Mar 4, 2010

Elegi Anomali Sang Pemimpin

Oleh Marsigit

Pemimpin:

Aku deklarasikan dengan ini bahwa “AKU ADALAH ORANG TERDEPAN YANG MEMBERANTAS KORUPSI”

Koruptor:
Nyam..nyam...nyammm..mumpung ada kesempatan, mumpung mereka terlana...lumayan 7 trilyun...
Bailout...bailout....inilah kendaranku.

Rakyat:
Thunggg..thungg...thung...thung.....koruptor..koruptor....tangkap...tangkap....dia telah memanfaatkan Baiolout. Bailout itu salah...Barang siapa membelanya berarti dia termasuk membela korupsi....tangkap....tangkap.

Pemimpin:

Aku deklarasikan dengan ini bahwa “BAILOUT ITU BENAR”

Rakyat:
Huhh...hahh...lha... logikaku mengatakan kalau membenarkan Bailout yang ini berarti telah menjadi “ORANG TERDEPAN YANG MEMBELA KORUPSI”

Anomali:
Uhh...heh...heh.....heheh.............heh. Huh....hah...hah....heh.... hhhhhhhhhhh...hh........hhh..............hhh ...hahhhhhhhhhhh... .hhhhhhhhhhhhhhhhh................hehhhhhhhhhhhhh

49 comments:

  1. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Ketika pemimpin telah terpilih maka akan terlihat pemandangan seperti ini “Aku deklarasikan dengan ini bahwa “AKU ADALAH ORANG TERDEPAN YANG MEMBERANTAS KORUPSI”.
    Akan tetapi yangt erjadi pads kenyataan adalah pemimpin adalah orang terdepan yang mendukung korupsi. Miridnya negeri ini.

    ReplyDelete
  2. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016 (S2)
    Lemahnya perangkat hukum yang mampu menjerat dan menindak para pelaku korupsi. Kelemahan ini jelas berimplikasi terhadap lemahnya upaya bagi pemberantasan korupsi secara optimal. Lemahnya perangkat hukum ini boleh jadi disebabkan oleh dua faktor, yakni ketidakmampuan para elit politik, terutama legislatif di dalam menyusun dan merancang perangkat hukum pemberantasan korupsi atau ketidakmauan para elit politik, baik di eksekutif maupun legislatif untuk membuat perangkat hukum pemberantasan korupsi yang ideal. Ketidakmauan ini jelas ditunjukkan dengan dibuatnya perangkat hukum yang masih mengandung banyak celah yang dapat membuat elit politik tersebut keluar dari sanksi hukum. Hukum dibuat untuk kepentingan sendiri dan golongan, bukan benar-benar untuk memberantas korupsi secara nyata.

    ReplyDelete
  3. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Pada kenyataannya saat ini, di Indonesia banyak pemimpin yang dibutakan oleh kekuasaan yang dimiliki. Pemimpin yang jika ada kesempatan selalu mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri. Pemimpin yang mengabaikan hak obyek kekuasaannya, dan malah menjungjung tinggi haknya seperti dengan melakukan korupsi. Pemimpin yang melakukan kerja sama dengan pihak lainnya yang bertujuan untuk mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dari obyek kekuasaannya. Itulah godaan yang paling besar bagi orang yang berkuasa adalah menggunakan kekuasaannya. Padahal sifat dari kekuasaan tersebut selalu menimpa dan tertuju kepada obyek kekuasaaan. Tetapi ingatlah apapun yang kita lakukan di dunia ini, Allah SWT mengetahui segalanya. Maka barang siapa yang menyalahgunakan kekuasaan, itu lah orang-orang yang berbuat dholim.

