Oct 14, 2011

Elegi Menyesali Rumahku Yang Terlalu Besar




Oleh Marsigit

Rumah Besar:

Wahai pemilik rumah, kenapa engkau terlihat kurang merawatku. Padahal aku telah engkau bangun dengan biaya yang sangat besar dan melibatkan semua potensimu. Engkau juga tidak membangun rumah ini hanya sendirian. Beberapa generasi sebelummu dan generasimu sekarang juga masih terus terlibat pembangunan rumahmu ini. Bahkan petualangan generasi pendahulumu menjajah Bangsa-bangsa lain itupun dalam rangka membangun rumah ini. Aku telah tercipta menjadi rumah super lengkap, super canggih dan supermodern. Aku itulah sebenar-benar Mega Proyek bangsamu itu. Maka tolong rawatlah diriku dengan baik.



Pemilik Rumah:
Oh maaf....wahai rumahku yang tercinta. Maaf aku sampai sedikit tidak merawat dirimu. Bukanlah aku sengaja melupakan dirimu, tetapi ketahuilah...dikarenakan dirimu terlalu besar itulah maka aku sendiri hampir tidak dapat mengenali dirimu lagi. Apalagi jika harus mengingat-ingat detail dari bangunanmu, disamping datanya sudah hilangg karena terlalau lamanya, tetapi juga karena engkau sudah terlalu rumit dipahami. Bagaimana aku bisa merawat dirimu dengan baik, jika aku sendiri lupa dan tidak paham bagian-bagianmu. Tolong..wahai rumah besarku...ceritakan kepadaku sepintas saja tentang ciri-cirimu, fungsi dan manfaatmu, agar aku bisa mengingat-ingatmu kembali.

Rumah Besar:
Baik tuanku. Aku si Rumah Besar adalah salah satu pusat peradaban dunia. Aku dibangun selama berabad-abad tidak hanya oleh satu generasi tetapi oleh lebih dari 5 generasi. Maka aku telah tercipta menjadi sebuah rumah besar yang paling lengkap di dunia. Aku juga akan berbangga hati jika para penghuniku menjulukiku sebagai Metropolitan. Puncak prestasi dan pencapaianku adalah aku merasa mampu menyediakan semua dan segala kebutuhan penghuni-penghuniku. Saya ulangi, aku merasa mampu menyediakan semua dan segala kebutuhan penghuni-penghuniku.

Pemilik Rumah:
Ntar dulu..jangan tergesa bicara manfaat atau fungsi. Ceritakan dulu siapa yang membangunmu dan bagaimana membangunnya.

Rumah Besar:

Baik tuanku. Aku dibangun sejak abad 16. Mulanya aku adalah pusat kerajaan, tetapi karena kerajaannya berkembang pesat maka mulailah diperlukan pengembangan. Apalagi setelah kerajannmu itu mampu menjajah bangsa-bangsa lain di dunia, maka hasil jajahan dan jarahannya itu dapat digunakan untuk memperbesar rumahmu ini. Jadilah sekarang aku sebagai salah satu rumah terbesar di dunia, dan menjadi salah satu ikon di dunia.

Pemilik Rumah:
Sebutkanlah ciri-ciri atau strukturmu itu?

Rumah Besar:
Begitu besarnya rumahmu itu, maka untuk mengetahui detailnya, tidak cukup kalau hanya dilihat dari dari darat saja. Maka aku sarankan agar engkau mengamati dan menelitiku juga dari udara, darat, laut dan dari bawah tanah.

Pemilik Rumah:
Lho..mengapa mesti harus mengamati dari udara, laut, darat dan bawah tanah?

Rumah Besar:
Itulah kehebatan rumahmu. Sangking besarnya rumah ini sehingga engkau sendiri kewalahan untuk memahaminya. Saya teruskan.... Ketahuilah bahwa Rumah Besarmu ini terdiri dari 3 (tiga) struktur, yaitu struktur atas, struktur tengah dan struktur bawah.

Pemilik Rumah:
Tolong jelaskan lebih rinci tentang struktur atas, struktur tengah, dan struktur bawah?

Rumah Besar:
Struktur atas meliputi gedung-gedung pencakar langit, menara, center point, gondola, kereta gantung, jembatan layang, monoreel, pusat pengendali informasi, restoran terbang, taman gantung, teater angkasa, lapangan gantung, kolam renang gantung, ..terowongan udara..dst. Struktur tengah meliputi bangunan rumah-rumah penduduk, tempat peribadatan kuno, lapangan, rel KA, jalan raya, toko-toko, taman kota, dst. Sedangkan struktur bawah meliputi Under Ground Tube, Under Ground Railway Station, gedung tingkat 10 (sepuluh) tetapi menjulang kebawah, pasar bawah tanah, sirkus bawah tanah, kolam bawah tanah, taman bawah tanah, gondola bawah tanah, pusat pengendali bawah tanah, teater bawah tanah, sepak bola bawah tanah, mall bawah tanah, restoran bawah tanah, jembatan bawah tanah, terowongan bawah tanah..dst.

Pemilik Rumah:
O..oo..oo sayang terlalu kecil otakku itu, sehingga aku banyak melupakan kekayaanku itu. Jangankan merawat dan memanfaatkan dirimu, mengingat dirimu saja aku sudah mulai kesulitan. Coba teruskan sebut ciri-ciri yang lain dan juga siap saja penghuninya dan bagaimana karakteristiknya.

Rumah Besar:
Itulah diriku...si Rumah Besar milikmu. Sebagai akumulasi bangunan yang dibuat oleh beberapa generasi dengan megambil kemakmuran seluruh dunia untuk membiayainya, maka sempurnalah diriku itu. Segala kebutuhanmu dan kebutuhan penghuni-penguhinya terjamin ada dan sangat memuaskan. Semuanya ada di sini. Tidak hanya kebutuhanmu dan kebutuhan mereka, maka semua yang engkau pikir dan akan engkau pikir sudah aku sediakan di sini. Jadi tak usah khawatirlah...begitu.

Pemilik Rumah:
Tetapi....kenapa engkau mengeluh kurang perawatan?

Rumah Besar:
Itulah imbalan atau tuntutanku dari kamu sebagai pemiliknya dan dari mereka sebagai penghuninya. Tidaklah ada yang gratis di rumahku itu. Itu adalah syarat-syarat yang sudah kita tetapkan bersama. Agar aku tetap besar dan akan selalu menjadi besar maka semua penghuniku harus memberi tebusannya yang sepadan kepada diriku.

Pemilik Rumah:
Bagaimana jika ada penghuni yang tidak bisa merawat karena tidak mampu membayar?

Rumah Besar:
Itulah hukumnya tuan. Seperti yang telah aku katakan di muka, tidaklah ada yang gratis di rumah ini. Maka bagi mereka yang tidak mampu merawat dan tidak mampu membayar akan aku usir dari rumah ini. Jika mereka tetap tidak mau pergi dan ingin tinggal di rumah ini ya terpaksa mereka harus mau menjadi kerak-kerak atau sampah atau kotoran yang siap menghuni tempat-tempat atau bak sampah..begitu.

Pemilik Rumah:
Wahai para penghuni Rumah Besarku, bagaimanakah kesan-kesanmu mendiami rumah ini?

Para Penghuni Rumah:
Wahai pemilik rumah..sungguh rumah ini sangat mengagumkan. Aku sangat puas dengan fasilitas yang ada di rumah ini. Semua kebutuhanku ada semua di rumah ini. Jangankan kebutuhan, semua yang aku pikir dan akan aku pikirpun sudah ada di sini.

Pemilik Rumah:
Wahai penghuni rumah...tetapi kenapa engkau tidak mampu merawat semua bagian dari Rumah Besar ini?

Para Penghuni Rumah:
Bagian yang mana yang tidak aku rawat? Yang mana yang tidak aku manfaatkan?

Pemilik Rumah:
Itu ada tempat peribadatan sudah satu abad tidak dipakai, dibiarkan saja kosong tidak digunakan sebagai mana mestinya.

Para Penghuni Rumah:
Wahai pemilik rumah. Seumur hidupku, jika engkau menyuruhku untuk menjelajahi rumah ini maka aku tidak akan mampu. Seperti halnya dirimu dan juga penghuni yang lain. Maka cara saya menghuni rumahmu itu adalah dengan menjelajahi bagian-bagian yang saya anggap penting dan menyenangkan saja. Hal yang penting dan menyenangkan bagi diriku ternyata juga sama dengan penghuni yang lain.

Pemilik Rumah:
Ya..ya..tetapi jelaskanlah mengapa engkau abaikan itu tempat ibadah?

Para Penghuni Rumah:
Wahai pemilik rumah..janganlah engkau berlaku munafik terhadap diriku. Aku melihat engkau juga merasakannya. Bukankah dengan kelengkapan, dengan kecanggihan, dengan fasilitas yang serba ada ini, maka rumah ibadah itu menjadi tidak penting dan tidak menarik?

Pemilik Rumah:
Kenapa rumah ibadah tidak menarik?

Para Penghuni Rumah:

Bukankah engkau sendiri yang menciptakan berbagai macam hiburan. Di rumah ini sudah sangat lengkap ada berbagai hiburan dan kegiatan, sepak bola atas tanah, sepak bola bawah tanah, circus atas tanah, circus bawah tanah, teater atas tanah, teater bawah tanah, taman atas tanah, taman bawah tanah, ...semuanya...atas tanah...bawah tanah...atas tanah...bawah tanah.. Belum lagi fasilitas dan hiburan yang tergantung di atas langit...wah..wah sungguh sempurna bangunan ini. Seumur-umur saya jika engkau suruh aku menikmati hiburan di bawah tanah saja aku belum cukup waktu untuk menikmati semuanya. Singkat kata, bagi diriku dan bagi penghuni yang lain, ibadah itu jadi terasa hambar, kurang bermakna, kurang relevan dan tidak sinkron dengan lingkungan. Jangankan beribadah, berkeluarga atau mempunyai anak saja aku tidak sempat, sangking banyaknya dan hobinya bekerja. Rumah Besarmu itu ternyata tidak hanya menyediakan tempat tinggal, dia juga memberi dan menawarkan banyak sekali pekerjaan. Aku dan para penghuni Rumah Besar ini menjadi sangat sibuk sekarang. Aku selalu kekurangan waktu untuk menelusuri Rumah Besar ini. Untuk kegiatanku sehari-hari, ibaratnya 30 jam perhari masih saja aku kekurangan waktu, 9 hari perminggu juga masih merasa kurang waktu, 40 hari perbulan atau 15 bulan pertahun, aku selalu kekurangan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaanku. Dari ribuan jalan dan gang yang ada di Rumah Besar ini, seumur-umur hidupku paling banter aku hanya bisa menelusuri puluhan saja.

Pemilik Rumah:
Baik..katakanlah aku ingin mengetahui bagaimana perasaanmu sekarang, apa kecenderungan, tontonan atau hiburan apa yang paling favorit bagimu semua dari dalam Rumah Besar ini?

Penghuni Rumah:
Untuk satu generasiku ini, maka mereka semua sedang gandrung dengan sepak bola, ..maka semua yang penting, semua yang dirasakan, semua yang dijual, semua yang dipikirkan adalah sepak bola. Wah luar biasa...sepak bola itulah hidup dan matiku sekarang ini. Sepak bola itulah hidup dan matinya para penghuni rumah ini termasuk dirimu tentunya.

Pemilik Rumah:
Wah..hah..cocok..cocok..ternyata keteranganmu itu dapat mewakili pikiran dan jiwaku. Lalu sebaiknya gemana?

Para Penghuni Rumah:

Aku usul kepadamu...dari pada susah-susah merawat tempat ibadah..lebih baik di jual saja. Nah uangnya kan bisa untuk nonton bal-balan bareng, nonton film bareng, berenang bareng, circus bareng, piknik bareng..dst...bareng.

Pemilik Rumah:
Whus..lha nanti kalau ditanya tentang agama? Apa pula agama kita itu jika tempat ibadah dijual?

Para Penghuni Rumah:
Gak usah khawatir..katakan saja agama kita adalah Sepak Bola,...gitu aja kok repot.

Pemilik Rumah:
Lha Rumah Besar kita jadinya akan diberi nama apa?

Para Penghuni Rumah:

Rumah Besar kita ini beri nama saja Kota Metropolitan...boleh London..boleh Tokyo...boleh New York...boleh...bahkan boleh Jakarta.

Pemilik Rumah:
Lho kalau begitu ...pas...kita juga akan memperbesar rumah kita dengan slogan “Mega Proyek Indonesia”?..begitu..?

Para Penghuni Rumah:
Saya agak khawatir jangan-jangan itu hanya mimpi? Atau sekedar konsumsi penyejuk ruangan saja. Lihat tuh...jangankan Indonesia...Negara supertangker Dubai saja akhirnya terlilit dan terjerat hutang dan bangkrut negaranya, gara-gara ambisi yang sama?. Tetapi jika slogan itu serius dan mampu diwujudkan, ya jadinya pas juga dengan persiapan kita menjual rumah ibadah dan mengganti agama kita dengan Bal-Balan. Gitu dheh...?

25 comments:

  1. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setiap apa yang ada di dunia ini memiliki tempat dan kadarnya masing-masing, maka dari itu perbuatan berlebih-lebihan itu tidak dianjurkan. Maka dari itu tetaplah rendah hati dan tetap melakkan sesuatu sesuai dengan kodratnya. Sesuatu yang berlebihan akan menunjukkan kepada suatu kesombongan, jadi setiap melakukan sesuatu diharapkan selalu mengingat kepada Allah agar kita tahu bagaimana kedudukan kita.

    ReplyDelete
  2. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Rumah besar yang diibaratkan seperti dunia ini yang mampu menyediakan semua dan segala kebutuhan tetapi tidak dirawat dan tidak dijaga. Seperti pengetahuan yang kita miliki jika tidak kita gunakan dengan sebaik-baiknya atau tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maka sama saja kita tidak memiliki pengetahuan tersebut. Memiliki rumah adalah suatu anugrah, rumah yang kecil tanggung jawabnya tidak kecil melainkan besar karena semua yang ada di dalamnya harus kita jaga dan kita manfaatkan. Apalgi rumah yang besar maka tanggung jawabnya pun semakin besar.

    ReplyDelete
  3. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Pada saat awal sampai pertengahan membaca postingan yang berjudul "Elegi Menyesali Rumahku yang Terlalu Besar" ini, saya sudah berhipotesis bahwa yang dimaksud dengan rumah yang terlalu besar ini adalah sebuah kota besar (kota metropolitan) tetapi tidak tahu kota apa. Ternyata benar, di jawab di bagian akhir tulisan bahwa rumah besar itu bisa saja kota London, Tokyo, New York, atau bahkan Jakarta. Kota metropolitan memang menawarkan banyak kenikmatan. Tempat berbelanja, makan, bermain, pekerjaan, hiburan, semuanya lengkap di kota metropolitan. Di suatu kondisi tertentu, kota metropolitan melahirkan sekumpulan orang-orang dengan paham hedonisme, sehingga dengan paham tersebut mereka melupakan agama. Hal ini sunggguh jangan sampai terjadi. Kita mendukung untuk lahirnya kota-kota besar yang di dalamnya terdapat teknologi yang serba canggih. Tetapi di samping itu, kita tidak boleh melupakan agama sebagai pegangan hidup agar selamat di dunia dan akhirat.

    ReplyDelete
  4. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B 2017

    Menurut saya ulasan di atas tersirat bahwa adanya kesenjangan antara prinsip dan paham-paham yang cenderung menurunkan moral baik itu pada diri sendiri bahkan dalam lingkup tatanan sistem kehidupan manusia. Alam akan memunculkan kehebatannya dengan perkembangan zaman yang bergerak dengan begitu canggih dan cepat. Namun, perlu untuk dikendalikan secara efektif agar tidak menggangu dan menyebabkan permasalahan. Urusan yang berkaitan dengan dunia jika dituruti juga tidak akan ada habisnya. Satu hal yang perlu digarisbawahi, yaitu akar pondasi seperti agama tidak salahgunakan untuk kepentingan yang bersifat duniawi dan sesaat. Rusaknya dunia tidak lain disebabkan terkikisnya pondasi dasar pada individu atau suatu kaum. Kemudian, budaya "ikut-ikutan" terhadap suatu kaum esensinya cenderung tidak memiliki pendirian yang tetap. Saat ingin menetapkan suatu kebijakan juga disesuaikan dengan kapasitas yang tersedia. Layaknya di Indonesia yang memiliki kekayaan yang luar biasa pada sumber daya alamnya, maka sudah sepatutnya kita mengupayakan untuk tetap melestarikannya agar dapat dinikmati dan dikelola oleh generasi yang akan datang.

    ReplyDelete
  5. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    PPs. PM A 2017

    Dalam tulisan Bapak, saya dapat memetik pesan moral bahwa saat ini banyak orang yang tidak menyempatkan atau enggan untuk ke tempat ibadah. Saya khusukan di sini untuk agama islam, yaitu ke masjid. Bagaimana tidak? saat ini telah banyak dibangun mal besar, hotel-hotel yang megah dan gedung-gedung yang mewah. Manusia banyak yang lupa bahwa ada satu bangunan yang merupakan tempat yang mustajab untuk berdoa, temapat yang tenang, tempat yang dapat mendekatkan manusia dengan tuhannya, tempat ibadah, tempat dimana semestinya manusia sering kunjungi, yaitu masjid.
    Oleh karena itu, sudah selayaknya kita senang mengunjungi masjid untuk shoalt berjama'ah, mengaji, berdzikir, dan mendengarkan ceramah/kajian yang ada.


    ReplyDelete
  6. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Dalam elegi ini terdapat pesan moral yang cukup penting yaitu bagaimana kita bisa menjaga keimanan kita, bagaimana kita menjaga agama kita dengan godaan hiburan yang sifatnya duniawi. Walau bagaimanapun kita hidup didunia hanya sementara, jangan pernah tinggalkan amal ibadah kita, karena yang kita bawa setelah dunia ini hancur hanyalah amal-amal kita.

    ReplyDelete
  7. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Penyajian realita kehidupan lewat alur tulisan yang indah. Benar-benar ikut merasakan alurnya. Dari awal paragraf hingga titik akhir tulisan. Benar-benar realita, bukan?

    "Wahai pemilik rumah. Seumur hidupku, jika engkau menyuruhku untuk menjelajahi rumah ini maka aku tidak akan mampu. Seperti halnya dirimu dan juga penghuni yang lain. Maka cara saya menghuni rumahmu itu adalah dengan menjelajahi bagian-bagian yang saya anggap penting dan menyenangkan saja. Hal yang penting dan menyenangkan bagi diriku ternyata juga sama dengan penghuni yang lain"

    Sama halnya dengan manusia dan yang mengaku manusia saat ini, hanya fokus dan ambisius mengejar apa yang menjadi keberminatan mereka. Sehingga apa akibatnya? Mereka bahkan secara sadar telah melupakan "hati" mereka. Mereka melupakan ibadah, sama halnya mereka memutus komunikasi dengan Tuhan. Astagfirulloh

    ReplyDelete
  8. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Seperti yang kita tahu, peradaban yang diciptakan telah membuat kebanyakan dari kita terlena. Adanya fasilitas yang memadai, kecanggihan teknologi, dan segala kebutuhan yang serba ada dan juga mudah untuk diakses membuat kita lupa untuk beribadah. Kesenangan duniawi yang ditawarkan dalam kehidupan saat ini telah menutupi dan membuat kita lupa tentang kebahagiaan kekal yang telah dijanjikan oleh Allah SWT diakhirat kelak. Jika ini dibiarkan terus menerus, tentu akan membahayakan kehidupan kita. Seharusnya kehidupan spiritual tetap menjadi patokan utama dalam menjalani kehidupan ini. Oleh karena itu, kita harus selalu mawas diri dengan menggunakan akal dan pikiran kritis kita agar kita tidak melupakan kehidupan beragama.

    ReplyDelete
  9. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Pelajaran yang dapat saya ambil dari elegi di atas bahwa jiwa spiritual itu penting. Dengan spiritual kita bisa mendekatkan diri kepada Allah. Dari elegi di atas, Mereka banyak yang lalai dengan kewajibannya, mereka tergiur dengan kemewahan dan kesenangan di dunia padahal kehidupan di dunia tidak kekal. Kehidupan yang kekal dan abadi kelak di akhirat.
    Kepentingan di dunia dan di akhirat hendaknya harus seimbang dan harmonis.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  10. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Manusia ditakdirkan dengan sifat lupa. Sehingga lupa merupakan hal yang manusiawi dan siapa saja bisa mengalami lupa. Akan tetapi ketika seorang manusia lupa akan kewajibannya beribadah kepada TuhanNya, maka lupa tersebut tidaklah bisa disebut manusawi. Seperti analogi dalam elegi yang Prof. ulas di atas, menunjukkan bahwa ketika sesorang sudah merasakan nikmat yang senikmat-nikmatnya dalam urusan duniawi dan mereka merasa nyaman di dalamnya sehingga lupa akan kewajibannya beribadah, tentu hal tersebut sangat dilarang oleh agama (islam). Allah SWT berfirman dalam Q.S. Ar Rum : 7 yang artinya “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai". Jadi, sebagai makhlukNya sudah menjadi kewajiban kita untuk beribadah kepada Allah SWT dengan segala kondisi.

