Oct 14, 2011

Elegi Pengembaraan Orang Tua Berambut Putih

Oleh Marsigit



Kini aku merasa sudah saatnya aku mengembara. Supaya pengembaraanku bermakna, maka aku akan bertanya kepada para saksi. Tetapi sebelum aku bertanya kepada saksi-saksi terlebih aku ingin sampaikan bahwa sebenar-benar sebenar-benar saksi tidak lain tidak bukan adalah aku sendiri. Aku ingin mengaku bahwa aku mengetahui segala sesuatu, tetapi jika mereka bertanya kepadaku maka dengan serta merta aku tidak mengetahuinya. Mengapa? Karena sebenar-benar diriku adalah pertanyaan mereka. Bagaimana mungkin aku mengerti tentang pertanyaanku sendiri? Maka sebodoh-bodoh orang adalah diriku ini, karena aku selalu bertanya tentang segala hal, tetapi aku selalu tidak dapat menjelaskannya. Tetapi bukankah mengerti bahwa aku tidak dapat menjawab itu pertanda bahwa tidak tidak mengerti. Maka dapat aku katakan bahwa sebenar-benar diriku adalah tidak tidak mengerti. Hendaknya jangan terkejut bahwa tidak tidak mengerti itu sebenarnya adalah mengerti pula. Maka bukanlah aku yang ingin mengatakan, tetapi mereka yang boleh mengatakan bahwa aku selalu mengerti tentang pertanyaanku itu. Bukankah di sini mereka tahu bahwa sebenar-benar diriku adalah kontradiksi, karena aku sekaligus mengerti dan tidak mengerti. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu kontradiktif. Tetapi janganlah salah paham, kontradiksi itu adalah ilmu, tempat tinggalnya ada dalam pikiranmu.



Orang tua berambut putih berjumpa Socrates, Plato, Aristoteles, George Berkely, Rene Descartes, dan Immanuel Kant.
Wahai Socrates, Plato, Aristoteles, Rene Descartes, David Hume dan Immanuel Kant, ..., bolehka aku bertanya kepadamu. Menurut kesaksianmu, siapakah sebenar-benar dirimu dan sebenar-benar diriku?

Socrates:
Wahai orang tua berambut putih. Sebenar-benar diriku adalah pertanyaanku. Maka aku akan bertanya kepada siapapun tentang segala hal yang aku sukai. Sedangkan sebenar-benar dirimu adalah diriku juga. Maka sebenar-benar dirimu tidak lain adalah pertanyaanku juga pertanyaanmu. Jawaban para pakar dan para ahli itulah sebenar-benar tempat tinggalmu. Itulah sebenar-benar ilmu yaitu pertanyaanmu.

Plato:
Sebenar-benar dirimu adalah pikiranku. Sebenar-benar dirimu adalah imajinasiku. Tidak aku panggil, engkau sudah ada dalam pikiranku. Maka dirimu yang absolut itulah yang selalu aku pikirkan. Semuanya tentang dirimu sudah ada dalam pikiranku. Hanya terkadang aku sulit mengenalimu. Tetapi aku sadar, bahwa banyak orang mencoba mirip-mirip dengan mu. Itulah mereka yang dapat aku lihat dan dapat aku raba. Mereka jumlahnya sangat banyak. Tetapi mereka semuanya bersifat sementara. Maka sebenar-benar dirimu adalah ide-ide ku. Tempat tinggalmu ada dalam pikiranku. Tetapi aku selalu mengkhawatirkanmu, karena dalam pikiranku selalu ada lubang gelap seperti gua. Gua-gua seperti itulah yang menyebabkan aku sulit mengenalmu. Aku juga mengkhawatirkan akan badanku, karena badanku inilah penyebab munculnya gua-gua itu. Maka sebenar-benar dirimu adalah hamba yang terlepas dari penjara badanku. Maka sebenar-benar dirimu adalah pikiranku yang berada di luar gua kegelapanku dan terbebas dari badanku. Itulah sebenar-benar ilmu, tidak lain tidak bukan adalah pikiranku. Tetapi aku mengalami kesulitan untuk menjelaskan kepada orang-orang tentang tempat tinggalmu itu.

Aristoteles:
Aku agak berbeda dengan guruku Plato. Menurutku, sebenar-benar dirimu adalah adalah pengalamanku. Maka tempat tinggalmu adalah pada pengalamanku. Begitu aku menggapai pengalamanku maka dengan serta merta muncullah dirimu itu. Maka menurutku, sebenar-benar dirimu adalah yang dapat aku lihat, aku raba, dan aku indera. Maka sebenar-benar dirimu adalah diluar diriku. Padahal aku tahu bahwa dirimu adalah diriku. Maka aku tidak lain tidak bukan adalah sekaligus bukan aku. Mengapa? Karena aku mengalami kesulitan memahami engkau yang berada diluar diriku. Dan juga mengalami kesulitan bagaimana aku dapat menjelaskan kepada orang-orang bahwa engkau yang berada di luar diriku itu sebenar-benarnya adalah diriku.

George Berkely:
Menurutku, engkau adalah yang aku lihat atau aku persepsi. Jikalau engkau tidak adalah di situ, maka tidak adalah sebenar-benarnya engkau itu. Esse est percipi itulah kata-kataku. Maka sebenar-benar engkau adalah tipuanmu belaka. Engkau adalah fatamorgana. Maka sebenar-benar engkau yang adapat aku lihat adalah tipuan juga. Jadi apalah artnya sesuatu yang dapat engkau lihat itu, kecuali hanya tipuan belaka. Maka dunia ini tidak lain tidak bukan adalah tipuan belaka. Itulah sebenar-benar dirimu itu. Padahal aku tahu bahwa dirimu adalah diriku juga, maka sebenar-benar ilmu itu tidak lain tidak bukan adalah tipuan butamu.

Rene Descartes:
Menurutku, sebenar-benar dirimu adalah mimpiku. Tiadalah aku dapat menemukanmu tanpa mimpi-mimpi itu. Bagiku mimpi adalah nyata. Dan yang nyata bisa juga menjadi mimpiku. Maka sebenar-benar diriku adalah tidak dapat membedakan apakah kenyataan atau mimpiku. Namun aku selalu risau karena jika aku ingin berjumpa denganmu aku selalu dihadang makhluk hitam yang akan menyesatkanku, sehingga aku selalu salah mengertimu. Maka selalulah terjadi bahwa aku selalu meragukan keberadaanmu. Maka sebenar-benar dirimu adalah keraguanku itu sendiri. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu keraguanmu. Aku meragukan semuanya tanpa kecuali. Hanyalah ada satu yang tidak dapat aku ragukan yaitu diriku sendiri yang meragukan itu. Itulah satu-satunya kepastian bagiku. Cogito ergosum itulah kata-kataku, yaitu bahwa diriku itu ada karena aku tahu sedang meragukannya. Bukankah itu sebenar-benar dirimu. Maka sebenar-benar keberadaanku adalah diriku yang berpikir ini.

Immanuel Kant:
Menurutku engkau adalah pikiranku sekaligus pengalamanku. Tiadalah dirimu itu ada di situ tanpa pikiranku atau tanpa pengalamanku. Sedangkan tempat tinggalmu adalah di dalam intuisiku. Ketahuilah bahwa aku mempunyai dua intuisi yaitu intuisi ruang dan intuisi waktu. Itulah sebenar-benar tempat tinggalmu. Tetapi untuk mengerti tentang dirimu aku harus bersifat kritis. Maka sebanar-benar dirimu adalah pikiranku yang kritis. Itulah sebenar-benar ilmu, tidak lain tidak bukan adalah pikiran kritismu. Namun ketahui pula bahwa tidaklah mudah menggapai dirimu. Ketika engkau kukejar dengan pikiran kritisku, maka engkau lari menuju keputusanmu. Itulah setinggi-tinggi tempat tinggalmu, yaitu pada keputusanku. Maka sebenar-benar ilmu tidak lain tidak bukan adalah keputusanmu.

Orang tua berambut putih tidak puas dengan jawaban Socrates, Plato, Aristoteles, George Berkely, Rene Descartes, dan Immanuel Kant.
Ah, ngacau semua mereka itu. Jawaban mereka sesuai selera masing-masing. Maka belum puaslah diriku alan jawaban mereka semua. Tetapi aku sadar bahwa aku sedang berada pada jaman jauh sebelum diriku sekarang. Padahal aku belum sempat bertanya kepada orang sekarang yang berseliweran didepanku. Maka aku berjanji akan meneruskan perjalananku untuk bertanya siapa sebenarnya diriku itu?

Orang tua berambut putih bertemu Hegel, Brouwer, Russell, Wittgenstein, Hilbert, Godel, Husserll, Einstein, Lakatos dan Ernest
Wahai Hegel, Brouwer, Russell, Wittgenstein, Hilbert, Godel, Husserll, Einstein, Lakatos dan Ernest, ..bolehkah aku bertanya kepadamu. Menurut kesaksianmu, siapakah sebenar-benar dirimu dan sebenar-benar diriku itu?

