Oct 14, 2011

Elegi Menyesali Rumahku Yang Terlalu Besar




Oleh Marsigit

Rumah Besar:

Wahai pemilik rumah, kenapa engkau terlihat kurang merawatku. Padahal aku telah engkau bangun dengan biaya yang sangat besar dan melibatkan semua potensimu. Engkau juga tidak membangun rumah ini hanya sendirian. Beberapa generasi sebelummu dan generasimu sekarang juga masih terus terlibat pembangunan rumahmu ini. Bahkan petualangan generasi pendahulumu menjajah Bangsa-bangsa lain itupun dalam rangka membangun rumah ini. Aku telah tercipta menjadi rumah super lengkap, super canggih dan supermodern. Aku itulah sebenar-benar Mega Proyek bangsamu itu. Maka tolong rawatlah diriku dengan baik.



Pemilik Rumah:
Oh maaf....wahai rumahku yang tercinta. Maaf aku sampai sedikit tidak merawat dirimu. Bukanlah aku sengaja melupakan dirimu, tetapi ketahuilah...dikarenakan dirimu terlalu besar itulah maka aku sendiri hampir tidak dapat mengenali dirimu lagi. Apalagi jika harus mengingat-ingat detail dari bangunanmu, disamping datanya sudah hilangg karena terlalau lamanya, tetapi juga karena engkau sudah terlalu rumit dipahami. Bagaimana aku bisa merawat dirimu dengan baik, jika aku sendiri lupa dan tidak paham bagian-bagianmu. Tolong..wahai rumah besarku...ceritakan kepadaku sepintas saja tentang ciri-cirimu, fungsi dan manfaatmu, agar aku bisa mengingat-ingatmu kembali.

Rumah Besar:
Baik tuanku. Aku si Rumah Besar adalah salah satu pusat peradaban dunia. Aku dibangun selama berabad-abad tidak hanya oleh satu generasi tetapi oleh lebih dari 5 generasi. Maka aku telah tercipta menjadi sebuah rumah besar yang paling lengkap di dunia. Aku juga akan berbangga hati jika para penghuniku menjulukiku sebagai Metropolitan. Puncak prestasi dan pencapaianku adalah aku merasa mampu menyediakan semua dan segala kebutuhan penghuni-penghuniku. Saya ulangi, aku merasa mampu menyediakan semua dan segala kebutuhan penghuni-penghuniku.

Pemilik Rumah:
Ntar dulu..jangan tergesa bicara manfaat atau fungsi. Ceritakan dulu siapa yang membangunmu dan bagaimana membangunnya.

Rumah Besar:

Baik tuanku. Aku dibangun sejak abad 16. Mulanya aku adalah pusat kerajaan, tetapi karena kerajaannya berkembang pesat maka mulailah diperlukan pengembangan. Apalagi setelah kerajannmu itu mampu menjajah bangsa-bangsa lain di dunia, maka hasil jajahan dan jarahannya itu dapat digunakan untuk memperbesar rumahmu ini. Jadilah sekarang aku sebagai salah satu rumah terbesar di dunia, dan menjadi salah satu ikon di dunia.

Pemilik Rumah:
Sebutkanlah ciri-ciri atau strukturmu itu?

Rumah Besar:
Begitu besarnya rumahmu itu, maka untuk mengetahui detailnya, tidak cukup kalau hanya dilihat dari dari darat saja. Maka aku sarankan agar engkau mengamati dan menelitiku juga dari udara, darat, laut dan dari bawah tanah.

Pemilik Rumah:
Lho..mengapa mesti harus mengamati dari udara, laut, darat dan bawah tanah?

Rumah Besar:
Itulah kehebatan rumahmu. Sangking besarnya rumah ini sehingga engkau sendiri kewalahan untuk memahaminya. Saya teruskan.... Ketahuilah bahwa Rumah Besarmu ini terdiri dari 3 (tiga) struktur, yaitu struktur atas, struktur tengah dan struktur bawah.

Pemilik Rumah:
Tolong jelaskan lebih rinci tentang struktur atas, struktur tengah, dan struktur bawah?

