Oct 6, 2013

Elegi Menggapai Menilai Normatif




Oleh Marsigit

Formal:
Wahai normatif, dikarenakan alasan formal, maka aku perlu penilaian sifat diriku oleh dirimu?



Normatif:
Menilai sifat dirimu itu termasuk wilayah normatif.

Formal:
Ya silahkan, itu alasanmu.

Normatif:
Aku lebih enjoy menikmati hidupku yang normatif daripada harus memberi sifat formal pada dirimu.

Formal:
Tetapi ini adalah tanggung jawabmu?

Normatif:
Tanggung jawab yang mana?

Formal:
Bukankah engkau telah menyediakan diri bergaul secara formal denganku?

Normatif:
Maksudmu?

Formal:
Apakah engkau lupa dengan jadwal-jadwalmu. Bukankah engkau mempunyai jadwal mengajar bagi para formal pada hari Senin, Selasa, Rabu, dst..?

Normatif:
Oh..iya maaf saya sampai agak lupa. Terimakasih anda telah mengingatkan hal itu kepadaku. Lalu kenapa engkau begitu semangat menginginkan penilaian formal dariku?

Formal:
Bukankah engkau tahu bahwa penilaian formalmu itu secara formal juga menunjukkan dimensi formalku. Sehingga penilaian formalmu itu sangat bermanfaat untuk meningkatkan dimensi formal diriku.

Normatif:
Tetapi apakah engkau tahu betapa sulitnya aku memberikan penelaian formal terhadap dirimu?

Formal:
Mengapa sulit, cukup berikan saja nilai bagiku?

Normatif:
Engkau menginginkan nilai berapa?

Formal:
Aku menginginkan kalau tidak “terbaik”, ya “terbaik” atau boleh yang lain yaitu “terbaik”. Tetapi setidaknya jika engkau tidak mau memberikan nilai “terbaik” kepadaku, maka cukup berikan saja nilai “terbaik” kepadaku. Sehingga jika engkau tidak mau memberikan nilai tertinggi “terbaik” kepadaku, aku pun bersedia diberikan nilai terendah asalkan engkau tulis dengan huruf “terbaik”.

Normatif:
Lho kok memaksa?

Formal:
Lho apa buktinya aku memaksa. Bukankah aku telah memberikan engkau beberapa alternatif bagimu untuk menilai diriku. Terserah saja bagimu, asalkan aku mendapat nilai “terbaik”.

Normatif:
Lho kok memaksa?

Formal:
Siang dan malam aku berdoa agar darimu aku mendapatkan nilai “terbaik”. Jika engkau memberikan nilai “terbaik” maka berarti terkabulah doaku itu.

Normatif:
Sikapmu itulah yang membuat saya merasa berat untuk memberikan penilaian terhadap dirimu?

Formal:
Kalau engkau enggan menilai maka bagaimana tanggungjawabmu?

Normatif:
Baiklah, sebelum aku akhirnya terpaksa memberikan penilaian terhadapmu, maka jawablah pertanyaan-pertanyaanku berikut?

Normatif:
Apakah engkau sudah melaksanakan semua nasehatku?

Formal:
Nasehatmu terasa tidak cocok dengan hati dan pikiranku.

Normatif:
Bukankah aku telah mengembangkan skema agar semua hati dan pikiranmu dapat terfasilitasi dalam skema yang aku kembangkan?

Formal:
Aku tidak peduli dengan skemamu. Dan aku juga tidak mau hati dan pikiranku terfasilitasi oleh skemamu.

Normatif:
Terus apa maumu dan bagaimana saranmu kepada diriku.

Formal:
Pertama memandang dirimu, aku tidak suka denganmu.

Normatif:
Kalau begitu engkau telah bicara tentang “normatif”.

Formal:
Apa buktinya?

Normatif:
Bukankah engkau bicara tentang “suka” atau “tidak suka”

Formal:
Terserah apa penilaianmu teradap diriku, tetapi itulah faktanya bahwa aku tidak suka kepadamu.

Normatif:
Baik, karena suka dan tidak suka adalah hakmu, tetapi kenapa engkau memaksa diriku untuk memberikan nilai “terbaik”?

Formal:
Memangnya kenapa, apakah aku tidak boleh memaksa dirimu?

Normatif:
Ternyata engkau masih berkutat dalam bidang normatif saja. “Memaksa” adalah aspek normatif.

Formal:
Memangnya kenapa, apakah aku tidak boleh memaksa dirimu?

Normatif:
Jika di dunia ingin diterapkan keadilan maka yang berhak memaksa bukan hanya dirimu, tetapi diri yang lain juga berhak memaksa. Artinya sikapmu yang demikian akan menimbulkan keadaan anarkhis. Itulah kekacauan aturan yang ada. Bukankah engkau tahu bahwa salah satu tugasku adalah juga menegakkan peraturan?

Formal:
Aku lebih baik diam, sambil berharap-harap cemas?

Normatif:
Normatif berusaha menggapai dan merangkum semua yang formal.

Formal:
Ah..omong kosong. Karena engkau juga tidak sepenuhnya melaksanakan yang formal?

Normatif:
Maksudmu?

