Oct 14, 2011

Elegi Menyesali Rumahku Yang Terlalu Besar




Oleh Marsigit

Rumah Besar:

Wahai pemilik rumah, kenapa engkau terlihat kurang merawatku. Padahal aku telah engkau bangun dengan biaya yang sangat besar dan melibatkan semua potensimu. Engkau juga tidak membangun rumah ini hanya sendirian. Beberapa generasi sebelummu dan generasimu sekarang juga masih terus terlibat pembangunan rumahmu ini. Bahkan petualangan generasi pendahulumu menjajah Bangsa-bangsa lain itupun dalam rangka membangun rumah ini. Aku telah tercipta menjadi rumah super lengkap, super canggih dan supermodern. Aku itulah sebenar-benar Mega Proyek bangsamu itu. Maka tolong rawatlah diriku dengan baik.



Pemilik Rumah:
Oh maaf....wahai rumahku yang tercinta. Maaf aku sampai sedikit tidak merawat dirimu. Bukanlah aku sengaja melupakan dirimu, tetapi ketahuilah...dikarenakan dirimu terlalu besar itulah maka aku sendiri hampir tidak dapat mengenali dirimu lagi. Apalagi jika harus mengingat-ingat detail dari bangunanmu, disamping datanya sudah hilangg karena terlalau lamanya, tetapi juga karena engkau sudah terlalu rumit dipahami. Bagaimana aku bisa merawat dirimu dengan baik, jika aku sendiri lupa dan tidak paham bagian-bagianmu. Tolong..wahai rumah besarku...ceritakan kepadaku sepintas saja tentang ciri-cirimu, fungsi dan manfaatmu, agar aku bisa mengingat-ingatmu kembali.

Rumah Besar:
Baik tuanku. Aku si Rumah Besar adalah salah satu pusat peradaban dunia. Aku dibangun selama berabad-abad tidak hanya oleh satu generasi tetapi oleh lebih dari 5 generasi. Maka aku telah tercipta menjadi sebuah rumah besar yang paling lengkap di dunia. Aku juga akan berbangga hati jika para penghuniku menjulukiku sebagai Metropolitan. Puncak prestasi dan pencapaianku adalah aku merasa mampu menyediakan semua dan segala kebutuhan penghuni-penghuniku. Saya ulangi, aku merasa mampu menyediakan semua dan segala kebutuhan penghuni-penghuniku.

Pemilik Rumah:
Ntar dulu..jangan tergesa bicara manfaat atau fungsi. Ceritakan dulu siapa yang membangunmu dan bagaimana membangunnya.

Rumah Besar:

Baik tuanku. Aku dibangun sejak abad 16. Mulanya aku adalah pusat kerajaan, tetapi karena kerajaannya berkembang pesat maka mulailah diperlukan pengembangan. Apalagi setelah kerajannmu itu mampu menjajah bangsa-bangsa lain di dunia, maka hasil jajahan dan jarahannya itu dapat digunakan untuk memperbesar rumahmu ini. Jadilah sekarang aku sebagai salah satu rumah terbesar di dunia, dan menjadi salah satu ikon di dunia.

Pemilik Rumah:
Sebutkanlah ciri-ciri atau strukturmu itu?

Rumah Besar:
Begitu besarnya rumahmu itu, maka untuk mengetahui detailnya, tidak cukup kalau hanya dilihat dari dari darat saja. Maka aku sarankan agar engkau mengamati dan menelitiku juga dari udara, darat, laut dan dari bawah tanah.

Pemilik Rumah:
Lho..mengapa mesti harus mengamati dari udara, laut, darat dan bawah tanah?

Rumah Besar:
Itulah kehebatan rumahmu. Sangking besarnya rumah ini sehingga engkau sendiri kewalahan untuk memahaminya. Saya teruskan.... Ketahuilah bahwa Rumah Besarmu ini terdiri dari 3 (tiga) struktur, yaitu struktur atas, struktur tengah dan struktur bawah.

Pemilik Rumah:
Tolong jelaskan lebih rinci tentang struktur atas, struktur tengah, dan struktur bawah?

Rumah Besar:
Struktur atas meliputi gedung-gedung pencakar langit, menara, center point, gondola, kereta gantung, jembatan layang, monoreel, pusat pengendali informasi, restoran terbang, taman gantung, teater angkasa, lapangan gantung, kolam renang gantung, ..terowongan udara..dst. Struktur tengah meliputi bangunan rumah-rumah penduduk, tempat peribadatan kuno, lapangan, rel KA, jalan raya, toko-toko, taman kota, dst. Sedangkan struktur bawah meliputi Under Ground Tube, Under Ground Railway Station, gedung tingkat 10 (sepuluh) tetapi menjulang kebawah, pasar bawah tanah, sirkus bawah tanah, kolam bawah tanah, taman bawah tanah, gondola bawah tanah, pusat pengendali bawah tanah, teater bawah tanah, sepak bola bawah tanah, mall bawah tanah, restoran bawah tanah, jembatan bawah tanah, terowongan bawah tanah..dst.

Pemilik Rumah:
O..oo..oo sayang terlalu kecil otakku itu, sehingga aku banyak melupakan kekayaanku itu. Jangankan merawat dan memanfaatkan dirimu, mengingat dirimu saja aku sudah mulai kesulitan. Coba teruskan sebut ciri-ciri yang lain dan juga siap saja penghuninya dan bagaimana karakteristiknya.

Rumah Besar:
Itulah diriku...si Rumah Besar milikmu. Sebagai akumulasi bangunan yang dibuat oleh beberapa generasi dengan megambil kemakmuran seluruh dunia untuk membiayainya, maka sempurnalah diriku itu. Segala kebutuhanmu dan kebutuhan penghuni-penguhinya terjamin ada dan sangat memuaskan. Semuanya ada di sini. Tidak hanya kebutuhanmu dan kebutuhan mereka, maka semua yang engkau pikir dan akan engkau pikir sudah aku sediakan di sini. Jadi tak usah khawatirlah...begitu.

Pemilik Rumah:
Tetapi....kenapa engkau mengeluh kurang perawatan?

Rumah Besar:
Itulah imbalan atau tuntutanku dari kamu sebagai pemiliknya dan dari mereka sebagai penghuninya. Tidaklah ada yang gratis di rumahku itu. Itu adalah syarat-syarat yang sudah kita tetapkan bersama. Agar aku tetap besar dan akan selalu menjadi besar maka semua penghuniku harus memberi tebusannya yang sepadan kepada diriku.

Pemilik Rumah:
Bagaimana jika ada penghuni yang tidak bisa merawat karena tidak mampu membayar?

Rumah Besar:
Itulah hukumnya tuan. Seperti yang telah aku katakan di muka, tidaklah ada yang gratis di rumah ini. Maka bagi mereka yang tidak mampu merawat dan tidak mampu membayar akan aku usir dari rumah ini. Jika mereka tetap tidak mau pergi dan ingin tinggal di rumah ini ya terpaksa mereka harus mau menjadi kerak-kerak atau sampah atau kotoran yang siap menghuni tempat-tempat atau bak sampah..begitu.

Pemilik Rumah:
Wahai para penghuni Rumah Besarku, bagaimanakah kesan-kesanmu mendiami rumah ini?

Para Penghuni Rumah:
Wahai pemilik rumah..sungguh rumah ini sangat mengagumkan. Aku sangat puas dengan fasilitas yang ada di rumah ini. Semua kebutuhanku ada semua di rumah ini. Jangankan kebutuhan, semua yang aku pikir dan akan aku pikirpun sudah ada di sini.

Pemilik Rumah:
Wahai penghuni rumah...tetapi kenapa engkau tidak mampu merawat semua bagian dari Rumah Besar ini?

Para Penghuni Rumah:
Bagian yang mana yang tidak aku rawat? Yang mana yang tidak aku manfaatkan?

Pemilik Rumah:
Itu ada tempat peribadatan sudah satu abad tidak dipakai, dibiarkan saja kosong tidak digunakan sebagai mana mestinya.

Para Penghuni Rumah:
Wahai pemilik rumah. Seumur hidupku, jika engkau menyuruhku untuk menjelajahi rumah ini maka aku tidak akan mampu. Seperti halnya dirimu dan juga penghuni yang lain. Maka cara saya menghuni rumahmu itu adalah dengan menjelajahi bagian-bagian yang saya anggap penting dan menyenangkan saja. Hal yang penting dan menyenangkan bagi diriku ternyata juga sama dengan penghuni yang lain.

Pemilik Rumah:
Ya..ya..tetapi jelaskanlah mengapa engkau abaikan itu tempat ibadah?

Para Penghuni Rumah:
Wahai pemilik rumah..janganlah engkau berlaku munafik terhadap diriku. Aku melihat engkau juga merasakannya. Bukankah dengan kelengkapan, dengan kecanggihan, dengan fasilitas yang serba ada ini, maka rumah ibadah itu menjadi tidak penting dan tidak menarik?

Pemilik Rumah:
Kenapa rumah ibadah tidak menarik?

Para Penghuni Rumah:

Bukankah engkau sendiri yang menciptakan berbagai macam hiburan. Di rumah ini sudah sangat lengkap ada berbagai hiburan dan kegiatan, sepak bola atas tanah, sepak bola bawah tanah, circus atas tanah, circus bawah tanah, teater atas tanah, teater bawah tanah, taman atas tanah, taman bawah tanah, ...semuanya...atas tanah...bawah tanah...atas tanah...bawah tanah.. Belum lagi fasilitas dan hiburan yang tergantung di atas langit...wah..wah sungguh sempurna bangunan ini. Seumur-umur saya jika engkau suruh aku menikmati hiburan di bawah tanah saja aku belum cukup waktu untuk menikmati semuanya. Singkat kata, bagi diriku dan bagi penghuni yang lain, ibadah itu jadi terasa hambar, kurang bermakna, kurang relevan dan tidak sinkron dengan lingkungan. Jangankan beribadah, berkeluarga atau mempunyai anak saja aku tidak sempat, sangking banyaknya dan hobinya bekerja. Rumah Besarmu itu ternyata tidak hanya menyediakan tempat tinggal, dia juga memberi dan menawarkan banyak sekali pekerjaan. Aku dan para penghuni Rumah Besar ini menjadi sangat sibuk sekarang. Aku selalu kekurangan waktu untuk menelusuri Rumah Besar ini. Untuk kegiatanku sehari-hari, ibaratnya 30 jam perhari masih saja aku kekurangan waktu, 9 hari perminggu juga masih merasa kurang waktu, 40 hari perbulan atau 15 bulan pertahun, aku selalu kekurangan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaanku. Dari ribuan jalan dan gang yang ada di Rumah Besar ini, seumur-umur hidupku paling banter aku hanya bisa menelusuri puluhan saja.

Pemilik Rumah:
Baik..katakanlah aku ingin mengetahui bagaimana perasaanmu sekarang, apa kecenderungan, tontonan atau hiburan apa yang paling favorit bagimu semua dari dalam Rumah Besar ini?

Penghuni Rumah:
Untuk satu generasiku ini, maka mereka semua sedang gandrung dengan sepak bola, ..maka semua yang penting, semua yang dirasakan, semua yang dijual, semua yang dipikirkan adalah sepak bola. Wah luar biasa...sepak bola itulah hidup dan matiku sekarang ini. Sepak bola itulah hidup dan matinya para penghuni rumah ini termasuk dirimu tentunya.

Pemilik Rumah:
Wah..hah..cocok..cocok..ternyata keteranganmu itu dapat mewakili pikiran dan jiwaku. Lalu sebaiknya gemana?

Para Penghuni Rumah:

Aku usul kepadamu...dari pada susah-susah merawat tempat ibadah..lebih baik di jual saja. Nah uangnya kan bisa untuk nonton bal-balan bareng, nonton film bareng, berenang bareng, circus bareng, piknik bareng..dst...bareng.

Pemilik Rumah:
Whus..lha nanti kalau ditanya tentang agama? Apa pula agama kita itu jika tempat ibadah dijual?

Para Penghuni Rumah:
Gak usah khawatir..katakan saja agama kita adalah Sepak Bola,...gitu aja kok repot.

Pemilik Rumah:
Lha Rumah Besar kita jadinya akan diberi nama apa?

Para Penghuni Rumah:

Rumah Besar kita ini beri nama saja Kota Metropolitan...boleh London..boleh Tokyo...boleh New York...boleh...bahkan boleh Jakarta.

Pemilik Rumah:
Lho kalau begitu ...pas...kita juga akan memperbesar rumah kita dengan slogan “Mega Proyek Indonesia”?..begitu..?

Para Penghuni Rumah:
Saya agak khawatir jangan-jangan itu hanya mimpi? Atau sekedar konsumsi penyejuk ruangan saja. Lihat tuh...jangankan Indonesia...Negara supertangker Dubai saja akhirnya terlilit dan terjerat hutang dan bangkrut negaranya, gara-gara ambisi yang sama?. Tetapi jika slogan itu serius dan mampu diwujudkan, ya jadinya pas juga dengan persiapan kita menjual rumah ibadah dan mengganti agama kita dengan Bal-Balan. Gitu dheh...?

73 comments:

  1. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Rumah dapat diibaratkan sebagai kekuasaan. Seseorang yang memiliki kekuasaan tinggi kebanyakan sering melupakan hal yang seharusnya merupakan hal penting bagi kehidupan dunia dan akhirat yaitu agama. Semakin tinggi kekuasaan membuat seseorang terkadang semakin jauh dengan Allah SWT. Ambisi mereka yang pasti selalu ingin menambah dan mempertinggi kekuasaan sehinggaa terkadang melupakan Tuhan. Seseorang dengan kekuasaan tinggi terkadang lebih mementingkan ego, kepuasaan diri, kesenangan daripada ketenangan batin (hati yang selalu dekat dengan Tuhan). Kekuasaan yang semakin tinggi terkadang membutakan mata dan hati manusia. Mereka terkadang lupa dan tidak menyadari bahwa apa yang mereka miliki sebenarnya hanyalah titipan dan sewaktu-waktu dapat diambil oleh sang Pemilik yaitu Allah SWT.

    ReplyDelete
  2. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Rumah dibangun diatas pondasi dan terdiri dari struktur – struktur. Rumah yang besar juga memerlukan biaya perawatan yang banyak. Kalau rumah besar dan penghuninya sesuai dengan besarnya rumah saya kira tidak menjadi persoalan, tetapi menjadi persoalan ketika rumah besar tetapi tidak berpenghuni yang hanya akan menghambur – hamburkan uang dan bergaya hidup mewah. Terkadang bergaya hidup mewah juga membawa kepada hidup instant dan ketidakpedulian, bahkan mungkin hidup mewah tetapi banyak hutang. Oleh karena itu sebaiknya manusia lebih mengutamakan kebutuhan yang diperlukan saja dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.

    ReplyDelete
  3. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari elegi ini saya dapat memakna bahwa jika ilmu yang dimiliki seorang manusia sangat banyak atau besar dan tidak dibarengi dengan pedoman pokok tentang ilmu hati atau ilmu agama maka percumalah saja. Memang ada kalanya pikiran dan hati tidak dikerjakan bersamaan. Namun jangan kebablasan karena jika mengunggulkan keduanya makan dirimu tak akan mendapatkan yang terbaik. Jadi dapatlah engkau menunut ilmu dengan terus berpegang teguh pada sang rob penjipta alam.

    ReplyDelete
  4. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi di atas menguraikan tentang larangan ‘berlebihan’. Seperti halnya kita sedang makan, jika kita makan berlebihan justru makanan yang kita makan akan keluar kembali, tidak bermanfaat, bahkan merugikan diri kita sendiri. Hal ini juga sama ketika kita menjalankan kehidupan, segala sesuatu yang berlebihan justru mengakibatkan ketidakbermanfaatan. Akan tetapi, dalam upaya menuntut ilmu memang kita dianjurkan untuk selalu berusaha, sebab menuntut ilmu tak ada batasnya.

    ReplyDelete
  5. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam elegi di atas, larangan berlebihan tersebut diilustrasikan tentang seseorang yang memiliki rumah besar dengan segala benda maupun fasilitas yang serba ‘wah’. Namun pemilik rumah itu tak mampu merawatnya. Kemegahan dan kelengkapan rumah itu lah yang menyebabkan pemilik rumah tak sanggup mengenali rumahnya sendiri. Hal ini sungguh ironi dan menjadi hal yang sia-sia. Sama halnya dalam dunia pendidikan, jika ilmu yang kita miliki tidak mampu kita manfaatkan dan kita gunakan sebaik-baiknya, maka akan menjadi hal yang tidak bermanfaat dan berbahaya.

    ReplyDelete
  6. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Allah SWT berfirman, "Katakanlah, 'Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus’." (Al-Maa-idah: 77). Semoga kita tidak tergolong orang-orang yang sesat dan mampu bermanfaat bagi orang lain. Amiin.

    ReplyDelete
  7. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Rumah adalah tempat kita berteduh, tempat beristirahat maka jika rumah terlihat bersih dan rapi berbahagialah karena sesungguhnya itu merupakan kondisi yang sehat untuk kita singgahi. jika rumah kita bersih dan rapi maka akan terasa nyaman dan enak dipandang. maka jagalah rumah kita, rawatlah dengan baik seperti ilmu kita yang harus terus dipupuk agar kita menjadi manusia yang tidak tertinggal zaman.

    ReplyDelete
  8. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Tidak ada artinya hidup di kota besar yang penuh dengan kemewahan surga dunia dan kehidupan yang glamour tanpa disertai dengan sisi-sisi spiritual. Memang tidak munafik bahwa hidup memerlukan uang, namun uang bukanlah segalanya. Dengan uang/kemewahan surga dunia sebenarnya merupakan ujian bagi kita. Apakah kita tetap bersyukur, beriman dan bertakwa kepada Allah atau kita lalai kepadaNya. Karena Allah menguji kita dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kita harus ingat bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara karena kehidupan yang abadi ada di akhirat.

    ReplyDelete
  9. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Elegy ini menceritakan tentang rumah yang terlalu besar yang dibangun oleh beberapa generasi. Namun karena sangat besar para penghuninya tidak mampu menjelajahi semua yang ada. Kecenderungan para penghuni adalah menjelajahi bagian yang disukai oleh mereka. Apa yang dimiliki manusia saat ini adalah hasil dari kerja keras generasi sebelumnya. Apa yang dimiliki manusia di masa depan adalah hasil kerja keras generasi sekarang. Bukan hal yang mustahil jika generasi sekarang hanya dapat menemukan sedikit saja hasil dari pekerjaan generasi sebelumnya. Namun, dengan perkembangan yang ada seharusnya manusia tidak melupakan penciptaNya karena rumah yang dihuni oleh manusia adalah gambaran kebesaran Tuhan.

    ReplyDelete
  10. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setiap apa yang ada di dunia ini memiliki tempat dan kadarnya masing-masing, maka dari itu perbuatan berlebih-lebihan itu tidak dianjurkan. Maka dari itu tetaplah rendah hati dan tetap melakkan sesuatu sesuai dengan kodratnya. Sesuatu yang berlebihan akan menunjukkan kepada suatu kesombongan, jadi setiap melakukan sesuatu diharapkan selalu mengingat kepada Allah agar kita tahu bagaimana kedudukan kita.

    ReplyDelete
  11. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Rumah besar yang diibaratkan seperti dunia ini yang mampu menyediakan semua dan segala kebutuhan tetapi tidak dirawat dan tidak dijaga. Seperti pengetahuan yang kita miliki jika tidak kita gunakan dengan sebaik-baiknya atau tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maka sama saja kita tidak memiliki pengetahuan tersebut. Memiliki rumah adalah suatu anugrah, rumah yang kecil tanggung jawabnya tidak kecil melainkan besar karena semua yang ada di dalamnya harus kita jaga dan kita manfaatkan. Apalgi rumah yang besar maka tanggung jawabnya pun semakin besar.

    ReplyDelete
  12. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Pada saat awal sampai pertengahan membaca postingan yang berjudul "Elegi Menyesali Rumahku yang Terlalu Besar" ini, saya sudah berhipotesis bahwa yang dimaksud dengan rumah yang terlalu besar ini adalah sebuah kota besar (kota metropolitan) tetapi tidak tahu kota apa. Ternyata benar, di jawab di bagian akhir tulisan bahwa rumah besar itu bisa saja kota London, Tokyo, New York, atau bahkan Jakarta. Kota metropolitan memang menawarkan banyak kenikmatan. Tempat berbelanja, makan, bermain, pekerjaan, hiburan, semuanya lengkap di kota metropolitan. Di suatu kondisi tertentu, kota metropolitan melahirkan sekumpulan orang-orang dengan paham hedonisme, sehingga dengan paham tersebut mereka melupakan agama. Hal ini sunggguh jangan sampai terjadi. Kita mendukung untuk lahirnya kota-kota besar yang di dalamnya terdapat teknologi yang serba canggih. Tetapi di samping itu, kita tidak boleh melupakan agama sebagai pegangan hidup agar selamat di dunia dan akhirat.

    ReplyDelete
  13. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B 2017

    Menurut saya ulasan di atas tersirat bahwa adanya kesenjangan antara prinsip dan paham-paham yang cenderung menurunkan moral baik itu pada diri sendiri bahkan dalam lingkup tatanan sistem kehidupan manusia. Alam akan memunculkan kehebatannya dengan perkembangan zaman yang bergerak dengan begitu canggih dan cepat. Namun, perlu untuk dikendalikan secara efektif agar tidak menggangu dan menyebabkan permasalahan. Urusan yang berkaitan dengan dunia jika dituruti juga tidak akan ada habisnya. Satu hal yang perlu digarisbawahi, yaitu akar pondasi seperti agama tidak salahgunakan untuk kepentingan yang bersifat duniawi dan sesaat. Rusaknya dunia tidak lain disebabkan terkikisnya pondasi dasar pada individu atau suatu kaum. Kemudian, budaya "ikut-ikutan" terhadap suatu kaum esensinya cenderung tidak memiliki pendirian yang tetap. Saat ingin menetapkan suatu kebijakan juga disesuaikan dengan kapasitas yang tersedia. Layaknya di Indonesia yang memiliki kekayaan yang luar biasa pada sumber daya alamnya, maka sudah sepatutnya kita mengupayakan untuk tetap melestarikannya agar dapat dinikmati dan dikelola oleh generasi yang akan datang.

    ReplyDelete
  14. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    PPs. PM A 2017

    Dalam tulisan Bapak, saya dapat memetik pesan moral bahwa saat ini banyak orang yang tidak menyempatkan atau enggan untuk ke tempat ibadah. Saya khusukan di sini untuk agama islam, yaitu ke masjid. Bagaimana tidak? saat ini telah banyak dibangun mal besar, hotel-hotel yang megah dan gedung-gedung yang mewah. Manusia banyak yang lupa bahwa ada satu bangunan yang merupakan tempat yang mustajab untuk berdoa, temapat yang tenang, tempat yang dapat mendekatkan manusia dengan tuhannya, tempat ibadah, tempat dimana semestinya manusia sering kunjungi, yaitu masjid.
    Oleh karena itu, sudah selayaknya kita senang mengunjungi masjid untuk shoalt berjama'ah, mengaji, berdzikir, dan mendengarkan ceramah/kajian yang ada.


    ReplyDelete
  15. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Dalam elegi ini terdapat pesan moral yang cukup penting yaitu bagaimana kita bisa menjaga keimanan kita, bagaimana kita menjaga agama kita dengan godaan hiburan yang sifatnya duniawi. Walau bagaimanapun kita hidup didunia hanya sementara, jangan pernah tinggalkan amal ibadah kita, karena yang kita bawa setelah dunia ini hancur hanyalah amal-amal kita.

    ReplyDelete
  16. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Penyajian realita kehidupan lewat alur tulisan yang indah. Benar-benar ikut merasakan alurnya. Dari awal paragraf hingga titik akhir tulisan. Benar-benar realita, bukan?

    "Wahai pemilik rumah. Seumur hidupku, jika engkau menyuruhku untuk menjelajahi rumah ini maka aku tidak akan mampu. Seperti halnya dirimu dan juga penghuni yang lain. Maka cara saya menghuni rumahmu itu adalah dengan menjelajahi bagian-bagian yang saya anggap penting dan menyenangkan saja. Hal yang penting dan menyenangkan bagi diriku ternyata juga sama dengan penghuni yang lain"

    Sama halnya dengan manusia dan yang mengaku manusia saat ini, hanya fokus dan ambisius mengejar apa yang menjadi keberminatan mereka. Sehingga apa akibatnya? Mereka bahkan secara sadar telah melupakan "hati" mereka. Mereka melupakan ibadah, sama halnya mereka memutus komunikasi dengan Tuhan. Astagfirulloh

    ReplyDelete
  17. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Seperti yang kita tahu, peradaban yang diciptakan telah membuat kebanyakan dari kita terlena. Adanya fasilitas yang memadai, kecanggihan teknologi, dan segala kebutuhan yang serba ada dan juga mudah untuk diakses membuat kita lupa untuk beribadah. Kesenangan duniawi yang ditawarkan dalam kehidupan saat ini telah menutupi dan membuat kita lupa tentang kebahagiaan kekal yang telah dijanjikan oleh Allah SWT diakhirat kelak. Jika ini dibiarkan terus menerus, tentu akan membahayakan kehidupan kita. Seharusnya kehidupan spiritual tetap menjadi patokan utama dalam menjalani kehidupan ini. Oleh karena itu, kita harus selalu mawas diri dengan menggunakan akal dan pikiran kritis kita agar kita tidak melupakan kehidupan beragama.

    ReplyDelete
  18. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Pelajaran yang dapat saya ambil dari elegi di atas bahwa jiwa spiritual itu penting. Dengan spiritual kita bisa mendekatkan diri kepada Allah. Dari elegi di atas, Mereka banyak yang lalai dengan kewajibannya, mereka tergiur dengan kemewahan dan kesenangan di dunia padahal kehidupan di dunia tidak kekal. Kehidupan yang kekal dan abadi kelak di akhirat.
    Kepentingan di dunia dan di akhirat hendaknya harus seimbang dan harmonis.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  19. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Manusia ditakdirkan dengan sifat lupa. Sehingga lupa merupakan hal yang manusiawi dan siapa saja bisa mengalami lupa. Akan tetapi ketika seorang manusia lupa akan kewajibannya beribadah kepada TuhanNya, maka lupa tersebut tidaklah bisa disebut manusawi. Seperti analogi dalam elegi yang Prof. ulas di atas, menunjukkan bahwa ketika sesorang sudah merasakan nikmat yang senikmat-nikmatnya dalam urusan duniawi dan mereka merasa nyaman di dalamnya sehingga lupa akan kewajibannya beribadah, tentu hal tersebut sangat dilarang oleh agama (islam). Allah SWT berfirman dalam Q.S. Ar Rum : 7 yang artinya “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai". Jadi, sebagai makhlukNya sudah menjadi kewajiban kita untuk beribadah kepada Allah SWT dengan segala kondisi.

    ReplyDelete
  20. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Elegi di atas menggambarkan bahwa semakin canggih, semakin berkembang, dan semakin modern suatu daerah, hampir dipastikan manusia di dalamnya akan semakin jauh dari Tuhannya. Wajar saja kalau rumah ibadah diniatkan untuk dijual saja, mengingat di dalamnya kosong, tidak terawat, dan tidak ada jamaahnya. Mungkin agama hanya untuk formalitas belaka. Mengaku beragama tapi mengabaikan perintah Tuhan. Maka bisa dikatakan bahwa Tuhannya manusia zaman ini adalah teknologi, gadget, acara TV, pekerjaan, uang, dan hal-hal menarik lainnya.

    ReplyDelete
  21. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Saya memahami rumah yang teralalu besar di sini adalah dunia. Tuhan menjadikan manusia khalifah di muka bumi. Maka tugas manusia yang sebenar-benarnya adalah merawat dunia dan isinya. Manusia dilarang berbuat kerusakan dan berselisih paham. Namun perkembangan zaman menjadi godaan yang membuat manusia membangun disharmoni di muka bumi. Padahal Tuhan mengarahkan manusia untuk merawat dan menjadi sarana untuk mendekatkan diri dan bertasbih kepada Tuhan yang mahakuasa.

    ReplyDelete
  22. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Bagian yang hanya dianggap penting dan menyenangkan bagi dirinya, tetapi tidak memikirkan untuk yang lainnya, tidak lain dan tidak bukan itu merupakan sifat egois dari seseorang. Egois terhadap diri sendiri, egois terhadap material, egois terhadap sunatullah, egois terhadap Sang Pencipta. Penyebab dari adanya egois karena tidak bersyukur dengan segala kemudahan, kenikmatan, kebahagian yang telah Allah berikan. Bagimana tidak disebut egois, untuk urusan kerja berjam-jam saja mampu bahkan merasa kurang, sedangkan untuk melaksanakan ibadah yang hanya beberapa menit saja tidak memiliki waktu, Astagfirullahaladzim. Itulah sebenar benar kacau pikiran dan kacau hati. Jika sudah kacau hati, maka dengan mudahlah seseorang untuk mempermainkan agamanya sendiri. Naudzubillah.

    ReplyDelete
  23. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Ketika fasilitas dan kenyamanan di dunia sudah semakin luar biasa tersedia dan kepentingan dunia sudah mampu menghabiskan waktu, semua itu dapat menggerus spiritual yang telah dimiliki. Setelah membaca postingan Bapak, ternyata terkadang seseorang tidak menyadari bahwa dirinya telah menggerus sendiri spiritualnya dan melupakan ibadahnya. Pada zaman sekarang ini manusia memiliki tantangan besar untuk mempertahankan spiritualnya. Semoga kita semua selalu terjaga dalam beribadah kepada Allah dan dapat selalu menempatkan spiritual di atas kepentingan dunia.

    ReplyDelete
  24. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Berdasarkan elegi ini berisi pesan tersirat bagi kita, seberapa besarpun rumahmu atau duniamu, jika tidak diisi dengan ibadah maka sia-sialah. Seperti sebuah negara jika tidak berpedoman atau menomor satukan Tuhan sebagai kewajiban makhluk ciptaan-Nya maka hilanglah rumah yang sesungguhnya, yaitu rumah ibadah. Rumah besar tanpa adanya rumah ibadah akan berdiri tanpa adanya tujuan yang jelas, karena hanya memikirkan bagaimana bisa hidup di dalamnya. Namun jika diisi dengan beribadah kepada Tuhan maka bagaimana hidup akan lebih terarah dan hidup yang tentram akan tercipta.

    ReplyDelete
  25. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Rumah besar dalam elegi di atas menganalogikan kota metropolitan, yang katanya semuanya lengkap, apapun yang dicari ada di dalamnya. Namun lengkap disini sebenarnya lengkap dalam artian duniawi, lengkap di dalamnya adalah lengkap yang bersifat materialistis. Dalam kehidupan di rumah besar ini, apabila tidak diiringi dengan spiritual akan menjadi berbahaya. Orang-orang akan lebih mementingkan kesenangan duniawi dan melupakan tugas utamanya, yaitu beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai umat beragama hendaknya kita semakin mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa agar selalu dilindungi dan terhindar dari propaganda powernow.

    ReplyDelete
  26. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Elegi Menyesali Rumahku Yang Terlalu Besar, postingan mengumpamakan rumah besar adalah kota metropolitan. Dimana pada rumah besar ini terlalu banyak hiburan yang ada tanpa memikirkan tempat peribadatan yang semestinya. Ini sangat disayangkan, kita harus ingat bahwa dalam hidup yang terpenting adalah tercapainya surga di akhirat, jadi jangan hanya surga dunia yang kita bangga-banggakan. Pada kota metropolitan, semakin canggih zaman maka semakin maju tingkat hura-hura, wisata, dan yang tidak bermanfaat lainnya. Seharusnya, kita hidup pada kota metropolitan , kita harus tetap mengutamakan agama. Boleh saja kita menikmati fasilitas yang ada tapi tanpa mengenyampingkan agama untuk bekal kita di akhirat.

