Dec 10, 2012

Masukkan untuk Perbaikan Draft Kurikulum 2013_ Oleh Marsigit

Yogyakarta, 9 Desember 2012

Masukkan untuk Perbaikan Draft Kurikulum 2013

Kepada Yth:
Tim Pengembang Draft Kurikulum 2013, Kemdikbud,
Jakarta


Dengan hormat,

Bersama ini perkenankanlah saya , Marsigit atas nama pribadi ingin memberikan kontribusi untuk perbaikan Draft Kurikulum 2013.

Secara umum, saya sangat setuju diberlakukannya Kurikulum 2013, karena secara yuridis formal mempunyai rasionel yang kuat, dan secara pedagogis berusaha untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan atau implementasi Kurikulum 2006.

Pandangan Umum:


Secara umum saya member saran perbaikan sebagai berikut:

1.Janganlah disebut sebagai Kurikulum 2013, tetapi lebih baik disebut sebagai Revisi Kurikulum 2006, agar masyarakat tidak menganggap Kurikulum baru sebagai asing sama sekali dengan Kurikulum 2006

2.Janganlah menyebut kurikulum berpendekatan Sain, karena istilah ini sangat asing dan dapat mengejutkan masyarakat dan para guru. Sebagai gantinya saya mengusulkan agar digunakan istilah “Pendekatan Eksploratif”

3.Perlu pendefinisian secara jelas baik secara konseptual maupun filosofis pengertian Kurikulum pada masing-masing Jenjang Pendidikan. Saya mengusulkan agar ada 1 (satu) lagi jenis kurikulum sebagai ujung tombak operasional dilapangan yaitu yang saya sebut sebagai “Kurikulum Pada Tingkat Satuan Pembelajaran” atau disingkat “KTSPbl”. Alasannya agar persiapan, RPP, silabus, bahan ajar, metode, lebih operasional dan lebih kongkrit serta bersifat kontekstual.

4.Untuk mendukung adanya KTSPbl, guru perlu mengembangkan 10 (sepuluh) langkah: a. Mengembangkan RPP yang memfasilitasi siswa untuk membangun hidup (ilmu)-Lile Skill, b. Mengembangkan Apersepsi sebagai kegiatan siswa dan bukan kegiatan guru, c. Mengembangkan Kegiatan Diskusi Kelompok, karena hakekat Ilmu bagi siswa SD dan SMP adalah Kegiatan Diskusi, d. Mengembangkan Skema Pencapaian Ketrampilan Hidup (lebih tinggi dari Kompetensi), e. Mengembangkan LKS yang memfasilitasi siswa agar memperoleh Ketrampilan Hidup (LKS harus dibuat sendiri oleh guru dan bukan dari membeli; LKS bukan sekedar kumpulan soal), f. Mengembangkan kegiatan assessment (bukan sekedar penilaian), berupa Portfolio dan Authentics Assessment, g, . Mengembangkan Kegiatan Refleksi Siswa untuk menyampaikan dan menjelaskan kesimpulan diskusi kelompoknya, h. Mengembangkan dan mendorong agar Siswa sendiri yang memperoleh Kesimpulan, i. Mengembangkan Media atau Alat Peraga yang menunjang, j. Menembangkan Metode Pembelajaran yang Dinamis, Kreatif, Fleksibel, dan Kontekstual.

5.Agar perbaikan Kurikulum memperhatika system-sistem atau sub-sistem yang sudah dikembangkan misalnya adanya berbagai sekolah: SSN, RSBI, SBI, KNSI.

6.Agar dilakukan perubahan-perubahan Paradigma atau Teori-teori agar sesuai dengan tuntutan jaman.

7.Agar Kurikulum baru mampu menjawab 2 (dua) pertanyaan besar dan fundamental yaitu: a. Akuntabilitas Pendidikan, dan b. Sustainabilitas Pendidikan (termasuk CPD=Continuing Professional Development bagi para Guru)

Pandangan Khusus:

Uraian Masukan/Saran:


1.Pengembangan Kurikulum 2013 belum didukung secara cukup tentang batasan Politik Pendidikan
Katerangan:

Belum secara eksplisit dijelaskan mengenai relevansi UUD 1945 dan Pancasila sebagai landasan filosofis kemana arah pendidikan. Tentunya kita semua sepakat bahwa Pendidikan kita haruslah secara filosofis berdasar kepada UUD 1945 dan Pancasila, dengan segala macam konsekuensinya.
Solusi:
Hendaknya Karakter yang dikembangkan diturunkan dari sila-sila Pancasila dan nilai-nilai yang terkandung pada UUD 45

2.Pengembangan Kurikulum 2013 belum didukung secara cukup tentang Hakekat Keilmuan
Keterangan:

Pandangan atau batasan keilmuan belum dijelaskan secara eksplisit, sehingga dari sisi Hakekat Keilmuan Kurikulum kita selama ini (termasuk Draft Kurikulum 2013) tidak mempunyai arah yang jelas pada setiap Jenjang Pendidikan. Pandangan Keilmuan yang selama ini ada dan dijalankan hanya cocok untuk Jenjang Pendidikan Tinkat Tinggi. Hal ini berakibat belum adanya definisi Mata Pelajaran yang cocok untuk Jenjang Pendidikan yang lebih rendah seperti SMA, SMP dan SD. Selama ini selalu diasumsikan bahwa Mata Pelajaran misal Biologi, Matematika, IPA, Geografi, dst., adalah sebuah Body of Knowledge, atau Science of Truth, atau Structure of Truth. Definisi tersebut hanya bermakna untuk Jenjang Pendidikan Tinggi, sedangkan untuk Pendidikan Jenjang Menengah dan Pendidikan Dasar, tidak bermakna.
Solusi:
Diperlukan redefinisi tentang hakekat keilmuan (Mapel), yaitu bahwa untuk Jenjang Pendidikan Menengah dan Rendah, Keilmuan merupakan proses berpikir atau kegiatan social. Diperlukan redefinisi matematika untuk sekolah yaitu Matematika Sekolah yang didefinisikan sebagai Proses Berpikir atau Kegiatan Sosial. Ebbutt and Straker (1995) mendefinisikan School Mathematics sebagai: Kegiatan mencari pola, Kegiatan menyelesaikan masalah, Kegiatan eksplorasi, dan Kegiatan berkomunikasi. Demikian juga untuk maple-mapel yang lain.

3.Pengembangan Kurikulum 2013 belum didukung secara cukup tentang Nilai Karakter yang dikehendaki
Keterangan:

Arah nilai karakter yang sesuai dengan stuktur budaya Bangsa, belum secara eksplisit disebutkan. Kita akan mengembangkan Karakter sebagai Bangsa yang berkarakter apa? Apakah menuju Negara Industrial Trainer? Apakah menuju Negara Technological Pragmatis? Apakah menuju Masyarakat Old Humanist? Apakah menuju Masyarakat Progressive Educator? Apakah menuju Masyarakat Public Educator? Kita belum mempunyai orientasi yang jelas. Jika posisi kita memang dalam ketidak jelasan, maka kita termasuk Bangsa yang masih mencari jati dirinya. Namun walau demikian kita harusnya mempunyai Ideal. Idealnya tentu menuju Masyarakat Demokrasi Pancasila. Tetapi yang terjadi dalam masyarakat telah berkembang Nilai-nilai Pragmatism, Kapitalism, Utilitarianis, Hedonism dan Konsumerism.
Solusi:
Nilai Karakter harusnya diturunkan dari butir-butir Sila Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan Keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.

4.Pengembangan Kurikulum 2013 belum didukung secara cukup tentang Filsafat Orientasi Pendidikan
Keterangan:

Secara Yuridis Formal, tujuan Pendidikan sudah sangat jelas. Kurikulum-kurikulum sebelumnya, tujuan filosofis pendidikan diarahkan secara parsial yaitu cenderung Back to Basic (SD), Sertification dan Transfer of Knowledge. Sudah ada kesadaran pada Kurikulum 2013 untuk mengembangkan kreativitas dan kompetensi, namun hal tersebut belumlah cukup. Karena secara filosofis sebenar-benar tujuan pendidikan adalah Mengembangkan Ketrampilan Hidup (Life Skill).
Solusi:
Agar dilakukan redefinisi tentang Orientasi Kurikulum yaitu bukan Pengembangan Kompetensi melainkan Pengembangan Ketrampilan Hidup

5.Pengembangan Kurikulum 2013 belum didukung secara cukup tentang Hakekat Teori Belajar
Keterangan:

Secara ontologism Teori Pembelajaran masih belum mengenai hakikinya; masih bersifat parsial dan sempit, yaitu Ingatan, Pemahaman dan Aplikasi (Teori Bloom). Teori Bloom ini mempunyai kekurangan tidak mampu menjawab tantangan yang ada sesuai dengan perkembangan jaman. Teori pembelajaran seharusnya juga selaras dengan Teori Mengajar yang mengedepankan Kegiatan Eksplorasi, Kemandirian, Kemampuan bekerja sama, dan Belajar Kontekstual.
Solusi:
Redefinisi Hakekat Belajar dan Hakekat Mengajar, yaitu bahwa Belajar adalah kegiatan eksplorasi dan Mengajar juga adalah Kegiatan Penelitian. Hal ini belum cukup, perlu ditambah bahwa Belajar adalah Membangun Hidup (Life Skill)

6.Pengembangan Kurikulum 2013 belum didukung secara cukup tentang Hakekat Metode Mengajar
Keterangan:

Belum secara jelas disebutkan mengenai Metode Mengajar yang disarankan. Selama ini Guru lebih dominan mengajar secara Tradisional yaitu Transfer of Knowledge. Kurikulum 2013 sudah mulai memunculkan Eksplorasi tetapi belum secara implicit menuju Ketrampilan Hidup.
Solusi:
Redefinisi Metode Mengajar menuju Mngembangkan Ketrampilan Hidup (Life Skill), sehingga Metode Mengajar yang tepat adalah bersifat kontekstual, fleksibel, dinamis dan kreatif, misal : Metode Investigasi/Eksplorasi (yang disebut sebagai Metode Sain) dan Metode Diskusi.

7.Pengembangan Kurikulum 2013 belum didukung secara cukup tentang Hakekat Sumber Belajar
Keterangan:

Selama ini praktek pembelajaran didominasi dengan Textbook oriented. Walaupun sudah disarankan agar terdapat variasi sumber belajar, tetapi belum secara eksplisit disebutkan pentinnya Pengembangan RPP dan LKS yang sesuai dengan paradigm Explorasi dan Membangun Hidup (Life Skill).
Solusi:
Perlunya kewajiban bagi guru untuk membuat LKS nya sendiri. Karena LKS selama ini hanya membeli dari Penerbit atau bantuan dari Pemerintah, dan itu belum termasuk criteria LKS yang benar, karena hanya merupakan Kumpulan Soal. RPP danLKS yang benar adalah RPP dan LKS yang membantu siswa mengembangkan Ketrampilan Hidup.

8.Pengembangan Kurikulum 2013 belum didukung secara cukup tentang Hakekat Penilaian
Keterangan:

Walaupun sudah disebut pentingnya Portfolio dalam Penilaian, tetapi belum ada Komitmen untuk menghapus UAN. UAN adalah sumber permasalahan Pendidikan secara pedagogis. Sebaik apapun penataran dan teori yang diperoleh dari Kampus (LPTK) tetapi jika sudah terjun di sekolah, para guru hanya focus pada Metode Pembelajaran yang Berorientasi pada UAN. Bahkan Kepala Sekolah dengan tegas menyarankan guru agar tidak menggunakan metode yang macam-macam, dan hanya focus pada pencapain UAN.
Solusi:
Pemerintah harus berani melangkah untuk menghapuskan UAN.

9.Pengembangan Kurikulum 2013 belum didukung secara cukup tentang Hakekat Siswa
Keterangan:

Hakekat Siswa belum didefinisikan secara eksplisit. Selama ini semua pendidik, dan pengambil keputusan dalam bidang pendidikan selalu menganggap Siswa sebagai Empty Vessel yaitu sebagai Tong Kosong yang harus di isi oleh guru. Kurikulum 2013 sudah mulai menyadari, tetapi belum secara eksplisit member solusinya.
Solusi:
Perlu redifinisi hakekat siswa yaitu bahwa Siswa adalah makhluk yang bersifat Hidup, oleh karena itu maka hakekat siswa adalah diri subyek belajar yang berusaha membangun hidupnya (Life Skill)

10.Pengembangan Kurikulum 2013 belum didukung secara cukup tentang Hakekat Kompetensi
Keterangan:

Belum didefinisikan hakekat Kompetensi secara filsafati. Selama ini dan juga dalam Kurikulum 2013, tidak ada penjelasan bagaimana siswa atau guru membantu siswa mencapai kompetensinya atau memperoleh ketrampilan membangun hidupnya.
Solusi:
Perlu dipromosikan bahwa Kompetensi Siswa berkaitan dengan Kebutuhannya dan berkaitan dengan Aspek Budayanya. Maka untuk memperoleh kompetensi ketramilan hidup, siswa perlu melalui tahap-tahap hirarkhis sebagai berikut: WILL, ATTITUDE, KNOWLEDGE, SKILL, and EXPERIENCE, Untuk mencapai Kompetensi tersebut guru perlu membuat Skenario Pembelajaran yaitu Skenario Pencapaian Kompetensi.

11.Pengembangan Kurikulum 2013 belum didukung secara cukup tentang Hakekat Sosial Budaya
Keterangan:

Falsafat atau Teori tentang Sosial Budaya tidak secara jelas dicantumkan. Negara kita dihadapkan pada persoalan tarik menarik antara Pusat vs Daerah, Sentralisasi vs Desenralisasi, dan Monokultur vs Multikultur. Kebijakan Pendidikan belum secara jelas dan terbuka bagaimana mengatur keseimbangan tersebut.
Solusi:
Dikembangkan komunikasi agar diperoleh kejelasan tentang perihal tersebut di atas. Sudah saatnya dipromosikan Pendidikan Kontekstual yaitu sesuai dengan Daerah masing-masing; sehingga Pendidikan akan mengembangkan Multi Solusi dan Multi Budaya.

12.Pengembangan Kurikulum 2013 belum didukung secara cukup tentang Aspek Konseptual:
Keterangan:

Aspek Konseptual belum secara eksplisit memberi gambaran tentang persoalan mendasar pendidikan. Persoalan mendasar pendidikan terletak kepada pertanyaan: Apakah Pendidikan sebagai Investasi atau Kebutuhan? Apakah Pendidikan mempromosikan Kompetisi atau Kolaborasi? Apakah Pendidikan sebagai Kewajiban atau Kesadaran? Apakah Pendidikan berfungsi sebagai Pelestari atau Penggali? Apakah Pendidikan berfungsi Proteksi atau sebagai Pembebas? Apakah Pendidikan berjangka Pendek atau berjangka Panjang? Apakah fungsi Guru sebagai Pelaksana atau Pengembang Kurikulum? Apakah Kurikulum sebagai Instrument atau sebagai Fasilitator?
Solusi:
Agar pengembangan Kurikulum 2013 mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas.

Demikian saran-saran saya buat dengan tidak memunyai maksud apapun kecuali ikut secara pribadi berkontribusi demi perbaikkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Terimakasih atas perhatiannya dan mohon maaf jika ada khilafnya

Hormat kami,


Marsigit
Alamat Rumah:
Plosokuning II, RT 10, RW 04, Minomartani, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta
Telpon Rumah: (0274) 886381
HP : 0815 7870 8917
Website: http://powermathematics.blogspot.com

29 comments:

  1. PM P2TK (14709259003)

    Saya sependapat sekali tentang adanya penghapusan UAN, karena dengan adanya UAN banyak terjadi kecurangan-kecurangan. Banyak siswa (bahkan mungkin didukung orang tuanya) yang rela mengeluarkan banyak uang untuk membeli kunci jawaban UAN. Ironisnya lagi kunci jawaban tersebut diedarkan kepada teman-temannya. Bagaimanakah UAN bisa menggambarkan ketercapaian hasil belajar?
    Pada kenyataannya ada siswa memperoleh nilai UAN 10 pada pelajaran matematika, tetapi dia sampai sekarang belum bisa berhitung cepat, tidak mengetahui konsep matematika. Memang, ada juga siswa yang hasil UAN-nya murni, tetapi antara yang murni dengan yang curang lebih banyak curangnya.
    Sebagai seorang guru pun saya juga merasa prihatin dengan keadaan ini. Kadang ada pertentangan batin, kenapa harus memberi bimbingan belajar diluar jam sekolah pada anak kelas 9, toh pada akhirnya mereka bisa mendapat/membeli kunci jawaban UAN. Kenapa juga ada oknum yang menjual kunci jawaban, padahal sepertinya pengamanan soal UAN begitu ketat. Darimana oknum itu bisa membuat kunci jawaban yang mayoritas "benar"? Siapa yang membocorkan? Siapa yang salah dalam hal ini?
    Menurut saya, selama masih ada UAN yang standart nilainya ditentukan, pastilah kecurangan akan terus terjadi.
    Hasil UAN adalah hasil yang semu, tidak mencerminkan kondisi yang sebenarnya.
    Semoga dengan diberlakukannya kurikulum 2013 secara serentak mulai tahun pelajaran ini, segera ada formula baru untuk menggantikan UAN yang tentunya lebih bermakna. Amiin Ya Robb....
    Maju terus pendidikan Indonesia

    ReplyDelete
  2. Lisaiha Rodiyya Basori (14709251071) P.Mat D

    keluhan tentang kurikulum 2013 tidak hanya dari orangtua siswa maupun siswa tersebut tetapi juga para guru pelaksananya. ada yang mengalami kesulitan dan kebingungan bagaimana seharusnya yang dilakukan. beban tugas guru diluar mengajar juga banyak, guru dituntut macam-macam, sebagian dari mereka berpendapat bahwa guru sekarang seperti TU

    ReplyDelete
  3. Kurikulum dalam pendidikan di Indonesia ini berganti demi untuk kemajuan pendidikan itu sendiri. Secara keseluruhan saya setuju dengan masukan-masukan yang telah disampaikan untuk kurikulum 2013. Pembelajaran yang kontekstual akan mampu menuntun siswa agar mengerti manfaat dari pembelajaran yang mereka lakukan. Pengetahuan yang diperoleh oleh siswa pun dibangun secara mandiri sehingga pembelajaran akan bermakna bagi siswa dan tidak hanya menghafal materi saja. Untuk menunjang pembelajaran tersebut, maka seorang guru harus mampu mempersiapkan pembelajarannya, dengan mengembangkan sumber, media pembelajarannya sendiri yang disesuaikan dengan keadaan siswa. Untuk masalah penilaian mengenai penghapusan ujian nasional, menurut saya itu bagus, karena dengan begitu penilaian yang dilakukan ialah penilaian secara berkelanjutan berdasarkan proses pembelajaran siswa. Selama ini pula masih ada guru yang hanya mengejar ujian nasional, yaitu siswa hanya diharapkan dapat memperoleh nilai yang bagus pada ujian tanpa memperhatikan pemahaman siswa secara utuh mengenai materi pembelajaran yang justru akan bermanfaat bagi kehidupannya.

    ReplyDelete
  4. Betty Kusumaningrum (Pmat C-14709251075)
    Adanya perubahan kurikulum menunjukkan adanya suatu usaha untuk terus meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Secara keseluruhan, draft kurikulum 2013 sudah baik sebab sudah adanya upaya untuk mendorong kreatifitas dan mengembangkan karakter siswa. Saya sependapat dengan Bapak perihal perbaikan draft kurikulum 2013. Di dalam kurikulum 2013, terdapat pengembangan karakter siswa, dimana pengembangan karakter tersebut haruslah sesuai dengan nilai – nilai Pancasila yang dapat mencerminkan jati diri kita sebagai Bangsa Indonesia. Masih ditetapkannya UN sebagai tolak ukur keberhasilan siswa, di dalam kurikulum 2013, masih perlu dipertimbangkan lagi. Berhasil atau tidaknya siswa dalam belajar, tidak hanya diukur dalam hitungan hari dan tidak hanya diukur dari aspek kognitif saja.

    ReplyDelete
  5. (14709259008) PM P2TK 2014

    Sebuah masukan yang brilian prof, saya yakin apabila ide-ide ini di diaplikasikan akan menghasilkansebuah kurikulum yang hampir sempurna.Saya pribadi sangat setuju dengan dihapuskannya UN, karena dengan adanya UN, guru, kepala sekolah,siswa dan orang tua siswa hanya berorientasi pada hasil UN tanpa memperhatikan aspek yang lain. Segala macam metode, media dan model pembelajaran yang sudah dirancang untuk mengembangkan potensi peserta didik dalam segala ranah pun terabaikan. Sementara nilai UN yang katanya salah satu fungsinya sebagai pemetaan kompetensi peserta didik antar daerah juga tidak bisa memetakan kompetensi peserta didik dalam segala ranah.

    ReplyDelete
  6. Risnawati Amiluddin (13709251022)
    P.MAT A

    Assalamu Alaikum Wr.Wb
    Dalam Kurikulum 2013 ini sudah disusun secara maksimal dan baik sekali sebagi perbaikan dari kurikulum 2006, hanya saja proses pelaksanaannya yang belum efektif. Bisa jadi kurangnya pelatihan-pelatihan guru oleh pemerintah terkait tentang bagaimana seharusnya kurikulum 2013 dilaksanakan. Sehingga tidak heran bukan hanya siswa yang bingung tetapi guru-guru juga sangat bingung bagaimana kurikulum 2013 ini pelaksanaanya. Untuk itu, dalam hal ini pemerintah haruslah pandai, cepat dan tanggap dalam mengatasi problem pelaksanaan kurikulum 2013 ini sehingga tujuan pendidikan nasional tercapai. Ini sangat riskan dan vital jika guru saja tidak memahami bagaimankurikulum 2013, apalagi siswa-siswanya.
    Terimakasih

    ReplyDelete
  7. Bismillah.
    Salam super pak marsigit.
    Postingan yang luar biasa pak.
    Memang benar dalam implementasi kurikulum 2013 di tingkat sekolah masih menghadapi banyak kendala. Hal yang paling kental saya rasakan saat saya mengajar di salah satu SMK negeri di kota saya adalah banyaknya hakekat yang belum dimaknai. hakekat sumber belajar, hakekat metode mengajar, hakekat penilaian, hakekat teori belajar ..dst masih belum termaknakan di sekolah. Mudah - mudahan para pemimpin pengatur dan penguasa di sana dapat medengar dan membaca draf masukan ini. Aamiin.
    salam super pak marsigit

    ReplyDelete
  8. Apolonia Hendrice Ramda (14709251072) PMAT D

    Selamat pagi,
    Penerapan Kurikulum 2013 tentunya belum dapat dilaksanakan sepenuhnya oleh seluruh lembaga pendidikan di Indonesia. Banyak hal yang dipertimbangankan menjadi alasan bahwa kurikulum ini belum bisa diterapkan. Hal ini menjadi catatan bagi kita semua bahwa, Kurikulum yang berladaskan pancasila dan UUD masih dalam proses pelaksaan. Ketidak siapan guru, kepala sekolah, siswa dan perangkat pendidikan lainnya menjadi salah satu tantangan untuk penerapan kurikulum 2013. Belum semua lembaga pendidikan menerapkan kurikulum 2013, sekarang muncul kurikulum 2014. Hal ini dapat menimbulkan kebingungan khususnya bagi tenaga pendidik. Hendaknya perumusan kurikulum tidak terburu-buru agar tidak terjadi hal seperti ini. Masyarakat Indonesia yang cerdas, berbudi luhur, adil dan sejahtera merupakan impian bersama. Marilah kita secara bersama-sama dengan ikhlas dan hati yang terbuka mencari solusi yang terbaik agar tujuan dan cita-cita bangsa dapat tercapai.

    ReplyDelete
  9. Sebagus apapun kurikulum yang dirancang oleh pemerintah belum tentu semua daerah di Indonesia dapat mengimplementasikannya. Ini adalah masalah klasik yang dihadapi oleh dunia pendidikan di negara kita, dimana gonta-ganti kebijakan dengan alasan untuk perbaikan, tetapi sesungguhnya akar permasalahannya belum tersentuh. Kita harus sadar bahwa kondisi alam, sosial budaya, dan ekonomi di negara kita sangatlah beragam. Hal ini tentunya akan menyebabkan permasalahan pendidikan yang berbeda-beda pula, tetapi sayangnya pemerintah hanya mencoba memberikan solusi yang bersifat umum, artinya solusi tersebut bersifat sama untuk semua kondisi, padahal sumber permasalahannya jelas berbeda. Maka tidak heran jika pemerintah melakukan perubahan kurikulum yang bersifat nasional dengan alasan untuk peningkatan kualitas pendidikan nasional, padahal kebutuhan dunia pendidikan di daerah belum tentu cocok dengan kurikulum yang di buat oleh pemeritah. Contoh sederhananya, boleh jadi kurikulum 2013 yang dirancang pemerintah cocok untuk daerah-daerah perkotaan yang siswanya sudah dilengkapi dengan fasilitas yang mencukupi, dan latar belakang ekonominya mampu, tetapi belum tentu dapat diaplikasikan untuk daerah-daerah terpencil, dimana akses menuju sekolah masih susah, fasilitas sekolah belum memadai, latar belakang ekonomi orang tua para siswa kurang mampu, dan hal-hal lain yang bersifat kontradiksi dengan kondisi di perkotaan. Belum lagi ditinjau dari faktor, seperti pemerataan jumlah guru, kemampuan dan skill guru, sumber belajar, dll. semuanya akan menjadi hambatan dalam pengimplementasian kurikulum 2013 ini. Saya berpendapat bahwa perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia fokusnya hendaknya bukan hanya pada perbaikan kurikulum saja, tetapi juga fokus pada pemerataan jumlah guru, pemerataan kemampuan guru, pemerataan sarana dan prasarana, dll. Kesimpulan saya adalah sebagus apapun kurikulum yang dirancang pemerintah, jika belum ada pemerataan terhadap hal-hal yang saya sebutkan tadi, mustahil tujuan yang ingin kita capai dari kurikulum 2013 dapat terwujud secara nasional, bisa jadi di daerah perkotaan itu dapat diwujudkan, tetapi di daerah terpencil itu akan jadi bumerang, akibatnya kesenjangan pendidikan di indonesia akan semakin besar.

    ReplyDelete
  10. Ristu Haiban Hirzi
    14709251073
    Pmat D
    Bismillah…
    Kurikulum 2013 merupakan kurikulum baru yang belum sepenuhnya terlaksana dengan baik. Keluhan dari pengajar yang belum terbiasa dengan penerapan kurikulum inipun masih sering terdengar. Tidak semua kalangan dapat menerapkan kurikulum ini dengan baik. Hal ini disebabkan karena keberagaman latar belakang dan kemampuan objeknya. Pemerataan dari segala aspek yang mendukung terlaksananya kurikulum ini sebagai contoh buku literature pun belum terlaksana dengan baik. Semoga perbaikan atas kurikulum ini kedepan berjalan lebih baik dan pemerintah tidak mengeluarkan kurikulum baru lagi sebagai pemecahan dari belum sempurnanya kurikulum ini. Wallahualam

    ReplyDelete
  11. Indah Pertiwi (14709251002/PPs P.Mat A 2014)

    Assalamualaikum Wr. Wb
    “Masukkan untuk Perbaikan Draft Kurikulum 2013_ Oleh Marsigit”, telah membukakan pikiran saya bahwa pergantian kurikulum itu perlu. Suatu perubahan tidak hanya membutuhkan pemikiran yang matang tetapi juga harus memiliki inovasi baru yang menarik untuk terjadinya perubahan tersebut. Bisa saja perubahan tersebut malah membuat semua hal yang sudah ada menjadi kacau namun bisa juga perubahan tersebut dapat memperbaiki sesuatu. Begitupun dengan pergantian kurikulum KTSP 2006 menjadi kurikulum 2013 perlu dilakukan. Saya semula tidak setuju dengan adanya pergantian kurikulum KTSP 2006 menjadi kurikulum 2013, sekarang menjadi setuju setelah membaca pemaparan tentang pentingnya kurikulum 2013 oleh Prof Marsigit. Kurikulum 2013 merupakan salah satu cara dari pemerintah untuk melakukan inovasi dalam pendidikan dan menekankan pada pendidikan karakter. Pendidikan karakter memang sangat diperlukan bagi anak bangsa karena pada masa sekarang ini di Indonesia sudah terjadi krisis karakter. Namun, pada kurikulum 2013 belum dinyatakan secara jelas karakter apa saja yang akan dibentuk. Karakter ini haruslah mencerminkan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 untuk menciptakan pendidikan karakter bagi guru dan siswa. Nilai-nilai pancasila sudah ada sejak nenek moyang kita (sebelum bangsa Indonesia merdeka). Jadi, dengan adanya nilai-nilai pancasila yang sejatinya sudah berada dalam kehidupn sehari-hari kita kurikulum 2013 akan mudah terealisasi dan diterima oleh masyarakat. Kurikulum 2013 mulai menekankan pada student center sehingga guru tidak lagi sebagai subyek dalam kelas namun bertindak sebagai fasilitator siswa dalam belajar. Guru harus mampu mengembangkan RPP dan membuat LKS. Dengan LKS ini, diharapkan siswa dapat menemukan matematikanya sendiri dan mampu menemukan kesimpulan.
    Wassalamualaikum Wr. Wb

    ReplyDelete
  12. HASAN DJIDU, S.Pd (P.MAT A/ 14709251030)
    Bismillahirrohmaanirrohim
    Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh,
    Diantara beberapa masukan yang Bapak tuliskan di atas, salah satu yang menarik perhatian saya adalah kata-kata ""kurikulum baru"" dan istilah-istilah lain yang digunakan dalam kurikulum yang digunakan saat ini. Saya menilai bahwa pemberian predikat dengan nama baru akan memberikan kesan yang kurang baik bagi para Guru. Belum lagi mereka memahami sepenuhnya kurikulum sebelumnya, diberikan lagi info akan adanya kurikulum baru. Akibatnya niat untuk memahami kuriikulum sebelumnya kembali melemah akibat akan adanya kurikulum baru lagi. Namun kita semua tetap menaruh harapan agar perbaikan terhadap sistem pendidikan yang ada di negeri ini terus dilakukan.
    Wallahu a'lam
    Terimakasih...Wassalamu'alaikum Warohamatullahi Wabarokatuh"

    ReplyDelete
  13. Perubahan kurikulum bukanlah yang pertama kali dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. Segala cara telah ditempuh oleh pemerintah untuk memperbaiki dan memajukan pendidikan Indonesia agar sesuai dengan tujuan pendidikan nasional seperti tertulis dalam UUD 1945. Tak jarang juga tindakan yang dilakukan pemerintah membuat bingung masyarakat awam yang notabene kurang paham akan masalah pendidikan. Terlebih lagi kalau dilihat secara langsung dalam pembelajaran di sekolah, perubahan kurikulum yang selama ini dilakukan juga tidak membawa perubahan pembelajaran yang signifikan bagi siswa. Semuanya terlihat sama seakan tidak terjadi perubahan kurikulum. Apakah yang salah dari pemerintah selama ini? Ya itu menjadi PR bagi kita bersama terutama bagi kaum pendidikan. Pada dasarnya memang perubahan kurikulum seharusnya didasarkan pada catatan-catatan perbaikan yang masih diperlukan dari kurikulum sebelumnya sehingga nantinya dapat dihasilkan kurikulum baru yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan. Namun fakta yang terjadi di Indonesia justru terbalik yaitu bahwa kurikulum yang baru adalah kurikulum yang benar-benar baru dan asing dengan kurikulum sebelumnya. Menurut saya ini justru mempermainkan para siswa dan guru sebagai pelaku pendidikan secara langsung di sekolah, seakan mereka adalah kelinci percobaan para pakar pendidikan yang ingin mengujicobakan keefektifan suatu kurikulum. Dalam draft kurikulum 2013 ini saya melihat bahwa masih banyak pedoman-pedoman yang harus didefinisikan secara terperinci dan jelas sehingga mudah dan nyata bagi para pelaku pendidikan. Seperti yang tertulis dalam masukan yang ditulis oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A ini saya setuju bahwa harus ada penekanan-penekanan yang jelas dan arahan yang pasti akan ke mana kurikulum dan pendidikan bangsa ini. Di dalam masukan ini juga tertulis bahwa kurikulum yang baru haruslah dekat dengan guru dan siswa. Artinya guru harus menyiapkan kelengkapan pembelajaran terlebih dahulu sebelum akhirnya mengajar di kelas dan siswa juga mampu berperan aktif dalam pembelajaran di kelas.

    ReplyDelete
  14. Maria Antonia Y.Meo(14709251089)
    PMatC 2014
    Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan di negara kita.Salah satunya dengan perubahan kurikulum seperti halnya yang berlaku sekarang kurikulum 2013.Memang masih kendala dalam pelaksanaan kurikulum ini,sehingga segala saran demi perbaikan sangat dibutuhkan.Dengan demikian pendidikan di negara kita akan lebih baik.

    ReplyDelete
  15. Ida Trisnadati P Mat D 2014/14709251033
    Assalammualaikum Bapak Marsigit
    Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah untuk dapat meningkatkan pendidikan di Indonesia. Salah satunya adalah dengan melakukan perubahan kurikulum, dalam kurikulum 2013 pelaksaannya memang masih menemukan banyak kendala. Perlu adanya kesadaraan dari guru untuk dapat melakukan perubahan mendasar bahwa yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah siswa dapat mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Proses itu penting, hal ini penting karena akan membuat pengetahuan tersebut bermakna sehingga akan lebih mudah mengaplikasikannya. Sehingga siswa dapat memiliki kesadaran sendiri bahwa belajar itu sangat bermanfaat dalam kehidupannya.

    ReplyDelete
  16. Bayu Widiya Dwi Santoso (14709251023 / PM C)
    Salah satu langkah pemerintah dalam melakukan inovasi di dunia pendidikan yakni dengan mengubah kurikulum dari KTSP menjadi Kurikulum 2013, yang mana pada kurikulum 2013 lebih menekankan pada aspek pendidikan karakter. Saat ini pendidikan karakter sangat diperlukan bagi anak bangsa sebab pada masa sekarang ini di Indonesia sudah terjadi krisis karakter. Karakter ini haruslah mencerminkan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Kurikulum 2013 mulai menekankan pada student center bukan teacher center. Guru tidak lagi sebagai transfer of knowlaadge namun bertindak sebagai fasilitator siswa dalam belajar. Guru harus mampu mengembangkan RPP, membuat LKS dan juga melakukan penilaian menggunakan portopolio.

