bahwa aku dalam keadaan berhenti ketika aku bersama-sama berjalan denganmu. Tetapi aku juga dapat memastikan bahwa aku dalam keadaan berjalan ketika aku bersama-sama berhenti dengan mu. Ketinggianmu adalah sekaligus tempat paling rendahmu, demikian sebaliknya. Kecepatan dan masa itulah kunci untuk mengetahui tempat tinggalku. Maka e=mc2 itulah sebenar-benar diriku. Maka sesungguh-sungguhnya ilmu adalah relativitasmu.

Lakatos:
Sebenar-benar dirimu adalah kesalahanku. Ketahuilah bahwa tiada benar tanpa mengerti kesalahan. Maka sebenar-benar ilmu adalah kesalahan itu sendiri. Maka fallibism itulah kata-kataku. Maka jika engkau ingin menggapai benar, maka tidaklah engkau bisa terhindar dari kesalahan. Ketahuilah bahwa menghindari yang salah bukan satu-satunya jalan menuju yang benar. Sedangkan menggapai yang benar tidak berarti menghindari yang salah. Maka sebenar-benar dirimu adalah kesalahanku itu. Maka sebenar-benar tempat tinggalmu adalah di antara yang benar dan salah.

Ernest:
Sebenar-benar dirimu adalah pergaulanmu. Maka tiadalah dirimu itu tanpa pergaulanmu. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu pergaulan itu sendiri. Maka selalu bergaullah antar sesamamu agar engkau memperoleh ilmumu. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu perolehanmu dalam pergaulanmu. Maka socio-constructivist adalah kata-kataku. Yaitu bahwa ilmumu kamu peroleh melalui pergaulanmu.

Orang tua berambut putih ternyata belum puas dengan jawaban Hegel, Brouwer, Russell, Wittgenstein, Hilbert, Godel, Husserll, Lakatos dan Ernest
Ah, ngacau semua mereka itu. Jawaban mereka sesuai selera masing-masing. Maka belum puaslah diriku akan jawaban mereka semua. Tetapi aku sadar bahwa aku sedang berada perjalananku. Tetapi aku ragu apakah aku mampu memikirkan masa depanku?

Orang tua berambut putih bertemu dengan Teleologi
Wahai seseorang, siapakah dirimu itu. Rasa-rasanya aku pernah melihatmu, tetapi tidaklah begitu jelas. Rasa-rasanya aku pernah pergi bersamamu tetapi aku lupa kemana ketika itu. Rasa-rasanya aku pernah berdiskusi denganmu, tetapi aku lupa tentang apa yang kita diskusikan ketika itu.

Teleologi:
Kenalkanlah namaku adalah teleologi. Aku adalah adalah seorang pembantu. Engkau ingatlah seseorang yang bernama Immanuel Kant. Itulah sebenar-benar tuanku. Aku disuruh oleh Immanuel Kant untuk menemuimu. Mengapa? Karena Immanuel Kant mendengar pertanyaan dan kegelisahan dirimu tentang masa depanmu.

Orang tua berambut putih:

Menurut pengetahuanku, Immanuel Kant mempunyai banyak sekali pembantu. Maka tolong jelaskanlah engkau siapa sebenarnya.

Teleologi:

Aku adalah masa depan. Aku berangkat dari masa lampau. Aku adalah semuanya dalam dimensi ruang dan waktu.

Orang tua berambut putih:
Aku tidak jelas penjelasanmu itu. Tolong bicara yang agak rinci.

Teleologi:
Tiadalah sesuatu itu tidak berasal dari sesuatu yang lain. Tiadalah pula sesuatu itu tidak menjadi sesuatu yang lain. Benda sebesar bumi ini akan menjadi sebuah titik jika engkau melihatnya dari kejauhan. Maka sebaliknya, tidaklah engkau dapat menduga bahwa sebuah titik pun bisa menjadi bumi pada masa depannya. Garis sepanjang ini akan menjadi titik jika engkau melihatnya dari kejauhan. Maka sebaliknya, tidaklah engkau dapat menduga bahwa sebuah titik pun bisa menjadi garis pada masa depannya. Berdasarkan analogi tersebut maka aku mengkhawatirkanmu bahwa di masa depanmu engkau akan bisa berbentuk apa saja. Engkau bisa saja terbang seperti seekor burung jika seribu, sejuta, semilyard keturunanmu selalu menginginkan terbang dan beratih untuk terbang. Itulah sebenar-benar diriku. Itu pulalah sebenar-benar ilmuku dan juga ilmumu. Jadi sebenar-benar ilmu adalah diriku, yaitu teleologi.

