Oct 14, 2011

Elegi Pengembaraan Orang Tua Berambut Putih

Oleh Marsigit



Kini aku merasa sudah saatnya aku mengembara. Supaya pengembaraanku bermakna, maka aku akan bertanya kepada para saksi. Tetapi sebelum aku bertanya kepada saksi-saksi terlebih aku ingin sampaikan bahwa sebenar-benar sebenar-benar saksi tidak lain tidak bukan adalah aku sendiri. Aku ingin mengaku bahwa aku mengetahui segala sesuatu, tetapi jika mereka bertanya kepadaku maka dengan serta merta aku tidak mengetahuinya. Mengapa? Karena sebenar-benar diriku adalah pertanyaan mereka. Bagaimana mungkin aku mengerti tentang pertanyaanku sendiri? Maka sebodoh-bodoh orang adalah diriku ini, karena aku selalu bertanya tentang segala hal, tetapi aku selalu tidak dapat menjelaskannya. Tetapi bukankah mengerti bahwa aku tidak dapat menjawab itu pertanda bahwa tidak tidak mengerti. Maka dapat aku katakan bahwa sebenar-benar diriku adalah tidak tidak mengerti. Hendaknya jangan terkejut bahwa tidak tidak mengerti itu sebenarnya adalah mengerti pula. Maka bukanlah aku yang ingin mengatakan, tetapi mereka yang boleh mengatakan bahwa aku selalu mengerti tentang pertanyaanku itu. Bukankah di sini mereka tahu bahwa sebenar-benar diriku adalah kontradiksi, karena aku sekaligus mengerti dan tidak mengerti. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu kontradiktif. Tetapi janganlah salah paham, kontradiksi itu adalah ilmu, tempat tinggalnya ada dalam pikiranmu.



Orang tua berambut putih berjumpa Socrates, Plato, Aristoteles, George Berkely, Rene Descartes, dan Immanuel Kant.
Wahai Socrates, Plato, Aristoteles, Rene Descartes, David Hume dan Immanuel Kant, ..., bolehka aku bertanya kepadamu. Menurut kesaksianmu, siapakah sebenar-benar dirimu dan sebenar-benar diriku?

Socrates:
Wahai orang tua berambut putih. Sebenar-benar diriku adalah pertanyaanku. Maka aku akan bertanya kepada siapapun tentang segala hal yang aku sukai. Sedangkan sebenar-benar dirimu adalah diriku juga. Maka sebenar-benar dirimu tidak lain adalah pertanyaanku juga pertanyaanmu. Jawaban para pakar dan para ahli itulah sebenar-benar tempat tinggalmu. Itulah sebenar-benar ilmu yaitu pertanyaanmu.

Plato:
Sebenar-benar dirimu adalah pikiranku. Sebenar-benar dirimu adalah imajinasiku. Tidak aku panggil, engkau sudah ada dalam pikiranku. Maka dirimu yang absolut itulah yang selalu aku pikirkan. Semuanya tentang dirimu sudah ada dalam pikiranku. Hanya terkadang aku sulit mengenalimu. Tetapi aku sadar, bahwa banyak orang mencoba mirip-mirip dengan mu. Itulah mereka yang dapat aku lihat dan dapat aku raba. Mereka jumlahnya sangat banyak. Tetapi mereka semuanya bersifat sementara. Maka sebenar-benar dirimu adalah ide-ide ku. Tempat tinggalmu ada dalam pikiranku. Tetapi aku selalu mengkhawatirkanmu, karena dalam pikiranku selalu ada lubang gelap seperti gua. Gua-gua seperti itulah yang menyebabkan aku sulit mengenalmu. Aku juga mengkhawatirkan akan badanku, karena badanku inilah penyebab munculnya gua-gua itu. Maka sebenar-benar dirimu adalah hamba yang terlepas dari penjara badanku. Maka sebenar-benar dirimu adalah pikiranku yang berada di luar gua kegelapanku dan terbebas dari badanku. Itulah sebenar-benar ilmu, tidak lain tidak bukan adalah pikiranku. Tetapi aku mengalami kesulitan untuk menjelaskan kepada orang-orang tentang tempat tinggalmu itu.

Aristoteles:
Aku agak berbeda dengan guruku Plato. Menurutku, sebenar-benar dirimu adalah adalah pengalamanku. Maka tempat tinggalmu adalah pada pengalamanku. Begitu aku menggapai pengalamanku maka dengan serta merta muncullah dirimu itu. Maka menurutku, sebenar-benar dirimu adalah yang dapat aku lihat, aku raba, dan aku indera. Maka sebenar-benar dirimu adalah diluar diriku. Padahal aku tahu bahwa dirimu adalah diriku. Maka aku tidak lain tidak bukan adalah sekaligus bukan aku. Mengapa? Karena aku mengalami kesulitan memahami engkau yang berada diluar diriku. Dan juga mengalami kesulitan bagaimana aku dapat menjelaskan kepada orang-orang bahwa engkau yang berada di luar diriku itu sebenar-benarnya adalah diriku.

