Oct 16, 2010

Elegi Memahami Elegi

Oleh Marsigit

Mahasiswa:
Aku jengkel, aku marah, aku tak peduli, aku tersinggung...



Dosen:
Sebentar apa masalahnya? Mengapa anda bersikap demikian?

Mahasiswa:
Ah Bapak tak perlu berpura-pura. Kan segala macam persoalan yang membuat Bapak sendiri.

Dosen:
Oh baik apakah ini berkaitan dengan perkuliahan filsafat. Jika benar apakah ini berurusan dengan Elegi-elegi?

Mahasiswa:
Sumpah serapah. Saya tak mau lagi membaca Elegi? Kekaguman saya kepada bapak juga runtuh sudah. Ternyata Bapak tidak seperti yang aku pikirkan.

Dosen:
Lho kenapa, emangnya apa salahnya Elegi? Jika engkau telah menemukan bahwa aku tidak perlu lagi engkau kagumi, bukankah itu adalah satu jalanmu bagi pencerahanmu. Filsafat itu tidak tergantung oleh keberadaan saya. Sehebat-hebat aku sebagai dosen, itu adalah ibarat setitik pasir ditepi lautan filsafat. Maka aku perlu sarankan pula agar engkau pun perlu memikir ulang kekagumanmu terhadap dosen yang lain. Sebab hal yang demikian dapat melemahkan usahamu mewujudkan pikiran kritismu.

Mahasiswa:
Bapak itu tidak mutu. Kenapa aku belajar filsafat pakai syarat harus (diwajibkan) membaca Elegi?

Dosen:
Sebetulnya bukan wajib. Wajib itu relatif. Selama itu masih urusan dunia, segala kewajiban itu masih bisa dirundingkan.

Mahasiswa:
Tetapi setelah membaca Elegi dan mengikuti kuliah Bapak saya jadi pusing. Konsep pemikiranku menjadi berantakan tak karuan. Waktu saya untuk belajar filsafat itu cuma sedikit Pak. Saya mempunyai banyak tugas-tugas yang lain. Apa lah gunanya berfilsafat, sehingga berbicara ngalor ngidul yang tak relevan dengan kehidupan sehari-hari. Lagi pula tidak ada sangkut pautnya dengan tugas mengajar saya. Saya perlu pemondokan, saya perlu transportasi, saya bolak balik dari kampus ke tempat asalku. Itu sudah sangat menyita waktu.

Dosen:
Lha apa usulmu dan apa maumu?

Mahasiswa:
Berikan saja kepada saya referensi yang singkat, padat dan jelas, untuk kemudian saya bisa baca dengan singkat dan saya gunakan untuk persiapan ujian. Beres gitu aja pak.

Dosen:
Maaf, menurut pandangan saya. Ibarat perjalanan, anda sudah memasuki jalan-jalan dan gang sempit, sehingga sulit bagi dirimu untuk membalikkan kendaraanmu atau parkir atau balik arah dsb. Padahal orang belajar filsafat itu ibarat duduk di lobi, dia belum menentukan sikap jalan mana yang harus dilalui, dia hanay baru memikirkannya.

Mahasiswa:
Lagi-lagi, Bapak mulai berfilsafat. Mulai sekarang saya akan diam saja, tidak akan bertanya, tidak akan membuat komen pada Elegi, dan bersifat pasif saja dalam perkuliahan.

Dosen:
Kelihatannya anda cukup bernafsu dalam bersikap. Jika demikian maka pilihan hidup anda akan semakin sedikit. Bukankah banyak orang lebih suka mempunyai banyak pilihan agar hidup itu membahagiakan?
Padahal dalam mempelajari filsafat, mahasiswa itu seyogyanya dalam keadaan NOL. Artinya agar mampu berpikir kritis, maka kita perlu berpikir netral, tidak prejudice atau watprasangka, tidak emosi, tidak putus asa.

Mahasiswa:
Ah lagi-lagi Bapak mulai berfilsafat. Saya jujur saja jemu dengan segala macam ceremah Bapak.

Dosen:
Jikalau engkau mulai jemu dengan ceramah saya, bukankah setiap hari saya sudah beri kesempatan untuk bertanya, usul, memberi saran atau apa saja baiknya agar engkau mampu belajar filsafat.

Mahasiswa:
Sebetulnya sih enggan aku katakan. Jujur saja untuk berbicara di kelas juga aku mengalami kesulitan, karena mungkin bacaanku juga masih sedikit.

Dosen:
Kenapa engkau tidak usul atau bertanya atau memberi saran.