26 comments:

  1. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Berbagai macam jalan untuk mendapatkan ilmu. Salah satunya ilmu dapat diperoleh dari pengalaman hidup yang dimiliki, jika kita dapat mengambil pelajaran didalamnya. Akan tetapi jika kita tidak dapat mengambil pelajaran maka kita tidak sama sekali mendapatkan ilmunya. Pengalaman yang buruk akan menjadi sebuah ilmu yang baik jika kita dapat mengambil nilai pelajarannya, akan tetapi pengalamn yang baikpun tidak menjamin kita mendapatkan ilmu jika tidak dapat mengambil pelajaran didalamnya. Ilmu yang diraih tidak akan menjadi manfaat jika kita tidak menempatkan nya menjadi suatu tujuan. Maka dari itu ilmu yang sudah ada pada saat sekarang akan menjadi manfaat jika kita menjadikan sebuah tujuan dimasa akan datang.

    ReplyDelete
  2. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Elegi pengembaraan orang tua berambut putih mengajarkan saya bahwa akan menjadi apa saya nanti di masa depan ditentukan oleh saya di masa sekarang. Pelajaran lain yang dapat saya ambil adalah jangan menilai masa depan seseorang hanya dengan melihat dia di masa sekarang. Mungkin saja orang tersebut akan tumbuh, berkembang, dan berdaya. Seorang muslim di masa sekarang pun belum tentu masih muslim ketika maut menjemput. Untuk itu perlulah kita berdoa agar Allah menjaga kita selalu agar tetap berada di jalanNya yang lurus.

    ReplyDelete
  3. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Menuntut ilmu harus didasari dengan sebuah kesadaran akan kebutuhan karena ketidaktahuan kita tentang ilmu tersebut. Orang Tua Berambut Putih dalam Elegi ini telah memberikan contoh kegigihannya dalam mencari tahu tentang sesuatu. Dia tidak puas hanya dengan melihat masa lampau, tapi juga sekarang dan masa depan. Inilah yang bisa kita teladani dalam menuntut ilmu, yaitu kita harus melihat masa lampau,sekarang dan masa depan

    ReplyDelete
  4. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Orang tua berambut putih sedang mengembara mencari hakikat dirinya. Orang tua berambut putih menemui para ahli dan mereka berpendapat mengenai hakikat diri orang tua berambut putih dan diri sendiri sesuai dengan temuan masing-masing. Pengembaraan orang tua berambut putih adalah bermuara pada teleologi yaitu ajaran yang menerangkan segala sesuatu dan segala kejadian menuju pada tujuan tertentu. Tujuan yang dimaksud di sini adalah ilmu itu sendiri.

    ReplyDelete
  5. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Pengembaraan orangtua berambut putih yang bertemu dengan beberapa tokoh yaitu Socrates, Plato, Aristoteles, George Berkely, Rene Descartes, dan Immanuel Kant. Orang berambut putih menanyakan siapakah sebenar-benar diriku dan dirimu dan bagaimanakah jawaban masing-masing tokoh tersebut? Mereka mengungkapkan hal yang berbeda-beda terkait siapakah diriku dan dirimu. Sebenar-benar diriku dan dirimu adalah orang yang sedang mencari ilmu. Meskipun sudah tua dan memiliki pangkat yang tinggi seharusnya kita tetap mencari ilmu.

    ReplyDelete
  6. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika

    Teologi adalah segala sesuatu dalam dimensi ruang dan waktu. Teologi adalah masa depan. Teologi berangkat dari masal lampau. Maka sebenar-benar ilmu adalah teologi. Ilmu merupakan sesuatu dalam dimensi ruang dan waktu. Karena ilmu adalah masa depan. Karena ilmu berangkat dari masa lalu. Karena itulah kita harus senantiasa mencari ilmu karena ilmu akan selalu berkembang. Ilmu berangkat dari masa lalu dan menuju masa depan. Karena itulah belajar ialah sepanjang hayat.