George Berkely:
Menurutku, engkau adalah yang aku lihat atau aku persepsi. Jikalau engkau tidak adalah di situ, maka tidak adalah sebenar-benarnya engkau itu. Esse est percipi itulah kata-kataku. Maka sebenar-benar engkau adalah tipuanmu belaka. Engkau adalah fatamorgana. Maka sebenar-benar engkau yang adapat aku lihat adalah tipuan juga. Jadi apalah artnya sesuatu yang dapat engkau lihat itu, kecuali hanya tipuan belaka. Maka dunia ini tidak lain tidak bukan adalah tipuan belaka. Itulah sebenar-benar dirimu itu. Padahal aku tahu bahwa dirimu adalah diriku juga, maka sebenar-benar ilmu itu tidak lain tidak bukan adalah tipuan butamu.

Rene Descartes:
Menurutku, sebenar-benar dirimu adalah mimpiku. Tiadalah aku dapat menemukanmu tanpa mimpi-mimpi itu. Bagiku mimpi adalah nyata. Dan yang nyata bisa juga menjadi mimpiku. Maka sebenar-benar diriku adalah tidak dapat membedakan apakah kenyataan atau mimpiku. Namun aku selalu risau karena jika aku ingin berjumpa denganmu aku selalu dihadang makhluk hitam yang akan menyesatkanku, sehingga aku selalu salah mengertimu. Maka selalulah terjadi bahwa aku selalu meragukan keberadaanmu. Maka sebenar-benar dirimu adalah keraguanku itu sendiri. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu keraguanmu. Aku meragukan semuanya tanpa kecuali. Hanyalah ada satu yang tidak dapat aku ragukan yaitu diriku sendiri yang meragukan itu. Itulah satu-satunya kepastian bagiku. Cogito ergosum itulah kata-kataku, yaitu bahwa diriku itu ada karena aku tahu sedang meragukannya. Bukankah itu sebenar-benar dirimu. Maka sebenar-benar keberadaanku adalah diriku yang berpikir ini.

Immanuel Kant:
Menurutku engkau adalah pikiranku sekaligus pengalamanku. Tiadalah dirimu itu ada di situ tanpa pikiranku atau tanpa pengalamanku. Sedangkan tempat tinggalmu adalah di dalam intuisiku. Ketahuilah bahwa aku mempunyai dua intuisi yaitu intuisi ruang dan intuisi waktu. Itulah sebenar-benar tempat tinggalmu. Tetapi untuk mengerti tentang dirimu aku harus bersifat kritis. Maka sebanar-benar dirimu adalah pikiranku yang kritis. Itulah sebenar-benar ilmu, tidak lain tidak bukan adalah pikiran kritismu. Namun ketahui pula bahwa tidaklah mudah menggapai dirimu. Ketika engkau kukejar dengan pikiran kritisku, maka engkau lari menuju keputusanmu. Itulah setinggi-tinggi tempat tinggalmu, yaitu pada keputusanku. Maka sebenar-benar ilmu tidak lain tidak bukan adalah keputusanmu.

Orang tua berambut putih tidak puas dengan jawaban Socrates, Plato, Aristoteles, George Berkely, Rene Descartes, dan Immanuel Kant.
Ah, ngacau semua mereka itu. Jawaban mereka sesuai selera masing-masing. Maka belum puaslah diriku alan jawaban mereka semua. Tetapi aku sadar bahwa aku sedang berada pada jaman jauh sebelum diriku sekarang. Padahal aku belum sempat bertanya kepada orang sekarang yang berseliweran didepanku. Maka aku berjanji akan meneruskan perjalananku untuk bertanya siapa sebenarnya diriku itu?

Orang tua berambut putih bertemu Hegel, Brouwer, Russell, Wittgenstein, Hilbert, Godel, Husserll, Einstein, Lakatos dan Ernest
Wahai Hegel, Brouwer, Russell, Wittgenstein, Hilbert, Godel, Husserll, Einstein, Lakatos dan Ernest, ..bolehkah aku bertanya kepadamu. Menurut kesaksianmu, siapakah sebenar-benar dirimu dan sebenar-benar diriku itu?

