Oct 14, 2011

Elegi Pengembaraan Orang Tua Berambut Putih

Oleh Marsigit



Kini aku merasa sudah saatnya aku mengembara. Supaya pengembaraanku bermakna, maka aku akan bertanya kepada para saksi. Tetapi sebelum aku bertanya kepada saksi-saksi terlebih aku ingin sampaikan bahwa sebenar-benar sebenar-benar saksi tidak lain tidak bukan adalah aku sendiri. Aku ingin mengaku bahwa aku mengetahui segala sesuatu, tetapi jika mereka bertanya kepadaku maka dengan serta merta aku tidak mengetahuinya. Mengapa? Karena sebenar-benar diriku adalah pertanyaan mereka. Bagaimana mungkin aku mengerti tentang pertanyaanku sendiri? Maka sebodoh-bodoh orang adalah diriku ini, karena aku selalu bertanya tentang segala hal, tetapi aku selalu tidak dapat menjelaskannya. Tetapi bukankah mengerti bahwa aku tidak dapat menjawab itu pertanda bahwa tidak tidak mengerti. Maka dapat aku katakan bahwa sebenar-benar diriku adalah tidak tidak mengerti. Hendaknya jangan terkejut bahwa tidak tidak mengerti itu sebenarnya adalah mengerti pula. Maka bukanlah aku yang ingin mengatakan, tetapi mereka yang boleh mengatakan bahwa aku selalu mengerti tentang pertanyaanku itu. Bukankah di sini mereka tahu bahwa sebenar-benar diriku adalah kontradiksi, karena aku sekaligus mengerti dan tidak mengerti. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu kontradiktif. Tetapi janganlah salah paham, kontradiksi itu adalah ilmu, tempat tinggalnya ada dalam pikiranmu.



Orang tua berambut putih berjumpa Socrates, Plato, Aristoteles, George Berkely, Rene Descartes, dan Immanuel Kant.
Wahai Socrates, Plato, Aristoteles, Rene Descartes, David Hume dan Immanuel Kant, ..., bolehka aku bertanya kepadamu. Menurut kesaksianmu, siapakah sebenar-benar dirimu dan sebenar-benar diriku?

Socrates:
Wahai orang tua berambut putih. Sebenar-benar diriku adalah pertanyaanku. Maka aku akan bertanya kepada siapapun tentang segala hal yang aku sukai. Sedangkan sebenar-benar dirimu adalah diriku juga. Maka sebenar-benar dirimu tidak lain adalah pertanyaanku juga pertanyaanmu. Jawaban para pakar dan para ahli itulah sebenar-benar tempat tinggalmu. Itulah sebenar-benar ilmu yaitu pertanyaanmu.

Plato:
Sebenar-benar dirimu adalah pikiranku. Sebenar-benar dirimu adalah imajinasiku. Tidak aku panggil, engkau sudah ada dalam pikiranku. Maka dirimu yang absolut itulah yang selalu aku pikirkan. Semuanya tentang dirimu sudah ada dalam pikiranku. Hanya terkadang aku sulit mengenalimu. Tetapi aku sadar, bahwa banyak orang mencoba mirip-mirip dengan mu. Itulah mereka yang dapat aku lihat dan dapat aku raba. Mereka jumlahnya sangat banyak. Tetapi mereka semuanya bersifat sementara. Maka sebenar-benar dirimu adalah ide-ide ku. Tempat tinggalmu ada dalam pikiranku. Tetapi aku selalu mengkhawatirkanmu, karena dalam pikiranku selalu ada lubang gelap seperti gua. Gua-gua seperti itulah yang menyebabkan aku sulit mengenalmu. Aku juga mengkhawatirkan akan badanku, karena badanku inilah penyebab munculnya gua-gua itu. Maka sebenar-benar dirimu adalah hamba yang terlepas dari penjara badanku. Maka sebenar-benar dirimu adalah pikiranku yang berada di luar gua kegelapanku dan terbebas dari badanku. Itulah sebenar-benar ilmu, tidak lain tidak bukan adalah pikiranku. Tetapi aku mengalami kesulitan untuk menjelaskan kepada orang-orang tentang tempat tinggalmu itu.

Aristoteles:
Aku agak berbeda dengan guruku Plato. Menurutku, sebenar-benar dirimu adalah adalah pengalamanku. Maka tempat tinggalmu adalah pada pengalamanku. Begitu aku menggapai pengalamanku maka dengan serta merta muncullah dirimu itu. Maka menurutku, sebenar-benar dirimu adalah yang dapat aku lihat, aku raba, dan aku indera. Maka sebenar-benar dirimu adalah diluar diriku. Padahal aku tahu bahwa dirimu adalah diriku. Maka aku tidak lain tidak bukan adalah sekaligus bukan aku. Mengapa? Karena aku mengalami kesulitan memahami engkau yang berada diluar diriku. Dan juga mengalami kesulitan bagaimana aku dapat menjelaskan kepada orang-orang bahwa engkau yang berada di luar diriku itu sebenar-benarnya adalah diriku.

