Oct 15, 2010

Elegi Pemberontakan Para Normatif




Oleh Marsigit

Subyek Formal Bersemi:

Hai anak-anak, walau engkau masih kecil-kecil, ini ni pelajari. Berapa ini dikali itu. Itu dibagi ini. Itu pangkat itu. Ini pangkat ini. Ayo jawab! Kok diam saja.

Obyek Normatif Mengintip:

Waduh sulit bu. Aku tidak bisa. Aku tidak mau. Aku emoh belajar dengan ibu. Ibu itu nakal. Suka mbentak-mbentak. Aku ingin pulang.

Subyek Formal Bersemi:
Jika engkau ingin pandai ya ini pelajari. Jika engkau tak mau belajar berarti aku gagal.

Obyek Normatif Mengintip:
Aku ingin menangis saja bu.

Subyek Formal Berkuncup:
Wahai muridku, engkau telah menyadari semuanya, bahwa satu-satunya sukses dan keberhasilan adalah lulus ujian nasional. Itu harga mati. Barang siapa tidak lulus UN maka tiadalah dia mempunyai harga. Jangankan di depan negara. Di depan calon mertua saja maka dia tidak mempunyai harganya. Oleh karena itu maka adalah wajib hukumnya bagi engkau untuk lulus UN. Nah marilah engkau aku beri kesempatan menempuh UN ini. Silahkan kerjakan!

Obyek Normatif Patuh:
Wah soalnya sulit. Yang ini aku belum mempelajari. Jangankan mempelajarinya, mendengan dan melihat saja aku belum pernah. Sedangkan yang telah aku baca dan pelajari kok tidak keluar dalam UN. Aku sebetulnya senang melukis, tetapi kenapa tidak ada ujian melukis? Aku sebetulnya ingin menjadi Dai dan sudah banyak belajar khotbah, tetapi dalam UN ini kok tidak ada soal bagaimana kothbah. Kok yang diujikan hanya 3 (tiga) mapel. Wah ini tidak adil. Tetapi bagaimana ya, saya itu kan harus patuh dengan Bapak guru dan sekolah. Ya sudah, saya pasrah saja.

Subyek Formal Berbunga:

Iya pak saya telah paham dan memahami. Ini adalah kebijakan maka saya juga percaya betul dengan apa yang Bapa katakan. Sudahlah, Bapak bicara apa saja, tanpa reserve tanpa ragu-ragu, aku pasti percaya dan siap melaksanakan. Tak usah khawatir, asalah Bapak konsisten yaitu menyediakan juga biaya dan fasilitas agar bisa dilaksanakannya, pasti beres. Bapak untung, saya kan juga boleh memperoleh keuntungannya. Perkara para obyek normatif, mereka tahu apa. Apapun yang kita programkan pastilah bisa dilaksanakan.

Subyek Formal Berbuah:
Wahai para Subyek Formal, lihat dan ketahuilah buah-buahku itu. Bukankan engkau tahu bahwa buah-buah itu dapat engkau nikmati, itu dikarenakan kepatuhanmu terhadap diriku. Oleh karena sekali lagi aku ingatkan. Jaganlah ragu-ragu akan keputusanku itu. Barang siap ragu-ragu terhadap keputusanku, maka hidupnya tidak akan tenteram. Apalagi jika menolaknya maka dia akan saya black list.

Obyek Normatif Kritis:
Wahai Subyek Formal berbuah, aku telah menemukan kecurangan dalam penyelenggaraan UN. Aku menemukan bahwa di lapangan atau di daerah-daerah UN telah berubah menjadi tujuan yang mengerikan. Mereka telah membentuk tim-tim sukses. Wah ini tidak baik. Tetapi memang kenapa. Kenapa UN hanya untuk beberapa mata pelajaran saja. Bukankah siswa belajar semua mapel. Tetapi kenapa UN tidak mengujikan semua mapel. Kenapa Tes nya berupa tes obyektif, atau pilihan ganda. Apakah engkau pikir hidup ini adalah pilihan ganda. Bukankah proses atau sikap para siswa juga perlu dilihat. Maka sebetulnya saya tidak setuju dengan UN. Bukankah aku juga memerlukan normatif dari sekedar formal?

Subyek Formal Berbuah:
Hai engkau. Jangan macam-macam. Simpan temuanmu dan usulmu itu. Jika engkau terus-teruskan sikap dan pikiranmu itu, maka engkau bisa dianggap membahayakan keamanan kebijakan pemerintah. Maka diamlah engkau di situ.

Obyek Normatif Kritis:
Tidak..tidak saya akan pertahankan pikiran kritisku.

Subyek Formal Berbuah:
Kalau begitu akan aku laporkan engkau kepada Kepala Sekolahmu. Ketahuilah bahwa Kepala Sekolahmu itu sudah aku tangkap dan tidak bisa berbuat apapun kecuali sebagai Subyek Formal anak buahku dikarenakan dia telah makan buahku.

Obyek Normatif Berbuah:
Wahai Subyek Formal Berbuah, ketahuilah bahwa yang dapat berbuah di dunia ini bukanlah hanya engkau saja. Lihat dan ketahuilah bahwa diriku juga berbuah. Oleh karena itu aku akan memperingatkan dirimu agar jangan engkau main paksa kepada murid-muridku yaitu kepada para Normatif.

Subyek Formal Berbuah:
Wahai Obyek Normatif Berbuah, yang membedakan antara dirimu dengan diriku adalah bahwa aku itu adalah subyek, sedangkan engkau itu adalah obyek. Sebenar-benar obyek tidaklah mampu mengalahkan subyek, walaupun dengan subyek kecil sekalipun.

Subyek Formal Mandireng:
Wahai para Subyek Formal dan Obyek Normatif, kenapa engkau bertengkar?

Subyek Formal Berbuah:
Begini Subyek Formal Mandireng, aku adalah subyek, engkau juga subyek. Tetapi engkau adalah subyekku, sedangkan aku adalah obyekmu. Maka tiadalah hukumnya disitu untuk saling berselisih paham. Maka apapun yang terjadi adalah bahwa engkau harus hanya mendengarkan apa yang aku katakan. Maka jangan engkau dengarkan kata-kata para obyek normatif itu.

Subyek Formal Mandireng:
Baik, tentu saja demikian. Maka laksanakan program-programmu maka aku akan dukung sepenuhnya.

Obyek Normatif Berbuah:

Wahai Normatif Agung. Aku tahu bahwa engkau bisa mewujudkan dirimu baik sebagai subyek maupun sebagai obyek. Maka aku ingin mengajukan protes dan usul terhadapmu, perihal perilaku para Subyek Formal. Para Subyek Formal telah tertutup normatifnya. Mereka main paksa. mereka telah berusaha mereduksi bahwa pendidikan itu telah identik dengan UN. Itulah keadaan menyedihkan yang telah membawa berbagai persoalan normatif. Oleh karena itu aku usul agar engkau dapat mewujudkan dirimu sebagai Subyek, sehingga mampu menghentikan sepak terjang para Subyek Formal.

Normatif Agung:
Dengan ini aku menyatakan bahwa “Aku melarang dilaksanakan Ujian Nasional”. Titik

36 comments:

  1. Dita Nur Syarafina
    NIM. 16709251003
    PPs Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Ujian Nasional diadakan sebagai ujian yang terstandar secara nasional sehingga hasilnya dapat mengukur kemampuan secara nasional. Tetapi ujian nasional menjadi tidak efektif dan tidak adil dikarenakan fasilitas dan kemampuan guru tiap sekolah di tiap daerah berbeda-beda. Menyamaratakan standarisasi tidaklah tepat, karena ini hanya akan memperlihatkan pada siswa dan masyarakat Indonesia bahwa kemampuan siswa daerah ini lebih kurang dari daerah lainnya. Jelas saja lebih kurang dan lebih baik karena banyak faktor. Untuk itulah, saya juga mendukung dihapuskannya ujian nasional karena tidak mampu mengembangkan kemampuan siswa, kemampuan guru, fasilitas sekolah, dan bahan ajar guru.

    ReplyDelete
  2. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Pada dasarnya, jika kita berpegang teguh pada norma, disertai penentuan sikap kita terhadap dunia dan akhirat, maka ketentuan-ketentuan kita hidup di dunia menjadi ideal untuk menuju ke akhirat nanti. Ketentuan-ketentuan atau aturan dalam pendidikan kita pun sangat ketat dan saklek. UN merupakan aturan yang ada untuk mengetahui hasil dari pembelajaran. Padahal siswa tidak bisa diukur dengan nilai. Bagaimana sikapnya, bagaimana perkembangan siswa, bukankah itu juga penting.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Nur Dwi Laili Kurniawati
    13301241063
    Pendidikan Matematika C 2013

    Yang formal tidak lah benar jika mengesampingkan yang normatif. Seorang subjek tidaklah benar jika mengesampingkan seorang objek. Dalam upaya membangun pendidikan Indonesia menjadi lebih baik, maka hendaklah para subjek juga memperhatikan aspirasi para objek. Dalam pembelajaran dikelas guru sebagai subjek hendaklah memperhatikan aspirasi, bakat, dan keinginan para murid sebagai objek. Para jajaran pembuat kebijakan sebagai subjek hendaknya juga memperhatikan aspirasi guru dan siswa sebagai objek. Ujian nasional bertujuan untuk mengukur kualitas pendidikan di Indonesia. Tapi bagaimana cara mengukur kualitas pendidikan hendaknya juga memperhatikan aspirasi guru dan siswa. Karena pendidikan di Indonesia bukanlah hanya sekedar matematika, bahasa, dan IPA. Karena pendidikan juga tentang bakat- bakat siswa. Karena pendidikan juga tentang moral dan akhlak siswa.

    ReplyDelete
  5. Fauzul Muna Afani
    Pendidikan Matematika A 2013
    13301241010

    Pendidikan merupakan salah satu hal yang terpenting didalam kehidupan. Tanpa adanya pendidikan orang tidak akan bisa berkembang dan tidak bisa hidup dizaman yang semakin maju. Pendidikan tidak hanya didapat dari sekolah, pendidikan dapat didapat dari lingkungan sekitar seperti pengalaman merupakan pendidikan yang tidak bisa ditemukan disekolah, pendidikan karakter juga tidak hanya dibentuk disekolah melainkan dilingkungan dan kehidupan sehari-hari. Pendidikan di Indonesia tampaknya lebih mementingkan kemampuan akademik daripada karakternya terbukti dengan dijadikannya UN sebagai penentu kelulusan bagi SMP dan SMA. Hal ini membuat guru mementingkan materi tersampaikan semua tanpa memperdulikan materi tersebut dipahami oleh siswa atau tidak. UN juga membuat siswa tidak mempedulikan apakah cara yang mereka gunakan untuk lulus UN salah atau tidak mereka hanya berpikir bagaimana lulus UN agar dianggap tidak bodoh oleh orang-orang sekitarnya dan agar bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya.

    ReplyDelete
  6. Terkadang mereka sampai membeli kunci jawaban dan saling mencotek ketika UN berlangsung terkadang siswa bunuh diri karena merasa takut untuk mengikuti UN. Tidak hanya murid guru juga melakukan yang tidak kalah ekstrimnya dengan yang dilakukan oleh para siswa. Guru yang menurut bahasa jawa berarti digugu (diperhatikan) dan ditiru (dicontoh atau sebagi panutan) menyuruh siswa untuk mencotek dengan cara menunjuk siswa yang dianggap kemampuannya diatas teman-temannya untuk membagi jawaban. Hal ini membuat citra guru tercoret karena guru seharusnya menyemangati siswa untuk dapat menyelesaikan UN dengan jalan yang baik bukan menyuruh siswa untuk saling mencontek, akantetapi hal ini bukanlah kesalahan guru, mereka dilandan kecemasan dan kebingungan saat murid-muridnya dituntut untuk lulus UN dengan standar minimal yang dianggap terlalu berat terutama bagi sekolah yang berada dipelosok.

    ReplyDelete
  7. UN tidak hanya memiliki dampak negatif saja, semuahal tergantung bagaimana diri masing-masing menyikapi jika kita mempunyai prinsip dan mental yang kuat maka tidak akan terjadi yang namanya mencontek, membeli kunci jawaban dan bunuh diri karena ketakutan menghadapi UN. Disisi lain orang tua jadi memperhatikan pendidikan yang ditempuh oleh putra-putrinya seperti mendaftarkan mereka ke jasa bimbingan belajar untuk mempersiapkan mengahadapi UN. UN tidak selamanya buruk bagaimana cara kita menyikapinya.

