Oct 15, 2010

Elegi Pemberontakan Para Formal




Oleh Marsigit

Formal Dewasa Mandireng:
Blaaaaghh..dlalah...marah besar aku terhadap perilaku Normatif Dewasa Pertikel. Sudah keterlaluan uraiannya. Sudah tidak mau memenuhi kemauanku, masih ceramah ngalor-ngidul lagi. Wah saya harus bertindak. Aku akan menghimpun kekuatan untuk menghadapi kesewenang-wenangan Normatif Setengah Baya.

Formal Dewasa Mandireng Paralel:
Aku..aku setuju dengan apa yang engkau pikir Wahai Formal Dewasa Mandireng. Aku juga merasakan apa yang engkau rasakan. Maka aku mendukung rencana-rencanamu.

Formal Dewasa Parlogos:
Kalau aku ingin bersikap realistis. Kita ini kan sudah komitmen dan berjanji kepada diri kita masing-masing. Dan juga sudah teken kontrak. Bahwasanya kita bersedia bergaul dengan Normatif Setengah Baya. Maka kita ikuti saja skemanya dengan ikhlas, maka mudah-mudahan kita akan bisa mengambil manfaatnya dari semua kegiatan-kegiatan ini.

Formal Dewasa Parlogos Paralel:
Wahai Formal Dewasa Mandireng dan Formal Dewasa Mandireng Paralel, aku menolak keinginanmu. Selama ini aku selalu mengikuti gerak-gerikmu. Aku sangat tidak mengerti dengan sikapmu. Mengapa engkau mempunyai hati sekeras batu, mengapa engkau menutupi diri dari pengetahunmu, mengapa engkau cenderung berbuat anarkhis. Ingatlah bahwa disini yang berkepentingan bukan hanya dirimu saja, tetapi aku juga berkepentingan. Ketahuilah bahwa aku mempunyai program-program jangka panjang. Jika engkau terus-teruskan sikapmu yang demikian itu maka aku khawatir, aku juga akan terkena dampaknya. Maka dengan ini aku proklamirkan bahwa aku menentang semua rencana-rencanamu.

Formal Anak-anak Mandireng:
Aku protes terhadap perilaku Normatif Remaja Pertikel. Aku sudah setengah mati mempelajari dan mengikuti ternyata harapannya tidak sesuai dengan rencanaku. Eee..malah permintaannya bermacam-macam. Saya tidak suka dengan segala perilaku Normatif.

Formal Dewasa Mandireng:
Wahai para Formal Mandireng..marilah kita bersatu untuk menghadapi para Normatif Pertikel. Tetapi ketahuilah bahwa perjuangan kita sangat berat. Ketahuilah bahwa kita harus bisa berjuang kalau perlu melakukan pemberontakan bagaimana agar para Formal itu bisa menjadi Normatif, dan sebaliknya bagaimana agar para Normatif kita tangkap dan kita penjarakan sehingga mereka itu kita jadikan saja sebagai Formal atau kalau perlu sebagai Material. Untuk mewujudkan rencanaku itu, siapakah diantara kamu semua yang mempunyai ide atau gagasan?

Formal Dewasa Mandireng Paralel:
Ng...nggak...enggak ..aku enggak punya ide. Tetapi kita harus tetap maju.

Formal Anak-anak Mandireng:
Ng...nggak...enggak ..aku enggak punya ide. Tetapi kita harus tetap maju.

Formal Dewasa Parlogos:
Itu ide dan rencana gila. Tidaklah mungkin epistemologi mampu menjungkir-balikkan ontologi.

Formal Dewasa Parlogos Paralel:
Menurutku itu juga ide dan rencana gila. Tidaklah mungkin epistemologi mampu menjungkir-balikkan ontologi. Rencanamu itu seperti ingin menukar siang dan malam.

Formal Dewasa Mandireng:
Kalau begitu saya akan mengadakan sayembara. Barang siapa dapat membantu diriku menemukan cara bagaimana mengubah Formal menjadi Normatif dan sebaliknya maka akan saya beri “hadiah berupa bukan hadiah”.

Para Formal:
Wahai Formal Dewasa Mandireng, apakah sudah engkau pikirkan masak-masak ucapanmu itu. Bukankah ucapanmu itu bersifat kontradiktif. Seperti apakah yang engkau maksud dengan “hadiah berupa bukan hadiah”?

Formal Dewasa Mandireng:
Waha..haha..haha..inilah kesenanganku dan kesengajaanku. Kiranya aku tidak bisa menyamai Normatif. Bukankah kebingunganmu itu menunjukkan bahwa aku secara ontologis telah pantas diangkat sebagai Normatif?

Para Formal:
Tetapi ingatlah wahai Formal Dewasa Mandireng. Bahwa keinginanmu itu akan terwujud jika semua Formal yang lainnya mendukung. Padahal engkau mengetahui bahwa hanya sebagian kecil dari para Formal itu mendukungmu.

Formal Dewasa Mandireng:
Waha...haha..haha. Harus. Itu harus. Adalah kewajibanmu untuk mendukungku.

Para Formal:
Lho..kok mengharuskan. Wah kalau ini namanya memaksa.

Formal Dewasa Mandireng:
Kalau engkau menyadari maka aku menghormatimu. Kalau engkau belum mendengar maka dengarkanlah teriakanku. Kalau engkau tetap tidak mendukungku maka engkau semua akan aku paksa.

Para Formal:
Waaa.. ini namanya anarkhis. kalau sudah begini, bukan berbipir lagi kita. Ini namanya sudah perang.

Formal Dewasa Mandireng dan Para Formal:
Berperang...berperang...berperang...berperang...dar..dir..dor..der..dur.

Normatif Dewasa Pertikel:
Aku melihat pertempuran hebat di antara para Formal. Apa gerangan yang terjadi?

Normatif Anak-anak Pertikel:
Wahai Normatif Dewasa Pertikel. Sebetulnya yang menjadi pokok persoalan adalah dirimu dan juga diriku. Sebagian para formal, yang dipimpin oleh Formal Dewasa Mandireng menginginkan agar merekalah yang menjadi Normatif. Sedangkan kita para Normatif dikehendakinya untuk menjadi Formal saja. Maka bagaimanakah hal ini menurut dirimu itu?

Normatif Dewasa Pertikel:
Whus...aneh benar kejadiannya. Tidak adalah suatu teori berpikir di dunia ini yang dapat menjelaskan perihal kejadian ini, kecuali...

Normatif Anak-anak Pertikel:
Kecuali apa...

Normatif Dewasa Pertikel:
Hanya Normatif Tua Pertikel sajalah yang mampu menjelaskan dan memberi solusinya.

Normatif Tua Pertikel:
Wahai para Normatif, ketahuilah, bahwa ada saatnya manusia itu menghadapi suatu kejadian di mana banyak di antara mereka tidak mampu memikirkannya, karena memang bukan kapasitasnya. Untuk kejadian ini hanya dirikulah yang mempunyai senjata untuk menjelaskan dan memberikan solusinya.

Para Normatif:
Tolong wahai Normatif Tua Pertikel, segera uraikan caramu itu.

Normatif Tua Pertikel:
Yang kelihatannya tautologi pada suatu level, jika ditingkatkan dimensinya maka dia belum tentu tautologis. Yang kelihatannya kontradiksi, jika ditingkatkan dimensinya maka dia belum tentu kontradiksi. Mengapa? Karena permasalahannya bukan pada tautologi ataupun pada kontradiksi itu sendiri. Tetapi persoalannya pada mengapa sampai timbul tautologi dan kontradiksi, dan bagaimana implikasi yang ditimbulkannya.

Para Normatif:
Kami tidak paham.

Normatif Tua Pertikel:
Engkau tidak akan paham sampai aku betul-betul mengeluarkan senjataku itu.

Para Normatif:
Tolong segera keluarkan senjatamu itu?

Normatif Tua Pertikel:
Senjataku ada tiga macam. Pertama, kesadaran ruang dan waktu. Kedua, berpikir intensif dan ekstensif. Ketiga, menggapai logos. Dengan ketiga senjataku ini, maka aku akan bisa menangkap para Formal pemberontak.
Senjata pertamaku: Hai, kau tentu anak buah Formal Dewasa Mandireng, kenapa engkau tidak menepati ruang dan waktu yang engkau sanggupi. Maka sehebat-hebat dirimu, aku telah menagkapmu. Engkaulah si tidak sadar ruang dan waktu. Maka dengan senjataku ini jikalau engkau ikhlas maka engkau akan segera bisa menjadi Normatif. Bersiaplah.
Senjata keduaku: Hai, kau tentu anak buah Formal Dewasa Mandireng, kenapa engkau bersembunyi di balik kata-katamu. Sedalam engkau bersembunyi di situ maka aku bisa menangkap dirimu. Itulah engkau si tidak mau berpikir intensif dan ekstensif. Maka dengan senjataku ini jika engkau iklhas maka engkau segera bisa menjadi Normatif. Maka bersiaplah.
Senjata ketigaku: Hai, kau tentu anak buah Formal Dewasa Mandireng, kenapa engkau bersikeras mempertahankan pendirianmu? Padahal hati nuranimu mengatakan bahwa pikiranmu itu tidak sesuai dengan suratan takdirmu. Mengapa engkau sangat bangga dengan jargon-jargonmu. Bukankah engkau menyadari bahwa itu adalah perileku mitos-mitosmu. Maka dengan senjataku ini, jika engkau ikhlas maka engkau akan segera menjadi manusia menggapai logos. Dengan demikian engkau akan bisa segera menjadi Normatif. Maka bersiaplah.

Formal Dewasa Mandireng:
Waha..haha..haha..wahai Normatif Tua Pertikel. Kirain saya menyerah begitu saja. Lihatlah bahwa ketiga senjatamu yang engkau agung-agungkan itu, ternyata aku belum mau menyerah. Maka tunggulah balasanku ini.

Normatif Tua Pertikel:
Jika dengan ketiga senjataku itu ternyata aku belum mampu menaklukan dirimu. Maka engkau Formal Dewasa Mandireng, benar-benar bukan tandingan manusia. Engkau adalah jelmaan jin bertanduk tujuh. Engkau adalah syaetan yang pertama, tertua dan terbesar. Maka jika aku terpaksa harus bertempur melawanmu untuk yang terakhir kalinya, maka satu-satunya cara adalah aku harus menyatukan ketiga senjataku itu menjadi satu, dan mengarahkannya ke tengah dalam mulutmu sehingga engkau akan tertembus sampai belakang lehermu. Maka dengan doaku, engkau akan terpenggal lehermu dan terputuslah lehermu.

Formal Dewasa Mandireng:
Wahai Normatif Tua Pertikel, lihatlah diriku ini. Walaupun aku hanya tinggal kepalaku saja, maka aku masih bisa melawanmu.

Normatif Tua Pertikel:
Engkau memperlihatkan bahwa hanya dengan kepalamu saja engkau masih bisa mengamuk dan merusak. Maka senjataku saja tidak bisa mengalahkanmu kecuali aku harus minta bantuan gunung yang tinggi untuk bersedia melongsorkan sebagian lereng dan tebingnya sehingga kepalamu, Formal Dewasa Mandireng akan terbenam jauh di bawah dasar gunung. Itulah saat di mana semua bentuk angkara murkamu akan terhenti. Tiadalah manusia mampu mengalahkan jin bertanduk tujuh jika tiadalah bantuan dari Allah SWT. Amiin.

Para Normatif:
Terus..terus..bagaimana...di mana?

Normatif Tua Pertikel:
Wahai para Normatif. Janganlah engkau mengaku sebagai normatif, jika engkau tidak mampu melihatnya. Ketahuilah, begitu selesai aku bercerita, maka selesai pulalah pertempuran itu. Lihatlah maka kita melihat disana para Formal sudah kembali ke habitatnya masing-masing. Mereka telah menyadari bahwa mereka juga memerlukan para Normatif. Mereka juga telah menyadari bahwa mereka juga tidak serta merta bisa menihilkan keberadaan Normatif. Sesungguhnya yang terjadi adalah, agar para Formal bisa menjadi Normatif, maka semua Formal yang lain harus mendukungnya. Apakah arti dari kalimatku yang terakhir itu. Itulah sebenar-benar makna ontologis. Ontologis suatu hal tidaklah bisa dipaksakan, tetapi memaksa sendiri itu adalah ontologis. Maka renungkanlah?

