Nov 11, 2014

Teori Marsigit tentang Bagaimana Membangun Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan




Teori Marsigit tentang Bagaimana Membangun Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan

Ass Wr Wb

Teori saya ini saya kuliahkan pada beberapa Kelas kuliah Filsafat Ilmu Program S2 Pendidikan Matematika dan Pendidikan dasar

Teori ini juga saya maksudkan untuk Bahan Ujian Akhir Semester.
Nantinya, pertanyaan Pokok/Soal Ujian Filsafat Ilmu (Filsafat Pendidikan Matematika) adalah satu atau beberapa dari berikut:

"Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Hidup"; atau

"Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Ilmu"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Ilmu Pengetahuan"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Pendidikan"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Pendidikan Matematika"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Pendidikan Dasar";
"Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Pendidikan Matematika Dasar"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Dunia"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Matematika"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Proses Belajar Mengajar Matematika";
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Filsafat Ilmu"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Filsafat Pendidikan Matematika"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Metode Berpikir"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Identitas"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Yang Ada"; atau...dst
...
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Yang Mungkin Ada"

atau bahkan bisa ditambah:

"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Kontradiksi"

Sedangkan jawaban dan bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, terangkum atau terurai pada kuliah saya ini berjudul "Teori Marsigit tentang Bagaimana Membangun Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan".


Nantinya, jawaban ujian ditulis dengan tangan pada kertas doble follio dengan sifat Closed-Book (tidak boleh membuka segala media belajar termasuk HP, Buku, Laptop, dst). Mahasiswa diberi kesempatan 1 (satu) minggu untuk menulis ulang/ memerbaiki jawabannya dengan cara di ketik, di kumpulkan prin outnya, dan di upload di blog masing-masing. Itu rencana besok akhir semester, tetapi sudah saya informasikan sekarang agar mahasiswa memersiapkan diri.

Pada kuliah saat ini, mahasiswa saya persilahkan untuk merekam kuliah saya ini, baik menggunakan komputer ataupun HP, dan mengritisi dengan cara menanggapi atau mengajukan pertanyaan. Dengan teknologi On-line, maka secara bersama-sama Dosen dan Mahasiswa dapat melakukan aktivitas secara sinergi. Dosen menulis di kolom Posting, sedangkan Mahasiswa menulisnya di kolom Comment.

Jika dikarenakan suatu perkuliahan tidak menyukupi waktunya, maka kuliah ini akan saya selenggarakan secara simultan atau berkelanjutan dari kelas satu ke kelas berikutnya hingga selesai.

Selamat menyimak dan memelajarinya.

Baiklah langsung saja saya mulai.

Judul perkuliahan ini adalah :


"Teori Marsigit tentang Bagaimana Membangun Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan"

BAGIAN I

Pada Bagian I dari Teori ini saya ceramahkan secara On-line pada hari ini Selasa, 11 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Dasar  Kelas B di R 200A Pasca Lama pk 15.40 sd 17.10, yang di hadiri oleh 22 mahasiswa.

Saudara, teori saya ini sebetulnya sudah saya gambarkan dalam bentuk sketsa di kelas masing-masing. Namun ternyata saya menilai masih banyak mahasiswa yang mengalami kesulitan memahaminya.
Saudara, secara filsafat, membangun pengetahuan dapat dimulai dari yang ada dan yang mungkin ada. Yang ada dan yang mungkin ada mempunyai sifat meliputi yang ada dan yang mungkin ada pula, maksudnya adalah bahwa sifat-sifat yang ada dan yang mungkin ada itu jumlahnya banyak sekali; tidak cuma banyak tetapi berdimensi kirarkhis, artinya secara intensif ada kualitas 1, 2, 3, 4, …dst; sedangkan secara ekstensif ada kualitas a, b, c, d, …dst. Maka membangun pengetahuan atau ilmu pengetahuan secara filsafat, dapat dilakukan dengan cara mengidentifikasi sifat satu, dua, tiga, atau, empat …dst meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Karena,yang akan dilakukan adalah membangun ilmu atau ilmu pengetahuan secara filsafat, maka identifikasi dari sifat-sifat yang ada dan yang mungkin ada juga ditinjau secara filsafati. Sifat-sifat filsafati adalah sifat-sifat yang dipikirkan atau pernah dipikirkan atau digunakan atau pernah digunakan oleh para Filsuf. 

Setiap yang ada mempunyai sifat, artinya jika ditinjau dari struktur Bahasa, maka yang ada itu berkedudukan sebagai Subjek atau Objek, sedang semua sifat-sifatnya berkedudukan sebagai Objek atau secara khusus disebut Predikat. Jadi di sini, Objek pun mempunyai Predikat, karena setiap Objek mempunyai sifat. Menurut Immanuel Kant, seorang filsuf bangsa Prusia (abad 15), secara pengetahuan atau ilmu pengetahuan atau secara pikir atau secara filsafat, maka di dunia ini hanya ada 2 (dua) prinsip yaitu prinsip Identitas dan prinsip Kontradiksi. Prinsip Identitas ialah keadaan tercapainya A=A, atau Aku = Aku, atau I = I …dst. Ternyata, dikarenakan Filsafat itu adalah sensitif terhadap Ruang dan Waktu, maka selama aku di Dunia, aku tidak pernah mengalami keadaan Identitas. Keadaan Identitas hanyalah terjadi di dalam pikiran kita, atau kalau kita mengandaikan atau kalau kita sudah sampai di akhirat. Di dunia ini memang benar aku tidak dapat mencapai Identitas, karena sebagai contoh belum selesai aku menunjuk diriku, maka dikarenakan ruang dan waktu, diriku yang tadi telah berubah menjadi diriku yang sekarang. Keadaan tidak dapat mencapai Identitas itulah yang kemudian disebut sebagai keadaan Kontradiksi, yaitu Subjek tidak sama dengan Predikatnya; atau Subjek tidak sama dengan Objeknya; atau tidaklah ada suatu sifat bisa menyamai subjek atau objek yang mempunyai sifat tersebut; atau semua predikat pada hakikatnya termaktub dalam Subjeknya. Misal, Pak Marsigit itu handsome, maka selamanya tidaklah pernah terjadi bahwa Pak Marsigit itu sama dengan handsome. Demikian seterusnya. Ini baru pengantar menuju bagaimana membangun pengetahuan atau ilmu pengetahuan.

Selanjutnya, yang ada dan yang mungkin ada yang sedang kita perhatikan sifat-sifatnya, merupakan objek pikir atau benda-benda pikir; mengapa demikian? Karena sebenar-benar filsaat adalah olah pikir. Beberapa sifat yang ada dan yang mungkin ada, atau sifat-sifat dari objek pikir tadi,  yang penting secara filsafati, dikarenakan digunakan oleh para filsuf, meliputi misalnya, dimanakah kedudukan atau lokasi objek pikir? Karena ini filsafat, maka yang dimaksud kedudukan objek pikir aadalah kaitannya dengan pikiran itu sendiri, artinya, dia ada di dalam pikiran atau di luar pikiran? Objek pikir itu bersifat kuantitatif atau kualitatif? Kalau objek pikir bersifat kuantitatif, maka berapa banyak atau jumlahnya. Kalau objek pikir bersifat kualitatif apakah dia berubah atau tetap? Demikian seterusnya. Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara intensif dan ekstensif, maka lahirlah pendapat-pendapat para filsuf; dari pendapat-pendapat para filsuf ini maka lahirlah aliran-aliran filsafat. Terdapat banyak sekali aliran filsafat, sebanyak para filsuf yang memikirkannnya, mulai dari Jaman Yunani Kuno hingga jaman sekarang yaitu Jaman Kontemporer.Immanuel Kant mengatakan jika engkau ingin mengetahui Dunia maka tengoklah ke dalam pikiranmu sendiri, karena sebenar-benar Dunia itu persis sama dengan apa yang engkau pikirkan. Jadi awal dan proses berpikir untuk membangun pengetahuan atau ilmu pengetahuan seperti yang saya uraiakan di atas, bukan terjadi di Yunani Kuno atau di Mesir, atau di Eropa, melainkan dia sebenar-benar terjadi di dalam pikiran kita masing-masing.

Jika objek pikir ada di dalam pikiran kita, maka persoalannya adalah bagaimana kita mampu menjelaskan objek pikir tadi kepada orang lain; inilah sebenar-benar persoalan pertama filsafat berpikir. Jika objek pikir ada di luar pikiran kita, maka bagaimanakah cara kita mengetahuinya; inilah sebenar-benar persoalan kedua filsafat berpikir. 

Kita akan mampu membangun ilmu dan atau ilmu pengetahuan jika mampu menjawab kedua persoalan tersebut. Tetapi yang terjadi adalah tiadalah manusia di dunia ini yang mampu menjawabnya secara tuntas absolut dan sempurna. Sebenar-benar manusia hanya berusaha mengetahuinya dalam ketidaksempurnaan kemampuannya. Sebenar-benar ilmu dan ilmu absolut itu adalah milik Tuhan YME. Jika objek pikir ada di dalam pikiran, maka dia memunyai sifat-sifat misalnya: tetap, ideal, absolut, tunggal, formal, dst. Keadaan objek yang bersifat tetap itulah kemudian diungkapkan oleh Permenides, selanjutnya dia mengatakan bahwa yang ada dan yang mungkin ada itu sebenar-benarnya bersifat tetap. Maka saya dapat katakan,  ini pula yang dapat dikatakan sebagai filsafat Permenidesianisme. Jika kita memandang objek pikir bersifat absolut, maka lahirlah aliran filsafat Absolutisme, di mana tokohnya adalah Plato. Jika objek pikir bersifat tunggal, maka lahirlah filsafat Monisme. Jika objek pikir bersifat formal, maka lahirlah aliran filsafat Formalisme.


BAGIAN II
Pada Bagian II dari Teori ini saya ceramahkan secara On-line pada hari ini Kamis, 13 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika Kelas PM A di R 306 B Pasca Lama pk 07.30 sd 09.10, yang di hadiri oleh 23 mahasiswa. 

Marilah kita cermati lebih dalam tentang sifat-sifat yang ada yang sebagian sudah kita bahas terdahulu. Sebagian dari sifat-sifat tersebut diambil dari sifat yang dijelaskan oleh Immanuel Kant. 

Jika objek pikir berada di dalam pikira kita, maka kita akan menemukan bahwa dia antara lain bersifat: absolut, bersifat tetap, statis,  bersifat, tunggal, bersifat, formal, bersifat sempurna, bersifat ideal, bersifat abstrak, bersifat immanent, bersifat transenden, bersifat reduksionisme, bersifat analitik, bersifat a priori, bersifat rigor,bersifat apodiktik, bersifat konseptual, bersifat normatif, bersifat spekulatif, bersifat hypothetical, bersifat imeginer, bersifat rasional, bersifat logis-tak logis, bersifat aksiomatis, bersifat paralogis, bersifat teleologis, bersifat murni, bersifat analog, bersifat deduksi, bersifat dialektik, bersifat Identitas, tidak terikat oleh ruang, tidak terikat oleh waktu. 