    ReplyDelete
  7. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh


    Ilmu pengetahuan adalah harta yang tak terkira harganya. Ilmu pengetahuan di sini tidak diartikan sempit hanya sebagai materi – materi yang dipelajari di dalam kelas saja. Melainkan juga mencakup yang ada dan mungkin ada. Pengetahuanku adalah riwayatku. Ilmu adalah sejarahmu. Oleh karena itu kita tidak boleh melupakan sejarah. Pengetahuan juga bisa berupa intuisi, logika, kata – kata, system, pilihan, mimpi dan bahkan persepsiku. Janganlah berhenti menuntut ilmu, karena ilmu itu tidak terbatas.

    ReplyDelete
  8. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Teleologi pada dasarnya adalah tentang adanya keberadaan Tuhan yang maha pencipta dan maha mengatur segalanya. Di dalamnya ada keyakinan bahwa segala peristiwa yang terjadi di alam semesta ini bukan hanya sebuah kebetulan, melainkan sudah ada yang mengaturnya. Ada salah satu paham teleologis yaitu Eudaimonisme yang beranggapan bahwa tujuan akhir hidup manusia adalah kebahagiaan. Kebahagiaan hidup dapat diraih apabila dalam hidup kita mengikuti pedoman hidup yang sudah ada dalam Al-Quran. Di dalamnya terdapat petunjuk, perintah, dan larangan agar manusia mencapai kebahagiaan hidup.

    ReplyDelete
  9. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Saya setuju dengan pendapat Rene Deskrates bahwa “sebenar-benar dirimu adalah mimpiku”. Dalam kehidupan ini sejatinya manusia memang harus memiliki impian. Saya sejak kecil memiliki impian untuk menjadi seorang guru, sehingga saya memilih jurusan pendidikan matematika. Saat seseorang sudah memiliki impian maka dia akan berusaha keras dalam mewujudkannya dan dia tidak akan pantang menyerah sebelum mencapai tujuan tersebut. Pernah ada seseorang yang berkata apabila kita gagal pada salah satu mimpi maka masih terdapat mimpi-mimpi lain yang dapat dicapai. Saya kurang sependapat dengan pernyataan tersebut karena menurut saya apabila mimpi kita belum terwujud maka ada yang kurang maksimal dari usaha kita dan sejatinya hal tersebut harus diperbaiki.

    ReplyDelete
  10. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. semua murid pasti punya guru, semua guru pasti pernah menjadi murid, semua guru juga punya guru. Agar tidak hilang ilmu itu diajarkan. Apa yang diketahui guru bisa jadi lebih sedikit dari apa yang diketahui siswa karena ilmu itu itu berkembang. Bisa jadi asal ilmu itu satu, tapi ia berkembang menjadi banyak karena banyak orang yang memikirkan dan mengembangkannya.

    ReplyDelete
  11. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Tiadalah sesuatu itu tidak berasal dari sesuatu yang lain. Tiadalah pula sesuatu itu tidak menjadi sesuatu yang lain. Tidak ada yang memiliki sifat identitas jika dikaitkan dengan ruang dan waktu. Aku bukanlah aku jika itu terikat ruang dan waktu. Karena Aku yang disebutkan pertama kali pastilah berbeda dengan Aku yang disebutkan sepersekian detik setelahnya.

    ReplyDelete
  12. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Menuntut ilmu harus didasari dengan sebuah kesadaran akan kebutuhan karena ketidaktahuan kita tentang ilmu tersebut. Orang Tua Berambut Putih dalam Elegi ini telah memberikan contoh kegigihannya dalam mencari tahu tentang sesuatu. Dia tidak puas hanya dengan melihat masa lampau, tapi juga sekarang dan masa depan. Inilah yang bisa kita teladani dalam menuntut ilmu, yaitu kita harus melihat masa lampau (pemikiran para tokoh), sekarang (perkembangan saat ini), dan masa depan (prediksi di masa yang akan datang).