Rumah Besar:
Struktur atas meliputi gedung-gedung pencakar langit, menara, center point, gondola, kereta gantung, jembatan layang, monoreel, pusat pengendali informasi, restoran terbang, taman gantung, teater angkasa, lapangan gantung, kolam renang gantung, ..terowongan udara..dst. Struktur tengah meliputi bangunan rumah-rumah penduduk, tempat peribadatan kuno, lapangan, rel KA, jalan raya, toko-toko, taman kota, dst. Sedangkan struktur bawah meliputi Under Ground Tube, Under Ground Railway Station, gedung tingkat 10 (sepuluh) tetapi menjulang kebawah, pasar bawah tanah, sirkus bawah tanah, kolam bawah tanah, taman bawah tanah, gondola bawah tanah, pusat pengendali bawah tanah, teater bawah tanah, sepak bola bawah tanah, mall bawah tanah, restoran bawah tanah, jembatan bawah tanah, terowongan bawah tanah..dst.

Pemilik Rumah:
O..oo..oo sayang terlalu kecil otakku itu, sehingga aku banyak melupakan kekayaanku itu. Jangankan merawat dan memanfaatkan dirimu, mengingat dirimu saja aku sudah mulai kesulitan. Coba teruskan sebut ciri-ciri yang lain dan juga siap saja penghuninya dan bagaimana karakteristiknya.

Rumah Besar:
Itulah diriku...si Rumah Besar milikmu. Sebagai akumulasi bangunan yang dibuat oleh beberapa generasi dengan megambil kemakmuran seluruh dunia untuk membiayainya, maka sempurnalah diriku itu. Segala kebutuhanmu dan kebutuhan penghuni-penguhinya terjamin ada dan sangat memuaskan. Semuanya ada di sini. Tidak hanya kebutuhanmu dan kebutuhan mereka, maka semua yang engkau pikir dan akan engkau pikir sudah aku sediakan di sini. Jadi tak usah khawatirlah...begitu.

Pemilik Rumah:
Tetapi....kenapa engkau mengeluh kurang perawatan?

Rumah Besar:
Itulah imbalan atau tuntutanku dari kamu sebagai pemiliknya dan dari mereka sebagai penghuninya. Tidaklah ada yang gratis di rumahku itu. Itu adalah syarat-syarat yang sudah kita tetapkan bersama. Agar aku tetap besar dan akan selalu menjadi besar maka semua penghuniku harus memberi tebusannya yang sepadan kepada diriku.

Pemilik Rumah:
Bagaimana jika ada penghuni yang tidak bisa merawat karena tidak mampu membayar?

Rumah Besar:
Itulah hukumnya tuan. Seperti yang telah aku katakan di muka, tidaklah ada yang gratis di rumah ini. Maka bagi mereka yang tidak mampu merawat dan tidak mampu membayar akan aku usir dari rumah ini. Jika mereka tetap tidak mau pergi dan ingin tinggal di rumah ini ya terpaksa mereka harus mau menjadi kerak-kerak atau sampah atau kotoran yang siap menghuni tempat-tempat atau bak sampah..begitu.

Pemilik Rumah:
Wahai para penghuni Rumah Besarku, bagaimanakah kesan-kesanmu mendiami rumah ini?

Para Penghuni Rumah:
Wahai pemilik rumah..sungguh rumah ini sangat mengagumkan. Aku sangat puas dengan fasilitas yang ada di rumah ini. Semua kebutuhanku ada semua di rumah ini. Jangankan kebutuhan, semua yang aku pikir dan akan aku pikirpun sudah ada di sini.

Pemilik Rumah:
Wahai penghuni rumah...tetapi kenapa engkau tidak mampu merawat semua bagian dari Rumah Besar ini?

Para Penghuni Rumah:
Bagian yang mana yang tidak aku rawat? Yang mana yang tidak aku manfaatkan?

Pemilik Rumah:
Itu ada tempat peribadatan sudah satu abad tidak dipakai, dibiarkan saja kosong tidak digunakan sebagai mana mestinya.

