Oct 15, 2010

Elegi Meratapi Sang Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK




Oleh Marsigit

Paralogos:

Heem...tertegun aku menyaksikan kelakuan sang Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih. Dia tidak menyadari bahwa Paramitos selalu berusaha mencelakakannya. Apa haknya Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih sok mengatur dunia dan pemberi ilmu. Inilah buktinya sekarang telah tertangkap ada seorang Profesor Plagiat dan tertangkap banyak Guru Pemalsu PAK. Pilu hatiku menyaksikan kejadian-kejadian itu. Saking pilunya hatiku maka hampir-hampir aku tak kuasa bicara apalagi menulis komen-komen pada Elegi-elegi. Pikiranku belum bisa menggapai batas hatiku, bagaimana seorang Profesor tega melakukan plagiat dan seorang guru bisa memalsukan PAK untuk naik jabatan atau memperoleh sertifikasi guru. Wahai Antinomi, coba ceritakan apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan gonjang-ganjing ini?

Antinomi:
Wahai Paralogos, pengetahuanku itu setali tiga uang dengan pengetahuanmu. Selama ini memang kita telah memberikan keluluasaan dan kemerdekaan yang seluas-luasnya kepada sang Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih. Kiprah mereka yang terakhir di mulai dari Perlombaan Menjunjung Langit sampai kegiatan mengungkap Misteri Sang Konveyor dan Misteri sang Kanopi. Dalam hal tertentu aku sempat mengkhawatirkan sepak terjangnya, tetapi karena itu adalah hakekatnya maka Ruang dan Waktu sajalah yang akan memberi catatan dan penilaian.

Paralogos:

Bukannya dengan tertangkapnya Sang Profesor Plagiat dan Para Guru Pemalsu PAK itu telah membuktikan bahwa Ruang dan Waktu telah memberikan catatan dan penilaiannya?

Antinomi:

Betul apa katamu wahai Paralogos. Tetapi aku juga ingin menyampaikan bahwa peristiwa tertangkapnya Sang Profesor Plagiat dan Guru Pemalsu PAK itu sebenar-benarnya adalah puncak gunung es dari fenomena yang sudah sejak lama melanda masyarakat dan bangsa ini. Itulah yang terjadi bahwa Ruang dan Waktu sebetul-betulnya tidak pernah tidur. Ruang dan Waktu itu sebetulnya selalu memberikan catatan dan penilaian terhadap apapun, kapanpun dan dimanapun. Hanya bagi orang-orang yang ikhlas dan berpikir kritislah yang mampu membaca catatan dan penilaian yang dilakukan oleh Ruang dan Waktu.

Paralogos:

Waha..kalau begitu apa sebetulnya fenomena yang selama ini terjadi?

Antinomi:
Itulah fenomenanya...yaitu pergulatan antara ADA, MENGADA DAN PENGADA. Peristiwa tertangkapnya Sang Profesor Plagiat dan Guru Pemalsu PAK itu adalah puncak gunung es dari pergulatan antara Profesor Ada, Profesor Mengada, dan Profesor Pengada; serta Guru ADA, Guru Mengada dan Guru Pengada.

Paralogos:
Waha...apakah fenomenanya bersifat tunggal atau plural?

Antinomi:

Fenomenanya bersifat plural, yaitu bahwa yang terjadi adalah pergulatan antara ADA, MENGADA DAN PENGADA itu bersifat plural. Maka dibawah gunung es itu ada pergulatan-pergulatan yang lain: pergulatan antara Doktor Ada, Doktor Mengada dan Doktor Pengada; pergulatan antara Dosen Ada, Dosen Mengada dan Dosen Pengada; pergulatan antara Lurah Ada, Lurah Mengada dan Lurah Pengada; pergulatan antara Guru Ada, Guru Mengada dan Guru Pengada; pergulatan antara Pejabat Ada, Pejabat Mengada dan Pejabat Pengada; pergulatan antara Presiden Ada, Presiden Mengada dan Presiden Pengada, pergulatan antara Mahasiswa Ada, Mahasiswa Mengada dan Mahasiswa Pengada; pergulatan antara Suami Ada, Suami Mengada dan Suami Pengada; pergulatan antara semua Ada, semua Mengada dan semua Pengada; dan pergulatan antara setiap Ada, setiap Mengada dan setiap Pengada.

Paralogos:
Heemmm...luar biasa kejadiannya. Aku sebagai Paralogos Sang Diraja nya para Logos saja sempat terlena tidak menyadari fenomena ini, apalagi para logos, apalagi para Bagawat, apalagi para Orang Tua Berambut Putih...Wahai para Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih..kesinilah..sudah saatnya engkau itu melakukan instrospeksi dan memperoleh input yang bermanfaat. Maka marilah kita dengarkan penuturan lebih lanjut dari Sang Antinomi ini. Wahai Sang Antinomi, coba terangkanlah apa sebetulnya yang dimaksud dengan ADA, MENGADA dan PENGADA itu?

Antinomi:
Sebetul-betul MENGADA adalah logos bagi dirimu. Jika ADA adalah tesismu maka MENGADA adalah anti-tesismu. Jika engkau telah mempunya MENGADA maka serta merta wujudmu akan berubah menjadi PENGADA. Janganlah engkau mengharap dapat menjadi PENGADA jika engkau tidak mempunyai MENGADA.

Paralogos:

Sebentar, jika engkau sebut tesis dan anti-tesis maka dimana sintesisnya?

Antinomi:

Jika tesisnya adalah ADA maka anti-tesisnya adalah MENGADA. Jika anti-tesisnya adalah MENGADA maka sintetisnya adalah MENGADA.

Paralogos:

Kalimatmu yang terakhir sangat sulit aku pahami.

Antinomi:

Itulah yang terjadi. Maka sebenar-benar MENGADA adalah sekaligus tesis, anti tesis dan juga sintesis. Sedang sebenar-benar PENGADA adalah anti-tesis dari MENGADA.

Paralogos:

Maksudnya?

Antinomi:

Tidak akan ada PENGADA jika engkau tidak MENGADA.

Paralogos:
Aku masih bingung.

Antinomi:
Itulah yang terjadi, yaitu bahwa PENGADA itu juga sekaligus tesis, anti-tesis dan juga sintesis.

Paralogos:
Baiklah bisakah engkau memberikan contoh konkritnya?

Antinomi:
Misal engkau adalah MAHASISWA yang sedang menempuh perkuliahan. Maka tanda-tanganmu dalam daftar hadir merupakan bukti bahwa engkau itu ADA. Sedangkan kegiatanmu mengerjakan tugas-tugas dari dosenmu itu menunjukkan MENGADA mu. Jika engkau telah membuat tugas-tugas maka itu bukti bahwa engkau telah menjadi PENGADA, yaitu pengada akan tugas-tugasmu.

Paralogos:

Apa ada contoh yang lain?

Antinomi:
Misal engkau adalah seorang Guru, maka Ijazahmu dan penulisan gelarmu di depan namamu itu pertanda bahwa engkau Guru ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatanmu mengajar, menulis dan melakukan Penelitian Tindakan Kelas itu menunjukkan dirimu sebagai Guru MENGADA. Jika engkau terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanmu itulah maka engkau telah mewujudkan dirimu sebagai Guru PENGADA.

Paralogos:
Apa ada contoh yang lain?

Antinomi:

Misal engkau adalah seorang Doktor, maka Ijazahmu dan penulisan gelarmu di depan namamu itu pertanda bahwa engkau Doktor ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatanmu menulis itu menunjukkan dirimu sebagai Doktor MENGADA. Jika engkau terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanmu itulah maka engkau telah mewujudkan dirimu sebagai Doktor PENGADA.

Paralogos:
Apa ada contoh yang lain?

Antinomi:

Misal engkau adalah seorang Professor, maka SK Presiden dan penulisan gelarmu di depan namamu itu pertanda bahwa engkau Profesor ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatanmu menulis itu menunjukkan bahwa engkau Profesor MENGADA. Jika engkau terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanmu itulah maka engkau telah mewujudkan dirimu sebagai Profesor PENGADA.

Paralogos:

Hemmm..kamudian apa masalahnya..bukankah kita sudah cukup bangga karena kita telah mempunyai ADA nya banyak Guru Profesional, ADA nya banyak Doktor, dan ADA nya banyak Profesor?

