Dec 10, 2012

Masukkan untuk Perbaikan Draft Kurikulum 2013_ Oleh Marsigit

Yogyakarta, 9 Desember 2012

Masukkan untuk Perbaikan Draft Kurikulum 2013

Kepada Yth:
Tim Pengembang Draft Kurikulum 2013, Kemdikbud,
Jakarta


Dengan hormat,

Bersama ini perkenankanlah saya , Marsigit atas nama pribadi ingin memberikan kontribusi untuk perbaikan Draft Kurikulum 2013.

Secara umum, saya sangat setuju diberlakukannya Kurikulum 2013, karena secara yuridis formal mempunyai rasionel yang kuat, dan secara pedagogis berusaha untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan atau implementasi Kurikulum 2006.

Pandangan Umum:


Secara umum saya member saran perbaikan sebagai berikut:

1.Janganlah disebut sebagai Kurikulum 2013, tetapi lebih baik disebut sebagai Revisi Kurikulum 2006, agar masyarakat tidak menganggap Kurikulum baru sebagai asing sama sekali dengan Kurikulum 2006

2.Janganlah menyebut kurikulum berpendekatan Sain, karena istilah ini sangat asing dan dapat mengejutkan masyarakat dan para guru. Sebagai gantinya saya mengusulkan agar digunakan istilah “Pendekatan Eksploratif”

3.Perlu pendefinisian secara jelas baik secara konseptual maupun filosofis pengertian Kurikulum pada masing-masing Jenjang Pendidikan. Saya mengusulkan agar ada 1 (satu) lagi jenis kurikulum sebagai ujung tombak operasional dilapangan yaitu yang saya sebut sebagai “Kurikulum Pada Tingkat Satuan Pembelajaran” atau disingkat “KTSPbl”. Alasannya agar persiapan, RPP, silabus, bahan ajar, metode, lebih operasional dan lebih kongkrit serta bersifat kontekstual.

4.Untuk mendukung adanya KTSPbl, guru perlu mengembangkan 10 (sepuluh) langkah: a. Mengembangkan RPP yang memfasilitasi siswa untuk membangun hidup (ilmu)-Lile Skill, b. Mengembangkan Apersepsi sebagai kegiatan siswa dan bukan kegiatan guru, c. Mengembangkan Kegiatan Diskusi Kelompok, karena hakekat Ilmu bagi siswa SD dan SMP adalah Kegiatan Diskusi, d. Mengembangkan Skema Pencapaian Ketrampilan Hidup (lebih tinggi dari Kompetensi), e. Mengembangkan LKS yang memfasilitasi siswa agar memperoleh Ketrampilan Hidup (LKS harus dibuat sendiri oleh guru dan bukan dari membeli; LKS bukan sekedar kumpulan soal), f. Mengembangkan kegiatan assessment (bukan sekedar penilaian), berupa Portfolio dan Authentics Assessment, g, . Mengembangkan Kegiatan Refleksi Siswa untuk menyampaikan dan menjelaskan kesimpulan diskusi kelompoknya, h. Mengembangkan dan mendorong agar Siswa sendiri yang memperoleh Kesimpulan, i. Mengembangkan Media atau Alat Peraga yang menunjang, j. Menembangkan Metode Pembelajaran yang Dinamis, Kreatif, Fleksibel, dan Kontekstual.

5.Agar perbaikan Kurikulum memperhatika system-sistem atau sub-sistem yang sudah dikembangkan misalnya adanya berbagai sekolah: SSN, RSBI, SBI, KNSI.

6.Agar dilakukan perubahan-perubahan Paradigma atau Teori-teori agar sesuai dengan tuntutan jaman.

7.Agar Kurikulum baru mampu menjawab 2 (dua) pertanyaan besar dan fundamental yaitu: a. Akuntabilitas Pendidikan, dan b. Sustainabilitas Pendidikan (termasuk CPD=Continuing Professional Development bagi para Guru)

Pandangan Khusus:

Uraian Masukan/Saran:


1.Pengembangan Kurikulum 2013 belum didukung secara cukup tentang batasan Politik Pendidikan
Katerangan:

Belum secara eksplisit dijelaskan mengenai relevansi UUD 1945 dan Pancasila sebagai landasan filosofis kemana arah pendidikan. Tentunya kita semua sepakat bahwa Pendidikan kita haruslah secara filosofis berdasar kepada UUD 1945 dan Pancasila, dengan segala macam konsekuensinya.
Solusi:
Hendaknya Karakter yang dikembangkan diturunkan dari sila-sila Pancasila dan nilai-nilai yang terkandung pada UUD 45

2.Pengembangan Kurikulum 2013 belum didukung secara cukup tentang Hakekat Keilmuan
Keterangan:

Pandangan atau batasan keilmuan belum dijelaskan secara eksplisit, sehingga dari sisi Hakekat Keilmuan Kurikulum kita selama ini (termasuk Draft Kurikulum 2013) tidak mempunyai arah yang jelas pada setiap Jenjang Pendidikan. Pandangan Keilmuan yang selama ini ada dan dijalankan hanya cocok untuk Jenjang Pendidikan Tinkat Tinggi. Hal ini berakibat belum adanya definisi Mata Pelajaran yang cocok untuk Jenjang Pendidikan yang lebih rendah seperti SMA, SMP dan SD. Selama ini selalu diasumsikan bahwa Mata Pelajaran misal Biologi, Matematika, IPA, Geografi, dst., adalah sebuah Body of Knowledge, atau Science of Truth, atau Structure of Truth. Definisi tersebut hanya bermakna untuk Jenjang Pendidikan Tinggi, sedangkan untuk Pendidikan Jenjang Menengah dan Pendidikan Dasar, tidak bermakna.
Solusi:
Diperlukan redefinisi tentang hakekat keilmuan (Mapel), yaitu bahwa untuk Jenjang Pendidikan Menengah dan Rendah, Keilmuan merupakan proses berpikir atau kegiatan social. Diperlukan redefinisi matematika untuk sekolah yaitu Matematika Sekolah yang didefinisikan sebagai Proses Berpikir atau Kegiatan Sosial. Ebbutt and Straker (1995) mendefinisikan School Mathematics sebagai: Kegiatan mencari pola, Kegiatan menyelesaikan masalah, Kegiatan eksplorasi, dan Kegiatan berkomunikasi. Demikian juga untuk maple-mapel yang lain.

3.Pengembangan Kurikulum 2013 belum didukung secara cukup tentang Nilai Karakter yang dikehendaki
Keterangan:

Arah nilai karakter yang sesuai dengan stuktur budaya Bangsa, belum secara eksplisit disebutkan. Kita akan mengembangkan Karakter sebagai Bangsa yang berkarakter apa? Apakah menuju Negara Industrial Trainer? Apakah menuju Negara Technological Pragmatis? Apakah menuju Masyarakat Old Humanist? Apakah menuju Masyarakat Progressive Educator? Apakah menuju Masyarakat Public Educator? Kita belum mempunyai orientasi yang jelas. Jika posisi kita memang dalam ketidak jelasan, maka kita termasuk Bangsa yang masih mencari jati dirinya. Namun walau demikian kita harusnya mempunyai Ideal. Idealnya tentu menuju Masyarakat Demokrasi Pancasila. Tetapi yang terjadi dalam masyarakat telah berkembang Nilai-nilai Pragmatism, Kapitalism, Utilitarianis, Hedonism dan Konsumerism.
Solusi:
Nilai Karakter harusnya diturunkan dari butir-butir Sila Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan Keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.

4.Pengembangan Kurikulum 2013 belum didukung secara cukup tentang Filsafat Orientasi Pendidikan
Keterangan:

Secara Yuridis Formal, tujuan Pendidikan sudah sangat jelas. Kurikulum-kurikulum sebelumnya, tujuan filosofis pendidikan diarahkan secara parsial yaitu cenderung Back to Basic (SD), Sertification dan Transfer of Knowledge. Sudah ada kesadaran pada Kurikulum 2013 untuk mengembangkan kreativitas dan kompetensi, namun hal tersebut belumlah cukup. Karena secara filosofis sebenar-benar tujuan pendidikan adalah Mengembangkan Ketrampilan Hidup (Life Skill).
Solusi:
Agar dilakukan redefinisi tentang Orientasi Kurikulum yaitu bukan Pengembangan Kompetensi melainkan Pengembangan Ketrampilan Hidup

5.Pengembangan Kurikulum 2013 belum didukung secara cukup tentang Hakekat Teori Belajar
Keterangan:

Secara ontologism Teori Pembelajaran masih belum mengenai hakikinya; masih bersifat parsial dan sempit, yaitu Ingatan, Pemahaman dan Aplikasi (Teori Bloom). Teori Bloom ini mempunyai kekurangan tidak mampu menjawab tantangan yang ada sesuai dengan perkembangan jaman. Teori pembelajaran seharusnya juga selaras dengan Teori Mengajar yang mengedepankan Kegiatan Eksplorasi, Kemandirian, Kemampuan bekerja sama, dan Belajar Kontekstual.
Solusi:
Redefinisi Hakekat Belajar dan Hakekat Mengajar, yaitu bahwa Belajar adalah kegiatan eksplorasi dan Mengajar juga adalah Kegiatan Penelitian. Hal ini belum cukup, perlu ditambah bahwa Belajar adalah Membangun Hidup (Life Skill)

6.Pengembangan Kurikulum 2013 belum didukung secara cukup tentang Hakekat Metode Mengajar
Keterangan:

Belum secara jelas disebutkan mengenai Metode Mengajar yang disarankan. Selama ini Guru lebih dominan mengajar secara Tradisional yaitu Transfer of Knowledge. Kurikulum 2013 sudah mulai memunculkan Eksplorasi tetapi belum secara implicit menuju Ketrampilan Hidup.
Solusi:
Redefinisi Metode Mengajar menuju Mngembangkan Ketrampilan Hidup (Life Skill), sehingga Metode Mengajar yang tepat adalah bersifat kontekstual, fleksibel, dinamis dan kreatif, misal : Metode Investigasi/Eksplorasi (yang disebut sebagai Metode Sain) dan Metode Diskusi.

7.Pengembangan Kurikulum 2013 belum didukung secara cukup tentang Hakekat Sumber Belajar
Keterangan:

Selama ini praktek pembelajaran didominasi dengan Textbook oriented. Walaupun sudah disarankan agar terdapat variasi sumber belajar, tetapi belum secara eksplisit disebutkan pentinnya Pengembangan RPP dan LKS yang sesuai dengan paradigm Explorasi dan Membangun Hidup (Life Skill).
Solusi:
Perlunya kewajiban bagi guru untuk membuat LKS nya sendiri. Karena LKS selama ini hanya membeli dari Penerbit atau bantuan dari Pemerintah, dan itu belum termasuk criteria LKS yang benar, karena hanya merupakan Kumpulan Soal. RPP danLKS yang benar adalah RPP dan LKS yang membantu siswa mengembangkan Ketrampilan Hidup.

8.Pengembangan Kurikulum 2013 belum didukung secara cukup tentang Hakekat Penilaian
Keterangan:

Walaupun sudah disebut pentingnya Portfolio dalam Penilaian, tetapi belum ada Komitmen untuk menghapus UAN. UAN adalah sumber permasalahan Pendidikan secara pedagogis. Sebaik apapun penataran dan teori yang diperoleh dari Kampus (LPTK) tetapi jika sudah terjun di sekolah, para guru hanya focus pada Metode Pembelajaran yang Berorientasi pada UAN. Bahkan Kepala Sekolah dengan tegas menyarankan guru agar tidak menggunakan metode yang macam-macam, dan hanya focus pada pencapain UAN.
Solusi:
Pemerintah harus berani melangkah untuk menghapuskan UAN.

9.Pengembangan Kurikulum 2013 belum didukung secara cukup tentang Hakekat Siswa
Keterangan:

Hakekat Siswa belum didefinisikan secara eksplisit. Selama ini semua pendidik, dan pengambil keputusan dalam bidang pendidikan selalu menganggap Siswa sebagai Empty Vessel yaitu sebagai Tong Kosong yang harus di isi oleh guru. Kurikulum 2013 sudah mulai menyadari, tetapi belum secara eksplisit member solusinya.
Solusi:
Perlu redifinisi hakekat siswa yaitu bahwa Siswa adalah makhluk yang bersifat Hidup, oleh karena itu maka hakekat siswa adalah diri subyek belajar yang berusaha membangun hidupnya (Life Skill)

10.Pengembangan Kurikulum 2013 belum didukung secara cukup tentang Hakekat Kompetensi
Keterangan:

Belum didefinisikan hakekat Kompetensi secara filsafati. Selama ini dan juga dalam Kurikulum 2013, tidak ada penjelasan bagaimana siswa atau guru membantu siswa mencapai kompetensinya atau memperoleh ketrampilan membangun hidupnya.
Solusi:
Perlu dipromosikan bahwa Kompetensi Siswa berkaitan dengan Kebutuhannya dan berkaitan dengan Aspek Budayanya. Maka untuk memperoleh kompetensi ketramilan hidup, siswa perlu melalui tahap-tahap hirarkhis sebagai berikut: WILL, ATTITUDE, KNOWLEDGE, SKILL, and EXPERIENCE, Untuk mencapai Kompetensi tersebut guru perlu membuat Skenario Pembelajaran yaitu Skenario Pencapaian Kompetensi.

11.Pengembangan Kurikulum 2013 belum didukung secara cukup tentang Hakekat Sosial Budaya
Keterangan:

Falsafat atau Teori tentang Sosial Budaya tidak secara jelas dicantumkan. Negara kita dihadapkan pada persoalan tarik menarik antara Pusat vs Daerah, Sentralisasi vs Desenralisasi, dan Monokultur vs Multikultur. Kebijakan Pendidikan belum secara jelas dan terbuka bagaimana mengatur keseimbangan tersebut.
Solusi:
Dikembangkan komunikasi agar diperoleh kejelasan tentang perihal tersebut di atas. Sudah saatnya dipromosikan Pendidikan Kontekstual yaitu sesuai dengan Daerah masing-masing; sehingga Pendidikan akan mengembangkan Multi Solusi dan Multi Budaya.

12.Pengembangan Kurikulum 2013 belum didukung secara cukup tentang Aspek Konseptual:
Keterangan:

Aspek Konseptual belum secara eksplisit memberi gambaran tentang persoalan mendasar pendidikan. Persoalan mendasar pendidikan terletak kepada pertanyaan: Apakah Pendidikan sebagai Investasi atau Kebutuhan? Apakah Pendidikan mempromosikan Kompetisi atau Kolaborasi? Apakah Pendidikan sebagai Kewajiban atau Kesadaran? Apakah Pendidikan berfungsi sebagai Pelestari atau Penggali? Apakah Pendidikan berfungsi Proteksi atau sebagai Pembebas? Apakah Pendidikan berjangka Pendek atau berjangka Panjang? Apakah fungsi Guru sebagai Pelaksana atau Pengembang Kurikulum? Apakah Kurikulum sebagai Instrument atau sebagai Fasilitator?
Solusi:
Agar pengembangan Kurikulum 2013 mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas.

Demikian saran-saran saya buat dengan tidak memunyai maksud apapun kecuali ikut secara pribadi berkontribusi demi perbaikkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Terimakasih atas perhatiannya dan mohon maaf jika ada khilafnya

Hormat kami,


Marsigit
Alamat Rumah:
Plosokuning II, RT 10, RW 04, Minomartani, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta
Telpon Rumah: (0274) 886381
HP : 0815 7870 8917
Website: http://powermathematics.blogspot.com

4 comments:

  1. PM P2TK (14709259003)

    Saya sependapat sekali tentang adanya penghapusan UAN, karena dengan adanya UAN banyak terjadi kecurangan-kecurangan. Banyak siswa (bahkan mungkin didukung orang tuanya) yang rela mengeluarkan banyak uang untuk membeli kunci jawaban UAN. Ironisnya lagi kunci jawaban tersebut diedarkan kepada teman-temannya. Bagaimanakah UAN bisa menggambarkan ketercapaian hasil belajar?
    Pada kenyataannya ada siswa memperoleh nilai UAN 10 pada pelajaran matematika, tetapi dia sampai sekarang belum bisa berhitung cepat, tidak mengetahui konsep matematika. Memang, ada juga siswa yang hasil UAN-nya murni, tetapi antara yang murni dengan yang curang lebih banyak curangnya.
    Sebagai seorang guru pun saya juga merasa prihatin dengan keadaan ini. Kadang ada pertentangan batin, kenapa harus memberi bimbingan belajar diluar jam sekolah pada anak kelas 9, toh pada akhirnya mereka bisa mendapat/membeli kunci jawaban UAN. Kenapa juga ada oknum yang menjual kunci jawaban, padahal sepertinya pengamanan soal UAN begitu ketat. Darimana oknum itu bisa membuat kunci jawaban yang mayoritas "benar"? Siapa yang membocorkan? Siapa yang salah dalam hal ini?
    Menurut saya, selama masih ada UAN yang standart nilainya ditentukan, pastilah kecurangan akan terus terjadi.
    Hasil UAN adalah hasil yang semu, tidak mencerminkan kondisi yang sebenarnya.
    Semoga dengan diberlakukannya kurikulum 2013 secara serentak mulai tahun pelajaran ini, segera ada formula baru untuk menggantikan UAN yang tentunya lebih bermakna. Amiin Ya Robb....
    Maju terus pendidikan Indonesia

    ReplyDelete
  2. Lisaiha Rodiyya Basori (14709251071) P.Mat D

    keluhan tentang kurikulum 2013 tidak hanya dari orangtua siswa maupun siswa tersebut tetapi juga para guru pelaksananya. ada yang mengalami kesulitan dan kebingungan bagaimana seharusnya yang dilakukan. beban tugas guru diluar mengajar juga banyak, guru dituntut macam-macam, sebagian dari mereka berpendapat bahwa guru sekarang seperti TU

    ReplyDelete
  3. Kurikulum dalam pendidikan di Indonesia ini berganti demi untuk kemajuan pendidikan itu sendiri. Secara keseluruhan saya setuju dengan masukan-masukan yang telah disampaikan untuk kurikulum 2013. Pembelajaran yang kontekstual akan mampu menuntun siswa agar mengerti manfaat dari pembelajaran yang mereka lakukan. Pengetahuan yang diperoleh oleh siswa pun dibangun secara mandiri sehingga pembelajaran akan bermakna bagi siswa dan tidak hanya menghafal materi saja. Untuk menunjang pembelajaran tersebut, maka seorang guru harus mampu mempersiapkan pembelajarannya, dengan mengembangkan sumber, media pembelajarannya sendiri yang disesuaikan dengan keadaan siswa. Untuk masalah penilaian mengenai penghapusan ujian nasional, menurut saya itu bagus, karena dengan begitu penilaian yang dilakukan ialah penilaian secara berkelanjutan berdasarkan proses pembelajaran siswa. Selama ini pula masih ada guru yang hanya mengejar ujian nasional, yaitu siswa hanya diharapkan dapat memperoleh nilai yang bagus pada ujian tanpa memperhatikan pemahaman siswa secara utuh mengenai materi pembelajaran yang justru akan bermanfaat bagi kehidupannya.

    ReplyDelete
  4. Betty Kusumaningrum (Pmat C-14709251075)
    Adanya perubahan kurikulum menunjukkan adanya suatu usaha untuk terus meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Secara keseluruhan, draft kurikulum 2013 sudah baik sebab sudah adanya upaya untuk mendorong kreatifitas dan mengembangkan karakter siswa. Saya sependapat dengan Bapak perihal perbaikan draft kurikulum 2013. Di dalam kurikulum 2013, terdapat pengembangan karakter siswa, dimana pengembangan karakter tersebut haruslah sesuai dengan nilai – nilai Pancasila yang dapat mencerminkan jati diri kita sebagai Bangsa Indonesia. Masih ditetapkannya UN sebagai tolak ukur keberhasilan siswa, di dalam kurikulum 2013, masih perlu dipertimbangkan lagi. Berhasil atau tidaknya siswa dalam belajar, tidak hanya diukur dalam hitungan hari dan tidak hanya diukur dari aspek kognitif saja.

    ReplyDelete