Oct 14, 2011

Elegi Pengembaraan Orang Tua Berambut Putih

Oleh Marsigit



Kini aku merasa sudah saatnya aku mengembara. Supaya pengembaraanku bermakna, maka aku akan bertanya kepada para saksi. Tetapi sebelum aku bertanya kepada saksi-saksi terlebih aku ingin sampaikan bahwa sebenar-benar sebenar-benar saksi tidak lain tidak bukan adalah aku sendiri. Aku ingin mengaku bahwa aku mengetahui segala sesuatu, tetapi jika mereka bertanya kepadaku maka dengan serta merta aku tidak mengetahuinya. Mengapa? Karena sebenar-benar diriku adalah pertanyaan mereka. Bagaimana mungkin aku mengerti tentang pertanyaanku sendiri? Maka sebodoh-bodoh orang adalah diriku ini, karena aku selalu bertanya tentang segala hal, tetapi aku selalu tidak dapat menjelaskannya. Tetapi bukankah mengerti bahwa aku tidak dapat menjawab itu pertanda bahwa tidak tidak mengerti. Maka dapat aku katakan bahwa sebenar-benar diriku adalah tidak tidak mengerti. Hendaknya jangan terkejut bahwa tidak tidak mengerti itu sebenarnya adalah mengerti pula. Maka bukanlah aku yang ingin mengatakan, tetapi mereka yang boleh mengatakan bahwa aku selalu mengerti tentang pertanyaanku itu. Bukankah di sini mereka tahu bahwa sebenar-benar diriku adalah kontradiksi, karena aku sekaligus mengerti dan tidak mengerti. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu kontradiktif. Tetapi janganlah salah paham, kontradiksi itu adalah ilmu, tempat tinggalnya ada dalam pikiranmu.



Orang tua berambut putih berjumpa Socrates, Plato, Aristoteles, George Berkely, Rene Descartes, dan Immanuel Kant.
Wahai Socrates, Plato, Aristoteles, Rene Descartes, David Hume dan Immanuel Kant, ..., bolehka aku bertanya kepadamu. Menurut kesaksianmu, siapakah sebenar-benar dirimu dan sebenar-benar diriku?

Socrates:
Wahai orang tua berambut putih. Sebenar-benar diriku adalah pertanyaanku. Maka aku akan bertanya kepada siapapun tentang segala hal yang aku sukai. Sedangkan sebenar-benar dirimu adalah diriku juga. Maka sebenar-benar dirimu tidak lain adalah pertanyaanku juga pertanyaanmu. Jawaban para pakar dan para ahli itulah sebenar-benar tempat tinggalmu. Itulah sebenar-benar ilmu yaitu pertanyaanmu.

Plato:
Sebenar-benar dirimu adalah pikiranku. Sebenar-benar dirimu adalah imajinasiku. Tidak aku panggil, engkau sudah ada dalam pikiranku. Maka dirimu yang absolut itulah yang selalu aku pikirkan. Semuanya tentang dirimu sudah ada dalam pikiranku. Hanya terkadang aku sulit mengenalimu. Tetapi aku sadar, bahwa banyak orang mencoba mirip-mirip dengan mu. Itulah mereka yang dapat aku lihat dan dapat aku raba. Mereka jumlahnya sangat banyak. Tetapi mereka semuanya bersifat sementara. Maka sebenar-benar dirimu adalah ide-ide ku. Tempat tinggalmu ada dalam pikiranku. Tetapi aku selalu mengkhawatirkanmu, karena dalam pikiranku selalu ada lubang gelap seperti gua. Gua-gua seperti itulah yang menyebabkan aku sulit mengenalmu. Aku juga mengkhawatirkan akan badanku, karena badanku inilah penyebab munculnya gua-gua itu. Maka sebenar-benar dirimu adalah hamba yang terlepas dari penjara badanku. Maka sebenar-benar dirimu adalah pikiranku yang berada di luar gua kegelapanku dan terbebas dari badanku. Itulah sebenar-benar ilmu, tidak lain tidak bukan adalah pikiranku. Tetapi aku mengalami kesulitan untuk menjelaskan kepada orang-orang tentang tempat tinggalmu itu.

Aristoteles:
Aku agak berbeda dengan guruku Plato. Menurutku, sebenar-benar dirimu adalah adalah pengalamanku. Maka tempat tinggalmu adalah pada pengalamanku. Begitu aku menggapai pengalamanku maka dengan serta merta muncullah dirimu itu. Maka menurutku, sebenar-benar dirimu adalah yang dapat aku lihat, aku raba, dan aku indera. Maka sebenar-benar dirimu adalah diluar diriku. Padahal aku tahu bahwa dirimu adalah diriku. Maka aku tidak lain tidak bukan adalah sekaligus bukan aku. Mengapa? Karena aku mengalami kesulitan memahami engkau yang berada diluar diriku. Dan juga mengalami kesulitan bagaimana aku dapat menjelaskan kepada orang-orang bahwa engkau yang berada di luar diriku itu sebenar-benarnya adalah diriku.

George Berkely:
Menurutku, engkau adalah yang aku lihat atau aku persepsi. Jikalau engkau tidak adalah di situ, maka tidak adalah sebenar-benarnya engkau itu. Esse est percipi itulah kata-kataku. Maka sebenar-benar engkau adalah tipuanmu belaka. Engkau adalah fatamorgana. Maka sebenar-benar engkau yang adapat aku lihat adalah tipuan juga. Jadi apalah artnya sesuatu yang dapat engkau lihat itu, kecuali hanya tipuan belaka. Maka dunia ini tidak lain tidak bukan adalah tipuan belaka. Itulah sebenar-benar dirimu itu. Padahal aku tahu bahwa dirimu adalah diriku juga, maka sebenar-benar ilmu itu tidak lain tidak bukan adalah tipuan butamu.

Rene Descartes:
Menurutku, sebenar-benar dirimu adalah mimpiku. Tiadalah aku dapat menemukanmu tanpa mimpi-mimpi itu. Bagiku mimpi adalah nyata. Dan yang nyata bisa juga menjadi mimpiku. Maka sebenar-benar diriku adalah tidak dapat membedakan apakah kenyataan atau mimpiku. Namun aku selalu risau karena jika aku ingin berjumpa denganmu aku selalu dihadang makhluk hitam yang akan menyesatkanku, sehingga aku selalu salah mengertimu. Maka selalulah terjadi bahwa aku selalu meragukan keberadaanmu. Maka sebenar-benar dirimu adalah keraguanku itu sendiri. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu keraguanmu. Aku meragukan semuanya tanpa kecuali. Hanyalah ada satu yang tidak dapat aku ragukan yaitu diriku sendiri yang meragukan itu. Itulah satu-satunya kepastian bagiku. Cogito ergosum itulah kata-kataku, yaitu bahwa diriku itu ada karena aku tahu sedang meragukannya. Bukankah itu sebenar-benar dirimu. Maka sebenar-benar keberadaanku adalah diriku yang berpikir ini.

Immanuel Kant:
Menurutku engkau adalah pikiranku sekaligus pengalamanku. Tiadalah dirimu itu ada di situ tanpa pikiranku atau tanpa pengalamanku. Sedangkan tempat tinggalmu adalah di dalam intuisiku. Ketahuilah bahwa aku mempunyai dua intuisi yaitu intuisi ruang dan intuisi waktu. Itulah sebenar-benar tempat tinggalmu. Tetapi untuk mengerti tentang dirimu aku harus bersifat kritis. Maka sebanar-benar dirimu adalah pikiranku yang kritis. Itulah sebenar-benar ilmu, tidak lain tidak bukan adalah pikiran kritismu. Namun ketahui pula bahwa tidaklah mudah menggapai dirimu. Ketika engkau kukejar dengan pikiran kritisku, maka engkau lari menuju keputusanmu. Itulah setinggi-tinggi tempat tinggalmu, yaitu pada keputusanku. Maka sebenar-benar ilmu tidak lain tidak bukan adalah keputusanmu.

Orang tua berambut putih tidak puas dengan jawaban Socrates, Plato, Aristoteles, George Berkely, Rene Descartes, dan Immanuel Kant.
Ah, ngacau semua mereka itu. Jawaban mereka sesuai selera masing-masing. Maka belum puaslah diriku alan jawaban mereka semua. Tetapi aku sadar bahwa aku sedang berada pada jaman jauh sebelum diriku sekarang. Padahal aku belum sempat bertanya kepada orang sekarang yang berseliweran didepanku. Maka aku berjanji akan meneruskan perjalananku untuk bertanya siapa sebenarnya diriku itu?

Orang tua berambut putih bertemu Hegel, Brouwer, Russell, Wittgenstein, Hilbert, Godel, Husserll, Einstein, Lakatos dan Ernest
Wahai Hegel, Brouwer, Russell, Wittgenstein, Hilbert, Godel, Husserll, Einstein, Lakatos dan Ernest, ..bolehkah aku bertanya kepadamu. Menurut kesaksianmu, siapakah sebenar-benar dirimu dan sebenar-benar diriku itu?

Hegel:
Sebenar-benar dirimu adalah riwayatku. Padahal hidupku telah melampuai masa laluku, dan sedang mengalami waktu kiniku dan bersiap-siap untuk menempuh masa depanku. Itulah sebenar-benar dirimu, adalah sejarah bagimu. Maka akupun tidak lain tidak bukan adalah sejarah itu sendiri. Jadi sebenar-benar ilmu adalah sejarah dirimu. Hidupmu adalah sejarah diriku. Diriku adalah sejarah dunia ini. Maka sebenar-benar dunia adalah mensejarah. Ketahuilah bahwa tiadalah ada di dunia ini beserta wadah dan isinya yang tidak mensejarah. Make tersesatlah wahai orang-orang yang melupakan akan sejarahnya.

Brouwer:
Sebenar-benar dirimu adalah intuisiku. Namun hendaknya engkau ketahui bahwa intuisiku bersifat ganda. Maksudnya adalah jika aku memikirkanmu yang satu maka aku masih dapat mengingat engkau yang lain. Demikianlah seterusnya. Itulah sebenar-benar ilmuku. Yaitu intuisiku yang bersifat ganda.

