Jul 16, 2012

Elegi Pertengkaran Para Orang Tua Berambut Putih




Oleh: Marsigit

Orang Tua Berambut Putih Duduk Sendiri:


Aku duduk di sini. Maka aku yang telah mengaku sebagai orang tua berambut putih serta merta aku menyadari bahwa ketika aku duduk di sini, aku menjumpai ada aku yang duduk di sini, aku merasakan ada duduk dan aku mengerti ada di sini.


Tetapi serta merta pula jika yang demikian aku renungkan maka aku menyadari ada diri yang bukan aku, ada diri yang sedang tidak duduk dan ada diri yang di sana. Kalau aku perjelas refleksiku itu maka aku menemukan bahwa aku yang duduk di sini menyebabkan ada yang bukan aku yang tidak duduk di sini maupun yang duduk di sana. Aku terkejut karena aku menemukan bahwa ada aku yang tidak duduk di sini, dan ada diri yang bukan aku duduk di sini. Padahal aku telah mengaku bahwa aku duduk di sisini. Maka aku bertanya siapakah aku yang tidak duduk di sini, dan siapakah diri bukan aku yang duduk di sini. Pertanyaan itu ternyata dapat saya lanjutkan, siapakah aku yang duduk di sini dan siapakah aku yang tidak duduk di sini? Saya juga bisa bertanya siapakah aku yang duduk di sini dan siapakah bukan aku yang duduk di sini? Ternyata pertanyaan itu menyebabkan pertanyaanku yang berikutnya. Kalau begitu apakah ada aku yang bukan aku, duduk yang tidak duduk, di sini tetapi tidak di sini?. Aku menjadi teringat dengan pepatah jawa “ngono ning ojo ngono”. Apakah ada ngono yang bukan ngono, dan ojo ning bukan ojo? Kalau orang jawa saja sejak nenek moyang sudah mempunyai ngono ning ojo ngono, maka enehkah jika sekarang aku bertanya aku tetapi bukan aku, duduk tetapi bukan duduk, dan di sini tetapi bukan di sini? Kalau ini masih dianggap aneh maka sesungguhnyalah kita telah kehilangan dan tidak mampu memahamiwarisan leluhur.


Orang Tua Berambut Putih (pertama) Bertemu Dengan Orang Tua Berambut Putih Yang Lain (kedua):

Orang Tua Berambut Putih kedua:

Salam. Sesungguhnyalah aku mengikuti segala yang engkau pikirkan. Akulah mungkin aku yang bukan dirimu. Kemudian engkau mungkin bertanya apakah aku itulah yang tidak duduk di sini, atau apakah akulah yang duduk di sana, atau apakah akulah yang tidak duduk di sana? Tetapi setidaknya engkau telah berkata bahwa aku duduk di sini. Maka aku pun kemudian bertanya siapakah yang engkau maksud sebagai aku yang duduk di sini? Siapakah yang engkau maksud sebagai bukan aku yang duduk di sini? Siapakah yang engkau maksud aku yang tidak duduk di sini? Siapakah yang engkau maksud aku yang duduk di sana? Siapakah yang engkau maksud aku yang tidak duduk di sana? Siapakah yang engkau maksud bukan aku yang tidak duduk di sana?

Orang Tua berambut Putih Pertama:

Salam kembali. Sesungguhnya pula aku juga menyadari bahwa engkau yang bukan aku telah mengetahui pikiranku sedari awal. Namun ketahuilah bahwa sebenar-benar yang terjadi bahwa aku juga mengerti tentang pikiranmu sedari awal seawal-awalnya. Maka aku juga ingin bertanya mengapa engkau bertanya tentang aku yang duduk di sini? Padahal engkau tahu bahwa aku telah duduk di sini dan engkau yang bukan aku juga duduk di sini. Jadi sebetulnya siapakah engkau yang duduk di sini? Apakah engkau yang tidak duduk di sini? Apakah engkau juga duduk tidak di sini? Apakah engkau juga tidak duduk tidak di sini?

Orang Tua Berambut Putih Kedua:

Sesungguh-sungguhnya aku telah mengerti bahwa engkau akan mengajukan pertanyaan seperti itu, tetapi aku ragu apakah aku mengerti atau tidak mengerti jawabanmu.

Orang Tua Berambut Putih Pertama:

Sesungguh-sungguhnya aku juga telah mengerti bahwa engkau akan memberi komentar seperti itu, tetapi aku ragu apakah aku mengerti atau tidak mengerti komentarmu.

Orang Tua Berambut Putih Kedua:

Sesungguh-sungguhnya aku juga telah mengerti bahwa engkau akan memberi komentar seperti itu, tetapi aku ragu apakah aku mengerti atau tidak mengerti komentarmu.

Orang Tua Berambut Putih Pertama:

Mengapa engkau selalu menirukanku?

Orang Tua Berambut Putih Kedua:

Mengapa engka selalu menirukanku?

Orang Tua Berambut Putih Pertama:

Kalau begitu apa maumu?

Orang Tua Berambut Putih Kedua:

Kalau begitu apa maumu?

Orang Tua Berambut Putih Ketiga Menjumpai Ada Dua Orang Berambut Putih Berkelahi:

Wahai para orang tua. Mengapa sesama orang tua seperti engkau berdua saling berhantam? Apa kau pikir yang ada di sini cuma engkau berdua? Sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa aku telah mengerti pikiranmu berdua sedari awal. Apakah engkau berdua tidak mengerti bahwa sedari awal aku telah duduk di sini bersamamu? Maka apalah gunanya mengapa engkau saling bertengkar? Bukankah saling bertukar pikiran itu lebih baik dari pada berkelahi.