Antinomi:
Sebentar dulu. Sebuah karya mu itu adalah ADA bagi karya mu. Dan keberadaan sebuah karyamu itu belum tentu MENGADAKAN ..ADA Dirimu dan ADA diri yang lainnya. Jika karyamu itu adalah PLAGIAT atau PALSU maka karyamu itu bukanlah suatau PENGADA mu. Maka sebuah karya mu itu bisa terancam menjadi mitos dan MENIADAKAN dirimu, yaitu jika engkau merasa puas hanya membuat karya-karya PLAGIAT dan memalsukan PAK. Maka nasib dari sebuah karyamu itu persis seperti nasib dirimu yang tidak mengetahui ADA, MENGADA dan PENGADA. Itulah bahwa PLAGIAT itu adalah perilaku sang Paramitos yang mengancam keber ADA mu sebagai Profesor. Itulah bahwa kegiatan memalsukan PAK adalah perilaku sang Paramitos yang mengancam keber ADA mu sebagai Guru. Jika keber ADA mu terancam maka terancam pula MENGADA mu dan PENGADA mu.

Paralogos:
Kemudia bagaimana solusinya?

Antinomi:
Tiadalah ADA dirimu itu tanpa MENGADA dan PENGADA. Maka agar engkau tetap ADA tidak ada jalan lain bagi dirimu untuk selalu MENGADA. Jika engkau telah MENGADA maka PENGADA akan selalu meyertaimu. Tiadalah Profesor ADA tanpa Profesor MENGADA dan Profesor PENGADA. Maka jika ingin tetap menjadi Profesor ADA, tidak ada jalan lain kecuali harus tetap menjadi Profesor MENGADA. Jika engkau telah menjadi Profesor MENGADA maka Profesor PENGADA akan dengan sendirinya menyertaimu. Tiadalah Guru ADA tanpa Guru MENGADA dan Guru PENGADA. Maka jika ingin tetap menjadi Guru ADA, tidak ada jalan lain kecuali harus tetap menjadi Guru MENGADA. Jika engkau telah menjadi Guru MENGADA maka Guru PENGADA akan dengan sendirinya menyertaimu.

Paralogos:
Apakah aku dapat menyimpulkan bahwa sebenar-benar Profesor ADA adalah Profesor MENGADA dan Profesor PENGADA sekaligus? Dan sebenar-benar Guru ADA adalah Guru MENGADA dan Guru PENGADA sekaligus?

Antinomi:
Cerdas pula engkau itu. Itulah harapanku bahwa engkau sebagai partnerku akan selalu bisa memahami dan menyimpulkan fenomena yang ada. Sangat tepatlah kesimpulanmu itu bahwa Profesor ADA itu adalah sekaligus Profesor MENGADA dan Profesor PENGADA. Dan Guru ADA itu adalah sekaligus Guru MENGADA dan Guru PENGADA.

Paralogos:
Sebentar, jangan ditutup dulu. Bukankah di awal pembicaraan kita engkau telah menyebut Profesor PLAGIAT dan Guru Pemalsu PAK? Lalu apa maknanya?

Antinomi:
Profesor PLAGIAT adalah Profesor yang tidak mengenal dirinya sebagai Profesor ADA. Maka dengan sendirinya dia juga tidak mengenal Profesor MENGADA dan Profesor PENGADA? Guru yang memalsukan PAK adalah guru yang tidak mampu mengenal dirinya sebagai Guru ADA. Maka dengan sendirinya dia juga tidak mengenal dirinya sebagai Guru MENGADA dan Guru PENGADA. Kegiatan memalsukan karya tulis apakah itu oleh seorang Profesor Plagiat dan memalsukan PAK oleh seorang guru adalah kegiatan memalsukan dirinya sebagai MENGADA. Itulah peran dan jasa Ruang dan Waktu yang tidak akan pernah lalai mencatat segala perbuatan manusia, bahwa sebenar-benar keber ADA annya adalah SAKSI bagi MENGADA nya. Tidak hanya itu, maka segala YANG ADA dan YANG MUNGKIN ADA juga menjadi SAKSI bagi keber ADA annya dan ke MENGADA nya.

Paralogos:

Kalau begitu apakah Profesor ADA tidak harus menjadi Profesor MENGADA dan Profesor PENGADA? Dan Guru ADA tidak harus menjadi Guru MENGADA dan Guru PENGADA?

Antinomi:

Tidak mengenal itu tidak berarti tidak ada.

Paralogos:

Lho mengapa?

Antinomi:
Itulah kelihaian dan kelembutan Paramitos. Paramitos itu pulalah yang selalu mengajakmu menyesatkan mereka untuk berhenti hanya sebagai Profesor ADA dan Guru ADA saja. Padahal jika hanya sebagai Profesor ADA atau Guru ADA saja, maka akan terancam sebagai Profesor TIDAK ADA dan Guru TIDAK ADA. Jika telah muncul Hukuman ADA atau Pemecatan ADA, maka Hukuman dan Pemecatan MENGADA akan segera MENIADAKAN Profesor Plagiat dan Guru Pemalsu PAK. Maka akan terasa pedih dan perih hukumannya bagi orang-orang yang di anggap TIDAK ADA. Padahal perjuangan mereka masih sangat banyak dan sangat panjang. Maka mereka akan sebenar-benar menjadi Profesor ADA jika mereka selalu berjuang untuk menjadi Profesor MENGADA dan Profesor PENGADA, yaitu dengan memproduksi karya-karyanya yang sesuai dengan hakekat ADA, hakekat MENGADA dan hakekat PENGADA dari segala sesuatu yang ADA dan yang MUNGKIN ADA. Mereka juga akan benar-benar menjadi Guru ADA jika mereka selalu berjuang untuk menjadi Guru MENGADA dan Guru PENGADA dengan cara memproduksi karya-karyanya yang sesuai dengan hakekat ADA, hakekat MENGADA dan hakekat PENGADA dari segala sesuatu yang ADA dan yang MUNGKIN ADA di dunia Pendidikan.

23 comments:

  1. Dita Nur Syarafina
    NIM. 16709251003
    PPs Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Ilmuwan dan guru adalah profesi-profesi mulia yang ilmunya dibagi dan dapat mengembangkan bangsa. Sehingga bukti hidupnya atau berjalannya profesi tersebut adalah jika ilmuwan dan guru ADA-MENGADA-PENGADA. Ilmuwan dan guru dikatakan ADA karena gelarnya dan ilmu yg dimilikinya, MENGADA karena ilmunya dan gelarnya digunakan untuk mengajar, meneliti, menulis karya, PENGADA karena tulisannya, hasil penelitiannya, dan bahan ajarnya dijadikan bukti bahwa dirinya ADA. Tetapi ketika ilmuwan dan guru melakukan plagiat atau kecurangan dengan menggunakan ilmu dan gelarnya maka semua sifat yang melekat pada mereka hilang. Mereka akan terjebak dalam ruang gelap karena tidak bisa bekerja sesuai dengan amanahnya.

    ReplyDelete
  2. Nur Dwi Laili Kurniawati
    13301241063
    Pendidikan Matematika C 2013

    Ada, Mengada, Pengada. Setiap nafas yang yang kita hembuskan menjadikan kita adalah manusia ADA. Setiap kegiatan yang memberikan kebermanfaatan untuk lingkungan sekitar menunjukkan MENGADA kita. Jika kita telah melakukan hal- hal yang bermanfaat maka sesungguhnya itu bukti bahwa kita telah menjadi PENGADA, yaitu pengada akan kebermanfaatan yang kita berikan. Maka setiap kegiatan yang merugikan lingkungan sekitar kita adalah bukti yang meniadakan diri kita, menjadikan kita manusia TIDAK ADA. Maka kegiatan plagiat dan pemalsuan merupakan kegiatan yang merugikan pihak- pihak yang di plagiat. Maka kegiatan plagiat dan pemalsuan yang dilakukan seseorang merupakan bukti bahwa dia telah meniadakan keberadaann dirinya. Maka kegiatan plagiat dan pemalsuan yang dilakukan seorang profesor dan guru merupakan bukti bahwa mereka telah meniadakan keberadaan diri dan ilmunya.

    ReplyDelete
  3. SUPIANTO
    16701261001
    S3 PEP KELAS A 2016

    keserakahan dan ketamakan sering membutakan mata. kesadaran bahwa untuk tetap ADA adalah karena MENGADA kemudian menjadi semacam keharusan yang mematikan rasa dan mengobar bara angkara dalam jiwa. lalu para PENGADA memilih jalan cepat untuk terlihat cepat di antara para PENGADAyang juga ingin tampak cepat. dunia tiba-tiba menjadi kubangan bangkai busuk yang dipenuhi oleh para PENGADA plagiat yang kecanduan untuk melakukan plagiasi, dan aku pun sedih menyaksikan dunia semacam ini.