Para Penghuni Rumah:
Wahai pemilik rumah. Seumur hidupku, jika engkau menyuruhku untuk menjelajahi rumah ini maka aku tidak akan mampu. Seperti halnya dirimu dan juga penghuni yang lain. Maka cara saya menghuni rumahmu itu adalah dengan menjelajahi bagian-bagian yang saya anggap penting dan menyenangkan saja. Hal yang penting dan menyenangkan bagi diriku ternyata juga sama dengan penghuni yang lain.

Pemilik Rumah:
Ya..ya..tetapi jelaskanlah mengapa engkau abaikan itu tempat ibadah?

Para Penghuni Rumah:
Wahai pemilik rumah..janganlah engkau berlaku munafik terhadap diriku. Aku melihat engkau juga merasakannya. Bukankah dengan kelengkapan, dengan kecanggihan, dengan fasilitas yang serba ada ini, maka rumah ibadah itu menjadi tidak penting dan tidak menarik?

Pemilik Rumah:
Kenapa rumah ibadah tidak menarik?

Para Penghuni Rumah:

Bukankah engkau sendiri yang menciptakan berbagai macam hiburan. Di rumah ini sudah sangat lengkap ada berbagai hiburan dan kegiatan, sepak bola atas tanah, sepak bola bawah tanah, circus atas tanah, circus bawah tanah, teater atas tanah, teater bawah tanah, taman atas tanah, taman bawah tanah, ...semuanya...atas tanah...bawah tanah...atas tanah...bawah tanah.. Belum lagi fasilitas dan hiburan yang tergantung di atas langit...wah..wah sungguh sempurna bangunan ini. Seumur-umur saya jika engkau suruh aku menikmati hiburan di bawah tanah saja aku belum cukup waktu untuk menikmati semuanya. Singkat kata, bagi diriku dan bagi penghuni yang lain, ibadah itu jadi terasa hambar, kurang bermakna, kurang relevan dan tidak sinkron dengan lingkungan. Jangankan beribadah, berkeluarga atau mempunyai anak saja aku tidak sempat, sangking banyaknya dan hobinya bekerja. Rumah Besarmu itu ternyata tidak hanya menyediakan tempat tinggal, dia juga memberi dan menawarkan banyak sekali pekerjaan. Aku dan para penghuni Rumah Besar ini menjadi sangat sibuk sekarang. Aku selalu kekurangan waktu untuk menelusuri Rumah Besar ini. Untuk kegiatanku sehari-hari, ibaratnya 30 jam perhari masih saja aku kekurangan waktu, 9 hari perminggu juga masih merasa kurang waktu, 40 hari perbulan atau 15 bulan pertahun, aku selalu kekurangan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaanku. Dari ribuan jalan dan gang yang ada di Rumah Besar ini, seumur-umur hidupku paling banter aku hanya bisa menelusuri puluhan saja.

Pemilik Rumah:
Baik..katakanlah aku ingin mengetahui bagaimana perasaanmu sekarang, apa kecenderungan, tontonan atau hiburan apa yang paling favorit bagimu semua dari dalam Rumah Besar ini?

Penghuni Rumah:
Untuk satu generasiku ini, maka mereka semua sedang gandrung dengan sepak bola, ..maka semua yang penting, semua yang dirasakan, semua yang dijual, semua yang dipikirkan adalah sepak bola. Wah luar biasa...sepak bola itulah hidup dan matiku sekarang ini. Sepak bola itulah hidup dan matinya para penghuni rumah ini termasuk dirimu tentunya.

Pemilik Rumah:
Wah..hah..cocok..cocok..ternyata keteranganmu itu dapat mewakili pikiran dan jiwaku. Lalu sebaiknya gemana?

Para Penghuni Rumah:

Aku usul kepadamu...dari pada susah-susah merawat tempat ibadah..lebih baik di jual saja. Nah uangnya kan bisa untuk nonton bal-balan bareng, nonton film bareng, berenang bareng, circus bareng, piknik bareng..dst...bareng.

Pemilik Rumah:
Whus..lha nanti kalau ditanya tentang agama? Apa pula agama kita itu jika tempat ibadah dijual?