Russell:
Sebenar-benar dirimu adalah logikaku. Hukum sebab-akibat dalam koherensi itulah sebenar-benar dirimu itu. Dirimu adalah konsistensi logikaku. Dirimu adalah kepastian pikiranku. Dirimu adalah kejelasan pikiranku. Maka sebenar-benar dirimu adalah premis-premis dan kesimpulan yang bersifat rigor. Tiadalah ada dirimu di situ jikalau engkau menyalahi hukum-hukumnya. Tetapi ternyata aku mempunyai musuh yang maha besar yang siap menerkam diriku. Yaitu ketika aku tidak bisa menjawab apakah engkau yang tidak sama dengan engkau itu termasuk anggota dari kumpulan engkau.

Wittgenstein:
Sebenar-benar dirimu adalah kata-kataku. Maka sebenar-benar ilmu itu adalah kata-kata. Kata-kata dan bahasa itulah rumahku. Maka engkau yang besar dapat aku lihat sebagai kumpulan engkau yang kecil-kecil. Engkau yang besar adalah gabungan engkau yang kecil-kecil. Demikianlah sifat kata-kata dan kalimat-kalimat dalam bahasa. Maka barang siapa tidak dapat mengucapkan kata-katanya, maka dia terncam kehilangan ilmunya.

Hilbert:

Sebenar-benar dirimu adalah sistimku. Sebenar-benar dirimu adalah formalitasku. Maka sistimku yang tersusun secara formal itulah sebenar-benar engkau. Itulah engkau yang mampu menaungi semuanya tanpa kecuali. Engkau yang satu adalah tujuanku. Maka tiadalah ilmu yang lain kecuali engkau yang satu itu. Engkau yang satu itulah konsistensi dan kelengkapanmu. Maka sebenar-benar ilmu adalah satu, konsisten dan lengkap. Tetapi aku bermimpi akan ada seseorang muridku yang membalikkan pikiranku ini. Tetapi entahlah.

Godel:
Sebenar-benar dirimu adalah pilihanmu. Engkau tingal memilih salah satu. Jika engkau memilih konsisten, maka tidak akan lengkapkah engkau itu. Jika engkau memilih kelengkapan, maka tidak akanlah engkau itu konsisten. Untuk itu aku berani mempertaruhkan segalanya di depan guruku Hilbert bahwa pernyataanku itu memang benar demikianlah.

Husserll:

Sebenar benar dirimu adalah hanya sebagian dari diriku. Engkau tidak akan mengerti akan dirimu jika engkau berusaha menggapai semuanya. Maka sebenar-benar ilmu adalah phenonemologi, yaitu sebagian darimu yang aku sembunyikan yang lainnya di dalam rumah epoche. Jika aku berpikir tentang satu maka aku singkirkan yang lainnya. Aku bersihkan pikiranku dari memikirkan yang lainnya. Jika aku memikirkan engkau sebagai kubus matematika, maka aku singkirkan semua sifat-sifat yang tidak aku kehendaki. Bukankah ketika aku memikirkan kubus matematika aku tidak perlu memikirkan aroma, aku tidak perlu memikirkan harga jual, aku tidak perlu memikirkan keindahan. Itu semua aku simpan dalam rumah epoche. Sedang yang aku pikirkan hanyalah ukuran dan bentuk dari kubus itu. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu satu atau beberapa sifat dari dirimu yang aku pilih untuk aku pikirkan.

Einstein:

Sebenar-benar dirimu adalah ketidak pastianmu. Tetapi hendahlah engkau ingat bahwa ketidak pastianmu itulah sebenar-benar kepastian. Maka relativisme itulah kata-kataku. Aku tidak pernah pasti dapat menentukan dirimu. Namun, itu juga kepastianku. Aku memastikan bahwa aku dalam keadaan berhenti ketika aku bersama-sama berjalan denganmu. Tetapi aku juga dapat memastikan bahwa aku dalam keadaan berjalan ketika aku bersama-sama berhenti dengan mu. Ketinggianmu adalah sekaligus tempat paling rendahmu, demikian sebaliknya. Kecepatan dan masa itulah kunci untuk mengetahui tempat tinggalku. Maka e=mc2 itulah sebenar-benar diriku. Maka sesungguh-sungguhnya ilmu adalah relativitasmu.

Lakatos:
Sebenar-benar dirimu adalah kesalahanku. Ketahuilah bahwa tiada benar tanpa mengerti kesalahan. Maka sebenar-benar ilmu adalah kesalahan itu sendiri. Maka fallibism itulah kata-kataku. Maka jika engkau ingin menggapai benar, maka tidaklah engkau bisa terhindar dari kesalahan. Ketahuilah bahwa menghindari yang salah bukan satu-satunya jalan menuju yang benar. Sedangkan menggapai yang benar tidak berarti menghindari yang salah. Maka sebenar-benar dirimu adalah kesalahanku itu. Maka sebenar-benar tempat tinggalmu adalah di antara yang benar dan salah.

Ernest:
Sebenar-benar dirimu adalah pergaulanmu. Maka tiadalah dirimu itu tanpa pergaulanmu. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu pergaulan itu sendiri. Maka selalu bergaullah antar sesamamu agar engkau memperoleh ilmumu. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu perolehanmu dalam pergaulanmu. Maka socio-constructivist adalah kata-kataku. Yaitu bahwa ilmumu kamu peroleh melalui pergaulanmu.

