Mar 4, 2010

Elegi Memilih Opsi A atau C

Oleh Marsigit:

Pimpinan:

Silahkan pilih yang mana Opsi A atau Opsi C? Opsi A: “Bailout itu benar”, sedangkan Opsi C:
“Bailout itu salah”

Pemilih 1:
Jika aku memilih Opsi C adalah “Bailout itu salah” berarti “Bailout itu tidak benar”.
Jika “Bailout itu tidak benar” berarti “Tidaklah, Bailout itu benar”.
Jika “Tidaklah, Bailout itu benar” berarti “ Bukanlah Opsi A”
Jika “Bukanlah Opsi A” berarti aku tidak memilih Opsi A”
Kesimpulan: Jika aku memilih Opsi C berarti tidaklah mungkin aku memilih Opsi A.

Pemilih 2:

Jika aku memilih Opsi A maka “Bailout itu benar”
Jika “Bailout itu benar” maka “Tidaklah bahwa Bailout itu salah”
Jika “Tidaklah Bailout itu salah” maka “Bukanlah Bailout itu salah”
Jika “Bukanlah Bailout itu salah” maka “Bukanlah Opsi C”
Jadi aku tidak memilih Opsi C
Kesimpulannya : Jika aku memilih Opsi A tidaklah mungkin akubisa memilih Opsi C

Abstain:

Saya ingin abstain saja. Abstain adalah tidak memilih kedua-duanya. Saya rela dikatakantidak bertanggungjawab karena tidak memilih.

Pemilih 3:
Wah aku bigung. Jika memilih Opsi A berarti aku mengakui kejahatan. Jika aku memilih Opsi C berarti aku kehilangan jabatan. Bagaimana jika aku memilih Opsi AC?
Opsi A : “Bailout benar” artinya “Tidaklah benar bahwa Bailout itu salah”, artinya bukanlah “Bailout itu salah”, artinya bukanlah Opsi C. Jadi Opsi A adalah lawan dan Opsi C, atau Opsi A adalah ingkaran dari Opsi C. Jika Opsi A benar maka Opsi C salah. Jika Opsi A salah maka Opsi C benar.
Jika digabungkan maka aku menemukan formula Opsi AC dan berbunyi “Bail Out benar dan Bailout salah”. Atau Opsi AC berbunyi :”Bailout itu benar dan salah”. Maka saya menemukan Opsi AC itu bersifat kontradiktif, artinya tidak mungkin terjadi, untuk suatu hal benar dan salah itu terjadi secara bersamaan.
Wah saya bingung, di satu sisi saya tidak mau mengakui kejahatan tetapi di sisi yang lain saya tidak mau kehilangan jabatan. Sementara saya tidak mau dikatakan tidak bertanggung jawab dikarenakan abstain.
Wah benar-benar bingung aku.

5 comments:

  1. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    PEP 2016

    Terkadang kita memang diperhadapkan oleh pilihan yang sulit untuk diputuskan. Hal tersebut mungkin bukan karena kedua pilihannya tidak dapat dipilih sama sekali, namun karena pilihan tersebut berbenturan antara kata hati dan pikiran. Ketika pikiran dan hati telah sudah tidak sejalan maka jalan terbaik yang dilakukan saat itu adalah meyakini apa yang dianggap baik dan meninggalkan keragu-raguan sembari memohon petunjuk dari Tuhan.

    ReplyDelete
  2. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    PEP 2016

    Terkadang kita memang diperhadapkan oleh pilihan yang sulit untuk diputuskan. Hal tersebut mungkin bukan karena kedua pilihannya tidak dapat dipilih sama sekali, namun karena pilihan tersebut berbenturan antara kata hati dan pikiran. Ketika pikiran dan hati telah sudah tidak sejalan maka jalan terbaik yang dilakukan saat itu adalah meyakini apa yang dianggap baik dan meninggalkan keragu-raguan sembari memohon petunjuk dari Tuhan.

    ReplyDelete
  3. Siska Nur Rahmawati
    16701251028
    PEP-B 2016

    Kehidupan ini menghadapkan kita pada pilihan-pilihan yang sulit. Diperlukan sebuah pemikiran yang kritis dan memiliki pemikiran dan pengetahuan yang terbuka untuk dapat menentukan pilihan. Ketika kita dihadapkan pada pilihan tersebut, adakalanya kita bertawakal kepada Tuhan meminta petunjuknya agar kita dimudahkan dalam menentukkan pilihan yang terbaik dan sesuai dengan kehendak Tuhan.

    ReplyDelete
  4. Manusia selalu dihadapkan dengan pilihan, misalkan baik atau buruk.
    Pilihan tersebut kita tidak bisa membiarkan begitu saja dengan artian tidak ikut bertanggung jawab atas pilihan kita. Namun semua yang kita lakukan terhadap pilihan sudah pasti akan dapat balasan yang setimpal kelak.
    Pelajaran yang dapat kita pahami dalam postingan kali ini adalah kita harus membuka fikiran serta menghadirkan hati, sehingga apa yang dihadapan kita dapat memilih dengan pilihan terbaik.

    ReplyDelete
  5. Pilihan yang ada ini saya memandang adalah sesuatu yang sangat relatif. Antara satu manusia dengan yang lain tentunya mempunyai kriteria sendiri untuk sebuah pilihan yang sejatinya diyakini baik.
    Akan tetapi dengan transendental kebaikan yang hakiki tentu saja yang menjadi pilihan bukanlah lagi sebuah opsi, namun sebuah keharusan dipilih tanpa toleransi menurut subjektif masing masing.

    ReplyDelete


Note: Only a member of this blog may post a comment.