Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 15: Melawan Hawa Nafsu




Oleh Marsigit

Cantraka:

Wahai Sang Bagawat Gugah, busana, tampilan dan bicaramu tidak seperti biasanya, walaupun aku masih melihat bahwa engkau adalah Sang bagawat Selatan guruku itu. Aku melihat sekarang engkau lebih percaya diri, lebih bijaksana dan lebih banyak pengetahuanmu.

Bagawat Gugah:
Wahai Cantraka ...manusia itu diwajibkan berikhtiar selama hidupnya, seraya berdoa terus menerus. Itulah sebenar-benar dimensi kehidupan.

Cantraka:
Oh kalau begitu aku sangat senang karena guruku juga selalu belajar, sehingga tidak akan kehabisan ilmu dalam mendidik para Cantraka.

Bagawat Gugah:
Jangan dikira orang mau meninggal juga tidak perlu belajar. Setidaknya dia perlu belajar bagaimana meninggal dunia secara khusnul chotimah. Jika dia sudah tidak bisa lagi berdoa atau doanya tidak lancar, maka orang yang masih sehatlah yang menuntun dan mengajarinya.

Cantraka:
Ooo..begitu. Baiklah Sang Bagawat..bolehkah aku ingin mengajukan pertanyaan kepadamu? Sebetulnya apakah pokok persoalan yang engkau hadapi itu sehingga engkau baru-baru ini tampak kacau, gelisah, poligami, beristeri baru Sang Dewi Madream...dst..dst? Apakah pelajaran yang dapat aku petik dari peristiwa yang menimpa pada dirimu itu?

Bagawat Gugah:
Itulah sebenar-benar permainan metafisik spiritual transenden.

Cantraka:
Ah...lagi-lagi engkau mulai berfilsafat. Apa yang engkau maksud sebagai permainan metafisik spiritual transenden?

Bagawat Gugah:
Metafisik spiritual transenden itu suatu keadaan interaktif antara ikhtiar dan takdir, dunia akhirat, amal dan ilmu dalam bingkau doa.

Cantraka:
Wahah...penjelasanmu itu membuat aku lebih bingung lagi. Dapatkah engkau memberikan salah satu contohnya?

Bagawat Gugah:
Ciri-ciri dari permainan metafisik spiritual transenden adalah munculnya fatamorgana pada setiap diri orang dan pada semua orang yang terlibat.

Cantraka:
Menurut banyak orang, banyak versi menggambarkan perihal persoalanmu itu. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa persoalanmu itu persoalan nafsu, persoalan kuasa, persoalan ilmu, persoalan cinta, persoalan doa, persoalan poligami, persoalan ikhlas, persoalan ikhtiar, persoalan amal, persoalan, dunia, persoalan akhirat, dan persoalan takdir.

Bagawat Gugah:
Semua yang ada dan yang mungkin ada adalah semua uraiannya jika kalimatmu itu engkau teruskan.

Cantraka:
Baik saya akan tanyakan satu perkara saja. Apaah persoalanmu itu juga berkaitan dengan Nafsu? Jika memang berkaitan dengan Nafsu, apakah kemudian yang disebut dengan Nafsu itu?

Bagawat Gugah:
Silahkan baca elegi Serial Dewi Madream seluruhnya, kemudian simpulkan apakah persoalanku itu berkait dengan Nafsu atau tidak. Berbicara perihal Nafsu, maka tidak adalah penghalang yang paling besar yang menghalangi jalan menuju Allah, selain hawa Nafsi itu.

Cantraka:
Mohon dijelaskan lebih lanjut perihal Hawa Nafsu itu?

Bagawat Gugah:
Hawa Nafsu itu meliputi keinginan-keinginan diri seseorang. Setiap manusia mempunyai potensi untuk mencapai keinginan-keinginan. Banyak keingainan manusia meiputi keinginan naluriah, keinginan jasmani, keinginan sekusualitas, keinginan memiliki, keinginan cinta, keinginan keindahan, keinginan pikir, keinginan hati, keinginan intrinsik, keinginan ekstrinsik, keinginan sistemik, keinginan motivatif, keinginan, harga diri, keinginan lahir, keinginan bathin, keinginan aktualisasi diri, keinginan penghargaan, keinginan diri, keinginan keluarga, keinginan kelompok, keinginann langsung, keinginan tak langsung, keinginan bawah sadar, keinginan sadar, keinginan tahta, keinginan kuasa, keinginan harta, keinginan baik, keinginan buruk, keinginan doa, keinginan ikhlas, keinginan senang, keinginan makan-minum, keinginan diperhatikan, keinginan diistimewakan, keinginan dicintai, keinginan memberi, keinginan dianggap penting, dsb.

Cantraka:
Wah...wah...ternyata yang namanya Hawa Nafsu itu banyak sekali. Apakah dari sekian banyak keinginan itu dapat diringkas saja?

Bagawat Gugah:
Pertama, apa yang disebut sebagai Hawa Nafsu Kebinatangan. Hawa Nafsu Kebinatangan inilah yang mendorong manusia untuk memperoleh keinginan lahiriah dan kenikmatan seksualitas. Kedua, yang disebut sebagai Hawa Nafsu Binatang Buas. Hawa Nafsu Binatang Buas inilah yang menyebabkan manusia suka menyerang orang lain, membenci orang lain, menghancurkan orang lain, iri, dengki, bahkil, dst. Ketiga, yang disebut Nafsu Syaitoniah. Nafsu Syaitoniah inilah yang mendorong manusia untuk membenarkan semua kejahatan yang dia lakukan. Nafsu Syaitoniah ini berusaha mencari dalih untuk memaafkan perbuatan-perbuatan dosa manusia.

Cantraka:
Wah..bagaimana jika semua Nafsu itu kok jelek. Apakah saya tidak boleh mempunyai Nafsu?

Bagawat Gugah:
Semua Nafsu yang telah aku jelaskan itu adalah nafsu-nafsu yang bersifat buruk. Ketahuilah bahwa Allah SWT telah menganugerahkan kepada manusia Quwattun Rabbaniyyah, yaitu hawa nafsu dari unsur-unsurnya malaikat dan unsur-unsurnya Tuhan. Nafsu Quwattun Rabbaniyah inilah yang berdomisili di dalam hati ikhlas dan pikiran kritis setiap manusia. Maka ikhlasnya hatimu dan kritisnya pikirmu itu dapat mengendalikan semua Nafsu-nafsu Burukmu.

Cantraka:
Bagaimanakah bisa Quwattun Rabbaniyah itu mampu mengendalikan dan mengalahkan Nafsu Binatang, Nafsu Binatang Buas dan Nafsu Syaitoniah?

Bagawat:
Tetapkanlah ikhlas hatimu dan akal sehat diatas semua Nafsu-nafsi buruk itu, niscaya jika Allah SWT mengabulkan maka engkau dapat megendalikannya. Amiin.

75 comments:

  1. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Manusia diciptakan Allah menjadi makhluk yang paling sempurna karena manusia dibekali akal pikiran pun hawa nafsu yang mengikutinya. oleh karena itu, sebagai manusia yang juga ditugaskan sebagai khalifah di bumi ini, kita senantiasa bisa mengatur hawa nafsu kita. jangan sampai terburu nafsu dunia lantas menjadi manusia yang ingin menguasai apapun yang ada di bumi ini. kita punya tugas di bumi ini, merawat bumi menjadi hunian yang baik untuk manusia dan makhluk lainnya, semoga kita senantiasa bisa mengatur dan mengolah hawa nafsu kita sesuai dengan porsinya. aamiin

    ReplyDelete
  2. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    Pada diri manusia pasti memiliki hawa nafsu. hawa nafsu diciptakan ada pada diri manusia guna menjaga kelangsungan hidupnya. Sebab, kalau tidak ada nafsu makan, minum dan nikah, tentulah manusia akan mati dan punah, karena tidak makan, minum dan menikah. Pada dasarnya hawa nafsu itu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang disukainya, lalu jika condongnya kepada sesuatu yang sesuai dengan syari’at, maka terpuji, namun sebaliknya, jika kecondongannya kepada sesuatu yang bertentangan dengan syari’at, maka tercela. Jadi kita harus bisa mengendalikan nafsu-nafsu tercela itu, dengan senantiasa mengikhlas hati dan akal sehat diatas semua nafsu-nafsu buruk itu, niscaya jika Allah SWT mengabulkan dan kita dapat mengendalikannya.

    ReplyDelete
  3. Bayu Adhiwibowo
    16709251014 / S2 Pend. Matematika
    Manusia diciptakan sempurna dalam ketidaksempurnaan. Wajar sekali memiliki hawa nafsu dalam hidup. Hawa nafsu biasanya cenderung berkonotasi negatif. Manusia diberikan akal pikiran oleh Allah SWT agar kita bisa mengatur hawa nafsu itu. Ketika hawa nafsu dijadikan yang utama pasti orang akan hidup dalam kerugian. Kita dalam hidup haruslah bisa mengatur porsi nafsu kita agar tidak berlebihan.

    ReplyDelete
  4. Fevi Rahmawati Suwanto
    16709251005
    PMat A / S2

    Manusia merupakan makhluk yang diciptakan sempurna karena memiliki akal dan hawa nafsu dan dalam ketidaksempurnaan karena tempatnya salah. Hawa nafsu menekankan pada keinginan-keinginan suatu makhluk. Hawa nafsu ada macamnya, seperti yang dituliskan pada elegi ini yakni qwattun rabbaniyah (hawa nafsu dari unsur-unsur malaikat dan Tuhan); nafsu binatang (mendorong manusia untuk memperoleh keinginan lahiriah dan kenikmatan seksualitas); nafsu binatang buas (nafsu yang menyebabkan manusia suka menyerang orang lain, membenci orang lain, menghancurkan orang lain, iri, dengki, bahkil, dst); dan nafsu syaitoniah (nafsu yang mendorong manusia untuk membenarkan semua kejahatan yang dia lakukan). Cara terbaik untuk dapat melawa hawa nafsu adalah dengan menjaga hati agar selalu ikhlas sehingga akalpun menjadi sehat.

    ReplyDelete
  5. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Hawa Nafsu itu meliputi keinginan-keinginan diri seseorang. Setiap manusia mempunyai potensi untuk mencapai keinginan-keinginan. Keinginan-keinginan yang melanggar aturan dan ketetapan Allah yang menjadi penyebab hawa nafsu dapat merasuki diri seseorang. Hawa nafsu yang merusak akan merusak pribadi seseorang pula. Maka semoga kita bukan termasuk yang terjebak hawa nafsu dunia.
    “Tetapkanlah ikhlas hatimu dan akal sehat diatas semua Nafsu-nafsi buruk itu, niscaya jika Allah SWT mengabulkan maka engkau dapat megendalikannya”. Aamiin.

    ReplyDelete
  6. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    Manusia diciptakan Allah dengan disertai potensi hawa nafsu pada dirinya. Inilah salah satu yang menjadi pembeda antara manusia dengan malaikat. Manusia dianugerahi hawa nafsu oleh Allah, sedangkan malaikat tidak. Imam Ghazali menyebut bahwa ada tiga bentuk perlawanan manusia terhadap hawa nafsu. Pertama, nafsu muthmainnah (nafsu yang tenang), yakni ketika iman menang melawan hawa nafsu, sehingga perbuatan manusia tersebut lebih banyak yang baik daripada yang buruk. Kedua, nafsu lawwamah (nafsu yang gelisah dan menyesali dirinya sendiri), yakni ketika iman kadangkala menang dan kadangkala kalah melawan hawa nafsu, sehingga manusia tersebut perbuatan baiknya relatif seimbang dengan perbuatan buruknya.Ketiga adalah nafsu la’ammaratu bissu’ (nafsu yang mengajak kepada keburukan), yakni ketika iman kalah dibandingkan dengan hawa nafsu, sehingga manusia tersebut lebih banyak berbuat yang buruk daripada yang baik. Setiap orang tentu mempunyai hawa nafsu. Hanya bagaimana orang tersebut mengolah hawa nafsunya agar tidak menimbulkan efek negative bagi kehidupan dunia dan akhiratnya. Jangan sampai pula karena tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya justru membawanya kembali ke tempat yang serendah-rendahnya. Bahkan menjadi makhluk yang lebih hina dari binatang yang paling hina. Wallahua’lam..

    ReplyDelete
  7. Metafisik spiritual transenden itu suatu keadaan interaktif antara ikhitiar dan takdir, dunia akhirat, amal dan ilmu dalam bingkai doa. Sebagai ciptaan Allah manusia dilengkapi dengan segala macam keinginan dan keinginan yang banyak sekali itu yang disebut hawa nafsu dan munusia diberi hati serta pikiran untuk dapat mengendalikan diri dari hawa nafsu yang buruk itu supaya dalam hidup di dunia ini selalu mendapat Ridhonya tentunya dengan usaha yang sebenar-benarnya usaha dan doa yang sebenar-benarnya doa.

