Sep 7, 2009

Wajah dan Raport Pendidikan Indonesia (di tinjau dari usaha mempromosikan pendidikan yang lebih demokratis)

Oleh Marsigit

Negara Indonesia terlalu besar untuk dipikirkan secara parsial. Negara Indonesia terlalu luas untuk dipikirkan secara sektoral. Negara Indonesia terlalu kompleks untuk dipikirkan oleh hanya beberapa orang. Dan negara Indonesia terlalu agung untuk dilihat hanya dari beberapa sudut pandang saja. Pancasila adalah cita-cita luhur bangsa. Demokrasi Pancasila adalah visi kebangsaaan Indonesia, walaupun kelihatannya gaungnya kurang begitu membahana, bahkan sebagian segmen masyarakat tampak agak gamang dengannya.

Tetapi baiklah, asumsikan bahwa kita memang tidak gamang, artinya memang kita berketetapan bahwa visi kebangsaan Indonesia itu ya Demokrasi Pancasila, maka kita bisa melakukan analisis deduktif, bahwa visi demikian seyogyanya menjiwai segenap aspek berkehidupan berkebangsaan dan berkenegaraan Indonesia. Maka visi pendidikan nasional juga harus bernafaskan demokrasi Pancasila, walaupun kelihatannya hal yang demikian juga mungkin terdapat segmen masyarakan yang masih agak gamang.

Tetapi baiklah, asumsikan bahwa kita memang tidak gamang bahwa pendidikan nasional seharusnya mempunyai visi demokrasi Pencasila, maka kitapun bisa melakukan analisis deduktif yaitu bahwa setiap aspek implementasi pada bagian dan subbagian pendidikan nasional juga harus dijiwai oleh semangat Demokrasi Pancasila. Jika kita secara konsisten bisa melakukan kegiatan analisis demikian maka hasil-hasil analisis tersebut dapat digunakan untuk refleksi diri kita seperti apakah wajah, tubuh, lengan dan kaki-kaki pendidikan nasional kita?

Gambaran tentang diri wajah, tubuh, lengan dan kaki-kaki pendidikan nasional akan tampak lebih jelas lagi manakala kita melakukan analisis hal yang sama untuk kasus-kasus yang paralel diluar sistem Demokrasi Pancasila. Yang terakhir tentunya semata-mata digunakan sebagai cross-check agar analisis bersifat obyektif dan hasilnya bersifat valid. Kegiatan analisis demikian setidaknya dilandasi beberapa asumsi dasar sebagai berikut.

Suatu sistem yang sehat adalah sistem yang mempunyai:
1) obyek material dan obyek formal sekaligus,
2)struktur yang jelas dan bersifat terbuka yang menggambarkan bentuk wajah, tubuh, lengan dan kaki-kaki secara jelas pula,
3)hubungan yang jelas antara komponen dalam struktur,
4) konsisten antara hubungan yang satu dengan yang lain baik hubungan secara substantial maupun hubungan secara struktural,
5) didukung oleh pelaku-pelaku dan komponen yang sesuai baik secara hakikinya, pendekatannya maupun ditinjau dari aspek kemanfaatannya,
6)peluang bagi segenap komponen yang ada untuk saling belajar dan dipelajari,
7) bersifat kompak dan komprehensif,
8) menggambarkan perjalanan sejarah waktu lampau, sekarang dan yang akan datang,
9) serta menampung semua aspirasi dan keterlibatan subyek dan obyek beserta segala aspeknya.

Dengan berbekal visi yang ada, pendekatan analisis, dan ideal dari suatu sistem yang baik, dan referensi yang ada, marilah kita mencoba melihat dan merefleksikan bentuk tubuh pendidikan nasional kita.

1) Jika kita ingin mempromosikan pendidikan lebih demokratis maka pandangan tentang keilmuan seyogyanya mempromosikan kreativitas serta merupakan bagian dari pengembangan masyarakat pada umumnya. Sementara pendidikan nasional kita belum mencapai keadaan demikian. Pandangan keilmuan yang ada masih bersifat ego of the body of knoledge, ego of the structure of knowledge, dan ego of the structure of knowledge. Pada point ini, maka analisis saya, jika diwujudkan dalam bentuk angka, baru memberikan nilai 4 (empat) pada rentang 10.