Mahasiswa:
Untuk itu semua juga sama saja. Saya tidak merasa pede karena mungkin saya juga kurang membaca. Atau bacaan saya belum relevan dengan pokok pembicaraan.

Dosen:
Terus apalagi yang ingin engkau sampaikan?

Mahasiswa:
Kenapa Bapak melakukan testing filsafat, sehingga terasa memberatkan mahasiswa?

Dosen:
Itu merupakan komunikasi formal. Wajib hukumnya bagi dosen untuk menguji mahasiswa.

Mahasiswa:
Kenapa ujiannya seperti itu, lain lagi minta ujiannya sesuai dengan selera saya.

Dosen:
Ujian seperti apa yang engkau inginkan?

Mahasiswa:
Aku sendiri juga bingung. Bagaimana ya cara Bapak menguji diriku agar Bapak juga tahu kemampuan berfilsafatku?

Dosen:
Saya sebetulnya mempunyai banyak cara dan teori untuk mengujimu. Anda sendiri juga bisa membuat refleksi, bisa membuat makalah, bisa menguraikan atau membuat tesis, anti tesis atau sintesis.

Mahasiswa:
Apa pula itu Pak?

Dosen:
Kemarahan dan emosimu telah menutup sebagaian ilmumu. Jika engkau terus-teruskan itulah sebenar-benar musuhmu dalam belajar filsafat. Jika engkau tidak mamu mengatasi sampai kuliah ini berakhir, itu pertanda engkau gagal dalam menempuh perkuliahan. Padahal sebetul-betulnya yang terjadi adalah untuk belajar filsafat, tidak cukup hanya membaca sedikit, tidak tepat kalau hanya menginginkan petunjuk teknis, tidak cukup kalau hanya membaca referensi wajib, tidak cukup hanya berpikir parsial. Jika itu yang engkau lakukan maka itulah sebenar-benar anda akan menjadi manusia yang berbahaya dimuka bumi ini, karena anda akan menggunakan filsafat tidak tepat ruang dan waktunya. Maka mempelajari filsafat juga tidak bisa urut hirarkhis, tidak hanya membaca tetapi berfilsafatlah dengan segenap jiwa ragamu. Itulah maka sebenar-benar filsafat adalah refleksi hidupmu sendiri. Amarahmu dan kekecewaanu itu adalah catatanmu. Tetapi ketahuilah bahwa amarah dan emosi itu sebenar-benar adalah telah menghabiskan dan membakar energimu.

Mahasiswa:
Bapak otoriter.

Dosen:
Otoriter itu dunia. Dia punya batas-batasnya. Dia bisa sangat kuat tetapi juga bisa sangat lemah. Jika otoritasnya sangat lemah mungkin dia demokratis, tetapi tidak selalu demikian. Lihat betapa Amerika begitu garangnya berperang dalam rangka menegakkan demokrasi. Lalu apa usulmu lagi?

Mahasiswa:
Sementara aku akan berdiam diri.

Dosen:
Baik, dalam diam itu ada kebajikan. Karena diam dapat digunakan sebagai sarana untuk refleksi diri. Ketahuilah bahwa refkesi diri itu merupakan kegiatan berpikir yang paling tinggi. Demikianlah semoga kita semua dapat selalu belajar dari pengalaman. Amiiin.

Mahasiswa:
Ntar Pak jangan ditutup dulu. saya ingin tanya dengan jurur. Terus terang saya mengalami kesulita memahami Elegi Bapak.

Dosen:
Baik anda mengalami kesulitan karena saya menggunakan berbagai macam bahasa dengan segala tingkatannya.

Mahasiswa:
Maksud Bapak?

Dosen:
Elegi itu tidak hanya meliputi jenis ucapan tetapi juga tindakan ucapan. Kita mengetahui ada paling sedikit empat macam jenis komunikasi: material, formal, normatif dan spiritual. Maka Elegi itu meliputi semua tingkatan jenis komunikasi tersebut.

Dalam Elegi aku juga berusaha menggunakan bahasa konstatif, maksudnya saya berusaha menggambarkan suatu kejadian atau fakta atau fenomena menggunakan gaya bahasaku sendiri. Dengan bahasa konstatif itu anda dapat melakukan verifikasi atau menilai benar salahnya pernyataan saya. Maka carilah mereka itu dalam Elegi-elegi saya. Tetapi ada juga Elegi dimana saya bebas memilih kata-kata atau bahasa saya sesuai dengan selera saya.