Orang Tua Berambut Putih Pertama dan Kedua Secara bersama-sama menjawab:

Sesungguhnya pula aku juga menyadari bahwa engkau yang bukan aku telah mengetahui pikiranku berdua sedari awal. Namun ketahuilah bahwa sebenar-benar yang terjadi bahwa aku berdua juga mengerti tentang pikiranmu sedari awal seawal-awalnya. Maka aku berdua juga ingin bertanya mengapa engkau bertanya tentang aku berdua yang duduk di sini? Padahal engkau tahu bahwa aku berdua telah duduk di sini dan engkau yang bukan aku berdua juga duduk di sini. Jadi sebetulnya siapakah engkau yang duduk di sini? Apakah engkau juga tidak duduk di sini? Apakah engkau juga duduk tidak di sini? Apakah engkau juga tidak duduk tidak di sini?

Orang Tua Berambut Putih Ketiga:

Sesungguh-sungguhnya aku telah mengerti bahwa engkau berdua akan mengajukan pertanyaan seperti itu, tetapi aku ragu apakah aku mengerti atau tidak mengerti jawabanmu berdua.

Orang Tua Berambut Putih Pertama dan Kedua Secara bersama-sama menjawab:

Sesungguh-sungguhnya aku berdua juga telah mengerti bahwa engkau akan memberi komentar seperti itu, tetapi aku berdua ragu apakah aku berdua mengerti atau tidak mengerti komentarmu.

Orang Tua Berambut Putih Ketiga:

Sesungguh-sungguhnya aku juga telah mengerti bahwa engkau berdua akan memberi komentar seperti itu, tetapi aku ragu apakah aku mengerti atau tidak mengerti komentarmu berdua.

Orang Tua Berambut Putih Pertama dan Kedua Secara bersama-sama menjawab:

Mengapa engkau selalu menirukanku?

Orang Tua Berambut Putih Ketiga:
Mengapa engkau selalu menirukanku?

Orang Tua Berambut Putih Pertama dan Kedua Secara bersama-sama menjawab:

Kalau begitu apa maumu?

Orang Tua Berambut Putih Ketiga:
Kalau begitu apa maumu?

Orang Tua Berambut Putih Keempat Menjumpai Ada Tiga Orang Berambut Putih Berkelai:
Wahai para orang tua. Mengapa sesama orang tua seperti engkau bertiga saling berhantam? Apa kau pikir yang ada di sini cuma engkau bertiga? Sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa aku telah mengerti pikiranmu bertiga sedari awal. Apakah engkau bertiga tidak mengerti bahwa sedari awal aku telah duduk di sini bersamamu? Maka apalah gunanya mengapa engkau saling bertengkar? Bukankah saling bertukar pikiran itu lebih baik dari pada berkelahi.

Orang Tua Berambut Putih Pertama, Kedua dan Ketiga Secara bersama-sama menjawab:
Sesungguhnya pula aku juga menyadari bahwa engkau yang bukan aku telah mengetahui pikiranku berdua sedari awal. Namun ketahuilah bahwa sebenar-benar yang terjadi bahwa aku bertiga juga mengerti tentang pikiranmu sedari awal seawal-awalnya. Maka aku bertiga juga ingin bertanya mengapa engkau bertanya tentang aku bertiga yang duduk di sini? Padahal engkau tahu bahwa aku bertiga telah duduk di sini dan engkau yang bukan aku bertiga juga duduk di sini. Jadi sebetulnya siapakah engkau yang duduk di sini? Apakah engkau juga tidak duduk di sini? Apakah engkau juga duduk tidak di sini? Apakah engkau juga tidak duduk tidak di sini?

Orang Tua Berambut Putih Keempat:
Sesungguh-sungguhnya aku telah mengerti bahwa engkau bertiga akan mengajukan pertanyaan seperti itu, tetapi aku ragu apakah aku mengerti atau tidak mengerti jawabanmu bertiga.

Orang Tua Berambut Putih Pertama, Kedua dan Ketiga Secara bersama-sama menjawab:

Sesungguh-sungguhnya aku bertiga juga telah mengerti bahwa engkau akan memberi komentar seperti itu, tetapi aku bertiga ragu apakah aku bertiga mengerti atau tidak mengerti komentarmu.

Orang Tua Berambut Putih Keempat:
Sesungguh-sungguhnya aku juga telah mengerti bahwa engkau bertiga akan memberi komentar seperti itu, tetapi aku ragu apakah aku mengerti atau tidak mengerti komentarmu bertiga.

Orang Tua Berambut Putih Pertama, Kedua dan Ketiga Secara bersama-sama menjawab:

Mengapa engkau selalu menirukanku?

Orang Tua Berambut Putih Keempat:
Mengapa engkau selalu menirukanku?

Orang Tua Berambut Putih Pertama, Kedua dan Ketiga Secara bersama-sama menjawab:
Kalau begitu apa maumu?

Orang Tua Berambut Putih Keempat:
Kalau begitu apa maumu?