2) Jika kita ingin mempromosikan pendidikan lebih demokratis maka pandangan tentang value haruslah menuju ke keadilan dan kemerdekaan berpikir serta mendorong pengembangan aspek-aspek humanity. Praktek pendidikan kita masih terjebak pada dikotomi baik-buruk, tetapi kita kurang terampil mengisi interval di dalamnya. Praktek pendidikan cenderung semakin bersifat pragmatis dalam konteks hirarkhi paternalistik. Hirarkhi paternalistik itu akan lebih baik jika dia bersifat idealistic hierarchy paternalistic. Untuk poin ini saya memberi angka 5 (lima)

3) Jika kita ingin mempromosikan pendidikan lebih demokratis maka harus mendorong diadakannya inovasi atau perubahan secara terus menerus di segala aspeknya semata-mata demi kesejahteraan semua warga. Sementara system pendidikan kita cenderung tersedot oleh magnet dari market oriented dalam konteks hierarkhy-hierarkhy. Akibatnya nuansa pragmatis semakin menggejala bersamaan dengan erosinya nilai-nilai idealis para pelakunya. Untuk point ini saya memberi nilai 5 (lima)

4) Jika kita ingin mempromosikan pendidikan lebih demokratis maka kita harus mendorong mendorong partisipasi subyek pendidikan. Sementara di grass-root kita menemukan bahwa ketakberdayaan subyek didik dan dominasi pendidik secara terstruktur dan bersifat masif. Untuk point ini saya memberi nilai 3 (tiga)

5) Jika kita ingin mempromosikan pendidikan lebih demokratis maka harus mendorong mengembangkan aspek budaya masyarakat dan mengfungsikan pendidikan sebagai system pelayanan terhadap kebutuhan masyarakat akan pendidikan. Kebutuhan masyarakan hendaknya diartikan secara mendalam dan seluas-luasnya, termasuk paradigma bahwa subyek didik itulah sebenar-benar yang membutuhkan pendidikan.Untuk point ini saya menilai 3 (tiga)

6) Jika kita ingin mempromosikan pendidikan lebih demokratis maka tujuan pendidikan seyogyanya meliputi usaha-usaha mengembangkan masyarakat dan kehidupan seutuhnya secara komprehensif. Implementasi seyogyanya secara komprehensif dan konsisten. Untuk ini saya menilai 7 (tujuh)

7) Jika kita ingin mempromosikan pendidikan lebih demokratis maka kita perlu mempromosikan komunikasi multi arah dan kemandirian. Untuk point ini saya menilai 5 (lima)

8) Jika kita ingin mempromosikan pendidikan lebih demokratis maka kita perlu mempromosikan lingkungan kehidupan sosial kemasyarakatan sebagai konteks praktik kependidikan. Untuk poin ini saya menilai 4 (empat).

9) Jika kita ingin mempromosikan pendidikan lebih demokratis maka kita perlu mengembangkan sistem evaluasi yang bersifat terbuka dan berbasis pada pelaku pendidikan. Evaluasi pendidikan hendaknya berdasar kepada catatan atau portfolio yang menunjukkan tidak hanya hasil tetapi juga proses. Evaluasi pendidikan juga hendaknya bersifat komprehensif dengan mengukur mencatat semua aspek kemampuan pelaku. Untuk point ini saya memberi nilai 4 (empat).

10) Jika kita ingin mempromosikan pendidikan lebih demokratis maka kita perlu mempromosikan aspek multi budaya sebagai kakayaan yang perlu dikembangkan. Otonomi daerah dan desentralisasi perlu ditempatkan dalam kedudukan yang proporsional. Untuk poin ini saya menilai 6 (enam)

Rata-rata penilaian saya terhadap sistem pendidikan kita dilihat dari segi promosi pendidikan yang bersifat demokratis adalah

(4+5+5+3+3+7+5+4+4+6)/10 = 5 (lima)

Kesimpulan:

Dengan nilai 5, maka kesimpulan saya terhadap wajah sistem pendidikan kita adalah sebagai berikut:

1. Dapat dimengerti masih banyaknya persoalan-persoalan yang perlu dipikirkan baik secara substansial maupun pada implementasinya.
2. Sistem pendidikan kita belum menggambarkan wajah dan tubuh yang konsisten bagi dipromosikannya pendidikan yang lebih demokratis. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor baik yang mandasar maupun oleh para pelaku kependidikannya.
3. Namun, masih terdapat harapan besar agar sistem pendidikan kita kedepan mampu memberikan nuansa pendidikan yang demokratis.

16 comments:

  1. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Sistem pendidikan Indonesia diharapkan mampu memberikan nuansa pendidikan yang demokratis sesuai dengan Pancasila. Suatu sistem yang sehat adalah sistem yang mempunyai:
    1) obyek material dan obyek formal
    2) struktur yang jelas dan bersifat terbuka yang menggambarkan bentuk wajah, tubuh, lengan dan kaki-kaki secara jelas pula,
    3) hubungan yang jelas antara komponen dalam struktur,
    4) konsisten antara hubungan yang satu dengan yang lain baik hubungan secara substantial maupun hubungan secara struktural,
    5) didukung oleh pelaku-pelaku dan komponen yang sesuai baik secara hakikinya, pendekatannya maupun ditinjau dari aspek kemanfaatannya,
    6) peluang bagi segenap komponen yang ada untuk saling belajar dan dipelajari,
    7) bersifat kompak dan komprehensif,
    8) menggambarkan perjalanan sejarah waktu lampau, sekarang dan yang akan datang,
    9) serta menampung semua aspirasi dan keterlibatan subyek dan obyek beserta segala aspeknya.
    Kurikulum yang senantiasa beubah mengikuti perkembangan zaman dan kurikulum 2013 yang sekarang diterapkan diharapkan dapat memberikan peran dalam membentuk sistem pendidikan yang benuansa demokratis.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  2. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Saya setuju pada bagian merefleksikan bentuk pendidikan nasional kita poin nomor 5 yaitu jika kita ingin mempromosikan pendidikan lebih demokratis maka harus mendorong mengembangkan aspek budaya masyarakat dan mengfungsikan pendidikan sebagai system pelayanan terhadap kebutuhan masyarakat akan pendidikan. Kebutuhan masyarakan hendaknya diartikan secara mendalam dan seluas-luasnya, termasuk paradigma bahwa subyek didik itulah sebenar-benar yang membutuhkan pendidikan.

    Menurut saya, kebutuhan masyarakat akan pendidikan tidak hanya terdidik pada ilmu pengetahuan saja, tapi juga harus terdidik secara perkembangan karakternya. Contohnya sekarang saja anak kelas 5 tingkat Sekolah Dasar setiap hari harus membawa tas berat dengan buku yang banyak, untuk 1 mata pelajaran saja bisa sampai 4 buku tulis dari buku catatan hingga latihan-latihan. Hal ini menunjukkan bahwa di sekolah lebih sering memperhatikan perkembangan siswa dari segi aspek kognitif saja namun lupa terhadap aspek afektifnya. Padahal, perkembangan karakter sangat menolong seseorang untuk bertahan hidup kelak ketika berada di lingungan baru.
    Demikian pendapat saya, terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  3. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Pendidikan yang demokratis adalah pendidikan yang semua masyarakat inginkan. oleh karena itu kita harus tetap memperjuangkannya hingga bisa tercapai. pendidikan harus berjalan dua arah, yaitu pendidikan menurut guru dan menurut murid. jika pendapat guru dan siswa dapat disatukan untuk melaksanakan pembelajaran, maka akan terjadi pendidikan yang benar-benar di inginkan oleh semua pihak. seperti itu lah pendapat saya mengenai pendidikan yang demokratis.

    ReplyDelete
  4. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    Pend. Mtk B

    Pendidikan bernuansa demokratis artinya pendidikan harus sesuai dan dapat diterima oleh berbagai kalangan di Indonesia. Pendidikan bernuasa demokratis sesuai untuk bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku, bahasa, agama dan budaya. Dalam sistem pendidikan Indonesia saat ini belum sepenuhnya menjadi sistem pendidikan yang bernuasa demokratis. Masih terdapat beberapa persoalan yang harus dipecahkan untuk mencapai sistem pendidikan yang bernuasa demokratis. Namun, kita tidak boleh berhenti berharap untuk tercapainya sistem pendidikan yang bernuasa demokratis. Hal itu, karena pendidikan di Indonesia ini sedang berproses dan selalu berproses untuk menjadi lebih baik. Salah satunya dengan selalu adanya perbaikan kurikulum yang disesuaikan dengan era globalisasi. Terima Kasih

    ReplyDelete
  5. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pedidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Saya membaca dan memahami tulisan Bapak mengenai wajah dan potret pendidikan di Indonesia saat ini memang harapan pendidikan di Indonesia masih jauh dari harapan. Banyak upaya dan kerja keras yang harus dilakukan untuk mempromosikan pendidikan yang demokratis Pancasila tersebut. Seluruh stackholder pendidikan harus terlibat aktif dalam mewujudkan pendidikan yang demokratis. Tidak mudah untuk melakukannya, namun bukan berarti tidak mungkin. Misalnya saja pemerintah dari Kementrian Pendidikan Nasional yang menggaungkan program pendidikan karakter sejak tahun 2010, sampai saat ini masih mengalami banyak masalah dalam mewujudkan hal tersebut. Gejala-gejala seperti tawuran, siswa menjadi korban pemerkosaan, siswa yang menjadi korban peredaran obat-obatan terlarang seperti narkoba, siswa yang suka menyontek dan masih banyak yang lain lagi, merupakan beberapa contoh gagal atau kurang maksimalnya program pendidikan karakter tersebut. Mengacu dari hal tersebut tidak mudah untuk melaksanakan suatu program yang telah dirancang, butuh waktu lama dan kekonsistenan dalam menjalankannya. Namun demikian, kita tetap tidak boleh pesimis dan harus semangat untuk mewujudkan pendidikan demokratis Pancasila.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  6. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Pendidikan yang demokratis merupakan proses pendidikan yang hubungan antara guru dan murid dapat berimbang sehingga bisa saling menyampaikan pendapat dan pikiran. Artinya, bukan hanya guru yang mengajar atau memberikan informasi namun siswa juga perlu diberikan fasilitas untuk mampu mengemukakan pendapatnya, menemukan sendiri apa yang ia cari,dan menunjukkan kemampuan yang dimilikinya. untuk mendukung hal tersebut, saat ini sedang dikembangkan pembelajaran student centered yaitu pembelajaran yang berpusat kepada siswa.
    Memang tidak mudah dalam mempraktikkan pendidikan yang demokratis ini. Hal ini barangkali masih kuatnya pandangan bahwa guru tentu lebih pandai dan mempunyai ilmu pengetahuan yang banyak ketimbang muridnya. hal ini memang benar adanya. Guru memang dikatakan sebagai sentral dalam pelaksanaan pendidikan. Dalam proses belajar mengajar, para murid tidak bisa beraktivitas yang disebut sebagai pendidikan ini secara baik bila tanpa adanya seorang guru. Maka, guru mempunyai peran yang sangat penting dan dominan dalam keberhasilan sebuah pendidikan. meskipun adanya guru namun siswa tidak ada keinginan untuk belajar mungkin juga tidak terjadi proses belajar, seharusnya siswa lebih aktif. untuk mencapai pendidikan demokratis ini harus adanya hubungan yang serasi antara siswa dan guru.

    ReplyDelete
  7. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Saya setuju dengan isi postingan di atas. Terdapat satu poin yang terlihat menarik di mata saya, yaitu: "Jika kita ingin mempromosikan pendidikan lebih demokratis maka kita perlu mengembangkan sistem evaluasi yang bersifat terbuka dan berbasis pada pelaku pendidikan. Evaluasi pendidikan hendaknya berdasar kepada catatan atau portfolio yang menunjukkan tidak hanya hasil tetapi juga proses".
    Sistem evaluasi yang terbuka dan berbasis pelaku pendidikan, evaluasi pendidikan hendaknya berdasar pada catatan atau portofolio siswa. Sudah jelas bukan? bahwa sudah semestinya yang mengetahui hasil belajar siswa dan yang berhak memberikan penilaian adalah guru. Saya tertarik dengan poin ini, karena realita yang terjadi di Indonesia terjadi ketidakseimbangan tujuan, bukan lagi pada proses, akan tetapi pada hasil. Evaluasi yang digadang-gadang adalah nilai UN. Murid yang hebat adalah dia yang nilai UN nya tinggi. Realitanya begitu bukan? Hal ini diperkuat dengan sistem rekrutmen siswa baru dengan berpedoman pada nilai UN. Sehingga boleh dikatakan bahwa pendidikan saat ini tidak begitu memperdulikan bagaimana proses murid mencapai pengetahuaannya, akan tetapi hanya berapa besar nilai ujian akhirnya. Hal ini mengakibatkan munculnya budaya-budaya pragmatis dan instan pada pendidikan di Indonesia, sebut saja kecurangan UN dan lain sebagainya. Sesungguhnya motivasi pendidikan yang berorientasi pada pencapaian nilai adalah pendidikan yang membelenggu. Sangat jauh dari konteks demokrasi.

    ReplyDelete
  8. Assalamu'alaikum wr.wb.

    Pendidikan yang demokratis terjadi ketika ada keterkaitan antara semua aspek pendidikan. Pendidikan yang memberikan kesempatan terbuka untuk semua kalangan pendidikan untuk bersama-sama meningkatkan mutu pembelajaran. Saat ini mungkin pendidikan di Indonesia masih belum seperti yang diingankan. namun demikian ada harapan besar terhadap kualitas pendidikan di Indonesia. Harapan itu ada pada siswa dan guru juga segala aspek lainnya. Jika guru di Indonesia maju maka akan dapat mengelola pembelajaran dengan kreatif, inovati, dan bervariasi, sehingga siswa pun akan mengikuti pembelajaran dengan senang dan pembelajaran pun menjadi bermakna. Adanya pergantian kurikulum diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Jika kita lihat saat ini kurikulum 2013 sudah mengarah ke student center yang dikemas dengan suatu kasus permasalahan yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.

    Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    ReplyDelete
  9. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Setelah saya membaca artike bapak mengenai pendidikan yang demokratis, saya membayangkan sebuah sistem pendidikan yang benar-benar memanusiakan manusia. Sekolah memberikan fasilitas kepada siswa untuk belajar hidup dan menjalankan kehidupan. Bukan sekedar sekolah yang membuat siswa datang, mendengarkan guru, menhapal rumus lalu lulus dengan batas minimal nilai tertentu. Namun, sekolah yang mampu memberikan bekal kepada siswa untuk mampu berkembang dan mengembangkan kehidupan masyarakat, sekolah yang mampu memberikan ketermapilan bertahan hidup kepada siswanya dan sekolah yang mampu menciptakan siswa yang memiliki tenggang rasa terhadap sesama tanpa melupakan hakikat hidup adalah untuk beribadah kepada Tuhannya.

    ReplyDelete
  10. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Artikel di atas berisi hal-hal yang perlu diusahakan dalam rangka mempromosikan pedidikan yang demokratis. Salah satu usaha yang dapat dilakukan yaitu dengan mengembangkan masyarakat dan kehidupan secara komprehensif untuk menyadarkan dan mengembangkan seluruh potensi atau kemampuan yang dimiliki oleh masyarakat secara bersama-sama. Hal ini bertujuan untuk memanfaatkan sumberdaya yang ada di lingkungan sekitar sehingga dapat mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, dengan mengembangkan masyarakat diharapkan dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Sebagai contoh penggangguran dan kemiskinan. Masalah tersebut dapat diatasi dengan menumbuhkan inisiatif masyarakat dan memberikan pinjaman modal untuk berwirausaha. Dengan demikian masyarakat mampu "berdaya" dan "memberdayakan" orang lain.

    ReplyDelete
  11. Gamarina Isti R
    Pendidkan
    17790251036 Matematika Kelas B

    Pendidikan nasional telah lama dirumuskan sebelum dan sesudah Indonesia merdeka, namun untuk pengesahaannya telah terdapat pada UUD 1945 pasal 3 dan pada Pancasila. Oleh karena itu visi pendidikan nasional juga harus bernafaskan demokrasi Pancasila,.
    aspek implementasi pada bagian dan subbagian pendidikan nasional juga harus dijiwai oleh semangat Demokrasi Pancasila. Oleh karena itu untuk mewujudkannya diperlukan beberapa aspek mendukung yaitu : (1) mempromosikan kreativitas, (2) menuju nilai keadilan dan kemerdekaan, (3) demi kesejahteraan warga, (3) mendorong partisipasi subjek, (4) adanya inovasi, (5) mengembangkan aspek budaya masyarakat, (6) mengembangkan masyarakat yang komprehensif, (7) komunikasi multiarah dan mandiri, (8) memperhatikan lingkungan kehidupan sosial, (9) sistem evaluasi yang terbuka, (10) mengembangkan aspek budaya

    ReplyDelete
  12. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Pendidikan yang demokratis merupakan dambaan bagi seluruh warga indonesia, karena pada kenyataanya pendidikan kita belum mendekati pada tahap demokatis. Salah satu faktor yang menyebabkan kualitas pendidikan yang selama ini saya alami kurang demokratis yaitu lemahnya pendidik dalam menggali potensi ataupun bakat peserta didik. Hal yang seringkali terjadi yaitu pendidik memaksakan kehendaknya tanpa memperhatikan minat, kebutuhan, dan bakat yang dimiliki peserta didiknya. Seharus yang perlu diperhatikan pendidik yaitu kebutuhan peserta didik bukannya memaksakan sesuatu yang membuat peserta didik malah tidak nyaman dalam belajar. Proses pendidikan yang baik itu dengan cara memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada peserta didik untuk kreatif dan inovatif.

    ReplyDelete
  13. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Maematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    penilaian yang menarik bagi saya seelah membaca artikel ini. ternyata raport pendidikan di negara kita masih rendah. tapi penilaian ini adalah penilaian 8 tahun yang lalu. saya penasaran dengan penilaian saat ini, apakah mungkin meningkat? tetap? atau bahkan turun?

    ReplyDelete
  14. Rosnida Nuhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Semoga tulisan ini dibaca oleh salah satu pengampu kebijakan pendidikan di Indonesia, sehingga bisa menambah wawasan agar dalam mengembangkan kebijakan pendidikan tidak hanya terpusat oleh golongan yang di atas saja. Dan mungkin lebih bisa turun ke bawah meamantau langsung bagaimana penerapan kebijakan tersebut.

    ReplyDelete
  15. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Sistem pendidikan Indonesia yang dicita-citakan oleh rakyatnya adalah sistem pendidikan yang lebih demokratis. Saya setuju dengan kesimpulan dari bacaan di atas terhadap wajah pendidikan Indonesia saat ini. Persoalan-persoalan yang masih berserakan di Indonesia menjadikan pendidikan demokratis tersebut belum tercapai. Tidak hanya persoalan secara substansi namun implementasinya juga belum terlaksana secara optimal, pendidikan tidak dirasakan secara merata oleh rakyat Indonesia. Selain itu faktor-faktor mendasar maupun para pelaku kependidikannya belum menggambarkan wajah demokratis pendidikan Indonesia. Menurut saya hal itu disebabkan oleh kegamangan untuk menetapkan bagaimana wajah pendidikan Indonesia itu sendiri. Dan diluar dari itu semua, masih besar harapan rakyat Indonesia untuk mengidamkan sistem pendidikan kita kedepan dapat memberikan nuansa pendidikan yang demokratis.

    ReplyDelete
  16. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Assalammualaikum Wr.Wb
    Jika kita ingin mempromosikan pendidikan lebih demokratis maka pandangan tentang keilmuan seyogyanya mempromosikan kreativitas serta merupakan bagian dari pengembangan masyarakat pada umumnya, pandangan tentang value haruslah menuju ke keadilan dan kemerdekaan berpikir serta mendorong pengembangan aspek-aspek humanity, harus mendorong diadakannya inovasi atau perubahan secara terus menerus di segala aspeknya semata-mata demi kesejahteraan semua warga, harus mendorong partisipasi subyek pendidikan, harus mendorong mengembangkan aspek budaya masyarakat dan mengfungsikan pendidikan sebagai system pelayanan terhadap kebutuhan masyarakat akan pendidikan, tujuan pendidikan seyogyanya harus meliputi usaha-usaha mengembangkan masyarakat dan kehidupan seutuhnya secara komprehensif, kita perlu mempromosikan komunikasi multi arah dan kemandirian, perlu mempromosikan lingkungan kehidupan sosial kemasyarakatan sebagai konteks praktik kependidikan, perlu mengembangkan sistem evaluasi yang bersifat terbuka dan berbasis pada pelaku pendidikan, perlu mempromosikan aspek multi budaya sebagai kakayaan yang perlu dikembangkan. Jadi semua itu harus terlaksanakan agar pendidikan dapat terpromosikan lebih demokratis.

    ReplyDelete