    ReplyDelete
  27. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi yang bapak sampaikan selalu mengandung makna yang dalam dan membuat mengena di hati, kalau bahasa sekatang “mak jleb-jleb”. Elegi yang bapak sampikan awalnya menggunakan analogi analogi yang kemudian mengandung arti yang mendalam, layaknya dalam elegi menyesali rumahku yang terlalu besar. Menurut saya elegi diatas yang berupa rumah yang besar ini adalah dunia ini. Dimana ia sangat luas cakupannya, luas bidangnya, dan canggih. Hal ini diketahui karena ia mencakup udara, laut dan tanah. Kemudian ada juga strukturnya, struktur atas, tengah dan bawah. Artinya semua bangunan. Disisi lain fakta lain bahwa bangunan bangunan di dunia ini sangat megah dan canggih namun sungguh untuk merawatnya sangat butuh kekuatan ekstra juga. Bahkan ada juga yang akan mengatakan bahwa bangunan atau rumah ini mubazir.
    Disampaikan terdapat pula aspek spiritual dimana dianalogikan dengan tempat ibadah, dikatakan bahwa tempat ibadah jarang diperhatikan. Ini seperti kehidupan kita pada zaman ini, dimana saat ini kebanyakan orang mengabaikan aspek akhiratnya, dimana fenomena ini bisa disebut fenomena komte. Yang bisa kita ambil hikmah dari elegi ini yaitu agar kita bisa menjaga dunia ini mengetahui seluk beluk kehidupan ini pun selalu dekat dengan Sang Pencipta, jangan sampai kita mengabaikan aspek spiritualitas.

    ReplyDelete
  28. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Terimakasih prof. Marsigit atas ulasan di atas. Seperti yang kita tahu segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik bahkan hasilnya akan lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya. Pengibaratan yang sungguh masuk akal, ketika seseorang lebih cinta dunia, memiliki harta kekayaan yang berlebihan sampai ia sendiri tidak mampu merawatnya, maka ibadahlah yang dikorbankan. Maka agamalah yang berani ia pertaruhkan. Maka keyakinanlah yang menjadi ia lenakan. Maka urusan dengan Tuhanlah yang sering ia abaikan dan lupakan. Sungguh miris, sombong sekali jika seorang manusia tidak mengenal atau bahkan melupakan Tuhannya. Bagaiamana bisa ia hidup tanpa landasan spiritualnya yang cukup kuat. Sungguh ia merasa hebat hingga ia telah menduakan dan mempersekutukan Tuhannya dengan yang lain. itulah tantangan besar yang dimiliki manusia saatini, bagaimana seharusnya ia mampu berusaha untuk mempertahankan spiritualnya di jaman kontemporer dan penuh kecanggihan teknologi seperti sekarang ini. Semoga kita semua selalu terjaga dalam beribadah kepada Allah dan dapat selalu menempatkan spiritual di atas kepentingan dunia. Amin, Wallahu'alam bishowab

    ReplyDelete
  29. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Rumah adalah tempat berteduh oaking aman. Rumah menjadi gambaran pemiliknya. Tergambar dalam elegi ini bahwa rumah yang besar tak selamanya membawa kenyamanan, karena rasa nyaman itu berada dalam diri sendiri. Mengapa tak nyaman di rumah yang besar? Hanya satu yang bisa saya pikirkan, kurang bersyukur. Jika telah diberikan tanggungjawab berupa rumah yang besar mengapa disia-siakan dan malah menganggapnya terlalu besar? Hanyalah alasan untuk kemalasan belaka.

    ReplyDelete
  30. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Elegi di atas menggambarkan peradaban manusia. Sekali kita belajar, bahwa kita tidak boleh gegabah mengambil tindakan karena akibatnya bisa panjang dan menimbulkan masalah lainnya. Sebuah Negara diibaratkan rumah besar dan penduduk adalah rakyatnya. Jangan sampai menyamakan diri dengan Negara lainnya.Kita harus mampu menilik apa yang kita punya, apa potensi yang kita bisa kembangkan, bisnis, social ekonomi dan aspek lainnya. Menjadi pemilik dan penjaga dirumah sendiri adalah halyang harus dilakukan untuk menjalankan dan memajukan peradaban menjadi lebih baik, karena rumah tanpa pemilik juga tidak bisa dijalankan sedemian juga dengan pemilik tanpa rumah juga tidak akan bisa menjalankan peradaban sehingga pemilik dan rakyatnya harus selalu saling menukung. Jangan sampai kita terlalu meniru Negara lain sehingga kita kehilangan identitas. Maka itu berbahaya dan menghancurkan. Kita tidak boleh sombong dan gegabah.

    ReplyDelete
  31. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Sifat sombong merupakan salah satu sifat yang melekat pada manusia. Padahal sifat sombong adalah sifat yang tercela dan apabila terus dibiasakan akan menyebabkan orang tersebut menjadi pribadi yang tidak bersyukur. Padahal hakikatnya setiap orang akan saling bergantung pada orang lain karena manusia merupakan makhluk sosial. Sebagai manusia yang saling membutuhkan tidak ada halnya untuk menjadi manusia yang sombong, merasa paling berkuasa, merasa mengetahui segalanya, merasa sudah paling kaya. Tetapi kits harus sadar bahwa dari kesombongan tersebut kita hanyalah pasir kecil dari sekian trilyunan pasir yang ada di dunia ini dan tidak ada tandingan sama sekali dengan Tuhan.

    ReplyDelete
  32. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Sesal memang kosa kata yang menjengkelkan jika diingat-ingat. Namun, sesal tak boleh larut di pikirkan yang terpenting bagaimana kita dapat mengelola dan memandang masa depan. Rumah besar pada elegi diatas mengibaratkan negara kita ini yakni Indonesia, Negara dengan ribuan pulau dan hamparan lautan luas merupakan tantangan untuk merawat secara baik. Perawat negara ini perlu kerjasama antara pemilik rumah, penduduk rumah dan segala elemen lain yang mendukung dan bukan malah berjalan sendiri-sendiri dan silaturahmi merupakan hal penting agar dapat mengkomunikasikan antara pemilik rumah dan penduduk rumah hingga terciptanya strategi yang tepat untuk merawat rumah kita bersama. Terima Kasih

    ReplyDelete
  33. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Penyesalan selalu datang terlambat. Tetapi ini bisa menjadi suatu pelajaran bagi kita ketika kita ingin melakukan sesuatu sebaiknya direncanakan secara matang. Contohnya saja dalam membangun rumah, dimana pada era modern sekarang sudah banyak desain-desain bangunan rumah dari yang minimalis, klasik hingga glamour. Itulah salah satu faktor yang membuat kita semakin konsumtif. Sifat konsumtif dapat dikurangi apabila kita paham betul akan kebutuhan kita sebagai makhluk hidup. Misalnya dalam membuat rumah, mungkin sekarang kita memiliki anak banyak sehingga perlu rumah yang cukup luas, tetapi ingatlah ketika masa tua nanti anak-anak kita akan menjalani hidup mereka masing-masing, sehingga kita baru sadar bahwa rumah yang besar ini hanya ditingga berdua atau bertiga saja ketika kelak anak-anak sudah berumah tangga. Begitulah cerita yang sering saya dengar dari kakek dan nenek saya.

    ReplyDelete
  34. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Rasanya sedih ketika hal ini terjadi, demikian pula di Indonesia. Lihatlah rumah-rumah ibadah yang penuh bahkan tak cukup lagi jika hari-hari raya tiba. Di hari biasa, tak seberapa yang hadir. Kemanakah yang lain? Benarkan saat ini kebanyakan orang memang hanya mencari hal yang menyenangkan saja? Lupa akan siapa yang telah menciptanya hingga sampai ia bisa mengalami kesenangan ini? Adakah kematian Tuhan juga akan terjadi di Indonesia? Ketika manusia semakin bangga akan kebesaran dan kehebatannya? Merasa mampu menggapai segala yang diinginkan...

    Jadi... menjadi cukuplah saja dengan apa yang ada, dijalani dengan ikhlas, jangan sampai ketamakan menguasai diri, kesombongan menguasai diri, cukupkanlah diri, sebelum penyesalan itu tiba. Tetaplah berdoa dan memohon kerendahan hati.