    ReplyDelete
  4. Areani Eka Putri
    12301249003
    Pend. Matematika Sub'12

    dari elegi ini menjelaskan tentang eran dan manfat seseorang dalam mnjalankan profesinya sebagai Ada, Mengada, Pengada. ketika dia bisa menyalurkan manfaatnya, ilmunya secara murni dari dirinya maka dia adalah seseorang yang Ada, Mengada, dan Pengada. tetapi ketika dia mulai melakukan plagiat maka secaara tidak langsung dia telah menghilangkan dan meniadakan siapa dirinya, apa ilmunya dalam bidangnya.

    ReplyDelete
  5. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Memang tidaklah mudah menjadi guru, dosen ataupun pengajar. Karena banyak tantangan yang harus kita lawan ketika seseorang berada pada garis yang diharuskan jujur. Ketika kita mempunyai keinginan untuk mencapainya, kita sekaligus menjadi mengada dan pengada. Hal tersebut tidak bisa dihindari bahwa kita yang ingin menjadi guru punya inovasi, kreatif dan tidak menjadi plagiat. Sehingga untuk memperjuangkannya adalah, benar-benarlah dalam mengajar, bermanfaatlah ilmu yang ditransfer ke peserta didik, sehingga adanya perjuangan diri untuk menjadi mengada dan pengada yang tidak plagiat.

    ReplyDelete
  6. Mifta Tyas Laksita Sari
    Pend. Matematika A 2013
    13301241005

    Saya dapat menyimpulkan bahwa apa pun profesi diri sendiri, harus menghargai profesi dan harus bertanggung jawab terhadap profesi diri sendiri. Tanggung jawab di sini berarti kita harus "ada, mengada, dan pengada" yang berarti kita tidak harus plagiat atau dipalsukan.

    ReplyDelete
  7. Mifta Tyas Laksita Sari
    Pend. Matematika A 2013
    13301241005

    Sebagai calon guru harus belajar untuk berlatih secara mandiri sebagai contoh dalam hal mengerjakan tugas. Jadi kita terbiasa mandiri dan ketika telah menjadi guru kita tidak akan plagiarisme. Intinya kita harus mulai berlatih dan mengajar secara mandiri sehingga tidak akan ada plagiarisme.

    ReplyDelete
  8. Azwar Anwar
    16709251038
    Pendidikan Matematika S2 Kelas B 2016

    Setiap manusia baik itu para pendidik harus bisa memberikan contoh-contoh yang baik dan sopan serta jujur dalam memberikan ilmu kepada peserta didiknya dengan benar. Setiap hasil atau karya yang di buatnya pun harus asli tanpa mengambil karya orang lain(plagiat), kalau pun ada maka harus di tulis referensinya sesuai kaidah penulisan. Ini merupakan sebuah contoh untuk menjadi sebuah pendidik dan calon pendidik lebih maju dan berkembang.

    ReplyDelete
  9. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Plagiat berarti pengambilan karangan atau pendapat orang lain dan menjadikan seolah-olah karangan atau pendapatnya itu buatan sendiri. Sebagai contoh menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri. Elegi di atas menjelaskan mengenai maraknya budaya plagiat yang telah merambah ke dunia pendidikan. Sebagai seorang guru atau yang berprofesi apa saja kita tidak boleh melakukan plagiat. Plagiarisme merupakan salah satu tindak kecurangan. Apabila didalam dunia pendidikan ini pendidik sudah melakukan tindakan plagiat lalu mau jadi seperti apa pendidikan di Negara kita ini. Selain merugikan orang lain, orang yang melakukan tindakan plagiat juga akan memperoleh balasan yang sepadan dengan perilakunya.

    ReplyDelete
  10. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Gelar guru ataupun profesor yang kita miliki jangan sampai hanya sebagai identitas semata, tapi harus dibuktikan secara nyata gelar yang ADA tersebut dengan cara MENGADA dan menjadi PENGADA. Guru dapat memanfaatkan ilmu yang dimilikinya, mengembangkan kreativitas yang dimiliki. Melalui itu guru merancang pembelajaran di kelas agar efektif dan efisien. Selain itu dengan melakukan penelitian-penelitian yang bermanfaat seperti melakukan penelitian tindakan kelas untuk mengatasi permasalahan yang terjadi di dalam kelas.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  11. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    ADA disini merupakan proses mulainya berfikir sesorang yang menandakan bahwa orang itu ADA, sedangkan MENGADA yang dimadsud adalah ide-ide atau gagasan baru yang difikirkan meliputi yang ada dan yang mungkin ada sehingga diperlukan perealisasian terkait ide.gagasannya tersebut agar diakui keberadaanya dimana agar bisa dikatakan sebagai PENGADA maka ide/gagasannya tersebut yang sudah direalisasikan harus mendapatkan anti tesisnya agar orang tersebut bisa dikatakan sebagai PENGADA dari ide/gagasannya sebagai sebuah pengetahuan. Jadi Plagiat yang dibahas dalam elegi ini mencerminkan bagaimana seseorang tersebut tidak mau berfikir/tidak ada upaya untuk MENGADAKAN sesutu yang ada dan yang mungkin ada sehingga bisa dibilang orang tersebut dikatakan sebagai PLAGIAT atau lebih ekstremnya keberadaan seseorang tesebut tidak diakui KEBERADAANYA sebagai seseorang karena sejatinya manusia itu ADA karena dia berfikir.