    ReplyDelete
  13. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Orang tua berambut putih memulai pengembaraannya dengan didasari atas kesadarannya dan kebutuhannya mencari ilmu. Dalam diri orang tua berambut putih timbul pertanyaan-pertanyaan yang tidak mampu ia jawab sehingga ia memutuskan untuk mengembara dalam rangka mencari jawabannya. Hal semacam ini bisa menjadi contoh bagi guru dalam mengajar di dalam kelas. Guru harus mampu membangkitkan rasa keingin tahuan siswa sehingga siswa termotivasi untuk senantiasa belajar tanpa adanya paksaan dari manapun.

    ReplyDelete
  14. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Pada elegi ini, saya menginterpretasikan bahwa ilmu dapat didefinisikan dari berbagai sudut pandang, sebanyak para filsuf mendefinisikannya. Ilmu itu sangat luas dan tersebar dimana-mana. Ilmu itu adalah untuk masa depan. Oleh karena itu, hendaknya ilmu itu tidak hanya untuk kita sendiri tetapi juga untuk orang lain. Sebaik-baik ilmu adalah yang memberikan kebaikan dan kebermanfaatan bagi diri sendiri dan sekitar. Maka dari itu, marilah bersemangat tidak hanya untuk mencari ilmu, tetapi juga semangat untuk menyebarkannya untuk niatan kebaikan secara tulus ikhlas.

    ReplyDelete
  15. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Asal muasal dari segala yang ada dan yang mungkin ada adalah dari sesuatu lainnya dari yang ada dan yang mungkin ada. Suatu hal yang ada dapat berasal dari hal ada yang sama, atau hal ada yang tidak sama. Segala Sesutu yang sama akan membuat ada menjadi berkembang, namun jika sesuatu yang berbeda akan membuat ada menjadi lebih baik

    ReplyDelete
  16. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dari elegi ini, karena waktu selain bersifar spiral juga linear, maka dari sifat linear ini kita harus berpikir kedepan. Berpikir kedepan artinya mempunyai perspektif berpikir yang luas, kita akan menyumbang untuk masa depan kita. Dengan begitu, kita akan ikhtiar maksimal dan doa terbaik untuk kita di masa depan.

    ReplyDelete
  17. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Awalnya saya sungguh tak mengerti dan merasa asing dengan filsafat. Bahkan ketika membaca elegi yang pertama kali, saya merasa kesulitan. Saya berterima kasih kepada Bapak Marsigit yang telah memfasilitasi mahasiswa untuk mengenal, memahami, dan memberdayakan ilmu-ilmu yang telah diuraikan dari berbagai elegi yang telah disajikan. Elegi-elegi tersebut sungguh bermanfaat, khususnya dapat dijadikan bekal guna menjadi seorang pendidik yang profesional. Di dalam elegi telah banyak memberikan banyak pembelajaran, mulai dari bagaimana pendidik yang profesional, metode apa yang seharusnya digunakan, media seperti apa yang perlu dikembangkan, aktivitas pembelajaran yang berpusat ada siswa, teacher are researchers (guru adalah peneliti), pentingnya komunikasi, dan lain sebagainya

    ReplyDelete
  18. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Sebagai tambahan komentar saya di atas, Dari elegi di atas dapat dirangkum menjadi “Socrates: diriku adalah pertanyaanku, Plato : dirimu adalah imajinasiku, Aristoteles: dirimu adalah adalah pengalamanku; George Berkely: engkau adalah fatamorgana; Rene Descartes: dirimu adalah mimpiku; Immanuel Kant: engkau adalah pikiranku sekaligus pengalamanku: Hegel: dirimu adalah riwayatku; Brouwer: dirimu adalah intuisiku; Russell: dirimu adalah logikaku; Wittgenstein: dirimu adalah kata-kataku; Hilbert: dirimu adalah sistimku (dirimu adalah formalitasku); Godel: dirimu adalah pilihanmu; Husserll: dirimu adalah hanya sebagian dari diriku; Einstein: dirimu adalah ketidak pastianmu; Lakatos: dirimu adalah kesalahanku; Ernest: dirimu adalah pergaulanmu; Teleologi: Aku adalah masa depan. Aku berangkat dari masa lampau. Aku adalah semuanya dalam dimensi ruang dan waktu.”