Marilah juga kita cermati lebih dalam tentang sifat-sifat yang ada dan yang mungkin ada, yang berada di luar pikiran. Kita dapat menemukan bahwa objek yang berada di luar pikiran memunyai sifat-sifat: relatif, berubah atau tidak tetap, dinamis, plural atau jamak, berfifat tidak sempurna, bersifat tidak ideal, bersifat nyata, berkedudukan sebagai contoh, bersifat sintetik, bersifat a posteriori, bersifat dinamik, diperoleh dari penginderaan, bersifat kontradiksi, bersifat empiris, bersifat sensasi, berlaku hukum sebab-akibat, terikat oleh ruang, terikat oleh waktu, bersifat kontingen, bersifat konkrit.

Objek filsafat yang berada di dalam pikiran berupa konsep, dimana komponen utama dari sebuah konsep adalah Forma/Wadah/Bentuk dan Sustansi/Isi. Kemudian kita dapat menelusuri bagaimana terjadinya atau terbentuknya sebuah konsep. 

Ada 2 (dua) macam terjadinya konsep. Pertama, konsep terjadi tidak dengan permulaan/landasan; kedua, konsep terjadi dengan permulaan/landasan. 

Segala macam bentuk permulaan/landasan misalnya: janji, kesepakatan, konvensi, mou, hasil rapat, ketetapan menteri, keputusan Presiden, Ketetapan DPR, membuat definisi, meletakkan pondamen bangunan, berdoa, langkah pertama, peletakan batu pertama, starting point, sebuah mimpi, di bai'at, di baptis, membaca kalimah syahadat, niat, keadaan tertentu, pandang pertama, kelahiran, kematian, ijab kobul, dst. Maka aku menemukan bahwa yang dapat menjadi awal atau landasan atau pondamen meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Ternyata saya juga menemukan bahwa yang ada dan yang mungkin ada dapat menjadi awal atau landasan atau pondamen dari yang ada dan yang mungkin ada.Jikalau seseorang membangun konsep dengan menetapkan suatu awal atau suatu landasan atau suatu pondamen, maka sadar atau tidak sadar, dia telah menjadi pengikut filsafat Foundationalisme. Sebenar-benar manusia, hanyalah berusaha menetapkan awalnya atau landasannya atau pondamennya; sebena-benar awal atau awal absolut hanyalah milik Tuhan YME. 

Ternyata, ada orang yang hidupnya atau yang di dalam membangun konsepnya tidaklah demikian, yaitu tidak dengan cara menetapka awal/landasan/pondamen. Mengapa dan kapan? Yaitu ketika orang tersebut memunyai konsep atau memunyai pengetahuan, tetapi dia tidak dapat menentukan kapan dan di mana dia mulai mengerti. Misalnya kita yang mengerti tentang arti: cinta, sehat, sayang, sakit, besar, kecil, jauh, dekat, senang, sedih, baik, buruk, rindu, benci, ...dst, maka kita tidak dapat menjunjukkan kapan dan di mana kita mulai mengerti pengertian-pengertian tersebut. Ternyata kita memunyai ada banyak sekali pengertian-pengertian yang memunyai sifat tidak memunyai awal/landasan/pondamen. Kita yang menyadarinya hal tersebut kemudian mengakuinya maka sadar atau tidak sadar kita termasuk ke dalam orang-orang yang Anti-foundationalisme. Tokoh dari filsafat Anti-foundationalisme adalah Brouwer; selanjutnya disebut juga sebagai aliran Intuitionisme.  

 Jelaslah  bahwa sebagian besar hidup kita masih di dominasi dan masih menggunakan pengetahuan intuitif. Terlebih-lebih anak kecil atau orang yang masih muda; maka sebagian hidupnya menggunakan pengetahuan intuitif. Ekstrimnya, untuk anak kecil di bawah umur 3 tahun, maka sebagian dari mereka tidak dapat mengerti tentang pengetahuannya. Secara filsafat, jika seseorang bekerja atau bertindak tanpa dimengerti apa yang dimaksud dengan tindakannya, maka orang tersebut bertindak berdasarkan Mitos. Maka sebenar-benar pengertian adalah Logos. Namun kita mendapatkan bahwa Mitos pun bermanfaat bagi anak kecil untuk memelajari segala sesuatu; sedangkan kita sebagai orang dewasapun tidak dapat sepenuhnya terbebas dari Mitos. Namun pada tataran tertentu ketika sampai batas keyakinan, kita tidak dapat mengatakan suatu pengertian yang tidak dimengerti sebagai Mitos melainkan karena dia adalah sebuah Keyakinan. 

Dari pembicaraan saya di atas, dapat saya simpulkan bahwa berpikir forndationalisme aka menghasilkan salah satu bentuknya adalah berpikir formal; yang mana kita akan menemukan aliran Formalisme. Secara khusus, aliran filsafat Formalisme berusaha membangun pengetahuan secara deduksi, yang dimulai dengan landasan menetapkan Definisi-definisi, kemudian membuat Aksioma dan Teorema, serta membangun strukturnya dengan berusaha tidak melakukan inkonsistensi. Itulah yang dilakukan oleh para Matematikawan. Dengan demikian jelaslah, bahwa Matematika Murni merupakan ilmu yang bersifat Deduksi yang umumnya dipelajari oleh orang dewasa, atau oleh para mahasiswa di Perguruan tinggi atau oleh para Matematikawan. Dikarenakan domain dari Matematika Murni adalah untuk orang dewasa, maka untuk anak kecil diperlukan pendekatan yaitu mendefinisikan matematika bukan sebagai ilmu yang berfondational, tetapi matematika sebagai pengetahuan intuitif. Matematika sebagai pengetahuan intuitif itulah kemudian ditemukan sebagai Matematika Sekolah. Kemudian Matematika Sekolah didefinisikan sebagai Kegiatan Sosial; oleh karena itulah maka di dalam setiap proses belajar mengajar, diperlukan diskusi kelompok sebagai sarana untuk membangun matematika intuitif yang bersifat kegiatan sosial.

BAGIAN III


Pada Bagian III dari Teori ini saya ceramahkan secara On-line pada hari ini Kamis, 13 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika Kelas PM B di R 201 A Pasca Lama pk 09.30 sd 11.10, yang di hadiri oleh  24 mahasiswa.

Mari kita selidiki kembali perihal objek yang ada di dalam pikiran dan di luar pikiran. Objek yang berada di dalam pikiran antara lain memunyai sifat berpotensi sebagai unsur-unsurnya logika, rasio atau pikiran. Sekali lagi, bagi mereka yang mengagungka rasio tetapi meremehkan pengalaman, maka dia menganut aliran filsafat Rasionalisme. Sebaliknya objek yang ada di luar pikiran, mereka itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada termasuk Pengalaman  atau benda-benda. Mereka yang mengagungka Pengalaman tetapi meremehkan logika atau pikiran, disebut sebagai kaum Empiricism. Tokoh Rasionalisme adalah Rene Descartes dan tokoh Empirisisme adalah David Hume. Bagi Rasionalisme, maka tiadalah sebenar-benar ilmu jika tidak berdasar atau berlandasan pada Rasio. bagi Empirisisme, maka tiadalah sebenar-benar ilmu jika dia tidak berdasar atau berlandaskan pada Pengalaman. 

Apakah yang sebenarnya terjadi para diri kita?

Marilah kita bereksperimen dengan cara menyimulasikan 2 (dua) keadaan yaitu:
Pertama, seaolah-olah kita hanya memunyai Rasio tetapi tidak memunyai Pengalaman. Apakah yang kemudian terjadi? Yang terjadi adalah pikiran manusia yang melayang dan mengembara yang terlepas dari dunia nyata; atau diperolehnya kesimpulan tetapi bersifat hypothetical, yaitu baru merupakan anggapan awal yang tidak dapat dikonfirmasi kebenarannya. Misal mengapa seseorang merasa takut kepada sesuatu padahal dia sebetulnya belum pernah punya pengalaman melihat, bertemu atau berinteraksi, misal takut dengan Buaya Sungai Nil. Maka orang tersebut bersikap atau bertindak berdasarkan pengetahuan Rasionalitas, tetapi tidak berdasarkan Pengalaman. Maka yang dia dapat barulah separoh dari kebenaran atau separuh dari ilmunya. 

Eksperimen kedua, marilah kita menyimulasikan seolah-olah kita mempunyai banyak pengalaman tetapi kita enggan memikirkannya. Atau secara ekstrim, kita menjalani hidup dengan penuh dan hanya mengandalkan pengalaman saja, tetapi kita tidak menggunakan logika atau pikiran kita. Misal, yang terjadi pada seekor Kucing peliharaan kita. Jika sehari suntuk kita ajak Kucing kita pergi piknik ke Gunung Bromo misalnya, maka silahkan tanyakan kepada Kucing anda, bagaimana kesan-kesan atau pengalaman piknik ke Gunung Bromo?. Maka serta merta anda pun akan kecewa kepada Kucing anda, karena Kucing anda tidak mampu menggunakan logika atau pikirannya untuk menyeritakan pengalamannya. Kucing itulah sebagai contoh ekstrim, dimana ada suatu fenomena kehidupan yang hanya mengandalkan Pengalaman tetapi tidak menggunakan Pikiran. Maka menurut Immanuel Kant, sebenar-benar Ilmu adalah Pengalaman yang Dipikirkan; atau sebenar-benar Ilmu adalah Pikiran yang di laksanakan atau diterapkan atau diimplementasikan. 

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka menurut Immanuel Kant, sebenar-benar ilmu adalah gabungan atau perpaduan antara Rasionalisme dan Empirisisme. Marilah kemudian kita selidiki, apakah atau bagaimanakah sifat-sifat Rasio atau Pikiran dan Sifat-sifat Pengalaman itu? 

Lagi, menurut Immanuel Kant, bahwa ciri-ciri dari Rasio atau Logika adalah: dia bersifat analitik, dia bersifat a priori, dia bersifat formal, dia bersifat aksiomatis, dia bersifat logis, dia bersifat tunggal atau Identitas, kebenarannya berdasar pada koherensinya atau kekonsistensiannya. Sedangkan Pengalaman, bersifat sintetik, ia posteriori, bersifat kontradiksi, dst. Ambillah dua sifat yang penting, yaitu Sifat  rasio sebagai analitik a prori; dan sifat Pengalaman sebagai sintetik a posteriori. Setelah itu cobalah kita berusaha mengerti apa yang dimaksud dan kenapa logika kita bersifat analitik a priori? Dan kenapa pengalaman kita bersifat sintetik a posteriori?

Menurut saya, yang dimaksud sifat analitik di dalam logika adalah terjadinya atau diperolehnya suatu konsep atau beberapa konsep di dalam pikiran sebagai akibat logis dari adanya aktivitas berpikir. Aktivitas berpikir yang seperti apa yang menghasilkan sifat analitik tersebut? Secara filsafati, atau secara ontologis, atau secara hakikinya, kegiatan berpikir adalah mengidentifikasi tesis-tesis, kemudian mencari atau membuat anti-anti tesis, dan kemudian melakukan sintesis-sisntesis berdasarkan tesis-tesis dan anti-anti tesisnya. Apakah kemudian yang disebut sebagai tesis dan anti-tesis itu? Jika aku adalah tesis, maka anti-tesisnya adalah selain aku. Jika anda adalah tesis maka anti-tesisnya adalah bukan anda. Jika Pak Marsigit adalah tesis maka anti-tesisnya adalah bukan Pak Marsigit. Jika A adalah tesisnya maka anti-tesisnya adalah bukan A. Padahal bukan A meliputi yang ada dan yang mungkin ada zonder atau dikurang A. Itulah sebabnya mengapa berfilsafat perlu sebuah konteks atau sebenar-benar filsafat dapat ditaruh di depan yang ada dan yang mungkin ada. 


Selanjutnya apakah yang disebut sebagai berpikir a priori itu? Secara awam, berpikir a priori adalah mampu memikirkan suatu benda atau objek pikir walaupun belum mengalaminya atau belum mengindranya. Itulah sebabnya, dengan keampuan berpikir a priori, maka manusia mampu merencanakan sebuah aktivitas, atau program atau projek, atau membuat proposal untuk memeroleh suatu keadaan di masa depan. Misalnya ingin mendaratkan kapal ruang angkasa di sebuah komet. Itulah juga maka manusia memunyai tujuan, memunyai cita-cita, dan memikirkan masa depan. kemampuan untuk memikirkan masa depan itulah yang menurut Immanuel Kant, kemudian disebut sebagai Teleologi. 


Coba pikirkan bagaimana jadinya jika berpikir analitik bertemu atau digabungkan dengan berpikir a priori. Keadaannya seperti kepala dengan ekor, atau seperti tonggak dengan pucuk; sebenar-benar berpikir analitik itu akan berkemistri dengan berpikir a priori. Berkemistri artinya mereka berdua adalah sebangasa dan setanah air. Keadaan a priori hanya diperoleh dengan keadaan analitik; dan keadaan analitik dapat disuburkan oleh kemampuan a priori. Analitik dan a priori berkenaan dengan proses berkembangnya dan dihasilkannya ide-ide atau konsep-konsep atau tesis-tesis dan anti-tesisnya. Proses analitik untuk menghasilkan ide atau konsep baru itu bersesuaian dengan prinsip-prinsip atau metode berpikir misalnya: deduksi, induksi, sebab-akibat, benar-salah, urutan, membandingkan, membedakan, mengelompokkan, menghubungkan atau relasi, mengoperasikan, menjumlahkan, mengurangkan, membagi, mangalikan, dst.


BAGIAN IV


Pada Bagian IV dari Teori ini saya ceramahkan secara On-line pada hari ini Jum'at, 14 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika Kelas PM C di R 201 A Pasca Lama pk 07.30 sd 09.10, yang di hadiri oleh  22 mahasiswa.

Telaah dari proses berpikir analitik a priori kita lanjutkan, misalnya untuk melihat apa yang terjadi pada proses pemahaman tentang konsep-konsep matematika atau bilangan, atau geometri dan relasi serta operasi-operasinya. Misal bagaimana kejadiannya peristiwa penjumlahan dua bilangan misal 7 ditambah 5, atau ditulis 7 + 5. Dalam ranah objek di dalam pikiran maka semua objek bersifat sempurna dan tunggal; tidaklah ada bilangan 7 selain 7, juga tidak ada bilangan 5 selain 5, tetapi di dalam matematika yang dimaksud dengan ketunggalan bilangan 7 ataupun 5, masing-masing adalah tentang nilainya. Maka dikarenakan objeknya ada di dalam pikiran, maka operasi penjumlahan juga terjadi di dalam pikiran. Secara intuitif maupun secara formal, proses analitik dari  7 + 5 menghasilkan bilangan lain yang nilainya adalah 12, jika tidak dibatasi dengan ketentuan-ketentuan lain, misalnya oleh basis bilangan. Maka bilangan 12 dapat diperoleh atau dapat dianggap diperoleh dengan cara a priori, karena dia muncul sebagai hasil dari operasi penjumlahan di mana di dalamnya belum terlihat bilangan 12 itu sendiri. 

Eksperimen dilanjutkan, yaitu kita ingin menyelidiki apa yang terjadi pada peristiwa berpikir sintetik a posteriori. Menurut saya, berdasarkan dari teori Kant, berpikir sintetik adalah proses berpikir yang berlandaskan pengalaman atau fenomena-fenomena di luar pikiran yang memunyai sifat adanya hukum sebab-akibat (walaupun hukum ini pernah di pertanyakan oleh David Hume). Maka proses berpikir sintetik sejalan dengan adanya sifat-sifat satu, dua, atau lebih fenomena-fenomena di luar pikiran serta hubungan dan atau interaksinya. Hubungan atau interaksi dari objek di luar pikiran ditentukan oleh jenis sifat-sifat yang melekat pada diri Subjek dan Objeknya. Hubungan antara sifat-sifat tersebut bersifat plural, atau tidak tunggal dan tidak sempurna; artinya hubungan antara objek-objek pikir di luar pikiran tidaklah mampu mencapai keadaan Identitas; keadaan yang demikianlah yang disebut sebagai keadaan Kontradiksi, yaitu bahwa Predikat telah, sedang dan akan selalu termuat di dalam Subjeknya. Proses berpikir sintesis adalah proses interaksi antara objek-objek di luar pikiran yang menghasilkan sifat-sifat baru sebagai objek baru dari pikiran. Marilah kita lihat contohnya, apa yang terjadi pada proses berpikir sintetik untuk penjumlahan bilangan 7 + 5. Karena objek diluar pikiran terikat oleh ruang dan waktu, maka dia mempunyai makna plural. Maka bilangan 7 diluar pikiran juga memunyai makna plural, misalnya bilangan 7 yang: berwarna biru, berwarna merah, bagus, besar, kecil, kurus, gemuk, murah, wangi, indah, sakral, jauh,dekat, lembut, romantis, kejam,sebagai subjek, sebagai objek ...dst meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Demikian jika sifat objek pikir bilangan 5 diluar pikiran, dan objek-objek yang lain. Kita dapat memikirkan bilangan di luar pikiran sebagai subjek dari buku, pulpen,hp, gelas, ..dst meliputi subjek dari yang ada dan yang mungkin ada, misal 7 buah apel, 5 butir telur, dst.... Kita dapat menentukan atau mencari sifat-sifat tersebut secara intensif dan ekstensif. Jadi pada peristiwa 7 + 5 untuk 7 dan 5 adalah objek pikir yang berada di luar pikiran, menghasilkan fenomena secara plural; misal 7 buku + 5 telur, 7 pensil + 5 penghapus, 7 baju + 5 topi, 7 gelas + 5 sendok, ...dst meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Maka di sini, tiadalah tempat bagi bilangan 12 yang mampu menjawab semua fenomena yang dihasilkan oleh penjumlahan 7 + 5 tersebut.


Sedangkan yang dimaksud dengan berpikir a posteriori, adalah memikirkan objek-objek di luar pikiran setelah mengindranya. Seekor kucing akan menggerakan ekornya ketika melihat tikus yang lewat; itu pertanda kemampuan kucing untuk berpikir setara dengan berpikir a posteriori. Kebanyakan fenomena berpikir a posteriori juga terdapat pada anak kecil. Kemudian, apakah jadinya jika proses berpikir sintetik digabung dengan proses berpikir a posteriori. Keadaannya seperti kepala dengan ekor, atau seperti tonggak dengan pucuk; sebenar-benar berpikir sintetik itu akan berkemistri dengan berpikir a posteriori. Berkemistri artinya mereka berdua adalah sebangasa dan setanah air. Keadaan a posteriori diperoleh karena keadaan sintetik; dan keadaan sintetik dapat disuburkan oleh kemampuan a posteriori. Maka fenomena seekor tikus yang lewat, akan memunyai makna yang berbeda bagi orang dan kucing yang sama-sama menyaksikannya. Jangankan antara orang dan tikus, sedangkan antara orang yang satu dengan orang yang lain pun memunyai makna yang berbeda-beda. Jangankan antara orang yang satu dengan yang lainnya, sedang di dalam diri sendiri saja untuk ruang dan waktu yang berbeda akan memunyai makna yang berbeda.



Dikarenakan anak kecil sebagian baru sampai pada kemampuan memikirkan objek-objek di luar pikiran, maka pikiran yang berbeda, jawaban yang berbeda, tulisan yang berbeda, pakaian yang berbeda, makanan yang berbeda, kesukaan yang berbeda, ritme aktivitas yang berbeda, perhatian yang berbeda, perasaan yang berbeda, dst ...meliputi yang ada dan yang mungkin ada yang berbeda, adalah sunatullah atau kodratnya atau dunianya. Itulah mestinya, matematika untuk anak kecil adalah matematika yang berada di luar pikiran, atau matematika konkret. Wujud dari berpikir sintetik adalah interaksi sosial. Itulah sebabnya mengapa dikenalkan Matematika Sekolah untuk anak kecil. Matematika Sekolah mendefinisikan matematika bukan sebagai ilmu, bukan sebagai struktur, bukan sebagai body of knowledge atau structure of logic, melainkan sebagai Kegiatan Sosial. Itulah pentingnya di dalam pembelajaran matematika perlu adanya diskusi kelompok, atau metode projek bersama, atau metode kooperatif, dst.  

Berikutnya, marilah kita uji ada apakah antara analitik dan sintetik, atau antara apriori dan aposteriori; atau antara gabungan di antara keduanya, yaitu kombinasi misalya: analitik a posteriori dan sintetik a priori. Kalau kita memikirkan fenomena anlitik a posteriori, berarti kita menjumpai adanya proses berkelanjutan yang pada akhirnya di luar kontrol kita sebagai subjek pikir, yaitu dapat digambarkan sebagai seorang yang naik kereta api, cukup duduk atau tertidur di dalam gerbong tertentu, tetapi secara a priori bercita-cita sampai tujuan, dengan mengandalkan berpikir analitik yang bersifat konsisten (semua komponen kereta api beserta masinisnya bersifat konsisten, tidak ada yang memberontak) dan logis serta berkelanjutan atau sustainabel.


BAGIAN V


Pada Bagian V dari Teori ini saya ceramahkan secara On-line pada hari ini Jum'at, 14 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika Kelas PM D di R 100 B Pasca Lama pk 10.00 sd 11.40, yang di hadiri oleh  15 mahasiswa.

Yang kemudian dapat dipertanyakan adalah bagaimana penjelasannya bahwa suatu ilmu itu dapat berbasis pada pengalaman? Atau bagaimana pengalaman itu dapat menuju ke arah pembentukan ilmu. Sebenar-benar jika kita ingin membaca hal ini, adalah dari Empirisime nya David Hume, atau dari bacaan sekunder yang lainnya. Tetapi saya berusaha, berdasarkan pengalaman membaca referensi dan sumber-sumber lain dan menggunakan logika yang diturunkan dari uraian-uraian terdahulu, saya berusaha untuk menguraikannya, sebagai berikut. 

Seperti kita ketahui bersama bahwa segala macam pengalaman atau objek-objek yang terkait dengannya sebagian besar dapat dianggap mereka itu sebagai objek pikir yang ada di luar pengalaman. Bagaimana halnya dengan pengalaman berlogika? Itulah yang sebenar-benar terjadi, bahwa telah terjadi hermenitika antara rasio dan pengalaman. Secara lebih spesifik perihal Pengalaman ini, maka kita dapat mengeksplore sifat, kedudukan dan fungsinya; yaitu apakah sifat-sifat dari Pengalaman itu? bagaimana kedudukan Pengalaman dalam proses berpikir? dan apa fungsi Pengalaman dalam pembentukan konsep berpikir? Secara intuitif atau secara pemahaman orang awam kita dapat mendeskripsikan berbagai aspek Pengalaman sesuai dengan pengalaman masing-masing. Dari sisi ontologisnya, maka sebuah Pengalaman dapat dipandang sebagai Subjek sekaligus sebagai Objek pikir atau rasa atau lihat atau dengar atau tulis atau baca atau tindakan atau segala macam pengindraan dan aktivitas manusia atau binatang atau benda-benda. Masalahnya adalah dapatkah kita mengatakan sebuah tembok memunyai pengalaman di
cat
dengan warna pink? Atau sebuah tanaman memunyai pengalaman di pangkas daunnya? Sejauh mana kita mampu memahami pengalaman-pengalaman pada binatang? Jadi Pengalaman itu milik siapa? Maka kita perlu menggunakan batasan ruang dan waktu untuk memosisikan sebuah Pengalaman. Jika para binatang dapat dianggap memunyai pengalaman, maka seberapa jauh para binatang dianggap memunyai pengetahuan atau bahkan ilmu pengetahuan? Pada titik ini, paling tidak kita merasa adanya perbedaan antara Pengetahuan dan Ilmu Pengetahauan. Para mahasiswa saya yang sedang mengikuti kuliah ini memberi kesaksian bahwa para binatang hanyalah memunyai pengetahuan tetapi tidak memunyai Ilmu Pengetahuan. 

Lagi, jika para binatang dapat dianggap memunyai pengalaman, dan pengalaman mereka dapat digunakan untuk membangun pengetahuan, adalah lain perkara untuk mengetahuinya; tetapi jika demikian maka pertanyaan kita selanjutnya adalah seberapa kita mampu menjelaskan kebermaknaan sebuah pengalaman bagi seorang anak kecil. Anak kecil adalah manusia dengan batasan-batasannya. Maka, apakah perbedaan Pengalamannya manusia dewasa dengan anak-anak? Jika kita berkehendak menjawab pertanyaan ini, maka kita sudah akan menuju ke ranah Psikologi. Tetapi jika kita ingin menelaahnya secara filsafat atau secara ontologis maka, seperti yang dilakukan oleh Immanuel Kant, dalam Teori Berpikirnya, dia tidak menyebut teori berpikir untuk suatu usia tertentu. Pada titik ini, kita merasa mulai dapat membedakan antara Filsafat dan Psikologi. 


Sebetulnya pembicaraan kita ini arahnya ke mana? Arahnya adalah bahwa kita memeroleh Pengalaman juga dengan Pengalaman, dan menghasilkan Pengalaman juga dengan Pengalaman. Bagaimanakah hal tersebut dapat terjadi? Itulah sebenar-benar Intuisi. Menurut Immanuel Kant, segala macam Pengalaman, meliputi tentang Pengalaman yang ada dan yang mungkin ada, itu semua hanya terjadi atau hanya dapat dipahami di dalam intuisi Ruang dan Waktu. Tiadalah pengalaman yang terbebas dari intuisi Ruang dan Waktu. Pastilah yang namanya sebuah Pengalaman, dapat ditanyakan kapan dan di mananya. Persoalan selanjutnya adalah bagaimana intuisi berperan di dalam pembentukan konsep atau pengetahuan?

BAGIAN VI


Pada Bagian VI dari Teori ini saya ceramahkan secara On-line pada hari ini Jum'at, 14 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika PMP2TK Angkt 2014 di R 106 A Pasca Lama pk 15.40 sd 17.20, yang di hadiri oleh  16 mahasiswa.

Demikian saudara, bermacam-macam Pengalaman meliputi yang ada dan yang mungkin ada dapat digolongkan berdasarkan yang ada dan yang mungkin ada. Namun kalau kita belajar dari Immanuel Kant seperti terlihat pada tabel di atas, maka Pengalaman di luar pikiran berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk mengindra melalui persepsinya, sehingga diperolehlah imaginasi dan sensasi. Macam dan kualitas pengalaman ditentukan oleh derajat kesadaran. Persepsi dengan derajat kesadaran tertentu akan menghasilkan konsep berpikir atau pengetahuan. Tentu, di sini kita merasa ada semacam lompatan pemahaman kita, bagaimana pengalaman memersepsi fenomena atau noumena (jika mungkin) dengan kesadaran tertentu mampu menghasilkan Pengetahuan? Immanuel Kant, menjelaskan, seperti tampak pada gambar, bahwa di situ terdapat proses recognition (pengenalan), reproduction (menghasilkan), apprehension (pengembangan).

Jadi pada setiap kegiatan memeroleh Pengetahuan dari Pengalaman, selalu terjadi proses pengenalan, menghasilkan, dan pengembangan. Menurut saya ini selaras dengan ontologi umum tentang Ada (dapat secara sepintas dikatakan sebagai kenal), Mengada (dapat dimaknai sebagai proses menghasilkan) dan Pengada (dapat dimaknai sebagai pengembangan).
Dalam hal ini, dimanakah posisi sebuah Intuisi? Menurut saya, Intuisi ada di setiap langkah, tepatnya ada mendahului langkah, dalam langkah, dan mengikuti langkah menjadi Ada, Mengada dan Pengada. Mengapa? Karena sesuai kodratnya bahwa yang ada dan yang mungkin ada hanya bermakna di dalam Intuisi, tepatnya Intuisi Ruang dan Waktu. Jadi pengertian atau pengetahuan tentang yang ada dan yang mungkin ada selalu dapat ditaruh di depannya Kapan dan di Mana? Immanuel Kant menyebutkan bahwa terdapat 2 (dua) macam pengetahuan yaitu Pengetahuan Konseptual dan Pengetahuan Intuitif. Menurut saya, itulah dia bahwa Pengetahuan Konseptual itu lebih banyak dimiliki oleh orang dewasa; dan pengetahuan yang dimiliki oleh anak-anak lebih banyak bersifat Intuitif. Tentu menurut pandangan saya, semakin dewasa atau semakin tua seseorang, Pengetahuan Intuitifnya semakin berkembang.

Sementara itu, lagi Immanuel Kant mengatakan bahwa Pengetahuan Konseptual dapat berupa Pengetahuan Murni dan Pengetahuan Empiris. Apa artinya? Artinya adalah bahwa Pengalaman juga sudah dapat menghasilkan Pengetahuan Konseptual, yaitu yang bersifat empiris. Menurut saya, yang dimaksud sebagai Pengetahuan Konseptual Murni itulah yang kemudian bersifat ideal, tetap, formal, rasional, dan identitas. Pertanyaan menarik yang dapat diajukan adalah seberapa atau sampai di mana, bahwa intuisi juga terdapat di dalam Pengetahuan Konseptual Murni. Itulah bedanya, saya menulis Pengetahuan “Intuisi”  berbeda dengan “intuisi”. Menurut saya, tiadalah yang ada dan yang mungkin ada, termasuk Pengetahuan Konseptual Murni, terbebas dari intuisi. Artinya kita bisa mengatakan “memunyai pengalaman berlogika matematika murni” . Artinya bahwa, berpikir, berrasional, berlogika, pun sebenarnya merupakan Pengalaman.

Demikian, sementara kuliah saya hentikan karena mengingat waktu telah habis.

Selamat berjuang,


Dosen ybs,


Marsigit


65 comments:

  1. Ika Dewi Fitria Maharani
    PPs UNY P.Mat B
    16709251027

    Membangun Pengetahuan dan Ilmu pengetahuan itu jika kita bisa menjawab dua hal yaitu :
    1. Bagaimana menyampaikan pikiran kita kepada orang lain
    2. Bagaimana mengetahui pikiran di luar pikiran kita
    sayangnya kita sebagai manusia memiliki keterbatasan, tiadalah seseorang yang bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan sempurna dan absolut. Namun kita selalu bisa berusaha untuk mencoba sebaik meungkin menjawab kedua persoalan itu dengan cara kita.

    ReplyDelete
  2. Firda Listia Dewi
    16701251014
    PEP B 2016

    Manusia memang memiliki keterbatasan untuk mengungkapkan semua yang ada di dalam pikirannya, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan YME. Objek yang berada di dalam pikiran mempunyai sifat berpotensi sebagai unsur-unsurnya logika, rasio atau pikiran. Sedangkan, objek yang ada di luar pikiran meliputi yang ada dan yang mungkin ada termasuk pengalaman atau benda-benda.
    Saya sependapat dengan Immanuel Kant bahwa sebenar-benar ilmu adalah gabungan atau perpaduan antara Rasionalisme dan Empirisisme. Ilmu itu merupakan gabungan dari logika pikir dan dari pengalaman. Maksud diperoleh dari logika pikir ialah diperolehnya suatu konsep atau beberapa konsep di dalam pikiran sebagai akibat logis dari adanya aktivitas berpikir. Pengalaman sendiri meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Pengalaman di luar pikiran dapat menghasilkan imajinasi, sehingga kualitas pengalaman ditentukan dari tingkat kesadaran kita. Persepsi dengan derajat kesadaran tertentu akan menghasilkan konsep berpikir atau pengetahuan.

    ReplyDelete
  3. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    elegi di atas bercerita tentang bagaimana membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan. sebenar-benar pengetahuan adalah segala yang ada dan yang mungkin ada baik yang ada dalam pikiran kita maupun yang ada di alam semesta, seperti yang di sampaikan pak Marsigit bahwa membangun pengetahuan sangat lah mudah, cukup kita tidur terus kita bermimpi bermacam-macam maka mimpi kita merupakan pengetahuan, namun pertanyaannya siapa yang mau mendengarkan dan menerapkan pengetahuan dalam mimpi kita. makanya pengetahuan yang terbentuk dalam mimpi tidak bisa menjadi acuan,karena hanya diri kita sendiri yang meyakininya. sehingga segala sesuatu yang tidak bisa dijadikan acuan maka itu bukanlah ilmu pengetahuan, karena sejatinya ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang di pikirkan dan sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan tersebut di publikasikan dan di terima oleh orang banyak barulah menjadi ilmu pengetahuan. dan sebnear-benar untuk menggapai pengetahuan dan ilmu pengetahuan adalah dengan berpikir sintetik a priori.
    pengetahuan yang absolut adalah milik Allah SWT. kita manusia hanya sebatas berusaha sesuai dengan kemampuan kita.

    ReplyDelete
  4. Asri Fauzi
    16709251009
    Pend. Matematika S2 Kelas A 2016
    Membangun pengetahuan itu dari hal yang ada dan mungkin ada. Dalam membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan dibutuhkan kegiatan olah pikir dimana pada kegiatan ini seseorang memikirkan sesuatu yang ada dan mungkin ada. untuk membangun pengetahuan, berawal dari pikiran yang akan menjadi pertanyaan, kemudian menjawab pertanyaan yang muncul dari pikirannya sendiri dengan jawaban yang logis.

    ReplyDelete
  5. Muhamad arfan septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Setelah saya membaca berdasarkan dari teori Kant, berpikir sintetik adalah proses berpikir yang berlandaskan pengalaman atau fenomena-fenomena di luar pikiran yang memunyai sifat adanya hukum sebab-akibat (walaupun hukum ini pernah di pertanyakan oleh David Hume). Maka proses berpikir sintetik sejalan dengan adanya sifat-sifat satu, dua, atau lebih fenomena-fenomena di luar pikiran serta hubungan dan atau interaksinya. Hubungan atau interaksi dari objek di luar pikiran ditentukan oleh jenis sifat-sifat yang melekat pada diri Subjek dan Objeknya.

    ReplyDelete
  6. Muhamad arfan septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Dapat di simpulkan bahwa berpikir forndationalisme aka menghasilkan salah satu bentuknya adalah berpikir formal; yang mana kita akan menemukan aliran Formalisme. Secara khusus, aliran filsafat Formalisme berusaha membangun pengetahuan secara deduksi, yang dimulai dengan landasan menetapkan Definisi-definisi, kemudian membuat Aksioma dan Teorema, serta membangun strukturnya dengan berusaha tidak melakukan inkonsistensi. Itulah yang dilakukan oleh para Matematikawan. Dengan demikian jelaslah, bahwa Matematika Murni merupakan ilmu yang bersifat Deduksi yang umumnya dipelajari oleh orang dewasa, atau oleh para mahasiswa di Perguruan tinggi atau oleh para Matematikawan. Dikarenakan domain dari Matematika Murni adalah untuk orang dewasa, maka untuk anak kecil diperlukan pendekatan yaitu mendefinisikan matematika bukan sebagai ilmu yang berfondational, tetapi matematika sebagai pengetahuan intuitif.

    ReplyDelete
  7. Khaerudin
    16701621009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Jadi objek filsafat itu yang ada dan yang mungkin ada. Kata dasar ada itu, ada dan mungkin ada, kata dasar itu mempunyai sifat, sifat yang ada itu seperti apa, ada yang sedang bagaimana, ada yang bagaimana dan seterusnya.
    Maka disesuaiakan dengan hakikat filsafat tadi, ada hakikatnya, ada epistimologinya, ada aksiologinya. Maka yang ada itu pun yang sudah ontologis ada, ada yang sedang mengada dan ada yang tidak mengada. Mengada itu, kenapa mengada karena dia punya potensi yang untuk mengada, potensi mengada itulah yang namanya ikhtiar atau disebut sebagai vital.

    ReplyDelete
  8. Nuha Fazlussalam
    13301244023
    S1 pendidikan matematika C 2013

    dari postingan diatas, menceritakan darimana asal pengetahauan dan bagaimana ilmu pengetahuan itu terjadi, dan proses membangun ilmu pengetahuan sesuia dengan usianya. ilmu pengetahuan adalah gabungan dari pengalam dan analisi prdeiksi, analisis prediksi yang bisa dibuktikan/diterapkan dan pngalam yang dapat dianalisis. terimaksih pak

    ReplyDelete
  9. NIkma Husna
    13301244024
    Pendidikan Matematika C 2013
    Dalam membangun pengetahuan banyak sekali sumber-sumbernya. Kita bisa membangun pengetahuan dari pengalaman-pengalaman yang ada, kita juga bisa membangun pengetahuan dari olah pikir kita. Dalam membangun pengetahuan diperlukan niat dan hati yang ikhlas, jika tanpa adanya keikhlasan dalam hati kita maka pengetahuan yang kita dapatkan akan kurang maksimal.

    ReplyDelete
  10. Harsiti Indrawati
    13301241021

    Sedikit rangkuman dari artikel di atas adalah tentang membangun ilmu dipandang dari segi filsafat. Di dalam filsafat itu sendiri terdapat berbagai macam aliran yang diikuti oleh para fisuf. Di antaranya dikenal dengan foundamentalisme dan intiutionisme. Keduanya saling kontra satu sama lain. Foundamentalisme adalah aliran di mana landasan/dasar/definisi merupakan langkah awal. Salah satu contoh penganutnya adalah matematikawan. Matematikawan berpikir dari sebuah definisi, kemudian mejadi aksioma, teorema dan seterusnya. Sedangkan intiutionisme adalah suatu aliran di mana seseorang bekerja terlebih dahulu berdasarkan apa yang mereka temui tanpa berlandaskan. Sebagai contoh perilaku anak-anak yang melakukan sesuatu berdasarkan mitos yang sering ditemuinya. Selain itu, ada pula aliran rasionalisme dan empirisisme yang saling kontradiksi pula. Aliran rasionalisme mengagungkan pikiran/rasio. Sedangkan aliran empirisisme mengagungkan pengalaman. Namun, menurut Imanuel Kant sebenar-benar ilmu adalah pengalaman yang dipikirkan atau pikiran yang diimplementasikan. Sehingga kita mengenal analitik a priori dan sintetik a posteriori. Analitik a priori disebut juga ilmu pikir. Analitik di sini mempunyai arti berdasarkan logika. Sedangkan a priori adalah pengandaian. Sebaik-baik ilmu adalah sintetik a priori.

    ReplyDelete
  11. Eka Pravista
    13301241004
    Pendidikan Matematika A 2013

    Hasil Releksi saya tentang “Teori Marsigit tentang Bagaimana Membangun Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan:
    •Persoalan pertama filsafat berpikir : Jika objek pikir ada di dalam pikiran kita, maka persoalannya adalah bagaimana kita mampu menjelaskan objek pikir tadi kepada orang lain;
    •Persoalan kedua filsafat berpikir : Jika objek pikir ada di luar pikiran kita, maka bagaimanakah cara kita mengetahuinya;
    •Kita akan mampu membangun ilmu dan atau ilmu pengetahuan jika mampu menjawab kedua persoalan tersebut.
    •Tetapi yang terjadi adalah tiadalah manusia di dunia ini yang mampu menjawabnya secara tuntas absolut dan sempurna. Sebenar-benar manusia hanya berusaha mengetahuinya dalam ketidaksempurnaan kemampuannya. Sebenar-benar ilmu dan ilmu absolut itu adalah milik Tuhan YME.

    ReplyDelete
  12. Eka Pravista
    13301241004
    Pendidikan Matematika A 2013

    Selain itu, refleksi saya terkait elegi ini adalah untuk mendapat Pengalaman juga dengan Pengalaman, dan menghasilkan Pengalaman juga dengan Pengalaman. Bagaimanakah hal tersebut dapat terjadi? Itulah sebenar-benar Intuisi. Menurut Immanuel Kant, segala macam Pengalaman, meliputi tentang Pengalaman yang ada dan yang mungkin ada, itu semua hanya terjadi atau hanya dapat dipahami di dalam intuisi Ruang dan Waktu. Tiadalah pengalaman yang terbebas dari intuisi Ruang dan Waktu. Pastilah yang namanya sebuah Pengalaman, dapat ditanyakan kapan dan di mananya.

    ReplyDelete
  13. soviyana munawaroh syidhi
    13301244020
    pendidikan matematika C 2013

    filsafat adalah pola pikir dan objek filsafat adalah sesuatu yang ada dan mungkin ada. dalam membangun suatu pengetahuan bisa dari hal yang ada dan yang mungkin ada. sesuatu yang ada artinya kita telah mengetahuinya, sesuatu itu ada dalam pikiran kita, sedangkan sesuatu yang mungkin ada itu adalah bisa ada atau tidak ada, bisa saja ada dalam pikiran dan kemudian menjadi ada atau memang tidak ada dan tidak di ikhtiarkan. oleh karena itu sebaik- baik manusia adalah yang berusaha mengetahui sesuatu yang mungkin ada / belum diketahui.

    ReplyDelete
  14. soviyana munawaroh syidhi
    13301244020
    pendidikan matematika C 2013

    filsafat adalah pola pikir dan objek filsafat adalah sesuatu yang ada dan mungkin ada. dalam membangun suatu pengetahuan bisa dari hal yang ada dan yang mungkin ada. sesuatu yang ada artinya kita telah mengetahuinya, sesuatu itu ada dalam pikiran kita, sedangkan sesuatu yang mungkin ada itu adalah bisa ada atau tidak ada, bisa saja ada dalam pikiran dan kemudian menjadi ada atau memang tidak ada dan tidak di ikhtiarkan. oleh karena itu sebaik- baik manusia adalah yang berusaha mengetahui sesuatu yang mungkin ada / belum diketahui.

    ReplyDelete
  15. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Teori yang bapak jelaskan mengenai bagaimana membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan ini sangat bagus. Bahwasannya, pengetahuan dan ilmu pengetahuan dikembangkan oleh beberapa ahli terdahulu yang mengkonsep sedemikian rupa. Sebenar-benar pengetahuan adalah segala yang ada dan yang mungkin ada baik yang ada dalam pikiran kita maupun yang ada di alam semesta, membangun pengetahuan itu tidak sulit. bahkan diibaratkan kita tidur untuk bermimpi. bermimpi dalam hal ini, kita memiliki harapan/cita-cita yang akan dicapai melalui pengalaman-pengalaman yang kita alami. Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang kita pikirkan dan sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan. setelah itu, di publikasikan dan di terima oleh orang banyak barulah menjadi ilmu pengetahuan dan sebenar-benar untuk menggapai pengetahuan dan ilmu pengetahuan adalah dengan berpikir sintetik a priori.

    ReplyDelete
  16. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Objek dalam filsafat yaitu ada dan yang mungkin ada. Ada itu di dalam pikiran kita dan yang mungkin ada itu diluar pikiran kita. Kedua hal ini memiliki kharakteristik yang berbeda. jika dalam "ada" makna Aku adalah aku, namun dalam "yang mungkin ada" arti aku belum tentu bermakna aku. sebaik-baik manusia itu yang mau belajar ilmu pengetahuan. Berdasar teori ini tiada ilmu jika tiada rasio dan pengalaman.

    ReplyDelete
  17. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Materi ini telah bapak sampaikan juga pada saat perkuliahan filsafat matematika, dan yang menarik adalah kita yang sedang belajar ini ibarat ikan "cithul" yang ada dilaut selatan. Dari kalimat ini, kita terlihat sangat kecil dan masih banyak hal yang belum kita tau. Kita bisa bertahan dengan mengikuti arus gelombang air laut, namun bukan berarti kita jalani mengalir seperti air saja karena sifat air akan menuju tempat yang lebih rendah.

    ReplyDelete
  18. Andhita Wicaksono Nugroho
    13301241065
    Pendidikan Matematika C 2013

    Terima kasih Pak, postingan ini sangat bermanfaat bagi saya dalam mencari ilmu

    ReplyDelete
  19. Teduh Sukma Wijaya
    13301241073
    Pendidikan Matematika C 2013


    Jika objek pikir ada di dalam pikiran kita, maka persoalannya adalah bagaimana kita mampu menjelaskan objek pikir tadi kepada orang lain; inilah sebenar-benar persoalan pertama filsafat berpikir. Jika objek pikir ada di luar pikiran kita, maka bagaimanakah cara kita mengetahuinya; inilah sebenar-benar persoalan kedua filsafat berpikir.

    ReplyDelete
  20. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Dari artikel di atas jika ditarik garis besarnya terkait sumber pengetahuan/ilmu pengetahuan dapat dikatan bahwa sumber pengetahuan yang secara alamiah yang dipakai manusian berupa akal (rasio) dan pengalaman (empiris). Karena orang mempunyai kecendrungan untuk membentuk aliran berdasarkan salah satu di antara keduanya maka kedua-duanya sama-sama membentuk aliran tersendiri yang saling bertentangan, seperti yang dijabarkan pada artikel di atas lahirlah aliran rasionalisme dengan tokohnya Rene Descartes yang berpendapat bahwa sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah akal, baginya hanya pengetahuan yang diperoleh lewat akallah yang memenuhi syarat yang dituntut untuk semua ilmu pengetahuan.
    Di sisi lain muncullah aliran pembanding dari rasionalisme yakini aliran empirisme dengan tokohnya David Hume yang beranggapan bahwa pengetahuan yang bermanfaat, pasti dan benar hanya diperoleh lewat pengalaman. Dari sini maka muncullah seorang Imanuel Kant yang berperan sebagai penengah sekaligus menjadi solusi dari perdebatan paham tersebut dimana menurutnya kedua-duanya (tokoh) benar tapi juga salah karena hidup yang mengandalkan akal saja merupakan separuh dunia begitupun sebaliknya dengan yang hanya mengandalkan pengalaman saja juga merupakan separuh dunia maka sebenar-benar sumber pengetahuan diperoleh melalui AKAL dan PENGALAMAN. Akal tanpa pengalaman bisa menjadi mitos begitupun pengalaman tanpa akal juga akan menjadi mitos.

    ReplyDelete
  21. Rospala Hanisah Yukti Sari
    16790251016
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A Tahun 2016

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Salah satu dari tujuan pendidikan adalah menguasai IPTEK. Maka dalam hal ini, awalnya adalah membangun pengetahuan itu sendiri. Membangun pengetahuan merupakan akumulasi dari logika dan pengalaman. Dengan melakukan serangkaian logika kemudian disintesiskan dengan pengalaman maka akan terjadi sebuah pengetahuan.

    Pengetahuan ada yang bersifat a priori dan a posterori. Perbedaan keduanya terletak diawal atau diakhir dalam membentuk sebuah pengetahuan. Adapun intuisi dapat dikembangkan dari pengalaman. Intuisi diperlukan untuk menanggapi respon atau stimulus secara spontan. Intusis tentunya dibangun dengan melakukan pengalaman berkali-kali agar posisi pengetahuan itu berada di alam bawah sadar dan dapat dipraktikkan ketika menghadapi situasi atau permasalahan yang membutuhkan respon spontan.

    Adapun pengetahuan itu sndiri di dalam islam harapnnya bisa memperkuat akidah islam, membentuk kepribadian islam, dan menguasai IPTEK. Serta ilmu yang diperoleh dapat berkontribusi bagi kemaslahatan masyarakat.

    Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    ReplyDelete
  22. Refleksi terhadap teori marsigit tentang bagaimana membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan.
    Ciri ilmu adalah memiliki obyek penyeleidikan, yakni obyek material dan obyek formal.
    Obyek material merupakan suatu hal yang menjadi sasaran penyelidikan atau pemikiran sesuatu yang dipelajari baik berupa obyek kongkret maupun abstrak.Pertama; Obyek material yang bersifat kongkret adalah obyek yang nyata secara fisik, baik yang bernyawa maupun tidak bernyawa. Kedua; Obyek material yang bersifat abstrak adalah seperti nilai-nilai, ide-ide, paham, aliran dan sikap.
    Sedangkan obyek formal merupakan cara pandang terhadap obyek material, termasuk orinsi-prinsil yang digunakan.

    Muhlis Malaka
    16701259003
    S3 PEP A 2016

    ReplyDelete
  23. SHALEH
    16701361010
    S3 PEP A 2016

    "Gebyah uyah" metode saintifik pada K3 tampak nyata berseberangan dengan kebutuhan riil perserta didik akan pengembangan intuisinya sebagai bagian dari pengembangan pribadinya. Contoh tentang pendidikan matematika anak sebagai pengetahuan intuitif yang kemudian memicu lahirnya matematika sekolah telah "luput" dari perhatian K13.

    ReplyDelete
  24. LINA
    16701261022
    PPs PEP-A/2016


    Ilmu dan pengetahuan dibangun atas dua pertanyaan: (1)bagaimana kita mampu menjelaskan objek pikir yang ada dalam pikiran kita kepada orang lain? dan (2)bagaimana cara kita mengetahui objek pikir yang ada di luar pikiran kita? Yang ada dan yang mungkin ada bisa yang terletak baik di dalam atau di lura pikiran kita memiliki sifat yang berstruktur dan berhierarki. Membangun pengetahuan atau ilmu pengetahuan secara filsafat dilakuakan dengan mengidentifikasi sifat yang jumlahnya tak terhitung tersebut.

    ReplyDelete
  25. Wadiyono
    16701251021
    Penelitian dan Evaluasi Pendidikan S2 2016

    Membangun pengetahuan itu berasal dari pikiran kita. Dasar dari segala Ilmu adalah dari pikiran manusia yang di eja wantahkan dalam perbuatan mengamati dan mencermati segala yang terjadi di sekitar kita melalui pengalaman empiris. Membangun pengetahuan adalah dengan tidak henti-hentinya berfikir dan berfikir yang dimungkinkan tidak dipikirkan oleh orang lain,mencoba berfikir “radikal” dalam artian yang positif,berfikir divergen dan mencoba keluar dari alur pikiran yang “umum” dan normatif. Tidak mudah membangun Ilmu,tetapi perlu disadari pula bahwa pada umumnya Ilmu itu bersifat “Tentatif” artinya bisa di sanggah degan definisi yang lebih masuk akal. Tidak mudah untuk menemukan,tidak mudah untuk mebangun sesuatu yang baru bila tidak didasari oleh kemauan yang keras.
    Ketelitian berpikir,divergenitas berpikir dan radikalitas berpikir serta pemahaman bahwa Ilmu bisa berubah adalah dasar dari membangun Ilmu...

    ReplyDelete
  26. Wadiyono
    16701251021
    Penelitian dan Evaluasi Pendidikan S2 2016

    Disadari atau tidak,pengetahuan itu berasal dari ketelitian dan kejelian para pendahulu kita. Teori Gravitasi ditemukan dengan cara yang “ tidak disengaja” oleh Isaac Newton ketika memperhatikan buah Apel yang jatuh dari pohonnya.
    Bukan kah Buah jatuh dari pohonya adalah peristiwa yang biasa? Tetapi menjadi luar biasa setelah diperhatikan dan “dimaknai” oleh Isaac Newton.
    Dasar pemikirannya adalah ...mengapa apel jatuh ke bawah? Apel Jatuh kebawah karena ada gaya tarik bumi karena pengaruh medan magnet bumi...
    Masih banyak contoh penemuan yang mebangun pengetahuan. Hampir dari semua adalah “hasil” atau “buah” dari ketelitian dan kejelian kita dalam berfikir....

    ReplyDelete
  27. Umi Arismawati
    13301241032
    Pendidikan Matematika A 2013

    Mempelajari Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan itu sangat penting. Secara filsafat, membangun pengetahuan dapat dimulai dari yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  28. Umi Arismawati
    13301241032
    Pendidikan Matematika A 2013

    Mempelajari Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan itu sangat penting. Secara filsafat, membangun pengetahuan dapat dimulai dari yang ada dan yang mungkin ada. Menurut Immanuel Kant, seorang filsuf bangsa Prusia (abad 15), secara pengetahuan atau ilmu pengetahuan atau secara pikir atau secara filsafat, maka di dunia ini hanya ada 2 (dua) prinsip yaitu prinsip Identitas dan prinsip Kontradiksi. Keadaan Identitas hanyalah terjadi di dalam pikiran kita. Terima kasih

    ReplyDelete
  29. Umi Arismawati
    13301241032
    Pendidikan Matematika A 2013

    Saya sangat tertarik dengan ungkapan "setiap kegiatan memperoleh Pengetahuan dari Pengalaman, selalu terjadi proses pengenalan, menghasilkan, dan pengembangan". Sebagai guru hendaknya memberikan berbagai pengalaman pembelajaran kepada anak didiknya. Pembelajaran dapat diberikan secara bervariasi mulai dengan metode atau pendekatan yang bervariasi agar siswa mendapatkan pengalaman yang berbeda-beda. Guru juga dapat memberikan pembelajaran yang kontekstual sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman pengetahuan dari kehidupan sehati-hari/kehidupan nyata. Terima kasih

    ReplyDelete
  30. MUTIARA KUSUMAWATI
    16701251007
    PEP S2 B

    Pemikiran Immanuel Kant dan Kritisisme Kantian berusaha menyatukan rasionalisme dan empirisisme dalam semacam fenomenalisme “baru” (fenomenalisme jenis unggul). Bagi Kant, manusialah aktor yang mengkonstruksi dunianya sendiri. Melalui a priori formal, jiwa manusia mengatur data kasar pengalaman (pengindraan) dan kemudian membangun ilmu-ilmu matematika dan fisika. Melalui kehendak yang otonomlah jiwa membangun moralitas. Dan melalui perasaan (sentiment) manusia menempatkan realitas dalam hubungannya dengan tujuan tertentu yang hendak dicapai (finalitas) serta memahami semuanya secara inheren sebagai yang memiliki tendensi kepada kesatuan (unity).

    Menurut Kant, rasionalisme termasuk jenis “putusan analitis. Disebut demikian karena jenis putusan ini mengkonstruksi sebuah sistem pengetahuan yang dilengkapi dengan aspek atau dimensi universalitas dan keniscayaan, tetapi bagi Kant, jenis pengetahuan semacam ini bersifat tautologis. Jenis pengetahuan ini tidak mampu membantu kita memahami realitas. Pengetahuan jenis ini tentu tidak andal, karena itu pengetahuan harus maju selangkah lagi, dan menurut Kant, pengetahuan harus bersifat “sintetis”. Yang dimaksud adalah jenis pengetahuan yang predikatnya memperluas pengetahuan kita mengenai subjek. Empirisme tentu bukanlah jenis putusan “sintetis”, tetapi lebih merupakan putusan a posteriori, di mana predikatnya tidak lebih dari fakta pengalaman, dan tentu saja mengakibatkan putusan ini kehilangan unsur universalitas dan keniscayaannya. Jenis putusan apapun yang tidak memiliki unsur universalitas dan keniscayaan tentu bukanlah jenis pengetahuan filosofis yang cukup meyakinkan.

    ReplyDelete
  31. MUTIARA KUSUMAWATI
    16701251007
    PEP S2 B

    Kant mengajarkan bahwa ada jenis putusan lain yang disebut putusan sintetis apriori. Bagi Kant, jenis putusan ini akan mengarah kepada pengetahuan ilmiah yang benar. Jenis putusan ini disebut sintetis karena memiliki karakter universalitas dan memenuhi criteria keniscayaan (necessity) tanpa menjadi tautologis. Selain itu, jenis putusan ini pun memiliki fekunditas putusan aposteriori tanpa dibatasi pada pengada tertentu yang ada di dunia empiris. Syarat pembentukan setiap putusan sintetis apriori adalah perlunya putusan memiliki forma (form) dan materi (matter). (1) Forma diberikan oleh intelek, independen dari semua pengalaman, a priori, dan menandakan fungsi, cara dan hukum mengetahui dan bertindak yang eksistensinya mendahului seluruh pengalaman. (2) Materi tidak lain adalah sensasi subjektif yang kita terima dari dunia luar.

    Jelas, pengetahuan diperoleh melalui putusan apriorinya Kant adalah jenis pengetahuan yang memiliki hanya nilai fenomenal. Jenis pengetahuan ini tidak memberikan pemahaman yang valid mengenai obyek “in se” atau sebagaimana merekaa eksis di alam (noumena), tetapi hanya sejauh mereka dipikirkan oleh subjek. Ego berpikir Kant tidak mengasimilasi obyek, sebagaimana dipertahankan filsafat tradisional, tetapi konstruksinya. Kenyataannya, baik materi dan bentuk (sensasi) adalah elemen subjektif dan tidak memperlihatkan kenyataan; bahkan tetap terpisah dan berbeda dari subjek.

    ReplyDelete
  32. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP Kelas A

    Dari pemaparan Prof. Marsigit tentang bagaimana membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan, terdapat kalimat “mendapatkan pengalaman juga dengan pengalaman, dan menghasilkan pengalaman juga dengan pengalaman”. Dari kalimat ini terkandung makna bahwa pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman atau pengalaman merupakan nutrisi pembentuk pengetahuan. Dan apabila dikombinasi dalam artian disinergikan, maka akan menghasilkan suatu pemahaman yang sangat luar biasa. Ibaratnya, apabila terdapat beberapa orang yang memiliki latar belakang berbeda atau hampir sama mampu bekerja sama untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki, maka akan menghasilkan ide-ide atau pengetahuan yang sangat luar biasa.

    ReplyDelete
  33. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP Kelas A

    Pada pemaparan diatas, disebutkan bahwa Pada setiap kegiatan memperoleh pengetahuan dan pengalaman, selalu terjadi proses pengenalan, menghasilkan dan mengembangkan. Semua orang memiliki pengalaman. Setiap dari kita yang pernah melintasi waktu pasti memiliki kenangan sendiri yang bisa saja unik, menarik dan berbeda. Kita mungkin pernah mendengan pengalaman adalah guru yang paling berharga, dan tidak ada yang lebih menyenangkan selain melakukannya sendiri, sehingga kita tahu bagaimana rasanya, apakah lembut, keras atau sakit. Namun perlu kita pahami bahwa banyaknya pengalaman belum tentu semuanya baik. Kita sebagai manusia bijak harus memiliki sikap kritis dan selektif

    ReplyDelete
  34. Azwar Anwar
    16709251038
    Pendidikan Matematika S2 Kelas B 2016

    Dalam membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan itu harus berawal dari diri sendiri, kemudian menggunakan pola pikir serta hati yang bersih, dengan begitu kita akan lebih mudah dalm menggapai/membangun pengetahuan dan ilmu pengatahuan. Pengetahuan dan ilmu pengetahuan perlu dibangun agar kita mempunyai sebuah pondasi yang kokoh dalam mengaplikasikan suatu pemecahan masalah. Dalam membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan perlunya sebuah pengalaman karena dari situ kita akan melakukan sebuah perubahan atau reduksi di dalam diri.

    ReplyDelete
  35. Arif Dwihantoro
    13301244012
    Pendidikan Matematika C 2013

    Dari postingan diatas dapat mengetahui pengetahuan dan ilmu pengetahuan. ternyata berbeda antara pengetahuan dan ilmu pengetahuan dan bagaimana cara membangun ilmu pengetahuan itu sendiri

    ReplyDelete
  36. Dari penjelasan di atas diketahui Membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan sacara filsafat adalah dengan mengidentifikasi sifat dari yang ada dan yang mungkin ada. Sifat2 itu berstruktur dan berhierarki. Pengetahuan dapat berasal dari pengalaman yang disebut pengetahuan konseptual. Pengetahuan konseptual dapat berupa pengetahuan murni dan pengetahuan empiris.
    Miftahir Rizqa
    PEP Kelas A
    16701261027

    ReplyDelete
  37. Pengetahuan adalah sesuatu apa yang di lihat atau diperoleh melalui panca indera atau hanya merupakan pendapat yang benar disertai penjelasan tentang suatu objek dan pengetahuan adalah segala yang ada dan yang mungkin ada baik yang ada dalam pikiran kita , lingkungan kita maupun yang ada di alam semesta. Dalam membangun ilmu kiranya tidak lepas dari fungsi filsafat karena filsafat adalah pembelajaran tentang seluruh fenomena kehidupan ,jadi peran filsafat adalah:
    1.sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada.
    2.mempertahankan,menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan filsafat lainnya.
    3.memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia.
    jika objek pikir ada dalam pikiran kita, maka apakah kita mampu menjelaskan objek pikir tadi kepada orang lain dan jika objek pikir kita ada di luar pikiran kita ,maka bagaimanakah cara kita mengetahuinya, dan dijelaskan diatas bahwa jika kita mampu menjawab kedua pertanyaan tersebut maka kita akan mampu membangun ilmu dan pengetahuan.

    M. Saufi Rahman
    S3 PEP Kelas A
    16701261024

    ReplyDelete
  38. Herwati Dian Saputri
    12313244004
    Pend. Matematika (Inter.)

    Saya tertarik membaca teori bagaimana membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan. BAhwa sebenarnya pengetahuan itu dibangun dari pengalaman dan pola pikir manusia. Pengetahuan berkembang sejalan dengan perkembangan zaman. Selain itu, pengetahuan juga akan menghasilkan sesuatu yang mungkin ada menjadi ada akibat pola pikir manusia. Oleh karena itu, perlu ditanamkan sikap optimis agar pengetahuan semakin berkembang.

    ReplyDelete
  39. Dwi Adityas Rarasati
    13301241015
    PMI 2013

    Saya tertarik tentang sesuatu yang ada dalam pikiran kita belum tentu ada dalam pikiran orang lain. Sama halnya tentang warna yang dapat dilihat oleh orang normal dan buta warna. Semua tergantung sudut pandang. Objek pun dapat dilihat dari berbagai arah. Setiap arah pun mewakili pendapat yang berbeda.

    ReplyDelete
  40. Dwi Adityas Rarasati
    13301241015
    PMI 2013

    Membangun pengetahuan berarti menyatukan segala bentuk ilmu yang telah dipelajari menjadi lebih berarti. Dan menurut saya pengetahuan alam juga tidak terbatas pada pemahaman satu orang saja. Melainkan beberapa pemikiran yang saling berkaitan.

    ReplyDelete
  41. Rofiah Yusuf
    13301241039
    Pend. Mat I 2013

    Salah satu ciri khas ilmu pengetahuan adalah sebagai suatu aktivitas, yaitu sebagai suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar oleh manusia. Ilmu menganut pola tertentu dan tidak terjadi secara kebetulan. Ilmu tidak saja melibatkan aktivitas tunggal, melainkan suatu rangkaian aktivitas, sehingga dengan demikian merupakan suatu proses. Proses dalam rangkaian aktivitas ini bersifat intelektual, dan mengarah pada tujuan-tujuan tertentu.

    ReplyDelete
  42. Rofiah Yusuf
    13301241039
    Pend. Mat I 2013

    Pada dasarnya pengetahuan merupakan hasil tahu manusia terhadap sesuatu, atau segala perbuatan manusia untuk memahami suatu objek tertentu. Pengetahuan dapat berwujud barang-barang baik lewat indera maupun lewat akal, dapat pula objek yang dipahami oleh manusia berbentuk ideal.

    ReplyDelete
  43. Teori membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan berdasarkan filsafat ada dan tidak ada meliputi dua hal yaitu :bagaimana menyampaikan pikiran kita kepada orang lain dan bagaimana mengetahui pikiran di luar pikiran kita, namun sebagai manusia yang memiliki keterbatasan sehingga kita harus berusaha sebaik mungkin untuk menerima pikiran diluar pikiran kita sehingga pegetahuan dan ilmu pengetahuan itu terbentuk dari bermacam pemahaman yang logis.

    Triwid Syafarotun Najah
    16701261011
    PEP S3 (A) 2016

    ReplyDelete
  44. Nauqi Aprilia Putri
    13301241023
    Pendidikan Matematika A 2013

    Seperti pada perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika, Prof. Marsigit juga mengatakan bahwa dunia tanpa ruang dan tanpa waktu maka tak akan ada apapun, termasuk diriku sendiri sekarang berada di sini. Dan juga karena sebenar - benarnya filsafat adalah dirimu sendiri. Jika seseorang ditanya cara pandangnya terhadap dunia atau kehidupan yang akan dijalani, misalkan tentang masa depan, maka ia juga akan melangsungkan kehidupannya juga sama seperti apa yang ia pikirkan. Namun, saya rasa sulit untuk secara tiba – tiba merubah pemikiran seseorang mengenai kehidupan selanjutnya yang akan ia hadapi yang ia anggap sebagai rasa takut, padahal sebenarnya menjalani hidup ini tak perlu ada rasa takut, yang seharusnya dijalankan dengan usaha yang terbaik, sisanya Tuhan yang berkehendak.

    ReplyDelete
  45. Nauqi Aprilia Putri
    13301241023
    Pendidikan Matematika A 2013

    Semua yang dipikirkan tak bisa dijelaskan secara bersamaan. Seseorang ingin menjelaskan tentang sesuatu hal namun sebenarnya ada banyak hal yang ia pikiran mengenai hal tersebut. Sehingga, apa yang terucap merupakan salah satu apa yang ia pikirkan mengenai hal tersebut. Sungguh bersyukur dengan hal tersebut karena jika diucapkan seluruh apa yang ia pikirkan dengan waktu yang bersamaan, maka orang lain pun tak akan paham. Sebenar-benar manusia hanya berusaha mengetahuinya dalam ketidaksempurnaan. Bagaimana jika manusia merupakan makhluk yang paling sempurna, misalkan diberi kesempurnaan kemampuan telinga yang mampu mendengar suara dengan semua frekuensi yang ada, maka tidak bisa ia membagi - bagi dalam pikirannya.

    ReplyDelete
  46. Nauqi Aprilia Putri
    13301241023
    Pendidikan Matematika A 2013

    Mengenai pengalaman yang dapat membentuk ilmu, yaitu dengan langsung berpraktek atau melakukan sesuatu sehingga menjadi pengalaman kemudian akan menyadari bahwa pengaaman tersebut merupakan basis dari pembentukan ilmu. Tak hanya pengetahuan yang menjadikan pengalaman. Anak yang masih kecil atau masih muda juga menjadikan pengalamannya sebagai pembentuk ilmu yang baru atau bahkan pembentukan konsep yang melengkapi konsep yang sebelumnya sudah tertanam dalam benak anak.

    ReplyDelete
  47. Luthfannisa Afif Nabila
    13301241041
    Pendidikan Matematika A 2013
    Saya belum begitu mengerti bedanya pengetahuan intuisi dengan intuisi. Dikatakan bahwa semakin tua atau dewasa seseorang maka pengetahuan intuitifnya semakin berkurang, lalu bagaimana dengan kasus orang tua atau dewasa yang pemikirannya masih kekanak-kanakan?

    ReplyDelete
  48. Raden Muchammad Nurrizal Hasbi Ashshidiqqie
    13301244013
    S1 Pendidikan Matematika C 2013

    Teori Profesor Marsigit mengenai bagaimana membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan menyadarkan kita bahwa materi pembelajaran filsafat baik di master ataupun sarjana sama-sama memiliki tingkat pemahaman yang dalam. Bukan karena kita yang masih sarjana lalu memiliki pemaknaan yang lebih sempit atau lebih kecil. Akan tetapi sama saja dengan master yang memerlukan tingkat pemahaman lebih.

