Oct 14, 2011

Elegi Menyesali Rumahku Yang Terlalu Besar




Oleh Marsigit

Rumah Besar:

Wahai pemilik rumah, kenapa engkau terlihat kurang merawatku. Padahal aku telah engkau bangun dengan biaya yang sangat besar dan melibatkan semua potensimu. Engkau juga tidak membangun rumah ini hanya sendirian. Beberapa generasi sebelummu dan generasimu sekarang juga masih terus terlibat pembangunan rumahmu ini. Bahkan petualangan generasi pendahulumu menjajah Bangsa-bangsa lain itupun dalam rangka membangun rumah ini. Aku telah tercipta menjadi rumah super lengkap, super canggih dan supermodern. Aku itulah sebenar-benar Mega Proyek bangsamu itu. Maka tolong rawatlah diriku dengan baik.



Pemilik Rumah:
Oh maaf....wahai rumahku yang tercinta. Maaf aku sampai sedikit tidak merawat dirimu. Bukanlah aku sengaja melupakan dirimu, tetapi ketahuilah...dikarenakan dirimu terlalu besar itulah maka aku sendiri hampir tidak dapat mengenali dirimu lagi. Apalagi jika harus mengingat-ingat detail dari bangunanmu, disamping datanya sudah hilangg karena terlalau lamanya, tetapi juga karena engkau sudah terlalu rumit dipahami. Bagaimana aku bisa merawat dirimu dengan baik, jika aku sendiri lupa dan tidak paham bagian-bagianmu. Tolong..wahai rumah besarku...ceritakan kepadaku sepintas saja tentang ciri-cirimu, fungsi dan manfaatmu, agar aku bisa mengingat-ingatmu kembali.

Rumah Besar:
Baik tuanku. Aku si Rumah Besar adalah salah satu pusat peradaban dunia. Aku dibangun selama berabad-abad tidak hanya oleh satu generasi tetapi oleh lebih dari 5 generasi. Maka aku telah tercipta menjadi sebuah rumah besar yang paling lengkap di dunia. Aku juga akan berbangga hati jika para penghuniku menjulukiku sebagai Metropolitan. Puncak prestasi dan pencapaianku adalah aku merasa mampu menyediakan semua dan segala kebutuhan penghuni-penghuniku. Saya ulangi, aku merasa mampu menyediakan semua dan segala kebutuhan penghuni-penghuniku.

Pemilik Rumah:
Ntar dulu..jangan tergesa bicara manfaat atau fungsi. Ceritakan dulu siapa yang membangunmu dan bagaimana membangunnya.

Rumah Besar:

Baik tuanku. Aku dibangun sejak abad 16. Mulanya aku adalah pusat kerajaan, tetapi karena kerajaannya berkembang pesat maka mulailah diperlukan pengembangan. Apalagi setelah kerajannmu itu mampu menjajah bangsa-bangsa lain di dunia, maka hasil jajahan dan jarahannya itu dapat digunakan untuk memperbesar rumahmu ini. Jadilah sekarang aku sebagai salah satu rumah terbesar di dunia, dan menjadi salah satu ikon di dunia.

Pemilik Rumah:
Sebutkanlah ciri-ciri atau strukturmu itu?

Rumah Besar:
Begitu besarnya rumahmu itu, maka untuk mengetahui detailnya, tidak cukup kalau hanya dilihat dari dari darat saja. Maka aku sarankan agar engkau mengamati dan menelitiku juga dari udara, darat, laut dan dari bawah tanah.

Pemilik Rumah:
Lho..mengapa mesti harus mengamati dari udara, laut, darat dan bawah tanah?

Rumah Besar:
Itulah kehebatan rumahmu. Sangking besarnya rumah ini sehingga engkau sendiri kewalahan untuk memahaminya. Saya teruskan.... Ketahuilah bahwa Rumah Besarmu ini terdiri dari 3 (tiga) struktur, yaitu struktur atas, struktur tengah dan struktur bawah.

Pemilik Rumah:
Tolong jelaskan lebih rinci tentang struktur atas, struktur tengah, dan struktur bawah?

Rumah Besar:
Struktur atas meliputi gedung-gedung pencakar langit, menara, center point, gondola, kereta gantung, jembatan layang, monoreel, pusat pengendali informasi, restoran terbang, taman gantung, teater angkasa, lapangan gantung, kolam renang gantung, ..terowongan udara..dst. Struktur tengah meliputi bangunan rumah-rumah penduduk, tempat peribadatan kuno, lapangan, rel KA, jalan raya, toko-toko, taman kota, dst. Sedangkan struktur bawah meliputi Under Ground Tube, Under Ground Railway Station, gedung tingkat 10 (sepuluh) tetapi menjulang kebawah, pasar bawah tanah, sirkus bawah tanah, kolam bawah tanah, taman bawah tanah, gondola bawah tanah, pusat pengendali bawah tanah, teater bawah tanah, sepak bola bawah tanah, mall bawah tanah, restoran bawah tanah, jembatan bawah tanah, terowongan bawah tanah..dst.

Pemilik Rumah:
O..oo..oo sayang terlalu kecil otakku itu, sehingga aku banyak melupakan kekayaanku itu. Jangankan merawat dan memanfaatkan dirimu, mengingat dirimu saja aku sudah mulai kesulitan. Coba teruskan sebut ciri-ciri yang lain dan juga siap saja penghuninya dan bagaimana karakteristiknya.