    ReplyDelete
  12. Diah Nuraini Kartikasari
    13301241006
    Pend. Matematika A 2013

    Dari elegi ini, dapat kita ketahui bahwa seseorang dalam menjalankan profesinya itu berarti seseorang itu ada, mengada, dan pengada. Misalnya profesi seseorang itu adalah guru, maka guru itu ada dibuktikan dengan ijazah, kegiatan yang dilakukan di dalam kelas merupakan mengada, dan produk yang dihasilkan merupakan pengada.

    ReplyDelete
  13. Diah Nuraini Kartikasari
    13301241006
    Pend. Matematika A 2013

    Seorang guru hendaknya harus inovatif, kreatif, dan tidak melakukan plagiat dalam mengerjakan tugas mendidiknya. Sifat jujur dan tidak melakukan plagiat ini harus dilatih mulai sejak dini, dari kita sebagai calon guru supaya ketika menjadi guru di masa yang akan datang akan terbiasa mandiri menghadapi permasalahan.

    ReplyDelete
  14. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    MAka jangan sampai dua obyek itu hanya sekadar ada-ada saja. Untuk mencapai tujuan mereka harus menghalalkan segala cara. Tidaklah mereka sebenar-benarnya orang yang berilmu. Yang berilmu itu selalulah jauh dari sifat tercela. Karena hakekat ilmu itu sendiri mengandung kebaikan. Maka tercelalah mereka yang bersikap ada-ada saja seperti itu. Menyalahgunakan ilmu karena hati sudah tercemar. Marilah berlindung dari kejahatan seperti itu.

    ReplyDelete
  15. Bismillah
    RatihKartika
    16701251005
    PPS PEP B 2016


    Assalamualaikumwarahmatulahiwabarrakatuh
    Kita adalah khalifah Allah, harus menjadi contoh dan memberikan kontribusi maksimal bagi lingkungan sekitar. Tidak boleh mengaku karya orang lain adalah karya kita dan tidak boleh memalsukan karya karena itu perbuatan tercela. Setiap karya kita harus orisinil dan mempunyai manfaat bagi banyak orang.


    Terimakasih.
    Wassalamualaikumwarahmatulahiwabarakatuh

    ReplyDelete
  16. Assalamualaikum wr. wb.

    Jujur merupakan karakter terpenting dalam mengembangkan kehidupan seseorang, miris mendengar semakin banyak terjadi ketidakjujuran apalagi yang melakukan adalah guru yang seharusnya memberi teladan. semoga dengan membaca elegi ini mampu mengembangkan karakter kejujuran dan mengurangi plagiator-plagiator yang meresahkan kehidupan akademik.

    Dwi Margo Yuwono
    16701261028
    S3 PEP kelas A

    ReplyDelete
  17. Fitri Ayu Ningtiyas
    16709251037
    S2 P.Mat B UNY 2016

    Plagiat atau plagiarisme merupakan penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri yang dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain. Apapun profesi seseorang, plagiarisme tidaklah diperbolehkan sebab ini merupakan suatu bentuk ketidakjujuran. Hal-hal yang dimulai dengan ketidakjujuran tidak akan memberi keberkahan,termasuk untuk para ilmuwan.