George Berkely:
Menurutku, engkau adalah yang aku lihat atau aku persepsi. Jikalau engkau tidak adalah di situ, maka tidak adalah sebenar-benarnya engkau itu. Esse est percipi itulah kata-kataku. Maka sebenar-benar engkau adalah tipuanmu belaka. Engkau adalah fatamorgana. Maka sebenar-benar engkau yang adapat aku lihat adalah tipuan juga. Jadi apalah artnya sesuatu yang dapat engkau lihat itu, kecuali hanya tipuan belaka. Maka dunia ini tidak lain tidak bukan adalah tipuan belaka. Itulah sebenar-benar dirimu itu. Padahal aku tahu bahwa dirimu adalah diriku juga, maka sebenar-benar ilmu itu tidak lain tidak bukan adalah tipuan butamu.

Rene Descartes:
Menurutku, sebenar-benar dirimu adalah mimpiku. Tiadalah aku dapat menemukanmu tanpa mimpi-mimpi itu. Bagiku mimpi adalah nyata. Dan yang nyata bisa juga menjadi mimpiku. Maka sebenar-benar diriku adalah tidak dapat membedakan apakah kenyataan atau mimpiku. Namun aku selalu risau karena jika aku ingin berjumpa denganmu aku selalu dihadang makhluk hitam yang akan menyesatkanku, sehingga aku selalu salah mengertimu. Maka selalulah terjadi bahwa aku selalu meragukan keberadaanmu. Maka sebenar-benar dirimu adalah keraguanku itu sendiri. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu keraguanmu. Aku meragukan semuanya tanpa kecuali. Hanyalah ada satu yang tidak dapat aku ragukan yaitu diriku sendiri yang meragukan itu. Itulah satu-satunya kepastian bagiku. Cogito ergosum itulah kata-kataku, yaitu bahwa diriku itu ada karena aku tahu sedang meragukannya. Bukankah itu sebenar-benar dirimu. Maka sebenar-benar keberadaanku adalah diriku yang berpikir ini.

Immanuel Kant:
Menurutku engkau adalah pikiranku sekaligus pengalamanku. Tiadalah dirimu itu ada di situ tanpa pikiranku atau tanpa pengalamanku. Sedangkan tempat tinggalmu adalah di dalam intuisiku. Ketahuilah bahwa aku mempunyai dua intuisi yaitu intuisi ruang dan intuisi waktu. Itulah sebenar-benar tempat tinggalmu. Tetapi untuk mengerti tentang dirimu aku harus bersifat kritis. Maka sebanar-benar dirimu adalah pikiranku yang kritis. Itulah sebenar-benar ilmu, tidak lain tidak bukan adalah pikiran kritismu. Namun ketahui pula bahwa tidaklah mudah menggapai dirimu. Ketika engkau kukejar dengan pikiran kritisku, maka engkau lari menuju keputusanmu. Itulah setinggi-tinggi tempat tinggalmu, yaitu pada keputusanku. Maka sebenar-benar ilmu tidak lain tidak bukan adalah keputusanmu.

Orang tua berambut putih tidak puas dengan jawaban Socrates, Plato, Aristoteles, George Berkely, Rene Descartes, dan Immanuel Kant.
Ah, ngacau semua mereka itu. Jawaban mereka sesuai selera masing-masing. Maka belum puaslah diriku alan jawaban mereka semua. Tetapi aku sadar bahwa aku sedang berada pada jaman jauh sebelum diriku sekarang. Padahal aku belum sempat bertanya kepada orang sekarang yang berseliweran didepanku. Maka aku berjanji akan meneruskan perjalananku untuk bertanya siapa sebenarnya diriku itu?

Orang tua berambut putih bertemu Hegel, Brouwer, Russell, Wittgenstein, Hilbert, Godel, Husserll, Einstein, Lakatos dan Ernest
Wahai Hegel, Brouwer, Russell, Wittgenstein, Hilbert, Godel, Husserll, Einstein, Lakatos dan Ernest, ..bolehkah aku bertanya kepadamu. Menurut kesaksianmu, siapakah sebenar-benar dirimu dan sebenar-benar diriku itu?

Hegel:
Sebenar-benar dirimu adalah riwayatku. Padahal hidupku telah melampuai masa laluku, dan sedang mengalami waktu kiniku dan bersiap-siap untuk menempuh masa depanku. Itulah sebenar-benar dirimu, adalah sejarah bagimu. Maka akupun tidak lain tidak bukan adalah sejarah itu sendiri. Jadi sebenar-benar ilmu adalah sejarah dirimu. Hidupmu adalah sejarah diriku. Diriku adalah sejarah dunia ini. Maka sebenar-benar dunia adalah mensejarah. Ketahuilah bahwa tiadalah ada di dunia ini beserta wadah dan isinya yang tidak mensejarah. Make tersesatlah wahai orang-orang yang melupakan akan sejarahnya.

Brouwer:
Sebenar-benar dirimu adalah intuisiku. Namun hendaknya engkau ketahui bahwa intuisiku bersifat ganda. Maksudnya adalah jika aku memikirkanmu yang satu maka aku masih dapat mengingat engkau yang lain. Demikianlah seterusnya. Itulah sebenar-benar ilmuku. Yaitu intuisiku yang bersifat ganda.

Russell:
Sebenar-benar dirimu adalah logikaku. Hukum sebab-akibat dalam koherensi itulah sebenar-benar dirimu itu. Dirimu adalah konsistensi logikaku. Dirimu adalah kepastian pikiranku. Dirimu adalah kejelasan pikiranku. Maka sebenar-benar dirimu adalah premis-premis dan kesimpulan yang bersifat rigor. Tiadalah ada dirimu di situ jikalau engkau menyalahi hukum-hukumnya. Tetapi ternyata aku mempunyai musuh yang maha besar yang siap menerkam diriku. Yaitu ketika aku tidak bisa menjawab apakah engkau yang tidak sama dengan engkau itu termasuk anggota dari kumpulan engkau.

Wittgenstein:
Sebenar-benar dirimu adalah kata-kataku. Maka sebenar-benar ilmu itu adalah kata-kata. Kata-kata dan bahasa itulah rumahku. Maka engkau yang besar dapat aku lihat sebagai kumpulan engkau yang kecil-kecil. Engkau yang besar adalah gabungan engkau yang kecil-kecil. Demikianlah sifat kata-kata dan kalimat-kalimat dalam bahasa. Maka barang siapa tidak dapat mengucapkan kata-katanya, maka dia terncam kehilangan ilmunya.

Hilbert:

Sebenar-benar dirimu adalah sistimku. Sebenar-benar dirimu adalah formalitasku. Maka sistimku yang tersusun secara formal itulah sebenar-benar engkau. Itulah engkau yang mampu menaungi semuanya tanpa kecuali. Engkau yang satu adalah tujuanku. Maka tiadalah ilmu yang lain kecuali engkau yang satu itu. Engkau yang satu itulah konsistensi dan kelengkapanmu. Maka sebenar-benar ilmu adalah satu, konsisten dan lengkap. Tetapi aku bermimpi akan ada seseorang muridku yang membalikkan pikiranku ini. Tetapi entahlah.

Godel:
Sebenar-benar dirimu adalah pilihanmu. Engkau tingal memilih salah satu. Jika engkau memilih konsisten, maka tidak akan lengkapkah engkau itu. Jika engkau memilih kelengkapan, maka tidak akanlah engkau itu konsisten. Untuk itu aku berani mempertaruhkan segalanya di depan guruku Hilbert bahwa pernyataanku itu memang benar demikianlah.

Husserll:

Sebenar benar dirimu adalah hanya sebagian dari diriku. Engkau tidak akan mengerti akan dirimu jika engkau berusaha menggapai semuanya. Maka sebenar-benar ilmu adalah phenonemologi, yaitu sebagian darimu yang aku sembunyikan yang lainnya di dalam rumah epoche. Jika aku berpikir tentang satu maka aku singkirkan yang lainnya. Aku bersihkan pikiranku dari memikirkan yang lainnya. Jika aku memikirkan engkau sebagai kubus matematika, maka aku singkirkan semua sifat-sifat yang tidak aku kehendaki. Bukankah ketika aku memikirkan kubus matematika aku tidak perlu memikirkan aroma, aku tidak perlu memikirkan harga jual, aku tidak perlu memikirkan keindahan. Itu semua aku simpan dalam rumah epoche. Sedang yang aku pikirkan hanyalah ukuran dan bentuk dari kubus itu. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu satu atau beberapa sifat dari dirimu yang aku pilih untuk aku pikirkan.

Einstein:

Sebenar-benar dirimu adalah ketidak pastianmu. Tetapi hendahlah engkau ingat bahwa ketidak pastianmu itulah sebenar-benar kepastian. Maka relativisme itulah kata-kataku. Aku tidak pernah pasti dapat menentukan dirimu. Namun, itu juga kepastianku. Aku memastikan bahwa aku dalam keadaan berhenti ketika aku bersama-sama berjalan denganmu. Tetapi aku juga dapat memastikan bahwa aku dalam keadaan berjalan ketika aku bersama-sama berhenti dengan mu. Ketinggianmu adalah sekaligus tempat paling rendahmu, demikian sebaliknya. Kecepatan dan masa itulah kunci untuk mengetahui tempat tinggalku. Maka e=mc2 itulah sebenar-benar diriku. Maka sesungguh-sungguhnya ilmu adalah relativitasmu.

Lakatos:
Sebenar-benar dirimu adalah kesalahanku. Ketahuilah bahwa tiada benar tanpa mengerti kesalahan. Maka sebenar-benar ilmu adalah kesalahan itu sendiri. Maka fallibism itulah kata-kataku. Maka jika engkau ingin menggapai benar, maka tidaklah engkau bisa terhindar dari kesalahan. Ketahuilah bahwa menghindari yang salah bukan satu-satunya jalan menuju yang benar. Sedangkan menggapai yang benar tidak berarti menghindari yang salah. Maka sebenar-benar dirimu adalah kesalahanku itu. Maka sebenar-benar tempat tinggalmu adalah di antara yang benar dan salah.

Ernest:
Sebenar-benar dirimu adalah pergaulanmu. Maka tiadalah dirimu itu tanpa pergaulanmu. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu pergaulan itu sendiri. Maka selalu bergaullah antar sesamamu agar engkau memperoleh ilmumu. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu perolehanmu dalam pergaulanmu. Maka socio-constructivist adalah kata-kataku. Yaitu bahwa ilmumu kamu peroleh melalui pergaulanmu.

Orang tua berambut putih ternyata belum puas dengan jawaban Hegel, Brouwer, Russell, Wittgenstein, Hilbert, Godel, Husserll, Lakatos dan Ernest
Ah, ngacau semua mereka itu. Jawaban mereka sesuai selera masing-masing. Maka belum puaslah diriku akan jawaban mereka semua. Tetapi aku sadar bahwa aku sedang berada perjalananku. Tetapi aku ragu apakah aku mampu memikirkan masa depanku?

Orang tua berambut putih bertemu dengan Teleologi
Wahai seseorang, siapakah dirimu itu. Rasa-rasanya aku pernah melihatmu, tetapi tidaklah begitu jelas. Rasa-rasanya aku pernah pergi bersamamu tetapi aku lupa kemana ketika itu. Rasa-rasanya aku pernah berdiskusi denganmu, tetapi aku lupa tentang apa yang kita diskusikan ketika itu.

Teleologi:
Kenalkanlah namaku adalah teleologi. Aku adalah adalah seorang pembantu. Engkau ingatlah seseorang yang bernama Immanuel Kant. Itulah sebenar-benar tuanku. Aku disuruh oleh Immanuel Kant untuk menemuimu. Mengapa? Karena Immanuel Kant mendengar pertanyaan dan kegelisahan dirimu tentang masa depanmu.

Orang tua berambut putih:

Menurut pengetahuanku, Immanuel Kant mempunyai banyak sekali pembantu. Maka tolong jelaskanlah engkau siapa sebenarnya.

Teleologi:

Aku adalah masa depan. Aku berangkat dari masa lampau. Aku adalah semuanya dalam dimensi ruang dan waktu.

Orang tua berambut putih:
Aku tidak jelas penjelasanmu itu. Tolong bicara yang agak rinci.

Teleologi:
Tiadalah sesuatu itu tidak berasal dari sesuatu yang lain. Tiadalah pula sesuatu itu tidak menjadi sesuatu yang lain. Benda sebesar bumi ini akan menjadi sebuah titik jika engkau melihatnya dari kejauhan. Maka sebaliknya, tidaklah engkau dapat menduga bahwa sebuah titik pun bisa menjadi bumi pada masa depannya. Garis sepanjang ini akan menjadi titik jika engkau melihatnya dari kejauhan. Maka sebaliknya, tidaklah engkau dapat menduga bahwa sebuah titik pun bisa menjadi garis pada masa depannya. Berdasarkan analogi tersebut maka aku mengkhawatirkanmu bahwa di masa depanmu engkau akan bisa berbentuk apa saja. Engkau bisa saja terbang seperti seekor burung jika seribu, sejuta, semilyard keturunanmu selalu menginginkan terbang dan beratih untuk terbang. Itulah sebenar-benar diriku. Itu pulalah sebenar-benar ilmuku dan juga ilmumu. Jadi sebenar-benar ilmu adalah diriku, yaitu teleologi.

