Oct 14, 2011

Elegi Menyesali Rumahku Yang Terlalu Besar




Oleh Marsigit

Rumah Besar:

Wahai pemilik rumah, kenapa engkau terlihat kurang merawatku. Padahal aku telah engkau bangun dengan biaya yang sangat besar dan melibatkan semua potensimu. Engkau juga tidak membangun rumah ini hanya sendirian. Beberapa generasi sebelummu dan generasimu sekarang juga masih terus terlibat pembangunan rumahmu ini. Bahkan petualangan generasi pendahulumu menjajah Bangsa-bangsa lain itupun dalam rangka membangun rumah ini. Aku telah tercipta menjadi rumah super lengkap, super canggih dan supermodern. Aku itulah sebenar-benar Mega Proyek bangsamu itu. Maka tolong rawatlah diriku dengan baik.



Pemilik Rumah:
Oh maaf....wahai rumahku yang tercinta. Maaf aku sampai sedikit tidak merawat dirimu. Bukanlah aku sengaja melupakan dirimu, tetapi ketahuilah...dikarenakan dirimu terlalu besar itulah maka aku sendiri hampir tidak dapat mengenali dirimu lagi. Apalagi jika harus mengingat-ingat detail dari bangunanmu, disamping datanya sudah hilangg karena terlalau lamanya, tetapi juga karena engkau sudah terlalu rumit dipahami. Bagaimana aku bisa merawat dirimu dengan baik, jika aku sendiri lupa dan tidak paham bagian-bagianmu. Tolong..wahai rumah besarku...ceritakan kepadaku sepintas saja tentang ciri-cirimu, fungsi dan manfaatmu, agar aku bisa mengingat-ingatmu kembali.

Rumah Besar:
Baik tuanku. Aku si Rumah Besar adalah salah satu pusat peradaban dunia. Aku dibangun selama berabad-abad tidak hanya oleh satu generasi tetapi oleh lebih dari 5 generasi. Maka aku telah tercipta menjadi sebuah rumah besar yang paling lengkap di dunia. Aku juga akan berbangga hati jika para penghuniku menjulukiku sebagai Metropolitan. Puncak prestasi dan pencapaianku adalah aku merasa mampu menyediakan semua dan segala kebutuhan penghuni-penghuniku. Saya ulangi, aku merasa mampu menyediakan semua dan segala kebutuhan penghuni-penghuniku.

Pemilik Rumah:
Ntar dulu..jangan tergesa bicara manfaat atau fungsi. Ceritakan dulu siapa yang membangunmu dan bagaimana membangunnya.

Rumah Besar:

Baik tuanku. Aku dibangun sejak abad 16. Mulanya aku adalah pusat kerajaan, tetapi karena kerajaannya berkembang pesat maka mulailah diperlukan pengembangan. Apalagi setelah kerajannmu itu mampu menjajah bangsa-bangsa lain di dunia, maka hasil jajahan dan jarahannya itu dapat digunakan untuk memperbesar rumahmu ini. Jadilah sekarang aku sebagai salah satu rumah terbesar di dunia, dan menjadi salah satu ikon di dunia.

Pemilik Rumah:
Sebutkanlah ciri-ciri atau strukturmu itu?

Rumah Besar:
Begitu besarnya rumahmu itu, maka untuk mengetahui detailnya, tidak cukup kalau hanya dilihat dari dari darat saja. Maka aku sarankan agar engkau mengamati dan menelitiku juga dari udara, darat, laut dan dari bawah tanah.

Pemilik Rumah:
Lho..mengapa mesti harus mengamati dari udara, laut, darat dan bawah tanah?

Rumah Besar:
Itulah kehebatan rumahmu. Sangking besarnya rumah ini sehingga engkau sendiri kewalahan untuk memahaminya. Saya teruskan.... Ketahuilah bahwa Rumah Besarmu ini terdiri dari 3 (tiga) struktur, yaitu struktur atas, struktur tengah dan struktur bawah.

Pemilik Rumah:
Tolong jelaskan lebih rinci tentang struktur atas, struktur tengah, dan struktur bawah?

Rumah Besar:
Struktur atas meliputi gedung-gedung pencakar langit, menara, center point, gondola, kereta gantung, jembatan layang, monoreel, pusat pengendali informasi, restoran terbang, taman gantung, teater angkasa, lapangan gantung, kolam renang gantung, ..terowongan udara..dst. Struktur tengah meliputi bangunan rumah-rumah penduduk, tempat peribadatan kuno, lapangan, rel KA, jalan raya, toko-toko, taman kota, dst. Sedangkan struktur bawah meliputi Under Ground Tube, Under Ground Railway Station, gedung tingkat 10 (sepuluh) tetapi menjulang kebawah, pasar bawah tanah, sirkus bawah tanah, kolam bawah tanah, taman bawah tanah, gondola bawah tanah, pusat pengendali bawah tanah, teater bawah tanah, sepak bola bawah tanah, mall bawah tanah, restoran bawah tanah, jembatan bawah tanah, terowongan bawah tanah..dst.