Orang tua berambut putih ternyata belum puas dengan jawaban Hegel, Brouwer, Russell, Wittgenstein, Hilbert, Godel, Husserll, Lakatos dan Ernest
Ah, ngacau semua mereka itu. Jawaban mereka sesuai selera masing-masing. Maka belum puaslah diriku akan jawaban mereka semua. Tetapi aku sadar bahwa aku sedang berada perjalananku. Tetapi aku ragu apakah aku mampu memikirkan masa depanku?

Orang tua berambut putih bertemu dengan Teleologi
Wahai seseorang, siapakah dirimu itu. Rasa-rasanya aku pernah melihatmu, tetapi tidaklah begitu jelas. Rasa-rasanya aku pernah pergi bersamamu tetapi aku lupa kemana ketika itu. Rasa-rasanya aku pernah berdiskusi denganmu, tetapi aku lupa tentang apa yang kita diskusikan ketika itu.

Teleologi:
Kenalkanlah namaku adalah teleologi. Aku adalah adalah seorang pembantu. Engkau ingatlah seseorang yang bernama Immanuel Kant. Itulah sebenar-benar tuanku. Aku disuruh oleh Immanuel Kant untuk menemuimu. Mengapa? Karena Immanuel Kant mendengar pertanyaan dan kegelisahan dirimu tentang masa depanmu.

Orang tua berambut putih:

Menurut pengetahuanku, Immanuel Kant mempunyai banyak sekali pembantu. Maka tolong jelaskanlah engkau siapa sebenarnya.

Teleologi:

Aku adalah masa depan. Aku berangkat dari masa lampau. Aku adalah semuanya dalam dimensi ruang dan waktu.

Orang tua berambut putih:
Aku tidak jelas penjelasanmu itu. Tolong bicara yang agak rinci.

Teleologi:
Tiadalah sesuatu itu tidak berasal dari sesuatu yang lain. Tiadalah pula sesuatu itu tidak menjadi sesuatu yang lain. Benda sebesar bumi ini akan menjadi sebuah titik jika engkau melihatnya dari kejauhan. Maka sebaliknya, tidaklah engkau dapat menduga bahwa sebuah titik pun bisa menjadi bumi pada masa depannya. Garis sepanjang ini akan menjadi titik jika engkau melihatnya dari kejauhan. Maka sebaliknya, tidaklah engkau dapat menduga bahwa sebuah titik pun bisa menjadi garis pada masa depannya. Berdasarkan analogi tersebut maka aku mengkhawatirkanmu bahwa di masa depanmu engkau akan bisa berbentuk apa saja. Engkau bisa saja terbang seperti seekor burung jika seribu, sejuta, semilyard keturunanmu selalu menginginkan terbang dan beratih untuk terbang. Itulah sebenar-benar diriku. Itu pulalah sebenar-benar ilmuku dan juga ilmumu. Jadi sebenar-benar ilmu adalah diriku, yaitu teleologi.

32 comments:

  1. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Ilmu yang sekarang dan ilmu yang di masa lalu akan selalu meningkat dimensinya. Mengukur baik buruknya melalui tindakan untuk mencapai tujuan. Pemikiran para filsuf pada zamannya masing-masing merupakan hasil pemikiran yang berada pada ruang waktunya mereka. Diri kita adalah semuanya itu. Semua yang dipikirkan, pengalaman kita, dari awal kita dilahirkan, sampai sekarang ini. Sesuai dimensi ruang dan waktunya. Dan bertanya didalam dunia ini tidak akan selesai sampai kita dunia ini kiamat. Maka bertanya adalah awal mula sebuah ilmu ada.

    ReplyDelete
  2. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Dirimu adalah masa depanmu. Dirimu dengan kebiasaan yang kamu lakukan akan mempengaruhi masa depanmu. Ilmu yang kau miliki saat ini akan bertambah jika engkau memiliki usaha untuk mencarinya dan ilmumu juga akan berpengaruh pada masa depanmu, yaitu bagaimana akan engkau menjadi.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  3. Niswah Qurrota A'yuni
    NIM. 16709251023
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas B 2016

    Assalamu'alaikum Wr.Wb.,

    Dalam perjalanan waktu, ilmu pengetahuan didefinisikan sesuai dengan persepsi, pengalaman, dan apa yang ada di dalam pikiran para filsuf sesuai dengan selera mereka masing-masing. Dan pada akhirnya, ilmu pengetahuan di definisikan sebagai teologi, yaitu semuanya dalam dimensi ruang dan waktu.

    Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  4. Ressy Rustanuarsi
    16709251033
    PPs PMAT Kelas B 2016

    Elegi ini menggambarkan kegigihan seseorang dalam mencari hakikat sesuatu (ilmu). Orang tua berambut putih memiliki tingkat curiosity yang tinggi. Ia tidak lantas puas memeroleh ilmu dengan melihat dari masa lalu/pengertian dari para ahli/tokoh. Namun ia juga ingin mengetahui bagaimana kedudukan ilmu tersebut pada masa depan. Inilah yang harus kita contoh, salah satu yang harus kita lakukan adalah melakukan riset-riset agar ilmu terus berkembang. Karena sesungguhnya ilmu juga berstruktur dan berhirarki sesuai ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  5. Azwar Anwar
    16709251038
    Pendidikan Matematika S2 Kelas B 2016

    Ilmu itu diriku sendiri. Jadi ilmu kita akan berarti dan bermanfaat juga berdasarkan diri kita sendiri. Menuntut ilmu harus didasari dengan sebuah kesadaran akan kebutuhan karena ketidaktahuan kita tentang ilmu tersebut. Inilah yang bisa kita teladani dalam menuntut ilmu, bagaiaman ilmu itu selalu berlandaskan dari teori-teori yang dahulu sehingga terori terus berkmabang hingga sampai saat ini. Ilmu kita masa depan berawal dari ilmu yang kita miliki itu juga tergantung diri kita sendiri dalam meraihnya. Karena ilmu itu berstruktur dan berhirarki. Sehingga harus ada tahap-tahap untuk mendapatkannya.