    ReplyDelete
  49. Raden Muchammad Nurrizal Hasbi Ashshidiqqie
    13301244013
    S1 Pendidikan Matematika C 2013

    Teori Profesor Marsigit mengenai bagaimana membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan menyadarkan kita bahwa materi pembelajaran filsafat baik di master ataupun sarjana sama-sama memiliki tingkat pemahaman yang dalam. Bukan karena kita yang masih sarjana lalu memiliki pemaknaan yang lebih sempit atau lebih kecil. Akan tetapi sama saja dengan master yang memerlukan tingkat pemahaman lebih.

    ReplyDelete
  50. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Artikel ini sangat menarik. Satu kesimpulan yang dapat saya mabil adalah; secara filsafat, membangun pengetahuan dapat dimulai dari yang ada dan yang mungkin ada. Selanjutnya, yang ada dan yang mungkin ada yang sedang kita perhatikan sifat-sifatnya, merupakan objek pikir atau benda-benda pikir; mengapa demikian? Karena sebenar-benar filsafat adalah olah pikir. Olah pikir ini snagat menarik untuk dikaji, seperti yang sudah dijelaskan oleh Pak Marsigit di perkuliahan beberapa waktu lalu.

    Sebenar-benar manusia hanya berusaha mengetahui ilmu pengetahuan dalam ketidaksempurnaan kemampuannya. Sebenar-benar ilmu dan ilmu absolut itu adalah milik Tuhan YME.

    ReplyDelete
  51. Yosi Giyaningsih
    13301244030
    Pendidikan Matematika C 2013

    “Ketahuailah apa yang kamu tahu dan ketahuilah apa yang kamu tidak tahu”, seperti itulah kutipan kata-kata dari seorang filsuf ketika ditanya oleh seseorang mengenai cara untuk mengetahui kebenaran. Sebagaimana yang telah dipahami, pada dasarnya manusia memang selalu identik dengan rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu ini bukan semata-mata tidak memiliki pengaruh pada manusia, melainkan rasa ingin tahu tersebut menjadi langkah awal bagi manusia untuk mengetahui kebenaran. Karena kompleksitas yang ada pada alam semesta ini membuat manusia senantiasa ingin mencari tahu yang sesungguhnya.

    ReplyDelete
  52. Yosi Giyaningsih
    13301244030
    Pendidikan Matematika C 2013

    Hal-hal yang berkaitan dengan rasa ingin tahu manusia sebenarnya telah banyak dikaji oleh berbagai disiplin ilmu. Kajian tersebut menjadi menarik karena mampu menjadi dasar bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Kajian terkait rasa ingin tahu manusia beserta kebenaran yang diharapkan oleh manusia, pada umumnya dibahas dalam pengantar filsafat ilmu. Filsafat ilmu menjadi dasar dalam memahami esensi dari rasa ingin tahu manusia dan kebenaran. Karena sering kali untuk memahami sesuatu terkait tahu dan kebenaran itu dikacaukan oleh terminologi-terminologi yang saling tumpang tindih yang akhirnya menyimpulkan kekacauan dalam mengartikan suatu hal. Sering kali dalam memahami tahu dan kebenaran, terkacaukan pemahaman terkait perbedaan antara pengetahuan dan ilmu pengetahuan; bagaimana indikator kebenaran itu. Maka, hal tersebut perlu dipahami secara mendasar agar dalam mengembangkannya tidak terjadi kesalahan secara teoritik.

    ReplyDelete
  53. Yosi Giyaningsih
    13301244030
    Pendidikan Matematika C 2013

    Pada dasarnya ilmu pengetahuan menjelaskan segala sesuatu dengan maksud untuk mencari kebenaran. Kebenaran dalam wilayah ilmu pengetahuan ini memiliki berbagai pandangan yang akhirnya menghasilkan berbagai aliran pemikiran. Aliran-aliran tersebut berasal dari hasil pemikiran para ahli yang berupaya mencari tahu kebenaran yang dimaksud oleh ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
  54. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Untuk membangun pengetahuan bagi yang telah memiliki konsep maka kita membutuhkan pengembangan dari konsep kita tersebut, yakni salah satunya dengan cara mengkonstruksi pengetahuan itu sendiri. Sehingga kita bisa menggunakan konstruktivisme dalam membangun ilmu pengetahuan.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  55. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan. Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern. Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  56. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Ketika kita mengaitkan konstruktivisme dengan teori Emanuel Kant dalam membangun ilmu pengetahuan maka kita akan berbicara mengenai dua hal, yaitu :.
    1. Bersifat umum dan mutlak, pengetahuan tersebut umum artinya menjadi kesepakatan yang telah disepakati oleh banyak orang, dan mutlak, yakni orang-orang tersebut mempunyai pandangan yang sama terhadap objek tersebut.
    2. Memberikan pengetahuan yang baru., yakni berdasarkan sintesis dan telaah yang dilakukan secara mendalam terhadap pengetahuan umum tersebut maka bisa dipecah lagi hingga lebih bersifat khusus, dimana pada akhirnya memberikan pengetahuan yang baru.


    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  57. Nurul Purnaningsih
    13301241045
    Pendidikan Matematika Inter 2013

    Salah satu kesimpulan yang dapat saya pahami adalah bahwa menurut Immanuel Kant, ada 2 macam pengetahuan yaitu Pengetahuan Konseptual dan Pengetahuan Intuitif, dimana pengetahuan konseptual adalah untuk orang dewasa seperti pengetahuan mengenai matematika murni yang merupakan ilu yang bersifat deduktif sedangkan pengetahuan intuitif umumnya dimiliki oleh anak kecil yang kemudian disebut sebagai matematika sekolah yang berfokus pada kegiatan sosial dalam proses pembelajaran.

    ReplyDelete
  58. Fitri Ayu Ningtiyas
    16709251037
    S2 P.Mat B UNY 2016

    Jika manusia hanya memunyai rasio tetapi tidak mempunyai pengalaman akan membuat pikiran manusia tersebut melayang dan mengembara terlepas dari dunia nyata. Selain itu akan diperoleh kesimpulan tetapi bersifat hipotetical yang masih merupakan anggapan awal yang tidak dapat dikonfirmasi kebenarannya. Hal ini akan membuat manusia bertindak berdasarkan pengetahuan rasionalitas tanpa pengalaman. Hal ini menandakan yang manusia tersebut miliki barulah separuh dari kebenaran. Selanjutnya, jika manusia mempunyai banyak pengalaman tetapi kita enggan memikirkannya. Dimana hidup hanya dijalani dengan hanya mengandalkan pengalaman saja, tetapi tidak menggunakan logika atau pikiran kita. Hal ini juga tidaklah bisa dilakukan sebab menurut Immanuel Kant sebenar-benar ilmu adalah pengalaman yang dipikirkan dan pikiran yang di laksanakan. Untuk itu, dalam hidup manusia memerlukan rasio dan pengalaman yang keduanya saling terkait satu sama lain

    ReplyDelete
  59. Assalamualaikum wr. wb.

    Membaca elegi membangun pengetahuan dari Prof. Marsigit merujuk kepada berbagai filosof yang memiliki pendapat yang berbeda jua. Kant berpendapat sebenar pengetahuan adalah refleksi dari pemikiran yang terbentuk juga atas pengalaman yang telah dialami. Maka sebenar-benar ilmu adalah pengalaman yang direfleksikan dan refleksi yang dilaksanakan, demikian manusia membangun pengetahuan melalui keduanya. Manusia yang berhenti berpikir maka berhentilah pengetahuannya dan menjadi mitos. Semoga teori membangun pengetahuan ini dapat kita ilhami sebagai manusia pemikir.

    Dwi Margo Yuwono
    16701261028
    PEP S3 KelasA

    ReplyDelete
  60. Niswah Qurrota A'yuni
    NIM. 16709251023
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas B 2016

    Assalamu'alaikum Wr.Wb.,

    Pengetahuan itu terpisah-pisah. Maka yang namanya ilmu pengetahuan itu sudah terstruktur. Ilmu pengetahuan tersusun oleh komponen pengetahuan-pengetahuan. Setiap kegiatan memeroleh Pengetahuan dari Pengalaman, selalu terjadi proses pengenalan, menghasilkan, dan pengembangan. Immanuel Kant menyebutkan bahwa terdapat 2 (dua) macam pengetahuan yaitu Pengetahuan Konseptual dan Pengetahuan Intuitif. Pengetahuan Konseptual itu lebih banyak dimiliki oleh orang dewasa; dan pengetahuan yang dimiliki oleh anak-anak lebih banyak bersifat Intuitif. Semakin dewasa atau semakin tua seseorang, Pengetahuan Intuitifnya semakin berkembang.

    Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  61. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    dalam membangun pengetahuan itu dimulai dari bagaimana kita dapat membangun pikiran kita dengan menerjemahkan hal-hal yang ada dan mungkin ada sehingga hasil-hasil dari pikiran kita itu dapat pula diterjemahkan oleh orang lain. Dan dari pikiran pula kita dapat mengaplikasikan hal-hal yang kita pahami dalam kehidupan nyata sehingga menimbulkan pengalaman-pengalaman baru yang akan menjadi pengetahuan baru pula bagi kita bahkan bagi orang lain.

    ReplyDelete
  62. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan dimulai dari obyek pikir yang ada dan yang mungkin ada, kemudian identifikasi sifat-sifat yang ada dan yang mungkin ada. Obyek pikir itu ada yang berada di dalam pikiran dan di luar pikiran kita. Bagaimana kita menjelaskan obyek pikir yang ada di dalam pikiran kita kepada orang lain dan bagaimana kita mengetahui obyek pikir yang ada di luar pikiran kita, mengadakan yang mungkin ada menjadi ada. Maka inilah bagaimana membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  63. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Pengetahuan adalah realisasi dari pengalaman kita menembus ruang dan waktu. Kita belajar filsafat juga menembus batas ruang dan waktu untuk menemui seorang Immanuel Kant. Pengetahuan juga hasil pemikiran a priori dan a posteriori. Pengetahuan yang diperoleh dari a priori cenderung intuisi dan logika. Digabung dengan a posteriori maka akan lebih valid. Pengetahuan tanpa intuisi serasa hampa, kosong, dan tidak dapat diamati dengan jelas. Logika tanpa realitas juga adalah hanya di dalam pikiran saja tidak bisa dituangkan ke ilmu pengetahuan.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  64. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    PPs PM B 2016

    Bagaimana membangun pengetahuan dan ilmu pengathuan salah satunya adalah dengan pengalaman. Ketika kita melakukan sesuatu atau mengalami sesuatu maka kita akan tahu tentang sesuatu hal tersebut, bahkan berpikir itu pun juga bagian dari pengalaman. Sehingga pengalaman itu penting untuk kita selalu memperoleh pengetahuan baru.

    ReplyDelete
  65. Puspita Sari
    13301241003
    Pend.Matematika A 2013

    Ilmu pengetahuan diperoleh dari ada dan mungkin ada. Karna ilmu pengetahuan sangat penting. Selain dari yang Bapak Marsigit katakan, bahwa pengetahuan diperoleh dari proses pengalaman, sehingga semua ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan proses pengalaman.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id