Pemilik Rumah:
O..oo..oo sayang terlalu kecil otakku itu, sehingga aku banyak melupakan kekayaanku itu. Jangankan merawat dan memanfaatkan dirimu, mengingat dirimu saja aku sudah mulai kesulitan. Coba teruskan sebut ciri-ciri yang lain dan juga siap saja penghuninya dan bagaimana karakteristiknya.

Rumah Besar:
Itulah diriku...si Rumah Besar milikmu. Sebagai akumulasi bangunan yang dibuat oleh beberapa generasi dengan megambil kemakmuran seluruh dunia untuk membiayainya, maka sempurnalah diriku itu. Segala kebutuhanmu dan kebutuhan penghuni-penguhinya terjamin ada dan sangat memuaskan. Semuanya ada di sini. Tidak hanya kebutuhanmu dan kebutuhan mereka, maka semua yang engkau pikir dan akan engkau pikir sudah aku sediakan di sini. Jadi tak usah khawatirlah...begitu.

Pemilik Rumah:
Tetapi....kenapa engkau mengeluh kurang perawatan?

Rumah Besar:
Itulah imbalan atau tuntutanku dari kamu sebagai pemiliknya dan dari mereka sebagai penghuninya. Tidaklah ada yang gratis di rumahku itu. Itu adalah syarat-syarat yang sudah kita tetapkan bersama. Agar aku tetap besar dan akan selalu menjadi besar maka semua penghuniku harus memberi tebusannya yang sepadan kepada diriku.

Pemilik Rumah:
Bagaimana jika ada penghuni yang tidak bisa merawat karena tidak mampu membayar?

Rumah Besar:
Itulah hukumnya tuan. Seperti yang telah aku katakan di muka, tidaklah ada yang gratis di rumah ini. Maka bagi mereka yang tidak mampu merawat dan tidak mampu membayar akan aku usir dari rumah ini. Jika mereka tetap tidak mau pergi dan ingin tinggal di rumah ini ya terpaksa mereka harus mau menjadi kerak-kerak atau sampah atau kotoran yang siap menghuni tempat-tempat atau bak sampah..begitu.

Pemilik Rumah:
Wahai para penghuni Rumah Besarku, bagaimanakah kesan-kesanmu mendiami rumah ini?

Para Penghuni Rumah:
Wahai pemilik rumah..sungguh rumah ini sangat mengagumkan. Aku sangat puas dengan fasilitas yang ada di rumah ini. Semua kebutuhanku ada semua di rumah ini. Jangankan kebutuhan, semua yang aku pikir dan akan aku pikirpun sudah ada di sini.

Pemilik Rumah:
Wahai penghuni rumah...tetapi kenapa engkau tidak mampu merawat semua bagian dari Rumah Besar ini?

Para Penghuni Rumah:
Bagian yang mana yang tidak aku rawat? Yang mana yang tidak aku manfaatkan?

Pemilik Rumah:
Itu ada tempat peribadatan sudah satu abad tidak dipakai, dibiarkan saja kosong tidak digunakan sebagai mana mestinya.

Para Penghuni Rumah:
Wahai pemilik rumah. Seumur hidupku, jika engkau menyuruhku untuk menjelajahi rumah ini maka aku tidak akan mampu. Seperti halnya dirimu dan juga penghuni yang lain. Maka cara saya menghuni rumahmu itu adalah dengan menjelajahi bagian-bagian yang saya anggap penting dan menyenangkan saja. Hal yang penting dan menyenangkan bagi diriku ternyata juga sama dengan penghuni yang lain.

Pemilik Rumah:
Ya..ya..tetapi jelaskanlah mengapa engkau abaikan itu tempat ibadah?

Para Penghuni Rumah:
Wahai pemilik rumah..janganlah engkau berlaku munafik terhadap diriku. Aku melihat engkau juga merasakannya. Bukankah dengan kelengkapan, dengan kecanggihan, dengan fasilitas yang serba ada ini, maka rumah ibadah itu menjadi tidak penting dan tidak menarik?

Pemilik Rumah:
Kenapa rumah ibadah tidak menarik?

Para Penghuni Rumah:

Bukankah engkau sendiri yang menciptakan berbagai macam hiburan. Di rumah ini sudah sangat lengkap ada berbagai hiburan dan kegiatan, sepak bola atas tanah, sepak bola bawah tanah, circus atas tanah, circus bawah tanah, teater atas tanah, teater bawah tanah, taman atas tanah, taman bawah tanah, ...semuanya...atas tanah...bawah tanah...atas tanah...bawah tanah.. Belum lagi fasilitas dan hiburan yang tergantung di atas langit...wah..wah sungguh sempurna bangunan ini. Seumur-umur saya jika engkau suruh aku menikmati hiburan di bawah tanah saja aku belum cukup waktu untuk menikmati semuanya. Singkat kata, bagi diriku dan bagi penghuni yang lain, ibadah itu jadi terasa hambar, kurang bermakna, kurang relevan dan tidak sinkron dengan lingkungan. Jangankan beribadah, berkeluarga atau mempunyai anak saja aku tidak sempat, sangking banyaknya dan hobinya bekerja. Rumah Besarmu itu ternyata tidak hanya menyediakan tempat tinggal, dia juga memberi dan menawarkan banyak sekali pekerjaan. Aku dan para penghuni Rumah Besar ini menjadi sangat sibuk sekarang. Aku selalu kekurangan waktu untuk menelusuri Rumah Besar ini. Untuk kegiatanku sehari-hari, ibaratnya 30 jam perhari masih saja aku kekurangan waktu, 9 hari perminggu juga masih merasa kurang waktu, 40 hari perbulan atau 15 bulan pertahun, aku selalu kekurangan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaanku. Dari ribuan jalan dan gang yang ada di Rumah Besar ini, seumur-umur hidupku paling banter aku hanya bisa menelusuri puluhan saja.

Pemilik Rumah:
Baik..katakanlah aku ingin mengetahui bagaimana perasaanmu sekarang, apa kecenderungan, tontonan atau hiburan apa yang paling favorit bagimu semua dari dalam Rumah Besar ini?

Penghuni Rumah:
Untuk satu generasiku ini, maka mereka semua sedang gandrung dengan sepak bola, ..maka semua yang penting, semua yang dirasakan, semua yang dijual, semua yang dipikirkan adalah sepak bola. Wah luar biasa...sepak bola itulah hidup dan matiku sekarang ini. Sepak bola itulah hidup dan matinya para penghuni rumah ini termasuk dirimu tentunya.

Pemilik Rumah:
Wah..hah..cocok..cocok..ternyata keteranganmu itu dapat mewakili pikiran dan jiwaku. Lalu sebaiknya gemana?

Para Penghuni Rumah:

Aku usul kepadamu...dari pada susah-susah merawat tempat ibadah..lebih baik di jual saja. Nah uangnya kan bisa untuk nonton bal-balan bareng, nonton film bareng, berenang bareng, circus bareng, piknik bareng..dst...bareng.

Pemilik Rumah:
Whus..lha nanti kalau ditanya tentang agama? Apa pula agama kita itu jika tempat ibadah dijual?

Para Penghuni Rumah:
Gak usah khawatir..katakan saja agama kita adalah Sepak Bola,...gitu aja kok repot.

Pemilik Rumah:
Lha Rumah Besar kita jadinya akan diberi nama apa?

Para Penghuni Rumah:

Rumah Besar kita ini beri nama saja Kota Metropolitan...boleh London..boleh Tokyo...boleh New York...boleh...bahkan boleh Jakarta.

Pemilik Rumah:
Lho kalau begitu ...pas...kita juga akan memperbesar rumah kita dengan slogan “Mega Proyek Indonesia”?..begitu..?

Para Penghuni Rumah:
Saya agak khawatir jangan-jangan itu hanya mimpi? Atau sekedar konsumsi penyejuk ruangan saja. Lihat tuh...jangankan Indonesia...Negara supertangker Dubai saja akhirnya terlilit dan terjerat hutang dan bangkrut negaranya, gara-gara ambisi yang sama?. Tetapi jika slogan itu serius dan mampu diwujudkan, ya jadinya pas juga dengan persiapan kita menjual rumah ibadah dan mengganti agama kita dengan Bal-Balan. Gitu dheh...?

40 comments:

  1. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Elegi ini menggambarkan sebuah rumah besar yang mengibaratkan dunia ini. Dunia ini dibangun oleh beberapa generasi. Indonesia merupakan salah satu yang ada di dunia maka sama dengan dunia Indonesia telah memiliki beberapa generasi sebagai pembentuknya. Indonesia sangat luas dan memiliki beragam kekayaan. Semua ada dan tersedia untuk manusianya. Masalahnya sekarang adalah mampukah kita merawat bahkan mengembangkan apa yang kita punya ini. Jawabannya belum tentu, kita dapat melihat keadaan sekarang ini lebih banyak yang merusak dibangdingkan dengan orang yang merawat.

    ReplyDelete
  2. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Kehidupan yang ada di dunia ini penuh kegiatan. Kegiatan yang hubungannya dengan kesibukan pekerjaan.
    Pekerjaan mulai dari yang sanati hingga ynag serius, dari yang hanya bermain atau hiburan hingga pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus.
    Semuanya ada di dunia ini. Hingga waktu 24 jam dalam seharipun kadang dirasa kurnag untuk dapat melakukan semuanya.

    ReplyDelete
  3. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Rumah disini menggambarkan kehidupan dunia lengkap dengan segala hingar-bingarnya. Sering kali kita melakukan hedonisme, kita hanya peduli akan hal-hal duniawi, kemewahan, harta, bahkan kekuasaan dan kepuasan sesaat. Tak jarang pula kita mengabaikan seruan Allah. Sudah saatnya kita memohon ampun kepada-Nya serta memohon pertolongan agar terhindar dari godaan duniawi.

    ReplyDelete
  4. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Abad ke 21 merupakan abad dimana kehidupan sudah memasuki era yang modern dan serba canggih. berbagai fasilitas tercipta hanya untuk memberikan kemudahan dan kesenangan bagi manusia dalam menjalani segala aktivitas kehidupannya. Hal-hal yang dulu tidak mungkin, sekarang menjadi hal-hal yang biasa dan wajar. Kemudahan dan segala teknologi canggih yang selalu menyertai kehidupan manusia, membuat manusia hanya memikirkan dunianya saja dan lupa serta mengabaikan nilai-nilai keagamaan dan spiritualnya. Mereka lebih mementingkan kenyamanan dan kesenangan di dunia. Slogan-slogan seperti “hidup hanya sekali” dicetuskan untuk meyakinkannya bahwa kehidupan manusia di dunia ini adalah yang paling utama dan paling penting, karena hidup hanya sekali maka mereka beranggapan bahwa mereka haruslah menggunakan hidup untuk mencari berbagai kesenangan di dunia dan berbuat sesuka hati mereka tanpa memikirkan dampak dari perbuatannya tersebut. Mereka tidak mau membuang-buang waktu hidup di dunia hanya untuk melakukan hal-hal yang bersifat keagamaan dan menggapai kehidupan akhirat, bagi mereka perbuatan-berbuatan tersebut adalah perbuatan yang sia-sia. Bahkan ada diantara para manusia yang menganggap bahwa kehidupan akhirat itu tidak ada. Dan walaupun kehidupan akhirat ada, mereka akan memilih untuk menghadapinya nanti ketika mereka sudah tua serta ketika ajal semakin dekat

    ReplyDelete
  5. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Di jaman modern ini, kebanyakan manusia terlena akan urusan dunia, sibuk bekerja, sibuk memperbaiki fasilitas-fasilitas urusan dunia, melalaikan ibadah, melalaikan akhirat. Mereka ciptakan gedung-gedung yang besar dan tinggi, pusat perbelanjaan yang besar dan tinggi sampai-sampai mereka menjajah rakyatnya sendiri untuk pembangunan itu. Tidak mempedulikan tempat ibadah yang kalah besar dan kalah bersih dengan gedung dan pusat perbelanjaan yang dibangun. Seleksi alam pun terjadi, yang kuat maka dia bertahan, yang lemah maka dia tersingkir atau mungkin musnah. Ini semua terjadi karna mereka hanya memikirkan urusan dunia, persaingan dunia yang kejam dan tidak akan ada habisnya. Mereka lupa untuk memikirkan urusan akhirat padahal kehidupan abadi adalah kehidupan di akhirat. Sebagai manusia, urusan dunia dan akhirat haruslah seimbang agar hidup seimbang. Tidak seharusnya kita malah mementingkan urusan dunia dan melalaikan perintah-Nya.

    ReplyDelete
  6. Syahlan Romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Rumah adalah sebuah bangunan yang apabila pondasinya kuat maka akan kuatlah bangunan di atasnya, yaitu rumah tersebut. Setelah kita membangun rumah, kita tidak boleh hanya membiarkan rumah tersebut dengan tanpa perawatan. Kita harus selalu merawat, membersihkan, menghiasi, dan sebagainya. Seperti halnya diri kita. Kita adalah manusia, dengan pondasi Iman dan Taqwa. Kita harus memperkokoh iman dan taqwa kita sehingga kita mampu dengan kuat untuk menjalani kehidupan ini. Kita harus senantiasa merawat diri kita dengan cara beribadah, dan hal-hal lain yang mampu menguatkan pondasi kita.

    ReplyDelete
  7. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    jika kita sudah memiliki apa yang kita kehendaki hendaklah bertanggung jawab dengan itu. ingat betapa kerja keras kita dalam mewujudkan hal yang kita inginkan dulu. tentu tidak mudah dalam mewuudkannya, maka pelihara lah. agar kita bisa belajar bagaimana bertanggung jawab dengan apa yang kita jalani.