Formal:
Engkau tidak menyediakan buku bagiku. Engkau tidak menunjuk buku bagiku. Engkau tidak memberi petunjuk teknis bagiku. Engkau mengajar tidak urut dan tidak sistematis.

Normatif:
Semua yang engkau sebut itu adalah material, mekanistis dan paling banter formal. Tetapi belumlah normatif.

Formal:
Wahai normatif, janganlah bersembunyi dan berdalih dibalik normatif. Memangnya engkau juga tidak membutuhkan material dan formal?

Normatif:
Aku membutuhkan itu semua. Tetapi aku mengharapkan bahwa dimensimu juga bisa naik menjadi tataran normatif.

Formal:
Jangan mengguruiku. Aku telah menyadari bahwa diriku juga bisa normatif.

Normatif:
Normatif yang mana?

Formal:
Normatifku lain dengan normatifmu.

Normatif:
Beri contohnya.

Formal:
Normaku adalah walau aku tak bisa ya jangan sampai ketahuan tidak bisa. Walau aku tak berusaha ya jangan sampai tahu kalau tak berusaha. Walau aku salah ya jangan sampai ketahuan kalau aku salah. Walau aku membaca ya jangan sampai ketahuan kalau aku belum membaca. Walau cuma tahu sedikit ya aku minta nilai “terbaik”.

Normatif:
Padahal normaku itu bertentangan dengan normamu.

Formal:
Lho, normamu harus sama dengan normaku.

Normatif:
Lho main paksa.

Formal:
Siapa yang main paksa, cuma merayu agak keras.

Normatif:
Wahai formal, lama-lama habis kesabaranku. Engkau telah bersifat tidak normatif terhadap diriku dengan cara memaksakan normamu kepada diriku.

Formal:
Lau apa maumu?

Normatif:
Aneh juga?

Formal:
Apanya yang aneh?

Normatif:
Tidaklah semua formal menyadari yang normatif. Sebaliknya yang normatif berusaha menampung yang formal.

Formal:
Maksudmu?

Normatif:
Engkau formal berusaha menampung semua normatif. Maka itulah salah satu bentuk kesombonganmu.

Formal:
Ah..berfilsafat lagi. Bosan aku.

Normatif:
Itulah yang engkau sebut bahwa filsafat adalah normatif.

Formal:
Apa relevansinya?

Normatif:
Itulah kontradiksinya. Tiadalah mudah memberikan memberi nilai kepada dirimu.

Formal:
Bagiku sangat mudah. Tulis saja “terbaik”. Beres.

Normatif:
Wahai formal. Ternyata engkau tidak hanya sombong, tetapi juga berpotensi anarkhis, karena selalu main paksa.

Formal:
Apa teorimu menilai diriku?

Normatif:
Oh yang ini engkau berusaha menyadari? Menilai filsafat itu tidaklah cukup formal tetapi juga normatif. Menilai spiritual juga tidak cukup material, tetapi juga formal, dan normatif, tetapi setinggi-tinggi penilaian adalah spiritual. Tiadalah manusia itu mampu melaksanakan.

Formal:
Bertele-tele.

Normatif:
Baik akan aku katakan bahwa penilaian itu sesuai dengan dimensinya.

Formal:
Maksudmu?

Normatif:
Menilai kemampuan bayi yang baru lahir, dari gejalanya apakah bisa menangis, bergerak ..dsb.
Menilai siswa SD dari kemampuannya sesuai dengan kemampuan tingkat ke SD an.

Formal:
Lha kalau saya?

Normatif:
Setinggi-tinggi pencapaian kemampuan dibidang normatif adalah kemampuan normatif. Maka ikhlas lebih unggul dibanding pandai. Membaca banyak elegi dan buku-buku dengan iklhas itu lebih unggul dibanding nilai yang engkau dapat di kelas. Rendah hati lebih unggul dibanding tinggi hati. Logos lebih unggul dibanding mitos. Sabar lebih unggul dibanding tergesa-gesa. Berdoa adalah paling tinggi dibanding yang lainnya. Bertanya lebih unggul daripada mengumpat. Tidak prejudice lebih unggul dari pada prejudice. Memaafkan lebih unggul dari pada mendendam. Ikhlas lebih unggul dari pada tersingung di hati. Menyadari ruang dan waktu akan lebih baik lagi. Artinya sopan santun akan lebih unggul daripada vulgar dan arogan. Normatif itu lebih unggul dibanding hanya formal. Itulah dasar-dasar penilaianku kepadamu.

Formal:
Aku ini formal, bukan normatif. Tidak perlu pertimbangan macamn-macam.

Normatif:
Bukankah engkau telah teken kontrak bersedia bergaul dengan diriku. Artinya engkau bersedia menaikkan dimensi dirimu menuju tataran normatif? Itulah sebenar-benar refleksi.

Formal:
A..aa.ku bersedia tetapi normaku berbeda dengan normamu. lagi pula dimensiku itu kelihatannya lebih tinggi daripada kamu.

Normatif:
Janganlah selalu bersembunyi dibalik perbedaan norma. Bukankah diantara kita masih bisa dicari norma-norma universal? Tentang perbedaan dimensi, tentu ada orang lain yang lebih berhak menilainya.

Formal:
Maksudmu?

Normatif:
Secara universal, jika formal menginginkan penilaian normatif ya harus memenuhi normatif universal.

Formal:
Maksudmu?

Normatif:
Jika engkau enggan membaca tulisanku maka nilai normatifmu rendah.
Jika engkau enggan membaca buku-buku referensiku maka nilai normatifmu ya rendah.

Formal:
Apakah engkau akan manilai diriku “rendah”. Oh jangan jangan nilai aku “rendah”. Jika terpaksa engkau akan menilai diriku “rendah”, boleh asal bukan “rendah”. Tetapi silahkan menilai apaun asal jangan “rendah”. Karena aku tidak mau nilai “rendah”. Silahkan sembarang nilai diriku, asal bukan nilai “rendah”.

Normatif:
Bukakan banyaknya permintaanku itu telah menunjukkan sebenar-benar dimensimu? Terbukti saya menemukan banyak sekali pertentangan dalam dirimu. Membiarkan pertentangan dalam diri sendiri tanpa berusaha mengatasinya itu adalah perbuatan mitos.

Formal:
Engkau rupanya mengetahui apa di balik uraianku?

Normatif:
Bukanlah aku ini seorang paranormal. Aku sekedar membuat sintesis saja.

Formal:
Lalu apa saranmu bagiku?

Normatif:
Turunkan egomu. Tidak semestinyalah egomu itu engkau lebih-lebihkan sehingga melampaui batasmu. Bukankah engkau menyadari bahwa setinggi-tinggi norma kita secara universal adalah menjunjung peraturan dan kesepakatan serta komitmen kita masing-masing. Jika engkau telah menihilkan keberadaanku sebagai normatif, maka setinggi itu pulalah penilaianku terhadapmu. Setinggi-tinggi penilaian formal tidaklah mampu melebihi penilaian normatif.

Formal:
Aku tak mengerti maksudku.

Normatif:
Inilah peringatanku bagimu, agar berusahalah sesuai dengan suratan-suratan yang telah ditetapkan oleh yang Maha Kuasa, dan juga sesuai dengan normatif-normatifnya.

Formal:
Aku juga masih tidak tahu.

Normatif:
Itulah sikap dirimu yang sombong yang tidak pernah mau mendengarkan secara normatif diriku. Makajangankan nilai normatifmu, sedangkan nilai formalmu juga aku menilainya rendah.

Formal:
Wueh..

Normatif:
Aku hanya berdoa agar orang-orang sepertimu diberi petunjuk dan mampu merefleksikan dirimu agar segera menyadari kelemahan-kelamahanmu.

Formal:
Wueh..pakai doa segala. Emangnya yang bisa berdoa hanya dirimu. Doaku lebih makbul.

Normatif:
Ya Allah SWT ampunilah dosa-dosa orang-orang disekitarku. Berikan petunjukmu ya Allah, agar kita semua diberi keikhlasan baik pikir maupun hati. Agar kami memperoleh kebahagiaan di dunia dan keselamanat di akhirat?

Formal:
Wueh..silahkan berdoa. Wueh...paskan saja doamu dengan perbuatanmu. Aku akan menyaksikannya.
Tiadalah ampun bagi orang-orang yang tidak aku sukai.

Normatif:
Kelihatannya engkau marah berat kepada diriku? Bahkan pakai menyumpah segala.

Formal:
Tidak cuma marah aku juga tersinggung berat. Dan aku tidak akan pernah mengampuni dirimu. kalau aku menyumpah dirimu, karena aku tidak suka terhadap dirimu.

Normatif:
Aku serahkan saja semuanya kepada Tuhan YME.

Formal:
Wuehh...pakai berserah kapada TuhanYME segala.

...

Orang Tua Berambut Putih:
Untuk kali ini aku datang walaupun tidak engkau undang. Nanti dulu ...
Wahai normatif dan formal...hati-hatilah ..sekarang ini kita sudah memasuki jaman praktis, instant dan berburu nikmat. Maka jika tidak hati-hati semuanya akan terkena imbasnya. Aku minta agar normatif dan formal bisa saling menahan diri, sebab jika tidak bisa menahan diri, maka dunia ini akan semakin anarkhis. Maka tawaduklah engkau itu.

Normatif:
Amiin..

Formal:
Preeeek..apa itu orang tua rambut putih. Konyol. Sia-sia aku memikirkannya.

Orang Tua Berambut Putih:
Ohh..Allah hu Allah.

39 comments:

  1. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Elegi diatas mengajarkan akan pentingnya suatu proses untuk mencapai apa yang kita inginkan. Proses itulah yang dimaksud dengan proses normatifnya dan hasilnya itu merupakan hasil formalnya. Elegi ini mengajarkan bahwasannya untuk mendapatkan hasil formal yang baik hendaknya juga melaksanakan proses normatifnya dengan baik. Sebuah hasil formal yang baik harus diimbangi dengan proses normatif yang baik pula sehingga tidak akan sia - sia.