    ReplyDelete
  8. SUPIANTO
    16701261001
    S3 PEP KELAS A 2016

    ini hanyalah ibarat permainan petak umpet antara anak-anak pandawa dan anak-anak kurawa. tidak jarang para kurawa merncang sebuah permainan untuk menjebak para pandawa sehingga mereka mendapat keuntungan besar di balik kekalahan pandawa. bodohnya lagi, pandawa sebenarnya tahu mereka sering dicurangi, namu tetap saja mereka patuh padaaturan-aturan permainan para kurawa.
    permainan dan kecurangan hanya akan berakhir di medan kurusetra, tetapi harus ada kesetiaan sikap untuk tidak mengakhiri kecurangan dengan kecurangan yg lain.

    ReplyDelete
  9. Areani Eka Putri
    12301249003
    Pend. Matematika Sub'12

    Para normatif menganggap UN bisa menjadi patokan kelulusan sementara para formal menganggap UN tak mampu. terlepas dari hal itu sebenarnya bahawa UN memang sebuah alat ukur, yaitu alat ukur kemampuan siswa secara kognitif pada mata pelajaran yang di teskan. di sekolah banyak pelajaran yang diajarkan dan kemampuan siswa pun berbeda-beda tapi yg diujiankan hanya beberapa matapeelajaran saja dan hal itu menjadi agak tidak adil untuk mata pelajaran lain yang juga sudah dupelajari bertahun-tahun dan hal ini menjadi pertentangan yang panjang.

    ReplyDelete
  10. Yazid Fathoni
    NIM 13301241076
    Pendidikan Matematika C 2013

    Sebaik-baik membangun sebuah negara adalah jika subjek dan objek saling bekerja sama satu pemikiran untuk membangung bangsa. Ketika objek dipaksa subyek terhadap sesuatu yang bukan keahliannya ia akan tidak maksimal dalam menjalankannya dan efeknya UN pun akan kacau balau hasilnya, nilainya akan jelek-jelek. Karena setiap obyek memiliki kemampuan masing-masing di dalam bidangnya alangkah baiknya subyek mengarahkan obyek itu ke arah kemampuan atau keahlian yang dimiliki oleh para obyek itu.

    ReplyDelete
  11. Mifta Tyas Laksita Sari
    Pend. Matematika A 2013
    13301241005

    Ketika Ujian Nasional menjadi objek dan subjek normatif serta formal, akan terdapat perbedaan yang mencolok. Terjadi pertentangan antara normatif dan formal. Normatif tidak setuju dengan UN karena sebagai suatu alat ukur kelulusan beberapa tahun sekolah yang hanya ditentukan dengan beberapa mata pelajaran selain itu juga banyak kasus-kasus terkait pelaksanaan UN. Formal setuju dengan adanya UN karena merupakan kebijakan dari pemerintah. Jika saya masuk dalam kategori di atas maka saya masuk dalam objek normatif.

    ReplyDelete
  12. Mifta Tyas Laksita Sari
    Pend. Matematika A 2013
    13301241005

    Ujian Nasional (UN) sebagai pertimbangan untuk pemetaan satuan pendidikan; dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya; dan penentu kelulusan peserta didik. Namun, jika dilihat dari kacamata saya, Ujian Nasional atau UN semata-mata menjadikan pandangan arti pendidikan dengan tes dan mengubah proses pendidikan menjadi sebatas persiapan lulus tes semata.

    ReplyDelete
  13. Mifta Tyas Laksita Sari
    Pend. Matematika A 2013
    13301241005

    Pemerintah harus mengkaji ulang tentang kebijakan Ujian Nasional dan memberikan kepercayaan kepada tim agar dapat melakukan kegiatannya lebih optimal. Dengan harapan perumusan kebijakan nasional pendidikan akan berjalan sesuai dengan aspirasi masyarakat dan menghasilkan kebijakan yang tepat bagi perkembangan pendidikan nasional.