    ReplyDelete
  6. SUPIANTO
    16701261001
    S3 PEP KELAS A 2016

    "Sebenar-benar ilmu adalah diriku, yaitu teologi"
    manusia adalah microkosmos, segala hal yang menjadi pertanyaan ilmu pengetahuan tentang alam pada dasarnya jawabannya ada dalam diri manusia itu sendiri. alam adalah macrokosmos, maka sebenar-benar macrokosmos itu juga ada di dalam microkosmos. Tuhan adalah Mahacosmos, maka segala hal yang meliputi micro dan macro cosmos itu sebenarnya berada dalam Mahacosmos pula. maka sebenar-benar ilmu itu adalah melihat diriku sendiri, karena di dalam diriku ada macro dan Mahacosmos.

    ReplyDelete
  7. Nira Arsoetar
    16709251018
    PPS UNY Pendidikan Matematika
    Kelas A

    Ilmu pengetahuan merupakan hal yang mendasar yang sangat dibutuhkan untuk kehidupan. Dari asa ke amsa perkembangan ilmu semakin membaik, dari yang sederhana menjadi kompleks. Begitupula ilmuan ilmuan yang terkait dalam hal oengembangan ilmu menyumbangkan pemikirannya masing-masing untuk saling menyempurnakan ilmu pengetahuan menuju lebih baik. Sehingga berfungsi atau tidaknya sebuah ilmu tergantung dari kita menyikapi dan menggunakaannya. Ilmnu yang sedikit akan berpotensi menjadi banyak jika kita berjuang untuk mencari ilmu dengna sungguh-sungguh dan ikhlas. Sebaliknya, ilmu yang banyak yang didapat dari hasil berjuang, jika da kesombongan

    ReplyDelete
  8. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  9. Achmad Rasyidinnur
    16701251032
    PEP S2 B

    Sebagai generasi manusia di zaman modern, perlu seharusnya mensyukuri keberadaan para filsof beserta dengan seluruh pemikiran dan beragam pandangan mereka sejak dahulu hingga sekarang. Pandangan apapun yang mereka konsepkan adalah bentuk pencarian dari sebuah kepercayaan. Latar belakang dan kondisi yang berbeda sangat mempengaruhi pandangan serta karakter seseorang. Faktor tersebut berindikasi pula terhadap tujuan masa depan.

    Saat ini dengan milyaran literatur, dari berbagai pemikiran dan pengalaman yang didukung dengan ilmu pengetahuan yang diwariskan, tentunya akan menjelaskan bebagai sudut pandang. Sumber yang valid dan reliabel sangat menentukan disini. Karena berdampak pada akhirnya.

    Sebagai individu yang mencari masa depan, maka harus berusaha mencari kebenaran yang absolut dari sumber yang tepat, dengan mempertimbangkan seluruh elemen Benar dan Salah, Baik dan Buruknya. Tentunya harus dengan catatan kejujuran. Jujur awalnya, jujur prosesnya, dan jujur akhirnya.

    ReplyDelete
  10. Nur Dwi Laili Kurniawati
    13301241063
    Pendidikan Matematika C 2013

    Teologi adalah masa depan. Teologi berangkat dari masa lampau. Teologi adalah semuanya dalam dimensi ruang dan waktu. Dan sebenar- benar ilmu adalah teologi. Ilmu adalah masa depan. Ilmu berangkat dari masa lalu. Ilmu adalah semuanya dalam dimensi ruang dan waktu. Karena itulah kita harus terus belajar, belajar, dan belajar. Karena itulah kita harus selalu mencari ilmu. Karena ilmu itu berkembang. Ilmu bukan masa lalu tetapi berangkat masa lalu. Ilmu itu masa depan. Maka jika masa lalu kita telah belajar maka sampai kapanpun kita harus tetap belajar karena ilmu tidak pernah berhenti sebagaimana masa depan. Dan ilmu adalah segala sesuatu dalam dimensi ruang dan waktu. Maka ilmu itu begitu banyak. Satu ilmu saja adalah masa depan. Maka segala sesuatu dalam dimensi ruang dan waktu memiliki masa depan. Karena itulah kita harus terus belajar, belajar, dan belajar, karena ilmu terus berkembang tanpa mengunggu kita.

    ReplyDelete
  11. Siska Nur Rahmawati
    1670251028
    PEP-B 2016



    Ilmu adalah segala sesuatu yang merupakan hasil dari kegiatan berpikir manusia. Setinggi-tingginya ilmu adalah teologi yaitu spiritual. Allah SWT sudah menentukan ketetapan bagi umatnya jauh sebelum manusia itu dilahirkan. Memang tidak mudah jika kita harus menalar Tuhan, namun Tuhan itu selalu ada di hati dan pikiran kita. Ilmu teologi adalah ilmu yang fleksibel yang bisa kita pakai ruang dan waktu dengan ketetapan dariNya.

    ReplyDelete
  12. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Hakekat ilmu adalah kontradiksi dan tempatnya adalah dalam pikiran manusia.Jadi sebenar-benar pikiran manusia adalah kontradiksi. Dalam memahami ilmu alangkah lebih baiknya jika kita mempelajari secara keseluruhan, bukan hanya sebagian-sebagian saja. Karena hal itu nanti yang akan mempengaruhi pemikiran kita terhada hal tersebut. Sesungguhnya hakekat ilmu adalah satu kesatuan antar unsur-unsur pembentuknya.

    ReplyDelete
  13. Afifah Nur Indah Sari
    13301244006
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Lakatos mengungkapkan bahwa sebenar-benar ilmu adalah kesalahanmu. Melalui kesalahan seseorang dapat mengambil ilmu jika memang dia berpikir. Ilmu untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, ilmu untuk memperbaiki diri dari kesalahan-kesalhan diri serta ilmu untuk dibagikan kepada orang lain atas pengalaman melakukan kesalahan.

    ReplyDelete
  14. Herwati Dian Saputri
    12313244004
    Pend. Matematika (Inter.)

    Saya sangat tertarik dengan penjelasan teteologi bahwa masa depan itu berasan dari masa lampau. Pengalaman adalah guru terbaik. Sesuatu yang ada saat ini merupakan akibat dari sesuatu yang telah lampau. Benar memang bahwa benda sebesar bumi ini akan menjadi sebuah titik jika engkau melihatnya dari kejauhan. Maka sebaliknya, tidaklah engkau dapat menduga bahwa sebuah titik pun bisa menjadi bumi pada masa depannya. Garis sepanjang ini akan menjadi titik jika engkau melihatnya dari kejauhan. Maka sebaliknya, tidaklah engkau dapat menduga bahwa sebuah titik pun bisa menjadi garis pada masa depannya. Berdasarkan analogi tersebut maka seseorang berhak untuk menentukan masa depannya, baik atau buruk. Sesuai dengan usaha yang ia lakukan (ikhtiyar).
    Allah telah berfirman bahwa Allah tidak akan mengubah suatu kaum sehingga mereka mengubah diri mereka sendiri.

    ReplyDelete
  15. Fauzul Muna Afani
    Pendidikan Matematika A 2013
    13301241010
    Masa depan merupakan apa yang kita telah lakukan dimasa lalu. Ilmu yang kita dapatkan sekarang tidak terlepas dari ilmu yang telah kita pelajari dan kita dapatkan dimasa lalu. Seperti matematika ilmu yang kita pahami saat ini tidak akan kita dapatkan apabila kita tidak paham materi matematika sebelumnya. Contohnya kita tidak. akan dapat memahami matematika yang dipelajari saat kuliah apabila kita tidak paham materi matematika di SD, SMP dan SMA.

    ReplyDelete
  16. Fauzul Muna Afani
    Pendidikan Matematika A 2013
    13301241010

    Untuk dapat menjadi seorang yang sukses kita harus merubah cara pandang kita yang sempit. Kita harus memiliki cara padang yang luas untuk dapat memahami suatu ilmu. Seperti yang dijelaskan didalam postingan benda sebesar bumi akan menjadi sebuah titik apabila kita memandang dari jauh. Kita dapat menjadi seorang yang berhasil jika saat ini kita mau berusaha dan mengembangkan diri kita, karena saat ini akan menjadi masa lalu bagi masa depan.

    ReplyDelete
  17. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Sebenar-benarnya ilmu adalah dirimu sendiri sehingga yang terutama dari memiliki ilmu adalah bagaimana kita mampu mengamalkan dan menjadikan ilmu itu bermanfaat bagi orang lain. Dalam mengejar ilmu juga jangan hanya didasari oleh pikiran rasional tapi harus dilandasi dengan hati yang bersih dan ikhlas agar kita tidak terjebak dalam kesombongan diri dan menjadi sesat

    ReplyDelete
  18. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Elegi Pengembaraan Orang Tua Berambut Putih ini merupakan elegi kontradiksi dalam diri sendiri, dimana manusia mencari-cari hakikat tentang dirinya sendiri. Padahal sesungguhnya, dirimu itu ada dalam pikiranmu sendiri. Sebenar-benar dirimu hanya dirimu yang tau, dan akan jadi apa dirimu adalah tindakanmu yang menentukannya.
    Namun seperti yang dikatakan Immanuel Kant, “Namun ketahui pula bahwa tidaklah mudah menggapai dirimu”. Maka, pahami dirimu sendiri yang rumit itu, mengerti dan melangkah-lah di dunia yang lebih rumit ini dengan kepastian tujuanmu.

    ReplyDelete
  19. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Para filsuf memiliki paham-paham yang berbeda mengenai dunia ini. Mengenai ilmu pengetahuan. Sebenar-benar ilmu adalah diri kita sendiri. Bagaimana kita bisa menjelaskan ilmu yang kita peroleh terhadap orang lain. Menjelaskan melalui perilaku kita sehari-hari, bagaiamana kita meimplementasikan ilmu pengetahuan yang kita miliki untuk kepentingan orang banyak.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  20. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    Dari elegi di atas dapat saya pahami bahwa Teleologi merupakan ajaran filosofis-religius tentang eksistensi, tujuan-tujuan dan kebijaksanaan objektif di luar manusia. Tuhan adalah Dzat penggerak pertama sekaligus terakhir. Tuhan tak mengenal asal permulaan atau pun akhir. Tuhan menunjukkan ke-ADA-anNya salah satunya melalui penciptaan alam semesta ini dan cukup lah kita mengimaninya. Sesungguhnya sebenar-benar hambaNya adalah berusaha mencari ilmu dan mempergunakan ilmu tersebut untuk memahami apa tujuan atau teleologi Tuhan itu sendiri.

    ReplyDelete
  21. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Sesungguhnya manusia adalah apa yang ia pikirkan. Ia bisa menjadi apapun dengan kekuatan pikirannya sendiri. Namun Pernahkah kita bayngkan bahwa sehebat apappun kekuatan pikiran kita selalu ada Yang Menentukan. Engkau bukanlah dirimu jika bukan karena kehenda-Nya. Ia-lah yang menciptkan pikiran kita. Namun kita diberi keleluasaan untuk memilih, siapakah diri kita. Itulah kita sesuai dengan pilihan atas apa yang kita pikirkan.

    ReplyDelete
  22. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Sebenar-benar orang berambut putih adalah fikiranku yang berfikir, sehingga bisa dikatakan orang tua berambut putih itu adalah ilmuku sendiri yang telah, sedang, dan akan digapai. Jadi orang berambut putih itu ternyata tidak lain tidak bukan adalah diriku sendiri.

    ReplyDelete
  23. Budi Yanto
    16709251024
    P. Mat S2 Kelas B 2016
    Maka untuk mengenal dunia adalah dengan mengenal diri sendiri. Maka untuk mengenal diri sendiri adalah dengan ilmu. Maka untuk belaja tentang ilmu adalah belajar memikirkan masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Engkau belajar tentang masa depan maka harus didasari dengan masa kini dan masa lalu. Ilmu berasal dari pengalaman indrawi manusia baik didengar, dirasakan dan dilihat serta diyakini kebenarannya. Maka untuk memperbanyak ilmu adalah dengan memperbanyak pengalaman pengalaman tentang sesuatu.

    ReplyDelete
  24. Fitri Ayu Ningtiyas
    16709251037
    S2 P.Mat B UNY 2016

    Dari elegi pengembaraan orang tua berambut putih diatas diketahui bahwa sebenar-benar ilmu adalah diriku. Pemahaman ini disebut sebagai teleologi. Ilmu yang dimiliki setiap orang akan berbeda, tergantung bagaimana ia menggali pengetahuan dan informasi apa yang ingin diperolehnya. Dalam mereflesikan pengetahuan yang telah didapat pun akan berbeda antara satu orang dan lainnya. Karena itulah sebenar-benar ilmu bergantung pada diri setiap individu dalam memaknainya.

    ReplyDelete
  25. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Orang tua berambut putih dapat dianalogikan sebagai ilmu. Pengembaraan orang tua berambut putih dapat dipikirkan sebagai perkembangan hakekat ilmu yang merentang dari zaman dahulu hingga sekarang. Hakekat ilmu pengetahuan sangatlah banyak dan beragam. Seperti yang diungkapkan dalam elegi ini, muncul berbagai pendapat tentang ilmu pengetahuan, sebanyak orang yang memikirkannya. Setiap orang atau filsuf mendefinisikan ilmu pengetahuan berdasarkan persepsi, pemikiran, pengalaman dan konteks kehidupannya masing-masing. Setiap pendapat tersebut juga memiliki dasar dan penjelasnnya masing-masing. Pendapat-pendapat tentang ilmu pengetahuan tersebut akan terus-menerus berkembang seiring perubahan zaman.

    ReplyDelete
  26. Erlinda Rahma Dewi
    16709251006
    S2 PPs Pendidikan Matematika A 2016

    Orang tua berambut putih adalah lambang dari ilmu dan kebijaksanaan. Masing-masing filsuf memiliki definisi ilmu yang berbeda-beda. Socrates, Plato, Aristoteles, Rene Descartes, David Hume, Immanuel Kant, Russell, Hilbert, Godel, Husserll, Einstein, Lakatos, Ernest, bolehlah menyampaikan apa yang dipikirkan sesuai dengan seni berpikirnya masing-masing. Kitapun jangan sampai mendapatkan ilmu dari satu sumber sudah merasa cukup dan seolah-olah yang lain tidak penting dan tidak ada manfaatnya. Yang paling penting adalah apa yang disampaikan bukanlah yang paling benar, karena benar menurut kita, belum tentu bagi orang lain.

    ReplyDelete
  27. Aprisal
    16709251019
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Assalamu alaikum

    Guru berguru, ilmu mencari dan melengkapi ilmu, itulah isyarat yang disampaikan dalam elegi ini. Orang yang berambut putih dalam hal ini jelmaan dari ilmu itu sendiri, terus berkelana mencari dukungan terhadap apa yang dimiliki dan terus melakukan intensi dan ekstensi terhadap subjek ilmu itu sendiri. Tapi perlu disadari karena keterbatasan berpikirlah membuat orang yang merasa berilmu itu mencari referensi lain, mungkin apa yang dipikirkan itu benar, tapi mungkin dipikirkan orang lain salah. Sebagai manusia sifatnya adalah terbatas dan tempatnya salah, maka perlu terus melengkapi keterbatasannya itu, dengan terus mencari para saksi-saksi (filsuf, dalam filsafat) walau lengkap itu sebatas apa yang yang dipikirkan oleh siapapun yang paling dianggap tahu. Menyampaikan ide dan pikiran adalah filsafat (olah pikir) dari seseorang. Allah SWT menganugerahkan kepada kita akal dan pikiran, maka dari itu, manusia perlu melakukan intensi dan ekstensi ilmu itu sesuai dengan kebutuhan berdasarkan panduan dari orang-orang yang dianggap tahu lebih dahulu. Semoga kita tidak merasa puas dulu dengan apa yang diketahui dan merasa yang paling benar dan menjadi bagian masa sekarang dan masa yang akan datang yang terus memburu ilmu-ilmu yang membawa kemaslahatan dunia sampai akhirat

    Waalaikum salam wr.wb

    ReplyDelete
  28. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Ada satu hal yang menurut saya sangat berkesan, bahwa sebenarnya suatu ilmu itu berasal dari sesuatu yang lain. Itu menunjukkan bahwa untuk mendapatkan ilmu sebaiknya kita tidak saja mempelajari bidang ilmu kita saja, tetapi ilmu-ilmu yang lain yang saling berkaitan dengan pen jurusan kita. Sehingga dalam hal ini kita akan mampu mengaplikasikan ilmu dasar yang telah kita peroleh kemudian kita kembangkan melalui ilmu-ilmu yang lain sesuai dengan aplikasinya. Oleh karena itu kita jangan pernah merasa puas dalam menuntut ilmu, karena bila kita telah merasa puas maka kita akan berhenti untuk belajar kembali.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  29. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Sebenar-benarnya diriku adalah diriku di masa lalu, diriku dinmasa kini dan diriku di masa depan. Dan diriku ada karena diri yang lain ada. Diriku diakui ada karena diri yang lain jiga kuakui ada.
    Sebenar-benarnya ilmuku adalah apa yang aku pikirkan. Sebab intisari dari ilmu adalah pikiran. Kita mempelajari pikiran-pikiran seseorang dan kita membuat refleksi dari mereka dan berdasarkan mereka.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  30. Moh. Bayu Susilo
    16709251012
    S2/P. Matematika/A/2016

    Elegi Pengembaraan Orang Tua Berambut Putih dapat diartikan merupakan proses seorang manusia dalam "mengembara" menemukan kebijaksanaan dalam hidupnya. Dalam perjalanannya ia menemukan berbagai macam kontradiksi dari berbagai macam pendapat berbagai filsuf yang ia temui. Setiap filsuf mempunyai sudut pandang tersendiri dalam memandang kehidupan. Sehingga Orang Tua Berambut Putih itupun mengambil hikmah dari berbagai macam sudut pandang tersebut untuk menambah kebijkasanaan dirinya.

    ReplyDelete
  31. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    Ilmu adalah Teleologi. Jadi sebenar-benar ilmu adalah diriku, yaitu teleologi. Ilmu kita akan berarti dan bermanfaat juga berdasarkan diri kita sendiri. Begitu pula masa depan kita yang berawal dari ilmu yang kita miliki itu juga tergantung diri kita sendiri dalam meraihnya. Dalam Elegi ini, Orang Tua Berambut Putih telah memberikan contoh kegigihannya dalam mencari tahu tentang sesuatu. Dia tidak puas hanya dengan melihat masa lampau, tapi juga sekarang dan masa depan. Inilah yang bisa kita teladani dalam menuntut ilmu, yaitu kita harus melihat masa lampau yaitu pemikiran para tokoh, sekarang yaitu perkembangan saat ini, dan masa depan yaitu prediksi di masa yang akan datang.

    ReplyDelete
  32. Nauqi Aprilia Putri
    13301241023
    Pendidikan Matematika A 2013

    Seseorang memiliki sudut pandang yang berbeda dengan yang lain. Misalkan, bahwa jika seseorang melihat garis dengan jarak yang berbeda dengan orang lain yang melihatnya, maka akan berbeda apa yang ada dalam benaknya, pun itu adalah hal yang sama. Maka tak heran jika di dunia ini terdapat banyak perbedaan yang mungkin bahkan menimbulkan perpecahan. Masa depan yang yang akan diraih, dipengaruhi oleh masa lalu yang telah dilalui. Masa lalu yang membelajarkan, digunakan untuk dapat melakukan hal yang sekarang, dan digunakan untuk masa depan. Setiap orang berhak memiliki cita – cita masa depan akan menjadi seperti apa. Tentunya, dengan usaha yang dilakukan. Ilmu yang kita dapatkan merupakan salah satu hal yang sangat berpengaruh kelak akan menjadi apa di masa depan nanti. Pertanyaan yang ada dalam pikiran kita merupakan kaca dari seberapa ilmu yang telah kita peroleh.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id