Para Normatif:
Wahai Normatif Tua Pertikel..aku curiga dengan dirimu. Jika Engkau benar-benar Normatif seperti aku. Mengapa engkau mempunyai kemampuan melebihi diriku. Siapakah dirimu itu.

Normatif Tua Pertikel:
Aku tidak lain tidak bukan adalah si Orang Tua Berambut Putih. Itulah sebenar-benar diriku adalah pengetahuanmu. Maka gunakan akal dan pikiranmu untuk menggapai ilmumu dan untuk memecahkan urusan sehari-hari. Tetapi aku telah membuktikan bahwa akal saja tidaklah cukup. Akal bertemu dengan hati itulah setinggi-tinggi dimensi manusia. Tetapi itu juga belum cukup jika engkau belum menggapai Rakhmat dan Hidayah Nya.
Amiin.

26 comments:

  1. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Formal dan Normatif mungkin bisa disandingkan, mungkin tidak bisa. Hal-hal yang formal tujuannya ada dunia. Hakekatnya manusia yang mengerti tujuannya di kehidupan ia di dunia. Normatiflah yang mampu menyentuh kedua. Dunia dan akhirat. Jika kita tahu bahwa kehidupan dunia tujuannya seperti apa, maka normatif akan melengkapi dengan akhiratnya. Disinilah akal tidak cukup untuk berjalan beriringan. Harus disertai doa dan ikhtiar yang kontinu untuk mendapat ridha-Nya disetiap langkah kita mencari ilmu. Contohnya formal dalam mengikuti pelajaran yang sebenarnya adalah jadwal shalat. Disini terlihat bahwa formal dan normatif mungkin saja bisa kontradiksi.

    ReplyDelete
  2. Dita Nur Syarafina
    NIM. 16709251003
    PPs Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Kehebatan formal dapat dikalahkan dengan tiga cara yaitu kesadaran ruang dan waktu, berfikir intensif dan ekstensif, dan menggapai logos. Ketiga cara tersebut dimiliki normatif karena normatif berhubungan dengan hal yang ada dan yang mungkin ada. Formal hanya berfikir tentang yang ada, semua kuasa formal ada di dunia ini. Yang dapat dipegang, dilihat, dibentuk secara langsung itulah formal. Padahal semesta ini tidak hanya dipenuhi sesuatu yang bersifat formal saja melainkan juga normatif. Sehingga formal dan normatif harus berjalan sesuai dan beriringan sesuai ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  3. Nur Dwi Laili Kurniawati
    13301241063
    Pendidikan Matematika C 2013

    Kesadaran akan ruang dan waktu menjadi salah satu senjata yang penting. Tidak hanya dalam menghadapi para formal tetapi juga dalam memecahkan urusan sehari- hari. Denga kesadaran ruang dan waktu kita akan menjadi sadar untuk mengggunakan akal dan pikiran untuk menggapai ilmu dan untuk memecahkan urusan sehari-hari. Dengan kesadaran ruang dan waktu kita juga akan membuktikan bahwa akal saja tidaklah cukup dalam memecahkan masalah sehari- hari. Akal bertemu dengan hati itulah setinggi-tinggi dimensi manusia. Dan dengan kesadaran ruang dan waktu kita akan menyadari bahwa akal bertemu hati tidaklah cukup tanpa petunjuk Allah SWT. Kesadaran ruang dan waktu akan kita dapatkan seiring dengan pengalaman yang kita dapatkan. Ketika dihadapkan pada permasalahan kita merasa bahwa ilmu kita cukup untuk memecahkannya. Dengan berlalunya ruang dan waktu kita menyadari bahwa juga diperlukan hati. Tetapi ternyata itu tidaklah cukup. Dengan berlalunya ruang dan waktu kita juga menyadari bahwa petunjuk, rahmat, serta hidayah Allah juga kita perlukan.

    ReplyDelete
  4. Areani Eka Putri
    1230124903
    Pend. Matematika Sub'12

    dari elegi ini sedikit membuat saya tidak mengerti, namun sepertinya yang dimaksud adalah formal dan normatif saling melngkapi. Manusia selalu dihadapkan masalah, baik sederhana maupun kompleks. Manusia telah dikaruniai akal dan pikiran, oleh sebab itu untuk dapat menyelesaikan masalah maka kita harus sopan terhadap ruang dan waktu, berpikir intensif dan ekstensif serta menggapai logos.

    ReplyDelete
  5. Mifta Tyas Laksita Sari
    Pend. Matematika A 2013
    13301241005

    Formal itu wadahnya dan normatif itu isinya. Ketika Formal tanpa normatif diibaratkan seperti wadah kosong tanpa isi, takkan ada artinya apa-apa. Untuk menggapai ilmu diperlukan akal dan pikiran. Dalam kehidupan ada formal tapi dibutuhkan pula normatif. Akan menjadi normatif jika dilakukan dengan ikhlas dan sesuai dengan ruang dan waktu. Dibutuhkan akal saja tidak cukup, pikiran saja tidak cukup tapi dibutuhkan kedua-duanya yang saling bersinergi. Tetapi semua tak lepas dari kehendak Allah SWT.

    ReplyDelete
  6. Mifta Tyas Laksita Sari
    Pend. Matematika A 2013
    13301241005

    Formal itu wadahnya dan normatif itu isinya. Ketika Formal tanpa normatif diibaratkan seperti wadah kosong tanpa isi, takkan ada artinya apa-apa. Untuk menggapai ilmu diperlukan akal dan pikiran. Dalam kehidupan ada formal tapi dibutuhkan pula normatif. Akan menjadi normatif jika dilakukan dengan ikhlas dan sesuai dengan ruang dan waktu. Dibutuhkan akal saja tidak cukup, pikiran saja tidak cukup tapi dibutuhkan kedua-duanya yang saling bersinergi. Tetapi semua tak lepas dari kehendak Allah SWT.

    ReplyDelete
  7. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Formal dan normatif sebenarnya saling terikat dan membutuhkan karena formal itu wadah sedangkan normatif adalah isinya. antara wadah dan isi tidak bisa hanya dipentingkan salah satu saja. Dari membaca elegi pemberontakan para formal maka solusi untuk mengalahkan pemberontakan para formal adalah dengan memperhatikan 3 hal yaitu ; ruang dan waktu; berpikir intensif dan ekstensif; serta menggapai logos. Dengan memperhatikan ruang dan waktu maka kita dapat menempatkan diri dengan tepat dan benar. misalnya menjadi seorang anak ketika di rumah, sebagai guru ketika di sekolah dan sebagai mahasiswa ketika di kampus yang selalu terikat oleh ruang dan waktu. Berpikir secara intensif dan ekstensif perlu dilakukan agar kita dapat memperoleh pemahaman informasi akan sesuatu secara mendalam dan luas agar bisa mencapai hasil yang optimal sehingga dapat menggapai logos yamg sebenarnya.
    Meski demikian, kita juga harus ingat tidak semua masalah ada solusinya dan kita tidak harus memaksakan kehendak untuk menemukan solusi karena sebenar-benarnya manusia adalah tidak sempurna yang bisa dilakukan hanyalah berdoa dengan hati ikhlas pada Tuhan YME untuk meminta petunjuk dan pertolonganNya

    ReplyDelete
  8. Azwar Anwar
    16709251038
    Pendidikan Matematika S2 Kelas B 2016

    Pada elegi di atas adalah pelajaran bahwa untuk menjadi sesuatu kita harus sadar ruang dan waktu, berpikir secara intensif dan ekstensif serta berusaha menggapai logos. Ketiga inilah yang jika digabungkan semua akan menjadi kekuatan yang besar dalam menggapai sesuatu.Ketika salah satu dari tiga itu hilang maka akan ada yang tidak tercapai dari cita-citanya.Sehingga untuk dapat menyelesaikan masalah maka kita harus sopan terhadap ruang dan waktu, berpikir intensif dan ekstensif serta menggapai logos. Jika dengan akal dan pikiran tidak bisa menyelesaikannya maka gunakan akal dengan hati untuk menggapai rahmat dan ridho Nya.

    ReplyDelete
  9. Ressy Rustanuarsi
    16709251033
    PPs PMAT Kelas B 2016

    Dalam elegi pemberontakan para formal ini, kita tentu menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan. Dalam menghadapi masalah hendaknya seimbang antara penggunaan akal pikiran dan hati. Serta jangan lupa untuk menggapai rahmat Tuhan. Karena itulah sebenar-benarnya yang dapat menolong kita.

    ReplyDelete
  10. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu dihadapkan masalah, baik sederhana maupun kompleks. Manusia telah dikaruniai akal dan pikiran. Pikiran manusia adalah kemampuan manusia itu sendiri. Tidaklah mampu sesorang menggapai pikiran orang lain, karena sesungguhnya pikiranku adalah bukan pikiranmu. Keterbatasan kemampuan manusia itulah sebab utama manusia tidak dapat memikirkan hal yang tidak ada dalam pikirannya. Oleh sebab itu untuk dapat menyelesaikan masalah maka kita harus: (1) kesadaran ruang dan waktu, (2) berpikir intensif dan ekstensif, (3) menggapai logos. Jika dengan akal dan pikiran tidak bisa menyelesaikannya maka gunakan akal dengan hati untuk menggapai rahmat dan hidayah Nya.

    ReplyDelete
  11. Assalamualaikum, wr. wb.

    Sang formal memberontak oleh karena tiap hari di kehidupan manusia berhadapan dengan permasalahan baik sederhana maupun kompleks. Sarte berpendapat manusia akan lepas dari formalitas jika mampu membebaskan pikirannya dan mengeksistensikan hidup dalam kebebasan tersebut.

    Dwi Margo Yuwono
    16701261028
    PEP S3 A

    ReplyDelete
  12. Nauqi Aprilia Putri
    13301241023
    Pendidikan Matematika A 2013

    Dalam kehidupan sehari – hari, hendaknya melakukan kegiatan dengan ikhlas, maka kita dapat mengambil manfaat dan hikmahnya. Manusia tidak bisa terlepas dari masalah. Untuk dapat menyelesaikan masalah kehidupan sehari – hari, maka terlebih dahulu sadar akan ruang dan waktu, kemudian berpikir intensif dan ekstensif dan yang terakhir adalah menggapai logos. Dalam menghadapi permasalahan, ada kalanya hati nurani mengatakan bahwa pikiran tidak sesuai dengan suratan takdir. Namun demikian, sebenar-benar diri adalah ilmu. Ilmu yang telah kita miliki merupakan cerminan dari diri kita sendiri. Maka mengggunakan akal dan pikiran untuk menggapai ilmu dan untuk memecahkan urusan sehari – hari. Namun, akal dan pikiran tidak cukup untuk untuk menyelesaikan permasalahan, masih ada hati yang ikut andil bersamanya. Akal bertemu dengan hati merupakan setinggi – tinggi dimensi manusia. Hal yang paling tinggi adalah tatkala menyadari akan segala yang diberikan oleh-Nya.

    ReplyDelete
  13. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Formal itu wadah. Wadah dapat menjamin substansi. Suatu wadah tanpa isi adalah kosong, isi tanpa wadah juga tidak memiliki makna. Wadah dan isi saling terkait satu sama lain. Misalkan wadahnya RPP, isinya tentang strategi guru untuk membuat pembelajaran di dalam kelas menjadi efisien dan efektif. Di situlah terlihat juga kualitas dari isi. Strategi yang dirancang apakah sudah baik atau tidak.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  14. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Elegi diatas menggambarkan bagaimana anarki bisa terjadi didalam hidup kita, ketika struktur formal ingin melampau struktur normatif, yang pada kenyataannya secara ontologi hal itu tidak akan bisa terjadi karena perbedaan ruang dan waktu dimana struktur formal tidak akan bisa menggapai ruang dan waktu di struktur normatif karena normatif berada diaats strukturnya formal. Maka sebenar-benar anarki itu disebabkan ketika struktur yang dibawah memakan struktur yang diatasnya.