Para Penghuni Rumah:
Gak usah khawatir..katakan saja agama kita adalah Sepak Bola,...gitu aja kok repot.

Pemilik Rumah:
Lha Rumah Besar kita jadinya akan diberi nama apa?

Para Penghuni Rumah:

Rumah Besar kita ini beri nama saja Kota Metropolitan...boleh London..boleh Tokyo...boleh New York...boleh...bahkan boleh Jakarta.

Pemilik Rumah:
Lho kalau begitu ...pas...kita juga akan memperbesar rumah kita dengan slogan “Mega Proyek Indonesia”?..begitu..?

Para Penghuni Rumah:
Saya agak khawatir jangan-jangan itu hanya mimpi? Atau sekedar konsumsi penyejuk ruangan saja. Lihat tuh...jangankan Indonesia...Negara supertangker Dubai saja akhirnya terlilit dan terjerat hutang dan bangkrut negaranya, gara-gara ambisi yang sama?. Tetapi jika slogan itu serius dan mampu diwujudkan, ya jadinya pas juga dengan persiapan kita menjual rumah ibadah dan mengganti agama kita dengan Bal-Balan. Gitu dheh...?

30 comments:

  1. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Memang benar bahwa kota-kota besar di dunia seperti London, Tokyo, New York, bahkan Jakarta mulai kehilangan unsur spiritualnya walupun unsur duniawi nya lengkap dan canggih. Dalam elegi menyesali rumahku yang terlalu besar diceritakan penghuni rumah dan pemilik rumah telah menjual rumah ibadah demi sepak bola. Walaupun sarana dan prasana di perkotaan serba lengkap dan canggih namun di perkotaan tingkat individualisme, kriminalistas, konsumsi lebih tinggi dari pedesaan. Dengan lengkapnya unsur duniawi apakah masyarakat di perkotaan benar-benar bahagia?

    ReplyDelete
  2. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Pelajaran yang bisa diambil dari elegi ini adalah bahwa kita harus mengerti dan bertanggungjawab atas apa yang menjadi tugas dan kewajiban di mana kita berada, sehingga semua bisa berjalan sebagaimana mestinya sesuai dengan tujuan yang akan kita capai.

    ReplyDelete
  3. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Elegi Menyesali Rumahku yang terlalu besar, elegi ini menggambarkan rumah yang terlalu besar ini adalah dunia yang begitu lengkap adanya. Namun terkadanag kita tidak menyadari adanya fasilitas yang lengkap di dunia ini karna ada Tuhan yang menciptakannya. Terkadang kita bisa menyempatkan untuk menonton bola padahal itu tengah malam, namun kita tidak bisa menyempatkan bangun tengah malam untuk beribadah kepada-Nya. Sama halnya, ketika kita punya ilmu banyak dari Allah tapi kita tidak mampu membagikannya kepada orang lain, maka ilmu yang kita miliki itu sangat sia-sia. Sungguh menyesal bukan? Jadilah hamba yang taat dan bermanfaat untuk orang lain.

    ReplyDelete
  4. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Seperti pada elegi inilah hasilnya jika kediaman hanya dibangun di atas nafsu dan keinginan buas belaka. Rumah yang seyogyanya menjadi tempat nyaman untuk melepas penat dan lelah beralih fungsi menjadi tempat yang menipu belaka, kenapa demikian, karena rumah hanya menawarkan hal-hal manis sementara sesungguhnya merugikan pemiliknya. Bagian rumah tidak seimbang dimana tempat ibadah di rumah diabaikan menunjukkan ruh penghuni rumah kosong akan rohaninya sedangkan tempat kesenangan sementara atau kemaksiatan berjamur di bagian sudut manapun di rumah dengan jumlah penghuni yang seakan tiada berhenti mengunjunginya. Beginilah keadaan rumah negeri kita tercinta saat ini. Oleh karena itu marilah kita bersama-sama memulai dari diri sendiri, keluarga dan generasi muda untuk menyeimbangkan keselarasan kehidupan dengan dasar spiritual yang baik dan keinginan kuat demi damainya negeri ini.