Hegel:
Sebenar-benar dirimu adalah riwayatku. Padahal hidupku telah melampuai masa laluku, dan sedang mengalami waktu kiniku dan bersiap-siap untuk menempuh masa depanku. Itulah sebenar-benar dirimu, adalah sejarah bagimu. Maka akupun tidak lain tidak bukan adalah sejarah itu sendiri. Jadi sebenar-benar ilmu adalah sejarah dirimu. Hidupmu adalah sejarah diriku. Diriku adalah sejarah dunia ini. Maka sebenar-benar dunia adalah mensejarah. Ketahuilah bahwa tiadalah ada di dunia ini beserta wadah dan isinya yang tidak mensejarah. Make tersesatlah wahai orang-orang yang melupakan akan sejarahnya.

Brouwer:
Sebenar-benar dirimu adalah intuisiku. Namun hendaknya engkau ketahui bahwa intuisiku bersifat ganda. Maksudnya adalah jika aku memikirkanmu yang satu maka aku masih dapat mengingat engkau yang lain. Demikianlah seterusnya. Itulah sebenar-benar ilmuku. Yaitu intuisiku yang bersifat ganda.

Russell:
Sebenar-benar dirimu adalah logikaku. Hukum sebab-akibat dalam koherensi itulah sebenar-benar dirimu itu. Dirimu adalah konsistensi logikaku. Dirimu adalah kepastian pikiranku. Dirimu adalah kejelasan pikiranku. Maka sebenar-benar dirimu adalah premis-premis dan kesimpulan yang bersifat rigor. Tiadalah ada dirimu di situ jikalau engkau menyalahi hukum-hukumnya. Tetapi ternyata aku mempunyai musuh yang maha besar yang siap menerkam diriku. Yaitu ketika aku tidak bisa menjawab apakah engkau yang tidak sama dengan engkau itu termasuk anggota dari kumpulan engkau.

Wittgenstein:
Sebenar-benar dirimu adalah kata-kataku. Maka sebenar-benar ilmu itu adalah kata-kata. Kata-kata dan bahasa itulah rumahku. Maka engkau yang besar dapat aku lihat sebagai kumpulan engkau yang kecil-kecil. Engkau yang besar adalah gabungan engkau yang kecil-kecil. Demikianlah sifat kata-kata dan kalimat-kalimat dalam bahasa. Maka barang siapa tidak dapat mengucapkan kata-katanya, maka dia terncam kehilangan ilmunya.

Hilbert:

Sebenar-benar dirimu adalah sistimku. Sebenar-benar dirimu adalah formalitasku. Maka sistimku yang tersusun secara formal itulah sebenar-benar engkau. Itulah engkau yang mampu menaungi semuanya tanpa kecuali. Engkau yang satu adalah tujuanku. Maka tiadalah ilmu yang lain kecuali engkau yang satu itu. Engkau yang satu itulah konsistensi dan kelengkapanmu. Maka sebenar-benar ilmu adalah satu, konsisten dan lengkap. Tetapi aku bermimpi akan ada seseorang muridku yang membalikkan pikiranku ini. Tetapi entahlah.

Godel:
Sebenar-benar dirimu adalah pilihanmu. Engkau tingal memilih salah satu. Jika engkau memilih konsisten, maka tidak akan lengkapkah engkau itu. Jika engkau memilih kelengkapan, maka tidak akanlah engkau itu konsisten. Untuk itu aku berani mempertaruhkan segalanya di depan guruku Hilbert bahwa pernyataanku itu memang benar demikianlah.

Husserll:

Sebenar benar dirimu adalah hanya sebagian dari diriku. Engkau tidak akan mengerti akan dirimu jika engkau berusaha menggapai semuanya. Maka sebenar-benar ilmu adalah phenonemologi, yaitu sebagian darimu yang aku sembunyikan yang lainnya di dalam rumah epoche. Jika aku berpikir tentang satu maka aku singkirkan yang lainnya. Aku bersihkan pikiranku dari memikirkan yang lainnya. Jika aku memikirkan engkau sebagai kubus matematika, maka aku singkirkan semua sifat-sifat yang tidak aku kehendaki. Bukankah ketika aku memikirkan kubus matematika aku tidak perlu memikirkan aroma, aku tidak perlu memikirkan harga jual, aku tidak perlu memikirkan keindahan. Itu semua aku simpan dalam rumah epoche. Sedang yang aku pikirkan hanyalah ukuran dan bentuk dari kubus itu. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu satu atau beberapa sifat dari dirimu yang aku pilih untuk aku pikirkan.