    ReplyDelete
  14. Azwar Anwar
    16709251038
    Pendidikan Matematika S2 Kelas B 2016

    Ujian Nasional yang bertujuan untuk mengetahui hasil perkembangan siswa selama belajar di sekolah dan juga sebagai pengukuran kemampuannya. Niat ujian nasional yang utama malah tercoreng oleh tindakan-tindakan yang tidak jujur, banyaknya tindakan tersebut malah membuat ujian nasional semakin buruk dan hanya lebih mementingkan kelulusan semata. Maka dari itu perlunya sebuah perubahan untuk menjadikan ujian nasional sesuai dengan tujuan utamanya.

    ReplyDelete
  15. Ressy Rustanuarsi
    16709251033
    PPs PMAT Kelas B 2016

    Hal yang sangat dilematis yang selalu menjadi perbincangan setiap menjelang UN. Namun, akhir-akhir ini terdapat perubahan sistem mengenai hal ini. UN tak lagi dijadikan tolak ukuran kelulusan siswa. Menanggapi sistem yang kemaren, sebenarnya pelaksanaan UN seharusnya cukup dipandang sebagai alat ukur kemampuan kognitif siswa, serta sebagai evaluasi pembelajaran di tiap daerah Indonesia. Bukan malah dijadikan sebagai tolak ukur kelulusan siswa, karena sungguh ironis jika usaha seorang siswa selama 3 tahun, hanya di ukur dan ditentukan dalam waktu 3 atau 4 hari. Selain itu yang diukur hanya dari aspek kognitif saja mengabaikan psikomotor dan afektif.

    ReplyDelete
  16. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Penilaian normatif menurut pada norma dan kaidah yang berlaku serta sesuai dengan dimensinya. Sedangkan penilaian formal menurut pada peraturan yang berlaku. Sebagai seseorang yang sedang belajar, dalam berusaha meraih nilai yang baik kita juga seharusnya memperhatikan penilaian normatif dan formal. Selain melaksanakan dan mengerjakan setiap tugas yang diberikan oleh guru sesuai dengan ketetuan yang diberikan, kita juga harus memperhatikan nilai normatifnya, seperti sopan santun serta baik dan buruk, sehingga kita dapat melaksanakan tugas-tugas kita dengan jujur, bertanggung jawab, dan ikhlas.

    ReplyDelete
  17. Nauqi Aprilia Putri
    13301241023
    Pendidikan Matematika A 2013

    Perbincangan di atas berisikan tentang perdebatan penyelenggaran UN bagi siswa. Menurut saya pun, memang tujuan UN yaitu sebagai tolak ukur keberhasilan pendidikan di Indonesia. Sistem penyelenggaran UN yang terus menerus diperbaiki, hingga pengaruh nilai UN terhadap kelulusan siswa. Namun, melihat bahwa adanya siswa yang bertanya mengapa pelajaran yang ia sukai tidak menjadi salah satu mata pelajaran yang diujikan dalam UN, kembali lagi pada sistem dan kebijakan pemerintah dalam ranah pendidikan di Indonesia. Ujian Nasional masih menjadi momok bagi siswa. Penyelenggaraan UN sebenarnya bukan satu – satunya penentu keberhasilan siswa dalam mencapai prestasi pada suatu jenjang sekolah. Dalam rapor yang dimiliki oleh siswa dengan prestasi yang dipantau persemester itu juga merupakan acuan dalam keberhasilan belajar siswa, belum lagi sikap siswa yang dipantau sebagai salah satu aspek yang cukup penting dalam keberhasilan belajar.

    ReplyDelete
  18. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Normatif adalah sesuatu yang berpegang teguh pada aturan yang berlaku. Dulu ujian nasional merupakan satu-satunya ketentuan yang menjadi patokan kelulusan siswa. Namun sekarang ini ketentuannya telah berubah. Tapi dengan ketentuan yang baru seperti itu apakah ujian nasional masih diperlukan? Karena sekarang ini yang menentukan lulus atau tidaknya seorang siswa adalah pihak guru dan sekolah yang setiap hari berinteraksi dengan siswa tersebut.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  19. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Hal yang saya pahami disini adalah ternyata kualitas pendidikan kita yang sembraut dikarenakan adanya pemaksaan keinginan/kehendak dari segelintir orang distruktur formal dalam mengambil kebijakan berdasarkan kepentingan pribadi yang bersifat material sehingga disini terjadi disorientasi terhadap penggunaan normatif yang digunakan sebagai alat bagai para formal dalam mengeksekusi keinginannya tanpa mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan kepada orang-orang yang tak berdaya yakni siswa itu sendiri terkait pelaksanaan UN yang dijadikan sebagai faktor keberhasilan belajar para siswa.

    ReplyDelete
  20. Diah Nuraini Kartikasari
    13301241006
    Pend. Matematika A 2013

    Pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan manusia secara sadar untuk memperoleh suatu informasi. Pendidikan merupakan suatu hal yang mutlak harus ada dalam bangsa ini. Apabila tidak ada pendidikan maka bangsa ini tidak akan berkembang karena dengan pendidikan, masyarakat seluruh bangsa akan menjadi semakin maju pemikirannya sehingga sumber daya manusianya pun semakin maju. Pendidikan dapat dilakukan di mana saja, hanya kesadaran akan seseorang untuk belajar yang masih naik turun tidak pasti.

    ReplyDelete
  21. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Penilaian formal maupun normatif sebetulnya sama-sama diperlukan, keduanya efektif digunakan bila sesuai dengan ruang dan waktunya. Selain itu, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari aspek formatif saja tetapi juga dari aspek normatif. Elegi ini memberikan gambaran nyata yang terjadi di Indonesia di mana terjadi ketidaksesuaian antara normatif dan formal pada pelaksanaan UN. Menurut pandangan normatif, sistem UN yang diadakan tidak adil bagi siswa karena UN tidak dapat dijadikan tolak ukur keberhasilan mereka. Sementara pemerintah masih menggunakan penilaian formal dengan tetap menyelenggarakan UN. UN merupakan salah satu bentuk penilaian formatif karena UN hanya menggunakan tes obyektif. Soal objektif (pilihan ganda) tidak dapat memperlihatkan proses berfikir siswa, soal tersebut hanya menampilkan jawaban akhir siswa. Padahal proses berfikir siswa merupakan komponen penting dalam pembelajaran yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Masalah lain dari UN adalah bahwa UN hanya untuk mata pelajaran tertentu saja. Padahal setiap siswa memiliki potensi yang berbeda, yang mungkin saja ia lemah dalam mata pelajaran yang di UN kan tetapi ia sangat unggul dalam bidang yang lain. Selain itu, adanya UN juga membawa dampak lain. UN cenderung membuat setiap guru, sekolah, maupun instansi pendidikan menjadikan UN sebagai tujuan akhir sehingga pembelajaran yang dilakukan hanya untuk mempersiapkan UN dan mengabaikan aspek-aspek penting dalam membelajarkan siswa.

    ReplyDelete
  22. Diah Nuraini Kartikasari
    13301241006
    Pend. Matematika A 2013

    Pendidikan di Indonesia akan berujung pada ujinan nasional (UN). Terdapat sisi positif dan sisi negatif dalam UN, tergantung kita menyikapinya. Sisi positifnya yaitu UN dapat dijadikan sebagai tolak ukur untuk mengetahui kemampuan siswa terhadap ilmu yang sudah diperolehnya selama 6 tahun untuk sekollah dasar dan 3 tahun untuk sekolah menengah. Sisi negatifnya yaitu, pembelajaran yang dilakukan beberapa tahun itu hanya ditentukan oleh hasil empat hari.

    ReplyDelete
  23. Diah Nuraini Kartikasari
    13301241006
    Pend. Matematika A 2013

    Ujian Nasional (UN) menjadikan pertentangan oleh para normatif dan formal. Pertentangan ini diantaranya membahas bahwa di daerah-daerah tertentu terjadi kecurangan dalam menyelenggarakan UN. Padahal, tujuan dilaksanakanna UN adalah untuk mengukur kemampuan siswa. Apabila terdapat tim sukses yang berbuat curang maka hal ini sangat disayangkan.

    ReplyDelete
  24. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  25. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    Dalam rana pendidikan baik itu tingkat SD, SMP bahkan SMA telah timbul momok yang sangat menakutkan di antara para siswa, hal ini terjadi ketika siswa berada di tahap akhir di masing-masing jenjangnya ia akan di perhadapkan dengan UN. Dimana UN merupakan penentu apakah seorang siswa dapat melanjutkan pendidikan ketingkat selanjutnya atau tidak, sehingga yang terjadi di masyarakat saat ini, untuk menghadapi UN tersebut terkadang siswa akan akan melakukan segala macam cara untuk menghadapinya, bukan hanya dengan belajar lebih giat, akan tetapi timbul cara-cara yang di luar pemikiran kita.

    ReplyDelete
  26. Bismillah
    RatihKartika
    16701251005
    PPS PEP B 2016


    Assalamualaikumwarahmatulahiwabarrakatuh
    Terkadang tujuan diadakannya UN diimbuhioleh tindakan tindakan kotor seperti mencontek, membocorkan dan lain sebagainya. Citra itulah yang membuat UN menjadi tidak baik. Maka dibutuhkan system maupunperubahan sehingga tujuan dan cita cita luhur UN tersampaikan dengan baik.



    Terimakasih.
    Wassalamualaikumwarahmatulahiwabarakatuh

    ReplyDelete
  27. Normatif memiliki objek yang beragam untuk memperkuat dirinya sendiri. Elegi ini mengajari saya untuk memperlihatkan sisi yang presisi antarobjek, yakni objek normatif. Antarobjek pun memiliki dimensi yang berbeda-beda untuk sekadar memahami satu objek. Sebenar-benarnya dimensi adalah kekayaan yang di dalamnya tersirat persekutuan dan perseteruan.
    Objek diri manusia pun memiliki dimensinya yang masing-masing memiliki kekuatan sama hakikinya. Manusia akhirnya berdimensi dan berstruktur demi memperlihatkan strukturnya lebih kuat daripada struktur lainnya.
    Manusia berlegi dan manusia tidak berelegi, kontradiktif.
    Manusia bebas berelegi, dan manusia bebas berkontradiksi.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S-3 UNY PEP

    ReplyDelete
  28. perennialisme sangat dipengaruhi oleh tokoh-tokohnya seperti Plato, Aristoteles dan Thomas Aquinas. Dalam hal ini, pokok pikiran Plato tentang ilmu pengetahuan dan nilai-nilai adalah menifestasi daripada hukum yang universal, yang abadi dan sempurna, yakni ideal. Sehingga ketertiban sosial hanya akan mungkin bila ide itu menjadi ukuran, asas normatif dalam tata pemerintahan. Maka tujuan utama pendidikan ialah membina pemimpin yang sadar dan mempraktekkan asas-asas yang normatif itu dalam semua aspek kehidupan.
    Menurut Plato, manusia secara kodrati memiliki tiga potensi, yaitu nafsu, kemauan dan pikiran. Pendidikan hendaknya berorientasi pada ketiga potensi tersebut dan kepada masyarakat, agar supaya kebutuhan yang ada pada setiap lapisan masyarakat bisa terpenuhi. Ide-ide Plato itu dikembangkan oleh Aristoteles dengan lebih mendekatkan pada dunia kenyataan. Bagi Aristoteles tujuan pendidikan adalah kebahagiaan.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S-3 UNY PEP

    ReplyDelete
  29. Fitri Ayu Ningtiyas
    16709251037
    S2 P.Mat B UNY 2016

    Membahas elegi pemberontakan para normatif dijelaskan bahwa formal dan normatif adalah dua sisi berbeda namun tidak boleh dikesampingkan satu dan yang lain. Elegi ini juga membahas bagaimana ujian nasional yang diharapkan mampu mengkaji untuk mengukur sejauh mana kemampuan peserta didik, ternyata tidak dapat benar-benar menjadi parameter kemampuan siswa dalam belajar. Karena tidak selamanya kemampuan siswa dapat diukur hanya dari beberapa mata pelajaran saja, sebab ada kemampuan lain yang mungkin lebih ahli dimiliki siswa.

    ReplyDelete
  30. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    normatif itu sesuatu yang statis. Dalam arti dia tidak dapat bergerak, tidak dapat marah, sedih, apalagi memberontak. Yang bergerak, marah, sedih dan memberonrak adalah diriku, dirimu, dirinya kita semua yang masih memegang teguh beragam norma. Marah dan berontak saat melihat banyak pihak yang merusak keseimbangan dan keharmonisan karena mencampakkan norma.