    ReplyDelete
  5. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Dalam elegi ini, rumah sesar adalah kota metropolitan seperti New York, Tokyo, bahkan Jakarta. Rumah besar yang memiliki fasilitas yang lengkap. Di dalam rumah besar, segala jenis hiburan disediakan seperti taman bermain, bioskop, mall, dan banyak lainnya. Sayangnya hanyalah orang- orang kaya yang mampu membayar sedangkan orang- orang miskin yang tinggal disana hanya akan menikmati tempat- tempat kumuh. Seperti itulah kesenjangan sosial yang mudah kita lihat di kota- kota metropolitan. Sayangnya denan begitu banyak kemewahan yang ada dimetropolitan yang hanya dapat dinikmati orang-orang kaya menjadikan semua orang berlomba-lomba mencari uang dan jauh akan Tuhan.

    ReplyDelete
  6. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Tempat ibadah yang menjadi sarana manusia mendekatkan diri dengan Allah SWT sekarang ini menjadi tempat yang terisolasi bagi orang-orang yang tidak lagi mengenal agamanya. Mereka berfikir dunia inilah segala-galanya yang dapat memberikan kebahagian. Mereka tidak ingat bagaimana janji mereka dengan Allah SWT ketika mereka masih berada di alam sebelum terlahir di dunia ini. Mereka bahkan lupa bahwa seluruh kesenangan yang mereka dapatkan di dunia ini hanyalah 1% yang Allah berikan untuk orang-orang yang memilih kebahagian dunia daripada kebahagiaan akhirat yang kekal untuk selama-lamanya.

    ReplyDelete
  7. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Menurut saya penyebab dari perasaan rumah (tempat ibadah) yang besar dari elegi ini adalah karena hati kita yang kosong. Hati yang kosong akan menyebabkan mudah diisi oleh apapun termasuk perasaan curiga, kecewa, terkhianati, bahkan rasa tidak percaya. Hal tersebutlah yang menyebabkan kadang kita melupakan kewajiban kita yaitu untuk beribadah. Oleh karena itu untuk menanggulanginya yaitu dengan selalu setia dalam mencari ilmu dan mengisi kekosongan hati tersebut dengan ilmu agama agar selalu terhindarkan dari kekosnongan hati.

    ReplyDelete
  8. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Rumah adalah sebuah bangunan yang apabila pondasinya kuat maka akan kuatlah bangunan di atasnya, yaitu rumah tersebut. Setelah kita membangun rumah, kita tidak boleh hanya membiarkan rumah tersebut dengan tanpa perawatan. Kita harus selalu merawat, membersihkan, menghiasi, dan sebagainya. Seperti halnya diri kita. Kita adalah manusia, dengan pondasi Iman dan Taqwa. Kita harus memperkokoh iman dan taqwa kita sehingga kita mampu dengan kuat untuk menjalani kehidupan ini. Kita harus senantiasa merawat diri kita dengan cara beribadah, dan hal-hal lain yang mampu menguatkan pondasi kita

    ReplyDelete
  9. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. Dunia ini berkembang, begitu pula ilmu. Ilmu berkembang menjadi lebih besar dengan banyak orang yang semakin memikirkannya. Tapi karena perkembangan ilmu itu juga banyak orang yang semakin melupakan ilmu, ia dianggap menjadi terlalu luas dan rumit untuk dipelajari. Begitu pula sebuah negara, indonesia ini kaya akan kekayaan alam. Orang-orangnya berusaha mengikuti arus modernisasi dengan terus melakukan pembangunan. Gedung-gedung dibuat dengan megah nan mewah hanya untuk dijadikan gedung kosong penuh debu dan ilalang. Ketika pembangunan selesai orang-orang lupa apa tujuan dibangunnya gedung sehingga ia ditinggalkan.