Dengan bahasa demikian saya tidak bermaksud agar anda membuktikan kebenarannya, tetapi semata-mata merupakan usaha saya sebagai penutur bahasa untuk memberi muatan filsafat, muatan moril atau muatan pengetahuan atau muatan pengalaman lainnya. Dengan bahasa perforatif itu saya ingin menunjukkan bahwa elegi itu memang orisinil tulisan saya.

Saya juga ingin menunjukkan kehadiran keterlibatan saya dalam elegi itu dengan demikian saya bisa lebih menghayati penulisan elegi itu. Di sinilah mungkin terjadi perbedaan taraf kelaikan yang anda harapkan dengan taraf kelaikan yang saya gunakan atau saya pilih. Jika terjadi kesenjangan ini maka saya menyadari bahwa anda akan dibuatnya “unhappy”, sedangkan saya sipembuat elegi happy-happy saja.

Tetapi dalam membuat Elegi ini saya juga tidak hanya melakukan hal-hal di atas. Dalam beberapa hal saya juga melakukan apa yang disebut sebagai tindakan lokusi, yaitu meletakkan tanggung jawab penuturan bahasa bukan pada penuturnya tetapi kepada semuanya. Artinya penuturan bahasa itu memang bersifat umum. Dengan mengambil tindakan lokusi pada suatu Elegi saya merasa mempunyai landasan untuk mengembangkan tindakan illokusi bahasa.

Tindakan illokusi bahasa adalah bahasa yang menunjukkan lawan terhadap tindakan sesuatu, dengan demikian tindakan illokusi ini akan menuntut saya sebagai si penutur bahasa untuk bersikap konsekuen juga melaksanakan penuturan saya itu. Misal keyika saya menyarankan anda untuk membaca, itu berarti saya juga seharusnya menyarankan kepada diri saya juga. Demikian juga ketika saya menyarankan anda untuk berbuat baik, bertindak konsisten, berpikir kritis, dsb.

Namun tidak hanya itu saja. Kata-kataku dalam elegi juga sebagian menunjukkan keadaan si pendengar dengan segala implikasinya. Artinya, saya menyadari bahwa kata-kata saya itu akan berpengaruh terhadap si pembaca elegi. Dalam filsafat bahasa mungkin ini yang disebut sebagai tindakan saya yang bersifat perlokusi.

Misalnya kalimat saya yang berbunyi-tidak mungkin belajar filsafat tanpa membaca-.
Ini berakibat anda sebagai mahasiswa saya yang menempuh filsafat, mau tidak mau harus membaca. Jika hal demikian dirasa berat, itulah anda dan juga saya menemukan bukti yang kesekian kalinya bahwa manusia di dunia itu bersifat kontradiktif.

Maka dapat aku katakan bahwa hidup itu adalah pilihan. Jika itu telah menjadi pilihanmu, mengapa engkau melakukan segala perbuatanmu kelihatannya kurang ikhlas. Bukannya engkau tahu bahwa ketidak ikhlasan walau sedikitpun itu tidak akan membawa manfaat baik di dunia maupun akhirat.

Maka renungkanlah. Semoga Allah SWT mengampuni segala kesalahan dan dosa-dosa kita. Amiin.

33 comments:

  1. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Kebingungan ditimpa dengan kebingungan yang lain. Inilah sebenar-benarnya ilmu. Jika ada pengetahuan yang baru datang, maka akan ada kebingungan yang lainnya. Ini mengapa kita harus menghacurkan mitos-mitos pada diri kita untuk mencapai logos. Jika bingung pada suatu hal, ini artinya kita sudah punya niatan untuk medapatkan suatu jawaban. Tapi ketika jawaban itu sudah selesai, maka jangan berhenti. Mitos akan selalu mendatangi orang yang berhenti mencari ilmu. Beberapa elegi-elegi yang sudah saya baca pada blog Bapak, sifatnya membangun, memotivasi, merefleksikan diri sendiri, seberapa besar kita sudah memanusiakan diri kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Inilah mengapa bahasa yang digunakan tidak hanya memberikan suatu informasi dan menginformasikan untuk melakukan tindakan ini itu, tetapi mempunyai pengaruh bagi si pembaca seperti saya.
    Semoga selalu diberikan keihklasan dalam hati untuk melakukan hal-hal yang sifatnya untuk memajukan diri sendiri. Amiin. Terima kasih Pak.

