Oct 14, 2011

Elegi Pengembaraan Orang Tua Berambut Putih

Oleh Marsigit



Kini aku merasa sudah saatnya aku mengembara. Supaya pengembaraanku bermakna, maka aku akan bertanya kepada para saksi. Tetapi sebelum aku bertanya kepada saksi-saksi terlebih aku ingin sampaikan bahwa sebenar-benar sebenar-benar saksi tidak lain tidak bukan adalah aku sendiri. Aku ingin mengaku bahwa aku mengetahui segala sesuatu, tetapi jika mereka bertanya kepadaku maka dengan serta merta aku tidak mengetahuinya. Mengapa? Karena sebenar-benar diriku adalah pertanyaan mereka. Bagaimana mungkin aku mengerti tentang pertanyaanku sendiri? Maka sebodoh-bodoh orang adalah diriku ini, karena aku selalu bertanya tentang segala hal, tetapi aku selalu tidak dapat menjelaskannya. Tetapi bukankah mengerti bahwa aku tidak dapat menjawab itu pertanda bahwa tidak tidak mengerti. Maka dapat aku katakan bahwa sebenar-benar diriku adalah tidak tidak mengerti. Hendaknya jangan terkejut bahwa tidak tidak mengerti itu sebenarnya adalah mengerti pula. Maka bukanlah aku yang ingin mengatakan, tetapi mereka yang boleh mengatakan bahwa aku selalu mengerti tentang pertanyaanku itu. Bukankah di sini mereka tahu bahwa sebenar-benar diriku adalah kontradiksi, karena aku sekaligus mengerti dan tidak mengerti. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu kontradiktif. Tetapi janganlah salah paham, kontradiksi itu adalah ilmu, tempat tinggalnya ada dalam pikiranmu.



Orang tua berambut putih berjumpa Socrates, Plato, Aristoteles, George Berkely, Rene Descartes, dan Immanuel Kant.
Wahai Socrates, Plato, Aristoteles, Rene Descartes, David Hume dan Immanuel Kant, ..., bolehka aku bertanya kepadamu. Menurut kesaksianmu, siapakah sebenar-benar dirimu dan sebenar-benar diriku?

Socrates:
Wahai orang tua berambut putih. Sebenar-benar diriku adalah pertanyaanku. Maka aku akan bertanya kepada siapapun tentang segala hal yang aku sukai. Sedangkan sebenar-benar dirimu adalah diriku juga. Maka sebenar-benar dirimu tidak lain adalah pertanyaanku juga pertanyaanmu. Jawaban para pakar dan para ahli itulah sebenar-benar tempat tinggalmu. Itulah sebenar-benar ilmu yaitu pertanyaanmu.

Plato:
Sebenar-benar dirimu adalah pikiranku. Sebenar-benar dirimu adalah imajinasiku. Tidak aku panggil, engkau sudah ada dalam pikiranku. Maka dirimu yang absolut itulah yang selalu aku pikirkan. Semuanya tentang dirimu sudah ada dalam pikiranku. Hanya terkadang aku sulit mengenalimu. Tetapi aku sadar, bahwa banyak orang mencoba mirip-mirip dengan mu. Itulah mereka yang dapat aku lihat dan dapat aku raba. Mereka jumlahnya sangat banyak. Tetapi mereka semuanya bersifat sementara. Maka sebenar-benar dirimu adalah ide-ide ku. Tempat tinggalmu ada dalam pikiranku. Tetapi aku selalu mengkhawatirkanmu, karena dalam pikiranku selalu ada lubang gelap seperti gua. Gua-gua seperti itulah yang menyebabkan aku sulit mengenalmu. Aku juga mengkhawatirkan akan badanku, karena badanku inilah penyebab munculnya gua-gua itu. Maka sebenar-benar dirimu adalah hamba yang terlepas dari penjara badanku. Maka sebenar-benar dirimu adalah pikiranku yang berada di luar gua kegelapanku dan terbebas dari badanku. Itulah sebenar-benar ilmu, tidak lain tidak bukan adalah pikiranku. Tetapi aku mengalami kesulitan untuk menjelaskan kepada orang-orang tentang tempat tinggalmu itu.

Aristoteles:
Aku agak berbeda dengan guruku Plato. Menurutku, sebenar-benar dirimu adalah adalah pengalamanku. Maka tempat tinggalmu adalah pada pengalamanku. Begitu aku menggapai pengalamanku maka dengan serta merta muncullah dirimu itu. Maka menurutku, sebenar-benar dirimu adalah yang dapat aku lihat, aku raba, dan aku indera. Maka sebenar-benar dirimu adalah diluar diriku. Padahal aku tahu bahwa dirimu adalah diriku. Maka aku tidak lain tidak bukan adalah sekaligus bukan aku. Mengapa? Karena aku mengalami kesulitan memahami engkau yang berada diluar diriku. Dan juga mengalami kesulitan bagaimana aku dapat menjelaskan kepada orang-orang bahwa engkau yang berada di luar diriku itu sebenar-benarnya adalah diriku.

George Berkely:
Menurutku, engkau adalah yang aku lihat atau aku persepsi. Jikalau engkau tidak adalah di situ, maka tidak adalah sebenar-benarnya engkau itu. Esse est percipi itulah kata-kataku. Maka sebenar-benar engkau adalah tipuanmu belaka. Engkau adalah fatamorgana. Maka sebenar-benar engkau yang adapat aku lihat adalah tipuan juga. Jadi apalah artnya sesuatu yang dapat engkau lihat itu, kecuali hanya tipuan belaka. Maka dunia ini tidak lain tidak bukan adalah tipuan belaka. Itulah sebenar-benar dirimu itu. Padahal aku tahu bahwa dirimu adalah diriku juga, maka sebenar-benar ilmu itu tidak lain tidak bukan adalah tipuan butamu.

Rene Descartes:
Menurutku, sebenar-benar dirimu adalah mimpiku. Tiadalah aku dapat menemukanmu tanpa mimpi-mimpi itu. Bagiku mimpi adalah nyata. Dan yang nyata bisa juga menjadi mimpiku. Maka sebenar-benar diriku adalah tidak dapat membedakan apakah kenyataan atau mimpiku. Namun aku selalu risau karena jika aku ingin berjumpa denganmu aku selalu dihadang makhluk hitam yang akan menyesatkanku, sehingga aku selalu salah mengertimu. Maka selalulah terjadi bahwa aku selalu meragukan keberadaanmu. Maka sebenar-benar dirimu adalah keraguanku itu sendiri. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu keraguanmu. Aku meragukan semuanya tanpa kecuali. Hanyalah ada satu yang tidak dapat aku ragukan yaitu diriku sendiri yang meragukan itu. Itulah satu-satunya kepastian bagiku. Cogito ergosum itulah kata-kataku, yaitu bahwa diriku itu ada karena aku tahu sedang meragukannya. Bukankah itu sebenar-benar dirimu. Maka sebenar-benar keberadaanku adalah diriku yang berpikir ini.

Immanuel Kant:
Menurutku engkau adalah pikiranku sekaligus pengalamanku. Tiadalah dirimu itu ada di situ tanpa pikiranku atau tanpa pengalamanku. Sedangkan tempat tinggalmu adalah di dalam intuisiku. Ketahuilah bahwa aku mempunyai dua intuisi yaitu intuisi ruang dan intuisi waktu. Itulah sebenar-benar tempat tinggalmu. Tetapi untuk mengerti tentang dirimu aku harus bersifat kritis. Maka sebanar-benar dirimu adalah pikiranku yang kritis. Itulah sebenar-benar ilmu, tidak lain tidak bukan adalah pikiran kritismu. Namun ketahui pula bahwa tidaklah mudah menggapai dirimu. Ketika engkau kukejar dengan pikiran kritisku, maka engkau lari menuju keputusanmu. Itulah setinggi-tinggi tempat tinggalmu, yaitu pada keputusanku. Maka sebenar-benar ilmu tidak lain tidak bukan adalah keputusanmu.

Orang tua berambut putih tidak puas dengan jawaban Socrates, Plato, Aristoteles, George Berkely, Rene Descartes, dan Immanuel Kant.
Ah, ngacau semua mereka itu. Jawaban mereka sesuai selera masing-masing. Maka belum puaslah diriku alan jawaban mereka semua. Tetapi aku sadar bahwa aku sedang berada pada jaman jauh sebelum diriku sekarang. Padahal aku belum sempat bertanya kepada orang sekarang yang berseliweran didepanku. Maka aku berjanji akan meneruskan perjalananku untuk bertanya siapa sebenarnya diriku itu?

Orang tua berambut putih bertemu Hegel, Brouwer, Russell, Wittgenstein, Hilbert, Godel, Husserll, Einstein, Lakatos dan Ernest
Wahai Hegel, Brouwer, Russell, Wittgenstein, Hilbert, Godel, Husserll, Einstein, Lakatos dan Ernest, ..bolehkah aku bertanya kepadamu. Menurut kesaksianmu, siapakah sebenar-benar dirimu dan sebenar-benar diriku itu?

Hegel:
Sebenar-benar dirimu adalah riwayatku. Padahal hidupku telah melampuai masa laluku, dan sedang mengalami waktu kiniku dan bersiap-siap untuk menempuh masa depanku. Itulah sebenar-benar dirimu, adalah sejarah bagimu. Maka akupun tidak lain tidak bukan adalah sejarah itu sendiri. Jadi sebenar-benar ilmu adalah sejarah dirimu. Hidupmu adalah sejarah diriku. Diriku adalah sejarah dunia ini. Maka sebenar-benar dunia adalah mensejarah. Ketahuilah bahwa tiadalah ada di dunia ini beserta wadah dan isinya yang tidak mensejarah. Make tersesatlah wahai orang-orang yang melupakan akan sejarahnya.

Brouwer:
Sebenar-benar dirimu adalah intuisiku. Namun hendaknya engkau ketahui bahwa intuisiku bersifat ganda. Maksudnya adalah jika aku memikirkanmu yang satu maka aku masih dapat mengingat engkau yang lain. Demikianlah seterusnya. Itulah sebenar-benar ilmuku. Yaitu intuisiku yang bersifat ganda.

Russell:
Sebenar-benar dirimu adalah logikaku. Hukum sebab-akibat dalam koherensi itulah sebenar-benar dirimu itu. Dirimu adalah konsistensi logikaku. Dirimu adalah kepastian pikiranku. Dirimu adalah kejelasan pikiranku. Maka sebenar-benar dirimu adalah premis-premis dan kesimpulan yang bersifat rigor. Tiadalah ada dirimu di situ jikalau engkau menyalahi hukum-hukumnya. Tetapi ternyata aku mempunyai musuh yang maha besar yang siap menerkam diriku. Yaitu ketika aku tidak bisa menjawab apakah engkau yang tidak sama dengan engkau itu termasuk anggota dari kumpulan engkau.

Wittgenstein:
Sebenar-benar dirimu adalah kata-kataku. Maka sebenar-benar ilmu itu adalah kata-kata. Kata-kata dan bahasa itulah rumahku. Maka engkau yang besar dapat aku lihat sebagai kumpulan engkau yang kecil-kecil. Engkau yang besar adalah gabungan engkau yang kecil-kecil. Demikianlah sifat kata-kata dan kalimat-kalimat dalam bahasa. Maka barang siapa tidak dapat mengucapkan kata-katanya, maka dia terncam kehilangan ilmunya.

Hilbert:

Sebenar-benar dirimu adalah sistimku. Sebenar-benar dirimu adalah formalitasku. Maka sistimku yang tersusun secara formal itulah sebenar-benar engkau. Itulah engkau yang mampu menaungi semuanya tanpa kecuali. Engkau yang satu adalah tujuanku. Maka tiadalah ilmu yang lain kecuali engkau yang satu itu. Engkau yang satu itulah konsistensi dan kelengkapanmu. Maka sebenar-benar ilmu adalah satu, konsisten dan lengkap. Tetapi aku bermimpi akan ada seseorang muridku yang membalikkan pikiranku ini. Tetapi entahlah.

Godel:
Sebenar-benar dirimu adalah pilihanmu. Engkau tingal memilih salah satu. Jika engkau memilih konsisten, maka tidak akan lengkapkah engkau itu. Jika engkau memilih kelengkapan, maka tidak akanlah engkau itu konsisten. Untuk itu aku berani mempertaruhkan segalanya di depan guruku Hilbert bahwa pernyataanku itu memang benar demikianlah.

Husserll:

Sebenar benar dirimu adalah hanya sebagian dari diriku. Engkau tidak akan mengerti akan dirimu jika engkau berusaha menggapai semuanya. Maka sebenar-benar ilmu adalah phenonemologi, yaitu sebagian darimu yang aku sembunyikan yang lainnya di dalam rumah epoche. Jika aku berpikir tentang satu maka aku singkirkan yang lainnya. Aku bersihkan pikiranku dari memikirkan yang lainnya. Jika aku memikirkan engkau sebagai kubus matematika, maka aku singkirkan semua sifat-sifat yang tidak aku kehendaki. Bukankah ketika aku memikirkan kubus matematika aku tidak perlu memikirkan aroma, aku tidak perlu memikirkan harga jual, aku tidak perlu memikirkan keindahan. Itu semua aku simpan dalam rumah epoche. Sedang yang aku pikirkan hanyalah ukuran dan bentuk dari kubus itu. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu satu atau beberapa sifat dari dirimu yang aku pilih untuk aku pikirkan.

Einstein:

Sebenar-benar dirimu adalah ketidak pastianmu. Tetapi hendahlah engkau ingat bahwa ketidak pastianmu itulah sebenar-benar kepastian. Maka relativisme itulah kata-kataku. Aku tidak pernah pasti dapat menentukan dirimu. Namun, itu juga kepastianku. Aku memastikan bahwa aku dalam keadaan berhenti ketika aku bersama-sama berjalan denganmu. Tetapi aku juga dapat memastikan bahwa aku dalam keadaan berjalan ketika aku bersama-sama berhenti dengan mu. Ketinggianmu adalah sekaligus tempat paling rendahmu, demikian sebaliknya. Kecepatan dan masa itulah kunci untuk mengetahui tempat tinggalku. Maka e=mc2 itulah sebenar-benar diriku. Maka sesungguh-sungguhnya ilmu adalah relativitasmu.

Lakatos:
Sebenar-benar dirimu adalah kesalahanku. Ketahuilah bahwa tiada benar tanpa mengerti kesalahan. Maka sebenar-benar ilmu adalah kesalahan itu sendiri. Maka fallibism itulah kata-kataku. Maka jika engkau ingin menggapai benar, maka tidaklah engkau bisa terhindar dari kesalahan. Ketahuilah bahwa menghindari yang salah bukan satu-satunya jalan menuju yang benar. Sedangkan menggapai yang benar tidak berarti menghindari yang salah. Maka sebenar-benar dirimu adalah kesalahanku itu. Maka sebenar-benar tempat tinggalmu adalah di antara yang benar dan salah.

Ernest:
Sebenar-benar dirimu adalah pergaulanmu. Maka tiadalah dirimu itu tanpa pergaulanmu. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu pergaulan itu sendiri. Maka selalu bergaullah antar sesamamu agar engkau memperoleh ilmumu. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu perolehanmu dalam pergaulanmu. Maka socio-constructivist adalah kata-kataku. Yaitu bahwa ilmumu kamu peroleh melalui pergaulanmu.

Orang tua berambut putih ternyata belum puas dengan jawaban Hegel, Brouwer, Russell, Wittgenstein, Hilbert, Godel, Husserll, Lakatos dan Ernest
Ah, ngacau semua mereka itu. Jawaban mereka sesuai selera masing-masing. Maka belum puaslah diriku akan jawaban mereka semua. Tetapi aku sadar bahwa aku sedang berada perjalananku. Tetapi aku ragu apakah aku mampu memikirkan masa depanku?

Orang tua berambut putih bertemu dengan Teleologi
Wahai seseorang, siapakah dirimu itu. Rasa-rasanya aku pernah melihatmu, tetapi tidaklah begitu jelas. Rasa-rasanya aku pernah pergi bersamamu tetapi aku lupa kemana ketika itu. Rasa-rasanya aku pernah berdiskusi denganmu, tetapi aku lupa tentang apa yang kita diskusikan ketika itu.

Teleologi:
Kenalkanlah namaku adalah teleologi. Aku adalah adalah seorang pembantu. Engkau ingatlah seseorang yang bernama Immanuel Kant. Itulah sebenar-benar tuanku. Aku disuruh oleh Immanuel Kant untuk menemuimu. Mengapa? Karena Immanuel Kant mendengar pertanyaan dan kegelisahan dirimu tentang masa depanmu.

Orang tua berambut putih:

Menurut pengetahuanku, Immanuel Kant mempunyai banyak sekali pembantu. Maka tolong jelaskanlah engkau siapa sebenarnya.

Teleologi:

Aku adalah masa depan. Aku berangkat dari masa lampau. Aku adalah semuanya dalam dimensi ruang dan waktu.

Orang tua berambut putih:
Aku tidak jelas penjelasanmu itu. Tolong bicara yang agak rinci.

Teleologi:
Tiadalah sesuatu itu tidak berasal dari sesuatu yang lain. Tiadalah pula sesuatu itu tidak menjadi sesuatu yang lain. Benda sebesar bumi ini akan menjadi sebuah titik jika engkau melihatnya dari kejauhan. Maka sebaliknya, tidaklah engkau dapat menduga bahwa sebuah titik pun bisa menjadi bumi pada masa depannya. Garis sepanjang ini akan menjadi titik jika engkau melihatnya dari kejauhan. Maka sebaliknya, tidaklah engkau dapat menduga bahwa sebuah titik pun bisa menjadi garis pada masa depannya. Berdasarkan analogi tersebut maka aku mengkhawatirkanmu bahwa di masa depanmu engkau akan bisa berbentuk apa saja. Engkau bisa saja terbang seperti seekor burung jika seribu, sejuta, semilyard keturunanmu selalu menginginkan terbang dan beratih untuk terbang. Itulah sebenar-benar diriku. Itu pulalah sebenar-benar ilmuku dan juga ilmumu. Jadi sebenar-benar ilmu adalah diriku, yaitu teleologi.

11 comments:

  1. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Sesuatu hal yang ada di dunia ini pasti berasal dari sesuatu lainnya. Tiadalah sesuatu itu tidak berasal dari sesuatu yang lain.
    Sesuatu yang ada mungkin berasal dari sesuatu yang sama mungkin pula dari sesuatu yang berbeda.
    Sesuatu yang sama yang lebih berkembang atau sesuatu yang berbeda yang lebih baik.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Hakekat Ilmu adalah Kontradiksi dan tempatnya adalah dalam pikiran manusia.Jadi sebenar-benar pikiran manusia adalah kontradiksi. Dalam memahami ilmu alangkah lebih baiknya jika kita mempelajari secara keseluruhan, bukan hanya sebagian-sebagian saja. Karena hal itu nanti yang akan mempengaruhi pemikiran kita terhada hal tersebut. Sesungguhnya hakekat ilmu adalah satu kesatuan antar unsur-unsur pembentuknya.

    ReplyDelete
  4. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Ilmu pengetahuan adalah harta yang tak terkira harganya. Ilmu pengetahuan di sini tidak diartikan sempit hanya sebagai materi – materi yang dipelajari di dalam kelas saja. Melainkan juga mencakup yang ada dan mungkin ada. Pengetahuanku adalah riwayatku. Ilmu adalah sejarahmu. Oleh karena itu kita tidak boleh melupakan sejarah.
    Pengetahuan juga bisa berupa intuisi, logika, kata – kata, system, pilihan, mimpi dan bahkan persepsiku. Janganlah berhenti menuntut ilmu, karena ilmu itu tidak terbatas.

    ReplyDelete
  5. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Ilmu menurut imanuel Kant merupakan hasil pemikiran dan pengalamanm yang akan menghasilkan keputusan. Maka orang yang berilmu akan dapat mengambil keputusan-keputusan dalam kehidupannya berdasarkan pemikiran dan pengalamannya. Ilmu akan mengubah masa depan apabila kita secara terus menerus dapat mengembangkan ilmu kita. Maka janganlah berhenti mencari dan mengembangkan ilmu kita, karena mungkin saja ilmu itu tidak akan berguna bagi kita sendiri tetapi juga dapat bermanfaat bagi orang lain.

    ReplyDelete
  6. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016


    sebenar-benar kita adalah kontradiktif dan kontradiktif itu adalah ilmu, yang mana ilmu itu berada dalam diri kita, dalam pemikiran kita.
    apa yang akan terjadi di masa depan belum tenta dapat kita ketahui, kita hany bisa menduga perjalanan apa nantiny yang akan kita tempuh. hany praduga yang dipirkan oleh pikiran kitalah yang bisa kita adikan sebagai acuan. tapi itu pun sering melesat.

    ReplyDelete
  7. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Ilmu pengetahuan senantiasa berkembang dari masa ke masa. Hal ini dilakukan untuk penyempurnaan dari sebelumnya yang diperoleh. Ilmu itu luas-seluasnya, sebenarnya sudah ada tapi belum diketahui sehingga perlu dilakukan penyelidikan, penemuan, dan penggalian sedalam-dalamnya. Secara hakiki, sebenar-benar ilmu yang diketahui oleh manusia adalah terbatas dan sempit.

    ReplyDelete
  8. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Setiap ahli memiliki pemikirannya masing-masing. Begitu juga berkaitan dengan bagaimana cara pemerolehan pengetahuan mereka yang berbeda. Menurut Plato pengetahuan yang diperoleh berdasarkan pemikiran, Aristoteles yang beranggapan pengetahuan diperoleh melalui pengalaman. Lalu Kant yang memadukan keduanya menjadi sintetik a priori. Namun pengetahuan berkesinambungan, yang ekarang diperoleh dari yang lalu. Begitu pula pengetahuan yang sedikit jika diasah menjadi semakin berkembang, sebaliknya jika tidak dipertahankan dengan baik maka akan punah.

    ReplyDelete
  9. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016 (S2)
    Ilmu merupakan suatu pengetahuan, sedangkan pengetahuan merupakan informasi yang didapatkan dan segala sesuatu yang diketahui manusia. Itulah bedanya dengan ilmu, karena ilmuitu sendiri merupakan pengetahuan yang berupa informasi yang didalami sehingga menguasai pengetahuan tersebut yang menjadi suatu ilmu. Ilmu pengetahuan merupakan rangkaian kata yang sangat berbeda namun memiliki kaitan yang sangat kuat. Ilmu dan pengetahuan memang terkadang sulit dibedakan oleh sebagian orang karena memiliki makna yang berkaitan dan sangat berhubungan erat. Membicarakan masalah ilmu pengetahuan dan definisinya memang sebenarnya tidak semudah yang diperkirakan. Adanya berbagai definisi tentang ilmu pengetahuan ternyata belum dapat menolong untuk memahami hakikat ilmu pengetahuan itu.

    ReplyDelete
  10. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Elegi “Di masa depanmu engkau akan bisa berbentuk apa saja”. Hal ini mengisaratkan untuk kita semua agar selalu berpandangan maju ke depan.
    Berpandanagn luas, berpandangan bahwa kita akan hidup seratus tahun lamanya, hingga seribu tahun lamanya.
    Sehingga kita akan selalu mengusahakan yang terbaik demi masa depan yang lebih baik.

    ReplyDelete
  11. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Manusia di dunia memiliki hak untuk menafsirkan banyak hal. Tetapi setiap manusia pasti memiliki pedoman dalam hidupnya sehingga hal tersebut yang membedakan manusia satu dengan manusia yang lain. Bagaimana manusia juga menafsirkan masa depan, memiliki pandangan yang berbeda-beda menurut masa lalu yang dialaminya, karena hidup itu memang saling berkaitan satu dengan yang lain.

    ReplyDelete