Rumah Besar:
Itulah diriku...si Rumah Besar milikmu. Sebagai akumulasi bangunan yang dibuat oleh beberapa generasi dengan megambil kemakmuran seluruh dunia untuk membiayainya, maka sempurnalah diriku itu. Segala kebutuhanmu dan kebutuhan penghuni-penguhinya terjamin ada dan sangat memuaskan. Semuanya ada di sini. Tidak hanya kebutuhanmu dan kebutuhan mereka, maka semua yang engkau pikir dan akan engkau pikir sudah aku sediakan di sini. Jadi tak usah khawatirlah...begitu.

Pemilik Rumah:
Tetapi....kenapa engkau mengeluh kurang perawatan?

Rumah Besar:
Itulah imbalan atau tuntutanku dari kamu sebagai pemiliknya dan dari mereka sebagai penghuninya. Tidaklah ada yang gratis di rumahku itu. Itu adalah syarat-syarat yang sudah kita tetapkan bersama. Agar aku tetap besar dan akan selalu menjadi besar maka semua penghuniku harus memberi tebusannya yang sepadan kepada diriku.

Pemilik Rumah:
Bagaimana jika ada penghuni yang tidak bisa merawat karena tidak mampu membayar?

Rumah Besar:
Itulah hukumnya tuan. Seperti yang telah aku katakan di muka, tidaklah ada yang gratis di rumah ini. Maka bagi mereka yang tidak mampu merawat dan tidak mampu membayar akan aku usir dari rumah ini. Jika mereka tetap tidak mau pergi dan ingin tinggal di rumah ini ya terpaksa mereka harus mau menjadi kerak-kerak atau sampah atau kotoran yang siap menghuni tempat-tempat atau bak sampah..begitu.

Pemilik Rumah:
Wahai para penghuni Rumah Besarku, bagaimanakah kesan-kesanmu mendiami rumah ini?

Para Penghuni Rumah:
Wahai pemilik rumah..sungguh rumah ini sangat mengagumkan. Aku sangat puas dengan fasilitas yang ada di rumah ini. Semua kebutuhanku ada semua di rumah ini. Jangankan kebutuhan, semua yang aku pikir dan akan aku pikirpun sudah ada di sini.

Pemilik Rumah:
Wahai penghuni rumah...tetapi kenapa engkau tidak mampu merawat semua bagian dari Rumah Besar ini?

Para Penghuni Rumah:
Bagian yang mana yang tidak aku rawat? Yang mana yang tidak aku manfaatkan?

Pemilik Rumah:
Itu ada tempat peribadatan sudah satu abad tidak dipakai, dibiarkan saja kosong tidak digunakan sebagai mana mestinya.

Para Penghuni Rumah:
Wahai pemilik rumah. Seumur hidupku, jika engkau menyuruhku untuk menjelajahi rumah ini maka aku tidak akan mampu. Seperti halnya dirimu dan juga penghuni yang lain. Maka cara saya menghuni rumahmu itu adalah dengan menjelajahi bagian-bagian yang saya anggap penting dan menyenangkan saja. Hal yang penting dan menyenangkan bagi diriku ternyata juga sama dengan penghuni yang lain.

Pemilik Rumah:
Ya..ya..tetapi jelaskanlah mengapa engkau abaikan itu tempat ibadah?

Para Penghuni Rumah:
Wahai pemilik rumah..janganlah engkau berlaku munafik terhadap diriku. Aku melihat engkau juga merasakannya. Bukankah dengan kelengkapan, dengan kecanggihan, dengan fasilitas yang serba ada ini, maka rumah ibadah itu menjadi tidak penting dan tidak menarik?

Pemilik Rumah:
Kenapa rumah ibadah tidak menarik?

Para Penghuni Rumah:

Bukankah engkau sendiri yang menciptakan berbagai macam hiburan. Di rumah ini sudah sangat lengkap ada berbagai hiburan dan kegiatan, sepak bola atas tanah, sepak bola bawah tanah, circus atas tanah, circus bawah tanah, teater atas tanah, teater bawah tanah, taman atas tanah, taman bawah tanah, ...semuanya...atas tanah...bawah tanah...atas tanah...bawah tanah.. Belum lagi fasilitas dan hiburan yang tergantung di atas langit...wah..wah sungguh sempurna bangunan ini. Seumur-umur saya jika engkau suruh aku menikmati hiburan di bawah tanah saja aku belum cukup waktu untuk menikmati semuanya. Singkat kata, bagi diriku dan bagi penghuni yang lain, ibadah itu jadi terasa hambar, kurang bermakna, kurang relevan dan tidak sinkron dengan lingkungan. Jangankan beribadah, berkeluarga atau mempunyai anak saja aku tidak sempat, sangking banyaknya dan hobinya bekerja. Rumah Besarmu itu ternyata tidak hanya menyediakan tempat tinggal, dia juga memberi dan menawarkan banyak sekali pekerjaan. Aku dan para penghuni Rumah Besar ini menjadi sangat sibuk sekarang. Aku selalu kekurangan waktu untuk menelusuri Rumah Besar ini. Untuk kegiatanku sehari-hari, ibaratnya 30 jam perhari masih saja aku kekurangan waktu, 9 hari perminggu juga masih merasa kurang waktu, 40 hari perbulan atau 15 bulan pertahun, aku selalu kekurangan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaanku. Dari ribuan jalan dan gang yang ada di Rumah Besar ini, seumur-umur hidupku paling banter aku hanya bisa menelusuri puluhan saja.