    ReplyDelete
  10. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Elegi ini mengingatkan saya pada mulai berkurangnya perhatian banyak orang tentang agama. Sungguh, hal-hal di atas memang telah sering kita temukan. Satu contoh saja, di kebanyakan pusat-pusat perbelanjaan (supermarket, mall, dll) akan sulit mencari tempat ibadah, terkadang ada hanya satu di pojok lantai bawah, dan luasnya tak seberapa dibandingkan luasnya mall itu sendiri. Padahal pusat-pusat perbelanjaan ini banyak diminati masyarakat dan ramai dikunjungi setiap waktu. Seseorang bisa menghabiskan waktu seharian untuk menjelajahi pusat perbelanjaan itu hingga lupa waktu, baik itu mencari baju, menonton film, dan lain sebagainya. Pun terkadang adzan tak terdengar dari tempat-tempat ini. Sungguh kini banyak manusia lebih senang disibukkan dengan urusan dunia daripada agamanya. Naudzubillah. Semoga kita tidak termasuk salah satu diantaranya. Semoga Allah melindungi kita dari tipu daya dunia. Aamiin.

    ReplyDelete
  11. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Memiliki rumah yang besar, kota yang besar, dan negara yang besar adalah sama saja hakikatnya. Meskipun besar dan nyaman, namun membutuhkan perawatan yang setimbang dengan apa yang telah ada. Budaya peduli dan sadar diri dari para warganya perlu dilestarikan. Seperti di awal tadi telah dikatakan bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Ketika kesenangan dan kenyamanan telah didapatkan sebagai buah dari modernisasi, sejalan dengan itu, banyak yang lupa akan hakikat syukur. Bahkan, mereka rela untuk menukar sarana ketaatan terhadap Tuhan dengan kesenangan duniawi yang melenakan. Untuk menghindari segala kelebihan kenikmatan semu ini maka kita harus banyak berlatih selektif, kontrol diri, dan bersyukur dengan apa yang telah ada. Dan tidak mudah menuntut dengan apa yang seharusnya tidak ada.

    ReplyDelete
  12. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Seringkali sebuah bangsa atau bahkan peradaban hanya mementingkan pembangunan fisik dari negaranya. Gedung-gedung dibangun, jalan-jalan diperbaiki, pusat perbelanjaan didirikan. Sekolah-sekolah diperbanyak. Namun ia melupakan satu hal, bahwa majunya sebuah peradaban tergantung dari sumber daya manusianya. Sedangkan sumber daya manusia tidak hanya dibangun dari sisi intelektualnya saja, namun juga sisi akhlaknya sehingga menghasilkan manusia-manusia yang yidak hanya cerdas namun juga memiliki akhlakul karimah atau akhlak yang baik. Domain akhlak yang baik inilah yang sebenarnya merupakan buah dari penguatan atau pendidikan agama.

    ReplyDelete
  13. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Rumah adalah suatu wadah. Semakin besar suatu rumah, maka idealnya isinya juga semakin banyak dan beraneka ragam. Sebetulnya tidak akan ada masalah jika rumah yang besar dengan segala isinya ini dapat dikelola dengan baik. Tentu akan mendatangkan manfaat. Namun jika dalam mengelolanya gagal, apa yang akan terjadi? Bisa jadi kehancuran. Maka dari itu, disetiap rumah atau wadah, setiap isinya harus mampu dibangun secara harmonis. Harus berimbang antara keduniawian dan spiritualitas. Jika spiritual dan duniawi sudah mampu berjalan secara harmonis, sesungguhnya rumah yang besar dengan segala aneka ragam isinya akan memberikan berkah.

    ReplyDelete
  14. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Rumah terlalu besar menggambarkan kerenggangan hubungan antara anggota keluarga yang menghuninya. Rumah yang besar diibaratkan sebagai sebuah kota metropolitan misalnya London, New York, dan Jakarta. Dimana di kota-kota tersebut besar sekali tingkat kerenggangan antara warganya meskipun fasilitas yang ada sangat memadai.

    ReplyDelete
  15. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Manusia sebagai seorang yang berpikir, maka sudah barang tentu manusia penuh dengan kegiatan, entah itu pekerjaan, ataupun hal lainnya. Kegiatan manusia bisa diskala dari yang serius sampai tidak serius. Artinya hampir selama 24 jam kita menghabiskan waktu untuk kegiatan-kegiatan tersebut. Maka sebaik kegiatan manusia adalah seimbang antara dunia dan akhirat.