Einstein:

Sebenar-benar dirimu adalah ketidak pastianmu. Tetapi hendahlah engkau ingat bahwa ketidak pastianmu itulah sebenar-benar kepastian. Maka relativisme itulah kata-kataku. Aku tidak pernah pasti dapat menentukan dirimu. Namun, itu juga kepastianku. Aku memastikan bahwa aku dalam keadaan berhenti ketika aku bersama-sama berjalan denganmu. Tetapi aku juga dapat memastikan bahwa aku dalam keadaan berjalan ketika aku bersama-sama berhenti dengan mu. Ketinggianmu adalah sekaligus tempat paling rendahmu, demikian sebaliknya. Kecepatan dan masa itulah kunci untuk mengetahui tempat tinggalku. Maka e=mc2 itulah sebenar-benar diriku. Maka sesungguh-sungguhnya ilmu adalah relativitasmu.

Lakatos:
Sebenar-benar dirimu adalah kesalahanku. Ketahuilah bahwa tiada benar tanpa mengerti kesalahan. Maka sebenar-benar ilmu adalah kesalahan itu sendiri. Maka fallibism itulah kata-kataku. Maka jika engkau ingin menggapai benar, maka tidaklah engkau bisa terhindar dari kesalahan. Ketahuilah bahwa menghindari yang salah bukan satu-satunya jalan menuju yang benar. Sedangkan menggapai yang benar tidak berarti menghindari yang salah. Maka sebenar-benar dirimu adalah kesalahanku itu. Maka sebenar-benar tempat tinggalmu adalah di antara yang benar dan salah.

Ernest:
Sebenar-benar dirimu adalah pergaulanmu. Maka tiadalah dirimu itu tanpa pergaulanmu. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu pergaulan itu sendiri. Maka selalu bergaullah antar sesamamu agar engkau memperoleh ilmumu. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu perolehanmu dalam pergaulanmu. Maka socio-constructivist adalah kata-kataku. Yaitu bahwa ilmumu kamu peroleh melalui pergaulanmu.

Orang tua berambut putih ternyata belum puas dengan jawaban Hegel, Brouwer, Russell, Wittgenstein, Hilbert, Godel, Husserll, Lakatos dan Ernest
Ah, ngacau semua mereka itu. Jawaban mereka sesuai selera masing-masing. Maka belum puaslah diriku akan jawaban mereka semua. Tetapi aku sadar bahwa aku sedang berada perjalananku. Tetapi aku ragu apakah aku mampu memikirkan masa depanku?

Orang tua berambut putih bertemu dengan Teleologi
Wahai seseorang, siapakah dirimu itu. Rasa-rasanya aku pernah melihatmu, tetapi tidaklah begitu jelas. Rasa-rasanya aku pernah pergi bersamamu tetapi aku lupa kemana ketika itu. Rasa-rasanya aku pernah berdiskusi denganmu, tetapi aku lupa tentang apa yang kita diskusikan ketika itu.

Teleologi:
Kenalkanlah namaku adalah teleologi. Aku adalah adalah seorang pembantu. Engkau ingatlah seseorang yang bernama Immanuel Kant. Itulah sebenar-benar tuanku. Aku disuruh oleh Immanuel Kant untuk menemuimu. Mengapa? Karena Immanuel Kant mendengar pertanyaan dan kegelisahan dirimu tentang masa depanmu.

Orang tua berambut putih:

Menurut pengetahuanku, Immanuel Kant mempunyai banyak sekali pembantu. Maka tolong jelaskanlah engkau siapa sebenarnya.

Teleologi:

Aku adalah masa depan. Aku berangkat dari masa lampau. Aku adalah semuanya dalam dimensi ruang dan waktu.

Orang tua berambut putih:
Aku tidak jelas penjelasanmu itu. Tolong bicara yang agak rinci.

Teleologi:
Tiadalah sesuatu itu tidak berasal dari sesuatu yang lain. Tiadalah pula sesuatu itu tidak menjadi sesuatu yang lain. Benda sebesar bumi ini akan menjadi sebuah titik jika engkau melihatnya dari kejauhan. Maka sebaliknya, tidaklah engkau dapat menduga bahwa sebuah titik pun bisa menjadi bumi pada masa depannya. Garis sepanjang ini akan menjadi titik jika engkau melihatnya dari kejauhan. Maka sebaliknya, tidaklah engkau dapat menduga bahwa sebuah titik pun bisa menjadi garis pada masa depannya. Berdasarkan analogi tersebut maka aku mengkhawatirkanmu bahwa di masa depanmu engkau akan bisa berbentuk apa saja. Engkau bisa saja terbang seperti seekor burung jika seribu, sejuta, semilyard keturunanmu selalu menginginkan terbang dan beratih untuk terbang. Itulah sebenar-benar diriku. Itu pulalah sebenar-benar ilmuku dan juga ilmumu. Jadi sebenar-benar ilmu adalah diriku, yaitu teleologi.