Pemilik Rumah:
Baik..katakanlah aku ingin mengetahui bagaimana perasaanmu sekarang, apa kecenderungan, tontonan atau hiburan apa yang paling favorit bagimu semua dari dalam Rumah Besar ini?

Penghuni Rumah:
Untuk satu generasiku ini, maka mereka semua sedang gandrung dengan sepak bola, ..maka semua yang penting, semua yang dirasakan, semua yang dijual, semua yang dipikirkan adalah sepak bola. Wah luar biasa...sepak bola itulah hidup dan matiku sekarang ini. Sepak bola itulah hidup dan matinya para penghuni rumah ini termasuk dirimu tentunya.

Pemilik Rumah:
Wah..hah..cocok..cocok..ternyata keteranganmu itu dapat mewakili pikiran dan jiwaku. Lalu sebaiknya gemana?

Para Penghuni Rumah:

Aku usul kepadamu...dari pada susah-susah merawat tempat ibadah..lebih baik di jual saja. Nah uangnya kan bisa untuk nonton bal-balan bareng, nonton film bareng, berenang bareng, circus bareng, piknik bareng..dst...bareng.

Pemilik Rumah:
Whus..lha nanti kalau ditanya tentang agama? Apa pula agama kita itu jika tempat ibadah dijual?

Para Penghuni Rumah:
Gak usah khawatir..katakan saja agama kita adalah Sepak Bola,...gitu aja kok repot.

Pemilik Rumah:
Lha Rumah Besar kita jadinya akan diberi nama apa?

Para Penghuni Rumah:

Rumah Besar kita ini beri nama saja Kota Metropolitan...boleh London..boleh Tokyo...boleh New York...boleh...bahkan boleh Jakarta.

Pemilik Rumah:
Lho kalau begitu ...pas...kita juga akan memperbesar rumah kita dengan slogan “Mega Proyek Indonesia”?..begitu..?

Para Penghuni Rumah:
Saya agak khawatir jangan-jangan itu hanya mimpi? Atau sekedar konsumsi penyejuk ruangan saja. Lihat tuh...jangankan Indonesia...Negara supertangker Dubai saja akhirnya terlilit dan terjerat hutang dan bangkrut negaranya, gara-gara ambisi yang sama?. Tetapi jika slogan itu serius dan mampu diwujudkan, ya jadinya pas juga dengan persiapan kita menjual rumah ibadah dan mengganti agama kita dengan Bal-Balan. Gitu dheh...?

37 comments:

  1. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Kita tinggal di rumah sebesar ini. Ketika manusia diciptakan, maka manusia mempunyai rumah yang sebesar bumi ini. Kemudian, terpisahkan dengan letak strateginya. Masih saja menjadi rumah yang besar. Semua menjadi tanggung jawab manusia itu. Apa yang akan kita lakukan sekarang adalah buah yang hasilnya untuk masa depan rumah kita. Berlomba-lomba menjadi negara adidaya tanpa melihat adanya kesenjangan antara kaum atas dan kaum bawah. Sekali lagi, “Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian (QS: Al-ashr). Karena egonya didunia dan hatinya yang sudah tertutup. Maka yang diagungkan adalah dunia.

    ReplyDelete
  2. Ressy Rustanuarsi
    16709251033
    PPs PMAT Kelas B 2016

    Menurut saya, rumah besar di sini adalah kiasan dari gemerlapnya kehidupan duniawi, yang apabila selalu diikuti maka tidak akan ada habisnya. Bahkan bisa membuat manusia lupa diri, lupa hakekatnya bahwa hidup di dunia ini hanya sementara dan akhiratlah yang kekal abadi. Semoga kita tidak termasuk golongan itu, karena itulah sebenar-benarnya orang yang merugi. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk selalu berada di jalan-Nya. Aamiin.

    ReplyDelete
  3. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Rumah besar diibaratkan sebagai dunia yang luas. Karena luasnya dunia maka kita tidak bisa mendefinisikan seluruh tempat yang ada. Luasnya dunia memiliki fasilitas lengkap yang dibutuhkan oleh manusia. Sehingga manusia sibuk memakai fasilitas-fasilitas yang ada di dunia sampai terkadang lupa untuk beribadah, lupa akan Pencipta yang menciptakan dunia dengan fasilitas-fasilitasnya. Oleh karena itu kita harus ingat untuk apa kita hidup di dunia ini, yaitu untuk beribadah dan mempersiapkan bekal di akhirat nanti.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
  4. Niswah Qurrota A'yuni
    NIM. 16709251023
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas B 2016

    Assalamu'alaikum Wr.Wb.,

    Elegi ini mengibaratkan rumah besar sebagai sebuah kota yang begitu lengkap dengan segala fasilitas yang menyediakan segala kebutuhan dan hiburan para penghuninya. Dunia yg gemerlap dengan segala kemewahannya, sehingga para penghuni yang terlena dengan berbagai kemudahan duniawi mereka, lupa untuk memenuhi kebutuhan spiritual mereka. Terlena oleh dunia sehingga lupa untuk beribadah.

    Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  5. Afifah Nur Indah Sari
    13301244006
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Apa yang dimaksud dengan rumah besar ini, apakah rumah besar ini sama dengan powernow yang sering disebut-sebut dalam elegi-elegi selanjutnya. Karena ciri-ciri keduanya sama, yaitu memberi fasilitas yang sangat kita butuhkan tetapi membuat kita lupa dengan ibadah kita.