    ReplyDelete
  15. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Berdasarkan elegi pemberontakan para formal ini, solusi untuk mengalahkan pemberontakan para formal adalah dengan memperhatikan 3 hal, yaitu tentang kesadaran ruang dan waktu, berpikir intensif dan ekstensif, serta menggapai logos. Jika diperluas, ketiga hal tersebut dapat kita gunakan dalam menghadapi situasi yang lainnya. Dengan kesadaran akan ruang dan waktu, kita dapat menempatkan diri pada waktu dan ruang yang tepat dan dapat memahami segala sesuatu berdasarkan waktu dan ruangnya. Hal ini penting karena segala sesuatunya itu selama di dunia relatif tergantung pada ruang dan waktunya. Berfikir intensif artinya ialah berfikir sedalam-dalamnya, sedangkan berfikir ekstensif ialah berfikir seluas-luasnya. Dengan berpikir sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya tentu kita akan lebih memperhatikan banyak hal dan tidak gegabah dalam memutuskan sesuatu. Sementara menggapai logos ialah dengan selalu berikhtiar untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimiliki.

    ReplyDelete
  16. Diah Nuraini Kartikasari
    13301241006
    Pend. Matematika A 2013

    Setelah membaca elegi ini, saya menjadi tahu bahwa formal dan normatif sebenarnya saling berhubungan sesuai dengan ruang dan waktu. Formal dan normatif saling mendukung dalam kehidupan kita. Dalam situasi formal, apabila kita dapat menyesuaian dengan ruang dan waktunya secara ikhlas maka dapat menjadi normatif. Dalam hal ini, pengalaman yang kita peroleh jika dilihat dengan berpikir intensif dan ekstensif maka akan dapat menggapai suatu penyelesaian karena keduanya dapat membantu untuk berpikir secara seimbang.

    ReplyDelete
  17. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Adalah formal dan normatif itu saling membutuhkan satu sama lain, formal ada untuk menggapai normatif, begitu pula normatif tidak bisa terjadi tanpa ada formal. Itulah konsep dimensi, meskipun dimensi yang lebih tinggi melingkupi dimensi di bawahnya, namun ia tidak akan menjadi dimensi yang lebih tinggi jika tidak ada dimensi yang lebih rendah. Karena dimensi yang lebih rendah mampu membentuk dimensi yang lebih tinggi dan dimensi yang lebih tinggi bisa terbentuk dari dimensi yang lebih rendah.

    ReplyDelete
  18. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    formal merupakan simbol dari hati sedangkan normatif merupakan simbol dari pikiran. Ketika terjadi pertengkaran maka sebenar-benar hati telah dikuasai oleh syaitan yang dengan penuh kedengkiannya ingin merusak segala sesuatu yang ada, dan untuk menghilangkan kesombongan dalam hati maka kembali ke rana spiritual lah jalan terbaik dari segala permasalahan yang ada

    ReplyDelete
  19. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Bentuk formal itu menjamin materialnya karena formal itu merupakan wadahnya sedangkan matrial dan normatif itu isinya. Sebagai contoh seseorang yang berpakaian formal akan tetapi pembohong akan berbeda dengan seseorang yang biasa saja namun dia jujur.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  20. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Peraturan formal memang tetap harus dijalankan disamping peraturan normatif. Karena aturan formal itulah yang nantinya akan menghasilkan pengakuan yang formal pula, dimana pengakuan formal itulah yang akan menjadi salah satu tolak ukur sampai dimanakah tingkat keilmuan kita. Jadi dalam hal ini aturan-aturan formal harus tetap dijalankan dan ditegakkan. Namun dalam menjalankan aturan formal tersebut tentunya aturan normatif jangan diabaikan, sehingga kita tidak boleh menghalalkan segala cara untuk dapat menjalankan segala aturan dan syarat formal yang ada.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  21. Bismillah
    RatihKartika
    16701251005
    PPS PEP B 2016


    Assalamualaikumwarahmatulahiwabarrakatuh
    Formal dan normative saling melengkapi. Formal seperti wadahnya dan normative adalah isinya. Maka keduanya sama sama penting dan bernilai. Misalkan wadahnya adalah RPP, isinya tentang strategi guru untuk membuat pembelajaran di dalam kelas menjadi efisien dan efektif. Maka dari contoh tersebut, betapa formal dan normative sangat penting untuk saling dijaga dan dipertahankan.