    ReplyDelete
  17. Assalamualikum.Wr.Wb
    Aqiilah(14709251052/PmatC)
    Bismillahirrahmanirrahiim
    Selalu memperbaik untuk menjadi lebih baik itu penting, namun saya sangat setuju dengan masukan Pak Sigit, dengan tidak memunculkan nama baru kurikulum 2013 ataupun pendekatan saintifik, karena hal yang asing akan di anggap sulit sebelum di coba, karena kita yang belum terbiasa menerima hal yang baru, semoga dengan adanya perbaikan kurikulum ini dapat menjadikan pendidikan Indonesia lebih baik dan berkembang sehingga tercipta generasi emas dan bersumber daya baik, terima kasih salam fastabiqul khoirot.

    ReplyDelete
  18. Kurikulum 2013 diterapkan untuk memajukan pendidikan di negara kita. Namun, dalam pelaksanaannya guru, siswa, kepala sekolah dan seluruh perangkat yang ada di sekolah merasa asing dengan kurikulum ini. Jika sekolah-sekolah yang berada di kota saja sudah merasa asing dengan kurikulum ini, apalagi dengan sekolah-sekolah yang berada di desa atau di daerah-daerah terpencil. Saya juga setuju dengan Bapak Marsigit bahwa pengembangan Kurikulum 2013 belum didukung secara cukup tentang Hakekat Penilaian, karena tak dapat dipungkiri bahwa penilaian yang diberikan guru-guru dewasa ini hanyalah berfokus pada materi UAN saja, sedangkan materi yang tidak terdapat dalam standar kompetensi lulusan UAN seringkali diabaikan. Hal ini tentunya membawa dampak yang kurang baik bagi pengembangan karakter siswa dalam belajar. Siswa tentu merasa bahwa banyak materi yang dipelajari, tetapi hanya materi tertentu saja yang menjadi patokan dalam penilaian guru. Jadi, saya berpendapat bahwa pelaksanaan UN itu kurang efektif dan efisien untuk dilaksanakan. Terima kasih
    Maria Rosadalima Wasida, PMat B

    ReplyDelete
  19. Libertus di umart alvares s2 PmatD 14709251029
    Dalam poin 1 saya sangat setuju dengan professor, secara tak langsung kita di bunggungkan oleh konsistensi dewa dewa yang mengubah kurikulum, secara sadar ubahnya kurikulum dari tahun ke tahun membuat tendensi bahwa ganti presiden selalu ganti kurikulum, tapi baiklah revisi disinggung dalam kurikulum yang baru yang sekarang telah dikenalkan (kurikulum 2013).

    ReplyDelete
  20. Untuk mbak bety dari mana anda mengatakan sudah baik?Menurut mbak bety dikurikulum sebelumnya tidak ada kah upaya untuk mendorong kreatifitas dan mengembangkan karakter siswa?
    Menurut saya implementasi kurikulum yang terdahulu bisa dikembangkan dengan bebagai medode yang sudah dikenal sehingga mampu bersaing dengan kurikulum yang lainnya.

    ReplyDelete
  21. Libertus di umart alvares s2 PmatD 14709251029
    Dalam poin kedua yang bapak lontarkan saya setuju, pendekatan sain lagilagi juga membingungkan , lalu agama atau pun ips mampukan digunakan dengan pendikatan scien, kata eksploratif memang lebih enak didengar dan implementasinya tidak tendensi dengan sain

    ReplyDelete
  22. Libertus di umart alvares s2 PmatD 14709251029
    Saran yang no 1, sungguh menyentuh yang mendasar bagi jiwa rakyat indonesi yang kini mulai hilang identitasnya, yang tidak ada dalam kurikulum sebelumnya adalah bagaimana jiwa ideology bangsa yang sesungguhnya hadir dan dihadirkan melalui skolah, tak hanya setiaphari senin dengan upacara tapi juga dapal implementasi kurikulum.

    ReplyDelete
  23. Yang jadi persoalan, perubahan dari kurikulum lama ke kurikulum 2013 begitu cepat. meskipun pemerintah mengklaim sudah melakukan kajian-kajian. Harusnya kurikulum 2013 ini dilaksanakan di 2015 saja. Karena, dalam waktu sependek ini, yang melaksanakan kurikulum 2013, harusnya para guru bisa dipersiapkan lebih dulu. Persiapan kurikulum 2013 ini begitu sempit, terutama pelatihan guru yang masih minim.

    ReplyDelete
  24. Saifan Sidiq Abdullah (14709251036)
    PMat B (PPs)

    Bismillaahirrohmaanirrohiim
    Ketika paradigma baru di buat dengan bahasa yang baru akan memberikan persepsi guru dan siswa sebagai sesuatu yang asing. Berbeda jika perubahan tersebut menggunakan bahasa pengembangan atau perbaikan, sehingga guru dan siswa tidak merasa asing. Keika paradigma ini diimplementasikan kepada para guru dan siswa dengan persiapan, narasumber yang kurang, maka paradigma baru ini akan menjelma sebagai mitos. ini adalah efek yang bahaya sebagai akibat dari perubahan paradigma baru ini yang harus diantisipasi. terima kasih

    ReplyDelete
  25. Ari Kuntoro
    14709251048
    P.Mat B

    Artikel yang berjudul Masukkan untuk Perbaikan Draft Kurikulum 2013_ Oleh Marsigit, menurut saya: saya sependapat dengan bapak dimana diberlakukannya Kurikulum 2013, karena secara yuridis formal mempunyai rasionel yang kuat, dan secara pedagogis berusaha untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan atau implementasi Kurikulum 2006. Dalam masukan yang ada diatas terdapat Kurikulum Pada Tingkat Satuan Pembelajaran atau disingkat KTSPbl. Alasannya agar persiapan, RPP, silabus, bahan ajar, metode, lebih operasional dan lebih kongkrit serta bersifat kontekstual. Untuk mendukung adanya KTSPbl, guru perlu mengembangkan 10 langkah: 1.Mengembangkan RPP yang memfasilitasi siswa untuk membangun hidup (ilmu)-Lile Skill, 2.Mengembangkan Apersepsi sebagai kegiatan siswa dan bukan kegiatan guru, 3.Mengembangkan Kegiatan Diskusi Kelompok, karena hakekat Ilmu bagi siswa SD dan SMP adalah Kegiatan Diskusi, 4.Mengembangkan Skema Pencapaian Ketrampilan Hidup (lebih tinggi dari Kompetensi), 5.Mengembangkan LKS yang memfasilitasi siswa agar memperoleh Ketrampilan Hidup (LKS harus dibuat sendiri oleh guru dan bukan dari membeli; LKS bukan sekedar kumpulan soal), 6.Mengembangkan kegiatan assessment (bukan sekedar penilaian), berupa Portfolio dan Authentics Assessment, 7.Mengembangkan Kegiatan Refleksi Siswa untuk menyampaikan dan menjelaskan kesimpulan diskusi kelompoknya, 8.Mengembangkan dan mendorong agar Siswa sendiri yang memperoleh Kesimpulan, 9.Mengembangkan Media atau Alat Peraga yang menunjang, 10. Menembangkan Metode Pembelajaran yang Dinamis, Kreatif, Fleksibel, dan Kontekstual. Selain itu hendaknya Karakter yang dikembangkan dalam kurikulum 2013 diturunkan dari sila-sila Pancasila dan nilai-nilai yang terkandung pada UUD 45.

    ReplyDelete
  26. Lidrawati
    P MAT D ( 14709251058 )
    Bismillah...
    Pro dan kontra dalam setiap pembaharuan adalah satu hal yang mesti terjadi. Niat untuk memperbaiki pendidikan bangsa ini haruslah mendapat dukungan dari semua pihak. Sekalipun masih banyak kekurangan dan permasalahan yang timbul, adalah kewajiban kita bersama khususnya orang-orang yang bergelut dibidang pendidikan untuk memberikan pandangan dan sumbangan pemikiran dari teori-teori yang dipelajari yang dapat memberikan solusi serta dapat diimplementasikan demi perkembangan pendidikan bangsa ini.

    ReplyDelete
  27. Juz’an Afandi
    Kelas P. Mat D
    NIM 14709251069

    Setiap kurikulum memang diniatkan untuk perbaikan pendidikan di Indonesia. Dan tentu kurikulum tersebut selalu memerlukan perbaikan dan pembenahan. Begitu juga dengan kurikulum 2013, secara proses dan dalam pelaksanaannya tentu perlu pembenahan. Mulai dari pendekatan, proses, dan konsep-konsep atau teori-teori baik secara tertulis maupun esensi. Seperti istilah yang pas dalam kurikulum 2013, yang perlu perbaikan agar tidak menimbulkan salah penafsiran yang berbeda yang memungkinkan salah dalam pelaksanaan. Akibatnya berpengaruh pada kualitas pembelajaran dan kualitas pendidikan di Indonesia.
    Masukan-masukan sangat bermanfaat namun tentu butuh proses dan penyesuaian di dalamnya.

    ReplyDelete
  28. Veronica Wiwik Dwi Astuty Pmat B (14709251063)
    Perubahan kurikulum memang bertujuan positif yaitu untuk meningkatkan pendidikan yang ada di Indonesia seturut dengan perkembangan IPTEK yang semakin berkembang secara pesat. Namun, perubahan kurikulum saja tidaklah cukup jika tidak menengok ke arah subyek pelaku kurikulum itu sendiri seperti para guru, siswa, dan pejabat pendidikan lainnya. Pada hal ini, subyek kurikulum adalah pelaku utama yang nantinya akan menjadi pelaksana dan sebagai tolok ukur dari keberhasilan suatu kurikulum yang baru itu. Sehingga di dalam perubahan kurikulum hendaknya menyesuaikan dengan kemampuan dari subyek pelakunya agar keberhasilan lebih mudah untuk diraih, sehingga tujuan utama adanya perubahan kurikulum itu akan dicapai dengan meminimalkan adanya kegagalan.

    ReplyDelete
  29. 14709251060 /PMAT C
    Perubahan kurikulum merupakan usaha pemerintah untuk memperbaiki system pendidikan di Indonesia. Walaupun dalam perlaksanaanya perubahan kurukulum itu menjadi pro kontra di beberapa kalangan. Banyak hambatan dan rintangan dalam pelaksanaan kurikulum 2013 karena kurikulum 2013 berbeda dengan kurikulum sebelumnya yaitu pada kurikulum 2013 penuh dengan penanaman sikap, pengetahuan, nilai, dan karakter peserta didik dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya sehingga dengan pelatihan dan sosialisasi dapat mengurangi hambatan yang terjadi dalam pelaksaaan kurikulum baru ini. Saya setuju dengan perbaikan draf kurikulum 2013 karena kurikulum baru ini dapat menjawab perkembangan jaman yang ada tetapi banyak kekurangan yang terjadi dalam pelaksaan kurikulum 2013 misalnya tentang hakekat penilian dalam kurikulum ini. Penilaian masih berfokus pada hasil nilai UN menilai siswa dari nilai- nilai kognitif yang tertulis dengan angka di hasil lembar jawaban, sementara nilai dari sikap dan perilaku untuk membentuk siswa yang berbudi pekerti serta berkarakter bangsa justru dikesampingkan sehingga UN harus dihapuskan.

    ReplyDelete