24 comments:

  1. Ibrohim Aji Kusuma
    18709251018
    S2 PMA 2018

    Filsafat adalah olah pikir, filsafat ku adalah pikiranku, petanyaanku dan pengalamanku filsafatmu adalah pikirianmu, pengalamanmu dan juga pertanyaan mu yang meliputi dimensi ruang dan waktu. Filsafat seseorang akan dipengaruhi dengan pergaulan dan pengalamannya. pengalaman akan membangun atau mengkonstruksikan filsafat atau olah pikir seseorang, yang akan menimbulkan pertanyaan baru dan akan menimbulkan ilmu yang baru.

    ReplyDelete
  2. Aizza Zakkiyatul Fathin
    18709251014
    Pps Pendidikan Matematika A

    Dalam elegi ini telah dijelaskan berbagai macam pendapat mengenai diriku dan dirimu. Namun, dapat disimpulkan sebenar-benar diriku adalah pikiranku. Seberapa tingginya derajat manusia dilihat dari kemampuannya dalam berpikir. Bagaimana manusia dapat menggunakan pikirannya untuk berilmu. Karena sebenar-benar manusia hidup adalah berpikir. Jadi dengan berpikir adalah suatu ikhitar manusia untuk mengenal dirinya. Karena tidak ada manusia yang benar-benar mengerti dirinya yang ada hanya menggapai untuk mengenal dirinya. Hanya Alloh SWT yang mengenal diri-Nya sendiri.

    ReplyDelete
  3. Endah Kusrini
    18709251015
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Filsafat adalah diri kita sendiri. Ketika kita sedang berfikir, sedang memaknai sesuatu, artinya kita telah berfilsafat. Pikiran satu orang dengan orang lain tentu berbeda, bergantung pada pengetahuan, pengalaman, dan keyakinan mereka masing-masing. Untuk itu sah-sah saja jika setiap orang mempunyai definisi dan sudut pandang yang berbeda. Seperti yang disampaiakan pada elegi ini, bahwasanya ilmu itu bersifat kontradiktif. Apa yang ada dalam fikiran kita bersifat kontrakdiktif. Namun yang perlu diingat adalah apa yang ada di hati kita, apa yang kita yakini tidak boleh kontradiktif.

    ReplyDelete
  4. Dini Arrum Putri
    18709251003
    S2 P Math A 2018

    Sebenar-benenarnya diriku adalah pikiranku. Sebenar-benarnya diriku adalah pengalamanku dan sebenar-benarnya diriku adalah filsafatku. Artinya bahwa segala sesuatunya tidak berasal dari sesuatu yang lain namun bersumber dari diri kita sendiri. Kenapa diriku disebut filsafat? Karena filsafat adalah pikiran kita. Filsafat adalah olah pikir. Apa yang sedang kita pikirkan itu adalah filsafat kita, dan semuanya akan berkembang seiiring kita terus mencari pengetahuan.

    ReplyDelete
  5. Hasmiwati
    18709251023
    S2 Pend.Matematika B 2018

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
    Elegi ini menceritakan tentang perjalanan ilmu menurut pemikiran para filsuf terdahulu. Mulai dari Plato dan penerus pemikirannya serta Aristoteles dan yang sepaham dengannya. Juga orang-orang yang berusaha menggabungkan antara logika dan pengalaman. Mulai dari jaman filsafat alam sampai filsafat bahasa. Walaupun hanya penjelasan singkat mengenai pemikiran beberapa para filsuf, tetapi dapat mendorong pembacanya untuk lebih mengetahui perihal mereka dan pemikiran-pemikirannya. Sampai suatu ketika sampailah pada teleologi. Ilmu dimana sesuatu bisa dipandang dari sudut pandang mana saja. Sesuatu berhubungan dengan sesuatu yang lain. Masa depan yang berasal dari masa lalu. Ilmu yang memandang lintas ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  6. Herlingga Putuwita Nanmumpuni
    18709251033
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Tiadalah sesuatu itu tidak berasal dari sesuatu yang lain. Artinya segala sesuatu itu memanglah saling berhubungan dan saling mempengaruhi baik salah maupun benar. Disimpulkan dari elegi di atas : Tiadalah pula sesuatu itu tidak menjadi sesuatu yang lain. Benda sebesar bumi ini akan menjadi sebuah titik jika engkau melihatnya dari kejauhan. Maka sebaliknya, tidaklah engkau dapat menduga bahwa sebuah titik pun bisa menjadi bumi pada masa depannya. Garis sepanjang ini akan menjadi titik jika engkau melihatnya dari kejauhan. Maka sebaliknya, tidaklah engkau dapat menduga bahwa sebuah titik pun bisa menjadi garis pada masa depannya. Inilah salah satu yang diakibatkan oleh suatu perbedaan cara pandang. Sebenar-benar diriku dikatakan juga sebenar-benar ilmuku dan juga ilmumu. Jadi sebenar-benar ilmu adalah diriku, yaitu teleologi.