    ReplyDelete
  31. Moh. Bayu Susilo
    16709251012
    S2/P. Matematika/A/2016

    Elegi pemberontakan para normatif mengajarkan pada kita bahwa sebagai subjek dan objek harus saling bekerja sama dalam merumuskan kebijakan sebagai contoh diatas tentang masalah ujian nasional. Sebagai subjek tidak boleh sewenang-wenang dalam mengambil keputusan tanpa memperhatikan aspirasi dari objek. Dalam konteks ini tentu subjeknya adalah pemerintah dan objeknya adalah para peserta didik dan pengajar. Dengan kerjasama yang baik dan saling memahami tentu akan menghasilkan kebijakan yang bermanfaat bagi kedua belah pihak, dalam hal ini mengenai kebijakan ujian nasional.

    ReplyDelete
  32. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Murid yang merasa tidak diperlakukan adil, berarti sistem pendidikan kita perlu dipertanyakan. Murid merasa benci pendidikan, padahal pendidikan itu perlu bagi mereka, landasan pokok keberlangsungan hidup kita. Apa yang salah dari UN?Sejak awal, apa tujuan UN, sepertinya perlu digali kembali. Di saat pembentukannya tentu UN bertujuan baik. Namun seiring dengan perkembangan zaman, mungkin UN sudah tidak cocok lagi diterapkan akibat perubahan zaman. Entah berubah menjadi sesuatu yang baik atau buruk. Perlu kajian ulang mengenai UN yang dihadiri oleh wakil-wakil rakyat yang bertanggung jawab, bukan hanya keputusan sementara semata.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  33. Ika Nailatul Muna
    13301241050
    Pendidikan Matematika A 2013

    Evaluasi pendidikan memang diperlukan untuk meningkatkan kualitas. Tetapi apakah UN memang mampu menggambarkan kualitas pendidikan kita? Kita tidak dapat memungkiri bahwa kualitas pendidikan kita masih jauh berbeda di antara kota-kota besar dan pelosok, maka UN pun menjadi masalah yang selalu diperdebatkan sampai sekarang. Prof. Marsigit pernah mengatakan bahwa yang berhak mengevaluasi kemampuan siswa hanya guru karena guru lah yang mengetahui perkembangan anak didiknya setiap hari. Saya setuju dengan hal tersebut dengan beberpaa ketentuan yaitu guru memang bertanggung jawab dalam setiap proses mendidik anak didiknya.

    ReplyDelete
  34. NUR AZIZAH
    16709251017
    PMAT KELAS A PPS UNY 2016

    Siswa adalah individu yang utuh dan unik. Artinya satu dengan yang lainnya memiliki kemampuan yang berbeda-beda pada bidang masing-masing. Selain itu pendidikan tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa saja, akan tetapi juga membangun sikap dan keterampilan siswa. Jika UN dijadikan satu-satunya standar kelulusan, maka kita seperti menutup mata pada perkembangan sikap dan keterampilan siswa. Oleh sebab itu seharusnya penilaian akhir yang dijadikan standar kelulusan bukan hanya sekedar UN.

    ReplyDelete
  35. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Nilai spiritual yang semakin terasingkan menyebabkan kebanyakan pelajar menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Fenomena lirik kanan, lirik kiri, lirik atas ,lirik bawah sudah hal lumrah yang sering dijumpai terutama ketika pelaksanaan ujian. Ada yang rela merogoh uang saku untuk membeli kunci jawaban, bahkan ada juga yang mengeluarkan jurus untuk membeli hati pengajar sehingga mendapatkan nilai yang diinginkan.

    ReplyDelete
  36. Asri Fauzi
    16709251009
    Pend. Matematika S2 Kelas A 2016
    Pemberontakan para normatif disini merupakan pemberontakan dimana mereka ingin terlepas dari berbagai aturan-aturan subyek formal yang mengekangnya, menghambat mereka untuk dapat mengembangkan berpikir kritisnya yang menyebabkan mereka terhenti untuk bergerak maju. Seperti contoh pada elegi di atas, kesuksesan siswa hanya terpaku pada lulus tidaknya mereka pada Ujian Nasional yang merupakan ketentuan atau standar yang telah ditentukan oleh pemerintah atau subyek formal sehingga dalam pembelajaran siswa ditekankan untuk bisa menjawab soal-soal pada ujian nasional itu tanpa tahu makna dari pembelajaran yang sebenarnya.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id