    ReplyDelete
  35. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Tingkatan suatu keberhasilan bukan materi, bukan juga ilmu, tetapi spiritual. Jika tempat ibadah dan agama sebagai jalan utama untuk menuju spiritual dijualbelikan, maka ia tidak akan mendapatkan keberhasilan tertinggi yang sesungguhnya. Kesenangan yang diperoleh hanya ada dalam pikiran yang mudah sekali hilang. Sedangkan kebahagiaan letaknya ada di dalam hati, yang akan diperoleh jika kita mau memaknai spiritual yaitu berdoa dan beribadah. Dunia hanya sementara, akhirat adalah tempat kekal yang sesungguhnya untuk kita. Menjalani ibadah sejatinya adalah mencari bekal untuk kehidupan yang kekal di akhirat kelak. Ingin tempat yang baik (surga) atau buruk (neraka), kita sendiri yang menentukan.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  36. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Sepemahaman kami, Rumah disini merupakan suatu perumpamaan yang dimaksudkan adalah suatu tempat dimana dimana manusia tinggal atau mungkin hanya sekedar “mampir” di mana di tempat tersebut manusia membangun suatu peradaban dengan akal dan pemikirannya serta berusaha untuk memenuhi kebutuhannya. Manusia senantiasa mengembankan suatu rumah yang serba ada, serba mewah, lengkap, dengan harapan manusia yang menempatinya tidak akan kekurangan satu apa pun. Akan tetapi dengan lengkapnya segala fasilitas tersebut ternyata bisa membawa manusia untuk lupa terhadap Tuhannya, dengan berbagai macam alasan terlalu sibuk, tidak ada waktu, dsb. Kami menyadari bahwa kami sebagai manusia ciptaan Tuhan hendaknya menenmpatkan kepentingan spiritual harus sebagai prioritas utama, yaitu hati ini harus senantiasa beribadah, berdoa, memohon ampun dan berdzikir kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  37. Elegi menyesali rumahku yang terlalu besar
    Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Rumah adalahtempat kita tinggal, tempat dimana kita pulang dan tempat kita beristirahat. Rumah yang terlalu besar adalah kota yang maju, dan di dalamnya ada segala hal yang dibutuhkan oleh penghuninya. Tapi rumah yang kita bangun dengan segala usaha dan waktu telah berubah menjadi terlalu besar, sehingga tujuan awal kita termakan oleh bentuknya yang terlalu wah. Kota yang kita tinggali berkembang menjauhi agama, agama hanya dipandang sebelah mata. Sehingga sesungguhnya kita mulai tersesat dalam rumah kita sendiri. Ketika rumah kita tidak dilandaskan iman dan tidak dinaungi agama maka tinggal tunggu waktu saja rumah kita kolaps, atau runtuh. Naudzubillah mi dzalik, semoga kita di jauhkan dari hal yang mengerikan tersebut, amiin.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  38. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015

    Pada elegi ini, menggambarkan bahwa rumah yang besar itu diibaratkan sebagai ilmu pengetahuan. Rumah yang besar jika hanya ditinggali hanya oleh satu orang saja maka akan terasa sepi, berbeda ketika rumah besar itu terisi beberapa orang yang main kerumah dan bercanda tawa sehingga membuat suasana yang tadinya sepi menjadi ceria. Begitu pula dengan pengetahuan, buat apa mempunyai ilmu pengetahuan yang tinggi jika ilmu itu tidak disampaikan ke orang lain dan menjadi tak bermanfaat. Oleh karena itu, sebaiknya kita menyampaikan ilmu yang kita punya sekecil apapun ilmu tersebut, karena kita tidak tahu mungkin dari sedikit ilmu yang kita bagikan dapat memberi manfaat bagi orang lain.

    ReplyDelete
  39. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Memang benar bahwa kota-kota besar di dunia seperti London, Tokyo, New York, bahkan Jakarta mulai kehilangan unsur spiritualnya walupun unsur duniawi nya lengkap dan canggih. Dalam elegi menyesali rumahku yang terlalu besar diceritakan penghuni rumah dan pemilik rumah telah menjual rumah ibadah demi sepak bola. Walaupun sarana dan prasana di perkotaan serba lengkap dan canggih namun di perkotaan tingkat individualisme, kriminalistas, konsumsi lebih tinggi dari pedesaan. Dengan lengkapnya unsur duniawi apakah masyarakat di perkotaan benar-benar bahagia?

    ReplyDelete
  40. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Pelajaran yang bisa diambil dari elegi ini adalah bahwa kita harus mengerti dan bertanggungjawab atas apa yang menjadi tugas dan kewajiban di mana kita berada, sehingga semua bisa berjalan sebagaimana mestinya sesuai dengan tujuan yang akan kita capai.

    ReplyDelete
  41. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Elegi Menyesali Rumahku yang terlalu besar, elegi ini menggambarkan rumah yang terlalu besar ini adalah dunia yang begitu lengkap adanya. Namun terkadanag kita tidak menyadari adanya fasilitas yang lengkap di dunia ini karna ada Tuhan yang menciptakannya. Terkadang kita bisa menyempatkan untuk menonton bola padahal itu tengah malam, namun kita tidak bisa menyempatkan bangun tengah malam untuk beribadah kepada-Nya. Sama halnya, ketika kita punya ilmu banyak dari Allah tapi kita tidak mampu membagikannya kepada orang lain, maka ilmu yang kita miliki itu sangat sia-sia. Sungguh menyesal bukan? Jadilah hamba yang taat dan bermanfaat untuk orang lain.

    ReplyDelete
  42. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Seperti pada elegi inilah hasilnya jika kediaman hanya dibangun di atas nafsu dan keinginan buas belaka. Rumah yang seyogyanya menjadi tempat nyaman untuk melepas penat dan lelah beralih fungsi menjadi tempat yang menipu belaka, kenapa demikian, karena rumah hanya menawarkan hal-hal manis sementara sesungguhnya merugikan pemiliknya. Bagian rumah tidak seimbang dimana tempat ibadah di rumah diabaikan menunjukkan ruh penghuni rumah kosong akan rohaninya sedangkan tempat kesenangan sementara atau kemaksiatan berjamur di bagian sudut manapun di rumah dengan jumlah penghuni yang seakan tiada berhenti mengunjunginya. Beginilah keadaan rumah negeri kita tercinta saat ini. Oleh karena itu marilah kita bersama-sama memulai dari diri sendiri, keluarga dan generasi muda untuk menyeimbangkan keselarasan kehidupan dengan dasar spiritual yang baik dan keinginan kuat demi damainya negeri ini.

    ReplyDelete
  43. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Dalam elegi ini, rumah sesar adalah kota metropolitan seperti New York, Tokyo, bahkan Jakarta. Rumah besar yang memiliki fasilitas yang lengkap. Di dalam rumah besar, segala jenis hiburan disediakan seperti taman bermain, bioskop, mall, dan banyak lainnya. Sayangnya hanyalah orang- orang kaya yang mampu membayar sedangkan orang- orang miskin yang tinggal disana hanya akan menikmati tempat- tempat kumuh. Seperti itulah kesenjangan sosial yang mudah kita lihat di kota- kota metropolitan. Sayangnya denan begitu banyak kemewahan yang ada dimetropolitan yang hanya dapat dinikmati orang-orang kaya menjadikan semua orang berlomba-lomba mencari uang dan jauh akan Tuhan.

    ReplyDelete
  44. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Tempat ibadah yang menjadi sarana manusia mendekatkan diri dengan Allah SWT sekarang ini menjadi tempat yang terisolasi bagi orang-orang yang tidak lagi mengenal agamanya. Mereka berfikir dunia inilah segala-galanya yang dapat memberikan kebahagian. Mereka tidak ingat bagaimana janji mereka dengan Allah SWT ketika mereka masih berada di alam sebelum terlahir di dunia ini. Mereka bahkan lupa bahwa seluruh kesenangan yang mereka dapatkan di dunia ini hanyalah 1% yang Allah berikan untuk orang-orang yang memilih kebahagian dunia daripada kebahagiaan akhirat yang kekal untuk selama-lamanya.

    ReplyDelete
  45. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Menurut saya penyebab dari perasaan rumah (tempat ibadah) yang besar dari elegi ini adalah karena hati kita yang kosong. Hati yang kosong akan menyebabkan mudah diisi oleh apapun termasuk perasaan curiga, kecewa, terkhianati, bahkan rasa tidak percaya. Hal tersebutlah yang menyebabkan kadang kita melupakan kewajiban kita yaitu untuk beribadah. Oleh karena itu untuk menanggulanginya yaitu dengan selalu setia dalam mencari ilmu dan mengisi kekosongan hati tersebut dengan ilmu agama agar selalu terhindarkan dari kekosnongan hati.