    ReplyDelete
  16. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Kegiatan manusia selalu dibatasi oleh ruang dan waktu, artinya ruang dimana manusia berada dan waktu yang terbtas 24 jam. Apabila kita melakukan kegiatan, apapun itu, sudah sepantasnya kita mengahdirkan niat ibadah dalam kegiatan kegiatan kita. Ruang dan waktu kita terlalu berharga untuk dihabiskan tanpa niat ibadah kepada Alla Swt

    ReplyDelete
  17. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Elegi ini seperti gambaran hubungan manusia dengan alam sekitarnya yang semakin ke arah sini, arus globalisasi semakin derasnya. Pembangunan yang terus dikebut untuk dapat terus bersaing di dunia internasional membuat banyaknya kekacauan yang ditimbulkan dibalik keuntungan yang dihasilkan. Tanpa melihat manayang dirugikan, pemerintah terus mengebut apa yang ingin dicapai atau yang sudah ditargetkan demi hanya “memenuhi janji” belaka. Manusia sebagi penghuni harus sadar dengan sebab dan akibat dari semua ini. Seperti hak dan kewajiban akan suatu hal yang sudah dibangun pemerintah. Seperti halnya, merawat bangunan publik yang ditunjukan bagi khalayak umum.

    ReplyDelete
  18. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Elegi menyesali rumahku yang terlalu besar yang menggambarkan dunia yang luas dilengkapi dengan segala sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan kita sebuah gambaran akan kebesaran dan kekuasaan serta bentuk kemurahan hati Allah SWT kepada umatnya, namun terkadang kita terlalu menikmati dan larut dalam segala urusan dunia, berusaha memenuhi dan mengejar segala sesuatu hingga mengerahkan segala usaha demi keinginan hati hingga lupa waktu dan rasanya waktu 24 jam dalam sehari terasa tak cukup untuk hal itu, namun tak sebanding dengan waktu beribadah yang diluangkan dan bahkan lebih mirisnya hingga sampai mengesampingkan ibadah di atas segala urusan dunia.

    ReplyDelete
  19. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    dari elegi diatas, menurut saya rumah yang sangat besar sama halnya dengan kehidupan dunia ini yang sangat tak terhingga. seperti halnya kehidupan dunia ini begitupun ilmu pengetahuan yang sudah ada sejak zaman dahulu. yang selalu berkembang dikembangkan menjadi ilmu yang bermanfaat kelaknya bagi generasi penerus.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  20. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Rumah yang besar menurut saya adalah ketakjuban kita akan dunia. Segala hal yang menjadikan kita sosok yang menikmati bagaimana dunia memiliki banyak hal yang perlu kita lakukan, dan melupakan keterbatasan kita. dimana kita harusnya menyadari bahwa keterbatasan yang kita miliki haruslah mendasari kita untuk tunduk kepada Tuhan yang tidak terbatas, namun terkadang kita lupa karena terlalu menikmati ketakjuban pada dunia.

    ReplyDelete
  21. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Kebanyakan dari kita hanya konsentrasi pada kekayaan dunia. Banyak orang membanggakan kekayaan dunianya tanpa berpikir apakah kebutuhan untuk kehidupan akhirat mereka sudah cukup atau belum. Kita hanya terfokus pada cara memperoleh kebahagiaan dunia yang sebenarnya hanya sementara.
    Semoga setelah membaca artikel di atas, kita dapat menjadikan diri kita menjadi diri yang lebih baik

    ReplyDelete
  22. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Yang dapat dipetik dari elegi diatas adalah kita harus hati-hati dengan kenyamana, fasilitas lengkap dan mewah, karena barangkali bisa membuyarkan konsentrasi dalam beribadah. Namun fasilitas lengkap jika dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menunjang peribadahan tentu sangat bagus dan tepat. Sesuatu yang menarik belum tentu bagus untuk akhirat kita, namun sesuatu yang mendekatkan kita kepada sang pencipta pasti itu menarik.