    ReplyDelete
  2. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B (Angkatan 2016)

    Setiap membaca elegi-elegi yang Bapak Prof.Dr. Marsigit, MA buat dalam blog ini, selalu ada kalimat “ampuh” yang dapat diambil seperti salah satu kalimat berikut: “Setinggi-tinggi pencapaian kemampuan dibidang normatif adalah kemampuan normatif. Maka ikhlas lebih unggul dibanding pandai. Membaca banyak elegi dan buku-buku dengan iklhas itu lebih unggul dibanding nilai yang engkau dapat di kelas. Rendah hati lebih unggul dibanding tinggi hati. Logos lebih unggul dibanding mitos. Sabar lebih unggul dibanding tergesa-gesa. Berdoa adalah paling tinggi dibanding yang lainnya. Bertanya lebih unggul daripada mengumpat. Tidak prejudice lebih unggul dari pada prejudice. Memaafkan lebih unggul dari pada mendendam. Ikhlas lebih unggul dari pada tersingung di hati. Menyadari ruang dan waktu akan lebih baik lagi. Artinya sopan santun akan lebih unggul daripada vulgar dan arogan. Normatif itu lebih unggul dibanding hanya formal. Itulah dasar-dasar penilaianku kepadamu”. Banyak sekali yang dapat diambil dari kalimat tersebut. Appreciated.

    ReplyDelete
  3. Harsiti Indrawati
    13301241021
    Pendidikan Matematika A 2013

    Seperti sebelumnya telah idjelaskan bahwa ada tiga struktur utama dalam kehidupan yaitu formal, normatif, dan spiritual. Pada tataran formal sering kita jumpaidi dalam hidup ini. Dari elegi ini diceritakan bahawa formal itu sering kali bercampur dengan normatif. Namun jelaslah berbeda di antara keduanya. Formal berkaitan dengan prosedur sedangkan normatif berkaitan dengan nilai yang terkandung.

    ReplyDelete
  4. Siti Mufidah
    13301241036
    Pendidikan Matematika A 2013

    Menurut saya, terdapat suatu perbedaan antara nilai normatif dan nilai formal, sangat sulit untuk bisa menyatukan penilaian normatif dan formal.Pencapaian normatif adalah kemampuan normatif dan penilaian normatif lebih unggul dibandingkan dengan formal.Kita harus berhati-hati terhadap sesuatu yang praktis, instant, dan nikmat karena dapat berakibat buruk pada kita. Kondisi akan anarkhis jika anatara normatif dan formal saling beradu pendapat atau tidak bisa menahan diri. Kita harus berusaha untuk menyerahkan penilaian setelah berusaha dan berupaya, tanpa memaksakan sesuatu.
    Terima Kasih

    ReplyDelete
  5. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Setinggi-tinggi pencapaian kemampuan dibidang normatif adalah kemampuan normatif. Maka ikhlas lebih unggul dibanding pandai. Membaca banyak elegi dan buku-buku dengan iklhas itu lebih unggul dibanding nilai yang engkau dapat di kelas. Rendah hati liebih unggul dibanding tinggi hati. Logos lebih unggul dibanding mitos. Sabar lebih unggul dibanding tergesa-gesa. Berdoa adalah paling tinggi dibanding yang lainnyan. Bertanya lebih unggul daripada mengumpat.itulah perbandingan yang ada didalam dunia ini.

    ReplyDelete
  6. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Pencapaian normatif adalah kemampuan normatif dan penilaian normatif lebih unggul dibandingkan dengan formal.Kita harus berhati-hati terhadap sesuatu yang praktis, instant, dan nikmat karena dapat berakibat buruk pada kita.Dari elegi ini dijelaskan bahawa formal itu sering kali bercampur dengan normatif. Namun jelaslah berbeda di antara keduanya. Formal berkaitan dengan prosedur sedangkan normatif berkaitan dengan nilai yang terkandung.

    ReplyDelete
  7. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Kita perlu mengetahui dimensi-dimensi kehidupan kita yaitu formal, material, normatif, dan spiritual. Karena "sekarang ini kita sudah memasuki jaman praktis, instant dan berburu nikmat." Sehingga kita perlu lebih berhati-hati

    ReplyDelete
  8. Nuha Fazlussalam
    13301244023
    s1 pendidikan matematika c 2013

    dari percakapan di postingan di atas, saya bisa menangkap bahwa foraml itu adalah nyata dan kongkrit, normatif adalah prinsip, dan ideal, ketika formal ingin mencapai tahap normatif, formal harus berusaha mencapi normatif tersebut, namun apa daya formal yang haruis berusaha sekuat mungkin, bersusah payah, untuk menggapai tingkat normatif, dimaan normatif memiliki segalanya, sebaiknya kita harus menyeimbngakn normatif dan formal, oh iya, mungkin formal dan normatif adalah salah satu contohnya normatif inginnya siswa mengerjakan blog dengan ikhlas tanpa beban dan motif apapun, tanpa mengahrapkan nilai, tapi benar-benar dilaksanakan ikhlas untuk belajar, menambah ilmu dan mendapat ilmu. tapi formal melakuakannya demi mendapatkan nilai, yaotu nilai yang terbaik, formal tidak bisa memikirkan banyak hal, yang dia tahu hanya menjalsakan tugas,menjalsakan perintah, perintahnya membca blog, menulis komen, membca refrensi , ya sudah formal hany abis melakukan itu, jadi ada dilema yang terjadi oleh formal yaitu, apakah dia harus melakukan tugas itu sebagai perkejaan yang diperintahkan oleh normatif atau menegrhjjakan tugas itu dengan ikhlas, dan normatif juga dilema, normatif menyuruh nya membaca refrensi dengan ikhlas, ikhlas artinya murni karena keinginannnya sendiri, ada sebbuah kontra diksi.
    jadi, begaimana menyimbangkan normatif dan formal, menginginkan nilai yang terbaik namun usaha untuk mencapai nilai yang terbaik tersebut dijalankan dengan ikhlas, sehingga bias dapat kedua-duanya, dunia dan akhirat, material dan spiritual, ilmu dan pahala. terimakasih pak

    ReplyDelete
  9. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    PPs PM B 2016

    Pada jaman sekarang ini, banyak orang yang mulai mengabaikan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. mereka menghalalkan segala cara untu mendapatkan apa yang mereka inginkan. sebagai guru, senantiasa kita menumbuhkan kembali norma-norma positif melalui pembelajaran di kelas. karena norma itu merupakan satu hal yang penting. kita dapat tahu baik dan buruk juga dari norma yang berlaku selama ini. sehingga norma-norma positif bisa menjadi salah satu acuan para siswa untuk mengambil keputusan.

    ReplyDelete
  10. ERFIANA NUR LAILA
    13301244009
    Pendidikan Matematika C 2013

    Orang lain bisa saja menilai diri kita seperti apa, namun, antara orang yang satu dengan orang yang lainnya memiliki gaya penilaian yang berbeda-beda, bisa saja kita dinilai sebagai orang yang baik namun di lain sisi kita bisa juga dinilai sebagai orang yang tidak baik. Semua itu tergantung pada tindak dan perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari, dilihat dari bagaimana cerminan kita yang tertuang dalam tingkah laku kita, kepribadian dan wawasan kita. Nilai itu ada banyak sekali macamnya, kemudian nilai ini akan menjadi semacam sifat yang menempel pada kita berdasarkan penilaian dari orang lain. Maka, apapun penilaian dari orang lain itu, jadikanlah hal tersebut sebagai cerminan bagi diri kita masing-masing. untuk berinstrospeksi, dan senantiasa memperbaiki diri akan menjadi orang yang lebih baik dan lebih baik lagi. Dan kemudian, yang utama dari semua penilaian adalah nilai terbaik yang diberikan oleh Allah kpada kita, karena Allah-lah yang mengetahui manusia luar dan dalam.

    ReplyDelete
  11. Defy Kusumaningrum
    13301241022
    Pendidikan Matematika A 2013

    Struktur kehidupan kita adalah Material, Formal, Normatif, dan Spiritual. Terkat dengan kehidupan formal dan kehidupan normatif, sering sekali kita sulit untuk membedakan keduanya. Formal dan normatf adalah dua kehidupan yang jeas sekali perbedaanya. Kehidupan formallebih mengacu pada aturan-aturan atau prosedur tertentu. Tetapi dunia normatif lebih mengacu pada arti, manfaat, dan makna dari apa yangdilakukan secara formal.

    ReplyDelete
  12. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Yang saya pahami dari elegi ini bahwa dalam menjalani kehidupan, kita sebagai manusia yang hidup bermasyarakat, memang sudah seharusnya menghargai sesuatu berdasarkan prosesnya dan berbagai macam pertimbangan-pertimbangan. Dalam menilai sesuatu juga dibutuhkan berbagai macam penilaian diantaranya yaitu penilaian formal dan normatif. Kita tidak bisa cenderung kepada formal saja atau normatif saja. Keduanya saling menyeimbangkan, dan menyempurnakan satu sama lainnya agar tidak terjadi kesalahan dalam penilaian.

    ReplyDelete
  13. Rospala Hanisah Yukti Sari
    16790251016
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A Tahun 2016

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Manusia memiliki keterbatasan dalam memberikan suatu penilaian. Terkadang, penilaian manusia bersifat relatif. Maka, sebenar-benarnya penilaian adalah mengembalikan penilaian tersebut kepada Allah SWT. Hanya Dia-lah yang berhak memberikan siapa yang “terbaik” menurut pilihan-Nya. Manusia hanya bisa berikhtiar dan berdoa agar selalu berada dalam keridhoan dan lindungan-Nya serta ridho terhadap segala ketetapan-Nya.

    Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    ReplyDelete
  14. Retno Widyaningrum
    16701261004
    S3 PEP A
    Dalam obyek filsafat bertingkat dari yang paling dasar adalah material, kemudian forma, kemudian normatif dan yang paling tinggi adalah spiritual. diantara ke empat tersebut formal lebih tinggi dari material ruang lingkupnya. tidak bisa disamakan. begitu juga dengan yang lain

    ReplyDelete
  15. Retno Widyaningrum
    16701261004
    S3 PEP A
    Objek material filsafat adalah segala sesuatu yang berwujud, yaitu segala sesuatu yang ada dan mungkin ada, baik materi konkret, fisik, maupun yang material abstrak, psikis. Termasuk pula pengertian abstrak-logis, konsepsional, spiritual, nilai-nilai. Dengan demikian obyek filsafat tak terbatas, yakni segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Objek material filsafat adalah segala yang ada. Segala yang ada mencakup ada yang tampak dan ada yang tidak tampak. Objek material yang sama dapat dikaji oleh banyak ilmu lain. Ada yang tampak adalah dunia empiris, sedangkan ada yang tidak tampak adalah alam metafisika. Misalnya air, buku, RPP dan sebagainya.

    ReplyDelete
  16. Retno Widyaningrum
    16701261004
    S3 PEP A
    Sedangkan objek formal filsafat ilmu adalah sudut pandang dari mana sang subjek menelaah objek materialnya. Misalnya objeknya “manusia” yang dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang, di antaranya psikologi,antropologi, sosiologi, dan sebagainya. Objek formal filsafat ilmu adalah hakikat ilmu pengetahuan, artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatian terhadap problem mendasar ilmu pengetahuan, seperti apa hakikat ilmu pengetahuan, bagaimana cara memperoleh kebenaran ilmiah dan apa fungsi ilmu itu bagi manusia. Misal materialnya air maka formalnya minuman.

    ReplyDelete
  17. Assalamualaikum, wr. wb.

    Elegi di atas mencoba memaparkan bagaimana formal yang empirik berusaha memahami sesuatu yang normatif walaupun pada hakikatnya mereka tak akan sejalan. Namun hal ini bukan berarti ada menang kalah dalam pencapaian eksistensi keduanya, selanjutnya manusia haruslah terus berpikir dan membuat logos-logos baru yang mencoba menyeimbangkan nalar dan etika demi kebijakan dan kebahagaian dunia dan akhirat.

    Dwi Margo Yuwono
    16701261028
    S3 PEP Kelas A

    ReplyDelete
  18. Setinggi-tinggi pencapaian kemampuan dibidang normatif adalah kemampuan normatif. Maka ikhlas lebih unggul dibanding pandai. Membaca banyak elegi dan buku-buku dengan iklhas itu lebih unggul dibanding nilai yang engkau dapat di kelas. Rendah hati lebih unggul dibanding tinggi hati. Logos lebih unggul dibanding mitos. Sabar lebih unggul dibanding tergesa-gesa. Berdoa adalah paling tinggi dibanding yang lainnya. Bertanya lebih unggul daripada mengumpat. Tidak prejudice lebih unggul dari pada prejudice. Memaafkan lebih unggul dari pada mendendam. Ikhlas lebih unggul dari pada tersingung di hati. Menyadari ruang dan waktu akan lebih baik lagi. Artinya sopan santun akan lebih unggul daripada vulgar dan arogan. Normatif itu lebih unggul dibanding hanya formal. Itulah dasar-dasar penilaianku kepadamu.
    Elegi dari pernyataan di atas sangat penting untuk mengajarkan betapa pentingnya suatu proses untuk kita capai. Proses tersebut dinamakan proses normatif yaitu sebuah prinsip atau ideal untuk mencapai apa yang kita tuju. Ketika formal ingin mencapai tahap normatif, formal harus berusaha mencapi normatif tersebut, karena apabila hanya formal saja tidak akan mencapai sesuatu yang lebih. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa normatif lebih unggul dibanding formal.

    M. Saufi Rahman
    S3 PEP Kelas A
    16701261024

    ReplyDelete
  19. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Setelah membaca elegi diatas maka dapat diidentifikasi bahwa formal adalah bagian hidup yang bersifat nyata, sedangkan normatif cenderung kepada sebuah nilai ideal dari sebuah prinsip kehidupan. Pada dasarnnya kehidupan adalah bagaimana seseorang mencapai tingkat formalnya melalui sebuah normatif. Tetapi kondisi tersebut tidaklah mudah, karena terkadang formal bersifat kontradiksi dengan normatif yang ada. Formal tidak bisa memaksa normatif menjadi bagian dari formal, begitu halnya normatif akan tetap pada kedudukannya karena normatif sendiri meskipun salah satu dimensi normatif adalah melihat dan menggapai formal.

    ReplyDelete
  20. Miftahir Rizqa
    16701261027
    S3 PEP Kelas A
    Elegi di atas menjelaskan hierarki dunia. semua yang ada dan mungkin ada berdimensi dan berhierarki. kita belajar filsafatpun berdimensi dan berhierarki. adapun hierarki nya adalah dimulai dari dimensi material, formal, normatif dan spritual. Dalam kuliah ini sudah difasilitasi dengan banyaknya postingan, sebagai dimensi material. naik lagi ke atas dimensi formal, segala bentuk aktivitas dalam kuliah ini mesti diikuti dengan baik. tentunya hal ini akan menuju kita ke dimensi berikutny yaitu dimensi normatif. jika dimensi material dan formal terpenuhi maka dimensi normatif akan diperoleh nilai terbaik. setinggi2 dimensi adalah dimensi spritual

    ReplyDelete
  21. Ika Dewi Fitria Maharani
    16709251027
    PPs UNY P.Mat B 2016

    Dalam kehidupan di dunia ini formal dan normatif tidak bisa berdiri sendiri. Normatif adalah nilai dalam proses yang kita kerjakan, misalnya adalah belajar dengan ikhlas, giat, dan sungguh-sungguh. Sedangkan formal adalah nilai dari hasil yang telah kita capai. Ketika kita menjadi guru alangkah baiknya kita menekankan kepada siswa tentang pentingnya nilai normatif, bukan hanya nilai formal saja.