    ReplyDelete
  8. RAHMANITA SYAHDAN
    16709251013
    PPs PMat A 2016

    Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
    Elegi ini berkaitan dengan elegi ritual iklas 14. Tetapi saya akan berkomentar khusus mengenai nafsu yang buruk yaitu sombong dan takabur serta bagaimana cara melawannya.
    Sifat ini merupakan sifat manusia yang paling tercela. Manusia yang memilki sifat tercela ini, maka cukup bagi Allah untuk memalingkan wajah-Nya dari manusia itu. Dalam beberapa ayat Alquran, Allah Swt mengecam keras sifat ini, di antaranya dalam ayat yang berbunyi:
    "Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku."(QS Al-A'raf:146)
    "Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang."(QS Al-Mu'min:35)
    "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong."(QS An-Nahl:23)
    "Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina." (QS Al-Mu'min:60)
    Rasulullah saw bersabda,"Tidak akan masuk surga seseorang yang dalam hatinya terdapat rasa sombong (walau hanya) sebesar biji zarah.
    Penyakit sombong merupakan penyakit hati yang paling besar dan parah, dan merupakan sifat yang paling hina, dan banyak sekali mereka yang tertimpa penyakit ini; baik orang-orang yang khusus ataupun umum.
    Cara terbaik untuk menyembuhkan dan menghilangkan penyakit hati ini adalah dengan berusaha untuk bersikap rendah hati dan bermurah hati. Karena para hakim (teosof) dan arif (spiritualis) berpendapat bahwa obat bagi setiap penyakit hati itu adalah dengan menggunakan lawannya. Oleh karena itu, rukuk dan sujud, merendahkan diri dalam menyaksikan kebesaran dan keagungan Allah Swt, serta merasa rendah dan hina di hadapan-Nya, mampu memberikan pengetahuan dan keyakinan pada manusia bahwa dirinya sama sekali tidak bernilai.
    Para cendekiawan ilmu akhlak mengatakan bahwa cara mengobati penyakit sombong dapat dilakukan dengan menggunakan dua cara: teoritis (ilmi) dan praktis (amali). Secara teoritis seseorang berusaha untuk mengenali dirinya, dengan mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya. Ketika manusia mengenal diri dan Tuhannya, maka ia pun akan mengetahui dengan jelas kelemahan, kerendahan, dan kehinaan dirinya, serta memahami kebesaran, keagungan, dan kemuliaan Tuhannya, serta menyadari bahwa ia tidak mampu berdiri sendiri dan tidak dapat tanpa Penciptanya walaupun hanya sedetik saja.
    Dengan demikian, rasa sombong dan takabur yang ada dalam hati manusia disebabkan oleh kebodohan dan kejahilan manusia itu sendiri. Sedangkan manusia yang mengetahui dan menyadari bahwa dirinya diciptakan dari tanah dan air yang hina, dan hanya hidup beberapa saat di dunia, ia sama sekali tidak akan bersikap sombong dan angkuh.
    Cara praktisnya adalah dengan merendahkan diri dan hati di hadapan Allh Swt, serta menjadikan sikap dan perbuatan para tokoh dan pembesar agama sebagai teladan dan sinar yang menerangi jalan hidup kita.
    Dalam upaaya mengobati dan menyembuhkan penyakit moral ini, kita harus mengetahui bahwa sepanjang sejarah kehidupan manusia di berbagai kalangan dan bangsa, mereka yang paling terkenal dan mulia adalah mereka yang paling rendah hati.
    Kemuliaan dan keagungan manusia amat tergantung pada kerendahan dan kehinaan dirinya di hadapan Sesembahan Yang Sejati. Selama seseorang belum mampu menjadi hamba Allah yang sejati, ia tidak akan meraih kemerdekaan, dan selama belum meraih kemerdekaan, ia tidak akan meraih kesempurnaan, dan selama belum meraih kesempurnaan, maka ia tidak akan meraih kebahagiaan yang sejati.
    Sebagaimana firman Allah Swt kepada Nabi Daud as,"Wahai Daud, kenalilah Aku, maka engkau akan mengenal dirimu." Nabi Daud as merenung dan berpikir, lalu berkata,"Aku mengenal-Mu bahwa Engkau Esa, kuat, dan kekal, sedangkan aku adalah lemah, tdak berdaya, dan akan musnah." Allah Swt berfirman kepadanya,"Wahai Daud! Engkau telah mengenal-Ku sebagaimana mestinya."
    wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    ReplyDelete
  9. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    Hawa nafsu merupakan suatu keinginan yang dimiliki oleh setiap diri manusia, dan hawa nafsu itu sangat banyak pada setiap manusia hingga jumlah keinginannya itu tidak terbatas, keinginan-keinginan itulah yang membuat manusia terkadang lupa akan perihal akhiratnya, dengan demikian pada manusia haruslah memilki hati ikhlas dan bagaimana dia dapat berpikir kritis untuk dapat menahan hawa nafsunya. akan tetapi hawa nafsu pula dibutuhkan seperti Nafsu Quwattun Rabbaniyyah yaitu hawa nafsu yang berasal dari unsur-unsur malaikat dan unsur-unsur Tuhannya, dengan untuk terus menerus beribadah kepada Sang Pencipta.

    ReplyDelete
  10. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Doa sesungguhnya merupakan ibadah, kerendahan hati, dan penghambaan. Dengan perantara doa, kita berkomunikasi kepada Allah SWT. Doa sejalan dengan ridha diri kita untuk mengakui keterbatasan, mensyukuri nikmat serta pasrah kepada kehendak Allah SWT.Selama kita melakukan doa kita harus memnita dengan rendah hati, berdoa dengan setulus-tulusnya berharap agar doa kita dikabulkan namun jangan bertindak sombong dan terlalu yakin doa kita akan dikabulkan.

    ReplyDelete
  11. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Hawa Nafsu itu meliputi keinginan-keinginan diri seseorang. Setiap manusia mempunyai potensi untuk mencapai keinginan-keinginan.Inilah salah satu yang menjadi pembeda antara manusia dengan malaikat. Manusia dianugerahi hawa nafsu oleh Allah, sedangkan malaikat tidak.Setiap orang tentu mempunyai hawa nafsu. Hanya bagaimana orang tersebut mengolah hawa nafsunya agar tidak menimbulkan efek negative bagi kehidupan dunia dan akhiratnya. Jangan sampai pula karena tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya justru membawanya kembali ke tempat yang serendah-rendahnya.

    ReplyDelete
  12. hawa nafsu bisa menimpa siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Bisa berujud nafsu lahiriah maupun batiniah. Teramat halus seperti nasfu pada ilmu bahkan kebajikan. Semoga kita bisa menekan hawa nafsu untuk mencapai keridoan Allah SWT. Amin

    Nur Tjahjono Suharto
    S3 PEP (A)
    16701261007

    ReplyDelete
  13. Fatya Azizah
    16709251039
    Pendidikan Matematika B PPS UNY 2016

    diceritakan dalam elegi ini bahwa bagawat gugah yang sudah menjadi guru pun masih belajar, artinya setinggi apapun ilmu kita masih harus belajar. bahkan dalam elegi ini disebutkan, "jangan dikira mau mati tidak harus belajar" itu menyiratkan bahwa kita harus belajar disepanjang hidup kita.
    kemudian cantraka menanyakan perihal ikhlas kepada bagawat gugah, dan bagawat gugah menjelaskan dnegan sangat jelas mengenai hawa nafsu kepada cantraka.

    ReplyDelete
  14. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang mempunyai hawa nafsu, berbeda dengan malaikat, malaikat tidak memiliki hawa nafsu. Allah berfirman dalam QS Shaad : 26 "...dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan." Ayat ini sebagai pengingat kita untuk melawan hawa nafsu dengan beribadah, puasa, shadaqah dan lainnya.

    ReplyDelete
  15. Nuha Fazlussalam
    13301244023
    s1 pendidikan matematika c 2013

    nafsu itu ada dua jenis, nafsu untuk melakukan kebaikan dan nafsu dalam melakukan keburukan, nah bagaimana manusi abisa memanaje nafsu dsehingga manusia dapat menggunakan nafsunyas esuai dengan ruang dan waktunya, dapat menggunakan nafsu untuk kebaikan , menggunaan nafsu dengan ikhlas seingga apa yang di lakukan dapat bernilai ibadah.

    ReplyDelete
  16. Menurut saya elegi ini menceritakan tentang bagaimana seorang manusia mengendalikan hawa nafsu dan jangan pernah mau mengikuti nafsu yang tidak baik. Manusia adalah sebaik-baik ciptaan-Nya, namun, kadangkala manusia memiliki hawa nafsu seperti hewan sehingga kurang bisa mengendalilkannya. Setiap manusia memilliki hawa nafsu, tapi setiap manusia juga memiliki cara yang berbeda untuk mengendalikan hawa nafsu tersebut sehingga menimbulkan hal yang positif di kehidupan dunia dan akhirat bukan negatif sehingga membuat diri manusia itu merugi dan lebih rendah dari pada hewan sekalipun. Banyak hikmah yang dapat di ambil dalam elegi melawan hawa nafsu ini. Terima kasih banyak buat bapak yang sudah mau berbagi ilmu lewat elegi ini.

    M. Saufi Rahman
    S3 PEP Kelas A
    16701261024

    ReplyDelete
  17. MUTIARA KUSUMAWATI
    16701251007
    PEP S2 B

    Bagi seseorang muslim yang menyadari hakikat kehidupannya, akan senantiasa menjaga hati dari tipuan hawa nafsu yang menjerumuskan. Nafsu adalah kecenderungan tabiat yang dirasa cocok. Kecenderungan ini merupakan suatu bentuk ciptaan Allah yang ada dalam diri manusia, sebagai urgensi keberlangsungan hidupnya. Karenanyalah manusia memiliki keinginan untuk makan, minum, dan menikah.
    Nafsu dapat mendorong kepada sesuatu yang dikehendakinya. Ia akan berada pada jalur yang benar manakala dikendalikan . Namun sebaliknya, ia akan menghancurkan manusia jika nafsu yang mengendalikannya. Celaan terhadap nafsu dating ketika berlebih-lebihan dalam dua sikap ini, yakni yang melebihi sikap mendatangkan manfaat dan menolak mudhorot. Orang yang menuruti nafsu, syahwat dan rasa benci biasanya tidak konsisten pada batasa yang bermanfaat baginy, jarang ada orang yang bisa bersikap adil dengannya.