    ReplyDelete
  18. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    Elegi di atas menjelaskan mengenai maraknya budaya plagiat yang telah merambah ke dunia pendidikan. Sebagai seorang guru atau yang berprofesi apa saja kita tidak boleh melakukan plagiat. Plagiarisme merupakan salah satu tindak kecurangan. Apabila didalam dunia pendidikan ini pendidik sudah melakukan tindakan plagiat lalu mau jadi seperti apa pendidikan di Negara kita ini. Kita seharusnya mampu untuk melakukan segala hal dengan jujur. Sebagai seorang manusia kita harus mampu untuk ada, mengada dan pengada. Tetapi untuk melakukan itu semua kita harus mulai memperbaiki diri sendiri misalnya dengan memulai kebiasaan untuk rajin, selalu bersemangat dan pantang menyerah.

    ReplyDelete
  19. Moh. Bayu Susilo
    16709251012
    S2/P. Matematika/A/2016

    Plagiarisme memang sulit untuk dihentika terlebih di era keterbukaan informasi dan setiaporang di dunia bisa terhubung dengan mudah. Elegi diatas menunjukan plagiarisme yang terjadi dalam dunia pendidikan. Sebagai seorang guru diharapkan tidak melakukan plagiarisme terlebih seorang guru adalah orang yang dijadikan contoh oleh para peserta didik. Meskipun sulit untuk dihindari, plagiarisme sebisa mungkin untuk dikurangi. Hal itu untuk menghargai hak cipta dan kekayaan intelektual setiap individu dalam berkarya.

    ReplyDelete
  20. Ika Nailatul Muna
    13301241050
    Pendidikan Matematika A 2013

    Guru adalah "digugu lan ditiru". Maka seorang guru harus memberikan contoh yang baik. Plagiat dan pemalsu PAK merupakan perbuatan yang tidak patut dicontoh.

    ReplyDelete
  21. NUR AZIZAH
    16709251017
    PMAT KELAS A PPS UNY 2016

    Ada, mengada dan pengada adalah bagian tidak terpisahkan dari keberadaan seseorang di dunia. Sekalipun itu guru atau profesor keduanya harus ada, mengada dan pengada agar menjadi ada. Plagiasi dan kecurangan merupakan suatu tindakan yang membuat kita menjadi tidak ada. Kegiatan tersebut berarti kita merendahkan diri kita sendiri, membuat diri kita terjebak pada mitos dan sama saja kita membunuh diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  22. Aprisal
    16709251019
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Assalamu alaikum

    Ilmuan dan guru adalah salah satu pekerjaan yang paling mulia di dunia ini. Keduanya tidak hanya dipandang sebagai profesi saja, lebih sekedar itu ilmuan dan guru dipandang juga sebagai suatu aktivitas sosial, aktivitas kemanusian. Keduanya tidak terlepas dari ADA, MENGADA, dan PENGADA. Kedua nya ada karena serangkaian proses yang telah dilalui untuk menjadi seorang ilmuan dan seorang guru, sehingga dengan tersebut keduanya meraih gelar yang mempertegas kedudukannya. Mengada karena karena dengan keahliannya mereka melakukan serangkaian kegiatan seperti penelitian, mengajar, inovasi hal-hal baru sehingga memberikan konstribusi dalam bidang masing-masing. Pengada karena dengan ilmunya menghasilkan tulisan-tulisan yang berkualitas yang jauh dari kecurangan. Namun demikian yang sekarang menjadi momok bagi peneliti dan guru dalam menghasilkan tulisan adalah plagiasi. Plagiasi ini adalah suatu bentuk kecurangan yang dapat menyebabkan eksistensi seorang peneliti maupun guru menjadi tidak ada tidak dipandang, sehingga menjadikan apa yang telah dia lakukan selam ini menjadi sia-sia. Oleh karena itu dalam mengemban profesi masing-masing harus penuh rasa tanggung jawab sehingga dengan profesi tersebut kita mulia di hadapan orang banyak terlebih-lebih mulia di hadapan sang pencipta, yaitu Allah SWT.

    Waalaikum salam wr.wb

    ReplyDelete
  23. Asri Fauzi
    16709251009
    Pend. Matematika S2 Kelas A 2016
    Elegi meratapi sang ilmuwan plagiat dan guru pemalsu PAK ini memberikan pelajaran bahwa sebagai seorang pencari ilmu, bahwasannya seseorang akan menjadi sebenar-benarnya pencari ilmu jika ia ADA, jika ia menulis setiap tugasnya maka itulah MENGADA seseorang tersebut, jika ia terbukti memproduksinya maka itulah PENGADA nya. Tanpa MENGADA dan PENGADA, maka seseorang tersebur akan termakan mitos dan berpeluang untuk menjadi TIDAK ADA.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id