    ReplyDelete
  23. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Dunia ini sangat besar, sangat luas. Yang memiliki tanggung jawab untuk merawatnya bukanlah para pemimpin atau para penguasa saja, namun seluruh penduduk dunia, semua manusia yang menghuninya.

    ReplyDelete
  24. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Banyak sekali kesenangan yang ditawarkan oleh dunia, namun janganlah lupa bahwa setiap kesenangan yang ada di dunia ini hanyalah sementara, semuanya akan hilang, dan kebahagiaan yang hakiki adalah kebahagiaan di akhirat kelak. Oleh karena itu, jangan pernah melupakan untuk selalu beribadah dan memperkuat ilmu agama.

    ReplyDelete
  25. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Apa yang terjadi di dunia ini pada hakikatnya merupakan akibat dari adanya sesuatu yang lain. karena pada daarnya kehidupan ini merupakan kehidupan sebab akibat yang akan mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Jika sesuatu tersebut berasal dari hal yang sama, maka akibat dari sesuatu tersebut adalah sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  26. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Rumah yang ada pada elegi diatas diibaratkan dunia. Kemudian yang tinggal didalam rumah tersebut adalah manusia. Dimana terdapat berbagai macam karakter manusia. Ada yang santun, namun tak sedikit yang tak santun pada tempat dimana dia tinggal. Dari banyak hal yang dilakukan manusia di dunia ternyata didominasi oleh hal yang sifatnya hanya mementingkan duniawi saja. Begitu besar nikmat dan kesempatan yang Tuhan berikan, namun belum di syukuri secara maksimal oleh manusia. Sesungguhnya yang tak pandai bersyukur adalah mereka yang sombong, yang tak menyadari bahwa kita hanyalah kecil dihadapan Tuhan.

    ReplyDelete
  27. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017
    Terima kasih atas postingannya Prof. Sebuah lingkungan, baik itu keluarga, masyarakat maupun bangsa dan negara secara umum tidak akan tenteram sebanyak apapun harta duniawi yang dimiliki atau semaju apapun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi jika tidak diiringi akhlak yang agamis serta perilaku yang budiman.

    ReplyDelete
  28. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Elegi ini menggambarkan keadaan Indonesia yang melimpah ruah. Namun kekayaan dan keindahan tersebut tidak disadari dan tidak dapat dimanfaatkan dengan bijaksana oleh masyarakat Indonesia sendiri. Banyak potensi yang tidak diolah. Tidak sedikit masyarakat Indonesia yang tidak kenal budaya bangsa sendiri. Banyak warga Indonesia yang tidak berjati diri bangsa Indonesia. Di samping itu, elegi ini juga menggambarkan betapa kemewahan dan kekuasaan berpotensi menurunkan kualitas keimanan seseorang.Semoga isi dari elegi ini menjadi bahan renungan bagi kita semua

    ReplyDelete
  29. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Rumah yang terlalu besar dapat dibaratkan sebagai dunia di era saat ini. Semua kemewahan, kecanggihan, kemajuan adalah furniture-furniture sudah tersedia di dalam rumah itu. Begitu banyak dan luar biasa menariknya furniturenya sehingga melupakan salah satu furniture penting yaitu ibadah. Kemajuan, kecanggihan, kemewahan telah menjadi senjata makan tuan, membuat kehidupan manusia menjadi instan, dan lebih mudah akan tetapi semua itu juga merusak agama/keimanan manusia.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  30. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Rumah boleh menjadi besar akan tetapi harus disertai dengan pondasi yang kuat dan kokoh, yang tidak akan tergoyahnya karena semakin besar rumahnya. Kecanggihan, kemewahan dan kemajuan dapat menjadi isi di dalam rumah itu namun agama haruslah menjadi pondasinya. Jika sudah memiliki pondasi agama yang kuat, maka para penghuni rumah besar pun tidak hanya akan terlena dengan isi yang mewah-mewah saja, namun juga ingat dan menggunakan ibadah pula.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete