Oct 28, 2014

Elegi Logos Berdialog Dengan Belalang




Dialog berikut dibuat berdasarkan kisah nyata pertemuan antara Logos dengan sekumpulan Belalang terdiri dari  25 ekor, yang terjadi pada Ruang dan Waktu Formal.


Logos :
Saya sedang menyaksikan di depanku ada 1, 2, 3, .....dst 25 ekor Belalang
Wahai Belalang 1, mengertikah engkau dengan ucapanku ini?

Belalang 1:
Wahai Sogol, sebenar-benarnya saya adalah sedang lapar?

Logos :
Wahai Belalang 2, siapakah dirimu itu?

Belalang 2:
Wahai Sgool, saya sedang memburu mangsa?

Logos:
Wahai Belalang 3, dari manakah dirimu itu?

Belalang 3:
Wahai slogo, mangsa hampir kutangkap.

Logos:
Wahai Belalang 4, siapakah namamu itu?

Belalang 4, aku siap melompat.

Logos:
Wahai Belalang 5, mau kemanakah engkau itu?

Belalang 5:
Wahai goolos, minggir itu ada belalang cantik.

Logos:
Wahai Belalang 6, apakah makanan kesukaanmu itu?

Belalang 6:
Wahai gosool, aku ingin gosool.

Logos:
Wahai Belalang 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14 dan 15 apakah engkau mendengan kata-kata saya?

Belalang 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14 dan 15:
Osloog..osloog bathok. Bathok e ila ilu.

Logos:
Wahai Belalang 16, 17, 18, 19, 20, apakah engkau melihat diriku?

Belalang 16, 17, 18, 19, 20:
Daun pucuk ternyata lebih enak dari daun pangkal.

Logos:
Wahai Belalang 21, 22, 23, 24, apakah engkau mampu berpikir?

Belalang 21, 22, 23, 24:
Kakiku lebih berguna dari sayapku.

Logos:
Dimana Belalang 25? O rupanya dia terperangkap oleh jaring laba-laba.

Logos:
Oh kenapa tiba-tiba pikiranku lelah, staminaku menurun. Wahai Orang Tua Berambut Putih, bersediakah engkau menolong diriku?

Orang Tua Berambut Putih:
Aku sudah tahu persoalanmu. Kesalahanmu adalah engkau mengharapkan yang terlalu tinggi dari seekor Belalang.

Logos:
Bukankah aku sudah berikhtiar, tetapi kepada Belalang tetaplah Belalang. Apakah tidak boleh seekor Belalang berkenalan dengan Logos.

Orang Tua Berambut Putih:
Boleh sih boleh. Tetapi ambisimu agar para Belalang mempunyai Logos itulah yang bermasalah.

Logos:
Wahai Spiritual, bagaimana pendapatmu tentang hal ini?

Spiritualisme:
Aku melihat baik Logos maupun para Belalang sama-sama mempunyai kesalahan dan kesombongan masing-masing. Saranku adalah agar engkau semuanya segera merefleksikan diri dan mohon ampun atas segala kesalahan.

Orang Tua Berambut Putih:
Tiadalah sebenar-benar dirimu itu Logos; yang benar adalah engkau sedang berusaha menggapai Logos.
Tiadalah sebenar-benar dirimu Belalang; yang benar adalah engkau sedang berusaha menggapai Dewa. Belalang adalah dirimu yang terperangkap oleh Ruang dan Waktumu; sedangkan Dewa adalah dirimu yang berhasil menembus Ruang dan Waktu bersama Logosmu.

44 comments:

  1. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    Mitos yang begitu hebatnya bisa menutup pikiran dan hati yang bersih. Sekeras apapun logos mencoba untuk membantunya tetap saja mitos berusaha untuk melawannya. Logos pun salah jika memaksakan mitos dengan caranya karena tiadalah sebenar-benar dirimu itu Logos; yang benar adalah engkau sedang berusaha menggapai Logos. Jika dia sebenar-benarnya logos maka dia mampu melawan mitos. Kita berusaha untuk menembus ruang dan waktu meskipun kita saat ini terperangkap oleh ruang dan waktu. Jika kita sadar akan hal itu...

    ReplyDelete
  2. Ressy Rustanuarsi
    16709251033
    PPs PMAT Kelas B 2016

    Kebanyakan orang bilang “Jangan menaruh ekspektasi yang tinggi terhadap siapapun atau hal apapun.” Alasannya, memiliki ekspektasi yang tinggi sering kali membuat kita kecewa. Tapi menurut saya, tidak ada salahnya kita berekpektasi tinggi . Namun, jika yang diharapkan tidak sesuai kenyataan, alangkah lebih baiknya kita ikhlas menerimanya dan jangan sombong dalam berekpektasi. Untuk itu mari serahkan kepada Allah SWT setelah kita berikhtiar dan berdoa.

    ReplyDelete
  3. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B (Angkatan 2016)

    Dalam elegi ini, menggambarkan ada 25 ekor belalang. Dari 25 ekor belalang memiliki pandangan yang berbeda terhadap 1 buah pertanyaan dan berbagai pikiran berbeda pula dari opini mereka tersebut. Misalnya, dalam menjawab pertanyaan “logos” saja, tidak semua belalang menyebutkan “logos” dengan benar. Ada yang menyebutnya goolos, gosool, dsb.
    Apalagi dengan bermilyar manusia yang ada di bumi ini. Kita tidak akan pernah mendapat opini yang sama, maka jangan mengharapkan kesamaan. Setiap orang punya kesalahan, begitupun diri kita. Jangan sombong dan selalu berserah pada Tuhan Yang Maha Esa.

    ReplyDelete
  4. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Hendaknya kita melihat dulu dengan siapa kita berbicara. misal, Jika dengan anak kecil, maka tidak pantas berbicara tentang geometri. Mereka tak akan mengerti dan kita sebagai orang yang dewasa tidak sopan dengan ruang dan waktu. Kita harus bisa menempatkan diri dalam berbicara.

    ReplyDelete
  5. Dita Aldila Krisma
    13301241002
    Pendidikan Matematika I 2013

    Meskipun kita terperangkap ruang dan waktu namun kita berusaha menembus ruang dan waktu. Boleh saja kita mempunyai keinginan/cita-cita/ekspektasi yang sangat tinggi. Kita yakin kalau kita pasti bisa menggapainya dengan segala kemampuan yang kita miliki. Namun tidak baik apabila menaruh kesombongan dalam langkah menggapainya menganggap diri kita paling bisa.

    ReplyDelete
  6. Harsiti Indrawati
    13301241021
    Pendidikan Matematika A 2013

    Ingatlah bahwa di atas langit masih ada langit. Sebaik-baik manusia adalah yang mampu merefleksikan kejadian yang telah terjadi kepadanya dan tidak mneyombongkan diri.Terkadang kita merasa menjadi logos, tapi pada kenyataannya tidak demikian.

    ReplyDelete
  7. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    sebnar-benar dirikita adalah menggapai logos, sedangkan apabila diri kita telah terperangkap oleh ruang da waktu maka jangan lah logos mengharapkan yang lebih, seperti pertanyaan logos kepada 25 ekor belalang, namun tidak ada satupun yang merespon, apabila logos kita tidak melakukan refleksi terhadap apa yang kita lakukan selama ini di dunia maka kita pun akan menjadi belalang yang sejatinya merupakan diri kita yang terperangkap oleh ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  8. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Terkadang kita merasa menjadi logos, tapi pada kenyataannya tidak demikian. Logos pun salah jika memaksakan mitos dengan caranya karena tiadalah sebenar-benar dirimu itu Logos; yang benar adalah engkau sedang berusaha menggapai Logos. Jika dia sebenar-benarnya logos maka dia mampu melawan mitos.

    ReplyDelete
  9. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Sebaik-baik manusia adalah yang mampu merefleksikan kejadian yang telah terjadi kepadanya dan tidak mneyombongkan diri.Boleh saja kita mempunyai keinginan/ekspektasi yang sangat tinggi. Kita yakin kalau kita pasti bisa menggapainya dengan segala kemampuan yang kita miliki. Namun tidak baik apabila menaruh kesombongan dalam langkah menggapainya menganggap diri kita paling bisa.

    ReplyDelete
  10. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Maka sebenar-benar hidup adalah diriku yang sedang berusaha menembus ruang dan waktu..yang artinya kita masih terperangkap disana

    ReplyDelete
  11. Nuha Fazlussalam
    13301244023
    s1 pendidikan matematika c 2013

    dari postingan diatas saya menangkap bahwa, logos itu bagaikan guru, bagaikan dosen, bagaikan penagajra TP atau bagaikan seorang berilmu yang ingin mengajar, yang ingin mendidik, dan 25 belalng adalah siswa, mahasiswa, santri, peserta didik, pelajar, dsb. disini menggabarkan seorang guru tidak boleh terlalu memakskan kepada belalang, terlalu mengahrapkan belalang agar mendapat ilmu dan menjadi logos, biarlah belalang tetap menajdi belalang, perkenalakan belalang kepada dewa belalang sehingga sutu saat belalang akan menjadi dewa belalang,

    ReplyDelete
  12. Eka Pravista
    13301241004
    Pendidikan Matematika A 2013

    Janganlah engkau berharap yang terlalu tinggi dari manusia karena akan berujung pada kekecewaan, apalagi sampai berambisimu itulah yang bermasalah. Namun jika engkau berharap kepada Tuhan maka tidak akan berujung kekecewaan apabila engkau pandai bersyukur karena Tuhan memberi yang terbaik untukmu bukan yang baik menurutmu. Boleh kita berharap kepada manusia namun tidak baik apabila menaruh kesombongan dan menganggap diri kita paling bisa. Mereka, kita sama-sama memiliki kesalahan dan kesombongan masing-masing. Yang terbaik adalah agar semuanya segera merefleksikan diri dan mohon ampun atas segala kesalahan.

    ReplyDelete
  13. Endah Kusrini
    13301241075
    Pendidikan Matematika I 2013

    Dalam pembelajaran di kelas, terkadang guru juga berharap terlalu tinggi kepada murid-muridnya. Misalnya menyajikan pembelajaran yang sangat padat dengan harapan murid-murid dapat dengan cepat memahaminya, menganggap semua siswa punya pengalaman dan karakteristik yang sama sehingga dapat diperlakukan dengan seragam sehingga pembelajan dapat berjalan dengan cepat. Boleh memang mempunyai harapan yang tinggi terhadap murid (misalnya: murid mampu mengkonstrak pengetahuan yang beragam dalam sekali waktu), namun jangan mondzolimi murid atau berlaku tidak adil terhadap murid, karena kita tahu bahwa di kelas terdapat banyak siswa dengan keunikan dan kemampuan masing-masing.

    ReplyDelete
  14. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    PPs PM B 2016

    Janganlah kita berekspektasi terlalu tinggi, dan janganlah juga kita terlalu sombong dengan keidealan, karena realita apa yang akan terjadi bisa jadi tidak sesuai dengan ekspektasi kita. Maka hendaklah ketika kita berencana selalu serahkan rencana kita kepada Allah, dan ketika menerima hasilnya maka kita harus tawakal dengan apapun yang terjadi.

    ReplyDelete
  15. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Logos kedudukannya lebih rendah daripada Tuhan, lebih tinggi dari manusia. Manusia tak bisa memaksakan diri, berambisi tentang segala keinginannya sesuai dengan kodrat Tuhan melalui logosnya. Manusia hanya perlu berusaha dan berdoa, tidak bisa mencapai fatalnya,, hanya mampu mencapai vitalnya atau merubah takdir yang bisa dirubah tanpa menggunakan unsur kesombongannya.

    ReplyDelete
  16. Defy Kusumaningrum
    13301241022
    Pendidikan Matematika A 2013

    Logos yang mempunyai harapan tinggi kepada para belalang berakhir dengan kekecewaanya. Begitupun dengan kehidupan kita. Ketika kita menaruh harapan yang tinggi kepada orang lain maka kita harus siap untuk berakhir kecewa. Hal ini dikarenaan tujuan yang belum tentu sama, sehingga sebesar apapun usaha untuk mengarahkan dan menuntun langkah orang lain, hasil yang dicapai tidak akan sama.

    ReplyDelete
  17. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Di dalam mengajar dan menghadapi siswa di kelas, sebagai guru, alangkah lebih baik jika kita tidak memaksa siswa menjadi kita, mengikuti kita, juga pemikiran kita. Karena kita guru tidak sama dengan siswa. Sesuaikan saja dengan ruang dan waktu siswa. Entah itu Kurikulum 2013 atau KTSP pun, berusahalah memahami kemampuan siswa dan beri pengetahuan yang sesuai tingkat penalaran mereka. Juga sesuai jenjang kelasnya. Bagaimana kita bisa mengkonstruk pengetahuan dengan baik itulah yang sangat diperlukan siswa.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  18. Retno Widyaningrum
    16701261004
    S3 PEP A 2016
    Sebagai orang yang bijaksana tidak akan memaksa kepada orang lain untuk mampu mengikuti dirinya dengan cara apapun dan bagaimanapun. Maka sebaiknya kita selalu memperhatikan karakteristik orang-orang di sekitar kita agar kita tidak salah dalam memberikan informasi, sehingga mencapai kebenaran yang sebenarnya.

    ReplyDelete
  19. Retno Widyaningrum
    16701261004
    S3 PEP A 2016
    Sebagai guru/dosen tidak bisa memaksa peserta didik/mahasiswa untuk selalu mengikutinya sampai memaksa hal-hal yang tidak mungkin dilakukan peserta didik/mahasiswanya secara berlebihan. sebagai guru/dosen adalah fasilitator dalam menyampaikan ilmu dan pengetahuan yang dimilki dan sedang berkembang untuk dipahami mereka. Sebagai dosen/guru harus berpegang pada karakteristik peserta didik/mahasiswa sangat bervariasi sehingga dalam penyampaiannya juga menggunakan dasar yang benar.

    ReplyDelete
  20. etno Widyaningrum
    16701261004
    S3 PEP A 2016
    untuk menjadi manusia seutuhnya maka yang paling dihindari adalah sombong, karena sombong adalah penyakit yang harus di buang jauh-jauh, dengan kesombongan apapun pada akhirnya tidak mencapai kebenaran, agar tetap pada kebenraran adalah tetap pada ruang dan waktu dengan disertai ritual ikhlas dan ikhtiar.

    ReplyDelete
  21. Seftika Anggraini
    13301241013
    Pendidikan Matematika I 2013

    Itulah kondisi kita yang sedang belajar filsafat. Banyak limbah yang menghalangi kita untuk meraih kebenaran (filsafat). Meskipun demikian, manusia akan terus berjuang untuk mewujudkan impian akan kebenaran tersebut.
    Terima kasih

    ReplyDelete
  22. Ika Dewi Fitria Maharani
    16709251027
    PPs UNY P.Mat B 2016

    Untuk mendapatkan ilmu maka janganlah bersikap sombong. Sikap sombong akan menyebabkan kita merasa cepat puas dan lebih baik dari orang lain. Padahal sebenar-benar kita tak akan pernah menjadi orang yang berilmu namun orang yang berusaha untuk memiiki ilmu. Maka janganlah kita terbatas oleh ruang dan waktu dalam kesombongan.

    ReplyDelete
  23. Sugeng Ndalu,
    Mohon dimaafkan prof,
    elegi ini membuat saya terbahak-bahak. Ada kekuatan yang dahsyat muncul ketika saya membayangkan Prof. Igit berbicara sebagai Logos. Angan-angan ini membuat saya tertawa makin keras. Ada yang memanggil Logos dengan Sogol, Sogool, Sgool.
    Awalnya saya kira ini salah ketik, tapi ternyata tidak... Hwkwkwkwkw
    Prof. Anda JOOS!!
    hehehe...
    Ohya Prof., kekuatan diksi Prof. Igit saya akui jempol 5 (satu jempol pinjam nggih Prof)
    Pada intinya, bagaimana si belalang itu bisa mengabaikan si logos yang dengan kekuatannya bisa memanggil Si Boss Berambut Putih. Imajinasi saya kemana-mana, bahkan saya membayangkan Orang Tua Berambut Putih adalah kebijaksanaan Prof. Djemari..
    Duh, maafkan imajinasi saya Prof. Marsigit yang terlalu liar.. Tapi sampai saya masih mengetik ini, saya masih tertawa terbahak-bahak.
    Jogja memang mendung, tapi elegi ini membuka sebuah awan baru, awan yang terang dan petanda baik untuk mulai membaca!! YEAY!
    Thanks for my superb motivator!!

    Ananda Memet Sudaryanto
    Di tengah rumitnya Kota Yogya
    Di antara maghrib setengah gulita
    16701261005
    S3 PEP A 2016

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya tidak bermaksud menyampaikan bahwa Prof. Igit Sombong (seperti yang disampaikan si spiritualisme) tapi saya hanya memainkan pementasan drama dengan para lakon, tiada maksud menyinggung atau menganalogikan apapun.

      Delete
  24. Prof., (agak serius)
    Saya menganalogikan setiap perspektif si belalang sebagai kekuatan yang tidak tahu pada tak tahunya. Mereka berpejar bebas tanpa arah dan pengtahuan yang jelas. Para belalang bertingkah sesuai kemauannya, mereka melompat, terbang, makan, menghilang, sembunyi, dan masing-masing berlagak sesuka hati. Hal itu mereka lakukan karena mereka tidak tahu, ada logos dan siapa logos!
    Bahkan disana, mereka selalu salah menyebut nama logos, menjadi sogol, sgool, gosol, dll.
    Kunci komunikasi adalah bahasa, mungkin antara logos dan para belalang tidak memiliki frekuensi bahasa yang sama, sehingga apa yang disampaikan logos tidak dipahami sepenuhnya oleh si belalang. Di sisi lain, pemahaman logos pada si belalang juga kurang. Jika ini saya implementasikan pada kehidupan di era pendidikan, (saya di dalamnya) saya berimajinasi ini seperti sebuah kelas.
    Guru perlu memahami karakteristik peserta didiknya, dan peserta didik beradaptasi dengan karakteristik guru.
    Sederhananya, dengan saling menghormati (di awal) akan membentuk pola komunikasi yang baik di akhirnya. Pemahaman yang kurang maksimal dalam satu konteks perlahan bisa dipahami secara general apabila sudah bersama-sama menembus ruang dan waktu.
    Simpelnya setiap permasalahan kadang muncul sebagai bentuk manifestasi salah komuikasi. Semua orang menggunakan persepsinya sendiri-sendiri untuk mengambil opini dan menafsirkan, seperti kasus yang baru-baru ini berpedar di Indonesia.

    Ananda Memet Sudaryanto
    Di tengah rumitnya Kota Yogya
    Di antara maghrib setengah gulita
    16701261005
    S3 PEP A 2016

    ReplyDelete
  25. Belalangnya banyak nggih prof.
    Jika si logos kesulitan memahami belalang, tampaknya logos perlu terus berlogos agar ia makin paham makna menjadi logos yang tangguh dan kuat. Logos yang berhenti adalah logos yang tidak tahu kemana arah perjalananannya. Logos sebagai sosok kuat tentu perlu memahami konsep diri si belalang. Tidak harus belalang yang memahami logos terlebih dahulu, keduanya bisa memulai dari titik di mana tidak saling bertemu. Tentu manfaat dari antarpertemuan itu memang menimbulkan efek dahsyat mengenai pendidikan (partisipan dan partisipasi) konsep ini perlu diperkuat dengan ikhtiar keikhalasan.
    Bismillah, semoga saya selalu menjadi sosok logos yang sewaktu-waktu siap menghancurkan gunung yang sudah tinggi saya susun demi menjadi krikil yang kecil dan tajam, yang siap bergabung mendaki gunung lainnya..


    Ananda Memet Sudaryanto
    Di tengah rumitnya Kota Belalang
    16701261005
    S3 PEP A 2016

    ReplyDelete
  26. Tidak baik menaruh harapan yang terlalu tinggi dengan memaksakan kehendak kita kepada orang lain yang belum tentu mampu ia lakukan. Sebenar-benarnya hidup kita adalah diri kita yang sedang berusaha menembus ruang dan waktu, itu artinya kita masih terperangkap di dalamnya. Kita sadar sebenarnya kita juga memiliki kelemahan. sebaiknya kita segera merefleksikan diri dan mohon ampunan atas segala kesalahan, kerena kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT.


    M. Saufi Rahman
    S3 PEP Kelas A
    16701261024

    ReplyDelete

  27. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Sebenar-benarnya diri kita adalah yang terus bergerak, tidak diam. Sebenar-benarnya gerakan kita adalah menuju perubahan yang baik. refleksi atas perubahan yang sudah atau sedang terjadi dalam diri kita perlu dilakukan setiap saat, karena sebenar-benarnya membangun hidup kita adalah dengan cara merefleksikannya.

    ReplyDelete
  28. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP Kelas A

    Setiap orang sebenarnya sudah dikarunia Allah dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ketika seseorang merasa bangga atas prestasi yang diraih sebenarnya itu adalah hal yang wajar, tetapi jangan sampai rasa bangganyanya yang berlebihan hingga membuat diriny menjadi sombong dan angkuh akan prestasi tersebut. Kita juga masih perlu untuk terus belajar dari kelebihan orang lain

    ReplyDelete
  29. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP Kelas A

    Dari Elegi Logis Berdialog dengan Belalang yang disampaikan Prof. Marsigit, tersirat salah satu pesan bahwa dalam mengejar ambisi perlu memiliki batasan , yaitu mempertimbangkan lingkungan, nilai-nilai moral dan norma-norma disekitar, etika serta kondisi kita sndiri. Janganlah kita asal menentukan standart dan ingin cepat, sebab tidak sedikit orang yang untuk mewujudkan ambisinya, jadi terobsesi dan menghalalkan segala cara untuk mencapai ambisinya

    ReplyDelete
  30. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP Kelas A

    Banyak yang menganggap sifat ambisius adalah sifat yang negatif, padahal jika kita ingin sukses, maka ambisi adalah salah satu syarat yang penting. Ambisi penting dimiliki karena dengan ambisilah kita digerakkan untuk mencapai tujuan-tujuan kita. Tanpa ambisi, seolah-olah kita tidak mempunyai target dan salah satu faktor utama penyebab kegagalan karena tidak mempunyai ambisi. Jalan mencapai tujuan kita menjadi tersendat-sendat karena kita tidak mempunyai motivasi, menjadi telalu lamban dan akhirnya gagal.

    ReplyDelete
  31. Khaerudin
    16701621009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Kita tidak boleh terlalu berharap pada manusia karena kelak akan kecewa jika apa yang kita inginkan atau diharapkan tidak tercapai, tapi selalu berharap pada Allah SWT tempat untuk sebaik-baik kita mengharap.

    ReplyDelete
  32. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    proses yang terjadi dalam kehidupan kita sebagai manusia yaitu selalu bertanya tentang apa yang terjadi untuk menggapai apa yang kita inginkan akan tetapi didalam proses itu terdapat tantangan-tantangan yang sangat banyak yang terus mengusyik kita agar kita jatuh kedalam kegelapan. jatuhnya kita kedalamkegelapan akibat dari kesombongan, ambisi, pikiran yang kotor yang telah tergoda dari bujuk rayu sang mitos. untuk itu dalam menempuh tujuan kita kita harus fokus dengan tujuan itu dengan pikiran yang jernih dan hati yang bersih dan selalu ingat bahwa setiap manusia mempunyai tujuannya masing-masing.

    ReplyDelete
  33. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Sepemahaman saya ini bagaikan sindiran guru terhadap siswanya. Harapan yang sangat tinggi seorang guru terhadap siswanya , namun siswanya yang tidak mencapai target seperti apa yang diinginkan oleh sang guru. Sehingga dalam hal ini kami sebagai siswa sangat memohon maaf kepada semua guru dan dosen yang telah mendidik kami selama ini apabila hasil output kami belum sesuai seperti apa yang bapak dan ibu guru harapkan. Namun kami berjanji akan selalu berbuat yang terbaik kedepannya, kami akan berusaha membuat kebanggaan buat bapak dan ibu guru kedepannya. InshaAllah, Aamiin.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  34. Umi Arismawati
    13301241032
    Pendidikan Matematika A 2013

    Artikel dialog dengan belalang merupakan artikel menarik. percakapan belalang yang tidak saling berhubungan. dari Spiritual melihat baik Logos maupun para Belalang sama-sama mempunyai kesalahan dan kesombongan masing-masing sehinggs perlu agar semuanya segera merefleksikan diri dan mohon ampun atas segala kesalahan

    ReplyDelete
  35. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Setiap siswa memiliki karakter yang berbeda-beda, dan memiliki pemikiran yang berbeda pula. Terhadap guru pun begitu, ada siswa yang menganggap guru sebagai teman, guru sebagai orang yang ditakuti, guru sebagai musuh, dll.

    ReplyDelete
  36. Kita sebagai guru tak bisa mengaharapkan sesuatu yang tinggi dari siswa, kita tak bisa memaksakan apa yang mereka pikirkan, kita tak bisa memaksakan bahwa pikiran siswa haruslah sama dengan pikiran guru, jawaban siswa adalah jawaban yang benar menurut pikiran guru. Kita tak bisa memaksa mereka harus selalu benar. Misalnya saja dalam menyusun RPP, ketika dalam alokasi waktu 60 menit guru ingin membelajarkan tentang luas permukaan dan volume prisma, namun pada kenyataannya siswa sulit untuk menemukan konsep tersebut

    Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    ReplyDelete
    Replies
    1. kita sebagai guru tak boleh memaksakan bahwa keterlaksanaan pembelajaran harus sesuai dengan RPP yang kita susun, karena tujuan guru bukanlah untuk menyesuaikan RPP, namun tujuan guru adalah menuntun dan memfasilitasi siswa agar mereka menemukan konsep mereka sendiri.

      Delete
  37. Rofiah Yusuf
    13301241039
    Pend. Mat I 2013

    Dari elegi di atas, dapat kita pelajari bahwa sebagai manusia janganlah kita berbuat sombong dan angkuh, karena kemampuan dan keahlian yang kita punya tidak bisa menjadi penguat jika sekalinya kita ceroboh dan terperangkap ke hal yang menyesatkan.

    ReplyDelete
  38. Pada dasarnya manusia memiliki sifat ego dalam dirinya. Kita tidak bisa memaksakan kehendak yang kita inginkan kepada orang lain. Setiap orang punya jalan hidup dan cara berpikir masing -masing. Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk menjadi yang kita mau dan mengharapkan melakukan apa yang kita ingin. Seperti halnya yang disampaikan orang tua berambut putih bahwa Kesalahan Logos adalah mengharapkan yang terlalu tinggi dari seekor Belalang dan terlalu berambisi agar para Belalang mempunyai Logos.
    Karena pada hakikatnya belalang yang dimaksud masih terperangkap oleh Ruang dan Waktu
    Abidin
    16709251002
    S2 Pmat A 2016

    ReplyDelete
  39. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Apa yang dipikirkan oleh murid (belalang) dan guru (logos) berbeda. Pertanyaan yang diberikan oleh guru kepada murid menimbulkan jawaban yang sebenarnya bukan hal tersebut yang diinginkan oleh guru. Akan tetapi tidak dapat dihindari karena memang apa yang dpikirkan oleh guru dan murid berbeda. Hal ini adalah suatu kewajaran dalam pembelajaran. Karena hakekatnya belalang (murid) sedang belajar untuk menjadi logos (guru).

    ReplyDelete
  40. Niswah Qurrota A'yuni
    NIM. 16709251023
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas B 2016

    Assalamu'alaikum Wr.Wb.,

    Begitulah jika seseorang memaksakan kehendaknya dan menempatkan harapan terlalu tinggi pda seseorang yang sebenarnya tidak pantas diharapkan, ia hanya akan kelelahan dan terperangkap dalam ruang dan waktu ambisinya. Elegi ini ibarat seorang pintar berdebat dengan orang yang tak memiliki ilmu. Maka bukannya pengetahuan yang akan ia dapatkan, melainkan ia yang akan terjebak oleh pemikiran-pemikiran tanpa dasar dari orang yang tak memiliki ilmu tsb.

    Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  41. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Ketika kita berdiam diri dan mudah puas atau sombong atas pengetahuan yang kita miliki maka kita akan terperangkap oleh ruang dan waktu maka logos bisa berubah menjadi mitos. Untuk itu segeralah merefleksikan diri. Ketika kita bergerak dan dapat menembus ruang dan waktu bersama logos maka itulah sebenar-benarnya kita berusaha menggapai logos.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  42. Luthfannisa Afif Nabila
    13301241041
    Pendidikan Matematika A 2013
    Dari elegi diatas yang dapat saya petik adalah jangan terlalu berambisi untuk memaksakan kehendak orang lain agar kemampuannya sama dengan kita. Setiap orang mempunyai kemampuannya masing-masing. Hargailah kemampuan yang orang lain punya.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id