Orang Tua Berambut Putih Kelima Menjumpai Ada Empat Orang Berambut Putih Berkelahi:

.....
Orang Tua Berambut Putih Keseribu Menjumpai Ada Sembilan Ratus Sembilan Puluh Sembilan Orang Tua Berambut Putih Berkelai.
.....
Orang Tua Berambut Putih Ke-n Menjumpai Ada n-1 Orang Berambut Putih Berkelahi:
.....
Ada diri yang bukan mereka menjumpai mereka berkelahi:

Aku sendiri tidak tahu siapakah diriku. Apakah diriku itu diriku atau bukan diriku. Aku juga tidak tahu apakah diriku adalah satu dari mereka? Aku juga tidak tahu apakah aku tahu pikiran mereka sedari awal? Aku juga tidak tahu apakah aku duduk? Aku juga tidak tahu apakah aku di sini atau tidak di sini? Aku tidak tahu apakah mereka mengetahui pikiranku sedari awal. Aku tidak tahu apakah mereka tahu atau tidak tahu aku di sini atau tidak di sini, aku duduk atau aku tidak duduk? Aku tidak tahu apakah yang akan mereka tanyakan? Aku tidak tahu apakah yang mereka akan komentari. Aku tidak tahu apakah mereka akan selalu menirukanku? Aku tidak tahu apakah aku akan selalu menirukannya. Aku tidak tahu apakah aku juga akan berkelahi atau tidak akan berkelahi dengan mereka? Aku tidak tahu apakah jika aku berkelahi dengan mereka maka akan ada diri yang bukan diriku dan bukan diri mereka yang juga mengetahui pikiranku dan pikiran mereka sedari awal? Oleh karena aku banyak tidak tahu banyak maka aku tidak dapat mengatakan bahwa aku mengerti mereka atau tidak mengerti mereka. Tetapi ada yang aku tahu yaitu bahwa setidaknya aku tahu bahwa para orang tua itu saling merasa dan mengaku mengetahui para orang tua yang lainnya. Tidak hanya itu para orang tua itu bahwa saling bertengkar bahkan saling berkelahi. Tetapi aku juga tidak tahu apakah aku termasuk diantara mereka. Dan aku tidak tahu apakah aku sedang berkata tentang pengetahuanku atau ketidak tahuanku. Sehingga dapat aku simpulkan bahwa yang jelas-jelas aku tahu adalah aku tidak tahu siapakah diriku itu. Itulah sebenar-benar bahwa aku tidaklah mengatahui siapakah diriku itu. Tetapi aku mengetahui bahwa setidaknya aku bisa mengucapkan kalimatku yang terakhir. Maka akupun tidak tahu apakah itu batas ku yang ingin ku gapai. Artinya aku tidak bisa menjawab apakah aku bisa menggapai batasku.

Diantara Penonton Perkelahian Terdapatlah Guru Matematika Bersama Siswanya

Siswa:
Guru apakah engkau melihat perkelahian itu?

Guru matematika:
Ya aku sedang melihat perkelahian itu. Rupanya perkelahian itu sangat seru, tetapi aku tidak tahu mengapa mereka berkelahi, kapan mulai berkelahi dan kapan selesai berkelahi? Kelihatannya perkelahian diantara para orang tua berambut putih itu memang sebuah misteri.

Siswa:
Guru, bukankah engkau telah mengajariku matematika. Apakah aku bisa menggunakan matematika yang telah engkau ajarkan kepadaku untuk memecahkan misteri perkelahian itu.

Guru matematika:
Oh muridku pertanyaanmu sungguh cerdas. Tetapi ketahuilah bahwa matematika yang telah engkau pelajari hanya sebagian kecil saja dapat bisa memecah misteri perkelahian itu.

Siswa:
Apa contohnya Pak guru?

Guru matematika:
Jikalau engkau perhatikan, pertama ada 1 orang tua berambut putih, kemudian datang orang tua berambut putih ke 2, kemudian datang orang tua berambut putih ke 3, ke 4, ke 5, ... dst.

Siswa:
Oh aku tahu Pak Guru. Bukankah itu barisan bilangan? Kalau bilangan menunjukkan nomor urut dari orang tua berambut putih yang datang, maka aku menemukan barisan bilangan itu sebagai: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, ..... dst.

Guru matematika:
Bagus, betul sekali kamu. Untuk yang ini engkau mendapat nilai 10.

Siswa:
Tetapi guru, aku juga menemukan kalau kita ingin mengetahui banyaknya orang tua berambut putih pada stuatu saat maka aku juga bisa. Yaitu aku menemukan deret matematika sebagai:
1+1+1+1+1+1+1+... dst

Guru matematika:
Bagus, betul sekali kamu. Untuk yang ini engkau mendapat nilai 10.

Siswa:
Tetapi guru, kenapa mereka berkelahi?

Guru matematika:
Aku juga tidak tahu. Coba mari kita tanyakan kepada dosen yang pernah memberi kuliah Filsafat Pendidikan Matematika . Wahai dosen, dapatkah engkau menerangkan pertanyaan siswaku ini, mengapa para orang tua berambut putih itu saling berkelahi?

Dosen:
Terimakasih Pak Guru Matematika. Sebenarnya jawabanku hanyalah untuk Pak Guru saja, karena aku terikat oleh ruang dan waktu sehingga tidak mampu menjelaskan perkara ini kepada siswamu.

Guru matematika:
Baiklah, maka terangkanlah kepadaku, karena kebetulan siswaku tadi sudah pergi.

Dosen:
Menurut pengamatanku setiap orang tua berambut putih itu mengaku diri sebagai ilmu. Berarti aku dapat menyimpulkan bahwa mereka itu sebenar-benarnya adalah satu, yaitu ilmu itu sendiri.
Mengapa pada suatu saat kita melihat mereka sebagai banyak? Itulah sebenar-benar ilmu. Hakekat ilmu adalah multirupa. Dia bisa menempati satu titik sekaligus untuk wajahnya yang banyak, tetapi dia juga bisa menempati tempat yang banyak untuk wajahnya yang satu.