    Terimakasih.
    Wassalamualaikumwarahmatulahiwabarakatuh

    ReplyDelete
  22. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Sebagaimana telah dijelaskan Prof.Marsifit pada pertemuan tatap muka di kelas bahwa dimensi formal juga berdimensi. Formal itu ada dalam diri kita, formal dalam keluarga, formal bertetangga, formal bermasyarakat, formal berkuliah, formal berkantor, formal dalam lingkup satu budaya, ataupun formal universal. Formal juga menentukan tingkat keformalan anda, misalkan bagaimana sikap saat kita seorang sendiri. Hal itulah menunjukkan kadar keformalan. Misalkan jika seseorang melewati siapapun dan apapun akan mengucapkan permisi karena sudah terbiasa. Bentuk formalitas kuliah setiap dosen juga berbeda, misalnya karena kebiasaan posisi duduk saat kuliah antara dosen yang satu dengan yang lain berbeda, ada yang formal klasikal, ada yang berkerumun, ada yang melingkar, dan sebagainya.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  23. Pemberontakan formal adalah pemberontakan paling dasar, ia yang paling basic daripada normatif. Tentu formal berhak untuk memberontak dengan dirinya sendiri. Pemberontakan yang dilakukan si formal membentuk persepsi mengenai kontradiksi formal. Formatif merupakan metode teknis yang di dalamnya banyak unsur-unsur lainnya. Jika Formatif seperti wadahnya dan normatif adalah isinya.
    Maka sebenar-benarnya formatif adalah proses, dan sebenar-benarnya normatif adalah pengaturannya.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S-3 PEP UNY

    ReplyDelete
  24. Fitri Ayu Ningtiyas
    16709251037
    S2 P.Mat B UNY 2016

    Tidaklah lengkap formal tanpa normatif sebab formal adalah wadah dan normatif merupakan isi dari wadah tersebut. Dari elegi diatas terlihat bahwa manusia memang perlu menggunakan akal dan pikiran untuk menggapai ilmu dan untuk menyelesaikan permasalahan sehari-hari. Tetapi tidak hanya membutuhkan akal dan pikiran dalam memperoleh ilmu, kembali manusia harus menundukkan hati untuk meminta padaNya agar diperoleh rahmat dan ridho Allah SWT.

    ReplyDelete
  25. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    Dari elegi ini saya memahami bahwa untuk dapat menyelesaikan masalah maka kita harus sopan terhadap ruang dan waktu, berpikir intensif dan ekstensif serta menggapai logos. Dengan selalu mengingat ruang dan waktu maka kita akan bisa menempatkan diri dengan benar. Semua peran yang kita jalankan, sebagai orang tua (di rumah), sebagai guru (di sekolah), sebagai mahasiswa (di kampus) dan sebagainya harus selalu mengacu pada ruang dan waktu

    ReplyDelete
  26. Moh. Bayu Susilo
    16709251012
    S2/P. Matematika/A/2016

    Manusia selalu dihadapkan pada permasalahan dalam kehidupannya dan itu terjadi secara kontinyu atau berkesinambungan.Karena sudah menjadi takdir bagi manusia untuk selalu berjumpa dengan permasalahan. Karena setiap permasalahan hadir untuk meningkatkan kualitas manusia itu sendiri. Setiap permasalahan hadir karena ketidaksesuaian antara ruang dan waktu yang dialami oleh manusia. Dan Jalan yang terbaik adalah dengan kesadaran akan ruang dan waktu, berfikir intensif dan ekstensif, dan terus menggapai logos.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id