    ReplyDelete
  6. Azwar Anwar
    16709251038
    Pendidikan Matematika S2 Kelas B 2016

    Manusia selalu terlena dengan kehidupan dunianya yang terlalu mewah diibaratkan sebagai rumah yang besar. Dimana kita selalu berfoya foya dengan kehidupan sehari-hari serta tidak ingat kepada yang telah memberikan semua nikmat kepada kita. Padahal apa yang kita lakukan ini berkta nikmat Allah SWT. Seharusnya kesibukan kita harus diseimbangi dengan ibadah. Bahkan lebih baik jika kita lebih banyak aktivitas ibadahnya daripada aktivitas yang tidak bermanfaat.

    ReplyDelete
  7. SUPIANTO
    16701261001
    S3 PEP KELAS A 2016

    saya memahami elegi ini dari dua ranah: makro dan mikro. pada ranah makro, rumah besar ibarat sebuah negara yang telah dibangun sejak berabad-abad lamanya oleh beberapa generasi, bahkan sebelum penjajahan. struktur negara yang dibangun begitu kompleks dan menyediakan berbagai kemudahan dan fasilitas bagi warganya (penghuni rumah besar). namun sayang, para penghuni hanya memilih untuk menikmati berbagai kemudahan itu tanpa mau berpikir bagaimana menjaga rumah besar agar tetap terawat, hal terpenting yang patut dirawat dalam rumah besar tersebut adalah budaya (rumah ibadah). budaya bangsa telah pudar, tergantingkan oleh budaya pop yang melanda seluruh dunia, negara dan bangsa menjadi kehilangan jadi diri.
    dari ranah mikro, sebenarnya elegi ini jugaga berbicara tentang diri kita, diri yang abai dengan lingkungan sekitar, diri yang abai dengan nurani, diri yang telah jauh terseret oleh arus peradaban dan kemajuan teknologi, diri yang sebenarnya sudah bukan diri kita lagi. wadah kita, tubuh kita, rumah besar kita secara fisik mungkin terawat, namun hakikatnya dia menderita, nurani tak lagi diasah, hati tak lagi didengar, semua keputusan diserahkan pada rasio.

    ReplyDelete
  8. Nira Arsoetar
    16709251018
    PPS UNY Pendidikan Matematika
    Kelas A

    Negara yang besar dalam elegi ini di analogikan dengan rumah yag besar. Dimana dalam perkembangan negara tersebut masuk dalam kategori negara yang maju, memiliki sumber daya manusia yang berkualitas dan modern. Pembangunan negara dalam segala bidang yang begitu memberikan hasil optimal dan berdirinya landmark dalam setiap daerah yang menunjukkan perkembangan baik dalam segala bidang di sebuah negara. Namun, yang sangat disayangkan adalah negara tersebut dan masyarakatnya terlena dan hanya peduli dengan kemewahan dan kesenangan sesaat dan mengabaikan tempat ibadah sebagai tempat untuk berkomunikasi dengan sang pencipta.

    ReplyDelete
  9. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  10. Achmad Rasyidinnur
    16701251032
    PEP S2 B

    Masya Allah...
    Dimensi kehidupan terdiri dari 2 unsur, yaitu fisik dan jiwanya. Keduanya berjalan berdampingan dan dirawat serta dibangun secara koheren. Elegi yang menggambarkan para penghuni dan pemiliknya adalah gambaran manusia dari generasi ke generasi. Sedangkan bangunannya yang terus direkonstruksi bagaikan huru hara dan gemerlapnya wujud dunia. Sambut menyambut generasi saling bahu membahu berfikir mendirikan dan melengkapi wujudnya yaitu fisiknya, materialnya.

    Gambaran rumah ibadah yang dimarginalkan adalah iman, keyakinan, falsafah, dan spiritual. Sesuatu yang bersifat absolut dan fundamental. Hal yang sesungguhnya hadir sebagai obat penawar dari racun mematikan. Obat bagi si sakit, dan oksigen bagi para pencari kehidupan.

    TUJUAN HIDUP. Sebagai main domain kehidupan. Apabila hal tersebut terjadi disorientasi, maka akan terjadi banyak penyimpangan, kegagalan, kebangkrutan, kesedihan, kekecewaan, dan kehancuran. Negara manapun termasuk Indonesia, jika mengalami disorientasi maka tunggu kehancurannya, yang tentu tidak diinginkan. Jangan salah orientasi! Pembangunan fisik boleh, tetapi falsafah merupakan tujuan, dan fisik maupun materi harus dijadikan bekal yang mengokohkan tujuan.

    ReplyDelete
  11. Nur Dwi Laili Kurniawati
    13301241063
    Pendidikan Matematika C 2013

    Rumah besar dalam elegi ini adalah kota metropolitan seperti New York, Tokyo, bahkan Jakarta. Didalamnya terdapat berbagai fasilitas yang lengkap. Berbagai hiburan disediakan seperti sepak bola, sirkus, taman bermain, dan banyak lainnya. Yang tinggal di dalamnya hanyalah orang- orang kaya yang mampu membayar sedangkan orang- orang miskin yang memaksa tinggal disana hanya akan menikmati tempat- tempat kumuh. Kesenjangan sosial yang mudah kita lihat di kota- kota metropolitan. Kota metropolitan yang begitu gemerlap sehingga spiritual diabaikan. Inilah sebenar- benar usaha syaitan dalam menggoda manusia. Gemerlap kota metropolitan membuat penghuhinya lupa memenuhi rumah- rumah ibadah, lupa kewajiban kepada Tuhan.