    ReplyDelete
  18. MUTIARA KUSUMAWATI
    16701251007
    PEP S2 B

    Allah tidak pernah menyebutkan nafsu di dalam kitabNya melaikan mencelanya. Begitupula tidak ada sebutan nafsu dalam sunnah melainkan dalam keadaan tercela, kecuali yang memang ada pembatasan, seperti sabda Rasulullah saw:
    “Laa yu’minu ahadakum hatta yakuuna hawaahu taba’an lima ji’tu bihi.” (Tidaklah seseorang diantara kalian beriman sehingga nafsunya mengikuti apa yang kubawa.)
    Orang yang sudah dewasa akan diuji dengan hawa nafsu. Setiap saat akan muncul kondisi yang menciptakan dua hakim pada dirinya, yaitu hakim akal dan hakim agama. Dia diperintahkan agar senantiasa melaporkan kasus-kasus nafsu kepada dua hakim ini dan patiuh terhadap keputusannya. Dia harus berusaha melatih diri menyingkirkan hawa nafsu yang tidak baik akibatnya, agar dikemudian hari tidak mendapat kesengsaraan.
    Jika kita memperhatikan tujuh golongan orang-orang yang mendapatkan perlindungan arsy Allah pada hari yang tiada perlindungan selain perlindungan-Nya, maka kita mendapatkan bahwa itu adalah hadiah karena menentang hawa nafsunya. Pemimpin yang memegang tampuk kekuasaan tidak mungkin bias berbuat adil kecuali dengan menentang nafsunya.

    ReplyDelete
  19. MUTIARA KUSUMAWATI
    16701251007
    PEP S2 B

    Untuk selamat dari jeratan hawa nafsu, seorang hamba harus dengan sepenuh hati bersungguh-sungguh melawan hasrat buruknya. Dengan taufik Allah, ia akan selamat darinya seraya mencermati langkah-langkah pengendalian berikut :
    1. Menyadari bahwa nafsu adalah dinding pagar yang mengitari jahannam.
    Barang siapa yang terseeret ke dalam nafsu, berarti dia terseret ke dalam neraka.
    Sabda nabi,
    “Surga dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai dan neraka itu dikelilingi dengan berbagai syahwat.”
    Orang yang mengikuti nafsu dikhawatirkan akan lepas dari iman, sementara dia tidak menyadarinya. Mengikuti nafsu bias menutup pintu taufik bagi manusia dan membuka pintu penyesalan.
    2. Memanjakan nafsu berarti merusak akal dan fikirannya dan itu berarti mengkhianati Allah dalam hal penggunaana akal.
    Mengikuti nafsu membuat hamba tidak bias bangkit untuk mencapai syurga bersama-sama dengan orang yang berhasil mendapatkannya.
    3. Menyadari bahwa dengan menentang nafsu akan menghasilkan kekuatan tubuh, hati dan lidah manusia.
    Menentang nafsu bisa menyelamatkan penyakit hati dan badan sedangkan mengikutinya akan mendatangkan penyakit hati dan badan. Semua penyakit hati berasal dari mengikuti nafsu. Jika kita meneliti berbagai penyakit badan maka sebagian beasr berasal dari memperturutkan hawa nafsu.

    ReplyDelete
  20. MUTIARA KUSUMAWATI
    16701251007
    PEP S2 B

    4. Menyadari bahwa tidak ada satupun hari yang berlalu melainkan nafsu dan akan saling bergelut di dalam diri orang yang besangkutan.
    Mana yang dapat mengalahkan rivalnya, maka dia akan mengusirnya dan menguasainya. Abu Darda r.a. berkata, “Jika pada diri seseorang berkumpul nafsu dan amal, lalu amalnya mengikuti nafsunya, maka hari yang dilaluinya adalah hari yang buruk. Jika nafsunya mengikuti amalnya, maka harinya adalah hari yang baik.”
    5. Menyadari bahwa dia diciptakan bukan untuk kepentingan nafsu, tetapi untuk sesuatu urusan yang besar yang tidak bias dicapai kecuali dengan menentangnya.
    Tidak boleh baginya memilih bahwa hewan lebih baik daripada dirinya. Dengan tabiatnya saja hewan bias membedakan mana yang membahayakan dan mana yang menyelamatkan, lalu ia memilih yang bermanfaat baginya dan meninggalkan yang berbahaya. Manusia diberi akal dalam masalah ini. Jika dia tidak bias membedakan mana yang dapat membahayakan dan mana yang bermanfaat baginya, atau mengetahui tapi justru memlih yang berbahaya, berarti keadaan hewan lebih baik dari keadaannya.

    ReplyDelete
  21. MUTIARA KUSUMAWATI
    16701251007
    PEP S2 B

    6. Memiliki hasrat yang kuat untuk melawan hawa nafsunya sehingga timbul kecemburuan yang amat sangat terhadap dirinya sendiri jika melakukan kemaksiatan.
    Membalutnya dengan kesabaran dalam menghadapi kepahitan yang akan dihadapi ketika melawan hawa nafsunya sendiri. Membekalinya dengan kekuatan jiwa yang bisa mendorongnya untuk mereguk kesabaran itu, sebab semua bentuk keberanian merupakan kesabaran sekalipun hanya sesaat dan sebaik-baik hidup adalah jika seseorang mengetahui hidup itu dengan kesabarannya.
    7. Melibatkan hati dalam mempertimbangkan akibat nafsu, sehingga dia bisa mengetahui seberapa banyak nafsu itu meloloskan ketaatan dan berapa banyak nafsu itu mendatangkan kehinaan.
    Berapa banyak satu suapan yang menghalangi beberapa suapan. Berapa banyak sedikit kenikmatan yang menghilangkan beberapa kenikmatan. Berapa banyak sedikit syahwat yang menghancurkan kehormatan, menundukkan kepala, menciptakan kenangan yang buruk, mengakibatkan celaan dan aib yang tidak bisa dicuci dengan air sementara mata orang yang menuruti hawa nafsu adalah mata orang yang buta.
    8. Memikirkan apa yang dituntut oleh jiwanya, lalu berkata kepada akal dan agamanya, yang nantinya akan mengabarkan bahwa apa yang dituntut itu tidak ada artinya apa-apa.

    ReplyDelete
  22. Raden Muchammad Nurrizal Hasbi Ashshidiqqie
    13301244013
    S1 Pendidikan Matematika C 2013

    Dalam menggapai ikhlas itu tidaklah mudah. Salah satunya kita harus mampu mengendalikan nafsu yang ada dalam diri kita. Tidaklah bijak, ketika kita tidak bisa mengendalikan nafsu dalam diri kita. Selalu bersandar dan berserah kepadaNya dan memohon bimbinganNya sehingga kita dimampukan untuk mengendalikan hawa nafsu kita, dan dijauhkan dari dosa yang disebabkan hawa nafsu kita.

    ReplyDelete
  23. Fajar Yanuar
    13301244021
    Pend. Matematika C 2013

    Elegi Ritual Ikhlas 15. Dalam elegi ini, diceritakan bahwa nafsu bukanlah dipandang sebagai sesuatu yang buruk. Nafsu itu sendiri ada dua yaitu nafsu buruk dan nafsu Quwattun Rabbaniyah (nafsu dari unsur malaikat dan unsur Tuhan). Nafsu buruk seperti nafsu memperoleh keinginan lahiriyah, nafsu mendzalimi orang lain, dan nafsu yang memaafkan segala perbuatan dosa dengan mudahnya. Nafsu buruk ini harus kita kendalikan dengan nafsu quwattun rabbaniyah yaitu nafsu di dalam hati ikhlas dan pikiran kritis.

    ReplyDelete
  24. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Perang yang paling berat adalah perang melawan hawa nafsu itu sendiri. Manusia itu mempunyai otak yang terletak di kepala sedangkan kemaluannya terletak di bawah, apa makna dari itu, yakni sebagai manusia harus selalu menggunakan otak dalam bertindak, jangan hanya bertindak menggunakan hawa nafsu. Otak dan hati berada di atas kemaluan, sehingga kita juga harus menempatkannya demikian, gunakanlah otak dan hatimu dalam bertindak, janganlah selalu mengutamakan nafsu terlebih dahulu. Quwattun rabbaniyah terlebih dahulu, untuk mengendalikan hawa nafsu.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  25. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Sesungguhnya menahan hawa nafsu sendiri merupakan hal yang paling sulit untuk dilakukan, bahkan rasulullah SAW telah memperingatkan kepada kita bahwa Perang terbesar kita adalah perang melawan hawa nafsu itu sendiri, hal tersebut disebabkan karena melawan keinginan hati sendiri itulah yang paling sulit untuk dilakukan. Oleh karena itu berpuasa merupakan salah satu cara untuk dapat mengekang hawa nafsu yang kita miliki.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  26. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Manusia pasti mempunyai hawa nafsu yang sangat banyak, dari elegi di atas dapat diringkas bahwa terdapat tiga jenis hawa nafsu manusia, pertama hawa nafsu kebinatangan yang mendorong manusia untuk memperoleh keinginan lahiriah dan kenikmatan seksualitas. Kedua, Hawa Nafsu Binatang Buas yang menyebabkan manusia suka menyerang orang lain, membenci, menghancurkan, iri, dengki, bahkil, dst. Ketiga, Nafsu Syaitoniah yang mendorong manusia untuk membenarkan semua kejahatan yang dia lakukan. Nafsu Syaitoniah ini berusaha mencari dalih untuk memaafkan perbuatan-perbuatan dosa manusia. Untuk mengendalikan hawa nafsu yang buruk tersebut kita harus selalu ikhlas karena syaitan akan sulit untuk menggoda orang-orang yang ikhlas, selain itu gunakanlah akal sehat pikirkanlah terlebihi dahulu apa akibat yang terjadi sebelum kita melakukan perbuatan tidak baik, serta berpikirlah positif terhadap orang lain jangan asal menuduh jika tanpa bukti.

    ReplyDelete
  27. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Hawa nafsu ada di setiap sel dan aliran darah kita. Untuk itu, kita harus pandai-pandai dalam mengaturnya.
    Firman Allah :
    “Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang menafkahkan (harta mereka) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS Ali ‘Imran:134).
    Sabda Rasulullah dari sebuah hadist yang shahih :
    “Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah”
    Jika tidak dapat mengendalikan hawa nafsu, kita akan senantiasa berperang dan saling menghancurkan. Padahal yang telah hancur itu sangat susah bahkan tidak akan bisa kembali.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  28. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah menjelaskan bahwa hawa nafsu diciptakan ada pada diri manusia guna menjaga kelangsungan hidupnya. Sebab, kalaulah tidak ada nafsu makan, minum dan nikah, tentulah manusia akan mati dan punah, karena tidak makan, minum dan menikah. Hawa nafsu bisa terpuji bisa juga tercela tergantung pada ruang dan waktunya. Tinggal bagaimana kita bisa memanage hawa nafsu kita untuk menjadikannya dalam rangka beribadah kepada Allah bukan malah berbuat maksiat kepada-Nya.

    ReplyDelete
  29. Annisa Eprila Fauziah
    16709251040
    PPs P.Mat B 2016

    Hawa nafsu sering dinilai ke arah yang negatif, karena berisi tentang ketamakan manusia terhadap keburukan yang dianggapnya sebagai sesuatu yang wajar, padahal hal tersebut dapat membinasakan hidup manusia. Ada satu kekuatan fitrah, yaitu quwwatun rabbaniyah, inilah kekuatan fitrah yg ada pada setiap diri manusia. Kekuatan inilah yg perlu dijaga dan disuburkan oleh setiap mukmin. Kekuatan fitrah inilah yg menguatkan hati setiap mukmin dikala ditimpa ujian dan musibah.

    ReplyDelete
  30. Ressy Rustanuarsi
    16709251033
    PPs PMAT Kelas B 2016

    Manusia pasti memiliki hawa nafsu. Nafsu sendiri ada yang baik, ada yang buruk. Mengenai nafsu yang baik, Allah SWT telah menganugerahkan kepada kita Quwattun Rabbaniyyah, yaitu hawa nafsu dari unsur-unsurnya malaikat dan unsur-unsurnya Tuhan. Nafsu ini terlatak dalam hati yang ikhlas dan pikiran yang kritis. Nafsu ini juga yang akan melawan nafsu yang bersifat buruk. Untuk itu, peliharalah nafsu yang baik ini dengan selalu berusaha serta berdoa kepadaNYA dengan niat yang ikhlas.

    ReplyDelete
  31. Wadiyono
    16701251021
    Penelitian dan Evaluasi Pendidikan S2 2016

    Hawa nafsu adalah sebuah perasaan atau kekuatan emosional yang besar dalam diri seorang manusia; berkaitan secara langsung dengan pemikiran atau fantasi seseorang. Hawa nafsu pada umumnya berkonotasi “negatif dan buruk”. Hawa nafsu adal sekumpulan sifat-sifat material yang ada diri manusia yang tisak baik, seperti sombong,iri hati,berprasangka dan sebagainya. Oleh karena itu hawa nafsu yang sifat material dan metafisik harus dibungkus dalam dimensi yang lebi baik yaitu dimensi Spiritual... Ilmu juga material,bila tidak dibingkai dalam spiritual maka ilmu pasti juga akan digunakan sebagai pemuas nafsu saja. Namun bila dibungkus dalam spiritual yang dalam makaimu menjadi sangat berguna dan berdaya kontruktif tinggi untuk kemaslahatan manusia....

    ReplyDelete
  32. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    PPs PM B 2016

    Hawa nafsu merupakan keinginan seseorang untuk melakukan sesuatu. nafsu identik dengan konotasi yang buruk. Nafsu identik dengan hal-hal yang berbau maksiat. hawa nafsu akan sesuatu yang buruk terbagi menjadi nafsu kebinatangan, nafsu binatang buas,dan nafsu syaitoniah. tetapi manusia oleh Allah telah di anugerahi dengan nafsu yang baik yang disebut dengan quwwatun rubbaniyah. nafsu yang baik berupa keikhlasan yang ada di dalam hati kita. quwwatun rubaniyah tersebut berfungsi sebagai pengendali ketiga hawa nafsu buruk tersebut.

    ReplyDelete
  33. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    S2 PEP B 2016

    Manusia sering diuji oleh Allah melalui hawa nafsu. Hawa nafsu bisa bergejolak dan datang kapan saja tanpa terduga. Jika kita sering menuruti hawa nafsu maka kita tidak berbeda jauh dengan hewan. Manusia di beri akal dan pikiran agar bisa menahan dan mengendalikan hawa nafsu. Agar bisa meredamkan hafa nafsu maka diperlukan akal sehat dan agama yang kuat, karena selama hidupnya manusia akan sering berperang dengan hawa nafsu.

    ReplyDelete
  34. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Quwattun Rabbaniyah mampu mengendalikan dan mengalahkan Nafsu Binatang, Nafsu Binatang Buas dan Nafsu Syaitoniah, maka tetapkanlah ikhlas hatimu dan akal sehat diatas semua Nafsu-nafsi buruk itu, niscaya jika Allah SWT mengabulkan maka engkau dapat megendalikannya. Amiiiiiiin ya Robbal'alamin.

    ReplyDelete
  35. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Nafsu pada diri manusia adalah bagian dari intuisi. Nafsu tidak selamanya bernilai negatif, tergantung bagaiaman setiap individu mengatur dan menilai nafsu tersebut didalam dirinya. Seperti ungkapan Plato yang mengatakan bahwa manusia adalah orang-orang yang berada di dalam gua. Manusia mengira bahwa mereka memahami dunia nyata, namun karena terjebak dalam tubuh, maka manusia hanya melihat bayangan di dinding. Jadi ketika manusia tak mampu mengendalikan hawa nafsunya sama halnya manusia yang terjebak dalam gua, ia merasa pandangannya telah luas namun sejujurnya ia sedang terperangkap. Maka hanya Tuhan yang mampu memberikan jalan keluarnya.

    ReplyDelete
  36. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Musuh terbesar manusia, tidak lain dan tidak bukan adalah hawa nafsunya sendiri. Perang terberat yang dilalui manusia adalah perang melawan hawa nafsu nya. Tidak semua hawa nafsu itu salah dan buruk. Ketidakmampuan manusia dalam mengendalikan hawa nafsunya adalah yang pada akhirnya akan menyebabkan kerusakan di berbagai aspek hidup manusia. Kedengkian, permusuhan, kecurangan, melupakan keberadaan sang pencipta, adalah akibat manusia yang telah kalah dalam melawan hawa nafsunya.

    ReplyDelete
  37. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Quwwatun Rabbaniyah adalah nafsu manusia yang bersumber dari unsur-unsur Tuhan. Quwwatun Rabbaniyah berwujud keihlasan hati dan pikiran manusia. Ikhlasnya hati dan kritisnya pikiran akan melawan semua nafsu buruk manusia. Ritual ikhlas adalah salah satu cara dalam membangun dan menguatkan Quwwatun Rabbaniyah yang selanjutnya bisa mengendalikan bahkan mengalahkan nafsu syaithoniyyah.

    ReplyDelete
  38. Siti Mufidah
    13301241036
    Pendidikan Matematika A 2013

    Setiap manusia memiliki hawa nafsu, hawa nafsu ada dua yaitu Nafsu Syaitoniah (nafsu yang negatif) dan nafsu Quwattun Rabbaniyyah (nafsu yang positif). Kita harus berusaha dan mampu mengendalikan hawa nafsu yang dimiliki. Jadi, ikhlas dalam hati dan pikiran agar dapat mengendalikan hawa nafsu yang buruk. Terima kasih.

    ReplyDelete
  39. KASYIFATUN AENI
    13301241055

    Setiap manusia pasti memiliki hawa nafsu atau keinginan-keinginan. Hawa nafsu tersebut ada yang membawa kepada keburukan dan ada pula yang membawa kepada kebaikan. Nafsu yang bersifat buruk meliputi nafsu kebinatangan, nafsu binatang buas, dan nafsu syaitoniah. Nafsu-nafsu inilah yang seringkali menjadi penghalang terbesar kita untuk dekat dengan Alloh. Sedangkan nafsu yang bersifat baik disebut Quwattun Rabbaniyyah. Nafsu ini harus mengendalikan dan mengalahkan nafsu binatang, nafsu binatang buas, dan nafsu syaitoniah. Untuk dapat melakukannya kita harus menetapkan keikhlasan hati dan akal sehat kita di atas nafsu-nasfu buruk itu.

    ReplyDelete
  40. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Dulu saya hanya mengetahui bahwa hawa nafsu adalah sesuatu yang buruk, tapi setelah membaca elegi ini ternyata ada yang disebut nafsu-nafsu buruk. Dengan menetapkan ikhlas di hati dan akal sehat, Allah akan membantu kita untuk mengatasi dan mengendalikannya

    ReplyDelete
  41. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Hawa nafsu adalah keinginan-keinginan. Jika kita diberi kesempatan untuk menuliskan, maka akan ada banyak sekali keinginan-keinginan kita. Tapi kadang ada pula keinginan yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Sehingga perlu dipikirkan kembali mana yang perlu mana yang tidak pokok

    ReplyDelete
  42. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Nafsu merupakan sebuah godaan yang sangat luar biasa terhadap iman kita. Nafsu akan bisa berperan sebagaimana mestinya ketika mampu dikendalikan dengan baik. Bukan untuk dihilangkan, karena ketika manusia tidak memiliki nafsu maka mereka tidak memiliki semangat untuk hidup.

    ReplyDelete
  43. Nafsu perlu dikendalikan, dan kita tidak boleh mengikuti nafsu binatang dan nafsu syaitan, karena itu semua merupakan perbuatan negatif. Begitu pula ketika menjadi guru kita tidak boleh bernafsu untuk menguasai pembelajaran, akan tetapi kita harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan hakikat dirinya masing-masing.

    ReplyDelete
  44. Metafisik spiritual transenden itu suatu keadaan interaktif antara ikhtiar dan takdir, dunia akhirat, amal dan ilmu dalam bingkau doa.
    Makna dari ini bahwa semua yang berkaitan dengan spiritual baik ikhtiar, takdir, amal, ilmu semuanya tetap dalam satu bingkai sesuai Al Qur'an dan AL Hadits.

    ReplyDelete
  45. Hawa Nafsu itu meliputi keinginan-keinginan diri seseorang. Setiap manusia mempunyai potensi untuk mencapai keinginan-keinginan. Keinginan ini tentu dari olah pikir individu hasil dari mitos-mitos yang ingin dirubah menjadi logos-logos.

    ReplyDelete
  46. Hawa Nafsu Kebinatangan inilah yang mendorong manusia untuk memperoleh keinginan lahiriah dan kenikmatan seksualitas. Nafsu inilah yang benar-benar harus dalam bingkai ikhlas, doa, dan tawakal. Karena nafsu ini sangat dekat dengan hal-hal negatif, yang mana hal-hal negatif sangat mudah mendapatkannya dan lebih lagi sifat manusia yang mempunyai pikiran penasaran akan lebih memudahkan untuk bersikap negatif.

    ReplyDelete
  47. Hawa Nafsu Binatang Buas inilah yang menyebabkan manusia suka menyerang orang lain, membenci orang lain, menghancurkan orang lain, iri, dengki, bahkil, dst. Nafsu ini juga harus kita hindari karena hampir sifat binatang ada disini, padahal kita ini manusia yang memiliki kelebihan pada akal dan pikiran. Apakah kita akan disamakan dengan binatang? maka hindari nafsu binatang ini karena pasti akan merugikan dirisendiri maupun orang lain bahkan makhluk lain.

    ReplyDelete
  48. Nafsu Syaitoniah inilah yang mendorong manusia untuk membenarkan semua kejahatan yang dia lakukan. Nafsu Syaitoniah ini berusaha mencari dalih untuk memaafkan perbuatan-perbuatan dosa manusia. INIlah yang benar-benar harus dijauhi karena siapa dekat bahkan masuk didalamnya maka neraka lah yang akan di tempati. Na'udzubillahimindalik

    ReplyDelete
  49. Quwattun Rabbaniyah itu mampu mengendalikan dan mengalahkan Nafsu Binatang, Nafsu Binatang Buas dan Nafsu Syaitoniah dengan Tetapkan ikhlas hatimu dan akal sehat diatas semua Nafsu-nafsi buruk itu, niscaya jika Allah SWT mengabulkan maka engkau dapat megendalikannya. Dan Tetap dalam petunjuk Al Qur'an dan Al Hadits.... Aamiin yarobil'alamiin...

    ReplyDelete
  50. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Ritual ikhlas elegi melawan hawa nafsu. Bagus untuk dibaca sesuai dengan keadaan sekarang ini. Seperti hadist Nabi SAW, “Kita sedang kembali dari perang kecil, jihadul ashgar, dan akan menuju perang besar, jihadul akbar.” Setelah Rasulullah selesai berperang melawan kaum quraysi, yang saat itu Pasukan Rasulullah menang. Padahal kaum islam saat itu hanya 300an orang, sedangkan musuh sampai 1000an orang. Itu merupakan perang terbesar yang pernah terjadi pada zaman Rasulullah. Namun, ternyata ada perang yang lebih besar lagi, yaitu perang melawan hawa nafsu.
    Hawa nafsu jangan di hilangkan, karena itu adalah yang dimiliki oleh manusia. Orang yang ingin menghilangkan hawa nafsu, berarti telah melawan kodrat sebagai manusia. Hawa nafsu itu dikendalikan. Dikendalikan ke arah yang positif. Karena hawa nafsu itu merupakan keinginan. Setiap manusia pasti memiliki keinginan untuk meraih, memiliki, dan banyak lagi yang lainnya. Sehingga sebagai manusia yang bijaksana, kendalikan hawa nafsu kita. Ke arah hal-hal yang positif, agar kita bisa memenangkan peperangan yang terjadi pada diri kita.

    ReplyDelete
  51. Setelah membaca ritual ikhlas yang ini, saya dapat memahami sedikit maksudnya. Sebagai orangtua pasti bangga jika memiliki anak yang sholeh, memiliki anak yang tida memperjuangkan dirinya sendiri, namun memperjuangkan keluarganya juga. Doa orangtua pasti akan diberikan untuk anaknya agar bisa sukses. Jadi, sebagai anak kita juga jangan lupa berdoa untuk kebahagian dan keselamatan kedua orangtuanya. Masalah harta, kita janganlah terlalu menomorsatukan harta dunia. Namun kita harusnya bisa bertindak bijaksana. Kita harus bisa menyeimbangkan antara harta dunia dan harta akhirat. Harta dunia tidak akan dibawa mati, sedangkan kita hidup di dunia ini hanya sementara. Kita hidup lama besok di akhirat. Jadi, kita harus bisa melihat bahwa kita akan hidup kekal di akhirat. Bekal untuk akhirat yang herus kita utamakan. Namun, bukan berarti bekalatau harta di dunia tidak penting. Islam mengajarkan agar kita selalu bersedekah, maka islam itu mengajarkan kita untuk menjadi kaya.

    ReplyDelete
  52. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Sebagai ujian yang meliputi kehidupan kecuali sebaliknya yang merupakan kehendak Allah, hawa nafsu diciptakan dengan terus-menerus mengajak manusia untuk berbuat kejahatan. Salah satu di antara amalan buruk tersebut adalah beramal dengan niat tidak ikhlas.

    ReplyDelete
  53. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Untuk mematikan keikhlasan, hawa nafsu cenderung mengarahkan dirinya sendiri melalui cara yang akan menumbuhkan segala macam pikiran buruk.

    ReplyDelete
  54. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Setiap insan harus membimbing dirinya sendiri dengan kejujuran dan keikhlasan, dan seharusnya tidak mengasihani atau tidak menopang sisi jahat dari jiwanya. Jadi, pada hakikatnya, kita harus melatih dirinya sendiri untuk menyucikan jiwanya dari keburukan dan menyatakan ketundukannya. Maka dari itu, kita tidak akan pernah merasa bingung dan mendukung sisi buruk jiwanya.

    ReplyDelete
  55. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Ketika nafsu tersebut tumbuh menjadi jahat, kita harus mendengarkan suara dari dalam batinnya, tanpa harus patuh kepada rayuan setan. Hanya dengan cara inilah, kita mampu mendeteksi segala cara yang digunakan hawa nafsunya untuk menipu dirinya sendiri. kita menilainya berdasarkan kenyataan dan menarik dalil berdasarkan Al-Qur`an. Hanya dengan begitu, ia mampu memperoleh keikhlasan dan menggapai ridha Allah.

    ReplyDelete
  56. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP A UNY

    Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang paling sempurna, diwajibkan untuk selalu berikhtiar selama hidupnya, seraya berdoa terus menerus. Adanya ikhtiar menandakan manusia terus berusaha dan bekerja seolah-olah engkau akan hidup 1000 tahun, namun iringilah segala usaha dan ikhtiar tersebut dengan doa seraya berserah diri terhadap ketentuan yang sudah di tetapkan Illahi.

    ReplyDelete
  57. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP A UNY

    Metafisik spiritual transsenden adalah suatu keadaan interaktif antara ikhtiar dan takdir, dunia dan akhirat, amal dan ilmu dalam bingkai doa. Bila kita dapat menyeimbangkan semuanya maka kita akan tetap berjalan pada jalur yang benar.

    ReplyDelete
  58. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP A UNY

    Manusia dianugerahi nafsu oleh sang Pencipta, sehingga setiap manusia pasti memiliki suatu keinginan tehadap sesuatu, keinginan untuk memiliki, keinginan lahir, keinginan batin, harga diri dsb. Kewajiban manusia untuk dapat mengendalikan nafsunya, sehingga jangan sampai kita menjadi budak nafsu, namun jadikan nafsu tersebut menjadi potensi kita untuk maju dan berkembang.

    ReplyDelete
  59. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP A UNY

    Nafsu dapat mendorong manusia untuk meraih apa yang dikehendakinya. Ia akan berada pada jalur yang benar jika dapat megendalikan nafsunya, namun sebaliknya, ia akan dihancurkan jika tika tidak mampu mengendalikan nafsunya. Allah SWT telah menganugerahkan kepada manusia Quwattun Rabbaniyah, yaitu hawa nafsu dari unsur-unsurnya malaikat dan unsur-unsurnya Tuhan. Nafsu Quwattun Rabbaniyah inilah yang berdomisili di dalam hati ikhlas dan pikiran kritis setiap manusia.

    ReplyDelete
  60. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP A UNY

    Saya sangat setuju dengan Bagawat bahwa untuk dapat mengendalikan dan mengalahkan nafsu binatang, nafsu binatang buas dan nafsu syaitonah maka kita harus memilki ketetapan hati untuk ikhlas dan menggunakan akal sehat diatas semua nafsu-nafsu buruk itu, niscaya jika Allah SWT mengabulkan, maka kita dapat mengendalikannya…Aamiin

    ReplyDelete
  61. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Sesungguhnya nafsu tidaklah lepas dari dalam diri manusia. Nafsu itu ada yang buruk dan baik sevagaiman baik dan buruk yang dikenal secara universal. Menundukkan nafsu buruk pun tidaklah mudah, kita diminta untuk terus menundukkan nafsu kita karena syaithan selalu berusaha untuk menggoda kita dengan memanfaatkan nafsu yang melekat pada diri manusia. TIdakkah Adam as. dikeluarkan dari surga karena memperturutkan nafsunya? Maka sebaik-baik manusia adalah manusia yang mampu mengendalikan nafsu, karena setiap tahun secara wajib kaum muslimin diperintahkan untuk mengendalikan nafsunya.

    ReplyDelete
  62. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Semua hawa nafsu itu pada dasarnya jelek, sehingga kita harus bisa mengendalikan hawa nafsu tersebut. Yang dapat kita lakukan ialah selalu berbuat baik dan ditujukan kepada ALLAH SWT. Dalam melakukan perbuatan baik juga harus disertai hati yang ikhlas dan menggunakan akal yang sehat serta pikiran yang jernih, dengan itu pasti bisa mengendalikan hawa nafsu yang ada dalam diri kita. Dan jangan pernah lupa untuk berdoa selalu meminta kepada ALLAH SWT.

    ReplyDelete
  63. "Ketahuilah bahwa Allah SWT telah menganugerahkan kepada manusia Quwattun Rabbaniyyah, yaitu hawa nafsu dari unsur-unsurnya malaikat dan unsur-unsurnya Tuhan. Nafsu Quwattun Rabbaniyah inilah yang berdomisili di dalam hati ikhlas dan pikiran kritis setiap manusia. Maka ikhlasnya hatimu dan kritisnya pikirmu itu dapat mengendalikan semua Nafsu-nafsu Burukmu."

    manusia dalam praktiknya perlu memahami bahwa mereka perlu belajar dan menggiatkan dirinya dalam keikhlasan.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP

    ReplyDelete
  64. Orang yang mengikuti nafsu duniawinya akan selalu memenuhi keinginan rendah-tingginya nafsu dengan berbagai cara . Manusia kadang sangat rakus terhadap kebutuhan nafsunya tersebut. Hidupnya hanya untuk mengabdi pada pemenuhan kebutuhan nafsunya. Ia tidak perduli dengan peraturan halal atau haram, baginya memenuhi semua kebutuhan hawa nafsu nya adalah segala galanya

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP

    ReplyDelete
  65. Kalau manusia telah mengendalikan hawa nafsu dan mengendalikan hati,
    maka manusia juga harus harus merawat dan memelihara hati dengan baik agar tiada lagi rusak atau dipenuhi penyakit yang dapat menyengsarakan. Hati yang kuat dan teguh adalah hati yang selalu ingat pada Allah, setiap saat melakukan komunikasi dengan Allah, sehingga selalu berada dalam bimbingan dan hidayah-Nya. Matanya dibimbing oleh hatinya untuk selalu memandang kebesaran Allah, telinganya dituntun oleh hatinya untuk selalu mendengar kan nasihat dan ayat ayat Allah. Hatinya selalu terbuka untuk menerima nasihat dan ajaran kebaikan.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP

    ReplyDelete
  66. Untuk meraih tingkatan pengendalian nafsu dari level rendah sampai yang tinggi diperlukan perjuangan yang gigih dan ulet. Tidak bisa didapat dengan santai tanpa usaha yang maksimal.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP

    ReplyDelete
  67. Orang yang ingin mengendalikan hawa nafsu, sebenarnya secara tidak langsung sedang menjalankan kodrat sebagai manusia, oleh karena itu hawa nafsu itu dikendalikan. Dikendalikan ke arah yang positif. Karena hawa nafsu itu merupakan keinginan.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP

    ReplyDelete
  68. Bismillah
    Ratih Kartika
    16701251005
    PPS PEP B 2016

    Manusia tidak pernah bisa terlepas dari nafsu dan nafsu akan selalu ada sampai liang lahat. Tugas kita sebagai manusia adalah menahan bahkan menghilangkan nafsu tersebut tentu dengan beristighfar dan memohon perlindunganNya karena sebaik baik dan sekuat orang bukan mereka yang berbadan besar melainkan mereka yang bisa melawan hawa nafsu. Nafsu itu berbahaya, bisa menjerumuskan kita ke dalam neraka maka dari itu, jangan mau kita berteman dengannya karena berteman dengan nafsu sama saja berteman dengan kejelekan dan kejelekan itu adalah setan. Sudah seharusnya kita terus menerus memperbaiki, ikhlas dalam hati mengendalikan nafsu dan menuruti nafsu nafsu kebaikan Queattun Rabbaniyah yang tentunya berisi kebaikan kebaikan yang bisa menggiring kita dalam lingkaran surga.


    Terimakasih.
    Wassalamualaikumwarahmatulahiwabarakatuh.

    ReplyDelete
  69. Rospala Hanisah Yukti Sari
    16790251016
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A Tahun 2016

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Keinginan dan hawa nafsu merupakan fitrahnya seorang manusia. Namun, segala hal tersebut dapat dihindari dengan menyadari tujuan hidup kita. Merasakan bahwa kehidupan ini hanyalah sebuah perjalanan menuju alam kekal. Bahwa segala apa yang kita raih saat ini, belum menjamin akan menjadikan kebahagiaan di akhirat. Maka, rasa syukur dan ridho terhadap segala ketetapan, serta memahami tujuan hidup kita lah yang akan menghindari kita dari segala hawa nafsu.

    Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    ReplyDelete
  70. Anisa Safitri
    13301241013
    Pendidikan Matematika A 2013

    Hawa nafsu sangat melekat dalam diri manusia. Selalu mengikuti kemanapun dan kapanpun manusia itu tinggal. Fitrah manusia yang memiliki hawa nafsu. Hawa nafsu dapat diartikan sebagai keinginan manusia, keinginan baik maupun buruk. Apabila seseorang memiliki nafsu yang baik, maka ada keinginan untuk selalu mendekatkan diri pada Allah swt. Begitu juga sebaliknya, apabila nafsu buruk yang menguasainya, maka akan menjadi penghalang baginya untuk senantiasa mendekatkan diri pada Allah swt.

    ReplyDelete
  71. Anisa Safitri
    13301241013
    Pendidikan Matematika A 2013

    Banyak contoh dari nafsu baik dan buruk itu. Nafsu baik dapat dicontohkan seperti keinginan untuk menjadi baik, keinginan untuk membantu sesame, saling memberi dan menolong. Ada juga keinginan akan keindahan, memiliki motivasi untuk menjadi orang yang lebih baik. Semangat untuk selalu menjalankan perintah-Nya juga termasuk dalam hawa nafsu yang baik.

    ReplyDelete
  72. Anisa Safitri
    13301241013
    Pendidikan Matematika A 2013

    Dalam elegi tersebut disebutkan pula contoh-contoh hawa nafsu yang buruk. Diantaranya adalah nafsu kebinatangan. Keinginan lahiriah untuk memperoleh harta melimpah, jabatan, serta kedudukan yang baik. Bisa dikatakan juga lebih mengejar duniawi. Selain itu kenikmatan akan seksualitas. Tidak bisa dipungkiri banyak kasus mengenai hal ini. Mulai dari kasus balita sampai orang dewasa.

    ReplyDelete
  73. Anisa Safitri
    13301241013
    Pendidikan Matematika A 2013

    Nafsu Binatang Buas adalah nafsu yang mengusai manusia untuk selalu berbuat buruk. Misalnya iri, dengki, membenci dan ingin menghancurkan orang lain yang tidak disenangi, bahkan sampai membunuhnya. Perbuatan ini sudah diluar batas kewajaran. Setan sudah berhasil menguasainya, kedekatan dengan Rabb-Nya pun semakin memudar.

    ReplyDelete
  74. Anisa Safitri
    13301241013
    Pendidikan Matematika A 2013

    Nafsu Syaitoniah ialah puncaknya hawa nafsu buruk. Karena kesalahan apapun yang dilakukan akan dibenarkan. Membenarkan kesalahan yang telah diperbuat dihadapan orang lain. Selalu merasa paling benar dan tidak mau disalahkan. Mencari-cari alasan untuk membenarkan dan memaafkan kesalahan yang telah diperbuat.

    ReplyDelete
  75. Anisa Safitri
    13301241013
    Pendidikan Matematika A 2013

    Semua hawa nafsu buruk itu dapat diperangi oleh manusia dengan berbekal pada keikhlasan hati dan pikiran yang kritis. Dapat disebut juga Nafsu Quwwatun Rabbaniyah. Pengendalian hawa nafsu tergantung masing-masing individu. Oleh karenanya senantiasa mendekatkan diri pada Allah swt, melaksanakan ibadah wajib dan sunnah, manancapkan keikhlasan dalam hati dan selalu menggunakan akal sehat dalam segala tindakan.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id