    ReplyDelete
  2. Dita Nur Syarafina
    NIM. 16709251003
    PPs Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Elegi, tes jawab singkat, refleksi adalah tiga dari banyak cara dalam mempelajari filsafat. Elegi menggunakan bahasa yang rumit karena memang penafsirannya tidak sederhana, dengan bahasa filsafat maka komen elegi dapat berbagai macam tafsirannya. Perbedaan penafsiran atau pemahaman mahasiswa itulah yang bida mencirikan kemampuan berfikir tiap mahasiswa yang berbeda pula. Sehingga dengan elegi ini, Pak Marsigit menghindari diri dari menutupi sifat mahasiswa. Elegi membuat mahasiswa belajar memahami filsafat dengan caranya sendiri.

    ReplyDelete
  3. Novice Ayu Abrianti
    13301244028
    Pendidikan Matematika C 2013

    Putus asa adalah musuh yang sangat merugikan manusia. Ia menjauhkan manusia dari apa yang diinginkan, dibutuhkan, dicita-citakan. Gambaran mahasiswa yang putus asa adalah apa yang saya dapatkan di sini. Ia lelah dalam belajar dan memilih berontak kepada dosennya. Berkomentar atas apa saja yang diberikan oleh si dosen. Padahal sejatinya belajar adalah ketidaktahuan. Karena ketidaktahuan itu, maka ia perlu belajar agar manjadi tahu, agar menjadi bermanfaat ilmu yang ia pelajari. Dan karena ilmu tidak akan habis, maka belajar juga tidak akan selesai.

    ReplyDelete
  4. Siska Nur Rahmawati
    16701251028
    PEP-B 2016



    Elegi ini mengajarkan kepada saya untuk selalu mensyukuri nikmat dan anugerah Tuhan atas kehidupan ini. Saya sudah diberkati oleh Tuhan bisa merasakan pendidikan hingga saat ini yang mungkin tidak semua orang bisa mendapatkannya. Kehidupan ini adalah tempat untuk berproses belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Pengalaman-pengalaman dan pengetahuan yang sudah diperoleh dapat saya gunakan untuk menjadi pribadi yang senantiasa bersyukur, pantang menyerah,dan menghargai proses.

    ReplyDelete
  5. Ika Nailatul Muna
    13301241050
    Pendidikan Matematika A 2013

    Hal yang paling penting ketika kita menuntut ilmu adalah ikhlas karena ikhlas akan membuat kita lebih ringan dalam melakukan berbagai hal untuk menuntut ilmu misalnya membaca elegi untuk belajar filsafat.

    ReplyDelete
  6. SUPIANTO
    16701261001
    S3 PEP KELAS A 2016

    Percakapan dosen dan mahasiswa di atas mungkin merupakan refleksi dari kondisi kebatinan hampi semua mahasiswa yang belajar filsafat dengan Prof. Marsigit. Saya pribadi pada awal perkuliahan sampai bulan pertama masih sedikit shock dg model seperti ini. Kesulitan saya alami ketika membaca elegi-elegi Prof.Marsigit. Tapi saya selalu meyakini bahwa ada kekayaan tak terhingga di dasar samudera luas yang berupa elegi-elegi itu. dengan kesabaran, saya membaca berulang-ulang satu artikel yang ditulis oleh prof.Marsigit, sedikit demi sedikit akhirnya harta karun yang terpendam itu mulai tersingkap, tentu masih amat sangat kecil dibanding dg keseluruhan harta dalam samudera ilmuProf.Marsigit, semua itu membuat saya semakin penasaran untuk terus menggalinya.

    ReplyDelete
  7. Areani Eka putri
    12301249003
    Pend. Matematika Sub'12

    dari elegi diatas dapat diketahui mungkin bagaiman prasaan mahasiswa-mahasiswa yang sudah mengikuti perkuliahan filsafat dengan bapak. ini kali kedua saya mengikutinya karena pada perkuliahan sebelumnya saya belum maksimal melakasanakan tugas saya sebaga mahasiswa yang belajar filsafat dengan bapak. sepanjang saya membaca elegi-elegi yang sudah bapak post, kebanyakan yang saya temukan adalah hal-hal yang positif dan sangat memotifasi sehingga membuat yang membacanya pun bersemangat dan timbul rasa penasaran dan ingin tau. untuk itu saya mau untuk terus membaca postingan bapak untuk menggali lebih banyak lagu pengetahuan khususnya filsafat.

    ReplyDelete
  8. Mifta Tyas Laksita Sari
    Pend. Matematika A 2013
    13301241005

    Saya menyadari jika diibaratkan saya hanyalah ikan kecil dalam lautan. Tak kan menjadi ikan yang besar jika tidak mempelajari apapun. Tak akan menjadi ikan besar jika melakukan apapun didasari dengan hati yang tulus dan ikhlas. Seperti halnya mempelajari filsafat ini, juga harus ikhlas membaca elegi.

    ReplyDelete
  9. Mifta Tyas Laksita Sari
    Pend. Matematika A 2013
    13301241005

    Artikel ini membuka pikiran saya bahwa ketika kita mempelajari ilmu apapun terkadang kita tak langsung menemukan titik temu. seperti halnya pada saat bepergian untuk menemukan tempat yang menarik, dibutuhkan jalan yang berliku . Dalam mempelajari apapun seperti berfilsafat dibutuhkan keikhlasan dan usaha agar filsafat dipelajari lebih bermakna.

    ReplyDelete
  10. Azwar Anwar
    16709251038
    Pendidikan Matematika S2 Kelas B 2016

    Dengan elegi kita mampu mendapatkan ilmu yang belum kita ketahui. Elegi mempelajari hal diberbagai bidang baik untuk meliputi kehidupan seperti pendidikan, filsafat, matematika, filsafat matematika dan banyak yang lainnya. Elegi adalah ilmu, untik mendapatkan ilmu tersebut maka harus banyak belajar dan membaca disertai denga keihklasan. Dengan keikhlasan dan hati yang tulus maka dapat diperoleh manfaat yang sangat besar.

    ReplyDelete
  11. ERFIANA NUR LAILA
    13301244009
    Pendidikan Matematika C 2013

    Mengeluh merupakan suatu ekspresi keputus asaan, maka keluhan-keluhan yang disampaikan oleh tokoh mahasiswa di atas merupakan cerminan dari beatapa putus asanya dia dalam belajar filsafat. Padahal sebenarnya, dengan membaca elegi-elegi yang telah dipostingkan oleh Bapak Marsigit ini kita dapat sedikit demi sedikit akan mamahami bagaimana belajar filsafat yang benar. Karena melalui elegi ini kita seolah sedang mempelajari isi pikiran orang lain lalu kemudian kita refleksikan ke dalam kehidupan kita sendiri, sehingga pada akhirnya kita akan terlatih mengolah pikiran kita dan selanjutnya dapat memahami filsafat hidup kita sendiri.

    ReplyDelete
  12. Defy Kusumaningrum
    13301241022
    Pendidikan Matematika A 2013

    Bagi kita yang belajar berfilsafat, membaca elegi diperlukan suatu kesabaran dan keikhlasan agar kita dapat memahami dan mengerti maksud dari suatu elegi. Bahasanya yang menggunakan kiasan membuat kita sulit paham akan maksudnya. Tetapi dengan sikap pantang enyerah dan kesabaran, dengan cara membaca berulang disertai dengan penghayatan kita akan mapu menemukan arti dari kiasan tersebut.

    ReplyDelete
  13. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Dengan mempelajari filsafat kita dilatih berpikir kritis, berpikir rasional. Elegi dalam berfilsafat merupakan ekspresi dari hati, puisi, dan masih banyak lagi makna yang terkandung di dalamnya. Sebagai manusia kita pasti pernah berpikir apa yang kita punya setelah mempelajari filsafat dengan-elegi elegi yang terkadang membuat kita bingung untuk memahami maknanya. Bahasa analog yang digunakan dalam menulis elegi memang cukup sulit untuk ditafsirkan, tetapi jika kita telah memahami maksud dari elegi tersebut maka terkandung banyak hal positif yang dapat membangun diri kita menjadi lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  14. Nauqi Aprilia Putri
    13301241023
    Pendidikan Matematika A 2013

    Mempelajari filsafat adalah satu hal yang belum pernah saya lakukan sebelum menginjak semester 7 ini. Banyak memang bahasan dari filsafat, dapat saya katakana bahwa semua ini merupakan filsafat. Dengan mempelajari filsafat, mengajarkan saya bahwa apalah arti “aku” di dunia ini, hanya seperti ikan kecil di lautan. Banyak yang belum dipelajari, banyak nikmat Tuhan yang belum disyukuri. Seperti pada perkuliahan filsafat pendidikan matematika yang saya ikuti, seperti Prof. Marsigit katakan bahwa pada keadaan bermimpi saja, Tuhan menjaga kita. Bumi yang bergetar berputar pada porosnya pun tidak kita rasakan. Berfilsafat harus menggunakan hati yang bersih dan ikhlas, selalu berdoa pada Tuhan. Ilmu kita belum seberapa, belum apa – apa, dan filsafat merupakan refleksi hidup yang menjadi kegiatan berpikir yang paling tinggi . Hidup itu adalah pilihan, dan sikap kita adalah bertanggungjawab atas pilihan yang telah kita pilih. Semoga Allah selalu meridoi dan mempermudah jalan yang telah kita pilih. Amin.

    ReplyDelete
  15. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Dalam belajar filsafat dan memahami elegi-elegi yang ad amemang tidaklah mudah. Dibutuhkan rasa ikhlas dalam belajar. Jika belajar disertai dengan perasaan marah maka diri kita tidakakan mudah menerima ilmu yang ada. Dalam memahami elegi juga dibutuhkan kesabaran, dengan membacanya berulang-ulang agar paham makna dari elegi tersebut. Semoga kami diberi kemudahan dalam belajar filsafat ilmu, aminn.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  16. Diah Nuraini Kartikasari
    13301241006
    Pend. Matematika A 2013

    Belajar dapat dilakukan di manapun, kapanpun, dan dalam keadaan apapun. Ilmu di dunia ini sangat luas. Apabila ilmu di dunia ini diibaratkan sebagai lautan, maka saya hanyalah ikan kecil yang sedang berusaha mempelajari sedikit ilmu dalam lautan tersebut. Tidak ada kata berhenti belajar karena sesungguhnya belajar itu sepanjang hayat.

    ReplyDelete
  17. Diah Nuraini Kartikasari
    13301241006
    Pend. Matematika A 2013

    Dari elegi ini dapat diperoleh suatu nasehat bahwa dalam menuntut ilmu harus didasari rasa ikhlas supaya apa yang kita pelajari dapat dipahami dengan mudah dan dapat bermanfaat bagi lingkungan sekitar kita. Sebagai contoh, apabila kita membaca elegi-elegi ini dengan ikhlas maka ilmu yang terdapat dalam elegi ini dapat kita artikan dengan mudah maknanya.

    ReplyDelete
  18. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Belajar memerlukan usaha di setiap prosesnya. Begitu pula dalam belajar filsafat, diperlukan kegigihan, kesabaran dan keikhlasan di dalam prosesnya. Dengan proses tersebut Insya Allah kita akan mendapatkan manfaat yang besar. Belajar filsafat tidak cukup hanya dengan sedikit membaca. Salah satu cara belajar filsafat adalah dengan membaca elegy. Elegi-elegi yang diposting dalam blog ini menjadi sarana yang luas bagi mahasiswa untuk membangun filsafatnya. Dengan adanya elegi di dalam blog ini, mahasiswa dapat terus menerus belajar filsafat tanpa melalui tatap muka, bahkan setelah perkuliahan filsafat selesai ditempuh selama satu semester. Saya tengah merasakan banyak manfaat dari elegy-elegi dalam blog ini, elegy-elegi tersebut banyak mengajarkan saya untuk ikhlas, selalu berikhtiar, dan mendekatkan diri dengan Allah SWT.

    ReplyDelete
  19. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Bagi saya pribadi Elegi-elegi yang ada dalam blog Prof. Marsigit menjadi sebuah metode untuk merefleki diri, membimbing saya untuk senantiasa belajar berfikir kritis, melatih kepekaan saya pribadi untuk belajar peka memperhatikan/memikirkan segala yang ada dan yang mungkin ada baik didalam diri saya maupun diluar dari diri saya sendiri, serta elegi-elegi beliau menumbuhkan dan memupukkan kesadaran saya sebagai manusia yang pada kodratnya adalah diciptakan ADA untuk membaca, berfikir dan bersintesisis, menyadari kebenaran yang didapatkan hanyalah relatif karena yang Absoulute itu hanyalah milik ALLAH SWT semata sebagai Sang Pencipta dari diriku yang ada.

    ReplyDelete
  20. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Bahwa mencari Ilmu itu adalah sebuah perjuangan, seberat apapun itu. Bukankah ada ungkapan jika seseorang yang meninggal dalam menuntut suatu ilmu maka ia akan syahid dalam kematiannya? Seberat apapun cobaan dan ujian itu, itulah setingi-tinggi ilmu. Itulah proses pendewasaan diri. Sekali lagi, bahwa tdak semua yang engkau pikir baik belum tentu baik, dan tidak semua yang engkau pikir buruk belum tentu buruk. Saya pun tahu bahwa konsekuensi adalah hasil dari apa yang kita pilih. Maka sebaik-baik manusia adalah yang mampu mengelola masalah dengan tidak mengabaikan hati dalam setiap tindakan.

    ReplyDelete
  21. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    Menurut saya sebenarnya sudah sejak kecil manusia itu mulai berfilsafat. Anak-anak mempunyai kecenderungan rasa ingin tahu yang tinggi dalam segala hal. Nah! itu filsafat. Filsafat dimulai dari ketidaktahuan. Hanya saja mungkin tidak disadari. Memasuki umur kanak-kanak, menuju remaja sampai akhirnya pada taraf dewasa pasti banyak ilmu yang telah dipelajari baik ilmu sosial maupun ilmu alam. Ketika mempelajari itu, mereka tidak sadar bahwa mereka sudah bersinggungan dengan filsafat. Mungkin itu yang bisa jadi alasan mengapa beberapa mahasiswa yang menjadi pusing dalam mempelajari filsafat.

    ReplyDelete
  22. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Dalam hal ini erat kaitannya dengan dewa dan daksa. Dosen dalam hal ini merupakan dewa bagi mahasiswa, dan mahasiswa merupakan daksa. Sehingga bila mahasiswa menginginkan nilai, maka ikutilah aturan-aturan yang ditetapkan oleh dewamu, dalam hal ini ikutilah aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh dosen anda. Bila ingin mendapat nilai yang baik, maka buatlah comment sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan oleh dosen anda. Hilangkan sikap egoisme kita jika berhadapan dengan dewa kita, ikuti aturannya maka kita akan selamat.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  23. Bismillah
    RatihKartika
    16701251005
    PPS PEP B 2016

    Assalamualaikumwarahmatulahiwabarrakatuh
    Dalam elegy ini saya belajar arti keikhlasan dan rasa syukur. Ikhlas dalam mempelajari sesuatu dan bersyukur atas segala apa yang telah Allah gariskan dalam kehidupan kita. Karena sekali lagi, tiada kebaikan melainkan Allah sayang kepada kita. Tiada keburukan melainkan Allah ingin kita kuat dan menjadi peribadi yang lebih baik lagi.



    Terimakasih.
    Wassalamualaikumwarahmatulahiwabarakatuh

    ReplyDelete
  24. Memahami elegi adalah sebuah kepuasan jika dilakukan dengan penuh keikhlasan dan doa. Manusia kembali pada titik nol ketika menjadi gelas kosong, Prof. Igit mengilustrasikan penerimaan ilmu sebagai pembentukan gunung. Selama ikhlas belum diimplementasikan sebagai bentuk kekuatan diri, maka sebenar-benarnya manusia sedang mempertahankan tingginya gunung diri sendiri yang tiada bisa didaki, tiada bisa dipahami, maka sebaik-baiknya manusia lebih baik menjadi kerikil kecil yang bisa kapan pun dan dimana pun untuk berkembang dan selalu belajar sesuai keinginan manusia sebagai harga pada keilmuan yang dimiliki.
    Manusia boleh tamak, apabila ia untuk ibadah dan keilmuan. Jangan sampai puas pada titik yang konstan, karena ilmu adalah logos yang perlu digapai dengan proses yang berkelanjutan.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP UNY

    ReplyDelete
  25. Ambisi atau semangat, merupakan satu sikap yang perlu kita tumbuhkan dalam rangka menuntut ilmu. Jika tidak ada ambisi dalam diri seorang penuntut ilmu, maka niscaya tidak akan ada ilmu yang mampu ia dapatkan. Karena menuntut ilmu itu perlu berlelah-lelah maka diperlukan ambisi yang sangat besar untuk menggapai suatu ilmu. Dengan ambisi manusia bergerak, dengan ambisi manusia semakin gigih mencari, dengan ambisi manusia menjadi tidak mudah menyerah, dengan ambisi manusia mampu mendapatkan banyak ilmu. Berambisi dalam mencari ilmu tidaklah merupakan sesuatu hal yang salah, karena semakin besar ambisi kita dalam menuntut ilmu semakin kuat daya tahan kita dan semakin banyak pula ilmu yang akan kita dapatkan.

    Jangan sampai terpuruk pada posisi mengetahui segalanya yang tidak membutuhkan lagi asupan dan stimulus ilmu lainnya. Manusia belajar dan manusia lain membelajarkan, proses tersebut tidak bisa dipotong dan tidak bisa disegmentasi dalam upayanya masing-masing meski ada banyak kesulitan yang terjadi. Manusia harus membentuk paradigma.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S-3 PEP UNY

    ReplyDelete
  26. Elegi ini mengajari tiap manusia untuk senantiasa bersyukur atas ilmu yang ia miliki, belum tentu orang lain mendapatkan kesempatan belajar yang sama dengan orang lain. Tiap individu tidak dituntut untuk melakukan apapun, selain untuk mengada dirinya sendiri. Tiap manusia yang ada untuk berinteraksi dengan orang lain adalah wujud intuisi bersosial.
    Manusia berada di posisi mengada dan ada untuk memahami dirinya sendiri. Seperti ilmu yang akan ia miliki, manusia bisa memiliik kadar ilmunya sendiri untuk memahami keilmuan tersebut bisa bermanfaat atau tidak.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S-3 PEP UNY

    ReplyDelete
  27. Fitri Ayu Ningtiyas
    16709251037
    S2 P.Mat B UNY 2016

    Elegi memahami elegi diatas mengajarkan saya bahwa membaca adalah jalan membuka jendela berfilsafat maka sudah sepantasnya jika ingin memahami filsafat dan elegi-elegi haruslah dengan membaca. Selain itu, elegi ini memberikan kembali ingatan bahwa hidup adalah pilihan. Dan jika kita telah memilih, maka kita harus bersedia menumbuhkan keikhlasan di dalam hati. Sebab sebagai manusia berakal kita semua tahu bahwa bahwa dalam menjalankan apapun yang telah menjadi pilihan hendaklah dengan penuh keikhlasan sebab ketidak ikhlasan tidak akan membawa manfaat baik di dunia maupun akhirat.

    ReplyDelete
  28. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    membaca elegi tidak semudah membaca novel. Elegi dalam berfilsafat merupakan ekspresi dari hati, puisi, dan masih banyak lagi makna yang terkandung di dalamnya. Elegi tidak hanya kata-kata tetapi juga termasuk jenis tindak tutur. Menggunakan bahasa material, formal, normatif dan spiritual juga bahasa konstantif, bebas memilih kata-kata sendiri dalam menggambarkan suatu fenomena sehingga dapat dilakukan verifikasi kebenaran kata-kata tersebut. Dan sangat mengejutkan, bahwa ternyata melalui elegi bisa membuat seseorang merasa sedang bercermin akan segala tindakan ataupun ucapan yang telah dibuatnya sehingga timbul kesadaran untuk memperbaikinya.

    ReplyDelete
  29. Moh. Bayu Susilo
    16709251012
    S2/P. Matematika/A/2016

    Elegi memahami elegi mengajarkan bahwa dalam berfilsafat kita dituntut untuk secara kontinyu melakukan tesis dan antitesis terhadap apapun yang sedang dipikirkan. Sehingga hal tersebut tidak hanya menjadi mitos bila kita berhenti melakukan antitesis terhadap hal itu. Sehingga kita dituntut untuk terus mengantitesis mitos tersebut agar menjadi logos. Yang pada akhirnya dapat menjadi sebuah pengetahuan baru yang bermanfaat bagi manusia.

    ReplyDelete
  30. assalamualaikum wr. wb.

    Elegi ini merujuk bagaimana manusia berfilsafat dimana manusia diharap untuk terus membuat sintesa-sintesa atas apapun yang dipikirkan. selayaknya manusia berpikir tanpa henti seperti cakra panggilingan kehidupan yang bergerak kadang di atas dan di bawah, namun dalam perjalanannya tetaplah berusaha untuk membuka pikir dan memikirkan apapun yang bisa dilaksanakan dan dipikirkan dalam kehidupan.

    Dwi Margo Yuwono
    16701261028
    S3 PEP Kelas A

    ReplyDelete
  31. NUR AZIZAH
    16709251017
    PMAT KELAS A PPS UNY 2016

    Ada banyak cara untuk mempelajari filsafat. Saat belajar filsafat kita tidak hanya cukup dengan membaca referensi yang sedikit dan membuat kita berpikir parsial. Dalam belajar filsafat juga kita tidak boleh menyertakan kemarahan dan prasangka-prasangka buruk sehingga kita menjadi menutup diri pada ilmu itu sendiri. Membaca elegi-elegi dalam blog ini adalah suatu kegiatan membangun filsafat, maka meskipun awalnya didera kebingungan tapi dengan banyak membaca maka kesulitan itu akan sedikit demi sedikit tereduksi.

    ReplyDelete
  32. KASYIFATUN AENI
    13301241055
    PMA 13

    Menuntut ilmu memang perlu kesabaran dan keikhlasan. Termasuk ketika kita belajar filsafat. Dengan kapasitas ilmu yang baru saya miliki, memang terkadang terasa berat untuk membaca elegi-elegi yang kadang-kadang sulit untuk dipahami, tetapi itu merupakan proses pembelajaran yang harus dilalui. Saya tidak dapat menyarankan metode apa yang lebih baik diterapkan, jadi saya mencoba untuk percaya saya dengan pak marsigit yang lebih paham tentang filsafat dan bagaimana pembelajaran yang sesuai. Terima kasih.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id