Mar 1, 2010

Elegi Persiapan Selamatan Raja Purna

Oleh Marsigit

Powernow:

Hai..sang Kumaratna...sebagai Perdana Menteri di negeri adi daya...apa
yang engkau ketahui tentang diriku sang Powernow rajamu itu? Apa juga yang
engkau ketahui tentang kekuasaanku? Apa juga yang engkau ketahui tentang
kemauan atau tujuanku? Tetapi engkau tidak perlu menyebut kekurangan atau
kelemahanku.

Kumaratna:
O..ooo.. sang maha raja sesembahanku. Tiadalah nama tersandang bagi diri
yang lain seindah namamu. Tiadalah seharum namamu. Tiadalah sepenting
namamu. Tiadalah sebermakna namamu. Sang Powernow itulah nama agung tiada
bandingan. Sadar atau tidak sadar maka segenap diri yang lain mengerti
akan kebesaran namamu. Tiadalah kurang satu apa dari diri namamu itu.
Tentu setiap kata-kataku dan kalimatku perihal namamu itu maka berlaku
pula bagi sifat-sifatmu. Hanyalah dirimu yang boleh nama itu sama dengan
si empunya nama. Maka namamu beserta dirimu telah menyatu menjadi absolut
bagi dirimu maupun bagi diri yang lain.

Powernow:
Heh..hah..hah..hah..hah. Kumaratna..kumaratna...tiadalah nama bagi diri
yang lain seindah namamu kecuali namaku. Tiadalah seharum namamu kecuali
namaku. Tiadalah sepenting namamu kecuali namaku. Tiadalah sebermakna
namamu kecuali namaku. Sang Kumaratna itulah nama bagi seorang Perdana
Menteri bagi negeri dengan raja agung tiada bandingan. Sadar atau tidak
sadar maka segenap diri yang lain mengerti akan kebesaran namamu kecuali
diriku. Tiadalah kurang satu apa dari diri namamu itu sebagai Perdana
Menteri. Tentu setiap kata-kataku dan kalimatku perihal namamu itu maka
berlaku pula bagi sifat-sifatmu. Hanyalah dirimu yang boleh memakai nama
Kumaratna. Tetapi nama itu tidak boleh sama dengan dirimu. Maka namamu
beserta dirimu tidak boleh menyatu menjadi absolut bagi dirimu maupun bagi
diri yang lain. Engkau harus bersifat relatif terhadap namamu. Mengapa?
Agar engkau tidak mampu menyamaiku. Hai ..Kumaratna..laporkanlah perihal
kekuasaanku itu?

Kumaratna:
O..ooo... Powernow ..sang rajaku. Engkau beserta negerimu telah berhasil
mengalahkan musuh-mushmu. Negeri kita telah berhasil mengembangkan sistem
dan teknologi canggih dan mutakhir sehingga mampu memenangkan setiap
peperangan multi dimensi: halus, lembut, kasar, hingga yang terdahsyat di
dunia sekalipun; kecil, sedang dan paling besar di dunia sekalipun; dekat,
sedang dan paling jauh didunia sekalipun.

Powernow:
Wah..senang aku mendengar laporanmu. bagaimana tentang cita-citaku dan
cita-cita negeriku?

Kumaratna:
Menurutku engkau telah berhasil mencapai cita-citamu, karena tiadalah ada
kompetitormu di dunia ini.

Powernow:

Bodhoh kamu! Itulah yang membedakan dirimu dan diriku. Engkau hanya mampu
melihat fisiknya saja. Wahai sang Kumaratna..ketahuilah bahwa
perjuanganku, perjuanganmu dan perjuanga segenap rakyatmu baru mencapai
separoh jalan. Aku belum merasa menjadi penguasa dunia absolut jika belum
secara absolut menguasai semua unsur-unsur dunia. Aku harus menguasa tidak
hanya yang fisik tetapi yang non fisik. Aku harus menguasa tidak hanya
yang material tetapi yang non-material. Aku harus menguasa tidak hanya
yang formal tetapi juga yang non-formal. Aku harus menguasa tidak hanya
yang normatif tetapi juga yang spiritual. Aku harus menguasa tidak hanya
Dunia Barat, Dunia Utara, tetapi juga Dunia Timur dan Dunia Selatan. Aku
harus menguasa tidak hanya semua Cantraka, Rakata, Cemani tetapi semua
Bagawat dan semua Transenden. Itulah sebabnya mengapa engkau undang
kemari itu adalah untuk membahas rencanaku menyelenggarakan Selamatan Raja
Purna.

Kumaratna:
O..ooo..ampunlah diriku yang lemah ini. Perkenankanlah hamba mengetahui
apa maksud dan tujuan menyelenggarakan Selamatan Raja Purna itu?

Powernow:
Hong...wilaheng...blis lanat..dewaku. Ketahuilah wahai Kumaratna.
Selamatan Raja Purna itu hanyalah merupakan sarana bagi diriku untuk
menguji unsur-unsur dunia bahkan akhirat, untuk mengetahui apa dan siapa
unsur-unsur dunia dan akhirat yang mendukungku, untuk mengetahui
unsur-unsur dunia dan akhirat yang memusuhiku. Selamatan Raja Purna itu
juga sekaligus untuk menguji kemampuan dan kekuasaanku, baik ke bawah, ke
atas, ke kiri, ke kanan, ke depan, ke belakang, dan keseluruh arah.

Kumaratna:
Oh..ampun rajaku. Satu kalimat aku mendengar engkau ingin menaklukan sang
penguasa akhirat? Benarkah begitu?

Powernow:
Apakah kamu sudah berkurang pendenaranmu? Itulah yang selama ini tidak
engkau sadari. Setinggi-tinggi raja, sehebat-hebat raja belum tinggi dan
belum hebat namanya jika belum bisa menyatukan kekuasaannya baik di dunia
maupun di akhirat?

Kumaratna:
Oo..ooo...sang Powernow rajaku. Jikalau aku tidak berada di depanmu,
jikalau aku tidak dikarenakan berkahmu, jikalau aku tidak dikarenakan
kekuasaanmu, maka telah hancurlah diriku itu. Mengapa? Karena dengan
demikian aku telah berada bersama-sama dengan sebuah ciptaan yang akan
ganti berusaha menciptakan Sang Penciptanya. Bukankah itu dosa tak
terampuni? Engkau telah menyekutukan Tuhan. Engkau bahkan akan melanggar
semua aturan serta bertentangan dengan hukum alam dan kodrat. O..ooo...
ampunilah Tuhanku. Tetapi apalah dayaku. Jika aku melawan pasti aku akan
hancur berkeping-keping, tetapi jika aku ikut-ikuttan aku juga akan hancur
berkeping-keping. Oh Tuhan kenapa engkau uji aku dengan ujian seberat ini?

Powernow:
Hai...Kumaratna! Diajak bicara seorang raja..malah ngomel sendiri. Apa
yang kurang dari diriku itu? Apakah ada dari diriku yang meragukan dirimu
sehingga engkau ragu-ragu menjadikan aku sebagai sesembahan dan sebagai
tuhanmu?

Kumaratna:
Ampun..rajaku. Ti..ti..ti..adalah keraguan bagiku atas dirimu. Aku
serahkan hidup matiku kepadamu. Aku persembahkan segenap jiwa ragaku untuk
kejayaanmu.

Powernow:
Hah...hah...heh...heh...begitulah adabnya seorang bawahan. Jadi kalau
begitu apakah kamu setuju dengan rencanaku menyelenggarakan Selamatan Raja
Purna?

Kumaratna:
Seribu persen aku mendukung rencanamu itu. Bisakah aku mengerti secara
lebih rinci rencanamu itu?

Powernow:
Aku akan mengundang semua yang mengaku raja di muka dunia ini. Tetapi
ketahuilah bahwa undanganku itu bersifat absolut, artinya tiada satupun
seorang yang mengaku raja di muka bumi ini tidak hadir. Maka segenap cara
untuk mengundang mulai dari undangan resmi, undangan tidak resmi, berita,
kesadaran, dan kalau perlu paksakan harus ditempuh untuk menghadirkan
semua raja-raja. Jika ada walaupun hanya seorang raja yang tidak hadir
dikarenakan suatu hal maka itu pertanda kegagalan acaraku itu. Gunakan
pula segenap teknologi dan media untuk menyebarluaskan acara ini: koran,
televisi, komputer, handphone, dsb. Informasi tentang acara ini juga
bersifat absolut, artinya, ketika acara selamatan digelar, tiadalah
seorangpun dimuka bumi ini tidak memperhatikannya. Jika ada orang walaupun
hanya satu tidak memperhatikan acara selamatan ini, maka itu juga pertanda
gagalnya acara selematan itu.Camkan dan bersiaplah.

1 comment:

  1. Siska Nur Rahmawati
    16701251028
    PEP-B 2016

    Elegi di atas mengajarkan kepada kita untuk selalu berusaha meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Tuhan agar terhindar dari rasa dan jiwa yang sombong. Manusia sangat mudah dikuasai oleh syaitan untuk mengikuti jalan syaitan yang sesat. Jangan sampai kita terjebak ruang dan waktu. Oleh karena itu, pantasnya kita memiliki pikiran yang kritis dan terbuka menanggapi fenomena-fenomena yang terjadi di dalam kehidupan.

    ReplyDelete


Note: Only a member of this blog may post a comment.