    ReplyDelete
  46. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Rumah adalah sebuah bangunan yang apabila pondasinya kuat maka akan kuatlah bangunan di atasnya, yaitu rumah tersebut. Setelah kita membangun rumah, kita tidak boleh hanya membiarkan rumah tersebut dengan tanpa perawatan. Kita harus selalu merawat, membersihkan, menghiasi, dan sebagainya. Seperti halnya diri kita. Kita adalah manusia, dengan pondasi Iman dan Taqwa. Kita harus memperkokoh iman dan taqwa kita sehingga kita mampu dengan kuat untuk menjalani kehidupan ini. Kita harus senantiasa merawat diri kita dengan cara beribadah, dan hal-hal lain yang mampu menguatkan pondasi kita

    ReplyDelete
  47. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. Dunia ini berkembang, begitu pula ilmu. Ilmu berkembang menjadi lebih besar dengan banyak orang yang semakin memikirkannya. Tapi karena perkembangan ilmu itu juga banyak orang yang semakin melupakan ilmu, ia dianggap menjadi terlalu luas dan rumit untuk dipelajari. Begitu pula sebuah negara, indonesia ini kaya akan kekayaan alam. Orang-orangnya berusaha mengikuti arus modernisasi dengan terus melakukan pembangunan. Gedung-gedung dibuat dengan megah nan mewah hanya untuk dijadikan gedung kosong penuh debu dan ilalang. Ketika pembangunan selesai orang-orang lupa apa tujuan dibangunnya gedung sehingga ia ditinggalkan.

    ReplyDelete
  48. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Elegi ini mengingatkan saya pada mulai berkurangnya perhatian banyak orang tentang agama. Sungguh, hal-hal di atas memang telah sering kita temukan. Satu contoh saja, di kebanyakan pusat-pusat perbelanjaan (supermarket, mall, dll) akan sulit mencari tempat ibadah, terkadang ada hanya satu di pojok lantai bawah, dan luasnya tak seberapa dibandingkan luasnya mall itu sendiri. Padahal pusat-pusat perbelanjaan ini banyak diminati masyarakat dan ramai dikunjungi setiap waktu. Seseorang bisa menghabiskan waktu seharian untuk menjelajahi pusat perbelanjaan itu hingga lupa waktu, baik itu mencari baju, menonton film, dan lain sebagainya. Pun terkadang adzan tak terdengar dari tempat-tempat ini. Sungguh kini banyak manusia lebih senang disibukkan dengan urusan dunia daripada agamanya. Naudzubillah. Semoga kita tidak termasuk salah satu diantaranya. Semoga Allah melindungi kita dari tipu daya dunia. Aamiin.

    ReplyDelete
  49. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Memiliki rumah yang besar, kota yang besar, dan negara yang besar adalah sama saja hakikatnya. Meskipun besar dan nyaman, namun membutuhkan perawatan yang setimbang dengan apa yang telah ada. Budaya peduli dan sadar diri dari para warganya perlu dilestarikan. Seperti di awal tadi telah dikatakan bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Ketika kesenangan dan kenyamanan telah didapatkan sebagai buah dari modernisasi, sejalan dengan itu, banyak yang lupa akan hakikat syukur. Bahkan, mereka rela untuk menukar sarana ketaatan terhadap Tuhan dengan kesenangan duniawi yang melenakan. Untuk menghindari segala kelebihan kenikmatan semu ini maka kita harus banyak berlatih selektif, kontrol diri, dan bersyukur dengan apa yang telah ada. Dan tidak mudah menuntut dengan apa yang seharusnya tidak ada.

    ReplyDelete
  50. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Seringkali sebuah bangsa atau bahkan peradaban hanya mementingkan pembangunan fisik dari negaranya. Gedung-gedung dibangun, jalan-jalan diperbaiki, pusat perbelanjaan didirikan. Sekolah-sekolah diperbanyak. Namun ia melupakan satu hal, bahwa majunya sebuah peradaban tergantung dari sumber daya manusianya. Sedangkan sumber daya manusia tidak hanya dibangun dari sisi intelektualnya saja, namun juga sisi akhlaknya sehingga menghasilkan manusia-manusia yang yidak hanya cerdas namun juga memiliki akhlakul karimah atau akhlak yang baik. Domain akhlak yang baik inilah yang sebenarnya merupakan buah dari penguatan atau pendidikan agama.

    ReplyDelete
  51. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Rumah adalah suatu wadah. Semakin besar suatu rumah, maka idealnya isinya juga semakin banyak dan beraneka ragam. Sebetulnya tidak akan ada masalah jika rumah yang besar dengan segala isinya ini dapat dikelola dengan baik. Tentu akan mendatangkan manfaat. Namun jika dalam mengelolanya gagal, apa yang akan terjadi? Bisa jadi kehancuran. Maka dari itu, disetiap rumah atau wadah, setiap isinya harus mampu dibangun secara harmonis. Harus berimbang antara keduniawian dan spiritualitas. Jika spiritual dan duniawi sudah mampu berjalan secara harmonis, sesungguhnya rumah yang besar dengan segala aneka ragam isinya akan memberikan berkah.

    ReplyDelete
  52. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Rumah terlalu besar menggambarkan kerenggangan hubungan antara anggota keluarga yang menghuninya. Rumah yang besar diibaratkan sebagai sebuah kota metropolitan misalnya London, New York, dan Jakarta. Dimana di kota-kota tersebut besar sekali tingkat kerenggangan antara warganya meskipun fasilitas yang ada sangat memadai.

    ReplyDelete
  53. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Manusia sebagai seorang yang berpikir, maka sudah barang tentu manusia penuh dengan kegiatan, entah itu pekerjaan, ataupun hal lainnya. Kegiatan manusia bisa diskala dari yang serius sampai tidak serius. Artinya hampir selama 24 jam kita menghabiskan waktu untuk kegiatan-kegiatan tersebut. Maka sebaik kegiatan manusia adalah seimbang antara dunia dan akhirat.

    ReplyDelete
  54. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Kegiatan manusia selalu dibatasi oleh ruang dan waktu, artinya ruang dimana manusia berada dan waktu yang terbtas 24 jam. Apabila kita melakukan kegiatan, apapun itu, sudah sepantasnya kita mengahdirkan niat ibadah dalam kegiatan kegiatan kita. Ruang dan waktu kita terlalu berharga untuk dihabiskan tanpa niat ibadah kepada Alla Swt

    ReplyDelete
  55. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Elegi ini seperti gambaran hubungan manusia dengan alam sekitarnya yang semakin ke arah sini, arus globalisasi semakin derasnya. Pembangunan yang terus dikebut untuk dapat terus bersaing di dunia internasional membuat banyaknya kekacauan yang ditimbulkan dibalik keuntungan yang dihasilkan. Tanpa melihat manayang dirugikan, pemerintah terus mengebut apa yang ingin dicapai atau yang sudah ditargetkan demi hanya “memenuhi janji” belaka. Manusia sebagi penghuni harus sadar dengan sebab dan akibat dari semua ini. Seperti hak dan kewajiban akan suatu hal yang sudah dibangun pemerintah. Seperti halnya, merawat bangunan publik yang ditunjukan bagi khalayak umum.

    ReplyDelete
  56. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Elegi menyesali rumahku yang terlalu besar yang menggambarkan dunia yang luas dilengkapi dengan segala sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan kita sebuah gambaran akan kebesaran dan kekuasaan serta bentuk kemurahan hati Allah SWT kepada umatnya, namun terkadang kita terlalu menikmati dan larut dalam segala urusan dunia, berusaha memenuhi dan mengejar segala sesuatu hingga mengerahkan segala usaha demi keinginan hati hingga lupa waktu dan rasanya waktu 24 jam dalam sehari terasa tak cukup untuk hal itu, namun tak sebanding dengan waktu beribadah yang diluangkan dan bahkan lebih mirisnya hingga sampai mengesampingkan ibadah di atas segala urusan dunia.

    ReplyDelete
  57. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    dari elegi diatas, menurut saya rumah yang sangat besar sama halnya dengan kehidupan dunia ini yang sangat tak terhingga. seperti halnya kehidupan dunia ini begitupun ilmu pengetahuan yang sudah ada sejak zaman dahulu. yang selalu berkembang dikembangkan menjadi ilmu yang bermanfaat kelaknya bagi generasi penerus.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  58. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Rumah yang besar menurut saya adalah ketakjuban kita akan dunia. Segala hal yang menjadikan kita sosok yang menikmati bagaimana dunia memiliki banyak hal yang perlu kita lakukan, dan melupakan keterbatasan kita. dimana kita harusnya menyadari bahwa keterbatasan yang kita miliki haruslah mendasari kita untuk tunduk kepada Tuhan yang tidak terbatas, namun terkadang kita lupa karena terlalu menikmati ketakjuban pada dunia.

    ReplyDelete
  59. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Kebanyakan dari kita hanya konsentrasi pada kekayaan dunia. Banyak orang membanggakan kekayaan dunianya tanpa berpikir apakah kebutuhan untuk kehidupan akhirat mereka sudah cukup atau belum. Kita hanya terfokus pada cara memperoleh kebahagiaan dunia yang sebenarnya hanya sementara.
    Semoga setelah membaca artikel di atas, kita dapat menjadikan diri kita menjadi diri yang lebih baik

    ReplyDelete
  60. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Yang dapat dipetik dari elegi diatas adalah kita harus hati-hati dengan kenyamana, fasilitas lengkap dan mewah, karena barangkali bisa membuyarkan konsentrasi dalam beribadah. Namun fasilitas lengkap jika dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menunjang peribadahan tentu sangat bagus dan tepat. Sesuatu yang menarik belum tentu bagus untuk akhirat kita, namun sesuatu yang mendekatkan kita kepada sang pencipta pasti itu menarik.

    ReplyDelete
  61. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Dunia ini sangat besar, sangat luas. Yang memiliki tanggung jawab untuk merawatnya bukanlah para pemimpin atau para penguasa saja, namun seluruh penduduk dunia, semua manusia yang menghuninya.

    ReplyDelete
  62. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Banyak sekali kesenangan yang ditawarkan oleh dunia, namun janganlah lupa bahwa setiap kesenangan yang ada di dunia ini hanyalah sementara, semuanya akan hilang, dan kebahagiaan yang hakiki adalah kebahagiaan di akhirat kelak. Oleh karena itu, jangan pernah melupakan untuk selalu beribadah dan memperkuat ilmu agama.

    ReplyDelete
  63. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Apa yang terjadi di dunia ini pada hakikatnya merupakan akibat dari adanya sesuatu yang lain. karena pada daarnya kehidupan ini merupakan kehidupan sebab akibat yang akan mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Jika sesuatu tersebut berasal dari hal yang sama, maka akibat dari sesuatu tersebut adalah sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  64. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Rumah yang ada pada elegi diatas diibaratkan dunia. Kemudian yang tinggal didalam rumah tersebut adalah manusia. Dimana terdapat berbagai macam karakter manusia. Ada yang santun, namun tak sedikit yang tak santun pada tempat dimana dia tinggal. Dari banyak hal yang dilakukan manusia di dunia ternyata didominasi oleh hal yang sifatnya hanya mementingkan duniawi saja. Begitu besar nikmat dan kesempatan yang Tuhan berikan, namun belum di syukuri secara maksimal oleh manusia. Sesungguhnya yang tak pandai bersyukur adalah mereka yang sombong, yang tak menyadari bahwa kita hanyalah kecil dihadapan Tuhan.

    ReplyDelete
  65. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017
    Terima kasih atas postingannya Prof. Sebuah lingkungan, baik itu keluarga, masyarakat maupun bangsa dan negara secara umum tidak akan tenteram sebanyak apapun harta duniawi yang dimiliki atau semaju apapun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi jika tidak diiringi akhlak yang agamis serta perilaku yang budiman.

    ReplyDelete
  66. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Elegi ini menggambarkan keadaan Indonesia yang melimpah ruah. Namun kekayaan dan keindahan tersebut tidak disadari dan tidak dapat dimanfaatkan dengan bijaksana oleh masyarakat Indonesia sendiri. Banyak potensi yang tidak diolah. Tidak sedikit masyarakat Indonesia yang tidak kenal budaya bangsa sendiri. Banyak warga Indonesia yang tidak berjati diri bangsa Indonesia. Di samping itu, elegi ini juga menggambarkan betapa kemewahan dan kekuasaan berpotensi menurunkan kualitas keimanan seseorang.Semoga isi dari elegi ini menjadi bahan renungan bagi kita semua

    ReplyDelete
  67. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Rumah yang terlalu besar dapat dibaratkan sebagai dunia di era saat ini. Semua kemewahan, kecanggihan, kemajuan adalah furniture-furniture sudah tersedia di dalam rumah itu. Begitu banyak dan luar biasa menariknya furniturenya sehingga melupakan salah satu furniture penting yaitu ibadah. Kemajuan, kecanggihan, kemewahan telah menjadi senjata makan tuan, membuat kehidupan manusia menjadi instan, dan lebih mudah akan tetapi semua itu juga merusak agama/keimanan manusia.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  68. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Rumah boleh menjadi besar akan tetapi harus disertai dengan pondasi yang kuat dan kokoh, yang tidak akan tergoyahnya karena semakin besar rumahnya. Kecanggihan, kemewahan dan kemajuan dapat menjadi isi di dalam rumah itu namun agama haruslah menjadi pondasinya. Jika sudah memiliki pondasi agama yang kuat, maka para penghuni rumah besar pun tidak hanya akan terlena dengan isi yang mewah-mewah saja, namun juga ingat dan menggunakan ibadah pula.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  69. Tri Wahyu Nurjanah
    15301241010
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Manusia jika dihadapkan dengan hal yang penting dan menyenangkan memang mudah terlena dengan ibadah. Apa lagi rumah yang dilengkapi dengan kecanggihan, fasilitas yang serba ada maka yang namanya tempat ibadah dirumah itupun menjadi tidak menarik bahkan bukan tempat yag penting lagi. Dalam elegi ini, rumah besar diibaratkan sebagai Kota Metropolitan. Dimana tempat yang mewah, segalanya ada, fasilitas mendukung, tapi jarang sekali ditemui unsur spiritual di sana. Alegi ini memberikan pembelajaran kepada kita bahwa suatu kenyamanan, fasilitas yang selalu tercukupi, kemewahan, dll. Jangan sampai luput dengan adanya tempat ibadah dan jangan sampai lupa untuk merawatnya, karena sebaik-baiknya tempat ibadah adalah tempat orang-orang kotor yang ingin membersihkan dirinya dari segala dosa, tempat dimana mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

    ReplyDelete
  70. Puspitarani
    15301244008
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    Terima kasih Bapak atas artikel berjudul Elegi Menyesali Rumahku yang Terlalu Besar yang telah Bapak share kepada kami. Dalam elegi menyesali rumahku yang terlalu besar diceritakan penghuni rumah dan pemilik rumah telah menjual rumah ibadah demi sepak bola. Walaupun sarana dan prasana di perkotaan serba lengkap dan canggih namun di perkotaan tingkat individualisme, kriminalistas, konsumsi lebih tinggi dari pedesaan. Dengan lengkapnya unsur duniawi apakah masyarakat di perkotaan benar-benar bahagia? Saya pikir pasti tidak semua dari mereka bahagia. karena mereka punya segalanya, namun tidak punya teman, tetangga karena sikap orang lain individualis, pasti juga ada rasa tidak puas dan ingin selalu menang sendiri. Perbuatn yang dilakukan oleh sang pemilik rumah yang menjual tempat ibadahnya hanya demi sepak bolah tidaklah patut untuk dicontoh, karena kita tahu bahwa yang dilakukan itu tidak ada untungnya sama sekali, melainkan kita akan mendapatkan dosa karenanya.

    ReplyDelete
  71. Qorry Aina Fitroh
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241047

    Rumah yang besar adalah dunia yang telah diciptakan Tuhan untuk manusia. Saking besarnya manusia hingga lalai akan berbagai hal yang seharisnya dilakukan di dunia yang mereka pijak. Rumah yang besar ini di dalamnya termuat hal yang lengkap, seperti kemewahan, kemajuan, kecanggihan dan lain sebagainya. Akan tetapi, selain hal-hal menggiurkan yang ada di rumah besar tersebut, harus menjadikan agama sebagai pondasinya agar manusia tidak tersesat dalam mengarungi luas dan besarnya rumah (dunia).

    ReplyDelete
  72. Gandes Sih Mustika
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241015

    Pelajaran yang dapat saya ambil dari elegi ini adalah bahwa rumah yang besar menggambarkan alam semesta yang begitu besar, kita sebagai manusia tidak akan bisa mengelola semuanya. Seiring dengan perkembangan jaman, fasilitas yang adapun makin canggih. Namun, apabila kita hanya asik mengurusin urusan dunia saja maka kita hanya akan melakukan hal-hal menyenangkan saja dan lupa untuk beribadah pada Allah.

    ReplyDelete