    ReplyDelete
  8. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Dari elegi menyesali rumahku yang terlalu besar ini bisa kita petik hikmah di dalamnya agar tidak berbuat yang melampaui batas sehingga membuat aniaya terhadap diri sendiri.

    ReplyDelete
  9. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Keglamoran yang terpenuhi dalam kota metropolitan memang menjadi daya tarik yang luar biasa bagi manusia. Sehingga kita mengabaikan hal-hal yang sebenarnya sebagai pokok utama, melalaikan agama, ibadah, untuk kesenangan yang menyesatkan. Layaknya sang raja yang semua kebutuhannya bisa terpenuhi di jaman sekarang, alih fungsi bahkan relokasi tempat ibadah korbannya. Apa yang sudah ada memang sudah sepatutnya dirawat dan dijaga, jika memang ada pengembangan baiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan aturan. SIia-sia pula rumah besar tapi isinya tidak bermanfaat. Begitu menurut hemat saya dari elegi ini.

    ReplyDelete
  10. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016 (S2)
    Kehidupan sebuah keluarga diatur berdasarkan rasa kekeluargaan, kepentingan bersama dan kesatuan untuk pertahanan dari gangguan binatang buas dan dari serangan pihak luar. Karena itu timbullah niat untuk mendirikan rumah besar dan kuat. Rumah yang besar dan kuat membuat mereka merasa lebih aman dan lebih terjamin keselamatannya dari serangan binatang buas dan pihak musuh.

    ReplyDelete
  11. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Pekerjaan yang ada di dunia ini yang ada dan yang mungkin ada yang dapat dilakukan pada ruang dan waktunya masing-masing sangatlah banyak.
    Seringkali pekerjaan yang banyak ini melalaikan segalanya. Melalaikan pekerjaan yang lebih ke akhirat, dalam hal ini ibadah.
    Seringkali pekerjaan duniawi melalaikan ibadah kepadaNya. Hal ini perlu kita renungkan bersama.

    ReplyDelete
  12. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Setelah membaca elegi ini, saya penasaran apakah sebenarnya yang dimaksud dengan rumah besar ini, apakah rumah besar ini sama dengan powernow yang sering disebut-sebut dalam elegi-elegi selanjutnya. Karena ciri-ciri keduanya sama, yaitu memberi fasilitas yang sangat kita butuhkan tetapi membuat kita lupa dengan ibadah kita.

    ReplyDelete
  13. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. Dunia ini berkembang, begitu pula ilmu. Ilmu berkembang menjadi lebih besar dengan banyak orang yang semakin memikirkannya. Tapi karena perkembangan ilmu itu juga banyak orang yang semakin melupakan ilmu, ia dianggap menjadi terlalu luas dan rumit untuk dipelajari. Begitu pula sebuah negara, indonesia ini kaya akan kekayaan alam. Orang-orangnya berusaha mengikuti arus modernisasi dengan terus melakukan pembangunan. Gedung-gedung dibuat dengan megah nan mewah hanya untuk dijadikan gedung kosong penuh debu dan ilalang. Ketika pembangunan selesai orang-orang lupa apa tujuan dibangunnya gedung sehingga ia ditinggalkan.

    ReplyDelete
  14. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPs Pendidikan Matematika 2016 Kelas D

    rumah salah satunya tempat kita berteduh, tempat dimana kita pulang, tempat dimana berkumpul dengan keluarga. kenyamanan bisa kita dapatkan dari rumah. namun kehidupan yang kurang syukuri hanya akan membuat diri kita berada kepada kesesatan. setiap rezeki yang diberikan oleh Allah hendaklah kita syukuri. dari elegi di atas maka kita sebagai manusiaharuslah banyak bersyukur, karna kenikmatan semata yang membuat lalai hanya akan membuat kita berada pada jurang kegelapan.

    ReplyDelete
  15. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Alam semesta yang berisi segala keperluan makhluk hidup, yautu benda – benda langit, antariksa dan bumi dimana menjadi tempat tinggal kita saat ini. Kita tidaklah pantas jika diperbudak dengan segala yang berurusan dengan hal duniawi apalagi mempertaruhkan agama yang menjadi fondasi hidup ini. Dengan fondasi yang kokoh akan membawa kita kea lam mana pun dengan kedamaian.

    ReplyDelete
  16. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika 2016

    Kalau nafsu sudah diperturutkan maka akan datang dikemudian hari penyesalan, sikap mansuia yang selalu ingin lebih dan sifat hedonisme yang selalu diperturutkan akan membawa kehancuran baik diri sendiri maupun suatu bangsa nantinya. Dengan demikian maka hiduplah dengan sederhana, jangan terlalu mengikuti zaman. Kita boleh mengikuti zaman namun filterlah sehingga tidak akan merusak kehidupan kita dimasa yang akan datang.