    ReplyDelete
  12. Yazid Fathoni
    NIM 13301241076
    Pendidikan Matematika C 2013

    Rumah besar diibaratkan seperti sebuah kota yang sangat lengkap fasilitasnya mulai dari hiburan, toko-toko, makanan, transportasi, penginapan, dan masih banyak sekali yang selalu dirawat, digunakan, dijaga, diperbaiki, diperindah. Tetapi rumah ibadah terbengkalai, dilupakan, dianggap tidak penting, bahkan lebih baik dijual, jika pikiran kita telah dikuasai oleh duniawi pasti akan meninggalkan agama, tetapi ketika dunia sudah meninggalkan kita baru kembali lagi kepada Allah SWT atau bahkan lebih memilih mengakhiri hidupnya.

    ReplyDelete
  13. Siska Nur Rahmawati
    16701251028
    PEP-B 2016



    Manusia memang memiliki ego yang besar. Ketika zaman sudah maju dan berkembang, manusia justru maju namun tidak berkembang ke arah yang lebih baik. Sebaiknya manusia itu berlomba-lomba untuk memperbanyak amalannya kepada Tuhan. Insyaallah dengan membaca elegi dari bapak, saya semakin sadar dan dibukakan pintu hati untuk selalu mendekatkan diri dan memperbanyak amalan baik.

    ReplyDelete
  14. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Rumah disini menggambarkan kehidupan dunia lengkap dengan segala hingar-bingarnya. Sering kali kita melakukan hedonisme, kita hanya peduli akan hal-hal duniawi, kemewahan, harta, bahkan kekuasaan dan kepuasan sesaat. Tak jarang pula kita mengabaikan seruan Allah. Sudah saatnya kita memohon ampun kepada-Nya serta memohon pertolongan agar terhindar dari godaan duniawi.

    ReplyDelete
  15. Herwati Dian Saputri
    12313244004
    Pend. Matematika (Inter.)

    Dalam tulisan Bapak, saya dapat memetik pesan moral bahwa saat ini banyak orang yang tidak menyempatkan atau enggan untuk ke tempat ibadah. Saya khusukan di sini untuk agama islam, yaitu ke masjid. Bagaimana tidak? saat ini telah banyak dibangun mal besar, hotel-hotel yang megah dan gedung-gedung yang mewah. Manusia banyak yang lupa bahwa ada satu bangunan yang merupakan tempat yang mustajab untuk berdoa, temapat yang tenang, tempat yang dapat mendekatkan manusia dengan tuhannya, tempat ibadah, tempat dimana semestinya manusia sering kunjungi, yaitu masjid.
    Oleh karena itu, sudah selayaknya kita senang mengunjungi masjid untuk shoalt berjama'ah, mengaji, berdzikir, dan mendengarkan ceramah/kajian yang ada.

    ReplyDelete

  16. Fauzul Muna Afani
    PendidikanMatematika A 2013
    13301241010

    Elegi ini mengumpamakan rumah besar sebagi dunia yang kita tinggali saat ini yaitu kota-kota besar yang ada diseluruh negara. Kehidupan dikota-kota besar didunia sangat keras, matrealis, dan penuh dengan tipu daya. Apabila iman kita tidak kuat kita akan kehilangan agama kita karena terlena oleh kesenangan atau fasiltas yang disediakan. Orang-orang yang tinggal dikota besar sebagian ada yang tidak mempdulikan agama karena bagi mereka kehidupan dunia nomer satu.

    ReplyDelete
  17. Fauzul Muna Afani
    Pendidikan Matematika A 2013
    13301241010

    Agama tidaklah penting karena dirasa tidak menguntungkan bagi mereka. Ibadah dianggap membunga waktu, sedekah dianggap membuang-buang uang hasil jerih payah sendiri. Mereka semua tidak sadar bahwa kesusksesan mereka tidak lain karena kehendak dari ALLAH SWT. Tetapi tidak semua orang mempunyai pemikiran yang sama mengenai agama. Untunglah masih banyak oang yang menggunakan agama sebagi pedoman hidup mereka.Masih banyak orang yang menjalankan perintah agama.

    ReplyDelete
  18. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Dari membaca elegi menyesali rumahku yang terlalu besar yang dapat saya pahami bahwa diri kita diibaratkan sebagai rumah, ketika kita terlalu sibuk membangun dan meningkatkan kualitas diri kita dimana kita sibuk dengan urusan bisnis, sibuk dengan hobi, sibuk dengan mengumpulkan uang sampai akhirnya melupakan diri kita sendiri, kita menjadi lupa bahwa kebahagiaan bukan berasal dari seberapa banyak kita mampu mengumpulkan materi tetapi kebahagiaan yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu bersyukur kepada Tuhan YME terhadap apa yang kita miliki. Biarlah kiranya sesibuk apapun kita di dunia ini kita tidak melupakan dan meninggalkan Tuhan YME karena hanya pada Dialah ada keselamatan di dunia dan akhirat

    ReplyDelete
  19. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Elegi ini mengungkapkan kondisi kehidupan pada masa sekarang ini. Sekarang ini peradaban yang diciptakan telah membuat kebanyakan dari kita terlena. Adanya fasilitas yang memadai, kecanggihan teknologi, dan segala kebutuhan yang serba ada dan juga mudah untuk diakses membuat kita lupa untuk beribadah. Kesenangan duniawi yang ditawarkan dalam kehidupan saat ini telah menutupi dan membuat kita lupa tentang kebahagiaan kekal yang telah dijanjikan oleh Allah SWT diakhirat kelak. Jika ini dibiarkan terus menerus, tentu akan membahayakan kehidupan kita. Seharusnya kehidupan spiritual tetap menjadi patokan utama dalam menjalani kehidupan ini. Oleh karena itu, kita harus selalu mawas diri dengan menggunakan akal dan pikiran kritis kita agar kita tidak melupakan kehidupan beragama kita. Seharusnya kita lebih bijak dalam menggunakan fasilitas yang serba ada itu untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan kita.