25 comments:

  1. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Tak ada sesuatu di dunia ini yang tidak berasal dari sesuatu yang lain. Tak ada pula sesuatu itu tidak menjadi sesuatu yang lain. Teleologi merupakan ajaran filosofis-religius tentang eksistensi, tujuan-tujuan dan kebijaksanaan objektif diluar manusia. Tuhan adalah penggerak pertama sekaligus terakhir. Tuhan tak mengenal asal permulaan atau pun akhir. Tuhan menunjukkan ke-ADA-an-Nya salah satunya melalu penciptaan alam jagat raya ini dan cukup lah kita mengimaninya. Sesungguhnya sebenar-benar hamba-Nya adalah berusaha mencari ilmu dan mempergunakan ilmu tersebut untuk memahami apa tujuan atau teleologi Tuhan itu sendiri.

    ReplyDelete
  2. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Semakin kita menggali ilmu yang belum kita miliki kita akan bertemu dengan kontradiksi, kontradiksi muncul ketika kita tidak menggunakan hati yang ikhlas dan pikiran yang jernih dalam mencari ilmu dalam batasan ruang dan waktu. Dari beberapa pendapat para filsuf di atas, salah satunya ialah pendapat Immanuel Kant yang menyatakan bahwa ilmu adalah pikiran dan pengalaman kita yang berada dalam intuisi kita. Dan menurut Husserl, ilmu hanya sebagian dari dirikita yang kita peroleh melalui usaha. Ilmu melahirkan fenomena yang berada dalam rumah epoche.

    ReplyDelete
  3. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Elegi pengembaraan orang tua berambut putih meceritakan tentang membangun ilmu. Dalam elegi ini disebutkan berbagai definisi membangun ilmu. Bahwa ilmu itu adalah pertanyaan, bahwa ilmu itu adalah logika, bahwa ilmu itu adalah pengalaman, bahwa ilmu itu adalah pemikiran dari sebuah pengalaman, dan seterusnya. Pendapat para filsuf tentang membangun ilmu berbeda satu sama lain. Dari berbagai pendapat yang ada saya tertarik dnegna pendapat Immanuel Kant yang menyebutkan bahwa ilmu adalah pemikiran dan atau pengalaman. Bahwa ilmu adalah hasil pemikiran dari pengalaman yang didapat dan terikat oleh ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  4. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Elegi pengembaraan orang tua berambut putih ini menceritakan apa sebenarnya hakekat dari ilmu. Berdasarkan apa yang sudah saya baca pada postingan di atas, ilmu itu adalah pertanyaan, pikiran, keraguan, pengalaman, pikiran kritis, keputusan, sejarah, intuisi yang ganda, bahasa, dan kesalahan. Atau dengan kata lain, ilmu adalah apa saja yang ada di sekitar kita dan kemudian kita pikirkan. Apapun definisi tentang ilmu, sebaik-baik ilmu ialah ilmu yang diamalkan. Tidaklah berguna ilmu apabila tidak diterapkan dan tidak dimanfaatkan untuk kehidupan khalayak ramai. Ilmu yang bermanfaat akan menjadi amal jariyah bagi orang yang menyampaikannya, amal yang tidak akan putus meskipun raga sudah berpisah dengan nyawa.

    ReplyDelete
  5. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    PPs. PM A 2017

    Saya sangat tertarik dengan penjelasan teteologi bahwa masa depan itu berasan dari masa lampau. Pengalaman adalah guru terbaik. Sesuatu yang ada saat ini merupakan akibat dari sesuatu yang telah lampau. Benar memang bahwa benda sebesar bumi ini akan menjadi sebuah titik jika engkau melihatnya dari kejauhan. Maka sebaliknya, tidaklah engkau dapat menduga bahwa sebuah titik pun bisa menjadi bumi pada masa depannya. Garis sepanjang ini akan menjadi titik jika engkau melihatnya dari kejauhan. Maka sebaliknya, tidaklah engkau dapat menduga bahwa sebuah titik pun bisa menjadi garis pada masa depannya. Berdasarkan analogi tersebut maka seseorang berhak untuk menentukan masa depannya, baik atau buruk. Sesuai dengan usaha yang ia lakukan (ikhtiyar). Allah telah berfirman bahwa Allah tidak akan mengubah suatu kaum sehingga mereka mengubah diri mereka sendiri.

    ReplyDelete
  6. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Dengan membaca elegi ini saya menyadari bahwa hakikat sesuatu itu tidaklah tunggal dan mutlak. Pada postingan ini dijabarkan betapa banyaknya hakikat waktu. Tiadalah dari mereka yang benar-benar "benar" ataupun benar-benar "salah". Karena saya setuju dengan statement ini, bahwa "Tiadalah sesuatu itu tidak berasal dari sesuatu yang lain. Tiadalah pula sesuatu itu tidak menjadi sesuatu yang lain". Kehidupan ini adalah sistem, bukan?