    ReplyDelete
  17. Anis Kurnia Ramadhani
    14301241020
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Kehidupan yang dilakukan oleh penghuni rumah itu bagaikan kehidupan yang dialami oleh banyak orang, dimana mereka disibukkan dengan kegiatan dunia dan melupakan akhirat. Mereka mencintai dunia hingga meninggalkan yang kekal.

    Padahal, masih ada kehidupan lain di dunia ini. Padahal, ketika mereka terlalu sibuk mengejar dunia, mereka tidak akan mendapatkannya. Mereka akan selalu kekurangan waktu untuk bersenang-senang, dan pada akhirnya mencari yang lebih dari yang mereka miliki.

    ReplyDelete
  18. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Karena manusia adalah manusia yang terbatas, maka manusia memiliki sifat Hedonisme, yaitu istilah yang mewakili manusia yang hanya peduli dengan urusan duniawi, seperti kekayaan, kekuasaan, jabatan, dan kekuasaan yang bersifat hanya sementara, dan menghiraukan tempat ibadah sebagi tempat kita untuk berinteraksi dengan Sang Maha Pencipta. Sifat manusia yang demikian adalah manusia yang tidak membekali dirinya dengan iman yang kokoh dan keikhlasan hati. Namun dengan adanya filsafat, manusia dapat berpikir kritis dan selalu bertanya menjadi salah satu jembatan untuk bercermin dari segala perbuatan dan ibadah yang telah dilakukan selama di dunia ini.

    ReplyDelete
  19. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Sungguh ironis memang kehidupan di dunia itu. Semua orang yang beriman mengethaui bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara dan fana. Ketika kita berlomba-lomba menggapai gemerlap dunia, kita lupa bahwa semua itu hanyalah fana. Kehidupan kekal abadi hanyalah di akhirat kelak. Semua harta benda di dunia tidak dapat kita gunakan untuk membeli rumah di syurga Allah SWT. Hanya satu hal yang dapat kita gunakan untuk membangun rumah di syurga, yaitu keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. oleh karena itu, marilah kita memperbanyak bekal untuk membangun rumah yang kekal di syurga dengan cara senantiasa mengingat Allah SWT. namun, kita juga harus tetap berusaha mencukupi kebutuhan di dunia. Orang yang cerdas adalah dia yang menggunakan hartanya di jalan Allah SWT.

    ReplyDelete
  20. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Rumah dapat diibaratkan sebagai kekuasaan. Seseorang yang memiliki kekuasaan tinggi kebanyakan sering melupakan hal yang seharusnya merupakan hal penting bagi kehidupan dunia dan akhirat yaitu agama. Semakin tinggi kekuasaan membuat seseorang terkadang semakin jauh dengan Allah SWT. Ambisi mereka yang pasti selalu ingin menambah dan mempertinggi kekuasaan sehinggaa terkadang melupakan Tuhan. Seseorang dengan kekuasaan tinggi terkadang lebih mementingkan ego, kepuasaan diri, kesenangan daripada ketenangan batin (hati yang selalu dekat dengan Tuhan). Kekuasaan yang semakin tinggi terkadang membutakan mata dan hati manusia. Mereka terkadang lupa dan tidak menyadari bahwa apa yang mereka miliki sebenarnya hanyalah titipan dan sewaktu-waktu dapat diambil oleh sang Pemilik yaitu Allah SWT.

    ReplyDelete
  21. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Rumah dibangun diatas pondasi dan terdiri dari struktur – struktur. Rumah yang besar juga memerlukan biaya perawatan yang banyak. Kalau rumah besar dan penghuninya sesuai dengan besarnya rumah saya kira tidak menjadi persoalan, tetapi menjadi persoalan ketika rumah besar tetapi tidak berpenghuni yang hanya akan menghambur – hamburkan uang dan bergaya hidup mewah. Terkadang bergaya hidup mewah juga membawa kepada hidup instant dan ketidakpedulian, bahkan mungkin hidup mewah tetapi banyak hutang. Oleh karena itu sebaiknya manusia lebih mengutamakan kebutuhan yang diperlukan saja dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.

    ReplyDelete
  22. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari elegi ini saya dapat memakna bahwa jika ilmu yang dimiliki seorang manusia sangat banyak atau besar dan tidak dibarengi dengan pedoman pokok tentang ilmu hati atau ilmu agama maka percumalah saja. Memang ada kalanya pikiran dan hati tidak dikerjakan bersamaan. Namun jangan kebablasan karena jika mengunggulkan keduanya makan dirimu tak akan mendapatkan yang terbaik. Jadi dapatlah engkau menunut ilmu dengan terus berpegang teguh pada sang rob penjipta alam.