    ReplyDelete
  20. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Berdasarkan elegi di atas rumah besar merupakan bangsa kita sendiri, atau tanah air kita. Bagaimana kita memberikan hal terbaik kepada bangsa, merawatnya, memajukan bangsa dalam berbagai bidang. Jadi apakah yang sudah kita lakukan untuk bangsa kita. Bangsa kita sudah menyiapkan berbagai fasilitas yang memenuhi segala kebutuhan kita, tidak terlupa wahana hiburan juga sangat banyak sekali. Namun perlu diperhatikan bahwa sarana hiburan yang tersedia jangan sampai membuat kita terlena lupa kepada Tuhan. Sehingga kita harus pintar-pintar dalam menjaga diri.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  21. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Tidaklah sifat manusia untuk sellalu berdiam ditempatnya. Bahkan sejak awal pun Adam as. sudah berpindah dari surga ke dunia. Di dunia Adam as. pun berpindah-pindah untuk mencari Hawa. Berpindah-pindah juga merupakan suatu perekembanagn. Manusia berkembang juga turut membuat dunia menjadi bekembang. Yang dulunya hanya angkasa yang menjadi kerlap-kerlip gemerlap dunia. Sekarang kerlap-kerlip lampu mdern telah mengaburkan kerlap-kerlip benda-benda angkasa. Kerlap-kerlip lampu modern telah memaksa keindahan yang dulu menghiasi gelap dunia untuk menghilang ditelan gemerlap lampu disko. Maka marilah kita kembali. Melihat diri kita yang memiliki fitrah awal untuk beriman dan bertaqwa kepada Sang Pencipta. Itulah kerlap-kerlip yang lebih indah daripada kerlap-kerlip nafsu dunia.

    ReplyDelete
  22. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Ibadah yang dibicakan diatas merupakan sebuah fenomena ketika terlenannya manusia dengan segala macam rupa fasilitas teknologi yang masuk di bangsa kita ini sehingga aktifitas ibadahpun lambat laun digantikan dengan aktifitas keasykan menikmati teknologi dan juga hiburan-hiburan yang sifatnya berupa kesenangan dunia contohnya keasyikan main HP atau nonton hiburan sehingga sholat 5 waktu terlewatkan dll.

    ReplyDelete
  23. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    Sifat manusia yang selalu merasa tidak puas terkadang menjadikannya serakah sehingga ingin memiliki berbagai hal yang ada di dunia ini. Sebagai orang yang bijak maka seharusnya kita menyikapi secara bijak atas berbagai macam pilihan yang ditawarkan oleh dunia. Jangan sampai kita terlena dengan pilihan yang cenderung hanya memuaskan nafsu duniawi kita. karena jika kita hanya fokus pada kesenangan duniawi saja maka tidak akan ada habisnya, dan bisa jadi hal semacam itu membuat kita tumbuh sebagai kaum hedonisme, materialisme. Wallahua’lam..

    ReplyDelete
  24. Budi Yanto
    16709251024
    P. Mat S2 Kelas B 2016
    Setiap manusia menginginkan kedudukan yang tinggi, gelar yang tinggi, jabatan yang tinggi. Banyak orang berlomba-lomba untuk menduduki jabatan atau pemimpin yang tertinggi dapat mengatur bawahannya. Namun apakah seseorang tersebut dapat memegang amanah menjadi pemimpin atau pemegang kekuasaan tersebut. Kedudukan, gelar, jabatan merupakan amanah yang diberikan Allah kepada manusia agar manusia menjaga amanah tersebut, melaksanakan amanah tersebut dengan sebagi-baiknya. Pemimpin yang berusaha untuk melayani dan mementingkan masyarakatnya, tidak semena-mena terhadap kedudukan atau jabatan, tidak mementingkan diri sendiri maupun kelompoknya. bahkan untuk menjadi pemimpin diri sendiri pun tidak bisa semaunya saja, tetap ada aturannya, beribadah, menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak baik, dan berbuat baik kepada orang lain.

    ReplyDelete
  25. Erlinda Rahma Dewi
    16709251006
    S2 PPs Pendidikan Matematika A 2016

    Menyesali rumah besar maksudnya adalah menyesali karena ilmu yang telah diperoleh tidak dimanfaatkan untuk membantu orang lain. Barangsiapa memberikan petunjuk kebaikan maka baginya akan mendapatkan ganjaran seperti ganjaran yang diterima oleh orang yang mengikutinya dan tidak berkurang sedikit pun hal itu dari ganjaran orang tersebut.” (HR. Muslim). Ilmu yang bermanfaat merupakan salah satu amal ariyah yang tiada putus-putusnya pahalanya. Ilmu yang diamalkan walaupun sedikit bagaikan kerikil pasir yang kita masukan kedalam lautan. kerikil tersebut akan sampai kedasar lautan dan ilmu yang sedikit tadi akan bertambah dengan sendirinya, mengenal keindahan alam bawah laut, kehidupan yang ada di laut, itulah ilmu walaupun sedikit bila diamalkan sangatlah bermanfaat sekali.