    ReplyDelete
  22. Seftika Anggraini
    13301241013
    Pendidikan Matematika I 2013

    Dari percakapan formal dan normatif tersebut, nampak bahwa nilai normatif lebih tinggi tingkatannya daripada nilai formal. Namun keduanya harus saling menghargai. Sebagai manusia, kita berusaha menggapai nilai normatif.
    Terima kasih

    ReplyDelete
  23. Herwati Dian Saputri
    12313244004
    Pend. Matematika (Inter.)

    Filsafat ini mengajarkan kita untuk lebih menilai orang berdasarkan normatif bukan formal. Bukan pintar dan bodoh, kaya dan miskin, bangsawan atau kaum bawah, dewa atau hamba. melainkan berdasarkan prilaku dan akhlak seseorang. Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jadi kita tidak boleh menjudge seseorang itu baik atau buruk hanya dengan melihat satu atau dus sisi aja, namun dari berbagai sissi.

    ReplyDelete
  24. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    normatif adalah bagaimana kita memandang sesuatu tentang suka ataupun tidak suka terhadap suatu hal tersebut, akan tetapi ketika kita tidak suka terhadap hal itu maka aspek yang timbul adalah dengan memaksanya agar hal itu dapat sesuai dengan pemikiran kita dan kemauan kita. sehingga itu lah yang telah terjadi dalam sifat-sifat manusia, terkadang kita selalu memaksakan kehendak kita untuk sesuai dengan apa yang kita inginkan, dengan tanpa melihat proses apa yang terjadi didalamnya, padahal dalam menempuh atau menjalani suatu kegiatan bukan saja hasil akhir yang kita peroleh melainkan ada proses yang harus kita jalani

    ReplyDelete
  25. Khaerudin
    16701621009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Dialog antara formal dan normatif, sikap formal yang selalu memaksa kehendak sedangkan sikap normatif yang selalu tawadhu dan rendah diri dalam perjalanan hidupnya. Pada jaman sekarang ini, banyak orang yang mulai mengabaikan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. mereka menghalalkan segala cara untu mendapatkan apa yang mereka inginkan. Selama masih ada didunia, dan bukan urusan agama, atau urusan keyakinan kalau kita berhenti memikirkanaya itu telah menjadi mitos. Kita tidak akan pernah tau kenapa, apa, mengapa dan sebagainya.

    ReplyDelete
  26. Khaerudin
    16701621009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jadi kita tidak boleh menghakimi seseorang itu baik atau buruk hanya dengan melihat satu atau dua aspek aja, namun harus dari berbagai aspek, dimana sejak manusia terlahir sudah ada fitrah dalam dirinya.
    Sebenar-benar hidup adalah berangkat dari mitos menuju logos, tapi tidak akan tercapai karena sebenar-benar logos absolut adalah Tuhan YME, manusia hanya berikhtiar menuju ke logos.

    ReplyDelete
  27. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  28. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Kepuasan itu tidak ada batasannya. Kita selalu menginginkan yang terbaik dan menuntut yang terbaik. Penilaian tidak dapat terjadi secara instan, butuh proses untuk bisa menunjukkan eakuratan dari nilai tersebut. baik itu nilai normatif maupun nilai proses, sebenarnya tidak ada yang instant. Dan dari keduanya tidak ada batasan untuk nilai terbaik sebenarnya, namun jika terdapat batasan, itu karena dari penilai itu menetapkan batasan-batasan untuk memudahkan penilaian.

    ReplyDelete
  29. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    S2 PEP B 2016

    Setiap ilmu memiliki nilai objek normatif dan nilai objek formal tertentu. Keduanya akan sering berdampingan akan tetapi keduanya memiliki perbedaan. Masing-masing nilai juga memiliki kekurangan dan kelebihan. Kedua nilai harus dijalankan secara seimbang agar kehidupan ini juga seimbang.

    ReplyDelete
  30. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    Setinggi-tingginya formal tetap akan kalah dengan serendah-rendahnya normatif karena normatif selalu berada di atas formal. Jika formal sudah bersedia masuk ke daerah normatif maka formal juga harus siap dengan “aturan main” normatif. Maka agar formal bisa masuk dimensi normatif maka formal harus menurunkan egonya dan ikhlas dalam hatinya. Dengan begitu formal bisa menjadi normatif.

    ReplyDelete
  31. Romantisme antara norma dan formal ketika saling bercakap menimbulkan kecemburuan. Mereka saling cakap seperti saling tidak mengerti, padahal keduanya saling memahami. Pembicaraan terkait hirarki kemanusiaan membuat manusia kadang berpikir mengenai proses dan prinsip. Setinggi-tingginya formal tidak akan melampaui normatif. Normatif adalah sebuah sistem, berbeda dengan formatif. Setiap elemen pembentukan yang susah payah didirikan untuk dikembangkan menjadi dilema.
    Bagaimana jika formatif yang suatu saat melampaui normatif tanpa struktur yang jelas? Siapa yang bermasalah? formatif atau normatif?