    ReplyDelete
  4. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi tersebut menggambarkan seorang pemimpin yang tidak konsisten atas prinsipnya. Di awal ia hanya mengumbar janji bahwa ia merupakan pemimpin yang anti korupsi dan akan memberantas korupsi bagaimanapun caranya. Namun ketika terjadi kasus korupsi maka secara tidak langsung ia membela para koruptor tersebut karena adanya indikasi dan kepentingan tertentu dengan orang tersebut. Inilah mengapa di negara kita masih bertebaran kasus korupsi karena kurang tegasnya para pemegang kekuasaan.

    ReplyDelete
  5. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Korupsi adalah masalah dan momok yang sudah melekat dengan jabatan-jabatan yang memiliki kekuasaan, baik ditingkat bawah maupun tingkat lebih tinggi. Sedikit demi sedikit korupsi ini juga sudah mulai di berantas oleh para penegak hukum. Korupsi tidak hanya merugikan satu atau dua pihak tapi merugikan seluruh pihak, termasuk dia telah merugikan dirinya sendiri. Semoga Indonesia terbebas dari koruptor yang merugikan rakyatnya. Amin.

    ReplyDelete
  6. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Pada kisah elegi ini saya merangkum bahwa tulisan ini menggambarkan seperti pepatah kacang lupa pada kulitnya. Begitulah kepemimpinan pada kisah elegi ini, dimana hanya untuk memikat hati para rakyat sehingga rakyat pro mendukung pemimpin tersebut menjadikan orang itu sebagai pemimpin. Namun setelah dia terpilih menjadi seorang pemimpin dengan mudahnya pemimpin itu membuat peraturan yang kontra dengan rakyat hanya untuk kepuasan duniawi. sehingga pemimpin itu melakukan perkongsian dengan para koruptor untuk mendapatkan harta atau kekuasaan yang lebih dari sebelumnya.

    ReplyDelete
  7. Jeanete Nenabu
    15709251004
    PPS PMAT D

    Bailout adalah kata benda yang berasal dari dua suku kata bail dan out. Bail berarti jaminan/pinjaman, sedangkan out adalah keluar. Jika diterjemahkan mungkin bisa berarti memberi jaminan/pinjaman atau mengeluarkan jaminan/pinjaman.
    Bailout dalam istilah ekonomi dan keuangan digunakan untuk menjelaskan situasi dimana sebuah entitas yang bangkrut atau hampir bangkrut, seperti perusahaan atau sebuah bank diberikan suatu injeksi dana segar yang likuid, dalam rangka untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Seringkali bailout dilakukan oleh pihak pemerintah atau konsorsium beberapa investor yang akan meminta peran kendali pada entitas tersebut sebagai timbal balik untuk dana yang disuntikkan.
    Bailout dari pihak pemerintah untuk sebuah entitas usaha/sektor biasanya dilakukan ketika entitas usaha/sektor tersebut dipertimbangkan sangat penting dan menyangkut hajat hidup orang banyak “too big to fail” – dijustifikasi oleh argumen bahwa kegagalan pada beberapa perusahaan akan menimbulkan kemandekan perekonomian yang harus dihindari dan diselesaikan segera dalam jangka pendek.
    Dikutip dari sumber: http://bowie71.multiply.com/journal/item/17/What_Kinda_Animal_Bailout_Is

    ReplyDelete
  8. Nahrul Pintoko Aji
    14301244008
    Pendidikan Matematika A 2014

    Pemimpin seharusnya konsisten dengan perkataannya, jangan sampai berkhianat atas apa yang telah di janjikan sehingga mengecewakan rakyat. Banyak calon pemimpin yang memberi janji pada calon pemilihnya dengan iming iming yang menarik, namun setelah jadi pemimpin dia bertindak tak sesuai jalan yang benar. Namun tak dapat dipungkiri bahwa kadang pemimpin yag sudah baik, terjebak oleh oknum oknum kurang ajar yang berniat korupsi atau sebagainya yang bersifat merusak pemerintahan.

    ReplyDelete
  9. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    begitulah adanya, kadang koruptor yang ulung mampu menjalin kerja sama yang epik dengan pemimpin. membuat rakyat sengsara dengan keputusan yang dibuatnya. seharusnya sebagai pemimpin, dia harus mengedepankan kepentingan rakyat. negara ini sudah demokrasi. hanya butuh kesadaran diri dari para pemimpin untuk selalu mempertanggung jawabkan amanah yang telah diberikan.

    ReplyDelete
  10. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu'alaikum. Pemimpin harus memiliki prinsip, mampu mempertanggung jawabkan perbuatannya, memperhatikan kesejahteraan rakyat, dan berlaku adil. Pemimpin harus amanah. Karena di tangan pemimpin nasib bawahannya ada disitu. Kekuasaan pemimpin tak mutlak, karena harus diingat bahwa terdapat kekuasaan yang lebih besar lagi yang ada diatasnya. Tanggung jawabnya tak hanya kepada bawahannya tapi kepada atasannya juga. Sulit menjadi pemimpin yang amanah, jujur, dan bertanggung jawab, sebab semakin tinggi pohon maka semakin banyak rintangan yang ingin menumbangkannya.

    ReplyDelete
  11. Jeanete Nenabu
    15709251004
    PPS PMat D

    Baliot dari pihak pemerintah adalah usaha untuk menghindari kemandekan ekonomi yang harus diselesaikan segera, terkadang hal ini berarti mminta bantuan investor lain yang memiliki kepentingan lain dibaliknya. Bagi orang lain baliot mungkin salah karena memberikan kekuasaan tertentu pada pihak investor, namun bisa saja bagi pemerintah bailout itu benar karena pemerintah memikirkan kepentingan khalayak ramai. Inilah yang menyebabkan anomaly, karena sesuatu yang dianggap benarpun dapat memberi dampak yang buruk pihak-pihak yang terlibat tidak memiliki hati yang ikhlas dan pikiran yang ikhlas.

    ReplyDelete
  12. Anis Kurnia Ramadhani
    14301241020
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Itulah gambaran mayoritas pemegang kepemimpinan saat ini. Pengambilan keputusan tak jarang didasari dari kepentingan pribadi atau golongan, sehingga hanya orang-orang tertentu yang menerima "manfaat" dari peraturan tersebut.

    Rakyat yang mengkritisi tindakan "nyeleneh" pemimpinnya dianggap angin lalu bahkan ancaman. Mereka hanya menanggapi hal yang bermanfaat bagi mereka saja. Janji yang mereka sampaikan pun tak terealisasi. Malah, sepertinya mereka tidak berusaha untuk mewujudkannya. Mereka telah jatuh begitu dalam pada cinta dengan dunia. Ketika pemimpin yang seharusnya ditaati oleh rakyatnya saja sudah tidak dapat dipercayai dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan golongannya, termasuk para koruptor, lalu bagaimana?

    Semoga hati mereka, pemimpin yang tidak amanah dan koruptor yang bertebaran, segera terketuk, tersadar, menyadari, dan memperbaiki kesalahan yang telah diperbuat. Tidak lupa juga untuk menjauhi perbuatan tersebut. Aamiin..

    ReplyDelete
  13. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Pada masa kampanye para calon pemimpin rakyat, seringkali dilontarkan elegi-elegi yang dapat meninabobokan rakyat.
    Terlebih jika mereka menjanjikan pemberantasan korupsi di negeri korup ini.
    Akan tetapi ketika rakyat menangis dan meminta perlindungan, tak lain pemimpinlah yang melindungi para koruptor.

    ReplyDelete
  14. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari Elegi ini, Pemimpin janganlah berbicara manis agar dirinya terpilih. Namun setelah itu mereka melupakan omongan manisnya. Jadi lah pememin yang memegang kata-katanya, bicara A lakukanlah langkah-langkah agar A terjadi bukan putar arah menuju A invers.

    ReplyDelete
  15. Syahlan Romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Pemimpin yang mengatakan akan melawan korupsi tetapi malah membenarkan bailout yang pada dasarnya membela koruptor, adalah suatu kontradiksi. Seharusnya, pemimpin memegang kata-katanya, memegang janjinya, karena menjadi pemimpin adalah suatu amanah. Menjadi pemimpin memang bukan hal yang mudah karena harus mempertimbangkan banyak aspek dalam pengambilan keputusan. Namun pemimpin harus berupaya sebaik mungkin agar tidak merugikan rakyatnya, tidak hanya mengambil keputusan untuk keuntungan pribadi atau golongan.

    ReplyDelete
  16. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Salah satu yang membedakan pemimpin dan yang bukan pemimpin adalah tanggung jawab. Tanggung jawab jadi domain kekuasaan sekaligus legitimasi kepemimpinan seorang pemimpin. Kredibilitas seorang pemimpin tervisualisasikan dari derajat tanggung jawabnya. Pemimpin yang tak bertanggung jawab bisa dikategorikan sebagai pemimpin tidak kompeten (Carole Nicolaides, Progressive Leadership).
    Jabatan adalah amanah. Tidak semua orang bisa mengembannya. Sebagian mengkhianati amanah tersebut dengan melakukan korupsi. Sudah banyak contohnya di negeri ini. Para calon yang kini sedang berjuang mendapatkan kursi, harus belajar dari mereka yang pernah tergelincir korupsi.

    ReplyDelete
  17. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Jika kita berbicara tentang kondisi bangsa kita sekarang mungkin berada pada tahapan yang sedang sekarat. Mengapa demikian? Korupsi merajalela. Mungkin yang belum terlihat KKNnya lebih banyak dibandingkan yang telah ketahuan KKNnya. Perpecahan sudah mulai merebak dimana – mana. Kriminal dimana – mana sehingga keamanan rakyatnya masih terancam. Kebijakan pendidikan yang measih stabil. Sehingga pelaksanaan kurikulum masih terdapat banyak persepsi yang seharusnya disamakan dari Sabang sampai Merauke. Serta masih banyak masalah – masalah lainnya. Berikan kami kesejahteraan Pak/Bu Pemimpin.

    ReplyDelete
  18. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan matematika A 2014

    Dalam elegi ini menggambarkan bahwa seorang pemimpin yang tidak miliki kekonsistenan,dimana sebelumnya sepakat untuk memberantas korupsi tetapi seiring berjalannya waktu pemimpin tersebut tergiur akan iming iming yang melimpah. Salah satu penyebabnya adalah sifat manusia yang tidak pernah puas. pemimpin seharunsnya memiliki sifat yang tegas, konsisten akan perkataannya, beriman dan bersyukur sehingga menjauhkan diri dari sifat-sifat buruk.

    ReplyDelete
  19. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Anomali merupakan penyimpangan atau terjadinya keanehan. Berdasarkan “Elegi Anomali Sang Pemimpin” bahwa dalam kehidupan pun banyak anomali atau penyimpangan-penyimpangan. Misalnya saja seorang pemimpin saat orasi selalu menjanjikan hal-hal yang baik demi memajukan negara dan kesejahteraan masyarakat seperti memberantas korupsi, dll. Namun dalam kenyataannya pemimpin ikut melakukan korupsi. Jika penyimpangan ini tetap dilakukan lama-kelamaan kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin pun akan hilang.

    ReplyDelete
  20. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Berdasarkan tulisan di atas, saya merasa sangat cocok sebagai pencerminan pemimpin yang ada di Indonesia. Bukan bermaksud menyudutkan atau apa pun terhadap pemimpin di negeri ini, namun sering kali kita temui banyak pemimpin yang memasang muka manis di depan untuk menarik simpati rakyat dan menjanjikan untuk selalu berpihak ke rakyat. Pada kenyataannya malah sebaliknya. Sungguh miris dirasa, semakin kesini semakin terjadi krisis kepercayaan di negeri ini.

    ReplyDelete
  21. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Biasanya orang yang membuat statemen, maka sering dialah yang melanggar statemennya itu, atau identik dengan perkataan bahwa siapa yang membuat peraturan maka sering dialah yang akan melanggarnya, namun ketika dia sedang berkkuasa, dijadikanlah dia seolah-olah tidak melanggar atau tidak ikut korupsi. Maka dalam elegi ini saya dapat ambil hikmah bahwa hati-hatilah dalam membuat statemen atau peraturan. Karena siapa yang menggali lobang maka dialah yang akan masuk ke lobang itu, tinggal menunggu waktu.

    ReplyDelete
  22. Ajeng Puspitasari / 14301241005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    "Elegi Anomali Sang Pemimpin" di atas menggambarkan situasi yang marak terjadi saat ini. Sebenarnya, elegi di atas juga menggambarkan hal-hal sepele di sekitar kita, bahkan pada diri kita sendiri. Sering kita menggaungkan gema untuk tidak mencotek. Namun, apakah kita sendiri sudah melakukannya?
    Hal semacam inilah yang seharusnya menjadikan kita untuk terus berinstropeksi diri. Bagaimana agar kita senantiasa bertanggung jawab atas pilihan dan kata yang telah kita ucapkan.

    ReplyDelete
  23. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Anomali berarti menempatkan sesuatu tidak sesuai dengan ruang dan waktunya. Anomali sang pemimpin berarti pemimpin tersebut bisa jadi tengah mengambil keputusan yang tidak sesuai dengan raung dan waktunya. Namun, kita hanya sebagai rakyat biasa langsung menjustifikasi bahwa pemimpin tersebut salah. Kita harus tahu bagaimana posisinya dan apa sebenarnya yang terjadi. Memikirkan diri sendiri saja susah, apalagi seorang pemimpin yang harus memikirkan orang banyak. Kadang pemimpin tidak dapat memutuskan sesuatu yang simple karena terhalangi oleh berbagai urusannya, yang mungkin dapat terhambat jika dia memutuskan itu. Tetapi jika memang dia meyakini dan tetap berusaha mengambil jalan yang benar dan diridhoi Allah, dengan melihat semua kepentingan secara adil, maka semua keputusannya tidak akan mengecewakannya walaupun pahit. Dan bukan berarti bahwa pemimpin tidak pernah salah. Namun, yang perlu kita ketahui adalah bagaimana memaknai kesalahan tersebut sehingga dapat digunakan untuk memperbaiki diri.

    ReplyDelete
  24. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Ketika kedudukan berada diatas (sebagai pemimpin) maka dekat dengan hal – hal yang penuh godaan, misalnya korupsi. Hati – hati ketika jabatan menjadi prioritas maka semakin dekat dengan hal – hal yang sifatnya godaan. Godaan identik dengan segala yang buruk. Korupsi sepertinya menjadi hal yang tak asing lagi, dan menjadi sasaran untuk diberantas karena dengan korupsi sudah mengambil hak yang bukan miliknya. Semoga kita senantiasa berada pada jalan yang benar dan jabatan bukan merupakan suatu hal yang dapat membawa kita menjadi sombong dan melakukan korupsi.

    ReplyDelete
  25. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049
    Dalam tulisan tersebut kita disadarkan bahwa koruptor sangat cerdik dalam mengambil kesempatan, mereka memanfaatkan peluang sekecil apapun untuk mengabil uang rakyat. Salah satu peluang yang mereka gunakan adalah saat para pemimpin tengah merayakan posisinya sebagai pemimpin. Mereka bergembira dengan perayaan sementara rakyat terus dirampas haknya. Melalui tulisan ini kita sebagai pembaca dilatih untuk tetap kritis.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  26. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049
    Pemimpin adalah orang yang hendaknya melindungi rakyat, serta mengayomi rakyat nya. Seorang pemimpin harus cerdik dan tangguh menghadapi ancaman koruptor. Tidak boleh sekalipun lengah sehingga sekecil apapun kesempatannya tidak akan terjadi kecolongan oleh para koruptor.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  27. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049
    Sebagai rakyat kita dituntut untuk kritis dalam mengawasi penyelenggaraan tata laksana negara. Tidak bisa hanya diam ditindas orang diatas.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  28. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam elegi ini jika diimplementasikan dalam kehidupan dimasyarakat maka saat ini sudah terjadi. Banyak pemimpin diawal ketika kampanye menyabar janji-janji ingin memberantas korupsi namun saat sudah terpilih yang terjadi bukannya memberantas korupsi tetapi ikut korupsi. Para pemimpin Indonesia sebenarnya semua pintar namun salah dalam menggunakan kepintarannya. Iman yang kurang kuat dalam membentengi diri menjadi hal utama seseorang berbuat korupsi. Kurang tegasnya hukum juga mengakibatkan koruptor berkeliaran karena hukuman yang tidak sesuai dengan apa yang dilakukannya. Seharusnya hukum untuk koruptor itu minimal penjara seumur hidup karena telah merugikan negara atau masyarakat banyak.

    ReplyDelete
  29. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Di Indonesia, korupsi semakin menjamur di mana – mana. Bukan hanya pemimpin daerah di tingkat atas, tetapi pemimpin di daerah kecil pun tidak luput dari godaan untuk korupsi. Ketika ada kesempatan tentu bisa dilakukan korupsi tersebut. Anehnya di negeri ini, orang – orang yang bersalah malah memiliki keleluasaan untuk melakukannya, apa karena mereka memiliki kekuasaan. Keadilan di negeri ini sudah mulai luntur.

    ReplyDelete
  30. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Moral yang baik diperlukan bagi pemipin –pemimpin di negeri ini. Tidak hanya pemimpin tetapi seluruh orang di negeri ini. Jika ingin memiliki negeri yang aman, damai dan sentosa. Kesalahan harus ditindak tegas. Di mana negeri ini adalah negara hukum. Kita berpedoman pada Pancasila, yang jelas terdapat “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Mungkin benar dan penting penanaman karakter sejak dini.

    ReplyDelete
  31. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pentingnya penanaman pendidikan karakter sejak dini di sekolah. Agar karakter –karakter yang baik bisa tumbuh dan melekat dalam diri rakyat Indonesia. agar kejahatan – kejahatan seperti korupsi, berlaku tidak jujur, para pemimpin yang memanfaatkan kekuasaan yang dimiliki tidak lagi mencoreng negeri yang indah ini.

    ReplyDelete
  32. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Sebagai seorang pemimpin harus bersikap konsisten dengan apa yang telah diungkapkan dan apa yang telah ditetapkan. jangan awalnya berkata A tetapi ujungnya berkata B. hal tersebut tentunya akan membuat rakyatnya menjadi bingung akan perkataan si pemimpin tadi. padahal rakyat sudah memilih pemimpin yang dianggapnya baik dan benar serta bersikap konsisten tetapi apa yang terjadi ternyata isi pemimpin tersebut malah tidak bersikap konsisten dan berubah rubah perkataanya.

    ReplyDelete
  33. Salma Maulida Karima
    14301241021
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi ini menggambarkan ketidak konsistenan seorang pemimpin dalam perkataannya. Mengumbar janji yang pada akhirnya tidak ia tepati. Menyembunyikan "fakta" demi kepentingan entah siapa. Melukai rakyat yang ingin berkomentar tapi tidak bisa apa-apa. Memang benar...hanya sekedar manis di mulut saja.

    ReplyDelete
  34. Rindang Wijayanto
    14301241028
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Sebagai seorang pemimpin harus berkonsisten dengan apa yang telah diucapkan sehingga akan selalu mendapatkan kepercayaan dari para pengikutnya yang setia.

    ReplyDelete
  35. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu menepati apa yang telah ia janjikan sebelumnya. Elegi tersebut sangat sesuai dengan kondisi di Indonesia saat ini. Para pelaku korupsi yang telah ditangkap saat ini kebanyakan dulunya merupakan orang yang bicara paling keras menyuarakan tentang pemberantasan korupsi. Rakyat merasa dibodohi oleh orang-orang tersebut.

    ReplyDelete
  36. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Syarat menjadi pemimpin adalah punya pengikut untuk mau dipimpin olehnya. Sesederhana kalimat tersebut, akan tetapi maknanya sangat dalam. Untuk memiliki pengikut, sering kali calon pemimpin mengumbar kata-kata manis yang membuat banyak orang terpana sehingga percaya untuk dipimpin. Perlu digarisbawahi bahwa perbuatan seperti itu tidak selayaknya dimiliki dalam setiap individu. Elegi tersebut mengajarkan kita bagaimana sikap yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Yaiutu konsisten dengan apa yang diucaokannya.

    ReplyDelete
  37. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi Anomali Sang Pemimpin ini merupakan suatu gambaran yang tengah marak terjadi di Indonesia. Banyak pejabat hukum yang mengatakan akan memberantas hukum, akan tetapi dalam praktiknya malah mendukung sang pelaku hukum.

    ReplyDelete
  38. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Banyak pejabat pemberantas hukum yang dalam praktik dan teorinya berlawanan. Banyak pejabat pemberantas hukum yang tidak adil dan proporsional dalam praktiknya. Sehingga istilah hukum Indonesia dikenal sebagai hukum yang tumpul ke atas namun tajam kebawah. Banyak pejabat yang menagatasnamakan pembela keadilan yang tidak adil, ketika seseorang kaya dan bermatabat yang menebang hutan diberikan ganjaran setara dengan seseorang rendahan yang mencuri satu buah pisang. Terkadang miris untuk melihat hal-hal seperti ini

    ReplyDelete
  39. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bila saya menebak, elegi diatas ditulis saat sedang hangatnya pemberitaan mengenai kasus bailout suatu bank yang dianggap hampir kolaps, namun nilai bailout yang dikeluarkan tidak wajar. Hal ini ternyata mengundang perhatian banyak pihak. Sampai-sampai pemerintah ikut turun tangan dalam kasus tersebut. Bila ditelusur kembali, ada indikasi korupsi disana, dan dengan mudahnya, kasus ini terlewatkan hanya dengan suatu pernyataan dari pemerintah yang menganggap bahwa kasus ini bukanlah korupsi

    ReplyDelete
  40. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Hal ini tentulah menjadi pertanyaan. Bagaimanakah kedudukan hukum kita bila menghadapi koruptor yang besar, dan mungkin memiliki kepentingan tertentu dengan pemerintah. Sangat terlihat memang, penerapan hukum yang tidak dapat dilaksanakan dengan tepat dan baik disana. Entah akan menjadi apa negara kita jika anomali ini dibiarkan terus menerus tanpa ada perbaikan

    ReplyDelete
  41. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Elegi tersebut menggambarkan kondisi bangsa Indonesia saat ini. Ketika para pemimpin berkoar-koar dengan bangga bahwa dia adalah pemimpin yang memberantas korupsi dan berpihak pada rakyat, padahal sebenarnya dia adalah orang yang menggerogoti hak rakyat dan tidak membela rakyat, namun menggunakan topengnya sebagai pemimpin untuk membuat kesalahan yang dia buat menjadi kebenaran.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  42. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi tersebut menggambarkan seorang pemimpin yang mengatakan bahwa dirinya merupakan orang yang memberantas korupsi secara tegas. Namun, saat korupsi terjadi, seorang pemimpin tersebut seakan menutup-nutupi kasus korupsi tersebut untuk kepentingan pribadi. Hal ini sering kali terjadi di negara kita tercinta, Indonesia. Tingkat korupsi pejabat-pejabat di Indonesia sangat tinggi, hal ini sangat memprihatinkan. Seharusnya, seorang pemimpin bisa bertanggung jawab atas apa yang telah dikatakan dan bisa menjadi teladan bagi masyarakat luas, tetapi pada kenyataannya belum tentu seperti itu. Semoga kelak Indonesia akan mendapatkan pemimpin yang bertanggung jawab. Aamiin.

    ReplyDelete
  43. Desinta armiani
    14301241041
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Kepemimpinan pada zaman ini dimana salah satu cara supaya terpilih awalnya menjanjikan sesuatu yang baik, tetapi pada prakteknya ketika sudah terpilih dan terjebak didalam lumbung politik yang salah adakalanya mereka lupa dengan janji di awal. Sedangkan koruptor itu menyengsarakan rakyat.

    ReplyDelete
  44. Anis Kurnia Ramadhani
    14301241020
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Menjadi seorang pemimpin merupakan tugas yang berat. Tanggung jawab yang diembannya sangat besar. Ia harus mempertanggungjawabkan segala kebijakan yang telah ia buat di akhir jaman kelak. Menjadi pemimpin haruslah yang berkompeten di bidangnya, selain itu juga harus dapat menjaga amanah rakyat yang telah memilihnya.

    ReplyDelete
  45. Anis Kurnia Ramadhani
    14301241020
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Manusia memiliki sifat tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Mereka selalu ingin mencari yang lebih lagi, lagi, dan lagi. Bahkan untuk mencapainya, tidak jarang manusia menggunakan cara yang kotor dan tidak pantas. Padahal, manusia diberikan akal untuk berfikir. Rasa tidak pernah puasnya ini akan membuat manusia tidak bahagia.

    ReplyDelete
  46. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Terkadang, janji tinggalah janji. Banyak sekali orang yang melupakan janjinya sendiri. Padahal janji tetap janji yang bagaikan hutang harus dibayar. Sama halnya janji seorang pemimpin yang diceritakan pada elegi ini. Awalnya mereka berjanji akan memberantas korupsi pada awal masa kepemimpinan, kemudian ketika sudah ada kesempatan ia juga tergiur untuk melakukan hal itu. Sedangkan rakyat bisa berkomentar tetapi tidak bisa melakukan apapun. Pada akhirnya pemimpin itu membenarkan korupsi dan rakyatnya sudah melihat sendiri bukti bahwa pemimpinya yang berjanji akan memberantas korupsi telah melanggar janjinya. Inilah yang sering terjadi di negara ini sekarang. Ini harus kita renungkan baik-baik.

    ReplyDelete
  47. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Bukan hal yang mudah untuk menjadi seorang pemimpin, karena harus berani mengambil keputusan dengan penuh tanggung jawab. Keputusan yang diambil harus berorientasi pada kepentingan bersama bukanlah kepentingan pribadi dan keputusan itu harus disertai dengan tanggung jawab jika terjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan.

    ReplyDelete
  48. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Menjadi seorang pemimpin yang memimpin tentulah butuh kesabaran dan kepercayaan diri dalam memimpin serta pendewasaan diri sendiri untuk memimpin. Memnag tidak mudah dalam menjadi pemimpin, namun dengan tekat dan kekonsistenan kita, pasti akan dimudahkan dalam menjadi pemimpin.

    ReplyDelete
  49. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Ini yang sering terjadi di negara kita dimana ketika mereka menjabat sebagai pemimpin akan menggembor-gemborkan akan memberantas korupsi, tapi apa yang terjadi mereka berada diantara para koruptor tersebut. Menjadi pemimpin tidak lah mudah karena jika tidak memiliki iman yang kuat, hati yang ikhlas dan pemikiran yang kritis akan mudah sekali terjerumus kelembah hitam. Menjadi pemimpin banyak iming-imingnya. Pemimpin dalam elegi di atas tidaklah benar karena ia mendukung adanya korupsi. Korupsi dalam bentuk apapun dilarang agama. Apalagi sampai menggunakan uang rakyat. masyaAllah, semoga tidak terjadi lagi.

    ReplyDelete