    ReplyDelete
  26. Aprisal
    16709251019
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Assalamu alaikum

    Elegi menyesali rumah yang terlalu besar ini menggambarkan kenyataan yang yang terjadi di dalam hidup ini. Rumah dapat diibaratkan sebagai kekuasaan. Seseorang yang memiliki kekuasaan tinggi kebanyakan sering melupakan hal yang seharusnya merupakan hal penting bagi kehidupan dunia dan akhirat yaitu agama. Semakin tinggi kekuasaan membuat seseorang terkadang semakin jauh dengan Allah SWT. Ambisi mereka yang pasti selalu ingin menambah dan mempertinggi kekuasaan sehinggaa terkadang melupakan Tuhan. Seseorang dengan kekuasaan tinggi terkadang lebih mementingkan ego, kepuasaan diri, kesenangan daripada ketenangan batin (hati yang selalu dekat dengan Tuhan). Kekuasaan yang semakin tinggi terkadang membutakan mata dan hati manusia. Mereka terkadang lupa dan tidak menyadari bahwa apa yang mereka miliki sebenarnya hanyalah titipan dan sewaktu-waktu dapat diambil oleh sang Pemilik yaitu Allah SWT.

    Waalaikum salam wr.wb

    ReplyDelete
  27. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Dalam hal ini pembicaraan masih berkutat mengenai sang Power Now dalam menyebarkan pemikiran-pemikiran mereka. Termasuk sepak bola, dimana banyak orang-orang yang menjadi lupa akan akan aktivitas ibadah karena sepak bola. Sepak bola bagaikan dua mata pisau, disatu sisi bisa menyehatkan bagi orang yang menjalaninya dan di satu sisi dapat menjadi ajangn perjudian yang menjamur dimana-mana, mulai dari perjudian skala kecil hingga skala besar yang melibatkan para pengusaha besar. Jadi dalam hal ini kita harus bisa memfilter mana yang baik dan mana yang buruk. Yang baik diambil dan yang buruk jangan diambil.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  28. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Negara yang kita tempati adalah suatu daratan dengan berbagai macam orang, tipe orang, dan pendatang. Karena kita tidak mampu memayungi dan melindungi seluruh negara kita dengan tembok besar agar tidak ada pengaruh buruk yang masuk. Seandainya itu dilakukan pun, jadinya akan terasinglah kita dari hermeneutika kehidupan. Itu lebih tidak baik lagi. Kita tidak tahu berita. Kita tidak bisa tahu negara sana sedang apa. Apa yang mesti kita perbuat jika mereka ada musibah. Namun jika kita tidak bangun tembok itu, semua apapun budaya tidak terfilter dengan baik dan masuk. Akhlaq kita menjadi taruhan. Sekarang negara kita sudah terlalu 'maju' dan sampai pada batas bahwa spiritual itu tidak begitu penting. Yang penting adalah bagaimana kita hidup nanti. Padahal hidup itu tidak selamanya. Meski begitu, masih ada orang-orang yang sadar akan spiritual itu penting. Sehingga membela agamanya mati-matian. Dapat dikatakan kita masih mempunyai harapan. Jika tidak, kita seakan kembali ke masa lalu animisme dinamisme. Masa di mana orang belum kenal agama. Bedanya dulu tidak ada teknologi yang sekiranya merusak. Jika sekarang ada. Kita tidak memiliki tameng yang kuat. Entah bagaimana tahun-tahun ke depan negara kita.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  29. Moh. Bayu Susilo
    16709251012
    S2/P. Matematika/A/2016

    Elegi Menyesali Rumahku Yang Terlalu Besar dapat diartikan dengan manusia yang materialisme dan bergaya hidup hedonisme. Sampai pada suatu titik dimana ia tidak dapat menemukan apa yang selalu dicarinya yaitu kebahagiaan. Ternyata semua yang ia dapat tidak bisa mengantarkannya pada kebahagiaan, yang didapatnya hanyalah kekosongan yang diibaratkan dengan rumah yang terlalu besar. Keadaan ini disebakan dengan tidak adanya rasa syukur untuk menikmati setiap titik perjalanan dalam kehidupannya.

    ReplyDelete
  30. Nauqi Aprilia Putri
    13301241023
    Pendidikan Matematika A 2013

    Bangsa Indonesia yang telah diperjuangkan berabad – abad, hingga sekarang menjadi sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tentu tak mudah untuk memerdekakan bangsa. Perjuangan dulu yang pahlawan kita telah lakukan yaitu berupa perlawanan dan peperangan. Namun, untuk era sekarang, tentunya bentuk perjuangan yang dapat kita lakukan adalah berbeda dengan era peperangan. Hal yang dapat kita lakukan yaitu dapat dengan melakukan berbagai cara, tergantung pada tugas dan amanah yang kita emban. Kita dituntut untuk tidak hanya berdiam diri, namun menjadi seseorang yang dapat bermanfaat bagi Negara. Tentu akan menjadi bermanfaat jika kita dapat memulainya dari orang - orang yang ada di sekitar lingkungan kita, kemudian lebih ke area yang lebih luas dan lebih luas lagi, hingga negara bahkan dunia. Semoga kita dapat menjadi seseorang yang bermanfaat bagi sesama. Amin.