    ReplyDelete
  11. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Elegi di atas menggambarkan bahwa semakin canggih, semakin berkembang, dan semakin modern suatu daerah, hampir dipastikan manusia di dalamnya akan semakin jauh dari Tuhannya. Wajar saja kalau rumah ibadah diniatkan untuk dijual saja, mengingat di dalamnya kosong, tidak terawat, dan tidak ada jamaahnya. Mungkin agama hanya untuk formalitas belaka. Mengaku beragama tapi mengabaikan perintah Tuhan. Maka bisa dikatakan bahwa Tuhannya manusia zaman ini adalah teknologi, gadget, acara TV, pekerjaan, uang, dan hal-hal menarik lainnya.

    ReplyDelete
  12. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Saya memahami rumah yang teralalu besar di sini adalah dunia. Tuhan menjadikan manusia khalifah di muka bumi. Maka tugas manusia yang sebenar-benarnya adalah merawat dunia dan isinya. Manusia dilarang berbuat kerusakan dan berselisih paham. Namun perkembangan zaman menjadi godaan yang membuat manusia membangun disharmoni di muka bumi. Padahal Tuhan mengarahkan manusia untuk merawat dan menjadi sarana untuk mendekatkan diri dan bertasbih kepada Tuhan yang mahakuasa.

    ReplyDelete
  13. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Bagian yang hanya dianggap penting dan menyenangkan bagi dirinya, tetapi tidak memikirkan untuk yang lainnya, tidak lain dan tidak bukan itu merupakan sifat egois dari seseorang. Egois terhadap diri sendiri, egois terhadap material, egois terhadap sunatullah, egois terhadap Sang Pencipta. Penyebab dari adanya egois karena tidak bersyukur dengan segala kemudahan, kenikmatan, kebahagian yang telah Allah berikan. Bagimana tidak disebut egois, untuk urusan kerja berjam-jam saja mampu bahkan merasa kurang, sedangkan untuk melaksanakan ibadah yang hanya beberapa menit saja tidak memiliki waktu, Astagfirullahaladzim. Itulah sebenar benar kacau pikiran dan kacau hati. Jika sudah kacau hati, maka dengan mudahlah seseorang untuk mempermainkan agamanya sendiri. Naudzubillah.

    ReplyDelete
  14. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Ketika fasilitas dan kenyamanan di dunia sudah semakin luar biasa tersedia dan kepentingan dunia sudah mampu menghabiskan waktu, semua itu dapat menggerus spiritual yang telah dimiliki. Setelah membaca postingan Bapak, ternyata terkadang seseorang tidak menyadari bahwa dirinya telah menggerus sendiri spiritualnya dan melupakan ibadahnya. Pada zaman sekarang ini manusia memiliki tantangan besar untuk mempertahankan spiritualnya. Semoga kita semua selalu terjaga dalam beribadah kepada Allah dan dapat selalu menempatkan spiritual di atas kepentingan dunia.

    ReplyDelete
  15. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Berdasarkan elegi ini berisi pesan tersirat bagi kita, seberapa besarpun rumahmu atau duniamu, jika tidak diisi dengan ibadah maka sia-sialah. Seperti sebuah negara jika tidak berpedoman atau menomor satukan Tuhan sebagai kewajiban makhluk ciptaan-Nya maka hilanglah rumah yang sesungguhnya, yaitu rumah ibadah. Rumah besar tanpa adanya rumah ibadah akan berdiri tanpa adanya tujuan yang jelas, karena hanya memikirkan bagaimana bisa hidup di dalamnya. Namun jika diisi dengan beribadah kepada Tuhan maka bagaimana hidup akan lebih terarah dan hidup yang tentram akan tercipta.

    ReplyDelete
  16. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Rumah besar dalam elegi di atas menganalogikan kota metropolitan, yang katanya semuanya lengkap, apapun yang dicari ada di dalamnya. Namun lengkap disini sebenarnya lengkap dalam artian duniawi, lengkap di dalamnya adalah lengkap yang bersifat materialistis. Dalam kehidupan di rumah besar ini, apabila tidak diiringi dengan spiritual akan menjadi berbahaya. Orang-orang akan lebih mementingkan kesenangan duniawi dan melupakan tugas utamanya, yaitu beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai umat beragama hendaknya kita semakin mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa agar selalu dilindungi dan terhindar dari propaganda powernow.

    ReplyDelete
  17. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Elegi Menyesali Rumahku Yang Terlalu Besar, postingan mengumpamakan rumah besar adalah kota metropolitan. Dimana pada rumah besar ini terlalu banyak hiburan yang ada tanpa memikirkan tempat peribadatan yang semestinya. Ini sangat disayangkan, kita harus ingat bahwa dalam hidup yang terpenting adalah tercapainya surga di akhirat, jadi jangan hanya surga dunia yang kita bangga-banggakan. Pada kota metropolitan, semakin canggih zaman maka semakin maju tingkat hura-hura, wisata, dan yang tidak bermanfaat lainnya. Seharusnya, kita hidup pada kota metropolitan , kita harus tetap mengutamakan agama. Boleh saja kita menikmati fasilitas yang ada tapi tanpa mengenyampingkan agama untuk bekal kita di akhirat.

    ReplyDelete
  18. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi yang bapak sampaikan selalu mengandung makna yang dalam dan membuat mengena di hati, kalau bahasa sekatang “mak jleb-jleb”. Elegi yang bapak sampikan awalnya menggunakan analogi analogi yang kemudian mengandung arti yang mendalam, layaknya dalam elegi menyesali rumahku yang terlalu besar. Menurut saya elegi diatas yang berupa rumah yang besar ini adalah dunia ini. Dimana ia sangat luas cakupannya, luas bidangnya, dan canggih. Hal ini diketahui karena ia mencakup udara, laut dan tanah. Kemudian ada juga strukturnya, struktur atas, tengah dan bawah. Artinya semua bangunan. Disisi lain fakta lain bahwa bangunan bangunan di dunia ini sangat megah dan canggih namun sungguh untuk merawatnya sangat butuh kekuatan ekstra juga. Bahkan ada juga yang akan mengatakan bahwa bangunan atau rumah ini mubazir.
    Disampaikan terdapat pula aspek spiritual dimana dianalogikan dengan tempat ibadah, dikatakan bahwa tempat ibadah jarang diperhatikan. Ini seperti kehidupan kita pada zaman ini, dimana saat ini kebanyakan orang mengabaikan aspek akhiratnya, dimana fenomena ini bisa disebut fenomena komte. Yang bisa kita ambil hikmah dari elegi ini yaitu agar kita bisa menjaga dunia ini mengetahui seluk beluk kehidupan ini pun selalu dekat dengan Sang Pencipta, jangan sampai kita mengabaikan aspek spiritualitas.

    ReplyDelete
  19. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Terimakasih prof. Marsigit atas ulasan di atas. Seperti yang kita tahu segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik bahkan hasilnya akan lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya. Pengibaratan yang sungguh masuk akal, ketika seseorang lebih cinta dunia, memiliki harta kekayaan yang berlebihan sampai ia sendiri tidak mampu merawatnya, maka ibadahlah yang dikorbankan. Maka agamalah yang berani ia pertaruhkan. Maka keyakinanlah yang menjadi ia lenakan. Maka urusan dengan Tuhanlah yang sering ia abaikan dan lupakan. Sungguh miris, sombong sekali jika seorang manusia tidak mengenal atau bahkan melupakan Tuhannya. Bagaiamana bisa ia hidup tanpa landasan spiritualnya yang cukup kuat. Sungguh ia merasa hebat hingga ia telah menduakan dan mempersekutukan Tuhannya dengan yang lain. itulah tantangan besar yang dimiliki manusia saatini, bagaimana seharusnya ia mampu berusaha untuk mempertahankan spiritualnya di jaman kontemporer dan penuh kecanggihan teknologi seperti sekarang ini. Semoga kita semua selalu terjaga dalam beribadah kepada Allah dan dapat selalu menempatkan spiritual di atas kepentingan dunia. Amin, Wallahu'alam bishowab

    ReplyDelete
  20. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Rumah adalah tempat berteduh oaking aman. Rumah menjadi gambaran pemiliknya. Tergambar dalam elegi ini bahwa rumah yang besar tak selamanya membawa kenyamanan, karena rasa nyaman itu berada dalam diri sendiri. Mengapa tak nyaman di rumah yang besar? Hanya satu yang bisa saya pikirkan, kurang bersyukur. Jika telah diberikan tanggungjawab berupa rumah yang besar mengapa disia-siakan dan malah menganggapnya terlalu besar? Hanyalah alasan untuk kemalasan belaka.