    ReplyDelete
  23. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi di atas menguraikan tentang larangan ‘berlebihan’. Seperti halnya kita sedang makan, jika kita makan berlebihan justru makanan yang kita makan akan keluar kembali, tidak bermanfaat, bahkan merugikan diri kita sendiri. Hal ini juga sama ketika kita menjalankan kehidupan, segala sesuatu yang berlebihan justru mengakibatkan ketidakbermanfaatan. Akan tetapi, dalam upaya menuntut ilmu memang kita dianjurkan untuk selalu berusaha, sebab menuntut ilmu tak ada batasnya.

    ReplyDelete
  24. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam elegi di atas, larangan berlebihan tersebut diilustrasikan tentang seseorang yang memiliki rumah besar dengan segala benda maupun fasilitas yang serba ‘wah’. Namun pemilik rumah itu tak mampu merawatnya. Kemegahan dan kelengkapan rumah itu lah yang menyebabkan pemilik rumah tak sanggup mengenali rumahnya sendiri. Hal ini sungguh ironi dan menjadi hal yang sia-sia. Sama halnya dalam dunia pendidikan, jika ilmu yang kita miliki tidak mampu kita manfaatkan dan kita gunakan sebaik-baiknya, maka akan menjadi hal yang tidak bermanfaat dan berbahaya.

    ReplyDelete
  25. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Allah SWT berfirman, "Katakanlah, 'Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus’." (Al-Maa-idah: 77). Semoga kita tidak tergolong orang-orang yang sesat dan mampu bermanfaat bagi orang lain. Amiin.

    ReplyDelete
  26. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Rumah adalah tempat kita berteduh, tempat beristirahat maka jika rumah terlihat bersih dan rapi berbahagialah karena sesungguhnya itu merupakan kondisi yang sehat untuk kita singgahi. jika rumah kita bersih dan rapi maka akan terasa nyaman dan enak dipandang. maka jagalah rumah kita, rawatlah dengan baik seperti ilmu kita yang harus terus dipupuk agar kita menjadi manusia yang tidak tertinggal zaman.

    ReplyDelete
  27. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Tidak ada artinya hidup di kota besar yang penuh dengan kemewahan surga dunia dan kehidupan yang glamour tanpa disertai dengan sisi-sisi spiritual. Memang tidak munafik bahwa hidup memerlukan uang, namun uang bukanlah segalanya. Dengan uang/kemewahan surga dunia sebenarnya merupakan ujian bagi kita. Apakah kita tetap bersyukur, beriman dan bertakwa kepada Allah atau kita lalai kepadaNya. Karena Allah menguji kita dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kita harus ingat bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara karena kehidupan yang abadi ada di akhirat.

    ReplyDelete
  28. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Elegy ini menceritakan tentang rumah yang terlalu besar yang dibangun oleh beberapa generasi. Namun karena sangat besar para penghuninya tidak mampu menjelajahi semua yang ada. Kecenderungan para penghuni adalah menjelajahi bagian yang disukai oleh mereka. Apa yang dimiliki manusia saat ini adalah hasil dari kerja keras generasi sebelumnya. Apa yang dimiliki manusia di masa depan adalah hasil kerja keras generasi sekarang. Bukan hal yang mustahil jika generasi sekarang hanya dapat menemukan sedikit saja hasil dari pekerjaan generasi sebelumnya. Namun, dengan perkembangan yang ada seharusnya manusia tidak melupakan penciptaNya karena rumah yang dihuni oleh manusia adalah gambaran kebesaran Tuhan.

    ReplyDelete
  29. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Cerita yang sangat menarik, entah kenapa saya langsung teringat akan kartun Beaty and The Beast yang mengisahkan rumah mewah besar dengn penghuni yang bisa bicara. Adapun dari cerita tersebut akan sangat indah apabila dijadikan sebuah pertunjukan teater. ceritanya menarik dan memiliki pesan yang sangat mendalam, sungguh menyentuh. Cerita tersebut juga cukup untuk menjadi sinndirian bagi masyarakat glamor jaman sekarang, ketika teknologgi mulai berkembang agama mulai di tinggalkan. sungguh ironi jaman sekarang