    ReplyDelete
  31. Nauqi Aprilia Putri
    13301241023
    Pendidikan Matematika A 2013

    Negara Indonesia dengan wilayahnya yang luas, wilayah darat dan perairannya. Tentu tak mudah untuk menjadikan Negara ini lebih maju lagi mengingat banyaknya penghuni Negara ini dengan berbagai aspek yang harus diperhatikan juga. Memahami karakter Negara, merupakan salah satu cara yang akan mempengaruhi bagaimana kita dapat memajukan Negara ini. Karakter dan kepribadian Negara satu dengan yang lainnya tentu berbeda. Hendaknya, kita tetap pada ciri Negara kita sendiri dan tidak mencontoh hal yang berbeda dari Negara lain. Tentu, dengan kemajuan teknologi yang ada sekarang ini, tak bisa terhindarkan untuk mengerti keadaan situasi dan apa yang ada di Negara lain. Oleh karenanya, kita bisa mencontoh dan meniru hal yang baik dari Negara tersebut namun tidak melenceng dari kepribadian Negara kita. Dengan memahami karakter, kepribadian, kekayaan yang dimiliki oleh Negara, maka kita dapat menggunakan sumber daya kekayaan yang ada dan menjadikannya manfaat untuk Negara kita sendiri yang harus kita rawat dengan sebaik - baiknya.

    ReplyDelete
  32. Bayu Adhwibowo
    S2 Pend. Matematika 16709251014
    Dalam elegi ini menggambarkan bahwa manusia telah lupa pada Allah SWT sebagai Tuhan kita yang telah memberikan banyak sekali nikmat dan karunia kepada kita umat manusia. Manusia menjadi lupa akan Tuhan karena mengejar urusan duniawi saja yang tidak akan berguna dalam jangka panjang. Nilai-nilai agamis semakin ditinggalkan oleh manusia saat ini, semoga kita bisa terhindar dari sifat ini. AMIN

    ReplyDelete
  33. Dalam kehidupan ini kita diberikan tanggungjawab untuk memelihara dan menjaga apa yang kita punya dengan sebaik-baiknya jangan sampai hal itu tergadaikan karena ego kita masing-masing akhirnya kita akan merasakan bagaimana menjadi orang yang merugi dan semoga hal itu tidak terjadi pada diri kita.

    Triwid Syafarotun Najah
    16701261011
    PEP S3 (A) 2016

    ReplyDelete
  34. Bismillah
    Ratih Kartika
    16701251005
    PPS PEP B 2016

    Assalamualaikumwarahmatulahiwabarrakatuh.

    Elegi di atas menggambarkan peradaban manusia. Sekali kita belajar, bahwa kita tidak boleh gegabah mengambil tindakan karena akibatnya bisa panjang dan menimbulkan masalah lainnya. Sebuah Negara diibaratkan rumah besar dan penduduk adalah rakyatnya. Jangan sampai menyamakan diri dengan Negara lainnya.Kita harus
    mampu menilik apa yang kita punya, apa potensi yang kita bisa kembangkan, bisnis, social ekonomi dan aspek lainnya. Jangan sampai kita terlalu meniru Negara lain sehingga kita kehilangan identitas. Maka itu berbahaya dan menghancurkan. Kita tidak boleh sombong dan gegabah.


    Terimakasih.
    Wassalamualaikumwarahmatulahiwabarakatuh.

    ReplyDelete
  35. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    Rumah besar dalam elegi ini bisa berbentuk apa saja, dari semua yang ada dan yang mungkin ada. Pelajaran yang bisa diambil dari elegi ini adalah Memiliki rumah yang besar, kota yang besar, dan negara yang besar adalah sama saja hakikatnya. Meskipun besar dan nyaman, namun membutuhkan perawatan yang setimbang dengan apa yang telah ada. Tuhan telah memberikan begitu banyak kenikmatan, seperti bangunan dengan segala kemudahan dan fasilitasnya. Tetapi kita melupakan apa sebenarnya makna yang terkandung di dalamnya. Kita juga melupakan apa yang harus kita lakukan untuk-Nya. Kita terlalu sombong akan keadaan kita dan melupakan sesuatu yang lebih berharga. Ketika kesenangan dan kenyamanan telah didapatkan sebagai buah dari modernisasi, sejalan dengan itu, banyak yang lupa akan hakikat syukur. Bahkan, mereka rela untuk menukar sarana ketaatan terhadap Tuhan dengan kesenangan duniawi yang melenakan. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita , menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita termasuk hamba-hambanya yang beriman dan bertaqwa.. aamiin.

    ReplyDelete
  36. NUR AZIZAH
    16709251017
    PMAT KELAS A PPS UNY 2016

    Rumah besar dalam elegi di atas merujuk pada kota dengan segala macam gemerlap kehidupan di dalamnya. Orang-orang seakan mendewakan hawanapsu, terjebak oleh hedoisme, matrelialisme, dan terlalu sibuk mengejar keinginan-keingianan serta ambisi-ambisi duniawi. Masyarakat di dalamnya semakin mengesampingkan sisi-sisi spiritualitas dan jutru berlomba-lomba memuaskan diri sepuas-puasnya. Akan tetapi sejatinya fenomena itu tidak hanya terjadi di kota besar saja, kemajuan teknologi menjadikan semaraknya terdengar dan menggoda seluruh manusia.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id