Hegel:
Sebenar-benar dirimu adalah riwayatku. Padahal hidupku telah melampuai masa laluku, dan sedang mengalami waktu kiniku dan bersiap-siap untuk menempuh masa depanku. Itulah sebenar-benar dirimu, adalah sejarah bagimu. Maka akupun tidak lain tidak bukan adalah sejarah itu sendiri. Jadi sebenar-benar ilmu adalah sejarah dirimu. Hidupmu adalah sejarah diriku. Diriku adalah sejarah dunia ini. Maka sebenar-benar dunia adalah mensejarah. Ketahuilah bahwa tiadalah ada di dunia ini beserta wadah dan isinya yang tidak mensejarah. Make tersesatlah wahai orang-orang yang melupakan akan sejarahnya.

Brouwer:
Sebenar-benar dirimu adalah intuisiku. Namun hendaknya engkau ketahui bahwa intuisiku bersifat ganda. Maksudnya adalah jika aku memikirkanmu yang satu maka aku masih dapat mengingat engkau yang lain. Demikianlah seterusnya. Itulah sebenar-benar ilmuku. Yaitu intuisiku yang bersifat ganda.

Russell:
Sebenar-benar dirimu adalah logikaku. Hukum sebab-akibat dalam koherensi itulah sebenar-benar dirimu itu. Dirimu adalah konsistensi logikaku. Dirimu adalah kepastian pikiranku. Dirimu adalah kejelasan pikiranku. Maka sebenar-benar dirimu adalah premis-premis dan kesimpulan yang bersifat rigor. Tiadalah ada dirimu di situ jikalau engkau menyalahi hukum-hukumnya. Tetapi ternyata aku mempunyai musuh yang maha besar yang siap menerkam diriku. Yaitu ketika aku tidak bisa menjawab apakah engkau yang tidak sama dengan engkau itu termasuk anggota dari kumpulan engkau.

Wittgenstein:
Sebenar-benar dirimu adalah kata-kataku. Maka sebenar-benar ilmu itu adalah kata-kata. Kata-kata dan bahasa itulah rumahku. Maka engkau yang besar dapat aku lihat sebagai kumpulan engkau yang kecil-kecil. Engkau yang besar adalah gabungan engkau yang kecil-kecil. Demikianlah sifat kata-kata dan kalimat-kalimat dalam bahasa. Maka barang siapa tidak dapat mengucapkan kata-katanya, maka dia terncam kehilangan ilmunya.

Hilbert:

Sebenar-benar dirimu adalah sistimku. Sebenar-benar dirimu adalah formalitasku. Maka sistimku yang tersusun secara formal itulah sebenar-benar engkau. Itulah engkau yang mampu menaungi semuanya tanpa kecuali. Engkau yang satu adalah tujuanku. Maka tiadalah ilmu yang lain kecuali engkau yang satu itu. Engkau yang satu itulah konsistensi dan kelengkapanmu. Maka sebenar-benar ilmu adalah satu, konsisten dan lengkap. Tetapi aku bermimpi akan ada seseorang muridku yang membalikkan pikiranku ini. Tetapi entahlah.

Godel:
Sebenar-benar dirimu adalah pilihanmu. Engkau tingal memilih salah satu. Jika engkau memilih konsisten, maka tidak akan lengkapkah engkau itu. Jika engkau memilih kelengkapan, maka tidak akanlah engkau itu konsisten. Untuk itu aku berani mempertaruhkan segalanya di depan guruku Hilbert bahwa pernyataanku itu memang benar demikianlah.

Husserll:

Sebenar benar dirimu adalah hanya sebagian dari diriku. Engkau tidak akan mengerti akan dirimu jika engkau berusaha menggapai semuanya. Maka sebenar-benar ilmu adalah phenonemologi, yaitu sebagian darimu yang aku sembunyikan yang lainnya di dalam rumah epoche. Jika aku berpikir tentang satu maka aku singkirkan yang lainnya. Aku bersihkan pikiranku dari memikirkan yang lainnya. Jika aku memikirkan engkau sebagai kubus matematika, maka aku singkirkan semua sifat-sifat yang tidak aku kehendaki. Bukankah ketika aku memikirkan kubus matematika aku tidak perlu memikirkan aroma, aku tidak perlu memikirkan harga jual, aku tidak perlu memikirkan keindahan. Itu semua aku simpan dalam rumah epoche. Sedang yang aku pikirkan hanyalah ukuran dan bentuk dari kubus itu. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu satu atau beberapa sifat dari dirimu yang aku pilih untuk aku pikirkan.

Einstein:

Sebenar-benar dirimu adalah ketidak pastianmu. Tetapi hendahlah engkau ingat bahwa ketidak pastianmu itulah sebenar-benar kepastian. Maka relativisme itulah kata-kataku. Aku tidak pernah pasti dapat menentukan dirimu. Namun, itu juga kepastianku. Aku memastikan bahwa aku dalam keadaan berhenti ketika aku bersama-sama berjalan denganmu. Tetapi aku juga dapat memastikan bahwa aku dalam keadaan berjalan ketika aku bersama-sama berhenti dengan mu. Ketinggianmu adalah sekaligus tempat paling rendahmu, demikian sebaliknya. Kecepatan dan masa itulah kunci untuk mengetahui tempat tinggalku. Maka e=mc2 itulah sebenar-benar diriku. Maka sesungguh-sungguhnya ilmu adalah relativitasmu.

Lakatos:
Sebenar-benar dirimu adalah kesalahanku. Ketahuilah bahwa tiada benar tanpa mengerti kesalahan. Maka sebenar-benar ilmu adalah kesalahan itu sendiri. Maka fallibism itulah kata-kataku. Maka jika engkau ingin menggapai benar, maka tidaklah engkau bisa terhindar dari kesalahan. Ketahuilah bahwa menghindari yang salah bukan satu-satunya jalan menuju yang benar. Sedangkan menggapai yang benar tidak berarti menghindari yang salah. Maka sebenar-benar dirimu adalah kesalahanku itu. Maka sebenar-benar tempat tinggalmu adalah di antara yang benar dan salah.

Ernest:
Sebenar-benar dirimu adalah pergaulanmu. Maka tiadalah dirimu itu tanpa pergaulanmu. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu pergaulan itu sendiri. Maka selalu bergaullah antar sesamamu agar engkau memperoleh ilmumu. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu perolehanmu dalam pergaulanmu. Maka socio-constructivist adalah kata-kataku. Yaitu bahwa ilmumu kamu peroleh melalui pergaulanmu.

Orang tua berambut putih ternyata belum puas dengan jawaban Hegel, Brouwer, Russell, Wittgenstein, Hilbert, Godel, Husserll, Lakatos dan Ernest
Ah, ngacau semua mereka itu. Jawaban mereka sesuai selera masing-masing. Maka belum puaslah diriku akan jawaban mereka semua. Tetapi aku sadar bahwa aku sedang berada perjalananku. Tetapi aku ragu apakah aku mampu memikirkan masa depanku?

Orang tua berambut putih bertemu dengan Teleologi
Wahai seseorang, siapakah dirimu itu. Rasa-rasanya aku pernah melihatmu, tetapi tidaklah begitu jelas. Rasa-rasanya aku pernah pergi bersamamu tetapi aku lupa kemana ketika itu. Rasa-rasanya aku pernah berdiskusi denganmu, tetapi aku lupa tentang apa yang kita diskusikan ketika itu.

Teleologi:
Kenalkanlah namaku adalah teleologi. Aku adalah adalah seorang pembantu. Engkau ingatlah seseorang yang bernama Immanuel Kant. Itulah sebenar-benar tuanku. Aku disuruh oleh Immanuel Kant untuk menemuimu. Mengapa? Karena Immanuel Kant mendengar pertanyaan dan kegelisahan dirimu tentang masa depanmu.

Orang tua berambut putih:

Menurut pengetahuanku, Immanuel Kant mempunyai banyak sekali pembantu. Maka tolong jelaskanlah engkau siapa sebenarnya.

Teleologi:

Aku adalah masa depan. Aku berangkat dari masa lampau. Aku adalah semuanya dalam dimensi ruang dan waktu.

Orang tua berambut putih:
Aku tidak jelas penjelasanmu itu. Tolong bicara yang agak rinci.