    ReplyDelete
  7. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Hikmah yang saya peroleh dari elegi di atas bahwa setiap tindakan/ langkah yang kita lakukan saat ini akan mempengaruhi masa depan kita walau sekecil apapun itu. Kita dapat belajar dari diri kita sendiri dan lingkungan sekitar. Kenalilah dirimu terlebih dahulu, cintailah dirimu terlebih dahulu, kita sendiri yang lebih tahu apa yang kita butuhkan untuk membangun masa depan yang cerah.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  8. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Pendefinisian ilmu yang sangat beragam dari Elegi di atas dapat menambah pengetahuan kita. Ilmu tidak hanya tentang pelajaran di sekolah, melainkan dapat berupa banyak hal. Luasnya pandangan tetang ilmu memberikan arti bahwa manusia hanyalah sebagian kecil dari kehidupan ini. Karena menjadi sebagian kecil itulah, manusia diminta untuk mencari ilmu dari buaian hingga liang lahat. Karena Allah SWT akan meninggikan derajat orang-orang yang berlimu. Masa depan seseorang akan ditentukan oleh Allah SWT, namun kita bisa berikhtiar untuk merancang masa depan kita sebaik-baiknya.

    ReplyDelete
  9. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    sudah bebearap hari saya belum membaca tulisan prof. sekalinya membuka blog, saya senang dengan perubahan warnanya prof.
    Menanggapi tulisan prof diatas tentang elegi orang tua berambut putih,saya berpendapat bahwa orang tua berambut putih dapat dianalogikan sebagai ilmu. Pengembaraan orang tua berambut putih dapat dipikirkan sebagai perkembangan hakekat ilmu yang merentang dari zaman dahulu hingga sekarang. Hakekat ilmu pengetahuan sangatlah banyak dan beragam. Seperti yang diungkapkan dalam elegi ini, muncul berbagai pendapat tentang ilmu pengetahuan, sebanyak orang yang memikirkannya. Setiap orang atau filsuf mendefinisikan ilmu pengetahuan berdasarkan persepsi, pemikiran, pengalaman dan konteks kehidupannya masing-masing. Setiap pendapat tersebut juga memiliki dasar dan penjelasnnya masing-masing. Pendapat-pendapat tentang ilmu pengetahuan tersebut akan terus-menerus berkembang seiring perubahan zaman.

    ReplyDelete
  10. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Kadang untuk mencari suatu kebenaran ilmu, seseorang harus bertanya kesana kemari seperti mengembara. Untuk mendapat suatu kepastian jawaban, seseorang harus mendatangi para ahli yang dianggap lebih kompeten. Tetapi terkadang kita dapati jawaban mereka kurang meyakinkan dan masih bersandar pada selera masing-masing (subjektif). Untuk itu, selain bertanya pada para ahli, kita juga dapat menggali kebenaran ilmu lewat berbagai buku, literatur, bahkan secara online lewat internet.

    ReplyDelete
  11. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Manusia dituntun untuk menuntut ilmu sepanjang hayat. Sebenar-benar obat bingung adalah bertanya. Syarat utama menjadi orang berilmu adalah memegang prinsip ‘malu bertanya maka sesat dijalan’. Tuhan YME juga menjanjikan derajat yang tinggi bagi orang yang berilmu. Maka janganlah kita mengenal lelah dalam belajar karena Ilmu sebenar-benar landasan keputusan. Ilmu adalah patokan kecil atau besar dirimu. Ilmumu akan menuntunmu memahami sebenar-benar dirimu.

    ReplyDelete
  12. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Ternyata sebelum orang tua berambut putih selalu menjadi yang muncul terakhir (pemilik jawaban bijak) disetiap perbincangan elegi-elegi, orang tua berambut putih juga pernah mengembara juga. Maksud dari pengembaraan orang tua berambut putih disini sepertinya menggambarkan pencarian suatu kebenaran ilmu. Dalam mencari kebenaran suatu ilmu, seharusnya sama seperti yang dilakukan orang tua berambut putih, yaitu mencari dari banyak sumber, tidak hanya bersumber pada satu pendapat saja. Karena semakin banyak sumber yang menjadi bahan rujukan, semakin bagus nilai kebenarannya.

    ReplyDelete
  13. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Dari elegi ini, apa yang saya dapatkan adalah saya memaknai bahwa pengembaraan orang tua berambut putih ini sebenarnya adalah untuk mencari dan membangun pemikiran-pemikiran serta ilmu pengetahuan. Ilmu dipandang sebagai sesuatu yang sangat penting dalam hidup, maka harus terus dicari kapanpun dan dimana pun. Namun tentu saja adalah hal yang wajar ketika dalam perjalanan mencari ilmu itu ada hal-hal yang membuat kita bingung, ada hal-hal yang berbeda, karena memang semua yang ada di dunia ini bersifat plural, termasuk orang yang menyampaikan ilmu dan yang menerimanya. Ilmu yang sebenarnya sama, dapat menjadi berbeda-beda penafsiran bagi setiap orang. Maka dari itu, sebenar-benar mencari ilmu ada harus membuka pikiran seluas-luasnya, termasuk terhadap berbagai perbedaan yang ada. Lebih banyak kita mengetahui maka kita akan semakin kaya akan pemahaman mengenai ilmu tersebut.