    ReplyDelete
  7. Fabri Hidayatullah
    18709251028
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Orang tua berambut putih dapat dianalogikan sebagai ilmu. Pengembaraan orang tua berambut putih dapat dipikirkan sebagai perkembangan hakekat ilmu yang merentang dari zaman dahulu hingga sekarang. Hakekat ilmu pengetahuan sangatlah banyak dan beragam. Seperti yang diungkapkan dalam elegi ini, muncul berbagai pendapat tentang ilmu pengetahuan, sebanyak orang yang memikirkannya. Setiap orang atau filsuf mendefinisikan ilmu pengetahuan berdasarkan persepsi, pemikiran, pengalaman dan konteks kehidupannya masing-masing. Setiap pendapat tersebut juga memiliki dasar dan penjelasnnya masing-masing. Pendapat-pendapat tentang ilmu pengetahuan tersebut akan terus-menerus berkembang seiring perubahan zaman

    ReplyDelete
  8. Agnes Teresa Panjaitan
    S2 Pendidikan Matematika A 2018
    18709251013

    Elegi ini telah memberikan beberapa sudut pandang filsafat dalam melihat manusia. Karena sejatinya manusia sulit dalam mendefinisikan dirinya sendiri. Mendefinisikan siapa dan bagaimana diri sendiri merupakan salah satu hal yang sulit untuk dilakukan tetapi filsafat coba memberikan gambaran bagaimana manusia dan apa yang ada dihati, pikiran dan lingkungannya saling berkaitan dan saling memengaruhi.

    ReplyDelete
  9. Seftika Anggraini
    18709251016
    S2 PM A 2018

    Banyak aliran dalam filsafat yang diciptakan oleh filsuf dengan pemikirannya masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa filsafat adalah pikiran kita masing-masing sehingga filsafat adalah diri kita sendiri. Namun, dalam menentukan filsafat mana yang ada dalam diri kita, kita harus menggunakan hati dan pikiran kita untuk menentukan keputusan.
    Terima kasih

    ReplyDelete
  10. Bayuk Nusantara Kr.J.T
    18701261006

    Filsafat adalah sebuah filosofi yang banyak mengumpulkan pengertian-pengertian tersendiri mengenai apa yang menjadi pertanyaan mendasar, namun sangat mendalam pemahamannya. Filsafat tidak akan pernah lari dari pribadi masing-masing orang, karena filsafat itu sendiri adalah filosofi bagaimana seseorang hidup dan mengapa ia harus hidup

    ReplyDelete
  11. Muh. Fachrullah Amal
    18709251036
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Setiap individu memiliki pemikiran yang berbeda-beda, dengan beragamnya pemikiran seseorang maka kemampuan filsafatnyapun berbeda-beda. Karena filsafat merupakan olah pikir, dan banyak pula yang mendefinisikan filsafat itu adalah dirimu. Sebenar-benar filsafat adalah dirimu, karena kita dibekali akal untuk berpikir. Filsafat memiliki cakupan yang luas sehingga untuk menentukan aliran filsafat mana yang terdapat dalam diri kita maka kita harus banyak menterjemahkan diri sendiri.

    ReplyDelete
  12. Deden Hidayat
    18709251032
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Berdasarkan elegi tersebut bahwa sebenar-benarnya ilmu adalah diriku. Ilmu tersebut terdapat dalam pemikiran kita. Pemikiran yang kita miliki merupakan buah dari pengalaman-pengalaman yang sudah kita lakukan. Semakin banyak pengalaman maka semakin baik cara pandang kita terhadap sesuatu.Oleh karena itu, marilah kita tingkatkan pengalaman yang kita miliki untuk dapat memperoleh suatu ilmu agar tidak terjebak dalam ruang dan waktu yang berbeda.