Teleologi:
Tiadalah sesuatu itu tidak berasal dari sesuatu yang lain. Tiadalah pula sesuatu itu tidak menjadi sesuatu yang lain. Benda sebesar bumi ini akan menjadi sebuah titik jika engkau melihatnya dari kejauhan. Maka sebaliknya, tidaklah engkau dapat menduga bahwa sebuah titik pun bisa menjadi bumi pada masa depannya. Garis sepanjang ini akan menjadi titik jika engkau melihatnya dari kejauhan. Maka sebaliknya, tidaklah engkau dapat menduga bahwa sebuah titik pun bisa menjadi garis pada masa depannya. Berdasarkan analogi tersebut maka aku mengkhawatirkanmu bahwa di masa depanmu engkau akan bisa berbentuk apa saja. Engkau bisa saja terbang seperti seekor burung jika seribu, sejuta, semilyard keturunanmu selalu menginginkan terbang dan beratih untuk terbang. Itulah sebenar-benar diriku. Itu pulalah sebenar-benar ilmuku dan juga ilmumu. Jadi sebenar-benar ilmu adalah diriku, yaitu teleologi.

74 comments:

  1. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPs Pendidikan Matematika 2016 Kelas D

    guru adalah salah satu sosok yang sangat berpengaruh kepada hidup kita. tugas guru memang mentransfer ilmunya kepada siswa, tapi dengan seiring berkembangnya zaman guru bukan lagi hanya mentransfer ilmunya, tapi bagaimana ilmu yang sudah ia berikan kepada siswanya bisa dikembangkan agar siswa tersebut mampu berpikir kritis dan kreatif kedepannya. karena tidak semua ilmu yang diberikan harus sama diterimanya. karena setiap manusia memiliki pandangan masing2, disini guru bagaimana menuntun siswanya dalam mengembangkan ilmunya ke arah yang benar.

    ReplyDelete
  2. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Kesombongan hanya akan mendekatkan diri ini kepada kesesatan. Apalagi dengan menganggap orang lain bukan apa – apa dari dirinya. Hal ini dapat kita lihat pada zaman sekarang dimana orang – orang pada menyombongkan tampilan fisik yang ia miliki. Padahal semua itu mutlak ciptaan dari Allah SWT. Baik itu dari tampilan raga, latar belakang, status sosial dan pendidikan serta yang lainnya memiliki kelebihan dan kelemahan. Maka tak sepantasnya kita meremehkan orang lain.
    Seseorang akan menjadi seperti yang diinginkannya di masa depan sesuai dengan keinginannya di masa lampau diiringi dengan ilmu yang harus diperolehnya sebagai bekal untuk berpindah dari masa lampau ke masa depan.

    ReplyDelete
  3. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Untuk mendapatkan ilmu yang sebenarnya maka kita harus keluar dulu dari zona aman. Dengan keluarnya kita dari zona aman akan terjadilah kontradiksi dalam pemikiran kita. Kalau sudah terjadi kontradiksi dalam pemikiran kita maka akan menimbulkan berbagai macam pertanyaan. Sehingga dengan munculnya berbagai macam pertanyaan itu mengakibatkan kita akan mencari jawaban dari pertanyaan itu. Alhasil kita akan menemukan jawaban yang akan menambah pengetahuan kita.

    ReplyDelete
  4. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Sesungguhnya hakekat Ilmu adalah Kontradiksi dan tempatnya adalah dalam pikiran manusia. Jadi sebenar-benar pikiran manusia adalah kontradiksi. Metode untuk mendapatkan ilmu adalah dengan bertanya. jadi sebenar-benar diriku adalah pertanyaan orang lain. Ilmu adalah Teleologi. Jadi sebenar-benar ilmu adalah diriku, yaitu teleologi.

    ReplyDelete
  5. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Ilmu pengetahuan itu tergantung yang memikirkannya, maka Socrates, Plato, Aristoteles, Immanuel Kant, Hegel, dan para filsuf lainnnya berusaha mendefinisikan segala sesuatu yang mereka pikirkan. Segala sesuatu ada karena kita memikirkannya. Dengan berpikir kita bisa memperoleh pengetahuan, ketahuilah apa yang belum kita ketahui.

    ReplyDelete
  6. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Allah akan meninggikan beberapa derajat bagi orang berilmu. Ilmu sangat berguna bagi kehidupan manusia. Luasnya ilmu menentukan cara pandang kita terhadap dunia. pernah dikatakan pula bahwa ketika kamu ingin melihat dunia, maka lihatlah ke dalam dirimu sendiri karena dunia itu persis seperti yang engkau bayangkan. Disisi lain, masih ada ilmu akhirat, nha.. bagaimana dengan ilmu akhirat? Baik akhirat maupun dunia sama-sama penting dan saling berhubunga. Dunia merupakan saran bagi kita untuk membangun kehidupan di akhirat. Bagaimana kamu hidup di dunia akan menentukan bagaimana kamu hidup di ahirat kelak. Sehingga, hal ini akan sama saja. Ketika kamu ingin menegetahui akhirat, maka lihatlah ke dalam dirimu sendiri karena akhirat itu sama persis seperti apa yang kamu kerjakan. Maksudnya adalah, ketika kamu mengerjakan kebaikan, maka kamu akan memperoleh kebaikan di akhirat, begitu sebaliknya. Akan tetapi, hal ini tergantung bagaimana kadar keimanan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa.

    ReplyDelete
  7. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Berdasarkan elegi di atas bahwa Guru berguru, ilmu mencari dan melengkapi ilmu, itulah isyarat yang disampaikan dalam elegi ini. Orang yang berambut putih dalam hal ini jelmaan dari ilmu itu sendiri, terus berkelana mencari dukungan terhadap apa yang dimiliki dan terus melakukan intensi dan ekstensi terhadap subjek ilmu itu sendiri. Tapi perlu disadari karena keterbatasan berpikirlah membuat orang yang merasa berilmu itu mencari referensi lain, mungkin apa yang dipikirkan itu benar, tapi mungkin dipikirkan orang lain salah. Sebagai manusia sifatnya adalah terbatas dan tempatnya salah, maka perlu terus melengkapi keterbatasannya itu, dengan terus mencari para saksi-saksi (filsuf, dalam filsafat) walau lengkap itu sebatas apa yang yang dipikirkan oleh siapapun yang paling dianggap tahu. Menyampaikan ide dan pikiran adalah filsafat (olah pikir) dari seseorang. Allah SWT menganugerahkan kepada kita akal dan pikiran, maka dari itu, manusia perlu melakukan intensi dan ekstensi ilmu itu sesuai dengan kebutuhan berdasarkan panduan dari orang-orang yang dianggap tahu lebih dahulu. Semoga kita tidak merasa puas dulu dengan apa yang diketahui dan merasa yang paling benar dan menjadi bagian masa sekarang dan masa yang akan datang yang terus memburu ilmu-ilmu yang membawa kemaslahatan dunia sampai akhirat

    ReplyDelete
  8. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Setiap ahli atau filsuf mempunyai pendapat masing tentang hakekat ilmu, begitu jugakita. Ilmu menjadi kebutuhan setiap manusia. Dengan ilmu, manusia bisa mengembangkan banyak hal dan mengetahui berbagai hal pula. Sebenar – benar ilmu adalah diriku, maka seberapa ilmu yang kita miliki dan yang ingin kita tambahkan menjadi kebutuhan masing – masing. Manusia hanya bisa mencari, menjaga, dan mengupayakan apa yang ia miliki. Sedangkan pembuat keputusan terhadap hidup adalah Tuhan, maka setinggi – tinggi ilmu yang didapat haruslah tetap mengingat dan berada di jalan Tuhan.

    ReplyDelete
  9. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Begitulah sebuah ilmu demulai dari saat mulai menyanya, namun lebih dalamnya saat manusia berpikir. Maka sebenar-benarnya imu saat seseorang berpikir, maka suatu itu yang ada dan yang mungkin ada. Dari Titik akan mencadi sebuah bola pada ruang dan waktunya. Begitulah seseorang, di masa sekarang bolehlah menjadi titik namun nanti pada waktunya akan menujukkan kehebatannya.

    ReplyDelete
  10. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Di dunia ini semua saling berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya. sesungguhnya diriku adalah aku pikiranku dan mimpi mimpiku serta riwayatku. pikiranku adalah pikiran pikiranku sekarang dan pikiran pikiran ku terdahulu serta pikiran pikiranku yang akan datang. sedangkan mimpi mimpiku adalah mimpi mimpi yang terdahulu yang terlaksana dan mimpi mimpi yang akan datang yang entah terlaksana ataupun tidak.

    ReplyDelete
  11. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Filsafat merupakan hal yang baru bagi saya. Teori-teori maupun ilmu mengenai filsafat baru saya peroleh ketika di bangku perkuliahan semester enam ini. Awalnya saya sungguh tak mengerti dan merasa asing. Bahkan ketika membaca elegi yang pertama kali, saya merasa kesulitan. Saya berterima kasih kepada Bapak Marsigit yang telah memfasilitasi mahasiswa untuk mengenal, memahami, dan memberdayakan ilmu-ilmu yang telah diuraikan dari berbagai elegi yang telah disajikan.

    ReplyDelete
  12. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi-elegi tersebut sungguh bermanfaat, khususnya dapat dijadikan bekal guna menjadi seorang pendidik yang profesional. Di dalam elegi telah banyak memberikan banyak pembelajaran, mulai dari bagaimana pendidik yang profesional, metode apa yang seharusnya digunakan, media seperti apa yang perlu dibudidayakan, aktivitas pembelajaran yang berpusat ada siswa, teacher is resourcher (guru adalah peneliti), pentingnya komunikasi, dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  13. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari elegi di atas dapat dirangkum menjadi “Socrates: diriku adalah pertanyaanku, Plato : dirimu adalah imajinasiku, Aristoteles: dirimu adalah adalah pengalamanku; George Berkely: engkau adalah fatamorgana; Rene Descartes: dirimu adalah mimpiku; Immanuel Kant: engkau adalah pikiranku sekaligus pengalamanku: Hegel: dirimu adalah riwayatku; Brouwer: dirimu adalah intuisiku; Russell: dirimu adalah logikaku; Wittgenstein: dirimu adalah kata-kataku; Hilbert: dirimu adalah sistimku (dirimu adalah formalitasku); Godel: dirimu adalah pilihanmu; Husserll: dirimu adalah hanya sebagian dari diriku; Einstein: dirimu adalah ketidak pastianmu; Lakatos: dirimu adalah kesalahanku; Ernest: dirimu adalah pergaulanmu; Teleologi: Aku adalah masa depan. Aku berangkat dari masa lampau. Aku adalah semuanya dalam dimensi ruang dan waktu.”

    ReplyDelete
  14. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Sebenar-benar ilmu adalah teleologi. Teleologi berarti akhir, tujuan, maksud, dan logos, perkataan. Teleologi merupakan sebuah studi tentang gejala-gejala yang melibatkan keteraturan, rancangan, tujuan, akhir, maksud, kecenderungan, sasaran, arah, dan bagaimana hal-hal ini dicapai dalam suatu proses perkembangan.
    Tiadalah sesuatu itu tidak berasal dari sesuatu yang lain. Tiadalah pula sesuatu itu tidak menjadi sesuatu yang lain. Begitu juga dalam menuntut ilmu. Ilmu akan mengubah masa depan apabila kita secara terus menerus dapat mengembangkan ilmu kita. Maka janganlah berhenti mencari dan mengembangkan ilmu kita, karena ilmu merupakan salah satu aspek yang mampu menjembatani kita meningkatkan dimensi hidup dan dapat bermanfaat bagi makhluk lainnya.

    ReplyDelete
  15. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Tak ada sesuatu di dunia ini yang tidak berasal dari sesuatu yang lain. Tak ada pula sesuatu itu tidak menjadi sesuatu yang lain. Teleologi merupakan ajaran filosofis-religius tentang eksistensi, tujuan-tujuan dan kebijaksanaan objektif diluar manusia. Tuhan adalah penggerak pertama sekaligus terakhir. Tuhan tak mengenal asal permulaan atau pun akhir. Tuhan menunjukkan ke-ADA-an-Nya salah satunya melalu penciptaan alam jagat raya ini dan cukup lah kita mengimaninya. Sesungguhnya sebenar-benar hamba-Nya adalah berusaha mencari ilmu dan mempergunakan ilmu tersebut untuk memahami apa tujuan atau teleologi Tuhan itu sendiri.

    ReplyDelete
  16. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Semakin kita menggali ilmu yang belum kita miliki kita akan bertemu dengan kontradiksi, kontradiksi muncul ketika kita tidak menggunakan hati yang ikhlas dan pikiran yang jernih dalam mencari ilmu dalam batasan ruang dan waktu. Dari beberapa pendapat para filsuf di atas, salah satunya ialah pendapat Immanuel Kant yang menyatakan bahwa ilmu adalah pikiran dan pengalaman kita yang berada dalam intuisi kita. Dan menurut Husserl, ilmu hanya sebagian dari dirikita yang kita peroleh melalui usaha. Ilmu melahirkan fenomena yang berada dalam rumah epoche.

    ReplyDelete
  17. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Elegi pengembaraan orang tua berambut putih meceritakan tentang membangun ilmu. Dalam elegi ini disebutkan berbagai definisi membangun ilmu. Bahwa ilmu itu adalah pertanyaan, bahwa ilmu itu adalah logika, bahwa ilmu itu adalah pengalaman, bahwa ilmu itu adalah pemikiran dari sebuah pengalaman, dan seterusnya. Pendapat para filsuf tentang membangun ilmu berbeda satu sama lain. Dari berbagai pendapat yang ada saya tertarik dnegna pendapat Immanuel Kant yang menyebutkan bahwa ilmu adalah pemikiran dan atau pengalaman. Bahwa ilmu adalah hasil pemikiran dari pengalaman yang didapat dan terikat oleh ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  18. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Elegi pengembaraan orang tua berambut putih ini menceritakan apa sebenarnya hakekat dari ilmu. Berdasarkan apa yang sudah saya baca pada postingan di atas, ilmu itu adalah pertanyaan, pikiran, keraguan, pengalaman, pikiran kritis, keputusan, sejarah, intuisi yang ganda, bahasa, dan kesalahan. Atau dengan kata lain, ilmu adalah apa saja yang ada di sekitar kita dan kemudian kita pikirkan. Apapun definisi tentang ilmu, sebaik-baik ilmu ialah ilmu yang diamalkan. Tidaklah berguna ilmu apabila tidak diterapkan dan tidak dimanfaatkan untuk kehidupan khalayak ramai. Ilmu yang bermanfaat akan menjadi amal jariyah bagi orang yang menyampaikannya, amal yang tidak akan putus meskipun raga sudah berpisah dengan nyawa.

    ReplyDelete
  19. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    PPs. PM A 2017

    Saya sangat tertarik dengan penjelasan teteologi bahwa masa depan itu berasan dari masa lampau. Pengalaman adalah guru terbaik. Sesuatu yang ada saat ini merupakan akibat dari sesuatu yang telah lampau. Benar memang bahwa benda sebesar bumi ini akan menjadi sebuah titik jika engkau melihatnya dari kejauhan. Maka sebaliknya, tidaklah engkau dapat menduga bahwa sebuah titik pun bisa menjadi bumi pada masa depannya. Garis sepanjang ini akan menjadi titik jika engkau melihatnya dari kejauhan. Maka sebaliknya, tidaklah engkau dapat menduga bahwa sebuah titik pun bisa menjadi garis pada masa depannya. Berdasarkan analogi tersebut maka seseorang berhak untuk menentukan masa depannya, baik atau buruk. Sesuai dengan usaha yang ia lakukan (ikhtiyar). Allah telah berfirman bahwa Allah tidak akan mengubah suatu kaum sehingga mereka mengubah diri mereka sendiri.

    ReplyDelete
  20. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Dengan membaca elegi ini saya menyadari bahwa hakikat sesuatu itu tidaklah tunggal dan mutlak. Pada postingan ini dijabarkan betapa banyaknya hakikat waktu. Tiadalah dari mereka yang benar-benar "benar" ataupun benar-benar "salah". Karena saya setuju dengan statement ini, bahwa "Tiadalah sesuatu itu tidak berasal dari sesuatu yang lain. Tiadalah pula sesuatu itu tidak menjadi sesuatu yang lain". Kehidupan ini adalah sistem, bukan?

    ReplyDelete
  21. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Hikmah yang saya peroleh dari elegi di atas bahwa setiap tindakan/ langkah yang kita lakukan saat ini akan mempengaruhi masa depan kita walau sekecil apapun itu. Kita dapat belajar dari diri kita sendiri dan lingkungan sekitar. Kenalilah dirimu terlebih dahulu, cintailah dirimu terlebih dahulu, kita sendiri yang lebih tahu apa yang kita butuhkan untuk membangun masa depan yang cerah.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  22. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Pendefinisian ilmu yang sangat beragam dari Elegi di atas dapat menambah pengetahuan kita. Ilmu tidak hanya tentang pelajaran di sekolah, melainkan dapat berupa banyak hal. Luasnya pandangan tetang ilmu memberikan arti bahwa manusia hanyalah sebagian kecil dari kehidupan ini. Karena menjadi sebagian kecil itulah, manusia diminta untuk mencari ilmu dari buaian hingga liang lahat. Karena Allah SWT akan meninggikan derajat orang-orang yang berlimu. Masa depan seseorang akan ditentukan oleh Allah SWT, namun kita bisa berikhtiar untuk merancang masa depan kita sebaik-baiknya.

    ReplyDelete
  23. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    sudah bebearap hari saya belum membaca tulisan prof. sekalinya membuka blog, saya senang dengan perubahan warnanya prof.
    Menanggapi tulisan prof diatas tentang elegi orang tua berambut putih,saya berpendapat bahwa orang tua berambut putih dapat dianalogikan sebagai ilmu. Pengembaraan orang tua berambut putih dapat dipikirkan sebagai perkembangan hakekat ilmu yang merentang dari zaman dahulu hingga sekarang. Hakekat ilmu pengetahuan sangatlah banyak dan beragam. Seperti yang diungkapkan dalam elegi ini, muncul berbagai pendapat tentang ilmu pengetahuan, sebanyak orang yang memikirkannya. Setiap orang atau filsuf mendefinisikan ilmu pengetahuan berdasarkan persepsi, pemikiran, pengalaman dan konteks kehidupannya masing-masing. Setiap pendapat tersebut juga memiliki dasar dan penjelasnnya masing-masing. Pendapat-pendapat tentang ilmu pengetahuan tersebut akan terus-menerus berkembang seiring perubahan zaman.

    ReplyDelete
  24. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Kadang untuk mencari suatu kebenaran ilmu, seseorang harus bertanya kesana kemari seperti mengembara. Untuk mendapat suatu kepastian jawaban, seseorang harus mendatangi para ahli yang dianggap lebih kompeten. Tetapi terkadang kita dapati jawaban mereka kurang meyakinkan dan masih bersandar pada selera masing-masing (subjektif). Untuk itu, selain bertanya pada para ahli, kita juga dapat menggali kebenaran ilmu lewat berbagai buku, literatur, bahkan secara online lewat internet.

    ReplyDelete
  25. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Manusia dituntun untuk menuntut ilmu sepanjang hayat. Sebenar-benar obat bingung adalah bertanya. Syarat utama menjadi orang berilmu adalah memegang prinsip ‘malu bertanya maka sesat dijalan’. Tuhan YME juga menjanjikan derajat yang tinggi bagi orang yang berilmu. Maka janganlah kita mengenal lelah dalam belajar karena Ilmu sebenar-benar landasan keputusan. Ilmu adalah patokan kecil atau besar dirimu. Ilmumu akan menuntunmu memahami sebenar-benar dirimu.

    ReplyDelete
  26. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Ternyata sebelum orang tua berambut putih selalu menjadi yang muncul terakhir (pemilik jawaban bijak) disetiap perbincangan elegi-elegi, orang tua berambut putih juga pernah mengembara juga. Maksud dari pengembaraan orang tua berambut putih disini sepertinya menggambarkan pencarian suatu kebenaran ilmu. Dalam mencari kebenaran suatu ilmu, seharusnya sama seperti yang dilakukan orang tua berambut putih, yaitu mencari dari banyak sumber, tidak hanya bersumber pada satu pendapat saja. Karena semakin banyak sumber yang menjadi bahan rujukan, semakin bagus nilai kebenarannya.

    ReplyDelete
  27. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Dari elegi ini, apa yang saya dapatkan adalah saya memaknai bahwa pengembaraan orang tua berambut putih ini sebenarnya adalah untuk mencari dan membangun pemikiran-pemikiran serta ilmu pengetahuan. Ilmu dipandang sebagai sesuatu yang sangat penting dalam hidup, maka harus terus dicari kapanpun dan dimana pun. Namun tentu saja adalah hal yang wajar ketika dalam perjalanan mencari ilmu itu ada hal-hal yang membuat kita bingung, ada hal-hal yang berbeda, karena memang semua yang ada di dunia ini bersifat plural, termasuk orang yang menyampaikan ilmu dan yang menerimanya. Ilmu yang sebenarnya sama, dapat menjadi berbeda-beda penafsiran bagi setiap orang. Maka dari itu, sebenar-benar mencari ilmu ada harus membuka pikiran seluas-luasnya, termasuk terhadap berbagai perbedaan yang ada. Lebih banyak kita mengetahui maka kita akan semakin kaya akan pemahaman mengenai ilmu tersebut.

    ReplyDelete
  28. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Berdasarkan elegi di atas bahwa sebenar-benar ilmu adalah diriku. Hal ini disebut sebagai teleologi. Setiap orang akan memiliki ilmu yang berbeda-beda, hal ini tergantung dari bagaimana ia memperolehnya. Misalkan sebuah fenomena yang terjadi akan dipandang berbeda oleh dua orang yang berbeda, tergantung dari persepsi masing-masing. Dalam mereflesikan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh pun akan berbeda antara orang yang satu dengan yang lainnya. Karena sebenar-benar ilmu bergantung pada diri masing-masing dan bagaimana memahami dan menginterpretasikannya ke dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  29. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Ilmu bagi tiap orang bisa berbeda beda arti dan maknanya. Seperti yang digambarkan dalam elegi di atas, pendapat para ahli tentang ilmu berbeda antara yang satu dan yang lainnya. Ada yang menganggap ilmu sebagai pemikiran, persepsi, pengalaman, intuisi, logika dan sebagainya. Setiap orang bebas berpendapat, relatif terhadap ruang dan waktunya. Namun, untuk memahami ilmu haruslah dimulai dengan kesadaran bahwa kita memerlukan ilmu tersebut. Dalam memahami ilmu juga sebaiknya kita mepelajarinya secara utuh atau keseluruhan karena ilmu itu merupakan satu kesatuan dan akan berpengaruh terhadap persepsi dan pemikiran kita nantinya.

    ReplyDelete
  30. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Elegi Pengembaraan Orang Tua Berambut Putih, dari postingan kali ini menyatakan bahwa orang tua berambut putih itu adalah diriku. Dan orang tua berambut putih itu diibaratkan ilmu. Maka sebenar benarnya ilmu adalah diriku.

    ReplyDelete
  31. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Sebuah proses pencarian ilmu pengetahuan akan melibatkan pikiran, pengalaman, persepsi dan mimpi. Karena hal-hal tersbeut kita bisa mengalami sesuatu hal yang telah terjadi ataupun masih ada dalam benak kit, itulah sebenar benarnya proses pencarian ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
  32. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Dengan pikiran seklaigus pengalaman kita bisa memperoleh hal-hal yang baru sehingga menambah ilmu pengetahuan. Seiring sejalan dengan logika pemikiran, riwayat perjalanan memperoleh pengetahuan kita bisa mengalami proses memilih dengan pilihan kita sendiri, terkadang ada hambatan dalam sistem, ketidakpastian terhadap sesuatu hal, kesalahan dalam mengambil keputusan, itu semua termasuk ke dalam pengalaman proses mencari ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
  33. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Dengan membaca postingan Bapak saya belajar tentang hakikat ilmu pengetahuan dari banyak tokoh yang menjelaskan ilmu dari berbagai sudut pandang. Selain itu dijelaskan pula pendapat para tokoh tentang ilmu di jaman lampau,sekarang, dan masa depan. Semua itu memberikan pembelajaran bahwa satu kata tentang ilmu dapat dipelajari dan dimaknai seiring berjalannya waktu dan menggunakan sudut pandang dari bermacam-macam. Sehingga akan lebih menambah ketajaman dalam berpikir.

    ReplyDelete
  34. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi di atas yang dapat kita ambil hikmahnya yaitu tentang pendapat para filsuf tentang diri kita ini apa. Banyak yang dapat disebutkan, karena diri kita adalah dunia, sehingga meliputi apa yang ada dan yang mungkin ada. Hikmah yang lain yaitu bagaimana kita senantiada membuat pertanyaan-pertanyaan tentang hidup dan berusaha mencari jawabannya sehingga itulah yang membuat kita senantiasa berproses aktif. Terakhir berkaitan dengan teleologi. Teleologi adalah sesuatu yang mengutamakan tujuan. Yang dipopulerkan oleh Immanuel kant.

    ReplyDelete
  35. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Elegi yang sangat mengesankan dan saya sangat asyik membacanya. Elegi yang memiliki pesan tersirat terkait dengan upaya penemuan dan pengenalan pada diri sendiri. Tentunya setiap tokoh memiliki pandangannya masing-masing terkait penjelasan mengenai diri seseorang. Saya belajar dari banyak tokoh melalui postingan ini. Unik sekali pendapat yang dikemukakan oleh satu tokoh dan tokoh lainnya. Saya memilih fokus pada teleologi. Membicarakan masa depan adalah hal yang sangat menarik bagi saya. Meski saya sendiri juga masih meraba dalam upaya meraih masa depan yang cemerlang. Tantangan demi tantangan terus datang silih berganti. Inilah yang membuat saya tidak berhenti dalam satu titik saja. Titik terakhir dari usaha yang dilakukan secara berulang-ulang mungkin dapat membawa pada suatu keberhasilan. Tidak menuruti rasa kemalasan dalam diri adalah salah satu jalan yang dapat saya upayakan. Terima kasih sekali Prof untuk ilmu yang sangat bermanfaat.

    ReplyDelete
  36. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas artikel di atas. Saya tertarik dengan ilmu teleologi, bahwa tiadalah sesuatu itu tidak berasal dari sesuatu yang lain. Tiadalah pula sesuatu itu tidak menjadi sesuatu yang lain. tIadalah masa depan tanpa masa lampau. Artinya semuanya yang ada sekarang merupakan proses dan berangkat dari masa lampau. Inilah diriku yang sekarang dari cerminan dan akibat dari masa lampau. Jika setiap orang menyadari pentingnya membangun masa depan yang lebih, baik saat ini mereka sedang berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik, melakukan hal bermanfaat, menghargai waktu dan kesempatan yang ia punya, berusaha semaksimal mungkin agar masa depan nya tergambar cerah seperti yang di impikan. Jika juga harus mengerti bahwa setiap orang memiliki perspektif yang berbeda-beda. Sebenar-benar diriku adalah intuisi, logika,riwayat, dan formalitas orang lain, yang kita tidak mampu megendalikan dan berkuasa atas itu1. Seperti apapun orang memandang kita, alangkah baiknya kita tetap berusaha menjadi diri sendiri, melakukan yang terbaik demi meraih masa depan yang lebih baik. Maka janganlah kita mudah terlena akan ilmu. Hauslah terus akan ilmu pengetahuan yang kita miliki saat ini, karena bekal ilmu yang banyak dan mumpuni menjadikan kita kuat menghadapi tantangan di masa depan. Semoga kita termasuk orang-orang yang bersyukur dan selalu berikhtiar menjadi sebenar-benar hamba yang bermanfaat dan sukses dunia dan akhirat. Amin.

    ReplyDelete
  37. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Segala sesuatu yang dikerjakan pasti ada tujuan yang akan mengikutinya. Tujuan hidup dibutuhkan bahjan merupakan fator untuk kita dalam membuat langkah-langka. Apabila kita tidak memiliki tujuan maka hidp akan terasa hampa dan dia akan erpikr untuk mengikuti alur saja. Namun apabila seseorang memiliki tujuan dia akan melakukan segala hal yang bermanfaat untuk mencapai tujuannya. Ini bukanlah ambisi namun motivasi diri untuk melakukan kegiatan yag dapat menuju pada tujuan tertentu dengan keteraturan, rancangan, maksud, kecenderungan, sasaran, dan arah.

    ReplyDelete
  38. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Pengembaraan dan melakukan perjalanan merupakan salah satu cara orang tua putih untuk mencari pengetahuan tenatng hakikat dirinya. Hal ini merupakan salah satu perjuangan yang dlakuakan oleh orang tua putih. Pertemuan orang tua putih dengan berbagai tokoh diatas tentunya memberikan ilmu dan pengetahuan yang tak ternilai. Para tokoh memberikan pandangan yang berbeda-beda tentang hakikat dirinya. Tentu saja kebingungan bisa saja terjadi kepada ornag tua putih namun kebingunagan adalah proses memperoleh pengetahuan. Dan pengetahuan ini sangat penting karena semakin banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang maka semakin bijak seseorang menanggapi keadaan yang ada disekitarnya. Terima kasih

    ReplyDelete
  39. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Para tokoh di atas memiliki persepsi masing-masing sesuai apa yang ada di pikirannya. Saya setuju dengan orang tua berambut putih yang mengatakan bahwa "Jawaban mereka sesuai selera masing-masing. Maka belum puaslah diriku akan jawaban mereka semua. Tetapi aku sadar bahwa aku sedang berada pada jaman jauh sebelum diriku sekarang."
    Ini menunjukkan bahwa manusia memiliki batas dalam pikiran. Sehingga dari sekian banyak tokoh di atas teorinya berbeda-beda. Tetapi kita harus sadar bahwa kita hidup di jaman yang dituntut tidak hanya bisa berpikir tetapi juga harus berhati nurani.

    ReplyDelete
  40. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Saya membayangkan jika mereka itu benar-benar bertemu dan saling mempertahankan pendapat, apa jadinya... Di sini ruang dan waktu menunjukkan perannya. Mereka hidup pada ruang dan waktu yang berbeda, maka pemikiran yang muncul pun berbeda.
    Banyak hal yang menarik, semakin lama semakin menarik, karena filsafat itu menyentuh segala yang ada dan yang mungkin ada. Sejarah ada tokohnya yaitu Hegel, bahasa ada Wittgenstein, dst. Yang menarik saya ingin komentar di sini adalah tentang Lakatos. Sejujurnya, saya mendengar namanya pertama kali baru pada kelas filsafat, saat tes jawab singkat yang tak dapat saya jawab itu.
    Rupanya dia ini bicara tentang kesalahan. Saya jadi mengingat bahwa murid belajar dari kesalahan juga. Biarkan mereka mencoba dan melakukan kesalahan, agar mereka tidak takut untuk mencoba. Guru menjadi fasilitator saja, jadi penyemangat agar ia mencoba dan mencoba lagi. Edison melakukan ratusan kesalahan, kegagalan sebelum ia kemudian menemukan bola lampu.
    Tak mengaa kesalahan itu, selama kesalahan itu menjadi pijakan untuk menggapai kebenaran.

    ReplyDelete
  41. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari pemahaman kami, elegi yang tertulis ini menceritakan tentang perjalanan dan perkembangan ilmu penurut pemikiran-pemikiran para filsuf-filsuf yang telah ada mendahului kita. Perjalanan ini dimulai dari pemikiran Plato, lalu Aristoteles sebagai penerus Plato yang sepemahaman dengan gurunya yaitu Plato. Terdapat pula para filsuf-filsuf yang berusaha untuk menggabungkan atau mensintesiskan antara logika (rasionalisme) dan pengalaman (empirisme). Perjalanan filsafat mulai dari zaman filsafat alam sampai saat ini filsafat bahasa. Walaupun pada elegi ini hanya diceritakan penjelasan singkat mengenai pemikiran-pemikiran filsuf tersebut akan tetapi dapat memunculkan rasa ingin tahu kami dan memotivasi kami untuk mempelajari pemikiran-pemikiran filsuf tersebut.

    ReplyDelete
  42. Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Orang tua berambut putih selalu datang saat ada yang bertanya, namun dalam perjalanannya, orang tua berambut putih bertanya. Maka seharusnya orangtua berambut putih itu menjawab pertanyaannya sendiri, maka sebenarnya orang berambut putih itu bukan dirinya sendiri. Dari pendefinisian yang dilakukan oleh berbagai ahli, orang tua berambut putih itu dapat berupa apapun, dimanapun, dari apapun, menjadi apapun. Orangtua berambut putiha dapat berubah dengan berjalanya waktu. Maka kita sebenarnya tidak akan mengetahui apa itu orangtua berambut putih, karena belum selesai kita menyabutkan orang tua berambut putih sudah berubah dari yang tadi menjadi yang sekarang.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  43. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Berbagai macam jalan untuk mendapatkan ilmu. Salah satunya ilmu dapat diperoleh dari pengalaman hidup yang dimiliki, jika kita dapat mengambil pelajaran didalamnya. Akan tetapi jika kita tidak dapat mengambil pelajaran maka kita tidak sama sekali mendapatkan ilmunya. Pengalaman yang buruk akan menjadi sebuah ilmu yang baik jika kita dapat mengambil nilai pelajarannya, akan tetapi pengalamn yang baikpun tidak menjamin kita mendapatkan ilmu jika tidak dapat mengambil pelajaran didalamnya. Ilmu yang diraih tidak akan menjadi manfaat jika kita tidak menempatkan nya menjadi suatu tujuan. Maka dari itu ilmu yang sudah ada pada saat sekarang akan menjadi manfaat jika kita menjadikan sebuah tujuan dimasa akan datang.

    ReplyDelete
  44. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Elegi pengembaraan orang tua berambut putih mengajarkan saya bahwa akan menjadi apa saya nanti di masa depan ditentukan oleh saya di masa sekarang. Pelajaran lain yang dapat saya ambil adalah jangan menilai masa depan seseorang hanya dengan melihat dia di masa sekarang. Mungkin saja orang tersebut akan tumbuh, berkembang, dan berdaya. Seorang muslim di masa sekarang pun belum tentu masih muslim ketika maut menjemput. Untuk itu perlulah kita berdoa agar Allah menjaga kita selalu agar tetap berada di jalanNya yang lurus.

    ReplyDelete
  45. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Menuntut ilmu harus didasari dengan sebuah kesadaran akan kebutuhan karena ketidaktahuan kita tentang ilmu tersebut. Orang Tua Berambut Putih dalam Elegi ini telah memberikan contoh kegigihannya dalam mencari tahu tentang sesuatu. Dia tidak puas hanya dengan melihat masa lampau, tapi juga sekarang dan masa depan. Inilah yang bisa kita teladani dalam menuntut ilmu, yaitu kita harus melihat masa lampau,sekarang dan masa depan

    ReplyDelete
  46. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Orang tua berambut putih sedang mengembara mencari hakikat dirinya. Orang tua berambut putih menemui para ahli dan mereka berpendapat mengenai hakikat diri orang tua berambut putih dan diri sendiri sesuai dengan temuan masing-masing. Pengembaraan orang tua berambut putih adalah bermuara pada teleologi yaitu ajaran yang menerangkan segala sesuatu dan segala kejadian menuju pada tujuan tertentu. Tujuan yang dimaksud di sini adalah ilmu itu sendiri.

    ReplyDelete
  47. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Pengembaraan orangtua berambut putih yang bertemu dengan beberapa tokoh yaitu Socrates, Plato, Aristoteles, George Berkely, Rene Descartes, dan Immanuel Kant. Orang berambut putih menanyakan siapakah sebenar-benar diriku dan dirimu dan bagaimanakah jawaban masing-masing tokoh tersebut? Mereka mengungkapkan hal yang berbeda-beda terkait siapakah diriku dan dirimu. Sebenar-benar diriku dan dirimu adalah orang yang sedang mencari ilmu. Meskipun sudah tua dan memiliki pangkat yang tinggi seharusnya kita tetap mencari ilmu.

    ReplyDelete
  48. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika

    Teologi adalah segala sesuatu dalam dimensi ruang dan waktu. Teologi adalah masa depan. Teologi berangkat dari masal lampau. Maka sebenar-benar ilmu adalah teologi. Ilmu merupakan sesuatu dalam dimensi ruang dan waktu. Karena ilmu adalah masa depan. Karena ilmu berangkat dari masa lalu. Karena itulah kita harus senantiasa mencari ilmu karena ilmu akan selalu berkembang. Ilmu berangkat dari masa lalu dan menuju masa depan. Karena itulah belajar ialah sepanjang hayat.

    ReplyDelete
  49. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh


    Ilmu pengetahuan adalah harta yang tak terkira harganya. Ilmu pengetahuan di sini tidak diartikan sempit hanya sebagai materi – materi yang dipelajari di dalam kelas saja. Melainkan juga mencakup yang ada dan mungkin ada. Pengetahuanku adalah riwayatku. Ilmu adalah sejarahmu. Oleh karena itu kita tidak boleh melupakan sejarah. Pengetahuan juga bisa berupa intuisi, logika, kata – kata, system, pilihan, mimpi dan bahkan persepsiku. Janganlah berhenti menuntut ilmu, karena ilmu itu tidak terbatas.

    ReplyDelete
  50. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Teleologi pada dasarnya adalah tentang adanya keberadaan Tuhan yang maha pencipta dan maha mengatur segalanya. Di dalamnya ada keyakinan bahwa segala peristiwa yang terjadi di alam semesta ini bukan hanya sebuah kebetulan, melainkan sudah ada yang mengaturnya. Ada salah satu paham teleologis yaitu Eudaimonisme yang beranggapan bahwa tujuan akhir hidup manusia adalah kebahagiaan. Kebahagiaan hidup dapat diraih apabila dalam hidup kita mengikuti pedoman hidup yang sudah ada dalam Al-Quran. Di dalamnya terdapat petunjuk, perintah, dan larangan agar manusia mencapai kebahagiaan hidup.

    ReplyDelete
  51. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Saya setuju dengan pendapat Rene Deskrates bahwa “sebenar-benar dirimu adalah mimpiku”. Dalam kehidupan ini sejatinya manusia memang harus memiliki impian. Saya sejak kecil memiliki impian untuk menjadi seorang guru, sehingga saya memilih jurusan pendidikan matematika. Saat seseorang sudah memiliki impian maka dia akan berusaha keras dalam mewujudkannya dan dia tidak akan pantang menyerah sebelum mencapai tujuan tersebut. Pernah ada seseorang yang berkata apabila kita gagal pada salah satu mimpi maka masih terdapat mimpi-mimpi lain yang dapat dicapai. Saya kurang sependapat dengan pernyataan tersebut karena menurut saya apabila mimpi kita belum terwujud maka ada yang kurang maksimal dari usaha kita dan sejatinya hal tersebut harus diperbaiki.

    ReplyDelete
  52. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. semua murid pasti punya guru, semua guru pasti pernah menjadi murid, semua guru juga punya guru. Agar tidak hilang ilmu itu diajarkan. Apa yang diketahui guru bisa jadi lebih sedikit dari apa yang diketahui siswa karena ilmu itu itu berkembang. Bisa jadi asal ilmu itu satu, tapi ia berkembang menjadi banyak karena banyak orang yang memikirkan dan mengembangkannya.

    ReplyDelete
  53. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Tiadalah sesuatu itu tidak berasal dari sesuatu yang lain. Tiadalah pula sesuatu itu tidak menjadi sesuatu yang lain. Tidak ada yang memiliki sifat identitas jika dikaitkan dengan ruang dan waktu. Aku bukanlah aku jika itu terikat ruang dan waktu. Karena Aku yang disebutkan pertama kali pastilah berbeda dengan Aku yang disebutkan sepersekian detik setelahnya.

    ReplyDelete
  54. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Menuntut ilmu harus didasari dengan sebuah kesadaran akan kebutuhan karena ketidaktahuan kita tentang ilmu tersebut. Orang Tua Berambut Putih dalam Elegi ini telah memberikan contoh kegigihannya dalam mencari tahu tentang sesuatu. Dia tidak puas hanya dengan melihat masa lampau, tapi juga sekarang dan masa depan. Inilah yang bisa kita teladani dalam menuntut ilmu, yaitu kita harus melihat masa lampau (pemikiran para tokoh), sekarang (perkembangan saat ini), dan masa depan (prediksi di masa yang akan datang).

    ReplyDelete
  55. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Orang tua berambut putih memulai pengembaraannya dengan didasari atas kesadarannya dan kebutuhannya mencari ilmu. Dalam diri orang tua berambut putih timbul pertanyaan-pertanyaan yang tidak mampu ia jawab sehingga ia memutuskan untuk mengembara dalam rangka mencari jawabannya. Hal semacam ini bisa menjadi contoh bagi guru dalam mengajar di dalam kelas. Guru harus mampu membangkitkan rasa keingin tahuan siswa sehingga siswa termotivasi untuk senantiasa belajar tanpa adanya paksaan dari manapun.

    ReplyDelete
  56. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Pada elegi ini, saya menginterpretasikan bahwa ilmu dapat didefinisikan dari berbagai sudut pandang, sebanyak para filsuf mendefinisikannya. Ilmu itu sangat luas dan tersebar dimana-mana. Ilmu itu adalah untuk masa depan. Oleh karena itu, hendaknya ilmu itu tidak hanya untuk kita sendiri tetapi juga untuk orang lain. Sebaik-baik ilmu adalah yang memberikan kebaikan dan kebermanfaatan bagi diri sendiri dan sekitar. Maka dari itu, marilah bersemangat tidak hanya untuk mencari ilmu, tetapi juga semangat untuk menyebarkannya untuk niatan kebaikan secara tulus ikhlas.

    ReplyDelete
  57. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Asal muasal dari segala yang ada dan yang mungkin ada adalah dari sesuatu lainnya dari yang ada dan yang mungkin ada. Suatu hal yang ada dapat berasal dari hal ada yang sama, atau hal ada yang tidak sama. Segala Sesutu yang sama akan membuat ada menjadi berkembang, namun jika sesuatu yang berbeda akan membuat ada menjadi lebih baik

    ReplyDelete
  58. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dari elegi ini, karena waktu selain bersifar spiral juga linear, maka dari sifat linear ini kita harus berpikir kedepan. Berpikir kedepan artinya mempunyai perspektif berpikir yang luas, kita akan menyumbang untuk masa depan kita. Dengan begitu, kita akan ikhtiar maksimal dan doa terbaik untuk kita di masa depan.

    ReplyDelete
  59. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Awalnya saya sungguh tak mengerti dan merasa asing dengan filsafat. Bahkan ketika membaca elegi yang pertama kali, saya merasa kesulitan. Saya berterima kasih kepada Bapak Marsigit yang telah memfasilitasi mahasiswa untuk mengenal, memahami, dan memberdayakan ilmu-ilmu yang telah diuraikan dari berbagai elegi yang telah disajikan. Elegi-elegi tersebut sungguh bermanfaat, khususnya dapat dijadikan bekal guna menjadi seorang pendidik yang profesional. Di dalam elegi telah banyak memberikan banyak pembelajaran, mulai dari bagaimana pendidik yang profesional, metode apa yang seharusnya digunakan, media seperti apa yang perlu dikembangkan, aktivitas pembelajaran yang berpusat ada siswa, teacher are researchers (guru adalah peneliti), pentingnya komunikasi, dan lain sebagainya

    ReplyDelete
  60. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Sebagai tambahan komentar saya di atas, Dari elegi di atas dapat dirangkum menjadi “Socrates: diriku adalah pertanyaanku, Plato : dirimu adalah imajinasiku, Aristoteles: dirimu adalah adalah pengalamanku; George Berkely: engkau adalah fatamorgana; Rene Descartes: dirimu adalah mimpiku; Immanuel Kant: engkau adalah pikiranku sekaligus pengalamanku: Hegel: dirimu adalah riwayatku; Brouwer: dirimu adalah intuisiku; Russell: dirimu adalah logikaku; Wittgenstein: dirimu adalah kata-kataku; Hilbert: dirimu adalah sistimku (dirimu adalah formalitasku); Godel: dirimu adalah pilihanmu; Husserll: dirimu adalah hanya sebagian dari diriku; Einstein: dirimu adalah ketidak pastianmu; Lakatos: dirimu adalah kesalahanku; Ernest: dirimu adalah pergaulanmu; Teleologi: Aku adalah masa depan. Aku berangkat dari masa lampau. Aku adalah semuanya dalam dimensi ruang dan waktu.”

    ReplyDelete
  61. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Menuntut ilmu merupakan bagian dari kewajiban manusia agar lebih memiliki pengetahuan yang lebih. Karena ilmu itu berasal dari diri sendiri yang dilakukan dengan usaha sendiri untuk mencapai ilmu yang diingkan itu. ilmu juga memberikan sumbang sih untuk masa depan kita sendiri. Sebuah ketidak pastian tetapi bisa dilihat oleh kita sendiri meskipun masih ada kemungkinan faktor lain yang dapat membuat itu salah di mata kita. karena, semua hal yang belu terjadi itu adalah takdir Allah yang belum dijatuhkan ke kita. seperti motto saya “mimpilah setinggi langit, walaupun jatuh jatuhlah bersama beribu bintang”. Ya kalau masa depan kita tidak sesuai dengan rencana kita, tetapi Allah itu memiliki rencana yang jauh lebih baik dari bayangan kita. maka percaya lah itu.

    ReplyDelete
  62. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    menurut saya dari bacaan diatas, pada dasarnya ilmu filsafat itu tergantung pada ruang dan waktu demikian pula dari pemikiran para ahli memiliki cara berpikir yang berbeda. para ahli ini memiliki ilmu dan ideologis masing-masing yang dipandang dari berbagai sudut pandang.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  63. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Dirimu adalah duniamu, ketika kita mencari tahu tentang bagaimana diri kita kepada orang lain, sejatinya kita akan mendapatkan pemahaman akan dunia kita dari perspektif atau pandangan yang dilihat dari dunia yang lain. Sebagaimana memahami diri kita sendiri haruslah melalui bagaimana kita di masa lalu yang menjadikan diri kita dimasa kini, dan menjadikan pandangan diri kita di masa kini menjadi pondasi untuk diri kita di masa datang.

    ReplyDelete
  64. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Dalam mendefinisikan ilmu banyak sekali definisinya. Membangun ilmu pengetahuan itu dimulai dari yang ada dan yang mungkin ada. Pendefinisian pengetahuan berdasarkan filsafat sangat banyak, karena jika pengetahuan dibangun secara filsafati maka akan banyak definisi dari para filsuf yang berbeda satu dengan lainnya, ada juga yang menggabungkan definisi dari para filsuf. Karena sebenar-benar filsafat adalah olah pikir dan pikiran manusia berbeda-beda tak hingga banyaknya.

    ReplyDelete
  65. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Banyak sekali definisi dari ilmu atau pengetahuan. Ada sekian banyak filsuf, maka ada sekian banyak juga definisi tentang pengetahuan. Definisi setiap orang tentang ilmu akan berbeda tergantung dari pengetahuan awal yang dimilikinya, pikirannya, dan pengalamannya. Karena ilmu akan selalu berkembang mengikuti perkembangan zaman, maka definisi tentang ilmu pun akan selalu berkembang setiap saat tergantung ruang, waktu, dan manusia yang memikirkannya.

    ReplyDelete
  66. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Ketidakselarasan antara apa yang dikoar-koarkan dengan apa yang menjadi realita seringkali menjadi sesuatu yang sangat miris. Karena pada dasarnya seharusnya jika sesuai dengan logika, iklan atau larangan seperti bentuk iklan itu diharapkan akan memberikakn dampak yang positif bagi masyarakat secara luas. Hal inilah yang diinginkan diadakannya slogan-slogan ajakan untuk berbuat baik. Namun, ada hal yang perlu diperbaiki yaitu para peringgi yang di contoh seharusnya memberikan cerminan yang baik agar dapat ditiru oleh masyarakat yang memang perlu panutan yang baik.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  67. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017
    Terima kasih atas postingannya Prof. Inilah salah satu contoh keikhlasan dan kegigihan dalam menuntut ilmu. Menunjukkan sifat tidak mudah puas dengan ilmu yang telah dimiliki adalah kuncinya. Dengan sifat itu kita akan terus berusaha mencari tahu sumber sehingga kita benar-benar mengerti tentang sesuatu.

    ReplyDelete
  68. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Masa depan manusia ditentukan oleh masa lalunya. Jika kehidupan manusia di masa lalunya diisi dengan tidak berhenti bertanya dan bertanya untuk memperoleh ilmu, bersyukur, dan beribadah, serta di dalam kegiatannya sehari-hari ia tidak hanya menggunakan akal dan pikiran melainkan hati nurani juga, maka masa depannya pun akan cerah, sukses, dan penuh dengan kebaikan.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  69. Tri Wahyu Nurjanah
    15301241010
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Teleologi merupakan sebenar-benarnya ilmu yaitu segala sesuatu yang berangkat dari masa lalu menuju masa depan dalam dimensi ruang dan waktu. Jadi ilmu merupakan masa depan yang berangkat dari masa lalu sehingga ilmu akan senantiasa berkembang seiring perkembangan zaman. Dari elegi ini memberikan kita pembelajaran dari ketekunan dari seorang pengembara orang tua berambut putih mengenai menuntut ilmu. Jadi menuntut ilmu itu atas dasar kesadaran dan kebutuhan atas ketidaktahuan kita, makanya kita harus melihatnya dari sudut masa lampau yg dalam elegi ini digambarkan sebagai pendapat para tokoh, kemudian perkembangan di masa sekarang dan juga prediksi diwaktu yang akan datang.

    ReplyDelete
  70. Puspitarani
    15301244008
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    Terima kasih Bapak atas artikel berjudul Elegi Pengembaraan Orang Tua Berambut Putih yang sudah Bapak share kepada kami. Artikel tersebut membahas tentang orang tua berambut putih yang bertemu dengan beberapa tokoh terkenal dan mereka terlibat dalam sebuah percakapan. Orang berambut putih tersebut sangat gigih dalam bertanya untuk mencari sesuatu yang dia inginkan untuk mendapatkan jawaban yang diinginkan. Dari cerita orang tua berambut putih ada banyak sekali pesan moral yang dapat saya peroleh, yaitu menuntun ilmu tidak mengenal batasan usia, selalu gigih dalam menuntun ilmu, dan tidak pantang menyerah. Berbagai macam jalan untuk mendapatkan ilmu. Salah satunya ilmu dapat diperoleh dari pengalaman hidup yang dimiliki, jika kita dapat mengambil pelajaran didalamnya. Akan tetapi jika kita tidak dapat mengambil pelajaran maka kita tidak sama sekali mendapatkan ilmunya. Pengalaman yang buruk akan menjadi sebuah ilmu yang baik jika kita dapat mengambil nilai pelajarannya, akan tetapi pengalamn yang baikpun tidak menjamin kita mendapatkan ilmu jika tidak dapat mengambil pelajaran didalamnya. Ilmu yang diraih tidak akan menjadi manfaat jika kita tidak menempatkan nya menjadi suatu tujuan. Maka dari itu ilmu yang sudah ada pada saat sekarang akan menjadi manfaat jika kita menjadikan sebuah tujuan dimasa akan datang.

    ReplyDelete
  71. Qorry Aina Fitroh
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241047

    Terjadi perbedaan pendapat yang diungkapkan oleh para ahli. Hal ini berarti ilmu didefinisikan sesuai dengan sudut pandang seseorang serta berdasarkan ruang dan waktu yang sesuai. Namun pada dasarnya pendapat mereka saling berhubungan sebab segala sesuatu yang ada pasti berasal dari sesuatu yang lain.

    ReplyDelete
  72. Gandes Sih Mustika
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241015

    Masa depan merupakan apa yang kita lakukan saat ini. Kita tidak akan pernah tau masa depan seseorang, bahkan diri kita sendiri. Apa yang kita lihat saat ini belum tentu akan sama halnya dengan apa yang kita lihat di masa depan.

    ReplyDelete
  73. Nur Sholihah
    15301241020
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Dalam elegi ini para ahli memiliki jawaban yang berberda-beda, namun perbedaan tersebut bukanlah suatu masalah. Inilah yang seharusnya membuat kita merasa jangan pernah cukup terhadap ilmu yang kita miliki saat ini. Karena ilmu itu tak tunggal, karena ilmu itu dinamis dan terus berkembang seiring berkembangnya zaman dan pikiran manusia.

    ReplyDelete