Guru matematika:
Mengapa dia mulai dari yang satu.

Dosen:
Saya tidak tahu persis darimana datang orang tua berambut putih pertama. Tetapi baiklah jikalau menganggap bahwa mereka dimulai dari seorang tua berambut putih, maka dapat aku katakan bahwa yang satu itupun disebut permulaan. Maka setiap permulaan selalu ada akhir di situ. Ketahuilah bahwa sebenar-benar pondasi adalah suatu permulaan. Maka jika mereka mengakui memulai dari seorang tua berambut putih, maka sebenar-benar mereka ingin menunjukkan bahwa mereka adalah suatu ilmu yang mempunyai pondasi. Itulah sifat suatu ilmu, bahwa suatu ilmu tentulah mempunyai pondasi.

Guru metamatika:
Dosen, mengapa setiap orang tua berambut putih yang datang kemudian terlibat perkelahian?

Dosen:
Hendaknya engkau waspada dan jernih dalam memandang. Mereka juga ingin menunjukkan kepada kita bahwa tiadalah suatu ilmu didapat tanpa perkelahian. Tetapi hendaknya engkau juga jangan salah paham. Perkelahian yang dimaksud di sini adalah perkelahian dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya.

Guru matematika:
Aku belum paham penjelasanmu yang terakhir, dosen?

Dosen:
Ituylah yang pernah diakui oleh orang tua berambut puth yang lain. Bahwa sebenar-benar perkelahian dalam ilmu adalah metode sintetik yang sesuai dengan prinsip kontradiktif.

Guru matematika:
Aku semakin tambah bingung, dosen?

Dosen:
Ambil seumpama contoh pertanyaanku ini. "Apakah engkau seorang guru?"

Guru matematika:
Jelas. Siapa yang meragukan bahwa saya seorang guru?

Dosen:
Akulah orang pertama yang meragukan.

Guru matematika:
Kenapa engkau meragukan bahwa saya seorang guru?

Dosen:
Ya, karena sebenar-benar bahwa "engkau" tidaklah sama dengan "guru". Sebelum aku tahu persis siapa engkau, dan sebelum aku tahu persis siapa guru, maka aku tidak akan pernah mengatakan bahwa engkau sama dengan guru.

Guru matematika:
Aku dapat membuktikan bahwa aku memang betul-betul guru. Bahkan aku sudah mempunyai Sertifikat Pendidik Profesional. Ini sertifikatnya. Apakah engkau masih ragu?

Dosen:
Ya benar aku masih ragu, karena aku pun menemukan bahwa "sertifikat" itu tidak sama dengan "guru". Maka aku pun belum dapat mengatakan bahwa sertifikatmu menunjukkan bahwa engkau seorang guru.

Guru matematika:
Kalau begitu engkau adalah seorang dosen yang keterlaluan. Mengapa engkau tidak percaya dengan sertifikat yang engkau buat sendiri.

Dosen:
Jangan salah paham. Yang aku maksud dengan sertifikat adalah sebenar-benar sertifikat dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Dan yang aku maksud sebagai guru, adalah guru dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya.

Guru matematika:
Kalau begitu coba lihatlah. Aku akan tunjukkan kepadamu bagaimana aku bisa mengajar matematika di depan kelas. Lihatlah gerakanku, lihatlah murid-muridku, dengarlah suaraku.

Dosen:
Aku juga menemukan bahwa ternyata "gerakanmu" tidaklah sama dengan "mengajar", "suaramu" tidaklah sama dengan "mengajar". "muridmu" tidaklah sama dengan "mengajarmu".

Guru matematika:
Lantas apa lagi, Dosen? Aku harus berbuat apa agar engkau yakin bahwa aku adalah seorang guru. Aku sebagai seorang gurupun engkau belum yakin, apalagi bahwa aku sebagai seorang guru matematika.

Dosen:
Baiklah, walaupun aku tidak dapat memperoleh keyakinanku seratus persen, tetapi setidaknya keyakinan itu sudah mulai ada. Karena penjelasanmu, karena uraianmu, karena contoh-contohmu, karena demonstrasimu itulah aku mulai yakin bahwa engkau adalah seorang guru, bahkan guru matematika. Itulah betapa sulitnya menjawab pertanyaanku yang pertama, yaitu "Apakah engkau seorang guru?".

Guru matematika:
Kalau Dosen sudah ada keyakinan bahwa aku seorang guru, maka bagaimana selanjutnya?

Dosen:
Itulah sebenar-benar jawaban pertanyaanmu yang lebih awal tadi, yaitu mengapa para orang tua berambut putih tadi berkelahi.

Guru matematika:
Aku belum jelas, Dosen?

Dosen:
Bukankah aku dan engkau baru saja berkelahi dan masih akan berkelahi sekedar dalam rangka memperoleh pengetahuan atau ilmu yang mengatakan bahwa "Engkau adalah guru". Jika engkau sadar maka adalah ilmuku dan ilmumulah yang sedang berkelahi. Padahal engkau tahu bahwa para orang tua berambut putih itu tidak lain tidak bukan adalah ilmu, yaitu ilmuku dan ilmumu juga. Maka sebenar-benar memperoleh ilmu adalah malalui perkelahian di antara pengetahuan-pengetahuannya itu sendiri. Ilmuku adalah tesisku. Tesisku adalah anti-tesismu. Ilmumu adalah tesismu. Tesismu adalah antitesisku. Maka sebenar-benar perkelahian itu adalah "sintesis" antara tesis dan anti-tesis. Perkelahian itu atau yang disebut sebagai sintesis kemudian menghasilkan tesis-tesis baru. Tesis-tesis baru itu berdatangan seperti datangnya para orang tua berambut putih itu. Dalam rangka memperoleh tesis-tesis baru itu lah maka para orang tua berambut putih itu berkelahi.Itulah yang kemudian disebut sebagai metode berpikir sintetik dalam berpikir. Itulah sebenar-benar tempat tinggal para orang tua berambut putih, yaitu batas pikiranku dan juga batas pikiranmu. Amien.

31 comments:

  1. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Ilmu takkan diperoleh tanpa perkelahian, perkelahian di sini dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Maka sebenar-benar memperoleh ilmu adalah malalui perkelahian diantara pengetahuan-pengetahuannya itu sendiri. Dari proses perkelahian tersebut maka kita akan mendapatkan ilmu baru. Ilmu kita adalah tesis kita. Tesis kita adalah anti-tesis mereka. Ilmu mereka adalah tesis mereka. Tesis mereka adalah antithesis mereka. Maka sebenar-benar perkelahian itu adalah "sintesis" antara tesis dan anti-tesis. Dari sebuah sintesis kemudian menghasilkan tesis-tesis baru. Tesis-tesis baru itu berdatangan mendatangi ilmu awal yang disebut pondasi. Sebenar-benar tempat tinggal ilmu, yaitu batas pikiran kita.

    ReplyDelete
  2. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Dalam memperoleh ilmu pasti melewati berbagai macam perkelahian, menurut saya perkelahian disini adalah perdebatan, sharing, dan bahkan bertukar pikiran untuk emperoleh ilmu. Ilmu yang sebenarnya sama walaupun tanpa diperdebatkan. Banyak yang berpikiran sama, walaupun cara pengucapannya berbeda sehingga suatu ilmu itu terkesan berbeda.

    ReplyDelete
  3. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Ilmu adalah hal yang sangat luas, kadang kala terdepat pertentangan antara ilmu satu dan lainnya. Pertentangan antara ilmu berdampak positif dan negatif, berdampak positif jika melahirkan ilmu yang lain, dan berdampak negatif jika terjadi perpecahan dengan perbedaan pemahaman, tentu selayaknya kita memandangnya secara positif agar ilmu dapat bermanfaat dan berkembang.

    ReplyDelete
  4. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Elegi pertengkaran para orang tua berambut putih ini menjelaskan tentang pikiran sesorang dapat memikirkan yang saling berkontradiksi atau thesis dan anti-thesisnya. Seperti yang disebutkan pada elegi ini saya duduk di sini atau tidak duduk di sini. Pertengakaran yang dimaksud adalah pikiran manusia yang mana setiap manusia memiliki pengalaman dan pengetahuan dasar yang kemudian ketika mendapat pengetahuan baru, pengatahuan lama akan menyesuaikan. Pada saat pengetahuan baru tidak sesuai dengan pengetahuan lama inilah yang disebut anti-thesis yang kemudian akan membentuk pengetahuan baru lagi.

    ReplyDelete
  5. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    Ilmu pengetahuan memiliki berbagai macam cabang sesuai dengan ruang dan waktu nya. Manusia bisa berpikir dan memiliki ilmu pengetahuan dimana ilmu yang satu merupakan tesis dan anti-tesis adalah dari ilmu yang lain, sedangkan sintesisnya adalah bagaimana manusia berpikir tentang tesis dan anti-tesis tersebut sehingga menghasilakan tesis-tesis yang baru yang berupa ilmu pengetahuan baru.

    ReplyDelete
  6. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    PPs. P.Mat C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Ilmuku adalah tesisku. Tesisku adalah anti-tesismu.Maka sebenar-benar memperoleh ilmu adalah melalui perkelahian di antara pengetahuan-pengetahuannya itu sendiri. Maka sebenar-benar perkelahian itu adalah "sintesis" antara tesis dan anti-tesis. Perkelahian itu atau yang disebut sebagai sintesis kemudian menghasilkan tesis-tesis baru. Jadi, ilmu didapat dari adanya tesis dan antitesis yang kemudian menghasilkan sintesis baru dari tesis dan antitesis yang telah ada sebelumnya.

    ReplyDelete
  7. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Pertentangan para orang tua berambut putih merupakan cermin dari berbagai pertentangan yang ada dalam hati, pikiran, perkataan, dan tindakan manusia. Banyak pertentangan yang terjadi dalam hidup terlebih lagi dalam menentukan suatu keputusan. Di sinilah peran ilmu itu akan muncul dengan sendirinya yaitu membantu manusia untuk membuat keputusan-keputusan dalam perjalanan hidupnya.

    ReplyDelete
  8. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Sepemahaman saya setelah membaca elegi ini, elegi ini menceritakan mengenai hati dan pikiran kita. Cara pikir masing-masing orang berbeda-beda, sesuatu yang dianggap baik oleh seseorang belum tentu baik bagi orang lain. Maka dari itu janganlah kita memaksakan kehendak kepada orang lain.

    ReplyDelete
  9. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Untuk mendapatkan ilmu dimulai dengan pertanyaan. Dari pertanyaan tersebut dicari jawaban-jawaban yang bisa menjawab pertanyaan itu. Dalam mencari jawaban tentu saja tidak langsung mendapat jawaban yang benar. Terjadi perkelahian antara ilmu satu yang kita punya dengan ilmu lain yang kita punya. Selalu ada perbaikan jawaban terhadap jawaban yang sebelumnya sampai ditemukan keyakinan bahwa jawaban tersebut merupakan jawaban yang saat ini, yang dalam ruang dan waktu ini adalah tepat. Tetapi bisa saja jawaban yang tepat itu menjai kurang tepat jika ruang dan waktunya berubah. Begitulah cara berpikir manusia dalam mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dipunyai.

    ReplyDelete
  10. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Ilmu pengetahuan akan terus berkembang seiring dengan rasa pengetahuan yang tinggi terhadap pengembangan ilmu sehingga muncul spesialisasi ilmu bahkan penemuan teori atau ilmu baru. Teori yang ditemukan sebelumnya adalah tesis. Kebenaran akan ilmu tersebut senantiasa diuji dan diselidiki dan hasilnya bisa bertentangan dengan yang telah ada. Itulah sintesis antara tesis dan anti-tesis. Jika ditemukan kebenaran yang dapat menyangkal teori yang sebelumnya telah ditemukan atau kebenaran lain yang menjadikan teori lebih berkembang secara spesifik adalah anti tesisnya. Itulah sebenar-benar ilmu bahwa ilmu akan terus berkembang dan terus diuji konsistensinya dan kebenarannya.

    ReplyDelete
  11. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Dari artikel diatas saya dapat mengambil pelajaran bahwa untuk memperoleh ilmu pasti terjadi kontradiksa baik di pikiran, hati maupun pada intuisi. Kontradiksi disini adalah baik dari pengalaman dan kenyataan yang sedang dihadapi, maka antara satu dengan yang lainnya akan saling bertengkar di dalam pikiran, hati dan intuisi. Setelah pertengkaran berakhir maka akan memperoleh sintesis yang menjadikannya sebagai ilmu.

    ReplyDelete
  12. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari kisah elegi ini terdapat empat orang berambut putih yang beradu argumen dan bertanya satu sama lain. Dari argumen-argumen tersebut pada akhirnya terdapat persamaan yang benar-benar sama diantara mereka. Hal ini memberikan gambaran kepada kita bahwa orang Tua Berambut Putih pertama, kedua, ketiga, dan keempat sebenarnya adalah satu itulah sebenar-benarnya Ilmu. Dengan artian bahwa dalam berbagai macam ilmu haruslah menjurus pada satu tujuan yang dapat diterima oleh semua pihak.

    ReplyDelete
  13. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Setiap yang ada dan mungkin ada tidaklah sama, termasuk pengetahuan dan ilmu. Mengapa ada pertentangan? Karena ada perbedaan pendapat. Suatu tesis memang bisa saja dibantah oleh antitesisnya sejauh beralasan. Tesis-antitesis inilah yang kemudian memunculkan pengetahuan baru, dan begitu seterusnya. Yang terpenting adalah proses sintesis dalam berpikir sehingga kita dapat menggapai ilmu itu.

    ReplyDelete
  14. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Ilmu yang kita dapatkan sebenarnya merupakan hasil dari perdebatan yang terjadi dalam pikiran kita baik yang kita sadari maupun tidak kita sadari. Kita tidak serta merta menerima ilmu dengan langsung menyerapnya tanpa terjadinya pergolakan yang terjadi dalam pikiran kita. Manusia diberi akal agar manusia dapat memahami ilmu tidak hanya sebatas pada apa yang ada tanpa melalui proses berpikir yang panjang. Akal pemikiran manusiapun berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain, sehingga apa yang benar menurut seorang manusia belum tentu benar menurut yang lainnya, sehingga adanya suatu dialektik antara pemikiran manusia yang satu dengan yang lain. Oleh karena itu, dalam pembelajaran di kelas pun, guru tidak akan mungkin mentransfer ilmunya kepada siswanya, karena transfer ilmu berarti ilmu dikirim kepada siswanya dan siswa hanya menerima apa yang diberikan gurunya serta ilmu guru dan siswa haruslah sama, karena transfer merupakan proses pemindahan saja . Padahal tidak mungkin siswa menyerap ilmu tanpa terjadinya proses berpikir yang terjadi dalam diri siswa itu sendiri ketika menerima ilmu tersebut. Sehingga ilmu yang dimiliki siswa dan ilmu yang dimiliki guru tidaklah mungkin persis sama karena siswa dan guru memiliki akal pemikirannya masing-masing yang juga tidaklah sama.

    ReplyDelete
  15. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Dari elegi ini juga terlihat percakapan antara guru dengan siswa yang membahas tentang matematika. Dialog pada bagian ini memberikan gambaran bagi kita bahwa matematika itu sangat kontekstual sehingga bersifat kongkrit untuk murid kita. Namun ternyata pada akhir elegi dijelaskan bahwa orangtua berambut putih adalah memang ilmu, namun ilmu dari berbagai subyek yang berbeda. Ilmu yang dimiliki berbagai subyek akan memunculkan diskusi untuk menuju suatu obyektivitas hal yang dibahas, maka timbullah perseteruan antar ilmu yang dimiliki.

    ReplyDelete
  16. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Pada awalnya saya berpikir bahwa orangtua berambut putih adalah ilmu-ilmu yang kita miliki dalam diri kita, lebih dalam lagi bahwa orang tua berambut putih adalah diri kita. Setiap detiknya diri kita berubah, seiring dengan berjalannya waktu maka bertambah pula ilmu pengetahuan dalam diri kita oleh karena itu diri kita juga akan terus berubah dan memunculkan perkelahian diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  17. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. Ilmu didapat dari pemikiran seseorang. Untuk dapat diterima secara luas ilmu diperdebatkan dan dipertentangkan dengan ilmu lain. Sebenarnya ilmu itu yang telah melalui perdebatan dan pertentangan itu. Perbedaan pendapat tentu ada, tapi bagaiman menyelesaikan dan akhir dari perbedaan pendapat itu yang penting.

    ReplyDelete
  18. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Ilmu pengetahuan memiliki hubungan dengan ilmu pengetahuan lainnya yang terbatas dalam ruang dan waktu. Dalam elegi tersebut dapat terlihat perkelahian orang tua berambut putih yang mana dapat kita ambil pesan di dalamnya bahwa ilmu terdapat permulaan dan kontradiktif terlepas dari ruang dan waktu. manusia dapat memperoleh ilmu pengetahuan dengan berpikir dan memiliki ilmu pengetahuan yang merupakan tesis dan anti tesis dari ilmu lainnya. Maka sintesisnya adalah bagaimana manusia berpikir tentang tesis dan anti-tesis tersebut sehingga menghasilakan tesis-tesis yang baru yang berupa ilmu pengetahuan baru.

    ReplyDelete
  19. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Sebenar-benar ilmu adalah yang melalui sebuah perkelahian. Untuk memperoleh sebuah ilmu kita memerlukan tesis, anti-tesis, dan sintesis. Jika sudah menemukan tesis, anti-tesis, dan sintesis, maka ilmu yang kita miliki sudah bulat, artinya menyeluruh. Tetapi hal itu tidak dapat diartikan bahwa kita sudah memperoleh semua ilmu. Ilmu yang menyeluruh itu maksudnya kita telah mempelajari satu ilmu dengan tuntas. Dan masih ada banyak tak terhingga ilmu yang menunggu kita untuk dibuat tesis, anti-tesis, dan sintesisnya. Maka dari itu, marilah kita berlomba-lomba dalam mencari ilmu dan berlomba-lomba mengamalkan ilmu.

    ReplyDelete
  20. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Zaman Yunani kuno merupakan tonggak dimulainya perubahan pola pikir yang tadinya bersifat mitologi menjadi rasional, banyak hal-hal baru yang diungkapan para ilmuwan. Meskipun demikian pada zaman ini tidak terjadi perdebatan tentang kebenaran ilmu pengetahuan. Pada saat itu kebenaran dari ilmu pengetahuan masih bergantung pada pemikiran tiap individu sehingga meskipun terjadi perbedaan pemikiran tidak memicu terjadinya perdebatan. Ilmu pengetahuan serta aliran yang berkembang pada zaman pertengahan belum mengalami perbedaan yang sampai menyebabkan perdebatan. Meski sudah ada beberapa keraguan yang muncul setelah mengkaji beberapa penemuan antara ilmuwan yang satu dengan yang lainnya. Pertentangan dan perdebatan tidak muncul sebab pada zaman pertengahan hanya terjadi perkembangan ilmu pengetahuan di Arab, sedangkan perkembangan tersebut berupaya untuk memenuhi kebutuhan hidup bangsa Arab terutama obat-obatan dan perhiasan.

    ReplyDelete
  21. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Semakin berkembang suatu zaman, maka semakin banyak pula perbedaan yang terdapat didalamnya. Ini juga berlaku dalam zaman modern ini. Banyak sekali hal-hal yang diperdebatkan antara satu ilmuwan dengan ilmuwan yang lain. Perbedaan pendapat sangat terasa, dengan adanya satu teori yang diukuti dengan teori baru yang bermateri sama. Dari inilah mulai timbul perbedaan sampai terjadi perdebatan. Perdebatan tersebut antara lain, tentang asal usul dari ilmu pengetahuan serta bagaimana cara para ilmuwan mendapat pembenaran atas teori yang mereka temukan. Bahkan ada yang lebih spesifik lagi yaitu perdebatan tentang teori atom dan perdebatan tentang teori evolusi.

    ReplyDelete
  22. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Perdebatan yang mempertanyakan asal usul ilmu pengetahuan meyangkut beberapa aliran yaitu, empirisme yang lebih mengedepankan pengalaman, dualisme yang lebih mengedepankan antara materi dan rohani, rasionalisme yang mengedepankan akal serta kritisisme yang merupakan gabungan antara akal dengan pengalaman. Dilihat dari penjelasan tiap aliran tersebut terlihat perbedaan tapi semuanya menuju satu tujuan yaitu asal usul pengetahuan. Sedangkan perdebatan mengenai cara para ilmuwan mendapatkan pembenaran atas teori mereka terdiri dari beberapa metode. Metode yang pertama digunakan adalah induksi, setelah beberapa lama munculah falsifikasi yang akhirnya menyatakan bahwa induksi kurang memuaskan. Falsifikasi dirasakan kurang berhasil dan akhirnya muncul lawan dari falsifikasi yaitu logical empiricism, dan dari sinilah memicu lahirnya scientific dari T. Khun.perdebatan yang lebih spesifi terjadi pada konsep atom antara JJ. Thompson dengan para atomisme kuno dan teori revolusi antara Darwin dan Betrand Russel.

    ReplyDelete
  23. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Pengetahuan yang ada di dunia ini selalu mengalami yang namanya perubahan. Di dalam perkembangannya, untuk mendapatkan sebuah pengetahuan baru, maka kita perlu membenturkan satu pengetahuan atau teori dengan teori yang lain. Sehingga kita akan menemukan sebuah kesenjangan antara teori yang satu dengan teori yang lain. Dengan demikian kita dapat menarik sebuah kesimpulan dari pembenturan kedua teori tersebut yang disebut dengan teori baru atau pengetahuan baru. Dalam hal ini ada banyak pengetahuan yang harus dikaitkan dengan pengetahuan lainnya sehingga dapat menciptakan suatu inovasi yang berguna bagi kebutuhan manusia, misalkan matematika dengan fisika, agama dengan ilmu kedokteran, teknologi dengan ilmu kesehatan, dan masih banyak lainnya.

    ReplyDelete
  24. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Begitulah hakekat dari ilmu yaitu kontradiksi. Dalam pikiran kita banyak sekali kontradiksi yang terciptakan dari yang ada samapi yang mungkin ada. Begitu pula dari objek-objek itu salaing bertanya untuk menunjukkan keberadaannya. Sehingga meraka mencari sang pengada dari dirinya. Dan begitulah seterusnya. Maka ilmu itu terjadi dari pemikiran, jika tidak berpikir maka sebenar-benarnya engkau adalah mitos.

    ReplyDelete
  25. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Ilmu memang banyak dan beragam. saling berkontradiksi. suatu ilmu tidak mudah dalam mendapatkannya teapi ilmu adalah penting kejelasannya. seorang guru mengajarkan ilmu kepada muridnya haruslah berdasar hati dan dengan ikhlas karena akan sangat terlihat jika guru tidak ikhlas dalam megajar maka siswa pun akan merasakannya.

    ReplyDelete
  26. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Elegi ini menjelaskan kepada kita bahwa ilmu yang kita pelajari itu tidak terbatas pada pengetahuan kita saja. Jika kita menganggap bahwa ilmu kita sudah cukup luas, maka sesungguhnya ilmu kita belum seberapa sebab ilmu itu dapat diperluas dan diperdalam lagi oleh orang lain atau diri kita sendiri pada kesempatan yang lain. Jadi, kita senantiasa mau memperdalam ilmu yang telah kita miliki walaupun dalam mempelajari ilmu terdapat perbedaan pemahaman dengan orang lain.

    ReplyDelete
  27. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Sumber ilmu tidak terbatas, imu juga tidak terbatas yang terbatas adalah pikiran kita. Tidaklah sombong manusia dengan pikirannya karena mereka masih memiliki keterbatasan. Maka dari itu hendaklah manusia terus menerus belajar dan menuntut ilmu, walau ilmu manusia tidak sebanding dengan banyaknya ilmu didunia setidaknya ilmu yang manusia miliki kelak bisa membawanya ke akherat.

    ReplyDelete
  28. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Ketika orang tua berambut putih bertengkar itu merupakan suatu kewajaran, karena setiap orang tentunya mempunyai ilmu dan pengalaman yang berbeda-beda , sehingga ketika diberikan permasalahan namun mereka menyelesaikannya dengan cara yang berbeda maka itu merupakan suatu kontradiksi yang wajar-wajar saja. Tentunya antara yang satu dengan yang lainnya mempunyai alasan-alasan tersendiri dalam menyelesaikan permsalahan atau dengan kata lain mempunyai prolema yang berbeda sesuai dengan pola pikir serta pandangan masing-masing dalam menanggapi sebuah permasalahan dari tinjauannya.

    ReplyDelete
  29. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setelah membaca elegi di atas, didapat bahwa Orang Tua Berambut Putih diibaratkan dengan sebuah ilmu. Untuk memperoleh pengetahuan atau ilmu itu dibutuhkan proses mengkonstruk ilmu yang sudah kita peroleh. Maka sebenar-benar memperoleh ilmu adalah malalui perkelahian di antara pengetahuan-pengetahuan itu sendiri.

    ReplyDelete
  30. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)
    Sebenar-benarnya memperoleh ilmu adalah melalui pertengkaran diantara pengetahuan itu sendiri. Dari proses perkelahian tersebut maka kita akan mendapatkan ilmu baru. Maka sebenar-benar perkelahian itu adalah "sintesis" antara tesis dan anti-tesis. Dari sebuah sintesis kemudian menghasilkan tesis-tesis baru. Tesis-tesis baru itu berdatangan mendatangi ilmu awal yang disebut pondasi. Sebenar-benar tempat tinggal ilmu, yaitu batas pikiran kita.

    ReplyDelete
  31. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Ilmu muncul dari adanya pertanyaan. Saat kita bertanya, terdapat pertengkaran dalam pikiran-pikiran kita dengan menggunakan ilmu-ilmu yang kita miliki. Saat itulah muncul tesis dan anti tesis. Kemudian munculah sistesis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Selain itu, pada elegi di atas dikatakan bahwa gerakanmu tidak sama dengan mengajarmu, suarumu tidaklah sama dengan mengajarmu, namun berdasarkan pejelasanmu, uraianmu, contoh-contoh, dan demonstrasimu, aku mulai percaya bahwa engkau seorang guru. Berdasarkan hal tersebut saya dapat menyimpulkan bahwa aku tidak sama dengan aku namun untuk mengetahui itu aku atau pun bukan, bisa dilihat dari ciri-ciriku.

    ReplyDelete