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S-3 PEP UNY

    ReplyDelete
  32. Tingginya sifat formatif untuk menembus dan melampaui diri sendiri memperlihat ego yang terlalu tinggi, dan tidak terkalahkan. Pembentukkan gejolak yang ada perlu disadarkan oleh normatif dalam mengambil sikap positifnya. Kendali dari masing-masing ego manusia memerlukan kontrol yang jelas dan terarah, agar tiap manusia memiliki batasan yang tidak bisa disamakan dan keduanya bukan mainan untuk dilanggar. Batasan tersebut bukan untuk mengotak-kotakkan manusia, namun untuk memahami sampai mana mausia berposisi.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S-3 PEP UNY

    ReplyDelete
  33. Rizqi Khilda Amalia
    P Mat I 2013
    13301241046

    Elegi diatas mengajarkan akan pentingnya suatu proses untuk mencapai apa yang kita inginkan. Proses itulah yang dimaksud dengan proses normatifnya dan hasilnya itu merupakan hasil formalnya. Elegi ini mengajarkan bahwasannya untuk mendapatkan hasil formal yang baik hendaknya juga melaksanakan proses normatifnya dengan baik. Sebuah hasil formal yang baik harus diimbangi dengan proses normatif yang baik pula sehingga tidak akan sia - sia.

    ReplyDelete
  34. Vety Triyana K
    13301241027
    P Matematika Int 2013

    Dari elegi yang saya baca diatas, saya memahami bahwa dalam menjalani kehidupan, kita sebagai umat manusia sudah sepantasnya untuk senantiasa menghargai sesuatu berdasarkan prosesnya melalui berbagai macam pertimbangan-pertimbangan. Itulah pemahaman nilai normatif yang saya ketahui setelah membaca elegi tersebut. Dalam menilai sesuatu juga dibutuhkan berbagai macam penilaian diantaranya yaitu penilaian formal dan normatif. Kita tidak bisa cenderung kepada formal saja atau normatif saja. Keduanya saling menyeimbangkan, dan menyempurnakan satu sama lainnya. Perpaduan penilaian ini akan menjadi harmoni yang indah. Perlu diingat penilaian tertinggi itu adalah penilaian spritual dimana manusia tidak bisa memberikan penilaian itu karena erat hubungan dengan Allah.

    ReplyDelete
  35. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Terdapat struktur dimensi yaitu material, formal, normatif, dan spritual. Tingkat normatif berada di atas formal, sehingga formal tidak bisa mengalahkan normatif. Guru tidak hanya memberikan pengetahuan formal kepada siswanya tetapi pengetahuan tentang norma juga perlu untuk membangun sikap pada siswa.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  36. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    dari elegi diatas kita bisa melihat bahwa Setinggi-tinggi penilaian formal tidaklah mampu melebihi penilaian normatif. norma adalah landasan setiap aktivitas yang akan kita lakukan, jika formalitas tidak diseimbangkan dengan normatif maka akan terjadi kekacauan, bayangkan aktivitas kita tidak berlandaskan norma-norma yang berlaku, tentu timbul sikap yang semena-semena.

    ReplyDelete
  37. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Orang cenderung hanya memikirkan obyek formal saja dan mengesampingkan obyek normatif. Apalagi spiritual. Anggapnya jika sudah melewati formal itu sudah cukup. Itu bisa diibaratkan seperti ingin memperoleh berlian, sudah ada alat dan mengerti caranya namun tidak memperhatikan adab yang ada jika inginkan hal itu. Akan terjadi ketimpangan dan akhirnya bisa merusak tatanan yang ada. Bisa saja kita kehilangan material sekaligus formal. Diperlukan orang tua berambut putih, yaitu ilmu pengetahuan itu sendiri, yang cukup, yang baik. Dan bisa melunakkan hati yang keras.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  38. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Sekarang ini kebanyakan orang lebih memilih cara yang cepat meskipun tidak tepat. Proses-proses yang seharusnya menjadi hal yang penting untuk diperhatikan dan dikedepankan justru diabaikan. Yang dipentingkan hanyalah bentuk formalnya saja. Seharusnya bentuk formatif mempertimbangkan bentuk normatifnya, yaitu norma-norma yang sesuai dengan normatif yang ada. Maka bila dikaitkan dengan menilai dalam pembelajaran, alangkah baiknya bila guru dalam melakukan penilaian pada siswa dengan menggunakan normatif sebagai acuan utamanya sebelum menhghasilkan penilaian yang formatif.

    ReplyDelete
  39. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Menilai normatif menjadi suatu hal yang tidak asing jika turun dalam pendidikan. Terkadang ada pastinya satu orang dari sepuluh yang berpikiran ingin mencapai suatu hal menggunakan jalan pintas atau instan. Misal, untuk pencapaian nilai ketuntasan minimal, siswa yang tidak ingin mendapatkan kerugiannya karena tidak belajar, ia dengan beraninya menyontek karena tujuan mencapai nilai ketuntasan minimal tersebut. Siswa seharusnya diajarkan tentang bagaimana melihat norma-norma yang ada pada suatu sistem. Nilai itu merupakan hasil, tetapi prosesnya yang penting. Guru harus menanamkan pola pikir siswa bahwa prosesnya mereka dalam menemukan pengetahuan adalah yang utama.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id