    ReplyDelete
  30. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Dalam tulisan tersebut dijelaskan bagaimana besarnya rumah dan juga banyaknya isinya. Pernyataan tersebut menunjukan banyaknya hal yang ada dibumi yang kita tinggali ini. Banyaknya komponen bumi tersebut membuat kita yang menghuninya dapat hidup dengan baik dengan segala kebutuhan yang terpenuhi tanpa harus kesulitan bertahan hidup.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  31. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Si pemilik rumah yang tidak menyadari betapa besarnya rumah yang ia tinggali lalu menyesal karena tidak mengetahuinya. Ini berarti kita sebagai manusia yang tinggal disini hendaknya menyadari bahwa kita beruntung memiliki bumi yang besar untuk kita tinggali dan memiliki banyak kekayaan untuk kita manfaatkan.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  32. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Rumah yang besar tidak dirawat dengan baik oleh penghuninya. Seperti manusia yang mendiami bumi dan tidak merawatnya dengan benar, padahal bumi yang selama ini telah menjadi tempat tinggal manusia juga memenuhi kebutuhan manusia-manusia sehingga dapat membangun peradaban yang luar biasa.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  33. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam elegi ini rumah yang terlalu besar jika dibahasakan dengan yg lebih mudah menurut saya adalah sesuatu yang berlebihan. Seperti jika kita memiliki sebuah rumah yang besar bagus dan mewah namun kita tidak bisa merawatnya maka hal inilah yang dugambarkan dalam elegi ini. Tak usahlah berlebihan dalam segala hal secukupnya saja dan semampunya kita dalam merawat apa yang kita miliki dan janganlah pernah lupa dengan pegangan kita untuk hidup didunia ini yaitu agama agar kita tidak tersesat kedalam glamor duniawi.

    ReplyDelete
  34. Ajeng Puspitasari/ 14301241005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Saya pernah mendengar sebuh kutipan, "langkah kaki terberat ialah ketika melangkahkan kaki untu pergi ke masjid". Nampkanya, elegi di atas juga menyinggung hal tersebut. Hal tersebut menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwasanya kita harus mulai menyinggagi 'rumah' tersebut. Agar generasi seterusnya pun mengikuti langkah kaki kita.

    ReplyDelete
  35. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi di atas menceritakan tentang dunia ini yang mulai tidak karuan. Bumi ini yang memberikan banyak fasilitas bagi kelangsungan hidup manusia mulai dilupakan oleh manusia. Bumi hanya dimanfaatkan apa yang bisa dimanfaatkan, tetapi tidak diikirkan juga keberlangsungan hidup bumi itu sendiri, sehigga dalam elegi di atas diibaratkan bahawa bumi ini tidak terawat.

    ReplyDelete
  36. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Rumah yang terlalu besar. bumi ini adalah rumah kita juga. terlalu besar dan kadang kurang dijaga. kurang di eman eman kalo istilah orang Jawa. banyak yang menebang hutan secra liar dan tidak di tanami kembali akibatnya banjir dimana mana tanah longsor dimana mana. warga menjadi susah. dan masih banyak lagi hal hal perbuatan manusia yang jahil terhadap bumi. sayangilah bumi kita dan rawat dengan baik.

    ReplyDelete
  37. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pelajaran yang dapat saya ambil dari elegi di atas adalah bahwa dengan jiwa spiritual, kita bisa mendekatkan diri kepada Allah. Banyak orang lalai dengan kewajiban mereka kepada Allah. Mereka justru tergiur dengan kemewahan dan kesenangan dunia padahal kehidupan di dunia inu tidaklah kekal. Kehidupan yang kekal dan abadi adalah kelak di akhirat. Akan tetapi, dalam menjalani hidup ini, hendaknya kepentingan di dunia dan di akhirat harus seimbang dan harmonis.

    ReplyDelete
  38. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam menjalani kehidupan di dunia ini janganlah terlena dengan hiburan – hiburan yang disediakan oleh bumi ini. Tetapi tetaplah ingat dengan Sang Pencipta bumi ini yaitu Tuhan YME. Karena semua yang ada di bumi ini adalah milik-Nya. Maka jangan lupa bersyukur dan mohon ampun kepada-Nya

    ReplyDelete
  39. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setiap apa yang ada di dunia ini memiliki tempat dan kadarnya masing-masing, maka dari itu perbuatan berlebih-lebihan itu tidak dianjurkan. Maka dari itu tetaplah rendah hati dan tetap melakkan sesuatu sesuai dengan kodratnya. Sesuatu yang berlebihan akan menunjukkan kepada suatu kesombongan, jadi setiap melakukan sesuatu diharapkan selalu mengingat kepada Allah agar kita tahu bagaimana kedudukan kita.

    ReplyDelete
  40. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Rumah besar yang diibaratkan seperti dunia ini yang mampu menyediakan semua dan segala kebutuhan tetapi tidak dirawat dan tidak dijaga. Seperti pengetahuan yang kita miliki jika tidak kita gunakan dengan sebaik-baiknya atau tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maka sama saja kita tidak memiliki pengetahuan tersebut. Memiliki rumah adalah suatu anugrah, rumah yang kecil tanggung jawabnya tidak kecil melainkan besar karena semua yang ada di dalamnya harus kita jaga dan kita manfaatkan. Apalgi rumah yang besar maka tanggung jawabnya pun semakin besar.

    ReplyDelete