    ReplyDelete
  21. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Elegi di atas menggambarkan peradaban manusia. Sekali kita belajar, bahwa kita tidak boleh gegabah mengambil tindakan karena akibatnya bisa panjang dan menimbulkan masalah lainnya. Sebuah Negara diibaratkan rumah besar dan penduduk adalah rakyatnya. Jangan sampai menyamakan diri dengan Negara lainnya.Kita harus mampu menilik apa yang kita punya, apa potensi yang kita bisa kembangkan, bisnis, social ekonomi dan aspek lainnya. Menjadi pemilik dan penjaga dirumah sendiri adalah halyang harus dilakukan untuk menjalankan dan memajukan peradaban menjadi lebih baik, karena rumah tanpa pemilik juga tidak bisa dijalankan sedemian juga dengan pemilik tanpa rumah juga tidak akan bisa menjalankan peradaban sehingga pemilik dan rakyatnya harus selalu saling menukung. Jangan sampai kita terlalu meniru Negara lain sehingga kita kehilangan identitas. Maka itu berbahaya dan menghancurkan. Kita tidak boleh sombong dan gegabah.

    ReplyDelete
  22. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Sifat sombong merupakan salah satu sifat yang melekat pada manusia. Padahal sifat sombong adalah sifat yang tercela dan apabila terus dibiasakan akan menyebabkan orang tersebut menjadi pribadi yang tidak bersyukur. Padahal hakikatnya setiap orang akan saling bergantung pada orang lain karena manusia merupakan makhluk sosial. Sebagai manusia yang saling membutuhkan tidak ada halnya untuk menjadi manusia yang sombong, merasa paling berkuasa, merasa mengetahui segalanya, merasa sudah paling kaya. Tetapi kits harus sadar bahwa dari kesombongan tersebut kita hanyalah pasir kecil dari sekian trilyunan pasir yang ada di dunia ini dan tidak ada tandingan sama sekali dengan Tuhan.

    ReplyDelete
  23. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  24. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Sesal memang kosa kata yang menjengkelkan jika diingat-ingat. Namun, sesal tak boleh larut di pikirkan yang terpenting bagaimana kita dapat mengelola dan memandang masa depan. Rumah besar pada elegi diatas mengibaratkan negara kita ini yakni Indonesia, Negara dengan ribuan pulau dan hamparan lautan luas merupakan tantangan untuk merawat secara baik. Perawat negara ini perlu kerjasama antara pemilik rumah, penduduk rumah dan segala elemen lain yang mendukung dan bukan malah berjalan sendiri-sendiri dan silaturahmi merupakan hal penting agar dapat mengkomunikasikan antara pemilik rumah dan penduduk rumah hingga terciptanya strategi yang tepat untuk merawat rumah kita bersama. Terima Kasih

    ReplyDelete
  25. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Penyesalan selalu datang terlambat. Tetapi ini bisa menjadi suatu pelajaran bagi kita ketika kita ingin melakukan sesuatu sebaiknya direncanakan secara matang. Contohnya saja dalam membangun rumah, dimana pada era modern sekarang sudah banyak desain-desain bangunan rumah dari yang minimalis, klasik hingga glamour. Itulah salah satu faktor yang membuat kita semakin konsumtif. Sifat konsumtif dapat dikurangi apabila kita paham betul akan kebutuhan kita sebagai makhluk hidup. Misalnya dalam membuat rumah, mungkin sekarang kita memiliki anak banyak sehingga perlu rumah yang cukup luas, tetapi ingatlah ketika masa tua nanti anak-anak kita akan menjalani hidup mereka masing-masing, sehingga kita baru sadar bahwa rumah yang besar ini hanya ditingga berdua atau bertiga saja ketika kelak anak-anak sudah berumah tangga. Begitulah cerita yang sering saya dengar dari kakek dan nenek saya.

    ReplyDelete