    ReplyDelete
  19. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Menuntut ilmu merupakan bagian dari kewajiban manusia agar lebih memiliki pengetahuan yang lebih. Karena ilmu itu berasal dari diri sendiri yang dilakukan dengan usaha sendiri untuk mencapai ilmu yang diingkan itu. ilmu juga memberikan sumbang sih untuk masa depan kita sendiri. Sebuah ketidak pastian tetapi bisa dilihat oleh kita sendiri meskipun masih ada kemungkinan faktor lain yang dapat membuat itu salah di mata kita. karena, semua hal yang belu terjadi itu adalah takdir Allah yang belum dijatuhkan ke kita. seperti motto saya “mimpilah setinggi langit, walaupun jatuh jatuhlah bersama beribu bintang”. Ya kalau masa depan kita tidak sesuai dengan rencana kita, tetapi Allah itu memiliki rencana yang jauh lebih baik dari bayangan kita. maka percaya lah itu.

    ReplyDelete
  20. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    menurut saya dari bacaan diatas, pada dasarnya ilmu filsafat itu tergantung pada ruang dan waktu demikian pula dari pemikiran para ahli memiliki cara berpikir yang berbeda. para ahli ini memiliki ilmu dan ideologis masing-masing yang dipandang dari berbagai sudut pandang.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  21. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Dirimu adalah duniamu, ketika kita mencari tahu tentang bagaimana diri kita kepada orang lain, sejatinya kita akan mendapatkan pemahaman akan dunia kita dari perspektif atau pandangan yang dilihat dari dunia yang lain. Sebagaimana memahami diri kita sendiri haruslah melalui bagaimana kita di masa lalu yang menjadikan diri kita dimasa kini, dan menjadikan pandangan diri kita di masa kini menjadi pondasi untuk diri kita di masa datang.

    ReplyDelete
  22. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Dalam mendefinisikan ilmu banyak sekali definisinya. Membangun ilmu pengetahuan itu dimulai dari yang ada dan yang mungkin ada. Pendefinisian pengetahuan berdasarkan filsafat sangat banyak, karena jika pengetahuan dibangun secara filsafati maka akan banyak definisi dari para filsuf yang berbeda satu dengan lainnya, ada juga yang menggabungkan definisi dari para filsuf. Karena sebenar-benar filsafat adalah olah pikir dan pikiran manusia berbeda-beda tak hingga banyaknya.

    ReplyDelete
  23. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Banyak sekali definisi dari ilmu atau pengetahuan. Ada sekian banyak filsuf, maka ada sekian banyak juga definisi tentang pengetahuan. Definisi setiap orang tentang ilmu akan berbeda tergantung dari pengetahuan awal yang dimilikinya, pikirannya, dan pengalamannya. Karena ilmu akan selalu berkembang mengikuti perkembangan zaman, maka definisi tentang ilmu pun akan selalu berkembang setiap saat tergantung ruang, waktu, dan manusia yang memikirkannya.

    ReplyDelete
  24. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Ketidakselarasan antara apa yang dikoar-koarkan dengan apa yang menjadi realita seringkali menjadi sesuatu yang sangat miris. Karena pada dasarnya seharusnya jika sesuai dengan logika, iklan atau larangan seperti bentuk iklan itu diharapkan akan memberikakn dampak yang positif bagi masyarakat secara luas. Hal inilah yang diinginkan diadakannya slogan-slogan ajakan untuk berbuat baik. Namun, ada hal yang perlu diperbaiki yaitu para peringgi yang di contoh seharusnya memberikan cerminan yang baik agar dapat ditiru oleh masyarakat yang memang perlu panutan yang baik.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  25. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017
    Terima kasih atas postingannya Prof. Inilah salah satu contoh keikhlasan dan kegigihan dalam menuntut ilmu. Menunjukkan sifat tidak mudah puas dengan ilmu yang telah dimiliki adalah kuncinya. Dengan sifat itu kita akan terus berusaha mencari tahu sumber sehingga kita benar-benar mengerti tentang sesuatu.

    ReplyDelete
  26. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Masa depan manusia ditentukan oleh masa lalunya. Jika kehidupan manusia di masa lalunya diisi dengan tidak berhenti bertanya dan bertanya untuk memperoleh ilmu, bersyukur, dan beribadah, serta di dalam kegiatannya sehari-hari ia tidak hanya menggunakan akal dan pikiran melainkan hati nurani juga, maka masa depannya pun akan cerah, sukses, dan penuh dengan kebaikan.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete