Jul 16, 2012

Elegi Pertengkaran Para Orang Tua Berambut Putih




Oleh: Marsigit

Orang Tua Berambut Putih Duduk Sendiri:


Aku duduk di sini. Maka aku yang telah mengaku sebagai orang tua berambut putih serta merta aku menyadari bahwa ketika aku duduk di sini, aku menjumpai ada aku yang duduk di sini, aku merasakan ada duduk dan aku mengerti ada di sini.


Tetapi serta merta pula jika yang demikian aku renungkan maka aku menyadari ada diri yang bukan aku, ada diri yang sedang tidak duduk dan ada diri yang di sana. Kalau aku perjelas refleksiku itu maka aku menemukan bahwa aku yang duduk di sini menyebabkan ada yang bukan aku yang tidak duduk di sini maupun yang duduk di sana. Aku terkejut karena aku menemukan bahwa ada aku yang tidak duduk di sini, dan ada diri yang bukan aku duduk di sini. Padahal aku telah mengaku bahwa aku duduk di sisini. Maka aku bertanya siapakah aku yang tidak duduk di sini, dan siapakah diri bukan aku yang duduk di sini. Pertanyaan itu ternyata dapat saya lanjutkan, siapakah aku yang duduk di sini dan siapakah aku yang tidak duduk di sini? Saya juga bisa bertanya siapakah aku yang duduk di sini dan siapakah bukan aku yang duduk di sini? Ternyata pertanyaan itu menyebabkan pertanyaanku yang berikutnya. Kalau begitu apakah ada aku yang bukan aku, duduk yang tidak duduk, di sini tetapi tidak di sini?. Aku menjadi teringat dengan pepatah jawa “ngono ning ojo ngono”. Apakah ada ngono yang bukan ngono, dan ojo ning bukan ojo? Kalau orang jawa saja sejak nenek moyang sudah mempunyai ngono ning ojo ngono, maka enehkah jika sekarang aku bertanya aku tetapi bukan aku, duduk tetapi bukan duduk, dan di sini tetapi bukan di sini? Kalau ini masih dianggap aneh maka sesungguhnyalah kita telah kehilangan dan tidak mampu memahamiwarisan leluhur.


Orang Tua Berambut Putih (pertama) Bertemu Dengan Orang Tua Berambut Putih Yang Lain (kedua):

Orang Tua Berambut Putih kedua:

Salam. Sesungguhnyalah aku mengikuti segala yang engkau pikirkan. Akulah mungkin aku yang bukan dirimu. Kemudian engkau mungkin bertanya apakah aku itulah yang tidak duduk di sini, atau apakah akulah yang duduk di sana, atau apakah akulah yang tidak duduk di sana? Tetapi setidaknya engkau telah berkata bahwa aku duduk di sini. Maka aku pun kemudian bertanya siapakah yang engkau maksud sebagai aku yang duduk di sini? Siapakah yang engkau maksud sebagai bukan aku yang duduk di sini? Siapakah yang engkau maksud aku yang tidak duduk di sini? Siapakah yang engkau maksud aku yang duduk di sana? Siapakah yang engkau maksud aku yang tidak duduk di sana? Siapakah yang engkau maksud bukan aku yang tidak duduk di sana?

Orang Tua berambut Putih Pertama:

Salam kembali. Sesungguhnya pula aku juga menyadari bahwa engkau yang bukan aku telah mengetahui pikiranku sedari awal. Namun ketahuilah bahwa sebenar-benar yang terjadi bahwa aku juga mengerti tentang pikiranmu sedari awal seawal-awalnya. Maka aku juga ingin bertanya mengapa engkau bertanya tentang aku yang duduk di sini? Padahal engkau tahu bahwa aku telah duduk di sini dan engkau yang bukan aku juga duduk di sini. Jadi sebetulnya siapakah engkau yang duduk di sini? Apakah engkau yang tidak duduk di sini? Apakah engkau juga duduk tidak di sini? Apakah engkau juga tidak duduk tidak di sini?

Orang Tua Berambut Putih Kedua:

Sesungguh-sungguhnya aku telah mengerti bahwa engkau akan mengajukan pertanyaan seperti itu, tetapi aku ragu apakah aku mengerti atau tidak mengerti jawabanmu.

Orang Tua Berambut Putih Pertama:

Sesungguh-sungguhnya aku juga telah mengerti bahwa engkau akan memberi komentar seperti itu, tetapi aku ragu apakah aku mengerti atau tidak mengerti komentarmu.

Orang Tua Berambut Putih Kedua:

Sesungguh-sungguhnya aku juga telah mengerti bahwa engkau akan memberi komentar seperti itu, tetapi aku ragu apakah aku mengerti atau tidak mengerti komentarmu.

Orang Tua Berambut Putih Pertama:

Mengapa engkau selalu menirukanku?

Orang Tua Berambut Putih Kedua:

Mengapa engka selalu menirukanku?

Orang Tua Berambut Putih Pertama:

Kalau begitu apa maumu?

Orang Tua Berambut Putih Kedua:

Kalau begitu apa maumu?

Orang Tua Berambut Putih Ketiga Menjumpai Ada Dua Orang Berambut Putih Berkelahi:

Wahai para orang tua. Mengapa sesama orang tua seperti engkau berdua saling berhantam? Apa kau pikir yang ada di sini cuma engkau berdua? Sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa aku telah mengerti pikiranmu berdua sedari awal. Apakah engkau berdua tidak mengerti bahwa sedari awal aku telah duduk di sini bersamamu? Maka apalah gunanya mengapa engkau saling bertengkar? Bukankah saling bertukar pikiran itu lebih baik dari pada berkelahi.

Orang Tua Berambut Putih Pertama dan Kedua Secara bersama-sama menjawab:

Sesungguhnya pula aku juga menyadari bahwa engkau yang bukan aku telah mengetahui pikiranku berdua sedari awal. Namun ketahuilah bahwa sebenar-benar yang terjadi bahwa aku berdua juga mengerti tentang pikiranmu sedari awal seawal-awalnya. Maka aku berdua juga ingin bertanya mengapa engkau bertanya tentang aku berdua yang duduk di sini? Padahal engkau tahu bahwa aku berdua telah duduk di sini dan engkau yang bukan aku berdua juga duduk di sini. Jadi sebetulnya siapakah engkau yang duduk di sini? Apakah engkau juga tidak duduk di sini? Apakah engkau juga duduk tidak di sini? Apakah engkau juga tidak duduk tidak di sini?

Orang Tua Berambut Putih Ketiga:

Sesungguh-sungguhnya aku telah mengerti bahwa engkau berdua akan mengajukan pertanyaan seperti itu, tetapi aku ragu apakah aku mengerti atau tidak mengerti jawabanmu berdua.

Orang Tua Berambut Putih Pertama dan Kedua Secara bersama-sama menjawab:

Sesungguh-sungguhnya aku berdua juga telah mengerti bahwa engkau akan memberi komentar seperti itu, tetapi aku berdua ragu apakah aku berdua mengerti atau tidak mengerti komentarmu.

Orang Tua Berambut Putih Ketiga:

Sesungguh-sungguhnya aku juga telah mengerti bahwa engkau berdua akan memberi komentar seperti itu, tetapi aku ragu apakah aku mengerti atau tidak mengerti komentarmu berdua.

Orang Tua Berambut Putih Pertama dan Kedua Secara bersama-sama menjawab:

Mengapa engkau selalu menirukanku?

Orang Tua Berambut Putih Ketiga:
Mengapa engkau selalu menirukanku?

Orang Tua Berambut Putih Pertama dan Kedua Secara bersama-sama menjawab:

Kalau begitu apa maumu?

Orang Tua Berambut Putih Ketiga:
Kalau begitu apa maumu?

Orang Tua Berambut Putih Keempat Menjumpai Ada Tiga Orang Berambut Putih Berkelai:
Wahai para orang tua. Mengapa sesama orang tua seperti engkau bertiga saling berhantam? Apa kau pikir yang ada di sini cuma engkau bertiga? Sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa aku telah mengerti pikiranmu bertiga sedari awal. Apakah engkau bertiga tidak mengerti bahwa sedari awal aku telah duduk di sini bersamamu? Maka apalah gunanya mengapa engkau saling bertengkar? Bukankah saling bertukar pikiran itu lebih baik dari pada berkelahi.

Orang Tua Berambut Putih Pertama, Kedua dan Ketiga Secara bersama-sama menjawab:
Sesungguhnya pula aku juga menyadari bahwa engkau yang bukan aku telah mengetahui pikiranku berdua sedari awal. Namun ketahuilah bahwa sebenar-benar yang terjadi bahwa aku bertiga juga mengerti tentang pikiranmu sedari awal seawal-awalnya. Maka aku bertiga juga ingin bertanya mengapa engkau bertanya tentang aku bertiga yang duduk di sini? Padahal engkau tahu bahwa aku bertiga telah duduk di sini dan engkau yang bukan aku bertiga juga duduk di sini. Jadi sebetulnya siapakah engkau yang duduk di sini? Apakah engkau juga tidak duduk di sini? Apakah engkau juga duduk tidak di sini? Apakah engkau juga tidak duduk tidak di sini?

Orang Tua Berambut Putih Keempat:
Sesungguh-sungguhnya aku telah mengerti bahwa engkau bertiga akan mengajukan pertanyaan seperti itu, tetapi aku ragu apakah aku mengerti atau tidak mengerti jawabanmu bertiga.

Orang Tua Berambut Putih Pertama, Kedua dan Ketiga Secara bersama-sama menjawab:

Sesungguh-sungguhnya aku bertiga juga telah mengerti bahwa engkau akan memberi komentar seperti itu, tetapi aku bertiga ragu apakah aku bertiga mengerti atau tidak mengerti komentarmu.

Orang Tua Berambut Putih Keempat:
Sesungguh-sungguhnya aku juga telah mengerti bahwa engkau bertiga akan memberi komentar seperti itu, tetapi aku ragu apakah aku mengerti atau tidak mengerti komentarmu bertiga.

Orang Tua Berambut Putih Pertama, Kedua dan Ketiga Secara bersama-sama menjawab:

Mengapa engkau selalu menirukanku?

Orang Tua Berambut Putih Keempat:
Mengapa engkau selalu menirukanku?

Orang Tua Berambut Putih Pertama, Kedua dan Ketiga Secara bersama-sama menjawab:
Kalau begitu apa maumu?

Orang Tua Berambut Putih Keempat:
Kalau begitu apa maumu?

Orang Tua Berambut Putih Kelima Menjumpai Ada Empat Orang Berambut Putih Berkelahi:

.....
Orang Tua Berambut Putih Keseribu Menjumpai Ada Sembilan Ratus Sembilan Puluh Sembilan Orang Tua Berambut Putih Berkelai.
.....
Orang Tua Berambut Putih Ke-n Menjumpai Ada n-1 Orang Berambut Putih Berkelahi:
.....
Ada diri yang bukan mereka menjumpai mereka berkelahi:

Aku sendiri tidak tahu siapakah diriku. Apakah diriku itu diriku atau bukan diriku. Aku juga tidak tahu apakah diriku adalah satu dari mereka? Aku juga tidak tahu apakah aku tahu pikiran mereka sedari awal? Aku juga tidak tahu apakah aku duduk? Aku juga tidak tahu apakah aku di sini atau tidak di sini? Aku tidak tahu apakah mereka mengetahui pikiranku sedari awal. Aku tidak tahu apakah mereka tahu atau tidak tahu aku di sini atau tidak di sini, aku duduk atau aku tidak duduk? Aku tidak tahu apakah yang akan mereka tanyakan? Aku tidak tahu apakah yang mereka akan komentari. Aku tidak tahu apakah mereka akan selalu menirukanku? Aku tidak tahu apakah aku akan selalu menirukannya. Aku tidak tahu apakah aku juga akan berkelahi atau tidak akan berkelahi dengan mereka? Aku tidak tahu apakah jika aku berkelahi dengan mereka maka akan ada diri yang bukan diriku dan bukan diri mereka yang juga mengetahui pikiranku dan pikiran mereka sedari awal? Oleh karena aku banyak tidak tahu banyak maka aku tidak dapat mengatakan bahwa aku mengerti mereka atau tidak mengerti mereka. Tetapi ada yang aku tahu yaitu bahwa setidaknya aku tahu bahwa para orang tua itu saling merasa dan mengaku mengetahui para orang tua yang lainnya. Tidak hanya itu para orang tua itu bahwa saling bertengkar bahkan saling berkelahi. Tetapi aku juga tidak tahu apakah aku termasuk diantara mereka. Dan aku tidak tahu apakah aku sedang berkata tentang pengetahuanku atau ketidak tahuanku. Sehingga dapat aku simpulkan bahwa yang jelas-jelas aku tahu adalah aku tidak tahu siapakah diriku itu. Itulah sebenar-benar bahwa aku tidaklah mengatahui siapakah diriku itu. Tetapi aku mengetahui bahwa setidaknya aku bisa mengucapkan kalimatku yang terakhir. Maka akupun tidak tahu apakah itu batas ku yang ingin ku gapai. Artinya aku tidak bisa menjawab apakah aku bisa menggapai batasku.

Diantara Penonton Perkelahian Terdapatlah Guru Matematika Bersama Siswanya

Siswa:
Guru apakah engkau melihat perkelahian itu?

Guru matematika:
Ya aku sedang melihat perkelahian itu. Rupanya perkelahian itu sangat seru, tetapi aku tidak tahu mengapa mereka berkelahi, kapan mulai berkelahi dan kapan selesai berkelahi? Kelihatannya perkelahian diantara para orang tua berambut putih itu memang sebuah misteri.

Siswa:
Guru, bukankah engkau telah mengajariku matematika. Apakah aku bisa menggunakan matematika yang telah engkau ajarkan kepadaku untuk memecahkan misteri perkelahian itu.

Guru matematika:
Oh muridku pertanyaanmu sungguh cerdas. Tetapi ketahuilah bahwa matematika yang telah engkau pelajari hanya sebagian kecil saja dapat bisa memecah misteri perkelahian itu.

Siswa:
Apa contohnya Pak guru?

Guru matematika:
Jikalau engkau perhatikan, pertama ada 1 orang tua berambut putih, kemudian datang orang tua berambut putih ke 2, kemudian datang orang tua berambut putih ke 3, ke 4, ke 5, ... dst.

Siswa:
Oh aku tahu Pak Guru. Bukankah itu barisan bilangan? Kalau bilangan menunjukkan nomor urut dari orang tua berambut putih yang datang, maka aku menemukan barisan bilangan itu sebagai: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, ..... dst.

Guru matematika:
Bagus, betul sekali kamu. Untuk yang ini engkau mendapat nilai 10.

Siswa:
Tetapi guru, aku juga menemukan kalau kita ingin mengetahui banyaknya orang tua berambut putih pada stuatu saat maka aku juga bisa. Yaitu aku menemukan deret matematika sebagai:
1+1+1+1+1+1+1+... dst

Guru matematika:
Bagus, betul sekali kamu. Untuk yang ini engkau mendapat nilai 10.

Siswa:
Tetapi guru, kenapa mereka berkelahi?

Guru matematika:
Aku juga tidak tahu. Coba mari kita tanyakan kepada dosen yang pernah memberi kuliah Filsafat Pendidikan Matematika . Wahai dosen, dapatkah engkau menerangkan pertanyaan siswaku ini, mengapa para orang tua berambut putih itu saling berkelahi?

Dosen:
Terimakasih Pak Guru Matematika. Sebenarnya jawabanku hanyalah untuk Pak Guru saja, karena aku terikat oleh ruang dan waktu sehingga tidak mampu menjelaskan perkara ini kepada siswamu.

Guru matematika:
Baiklah, maka terangkanlah kepadaku, karena kebetulan siswaku tadi sudah pergi.

Dosen:
Menurut pengamatanku setiap orang tua berambut putih itu mengaku diri sebagai ilmu. Berarti aku dapat menyimpulkan bahwa mereka itu sebenar-benarnya adalah satu, yaitu ilmu itu sendiri.
Mengapa pada suatu saat kita melihat mereka sebagai banyak? Itulah sebenar-benar ilmu. Hakekat ilmu adalah multirupa. Dia bisa menempati satu titik sekaligus untuk wajahnya yang banyak, tetapi dia juga bisa menempati tempat yang banyak untuk wajahnya yang satu.

Guru matematika:
Mengapa dia mulai dari yang satu.

Dosen:
Saya tidak tahu persis darimana datang orang tua berambut putih pertama. Tetapi baiklah jikalau menganggap bahwa mereka dimulai dari seorang tua berambut putih, maka dapat aku katakan bahwa yang satu itupun disebut permulaan. Maka setiap permulaan selalu ada akhir di situ. Ketahuilah bahwa sebenar-benar pondasi adalah suatu permulaan. Maka jika mereka mengakui memulai dari seorang tua berambut putih, maka sebenar-benar mereka ingin menunjukkan bahwa mereka adalah suatu ilmu yang mempunyai pondasi. Itulah sifat suatu ilmu, bahwa suatu ilmu tentulah mempunyai pondasi.

Guru metamatika:
Dosen, mengapa setiap orang tua berambut putih yang datang kemudian terlibat perkelahian?

Dosen:
Hendaknya engkau waspada dan jernih dalam memandang. Mereka juga ingin menunjukkan kepada kita bahwa tiadalah suatu ilmu didapat tanpa perkelahian. Tetapi hendaknya engkau juga jangan salah paham. Perkelahian yang dimaksud di sini adalah perkelahian dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya.

Guru matematika:
Aku belum paham penjelasanmu yang terakhir, dosen?

Dosen:
Ituylah yang pernah diakui oleh orang tua berambut puth yang lain. Bahwa sebenar-benar perkelahian dalam ilmu adalah metode sintetik yang sesuai dengan prinsip kontradiktif.

Guru matematika:
Aku semakin tambah bingung, dosen?

Dosen:
Ambil seumpama contoh pertanyaanku ini. "Apakah engkau seorang guru?"

Guru matematika:
Jelas. Siapa yang meragukan bahwa saya seorang guru?

Dosen:
Akulah orang pertama yang meragukan.

Guru matematika:
Kenapa engkau meragukan bahwa saya seorang guru?

Dosen:
Ya, karena sebenar-benar bahwa "engkau" tidaklah sama dengan "guru". Sebelum aku tahu persis siapa engkau, dan sebelum aku tahu persis siapa guru, maka aku tidak akan pernah mengatakan bahwa engkau sama dengan guru.

Guru matematika:
Aku dapat membuktikan bahwa aku memang betul-betul guru. Bahkan aku sudah mempunyai Sertifikat Pendidik Profesional. Ini sertifikatnya. Apakah engkau masih ragu?

Dosen:
Ya benar aku masih ragu, karena aku pun menemukan bahwa "sertifikat" itu tidak sama dengan "guru". Maka aku pun belum dapat mengatakan bahwa sertifikatmu menunjukkan bahwa engkau seorang guru.

Guru matematika:
Kalau begitu engkau adalah seorang dosen yang keterlaluan. Mengapa engkau tidak percaya dengan sertifikat yang engkau buat sendiri.

Dosen:
Jangan salah paham. Yang aku maksud dengan sertifikat adalah sebenar-benar sertifikat dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Dan yang aku maksud sebagai guru, adalah guru dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya.

Guru matematika:
Kalau begitu coba lihatlah. Aku akan tunjukkan kepadamu bagaimana aku bisa mengajar matematika di depan kelas. Lihatlah gerakanku, lihatlah murid-muridku, dengarlah suaraku.

Dosen:
Aku juga menemukan bahwa ternyata "gerakanmu" tidaklah sama dengan "mengajar", "suaramu" tidaklah sama dengan "mengajar". "muridmu" tidaklah sama dengan "mengajarmu".

Guru matematika:
Lantas apa lagi, Dosen? Aku harus berbuat apa agar engkau yakin bahwa aku adalah seorang guru. Aku sebagai seorang gurupun engkau belum yakin, apalagi bahwa aku sebagai seorang guru matematika.

Dosen:
Baiklah, walaupun aku tidak dapat memperoleh keyakinanku seratus persen, tetapi setidaknya keyakinan itu sudah mulai ada. Karena penjelasanmu, karena uraianmu, karena contoh-contohmu, karena demonstrasimu itulah aku mulai yakin bahwa engkau adalah seorang guru, bahkan guru matematika. Itulah betapa sulitnya menjawab pertanyaanku yang pertama, yaitu "Apakah engkau seorang guru?".

Guru matematika:
Kalau Dosen sudah ada keyakinan bahwa aku seorang guru, maka bagaimana selanjutnya?

Dosen:
Itulah sebenar-benar jawaban pertanyaanmu yang lebih awal tadi, yaitu mengapa para orang tua berambut putih tadi berkelahi.

Guru matematika:
Aku belum jelas, Dosen?

Dosen:
Bukankah aku dan engkau baru saja berkelahi dan masih akan berkelahi sekedar dalam rangka memperoleh pengetahuan atau ilmu yang mengatakan bahwa "Engkau adalah guru". Jika engkau sadar maka adalah ilmuku dan ilmumulah yang sedang berkelahi. Padahal engkau tahu bahwa para orang tua berambut putih itu tidak lain tidak bukan adalah ilmu, yaitu ilmuku dan ilmumu juga. Maka sebenar-benar memperoleh ilmu adalah malalui perkelahian di antara pengetahuan-pengetahuannya itu sendiri. Ilmuku adalah tesisku. Tesisku adalah anti-tesismu. Ilmumu adalah tesismu. Tesismu adalah antitesisku. Maka sebenar-benar perkelahian itu adalah "sintesis" antara tesis dan anti-tesis. Perkelahian itu atau yang disebut sebagai sintesis kemudian menghasilkan tesis-tesis baru. Tesis-tesis baru itu berdatangan seperti datangnya para orang tua berambut putih itu. Dalam rangka memperoleh tesis-tesis baru itu lah maka para orang tua berambut putih itu berkelahi.Itulah yang kemudian disebut sebagai metode berpikir sintetik dalam berpikir. Itulah sebenar-benar tempat tinggal para orang tua berambut putih, yaitu batas pikiranku dan juga batas pikiranmu. Amien.

21 comments:

  1. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)
    Sebenar-benarnya memperoleh ilmu adalah melalui pertengkaran diantara pengetahuan itu sendiri. Dari proses perkelahian tersebut maka kita akan mendapatkan ilmu baru. Maka sebenar-benar perkelahian itu adalah "sintesis" antara tesis dan anti-tesis. Dari sebuah sintesis kemudian menghasilkan tesis-tesis baru. Tesis-tesis baru itu berdatangan mendatangi ilmu awal yang disebut pondasi. Sebenar-benar tempat tinggal ilmu, yaitu batas pikiran kita.

    ReplyDelete
  2. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Ilmu muncul dari adanya pertanyaan. Saat kita bertanya, terdapat pertengkaran dalam pikiran-pikiran kita dengan menggunakan ilmu-ilmu yang kita miliki. Saat itulah muncul tesis dan anti tesis. Kemudian munculah sistesis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Selain itu, pada elegi di atas dikatakan bahwa gerakanmu tidak sama dengan mengajarmu, suarumu tidaklah sama dengan mengajarmu, namun berdasarkan pejelasanmu, uraianmu, contoh-contoh, dan demonstrasimu, aku mulai percaya bahwa engkau seorang guru. Berdasarkan hal tersebut saya dapat menyimpulkan bahwa aku tidak sama dengan aku namun untuk mengetahui itu aku atau pun bukan, bisa dilihat dari ciri-ciriku.

    ReplyDelete
  3. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Elegi “Pertengkaran para orang tua berambut putih” kembali memunculkan tokoh orang tua berambut putih sebagai perwujudan ilmu.. Garis besar cerita ini menggambarkan bagaimana kita memperoleh pengetahuan dari proses berpikir sintesis. Konflik yang terjadi antara skema yang telah tertanam di pikiran seseorang dengan pengalaman dan pengetahuan baru adalah suatu proses alami untuk mendapatkan suatu hasil yang kemudian kita sebut dengan pengetahuan baru yang selanjutnya bergabung menjadi suatu skema pengetahuan yang lebih besar. Proses tersebut terus berlanjut sepanjang hidup kita yang menunjukkan ke-mahaagungan Allah SWT dalam mencipta mahluknya sedetaill-detailnya.

    ReplyDelete
  4. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    "Maka sebenar-benar memperoleh ilmu adalah malalui perkelahian di antara pengetahuan-pengetahuannya itu sendiri." Cuplikan kalimat di atas yang terdapat dalam Elegi yg Prof. Tulis di atas menganalogikan bahwa ilmu tidak lain adalah gagasan yg berbeda-beda dari perspektif orang yang berbeda pula. Dalam pemirikan diri sendiri pun sering kali terjadi 'perkelahian' ini. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang yg berpikir, maka ia hidup. Oleh karena itu, dari perkelahian dalam pemikiran manusia itulah yang nantinya akan muncul pengetahuan baru.

    ReplyDelete
  5. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Perkelahian dan perdebatan antara orang tua berambut putih pertama, kedua, ketiga, keempat, hingga ke n+1 adalah cerminan dari ilmu kita yang berkembang ke dalam berbagai dimensi. Ilmu yang kita yakini boleh jadi bukan satu-satunya yang diyakini kebenarannya. Sebaik-baiknya orang belajar adalah orang yang berpikir kritis, tidak gampang terprovokasi, tidak mudah terpengaruh, namun tidak pula sombong. Tesis bagimu adala antitesis bagiku, begitu pula sebaiknya. Di dalam diri sendiri pun, ilmu terkadang berbenturan. Kita meyakini bahwa kita telah menguasai suatu ilmu, namun suatu saat kita mendapatkan ilmu baru yang juga diakui benar oleh pakar. Di dalam pikiran kita bisa saja para ilmu baku hantam, siapa yang sesuhngguhnya benar, dan siapa yang keliru. Terjadinya sintesis ilmu merupakan ciri manusia yang berpikir dan selalu belajar.

    ReplyDelete
  6. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Yang dimaksud dengan orangtua berambut putih dalam elegi ini adalah ilmu. Meskipun seolah-olah ada banyak, mereka sebenarnya adalah satu, yaitu ilmu itu sendiri. Hakekat ilmu itu adalah multirupa sehingga pada suatu ketika kita melihat mereka sebagai banyak. Dia dapat menempati suatu titiksekaligus untuk wajahnya yang banyak, tetapi juga dapat menempati tempat yang banyak untuk wajah yang satu.jika suatu ilmu memiliki permulaan, maka itu adalah suatu ilmu yang memiliki pondasi. Karena sebenar-benar pondasi adalah suatu permulaan.
    Metode sintetik yang sesuai dengan prinsip kontradiktif adalah sebenar-benar perkelahian dalam ilmu. Karena tiadalah sebuah ilmu didapat tanpa perkelahian. Meskipun ilmu itu tidak didapat 100%, tetap saja proses mendapatkan ilmu itu melalui perkelahian. Perkelahian di sini memiliki arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Dalam rangka mendapatkan ilmu aru, maka muncullah pertanyaan-pertanyaan di dalam pikiran kita. hal ini demi mendapatkan sintesis dari tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesis tang ada.

    ReplyDelete
  7. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Postingan dalam blog ini cukup banyak melibatkan seorang tokoh yang bernama orangtua berambut putih. Pada elegi ini dijelaskanlah bahwa orang tua berambut putih tersebut adalah ilmu. Ilmu dapat dihasilkan dari pertanyaan ataupun perkelahian. Perkelahian yang dimaksud disini adalah seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Pertanyaan-pertanyaan dan perkelahian ini disebut sebagai sintesis yang kemudian akan menghasilkan tesis-tesis dan anti-tesis yang baru berupa ilmu. Hal inilah yang dikatakan sebagai metode berpikir sintetik.

    ReplyDelete
  8. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Menuntut ilmu adalah suatu kewajiban bagi seluruh umat manusia. Tetapi terkadang dalam memperoleh ilmu, manusia mendapati suatu perkelahian atau perdebatan baik dengan pemikiran orang lain maupun berdebat dalam pikirannya sendiri. Untuk memperoleh dan meyakini suatu kebenaran ilmu, manusia memiliki persepsi atau pandangannya masing-masing. Manusia memiliki akal dan pikiran, yang mana akal pikiran ini adalah berbeda satu sama lain. Manusia memiliki kemampuan berpikir yang berbeda-beda karena ditentukan oleh pengalamannya masing-masing. Para ahli atau pakar tentunya juga memiliki pengalaman atau jam terbang penelitian yang beragam, sehingga mereka memiliki pendapat yang berbeda-beda dalam memaknai suatu ilmu.

    ReplyDelete
  9. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Sebenar-benarnya ilmu, adalah satu yaitu ilmu itu sendiri, ilmu berasal dari pemikiran seseorang tentang pengetahuan dan ketidaktahuan mereka. Dari banyak pemikiran mungkin saja terdapat persamaan ataupun perbedaan, namun pada hakikatnya ilmu adalah multirupa. Dalam wacana di atas terdapat dialog pertentangan antara orang-orang tua berambut putih yang menunjukkan kepada kita bahwa suatu ilmu diperoleh melalui perkelahian, makna perkelahian disini hendaknya dipandang seluas dan sedalam mungkin, bahwa sebenar-benarnya perkelahian dalam ilmu adalah metode sintetik yang sesuai dengan prinsip kontradiktif, maka maksud dari perkelahian ilmu yaitu merupakan sintesis antara tesis dan anti tesis yang menghasilkan tesis-tesis baru.

    ReplyDelete
  10. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Hasil yang saya dapat cermati dari dialog di atas adalah semakin tinggi ilmu seseorang maka dalam pencarian dan pemaknaan ilmu itu juga berbeda-beda. Pandangan yang sangat luas juga akan diperoleh orang yang sudah memiliki tingkatan ilmu yang cukup tinggi. Saya semakin menyadari bahwa pentingnya mempelajari ilmu dari buayan sampai ke liang lahat. Proses yang dilalui begitu panjang. Menurut saya pribadi, ilmu itu terbentang luas layaknya samudera. Tugas manusia adalah menemukan, mempelajari, dan memaknai ilmu seiring waktunya. Oleh karena itu, cara berpikir seseorang dibentuk dari sejauhmana ia telah melangkah.

    ReplyDelete
  11. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Mengenai tesis-antitesis ini tidak mudah saya pahami. Sampai selesai membacanya pun pikiran ini masih kacau dengan apa maksud sebenarnya dari segala pertengkaran para orangtua berambut putih.
    Saya memandangnya demikian… berpikir itu tak pernah berhenti, ilmu pengetahuan akan dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan lain dan seterusnya demikian. Maka demikianlah saya hidup, karena saya berpikir. Dan ini tidak pernah berhenti sampai saya menjadi mitos, tidak lagi berpikir. Tidak ada lagi tesis-antitesis.
    Luar biasa pikiran manusia itu, apakah lalu ada batas pikiran itu? Jika ketika saya merasa sampai pada batas pikiran, menemukan tempat ilmu pengetahuan, namun ternyata muncul lagi antitesisnya… ilmu pengetahuan terus berkembang…

    ReplyDelete
  12. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Pada elegi ini menjelaskan bahwa diriku pangkat 1000 bahkan diriku pangkat n pun tetaplah diriku. Maksudnya misal, saya yang menggunakan baju biru (1), saya yang menggunakan baju merah (2), saya yang menggunakan kaca mata (3),. . . . dst maka tetaplah saya. Mau seberapapun maka itu tetap saya. Mau saya pangkat berapapun tetaplah saya , saya yang satu.

    ReplyDelete
  13. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Dalam proses pencarian ilmu pengetahuan akan ada intrik perdebatan yang mungkin tidak bisa dilihat dengan baik awal mulanya, dan terkadang sulit untuk mencari bagaimana titik temunya. Dala setiap keputusan pasti akan ada proses pemikiran yang panjang, krena setiap mmanusia berusaha menginginkan yang terbaik, dalam elegi di atas adanya seorang sisa yang haus akan ilmu pengetahuan, dan dibantu oleh seorang guru yang berusaha untuk mentranferkan imlu, namun sesungghnya pola pikir setiap manusia itu berbeda, hendaknya kita menghargai setiap perbedaan.

    ReplyDelete
  14. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Dari elegi di atas dapat diketahui bahwa dalam membangun suatu ilmu haruslah memiliki pondasi. Pondasi ini yang akan menentukan bentuk dan arah dari ilmu tersebut. Dalam proses berpikir dan menggapai ilmu, akan kita jumpai ilmu-ilmu lain yang akan dapat menimbulkan pertengkaran-pertengkaran dalam pikiran kita. Ilmu-ilmu yang masuk kedalam pikiran selanjutnya akan di sintesis dan anti tesiskan. Hasil tesis dan anti tesis disatukan dengan pengalaman sebelumnya, sehingga muncullah ide – ide baru atau pegetahuan baru, inilah yang disebut dengan metode berpikir sintesis dalam berpikir.

    ReplyDelete
  15. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas ilmu yang dibagikan. Dengan membaca elegi di atas saya semakin yakin bahwa bahasa dalam berfilsafat adalah bahasa analog. Selain itu pemaknaan dalam filsafat harus dilakukan secara sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Oleh karena itu, dala memahami elegi di atas tidak cukup bagi saya hanya dengan membaca satu atau dua kali. Keadaannya, meskipun kuantitas membaca saya sudah saya tambah, masih juga memberikan keyakinan pada pendapat yang akan saya sampaikan. Tapi saya yakin, ini adalah proses, atau malah ini "perkelahian" dalam diri saya.
    Pada elegi di atas, saya melihat bahwa "pertengkaran para orang tua berambut putih" adalah analogi dari proses masuknya ilmu ke dalam pikiran kita. Karena ketika ilmu masuk ke dalam pikiran, tentu terjadi proses sintesis dari tesis-tesis dan anti tesis anti tesisnya, proses itulah yang kemudian dianalogikan sebagai "pertengkaran". Analogi, tentu bukan pertengkaran selayaknya pertengkaran yang kita ketahui sehari-hari, tidak ada baku hantam sama sekali. Tetapi pertengkaran di sini mungkin saja penggambaran aktivitas berpikir kritis pada manusia.

    ReplyDelete
  16. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Ilmu itu diperoleh karena adanya kontradiksi dari suatu tesis. Kontradiksi artinya tidak adanya identitas. Karena jika terdapat identitas maka ilmu yang dipeoleh tidak akan berkembang, karena memang sudah jelas kebenarannya. Dalam matematika murni disebutkan bahwa A=A, hal itu terjadi bukan semata-mata karena A yang di kiri memang sama dengan A yang di kanan, akan tetapi kedua A tersebut bisa disebut sama karena sudah ada permisalan yang dibuat oleh matematikawan. Jika mau dilihat sedalam-dalamnya bahwa A tidak sama dengan A, karena setiap yang ada di bumi ini bersifat kontradiktif, yang bersifat identitas atau absolut itu hanya kuasa Tuhan. Maka baik jika terdapat kontradiksi dalam suatu pendapat, agar kita dapat berpikir dan membangun sebuah ilmu.

    ReplyDelete
  17. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    "Maka aku pun belum dapat mengatakan bahwa sertifikatmu menunjukkan bahwa engkau seorang guru."
    Sering kita temui orang-orang yang mengaku dirinya seorang guru namun pads kenyataannya tak mencerminkan diri sebagai seorang yang pantas menjadi guru. Esensi utama guru yang "dugugu lan ditiru" seakan hilang di masa ini. Guru hanya sekedar titel demi mendapat pekerjaan yang mudah dan terjamin. Guru hanya sekedar kedok untuk mendapat sertifikasi bernilai tinggi. Menjadi guru memang tak mudah, tapi banyak orang memilihnya padahal tak benar-benar memahami kerjanya. Guru memang harus terus belajar, tak berhenti hanya karena ia telah menjadi guru. Dari sana, guru lebih melekat pada bagaimana keteladanan diperlihatkan, bukan melekat pada kepandaian atau ilmu pengetahuan guru.

    ReplyDelete
  18. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    Pendidikan Matematika Pasca


    Dunia sekarang (power now) menjadikan segala sesuatu tampak mudah saja. Hal yang jauh dapat dijangkau hanya dengan memainkan internet saja, namun yang dekat sepertinya semakin dijauhkan. Contohnya saja dalam pembelajaran matematika, kini siswa tidak hanya dpaat mengandalkan guru dan buku saja, namun siswa dpaat mencari jawaban pembelajarannya lewat internet. Apabila hal tersebut tidak dimanagemen dengan baik maka hal tersebut akan membuat kecenderungan siswa malas untuk berpikir, maksudnya sperti pemikiran “tidak usah menggunakn kamus dalam menerjemahkan paragraf tersebut karena kita dapat menggunakan translator di internet” Apabila hal tersebut diteruskan maka siswa malas untuk mempelajari ilmu, dan siswa akan menjadi penerima saja namun bukan menjadi pengembang karna semuanya saling berhubungan

    ReplyDelete
  19. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Tulisan diatas menggunakan bahasa analog yang begitu apik Prof. Selain itu bahwa dari percakapan para orang tua putih, guru, murid dan dosen dapat diketahui bahwa sejatinya dalam setiap interaksi, dialog dan perjumpaan kita dengan seseornag pastilah melahirkan sebuah ilmu. Dari dialog antara orangtua putih melahirkan pengetahuan bahwa pada hakikatnya masing-masing orang tua putih mewakili akan adanya ilmu, pertengkaran mereka bukanlah pertengkaran yang biasa, namun, pertengkaran mereka dalam rangka menyatukan diri. Begitu pula pertemuan antara siswa, guru dan dosen. Dialog antara ketiganya merupakan proses adanya majelis ilmu meskipun jika di luar terlihat seperti pertengkaran. Pertengkaran bisa menjadi salah satu indicator adanya seseorang berfikiri kritis, bersifat peka terhadap lingkungan sekitar sehingga butuh adanya dialog untuk menggapai kebenaran sejati , klarifikasi dan kehidupan yang lebih baik. Terima Kasih

    ReplyDelete
  20. Kartika Pramudita
    17701251021
    S2 PEP B

    Pada elegi ini saya mencoba memahaminya. Yang saya pahami adalah elegi pertengkaran para orang tua berambut putih menjelaskan tentang kekacauan, kekacauan yang terjadi di dalam pikiran. Kekacauan antara pikiran yang satu dengan yang lain. Ternyata kekacauan dalam pikiran tersebut menghasilkan ilmu pengetahuan. Di dalam pikiran yang satu itu ternyata bisa menjadi pikiran yang banyak. Pikiran yang pertama menggambarkan tentang landasan dalam berpikir. Ketika pikiran sedang kacau dalam rangka memperoleh ilmu pengetahuan maka perlu waspada dan agar tetap selalu teguh hati agar tidak menimbulkan pula kekacauan di dalam hati. Karena sebenar-benar kacaunya hati adalah hasutan syetan.

    ReplyDelete