    ReplyDelete
  13. Eka Puspita Sari
    18709251035
    S2 PM B 2018

    Orang tua berambut putih merupakan dari sebuah ilmu atau pengetahuan yang dimiliki oleh seseoramg. Ilmu bisa diperoleh dari mana saja, maka tak heran bahwa sebenr-benar ilmu adalah banyak. Sebenar-benar ilmu adalah pengamanku, pikiranku, pertanyaanku, intuisiku, logikaku dan lain-lain. Dan sebenar-benar ilmu adalah kontradiksi, mengapa demikian? Karena ilmu juga berasal dari pikiran, maka untuk mendapatkan ilmu pasti perlu berpikir dan berpikir dapat juga akibat dari karena adanya kontradiksi yang terjadi didalam pikiran. Jika tidak terjadi kontradiksi maka pikiran akan senantiasa setuju-setuju saja dengan sesuatu dan hal tersebut dapat membuat pikiran berhenti untuk berpikir. Dan jika berhenti berpikir maka tidak akan tercipta ilmu pengetahuan dan kematianlah yang tersisa.

    ReplyDelete
  14. Dita Aldila Krisma
    18709251012
    PPs Pendidikan Matematika A 2018

    Filsafat merupakah buah pemikiran yang dapat dibangun dari pertanyaan juga pengalaman. Filsafat menjabarkan ilmu yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan manusia. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai berpikir dan membahas keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar. Dengan demikian, filsafat memunculkan suatu ilmu yang merentang dari zaman dulu sampai sekarang, melihat suatu fenomena dari berbagai sudut pandang.

    ReplyDelete
  15. Rindang Maaris Aadzaar
    18709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2018 (PM B 2018)

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Filsafat merupakan pikiran. Sehingga banyak tokoh filsafat yang bermunculan dan mengemukakan pendapatnya tentang beberapa teori filsafat. Hal tersebut membuat banyak kontradiksi antara ilmu lain dengan yang lainnya. Semuanya semata-mata untuk mencapai epistemologi. Seperti halnya teologi, yang artinya sebenar-benarnya ilmuku adalah ilmumu
    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    ReplyDelete
  16. Luthfannisa Afif Nabila
    18709251031
    S2 Pendidikan Matematika B 2018
    Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh
    Jika kita ingin menggapai sesuatu yang benar, maka tidaklah kita bisa terhindar dari suatu kesalahan. Manusia merupakan makhluk yang tidak sempurna. Setiap manusia pasti tak luput dari yang namanya kesalahan meskipun terkadang kita berusaha menghindarinya. Karena dari kesalahanlah kita belajar untuk memperbaikinya agar menjadi pribadi yang lebih baik. Orang yang hebat adalah orang yang mau menyadari kesalahannya dan memperbaikinya. Pergaulan itu penting dalam membangun mental seseorang. Mengapa? Karena manusia itu makhluk sosial. Namun, kita juga harus pintar dalam memilah dan memilih pergaulan yang baik agar terhindar dari pergaulan yang kurang baik. Bergaullah dengan orang baik dan berilmu. Mengapa berilmu? Karena ilmu dapat kita peroleh dari pergaulan, ilmu apapun itu. Tiadalah sesuatu itu tidak berasal dari sesuatu yang lain. Tiada muara yang tidak berasal dari hilir. Karena hidup itu saling mengisi dan melengkapi. Terima kasih.
    Wassalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

    ReplyDelete
  17. Fany Isti Bigo
    18709251020
    PPs UNY PM A 2018

    Berdasarkan tulisan ini maka yang saya pahami bahwa pemikiran tiap orang berbeda-beda. walaupun begitu sekali waktu ada pemikiran yang sama. Hal yang sama atau berbeda ini bergantung dari pengalaman yang dimiliki sebelumnya.
    Sesuatu yang ada sekarang berasal dari sesuatu yang telah ada sebelumnya. Apa yang ada sekarang memiliki masa depan yang belum tentu sama dengan sekarang, bisa menjadi lebih baik atau lebih buruk tergantung dari ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  18. Elsa Apriska
    18709251005
    S2 PM A 2018

    Elegi di atas menggambarkan bagaimana setiap orang berbeda-beda dalam menggamabarkan siapa dirinya. Ilmu filsafat yang merupakan ilmu olah pikir mengartikan bahwa dirimu adalah fikiranmu. Orang tua berambut putih dalam elegi ini diartikan sebagai ilmu. Maka pengembaraan ini bisa diartikan sebagai pencarian ilmu dari masa ke masa yang terus berkembang.

    ReplyDelete
  19. Totok Victor Didik Saputro
    18709251002
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Selamat pagi dan Selamat Tahun Baru 2019 Prof.
    Pengembaraan ini memberikan gambaran bahwa filsafat ada dimana-mana. Sejatinya filsafat dapat dikatakan sebagai apa yang ada dan mungkin ada dalam pikiran. Berfilsafat artinya membentuk pandangan dan mewujudkannya dengan tindakan. Tindakan ini melahirkan pengalaman baik baru maupun pengalaman lama dan kemudian dikembangkan kembali. Kemudian pengalaman ini dilalui dengan adanya proses. Maka filsafat itu adalah proses dalam menempuh dan memperoleh pengalaman tersebut. Terima kasih.

    ReplyDelete
  20. Janu Arlinwibowo
    18701261012
    PEP 2018

    Ilmu adalah pengetahuan, yang berat adalah menempatkannya menjadi suatu pemahaman yang objektif, tidak memaksakannya untuk segala sesuatu. Filsafat adaah penjelasan, dengan demikian maka beda itu biasa tergantung penjelasanya, bahkan sama pun bisa jadi memiliki penjelasan yang berbeda. Melihat perbedaan adalah baik untuk meningkatkan kedewasaan, dan kedewasaan akan menimbulkan kebijaksanaan.

    ReplyDelete
  21. Puspitarani
    19709251062
    S2 Pendidikan Matematika D 2019
    Terima kasih Bapak atas artikel berjudul Elegi Pengembaraan Orang Tua Berambut Putih yang sudah Bapak share kepada kami. Artikel tersebut membahas tentang orang tua berambut putih yang bertemu dengan beberapa tokoh terkenal dan mereka terlibat dalam sebuah percakapan. Orang berambut putih tersebut sangat gigih dalam bertanya untuk mencari sesuatu yang dia inginkan untuk mendapatkan jawaban yang diinginkan. Dari cerita orang tua berambut putih ada banyak sekali pesan moral yang dapat saya peroleh, yaitu menuntun ilmu tidak mengenal batasan usia, selalu gigih dalam menuntun ilmu, dan tidak pantang menyerah. Berbagai macam jalan untuk mendapatkan ilmu. Salah satunya ilmu dapat diperoleh dari pengalaman hidup yang dimiliki, jika kita dapat mengambil pelajaran didalamnya. Akan tetapi jika kita tidak dapat mengambil pelajaran maka kita tidak sama sekali mendapatkan ilmunya. Pengalaman yang buruk akan menjadi sebuah ilmu yang baik jika kita dapat mengambil nilai pelajarannya, akan tetapi pengalamn yang baikpun tidak menjamin kita mendapatkan ilmu jika tidak dapat mengambil pelajaran didalamnya. Ilmu yang diraih tidak akan menjadi manfaat jika kita tidak menempatkan nya menjadi suatu tujuan. Maka dari itu ilmu yang sudah ada pada saat sekarang akan menjadi manfaat jika kita menjadikan sebuah tujuan dimasa akan datang.

    ReplyDelete
  22. Zuari Anzar
    19701251006
    S2 PEP A 2019

    Dari elegi ini saya tahu bahwa definisi diri kita sangat banyak, dan itu sama dengan orang-orang tentang hal itu kita bisa menangkap bahwa pemikiran setiap orang adalah berbeda, akan tetapi terkadang ada yang sama. semua itu terjadi karena pengalaman yang kita dapatkan adalah berbeda-beda. walau demikian banyak yang mempunyai pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh dirinya sendiri, oleh karena itu kita harus mencari jawabaannya di luar. Tiadalah sesuatu itu tidak berasal dari sesuatu yang lain. Tiadalah pula sesuatu itu tidak menjadi sesuatu yang lain, dan dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa diri kita adalah pengetahuan kita.

    ReplyDelete
  23. Dhamar Widya Safitri
    19701251009
    S2 PEP A 2019

    Assalamualaikum.
    Sebuah titik dapat menjadi sebuah garis dan sebuah lingkaran dapat menjadi sebuah titik. Dimasa depan, sesuatu dapat menjadi apa saja. Segala sesuatu menuju suatu tujuan. Itulah teleologi. Teleologi sendiri dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, namun hal ini bukan hal terakhir yang menjadi penentuan dilakukannya suatu tindakan. Lebih penting adalah manusia tahu apa tujuan atau akibatnya.
    Terimakasih

    ReplyDelete
  24. Wilis Putri Hapsari
    19701251017
    S2 PEP A 2019

    Pengembaraan adalah sebuah proses untuk mencari ilmu. Pengembaraan adalah salah satu jalan untuk melakukan hijrah kearah yang lebih baik, untuk memperlebar cakrawala dan ilmu pengetahuan. Orangtua berambut putih mungkin saja tidak akan tahu utara, timur, selatan, dan barat tanpa melakukan sebuah pengembaraan.

    ReplyDelete