    ReplyDelete
  14. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Berdasarkan elegi di atas bahwa sebenar-benar ilmu adalah diriku. Hal ini disebut sebagai teleologi. Setiap orang akan memiliki ilmu yang berbeda-beda, hal ini tergantung dari bagaimana ia memperolehnya. Misalkan sebuah fenomena yang terjadi akan dipandang berbeda oleh dua orang yang berbeda, tergantung dari persepsi masing-masing. Dalam mereflesikan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh pun akan berbeda antara orang yang satu dengan yang lainnya. Karena sebenar-benar ilmu bergantung pada diri masing-masing dan bagaimana memahami dan menginterpretasikannya ke dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  15. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Ilmu bagi tiap orang bisa berbeda beda arti dan maknanya. Seperti yang digambarkan dalam elegi di atas, pendapat para ahli tentang ilmu berbeda antara yang satu dan yang lainnya. Ada yang menganggap ilmu sebagai pemikiran, persepsi, pengalaman, intuisi, logika dan sebagainya. Setiap orang bebas berpendapat, relatif terhadap ruang dan waktunya. Namun, untuk memahami ilmu haruslah dimulai dengan kesadaran bahwa kita memerlukan ilmu tersebut. Dalam memahami ilmu juga sebaiknya kita mepelajarinya secara utuh atau keseluruhan karena ilmu itu merupakan satu kesatuan dan akan berpengaruh terhadap persepsi dan pemikiran kita nantinya.

    ReplyDelete
  16. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Elegi Pengembaraan Orang Tua Berambut Putih, dari postingan kali ini menyatakan bahwa orang tua berambut putih itu adalah diriku. Dan orang tua berambut putih itu diibaratkan ilmu. Maka sebenar benarnya ilmu adalah diriku.

    ReplyDelete
  17. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Sebuah proses pencarian ilmu pengetahuan akan melibatkan pikiran, pengalaman, persepsi dan mimpi. Karena hal-hal tersbeut kita bisa mengalami sesuatu hal yang telah terjadi ataupun masih ada dalam benak kit, itulah sebenar benarnya proses pencarian ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
  18. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Dengan pikiran seklaigus pengalaman kita bisa memperoleh hal-hal yang baru sehingga menambah ilmu pengetahuan. Seiring sejalan dengan logika pemikiran, riwayat perjalanan memperoleh pengetahuan kita bisa mengalami proses memilih dengan pilihan kita sendiri, terkadang ada hambatan dalam sistem, ketidakpastian terhadap sesuatu hal, kesalahan dalam mengambil keputusan, itu semua termasuk ke dalam pengalaman proses mencari ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
  19. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Dengan membaca postingan Bapak saya belajar tentang hakikat ilmu pengetahuan dari banyak tokoh yang menjelaskan ilmu dari berbagai sudut pandang. Selain itu dijelaskan pula pendapat para tokoh tentang ilmu di jaman lampau,sekarang, dan masa depan. Semua itu memberikan pembelajaran bahwa satu kata tentang ilmu dapat dipelajari dan dimaknai seiring berjalannya waktu dan menggunakan sudut pandang dari bermacam-macam. Sehingga akan lebih menambah ketajaman dalam berpikir.

    ReplyDelete
  20. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi di atas yang dapat kita ambil hikmahnya yaitu tentang pendapat para filsuf tentang diri kita ini apa. Banyak yang dapat disebutkan, karena diri kita adalah dunia, sehingga meliputi apa yang ada dan yang mungkin ada. Hikmah yang lain yaitu bagaimana kita senantiada membuat pertanyaan-pertanyaan tentang hidup dan berusaha mencari jawabannya sehingga itulah yang membuat kita senantiasa berproses aktif. Terakhir berkaitan dengan teleologi. Teleologi adalah sesuatu yang mengutamakan tujuan. Yang dipopulerkan oleh Immanuel kant.

    ReplyDelete
  21. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Elegi yang sangat mengesankan dan saya sangat asyik membacanya. Elegi yang memiliki pesan tersirat terkait dengan upaya penemuan dan pengenalan pada diri sendiri. Tentunya setiap tokoh memiliki pandangannya masing-masing terkait penjelasan mengenai diri seseorang. Saya belajar dari banyak tokoh melalui postingan ini. Unik sekali pendapat yang dikemukakan oleh satu tokoh dan tokoh lainnya. Saya memilih fokus pada teleologi. Membicarakan masa depan adalah hal yang sangat menarik bagi saya. Meski saya sendiri juga masih meraba dalam upaya meraih masa depan yang cemerlang. Tantangan demi tantangan terus datang silih berganti. Inilah yang membuat saya tidak berhenti dalam satu titik saja. Titik terakhir dari usaha yang dilakukan secara berulang-ulang mungkin dapat membawa pada suatu keberhasilan. Tidak menuruti rasa kemalasan dalam diri adalah salah satu jalan yang dapat saya upayakan. Terima kasih sekali Prof untuk ilmu yang sangat bermanfaat.

    ReplyDelete
  22. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas artikel di atas. Saya tertarik dengan ilmu teleologi, bahwa tiadalah sesuatu itu tidak berasal dari sesuatu yang lain. Tiadalah pula sesuatu itu tidak menjadi sesuatu yang lain. tIadalah masa depan tanpa masa lampau. Artinya semuanya yang ada sekarang merupakan proses dan berangkat dari masa lampau. Inilah diriku yang sekarang dari cerminan dan akibat dari masa lampau. Jika setiap orang menyadari pentingnya membangun masa depan yang lebih, baik saat ini mereka sedang berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik, melakukan hal bermanfaat, menghargai waktu dan kesempatan yang ia punya, berusaha semaksimal mungkin agar masa depan nya tergambar cerah seperti yang di impikan. Jika juga harus mengerti bahwa setiap orang memiliki perspektif yang berbeda-beda. Sebenar-benar diriku adalah intuisi, logika,riwayat, dan formalitas orang lain, yang kita tidak mampu megendalikan dan berkuasa atas itu1. Seperti apapun orang memandang kita, alangkah baiknya kita tetap berusaha menjadi diri sendiri, melakukan yang terbaik demi meraih masa depan yang lebih baik. Maka janganlah kita mudah terlena akan ilmu. Hauslah terus akan ilmu pengetahuan yang kita miliki saat ini, karena bekal ilmu yang banyak dan mumpuni menjadikan kita kuat menghadapi tantangan di masa depan. Semoga kita termasuk orang-orang yang bersyukur dan selalu berikhtiar menjadi sebenar-benar hamba yang bermanfaat dan sukses dunia dan akhirat. Amin.

    ReplyDelete
  23. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Segala sesuatu yang dikerjakan pasti ada tujuan yang akan mengikutinya. Tujuan hidup dibutuhkan bahjan merupakan fator untuk kita dalam membuat langkah-langka. Apabila kita tidak memiliki tujuan maka hidp akan terasa hampa dan dia akan erpikr untuk mengikuti alur saja. Namun apabila seseorang memiliki tujuan dia akan melakukan segala hal yang bermanfaat untuk mencapai tujuannya. Ini bukanlah ambisi namun motivasi diri untuk melakukan kegiatan yag dapat menuju pada tujuan tertentu dengan keteraturan, rancangan, maksud, kecenderungan, sasaran, dan arah.

    ReplyDelete
  24. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Pengembaraan dan melakukan perjalanan merupakan salah satu cara orang tua putih untuk mencari pengetahuan tenatng hakikat dirinya. Hal ini merupakan salah satu perjuangan yang dlakuakan oleh orang tua putih. Pertemuan orang tua putih dengan berbagai tokoh diatas tentunya memberikan ilmu dan pengetahuan yang tak ternilai. Para tokoh memberikan pandangan yang berbeda-beda tentang hakikat dirinya. Tentu saja kebingungan bisa saja terjadi kepada ornag tua putih namun kebingunagan adalah proses memperoleh pengetahuan. Dan pengetahuan ini sangat penting karena semakin banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang maka semakin bijak seseorang menanggapi keadaan yang ada disekitarnya. Terima kasih

    ReplyDelete
  25. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Para tokoh di atas memiliki persepsi masing-masing sesuai apa yang ada di pikirannya. Saya setuju dengan orang tua berambut putih yang mengatakan bahwa "Jawaban mereka sesuai selera masing-masing. Maka belum puaslah diriku akan jawaban mereka semua. Tetapi aku sadar bahwa aku sedang berada pada jaman jauh sebelum diriku sekarang."
    Ini menunjukkan bahwa manusia memiliki batas dalam pikiran. Sehingga dari sekian banyak tokoh di atas teorinya berbeda-beda. Tetapi kita harus sadar bahwa kita hidup di jaman yang dituntut tidak hanya bisa berpikir tetapi juga harus berhati nurani.

    ReplyDelete